pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post
Showing posts with label HUMOR. Show all posts
Showing posts with label HUMOR. Show all posts

Santri Cerdik dan Seekor Sapi

Written By @Adimin on 07 May, 2015 | May 07, 2015



Seorang santri baru saja lulus aliyah pesantren dengan nilai jayyid jiddan (lumayan pintar). Dia pun berencana mengadu nasib di Jakarta.

Saat tiba di Stasiun Pasar Senen, dia melihat kerumunan orang. Rupanya sedang ada kecelakaan. Di Jakarta, kecelakaan biasanya memang menjadi tontonan yang menarik, maka dia pun memutuskan untuk ikut menonton.

Namun teryata kerumunan itu terlalu berjubel sehingga ia tidak bisa melihat korban dengan jelas, apalagi postur tubuhnya yang memang kecil. Jadi, jangankan mendekat, untuk melihat korban saja sulit. Berhubung karena merupakan santri berotak cemerlang, maka dia tidak kurang akal dan langsung berteriak-teriak sambil pura-pura panik.

"Saya keluarganya.. Saya keluarganya.. Minggir.. Tolong minggir !" katanya sambil mengacungkan jari dan mendesak maju menerobos kerumunan orang-orang tersebut.

Orang-orang pun memandanginya, dan ternyata si santri memang berhasil. Mereka langsung memberi kesempatan kepada santri itu untuk menghampiri korban kecelakaan. Santri itu pun langsung mendekati korban kecelakaan. Dan, betapa terkejutnya ketia dia melihat dengan jelas korban kecelakaan yang diakuinya sebagai keluarganya itu ternyata adalah seekor SAPI . . . . .!



posted by @Adimin

Siapa Yang Gila . . . . .

Written By @Adimin on 21 August, 2014 | August 21, 2014



Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh, karena persis jam 22.00 terdengar azan berkumandang dari sebuah mushalla setempat lewat pengeras suara yang berbunyi seperti suara oplet rusak. 
 
Suara pengumandang azan yang tak kalah gontai membuat warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya: Aki Dadang, yang umurnya sudah menembus kepala 7. Yang membuat kepala warga dipenuhi pertanyaan: mengapa Aki Dadang azan pada jam sepuluh malam? 

Ketika warga sampai di pintu mushalla, Aki Dadang baru selesai azan dan mematikan sound system.

“Aki tahu jam berapa sekarang? ” cecar Pak RT sambil menunjuk jam dinding mushalla. 

“Azan apa jam segini, Ki?”

“Jangan-jangan Aki sudah ikut aliran sesat,” sambar Mang Engkus dengan nada prihatin. “Sekarang banyak banget aliran macam-macam. Bahaya kalau kampung kita sudah kena.”

“Ah, dasar aki Dadang sudah gila,” sahut Joni, mantan preman yang sudah mulai insaf dan berusaha menghilangkan tato di pangkal lengannya dengan setrika panas. “Kalau nggak gila, mana mungkin azan jam segini?” sambungnya sambil menyilangkan jari telunjuk di keningnya ke arah warga yang riuh berkomentar macam-macam mengomentari laku aneh Aki Dadang.

“Kalian ini …,” jawab Aki Dadang tenang. “Tadi waktu saya azan Isya, nggak satu pun yang datang kemari. Sekarang saya azan jam 10 malam, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi. Siapa yang gila, coba?”

Warga pun ngeloyor pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang melipir menjauh, perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Aki Dadang


posted by @Adimin

Mari Kita Sejenak Tertawa dan Bercanda Ria

Written By Sjam Deddy on 09 May, 2014 | May 09, 2014



Diceritakan dalam Musnad Ahmad, bahwasanya ada seorang laki-laki yang membatalkan puasanya pada bulan Ramadhan lantaran bersetubuh dengan istrinya di siang hari. Rasulullaah SAW memberikan pilihan kepada pemuda tersebut untuk memerdekakan budak, atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut, atau memberi makan kepada enam puluh fakir miskin, dalam rangka menebus kesalahannya. “Aku tidak mampu, ya Rasul,” jawab pemuda itu dengan pesimis.
 
Ambillah kurma ini,” sabda Rasulullaah SAW sambil memberikan seikat kurma. “Dan sedekahkanlah!” Lelaki itu kemudian menjawab, “Ya Rasul, tidak ada orang yang lebih miskin di antara dua gunung ini daripada aku!” Mendengar jawaban polos tersebut, Rasulullaah SAW-pun tertawa hingga gigi taring beliau yang putih bersih terlihat.

Para sahabat juga pernah mencandai Rasulullaah SAW. Dalam Tarikh Dimasyqa karya Ibnu Asakir rahimahullaah, diceritakan saat Nu’aiman masuk ke kota Madinah, beliaupun menemui orang yang dicintainya, Rasulullaah SAW. “Ya Rasul, oleh-oleh ini aku hadiahkan untukmu!”, kata Nu’aiman sambil memberi- kan makanan. Tetiba, datanglah sang pemilik makanan tersebut, untuk meminta uang kepada Nu’aiman. Ternyata Nu’aiman belum membayarnya. Dan tanpa sungkan-sungkan, Nu’aiman langsung membawanya kepada sang Nabi dan meminta kepada Nabi SAW untuk membayarkan oleh-oleh tersebut.

Bukankah engkau telah menghadiahkannya kepadaku?”, tanya Rasulullaah SAW. “Demi Allah, aku tidak mempunyai uang (untuk membayarnya), tetapi aku ingin engkau memakannya.” Mendengar jawaban Nu’aiman, sang Nabi SAW-pun tertawa.

Manusia dengan berbagai problematika yang dialaminya, dan kesibukan yang dijalaninya terkadang menyebabkan kelelahan dan terbebannya jiwa. Dalam kondisi seperti ini, celetukan canda tawa sangat dinantikan dan dirindukan untuk mengobati kepenatan yang dialami. Candaan bisa mengubah suasana yang kaku dan hampa menjadi ceria, penuh tawa dan terkesan akrab. Namun demikian, perlu kita akui juga bahwa candaan sewaktu-waktu bisa menghilangkan sifat malu dan mengurangi kewibawaan pada diri kita.

Ketika Islam hadir di muka bumi, dengan karakternya yang menyeluruh dan universal, ia tidak mengenyampingkan fitrah manusia yang pada dasarnya membutuhkan canda tawa. Hanya saja, canda yang diajarkan Islam mengandung unsur pendidikan yang dapat memupuk kegersangan jiwa.

Suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Abu Hanifah rahimahullah dan bertanya kepadanya: “Jika aku menanggalkan pakaianku lalu menceburkan diri ke sungai untuk mandi, haruskah aku menghadap ke kiblat atau boleh ke arah lainnya?” Abu Hanifah menjawab:”Yang lebih utama adalah pusatkan pandanganmu kepada pakaianmu agar tidak dicuri orang!

Ajaran Islam memberikan adab tertentu dalam bercanda supaya kehormatan dan kemuliaan orang yang bercanda tetap terpelihara. Sebab, diakui atau tidak, bercanda dan tertawa bisa menghapuskan rasa duka lara dan memberikan ketenangan kepada jiwa.

Rasulullaah SAW bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah...” (HR. at-Tirmidzi). Beliau SAW juga pernah membersamai sahabat-sahabatnya dengan canda sehingga rasa jenuh dan sedih sirna dari hati mereka. “Ya Rasulullaah, engkau juga bercanda dengan kami?”, tanya para sahabat. “Sungguh aku tidak mengatakan sesuatu (termasuk canda) kecuali yang kukatakan itu adalah benar”, jawab beliau SAW (HR. at-Tirmidzi).

Dengan demikian, bercanda dan tertawa merupakan manhaj Islam yang diisyaratkan langsung oleh Rasulullaah SAW. Hanya saja, beliau menggariskan agar candaan tersebut tidak mengandung unsur maksiat kepada Allah, tidak menodai rasa malu dan tidak disisipkan ucapan dusta.

Dalam Syamail Muhammadiyah, kitab yang berisikan mengenai kepribadian dan budi pekerti Rasulullaah SAW, karya Imam Tirmidzi rahimahullaah, diceritakan bahwasanya saat itu seorang nenek tua mendatangi Rasulullaah SAW dan meminta kepada beliau untuk dido’akan masuk surga. “Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua”, jawab Rasulullaah SAW kepada sang nenek. Seketika itu juga nenek tua itu pergi sambil menitikkan air mata. Rasa sedih dan shock atas jawaban Rasulullaah SAW bercampur aduk dalam benaknya. Beliau pun berkata, “Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan tua.” Pada kisah ini kita kan dapati, bahwa candaan Rasulullaah SAW tidak mengandung kedustaan dan pasti mengandung kebenaran.

Sebaiknya kita juga jangan terlalu sering untuk bercanda dan tertawa, dan berusaha untuk melatih lisan ini untuk berbicara pada hal-hal yang bermanfaat saja. Seorang penyair terkenal, Abul-Fath al-Busti rahimahullaah pernah mengatakan:

Berikanlah waktu senggang pada tabiatmu yang tegang...

Rilekskanlah sejenak dan hiasilah dengan sedikit canda...

Tetapi, jika engkau berikan canda kepadanya...

Jadikanlah ia seperti engkau memasukkan garam pada makanan...

Makanan, apabila tak dibubuhi garam maka akan terasa hambar. Akan tetapi, jika terlalu banyak diberikan garam, maka makanan akan terasa asin dan tak enak untuk dimakan. Begitupun canda dan tawa apabila tak pernah dilakukan, maka hidup akan kering, garing dan gersang. Tetapi jika berlebihan, akan mengakibatkan banyak keburukan. “Janganlah banyak tertawa!”, sabda Rasululullaah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. “Sesungguhnya banyak tawa akan mematikan hati!

Kawan mari kita sejenak mengisi waktu dengan bercanda dan melepaskan tawa seadanya... Tapi jangan sampai berlebihan dan jangan pula ditinggalkan...

Wallaahu a’lam...


Fais al-Fatih   


posted by @Adimin

Sepotong Cerita Buat Bujanghidin dan Bujangidah

Written By Sjam Deddy on 27 January, 2014 | January 27, 2014

 


Alkisah, ada sepasang anak muda yang telah berkomitmen dengan agamanya. Setelah menjalani proses ta'aruf mereka telah merasakan siap untuk menuju jenjang yang lebih terhormat. yaitu Lamaran (khitbah).

Sang lelaki harus menghadapi lelaki lain, yakni ayah dari wanita tersebut. Hal inilah yang mejadi tantangan yang sesungguhnya bagi lelaki tersebut. Akan tetapi, walaupun semua itu lebih berat dari pada aktivitas2 yang pernah ia jalani selama menjadi aktivis dakwah di kampusnya dulu. Ia tetap maju karena semua ini menyangkut masa depannya.

Sang perempuan pun siap membantu untuk memuluskan langkah mereka untuk mengenapkan agama mereka.
Maka, pada suatu pagi di ruang tamu suatu rumah . Ada seorang anak muda dan seorang lelaki setengah baya yang sedang berdiskusi tentang suatu perkara.  berikut cuplikannya :

"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang lelaki setengah baya.
 
"Iya, Pak," jawab sang muda.

"Apakah engkau telah mengenal anak ku dalam2 ?" tanya si bapak..

"Ia pak, sangat mengenalnya." jawab sang anak muda,

"kalau begitu lamaran mu kutolak !!!!
Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya kan? Tidak bisa.!, Aku mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!" balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu."

"Lamaranmu kutolak. Itu seperti membeli kucing dalam karung kan? aku tak mau. karena kau akan gampang menceraikan anakku karena kau tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya dengan lebih keras.

Ini situasi yang amat sulit bagi sang pemuda. Sang perempuan pun mencoba membantu sang lelaki muda.

Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."

"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.

"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi di Kampus,bahkan digedung dewan pak" jawab sang muda dengan percaya diri.

"Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?"


"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuman kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat, susah sekali lho pak"
 
"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur isterimu, keluargamu, piye tho?"

Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."

"Jadi kamu sudah bekerja?" tanya sang lelaki setengah baya

"Iya Pak. Saya bekerja sebagai tenaga marketing. Keliling Indonesia, bahkan luar negeri untuk jualan produk saya Pak."

"Lamaranmu kutolak! Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu nanti"

"Mmmmhh....anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku."

"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?"

sang anak pun terus berusaha membantu, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."

"Rencananya maharmu apa?" tanya sang ayah

"Seperangkat alat shalat Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf sekali!"

"Tapi saya siapkan juga emas setengah kilogram dan uang limapuluh juta Pak." balas sang pemuda

"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."

Bisikan, dari sang perempuan, "Dia jago IT lho Pak"

"Apa kamu bisa , internet?" tanya sang ayah

"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net biar gak mati gaya"

"Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok tiap hari didunia maya. Menghabiskan anggaran tuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."

"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak." tandas sang pemuda
 
"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Friendster, Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu ahh"

sang bapak pun terus membombardir sang pemuda dengan pertanyaan2..

"Kamu merasa ganteng ya?"

"Nggak Pak. Biasa saja kok"

"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini."

"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir saya lho Pak."
 
"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"

Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, lalu menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.


"Nak, Bagaimana kondisi sholatmu dan apakah ada yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Sunnah?"

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
 
Soal ini pun ia menyerah agak putus asa, jawabnya, "Pak kalau sholat insyaALLAH saya senantiasa berusaha tepat waktu dan gak pernah tinggal (dan dengan sedikit suara berat dan mendesah), Pak.. dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula." dan juga beberapa hadist dari kitab Riyadus Shalihin

Sang setengah baya tersenyum

"Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih." komentar sang setengah baya

Maka mata sang lelaki muda pun ikut berkaca-kaca rasa bahagia..........

Perjalanan kehidupan pun berlanjut... hehehehe (kalau calon mertuanya ustadz habislah pemuda itu.... ^_^)

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah,niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (An-Nahl QS 16:18)

semga kita mengambil sedikit manfaat dari sepotong cerita ini... 


forbes


posted by @Adimin

Perbuatan Tidak Terpuji Seorang Narapidana

Written By @Adimin on 30 September, 2013 | September 30, 2013


Perbuatan Tidak Terpuji Seorang Narapidana

Saat melakukan inspeksi ke sebuah penjara, seorang anggota DPR bertanya kepada seorang penjahat: "Kamu dulu pernah melakukan perbuatan yang tak terpuji apa saja?"
"Aku telah menjambret seuntai kalung emas seorang nenek, dan aku juga pernah melecehkan seorang gadis di tengah jalan dengan kata-kata yang tak senonoh."

"itu saja, Lalu apa lagi perbuatan  yang lain ?"

"Saat pemilihan anggota parlemen pada 2 tahun yang lalu, aku telah memasukkan surat suara untuk mendukung Bapak."

Sumber: http://www.ketawa.com/2013/06/8922-perbuatan-tidak-terpuji-seorang-narapidana.html#ixzz2gLdk8xsx



posted by @Adimin

PERCAKAPAN USTADZ DENGAN DPR

Written By @Adimin on 03 January, 2013 | January 03, 2013



DPR : “Pak Ustadz, kalau DPR sama Menteri…, Hebat yang mana?”
Ustadz : “Hebat Bapak…., Bapak Menteri gak berani perintah2 anggota DPR. DPR bisa perintah2 Menteri” Ujarnya santun.
[si DPR nyengir seneng]

DPR: “Lhaa…, kalau saya sama ketua KPK hebat mana ??”
Ustadz : “Hebat bapak DPR juga lah…, kan Ketua KPK dipilih sama Bapak juga, DPR tidak dipilih dari KPK”
[si DPR nyengir nya makin lebar, ustadz bener juga nih kata dia]

DPR: “Nah ini pertanyaan di jawab dengan benar lagi nih ustadz, kalau saya dengan Nabi hebat mana?”
Ustadz : “Masih hebat bapak lah…”
DPR : “LAH?!! KOQ BISA..??” (KAGET)

Ustadz: “YA BISA LAH..” (Lalu melanjutkan ucapannya..) “Kalo Nabi masih takut sama ALLAH, sedangkan Bapak sudah gak ada takut- takutnya sama ALLAH” KORUPSI UANG RAKYAT MILYARAN, TANPA MERASA SALAH -,-”

DPR: [Cengar-cengir doank kaya kebo di sawah.. ]


posted by Adimin

Dialog Messi dengan Tuhan

Written By @Adimin on 31 October, 2012 | October 31, 2012



Messi bertanya kepada Tuhan,"Tuhan, kapan Argentina bisa menjadi juara dunia?"
Tuhan menjawab,"Empat tahun lagi." Messi pun menangis.

Selanjutnya Park Ji Sung bertanya kepada Tuhan,"Kapan Korea Selatan bisa menjadi juara dunia?" dan dijawab Tuhan,"Dua belas tahun lagi." Park Ji Sung pun menangis.

Drogba ikut bertanya kepada Tuhan,"Kapan Pantai Gading bisa menjadi juara dunia?"
Tuhan menjawab,"Dua puluh empat tahun lagi." Drogba pun menangis.

Bambang Pamungkas juga tidak mau kalah. Dia pun bertanya kepada Tuhan,"Kapan Indonesia bisa menjadi juara dunia?" 
Dan Tuhan pun menangis.

posted by Adimin

Malah mendapat hadiah

Written By @Adimin on 15 October, 2012 | October 15, 2012



Pada suatu siang Abu Nawas berada di istana ketika Raja Harun Ar-Rasyid sedang sibuk menerima rombongan tamu dari kerajaan sahabat. Saat itu hanya ada dua orang pelayan. Abu Nawas diminta untuk membantu kedua pelayan itu. Ketika Abu Nawas sedang membawa semangkuk gulai yang masih panas untuk hidangan siang, tiba-tiba kakinya terpeleset. Gulai yang dibawanya pun tumpah dan sebagian mengenai muka sang raja.

Sebenarnya Raja sangat marah atas kejadian tersebut. Tetapi karena banyak tamu, ia tahan kemarahannya.

“Maafkan, Tuan-tuan, atas kelakuan pelayan kami yang kurang ajar tadi,” kata Raja.

Dari balik pintu tiba-tiba Abu Nawas membaca sepotong ayat Al-Qur’an, “.... Orang-orang yang bertaqwa, yaitu mereka yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya....”
“Ya, aku memang sedang menahan amarah,” sahut sang raja.
 “Dan memaafkan atas kesalahan orang...,” Abu Nawas meneruskan pembacaan ayat.
“Baik, aku memaafkanmu atas kesalahanmu,” sahut Raja.
“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Ali Imran: 133-134),” Abu Nawas mengakhiri pembacaan ayat itu.
“Hai pelayan, kemari! Ini terimalah uang lima ratus dirham sebagai hadiah,” kata Raja. “Lain kali, tolong kamu siram lagi mukaku dengan gulai, biar kamu bisa menerima hadiah lebih besar lagi dariku.”
 ***
Salah satu ibrah yang bisa kita petik dari kisah di atas adalah kemuliaan menahan amarah.
Mungkin ada sebagian orang yang menganggap, orang yang bisa mengumbar amarah adalah orang yang kuat. Tidak, tidak demikian.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Bukanlah kuat itu dengan mengalahkan musuh saat bergulat, akan tetapi kuat itu adalah orang yang bisa menguasai dirinya tatkala marah.” (HR Bukhari Muslim dan Imam Ahmad).

Pada suatu hari, Nabi melewati sekelompok kaum yang saling bergulat, maka beliau bertanya, “Apakah ini?”

Mereka menjawab, “Dia pegulat yang kuat, tidaklah seorang pun yang bergulat dengannya kecuali dia mengalahkannya.” Kemudian beliau berkata, “Aku tunjukkan kepada kalian orang yang lebih kuat darinya, yaitu seorang yang dizhalimi namun ia menahan kemarahannya. Ia mengalahkan orang yang menzhaliminya dan mengalahkan setan yang ada pada dirinya serta mengalahkan setan yang ada pada saudaranya.” (HR Al-Bazzar).

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya hal demikian itu termasuk keteguhan yang kuat.” (QS As-Syura’: 43).

Jelas dari kedua hadits dan surah Al-Qur’an di atas, justru orang yang mampu menguasai dirinya saat marah adalah orang yang kuat. Bukan orang yang mengumbar amarah dengan berteriak-teriak, mencaci maki, dan sebagainya, misalnya. Sebagaimana yang sering kita saksikan akhir-akhir ini, yang mungkin saja di antara pelakunya adalah saudara kita juga, umat Islam. Di jalanan, bahkan di televisi, yang ditonton seluruh rakyat negeri ini, juga dunia.
Tentu tidak berarti kita anti demo, karena adanya demonstrasi adalah salah satu ciri negeri yang demokratis. Hanya saja, demo yang Islami adalah demo yang tidak mencaci maki, karena Islam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya hal yang demikian. Apalagi demo yang anarkis, karena Islam tidak pernah mengajarkan kepada penganutnya untuk merusak.

Bagi mereka yang mampu menahan amarah, Allah telah menyediakan ganjaran. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menahan kemarahannya sedangkan ia mampu untuk melakukannya, Allah Azza wa Jalla akan menyeru dia di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat untuk dipilihkan baginya bidadari yang dikehendakinya.” (HR Abu Daud).

Rasulullah juga bersabda, “Janganlah marah, maka bagimu adalah surga.” (Hadits shahih Al-Jami’).

Lebih dari itu semua, menahan amarah adalah perintah Nabi SAW. Dan karena itu perintah Nabi, tentu kita semua, sebagai umatnya, mesti melaksanakan.
Disebutkan dalam hadits, seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah aku wasiat.”
Beliau berkata, “Janganlah marah.”

Tahap selanjutnya, setelah mampu menahan amarah, yaitu memaafkan. Allah berfirman, “Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya secara sembunyi dan terang-terangan dan orang yang menahan kemarahan serta memaafkan orang lain, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali Imran:134). “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raf: 199).

Sering kita saksikan di televisi beberapa ahli mengatakan bahwa serang-menyerang antar-rezim terjadi karena dendam sejarah.

Seseorang, atau bahkan rezim, kalau bersalah memang boleh diadili, atau mungkin harus diadili. Tapi dasarnya mestinya adalah upaya penegakan hukum dan keadilan, bukan dendam. Jika dendam yang dijadikan dasar, kesalahan yang kecil pun bisa terlihat besar. Seorang bijak mengatakan, dendam itu ibarat batu kerikil yang meluncur di lembah yang bersalju. Makin jauh, akan makin membesar. Seseorang, atau bahkan rezim, kalau bersalah memang boleh diadili, atau mungkin harus diadili. Tapi, bukankah memaafkan itu lebih mulia?

Dalam konteks negeri ini, bisakah kita menutup semua lembaran sejarah kelabu masa lalu? Bisakah kita cukup menjadikannya sebagai pelajaran?

Demi membangun Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang penuh kedamaian, bisakah kita menjadikan langkah kita sekarang ini sebagai langkah awal yang terbebas dari segala macam konflik, atau setidaknya meminimalisir? Kalau kita ikhlas, mau, dan mampu mengendalikan sifat marah, jawabannya jelas: Bisa!

Mengatasi Kemarahan

Untuk mengatasi kemarahan, Islam memberikan petunjuk.

Pertama, berlindung kepada Allah dari godaan setan. Karena, di samping nafsu yang ada dalam diri kita, peran setan juga sangat dominan dalam membangkitkan amarah.  Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengetahui satu kalimat yang, seandainya diucapkan, niscaya akan hilanglah gejolak yang ada pada diri:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR Bukhari-Muslim).
Kedua, diam, tidak berbicara. “Apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah diam.” (HR Imam Ahmad).

Ketiga, tinggalkan tempat, berdirilah, lalu pergi.

Keempat, bersikap tenang, duduk apabila sedang berdiri, atau tidur telentang bilamana sedang duduk. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian marah sedangkan dia berdiri, hendaklah dia duduk, agar kemarahannya hilang. Apabila masih belum mereda, hendaklah berbaring.” (HR Abu Daud).

Kelima, berwudhu. Nabi bersabda, “Marah itu adalah bara api, maka padamkanlah dia dengan berwudhu’.” (HR. Al-Baihaqi).

Keenam, shalat. "Penghapus setiap perselisihan adalah dua raka’at (shalat sunnah).” (HR Silsilah Hadits Shahihah).


Marah yang Terpuji

Pada umumnya marah memang tercela, tapi ada pula yang terpuji. Misalnya marah karena ajaran-ajaran Allah dihinakan.

Kasus Ahmadiyah, misalnya. Dalam aqidah Islam, jelas, tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW. Pengakuan Ahmadiyah bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi dapat dikategorikan sebagai penistaan terhadap ajaran Islam.


  
posted by Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger