Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label AQIDAH. Show all posts
Showing posts with label AQIDAH. Show all posts
June 28, 2013
Memang pemerintahan kita belum sepenuhnya bisa mengaplikasikan hukum-hukum ilahiah secara kaffah, tetapi marilah kita duduk bersama membenahi pemerintahan tersebut secara bertahap, tidak mudah untuk merubah sesuatu yang sudah mapan, namun paling tidak kita sudah bisa sedikit berbangga dengan mulai dimasukkannya beberapa syariat Islam didalam hukum-hukum kenegaraan di Indonesia, misalnya mulai dari hukum perkawinan Islam kedalam UU perkawinan negara yang meskipun sempat menuai pro dan kontra pada masa lalu tetapi toh berhasil di-gol kan, atau dengan diakuinya serta dibebaskannya pemberlakuan hukum-hukum Islam untuk wilayah NAD, begitupula rancangan anti porno aksi dan pornografi yang cepat atau lambat segera pula disyahkan ditengah gelombang pro dan kontranya dan sebagainya.
Negara ini masih sangat perlu untuk ditata dan diperbaiki, dan sesuai semboyan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) : Harapan itu masih ada.
Oleh : AS
posted by @Adimin
Islam Kaffah 2 (an Unlimited System)
Written By Sjam Deddy on 28 June, 2013 | June 28, 2013
ISLAM KAFFAH 2
(an Unlimited System)
Tulisan ini merupakan sambungan terpisah dari tulisan sebelumnya tentang Islam Kaffah. Sejak awal
kelahirannya didunia, manusia sudah dibekali dengan dua sifat dasar
alamiahnya. Keduanya adalah sifat Fujuroha (negatif) dan sifat Taqwa
(positip).
Sebagaimana ini telah difirmankan oleh Allah dalam al-Qur’an surah Asy-Syams ayat 7 dan 8 :
Wa nafsin wama sawwaha, fa alhamaha fujuroha wa taqwaha
Dan Nafs serta penyempurnaannya, dilhamkan kepadanya kefasikan serta ketakwaan…
Kedua sifat
inilah yang pada perjalanan hidup manusia kedepannya akan saling
tarik-menarik didalam dirinya, berebut untuk menjadi unggul dan
mendominasi tingkah laku sehari-hari. Kerasnya persaingan antara sifat
Taqwa dan sifat Fujuroha menciptakan sebuah kondisi yang membentuk
kepribadian seseorang sehingga kadang ia terlihat berubah-ubah.
Tergantung dari situasi dan kondisi.
Sifat Taqwa
menjadi unsur kekuatan internal yang dapat mengerucutkan nafsu yang
dipengaruhi oleh sifat Fujuroha agar tidak melanggar batas dan
menyeleweng dari kebenaran. Aplikasi dari keunggulan sifat Taqwa ini
sendiri menurut saya adalah sikap yang tidak mudah berputus asa terhadap
sebuah kegagalan usaha dan tidak terlalu merasa gembira pula dengan apa
yang sudah ia peroleh. Sebagaimana ini dipesankan oleh Al-Qur’an surah
Al-Hadid ayat 23 :
Jangan
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan engkau
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Artinya
manusia harus menghadapi dunia ini dengan cara yang sangat wajar, tidak
tertindas oleh ketidakpunyaan, kerugian, kesengsaraan, kebodohan,
kepincangan berpikir dan sebaliknya tidak larut pula dengan kegemilangan
keberuntungan, prestasi, penghargaan, keberhasilan dan lain sebagainya
dalam bentuk yang melebihi ikatan alamiah sehingga sang manusia dapat
menghadapi berbagai fenomena yang terjadi secara wajar dan sederhana.
Sesungguhnya
sifat Fujuroha yang mendominasi jiwa manusia dapat membuatnya justru
menjadi lupa diri dan bertingkah seolah dia adalah Tuhan yang bisa
berbuat semau-maunya, bisa bertingkah seenaknya saja dengan semua apa
yang ia miliki dari kekayaan, pengaruh atau jabatan yang ia miliki. Dari
sini akan menjalar sikap tamak terhadap dunia dan anti-pati terhadap
kebenaran yang disampaikan oleh orang lain diluarnya.
Betapapun
kaya rayanya diri kita, tetapi bila sikap Fujuroha yang unggul pada kita
maka semuanya hanya akan mendatangkan ketidakpuasan. Begitu kita bisa
memenuhi suatu kebutuhan, pasti akan muncul kebutuhan yang lain, yang
mungkin akan semakin mengobarkan nafsu dan keinginan kita sehingga kita
tidak mungkin lagi mendapatkan ketenangan, merasakan kebahagiaan dan
kepuasan. Kita senantiasa tertindas oleh keinginan untuk memiliki
sesuatu yang dimiliki oleh orang lain tidak perduli bahkan apa yang kita
sudah punyai justru terkadang lebih baik dan mahal darinya.
Inilah
pertempuran diri yang tidak semua kita bisa melewatinya dengan
kemenangan ditangan, bahkan tidak juga seorang ustadz dan ustadzah serta
kyiai kondang atau pengajar al-Qur’an disebuah surau yang terletak
dipedalaman. Tidak pula selalu berhasil dimenangkan oleh para
cendikiawan dan tokoh nasional. Inilah Jihad al-Nafs yang harus dihadapi
dengan semua akal sehat dan kebulatan tekad untuk menjadi bisa tanpa
harus mengebiri atau memasung fitrah-fitrah insaniah kita yang lain.
Jihad al-Nafs adalah jihad terakbar dari jihad apapun diluarnya, sebab
memang semua cabang-cabang jihad lainnya itu bersumber dari hasil jihad
al-Nafs ini.
Islam
melarang umatnya untuk bersifat pasif, menutup dirinya dari unsur-unsur
kehidupan dunia yang gemerlap dan penuh keindahannya. Islam tidak
mengajarkan pengikutnya untuk menenggelamkan diri dalam siksaan
kefitrahannya demi mencapai pendekatan maupun pelayanan kepada Tuhannya.
Oleh karena itu didalam Islam tidak ada konsep kerahiban, tidak ada
biara-biara ditengah hutan yang ditinggali oleh ahli agama yang menolak
kawin dan menyepi berselimutkan pepohonan dan suara alam yang stagnan.
Islam tidak
pula berprinsip seperti komunitas hedonis yang menganggap diri punya hak
penuh tanpa batas untuk menikmati kesenangan dan kenikmatan hidup.
Mereguk apa yang ingin ia reguk dan melepaskan seluruh keinginannya
dijalan mana saja yang ingin dia lalui. Islam justru tidak menyukai
konsep hidup yang sebebas-bebasnya tanpa ada ikatan yang mengatur hak
dan tanggung jawab seseorang atas pilihan hidupnya.
Bagi Islam,
hidup ini suci, peperangan antara Fujuroha dan Taqwahapun adalah perang
yang suci. Manusia dimata Islam harus hidup dengan dua sisi yang penuh
keseimbangan. Bisa memisahkan apa yang harus ia ambil dan mana-mana yang
harus ia tinggalkan. Kesadarannya terbuka bebas dan tidak tercekik oleh
berbagai larangan tetapi tidak pula hancur dibawah kaki naluri
keserbabolehan.
Islam
memperbolehkan manusia untuk memenuhi keinginannya agar memperoleh
sesuatu yang memang ia dambakan selama itu tidak melakukan kejahatan
atas tubuh, akal dan kehidupan dirinya atau kehidupan orang lain.
Dengan kata lain, Islam merupakan hak dan tanggung jawab.
Jadi apapun yang kita perbuat, baik berkorelasi secara langsung maupun tidak terhadap agama dan keyakinan yang kita anut semuanya tetap terkontrol dibawah nash-nash ilahiah yang mengikat.
Jadi apapun yang kita perbuat, baik berkorelasi secara langsung maupun tidak terhadap agama dan keyakinan yang kita anut semuanya tetap terkontrol dibawah nash-nash ilahiah yang mengikat.
Itulah Kaffah.
Semua gerak
langkah kita, tidur dan jaga kita, lisan maupun batin kita, berumah
tangga sampai berorganisasi, berekonomi maupun berpolitik, berpendidikan
maupun berkarya harus secara Islam. Tidak ada bantahan yang mampu
menghancurkan sistem yang saling terintegrasi ini.
Salah
seorang Ahli Bait Nabi yaitu Imam Ja’far Ash-Shadiq pernah berkata :
“Sesungguhnya Allah tidak memberikan suatu kenikmatan atas seseorang
hamba kecuali didalam kenikmatan itu disertakan-Nya argumentasi yang
jelas. Sehingga barangsiapa yang memperoleh anugerah Allah lalu dirinya
menjadi kuat, maka argumentasi logis dari nikmat kekuatan yang
diterimanya tersebut harus digunakan untuk membantu yang lebih lemah.
Barangsiapa yang dianugerahi oleh Allah menjadi kaya, maka hartanya
harus menjadi bukti atas anugerah tersebut yakni dengan melaksanakan
kewajiban-kewajiban kepada kaum fakir miskin”.
Pendek kata, semua tarikan nafas dalam kehidupan ini semuanya terikat dengan garis Allah. Baik kita suka atau tidak suka.
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am [6] :162)
Tidak dapat
dipungkiri kalau banyak manusia berlaku ingkar terhadap hak dan
kewajibannya itu. Ini akibat terlalu mendominasinya sifat Fujuroha
didalam dirinya sehingga ia terus berada diluar jalur kebenaran. Maka
menjadi tugas orang-orang yang tingkat Taqwanya sedikit lebih diatas
dari sifat Fujurohanya untuk membimbing, menyelaraskan dan mengembalikan
nilai-nilai ilahiah dalam tatanan kehidupan. Seorang Muslim yang baik
harus mampu berperan menjadi Avatar bagi dunia sekitarnya yang sudah
kacau balau. Tidak ada kata terlambat, karena harapan itu masih ada.
Kita masih bisa berbuat banyak dan lebih dengan apa yang kita miliki, mulai dari ilmu, pikiran, tulisan, tenaga maupun doa.
Biarlah
setiap kita menjadi Avatar dengan kemampuannya masing-masing asalkan
semua kemampuan ini bisa saling bersinergi satu dengan yang lain.
Manusia adalah pencipta perubahan. Penderitaan maupun kesenangan yang
dialami manusia, muncul dari perbuatan-perbuatan sadar yang dilakukan
oleh manusia, baik individual atau komunal. Manusia sendirilah yang
menciptakan sedih dan bahagianya melalui penciptaan sebab-sebabnya dalam
kehidupan, dari kehendak dan pilihan yang telah diperbuat.
Oleh karena
setiap dari kita tidaklah bisa hidup sendirian tanpa bergantung pada
orang lain, maka Islampun mengatur aspek vertikal dan horizontal. Aspek
hamba terhadap Tuhannya serta hamba terhadap hamba-Nya. Inilah sebuah
system yang tidak berbatas dari Islam. Mengatur semua lini kehidupan,
lahir dan batin, perseorangan sampai bernegara.
Tidak ada
pemisahan antara kubu agama dengan kubu negara karena Islam adalah alam
semesta, Islam adalah kaitan antara hidup dan mati, tugas dan tanggung
jawab. Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah mahdhah yang melulu
berbicara soal akhirat dan upacara-upacara ritual ketuhanan yang
bersifat abstrak saja tapi Islam berbicara juga tentang dunia dan
kehidupan nyata yang dapat disentuh, dirasakan serta dilihat.
Sekali lagi, itu juga disebut Kaffah.
Langsung masuk kita pada konteks pembicaraan ideologi Islam dikehidupan masyarakat Islam, khususnya Indonesia.
Sebagian orang menggambarkan ideologi Islam akan terealisasikan dialam
realita jika berdiri seorang pemimpin, raja, khalifah, presiden, amir,
imam atau terserahlah apa saja jabatan itu anda namakan yang menjadikan
Islam sebagai dasar kehidupan berbangsa.
Dengan
kekuasaannya, sang pemimpin tadi digambarkan akan dapat mengeluarkan
dekrit, undang-undang, keppres, sabda panditoratu dan lain sebagainya
demi terwujudnya ideologi Islam yang diharapkan.
Gambaran ini
tidak salah dan juga tidak terlalu muluk-muluk, apalagi jika kita
berbicara dalam pentas negara Indonesia yang konon mayoritas
masyarakatnya Muslim.
Tetapi kita
sering melalaikan realita penting pada aspek pendefenisian dari ideologi
atau masyarakat Islam itu sendiri, apa dan bagaimana maksudnya ? juga
kita melalaikan aspek kadar kerusakan yang sudah ditimbulkan oleh kaum
kapitalis ditengah masyarakat yang majemuk ini. Belum lagi kelalaian
kita terhadap kemampuan dan kemauan sang raja, presiden atau pemimpin
yang sudah kita pilih tadi untuk tetap istiqomah serta sanggup
melakukannya.
Saya yakin, banyak yang bosan, mual atau muak dengan kalimat proses, bertahap atau periodeisasi.
Bisa dimaklumi, namun kita tetap harus berpijak pada kenyataan yang
berlaku didepan mata kita bukan berpijak pada egoisme diri yang penuh
mimpi dan jauh dari realitas.
Pemimpin
yang baik dalam kacamata Islam, bukan hanya orang yang sekedar
mencanangkan teori kembali pada al-Qur’an dan sunnah semata, atau orang
yang merayakan hari-hari besar agamanya, menyerukan toleransi antar umat
beragama. Namun seorang pemimpin harusnya juga bisa menganjurkan orang
Islam untuk mendirikan sholat, menunaikan dzakat, berpuasa dibulan
Ramadhan serta memberikan hukuman bagi yang meninggalkannya. Seorang
pemimpin harus pula mampu menjadi imam didalam sholat yang ia ikuti,
aktive dalam menjaga kemurnian akidah dan moralitas umat serta
bangsanya.
Bukan malah
pemimpin yang membiarkan adanya acara-acara saweran dangdutan,
iklan-iklan dengan gadis berpakaian minim, lagu-lagu dengan irama, lirik
dan vokal penuh birahi, kontes ratu sejagad, miss universe atau
legalisasi penerbitan majalah porno ala playboy dan kawan-kawannya yang
secara nyata-nyata merusak akhlak generasi muda bangsa terlebih umat
Islam yang memegang teguh prinsip al-Qur’an.
Memang pemerintahan kita belum sepenuhnya bisa mengaplikasikan hukum-hukum ilahiah secara kaffah, tetapi marilah kita duduk bersama membenahi pemerintahan tersebut secara bertahap, tidak mudah untuk merubah sesuatu yang sudah mapan, namun paling tidak kita sudah bisa sedikit berbangga dengan mulai dimasukkannya beberapa syariat Islam didalam hukum-hukum kenegaraan di Indonesia, misalnya mulai dari hukum perkawinan Islam kedalam UU perkawinan negara yang meskipun sempat menuai pro dan kontra pada masa lalu tetapi toh berhasil di-gol kan, atau dengan diakuinya serta dibebaskannya pemberlakuan hukum-hukum Islam untuk wilayah NAD, begitupula rancangan anti porno aksi dan pornografi yang cepat atau lambat segera pula disyahkan ditengah gelombang pro dan kontranya dan sebagainya.
Dalam
merubah paradigma serta tabiat jahat bin jahiliah dari manusia, pasti
diperlukan waktu yang tidak singkat, even seorang Rasul sekelas Nabi
Muhammad pun membutuhkan rentang waktu lebih dari angka 20 tahunan
ditambah oleh tahun-tahun kepemimpinan dimasa Umar bin Khatab untuk
membentuk sebuah masyarakat yang madani sesuai peraturan ilahiah. Dan
kita, mungkin perlu dua kali atau tiga kalinya dari masa-masa tersebut.
Saya hanya
menyeru, mari kita contoh pula bagaimana sikap Imam Hasan bin Ali
cucunda Rasul yang bersedia berdamai dengan pihak Muawiyah bin Abu
Sofyan yang meminta paksa kekuasaan khilafah dari diri Ahli Bait Rasul
selama keselamatan dan hak-hak kaum Muslimin terjaga meski masih dalam
batas-batas tertentu. Akan ada saatnya kelak kita mencontoh sikap Imam
Husien bin Ali yang juga cucunda Rasul ketika mengangkat senjata untuk
memerangi kemungkaran dari pemerintahan Yazid bin Muawiyah meski tubuh
harus berkalang tanah.
Tetapi
selama kita masih bisa menggunakan jalan-jalan damai, cara-cara yang
arif untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, maka mari kita tempuh cara
itu, demi menghindari jatuhnya korban dari anak-anak, wanita dan
orang-orang kecil.
Negara ini masih sangat perlu untuk ditata dan diperbaiki, dan sesuai semboyan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) : Harapan itu masih ada.
Bagaimana caranya ?
Tidak ada jalan lain kecuali dengan masuk kedalam sistem dan ikut
memberikan perbaikan dari dalam no matter how hard to try and how long
it will be.
Just do it as long as we can do.
Just do it as long as we can do.
Faidza
‘Azzamta fa tawakkal ‘alallah. Jika kamu sudah berusaha, maka
serahkanlah pada Allah. Just do the best and leave the rest to Allah.
Pengeroposan
moral ditengah masyarakat yang seakan tidak lagi terbendung memerlukan
tangan-tangan dieksekutif untuk dapat menghentikannya, begitupula
aksi-aksi pemurtadan baik terselubung atau terang-terangan. Ini semua
harus diselesaikan satu persatu dan bukan hal yang mudah.
Halangan
pasti akan selalu ada, sebab ada banyak manusia dengan kecenderungan
sifat Fujurohanya yang pasti tidak akan senang dengan usaha-usaha
perbaikan ini. Taburan uang untuk dikorupsi pasti akan terus mengintai,
begitu pula tawaran paha mulus dada tak berbulu dari para pelacur
murahan akan senantiasa mencoba menggugah birahi-birahi keimanan
Taqwwaha. Tetapi sekali lagi, ini tidak menjadi alasan untuk mundur
kebelakang dan meninggalkan peradaban. Iman justru ada karena setan yang
menggoda. Itulah hidup yang mesti dilalui.
Imam Ali bin Abu Thalib berkata : ” Kesabaran itu ada dua macam : sabar atas sesuatu yang tidak kau ingini dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini. Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi, senangilah apa yang terjadi. Para ahli agama yang paling bijak adalah mereka yang tidak membuat orang berputus asa akan rahmat Allah atau kehilangan harapan akan santunan dan kasih sayang-Nya, tetapi juga tidak membuat orang terus menerus merasa aman dari pembalasan-Nya.” (Sumber : Mutiara Nahjul Balaghah, Hal 124 s/d 126, Mizan 1999)
Innal Hamdalillah
Nahmaduhu wanasta’inuh
Mayyahdillahu fala mudlilalah
Wamayyudlil fala hadiyalah
Segala Puji bagi Allah
Baik saya maupun anda semua sama-sama memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya
Siapa yang diberi-Nya petunjuk, maka tidak ada seorangpun yang kuasa menyesatkannya kembali
Dan siapa saja yang sudah diberi-Nya kesesatan, maka tiada seorang juga yang mampu memberi petunjuk kepadanya
Hidup memang
tidak mudah … baik hidup secara individu apalagi hidup secara
berkelompok atau berjemaah, demikian pula dalam menjalani hidup didalam
mahligai rumah tangga. Hidup tidak pernah berjalan tanpa masalah … baik
dalam skala kecil maupun besar.
Masing-masing
manusia, terlepas dari siapapun adanya dia, mulai dari manusia biasa,
awam, rakyat jelata hingga kepada para Nabi dan Rasul Tuhan terikat
dengan apa yang disebut sebagai kausalitas. Bahwa ada moment-moment
dimana dia terpaksa bersedih dan menitikkan air mata, adapula moment
dimana dia bisa tertawa lepas bahagia.
Konflik dan
kesepakatan juga menjadi bagian dari proses hidup dan kehidupan, tidak
ada manusia yang tidak pernah berkonflik didalam hidupnya dengan
siapapun termasuk dengan orang tua atau pasangannya masing-masing, entah
itu antar suami dengan istri atau antar dua pasang kekasih maupun
sahabat, begitupun semua dari kita pasti pernah bahkan sering melakukan
kompromi, bersepakat dengan orang lain, mulai dari hal yang paling kecil
sampai pada hal yang paling besar.
Semuanya
menandakan hidup kita berjalan dengan normal … berjalan sesuai aturan
yang sudah ditetapkan oleh Allah, menyetujui fitrah kemanusiawian kita.
If a wound hath touched you, be sure a similar wound hath touched the others. And such days WE cause to alternate among men that they may be admonished, and that ALLAH may cause to be distinguished those who believe and may take witnesses from among you; and ALLAH loves not the unjust – Qs. 3 ali Imron 140
Jika engkau mendapatkan keterlukaan (kekecewaan, kepedihan, kehancuran) maka ketahuilah bahwa hal yang samapun terjadi pada orang lain, karena hari-hari tersebut sudah Kami gilirkan diantara manusia untuk menjadi pembelajaran. Dengan sebab itulah Allah membedakan siapa diantara kalian yang benar-benar beriman dan membenarkan kesaksiannya, Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang berlaku zalim. – Qs. 3 ali Imron 140
Semakin tinggi tingkatan kemampuan
yang dimiliki oleh seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat
ujian keimanannya … kemampuan disini tentunya bisa menjadi sangat
beragam … jika sebelumnya dia hanya diuji dengan kemiskinan bisa saja
kelak dia akan diuji dengan kekayaan, bila sebelumnya dia diuji dengan
harta mungkin kelak dia akan diuji dengan wanita … bila sekarang diuji
dengan bahagia mungkin besok atau lusa akan mendapat ujian dengan
penderitaan…. saat ilmu seseorang (ilmu apa saja) meningkat kepada yang
lebih baik dari sebelumnya … maka ujian atas ketinggian ilmunya
tersebutpun akan jauh lebih tinggi pula dari sebelumnya …
Keberadaan berbagai ujian tersebut kiranya bukan tanpa maksud …
Ada hikmah
yang tersembunyi dari pergiliran siang dan malam, gagal dan berhasil,
susah dan senang, bahagia dan derita … yaitu sesuai isi dari surah ali
Imron ayat 140 diatas, agar semua itu bisa menjadi pembelajaran untuk
diri kita sendiri sekaligus membuktikan komitmen syahadat kita terhadap
Allah dan Rasul-Nya, apakah kita memang pantas untuk naik kelas ataukah
masih harus bertahan dikelasnya yang lama, yang berarti menurut Rasul
adalah kelasnya manusia yang merugi, yaitu mereka yang hari ini sama
seperti hari sebelumnya, hari esok sama seperti hari ini … yang lebih
jauh lagi menurut al-Qur’an adalah kelasnya orang-orang yang tidak
pandai dalam melakukan efisiensi waktu.
Demi Waktu … sesungguhnya manusia itu benar-benar ada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan melakukan amal shaleh serta saling menasehati agar selalu taat pada kebenaran dan berada dalam kesabaran – Qs. 103 al-Ashr 1 s/d 3
Hidup ini merupakan ibadah … dan karenanya kita tercipta.
Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. – Qs. 51 adz-DZaariyaat 56
Ibadah tidak
selalu bermakna ritual seperti sholat, haji dan berzakat … ibadah
mencakup semua aspek gerak maupun diamnya kita … hidup adalah berdzikir
…berdzikir baik secara lafash maupun tingkah laku … tugas kekhalifahan
manusia itu merupakan ibadah yang harus ditunaikan sebagai sebuah amanah
dari Allah … kita semua khalifah atas diri kita masing-masing …kitapun
bisa bertindak menjadi khalifah atas orang lain saat kita mendapat
kepercayaan memimpin sebuah komunitas, sebuah jemaah atau sebuah
organisasi maupun perusahaan.
Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawaban mengenai kepemimpinannya itu.; maka seorang pemimpin yang memimpin orang banyak adalah pemimpin yang diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya tersebut. Dan istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya, dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya itu. Dan anak adalah pemimpin pada harta yang ada dirumah bapaknya, dan ia bertanggung jawab atas penjagaannya itu; dan hamba sahaya adalah pemimpin dalam harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas penjagaannya itu. – Riwayat Bukhari-Muslim
Suka atau
tidak suka, rela atau terpaksa kita akan berhadapan dengan perbedaan,
kita akan berkonflik baik secara internal maupun eksternal.
Tidak semua
yang ada dan yang keluar dari diri kita bernilai benar dan harum, kita
bukan sosok malaikat yang bersifat statis, hanya mengerti mengenai
kebenaran saja … kita adalah perpaduan unik dari unsur-unsur al-Haq dan
Batil yang karenanya kitapun sewajarnya untuk mawas diri, berlaku bijak
atas berbagai persoalan yang ada.
Kita harus
adil sekalipun adil itu berat, melelahkan bahkan menjemukan … adil bukan
berarti harus sama persis antara satu dengan yang lain …. sebagai
misal, saya punya dua orang anak, yang besar lelaki berusia hampir 3
Tahun dan yang paling kecil wanita berusia 5 bulan … akan menjadi sebuah
perbuatan yang tidak adil bila saya membelikan keduanya susu yang sama …
sebab memang nutrisi dan kebutuhan kandungan yang mereka butuhkan
berbeda, anak saya yang laki-laki karena usianya lebih tua, aktivitasnya
lebih banyak dia membutuhkan asupan gizi dengan susu yang berlabel 3+
keatas …sementara adiknya karena masih bayi lebih memerlukan asupan susu
formula yang khusus untuk 1 tahun kebawah…. dan bila saya memberikan
keduanya sesuai kebutuhan mereka maka itulah adil.
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya -Qs. an-Nisa’ 4:135
Oleh : AS
posted by @Adimin
Label:
AQIDAH,
TOPIK PILIHAN
June 28, 2013
Oleh : AS
posted by @Adimin
Islam Kaffah
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. al-Baqarah 2:208)
Ayat diatas
merupakan seruan, perintah dan juga peringatan Allah yang ditujukan
khusus kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mengakui
Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan juga mengakui Muhammad selaku
nabi-Nya agar masuk kedalam agama Islam secara kaffah dan agar mau
melakukan intropeksi diri, sudahkah kita benar-benar beriman didalam
Islam secara kaffah ?
Allah
memerintahkan kepada kita agar melakukan penyerahan diri secara
sesungguhnya, lahir dan batin tanpa syarat hanya kepada-Nya tanpa
diembel-embeli hal-hal yang bisa menyebabkan ketergelinciran kedalam
kemusryikan.
Bagaimanakah jalan untuk mencapai Islam Kaffah itu sesungguhnya ?
al-Qur’an memberikan jawaban kepada kita :
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, padahal kamu mengerti.” (Qs. al-Anfaal 8:20)
Jadi Allah
telah menyediakan sarana kepada kita untuk mencapai Islam yang kaffah
adalah melalui ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya serta tidak
berpaling dari garis yang sudah ditetapkan.
Taat kepada
Allah dan Rasul ini memiliki aspek yang sangat luas, akan tetapi bila
kita mengkaji al-Qur’an secara lebih mendalam lagi, kita akan mendapati
satu intisari yang paling penting dari ketaatan terhadap Allah dan para
utusan-Nya, yaitu melakukan Tauhid secara benar.
Tauhid adalah pengesaan kepada Allah.
Bahwa kita mengakui Allah sebagai Tuhan
yang Maha Pencipta yang tidak memiliki serikat ataupun sekutu didalam
zat dan sifat-Nya sebagai satu-satunya tempat kita melakukan pengabdian,
penyerahan diri serta ketundukan secara lahir dan batin.
Seringkali
manusia lalai akan hal ini, mereka lebih banyak berlaku sombong,
berpikiran picik laksana Iblis, hanya menuntut haknya namun melupakan
kewajibannya. Tidak ubahnya dengan orang kaya yang ingin rumahnya aman
akan tetapi tidak pernah mau membayar uang untuk petugas keamanan.
Banyak manusia yang sudah melebihi Iblis.
Iblis tidak pernah menyekutukan Allah, dia
hanya berlaku sombong dengan ketidak patuhannya untuk menghormati Adam
selaku makhluk yang dijadikan dari dzat yang dianggapnya lebih rendah
dari dzat yang merupakan sumber penciptaan dirinya.
Manusia,
telah berani membuat Tuhan-tuhan lain sebagai tandingan Allah yang
mereka sembah dan beberapa diantaranya mereka jadikan sebagai mediator
untuk sampai kepada Allah. Ini adalah satu kesyirikan yang besar yang
telah dilakukan terhadap Allah.
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah, juga terhadap al-Masih putera Maryam; padahal mereka tidak diperintahkan melainkan agar menyembah Tuhan Yang Satu; yang tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. al-Bara’ah 9:31)“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, namun mereka berkata: “Mereka itu penolong-penolong kami pada sisi Allah !”. Katakanlah:”Apakah kamu mau menjelaskan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit-langit dan dibumi ?” ; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. Yunus 10:18)
Penyakit
syirik ini dapat mengenai dan menyertai siapa saja, tidak terkecuali
didalam orang-orang Islam yang mengaku bertauhid. Untuk itulah Allah
memberikan perintah internal kepada umat Muhammad ini agar sebelum
mereka melakukan Islamisasi kepada orang lain, dia harus terlebih dahulu
mengIslamkan dirinya secara keseluruhan alias Kaffah dengan jalan
mentaati apa-apa yang sudah digariskan dan dicontohkan oleh Rasul
Muhammad Saw sang Paraclete yang agung, Kalky Authar yang dijanjikan.
Bagaimana
orang Islam dapat melakukan satu kesyirikan kepada Allah, yaitu satu
perbuatan yang mustahil terjadi sebab dia senantiasa mentauhidkan Allah ?
Sejarah
mencatatkan kepada kita, berapa banyak orang-orang Muslim yang melakukan
pemujaan dan pengkeramatan terhadap sesuatu hal yang sama sekali tidak
ada dasar dan petunjuk yang diberikan oleh Nabi.
Dimulai dari
pemberian sesajen kepada lautan, pemandian keris, peramalan nasib,
pemakaian jimat, pengagungan kuburan, pengkeramatan terhadap seseorang
dan seterusnya dan selanjutnya. Inilah satu bentuk kesyirikan
terselubung yang terjadi didalam diri dan tubuh kaum Muslimin
kebanyakan.
Mereka lebih
takut kepada tokoh Roro Kidul ketimbang kepada Allah, mereka lebih
hormat kepada kyai/gus/ustadz ketimbang kepada Nabi. Mereka lebih menyukai membaca
serta mempercayai isi kitab-kitab primbon dan kitab-kitab para ulama
atau imam Mazhab tertentu ketimbang membaca dan mempercayai kitab Allah,
al-Qur’anul Karimdan Hadist Shahih.
Adakah orang-orang yang begini ini disebut sebagai Islam yang kaffah ?
Sudah benarkah cara mereka beriman kepada Allah ?
Saya yakin,
kita semua membaca al-Fatihah didalam Sholat, dan kita semua membaca
“Iyyaka na’budu waiyya kanasta’in” yang artinya “Hanya kepada Engkaulah
(ya Allah) kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami
memohon pertolongan”.
Ayat ini
berindikasikan penghambaan kita kepada Allah dan tidak memberikan sekutu
dalam bentuk apapun sebagaimana juga isi dari surah al-Ikhlash :
“Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun.” (Qs. al-Ikhlash 112:1-4)
Hanya
sayangnya, manusia terlalu banyak yang merasa angkuh, pongah dan sombong
yang hanyalah merupakan satu penutupan dari sifat kebodohan mereka
semata sehingga menimbulkan kezaliman-kezaliman, baik terhadap diri
sendiri dan juga berakibat kepada orang lain bahkan hingga kepada
lingkungan.
Untuk
mendapatkan kekayaan, kedudukan maupun kesaktian, tidak jarang seorang
Muslim pergi kedukun atau paranormal, memakai jimat, mengadakan satu
upacara ditempat-tempat tertentu pada malam-malam tertentu dan di-ikuti
pula dengan segala macam puasa-puasa tertentu pula yang tidak memiliki
tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.
Apakah mereka-mereka ini masih bisa disebut sebagai seorang Islam yang Kaffah ?
Dengan tindakan mereka seperti ini, secara
tidak langsung mereka sudah meniadakan kekuasaan Allah, mereka
menjadikan semuanya itu selaku Tuhan-tuhan yang berkuasa untuk
mengabulkan keinginan mereka.
“Dan sebagian manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman adalah amat sangat cintanya kepada Allah.” (Qs. Al-Baqarah 2:165)
Kepada
orang-orang seperti ini, apabila diberikan peringatan dan nasehat kepada
jalan yang lurus, mereka akan berubah menjadi seorang pembantah yang
paling keras.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (Qs. al-Kahf 18:54)
“Tidakkah engkau pikirkan orang-orang yang membantah tentang kekuasaan-kekuasaan Allah ? Bagaimana mereka bisa dipalingkan ?” (Qs. al-Mu’min 40:69)
Orang-orang
sekarang telah banyak yang salah pasang ayat, mereka katakan bahwa apa
yang mereka lakukan itu bukanlah suatu kesyirikan melainkan satu usaha
atau cara yang mesti ditempuh, sebab tanpa usaha Tuhan tidak akan
membantu. Memang benar sekali, tanpa ada tindakan aktif dari manusia,
maka tidak akan ada pula respon reaktif yang timbul sebagai satu bagian
dari hukum alam sebab-akibat. Akan tetapi, mestikah kita mengaburkan
akidah dengan dalil usaha ?
Anda ingin
kaya maka bekerja keras dan berhematlah semampu anda, anda ingin
mendapatkan penjagaan diri maka masukilah perguruan-perguruan beladiri
entah silat, karate, kempo, dan sebagainya. Anda ingin
pintar maka belajarlah yang rajin begitu seterusnya yang pada puncak
usaha itu haruslah dibarengi dengan doa kepada Allah selaku penyerahan
diri kepada sang Pencipta atas segala ketentuan-Nya, baik itu untuk
ketentuan yang bagus maupun ketentuan yang tidak bagus.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah 2:216)
“Yang demikian itu adalah nasehat yang diberikan terhadap orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, karena barang siapa berbakti kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan bagi mereka satu pemecahan; dan Allah akan mengaruniakan kepadanya dari jalan yang tidak ia sangka-sangka; sebab barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadi pencukupnya. Sesungguhnya Allah itu pelulus urusan-Nya, sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap sesuatu.” (Qs. at-Thalaq 65:2-3)
Bukankah hampir semua dari kita senantiasa hapal dan membaca ayat dibawah ini dalam doa iftitahnya ?
“Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan sekalian makhluk, tiada serikat bagi-Nya, karena begitulah aku diperintahkan.” (Qs. al-An’aam 6:162-163)
Anda
membutuhkan perlindungan dari segala macam ilmu-ilmu jahat, membutuhkan
perlindungan dari orang-orang yang bermaksud mengadakan rencana yang
jahat dan keji, maka berimanlah anda secara sungguh-sungguh kepada Allah
dan Rasul-Nya, InsyaAllah, apabila anda benar-benar Kaffah didalam
Islam, Allah akan menepati janji-Nya untuk memberikan Rahmat-Nya kepada
kita.
“Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Qs. Ali Imran 3:132)
Rahmat Allah
itu tidak terbatas, Rahmat bisa merupakan satu perlindungan, satu
pengampunan, Kasih sayang dan juga bisa berupa keridhoan yang telah
diberikan-Nya kepada kita.
Apakah anda tidak senang apabila Tuhan meridhoi anda ?
Seorang anak saja, apabila dia telah
mendapatkan restu dan ridho dari kedua orangtuanya, anak tersebut akan
memiliki ketenangan dan penuh suka cita didalam melangkah, apakah lagi
ini yang didapatkan adalah keridhoan dari Ilahi, Tuhan yang menciptakan
seluruh makhluk, yang berkuasa atas segala sesuatu ?
Jika Allah
ridho kepada kita, maka percayalah Allah akan membatalkan dan
mengalahkan musuh-musuh kita. Maka dari itu berkepribadian Kaffah-lah
didalam Islam, berimanlah secara tulus dan penuh kesucian akidah. Dalam
kajian lintas kitab, kita akan mendapati fatwa dari ‘Isa al-Masih kepada
para sahabatnya mengenai kekuatan Iman :
Terjemahan Resmi: Baru: Matius: 17
17:19 Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?”
17:20 Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
al-Qur’an pun memberikan gambaran :
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. 2 al-Baqarah: 186)
Kita lihat,
Allah akan mendengar doa kita, Dia akan memberikan Rahmat-Nya kepada
kita dengan syarat bahwa terlebih dahulu kita harus mendengarkan dan
percaya kepada-Nya, mendengar dalam artian mentaati seluruh perintah
yang telah diberikan oleh Allah melalui para Nabi dan Rasul-Nya,
khususnya kepada Rasul Muhammad Saw selaku Nabi terakhir yang universal.
Tidak perlu
anda mendatangi tempat-tempat keramat untuk melakukan tapa-semedi,
berpuasa sekian hari atau sekian malam lamanya dengan berpantang makan
ini dan makan itu atau juga menyimpan, menggantung jimat sebagai penolak
bala, pemanis muka, atau sebagai aji wibawa.
Ambillah
al-Qur’an, bacalah dan pelajarilah, amalkan isinya … maka dia akan
menjadi satu jimat yang sangat besar sekali yang mampu membawa anda
tidak hanya lepas dari derita dunia yang bersifat temporary, namun juga
derita akhirat yang bersifat long and abide.
Yakinlah,
bahwa sekali anda mengucapkan kalimah “Laa ilaaha illallaah” (Tiada
Tuhan Selain Allah), maka patrikan didalam hati dan jiwa anda, bahwa
jangankan ilmu-ilmu jahat, guna-guna, santet, Jin, Iblis apalagi manusia
dengan segenap kemampuannya, Tuhan-pun tidak ada.
Kenapa demikian ?
Sebab dunia ini telah dibuat terlalu banyak
memiliki Tuhan-tuhan, semua berhala-berhala yang disembah oleh manusia
dengan beragam caranya itu tetap dipanggil Tuhan oleh mereka, entah itu
Tuhan Trimurti, Tuhan Tritunggal, Tuhan anak, Tuhan Bapa, Tuhan Budha
dan seterusnya.
Manusiapun
sudah menjadikan harta, istri dan anak-anak sebagai Tuhan, menjadikan
para ulama sebagai Tuhan, menjadikan perawi Hadis sebagai Tuhan,
menjadikan keluarga Nabi sebagai Tuhan dan seterusnya.
Karena itu
Tauhid yang murni adalah Tauhid yang benar-benar meniadakan, menafikan
segala macam jenis bentuk ketuhanan yang ada, untuk kemudian disusuli
dengan keberimanan, di-ikuti dengan keyakinan, mengisi kekosongan tadi
dengan satu keberadaan, bahwa yang ada dan kita akui hanyalah Tuhan yang
satu, tanpa berserikat dan esa dalam berbagai penafsiran.
Itulah
intisari dari Iman didalam Islam, intisari seluruh ajaran dan fatwa para
Nabi terdahulu, dimulai dari Nuh, Ibrahim terus kepada Ismail, Ishak,
Ya’kub, Musa hingga kepada ‘Isa al-Masih dan berakhir pada Muhammad Saw.
Itulah
senjata mereka, itulah jimat yang mereka pergunakan didalam menghadapi
segala jenis kebatilan, segala macam kedurjanaan yang tidak hanya datang
dari manusia namun juga datang dari syaithan yang terkutuk.
Dalam salah satu Hadits Qudsi-Nya, Allah berfirman : “Kalimat Laa ilaaha illallaah adalah benteng pertahanan-Ku; dan barangsiapa yang memasuki benteng-Ku, maka ia aman dari siksaan-Ku.” (Riwayat Abu Na’im, Ibnu Hajar dan Ibnu Asakir dari Ali bin Abu Thalib r.a.)
Nabi Muhammad Saw juga bersabda :
“Aku sungguh mengetahui akan adanya satu kalimat yang tidak seorangpun hamba bilamana mengucapkannya dengan tulus keluar dari lubuk hatinya, lalu ia meninggal, akan haram baginya api neraka. Ucapan itu adalah : Laa ilaaha illallaah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Untuk itu,
marilah sama-sama kita memulai hidup Islam yang kaffah sebagaimana yang
sudah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, sekali kita bersyahadat
didalam Tauhid, maka apapun yang terjadi sampai maut menjemput akan
tetap Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang tiada memiliki anak dan
sekutu-sekutu didalam zat maupun sifat-Nya.
Cobalah anda ikrarkan : Apapun yang terjadi sampai saya mati akan tetap berpegang kepada Laa ilaaha illallaah.
Segera kita
tanggalkan segala bentuk kepercayaan terhadap hal-hal yang berbau
khurafat, kita ikuti puasa yang diajarkan oleh Islam, kita contoh
prilaku Nabi dalam keseharian, kita turunkan berbagai rajah dan
tulisan-tulisan maupun bungkusan-bungkusan hitam yang kita anggap
sebagai penolak bala atau juga pemanis diri yang mungkin kita dapatkan
dari para dukun, paranormal atau malah juga kyai.
Nabi Muhammad Saw bersabda : “Barangsiapa menggantungkan jimat penangkal pada tubuhnya, maka Allah tidak akan menyempurnakan kehendaknya.” (Hadist Riwayat Abu Daud dari Uqbah bin Amir)
“Ibnu Mas’ud berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, mantera-mantera, tangkal dan guna-guna adalah syirik.” (Hadist Riwayat Ahmad dan Abu Daud )
“Sa’id bin Jubir berkata: orang yang memotong atau memutuskan tangkal (jimat) dari manusia, adalah pahalanya bagaikan memerdekakan seorang budak.” (Diriwayatkan oleh Waki’)
Percayalah, Allah adalah penolong kita.
“Sesuatu bahaya tidak mengenai melainkan dengan idzin Allah.” (Qs. at-Taghabun 64:11)
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah ni’mat Allah kepadamu tatkala satu kaum hendak mengulurkan tangannya untuk mengganggu, lalu Allah menahan tangan mereka daripada (sampai) kepada kamu; dan berbaktilah kepada Allah; hanya kepada Allah sajalah hendaknya Mu’minin berserah diri.” (Qs. al-Maaidah 5:11)
Apabila
setelah kita melepaskan seluruh kebiasaan buruk tersebut kita
mendapatkan musibah, bukan berarti Allah berlepas tangan pada diri kita
dan kitapun bertambah mendewakan benda-benda, ilmu-ilmu yang pernah kita
miliki sebelumnya.
Akan tetapi
Allah benar-benar ingin membersihkan kita dari segala macam kemunafikan,
menyucikan akidah kita, hati dan pikiran kita sehingga benar-benar
berserah diri hanya kepada-Nya semata.
“Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah beriman”, padahal mereka belum diuji lagi ?” (Qs. al-Ankabut 29:2)
“Dan sebagian dari manusia ada yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, tetapi manakala ia diganggu dijalan Allah, maka ia menjadikan percobaan manusia itu seperti adzab dari Allah; dan jika datang pertolongan dari Tuhan-mu, mereka berkata: “Sungguh kami telah berada bersamamu.”; Padahal bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada-dada makhluk ?” (Qs. al-Ankabut 29:10)
“Dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan mengetahui orang-orang yang munafik.” (Qs. al-Ankabut 29:11)
Nabi juga bersabda : “Bilamana Allah senang kepada seseorang, senantiasa menimpakan cobaan baginya supaya didengar keluh kesahnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Bagaimana
bila sebagai satu konsekwensi dari usaha kembali kepada jalan Allah
tersebut kita gugur ? Jangan khawatir, Allah telah berjanji bagi
orang-orang yang sudah bertekad untuk kembali pada kebenaran :
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Qs.at-Taubah 9:20)
“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”. (Qs. ali Imran 3:195)
“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (Qs. an-Nisa’ 4:74)
Kembali
kejalan Allah adalah satu hijrah yang sangat berat, godaan dan gangguan
pasti datang menerpa kita dan disanalah kita dipesankan oleh Allah untuk
melakukan jihad, melakukan satu perjuangan, melibatkan diri dalam
konflik peperangan baik dengan harta maupun dengan jiwa (tentunya ini
tidak berlaku bagi mereka yang cuma melakukan teror dengan membunuh
diri).
Dengan harta
mungkin kita harus siap apabila mendadak jatuh miskin atau juga
melakukan kedermawanan dengan menyokong seluruh aktifitas kegiatan umat
Islam demi tegaknya panji-panji Allah; berjihad dengan jiwa artinya kita
harus mempersiapkan mental dan phisik dalam menghadapi segala
kemungkinan yang terjadi akibat ketidak senangan sekelompok orang atau
makhluk dengan hijrah yang telah kita lakukan ini.
Apakah anda
akan heran apabila pada waktu anda masih memegang jimat anda merupakan
orang yang kebal namun setelah jimat anda tanggalkan anda mendadak bisa
tergores oleh satu benturan kecil ditempat tidur ? Bagaimana anda
memandang keperkasaan seorang Nabi yang agung yang bahkan dalam
perperanganpun bisa terluka dan juga mengalami sakit sebagaimana manusia
normal ?
Percayalah,
berilmu tidaknya anda, berpusaka atau tidak, bertapa maupun tidaknya
anda bukan satu hal yang serius bagi Allah apabila Dia sudah menentukan
kehendak-Nya kepada kita.
“Berupa apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada satupun yang bisa menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Gagah, yang Bijaksana.” (Qs. Fathir 35:2)
Apabila
memang sudah waktunya bagi kita untuk mendapatkan musibah (baik itu
berupa maut dan lain sebagainya) maka dia tetap datang tanpa bisa kita
mundurkan atau juga kita majukan, tidak perduli anda punya ilmu, punya
jimat atau seberapa tinggi kedudukan sosial anda.
“Bagi tiap-tiap umat ada batas waktunya; maka apabila telah datang waktunya maka mereka tidak dapat meminta untuk diundurkan barang sesaatpun dan tidak dapat meminta agar dimajukan.” (Qs. al-A’raf 7:34)
“Masing-masing Kami tolong mereka ini dan mereka itu, sebab tidaklah pemberian Tuhanmu itu terhalang.” (Qs. al-Israa 17:20)
Demikianlah, semoga kita semua bisa mendapatkan hikmah dari tulisan ini.
Oleh : AS
posted by @Adimin
Label:
AQIDAH,
TOPIK PILIHAN
May 07, 2013
posted by @Adimin
Tawakal, Kunci Keberhasilan
Written By @Adimin on 07 May, 2013 | May 07, 2013
Banyak orang yang salah memahami dan menempatkan arti tawakal yang sesungguhnya. Sehingga tatkala kita mengingatkan mereka tentang pentingnya tawakal yang benar dalam kehidupan manusia, tidak jarang ada yang menanggapinya dengan ucapan: “Iya, tapi kan bukan cuma tawakal yng harus diperbaiki, usaha yang maksimal juga harus terus dilakukan!”.
Ucapan di atas sepintas tidak salah, akan tetapi kalau kita amati dengan seksama, kita akan dapati bahwa ucapan tersebut menunjukkan kesalahpahaman banyak orang tentang makna dan kedudukan yang sesungguhnya. Karena ucapan di atas terkesan memisahakan antara tawakal dan usaha. Padahal, menurut penjelasan para ulama, tawakal adalah bagian dari usaha, bahkan usaha yang paling utama untuk meraih keberhasilan.
Salah seorang ulama salaf berkata: “Cukuplah bagimu untuk melakukan tawassul (sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri) kepada Allah adalah dengan Dia mengetahui (adanya) tawakal yang benar kepada-Nya dalam hatimu, berapa banyak hamba-Nya yang memasrahkan urusannya kepada-Nya, maka Diapun mencukupi (semua) keperluan hamba tersebut”1.
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:).
Artinya, barangsiapa yang percaya kepada Allah dalam menyerahkan (semua) urusan kepada-Nya maka Dia akan mencukupi (segala) keperluannya.
Maka tawakal yang benar, merupakan sebab utama berhasilnya usaha seorang hamba, baik dalam urusan dunia maupun agama, bahkan sebab kemudahan dari Allah Ta’ala bagi hamba tersebut untuk meraih segala kebaikan dan perlindungan dari segala keburukan.
Coba renungkan kemuliaan besar ini yang terungkap dalam makna sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Barangsiapa yang ketika keluar rumah membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”.
Artinya, diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan lurus, diberi kecukupan dalam semua urusan dunia dan akhirat, serta dijaga dan dilindungi dari segala keburukan dan kejelekan, dari setan atau yang lainnya.
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tawakkal kepada Allah adalah termasuk sebab yang paling kuat untuk melindungi diri seorang hamba dari gangguan, kezhaliman dan permusuhan orang lain yang tidak mampu dihadapinya sendiri. Allah akan memberikan kecukupan kepada orang yang bertawakkal kepada-Nya. Barangsiapa yang telah diberi kecukupan dan dijaga oleh Allah Ta’ala maka tidak ada harapan bagi musuh-musuhnya untuk bisa mencelakakannya. Bahkan dia tidak akan ditimpa kesusahan kecuali sesuatu yang mesti (dirasakan oleh semua makhluk), seperti panas, dingin, lapar dan dahaga. Adapun gangguan yang diinginkan musuhnya maka selamanya tidak akan menimpanya. Maka (jelas sekali) perbedaan antara gangguan yang secara kasat mata menyakitinya, meskipun pada hakikatnya merupakan kebaikan baginya (untuk menghapuskan dosa-dosanya) dan untuk menundukkan nafsunya, dan gangguan (dari musuh-musuhnya) yang dihilangkan darinya”5.
Tidak terkecuali dalam hal ini, usaha untuk mencari rezki yang halal dan berkah. Seorang hamba yang beriman kepada Allah Ta’ala, dalam usahanya mencari rezki, tentu dia tidak hanya mentargetkan jumlah keuntungan yang besar dan berlipat ganda, tapi lebih dari itu, keberkahan dari rezki tersebut untuk memudahkannya memanfaatkan rezki tersebut di jalan yang benar. Dan semua ini hanya bisa dicapai dengan taufik dan kemudahan dari Allah Ta’ala. Maka tentu ini semua tidak mungkin terwujud tanpa adanya tawakal yang benar dalam hati seorang hamba.
Berdasarkan ini semua, maka merealisasikan tawakal yang hakiki sama sekali tidak bertentangan dengan usaha mencari rezki yang halal, bahkan ketidakmauan melakukan usaha yang halal merupakan pelanggaran terhadap syariat Allah Ta’ala, yang ini justru menyebabkan rusaknya tawakal seseorang kepada Allah.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal pada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, maka sungguh Dia akan melimpahkan rezki kepada kalian, sebagaimana Dia melimpahkan rezki kepada burung yang pergi (mencari makan) di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”.
Imam al-Munawi ketika menjelaskan makna hadits ini, beliau berkata: “Artinya: burung itu pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali waktu petang dalam keadaan perutnya telah penuh (kenyang). Namun, melakukan usaha (sebab) bukanlah ini yang mendatangkan rezki (dengan sendirinya), karena yang melimpahkan rezki adalah Allah Ta’ala (semata).
Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengisyaratkan bahwa tawakal (yang sebenarnya) bukanlah berarti bermalas-malasan dan enggan melakukan usaha (untuk mendapatkan rezki), bahkan (tawakal yang benar) harus dengan melakukan (berbagai) macam sebab (yang dihalalkan untuk mendapatkan rezki).
Oleh karena itu, Imam Ahmad (ketika mengomentari hadits ini) berkata: “Hadits ini tidak menunjukkan larangan melakukan usaha (sebab), bahkan (sebaliknya) menunjukkan (kewajiban) mencari rezki (yang halal), karena makna hadits ini adalah: kalau manusia bertawakal kepada Allah ketika mereka pergi (untuk mencari rezki), ketika kembali, dan ketika mereka mengerjakan semua aktifitas mereka, dengan mereka meyakini bahwa semua kebaikan ada di tangan-Nya, maka pasti mereka akan kembali dalam keadaan selamat dan mendapatkan limpahan rezki (dari-Nya), sebagaimana keadaan burung”.
Makna inilah yang diisyaratkan dalam ucapan Sahl bin Abdullah at-Tustari: “Barangsiapa yang mencela tawakal maka berarti dia telah mencela (konsekwensi) iman, dan barangsiapa yang mencela usaha untuk mencari rezki maka berarti dia telah mencela sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”.
Maka berusahalah dengan sungguh-sungguh dalam mencari rezki yang halal dan kebaikan-kebaikan lainnya, tapi jangan lupa untuk menyandarkan hati kita kepada Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu, bukan kepada usaha yang kita lakukan.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan rezki yang halal dan berkah bagi kita semua, serta menolong kita untuk selalu istiqamah di atas petunjuk-Nya sampai di akhir hayat kita, Amin.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Label:
AQIDAH


