Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label FAKTA. Show all posts
Showing posts with label FAKTA. Show all posts
June 13, 2015
Kota Padang Raih Penghargaan Kota Terbaik & Kota Potensial Kategori Pariwisata
Written By Sjam Deddy on 13 June, 2015 | June 13, 2015
Sejak di Pimpin oleh Mahyeldi Ansharullah, Kota Padang semakin
terlihat perubahannya. Hal ini dibuktikan dengan Kota Padang raih
penghargaan Kota Terbaik dan Kota Potensial untuk kategori Pariwisata
yang digagas oleh Tempo Media Group.
Kota Padang raih penghargaan
Kota Terbaik dan Kota Potensial untuk kategori Pariwisata diberikan
dalam acara yang bertajuk malam penganugerahaan ‘Indonesia’s
Attractiveness Award 2015’ di Ballroom I Hotel Mulia Senayan, Jakarta,
Jumat (12/6) malam. Acara ini dibuka Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.
Tampak hadir Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri PAN RB Yudhi
Chrisnandy, Menteri Pariwisata Arif Yahya, Kepala BKPM Frankie Sibarani,
dan Direktur Utama Tempo Media Group Bambang Harymurti.
Dua
penghargaan yang diterima Kota Padang yakni Kota Terbaik kedelapan
se-Indonesia dengan peringkat Platinum serta Kota Potensial untuk
Kategori Pariwisata. Penghargaan Kota Terbaik kedelapan se-Indonesia
diserahkan Menteri PAN dan RB Yudhi Chrisnandy kepada Walikota Padang,
H. Mahyeldi Ansharullah. Sedangkan penghargaan Kota Potensial Kategori
Pariwisata diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata Arif Yahya.
Walikota
Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, mengatakan perolehan penghargaan ini
sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Padang
tahun 2014 sampai dengan 2019.
“Memang kita saat ini fokus
mengarahkan dan mengoptimalkan potensi-potensi wisata. Kita sudah
siapkan perencanaannya dan sekarang melangkah kepada FS dari Kawasan
Wisata Terpadu (KWT) Kota Padang. Dimana KWT ini meliputi Pantai Air
Manis dengan Batu Malin Kundangnya, Kawasan Gunung Padang, Padang Kota
Lama Heritage, dan Pantai Padang. Jadi Padang adalah kota yang memiliki
kelengkapan dari segi objek wisatanya. Karena di situ ada budaya, seni,
pantai, dan juga ada pulau-pulaunya,” kata Wako Mahyeldi kutip
serambiminang.com dari facebook humas dan protokol kota padang, usai
menerima penghargaan.
Mahyeldi juga mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada Tempo Media Group dan Frontier Consulting Group
yang telah melakukan penilaian terhadap pariwisata Kota Padang, serta
penilaian terhadap infrastruktur, pelayanan publik dan lainnya.
“Tentu
harapan kami penghargaan ini menjadi motivasi bagi pemerintah kota dan
masyarakat Kota Padang untuk bisa lebih baik lagi. Karena diakui masih
banyak kekurangan-kekurangan dari kota lain yang ada di indonesia.
Dengan meraih peringkat delapan, berarti masih ada tujuh kota lagi di
atas kita dan perlu belajar banyak dengan kota lain itu. Hal ini tentu
dengan semangat saling kolaborasi dalam rangka kemajuan pariwisata kota
untuk memajukan Republik Indonesia,” tambah Walikota Padang, Mahyeldi.
Kota
Padang raih penghargaan Kota Terbaik dan Kota Potensial adalah disaat
momen yang tepat. Karena Kota Padang saat ini sedang berbenah untuk
menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sebelumnya Kota Padang juga menerima
hasil pemeriksaan keuangan Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK
serambiminang
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
TOPIK PILIHAN
June 04, 2015
Oleh: A. Kholili Hasib
posted by @Adimin
“Islam Nusantara”: Islamisasi Nusantara atau Menusantarakan Islam? [2]
Written By dBisnis on 04 June, 2015 | June 04, 2015
Dalam bersikap terhadap tradisi Nusantara, ada yang diterima dan ada
yang harus ditolak. Budaya atau kepercayaan lokal yang tidak sesuai
dengan pokok ajaran Islam
PADAHAL aliran kebatinan memiliki cirri iqtha’usy syari’ah (menggugurkan
kewajiban syariah). Pesantren Sidogiri Pasuruan menerbitkan buku yang
khusus mengkaji masalah ini berjudul Bahaya Aliran Kebatinan (Tim
Penulis Pustaka Sidogiri, 1432 H).
Di halaman 190 ditulis “Ciri-ciri umum
kebatinan itu, baik yang ada di Indonesia maupun yang di bagian lain
dunia Islam, adalah iqtha’usy syari’ah, membatalkan ajaran-ajaran agama.
Seperti menggugurkan kewajiban ibadah salat, puasa, zakat dan
lain-lain. sementara semua larangan agama dianggap tidaka dad an boleh
saja dilakukan. Karenanya Imam Abu Nu’aim al-Asfhihani, ulama sufi dan
hafidz abad kelima Hijriyah, menganggap kebatinan itu mubahiyyun, serba
boleh melakukan apa saja, seperti beliau tulis dalam pembukaan kitab Hilyatul Auliya’ “.
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari juga berpendapat bahwa aliran kebatinan mubahiyyun termasuk aliran yang sesat. Dalam kitabnya Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah beliau menulis: “Di antara aliran yang berkembang setelah tahun 1330 H, adalah aliran Ibahiyyun
(serba boleh), yang berpendapat, bahwa apabila seseorang telah mencapai
puncak kecintaan kepada Allah, hatinya bersih dari kelalaian, dan telah
berketetapan memilih keimanan daripada kekufuran, maka perintah dan
larangan Allah menjadi gugur darinya dan Allah tidak akan memasukkannya
ke neraka meskipun melakukan dosa-dosa besar. Sebagian mereka juga
mengatakan, bahwa ibadah-ibadah lahiriyah gugur dari kewajibannya, dan
ibadah yang harus dilakukannya cukup merenung dan memperbaiki akhlak
batin saja. Sayyid Muhammad berkata dalam Syarh Ihya Ulumuddin: ‘Pedapat
ini merupakan kekufuran, zidiq dan kesesatan’. Memang kaum Ibahiyyun
selalu ada sejak masa dulu, mereka pada umumnya orang-orang bodoh,
tersesat dan tidak memiliki tokoh yang mengetahui ilmu syar’i secara
memadai” (KH Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 11-12).
Berdasarkan hal itu, dalam bersikap
terhadap tradisi Nusantara, ada yang diterima dan ada yang harus
ditolak. Budaya atau kepercayaan lokal yang tidak sesuai dengan pokok
ajaran Ahlus Sunnah ditolak.
Di sinilah diperlukan ilmu alat ushul fikih. Dalam Islam, ada aspek ushul dan ada aspek furu’. Ushul dalam Islam bersifat tetap, final dan qath’i. sedangkan aspek furu’
merupakan medan ‘kreatifitas’ ulama mujtahid. Bisa terjadi perbedaan
antara ulama satu dengan ulama yang lain. Kewajiban shalat merupakan
perakar ushul. Barangsiapa yang mengingkarinya maka dia kufur. Budaya
atau aliran kepercayaan apa saja yang membolehkan tidak shalat fardhu, tidak boleh dipelihara.
Meskipun budaya itu adalah produk tradisi Nusantara.
Maka, jika ada sekelompok orang
mentradisikan shalat dengan berbahasa daerah misalnya, maka tetap
dihukum sebagai kelompok sesat. Cara-cara seperti ini tidak dilakukan
Walisongo.
Sedangkan apa yang dilakukan para dai
Walisongo adalah memasukkan pandangan hidup Islam kepada tradisi-tradisi
yang bisa diafirmasi. Salah satu keberhasilan para dai penyebar agama
Islam di Nusantara adala melalui bahasa. Proses pengislamannya — salah
satunya — dengan memasukkan term-term Arab-Islam ke dalam bahasa lokal.
Ada banyak kosa kata bahasa Melayu dan Indonesia yang diserap dari
bahasa Arab. Misalanya kosa kata ‘akal’, ‘musyawarah’, ‘adil’, ‘adab’,
‘akhlak’, ‘dewan’, ‘kalimat’, ‘khutbah’, ‘jama’ah’, ‘kursi’, ‘zahir’,
‘batin’, ‘kalbu’, ‘kuliah’, dan lain sebagainya.
Keberhasilan mengislamkan bahasa oleh para
dai terdahulu dicatat oleh Prof. al-Attas sebagai keberhasilan yang
mengalahkan pencapaian Hindu-Budha. Karena mereka berhasil mengangkan
bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di kepulauan Nusantara (M. Naquib
al-Attas, Historical Fact and Fiction, hal.xvi).
Sementara bahasa kaum Hindu, sansekerta,
tidak popular kecuali di kalangan istana dan para pemuka agama mereka
saja. Sementara bahasa Melayu yang telah banyak menyerap istilah
Arab-Islam itu lebih merakyat area penyebarannya luas seiring dengan
luasnya dakwah Islam di bumi Nusantara.
Dikenal pula di sini jenis tulisan
Arab-Jawi yang sering disebut tulisan Pegon (pego). Tulisan berbahasa
jawa atau sunda tapi dengan menggunakan huruf Arab. Jenis tulisan ini
populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad lamanya,
sejak kedatangan Islam. Namun, sayang jenis tulisan ini tidak lagi
populer di Indonesia – hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Jenis
tulis ini merupakan keunikan Muslim di Nusantara warisan para dai
penyebar Islam terdahulu.
Pakaian orang-orang Muslim di Indonesia
dan Malaysia juga memiliki kekhasan. Mereka memakai sarung, baju takwa
dan songkok Nasional (songkok berwarna hitam). Baju takwa mirip dengan
baju gamis Arab yang dipotong sampai pinggang. Konon nama ‘baju takwa’
ini diambil dari firman Allah Subhanahu Wata’ala, ..wa libasut takwa..
Blangkon, juga disebut-sebut tidak lepas dari simbol Arab-Islam yaitu
berasal dari serban imamah, yaitu kain panjang yang dililitkan di kepala
dengan model tertentu. Di tanah jawa, serban imamah itu dibuat praktis,
yaitu lilitannya dilekatkan supaya dengan mudah bisa dilepas dan
dipakai lagi. Karena di Jawa, maka kemudian kainnya menggunakan batik.
Sehingga kita bisa memperhatikan, serban imamah yang biasa dipakai oleh
para ulama Hadramaut Yaman atau habaib Indonesia bentuknya hampir mirip
dengan blankon.
Simbol-simbol dan tradisi di Nusantara
yang berlaku di kalangan Muslim Nusantara tersebut merupakan produk
Islamisasi. Kita lebih tepat menyebut tradisi Nusantara yang
terislamkan. Bukan agama Islam yang ternusantarakan. Sebab, pengaruh
Islamnya lebih kuat dan mengakar bahkan mengandung filosofi yang
berdasarkan al-Qur’an dan hadis.
Setelah terislamkan, yang terlihat adalah warna Islamnya bukan warna Hindu-Budha atau animisme-dinamisme.
Hasilnya, Dari abad ke-15 sampai ke-17 di bumi Nusantara terlihat perubahan pemikiran dalam pandangan hidupnya (worldview),
yang melahirkan filsuf, ulama’ dan pemikir tingkat internasional dengan
karya-karya yang berbobot. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan:
“Abad-abad
ke-enam belas dan ke-tujuh belas suasana kesuburan dalam penulisan
sastera falsafah, metafizika dan teologi rasional yang tiada terdapat
tolak bandinganya di mana-mana dan di zaman apa pun di Asia Tenggara.
Penterjemahan al-Qur’an yang pertama dalam bahasa Melayu telah
diselenggarakan beserta syarahannya yang berdasarkan al-Baydawi; dan
terjemahan-terjemahan lain serta syarahan-syarahan dan karya-karya asli
dalam bidang falsafah, tasawuf dan ilmu kalam semuanya telah
diselenggarakan pada zaman ini juga” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hal.45).
Maka, cara yang telah dilakukan Walisongo
harus dilanjutkan dakwah dan perjuangannya. Dakwah mereka adalah
memasukkan nilai-nilai Tauhid ke dalam tradisi Muslim Indonesia, bukan
mengindonesiakan makna Tauhid. Jika memasukkan nilai Tauhid, maka inilah
yang dinamakan Islamisasi. Manakala menusantarakan makna Tauhid, maka
ini bisa berujung kepada liberalisasi Islam. Sejak berabad-abad lamanya
Indonesia merupakan bumi Aswaja, bukan bumi Liberal. Tiga setengah abad
Indonesia dijajah Belanda, namun Indonesia masih berpegang pada tradisi
Islam, bukan tradisi Barat-Kristen. Hal ini menunjukkan akar Islamisasi
di bumi Nusantara ini sangat kuat.
Dan yang juga penting, Al-Attas mencatat,
bahwa kedatangan Islam di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia merupakan
peristiwa terpenting dalam sejarah kepulauan tersebut. Melayu kemudian
menjadi identik dengan Islam. Sebab, agama Islam merupakan unsur
terpenting dalam peradaban Melayu. Islam dan bahasa Melayu kemudian
berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional (Syed
Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, hal. 178).
Oleh: A. Kholili Hasib
hidayatullah
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN
May 26, 2015
Oleh A.Kholili Hasib
“Islam Nusantara”: Islamisasi Nusantara atau Menusantarakan Islam? [1]
Written By Sjam Deddy on 26 May, 2015 | May 26, 2015
Islam tidak memerlukan predikat atau sifat lain. Jika Islam diberi sifat yang lain, justru akan mempersempit Islam itu sendiri
BELAKANGAN ini makin
ramai diskusi di media sosial dan forum-forum tentang term “Islam
Nusantara”. Agus Sunyoto, Wakil Ketua PP Lesbumi NU, menjelaskan istilah
ini.
“Definisi Islam Nusantara, menurut saya,
adalah Islam yang berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia atau
Nusantara yang memiliki ciri khas tersendiri, yang kelihatan berbeda
sama sekali dengan Islam yang mainstream dilakukan di Timur Tengah.
Tetapi ada juga sambungan-sambungan dan kaitan-kaitan dari pengaruh
Timur-Tengah”, kata Agus Sunyoto dalam wawancara di Majalah AULA Mei 2015.
Dari segi terminologi, istilah “Islam
Nusantara” kurang tepat. Karena bisa membawa pada pengertian bahwa
Islam Nusantara merupakan bagian dari jenis-jenis Islam yang banyak.
Kita harus menyatakan bahwa Islam itu satu dan tidak plural (banyak).
Adapun yang nampak banyak, sebenarnya adalah ‘madzhab’, aliran
pemikiran, pemeluk dan lain-lain.
Menyematkan sifat pada kata Islam perlu hati-hati.
Pengggunaan kata sifat yang ditempelkan
kepada Islam, misalnya “Islam Jawa”, Islam Bali”, “Islam Arab”, “Islam
China”, “Islam Pluralis” “Islam Sekular” dan lain-lain akan membuat
kesan bahwa Islam itu plural.
Prof. Syed M. Naquib al-Attas, pakar
sejarah Islam Melayu, menekankan pemakaian bahasa secara benar sehingga
makna yang benar mengenai istilah dan konsep kunci yang termuat
didalamnya tifak berubah atau dikacaukan. Setiap terminologi kunci
mengandungkan sebuah paradigma (Syed M Naquib al-Attas,Islam dan Sekularisme, hal. 198).
Karena itu, term ‘Islam’ tidak memerlukan
predikat atau sifat lain. Jika Islam diberi sifat yang lain, justru akan
mempersempit Islam itu sendiri. Maka, seharusnya yang tepat adalah
istilah “Muslim Nusantara” karena hakikatnya pemeluk Islam itu terdiri
dari banyak bangsa dan suku, termasuk didalamnya Muslim yang ada di
Nusantara ini. Atau lebih tepat menggunakan istilah “Islam di
Nusantara”. Karena agama Islam telah menyebar luas ke seluruh dunia,
termasuk di Nusantara.
Kesan Islam itu plural dalam term “Islam Nusantara” merupakan bagian dari misi liberalisasi agama Islam. [Baca juga: “Islam Nusantara”, Makhluk Apakah Gerangan?]
Pemahaman bahwa Islam itu tidak satu tapi
banyak merupakan proyek liberalisasi dengan mengusung ideologi
relativisme dan pluralisme. Menggiring kepada sikap pembiaran terhadap
model-model Islam yang lain yang belum tentu sesuai dengan ajaran Islam.
Aroma relativisme dan permisivisme mendompleng dalam terminologi “Islam
Nusantara” bisa disimak dalam pendapat Agus Sunyoto. Dia mengatakan:
“Kalau dikumpulkan ya kelompok-kelompok dari aliran kepercayaan
macam-macam itu sebetulnya yang mewarisi Islam Nusantara. Saya lama
meneliti golongan kebatinan yang beraneka ragam. Karena mereka memiliki
traidisi yang sama, tradisi kebudayaan dan keyakinan yang sama pula”
(majalah AULA, Mei 2015 hal. 17).
Menurut pendapat tersebut, aliran
kebatinan dan aliran-aliran kepercayaan — yang dipengaruhi animisme dan
dinamisme — dimasukkan dalam rumpun model “Islam Nusantara” yang harus
dirawat tidak boleh disalahkan.* (bersambung)
Oleh A.Kholili Hasib
hidayatullah
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
REFLEKSI,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
Pemblokiran Media Islam dan Jebakan Huntington [2]
Written By dBisnis on 03 May, 2015 | May 03, 2015
Huntington, Bernard Lewis, dkk terus berkampanye agar Barat mengikuti
jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat,
setelah komunis
sambungan . . . .
DARI kasus doktrin ‘preemptive strike’
ini tampak bagaimana pola pikir ‘bahaya Islam’ atau ‘ancaman Islam’
yang dikembangkan ilmuwan seperti Huntington, berjalan cukup efektif.
Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran
langsung, meskipun tanpa melalui persetujuan PBB. Pola pikir Huntington,
bahwa ‘Islam’ lebih berbahaya dari ‘komunis’ juga tampak mewarnai
kebijakan politik dan militer AS tersebut.
Tentu saja, yang penting kemudian adalah
pendefinisian siapa yang dimaksud sebagai “musuh baru yang lebih bahaya
dari komunis?” Dalam Who Are We? Huntington menyebut, yang
disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usama bin Ladin atau al-Qaida
group. Tetapi, banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS.
Kata Huntington, sebagaimana dilakukan oleh Komunis Internasional dulu,
kelompok-kelompok Islam militan melakukan protes dan demonstrasi damai,
dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Mereka
juga melakukan kerja-kerja amal sosial.
Dengan definisi dan penggambaran seperti
itu, banyak kelompok Islam yang dimasukkan ke dalam kategori militan,
dan layak diserang secara dini. Tanpa menampilkan sebab-sebab dan fakta
yang komprehansif, misalnya, Huntington menulis, bahwa selama beberapa
dekade terakhir, kaum Muslim memerangi kaum Protestan, Katolik, Kristen
Ortodoks, Hindu, Yahudi, Budha atau Cina. (In recent decades, Muslims have fought Protestan, Catholic, and Orthodox Christians, Hindus, Jews, Buddhists, and Han Chinese). Ia
tidak menjelaskan, apakah dalam kasus-kasus itu kaum Muslim diperangi
dan dizalimi, atau Muslim yang memerangi. Dalam menyinggung kasus
Bosnia, misalnya, dia tidak memaparkan bagaimana kaum Muslim menjadi
korban kebiadaban yang tiada tara di Bosnia. Dan ketika itu, AS dan
sekutunya menjadi penonton yang baik atas pembasmian umat Muslim.
Samantha Power, dalam bukunya “A Problem from Hell: America and The Age of Genocide” (London:
Flamingo, 2003), membongkar habis-habisan sikap tidak peduli AS
terhadap praktik pembasmian umat manusia di berbagai tempat, termasuk di
Bosnia. Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2003.
Dalam kasus Bosnia, tulis Samantha, AS bukan hanya tidak berusaha
menghentikan pembasmian etnis Muslim, tetapi malah memberi jalan kepada
Serbia untuk melaksanakan kebiadaban mereka. (Along with its European allies, it maintained an arms embargo against the Bosnian Muslims from defending themselves). Untuk Bosnia, Samanta yang menjadi saksi berbagai kebiadaban Serbia di Bosnia, menulis judul “Bosnia: No More than Witnesses at a Funeral”.
Sebagaimana ilmuwan “neo-orientalis”
lainnya, seperti Bernard Lewis, Huntington juga tidak mau melakukan
kritik internal terhadap kebijakan AS yang imperialistik – sebagaimana
banyak dikritik oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Noam Chomsky, Paul Findley,
dan Edward Said. Ia tidak mengakui bahwa kebijakan AS yang membabi buta
mendukung kekejaman dan penjajahan Israel adalah keliru dan menjadi
satu sebab penting tumbuhnya ketidakpuasan dan kemarahan kaum Muslim dan
umat manusia. Ia hanya mau menunjukkan bahwa Islam adalah potensi musuh
besar dan bahaya bagi Barat dan AS khususnya. Ia menampilkan polling-polling
di sejumlah negeri Islam yang menunjukkan, sebagian besar kaum Muslim
sangat tidak menyukai kebijakan AS. Misal, sebuah polling di sembilan
negara Islam, antara Desember 2001-Januari 2002, menampilkan realitas
opini di kalangan Muslim, bahwa AS adalah “kejam, agresif, sombong,
arogan, mudah terprovokasi dan bias dalam politik luar negerinya.”
Tetapi, Huntington tidak mau menampilkan
fakta bahwa kebencian masyarakat Barat (Eropa dan rakyat AS sendiri)
terhadap kebijakan-kebijakan politik AS juga sangat besar. Bahkan, jauh
lebih besar dari apa yang terjadi di kalangan Muslim. Di dunia Islam,
tidak ada demonstrasi besar-besaran diikuti ratusan ribu sampai jutaan
orang dalam menentang AS seperti yang terjadi di berbagai negara Eropa
dan di dalam AS sendiri. Banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Prof.
Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’.
Karena itu, sangatlah naif, bahwa ilmuwan seperti Huntington ini justru
mencoba menampilkan fakta yang tidak fair dan sengaja membingkai Islam
sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rhetoric of
America’s ideological war with militant communism has been transferred
to its religious and cultural war with militant Islam.”
Huntington, Bernard Lewis, dan
kawan-kawannya terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga
mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh
utama Barat, setelah komunis. John Vinocur, dalam artikelnya berjudul “Trying to put Islam on Europe’s agenda”, (International Herald Tribune, 21 September 2004), mencatat, “But Huntington insists Europe’s situation vis-à-vis Islam is more acute.”
Skenario inilah yang dirancang kelompok “Neo-konservatif” di AS, yang
beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan
konfrontasionis. (Lihat buku The High Priests of War “ (Washington DC: American Free Press, 2004), karya Michel Colin Piper).
Tanpa pendefinisian yang jelas terhadap
“Islam militan”, maka itu akan menyeret kaum Muslim lainnya. Itu,
misalnya, menimpa Thariq Ramadhan dan Yusuf Islam, yang dilarang
memasuki AS. Begitu juga ribuan warga Muslim yang menerima perlakuan
tidak manusiawi. Dalam sub-bab berjudul “The Search for an Enemy”,
Huntington mencatat, bahwa pasca Perang Dingin, AS memang melakukan
pencarian musuh baru, yang kemudian menemukan musuh baru bernama “Islam
militan”, setelah peristiwa WTC. Huntington menulis: “Some
Americans came to see Islamic fundamentalist groups, or more broadly
political Islam, as the enemy, epitomized in Iraq, Iran, Sudan, Libya,
Afghanistan under Taliban, and to lesser degree other Muslim states, as
well as in Islamic terrorist groups such as Hamas, Hezbollah, Islamic
Jihad, and the al-Qaeda network… The cultural gap between Islam and
America’s Christianity and Anglo-Protestanism reinforces Islam’s enemy
qualifications. And on September 11, 2001, Osama bin Laden ended
America’s search. The attacks on New York and Washington followed by the
wars with Afghanistan and Iraq and more diffuse “war on terrorism” make
militant Islam America’s first enemy of the twenty-first century.”
Di sini, tampak, bahwa sangatlah sulit
dunia Islam menerima standar AS dalam soal Islam militan. Dunia Islam,
misalnya, secara keseluruhan tetap menolak memasukkan Hamas di
Palestina, sebagai kelompok teroris, sebab mereka melakukan perjuangan
membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Buku Who Are We? memang masih merupakan kelanjutan garis berpikir Huntington dalam soal Islam dari buku The Clash of Civilizations. Sebagaimana
Lewis, Huntington sudah jauh-jauh hari mengingatkan Barat agar mereka
waspada terhadap perkembangan Islam. Sebab, Islam adalah satu-satunya
peradaban yang pernah menggoyahkan dan mengancam peradaban Barat. (Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice).
Karena itulah, Huntington memperingatkan,
pertumbuhan penduduk Muslim merupakan satu faktor destabilitas terhadap
masyarakat Muslim dan lingkungannya. Jumlah besar kaum muda Muslim
dengan pendidikan menengah akan terus memperkuat kebangkitan Islam dan
militansi Islam, militerisme, dan imigrasi. Hasilnya, pada awal-awal
abad ke-21, Barat akan menyaksikan kebangkitan kekuatan dan kebudayaan
non-Barat dan sekaligus benturan antar-masyarakat non-Barat atau dengan
Barat.
Sebagaimana buku The Clash of Civilizations, buku Who Are We? perlu
dicermati dalam konteks skenario politik global terhadap Islam, yang
sebenarnya merupakan satu upaya “viktimisasi Islam” untuk menutupi
berbagai kesalahan kebijakan AS dan sejumlah sekutunya.
Kini, silakan dicermati, mengapa situs-situs Islam itu diblokir? Allah Maha Tahu dan Allah tak pernah tidur.
DR Adian Husaini
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
TOPIK PILIHAN
April 24, 2015
bersambung insya ALLAH . . . . . .
posted by @Adimin
5 Penemuan Muslim yang Mengubah Dunia [1]
Written By dBisnis on 24 April, 2015 | April 24, 2015
Banyak penemuan yang menakjubkan termasuk ilmu pengetahuan, teknologi –bahkan makanan—justru ditemukan kaum Muslim
Umat Islam sering bangga dengan berbagai
penemuan ilmuwan Barat. Tapi tahukah Anda, banyak penemuan yang
menakjubkan termasuk ilmu pengetahuan, teknologi –bahkan makanan—justru
ditemukan kaum Muslim.
Kopi
Menurut catatan sejarah, pada tahun 1400-an, kopi menjadi minuman yang
sangat populer diantara Muslim di Yaman, selatan Semenanjung Arab.
Sekitar 1,6 milyar cangkir kopi dikonsumsi
di seluruh dunia setiap harinya. Milyaran orang bergantung padanya
sebagai bagian dari kesehariannya. Dan ternyata, tidak banyak yang tahu
tentang kontribusi Muslim terhadap minuman yang ada di mana-mana ini.
Menurut catatan sejarah, pada tahun
1400-an, kopi menjadi minuman yang sangat populer diantara Muslim di
Yaman, selatan Semenanjung Arab. Konon katanya, seorang penggembala (ada
yang mengatakan di Yaman, ada yang bilang di Ethiopia) memperhatikan
bahwa kambing-kambingnya menjadi sangat enerjik dan lincah saat mereka
memakan biji-biji dari sebuah pohon. Dia kemudian mencobanya sendiri,
dan menyadari bahwa dirinya juga mendapatkan tambahan enerji.
Seiring berjalannya waktu, tradisi
memanggang biji-biji tersebut lantas menyeduhnya dengan air untuk
menciptakan minuman yang meski pahit namun bertenaga semakin berkembang,
dan lahirlah kopi.
Terlepas dari benar tidaknya cerita
tentang penggembala kambing itu, kopi menemukan jalannya dari dataran
tinggi Yaman ke seluruh Kekaisaran Ottoman (Khilafah Usmaniyah/Usmani),
sebuah kekaisaran Muslim yang berpengaruh pada abad ke-15.
Kedai-kedai khusus menjual kopi mulai bermunculan di seluruh kota Muslim di dunia: Kairo, Istanbul, Damaskus, hingga Baghdad.
Dari daerah Muslim, minuman itu menyebar
hingga ke Eropa melalui kota perdagangan Venezia, Italia. Meski pada
awalnya dicap sebagai “minuman Muslim” oleh gereja Katolik, kopi
akhirnya menjadi bagian dari budaya Eropa. Kedai-kedai kopi di tahun
1600-an adalah tempat para pemikir bertemu dan mendiskusikan isu-isu
seperti hak asasi, peran pemerintah, dan demokrasi. Diskusi-diskusi
sambil meminum kopi inilah yang akhirnya melahirkan Abad Pencerahan,
salah satu pergerakan intelektual paling powerful dalam sejarah modern
dunia.
Dari seorang penggembala kambing menuju
pembentukan pemikiran politik Eropa melalui lebih dari satu milyar
cangkir sehari, penemuan Muslim ini adalah salah satu penemuan paling
penting dalam sejarah Manusia.
Aljabar
Sementara banyak anak-anak SMP dan SMA
berkutat dengan matematika, dan tidak menghargai pentingnya Aljabar,
subyek tersebut adalah salah satu kontribusi Muslim paling penting
selama masa kejayaannya hingga sekarang.
Aljabar dikembangkan oleh ilmuwan dan
matematikawan hebat, Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang hidup antara
780 hingga 850 di Persia dan Iraq.
| Add caption |
al-Khawarizmi
menjelaskan bagaimana menggunakan persamaan aljabar dengan variabel
yang tidak diketahui untuk menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat,
Dalam bukunya yang monumental, Al-Kitāb al-Mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala (Bahasa Inggris: The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing),
beliau menetapkan dasar penting dari persamaan aljabar. Judul bukunya
sendiri mengandung kata “al-jabr” yang artinya “completion
(penyelesaian)”, darimana kata Latin algebra bersumber?
Di bukunya, al-Khawarizmi menjelaskan
bagaimana menggunakan persamaan aljabar dengan variabel yang tidak
diketahui untuk menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat, seperti
perhitungan zakat dan warisan.
Aspek unik dari alasannya menggembangkan
aljabar adalah hasratnya untuk menjadikan perhitungan yang ditetapkan
oleh hukum Islam (zakat dan warisan, misalnya), lebih mudah di dunia
yang saat itu belum ada kalkulator dan komputer.
Buku-buku karangan Al-Khawarizmi
diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin di Eropa pada tahun 1000-an dan
1100-an, dimana beliau dikenal dengan nama Algoritmi (dan kata
Alogaritma didasarkan pada nama dan hasil kerjanya).
Tanpa kerja kerasnya mengembangkan
aljabar, aplikasi praktis modern dari matematika, seperti tehnik mesin,
tidak akan mungkin dilakukan. Tulisan-tulisannya digunakan sebagai
referensi matematika di universitas-universitas Eropa selama
beratus-ratus tahun setelah kepergiannya.
Gelar Sarjana
Universitas juga termasuk ke dalam
penemuan yang dibuat oleh dunia Muslim. Dalam masa awal sejarah Islam,
masjid melakukan peran ganda sebagai sekolah juga. Orang yang mengimami
shalat juga mengajar sejumlah murid tentang ilmu-ilmu agama seperti
mengaji, fikih, dan hadits. Akan tetapi saat Muslim mulai berkembang,
dibutuhkan pula sekolah-sekolah formal, yang disebut madrasah, bertujuan
untuk memberikan pendidikan kepada para murid ini.
Madrasah formal pertama adalah Al-Karaouine, didirikan pada 859 oleh Fatima al-Fihri di Fes, Maroko
Madrasah formal pertama adalah
Al-Karaouine, didirikan pada 859 oleh Fatima al-Fihri di Fes, Maroko.
Sekolah milik beliau menarik sejumlah ilmuwan-ilmuwan besar di Afrika
Utara, serta beberapa murid-murid tercedas milik bangsa. Di
Al-Karaouine, murid-murid diajar oleh para guru untuk beberapa tahun
dalam berbagai mata pelajaran, mulai dari pelajaran duniawi hingga ilmu
agama. Pada akhir masa pendidikan, jika para guru menilai murid mereka
memenuhi syarat, mereka akan memberikan sebuah sertifikat yang disebut
ijazah, yang mengakui bahwa murid tersebut telah memahami materi-materi
yang diberikan dan kini memenuhi syarat untuk mengajarkannya
bersambung insya ALLAH . . . . . .
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
Saint,
TOPIK PILIHAN
April 14, 2015
posted by @Adimin
Indonesia dalam Cengkraman Asing
Written By Sjam Deddy on 14 April, 2015 | April 14, 2015
Ancaman bagi Indonesia membuat militer kian resah. Hal inilah yang
disampaikan KSAD Jendral TNI Gatot Nurmantyo mengingatkan bahwa Sumber
Daya Alam (SDA) yang dimiliki bangsa Indonesia justru bisa menjadi
bumerang. Pasalnya, kekayaan Indonesia berpotensi dilirik oleh negara
asing sebagai lahan eksploitasi. Hal itu disampaikan di Malang, Selasa 7
April 2015
Pada kesempatan yang sama KSAD menyatakan bahwa bangsa ini harus
bersiap menghadapi tantangan jika ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Perang yang akan segera dihadapi bangsa ini yaitu perang energi.
Berbagai gejala sudah mulai tampak, salah satunya melalui perang proxy
(proxy war). Proxy war adalah perang dengan menggunakan pihak
ketiga sebagai pengganti perang secara langsung untuk menghindari resiko
kehancuran fatal. KSAD menyontohkan bahwa lepasnya Timor Timur dari
Indonesia karena Australia membantunya dengan harapan menguasai cadangan
minyak yang melimpah. Xanana Gusmao mengonfirmasi kebenaran itu
(pikiranrakyat.com, 7/4/2015).
Ada hal menarik pada pernyataan KSAD, yaitu negara asing, proxy war,
dan intervensi asing pada pemisahan suatu wilayah dari negara yang sah.
Beberapa waktu sebelumnya TNI telah mengadakan pertemuan dengan BEM
seluruh Indonesia, guna memberi pembekalan bahaya asing dalam menguasai
SDA Indonesia. Kewaspadaan ini seharusnya dipertegas kembali dengan
sudut pandang ideologi yang benar. Serta mengambil langkah teknis dan
taktis. Hal ini penting untuk menjauhkan militer dari pragmatisme,
oportunis, dan kepentingan sesaat terkait harta dan jabatan.
Mempertegas Ancaman
Negara asing yang ingin menggeruk kekayaan SDA negara lain
berideologi kapitalisme. Kapitalisme merupakan ideologi yang memisahkan
agama dari kehidupan. Serta bertumpu pada modal (kapital) dalam meraih
tujuan dan bersifat materi semata. Kapitalisme begitu rakus dan merusak
kehidupan. Rakyat yang seharusnya menikmati hasil SDA harus gigit jari
dan hidup dalam kemiskinan.
Rakyat harus digugah bahwa negara asing semisal AS, Inggris, China,
Belanda, Kanada, Jepang, Perancis, dan lainnya telah bercokol di negeri
ini. Mereka meneksplorasi SDA melalui korporasinya, semisal Freeport,
Exxon Mobile, Newmount, Shell, Petrochina, Mitsubishi Oil, dan lainnya.
Tidak hanya asing, korporasi lokal juga turut mengeksplorasi SDA
Indonesia. Beberapa di antaranya Nusantara Energy Group (Prabowo), MNC
Energy & Natural Resources (Harry Tanoe Soedibyo), Bakrie Group
(Aburizal Bakrie), Surya Energy Raya dan Media Group (Surya Paloh),
Founder Toba Sejahterah (Luhut Panjaitan), Perusahaan Group Yusuf Kalla,
dan sederet koporasi pejabat negeri ini.
Berdasar keterangan JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) Pulau Jawa
dikapling pertambangan melalui Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang
dikeluarkan oleh pemerintah daerah Jawa Barat: 206,681 ha – 455 lembaga,
Jawa Tengah: 74,532 ha – 238 lembaga, Yogyakarta: 9,578 ha – 15
lembaga, dan Jawa Timur: 86,904 ha – 378 lembaga.
Seputar Jawa Timur di wilayah uatara mulai pantura hingga Madura
telah dikapling terkait minyak dan gas (migas), termasuk eksplorasi
lepas pantai. Wilayah selatan pun demikian juga telah dikapling mulai
Magetan hingga Jember. Wilayah selatan kaya akan air dan sumber mineral.
Emas di Banyuwangi, Madiun, dan Trenggalek. Pasir besi di Lumajang dan
Jember. Mineral lain di Mojokerto, Trenggalek, dan Pacitan. Tembaga di
Pacitan. Gamping ada di Gresik, Tuban, dan sisa gunung mati. Sumber Daya
Air penggunungan ada di Pasuruan hingga ke timur.
Berkaitan dengan proxy war, ini merupakan salah satu cara
untuk intervensi negara asing. Cara militer dianggap lagi tidak
menguntungkan karena berbiaya mahal dan menghindari jatuh korban di
kalangan manusia. Kemudian dipilih dengan model penjajahan politik,
ekonomi, dan budaya. Kata-kata investasi dan penanaman modal asing
sering menjadi angin segar ekonomi. Padahal hakikatnya penjajahan asing.
Korporasi asing berani membayar politisi di eksekutif dan legislatif
dalam pembiayaan pembuatan undang-undang. Bahkan kini ditengarai ada 70
lebih UU liberal dan tidak pro rakyat. Penguasa sering menjadi
kepanjangan tangan pengusaha dalam hal aturan main usaha. Demokrasi
hanya ilusi tak seindah jargonya. Sebaliknya demokrasi menjelma menjadi
dari korporasi, oleh penguasa-korporasi, dan untuk korporasi.
Intervensi dalam pemisahan suatu wilayah merupakan cara Barat untuk
memecah belah dan meperlemah negara. Cukuplah Irak, Sudan, Yaman,
Pakistan, Timor Timur, dan Afghanistan menjadi pelajaran berharga. Irak
diinvasi militer karena alasan senjata pemusnah massal, namun tidak
terbukti. Ujungnya kepentingan minyak dan menyingkirkan Saddam Hussein
karena tidak berguna lagi. Sudan dipecah menjadi Sudan Utara dan Sudan
Selatan. Di sana disulut konflik internasional dengan menggunakan orang
lokal. AS dan Eropa berebut kepentingan di Afrika. Yaman pun tak berbeda
dengan Sudan. Pakistan berkonflik dengan Kashmir, India, dan
Bangladesh. Timor Timur dipecah kembali atas bantuan Australia.
Benih-benih separatisme dan disintegrasi pun muncul di beberapa wilayah
Indonesia yang kaya SDA. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh, Republik
Maluku Selatan(RMS) di Maluku, Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua,
dan lainnya. Semua ini menunjukkan bahwa metode baku dari negara
kapitalisme adalah penjajahan dan memecah belah.
Dengan demikian, saat ini muncullah istilah neo liberalisme dan neo
imprealisme. Kedua ide itu saat ini mengancam kedaulatan Indonesia.
Tanpa sadar, kian hari kian kokoh kedua ide itu. Maka harus disadari
oleh semua elemen umat dimulai dari kalangan militer, politisi, aktifis,
intelektual, ulama’, santri, mahasiswa pelajar dan semuanya. Jika
ancaman nyata dan musuh bersama adalah neo liberalisme dan neo
imprealisme yang telah mengepung di segala aspek kehidupan. Beratlah
akhirnya bangsa ini dalam menjalani kehidupan.
Mengembalikan Peran Militer
Militer sebagai penjaga kedaulatan negeri ini harus dikembalikan
perannya. Semua pasukan disiagakan dalam kondisi siap perang. Pembinaan
mental dan spiritual dijadikan bekal mereka untuk menghadapai musuh
sesungguhnya. Jikalau sekarang militer sudah sadar bahwa negara asing
sudah menjajah Indonesia. Maka sikap ksatria yang harus ditunjukan
adalah menentang segala bentuk penjajahan, memutuskan hubungan militer
dengan negara penjajah, dan tidak bersikap manis muka di hadapan mereka.
Militer harus membangun industri militer yang kuat dan berbasis pada
tujuan perang. Hal ini dilakukan untuk menghindari embargo, tekanan
militer asing, dan bunuh diri politik-militer. Harus diingat militer
asing akan menggunkan isu terorisme-radikalisme untuk mengajak militer
Indonesia dalam Global War on Terorrism (GWOT) dan latihan bersama.
Sesungguhnya hal itu akan menjadi bunuh diri politik-militer.
Menggugah Kesadaran
Ya, berdasar paparan di atas, neo liberalisme dan neo imprelisme
merupakan ancaman bagi negeri ini. Berita carut marut politik, penegakan
hukum, kenaikan harga barang kebutuhan pokok, liberalisasi
budaya-ekonomi-sosial sudah cukup menjadi bukti bahwa negeri ini salah
urus. Butuh solusi fundamental yang tidak sekadar seruan ganti rezim,
tapi juga ganti sistem.
Rezim bobrok ditopang dengan sistem yang bobrok, menghasilkan
kebobrokan. Sama saja jika salah satunya bobrok, akan menimbulkan
kerusakan pula. Maka butuh sistem yang bukan berasal dari manusia yang
lemah. Itulah sistem Islam.
Islam adalah Solusi......
Hanif K
eramuslim
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
TOPIK PILIHAN
March 14, 2015
Oleh: Yan S. Prasetiadi, M.Ag
hidayatullah
posted by @Adimin
‘Islam Moderat’ Sebuah Distorsi Istilah
Written By Sjam Deddy on 14 March, 2015 | March 14, 2015
Diciptakanlah istilah ‘Islam radikal’ untuk menggiring kaum Muslim agar menerima istilah ‘Islam moderat’dan barat akan memberi penghargaan "Islam Moderat' bagi yang mau bekerjasama
dengannya, dan cap 'radikal' bagi yang melawan (Ilustrasi)
SEBUAH istilah terkadang mampu menyihir dan
memperdaya siapa pun, terlebih jika dikatakan dengan penuh retorika oleh tokoh
terpandang. Hal ini nampaknya berlaku dalam wacana ‘Islam moderat’ yang
belakangan dikampanyekan kembali sebagian pihak, setelah sebelumnya gagasan ini
sempat diusung gerakan liberal, yang akhirnya kandas dan ditolak umat Islam.
Karenanya patut disayangkan jika beberapa tokoh negeri ini, malah mempropa gandakan
kembali gagasan basi ‘Islam moderat’ ini.
Masih hangat dalam memori kita, ketika
sambutan acara ta’aruf Kongres
Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta, Menteri Agama
menyatakan bahwa Islam Indonesia yang moderat adalah versi Islam yang
diharapkan dunia (08/02/2015). Di hari berikutnya, selasa (10/02/2015), pada
acara yang sama, Wapres mengatakan pemikiran Islam Indonesia diharapkan bisa
menjadi referensi terbesar di dunia, karena itu, umat Islam di Indonesia harus
bisa menunjukkan Islam yang moderat dan toleran, menjadi jalan tengah, serta
mampu menjaga kebersamaan dan kedamaian.
Apa yang disampaikan wapres dan menteri Agama
itu, sebetulnya sudah pernah diopinikan juga mantan presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya di depan peserta APEC CEO Summit tahun 2011 di Honolulu,
Amerika Serikat (12/11/2011).
SBY mengatakan Indonesia akan menjadi model
Islam moderat yang berkomitmen menekan radikalisme dengan cara yang tidak
melanggar HAM dan menjujung demokrasi.
Di sini terlihat, tokoh politik di negeri ini
memiliki irama dan pandangan yang senada tentang Islam. Bahwa Islam harus
menjadi moderat, jalan tengah, damai, anti radikal, toleran, sesuai HAM,
menjunjung demokrasi dan dicintai ‘dunia’.
Sepintas gagasan ‘Islam moderat’ merupakan
gagasan yang seolah asli dan elegan. Akan tetapi, setelah ditelusuri, kampanye
‘Islam moderat’ tidak lepas dari peristiwa WTC 11 September 2001, di mana
kelompok Muslim dituduh bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Akhirnya umat
Islam menjadi tertuduh, dan diciptakanlah istilah ‘Islam radikal’ untuk
menggiring kaum Muslim agar menerima istilah ‘Islam moderat’.
Dari berbagai pernyataan para politisi dan
intelektual Barat terkait klasifikasi Islam menjadi ‘Islam moderat’ dan ‘Islam
Radikal’ atau Ekstrimis, kita akan menemukan bahwa yang mereka maksud ‘Islam
Moderat’ adalah Islam yang tidak anti Barat (baca: anti Kapitalisme); Islam
yang tidak bertentangan dengan sekularisme Barat, serta tidak menolak berbagai
kepentingan Barat. Substansinya, ‘Islam Moderat’ adalah Islam sekular, yang mau
menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi dan HAM, serta mau berkompromi
dengan imperialisme Barat dan tidak menentangnya. Kelompok yang disebut ‘Islam
Moderat’ ini mereka anggap sebagai ‘Islam yang ramah’ dan bisa jadi mitra
Barat.
Sebaliknya, menurut Barat, yang disebut ‘Islam
radikal’ atau ‘ekstrimis’ adalah Islam yang menolak ideologi
Kapitalisme-Sekular, anti demokrasi, dan tidak mau berkompromi dengan Barat.
Dengan kata lain, ‘Islam radikal’ adalah
Muslim yang setia dengan pandangan hidup dan nilai-nilai Islam, serta taat pada
ideologi dan syariat Islam. Atau, orang radikal adalah orang yang ingin menerap
kan Islam kaffah. Bagi Barat, kelompok Islam ini bukan saja dianggap sebagai
Islam yang ‘keras’ dan anti-Barat, tetapi juga dianggap sebagai ancaman buat
peradaban mereka.
Karena itu, Noam Chomsky dalam Pirates and
Emperors, Old and New International Terorism in
The Real World (new edition, 2002), mengatakan: “We note another pair of Newspeak concepts:
‘extremist’ and ‘moderate,’ the latter referring to those who accept the
position of the United States, the former to those who do not.”
(Kita mencatat sepasang konsep basabaru: ‘ekstrimis’ dan ‘moderat’; predikat
‘moderat’ disandangkan pada pihak-pihak yang mendukung kebijakan AS dan
sekutunya. Sementara predikat ‘ekstrimis’ disandangkan pada pihak-pihak yang
menantang, mengancam, mengusik kebijakan AS dan sekutunya).
Jelas, klasifikasi demikian menggambarkan cara
pandang Barat terhadap Islam dan kaum Muslim sesuai ideologi mereka. Karena
itu, umat Islam wajib menyadari, pemilahan Islam menjadi moderat dan radikal
adalah demi kepentingan Barat, yakni untuk memunculkan satu kelompok Islam dan
menekan kelompok Islam yang lain. Dengan begitu, Barat berambisi, hanya ada
satu Islam, yakni Islam yang mau menerima ideologi, nilai-nilai, dan peradaban
Barat serta berbagai kepentingan mereka.
Padahal dalam keilmuan Islam, tidak ada yang
namanya Islam moderat, Islam ramah, Islam radikal, ataupun Islam ekstrimis.
Karena Islam adalah agama (diin)
yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur
hubungan antara manusia dengan Allah, dengan sesamanya, dan dengan dirinya
sendiri.
Karena itu, Islam tidak cuma mengajarkan
akidah yang mengharuskan setiap pemeluknya mengimani rukun iman. Islam juga
mengharuskan setiap pemeluknya untuk terikat dengan syariat-Nya; baik yang
berkaitan dengan masalah ibadah, muamalat (seperti sistem ekonomi), munakahat
(seperti sistem pergaulan pria-wanita), hudud dan jinayat (seperti sistem
sanksi dan peradilan), jihad, maupun ahkam sulthaniyah (seperti sistem
pemerintahan), dsb. Inilah yang disebut Islam kaffah.
Inilah keberislaman yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Itulah sejatinya hakikat Islam yang disepakati
para ulama. Akan tetapi dilapangan, pelaksanaan Islam oleh para pemeluknya
tidak selalu berbanding lurus dengan ajaran yang dipeluknya. Misal, korupsi
jelas diharamkan Islam, tetapi para koruptor di negeri ini ada yang Muslim.
Demikian pula dengan satu-dua aksi pengeboman
terhadap rakyat sipil, juga jelas dilarang Islam, meski pelakunya ternyata ada
yang Muslim. Jika kasus korupsi tersebut mewakili Muslim moderat, kemudian
kasus pengeboman mewakili Muslim radikal, apakah masuk akal jika kemudian Islam
yang disalahkan? Jelas tidak, karena kesalahan bukan pada Islam, tetapi pada
masing-masing oknum pelakunya.
Semua tindakan itu jelas bertentangan dengan
Islam dan tidak ada kaitan dengan Islam. Jika kemudian ada oknum Muslim yang
melakukan kesalahan, seharusnya ia dilihat sebagai orang yang melakukan
pelanggaran terhadap (hukum) Islam, dan bukan sedang mempraktikan ajaran Islam.
Wallahu A’lam
Oleh: Yan S. Prasetiadi, M.Ag
hidayatullah
posted by @Adimin
Label:
EDITORIAL,
FAKTA,
TOPIK PILIHAN






