pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post
Showing posts with label MUHASABAH. Show all posts
Showing posts with label MUHASABAH. Show all posts

Pengadilan Langit Lebih dekat Daripada Hakim di Bumi

Written By @Adimin on 13 April, 2017 | April 13, 2017


AL QAFASHI adalah laki-laki ahli ibadah yang menetap di masjid Az Zubair di Mesir selama dua puluh tahun. Ia berasal dari Maghrib dan melakukan perjalanan haji, setelah itu memilih tinggal di Mesir. Katika ditanya kenapa ia tidak kembali ke Maghrib, ia berkata,”ayahku adalah seorang qadhi (hakim), aku takut jika kelak ada yang berkata kepadaku,’gantikan posisi ayahmu!'”

Ibnu Muyassar pernah mengirim untuknya uang sebanyak lima puluh dinar, namun Al Qafashi menolaknya dengan berkata,”sedikit sudah cukup bagiku, aku tidak membutuhkan lebih dari itu.” Dan pakaian-pakaian yang dimilikinya nilainya tidak lebih dari 19 dirham.

Suatu saat, ada seorang lelaki mendatangi Al Qafashi di masjid lalu ia mencium lutut Al Qafashi seraya berkata,”saudaraku dipenjara karena harga kapas yang tidak mampu ia lunasi, sedangkan aku tidak memiliki uang yang mencukupi. Orang-orang pun menyarankan aku untuk mendatangi tuan. Aku ingin tuan menulis pesan untuk Qadhi Al Muwaffaq.”

Al Qafashi pun menjawab,”pengadilan langit lebih dekat kepada kami daripada qadhi bumi. Semoga Allah menjadikan setiap kesusahan dan kesulitan saudaramu jalan keluar.”

Laki-laki itu pun puas dengan apa yang disampaikan Al Qafashi lalu ia pun pergi.

Pada waktu maghrib lelaki itu datang kembali ke masjid sambil tertawa. “Kenapa dengan dirimu?” Tanya Al Qafashi. Lelaki itu pun menjelaskan bahwa saudaranya telah bebas dan ia sudah berada di rumah.

Lelaki itu menceritakan, bahwa setelah kepulangannya dari Al Qafashi, Qadhi Al Muwaffaq berjalan di belakangnya dan memanggilnya, lalu memintanya agar pergi ke penjara bersama seorang utusan untuk membebaskan saudaranya, setelah sang qadhi tahu bahwa saudaranya itu tidak memiliki uang. Laki-laki itu pun lantas berkata kepada Qadhi Al Muwaffaq,”dengan doa faqih, Allah telah menjadikan bagi saudaraku jalan keluar atas kesulitan.” 
(Mursyid Az Zuwar)


posted by @Adimin

Sikap Muslim Ketika Banyak Musibah

Written By @Adimin on 20 April, 2015 | April 20, 2015



Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, rentetan peristiwa penting tercatat dalam album sejarah bangsa Indonesia.

Hal paling mendasar yang patut menjadi renungan kita semua adalah rangkaian bencana dan musibah yang silih berganti menyambangi negeri ini.

Mulai dari puting beliung, banjir, tanah longsor, kebakaran, gunung meletus dan musibah lainnya yang bukan disebabkan faktor alam.

Ratusan bahkan mungkin ribuan jiwa menjadi korban dari berbagai musibah yang terjadi sepanjang tahun lalu.

Di penghujung tahun 2014 saja, musibah banjir dan tanah longsor menjadi trending di beberapa media masa yang ada di Indonesia. Ditambah tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 dengan rute penerbangan Surabaya – Singapura, menjadi musibah penutup tahun yang memilukan yang tidak saja dirasakan keluarga korban, tetapi boleh disebut duka nasional.

Bencana atau musibah biasanya diasumsikan sebagai sesuatu yang mengerikan dan selalu menyisakan duka bagi mereka yang ditimpa kemalangan.

Banyak orang yang kemudian berputus asa setelah dirinya ditimpa musibah, namun tidak jarang juga yang menjadikan musibah sebagai bahan instropeksi diri. Bahkan, mereka menghadapi musibah dengan keyakinan dan tekad yang kuat untuk merubah diri menjadi individu yang tegar dan kokoh.

Sebagai orang beriman, mestinya kita yakin dan percaya akan setiap kejadian mengandung hikmah yang berharga. Musibah yang terjadi di muka bumi ini boleh jadi merupakan azab Allah Subhanahu Wata’ala terhadap hamba-hambaNya yang ingkar. Namun tidak menutup kemungkinan musibah tersebut adalah bagian dari kecintaan Allah yang ingin menguji manusia pilihan-Nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho terhadap ujian tersebut maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah terhadap ujian tersebut maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis tersebut secara gamblang menyampaikan bahwa metode ujian yang diberikan Allah kepada semua manusia ciptaan-Nya adalah dengan musibah. Bagi mereka yang ikhlas dan bijak menghadapi musibah sudah barang tentu ridho Allah akan selalu menyertainya.

Wajar jika ada yang menyebutkan bahwa manusia yang hebat tidak pernah lahir dari buaian kenikmatan, tetapi merupakan hasil tempaan dari beragam ujian dan cobaan.

Pastinya semua manusia yang hidup di dunia tidak akan luput dari berbagai macam ujian dan cobaan, baik berupa musibah maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan sejak awal hingga akhir zaman, dan terjadi pada mereka yang beriman maupun orang kafir. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS: al-Anbiyaa [21]: 35).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ayat tersebut yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa.

Ayat tersebut juga telah menunjukkan jenis ujian Allah kepada setiap hamba-Nya, ada ujian kesenangan dan ada musibah. Ironisnya banyak manusia yang lupa diri dan meninggalkan Tuhannya ketika dirinya mendapat kesenangan dunia. Sementara ketika menghadapi musibah ia akan merengek-rengek meminta keadilan Tuhan. Dan banyak yang kemudian menyalahkan takdir ketika dirinya terjerumus dalam penderitaan karena musibah yang dialaminya.

Permasalahannya, seberat apa musibah yang sedang dihadapinya? Sehingga dirinya menduakan Allah yang telah menjamin hidup dan matinya kelak. Coba simak kisah disembelihnya nabi Yahya bin Zakariya.

Kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih. Kisah Imam Malik yang dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya. Kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup.

Sungguh mulia hidup orang-orang yang bersabar di jalan Allah meskipun musibah silih berganti menerpa kehidupannya. Orang yang beriman senantiasa menghadapi bencana dan musibah dunia fana ini tanpa mengeluh dan berputus asa. Keimanannya kepada Allah mengantarkan dirinya yakin bahwa apapun ketetapan-Nya ada kebaikan untuk kehidupannya di dunia dan kelak di akhirat.

Hikmah dalam Musibah

Sesungguhnya semua musibah yang menimpa orang-orang yang beriman senantiasa disertai dengan pahala yang besar dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Kewajiban sesama Muslim terhadap sesamanya yang terkena musibah selain berupaya meringankan beban juga memberi motivasi untuk bersabar. Nasehat dan motivasi untuk tetap sabar harus ditanamkan dalam diri setiap orang yang sedang ditimpa musibah, dengan harapan mendapat kebaikan dari musibah yang dialaminya.

Keyakinan ada Allah di balik setiap musibah merupakan modal dasar bagi seseorang yang ingin sukses lulus dari ujian dan cobaan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: At-Taghâbun [64]: 11).

Dari ayat Allah tersebut, siapa pun yang ditimpa musibah harus meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala.

Maka bersabar dan mengharap petunjuk Allah agar mampu menjalani dan meraih keberkahan dari musibah yang dijalaninya. Selain itu, berserah diri kepada Allah semata-mata mengharap Allah akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi.

Beberapa hikmah yang dapat diambil dari setiap musibah yang terjadi pada diri seorang Muslim di antaranya:

Pertama, musibah merupakan obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada diri manusia. Kotoran dan penyakit hati apabila tidak dibersihkan dapat mencelakakan seseorang karena menjerumuskan dirinya berbuat dosa.

Dengan adanya musibah orang yang berpenyakit tersebut dapat sadar diri dan mendekat kepada Allah untuk meraih pahala dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Subhanahu Wata’ala.

Kedua, menjadikan musibah sebagai tolak-ukur kepribadian seorang Muslim yang senantiasa berprasangka baik terhadap takdir Allah, baik itu dalam keadaan senang maupun susah.

Rasulullah bersabda, “Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Ketiga, musibah merupakan peringatan kepada setiap manusia atas apa yang telah diperbuatnya di muka bumi ini.

Banjir yang melanda desa maupun kota boleh jadi adalah teguran kepada pembuat kebijakan setempat yang mengatur wilayahnya agar tidak merusak lingkungan. Longsor juga demikian, mengingatkan manusia yang gemar menggunduli gunung untuk menghentikan kebiasaannya. Dengan peringatan tersebut, manusia harus menghambil ibrah bagaimana menjaga keseimbangan hidup dengan ekosistem apa adanya.

Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung dalam setiap peristiwa terutama musibah dan bencana yang pasti menyambangi perjalanan hidup anak manusia. Inilah alat yang menjadi bahan pertimbangan Allah untuk mengangkat derajat manusia, jika mereka sabar menghadapi musibah niscaya ada balasannya, sebaliknya jika mereka kufur karena musibah maka penderitaannya tidak hanya di dunia saja, tapi juga di akhirat kelak.
Semoga Allah menjadikan bumi Indonesia lebih baik di masa yang akan datang dan dijauhkan dari segala musibah yang di luar batas kemampuan rakyat Indonesia.

Dan bagi kita sebagai pemilik negeri ini, marilah bersama tingkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan tempat kita bermukim. Agar kehidupan yang harmonis dapat tercipta baik di antara kita sebagai sesama manusia maupun antara kita dengan lingkungan alam


Zainal Arifin

posted by @Adimin

Atraktif Dalam Berdakwah

Written By Sjam Deddy on 08 March, 2015 | March 08, 2015

 Bekal yang terpenting dari semuanya adalah, seorang pendakwah harus sesuai ucapan dan perbuatannya


MENJADI seorang Muslim yang baik bukanlah semata-mata hanya taat shalat, puasa, zakat, haji, dan melimpahnya jumlah hitungan tasbih. Tetapi tak kalah pentingnya adalah sejauh mana manfaatnya kepada orang lain.

Kesalehan individu harus dibarengi dengan koreksi terhadap kesalahan orang lain karena bencana bukan hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang tidak saleh saja.

Dalam Al-Quran Surat Al- ‘Ashr [103]:1-3) dijelaskan dengan gamblang bahwa, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran.” Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah besabda, “Manusia bergantung kepada Allah, yang lebih dicintai-Nya adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya.”

Jadi Muslim yang baik, beruntung dan tidak buntung adalah, mereka yang melengkapi perbuatan baiknya dengan keimanan, kesabaran, dan selalu nasihat-menasihati dalam menunjukkan kebenaran ajaran Islam serta kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Dengan itu, seorang Muslim dapat bermanfaat kepada Muslim lainnya, makin berkualitas nasihat yang kita sampaikan, makin tinggi pula nilainya di sisi Allah.

Makin menarik metode dalam memberikan nasihat, makin ramai pula peminat nasihat, dan tentunya amal kita juga makin meningkat.

Siapa yang menunjukkan satu perbuatan baik kepada orang lain, niscaya ia akan turut mendapatkan pahala sebagaimana yang melakukakannya, tidak berkurang sedkit pun, dan barang siapa yang menunjukkan jalan kesesatan, niscaya dosanya persis dengan orang yang mekakukan dosa itu tak kurang sedikit pun. Demikian Nabi bersabda.


Dakwah Atraktif

Islam sebagai agama misi mengharuskan ada segolongan orang yang melakukan kerja-kerja dakwah secara profesional dan atraktif, sehingga umat mendapat pencerahan dan bimbingan sesuai apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersama para sahabatnya: amar ma’ruf nahi munkar.

Orang yang terlibat dalam dakwah adalah manusia pilihan yang menjadi pewaris para nabi (waratsatul anbiya’). Karena sentuhan para dai sehingga agama ini tetap eksis di muka bumi. Untuk itulah, para dai perlu bekal yang cukup sebelum terjun dalam masyarakat luas, bukan hanya sekadar memiliki satu-dua buku kumpulan khutbah Jum’at lalu terjun bebas berdakwah tanpa ilmu yang memadai dan pengetahuan tentang metodologi dakwah yang mumpuni. Kita tidak butuh dai yang fakir materi dan miskin metode.

Penguasaan materi adalah hal mutlak yang harus dimiliki seorang dai, dalam ajaran Islam, ada tiga perkara inti yang harus diketahui setiap Muslim, yaitu ‘ilmu ushuluddin, atau landasan ajaran agama (tauhid), ‘ulum as-syariah, atau ilmu yang berhubungan dengan tata cara beribadah (kepada Allah) dengan baik dan benar, serta ilmu muamalat, termasuk di dalamnya adab berinteraksi sesama makhluk Allah di muka bumi yang sebagian ulama menamai at-tashawwuf wal akhlaq.

Jika para rasul mendapatkan materi dari Allah melalui wahyu, maka manusia biasa seperti kita harus mendapatkan ilmu dengan cara belajar dan membaca. Para dai harus memiliki keilmuan yang syumul (komprehensif) sehingga dakwahnya selain kaya materi juga harus selalu situasional. Tidak mesti benar-benar ahli dalam satu bidang, tetapi minimal harus tau bidang-bidang tertentu yang sering menjadi tema pembahasan. Penceramah tidak mesti seorang pakar hadis untuk mengutif sebuah hadis, tapi ia harus tau kedudukan sebuah hadis dan cara menerangkan  (matan) isinya  dengan benar.

Ketika para dai banyak membaca, maka mereka akan sanggup memimpin umat Islam. Jika umat Islam membaca lebih banyak lagi, maka mereka akan memimpin peradaban umat manusia. Sungguh sebuah ironi, karena faktanya: orang-orang Barat (Kristen) banyak membaca, sedang umat Islam sedikit membaca! Selain itu, kita belajar untuk membaca, sedang Barat membaca untuk belajar.

Selain materi, penguasaan metode berdakwah juga tak kalah pentingnya. Dalam ilmu komunikasi kita kenal “Fannul Khithobah” seni berpidato. Ilmu ini juga tak kalah pentingnya, karena seorang orator kendati menguasai materi sebanyak apa pun, namun jika terserang ‘demam  panggung’ semuanya akan sia-sia. Atau seorang dai yang tidak tau metode dakwah sehingga para jamaah salah paham dan berbalik memusuhinya, ini jauh lebih fatal.


Tak Memburu Kemewahan Dunia

Hisham Altalib, dalam “Training Guide for Islamic Workers, 1991” menulis sebuah cerita tentang seorang ustad yang mahir mendidik para santrinya untuk berdakwah. Enam bulan teori –pembekalan materi—dan tiga bulan untuk praktik-lapangan. Seorang siswa yang percaya diri telah menyelesaikan bagian teori merasa bahwa dia akan dapat mengerjakan praktiknya sendiri. Sang ustad mengingatkan, tapi tidak digubris. Dia telah memilih sebuah desa nun jauh untuk melakukan praktik dakwahnya sendiri. Pada hari Jumat pertama di desa itu, seorang imam gadungan menyampaikan satu khutbah yang penuh dengan kebohongan tentang Allah dan Rasul-Nya.

Santri tersebut berdiri dan berteriak dengan lantang, ‘Imam itu pembohong! Allah dan Rasul-Nya tidak mengatakan demikian!’ Sang Imam pun menjawab, ‘Pemuda itu kafir dan harus dihukum!’ Para hadirin shalat jumat bersatu menyerang santri itu secara membabi buta.

Ia pun kembali pada ustad dengan balutan dan tulang yang remuk (babak belur). Ustad berkata padanya, ‘Akan kutunjukkan padamu praktik dakwah yang baik dan atraktif.’

Jumat selanjutnya, mereka pergi ke masjid yang sama dengan imam yang sama menyampaikan khutbah serupa. Setelah mendengar khutbah, sang ustad berdiri dan berkata, ‘Imam kalian adalah lelaki penghuni surga. Setiap orang yang mengambil rambut dari jenggutnya akan mendapatkan surga!’

Seketika,  para jamaah Jumat menyerang janggut sang imam dan setiap orang menarik satu rambut dari jenggutnya sampai gundul, darah pun bercucuran. Ustad lalu membisikkan kata-kata kepada Imam gadungan, ‘Akankah Anda berhenti berbohong tentang Allah dan Rasul-Nya? Atau Engkau ingin hukuman tambahan?’ Sang imam mengaku salah dan bertobat. Santri itu menyadari kekeliruannya, dan memohon pada ustad agar diberi waktu tambahan tiga bulan untuk praktik berdakwah. Teori dan praktik  dua adalah kutub yang beda.

Bekal yang terpenting dari semuanya adalah, seorang pendakwah harus sesuai ucapan dan perbuatannya. Tidak lazim membahas tema fadhilatul ju’ keutamaan berlapar-lapar sementara dia sendiri tidak pernah kelaparan; menekankan keutamaan shalat berjamaah sementara ia hanya berjamaah di hari Jumat; menekankan keutamaan berpoligami sementara dirinya belum punya istri walau hanya satu. Inilah yang dimaksud dalam Al-Quran (QS. 61:2), lima taquluna ma la taf’alun, Mengapa kamu katakan sesuatu yang tidak kamu laksanakan?

Hingga saat ini, umat Islam masih tetap memandang bahwa para dai adalah harapan, cita-cita, dan penyelamat bangsa dan umat, mereka adalah agent of change.

Salah satu ciri kian dekatnya hari kiamat adalah, jika para dai ramai-ramai menetap di kota untuk memburu kemewahan dunia, dan pada saat yang sama para misionaris berramai-ramai masuk kampung untuk menyelamatkan ‘domba-domba’ sesat.  

Wallahu a’lam!

Penulis adalah pemerhari pendidikan Islam dan aktivis dakwah


posted by @Adimin

Pergaulan Bebas Bukan Identitas Bangsa Indonesia | by @JazuliJuwaini

Written By asdeddy sjam on 14 February, 2015 | February 14, 2015

 


1. Sy mengutuk keras beredarnya buku "Saatnya Aku Belajar Pacaran" yg kontennya ajaran dan ajakan seks bebas @malakmalakmal @FPKSDPRRI

2. Buku ini dan buku2 lain yg temanya serupa harusnya tdk boleh terbit dan beredar. Yg sdh beredar hrs ditarik, pelaku hrs ditindak tegas.

3. Secara sosiologis kultural segala bentuk pergaulan bebas apalagi yg mengarah pd seks bebas bukan identitas budaya dan karakter bngsa kita

4. Agama jelas melarang, demikian juga konstitusi dan hukum positif krn daya rusaknya luar biasa pd masa depan anak2 kita

5. Plis tolong stop prseberan budaya liberal pergaulan dan seks bebas yg antiagama, antinormabudaya, dan antipancasila khususnya pd anak2 kt

6. Kita sdh berkali2 mengingatkan bhw indonesia darurat pergaulan bebas..data2 hasil penelitian sangat menyedihkan cc @lediahanifa

7. Mereka anak2 kita, masa depan kita, jangan korbankan mrk. Org tua hrs waspada dan menjaga. Anak2 remaja hrs sadar diri.

8. Kita desak pemerintah serius ciptkan kebijakan kondusif utk bangun mentalitas remaja, cegah pergaulan bebas. Ini tgg jwb revolusi mental.

9. Kita desak penegak hukum proaktif dan tegas utk cegah dan tindak pihak2 yg sengaja merusak moral anak2 kita cc @aboebakar15

10. Kita ajak seluruh msyarakat, pendidik, lsm utk kampanye pergaulan sehat bukan pergaulan bebas

11. Kita himbau dg sangat orang tua & angg keluarga u bangun ketahanan kluarga,tnamkan pndidikn agama,moral,budaya sehat sjak di rumah..

12. Media juga tolong banget sajikan tontonan yg mendidik bukan menjerumuskan anak2 kita. Please..

13. Terakhir ini tanggung jawab kita semua. Fraksi PKS di DPR akan desak pemerintah dan pihak terkait utk sensitif dan aware dg masalah ini.

14. FPKS DPR jg telah usulkan inisiatif RUU ttg Ketahanan Keluarga. Mudah2an ikhtiar ini bisa bentengi anak2 kita dr bahaya pergaulan bebas.

15. Mengait ekonomi, pmerintah pusat-daerah hrs krjasama dan serius menciptakan lapangan kerja agr rakyat tdk cari nafkah lewat seks bebas.

16. Intinya kebijkan hrs komprehensif tuk atasi masalah serius ini. Ragam pendekatan hrs dilakukan: agama, ideologi, sosial budaya, ekonomi.

Tweet @JazuliJuwaini 
 

posted by @Adimin

20 Alasan Bahaya Maksiat (Bagian Pertama)

Written By Sjam Deddy on 08 December, 2014 | December 08, 2014

Larangan dalam agama dapat dijalankan dengan dasar ta’abbudikepatuhan sebagai hamba Allah tanpa banyak bicara dan ta’aqquli—dapat dinalar oleh akal


KEJAHATAN, perilaku tak senonoh yang termasuk dalam maksiat akhir-akhir seolah menjadi suguhan masyarakat. Para pelakunya tak hanya orang dewasa dan orang tak terdidik. Maksiat bahkan dilakukan usia anak-anak hingga abdi negara, petugas hukum bahkan ahli agama.

Di media sosial diramaikan dengan peristiwa cukup menyedihahkan, seorang pelajar berpakaian seragam sekolah tertangkap masyarakat karena melahirkan di kebun.

Belum lama ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPP) menangkap mantan bupati Bangkalan-Madura yang dikenal seorang abdi pemerintah sekaligus tokoh agama setempat.

Bagi orang Bugis Bone, dikenal istilah menjunjung tinggi siri’—harga diri—serta sangat mencela perbuatan biadab dan memalukan. Masyarakat Bone percaya bahwa jika maksiat telah merajalela, maka bencana (bala’) hanya menunggu waktu. Padahal itu hanya ditinjau dari segi adat, bagaimana agama?

Maksiat dari segi bahasa bermakna durhaka dari segi istilah ialah perbuatan yang membawa dosa yaitu yang bertentangan dengan akidah, syariat dan ajaran Islam karena melakukan larangan Allah dan Rasulnya. Maksiat bisa merusak agama, iman, akhlak, kemuliaan diri dan kesejahteraan individu, keluarga, masyarakat, negara dan umat secara keseluruhan.

Umat Islam memiliki satu konsep yang dipahami secara konsensus bahwa perintah dan larangan dalam agama dapat dijalankan dengan dasar ta’abbudi—kepatuhan sebagai hamba Allah (abdullah) tanpa banyak bicara —dan ta’aqquli—dapat dinalar oleh akal. Oleh karena itu,bahaya maksiat ditinjau dari dua segi di atas, ta’abbudi maupun ta’aqquli sangat jelas dan terang.

Sebagai contoh, adanya larangan untuk mengkonsumsi daging babi, bagi segenap umat Muhammad, mematuhi larangan tersebut adalah sebuah keniscayaan tanpa ada protes, mengapa dan bagaimana hal itu terlarang, inilah bentuk ta’abbudi. Belakangan didapati bahwa ternyata memakan daging babi akan mendatangkan penyakit tertentu karena pada daging tersebut mengandung cacing pita.

Itu berarti menghindari daging babi akan mendatangkan kemaslahatan, inilah bentuk ta’aqquli. Kecuali itu, ada pula ta’abbudi dan ta’aqquli sekaligus, seperti larangan berzina dengan menghukum pelakunya seberat mungkin, karena memang telah terdapat larangan untuk mendekatinya—apalagi melakukannya—dalam bentuk wahyu Al-Qur’an dan hadis Nabi juga telah dipaparkan cara-cara pelaksanaan hukumannya dengan gamblang, tidak ada ruang untuk mengingkarinya, ini dipandang dari ta’abbudi sedang dari ta’aqquli jelas-jelas bahwa zina adalah perbuatan yang dapat merugikan kedua belah pihak, terutama wanita yang menjadi korban, dan dalam tahap tertentu—jika terlalu bebas—dapat mendatangkan penyakit (kutukan) seperti HIV/AIDS.

Perbuatan maksiat, jika ditinjau dari segi sosial akan merugikan masyarakat karena jika musibah datang tidak hanya menimpa pada pelakunya seorang, akan tetapi pada segenap masyarakat yang ada di sekitar pelaku maksiat, sebagaimana disitir Al-Qur’an, Wattaqu fitnatan la tushibanna al-ladzina dzalamu minkum khassah. Takutlah akan musibah–akibat maksiat–yang jika turun tidak hanya menimpa para pelaku maksiat, (QS. Al-Anfal: 25).

Sedang jika ditinjau dari segi personal, pelaku maksiat akan mendatangkan banyak kehinaan. Berikut, beberapa implikasi yang ditimbulkan oleh maksiat.

Pertama. Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam diri kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Karena itu, tatkala Imam Syafi’i rahimahullah duduk di hadapan Imam Malik untuk belajar, Imam Malik sangat kagum akan kecerdasan dan daya hafalnya hingga beliau bertutur, “Aku melihat Allah telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat. “Imam Syafi’i bertutur, Aku mengadu tentang kelemahan hafalanku yang buruk. Dia memberiku bimbingan untuk meninggalkan kemaksiatan seraya berkata, ‘Ketahuilah, ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada si pelaku dosa dan kemaksiatan’[Syakautu ila waqi’i ‘an su’a hifdzi. Fa’arsyadani ila tarkil-ma’ashi. Fa akhbarani biannal-‘ilma nurun wa nurullah la yuhda lil ‘ashy!].

Kedua; Maksiat Menghalangi Rezeki
Dalam kitab “Musnad Ahmad” disebutkan, “Seorang hamba dicegah dari rezki akibat dosa yang diperbuatnya”. Jika ketakwaan merupakan penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkannya dapat menimbulkan kekafiran. Tidak ada satupun yang dapat memudahkan rezeki Allah kecuali dengan meninggalkan maksiat.

Ketiga, Maksiat Menimbulkan Jarak dengan Allah
Jauh atau sunyinya hati seorang manusia dari cahaya Allah disebabkan oleh perbuatan maksiatnya. Tidak ada perbuatan meninggalkan dosa yang dapat menghilangkan kesunyian tersebut kecuali berwaspada dari perbuatan maksiat. Seseorang yang berakal tentu akan dengan mudah meninggalkan kesunyian itu. Diriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang yang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang Arif berpesan, Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa , maka tinggalkanlah. Dalam hati, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.
Keempat; Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain
Kemaksiatan dapat menjauhkan seorang manusia dengan manusia yang lain, lebih-lebih dengan golongan yang baik. Semakin kuat tekanan perasaan tersebut, semakin jauhlah ia dari mereka dan semakin terhalangilah berbagai manfaat dari mereka; akhirnya dia semakin mendekati setan. Kesunyian dan kegersangan itu semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dia dengan istri dan anak-anaknya, juga antara dia dengan nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang dan istriku.

Kelima; Maksiat Menyulitkan Urusan
Pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam mengatasi segala masalahnya sebagaimana ketakwaan dapat memudahkan segala urusan. Karenanya, sungguh mengherankan jika seorang hamba sulit menghampiri pintu-pintu kebenaran sementara penyebabnya tidak ia ketahui.

Keenam, Maksiat Menggelapkan Hati
Pelaku maksiat akan senantiasa mengalami kegelapan hati seperti gelapnya malam. Ketaatan itu adalah cahaya sebagaimana sinar matahari, sedangkan kemaksiatan adalah gelap gulita di malam hari. Ibnu Abbas r.a berkata, Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan pencerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kelapangan rezeki, kekuatan badan, dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengandung ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki, dan kebencian makhluk

hidayatulah

posted by @Adimin

Anda Politikus, Maka Bercerminlah....!!!

Written By Sjam Deddy on 28 November, 2014 | November 28, 2014



Siapakah yang berhak memberi penilaian & solusi dalam masalah Nawazil Siyasah (kejadian politik kontemporer) dan berhak menjadi politikus Syar’i (penentu strategi politik yang Syar’i)? Simaklah hadits berikut ini :

أبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ يهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ : وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ : الرَّجُلُ التَّافِهُ يتكلم فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ) رواه ابن ماجة وهو حديث صحيح
Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang banyak penipuan di dalamnya. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah ikut-ikutan berkomentar. Ada yang bertanya, “Siapakah yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang berkomentar/ikut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Ibnu Rajab رحمه الله pernah mencontohkan sosok figur ulama ahli ijtihad yang berhak berfatwa dalam Nawazil, yaitu sosok Imam Ahmad رحمه الله.  Ibnu Rojab رحمه الله menjelaskan mengapa Imam Ahmad رحمه الله pantas menjadi salah satu contohnya? Beliau menjelaskan bahwa Imam Ahmad adalah sosok yang sampai pada ketinggian ilmu tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah serta atsar.

Adapun tentang Al-Qur`an : Imam Ahmad tahu nasikh dan mansukh, tahu kumpulan tafsir Shahabat dan Tabi’in. Dan tentang As-Sunnah : beliau hafal Hadits-Hadits,tahu mana yang shahih dan mana yang dho’if, tahu Perowi Hadits yang terpercaya,tahu pula jalan periwayatan Hadits dan cacatnya,bahkan bukan hanya tahu Hadits yang marfu’ namun juga yang mauquf dan paham fiqhul Hadits.

Adapun Atsar : beliau tahu pendapat para Imam kaum Muslimin. Dan seterusnya dari penjelasan Ibnu Rojab tentang Imam Ahmad, sampai pada ucapan beliau :
ومعلوم أنَّ مَن فَهِمَ عِلْم هذه العلوم كلّها وبرَع فيها، فأسهلُ شيء عنده معرفةُ الحوادث والجواب عنها
dan suatu perkara sudah diketahui bahwa orang yang menguasai ilmu-ilmu ini semuanya dan berhasil menjadi pakar dalam ilmu-ilmu tersebut mengungguli yang lainnya,maka adalah sesuatu yang termudah baginya menelaah kejadian -kejadian kontemporer (kekinian) dan solusinya”). Selesai perkataan Ibnu Rajab rahimahullah.

Berarti Ibnu Rajab memandang bahwa orang yang menguasai berbagai disiplin Ilmu Syar’i itulah yang berhak dan mampu berfatwa dalam masalah nawazil.

Oleh karena itu disebutkan dalam salah satu biografi Imam Ahmad ,bahwa : Imam Ahmad dahulu berfatwa tentang solusi kejadian-kejadian kontemporer, namun beliau melarang murid-muridnya berbicara dalam masalah itu, karena dipandang mereka belum sampai kepada tingkatan boleh berijtihad dalam masalah itu.

Pandangan Ibnu Rajab dan sikap Imam Ahmad tersebut juga sama dengan pernyataan Ibnul Qoyyim رحمه الله,yang mengatakan :

العالم بكتاب الله وسنة رسوله وأقوال الصحابة فهو المجتهد في النوازل
Orang yang berilmu tentang Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan Ucapan Para Sahabat maka dialah orang yang berhak berijtihad menyampaikan pandangan dan fatwa dalam masalah Nawazil/kejadian-kejadian kontemporer” .

Dan masih banyak ucapan para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang semakna,seperti ucapan Imam Syafi’i, Asy-Syathibi, Syaikh Al-Albani dan yang lainnya.
نسأل الله -عز وجل- أن يوفقنا وإياكم لما يحبه و يرضاه و أن يجعلنا وإياكم هداة مهتدين إنه ولي ذلك والقادر عليه.
*** 
Diolah dari Madarikun Nadhor, Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani.


muslim.or.id

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger