Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
November 13, 2015
posted by @Adimin
Walikota Padang Tinjau Lokasi Longsor dan Banjir
Written By Anonymous on 13 November, 2015 | November 13, 2015
PADANG – Rasa empati kepada warganya kembali ditunjukkan Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo. Musibah longsor dan banjir yang melanda Kota Padang, Rabu (11/11) malam membuat Walikota Padang yang sedang dinas di Jakarta langsung bertolak ke Padang.
Kamis (12/11) pagi, Walikota Padang langsung menuju lokasi yang terkena longsor dan banjir. Sekitar pukul 08.30 Wib, Mahyeldi sampai di Batu Gadang, Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan. Di sini Walikota melihat langsung korban longsor dan meninjau langsung penyebab longsor.
Walikota menyebut penyebab terjadinya longsor di daerah itu karena landainya kontur tebing dan ‘gundulnya’ di bagian atas tebing tersebut. Sehingga begitu hujan datang tanah tersebut turun dan langsung menghantam rumah, tempat ibadah dan mushalla.
“Saat diperiksa ke bagian atas tebing, pohon banyak ditebang dan dikuliti hingga mati, sedangkan di bagian bawah mereka rapikan dengan menambah tanah. Sebetulnya terjadinya longsor dan banjir karena penggundulan dan lainnya,” kata Wako.
Topografi tanah di Kota Padang memang cukup labil, curah hujan juga cukup tinggi. Karena itu Walikota Padang mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memotong kayu dan pembalakan hutan. Walikota juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dengan tingginya curah hujan yang diprediksi hingga akhir Desember.
Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh dari Camat Lubuk Kilangan Syafwan menyebut bencana longsor di Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan, sebanyak dua rumah dihondoh longsor. Di dua rumah itu terdapat tiga Kepala Keluarga (KK) yakni Andi (29) bersama isteri dan dua anak. Kemudian Apriadi (31) beserta isteri dan dua anak. Serta Rosni (60) beserta tiga anak. Selain menghondoh dua rumah, longsor juga melanyau mushalla dan Sekolah Dasar (SD) 13 Batu Gadang.
“Korban longsor sudah diamankan ke rumah yang berada di dekat Kantor Lurah. Bantuan juga sudah diberikan,” ujar Syafwan.
Setelah itu, Walikota bertolak menuju Kampung Baru, Kecamatan Lubuak Bagaluang. Di sini Walikota juga melihat langsung rumah warga yang terendam banjir. Tidak hanya itu, Walikota juga menyambangi Batuang Taba XX, Kecamatan Lubuak Bagaluang. Di sini, Walikota juga melihat langsung rumah warga yang terendam banjir. Sebanyak 18 KK di lokasi ini terpaksa diungsikan.
Camat Lubuak Bagaluang Ances Kurniawan mengatakan sejumlah warga dilanyau banjir pada Rabu malam itu. Di Kelurahan Banuaran, 70 rumah terendam banjir. Sebanyak 425 jiwa dari 85 KK diungsikan ke SD 32. Di Kelurahan Parak Laweh, tujuh rumah dengan penghuni 30 jiwa ikut terendam.
Di Kelurahan Kampung Baru cukup parah lagi. Di sini, dua rumah hanyut terbawa air bah. Akan tetapi beruntung tidak ada korban jiwa. Sedangkan di Kelurahan Tanjung Saba, rumah yang dihuni 20 jiwa ikut terendam. Dan di Kelurahan Gurun Lawas, 41 KK menjadi korban banjir.
“Di kelurahan Batuang Taba sebanyak 18 KK yang diantaranya terdapat tiga ibu hamil dan 13 balita diungsikan ke SD 24,” tukas Ances.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Padang Frisdawati Boer menyebut bantuan telah disebarkan ke tempat korban banjir dan longsor. Bantuan itu diantaranya perlatan masak, peralatan bayi, beras, panic dan kebutuhan lainnya.
“Untuk bantuan lain kita hitung dulu dan sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” sebut Frisdawati.
Hingga berita ini diturunkan belum bisa dipastikan berapa jumlah kerugian akibat bencana banjir dan longsor. Kepala BPBD-PK Dedi Henidal mengatakan pihaknya belum bisa memastikan berapa kerugian akibat banjir dan longsor. Namun pihaknya hanya bisa menaksir kerugian sementara di atas Rp 1 miliar.(Charlie / Yurizal / Tafrizal / Mursalim)
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
KIPRAH KAMI,
Kutipan media,
NEWS,
Sejarah,
TOPIK PILIHAN
November 24, 2014
posted by @Adimin
Negeri negeri yang di azab (1)
Written By Sjam Deddy on 24 November, 2014 | November 24, 2014
Awan panas yang muncul setelah kubah lava runtuh memanggang Pompeii.
Hujan abu vulkanik mengubur penduduk hidup-hidup dan mayat-mayat membatu
Sebagai seorang
Muslim kita sangat dianjurkan untuk mempelajari sejarah umat terdahulu yang
diazab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kedurhakaannya. Meski dianjurkan
untuk dijadikan pelajaran, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengingatkan agar umatnya tidak berlama-lama berada di tempat di mana azab
Allah pernah turun. Berikut ini di antara tempat-tempat yang diazab itu.
1. Pompeii
Dua tembok dari
situs Pompeii yang paling ramai dikunjungi wisatawan rubuh akhir tahun 2010,
akibat curah hujan yang tinggi dan kurangnya perhatian pemerintah Italia. Situs
warisan dunia itu bercerita banyak tentang kehidupan bangsa Romawi.
Ketika Gunung
Vesuvius mengalami letusan hebat pada pagi hari 24 Agustus 79 M, penduduk kota
Pompeii menjalani hari seperti biasanya. Pliny muda (pejabat dan penyair
Romawi) menceritakan kisah menyeramkan itu lewat surat-surat bersejarahnya.
Letusan
berlangsung terus menerus selama 24 jam diiringi hujan debu, awan panas serta
lava pijar. Hanya sebagian orang yang segera menyelamatkan diri saat letusan
pertama, berhasil selamat. Awan panas yang muncul setelah kubah lava runtuh
memanggang Pompeii, dan hujan abu vulkanik mengubur penduduk hidup-hidup.
Keterkejutan terlihat jelas dalam ekspresi mayat-mayat membatu yang ditemukan
di Pompeii. Usai bencana biasanya kota yang hancur dibangun kembali, tapi tidak
demikian halnya dengan Pompeii.
Sebelum hancur,
kota itu adalah salah satu kota plesir bangsa Romawi. Letaknya di Semenanjung
Napoli (Naples). Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang
dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Pesta seks di
pemandian umum menjadi bagian dari gaya hidup. Pemandian umum di Pompeii sudah
eksis jauh sebelum pemandian serupa ada di kota Roma. Dari lukisan dinding yang
ditemukan di bangunan-bangunan Pompeii terlihat jelas kegilaan penduduknya akan
seks.
2. Laut Mati
Laut mati adalah
tempat terendah yang ada di permukaan bumi, permukaan airnya berada 422 meter
di bawah permukaan laut. Pantainya laut seluas 402 km persegi itu paling kering
di dunia. Tingkat keasinannya mencapai 28-35%, padahal normalnya keasinan laut
hanya 3-6%. Laut Mati terletak di Lembah Yordan, yang berbatasan dengan Tepi
Barat, Yordania dan wilayah Palestina yang dikuasai Israel.
Para arkeolog yang
bekerja di situs Tall As-Sa`idiyah di sebelah utara Laut Mati mendapati bahwa
sekitar Zaman Perunggu (1800-2350 SM) di sana terdapat kehidupan. Saat itu
iklim di kawasan tersebut tidak kering seperti sekarang. Antropolog forensik
AS, Prof Mike Finnegan meneliti tiga kerangka pria di Numeira selatan Laut Mati
dari tahun 2350 SM. Dia menyimpulkan bahwa ketiganya mati karena tertimpa
bebatuan akibat gempa besar. Kemungkinan bahwa di daerah tersebut terjadi gempa
sedikitnya 6 skala Richter dibenarkan geolog Israel Shmuel Marco, karena banyak
terdapat patahan.
Ronald Eldon Wyatt
petualang Amerika tahun 1989 dan 1990 mendatangi Laut Mati untuk mencari lokasi
kota Sodom, Gomorrah, Adman, dan Zeboim yang disebutkan dalam Bibel ada di
sekitar Kanaan. Dia mengamati lapisan geologi yang ada. Salah satu temuannya
adalah lempengan tanah garam dengan bercak belerang kuning di dalamnya. Temuan
seperti itu berceceran di sana, termasuk bongkahan-bongkahan belerang sebesar
ibu jari.
Tahun 1924 William
Albright and Melvin Kyle juga menemukan hal yang sama. Dalam bukunya “Exploration
at Sodom”, Dr Melvin Kyle menulis, “… di sebuah daerah yang dihujani
belerang pasti akan menunjukkan adanya belerang. Ya, memang begitu adanya. Kami
memungut belerang murni dalam potongan sebesar ujung ibu jari saya.” Belerang
itu bercampur dengan napal (tanah semen) dari pegunungan sisi barat dari laut
dan ditemukan di sepanjang pantai dan di seberang timur, yang jaraknya 4-5 mil
dari bongkahan belerang yang ditemukan Kyle. “Entah bagaimana tersebar jauh dan
luas di dataran ini,” tulis Kyle.
Al-Qur`an
menceritakan kehancuran kaum Nabi Luth yang diazab karena perilaku
homoseksualnya.
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang
mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota
itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras.
Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi
orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu
benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (QS: Al-Hijr [15]: 73-76)
bersambung . .
hidayatulah
posted by @Adimin
November 04, 2014
Abu Ja’far Fir’adi
posted by @Adimin
Rasulullah Sang Mediator Ulung
Written By Sjam Deddy on 04 November, 2014 | November 04, 2014
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ
اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ
الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (qs. Al-Ahzab: 21).
Saudaraku,
Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam bukunya “al-rahiq al-Makhtum”
menceritakan kisah renovasi Ka’bah dan proses peletakkan Hajar Asqad ke
tempatnya semula.
‘Pada usia tiga puluh tahun, orang-orang
Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka’bah. Sebab Ka’bah itu berupa
susunan batu-batuan, lebih tinggi dari tubuh manusia. Tepatnya sembilan
hasta yang dibangun sejak zaman Nabi Isma’il a.s. Tanpa ada atapnya
sehingga banyak pencuri yang dengan mudah dapat mengambil barang-barang
berharga yang tersimpan di dalamnya. Dengan kondisi semacam itu,
bangunan Ka’bah semakin rapuh dan dindingnya pun sudah mulai
pecah-pecah.
Lima tahun sebelum kenabian, Mekkah dilanda banjir besar hingga meluber
ke baitullah al-haram, sehingga sewaktu-waktu bisa membuat Ka’bah
menjadi runtuh. Sementara itu orang-orang Quraisy dihinggapi perasaan
bimbang antara merenovasi Ka’bah atau membiarkannya seperti semula.
Karena bayangan peristiwa hancurnya Abrahah dan pasukannya oleh
sekawanan burung Ababil (yang datang bergelombang) saat mereka akan
merobohkan Ka’bah, dan melempari mereka dengan batu-batu panas dari
neraka. Sehingga pasukan dari Shan’a Yaman tersebut bagaikan daun-daun
yang dimakan ulat.
Namun Quraisy akhirnya sepakat untuk
tidak mengambil bahan-bahan bangunannya terkecuali dari income yang
baik-baik. Mereka tidak menerima harta dari maskawin para pelacur, jual
beli dengan sistem riba dan perampasan terhadap hak orang lain.
Sekalipun demikian mereka takut untuk merobohkannya.
Akhirnya al-Walid bin al-Mughirah
mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti oleh semua orang
setelah tahu tidak ada sesuatu pun yang menimpa al-Walid. Mereka terus
bekerja merobohkan setiap bangunannya hingga sampai ke rukun Ibrahim.
Setelah itu mereka siap untuk membangunnya kembali.
Mereka membagi sudut-sudut Ka’bah dan
mengkhususkan setiap suku atau kabilah dengan bagiannya tersendiri.
Setiap kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan renovasi Ka’bah pun
dimulai. Yang bertugas menangani urusan pembangunan Ka’bah adalah
seorang arsitek berkebangsaan Romawi yang bernama; Baqum.
Tatkala pembangunan sudah sampai di
bagian Hajar Aswad, mereka berselisih pendapat tentang siapakah yang
paling berhak untuk mendapatkan kehormatan meletakkan batu mulia
tersebut ke tempatnya semula. Perselisihan ini terus berlanjut hingga
sampai empat atau lima hari tanpa ada keputusan. Bahkan perselisihan
tersebut semakin meruncing dan hampir saja mengarah kepada pertumpahan
darah di tanah suci.
Abu Umayah bin al-Mughirah tampil
menawarkan solusi untuk melerai pertikain dan perselishan di antara
mereka, dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa saja yang pertama
kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima pendapat ini.
Allah menghendaki orang yang berhak
tersebut adalah Rasulullah s.a w. Tatkala mengetahui hal tersebut,
mereka berkata, “Inilah al-Amin kami ridha kepadanya, inilah dia
Muhammad.”
Setelah semuanya berkumpul di sekitar
Nabi s.a.w dan mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, maka beliau
meminta sehelai selendang dibentangkan, lalu beliau meletakkan Hajar
Aswad tepat di tengah-tengahnya, lalu meminta pemuka-pemuka kabilah yang
saling berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang, lalu
memerintahkan mereka semua mengangkatnya.
Setelah mendekati tempatnya beliau
mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini
merupakan jalan pemecahan yang sangat brilian dan diridhai semua orang.
Saudaraku,
Orang-orang Quraisy kehabisan dana dari penghasilan yang baik. Maka
mereka menyisakan di bagian utara kira-kira enam hasta, yang kemudian
disebut dengan al-Hijr atau al-Hathim. Mereka membuat pintunya lebih
tinggi dari permukaan tanah, agar tidak dimasuki oleh orang yang ingin
melewatinya. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas
hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.
Setelah selesai renovasi, Ka’bah itu
berbentuk segi empat, yang ketinggiannya kira-kira mencapai lima belas
meter, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah
sepuluh kali sepuluh meter. Hajar aswad diletakkan dengan ketinggian
satu setengah meter dari permukaan pelataran untuk thawaf.
Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya
setinggi dua belas meter. Adapun pintunya setinggi dua meter dari
permukaan tanah. Di sekeliling luar Ka’bah ada pagar dari bagian bawah
ruas-ruas bangunan. Di bagian tengahnya dengan ketinggian seperempat
meter dan lebarnya kira-kira sepertiga meter. Pagar ini dinamakan
“al-Syadzarawan”. Namun kemudian orang-orang Quraisy meninggalkannya.
Saudaraku, Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari peristiwa renovasi Ka’bah adalah sebagai berikut:
• Dengan kekufuran dan kesyirikan
Quraisy, mereka tetap mengagungkan dan mensucikan Ka’bah al-Musyarrafah,
sehingga dana yang mereka pergunakan untuk merenovasi Ka’bah mereka
ambilkan dari yang halal lagi thayyib.
• Semua orang pada sejatinya menyimpan
kekhawatiran dan ketakutan terhadap azab Allah s.w.t, apapun profesi,
kedudukan dan kemuliaan yang mereka sandang di dunia.
• Jika kita ingin menjadi pemimpin dan
tokoh masyarakat yang dicintai dan didengar oleh masyarakat, maka salah
satu sifat yang harus kita punyai adalah ‘amanah’ dapat dipercaya.
• Mediasi sangat diperlukan untuk menyelesaikan persoalan dan kesalah pahaman yang terkadang muncul di tengah-tengah masyarakat.
• Pertikaian, konflik dan peperangan
antar suku Quraisy dapat dihindari dan persatuan kembali terajut, karena
kecerdasan dan kejelian Rasulullah s.a.w dalam membaca dan menganalisa
persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
• Apa yang dilakukan Nabi s.a.w
mencerminkan kemampuannya dalam menyelesaikan persoalan besar. Jika
perannya gagal, maka Ka’bah dan sekitarnya akan menjadi saksi
pertumpahan darah antar sesama suku dan kabilah Quraisy.
Saudaraku,
Mari kita menyiapkan diri untuk menajdi seorang mediator Islam, agar
umat Islam mampu meraih kejayaan dan kemenangan. Konflik dan
perselisihan sekecil apapun dapat dihindari dan kesatuan umat dapat
terwujud di alam realita kehidupan kita.
Menampilkan kepribadian menarik dan
akhlak yang memikat yang dibingkai dengan sifat amanah, insyaallah kta
layak menjadi perekat dan pemberi solusi bagi permasalahan dan persoalan
yang kerap muncul di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lam bishawab.
Abu Ja’far Fir’adi
posted by @Adimin
Label:
Sejarah,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
April 25, 2014
Siapa mengira ternyata diantara jajaran pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ada keturunan langsung dari Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari pendiri Nadlatul Ulama (NU).
Beliau adalah Abdul Hadi Wijaya, salah satu pimpinan DPW PKS Jawa Barat yang di pemilu 2014 ini diamanahi sebagai caleg tingkat propinsi Dapil Karawang-Purwakarta.
"Anak pertama Hadratusy Syaikh bernama Choiriyah. Beliau menetap di Makkah dan melahirkan nenek saya (Abidah binti Ma'shum Ali)," tutut Abdul Hadi menyebutkan silsilah keluarganya.
"Nenek menikah dengan KH Mahfudz Anwar, pernah jadi ketua Lajnah Falakiyah PBNU. Ibu saya Hamnah adalah anak kedua mereka," lanjutnya.
Namun tak seperti umumnya keluarga Nahdliyin, Abdul Hadi Wijaya tidak dibesarkan di pesantren. Pria kelahiran Surabaya, 25 Nopembet 1967 ini mengenyam pendidikan umum sampai mendapat beasiswa luar negeri dari Habibie untuk kuliah S1 dan S2 di Delft University of Technology Belanda 1986-1995.
Menikah dengan Anak Tokoh Muhammadiyah
Uniknya juga, beliau menikah dengan anak tokoh Muhammadiyah.
"Saya menikah 1991 dengan cucu pendiri Muhammadiyah Banten yang juga mendapat beasiswa, bukan di Belanda tapi di Jerman," ujarnya.
"Pernikahan ini asyik, semacam koalisi NU-Muhammadiyah," kelakarnya.
Dipl. Ing. Hj. Diah Nurwitasari, istri beliau, adalah aleg PKS di DPRD Propinsi Jawa Barat dua periode 2004-2009 dan 2009-2014.
Kenal Tarbiyah
Bagaimana beliau bisa kenal dan menjadi kader serta pimpinan PKS?
"Saya kenal tarbiyah saat di Eropa. Saat kuliah itu kami sering undang ustad-ustad dari Indonesia. Ada Ustad Anis Matta, Ahmad Heryawan, Tifatul, Tate Qomarudin, dll. Itu sebelum ada PKS," tuturnya.
Saat beliau kuliah di Belanda, beliau aktif jadi pengurus Persatuan Pelajar Indonesia, Delft, The Netherlands, 1986-1995. Diantara kegiatannya adalah mengadakan pengajian untuk pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu di Belanda.
"Pulang dari Eropa kami kerja di PT Dirgantara Indonesia. Disitu kegiatan tarbiyah berlanjut, ikut aktivitas dakwah bareng Mang Oded Muhammad Danial wakil walikota Bandung dari PKS," tuturnya.
Jadi Caleg PKS
"Di pemilu 2014 Saya yang ditugaskan jadi caleg PKS, menggantikan istri yang pensiun. Dapilnya Karawang & Purwakarta. Ternyata banyak pesantren NU," tutur beliau.
"Saya bertemu KH Abun Bunyamin ketua PCNU dan MUI Purwakarta. Atas bantuan beliau, banyak buka pintu pesantren-pesantren. Alhamdulillah saya diterima baik, bahkan jadi icon NU," sambungnya.
Karena ijin Allah dan dukungan kalangan pesantren beliau mendapat suara terbanyak di caleg PKS dapil itu. Dan PKS dapat 1 kursi DPRD Propinsi.
"Doain agar saya bisa mewarisi kebaikan Hadratusy Syaikh," tutur beliau atas amanah yang diembannya.
___
NB: Sebagai orang teknik lulusan Belanda, pengabdian beliau ke NU diaplikasikan dengan aktif di Ma'had 'Aly Al-Mahfudz (Konsentrasi Ilmu Falak), Jombang (Jatim), dari 2012-sekarang.
Profil lengkap beliau, KLIK INI
[pyg]
posted by @Adimin
Diantara Caleg PKS yang Terpilih, Ada Keturunan Kelima KH Hasyim Asy'ari (Pendiri NU)
Written By Anonymous on 25 April, 2014 | April 25, 2014
Siapa mengira ternyata diantara jajaran pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ada keturunan langsung dari Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari pendiri Nadlatul Ulama (NU).
Beliau adalah Abdul Hadi Wijaya, salah satu pimpinan DPW PKS Jawa Barat yang di pemilu 2014 ini diamanahi sebagai caleg tingkat propinsi Dapil Karawang-Purwakarta.
"Anak pertama Hadratusy Syaikh bernama Choiriyah. Beliau menetap di Makkah dan melahirkan nenek saya (Abidah binti Ma'shum Ali)," tutut Abdul Hadi menyebutkan silsilah keluarganya.
"Nenek menikah dengan KH Mahfudz Anwar, pernah jadi ketua Lajnah Falakiyah PBNU. Ibu saya Hamnah adalah anak kedua mereka," lanjutnya.
Namun tak seperti umumnya keluarga Nahdliyin, Abdul Hadi Wijaya tidak dibesarkan di pesantren. Pria kelahiran Surabaya, 25 Nopembet 1967 ini mengenyam pendidikan umum sampai mendapat beasiswa luar negeri dari Habibie untuk kuliah S1 dan S2 di Delft University of Technology Belanda 1986-1995.
Menikah dengan Anak Tokoh Muhammadiyah
Uniknya juga, beliau menikah dengan anak tokoh Muhammadiyah.
"Saya menikah 1991 dengan cucu pendiri Muhammadiyah Banten yang juga mendapat beasiswa, bukan di Belanda tapi di Jerman," ujarnya.
"Pernikahan ini asyik, semacam koalisi NU-Muhammadiyah," kelakarnya.
Dipl. Ing. Hj. Diah Nurwitasari, istri beliau, adalah aleg PKS di DPRD Propinsi Jawa Barat dua periode 2004-2009 dan 2009-2014.
Kenal Tarbiyah
Bagaimana beliau bisa kenal dan menjadi kader serta pimpinan PKS?
"Saya kenal tarbiyah saat di Eropa. Saat kuliah itu kami sering undang ustad-ustad dari Indonesia. Ada Ustad Anis Matta, Ahmad Heryawan, Tifatul, Tate Qomarudin, dll. Itu sebelum ada PKS," tuturnya.
Saat beliau kuliah di Belanda, beliau aktif jadi pengurus Persatuan Pelajar Indonesia, Delft, The Netherlands, 1986-1995. Diantara kegiatannya adalah mengadakan pengajian untuk pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu di Belanda.
"Pulang dari Eropa kami kerja di PT Dirgantara Indonesia. Disitu kegiatan tarbiyah berlanjut, ikut aktivitas dakwah bareng Mang Oded Muhammad Danial wakil walikota Bandung dari PKS," tuturnya.
Jadi Caleg PKS
"Di pemilu 2014 Saya yang ditugaskan jadi caleg PKS, menggantikan istri yang pensiun. Dapilnya Karawang & Purwakarta. Ternyata banyak pesantren NU," tutur beliau.
"Saya bertemu KH Abun Bunyamin ketua PCNU dan MUI Purwakarta. Atas bantuan beliau, banyak buka pintu pesantren-pesantren. Alhamdulillah saya diterima baik, bahkan jadi icon NU," sambungnya.
Karena ijin Allah dan dukungan kalangan pesantren beliau mendapat suara terbanyak di caleg PKS dapil itu. Dan PKS dapat 1 kursi DPRD Propinsi.
"Doain agar saya bisa mewarisi kebaikan Hadratusy Syaikh," tutur beliau atas amanah yang diembannya.
___
NB: Sebagai orang teknik lulusan Belanda, pengabdian beliau ke NU diaplikasikan dengan aktif di Ma'had 'Aly Al-Mahfudz (Konsentrasi Ilmu Falak), Jombang (Jatim), dari 2012-sekarang.
Profil lengkap beliau, KLIK INI
[pyg]
posted by @Adimin
Label:
Sejarah,
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
January 16, 2014
sebelumnya masyumi dan korupsi (1)
Oleh: Beggy Rizkiyansyah
Penulis adalah pemerhati masalah sejarah
posted by @Adimin
Masyumi dan Kebijakan Melawan Korupsi (2)
Written By Sjam Deddy on 16 January, 2014 | January 16, 2014
Masyumi dan Kesederhanaan Hidup
Sesungguhnya kita tidak perlu merasa heran dengan sikap para tokoh
Masyumi yang anti korupsi. Karena sikap itu telah ditunjukkan oleh
paratokohnya dengan kasat mata dalam kesehariannya. Mereka adalah
pemimpin yang seringkali dikenal hidup sederhana dan taat beragama. Jika
kita menilik kembali pada saat Masyumi beserta tokoh-tokohnya, umumnya
kita akan mendapatkan kesan kehidupan mereka yang jauh dari kemewahan.
Meskipun memegang jabatan tinggi di pemerintahan, hidup mereka tak
lekat dengan gelimang harta. Sebut saja kisah kesederhanaan M. Natsir,
yang diakui oleh Indonesianis, George McTurnan Kahin.
Nama Natsir dikenal oleh Kahin, lewat H. Agus Salim. Beliau (H. Agus
Salim) merekomendasikan nama Natsir sebagai narasumber untuk Republik.
“Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang Menteri. Namun demikian
dia adalah seorang yang amat cakap dan penuh kejujuran; jadi kalau anda
hendak memahami apa yang sedang terjadi dalam Republik, anda seharusnya
bicara dengannya,” jelas H. Agus salim.
Kahin membuktikan dengan matanya sendiri, ia melihat Natsir sebagai
Menteri Penerangan, berdinas dengan kemeja bertambal. Sesuatu yang belum
pernah Kahin lihat di menteri pemerintahan manapun. Muhammad Natsir. [70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan. (Buku Peringatan Mohammad Natsir / Mohamad Roem 70 Tahun), Pustaka Antara. 1978. Jakarta].
Bahkan ketika menjabat sebagai Perdana Menteri pun, Natsir tak mampu
membeli rumah untuk keluarganya. Hidupnya selalu di isi dengan kisah
pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya.
Kisah kesederhanaan Natsir terus berlanjut, tahun 1956, ketika telah
berhenti menjadi Perdana Menteri dan menjadi pemimpin partai Masyumi,
Natsir pernah akan diberikan mobil oleh seseorang dari Medan. Ia
ditawari Chevrolet Impala, sebuah mobil ‘wah’, yang sudah diparkir
didepan rumahnya. Namun Natsir menolaknya. Padahal saat itu mobil Natsir
hanya mobil kusam merek DeSoto.
(Politik Santun Diantara Dua Rezim. Majalah Tempo. 20 Juli 2008)
Jabatan yang tinggi menghindarkan mereka dari penyalahgunaan amanah.
Hal ini berlaku juga pada Sjafrudin Prawiranegara, seorang tokoh Masyumi
yang kental dengan dunia ekonomi. Tahun 1951, setelah menjabat sebagai
Menteri Keuangan, Sjafruddin ingin terjun di sektor swasta. Nafkahnya
sebagai menteri, sangat pas-pasan, bahkan kurang.
Bagi menteri Sjafruddin, haram baginya menyalahgunakan kekuasaan,
termasuk sambil berbisnis ketika menjabat, atau menerima komisi.Setelah
tak menjabat, ketika itu datang tawaran untuk menjadi Presiden De Javasche Bank (kemudian dikenal dengan Bank Indonesia). Tawaran ini diberikan langsung oleh salah seorang direksinya, Paul Spies.
Sjafruddin menolaknya, dengan berbagai alasan, termasuk keinginannya mendapatkan penghasilan lebih. Ia merasa De Javasche Bank,
yang akan dinasionalisasi oleh pemerintah, pasti akan turut mengalami
penurunan gaji. Ia merasa keberatan karena harus mendapatkan
penghasilan pas-pasan, seperti menjadi menteri dahulu. Namun justru
prinsip kejujuran inilah yang dicari oleh Paul Spies. Hingga akhirnya
pemerintah menyetujui tak akan menurunkan gajinya. Akhirnya jabatan itu
pun diterimanya.
Gejala lain dari hidup para tokoh ini adalah, kondisi mereka serupa
saja, baik saat sebelum menjabat, saat menjabat, atau pun setelah
menjabat. Tetap sederhana. Hidup mereka hanya mengandalkan gaji saat
menjadi pejabat. Hidup para tokoh Masyumi yang sederhana semakin
terlihat tatkala mereka ramai-ramai dipenjara oleh rezim Soekarno, tentu
saja bukan karena tuduhan korupsi. Tetapi melawan pemerintahan. Ketika
masing-masing masuk bui, para istri mereka yang mengambil alih posisi
mencari nafkah. Tak ada tabungan, atau harta melimpah yang disimpan
suami mereka. Isteri dari Buya Hamka merasakan betul keadaan itu.
Semenjak Buya Hamka di tahan, ia sering berkunjung ke pegadaian.
Seringkali perhiasannya tak dapat lagi ditebus. Nasib serupa dialami
Ibu Lily, istri dari Sjafruddin Prawiranegara, hidup menumpang di rumah
kerabat danmenjual perhiasan. Rumah mereka yang dibeli dengan mencicil
ke De Javasche Bank, pun turut di sita.
Kisah-kisah para tokoh Masyumi yang tak punya rumah seringkali
terdengar. Setelah bebas dari penjara, Natsir akhirnya bisa memiliki
rumah, setelah membeli rumah milik kawannya, itu pun dengan cara
mencicil dan meminjam sana-sini.
Begitu pula dengan Boerhanoeddin Harahap, ketika baru bebas, ia hidup
menumpang di rumah adiknya yang sempit, di sebuah gang kecil, di
Manggarai Selatan. Boerhanoeddin akhirnya memiliki rumah, dengan cara
mencicil rumah yang dipinjamkan seseorang di daerah Tebet, Jakarta
Selatan.
Teladan hidup sederhana ini menghindarkan mereka dari godaan hidup
mewah, dan kemungkinan tuduhan korupsi. Bagaimana mungkin akan dituduh
korupsi, jika rumah pun tak punya? Kesadaran tinggi akan amanah dan
kesalehan merekalah yang menghindarkan mereka dari gaya hidup mewah yang
seringkali memicu korupsi. Mereka lebih memilih hidup sederhana,
ketimbang hidup mewah dengan mengumbar berbagai dalil sebagai dalih.
Teringatlah kita akan pesan Buya Hamka bagi para pejabat, untuk menghindai gaya hidup mewah;
“Sejak dari kepala negara sampai kepada
menteri-menteri dan pejabat-pejabat tinggi telah ditulari oleh
kecurangan korupsi. Sehingga yang berkuasa hidup mewah dan mengumpulkan
kekayaan untuk diri sendiri, sedangkan rakyat banyak mati kelaparan,
telah kurus-kering badannya.”
Buya pun melanjutkan dengan gamblang, ketika menjelaskan surat Ali Imran ayat 161 ini dalam Tafsir Al Azhar,
“…Nyatalah bahwa komisi yang diterima oleh
seorang menteri, karena menandatangani suatu kontrak dengan satu
penguasa luarnegeri dalam pembelian barang-barang keperluan menurut rasa
halus iman dan Islam adalah korupsi juga namanya. Kita katakana menurut
rasa halusiman dan Islam adalah guna jadi pedoman bagi pejabat-pejabat
tinggi suatu negara, bahwa lebih baik bersih dari kecurigaan ummat.”
Maka cerminan dari masa lampau tak pernah bisa kita hapuskan jika
ingin melangkah. Sebaiknya para pengusung, pendukung dan terutama
partai-partai berbendera Islam, mulai memikirkan kembali amanah mereka
dan mulai bersikap hidup sederhana, menghempaskan gaya hidup bergelimang
harta-dengan berbagai dalih-, seperti yang telah ditunjukkan oleh para
pendahulu kita.*
sebelumnya masyumi dan korupsi (1)
Oleh: Beggy Rizkiyansyah
Penulis adalah pemerhati masalah sejarah
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
Sejarah,
TOPIK PILIHAN
January 15, 2014
*/bersambung ke Masyumi dan korupsi
posted by @Adimin
Masyumi dan Kebijakan Melawan Korupsi (1)
Written By Sjam Deddy on 15 January, 2014 | January 15, 2014
PM M Natsir (Masyumi) menolak mobil Chevrolet Impala dan memilih mobil jadul merek DeSoto (foto: Soekarno di acara Masyumi)
SATU-PERSATU tokoh-tokoh partai dan politisi saat ini mesuk jeruji besi atas kasus korupsi. Bahkan termasuk politisi dari partai berbasis Islam. Musibah ini, tentu saja menjado olok-olok yang cukup mengenaskan. Kelompok-kelompok di luar Islam seolah bernyanyi dan mencemooh, tentu saja, menyudutkan Islam di mana seolah ingin mengatakan, fakata nilai-nilai Islam tidak ada pengaruhnya dalam kancah politik dan dalam urusan bernegara.
SATU-PERSATU tokoh-tokoh partai dan politisi saat ini mesuk jeruji besi atas kasus korupsi. Bahkan termasuk politisi dari partai berbasis Islam. Musibah ini, tentu saja menjado olok-olok yang cukup mengenaskan. Kelompok-kelompok di luar Islam seolah bernyanyi dan mencemooh, tentu saja, menyudutkan Islam di mana seolah ingin mengatakan, fakata nilai-nilai Islam tidak ada pengaruhnya dalam kancah politik dan dalam urusan bernegara.
Tentusaja ini sebuah bencana, karena pegiat partai berbasis Islam
seharusnya sadar bahwa ketika mereka berpartai, mereka membawa bendera
yang lebih besar, yaitu agamanya sendiri. Pengharapan seperti ini amat
tinggi di hadapat rakyat dan partai-partai lain yang tidak mengusung
agama. Wajar jika mata jeli berbagai kalangan, masyarakat, LSM, media
massa terus mengintai setiap gerak-gerik politisi dan tokoh-tokoh dari
partai Islam. Selain hanya mencari celah, tentu saja mencari ibrah (tauladan).
Musibah yang sedang dialami para politisi sedang terjerat korupsi
Inilah yang mungkin luput kita sadari. Apa daya, sekali lagi, kita
malas menengok sejarah barangsekejap. Padahal salah satu partai Islam
terbesar bernama Masyum itelah menorah kan tinta perjuangan dalam usaha
membasmi korupsi.
Korupsi memang bukan barang baru di negeri ini. Sejak di era
pemerintah kolonial, korupsi menjangkiti kaum pribumi. Bahkan ketika
kemerdekaan telah kita raih dari tangan penjajah, bau amis korupsi
ternyata ikut melekat di tangan para politisi kita sejak dini. Karya
semacam Korupsi (Pramoedya AnantaToer, 1961) dan Senja di Jakarta
(MochtarLubis, 1970) menggambarkan betapa korupsi di kala itu sudah
menjamur. Ketika itu praktek korupsi begitu menggurita, penuh
manipulasi. Modus yang dikenal pada periode 1950-an adalah
‘Importiraksentas’ atau pengusaha ‘Ali-Baba’. Kebijakan nasionalisasi
saat itu diakali para ‘Importiraksesntas.’ Sebuah akal-akalan perusahaan
nasional (dalam negeri) yang menjual kembali izin impor kepada
perusahaan asing. Begitu pula taktik ‘Ali-Baba’, sebuah modus yang
berkedok importir pribumi untuk mendapatkan fasilitas impor dari
pemerintah. Padahal di balik importer ini hanyalah pengusaha China
atauBelanda. (The Deciline of Constitutional Democracy in Indonesia, Herbert, Feith.Equinox Publihshing. 2007. Singapura).
Maka hal semacam ini lazim disebut ‘Ali-Baba’ atau Ali-Willem.(baca: Partai Islam di Pentas Nasional , Deliar Noer, Pustaka Utama Grafiti. 1987. Jakarta)
Ketika itu, negara di bawah pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo I
(Juli 1953-Juli 1955). Pemerintah kala itu memang menggelorakan ekonomi
nasional (termasuk nasionalisasi) dengan memberikan kredit-kredit pada
pengusahanas ional. namun, Menteri Keuangan saat itu, Iskaq
Tjokrohadisoerjo (1953-1955), melakukan politik nasional dalam ekonomi
dengan banyak diskriminasi.Ia mengutamakan pengusaha dari partai PNI
saja, atau yang menyokong pemerintahan PNI (Ali) sehingga diberi
kemudahan tanpa memperhatikan kemampuan.Termasuk salah satunya,
perusahaan importir kertas baru, Inter Kertas, yang setengah dari
sahamnya dimiliki oleh Sidik Djojosukarto. Menteri Iskaq berbuat
seperti ini, bukan tanpa alasan. Tampaknya PNI mengejar persiapan untuk
pemilu tahun 1955. Bahkan mengambil kebijaksanaan untuk menyokong dana
partai. Bersama Ong Eng Die (keduanya dari PNI), mereka memerintahkan
dana kementerian untuk disimpan di Bank Umum Nasional, suatu bank PNI.
Mereka juga merombak personalia dan administrasi kementerian terutama
yang berhubungan dengan perdagangan dan perindustrian. Menteri Iskaq
juga pernah membatalkan Koperasi Batik Indonesia sebagai satu-satunya
importir cambrics, dan member lisensi ini kepada beberapa importir tak
berpengalaman.Selain itu dia juga memberikan izin impor kertas untuk
pemilu kepada suatu perusahaan yang sahamnya dimiliki orang-orang PNI.
Kebijakan-kebijakan seperti ini mendapat tentangan keras dari partai
Masyumi. Ketua Seksi Ekonomi dari parlemen, KH Tjikwan dari Majelis
Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) mengajukan mosi di parlemen untuk
interpelasi, guna mempertanyakan kebijakan Menteri tersebut. Mosi untuk
interpelasi diterima dengan suara bulat. Namun mosi tak percaya berakhir
dengan kegagalan. Kegagalan ini lebih bersifat politis, yaitu pemihakan
kekuatan antara oposisi dan partai yang ikut dalam kabinet. Walaupun
begitu, Partai NU yang ikut serta dalam kabinet turut mengirimkan nota
politik yang berisi kekhawatiran tentang masalah ekonomi. Begitu pula
PSII yang juga ikut dalam kabinet menyatakan tidak bertanggungjawab atas
kelanjutan kebijakan menteri-menteri dari PNI itu.
Kabinet Ali Sastroamidjojo menyerahkan kekuasaannya kepada
Boerhanoeddin Harahap pada 12 Agustus 1955.Di sinilah kemudian Kabinet
Boerhanoeddin yang berasal dari Masyumi membuktikan dirinya melawan
korupsi dengan lantang.Kabinet Boerhanoeddin langsung melancarkan
kampanye anti korupsi. Pasal lima dari program kabinet ini adalah
memberantas korupsi. Kabinet ini langsung menyikat orang-orang yang
terindikasi korupsi. Beberapa hari setelah dilantik, Mr. Djodi
Gondokusumo, bekas Menteri Kehakiman ditangkap. Begitu pula Menteri
Keuangan Ong Eng Die. Rumah Iskaq Tjokroahadisurjo digeledah. Saat itu
Iskaq sendiri sedang berada di luar negeri. Ia berkali-kali dipanggil
pulang.Tetapi perjalanannya di luar negeri di perpanjang.
Dalam biografinya, ia mengakui, sebetulnya ia hendak pulang, tetapi
di Singapura ia dijemput Lim Kay, yang diutus pimpinan pusat PNI.( Boerhanoeddin Harahap. Pilar Demokrasi.
Busyairi, Badruzzaman Bulan Bintang, 1989, Jakarta). Iskaq sendiri
tahun 1960 divonis bersalah oleh pengadilan, namun kemudian diselamatkan
Soekarno dengan grasinya.Daftar orang-orang yang ditahan termasuk
beberapa orang di badan penyelidik negara, pejabat kantor impor, serta
pengusaha (importir).
Penangkapan merebak di mana-mana. Bandung, Surabaya, Sumatera tengah,
Jawa tengah hingga Penang.Termasuk di Singapura, Konsul Jenderal Arsad
Astra juga dipanggil pulang dan ditahan.
Delapan hari setelah dilantik, Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap –
yang saat dilantik baru berusia 38 tahun- menjelaskan kebijakannya
melawan korupsi, “Untuk memperbaiki kembali keadaan yang tak sehat
dalam masyarakat, dan juga di dalam kalangan pemerintahan sebagai akibat
dari tindakan-tindakan korup oleh berbagai orang, maka pemerintah
menganggap perlu untuk menjalankan tindakan-tindakan yang keras dan
tegas.”
Ia juga menegaskan tak pandang bulu membasmi korupsi, tanpa peduli
partai, golongan atau agamanya. Ia kemudian juga menggencarakan
perlawanan dengan memperluas kekuasaan Jaksa Agung. Ia membebaskan Jaksa
Agung dari tiap pembatasan sehingga dapat bertindak terhadap siapa saja
atas dasar hukum.
TIPIKOR Bukan organisasi pertama
Gebrakan yang lebih keras dari kabinet beliau adalah, saat kabinetnya
mengeluarkan RUU Anti Korupsi yang memuat suatu exorbitant-recht. RUU
itu mewajibkan kepada pegawai negeri atau orang lain untuk memberikan
bukti-bukti yang menerangkan asal-usul harta benda (kekayaan) yang
dimilikinya, yang biasa diistilahkan de bewijslast-omkeren.
RUU anti korupsi itu terdiri dari dua bagian.
Pertama, mengatur berbagai tindakan di dalamperadilan yang
ketentuannya berlainan dengan peradilan biasa. Yaitu mengadakan
pengadilan tersendiri-seperti juga untuk tindakan pidana ekonomi- dan
terdakwa harus dapat menjawab dengan sejujurnya terhadap berbagai
tuduhan kepadanya.
Bagian kedua, dari RUU tersebut adalah mengatur berbagai
tindakan di luar peradilan. Bagian ini memungkinkan penyelidikan harta
benda seseorang oleh Biro Penilik Harta Benda, untuk menyelidik besarnya
harta dan kelegalan kepemilikan harta tersebut. Suatu praktek
pencegahan korupsi yang akhirnya baru dimulai beberapa waktu belakangan
ini. Di mana hari Pengadilan Tindak Pidana Korupski (TIPIKOR) dan
lahirnya KPK.
RUU ini pun dibawa ke parlemen. Namun sayangnya RUU ini kandas
setelah tidak mendapatkan dukungan memadai dari partai berpengaruh
seperti Partai NU. Boerhanoeddin sendiri tidak mengetahui sebab
penolakan itu oleh Partai NU. Rangkaian usaha cabinet ini memberantas
korupsi, seringkali dituduh sebagai aksi balas dendam, termasuk oleh
PNI. Namun Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap menolaknya, ia
menegaskan pemberantasan korupsi dilakukan secara, obyektif, hati-hati
dan tidak asal tangkap.
*/bersambung ke Masyumi dan korupsi
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
REFLEKSI,
Sejarah,
TOPIK PILIHAN
January 14, 2014
Kekuatan terbesar partai politik seharusnya pada basis massa, bukan uang! Jika uang yang menjadi basis kekuatan, maka politik menghalalkan segala caralah yang akan dilakukan!
posted by @Adimin
Buya Hamka, Masjumi dan Perang Melawan Korupsi
Written By Sjam Deddy on 14 January, 2014 | January 14, 2014
Kekuatan terbesar partai politik seharusnya pada basis massa, bukan uang! Jika uang yang menjadi basis kekuatan, maka politik menghalalkan segala caralah yang akan dilakukan!
KORUPSI yang
dilakukan oleh para pejabat yang berkuasa sudah sejak lama menjadi
sorotan di negeri ini. Terutama pejabat negara yang berasal dari partai
politik. Hari ini kita menyaksikan, pejabat yang berasal dari partai
politik seolah menjadi lumbung uang untuk mencari dana bagi pendanaan
partai.
Keberadaannya di pemerintahan
seolah dituntut untuk menjadi mesin pengeruk uang. Tak peduli halal dan
haram, yang penting lumbung partai terpenuhi dengan pundi-pundi rupiah.
Partai yang harusnya menjadikan basis massa sebagai kekuatan politik,
berubah mengedepankan uang. Tujuannya agar suara rakyat bisa dibeli,
apalagi menjelang Pemilu.
Fenomena ini ternyata sudah sejak
lama terjadi. Buya Hamka, salah seorang tokoh Partai Masjumi yang
terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante pada Pemilu tahun 1955,
mengeritik cara-cara yang dilakukan oleh Partai Nasionalis Indonesia
(PNI), rival politik Masjumi, yang mengedepankan uang sebagai kekuatan
politik. Dalam tulisannya di Majalah Hikmah, No.10 Thn IX, 5
Sya’ban 1374 H/17 Maret 1956, ulama asal Sumatera Barat ini
mengungkapkan cara-cara kotor yang dilakukan oleh partai politik sekular
yang ingin merebut simpati rakyat.
Kekuatan Partai Masjumi yang mampu memenangkan Pemilu di beberapa wilayah pada tahun 1955, dan banyak mendapatkan kursi di parlemen, membuat lawan-lawan politiknya ketar-ketir
untuk menghadapi Pemilu berikutnya pada tahun 1960. Meskipun akhirnya,
Pemilu tahun itu tidak dapat terlaksana, setelah Soekarno secara sepihak
mengajukan gagasan “Demokrasi Terpimpin” dan berniat mengubur
partai-partai yang ada.
Hamka mengatakan dalam tulisannya, “Plan
(rencana, pen) utama rupanya bagaimana supaya Masjumi dapat dikalahkan
dalam pemilihan umum. Partai-partai yang berkuasa itu, terutama PNI
insjaf bahwa kekuatan mereka tidak besar pada massa. Oleh sebab itu,
uang mesti ditjari sebanjak-banjaknya untuk biaja pemilihan umum. Kalau
perlu dari mana sadjapun uang itu ditjari. Halal atau haram bukan soal: ‘lil ghayati tubarrirul wasilah’ (untuk mentjapai maksud boleh dipakai sembarang tjara),” terang Hamka.
Hamka kemudian mengungkap adanya
upaya dari partai yang berkuasa dengan menjadikan para anggotanya yang
menjabat dalam pemerintahan, untuk melakukan korupsi demi memenuhi
keuangan partai.
“Di
waktu itulah terdengarnja ‘lisensi istimewa’ korupsi besar-besaran. Mr.
Ishak, seorang djago PNI mendjadi menteri keuangan. Hebatlah nasib jang
diderita rakjat pada waktu itu. Benarlah mendjadi menteri mendjadi
sumber kekayaan jang tidak halal! Banjak kita melihat orang kaja baru!
Dia mendapat ‘lisensi istimewa’ itu didjualnya kepada asing!” ujarnya.
Ia kemudian menceritakan, “Setelah
kabinent Burhanudin naik, maka program yang pertama adalah memberantas
korupsi! Mr Djodi dituntut, dan Mr. Ishak “menjingkir” atau disuruh
“menjingkirkan” keluar negeri,” kata Hamka, sambil menyebut Kabinet
Burhanudin Harahap yang berasal dari dari Partai Masjumi, bertekad
memerangi korupsi. Mr. Djodi dan Mr. Ishak yang dimaksud adalah aktivis
partai sekular PNI.
Dengan kritik yang cukup keras,
Hamka yang melihat praktik kecurangan sebelumnya, saat kabinet belum
berada di bawah kendali Partai Masjumi, menyatakan bahwa partai yang
berkuasa sebelumnya menjadikan kekuasaan untuk mengeruk uang bagi
pendanaan partainya.
“Dengan
serba matjam djalan, uang negara diperas! Dengan kedok “ekonomi
nasional” orang-orang diandjurkan mendirikan firma, N.V (perusahaan),
dan diberi lisensi. Keuntungannya sekian buat partai.”
Apa yang disampaikan oleh ulama penulis Tafsir Al-Azhar ini
puluhan tahun lalu, seperti terulang kembali pada saat ini. Aparat
penegak hukum menciduk tokoh-tokoh partai politik yang terlibat kong-kalikong dengan pengusaha.
Partai dijadikan sarana untuk jual beli lisensi,
jual beli izin usaha, izin ekspor-impor, pemenangan proyek atau tender,
dan sebagainya, yang ujung-ujungnya memeras pengusaha untuk memberikan
suap.
Uang suap itu kemudian ada yang dicurigai dijadikan basis pendanaan partai demi memenangkan Pemilu. Politik tak lagi menjadikan basis massa sebagai kekuatan, tetapi menjadikan uang sebagai alat untuk meraih kemenangan.
Suatu ketika, kata Buya Hamka, ia
bertemu dengan perwakilan negara asing di Jakarta. Kepada Hamka, orang
itu bertanya tentang dari mana sumber dana Partai Masjumi, sehingga
mampu meraup suara yang cukup besar pada Pemilu 1955. Orang asing itu
menduga Partai Masjumi mendapat pendanaan dari luar negeri.
Kepada orang itu, Buya Hamka mengatakan, selama ini pendanaan Masjumi berasal dari dana pribadi para anggota dan simpatisannya.
“Memeras kantong sendiri, mendjual
menggadaikan harta bendanja,” ujar Hamka menceritakan bagaimana para
kader dan simpatisan Masjumi mendanai partai.
Orang asing itu kaget, karena
selama ini yang ia tahu, partai-partai besar, jika tak mendapat dana
asing, maka kemungkinan lainnya adalah menggunakan para kadernya yang
ada di lingkar elit kekuasaan sebagai mesin pengeruk uang.
Demikianlah keteladanan yang
ditorehkan oleh Partai Masjumi dalam sejarah kepartaian di Indonesia.
Partai Islam tersebut mampu mengepankan cara-cara halal dalam politik,
bukan menghalalkan segala cara. Bagi Partai Masjumi, kekuatan terbesar
partai politik adalah pada basis massa, pada kader yang solid, bukan
pada uang!*
Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan dosen STID Mohammad Natsir Jakarta
posted by @Adimin
Label:
Sejarah,
TOPIK PILIHAN








