Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label MUHASABAH. Show all posts
Showing posts with label MUHASABAH. Show all posts
April 13, 2017
posted by @Adimin
Pengadilan Langit Lebih dekat Daripada Hakim di Bumi
Written By @Adimin on 13 April, 2017 | April 13, 2017
AL QAFASHI adalah laki-laki ahli ibadah yang menetap di masjid Az
Zubair di Mesir selama dua puluh tahun. Ia berasal dari Maghrib dan
melakukan perjalanan haji, setelah itu memilih tinggal di Mesir. Katika
ditanya kenapa ia tidak kembali ke Maghrib, ia berkata,”ayahku adalah
seorang qadhi (hakim), aku takut jika kelak ada yang berkata
kepadaku,’gantikan posisi ayahmu!'”
Ibnu Muyassar pernah mengirim untuknya uang sebanyak lima puluh
dinar, namun Al Qafashi menolaknya dengan berkata,”sedikit sudah cukup
bagiku, aku tidak membutuhkan lebih dari itu.” Dan pakaian-pakaian yang
dimilikinya nilainya tidak lebih dari 19 dirham.
Suatu saat, ada seorang lelaki mendatangi Al Qafashi di masjid lalu
ia mencium lutut Al Qafashi seraya berkata,”saudaraku dipenjara karena
harga kapas yang tidak mampu ia lunasi, sedangkan aku tidak memiliki
uang yang mencukupi. Orang-orang pun menyarankan aku untuk mendatangi
tuan. Aku ingin tuan menulis pesan untuk Qadhi Al Muwaffaq.”
Al Qafashi pun menjawab,”pengadilan langit lebih dekat kepada kami
daripada qadhi bumi. Semoga Allah menjadikan setiap kesusahan dan
kesulitan saudaramu jalan keluar.”
Laki-laki itu pun puas dengan apa yang disampaikan Al Qafashi lalu ia pun pergi.
Pada waktu maghrib lelaki itu datang kembali ke masjid sambil
tertawa. “Kenapa dengan dirimu?” Tanya Al Qafashi. Lelaki itu pun
menjelaskan bahwa saudaranya telah bebas dan ia sudah berada di rumah.
Lelaki itu menceritakan, bahwa setelah kepulangannya dari Al Qafashi,
Qadhi Al Muwaffaq berjalan di belakangnya dan memanggilnya, lalu
memintanya agar pergi ke penjara bersama seorang utusan untuk
membebaskan saudaranya, setelah sang qadhi tahu bahwa saudaranya itu
tidak memiliki uang. Laki-laki itu pun lantas berkata kepada Qadhi Al
Muwaffaq,”dengan doa faqih, Allah telah menjadikan bagi saudaraku jalan
keluar atas kesulitan.”
(Mursyid Az Zuwar)
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
OASE,
TOPIK PILIHAN
April 20, 2015
Sikap Muslim Ketika Banyak Musibah
Written By @Adimin on 20 April, 2015 | April 20, 2015
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, rentetan peristiwa penting tercatat dalam album sejarah bangsa Indonesia.
Hal paling mendasar yang patut menjadi
renungan kita semua adalah rangkaian bencana dan musibah yang silih
berganti menyambangi negeri ini.
Mulai dari puting beliung, banjir, tanah
longsor, kebakaran, gunung meletus dan musibah lainnya yang bukan
disebabkan faktor alam.
Ratusan bahkan mungkin ribuan jiwa menjadi korban dari berbagai musibah yang terjadi sepanjang tahun lalu.
Di penghujung tahun 2014 saja, musibah
banjir dan tanah longsor menjadi trending di beberapa media masa yang
ada di Indonesia. Ditambah tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501
dengan rute penerbangan Surabaya – Singapura, menjadi musibah penutup
tahun yang memilukan yang tidak saja dirasakan keluarga korban, tetapi
boleh disebut duka nasional.
Bencana atau musibah biasanya diasumsikan
sebagai sesuatu yang mengerikan dan selalu menyisakan duka bagi mereka
yang ditimpa kemalangan.
Banyak orang yang kemudian berputus asa
setelah dirinya ditimpa musibah, namun tidak jarang juga yang menjadikan
musibah sebagai bahan instropeksi diri. Bahkan, mereka menghadapi
musibah dengan keyakinan dan tekad yang kuat untuk merubah diri menjadi
individu yang tegar dan kokoh.
Sebagai orang beriman, mestinya kita yakin
dan percaya akan setiap kejadian mengandung hikmah yang berharga.
Musibah yang terjadi di muka bumi ini boleh jadi merupakan azab Allah
Subhanahu Wata’ala terhadap hamba-hambaNya yang ingkar. Namun tidak
menutup kemungkinan musibah tersebut adalah bagian dari kecintaan Allah
yang ingin menguji manusia pilihan-Nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Sesungguhnya
jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang
siapa yang ridho terhadap ujian tersebut maka baginya ridho Allah dan
barang siapa yang marah terhadap ujian tersebut maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Hadis tersebut secara gamblang
menyampaikan bahwa metode ujian yang diberikan Allah kepada semua
manusia ciptaan-Nya adalah dengan musibah. Bagi mereka yang ikhlas dan
bijak menghadapi musibah sudah barang tentu ridho Allah akan selalu
menyertainya.
Wajar jika ada yang menyebutkan bahwa
manusia yang hebat tidak pernah lahir dari buaian kenikmatan, tetapi
merupakan hasil tempaan dari beragam ujian dan cobaan.
Pastinya semua manusia yang hidup di dunia
tidak akan luput dari berbagai macam ujian dan cobaan, baik berupa
musibah maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullah yang berlaku
bagi setiap insan sejak awal hingga akhir zaman, dan terjadi pada mereka
yang beriman maupun orang kafir. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya
kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS: al-Anbiyaa [21]: 35).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna
ayat tersebut yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan
bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang
bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa
yang berputus asa.
Ayat tersebut juga telah menunjukkan jenis
ujian Allah kepada setiap hamba-Nya, ada ujian kesenangan dan ada
musibah. Ironisnya banyak manusia yang lupa diri dan meninggalkan
Tuhannya ketika dirinya mendapat kesenangan dunia. Sementara ketika
menghadapi musibah ia akan merengek-rengek meminta keadilan Tuhan. Dan
banyak yang kemudian menyalahkan takdir ketika dirinya terjerumus dalam
penderitaan karena musibah yang dialaminya.
Permasalahannya, seberat apa musibah yang
sedang dihadapinya? Sehingga dirinya menduakan Allah yang telah menjamin
hidup dan matinya kelak. Coba simak kisah disembelihnya nabi Yahya bin
Zakariya.
Kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga
mati di dalam buih. Kisah Imam Malik yang dicambuk dan tangannya ditarik
sehingga lepaslah bahunya. Kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan
dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup.
Sungguh mulia hidup orang-orang yang
bersabar di jalan Allah meskipun musibah silih berganti menerpa
kehidupannya. Orang yang beriman senantiasa menghadapi bencana dan
musibah dunia fana ini tanpa mengeluh dan berputus asa. Keimanannya
kepada Allah mengantarkan dirinya yakin bahwa apapun ketetapan-Nya ada
kebaikan untuk kehidupannya di dunia dan kelak di akhirat.
Hikmah dalam Musibah
Sesungguhnya semua musibah yang menimpa
orang-orang yang beriman senantiasa disertai dengan pahala yang besar
dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Kewajiban sesama Muslim terhadap sesamanya
yang terkena musibah selain berupaya meringankan beban juga memberi
motivasi untuk bersabar. Nasehat dan motivasi untuk tetap sabar harus
ditanamkan dalam diri setiap orang yang sedang ditimpa musibah, dengan
harapan mendapat kebaikan dari musibah yang dialaminya.
Keyakinan ada Allah di balik setiap
musibah merupakan modal dasar bagi seseorang yang ingin sukses lulus
dari ujian dan cobaan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang
menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman
kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan
Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: At-Taghâbun [64]: 11).
Dari ayat Allah tersebut, siapa pun yang
ditimpa musibah harus meyakini bahwa musibah tersebut merupakan
ketentuan dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala.
Maka bersabar dan mengharap petunjuk Allah
agar mampu menjalani dan meraih keberkahan dari musibah yang
dijalaninya. Selain itu, berserah diri kepada Allah semata-mata
mengharap Allah akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu
yang lebih baik lagi.
Beberapa hikmah yang dapat diambil dari setiap musibah yang terjadi pada diri seorang Muslim di antaranya:
Pertama, musibah
merupakan obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit
hati yang ada pada diri manusia. Kotoran dan penyakit hati apabila tidak
dibersihkan dapat mencelakakan seseorang karena menjerumuskan dirinya
berbuat dosa.
Dengan adanya musibah orang yang
berpenyakit tersebut dapat sadar diri dan mendekat kepada Allah untuk
meraih pahala dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Subhanahu
Wata’ala.
Kedua, menjadikan musibah
sebagai tolak-ukur kepribadian seorang Muslim yang senantiasa
berprasangka baik terhadap takdir Allah, baik itu dalam keadaan senang
maupun susah.
Rasulullah bersabda, “Sungguh
mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan
(untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia
mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan
baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu
adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim).
Ketiga, musibah merupakan peringatan kepada setiap manusia atas apa yang telah diperbuatnya di muka bumi ini.
Banjir yang melanda desa maupun kota boleh
jadi adalah teguran kepada pembuat kebijakan setempat yang mengatur
wilayahnya agar tidak merusak lingkungan. Longsor juga demikian,
mengingatkan manusia yang gemar menggunduli gunung untuk menghentikan
kebiasaannya. Dengan peringatan tersebut, manusia harus menghambil ibrah
bagaimana menjaga keseimbangan hidup dengan ekosistem apa adanya.
Dan masih banyak lagi hikmah yang
terkandung dalam setiap peristiwa terutama musibah dan bencana yang
pasti menyambangi perjalanan hidup anak manusia. Inilah alat yang
menjadi bahan pertimbangan Allah untuk mengangkat derajat manusia, jika
mereka sabar menghadapi musibah niscaya ada balasannya, sebaliknya jika
mereka kufur karena musibah maka penderitaannya tidak hanya di dunia
saja, tapi juga di akhirat kelak.
Semoga Allah menjadikan bumi Indonesia
lebih baik di masa yang akan datang dan dijauhkan dari segala musibah
yang di luar batas kemampuan rakyat Indonesia.
Dan bagi kita sebagai pemilik negeri ini,
marilah bersama tingkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan
tempat kita bermukim. Agar kehidupan yang harmonis dapat tercipta baik
di antara kita sebagai sesama manusia maupun antara kita dengan
lingkungan alam
Zainal Arifin
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
TOPIK PILIHAN
March 08, 2015
posted by @Adimin
Atraktif Dalam Berdakwah
Written By Sjam Deddy on 08 March, 2015 | March 08, 2015
Bekal yang terpenting dari semuanya adalah, seorang pendakwah harus sesuai ucapan dan perbuatannya
MENJADI seorang Muslim
yang baik bukanlah semata-mata hanya taat shalat, puasa, zakat, haji,
dan melimpahnya jumlah hitungan tasbih. Tetapi tak kalah pentingnya
adalah sejauh mana manfaatnya kepada orang lain.
Kesalehan individu harus dibarengi dengan
koreksi terhadap kesalahan orang lain karena bencana bukan hanya
diperuntukkan kepada orang-orang yang tidak saleh saja.
Dalam Al-Quran Surat Al- ‘Ashr [103]:1-3) dijelaskan dengan gamblang bahwa, “Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta nasihat
menasihati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran.” Dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah besabda, “Manusia
bergantung kepada Allah, yang lebih dicintai-Nya adalah mereka yang
bermanfaat bagi sesamanya.”
Jadi Muslim yang baik, beruntung dan tidak
buntung adalah, mereka yang melengkapi perbuatan baiknya dengan
keimanan, kesabaran, dan selalu nasihat-menasihati dalam menunjukkan
kebenaran ajaran Islam serta kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada
Allah. Dengan itu, seorang Muslim dapat bermanfaat kepada Muslim
lainnya, makin berkualitas nasihat yang kita sampaikan, makin tinggi
pula nilainya di sisi Allah.
Makin menarik metode dalam memberikan nasihat, makin ramai pula peminat nasihat, dan tentunya amal kita juga makin meningkat.
Siapa yang menunjukkan satu perbuatan baik
kepada orang lain, niscaya ia akan turut mendapatkan pahala sebagaimana
yang melakukakannya, tidak berkurang sedkit pun, dan barang siapa yang
menunjukkan jalan kesesatan, niscaya dosanya persis dengan orang yang
mekakukan dosa itu tak kurang sedikit pun. Demikian Nabi bersabda.
Dakwah Atraktif
Islam sebagai agama misi mengharuskan ada
segolongan orang yang melakukan kerja-kerja dakwah secara profesional
dan atraktif, sehingga umat mendapat pencerahan dan bimbingan sesuai apa
yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam
bersama para sahabatnya: amar ma’ruf nahi munkar.
Orang yang terlibat dalam dakwah adalah manusia pilihan yang menjadi pewaris para nabi (waratsatul anbiya’).
Karena sentuhan para dai sehingga agama ini tetap eksis di muka bumi.
Untuk itulah, para dai perlu bekal yang cukup sebelum terjun dalam
masyarakat luas, bukan hanya sekadar memiliki satu-dua buku kumpulan
khutbah Jum’at lalu terjun bebas berdakwah tanpa ilmu yang memadai dan
pengetahuan tentang metodologi dakwah yang mumpuni. Kita tidak butuh dai
yang fakir materi dan miskin metode.
Penguasaan materi adalah hal mutlak yang
harus dimiliki seorang dai, dalam ajaran Islam, ada tiga perkara inti
yang harus diketahui setiap Muslim, yaitu ‘ilmu ushuluddin, atau landasan ajaran agama (tauhid), ‘ulum as-syariah,
atau ilmu yang berhubungan dengan tata cara beribadah (kepada Allah)
dengan baik dan benar, serta ilmu muamalat, termasuk di dalamnya adab
berinteraksi sesama makhluk Allah di muka bumi yang sebagian ulama
menamai at-tashawwuf wal akhlaq.
Jika para rasul mendapatkan materi dari
Allah melalui wahyu, maka manusia biasa seperti kita harus mendapatkan
ilmu dengan cara belajar dan membaca. Para dai harus memiliki keilmuan
yang syumul (komprehensif) sehingga dakwahnya selain kaya
materi juga harus selalu situasional. Tidak mesti benar-benar ahli dalam
satu bidang, tetapi minimal harus tau bidang-bidang tertentu yang
sering menjadi tema pembahasan. Penceramah tidak mesti seorang pakar
hadis untuk mengutif sebuah hadis, tapi ia harus tau kedudukan sebuah
hadis dan cara menerangkan (matan) isinya dengan benar.
Ketika para dai banyak membaca, maka
mereka akan sanggup memimpin umat Islam. Jika umat Islam membaca lebih
banyak lagi, maka mereka akan memimpin peradaban umat manusia. Sungguh
sebuah ironi, karena faktanya: orang-orang Barat (Kristen) banyak
membaca, sedang umat Islam sedikit membaca! Selain itu, kita belajar
untuk membaca, sedang Barat membaca untuk belajar.
Selain materi, penguasaan metode berdakwah juga tak kalah pentingnya. Dalam ilmu komunikasi kita kenal “Fannul Khithobah”
seni berpidato. Ilmu ini juga tak kalah pentingnya, karena seorang
orator kendati menguasai materi sebanyak apa pun, namun jika terserang
‘demam panggung’ semuanya akan sia-sia. Atau seorang dai yang tidak tau
metode dakwah sehingga para jamaah salah paham dan berbalik
memusuhinya, ini jauh lebih fatal.
Tak Memburu Kemewahan Dunia
Hisham Altalib, dalam “Training Guide for Islamic Workers,
1991” menulis sebuah cerita tentang seorang ustad yang mahir mendidik
para santrinya untuk berdakwah. Enam bulan teori –pembekalan materi—dan
tiga bulan untuk praktik-lapangan. Seorang siswa yang percaya diri telah
menyelesaikan bagian teori merasa bahwa dia akan dapat mengerjakan
praktiknya sendiri. Sang ustad mengingatkan, tapi tidak digubris. Dia
telah memilih sebuah desa nun jauh untuk melakukan praktik dakwahnya
sendiri. Pada hari Jumat pertama di desa itu, seorang imam gadungan
menyampaikan satu khutbah yang penuh dengan kebohongan tentang Allah dan
Rasul-Nya.
Santri tersebut berdiri dan berteriak
dengan lantang, ‘Imam itu pembohong! Allah dan Rasul-Nya tidak
mengatakan demikian!’ Sang Imam pun menjawab, ‘Pemuda itu kafir dan
harus dihukum!’ Para hadirin shalat jumat bersatu menyerang santri itu
secara membabi buta.
Ia pun kembali pada ustad dengan balutan dan tulang yang remuk (babak belur). Ustad berkata padanya, ‘Akan kutunjukkan padamu praktik dakwah yang baik dan atraktif.’
Jumat selanjutnya, mereka pergi ke masjid
yang sama dengan imam yang sama menyampaikan khutbah serupa. Setelah
mendengar khutbah, sang ustad berdiri dan berkata, ‘Imam kalian adalah
lelaki penghuni surga. Setiap orang yang mengambil rambut dari
jenggutnya akan mendapatkan surga!’
Seketika, para jamaah Jumat menyerang
janggut sang imam dan setiap orang menarik satu rambut dari jenggutnya
sampai gundul, darah pun bercucuran. Ustad lalu membisikkan kata-kata
kepada Imam gadungan, ‘Akankah Anda berhenti berbohong tentang Allah dan
Rasul-Nya? Atau Engkau ingin hukuman tambahan?’ Sang imam mengaku salah
dan bertobat. Santri itu menyadari kekeliruannya, dan memohon pada
ustad agar diberi waktu tambahan tiga bulan untuk praktik berdakwah.
Teori dan praktik dua adalah kutub yang beda.
Bekal yang terpenting dari semuanya adalah, seorang pendakwah harus sesuai ucapan dan perbuatannya. Tidak lazim membahas tema fadhilatul ju’
keutamaan berlapar-lapar sementara dia sendiri tidak pernah kelaparan;
menekankan keutamaan shalat berjamaah sementara ia hanya berjamaah di
hari Jumat; menekankan keutamaan berpoligami sementara dirinya belum
punya istri walau hanya satu. Inilah yang dimaksud dalam Al-Quran (QS.
61:2), lima taquluna ma la taf’alun, Mengapa kamu katakan sesuatu yang tidak kamu laksanakan?
Hingga saat ini, umat Islam masih tetap
memandang bahwa para dai adalah harapan, cita-cita, dan penyelamat
bangsa dan umat, mereka adalah agent of change.
Salah satu ciri kian dekatnya hari kiamat
adalah, jika para dai ramai-ramai menetap di kota untuk memburu kemewahan
dunia, dan pada saat yang sama para misionaris berramai-ramai masuk
kampung untuk menyelamatkan ‘domba-domba’ sesat.
Wallahu a’lam!
Penulis adalah pemerhari pendidikan Islam dan aktivis dakwah
posted by @Adimin
February 14, 2015
posted by @Adimin
Pergaulan Bebas Bukan Identitas Bangsa Indonesia | by @JazuliJuwaini
Written By asdeddy sjam on 14 February, 2015 | February 14, 2015
1. Sy mengutuk keras beredarnya buku
"Saatnya Aku Belajar Pacaran" yg kontennya ajaran dan ajakan seks
bebas @malakmalakmal @FPKSDPRRI
2. Buku ini dan buku2 lain yg temanya
serupa harusnya tdk boleh terbit dan beredar. Yg sdh beredar hrs ditarik,
pelaku hrs ditindak tegas.
3. Secara sosiologis kultural segala
bentuk pergaulan bebas apalagi yg mengarah pd seks bebas bukan identitas budaya
dan karakter bngsa kita
4. Agama jelas melarang, demikian juga
konstitusi dan hukum positif krn daya rusaknya luar biasa pd masa depan anak2
kita
5. Plis tolong stop prseberan budaya
liberal pergaulan dan seks bebas yg antiagama, antinormabudaya, dan
antipancasila khususnya pd anak2 kt
6. Kita sdh berkali2 mengingatkan bhw
indonesia darurat pergaulan bebas..data2 hasil penelitian sangat menyedihkan cc
@lediahanifa
7. Mereka anak2 kita, masa depan kita, jangan korbankan mrk.
Org tua hrs waspada dan menjaga. Anak2 remaja hrs sadar diri.
8. Kita desak pemerintah serius ciptkan kebijakan kondusif
utk bangun mentalitas remaja, cegah pergaulan bebas. Ini tgg jwb revolusi
mental.
9. Kita desak penegak hukum proaktif dan
tegas utk cegah dan tindak pihak2 yg sengaja merusak moral anak2 kita cc @aboebakar15
10. Kita ajak seluruh msyarakat, pendidik, lsm utk kampanye
pergaulan sehat bukan pergaulan bebas
11. Kita himbau dg sangat orang tua & angg keluarga u
bangun ketahanan kluarga,tnamkan pndidikn agama,moral,budaya sehat sjak di
rumah..
12. Media juga tolong banget sajikan
tontonan yg mendidik bukan menjerumuskan anak2 kita. Please..
13. Terakhir ini tanggung jawab kita semua. Fraksi PKS di DPR
akan desak pemerintah dan pihak terkait utk sensitif dan aware dg masalah ini.
14. FPKS DPR jg telah usulkan inisiatif RUU ttg Ketahanan
Keluarga. Mudah2an ikhtiar ini bisa bentengi anak2 kita dr bahaya pergaulan
bebas.
15. Mengait ekonomi, pmerintah pusat-daerah hrs krjasama dan
serius menciptakan lapangan kerja agr rakyat tdk cari nafkah lewat seks bebas.
16. Intinya kebijkan hrs komprehensif tuk atasi masalah
serius ini. Ragam pendekatan hrs dilakukan: agama, ideologi, sosial budaya,
ekonomi.
Tweet @JazuliJuwaini
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
TOPIK PILIHAN
December 08, 2014
KEJAHATAN, perilaku tak senonoh yang termasuk dalam
maksiat akhir-akhir seolah menjadi suguhan masyarakat. Para pelakunya
tak hanya orang dewasa dan orang tak terdidik. Maksiat bahkan dilakukan
usia anak-anak hingga abdi negara, petugas hukum bahkan ahli agama.
hidayatulah
posted by @Adimin
20 Alasan Bahaya Maksiat (Bagian Pertama)
Written By Sjam Deddy on 08 December, 2014 | December 08, 2014
Larangan dalam agama dapat dijalankan dengan dasar ta’abbudikepatuhan
sebagai hamba Allah tanpa banyak bicara dan ta’aqquli—dapat dinalar oleh
akal
Di media sosial diramaikan dengan peristiwa cukup menyedihahkan,
seorang pelajar berpakaian seragam sekolah tertangkap masyarakat karena
melahirkan di kebun.
Belum lama ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPP) menangkap mantan
bupati Bangkalan-Madura yang dikenal seorang abdi pemerintah sekaligus
tokoh agama setempat.
Bagi orang Bugis Bone, dikenal istilah menjunjung tinggi siri’—harga
diri—serta sangat mencela perbuatan biadab dan memalukan. Masyarakat
Bone percaya bahwa jika maksiat telah merajalela, maka bencana (bala’)
hanya menunggu waktu. Padahal itu hanya ditinjau dari segi adat,
bagaimana agama?
Maksiat dari segi bahasa bermakna durhaka dari segi istilah ialah
perbuatan yang membawa dosa yaitu yang bertentangan dengan akidah,
syariat dan ajaran Islam karena melakukan larangan Allah dan Rasulnya.
Maksiat bisa merusak agama, iman, akhlak, kemuliaan diri dan
kesejahteraan individu, keluarga, masyarakat, negara dan umat secara
keseluruhan.
Umat Islam memiliki satu konsep yang dipahami secara konsensus bahwa
perintah dan larangan dalam agama dapat dijalankan dengan dasar ta’abbudi—kepatuhan sebagai hamba Allah (abdullah) tanpa banyak bicara —dan ta’aqquli—dapat
dinalar oleh akal. Oleh karena itu,bahaya maksiat ditinjau dari dua
segi di atas, ta’abbudi maupun ta’aqquli sangat jelas dan terang.
Sebagai contoh, adanya larangan untuk mengkonsumsi daging babi, bagi
segenap umat Muhammad, mematuhi larangan tersebut adalah sebuah
keniscayaan tanpa ada protes, mengapa dan bagaimana hal itu terlarang,
inilah bentuk ta’abbudi. Belakangan didapati bahwa ternyata memakan
daging babi akan mendatangkan penyakit tertentu karena pada daging
tersebut mengandung cacing pita.
Itu berarti menghindari daging babi akan mendatangkan kemaslahatan,
inilah bentuk ta’aqquli. Kecuali itu, ada pula ta’abbudi dan ta’aqquli
sekaligus, seperti larangan berzina dengan menghukum pelakunya seberat
mungkin, karena memang telah terdapat larangan untuk
mendekatinya—apalagi melakukannya—dalam bentuk wahyu Al-Qur’an dan hadis
Nabi juga telah dipaparkan cara-cara pelaksanaan hukumannya dengan
gamblang, tidak ada ruang untuk mengingkarinya, ini dipandang dari
ta’abbudi sedang dari ta’aqquli jelas-jelas bahwa zina adalah perbuatan
yang dapat merugikan kedua belah pihak, terutama wanita yang menjadi
korban, dan dalam tahap tertentu—jika terlalu bebas—dapat mendatangkan
penyakit (kutukan) seperti HIV/AIDS.
Perbuatan maksiat, jika ditinjau dari segi sosial akan merugikan
masyarakat karena jika musibah datang tidak hanya menimpa pada pelakunya
seorang, akan tetapi pada segenap masyarakat yang ada di sekitar pelaku
maksiat, sebagaimana disitir Al-Qur’an, Wattaqu fitnatan la tushibanna
al-ladzina dzalamu minkum khassah. Takutlah akan musibah–akibat
maksiat–yang jika turun tidak hanya menimpa para pelaku maksiat, (QS.
Al-Anfal: 25).
Sedang jika ditinjau dari segi personal, pelaku maksiat akan
mendatangkan banyak kehinaan. Berikut, beberapa implikasi yang
ditimbulkan oleh maksiat.
Pertama. Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan
dalam diri kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut.
Karena itu, tatkala Imam Syafi’i rahimahullah duduk di hadapan Imam
Malik untuk belajar, Imam Malik sangat kagum akan kecerdasan dan daya
hafalnya hingga beliau bertutur, “Aku melihat Allah telah menyiratkan
cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu
dengan maksiat. “Imam Syafi’i bertutur, Aku mengadu tentang kelemahan
hafalanku yang buruk. Dia memberiku bimbingan untuk meninggalkan
kemaksiatan seraya berkata, ‘Ketahuilah, ilmu adalah cahaya. Dan cahaya
Allah tidak diberikan kepada si pelaku dosa dan kemaksiatan’[Syakautu
ila waqi’i ‘an su’a hifdzi. Fa’arsyadani ila tarkil-ma’ashi. Fa
akhbarani biannal-‘ilma nurun wa nurullah la yuhda lil ‘ashy!].
Kedua; Maksiat Menghalangi Rezeki
Dalam kitab “Musnad Ahmad” disebutkan, “Seorang hamba dicegah dari
rezki akibat dosa yang diperbuatnya”. Jika ketakwaan merupakan penyebab
datangnya rezeki, maka meninggalkannya dapat menimbulkan kekafiran.
Tidak ada satupun yang dapat memudahkan rezeki Allah kecuali dengan
meninggalkan maksiat.
Ketiga, Maksiat Menimbulkan Jarak dengan Allah
Jauh atau sunyinya hati seorang manusia dari cahaya Allah disebabkan
oleh perbuatan maksiatnya. Tidak ada perbuatan meninggalkan dosa yang
dapat menghilangkan kesunyian tersebut kecuali berwaspada dari perbuatan
maksiat. Seseorang yang berakal tentu akan dengan mudah meninggalkan
kesunyian itu. Diriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki yang mengeluh
kepada seorang yang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang Arif berpesan,
Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa , maka tinggalkanlah. Dalam
hati, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas
dosa.
Keempat; Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain
Kemaksiatan dapat menjauhkan seorang manusia dengan manusia yang
lain, lebih-lebih dengan golongan yang baik. Semakin kuat tekanan
perasaan tersebut, semakin jauhlah ia dari mereka dan semakin
terhalangilah berbagai manfaat dari mereka; akhirnya dia semakin
mendekati setan. Kesunyian dan kegersangan itu semakin menguat hingga
berpengaruh pada hubungan dia dengan istri dan anak-anaknya, juga antara
dia dengan nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, Sesungguhnya aku
bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku
binatang dan istriku.
Kelima; Maksiat Menyulitkan Urusan
Pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam mengatasi segala
masalahnya sebagaimana ketakwaan dapat memudahkan segala urusan.
Karenanya, sungguh mengherankan jika seorang hamba sulit menghampiri
pintu-pintu kebenaran sementara penyebabnya tidak ia ketahui.
Keenam, Maksiat Menggelapkan Hati
Pelaku maksiat akan senantiasa mengalami kegelapan hati seperti
gelapnya malam. Ketaatan itu adalah cahaya sebagaimana sinar matahari,
sedangkan kemaksiatan adalah gelap gulita di malam hari. Ibnu Abbas r.a
berkata, Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan pencerahan pada
wajah dan cahaya pada hati, kelapangan rezeki, kekuatan badan, dan
kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengandung ketidakceriaan
pada raut muka, kegelapan di kubur dan di hati, kelemahan badan,
susutnya rezeki, dan kebencian makhluk
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
OASE,
TOPIK PILIHAN
November 28, 2014
Anda Politikus, Maka Bercerminlah....!!!
Written By Sjam Deddy on 28 November, 2014 | November 28, 2014
Siapakah
yang berhak memberi penilaian & solusi dalam masalah Nawazil Siyasah
(kejadian politik kontemporer) dan berhak menjadi politikus Syar’i (penentu
strategi politik yang Syar’i)? Simaklah hadits berikut ini :
أبِي
هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ
يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ
فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ يهَا
الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ : وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ : الرَّجُلُ التَّافِهُ يتكلم فِي
أَمْرِ الْعَامَّةِ) رواه ابن ماجة وهو حديث صحيح
“Akan datang kepada manusia
tahun-tahun yang banyak penipuan di dalamnya. Ketika itu pendusta dibenarkan
sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan
orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu
Ruwaibidhah ikut-ikutan berkomentar. Ada yang bertanya, “Siapakah yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab,
“Orang bodoh yang berkomentar/ikut campur dalam urusan masyarakat luas.”
(HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).
Ibnu
Rajab رحمه الله pernah
mencontohkan sosok figur ulama ahli ijtihad yang berhak berfatwa dalam Nawazil, yaitu sosok
Imam Ahmad رحمه الله. Ibnu
Rojab رحمه الله menjelaskan
mengapa Imam Ahmad رحمه الله pantas menjadi
salah satu contohnya? Beliau menjelaskan bahwa Imam Ahmad adalah sosok
yang sampai pada ketinggian ilmu tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah serta atsar.
Adapun
tentang Al-Qur`an : Imam Ahmad tahu nasikh dan mansukh, tahu kumpulan tafsir Shahabat dan
Tabi’in. Dan tentang As-Sunnah : beliau hafal Hadits-Hadits,tahu mana yang
shahih dan mana yang dho’if,
tahu Perowi Hadits yang terpercaya,tahu pula jalan periwayatan Hadits dan
cacatnya,bahkan bukan hanya tahu Hadits yang marfu’ namun juga yang mauquf dan
paham fiqhul Hadits.
Adapun
Atsar : beliau tahu pendapat para Imam kaum Muslimin. Dan seterusnya dari
penjelasan Ibnu Rojab tentang Imam Ahmad, sampai pada ucapan beliau :
“ومعلوم أنَّ
مَن فَهِمَ عِلْم هذه العلوم كلّها وبرَع فيها، فأسهلُ شيء عنده معرفةُ الحوادث
والجواب عنها”
“dan suatu perkara sudah diketahui
bahwa orang yang menguasai ilmu-ilmu ini semuanya dan berhasil menjadi pakar
dalam ilmu-ilmu tersebut mengungguli yang lainnya,maka adalah sesuatu yang
termudah baginya menelaah kejadian -kejadian kontemporer (kekinian) dan
solusinya”). Selesai perkataan Ibnu Rajab rahimahullah.
Berarti
Ibnu Rajab memandang bahwa orang yang menguasai berbagai disiplin Ilmu Syar’i
itulah yang berhak dan mampu berfatwa dalam masalah nawazil.
Oleh
karena itu disebutkan dalam salah satu biografi Imam Ahmad ,bahwa : Imam Ahmad
dahulu berfatwa tentang solusi kejadian-kejadian kontemporer, namun beliau
melarang murid-muridnya berbicara dalam masalah itu, karena dipandang mereka
belum sampai kepada tingkatan boleh berijtihad dalam masalah itu.
Pandangan
Ibnu Rajab dan sikap Imam Ahmad tersebut juga sama dengan pernyataan Ibnul
Qoyyim رحمه الله,yang
mengatakan :
العالم بكتاب
الله وسنة رسوله وأقوال الصحابة فهو المجتهد في النوازل
“Orang yang berilmu tentang
Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan Ucapan Para Sahabat maka dialah orang yang
berhak berijtihad menyampaikan pandangan dan fatwa dalam masalah
Nawazil/kejadian-kejadian kontemporer” .
Dan
masih banyak ucapan para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang semakna,seperti
ucapan Imam Syafi’i, Asy-Syathibi, Syaikh Al-Albani dan yang lainnya.
نسأل الله -عز
وجل- أن يوفقنا وإياكم لما يحبه و يرضاه و أن يجعلنا وإياكم هداة مهتدين إنه
ولي ذلك والقادر عليه.
***
Diolah
dari Madarikun Nadhor,
Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani.
muslim.or.id
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
TOPIK PILIHAN



