pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post
Showing posts with label HAROKAH. Show all posts
Showing posts with label HAROKAH. Show all posts

Kader Dakwah Bergeraklah...!!

Written By @Adimin on 10 June, 2013 | June 10, 2013



Alam mengajarkan kita untuk senantiasa bergerak agar tercipta sebuah kesempurnaan sebagaimana fungsinya ia diciptakan.

Seperti air, apabila ia terus tergenang dalam sebuah wadah, maka ia akan jauh dari manfa'at.

Menjadi 'ada' adalah karu- nia, sebab kita tidak dapat meng'ada'kan diri kita sendiri. Tapi menjadi 'ada' saja tidaklah cukup, kita 'ada' karena diperintahkan untuk memiliki 'makna', untuk bisa ber'arti'.

Hakikat sebuah penciptaan adalah untuk terus bergerak menghadirkan manfaat dan perubahan. 


Seperti bumi dan matahari yang tak pernah malas untuk bergerak dan terus berputar pada porosnya sehingga tercipta keseimbangan alam, sebagaimana Allah berfirman:

"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya…"(Yaa Siin: 38).

"Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya ber-tumpuk2, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah2-nya.." (An-Nuur: 43).

Bergerak adalah 'keberkahan'.


Mukmin yang cerdas adalah yang senantiasa mampu mengendalikan diri dan menata dirinya untuk hari esok. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah pada salah satu hadist-nya, bahwa 'hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi'.

Allah SWT berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Hasyr: 18).

Bagaimana mungkin kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat jika enggan untuk bergerak? 

Allah telah menciptakan kita, bukan untuk menjadi sia-sia tak berguna, tapi agar dapat bermakna, bermanfaat, baik bagi agama, bangsa dan sesama.

Maka, teruslah bergerak dengan niat yang baik lillahi ta'ala, agar menghasilkan sebuah kebaikan. Jadikan diri kita bermakna dan jangan sia-siakan karunia hidup yang telah diberikan Allah

*http://www.islamedia.web.id/2013/06/kader-dakwah-bergeraklah.html

posted by @Adimin

"Menikmati Demokrasi Tanpa Sadar"

Written By @Adimin on 05 April, 2013 | April 05, 2013

Add caption

"Demokrasi yg kau nikmati skrg ini lahir dari rahim zionisme"
| nyeriii katanya | menarik untuk dibahas..
  1. Semua org -baik yg menerima demokrasi atau anti demokrasi- sebenernya menikmati demokrasi .

  2. Bicara 'anti demokrasi' jelas mustahil di suasana negara yang 'anti demokrasi'. Bicara anti demokrasi justru hanya mungkin di alam demokrasi.

  3. Kebaikan dan keburukan sama2 menikmati buah demokrasi.

  4. Sy gak mau debat, mau monolog aja ah. biar gak ribut.

  5. Bicara anti pancasila justru hy bisa di era demokrasi. Bicara tegakkan khilafah atau syariah justru hanya bisa di era demokrasi.

  6. Demonstrasi propaganda syariah atau khilafah justru jd sangat bisa dilakukan di alam demokrasi. Kita semua menikmati demokrasi.

  7. Istri sy cerita, saat ikhwah2 tarbiyah dg KAMMI nya itu demo menggulingkan suharto, justru kelompok lain nyinyir dan mengharamkan demo.

  8. Tapi ketika KAMMI bersama elemen lain berhasil menggulingkan suharto dan mengantarkan keterbukaan, kelompok2 ini juga menikmati keterbukaan.

  9. Zaman orde baru, khatib yg mau khutbah jum'at harus melaporkan materinya ke koramil. Boro2 ngomongin khilafah dan syariah.

  10. Semua gerakan islam yg 'anti demonstrasi' berhutang besar pada @fahrihamzah dkk. Beliau jd jalan keterbukaan da'wah.

  11. Semua harokah berhutang budi pada tokoh2 mahasiswa yg siap serahkan nyawanya untuk harga kebebasan.

  12. Bang @fahrihamzah ketua KAMMI pertama, organisasi mahasiswa paling penting dalam gerakan penggulingan suharto, lokomotif keterbukaan.

  13. Alhamdulillah, jamaah tarbiyah (sekarang PKS) bukan skedar penikmat kebebasan da'wah. Tapi kebebasan ini kami rebut sendiri.

  14. Kebebasan da'wah ini kami rebut sendiri dg mengguligkan rezim otoriter, dg darah dan keringat kami sendiri, bukan orang lain.

  15. Dan siapakah tokoh dibalik pendirian KAMMI? ustadz Mahfudz Sidik dan Agus Nurhadi.

  16. Ada yang kemudian menikmati kebebasan da'wah buah demokrasi ini tapi kemudian mencela demokrasi, padahal tidak pernah keringetan.

  17. Mereka gak keringetan, gak berdarah2 untuk mendapatkan kebebasan da'wah yang mereka nikmati sekarang.

  18. Hari ini kita bisa teriak2 tentang apapun dari kebaikan, sesuatu yg tdk bisa dilakukan di era rezim otoriter orde baru.

  19. Ada efek negatif dari ini, kebatilan juga memiliki kebebasannya. Tapi inilah ruang pertarungannya.

  20. Salah satu buah demokrasi adalah selesai DOM di aceh. Masy Aceh bisa menentukan nasibnya sendiri.

  21. Kemerdekaan itu harus kita rebut, bukan berharap otomatis kita terima.

  22. (Membayangkan ada yang teriak2 tegakkan syariah dan khilafah islam di depan istana di zaman Suharto plus bilang pancasila thoghut :D)

  23. Karena itu saya respect sekali dg bang @fahrihamzah, meskipun bbrp hal sy tdk setuju, beliau punya jasa besar bagi keterbukaan da'wah.

  24. (Membayangkan ada yg demo "Pancasila thoghut" "pokoknya khilafah" di depan istananya suharto :D)

  25. (Membayangkan ada yg demo di kedubes AS teriak khilafah di zaman suharto :D)

  26. Kebebasan da'wah ini, alhamdulillah kami rebut sendiri, bukan dari keringat dan darah orang lain, untuk kemudian yg keringetan ini dicaci.

  27. Kebebasan da'wah yg kami rasakan tdk kami dapatkan dr darah dan keringat orang lain. tp ikhwah2 kami sendiri yg gagah berani. @fahrihamzah.

  28. Kami bebas teriak syariah atau khilafah krn kebebasan yg kami perjuangkan sendiri, bukan keringat org lain.

  29. Dulu kalian mencaci ikhwah kami yg berjuang menggulingkan rezim, hari ini kalian juga menikmati hasilnya. #menikmatidemokrasitanpasadar

  30. Yang lantang anti pancasila, anti demokrasi baru bisa teriak tentang ke-anti-annya justru saat era nya demokrasi :D

  31. Saya cuma mau bilang #menikmatidemokrasitanpasadar.

  32. Karena yang paling menikmati demokrasi justru mereka yg tersumbat tapi saat dulu tdk berani menggulingkan rezim.

  33. Yang anti demokrasi baru bisa nyaman teriak "demokrasi kufur" "pancasila thaghut" justru di era demokrasi.

  34. Inget zaman mahasiswa demo penggulingan gus dur, pulang babak belur dipukulin polisi. trus dirawat sama ibu mertua krn istri lg KP di jkt.

  35. Sambil ngompres tangan dan kepala saya yg babak belur, ibu mertua nasehatin: "Nak, kalau sudah nikah gak usah demo demo lagi" :D

  36. Resiko nikah sambil kuliah. ibu mertua bilang "inget anak istrimu nak, sudah berhenti demo demo nya" :D

  37. Kami menikmati demokrasi dg sadar, faham dg apa yg harus diambil dan apa yang harus ditolak dr demokrasi.

  38. Makanya waktu demo bareng temen2 FPI di depan kedubes, nostalgia banget.

  39. Salah satu demo paling parah waktu demo bulog gate nya akbar tanjung di depan MA. musuhnya ada 2 : polisi di depan, anak kiri di belakang.

  40. Terus terang sy jd bingung jk ada yg bilang : "ayo revolusi, ayo kudeta", krn dulu mrk skedar menonton penggulingan rezim.

  41. Org ini mengajak revolusi atau kudeta kpd ikhwah yg dulu di KAMMI ... yg mengajak tdk lebih pengalaman dr yg diajak.

  42. Anak2 KAMMI dkk nya turun demonstrasi penggulingan 3 presiden. 2 berhasil dan satu presiden hanya berhasil dibunuh karakternya

  43. Suharto berhasil dilengserkan , Gus Dur diimpeach, dan mega didemo sepanjang pemerintahan, akhinya tdk terpilih di pemilu berikutnya.

  44. Plis jangan bicara revolusi dan kudeta pd mereka yg justru sdh melakukannya.

  45. Saya mau menonton ah, mereka yg teriak revolusi benar benar melakukan revolusi. apa mrk berani dan berhasil? sy menantikannya.

  46. "ayo revolusi" | sok atuh, kami sdh pernah dan skrg mau menonton.

  47. Coba anda bayangkan apa yg ada di benak fahri hamzah dan kawan2 tarbiyah kalo dibilangin gini: "ayo revolusi, jgn cuma di ruang berAC" :D

  48. Saya tebak fahri mikir gini: "ini orang ngomong apa sih, dulu kita demo suharto ente kemane aje, nyinyir doang" :D

  49. Maaf ye, jangan kebanyakan ngomong revolusi dan kudeta, dulu kite gak pake ngomong-ngomong, 2 presiden turun. Buruan kalo mau kudeta.

  50. Maaf agak belagu, agak menggelitik saya liat ada org kyk anak kecil baru denger kosa kata revolusi dan kudeta.

  51. Sok atuh kalau mau kudeta presiden sekarang | kita gak ikutan lagi. alhmdlh, kita dah pernah nyoba demo menurunkan 3 presiden.

  52. Sekian #menikmatidemokrasitanpasadar.


*http://chirpstory.com/li/62103

posted by Adimin

Fikroh KEBENCIAN Takkan Mampu Meraih Kemenangan

Written By @Adimin on 29 January, 2013 | January 29, 2013


Sebuah fikroh (pemikiran-ide) yang dilandasi KEBENCIAN, ia tak akan pernah meraih KEMENANGAN. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri, sebelum meluluhkan fikroh-fikroh yang lain.

Fikroh yang dilandasi kebencian, pada akhirnya akan MENGECIL dan terus MENGECIL, sebelum akhirnya LENYAP. Sebab fikroh kebencian digerakkan oleh AMBISI menebar KONFLIK dan AGITASI.

Fikroh yang dilandasi kebencian, TIDAK AKAN MAMPU bertumbuh kembang. Karena ia bersifat KAKU, JUMUD, dan TERTUTUP menerima kebaikan dari orang-orang/kelompok yang DIBENCINYA.

Sejarah membuktikan, fikroh yang DILANDASI NILAI-NILAI CINTA akan MENGIKAT hati manusia meriah CINTA ALLAH. Itulah fikroh yang menjadi RISALAH baginda RASUL "Sang Penyempurna Akhlak".

Di sini rahasia, mengapa DAKWAH RASUL melegenda dan tak usang sepanjang masa. Sebab Rasul sibuk menebar jala-jala CINTA bukan jebakan-jebakan kebencian.

Bagi kita yang AWAM tentang dakwah dan penyebaran fikroh, ada baiknya ketika ingin menilai sebuah fikroh atau model dakwah sesuai dengan manhaj Rasul atau tidak, maka bisa mengukurnya dengan: APAKAH statemen dan aksi di lapangan dipenuhi CINTA atau BENCI. Jika CINTA yang dikedepankan, maka sesederhana apapun dakwah atau fikroh, insya Allah akan berhasil mempengaruhi jiwa.

Namun jika slogan dakwah dan aksi di lapangan dipenuhi BENCI, sebesar apapun JARGON yang dipropagandakan akan NOL BESAR dan membuat jiwa-jiwa MENGHINDAR.

Karena dakwah atau fikroh yang menebar CINTA pasti memiliki karakter:

1. Rububiyyah, artinya: Fikroh dan dakwah yang disebar bersumber dari Rabbul 'Izzati

Karena dari Allah, maka dakwah dan fikroh akan sesuai dengan FITRAH INSANI. Dimana fitrah manusia adalah "TAWANAN CINTA". Perhatikan ayat-ayat Al-Qur'an, dari mulai penggunaan panggilan hingga menjuluki MUKHATHAB (objek dakwah) dengan kata-kata yang MENYEJUKKAN. Adakah dalam Al-Qur'an firman Allah yang menyeru dengan kata-kata, "BODOH"-"GILA"- Bahkan memanggil orang kafir saja sangat halus "Yaa Ayyuhalladziina kafaruu" tidak dengan ungkapan "Ayyuhal Kuffaar!"

Itu bahasa Ilahi. Padahal hak ALlah memanggil manusia dengan SEKEHENDAKNYA. Tapi kehendak ALlah, sangat sesuai FITRAH MANUSIA. Maka jika ada dakwah dan fikroh yang KASAR, MENYAKITKAN, atau MENGHINAKAN bisa dipastikan FIKROH tersebut bukan dari ALLAH tapi dari Syetan, walaupun jargon-jargonnya mengatasnamakan Islam dan Syariatnya.

2. Menebar Gembira dan Kemudahan

Fikroh yang dilandasi CINTA akan mengedepankan dakwahnya pada kemudahan dan kegembiraan. Mudah bukan berarti menggampangkan. Gembira bukan berarti hura-hura atau memilah-milah syariat sesuai keinginan. Namun menebar gembira dan kemudahan adalah: mempersiapkan INDIVIDU-INDIVIDU agar LEBIH SIAP menerima fikroh dan dakwah yang menjadi misi besar.

Itulah mengapa, pengharaman KHAMAR dilakukan bertahap. Allah menurunkan larangan khamar hingga 4 kali. Inilah makna yang dikatakan Siti Aisyah mengatakan, andaikan khamar langsung diharamkan di awal-awal kenabian, niscaya kaum musyrik semakin jauh dari Islam.

KESIAPAN UMAT menerima fikroh Islam adalah perjuangan dan mengajak UMAT agar SIAP mengamalkannya adalah perjuangan lainnya. Bagaimana umat bisa terbuka menerima FIKROH dan DAKWAH, jika yang ditampakkan adalah KEBENCIAN, menyulitkan, dan menakutkan.

Oleh 
Nandang Burhanudin
 
posted by Adimin

Point-Point Taujih Syekh Jum’ah Amin

Written By @Adimin on 21 January, 2013 | January 21, 2013



  [20 Januari 2013 M]


Alhamdulillah, saya berkesempatan mendengarkan taujih beliau, yang “kebetulan” diajak oleh teman untuk mendengarkannya.

Diantara point-point yang saya catat adalah sebagai berikut:

Pertama:

لَيْسَتِ الْعِبْرَةُ بَتَنْفِيْذِنَا لِلتَّكَالِيْفِ، وَإِنَّمَا بِحُبِّنَا فِيْ تَنْفِيْذِ هَذِهِ التَّكَالِيْفِ

Yang menjadi ibrah (pandangan dan I’tibar) tidaklah terletak pada pelaksanaan tugas, tetapi, didasarkan pada kecintaan kita kepada tugas-tugas ini.

Sebab, jika terdapat mahabbah, maka akan terjadi مُضَاعَفَةُ الْجُهُوْدِ (pelipat gandaan daya dan upaya).

Kedua:

Apa yang terjadi di Mesir, kalau kita rujuk kepada khuththah (perencanaan) yang ada, sebenarnya adalah rencana dua puluh tahun ke depan, akan tetapi

لَعَلَّ اللهَ اِطَّلَعَ عَلَى قُلُوْبِنَا، فَطَوَى عِشْرِيْنَ عَامًا فِيْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ يَوْمًا

Semoga karena Allah SWT melongok dan melihat hati kami, lalu Allah SWT gulung waktu 20 tahun itu menjadi hanya 18 hari.

Saat hati-hati kami dilihat oleh Allah SWT, semoga yang Allah SWT lihat adalah keikhlasan, kecintaan, dan kesungguhan kami dalam meraih ridha Allah SWT, amin.

Ketiga:

Kemenangan itu merupakan minnah (مِنَّةٌ) atau anugerah Allah SWT, namun, untuk mendapatkan minnah itu diperlukan “pancingan-pancingan”, yang diantaranya adalah:

1. Dengan upaya-upaya taqarrub (pendekatan) kepada Allah SWT, melalui ruku’, sujud, dan upaya-upaya taqarrub lainnya.

2. Ukhuwwah dan persatuan diantara sesama kaum muslimin.

3. Adanya daya upaya yang berlipat ganda yang kita lakukan, yang salah satu rahasia untuk dapat bekerja seperti ini telah disebutkan rahasianya di point pertama.

Keempat:

Mengutip dari Hasan Al-Banna:

Allah SWT tidak akan menghisab kita atas hasil, akan tetapi yang akan dihisab oleh Allah SWT adalah:

1.       حُسْنُ الْقَصْدِ (maksud dan niat yang baik), dan

2.       سَلَامَةُ الْخُطُوْاتِ (langkah-langkah yang benar).


posted by Adimin

Jadilah Bagian dari Dakwah

Written By @Adimin on 09 January, 2013 | January 09, 2013


 
Menjadi penolong agama Allah SWT, bisa dilakukan siapa saja dengan pilihan yang sesuai dengan kemampuan. Ada yang layak menjadi kader inti, ada yang cukup sebagai pendukung, ada juga yang hanya simpatisan.

Rasulullah saw terkejut, hari itu ia tak melihat wanita yang biasa menyapu di masjidnya, buru- buru beliau bertanya kepada para sahabatnya, ternyata wanita tersebut sudah meninggal dunia. Rasulullah saw heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tidak diberitahu. Abu Bakar memberikan alasan, mungkin para sahabat menganggap wanita itu sepele. Ia hanya tukang sapu, Rasulullah saw minta agar ditunjukkan letak kuburan wanita itu dan Rasulullah SAW segera melakukan sholat ghaib.

Kisah ini menunjukkan bahwa sebesar apapun peranan seseorang, tak boleh diremehkan. Dalam dunia dakwah semua peran dibutuhkan, fakta sejarah menunjukkan bahwa para penolong agama Allah memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan pilihannya. Ibarat permainan sepak bola, setiap kader ada tugasnya. Besar dan kecil peranan tugas tersebut bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Dalam satu babak, peranan penyerang (striker) mungkin lebih besar peranannya dalam mencapai kemenangan, tapi dalam keadaan tertentu, justru kiper yang menjadi penentu kalah menangnya sebuah permainan. Selain itu tuntutan dakwahpun kadang beragam. Suatu saat dakwah mem- butuhkan ketajaman lisan, disaat lain memerlukan tenaga dan pikiran. Begitulah dakwah, karenanya para juru dakwah harus berada disemua lini. Secara umum, mereka yang berkecimpung dalam dakwah bisa menempati salah satu diantara tiga posisi.

1.   Kader Inti

Mereka adalah orang-orang yang secara tulus membina dan mengkhususkan diri untuk berkecimpung dalam dakwah. Tak ada niat lain dalam segala aktifitasnya selain untuk menegakkan agama dan mencari ridlo Allah, apalagi berdakwah dengan niat dan tujuan mencari penghidupan dunia. Yang paling nyata dari karakter orang-orang ini adalah mereka bersedia melakukan transaksi hidup dan perjuangannya hanya untuk menegakkan Islam. Harta dan nyawa mereka telah ditukar dengan perjuangan menegakkan agama Allah. Merekalah yang disebutkan Allah dalam firmannya

Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridlo Allah. Dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al Baqarah: 207).

Dalam lembaran sejarah banyak kita temukan kader inti ini. Di era Rasulullah saw, kita menemukan  sosok Abu Bakar Ash Siddiq yang rela menginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayai perang tabuk. Saad bin Abi waqqas dan Thalhah bin ubaidillah siap berdiri didepan Rosululloh saw menjadikan diri mereka sebagai tameng hidup untuk melindungi beliau. Ali bin abi Thalib bersedia menggantikan posisi “siap terbunuh”, tidur dengan selimut milik Rosululloh saw. Merekalah kader inti. Demi tegaknya Islam mereka siap mencurahkan tenaga, harta bahkan nyawa. Merekalah orang-orang yang dibeli oleh Allah SWT dengan surga-Nya. Allah berfirman

sesungguhnya Allah telah membeli dari orang orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh....(QS At Taubah 111).

Dalam ayat lain Allah juga menegaskan janji para kader inti terhadap Allah, dan janji Allah terhadap mereka,

Diantara orang-orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka  ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya” (QS Al Ahzab 23)


2.   Kader Pendukung.

Kelompok ini adalah mereka yang mendukung perjuangan Islam, tapi keter ikatannya dengan dakwah tidak sebesar kader inti. Dalam sejarah Rosululloh saw kita temukan sosok yang perannya cukup besar tapi tidak sama dengan para kader inti. Mereka juga turut menjadi tenaga dakwah, tapi hanya pendukung. Kaab bin Malik dan dua temannya yang tidak ikut perang tabuk, tentu tak bisa disamakan dengan Abu bakar, Umar atau Ustman yang selain berkorban harta, juga ikut ke medan perang. Tentu mereka juga mendapat imbalan pahala, tapi tak sebesar yang didapat orang orang yang berada dilevel tenaga inti. Fakta ini dijelaskan oleh Allah dalam firmannya:


tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang orang yang duduk satu derajat. Kepada masing masing mereka Allah menjanjikan phala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang orang yang berjihad atas yang duduk dengan pahala yang besar. (QS Annisa’ 95).

Dalam sejarah kita temukan sosok sosok seperti ini, diantaranya Utbah bin Usaid yang lebih dikenal dengan Abu bashir, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, Abu Bashir yang sudah masuk Islam masih berada di Makkah, beberapa saat setelah perjanjian, Abu Bashir datang ke madinah. Sesuai isi perjanjian, penduduk yang datang ke Madinah harus dikembalikan. Untuk itu Abu Bashir harus segera dikembalikan ke Makkah. Namun Rasulullah saw  tetap menepati isi perjanjian, beliau melarang Abu Bashir tinggal di Madinah. Namun Abu Bashir juga tak mau kembali ke Makkah. Ia menetap di daerah Ish, pesisir pantai. Disanalah Abu Bashir menghimpun kekuatan yang jumlahnya mencapai tujuh puluh orang. Kelompok Abu Bashir ini jelas merepotkan kafir quraisy. Tindakan Abu Bashir dan kawan kawannya itu berada diluar perintah Rasulullah saw. Mereka tak terikat secara struktural dan tanggung jawab kepada Rasulullah saw. Mereka bergerak sendiri dan punya gaya dakwah sendiri, inovasi gerakan dakwah merekapun bebas, kelompok ini bisa menjalin kerja sama dengan siapapun  dan bergerak disektor dan wilayah mana saja. Merekalah kader lepas yang tidak berada dibawah kontrol Rasulullah saw. Peranan kader ini tak bisa diabaikan. Anggapan yang keliru adalah menilai orang yang tak tergabung dalam ikatan struktural bukan sebagai bagian dari aktivis dakwah. “Mereka bukan golongan kita,” demikian ungkapan yang sering terdengar. Padahal peranan juru dakwah lepas ini tak kalah besar. Dengan status mereka yang tak terikat dalam struktural tertentu membuat gerakan dakwah lebih leluasa dan mudah diterima oleh siapapun. Tentu orang yang tergabung dalam kader tidak terikat ini tak boleh juga berbuat diluar batas kewajaran. Karenanya koordinasi antara dua kelompok ini tetap harus dijaga. Dengan demikian tak muncul salah paham atau benturan dalam menghadapi objek dakwah, kader akan lebih mudah menyebar disetiap sektor masyarakat. Meski peranan mereka tak sebesar kader inti, tapi keberadaan kader pendukung tidak bisa disepelekan. Dalam lingkup sekarang kita temukan banyak kader pendukung yang hanya mampu memberikan peranan dengan menyumbangkan dana, tanpa terjun ke medan dakwah. Keberadaan orang-orang ini  jelas tak bisa disamakan dengan kader inti, dimana mereka menyumbangkan dana, meluangkan waktu dengan meninggalkan anak dan istri, demi terjun  ke medan dakwah. Seperti Abu Bakar, kendati telah menyum- bangkan seluruh hartanya, ia tetap terjun ke medan Tabuk. 


3.   Simpatisan.

Mereka adalah orang orang yang memiliki kemampuan hanya dengan menjadi simpatisan atau supporter dakwah. Karena alasan tertentu orang-orang tersebut tak bisa memberikan konstribusi besar bagi dakwah. Meski peranan mereka kecil, tapi keberadaan mereka tidak bisa diabaikan. Buktinya ketika mengetahui wanita yang biasa mem- bersihkan masjidnya, meninggal, Rosululloh saw menyesalkan sikap para sahabatnya yang tak memberitahukannya, lantaran menganggap sepele pekerjaan wanita itu.

Juga ketika menghadapi tokoh quraisy yang meminta agar Rasulullah saw  mengusir para pengikutnya yang miskin, Allah segera menurunkan firmannya,

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang orang yang menyeru Tuhan dipagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melampaui batas. (QS Al Kahfi: 28).

Dibanding kader inti dan pendukung dakwah, wilayah kader simpatisan ini tak terbatas. Bahkan ia bisa berasal dari luar Islam. Sosok Abu Thalib termasuk kelompok ini. Peranannya dalam melindungi Rasulullah saw dan dakwah Islam sendiri cukup besar. Begitupun sosok Amir bin Fuhairah al Uraiqith, penunjuk jalan Rasulullah saw ketika beliau dan Abu Bakar hijrah ke madinah. Tokoh seperti Muth’im bin Aad juga tak kalah besar peranannya dalam melindungi Rasulullah saw  dan para sahabat dari ejekan, hinaan dan penindasan kafir quraisy. Tentu peranan mereka tak bisa disamakan dengan kader inti dan pendukung. Tapi kaum muslimin, khususnya juru dakwah, lebih lagi mereka yang bergelut didunia politik, harus mampu memanfaatkan tenaga ini. Tak sedikit mereka yang jauh dari Islam, tapi memberikan konstribusi pada perjuangan Islam. Bahkan dalam tataran perjuangan politik, kader simpatisan ini justru harus diperluas dan tak boleh dibatasi. Dalam lingkup ini, tak ada syarat yang mengikat seseorang untuk menjadi kader simpatisan kecuali kesediaannya memberikan konstribusi terhadap perjuangan. Selanjutnya, tugas juru dakwah adalah membina para simpatisan ini untuk direkrut menjadi kader pendukung dan kader inti. Kuantitas antara ke tiga bentuk elemen dakwah ini harus ideal. Jumlah simpatisan harus lebih banyak dari kader pendukung. Jumlah kader pendukung harus lebih banyak dari kader inti dengan demikian kualitas dalam kaderisasi tetap bisa dijaga
 

posted by Adimin

Kok Isinya Politik Melulu..? Kapan dakwahnya . . .

Written By @Adimin on 27 June, 2012 | June 27, 2012



Ust. Ko' akhir2 ini statusnya politik dan kampanye mlulu….?
Apa ga sebaiknya statusnya diisi dengan nilai2 dakwah saja….

Begini…..

likulli maqaamin maqaalun… Setiap tempat dan situasi ada ungkapannya (yang cocok untuk disampaikan).

Kalau yang antum maksud dengan pertanyaan tersebut adalah mengapa status saya tidak berisi nilai-nilai dakwah saja, maka hendaknya masalahnya dipahami dengan cermat. Memilih atau mendukung terpilihnya pemimpin yang kita percaya dapat membawa nilai dan misi lebih baik daripada yang lainnya, menurut saya juga memiliki nilai dakwah yang tidak kalah pentingnya. Jadi, ini juga sebenarnya 'status dakwah', hanya 'kemasannya' yang sedikit beda. Kesannya memang 'mengejar kekuasaan', atau 'mengejar dunia'. Tapi saya meyakini, selagi ada orientasi dakwah di dalamnya serta tidak ada perkara prinsip yang dilanggar, maka, apa yang dikatakan sebagai 'mengejar kekuasaan' atau 'mengejar dunia' sesungguhnya dibalik itu terdapat medan dakwah dan medan pahala yang sangat besar.

Sebab, jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan, "Aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaraku, lebih aku suka daripada I'tikaf di masjidku sebulan." (HR. Thabrani), maka saya menganggap bahwa mendukung seorang calon pemimpin hingga terpilih, agar dengan itu diharapkan dapat membantu penyelesaian berbagai problematika masyarakat, adalah perkara yang sangat besar nilainya.

Bukankah golongan yang pertama kali disebut dari 7 golongan yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan akan mendapatkan naungan di hari kiamat pada hari tidak ada naungan selain naungan Allah adalah 'Pemimpin yang adil'?

Bukankah Utsman bin Affan radhiallahu anhu pernah berkata,

إِنَّ اللهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لاَ يَزَعُ بِالْقُرْآنِ

"Sesungguhnya Allah mencegah (kemunkaran) lewat penguasa apa yang tidak dicegah melalui Al-Quran.."

Maksudnya adalah bahwa keputusan seorang penguasa yang berpihak kepada nilai-nilai dakwah dan agama dapat lebih efektif untuk mencegah kemunkaran ketimbang ayat-ayat dan nasehat-nasehat yang disampaikan. Perkara ini sangat jelas realitanya bagi siapa saja yang ingin merenunginya.

Bukankah para shahabat menunda pemakaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tujuannya adalah agar mereka segera mendapatkan kepastian pemimpin setelah beliau wafat agar tidak timbul fitnah. Itu semua, dan masih banyak lagi bukti lainya, tak lain kecuali menunjukkan pentingnya seorang pemimpin yang mumpuni di tengah masyarakat. Maka, hal itu semestinya berbanding lurus dengan pentingnya kita memiliki peran, sedikit atau banyak, dalam mewujudkan kepemimpinan terbaik dari yang ada.

Bahwa masih banyak kekurangan di sana sini dan masih jauh mencapai titik sempurna, itu pasti. Lagipula tidak ada yang sempurna selain Allah Ta'ala. Namun, setidaknya di sana ada usaha manusiawi yang dapat dilakukan. Disamping, para ulama telah mengajarkan kepada kita….

مَالاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جُلُّهُ

"Jika sesuatu (kebaikan) tidak dapat diraih seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya."

Jadi, jangan terlalu tabu dengan kemasan 'dunia' dan 'politik' selagi yang dituju adalah akhirat dan kebaikan umat serta tidak ada perkara prinsip yang dilanggar. Sebaliknya, jangan terlalu 'terpedaya' dan 'terbuai' dengan kemasan 'akhirat' namun dibalik itu ternyata menyimpan hasrat duniawi dan cenderung menghindar dari problematika umat terkini.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ingatkan hal tersebut dalam sabdanya

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

"Sesungguhnya seseorang (boleh jadi) tampak di hadapan manusia melakukan amal ahli surga, padahal dia adalah (calon) penghuni neraka. Dan seseorang (boleh jadi) tampak oleh manusia melakukan amal ahli neraka, padahal dia adalah (calon) penghuni surga." (HR. Muslim)

Saya tidak ingin mengatakan bahwa 'saya adalah ahli surga' meskipun itu yang selalu saya mohon. Hanya yang ingin saya katakan adalah jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan tampilan luarnya saja.

Jadi, 'kampanye' yang saya lakukan melalui status saya sesungguhnya adalah bagian dari wilayah dakwah yang ingin saya geluti. Itupun saya akui tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang langsung berjibaku di lapangan. Namun setidaknya saya ingin punya kontribusi walau sekecil apapun. Bagi saya, kalau kita memimpikan pemimpin yang baik, mengapa tidk sekalian menampakkan dukungan utk membantu mewujudkannya... ketimbang pasif menjadi penonton...

Di sisi lain, insya Allah, agenda dakwah yang sudah dijalani tdk ada yg diabaikan. Saya termasuk orang yang berpandangan bahwa politik memang bukan segala-galanya, tapi, aspek politik tidak dapat dilepaskan dari agenda dakwah, bahkan dari agenda kehidupan sosial kita!

Antum setuju?

Ahlan wa sahlan, kita dapat bergandengan tangan.

Antum tidak setuju?

Ahlan wa sahlan, kita tetap dapat saling memberi salam dan berjabat tangan… jangan sampai ada luka di antara kita …. :)

Saya tentu tidak dapat memaksa antum untuk mengikuti sikap saya, namun setidaknya kita dapat saling memahami … "Tidak harus org meyakini apa yg kau katakan, yang harus adalah engkau meyakini apa yang engkau katakan.."

Semoga Allah limpahkan kepada antum dan saya ilmu yang bermanfaat serta hidayah dan taufiq-Nya… aamiin.

Beli ikan asin di Purwakarta….
Jika dapat, bawa ke kramat jati

Jika ingin beresin Jakarta…
Nomor empat pilihan sejati…

Sehat terdidik harapan kita
Hidayat-Didik Pilihan kita..!!




Akhukum fillah…
Abdullah Haidir





Posted by Adimin

Perangkat Nilai “Mesin” Dakwah

Written By @Adimin on 25 June, 2012 | June 25, 2012



Bekerja di ladang dakwah telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran kepada kita semua. Semakin hari semestinya kita menjadi semakin dewasa, karena dimatangkan oleh peristiwa demi peristiwa, oleh benturan, oleh gesekan, oleh program yang berkesinambungan.

Ketika dakwah mampu menghimpun para aktivis dalam sebuah tatanan, sesungguhnya pada dirinya terkandung dua sisi sekaligus. Pertama sisi potensi yang melimpah ruah, oleh karena dakwah akan dikuatkan oleh berbagai potensi yang dibawa oleh setiap aktivis. Namun pada sisi lainnya, terdapat pula peluang terjadinya gesekan tingkat tinggi, karena semua orang memiliki kemampuan yang setara untuk memimpin dan menempati posisi strategis.

Misalnya saat menentukan kepemimpinan lembaga dakwah, semua aktivis pada hakikatnya memiliki kemampuan, kapasitas, dan kapabilitas yang setara. Artinya, semua aktivis memiliki peluang yang sama dalam menempati posisi tersebut. Demikian pula saat menentukan personal untuk menempati pos-pos strategis dalam dakwah, baik di dalam lembaga maupun di luar lembaga, semua aktivis relatif memiliki kapasitas yang setara untuk mendudukinya.

Para pemimpin sering kesulitan saat harus memilih personal, bukan karena tidak ada potensi, namun justru karena semua aktivis memiliki potensi. Sementara pos-pos strategis baik internal maupun eksternal jumlahnya cukup terbatas, yang tentu saja tidak mungkin mampu mewadahi semua aktivis. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus memilih. Bagi yang tidak terpilih, bukan berarti “tidak potensial” atau “tidak terpakai”, sesungguhnyalah semua ingin dipilih, namun pos yang ada sangat terbatas.

Gesekan Adalah Keniscayaan
Setiap titik interaksi kita, selalu menimbulkan gesekan. Walaupun interaksi itu seluruhnya dalam kebaikan, tidak ada satupun yang bernilai kejahatan. Namun selalu menimbulkan gesekan. Justru karena saling bergesekan antara satu komponen dengan komponen lainnya itulah yang menyebabkan mesin menjadi berfungsi dan bisa menggerakkan roda mobil.

Gesekan itu kadang terasa menyakitkan, justru karena kita semua menginginkan kebaikan. Sejak awal kita “menjadi mesin” yang menggerakkan roda perjalanan dakwah, sepenuhnya telah sadar, bahwa apapun akan kita tempuh untuk mencapai tujuan mulia. Kita menyadari ada bahaya dan hambatan dari luar, namun amat banyak pula yang berasal dari dalam.

Manajemen apapun tidak akan bisa menghindarkan kita dari saling bergesekan, karena sebagai mesin kita semua harus bergerak. Satu komponen berpengaruh dan terhubung dengan komponen lain, saling berinteraksi secara positif, sehingga bergeraklah roda dakwah. Namun sepanjang perjalanan, mesin tentu mengalami pemanasan, dan semakin kencang laju mobil dakwah, semakin kuat pula gesekan antar komponen.

Manajemen yang diperlukan bukanlah menghindarkan gesekan antar komponen, namun manajemen untuk melicinkannya, agar gesekan yang terjadi sebagai sebuah keharusan tidak saling menyakiti dan tidak saling melukai. Semua komponen diperlkukan, walau hanya mur dan baut, walau hanya karet penghubung, namun seluruhnya menjadi satu kesatuan untuk berfungsinya mesin dengan baik.

Pada banyak kalangan partai politik, gesekan bisa sedemikian keras dan kasar. Dampaknya, sebagian pihak terlempar, sebagian terjatuh, sebagian terbuang, sebagian tersingkirkan, dan sebagian lainnya berkuasa. Mereka tidak tahan terhadap gesekan, karena memiliki watak ingin menguasai. Semua komponen ingin mengalahkan dan menjatuhkan yang lainnya, dalam sebuah rivalitas yang amat keras.

Sepuluh Perangkat Nilai

Bersyukur, dalam dakwah telah disiapkan perangkat yang memungkinkan semua komponen siap untuk bekerja dengan optimal. Perangkat paling utama bernama kepahaman. Dengan perangkat ini semua komponen mengerti berbagai tuntutan perjalanan dakwah sehingga mampu menyiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.

Perangkat kedua adalah keikhlasan. Dengan landasan keikhlasan, berbagai gesekan tidak sampai menimbulkan korban yang berjatuhan. Bukankah kita semua bekerja untuk mencari ridha Allah dan bukan mencari jabatan, kemuliaan, popularitas, kedudukan dan lain sebagainya.

Perangkat ketiga adalah amal yang berkesinambungan. Bekerja dalam dakwah memerlukan kontinuitas amal, sehingga menuntut bekerjanya semua komponen mesin dakwah setiap saat. Dakwah tidak akan berhenti hanya oleh karena ketakutan terkena dampak gesekan.
Perangkat keempat adalah kesungguhan atau jihad. Semua komponen dituntut untuk melaksanakan kegiatan dan agenda dakwah sepenuh kesungguhan. Termasuk bersungguh-sungguh menyiapkan jiwa agar memiliki daya tahah prima di medan dakwah yang penuh tantangan.

Perangkat kelima adalah pengorbanan. Dakwah tidak akan bisa berjalan tanpa didukung pengorbanan. Semua komponen siap memberikan pengorbanan terbaik demi tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Termasuk mengorbankan “gengsi” diri, dalam rangka mencapai tujuan dakwah.

Perangkat keenam adalah ketaatan. Semua pihak dalam tatanan dakwah harus memiliki ketaatan terhadap rujukan utama dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam tataran praktis, dituntut pula memiliki ketaatan terhadap manhaj dakwah, serta keputusan lembaga dan para pimpinan, walaupun di antara isi keputusan tersebut ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.

Perangkat ketujuh adalah keteguhan. Seluruh aktivis dakwah harus memiliki keteguhan dan ketegaran dalam menapaki jalan dakwah. Sangat banyak cobaan dan hambatan di sepanjang perjalanan dakwah, hanya aktivis yang memiliki keteguhan hati, ketegaran jiwa, kekokohan sikap, yang akan mampu melewatinya.
Perangkat kedelapan adalah kemurnian. Dakwah menuntut kemurnian hati, pemikiran dan aktivitas. Dakwah menghajatkan kemurnian orientasi, niat dan tujuan, agar terbebaskan dari penyimpangan tujuan yang sangat membahayakan.

Perangkat kesembilan adalah persaudaraan. Kita semua diikat dalam sebuah tali persaudaraan yang kuat. Setiap kita lebih mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri. Kita bahagia jika mampu membahagiakan saudaranya. Semua kita menjadi bersedih jika membuat saudaranya berduka. Kebersamaan adalah kunci kemenangan dakwah.

Perangkat kesepuluh adalah kepercayaan. Ikatan dalam dakwah bukanlah materi, bukan jabatan, bukan kedudukan duniawi, namun ikatan visi, ikatan tujuan, ikatan iman, ikatan manhaj. Oleh karena itu sangat diperlukan saling kepercayaan antara satu bagian dengan bagian lainnya, antara pimpinan dengan anggota, dan antara sesama aktivis dakwah.
Saya selalu merangkai sepuluh perangkat tersebut dalam satu kesatuan. Saya selalu melihat kesepuluh perangkat itu adalah mutiara berkilauan. Sebelum berbicara manajemen praktis, kita terlebih dahulu diikat oleh sepuluh perangkat nilai, yang menyebabkan kita mampu melewati semua mihwar, semua tahapan, semua fase dalam dakwah, kendati sangat banyak gesekan dalam menjalankan kegiatan.

Sumber


Posted by Adimin

Ikhwan, Jihad, Politik, dan Partai

Written By asdeddy sjam on 14 June, 2012 | June 14, 2012


Politikus sejati adalah mereka yang sepenuh hati menumpahkan potensi diri untuk kondisi umat ini.


Ikhwan dan Jihad

Ikhwan memandang bahwa jihad adalah kemestian dalam da 'wah. Ikhwan meletakkan poin jihad pada rukun keempat dari arkan bai'at.

Berkata Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah: Jihad merupakan kewajiban yang terus berlaku hingga hari kiamat. lnilah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah saw.: "Barang siapa yang meninggal dia belum berjihad, serta belum berniat untuk berjihad, maka ia mati secara j ahiliyah.”

Jihad paling rendah adalah pengingkaran hati, dan yang paling tinggi berperang di jalan Allah. Di antara keduanya adalah jihad dengan lisan, pena, tangan, dan ucapan yang hak di hadapan penguasa durjana.

Da'wah tidak dapat hidup kecuali dengan jihad fi sabilillah dan harga mahal yang harus dipersembahkan untuk mendukungnya. Niscaya pahala besar akan diberikan kepada para aktivis da'wah.

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang se'benar- benarnya...” (QS. al-Hajj:78)

Sebab itu, syi’ar yang selalu dikumandangkan adalah “al-jihadu sabiluna jihad adalah jalan kami."

Prinsip jihad Ikhwan tidak hanya dalam bentuk ceramah, syi’ar, dan makalah yang membicarakannya, tapi teraktualisasi secara riil ketika di Palestina terbuka peluang untuk berperang.

Peperangan tersebut mencatat berbagai strategi dan pengalaman perang yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, yang telah tertulis dalam berjilid-jilid buku. Hendaknya jilid-jilid buku yang mencatat peristiwa ini dibaca oleh setiap muslim, untuk memberi pengaruh terhadap ruh dan kekuatan terhadap mereka. Agar mereka dapat meresapi makna izzah dan rasa bangga terhadap intima (penisbatan) mereka kepada ummat Islam.

Tapi sayangnya, buku-buku itu tidak terlalu mendapat perhatian dari ummat Islam. Berlainan sekali dengan sikap musuh-musuh kita yang justru mengkaji dan mempelajari seluruh isi buku-buku tersebut secara detail.

Cukuplah disini kita mengingat bagaimana spontanitas dan sambutan besar para Ikhwan dari seluruh penjuru dunia, saat Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah membuka kesempatan bagi mereka untuk bergabung dengan pasukan sukarelawan jihad di Palestina.

Salah satu syarat yang beliau tetapkan bagi calon mujahidin adalah ridha kedua orang tua mereka untuk turut dalam jihad.

Ikhwan dan Politik

Masalah ini telah memunculkan reaksi banyak pihak. Di antara mereka ada yang curiga, memunculkan gelar negatif, dan melontarkan tuduhan.

Terkait dengan masalah ini, ustadz Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan:

"Wahai ummat Islam, sesungguhnya kami menyeru kalian, dengan al-Qur'an dan sunnah di tangan kami, amal para salafushalih menjadi qudwah kami. Kami menyeru kalian kepada Islam, kepada ajaran-ajaran Islam, hukum-hukum Islam, hidayah Islam. Bila kalian menganggap hal ini sebagai sikap yang berbau politik, maka itulah politik kami.

"Bila orang-orang yang menyeru kalian pada prinsip-prinsip ini disebut kaum politikus, berarti al-hamdulillah mungkin kamilah orang-orang yang banyak berkecimpung dalam politik. Sebutlah apa saja tentang sikap ini, sebutan-sebutan itu tidak berpengaruh negatif bagi kami hingga jelas apa makna sebutan itu dan tersingkap tujuannya."

"Wahai ummat Islam, berbagai sebutan dan nama tersebut hendaknya tidak menghalangi kalian dari hakikat, tujuan dan mutiara. Sesungguhnya yang dikehendaki Islam dalam politiknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah politik kami yang tidak ada gantinya. Karena itu, berpolitiklah, dan bawa ghirah kalian di atasnya. Kemuliaan ukhrawi menanti kalian."

"Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) al-Qur'an setelah beberapa waktu lagi." (QS. Shaad: 88)

Tentang Politik Kepartaian

Ustadz al-Banna rahimahullah mengatakan: "Adapun yang menyebut kami sebagai partai politik, maka kami tidak mendukung satu partai dan menyaingi selainnya. Kami tidak akan berubah haluan menjadi seperti itu dan tidak seorangpun yang dapat merubah atau merancukan prinsip kami dalam hal tersebut.

Yang dimaksud bahwa kami politikus, adalah kami menumpahkan perhatian terhadap kondisi ummat kami. Kami meyakini bahwa kekuatan secara legislatif merupakan bagian dari ajaran Islam yang sesuai dengan hukum-hukumnya.

Kebebasan politik adalah salah satu rukun dan kewajiban dalam Islam. Kami berusaha keras untuk dapat mewujudkan kebebasan dan meluruskan perangkat legislatif. Kami yakin ini bukan hal baru, tapi telah dikenal oleh setiap muslim yang mempelajari agama Islam secara benar.

Kami tidak memiliki persepsi tentang da'wah dan eksistensi kami kecuali demi mewujudkan sasaran itu. Dan kami tidak akan keluar sedikitpun dari da'wah kepada Islam. Islam tidak mencukupkan seorang muslim sebatas memberi nasihat dan petunjuk, tapi hingga dalam tahap perjuangan dan jihad.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut: 69)

Islam adalah agama persatuan dalam segala hal. Islam adalah agama kelapangan hati, kebersihan jiwa, persaudaraan hakiki, ta'awun yang bersih antara manusia seluruhnya, terlebih dengan sesama ummat dan bangsa yang satu. Islam tidak menghendaki dan membenci sistem kepartaian.

Al-Qur'an mengatakan: "Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah bercerai berai." (QS. Ali Imran: 103)

Rasulullah saw. bersabda: "Maukah kalian aku tunjukkan dengan amal yang lebih utama daripada shalat dan puasa?”

Mereka mengatakan: “Tentu saja ya Rasulullah.” Rasul bersabda: “Memperbaikl hubungan dengan sesama, sebab sesungguhnya kerusakan hubungan dalam hal ini adalah pencukur. Aku tidak mengatakan mencukur rambut, tapi mencukur agama.”

Di sini tentu patut disebutkan perbedaan antara sistem kepartaian -yang selalu mengangkat syi'ar perbedaan, pembagian kelompok dalam hal pendapat, dan orientasi- dengan kebebasan pendapat yang dibolehkan dan diperintahkan dalam Islam. Juga sikap menyaring permasalahan, pembahasan berbagai perkara dan perbedaan terhadap apa yang disodorkan guna menegakkan al-haq.

Sehingga bila al-haq telah jelas, ia akan menurunkan hikmah kepada seluruh masyarakat. Sama saja apakah dalam perwujudannya mengikut kepada mayoritas atau kesepakatan umum.

Dalam berbicara soal politik, patut pula ditegaskan bahwa kekuasaan bukan menjadi sasaran Ikhwan. Tujuan mereka adalah untuk mewujudkan sistem Islami. Kapanpun sistem ini wujud, dan siapapun orang yang mewujudkannya, Ikhwan siap menjadi prajurit dan pendukungnya.

Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan: "Ikhwan tak bermaksud merebut kekuasaan, bila di antara ummat terdapat orang yang siap memikul beban dan melakukan amanah ini, serta menerapkan sistem yang Islami dan Qur'ani. Maka Ikhwan siap menjadi prajurit, pendukung dan penolongnya."

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Penulis: Syaikh Jasim Muhalhil.


Posted by Adimin

HARUSKAH UMAT ISLAM BERPOLITIK..??

Written By @Adimin on 08 June, 2012 | June 08, 2012


Pertanyaan:

Haruskah umat Islam terjun dalam percaturan politik, mengingat umat banyak yang buta dalam hal politik, tetapi keadaan sekaranglah yang mengharuskan kita untuk berpolitik mengingat kaum nashara sedang menggalang kekuatan untuk menegakkan agama mereka yang terkenal dengan proyek yusuf

_________________________________________________

Islam itu agama yang lengkap dan mencakup semua aspek kehidupan. Allah SWT tidak menjadikan urusan agama ini sebagai sebuah etika internal khusus buat orang-orang suci yang mengucilkan diri di dalam sebuah kuil dan terputus dengan dunia luar.

Bahkan ayat-ayat Al-Quran al-Kariem banyak sekali bicara tentang aturan hidup manusia dan syariat yang harus ditegakkannya. Dan mustahil untuk menegakkan ajaran Islam bila tidak menguasai dunia politik atau kekuasaan. Karena hakikat Islam itu adalah memimpin peradaban manusia, baik yang beriman kepada Allah SWT maupun yang tidak.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa… (QS. An-Nuur : 55)

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. …(QS. As-Syura : 13)


Karena itu memperjuangkan Islam di dalam sebuah pemerintahan telah difatwakan wajib oleh para ulama. Sebab bila tidak, maka pemerintahan itu akan diisi oleh mereka yang tidak menjalankan hukum Islam, bahkan mereka yang fasik dan kafir malah akan berkuasa dan mendominasi.

Pada bulan Oktober 1993 edisi 42, Majalah Al-Furqan Kuwait mewawancarai Syaikh Muhammad bin shalih Al-‘Utsaimin, seorang ulama besar di Saudi Arabia yang menjadi banyak rujukan umat Islam di berbagai negara. Berikut ini adalah petikan wawancaranya seputar masalah hukum masuk ke dalam parlemen.


Majalah Al-Furqan :. Fadhilatus Syaikh Hafizakumullah, tentang hukm masuk ke dalam majelis niyabah (DPR) padahal negara tersebut tidak menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, apa komentar Anda dalam masalah ini ?

Syaikh Al-‘Utsaimin : Kami punya jawaban sebelumnya yaitu harus masuk dan bermusyarakah di dalam pemerintahan. Dan seseorang harus meniatkan masuknya itu untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk menyetujui atas semua yang ditetapkan. Dalam hal ini bila dia mendapatkan hal yang bertentangan dengan syariah, harus ditolak. Meskipun penolakannya itu mungkin belum diikuti dan didukung oleh orang banyak pada pertama kali, kedua kali, bulan pertama, kedua, ketiga, tahun pertama atau tahun kedua, namun ke depan pasti akan memiliki pengaruh yang baik. Sedangkan membiarkan kesempatan itu dan meninggalkan kursi itu untuk orang-orang yang jauh dari tahkim syariah merupakan tafrit yang dahsyat. Tidak selayaknya bersikap seperti itu.

Majalah Al-Furqan :. Sekarang ini di Majelis Umah di Kuwait ada Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Ada yang mendukungnya tapi ada juga yang menolaknya dan hingga kini masih menjadi perdebatan. Apa komentar Anda dalam hal ini, juga peran lembaga ini. Apa taujih Anda bagi mereka yang menolak lembaga ini dan yang mendukungnya ?

Syaikh Al-Utsaimin : Pendapat kami adalah bermohon kepada Allah SWT agar membantu para ikhwan kita di Kuwait kepada apa yang membuat baik dien dan dunia mereka. Tidak diragukan lagi bahwa adanya Lembaga Amar Makmur Nahi Munkar menjadikan simbol atas syariah dan memiliki hikmah dalam muamalah hamba Allah SWT. Jelas bahwa lembaga ini merupakan kebaikan bagi negeri dan rakyat. Semoga Allah SWT menyukseskannya buat ikhwan di Kuwait.

Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H bertepatan dengan bulan Mei 1996 Majalah Al-Furqan melakukan wawancara kembali dengan Syaikh Utsaimin :


Majalah Al-Furqan. Apa hukum masuk ke dalam parlemen ?


Syaikh Al-‘Utsaimin: Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan untuk mashlahat baik mencegah kejahatan atau memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bala’.


Sedangkan masalah sumpah untuk menghormati undang-undang, maka hendaknya dia bersumpah unutk menghormati undang-undang selama tidak bertentangan dengan syariat. Dan semua amal itu tergantung pada niatnya dimana setiap orang akan mendapat sesuai yang diniatkannya.

Namun tindakan meninggalkan majelis ini buat orang-orang bodoh, fasik dan sekuler adalah perbuatan ghalat (rancu) yang tidak menyelesaikan masalah. Demi Allah, seandainya ada kebaikan untuk meninggalkan majelis ini, pastilah kami akan katakan wajib menjauhinya dan tidak memasukinya. Namun keadaannya adalah sebaliknya. Mungkin saja Allah SWT menjadikan kebaikan yang besar di hadapan seorang anggota parlemen. Dan dia barangkali memang benar-benar mengausai masalah, memahami kondisi masyarakat, hasil-hasil kerjanya, bahkan mungkin dia punya kemampuan yang baik dalam berargumentasi, berdiplomasi dan persuasi, hingga membuat anggota parlemen lainnya tidak berkutik. Dan menghasilkan kebaikan yang banyak. (lihat majalah Al-Furqan – Kuwait hal. 18-19)


Jadi kita memang perlu memperjuangakan Islam di segala lini termasuk di dalam parle- men. Asal tujuannya murni untuk menegakkan Islam. Dan kami masih punya 13 ulama lainnya yang juga meminta kita untuk berjuang menegakkan Islam lewat parlemen. Insya Allah SWT pada kesempatan lain kami akan menyampaikan pula. Sebab bila semua dicantumkan disini, maka pastilah akan memenuhi ruang ini. Mungkin kami akan menerbitkannya saja sebagai sebuah buku tersendiri bila Allah SWT menghendaki.


Wallahu a`lam bishshowab

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger