Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label Hikmah Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Hikmah Ramadhan. Show all posts
July 11, 2015
posted by @Adimin
Keluarga Besar PKS Rangkul Warga Padang
Written By Anonymous on 11 July, 2015 | July 11, 2015
Padang - Kelurga besar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Padang
berbuka puasa bersama dengan warga di sekitar kantor DPD PKS Padang di Jalan
Kis Mangunsarkoro Padang, kemarin (10/7). Hadir juga Wali Kota Padang, Mahyeldi
Ansharullah yang merupakan kader PKS, serta anggota DPR RI Hermanto.
Ketua DPD PKS Padang, Muhidi menyebutkan, buka bersama yang
di laksanakan, jumat (10/7) ini merupakan agenda rutin. "Ini wujud
kebersamaan PKS dengar warga sekitar. Tak ada hubungan agenda politik,"
ujar Muhidi.
Muhidi yang juga wakil ketua DPRD Padang ini menyampaikan
ucapan terimakasih atas dukungan warga selama ini. Dalam kebersamaan PKS dengan
warga sekitar berjalan dengan baik.
Sehubungan dengan Idul Fitri yang sudah dekat, Muhidi juga
menyampaikan permohonan maaf. "Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga di
penghujung Ramadhan ini kita mendapatkan keberkahan takwa,"tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Padang, Mahyeldi dalam kesempatan
itu menginformasikan berbagai program-program Pemko Padang, terutama sepuluh program
unggulan wali kota. Salah satu program tersebut adalah asuransi untuk warga
miskin. "Banyak program yang memang diperuntukkan untuk masyarakat. Jadi
masyarakat perlu tahu program-program yang dilaksanakan Pemko, "ujar
Mahyeldi.
Buka bersama PKS dengan warga ini berlangsung penuh
kekeluargaan. Sejumlah warga pun dalam kesempatan terbuka berdialog langsung
dengan Wali Kota Mahyeldi. [padek]
posted by @Adimin
April 15, 2015
Ketika Semua Karena Cinta
Written By @Adimin on 15 April, 2015 | April 15, 2015
Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa apabila Allah mencintai
seorang hamba maka Dia memanggil malaikat Jibril seraya berkata,
“Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia”. Maka
malaikat Jibril pun ikut mencintai orang tersebut. Lalu, malaikat Jibril
menyeru kepada penduduk langit, "Sesungguhnya, Allah mencintai si
fulan, maka cintailah dia."
Hingga, penduduk langit pun mencintai orang tadi dan ia pun diterima
di bumi. Kata cinta, merupakan tali yang kuat, ikatan jiwa yang tak
tergoyahkan, dan energi dahsyat yang mengalahkan segala dendam angkara.
Kata cinta juga mampu menjadikan yang jauh menjadi dekat, yang sakit menjadi sembuh, dan kebencian menjadi kasih sayang tak ternilai.
Bagaimana bisa Nabi Muhammad SAW dikatakan tidak mencintai umatnya karena saat menjelang akhir hayatnya yang dipanggil-panggil adalah “umatku, umatku, umatku….”
Dengan ruh cinta karena Allah juga Nabi mendakwahkan Islam ke segenap pelosok jazirah Arab menerobos watak-watak keras Aus dan Khazraj hingga bersatu dan mampu menembus sikap keras Umar bin Khattab sampai menjadi manusia yang amat mudah menangis.
Serta, dengan aliran cinta ikhlas pula mampu meluluhkan hati para sahabatnya untuk rela mengorbankan jiwa raganya demi perjuangan Islam.
Nabi begitu merasakan apa yang dirasakan para sahabatnya, bukan sekadar simpati, melainkan lebih ke empati tak mengharap balas budi.
Allah pun mengabadikan di dalam ayat, ”Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kalian, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang beriman.” (QS at-Taubah [9]: 128).
Karena dasar cinta pula yang menjadikan Abu Bakar Ash-Shiddiq rela mendampingi Nabi berjalan ratusan kilometer berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Cinta itu pula yang merelakan kakinya digigit binatang berbisa demi keselamatan Nabi tercinta.
Nasihat tentang cinta kepada Nabi pula yang Nabi ajarkan kepada sahabatnya Umar bin Khattab. Suatu saat Umar berkata, “Wahai Rasul, demi Allah! Engkau lebih aku cintai daripada hartaku, keluargaku, dan orang tuaku, kecuali dari diriku sendiri. ”Lalu, Rasulullah segera menjawab, “Tidak begitu, Wahai Umar! Bahkan, aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”
Umar pun menyambutnya, “Jika begitu, Demi Allah! Engkau akan lebih aku cintai daripada diriku sendiri wahai Rasul!” Rasul pun bersabda, “Sejak saat ini, imanmu telah sempurna wahai umar!”
Atas dasar cinta pula, Gunung Uhud pun Nabi cintai seperti gunung itu mencintainya. Lingkungan sekitarnya pun amat beliau cintai, sehingga dalam kondisi peperangan pun beliau selalu berpesan kepada pasukannya agar tidak membakar fasilitas umum, tidak menebang pepohonan, tidak meruntuhkan gereja dan tempat ibadah umat lain, tidak membunuh pendeta, anak-anak, kaum ibu, dan orang-orang tua warga sipil.
Karena, beliau memang diutus untuk menebar cinta dan kasih sayang ke segenap alam semesta. (QS al-Anbiya [21]: 107).
Semoga, kita dapat ikut menerangi kegelapan dunia di episode jahiliyah akhir zaman ini dengan sedikit cinta yang mencerahkan karena Allah semata.
Kata cinta juga mampu menjadikan yang jauh menjadi dekat, yang sakit menjadi sembuh, dan kebencian menjadi kasih sayang tak ternilai.
Bagaimana bisa Nabi Muhammad SAW dikatakan tidak mencintai umatnya karena saat menjelang akhir hayatnya yang dipanggil-panggil adalah “umatku, umatku, umatku….”
Dengan ruh cinta karena Allah juga Nabi mendakwahkan Islam ke segenap pelosok jazirah Arab menerobos watak-watak keras Aus dan Khazraj hingga bersatu dan mampu menembus sikap keras Umar bin Khattab sampai menjadi manusia yang amat mudah menangis.
Serta, dengan aliran cinta ikhlas pula mampu meluluhkan hati para sahabatnya untuk rela mengorbankan jiwa raganya demi perjuangan Islam.
Nabi begitu merasakan apa yang dirasakan para sahabatnya, bukan sekadar simpati, melainkan lebih ke empati tak mengharap balas budi.
Allah pun mengabadikan di dalam ayat, ”Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kalian, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang beriman.” (QS at-Taubah [9]: 128).
Karena dasar cinta pula yang menjadikan Abu Bakar Ash-Shiddiq rela mendampingi Nabi berjalan ratusan kilometer berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Cinta itu pula yang merelakan kakinya digigit binatang berbisa demi keselamatan Nabi tercinta.
Nasihat tentang cinta kepada Nabi pula yang Nabi ajarkan kepada sahabatnya Umar bin Khattab. Suatu saat Umar berkata, “Wahai Rasul, demi Allah! Engkau lebih aku cintai daripada hartaku, keluargaku, dan orang tuaku, kecuali dari diriku sendiri. ”Lalu, Rasulullah segera menjawab, “Tidak begitu, Wahai Umar! Bahkan, aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”
Umar pun menyambutnya, “Jika begitu, Demi Allah! Engkau akan lebih aku cintai daripada diriku sendiri wahai Rasul!” Rasul pun bersabda, “Sejak saat ini, imanmu telah sempurna wahai umar!”
Atas dasar cinta pula, Gunung Uhud pun Nabi cintai seperti gunung itu mencintainya. Lingkungan sekitarnya pun amat beliau cintai, sehingga dalam kondisi peperangan pun beliau selalu berpesan kepada pasukannya agar tidak membakar fasilitas umum, tidak menebang pepohonan, tidak meruntuhkan gereja dan tempat ibadah umat lain, tidak membunuh pendeta, anak-anak, kaum ibu, dan orang-orang tua warga sipil.
Karena, beliau memang diutus untuk menebar cinta dan kasih sayang ke segenap alam semesta. (QS al-Anbiya [21]: 107).
Semoga, kita dapat ikut menerangi kegelapan dunia di episode jahiliyah akhir zaman ini dengan sedikit cinta yang mencerahkan karena Allah semata.
posted by @Adimin
Label:
Hikmah Ramadhan,
TOPIK PILIHAN
July 11, 2013
posted by @A.history
Mengharmonikan Perbedaan Refleksi Awal Ramadhan
Written By Unknown on 11 July, 2013 | July 11, 2013
Perbedaan dalam menentukan awal ramadhan 1434 H akhirnya terjadi juga, pemerintah melalui menteri agama RI menetapkan bahwa awal ramadhan jatuh pada hari Rabu 10 Juli 2013. Disisi lain Muhammadiyah telah menetapkan 1 ramadhan hari Selasa 9 Juli 2013. Terlepas dari perdebatan tentang metodologi dan dalil syar’inya, yang jelas di tengah-tengah masyarakat perbedaan tersebut telah menimbulkan satu polemik tentang siapa yang punya otoritas untuk di taati dalam konteks penetapan 1 Ramadhan 1434 H ini.
Seringnya terjadi perbedaan baik dalam menetapkan awal Ramadhan maupun 1 Syawal, telah melahirkan satu sikap kearifan lokal terhadap masyarakat. sehingga perbedaan tidaklah disikapi sebagai suatu hal yang melahirkan perpecahan tetapi semakin menumbukan sikap tasamuh beragama terutama dalam hal-hal yang bersifat mutaghayyirat.Dialektika yang harmoni ditengah-tengah masyarakat dalam menyikapi perbedaan awal ramadhan setidak-tidaknya memberikan ruang yang nyaman bagi kaum muslimin untuk lebih memaksimalkan energi posisitifnya guna meraup sebanyak-banyak kebaikan yang ada pada bulan ramadhan.
Keharmonian perbedaan awal ramadhan kali ini bisa kita temukan dari kebijakan yang diambil oleh pengurus mesjid dan mushalla untuk memberikan hak yang sama kepada masyarakat yang memilih berpuasa menurut keyakinan masing-masingserta diberikan fasiltas yang sama untuk melaksanakan shalat taraweh.Keharmonian perbedaan awal berpuasa juga terjadi dalam sebuah keluarga, dimana seorang ayah yang berpuasa mengikuti keputusan pemerintah harus berbeda dengan anak dan istrinya yang lebih tenang mengikuti keputusan Muhammadiyah dalam menentukan awal ramadhan.
Dalam Islam, perbedaan merupakan sunnah kauniyah yang telah ditakdir Allah Swt. Perbedaan warna kulit, ras dan agama merupakan hal yang tak bisa dihindari. Bahkan upaya yang ini menyeragamkan adalah perbuatan yang bertentangan dengan Firman Allah Swt. "Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (QS Huud 118-119).
Ramadhan telah mendidik ummat Islam untuk menghargai perbedaan. Karena perbedaan itu, akan menemukan persamaan ketika kita saling mencintai. Perbedaan itu, akan menemukan kesempurnaan saat kita saling memahami. Perbedaan itu, akan menemukan tujuan ketika kita mampu memaknainya dengan bijak. (*)
Drs. Muhidi, MM
Ketua DPD PKS Kota Padang
posted by @A.history
Label:
HIKMAH,
Hikmah Ramadhan,
KIPRAH KAMI,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
July 10, 2013
Mulyadi Muslim, Lc MA.
posted by @Adimin
Egoisme Beribadah
Written By @Adimin on 10 July, 2013 | July 10, 2013
Setiap
akan memasuki bulan puasa, hampir selalu
diawali dengan perbedaan pandangan dan pendapat dalam penentuan awal puasa dan
juga lebaran. Dulu sebelum era informasi, perbedaan itu hanya ditemukan dalam
buku-buku fikih atau dakam diskusi terbatas para mujtahid. Namun seiring dengan
kemajuan teknologi dan bahkan pasca reformsi bagi Indonesia, maka pebedaan
pendapat atau perdebatan ilmiah yang seharunya berada dalam ruang dan komunitas
terbatas telah menembus ruang public. Kehebatan dalam berargumen mempertahan
kan pendapat yang kemungkinan besar marjuh(kurang kuat), egoisme berbeda dengan
pemerintah dipertontonkan (terlihat) oleh masyarakat. Dengan alasan bahwa pemerintah tidak boleh mengintervensi
keyakinan seseorang dalam beribadah, tetapi
yang terjadi adalah simpati telah berubah menjadi antipati.
Menelisik
kepada bentuk-bentuk ibadah yang dikerjakan oleh setiap muslim, maka dalam
kajian fikih diketahui bahwa hampir semua ibadah memiliki etika atau adab yang
menyesuaikan dengan ruang dan waktu, bahkan adat kebiasaan suatu tempat atau
kondisi daerah. Ketika seseorang akan shalat misalnya, maka harus dipastikan
syarat dan rukunnya terpenuhi. Dan idealnya seseorang berlama-lama dalam
shalat, karena sejatinya dia sedang berdialog dengan Rabbnya. Tetapi ketika dia
shalat berjamaah dan bahkan menjadi Imam, maka dia harus tahu kondisi
makmumnya, tidak boleh dipanjangkan bacaan dalam shalat, karena dikhawatirkan
ada diantara jamaahnya yang sakit(tidak bisa berdiri lama), atau punya agenda
lain, sehingga harus cepat selesai
shalat. Atau ada yang punya anak kecil(sedang
menangis), sehingga mengganggu kekhusyu’an dalam shalat. Sebagaimana pernah
terjadi pada masa rasul s.a.w. ketika beliau menjadi imam dalam shalat, beliau
mendengar suara anak kecil menangis, maka beliau memendekkan bacaan
shalat.
Pernah
suatu ketika tiga orang shabat datang menemui istri Nabi S.A,W dan menanyakan
bagaimana ibadahnya nabi Muhmamad s.a.w. Setalah mendapat penjelasan, salah
seorang dari mereka berkata, betapa
sedikitnya dan rendahnhya ibadah kita bila dibandingkan dengan Rasul
s.a.w yang sudah mendapat jamanian ampunan dari Allah s.w.t atas dosa-dosanya
yang telah berlalu ataupun masa yang akan datang jika ada. Saya bertekad akan
selalu shalat malam tanpa istirahat, orang kedua berkata saya akan puasa
sepanjang hari, orang ketiga berkata, saya akan membujang dan tidak akan
menikah.
Rencana
mereka diatas didengar oleh Rasul s.a.w, lalu beliau bersabda:
وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا آكُلُ اللَّحْمَ وَقَالَ
بَعْضُهُمْ لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ
مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ
وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Kenapa
kalian yang punya rencana ini dan itu, Demi Allah saya adalah orang yang paling
takut kepada Allah dan paling bertakawa
dibandingkan kalian. Saya shalat malam tetapi juga tidur, saya berpuasa tetapi
juga berbuka dan saya juga menikah, Siapa yang membenci sunnahku, maka
sesungguhnya dia bukan bagian dari umatku.(H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam
riwayat lain didapatkan informasi, bahwa
seorang tabiin menetap di masjid untuk
beribadah, sementara untuk biaya hidupnya ditanggung oleh saudaranya, ketika
Umar bin Khattab mendengar hal itu, ia berkata saudaramu yang berkerja jauh
lebih baik dari kamu.Beberapa riwayat diatas mengindikasikan bahwa sejatinya
ibadah adalah pengabdian dengan ketundukan dan kepatuhan kepada aturan,
menyesuaikan dengan kondisi. Bukan sekedar ingin menikmati ibadah secara pribadi
atau menunjukkan egoisme golongan.
Dalam
ibadah haji sebenarnya lebih terasa bahwa ibadah bukan untuk menujukkan ego
pribadi dan golongan, waktu pelaksanaanya “terpaksa tunduk dan patuh” kepada
perhitungan pakar/ulama Saudi, jika tidak mau dipermalukan dengan melakukan
wukuf di Arafah sehari sebelum atau sesudah umat Islam secara keseluruhan
melakukan wukuf. Untuk mencium hajar aswad tidak diwajibkan, bahkan dibolehkan
dengan isyarat saja dari kejauhan, jika dikhawatirkan menginjak-injak orang
lain, atau menimbulkan dosa.
Seharusnya
dalam berpuasa juga demikian, jika secara keilmuan terbaru dan tercanggih hari
ini, bulan belum bisa terlihat, maka
sudah sejatinya ijtihad yang dipakai adalah dengan menyempurnakan hitungan
sya’ban menjadi tiga puluh hari karena juga berkekuatan hukum secara dalil.
Demikian juga halnya, walaupun sedang bersemangat untuk berpuasa, jika saatnya
sudah berbuka, maka dilarang untuk menunda berbuka, malah dianjurkan rasul
s.a.w untuk segera berbuka walaupun hanya dengan segelas air putih. Alangkah
indah juga kalau seandainya di sebuah masjid bergabung dua kelompok yang shalat
tarawehnya sebelas rakaat dengan
yang dua puluh satu rakaat, cukup dengan
menambah dari delapan menjadi dua puluh dan ditutup dengan witir. Sehingga
tidak ada yang merasa hebat dan menjadi egois, sebab apalah artinya shalat dua
puluh rakaat jika dikerjakan dengan buru-buru tanpa khusyu’ kemudian merasa
lebih sempurna ibadahnya. Begitu juga dengan yang shalat delapan rakaat, tetapi
setelah itu menggunjingkan yang shalat dua puluh rakaat. Sekali lagi inti dari
ibadah adalah pengabdian dan ketundukan hati, membunuh rasa lebih hebat dan
egoism diri ataupun golongan.
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
Hikmah Ramadhan,
TOPIK PILIHAN
May 27, 2013
Oleh Muhbib Abdul Wahab
posted by @Adimin
Belajar Teliti . . . .
Written By @Adimin on 27 May, 2013 | May 27, 2013
Peribahasa Teliti sebelum membeli tampaknya tidak hanya tepat untuk calon konsumen atau pemilih agar tidak membeli kucing dalam karung, tapi juga relevan untuk siapapun, kapan saja, dan di mana saja.
Ketelitian sangat diperlukan dalam segala aspek kehidupan. Karena teliti merupakan sifat terpuji yang sangat dianjurkan oleh Islam.
Allah memerintahkan bersikap teliti, karena menusia cenderung bertindak tergesa-gesa, ceroboh, dan tidak
berpikir jangka panjang. "...Dan manusia itu cenderung bersifat tergesa-gesa." (QS. Al-Isra' [17]: 11). Padahal, tergesa-gesa itu termasuk perilaku setan.
Ketelitian merupakan pangkal keselamatan dan kemaslahatan bersama. Sedangkan kecerobohan menjadi penyebab kegagalan, penyesalan, dan kerugian.
Ketelitian sangat diperlukan dalam segala aspek kehidupan. Karena teliti merupakan sifat terpuji yang sangat dianjurkan oleh Islam.
Allah memerintahkan bersikap teliti, karena menusia cenderung bertindak tergesa-gesa, ceroboh, dan tidak
berpikir jangka panjang. "...Dan manusia itu cenderung bersifat tergesa-gesa." (QS. Al-Isra' [17]: 11). Padahal, tergesa-gesa itu termasuk perilaku setan.
Ketelitian merupakan pangkal keselamatan dan kemaslahatan bersama. Sedangkan kecerobohan menjadi penyebab kegagalan, penyesalan, dan kerugian.
Hal ini sudah terbukti dalam banyak hal. Akibat tidak teliti atau
ceroboh, misalnya, seorang pemimpin atau tokoh masyarakat bisa kehilangan muka jika mengeluarkan pernyataan yang keliru atau tidak berdasar.
Bahkan bisa jadi pernyataannya membuatnya diadukan kepada pihak berwajib karena dinilai melakukan fitnah atau tindakan yang tidak menyenangkan.
Kasir yang teliti pasti tidak akan membuat kecerobohan dalam menghitung uang. Istri yang teliti akan memilih cara yang efisien dalam membelanjakan harta suami.
Guru yang teliti akan memberi penilaian yang tepat dan adil kepada para siswanya. Peneliti yang teliti dan tekun pasti akan mengedepankan objektivitas dan netralitas, tidak menjadikan egoisitas dan kepentingan pribadinya untuk mengambil kesimpulan dan temuan-temuannya.
Polisi dan Badan Intelelijen yang teliti akan sigap dan cermat dalam menyelidiki, memverifikasi, dan memprediksi hal-hal yang dapat mengganggu dan mengancam keamanan negara.
Menteri yang teliti pasti tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Presiden yang teliti juga selalu berusaha arif, tepat, dan cermat dalam mengeluarkan kebijakan.
Teliti tidak identik dengan takut berlebihan dan berlama-lama dalam mengambil sikap dan keputusan. Teliti
mengharuskan kejelian, kecermatan, akurasi, dan konsistensi.
Ketelitian menuntut kesabaran dan kebesaran jiwa untuk mengendalikan egoisitas dan kepentingan pribadi demi tegaknya kebenaran dan keadilan.
Dengan demikian, ketelitian merupakan salah satu aspek kecerdasan emosi yang menjadi pengendali sikap dan tindakan agar sesuai dengan nilai moral dan hukum yang berlaku, tidak menyimpang dari jalan yang benar.
Oleh karena itu, ketika menerima berita yang belum jelas kebenarannya, Nabi saw selalu memerintahkan sahabatnya untuk klarifikasi atau tabâyun (ceck and receck) agar tidak terjadi fitnah atau musibah besar.
"Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atau perbuatan itu." (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Ketidaktelitian dapat terjadi jika seseorang lebih mengedepankan hawa nafsu, kepentingan pribadi, cara berpikir subjektif yang tidak melihat jauh ke depan, dan hanya tergiur oleh iming-iming materi yang menggiurkan.
Ketidaktelitian juga dapat diakibatkan oleh sistem (birokrasi) dan lingkungan kerja yang korup, sehingga budaya suap atau sogok-menyogok menjadi hal yang biasa, tanpa ada perasaan salah dan dosa. Na'udzu billahi min dzalik!
Sudah saatnya, kita selalu belajar teliti. Jika sikap teliti menjadi jati diri semua komponen bangsa, niscaya
kita tidak mudah terkena fitnah sekaligus tidak gampang memfitnah orang lain.
Belajar menjadi orang yang teliti tidaklah sulit selama kita selalu berpikir positif, melihat depan dengan penuh optimistis, mengutamakan kepentingan umat dan bangsa, dan menjauhkan diri dari godaan materi dan hawa nafsu.
Bahkan bisa jadi pernyataannya membuatnya diadukan kepada pihak berwajib karena dinilai melakukan fitnah atau tindakan yang tidak menyenangkan.
Kasir yang teliti pasti tidak akan membuat kecerobohan dalam menghitung uang. Istri yang teliti akan memilih cara yang efisien dalam membelanjakan harta suami.
Guru yang teliti akan memberi penilaian yang tepat dan adil kepada para siswanya. Peneliti yang teliti dan tekun pasti akan mengedepankan objektivitas dan netralitas, tidak menjadikan egoisitas dan kepentingan pribadinya untuk mengambil kesimpulan dan temuan-temuannya.
Polisi dan Badan Intelelijen yang teliti akan sigap dan cermat dalam menyelidiki, memverifikasi, dan memprediksi hal-hal yang dapat mengganggu dan mengancam keamanan negara.
Menteri yang teliti pasti tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Presiden yang teliti juga selalu berusaha arif, tepat, dan cermat dalam mengeluarkan kebijakan.
Teliti tidak identik dengan takut berlebihan dan berlama-lama dalam mengambil sikap dan keputusan. Teliti
mengharuskan kejelian, kecermatan, akurasi, dan konsistensi.
Ketelitian menuntut kesabaran dan kebesaran jiwa untuk mengendalikan egoisitas dan kepentingan pribadi demi tegaknya kebenaran dan keadilan.
Dengan demikian, ketelitian merupakan salah satu aspek kecerdasan emosi yang menjadi pengendali sikap dan tindakan agar sesuai dengan nilai moral dan hukum yang berlaku, tidak menyimpang dari jalan yang benar.
Oleh karena itu, ketika menerima berita yang belum jelas kebenarannya, Nabi saw selalu memerintahkan sahabatnya untuk klarifikasi atau tabâyun (ceck and receck) agar tidak terjadi fitnah atau musibah besar.
"Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atau perbuatan itu." (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Ketidaktelitian dapat terjadi jika seseorang lebih mengedepankan hawa nafsu, kepentingan pribadi, cara berpikir subjektif yang tidak melihat jauh ke depan, dan hanya tergiur oleh iming-iming materi yang menggiurkan.
Ketidaktelitian juga dapat diakibatkan oleh sistem (birokrasi) dan lingkungan kerja yang korup, sehingga budaya suap atau sogok-menyogok menjadi hal yang biasa, tanpa ada perasaan salah dan dosa. Na'udzu billahi min dzalik!
Sudah saatnya, kita selalu belajar teliti. Jika sikap teliti menjadi jati diri semua komponen bangsa, niscaya
kita tidak mudah terkena fitnah sekaligus tidak gampang memfitnah orang lain.
Belajar menjadi orang yang teliti tidaklah sulit selama kita selalu berpikir positif, melihat depan dengan penuh optimistis, mengutamakan kepentingan umat dan bangsa, dan menjauhkan diri dari godaan materi dan hawa nafsu.
Sungguh, kita merindukan masyarakat yang teliti dan berjiwa
peneliti. Dengan ketelitian dan penelitian, masyarakat dan bangsa ini
menjadi lebih dewasa dan berwibawa. Bangsa yang teliti adalah bangsa
selalu mengedepankan kejujuran dan kebenaran.
Telitilah sebelum diteliti, karena teliti dapat membuat orang tidak menyesali diri di kemudian hari!!
Telitilah sebelum diteliti, karena teliti dapat membuat orang tidak menyesali diri di kemudian hari!!
Wallahu a’lam bish-shawab
Oleh Muhbib Abdul Wahab
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
Hikmah Ramadhan,
TOPIK PILIHAN
May 23, 2013
Oleh Ahmad Rifai
posted by @Adimin
Cinta Dunia
Written By @Adimin on 23 May, 2013 | May 23, 2013
Cinta dunia sudah menjadi fitrah setiap manusia. Tapi, jika porsinya
berlebihan, cinta dunia bisa melemahkan hati dan jiwa. Karena itu,
penting untuk selalu hati-hati dalam bergaul dengan dunia.
Menurut Syaikh as-Sadhan, cinta dunia yang terlarang adalah cinta dunia yang menyebabkan seorang lalai dari urusan akhiratnya. Kondisi seperti ini secara otomatis akan melemahkan hati.
Lemahnya hati merupakan kondisi yang sangat dinanti setan. Pada saat kita lemah, setan akan leluasa mempermainkan dan memecundangi kita. Sekitar 14 abad silam, Rasulullah telah mengingatkan tentang hal ini.
Beliau bersabda dalam sebuah hadisnya yang sangat populer, “Hampir saja umat-umat memperebutkan kalian seperti sekolompok orang yang sedang lapar memperebutkan makanan. Para sahabat bertanya, “Apakah karena kami sedikit waktu itu wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Tidak, bahkan waktu itu kamu sangat banyak tapi kalian tak ubahnya buih dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan memasukkan kepada kalian al wahn. Sahabat bertanya, “Apakah al wahn itu?” Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad dan Abu Daud).
Hadis di atas mengabarkan kuantitas bukanlah jaminan utama lahirnya sebuah kekuatan. Kekuatan sesungguhnya akan tumbuh ketika kita bisa selamat dari al wahn, penyakit cinta dunia dan benci terhadap kematian. Untuk mengobati penyakit berbahaya ini, Rasulullah telah memberikan resepnya.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan (mati).” (HR Tirmidzi). Yang dimaksud pemutus kenikmatan adalah mati.
Mengingat mati bisa menjadi penawar atas ambisi dan cinta dunia kita yang berlebihan. Dengan mengingat mati, visi akhirat kita akan senantiasa terasah dan kekuatan jiwa kita akan kembali tumbuh.
Semangat mengejar akhirat kitapun akan menjadi dominan dalam keseharian tanpa mengabaikan urusan dunia. Hal inilah yang diinginkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (al-Qashas: 77).
Imam Shan'ani dalam bukunya Subulussalam menyebutkan atsar yang menjelasakan pengaruh mengingat mati dalam menguatkan jiwa.
Ad-Dailami meriwayatkan, “Perbanyaklah kalian mengingat mati karena tidaklah seorang mengingat mati kecuali Allah akan selalu menghidupkan hatinya dan menghilangkan rasa takutnya terhadap kematian.”
Dalam atsar lain disebutkan, “Perbanyaklah mengingat mati sebab ia akan menjadi penghapus dosa dan menyebabkan orang lebih zuhud dalam urusan dunianya.”
Singkatnya, dalam kondisi apa pun mengingat mati akan selalu mendatangkan manfaat dan kebaikan. Semua manfaat yang disebutkan tadi akan bermuara pada lahirnya satu kekuatan jiwa.
Semoga, dengan kekuatan ini umat akan lebih siap dalam menghadapi kebengisan dan kekejaman musuh yang kerap datang secara tiba-tiba. Amin.
Menurut Syaikh as-Sadhan, cinta dunia yang terlarang adalah cinta dunia yang menyebabkan seorang lalai dari urusan akhiratnya. Kondisi seperti ini secara otomatis akan melemahkan hati.
Lemahnya hati merupakan kondisi yang sangat dinanti setan. Pada saat kita lemah, setan akan leluasa mempermainkan dan memecundangi kita. Sekitar 14 abad silam, Rasulullah telah mengingatkan tentang hal ini.
Beliau bersabda dalam sebuah hadisnya yang sangat populer, “Hampir saja umat-umat memperebutkan kalian seperti sekolompok orang yang sedang lapar memperebutkan makanan. Para sahabat bertanya, “Apakah karena kami sedikit waktu itu wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Tidak, bahkan waktu itu kamu sangat banyak tapi kalian tak ubahnya buih dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan memasukkan kepada kalian al wahn. Sahabat bertanya, “Apakah al wahn itu?” Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad dan Abu Daud).
Hadis di atas mengabarkan kuantitas bukanlah jaminan utama lahirnya sebuah kekuatan. Kekuatan sesungguhnya akan tumbuh ketika kita bisa selamat dari al wahn, penyakit cinta dunia dan benci terhadap kematian. Untuk mengobati penyakit berbahaya ini, Rasulullah telah memberikan resepnya.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan (mati).” (HR Tirmidzi). Yang dimaksud pemutus kenikmatan adalah mati.
Mengingat mati bisa menjadi penawar atas ambisi dan cinta dunia kita yang berlebihan. Dengan mengingat mati, visi akhirat kita akan senantiasa terasah dan kekuatan jiwa kita akan kembali tumbuh.
Semangat mengejar akhirat kitapun akan menjadi dominan dalam keseharian tanpa mengabaikan urusan dunia. Hal inilah yang diinginkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (al-Qashas: 77).
Imam Shan'ani dalam bukunya Subulussalam menyebutkan atsar yang menjelasakan pengaruh mengingat mati dalam menguatkan jiwa.
Ad-Dailami meriwayatkan, “Perbanyaklah kalian mengingat mati karena tidaklah seorang mengingat mati kecuali Allah akan selalu menghidupkan hatinya dan menghilangkan rasa takutnya terhadap kematian.”
Dalam atsar lain disebutkan, “Perbanyaklah mengingat mati sebab ia akan menjadi penghapus dosa dan menyebabkan orang lebih zuhud dalam urusan dunianya.”
Singkatnya, dalam kondisi apa pun mengingat mati akan selalu mendatangkan manfaat dan kebaikan. Semua manfaat yang disebutkan tadi akan bermuara pada lahirnya satu kekuatan jiwa.
Semoga, dengan kekuatan ini umat akan lebih siap dalam menghadapi kebengisan dan kekejaman musuh yang kerap datang secara tiba-tiba. Amin.
Oleh Ahmad Rifai
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
Hikmah Ramadhan
May 07, 2013

Sahabatku, kita mungkin sudah pernah mendengar bahwa sebuah kebaikan itu ialah memberikan apa yang terbaik dan yang dicintai. Namun ternyata ada lagi kebaikan yang melebihi itu. Tahukah kau apa itu?
Ini adalah sebuah karakter yang melekat pada diri para sahabat Anshar. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9)
posted by @Adimin
Sedekah Yang Lebih Baik Dari Sedekah Terbaik
Written By @Adimin on 07 May, 2013 | May 07, 2013
Sahabatku, kita mungkin sudah pernah mendengar bahwa sebuah kebaikan itu ialah memberikan apa yang terbaik dan yang dicintai. Namun ternyata ada lagi kebaikan yang melebihi itu. Tahukah kau apa itu?
Ini adalah sebuah karakter yang melekat pada diri para sahabat Anshar. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9)
Rasulullah sendiri mengatakan bahwa sedekah yang terbaik adalah ketika seseorang itu dalam keadaan membutuhkan, ia sendiri berusaha dengan keras untuk mendapatkannya, namun saat mendapatkannya ia malah men- sedekahkannya.
Kisah sedekah terbaik ini telah dicontohkan oleh Abu Bakar ketika ia mensedekahkan seluruh hartanya. Lalu Rasulullah bertanya, “Apa yang kau sediakan untuk keluargamu?”Abu Bakar menjawab, “Cukup Allah dan RasulNya. ”
Kisah serupa juga terjadi ketika ada tiga orang yang terluka dalam perang dan sama-sama membutuhkan air. Namun ketika pertolongan dan air datang setiap orang malah menyarankan agar air itu diberikan kepada saudaranya yang lain yang membutuhkan. Dan akhirnya ketiganya kemudian syahid.
Dan ketiga adalah kisah sepasang suami istri yang menjamu tamu Rasulullah saw. Padahal keluarga mereka sendiri sedang membutuhkan makanan itu. Bagaimana dengan dirimu sahabatku, tidakkah kau ingin dikagumi oleh Allah karena kau mensedekahkan yang sebenarnya kau butuhkan.
Wallahu a’lam
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
Hikmah Ramadhan
May 04, 2013
Oleh Makmun Nawawi
posted by @Adimin
Terlena dengan Kekayaan
Written By @Adimin on 04 May, 2013 | May 04, 2013
Abdullah bin Ma’lam bertutur: “Ketika kami berhaji dan keluar dari
Madinah, tiba-tiba kami bersua dengan seseorang dari suku Bani Hasyim
dari Bani Abbas bin Abdul Muthallib. Ia menolak dunia dan fokus
sepenuhnya untuk akhirat. Kemudian aku dan ia disatukan dalam suatu
perjalanan, dan aku merasa nyaman bersamanya.”
Abdullah menyapanya. “Apakah Anda bisa naik kendaraan bersama saya? Kebetulan saya ada tempat lebih.” Orang itu pun menjawab; “jazakallah khaira” (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan) pada saya.”
Setelah merasa nyaman bersama saya, ia bercerita. “Saya adalah keturunan dari Bani Abbas. Dulu saya tinggal di Basrah, mempunyai kemuliaan, kenikmatan, kekayaan yang melimpah, dan kemewahan hidup.''
Ia melanjutkan, ''Suatu hari saya menyuruh pelayan agar mengisi kasur dan bantal dengan bahan sutera, yang dihiasi pula dengan taburan bunga mawar. Pelayan pun melakukan apa yang kutitahkan,” ujarnya.
“Begitu saya hendak tidur, ternyata ada cerocok bunga mawar yang tertinggal karena pelayan lupa merapikannya. Saya pun menderanya dengan sejumlah pukulan. Setelah cerocok itu dikeluarkan dari bantal, saya balik lagi ke tempat tidur.”
“Dalam tidur, saya bermimpi didatangi seseorang yang buruk rupa, seraya berkata; ‘Sadarlah dari pingsanmu, dan bangkitlah dari tidur lelapmu.’
Lantas dia menembangkan puisi: “Hai teman spesial, kini kau berbantalkan yang halus dan empuk. Namun setelah ini, kau beralaskan batu cadas yang keras. Maka bentangkan amal saleh untuk dirimu, sehingga kau bahagia. Jika tidak, esok engkau akan menyesal.”
“Kemudian aku bangun dan terjaga, dengan dihantui kecemasan. Lalu aku keluar saat itu juga, dan lari menuju Rabb-ku.”
Medium atau sebab untuk meraih kesadaran dan pertobatan memang amat beragam. Misalnya, seseorang baru sadar jika ditimpa penyakit akut lalu sembuh, mengalami kecelakaan maut lantas selamat, bertemu dengan seseorang yang piawai dalam menyentuh tali jiwanya, karena perjalanan usia, atau lantaran mimpi— seperti tersimbul dari narasi di atas.
Terkadang, sebab itu datang sendiri menyelinap ke dalam hati seseorang yang dikehendaki Allah. (QS al-Qashash: 56). Maka berbahagialah mereka yang bisa mereguk kesadaran ini sebelum ajal tiba.
Memunculkan kesadaran akan Allah dan akhirat, hakikatnya memang hak prerogatif Allah. Di samping ia juga merupakan medan mujahadah seseorang. Beragam ujian seringkali menjadi dinding tebal untuk sampai kepadanya.
Selain kemiskinan, kekayaan juga merupakan perangkap yang kerap meninabobokan seseorang sehingga mereka terlena dalam kemaksiatan.
Ketika banyak orang dan tokoh high class terperosok dalam jurang kemaksiatan, seraya melupakan Allah dan Hari Akhir— seperti ramai diberitakan,—gambaran di atas mengajarkan hal penting.
Bagaimana keturunan Bani Hasyim yang berada dalam gemerlapnya kekayaan ini telah mengambil keputusan yang amat menentukan perjalanan hidupnya.
Hal ini jelas tak mudah, karena orang yang tidur itu tak sadar jika dirinya bermimpi, kecuali sudah bangun. Demikian pula orang yang lalai terhadap akhirat; ia tidak menyadari akan apa yang sudah disia-siakan kecuali setelah kematian menjemputnya.
Abdullah menyapanya. “Apakah Anda bisa naik kendaraan bersama saya? Kebetulan saya ada tempat lebih.” Orang itu pun menjawab; “jazakallah khaira” (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan) pada saya.”
Setelah merasa nyaman bersama saya, ia bercerita. “Saya adalah keturunan dari Bani Abbas. Dulu saya tinggal di Basrah, mempunyai kemuliaan, kenikmatan, kekayaan yang melimpah, dan kemewahan hidup.''
Ia melanjutkan, ''Suatu hari saya menyuruh pelayan agar mengisi kasur dan bantal dengan bahan sutera, yang dihiasi pula dengan taburan bunga mawar. Pelayan pun melakukan apa yang kutitahkan,” ujarnya.
“Begitu saya hendak tidur, ternyata ada cerocok bunga mawar yang tertinggal karena pelayan lupa merapikannya. Saya pun menderanya dengan sejumlah pukulan. Setelah cerocok itu dikeluarkan dari bantal, saya balik lagi ke tempat tidur.”
“Dalam tidur, saya bermimpi didatangi seseorang yang buruk rupa, seraya berkata; ‘Sadarlah dari pingsanmu, dan bangkitlah dari tidur lelapmu.’
Lantas dia menembangkan puisi: “Hai teman spesial, kini kau berbantalkan yang halus dan empuk. Namun setelah ini, kau beralaskan batu cadas yang keras. Maka bentangkan amal saleh untuk dirimu, sehingga kau bahagia. Jika tidak, esok engkau akan menyesal.”
“Kemudian aku bangun dan terjaga, dengan dihantui kecemasan. Lalu aku keluar saat itu juga, dan lari menuju Rabb-ku.”
Medium atau sebab untuk meraih kesadaran dan pertobatan memang amat beragam. Misalnya, seseorang baru sadar jika ditimpa penyakit akut lalu sembuh, mengalami kecelakaan maut lantas selamat, bertemu dengan seseorang yang piawai dalam menyentuh tali jiwanya, karena perjalanan usia, atau lantaran mimpi— seperti tersimbul dari narasi di atas.
Terkadang, sebab itu datang sendiri menyelinap ke dalam hati seseorang yang dikehendaki Allah. (QS al-Qashash: 56). Maka berbahagialah mereka yang bisa mereguk kesadaran ini sebelum ajal tiba.
Memunculkan kesadaran akan Allah dan akhirat, hakikatnya memang hak prerogatif Allah. Di samping ia juga merupakan medan mujahadah seseorang. Beragam ujian seringkali menjadi dinding tebal untuk sampai kepadanya.
Selain kemiskinan, kekayaan juga merupakan perangkap yang kerap meninabobokan seseorang sehingga mereka terlena dalam kemaksiatan.
Ketika banyak orang dan tokoh high class terperosok dalam jurang kemaksiatan, seraya melupakan Allah dan Hari Akhir— seperti ramai diberitakan,—gambaran di atas mengajarkan hal penting.
Bagaimana keturunan Bani Hasyim yang berada dalam gemerlapnya kekayaan ini telah mengambil keputusan yang amat menentukan perjalanan hidupnya.
Hal ini jelas tak mudah, karena orang yang tidur itu tak sadar jika dirinya bermimpi, kecuali sudah bangun. Demikian pula orang yang lalai terhadap akhirat; ia tidak menyadari akan apa yang sudah disia-siakan kecuali setelah kematian menjemputnya.
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
Hikmah Ramadhan



