pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post
Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts
Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts

Arif dalam Perbedaan

Written By NeoBee on 04 May, 2017 | May 04, 2017


Buya sudah mengedepankan tasamuh (toleransi). Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham Chalid. Hamka tak segan untuk ikut berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud Diba.

PERBEDAAN adalah keniscayaan. Namun, ada dua perbedaan yang harus dipahami dalam fikih Islam agar tidak salah dalam menyikapinya. Pertama, tadhâdh [perbedaan kontradiktif mengenai sesuatu yang sudah final dalam Islam seperti akidah dan ibadah mahdhah]. Kedua, tanawwu’ [perbedaan cabang, multi tafsir misalnya dalam hukum fikih yang teknis] (Yasir Husain Barhami, Fiqhu al-Khilâf, 12).

Dari kedua perbedaan tersebut, memang perbedaan tadhâdh (kontradiktif), tidak ada kompromi sedikit pun. Namun, pada wilayah perbedaan tanawwu’ (cabang, multi tafsir), umat Islam diharuskan berlapang dada dan toleransi. Ironisnya, masih banyak dari kalangan umat Islam yang belum arif dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ini. Pada tingkat yang lebih ekstrim, di antara mereka ada yang saling membid’ahkan, merasa pihaknya sendiri yang paling benar, bahkan mengkafirkan orang yang berseberangan. Hal ini tentu bisa menyulut permusuhan dan mengoyak persatuan.

Konflik semacam ini tidak akan terjadi jika perbedaan furu’iyah ini disikapi dengan kearifan. Ada banyak contoh sejak zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang bisa dijadikan teladan untuk menyikapi perbedaan demikian secara arif.

Semasa nabi hidup misalnya –tanpa bermaksud membatasi- ada 3 peristiwa yang bisa diangkat dalam menyikapi perbedaan furu’iyah secara arif.

Pertama, pasca Perang Khandak (5H), Rasulullah menginstruksikan sahabat nya, “Jangan shalat Ashar, melainkan di Bani Quraidzah!” (HR. Bukhari, Muslim).

Para sahabat tebelah dua dalam memahami instruksi nabi tersebut. Ada yang memahaminya secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar kecuali sudah sampai lokasi. Ada juga yang memahaminya secara kontekstual, sehingga memahaminya segera melaksanakan shalat tepat waktu. Menariknya, saat kedua kelompok ini mengadu kepada nabi, beliau sikapi dengan arif dengan tidak mencela keduanya.

Kedua, Abu Qatadah menceritakan, suatu saat Nabi bertanya kepada Abu Bakar, “Kapan kamu menunaikan witir?” Abu Bakar menjawab bahwa ia menunaikan witir di awal malam. Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada Umar. Beliau pun menjawab, “Aku menunaikan witir di akhir malam.” (HR. Abu Daud).

Sikap nabi ketika melihat perbedaan antara keduanya bukan dengan menyalahkan, tapi justru menyebutkan sisi positif masing-masing. Abu Bakar, dipuji nabi sebagai seorang yang teguh. Sedangkan Umar bin Khathab, disanjung sebagai orang yang kuat.

Ketiga, ‘Amr bin ‘Âsh bercerita, saat dirinya diutus dalam peperangan Dzâtus Salâsil, pada suatu malam yang sangat dingin, ia bermimpi hingga junub. Saat bangun pagi-pagi, beliau mengganti perintah mandi junub dengan tayamum. Pada saat itu juga, ia menjadi imam shalat Shubuh. Kejadian ini diadukan langsung kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam oleh sahabat yang tak sependapat. Ketika diklarifikasi nabi, Amru bin Ash berargumen dengan Surah An-Nisa [4]: 29, yang intinya tak boleh membunuh diri karena Allah Maha Penyayang (HR. Abu Daud, Ahmad). Setelah mendengar argumentasinya, Rasulullah pun tertawa tanpa mengatakan sesuatu apapun –sebagai taqrir (pengakuan)- bahwa apa yang dilakukan Amru ini bukan perbuatan yang salah.
Jamaluddin al-Qasimi dalam buku Qawâ’idu al-Tahdîts min Funûni Mushthalah al-Hadîts (371) menuturkan bahwa perbedaan di kalangan sahabat dan tabi’in dalam masalah furu’iyah sudah biasa. Di antara mereka ada yang membaca basmalah dalam shalat, ada pula yang tidak; ada yang mengeraskan basmalah, ada juga yang tidak’; ada yang qunut pada waktu shalat Shubuh, ada pula yang tidak melakukannya; ada yang berwudhu setelah berbekam, ada pula yang tidak berwudu. Uniknya, meski terjadi perbedaan, mereka tetap tidak menghalangi mereka shalat secara berjama’ah.

Dikisahkan, Abu Hanifah dan penganut madzhab Syafi’i serta yang lainnya shalat di belakang imam-imam Madinah yang bermadzhab Maliki (meskipun mereka tidak membaca basmallah baik secara lirih maupun keras). Harun Ar-Rasyid pernah menjadi Imam shalat –padahal ia telah berbekam- waktu itu Abu Yusuf menjadi makmumnya dan tak mengulangi shalatnya.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa pernah Abu Yusuf dan Muhammad ketika bertakbir dalam Idul Fithri keduanya bertakbir seperti pendapat Ibnu Abbas, ini karena Harun Ar-Rasyid suka terhadap takbir kakeknya (Ibnu Abbas). Lebih dari itu, pernah Imam Syafi’i shalat Shubuh tanpa qunut dekat kuburan Abu Hanifah sebagai wujud adab beliau terhadap Abu Hanifah.

Ada kisah lain yang cukup menarik. Seusai melaksanakan shalat Jum’at, Imam Abu Yusuf diingatkan jama’ah bahwa di sumur dekat kamar mandi (yang beliau pakai mandi sebelum Jum’at), terdapat bangkai tikus. Mendengar ini beliau berkomentar, “Kalau begitu, kita mengambil pendapat saudara kita Ahli Madinah, “Jika air mencapai dua qulla, maka kotor [najis].” (HR. Ahmad).

Lihat bagaimana mereka menyikapi perbedaan furu’iyah, tidak ada yang saling mencela bahkan sinis terhadap pendapat yang berseberangan.

Di Indonesia sendiri, sejak sebelum kemerdekaan perbedaan furu’iyah memang menimbulkan selalu ketegangan. Terbelahlah umat Islam pada waktu itu dengan istilah kaum tradisionalis dan kaum modernis. Perbedaan tersebut dampaknya masih berpengaruh hingga saat ini. Padahal, kalau diamati secara cermat, perbedaan mereka kebanyakan pada masalah furu’iyah bukan prinsipil.
Melihat fenomena demikian, Tjokroaminoto dan Agus Salim  menginisiasi Kongres Islam pertama di Cirebon 1922 untuk merajut Ukhuwah Islamiah dan tidak disibukkan dengan Urusan Khilafiyah (Aji Dedi Mulawarman, Jang Oetama Jejak dan Perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto, 187).

Contoh lain dari Pahlawan Muslim Indonesia dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ialah seperti yang dipraktikkan Buya Hamka. Dalam buku Mengenang 100 tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), disebutkan bahwa Hamka adalah sosok yang mengutamakan silaturahim ketimbang meributkan perbedaan tak prinsip. Ada beberapa contoh yang menunjukkan toleransi hamka dalam menyikapi perbedaan furu’iyah.

Pertama, ketika KH Abdullah Syafi’i menunaikan shalat Jum’at di Masjid Al-Azhar. Waktu itu, Buya Hamka sudah terjadwal sebagai khatib. Melihat kedatangan KH Abdullah Syafi’i, seketika Buya “memaksa” beliau menggantikan dirinya. Buya juga meminta adzan dikumandangkan dua kalisebagaimana tradisi Nahdhiyin yang dipegang Syafi’i.

Kedua, sejak dibukanya Masjid Al-Azhar, Buya sudah mengedepankan tasamuh (toleransi). Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham Chalid. Hamka tak segan untuk ikut berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud Diba. (Shobahussurur, 2008).

Ketiga, pada saat Hamka dan Idham Chalid berada dalam satu pesawat menuju Mekah. Masing-masing bergantian menjadi imam shalat Shubuh.  Saat Idham menjadi imam, beliau tidak membaca qunut karena ada Hamka di belakangnya. Demikian juga Hamka, saat menjadi imam, beliau membaca qunut karena ada Idham Chalid di belakangnya. (Abdillah Mubarak Nurin, Islam Agama Kasih Sayang, 86).

Ada pula contoh dari tokoh nasional yang masih hidup, yaitu: Amin Rais. Tokoh yang pernah menjabat menjadi Ketua Umum Muhammadiyah ke-12 (1995-2000) ini sangat arif dalam menyikapi perbedaan furû’iyyah.

Zaim Uchrowi  dalam buku Mohammad Amien Rais: Memimpin dengan Nurani menceritakan bahwa meski lahir dari kultur Muhammadiyah, Amin dikatakan sebagai sosok yang fasih dalam membaca qunut. Ia selalu membaca doa qunut saat menjadi umam penganut Islam ‘kultural’ saat shalat Subuh (2004: 146). Bahkan, masih menurut buku yang sama, beberapa kali saat berkunjung ke pesantren tradisional, beliau diminta menjadi imam shalat Shubuh. Jika kebiasaan di tempat itu memakai doa qunut, maka belia pun juga membaca doa qunut (2004: 85).

Dari beberapa contoh di atas, perbedaan furû’iyah memang harus disikapi secara arif. Perbedaan demikian seyogianya tidak merusak persatuan. Justru umat Islam saling berlapang dada, toleran dan menyikapinya dengan kearifan. Hal ini persis yang dicontohkan nabi, para sahabat, tabiin, ulama hingga tokoh Islam negeri ini.

Sebagai penutup, pernyataan Ibnu Najim (ulama bermadzab Hanafi) berikut bisa dicamkan baik-baik dalam menyikapi perbedaan furû’iyah secara arif,  “Jika kita ditanya tentang madzhab kita oleh orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah furu’ (cabang fikih), kita wajib menjawab bahwa madzhab kita shawab (benar) tapi ada kemungkinan salah, sedangkan madzhab yang menyelisihi kita bisa jadi khatha` (salah) tapi bisa jadi benar.” (al-Asybâh wa al-Nadhâir, Ibnu Najim 330). Wallâhu a’lam.

Mahmud Budi Setiawan
  
posted by @Adimin

Walikota Padang Tinjau Lokasi Longsor dan Banjir

Written By Anonymous on 13 November, 2015 | November 13, 2015

PADANG – Rasa empati kepada warganya kembali ditunjukkan Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo. Musibah longsor dan banjir yang melanda Kota Padang, Rabu (11/11) malam membuat Walikota Padang yang sedang dinas di Jakarta langsung bertolak ke Padang.
Kamis (12/11) pagi, Walikota Padang langsung menuju lokasi yang terkena longsor dan banjir. Sekitar pukul 08.30 Wib, Mahyeldi sampai di Batu Gadang, Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan. Di sini Walikota melihat langsung korban longsor dan meninjau langsung penyebab longsor.
Walikota menyebut penyebab terjadinya longsor di daerah itu karena landainya kontur tebing dan ‘gundulnya’ di bagian atas tebing tersebut. Sehingga begitu hujan datang tanah tersebut turun dan langsung menghantam rumah, tempat ibadah dan mushalla.
“Saat diperiksa ke bagian atas tebing, pohon banyak ditebang dan dikuliti hingga mati, sedangkan di bagian bawah mereka rapikan dengan menambah tanah. Sebetulnya terjadinya longsor dan banjir karena penggundulan dan lainnya,” kata Wako.
Topografi tanah di Kota Padang memang cukup labil, curah hujan juga cukup tinggi. Karena itu Walikota Padang mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memotong kayu dan pembalakan hutan. Walikota juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dengan tingginya curah hujan yang diprediksi hingga akhir Desember.
Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh dari Camat Lubuk Kilangan Syafwan menyebut bencana longsor di Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan, sebanyak dua rumah dihondoh longsor. Di dua rumah itu terdapat tiga Kepala Keluarga (KK) yakni Andi (29) bersama isteri dan dua anak. Kemudian Apriadi (31) beserta isteri dan dua anak. Serta Rosni (60) beserta tiga anak. Selain menghondoh dua rumah, longsor juga melanyau mushalla dan Sekolah Dasar (SD) 13 Batu Gadang.
“Korban longsor sudah diamankan ke rumah yang berada di dekat Kantor Lurah. Bantuan juga sudah diberikan,” ujar Syafwan.
Setelah itu, Walikota bertolak menuju Kampung Baru, Kecamatan Lubuak Bagaluang. Di sini Walikota juga melihat langsung rumah warga yang terendam banjir. Tidak hanya itu, Walikota juga menyambangi Batuang Taba XX, Kecamatan Lubuak Bagaluang. Di sini, Walikota juga melihat langsung rumah warga yang terendam banjir. Sebanyak 18 KK di lokasi ini terpaksa diungsikan.
Camat Lubuak Bagaluang Ances Kurniawan mengatakan sejumlah warga dilanyau banjir pada Rabu malam itu. Di Kelurahan Banuaran, 70 rumah terendam banjir. Sebanyak 425 jiwa dari 85 KK diungsikan ke SD 32. Di Kelurahan Parak Laweh, tujuh rumah dengan penghuni 30 jiwa ikut terendam.
Di Kelurahan Kampung Baru cukup parah lagi. Di sini, dua rumah hanyut terbawa air bah. Akan tetapi beruntung tidak ada korban jiwa. Sedangkan di Kelurahan Tanjung Saba, rumah yang dihuni 20 jiwa ikut terendam. Dan di Kelurahan Gurun Lawas, 41 KK menjadi korban banjir.
“Di kelurahan Batuang Taba sebanyak 18 KK yang diantaranya terdapat tiga ibu hamil dan 13 balita diungsikan ke SD 24,” tukas Ances.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Padang Frisdawati Boer menyebut bantuan telah disebarkan ke tempat korban banjir dan longsor. Bantuan itu diantaranya perlatan masak, peralatan bayi, beras, panic dan kebutuhan lainnya.
“Untuk bantuan lain kita hitung dulu dan sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” sebut Frisdawati.
Hingga berita ini diturunkan belum bisa dipastikan berapa jumlah kerugian akibat bencana banjir dan longsor. Kepala BPBD-PK Dedi Henidal mengatakan pihaknya belum bisa memastikan berapa kerugian akibat banjir dan longsor. Namun pihaknya hanya bisa menaksir kerugian sementara di atas Rp 1 miliar.(Charlie / Yurizal / Tafrizal / Mursalim)


posted by @Adimin

Tonton Teater Revolusi Burung, Kang Iman: PKS Dukung Seni Pertunjukan

JAKARTA (13/11) -- Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman menyempatkan diri menikmati pertunjukan Teater Kanvas dengan naskah Revolusi Burung di Gedung Pertunjukan, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (12/11/2015) malam.
Sohibul yang datang dengan jajaran pengurus DPP PKS sengaja ingin menonton seni teater yang disutradarai Zak Sorga itu sebagai bentuk dukungan terhadap seni pertunjukan Tanah Air.
Berkemeja batik, pria yang akrab disapa Kang Iman ini menekankan jika PKS sebagai partai politik dan parai dakwah ingin menghidupkan seluruh sektor masyarakat, termasuk budaya. "Kita dukung penuh pertunjukan teater para budayawan dan seniman. Jadi tidak hanya politik saja," ujar Kang Iman.
Kang Iman larut dalam pertunjukan kritik sosial dengan judul naskah Revolusi Burung yang dipentaskan selama dua jam itu. Sebagai anggota Komisi X DPR RI, Kang Iman melihat ada beberapa dukungan pemerintah untuk seni pertunjukan yang belum memadai. "Meski sudah ada program namun saya lihat masih belum memadai," tandasnya.
Revolusi Burung sendiri adalah pertunjukan ke-100 teater Kanvas. Lakon dalam pertunjukan tersebut mengisahkan sekelompok merpati yang merupakan mayoritas dalam bangsa burung salah memilih pemimpin.
"Jangan sampai salah memilih pemimpin dalam karung," ungkap penulis naskah sekaligus sutradara, Zak Sorga pasca pertunjukan. [pks.id]

posted by @Adimin

Presiden PKS: Pahlawan Bukan Gelar Bawaan atau Rekaan

Written By Anonymous on 11 November, 2015 | November 11, 2015

JAKARTA (11/11) - Hari Pahlawan Nasional di Indonesia diperingati setiap 10 November. Artinya, hari ini (Selasa, 20/11) rakyat Indonesia memperingati Hari Pahlawan.
Bagi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman, pahlawan bukan gelar bawaan atau rekaan, tapi penghormatan atas jasa-jasa bagi nusa dan bangsa.
"Mari berkarya tuk rakyat dan negeri tercinta," kata dia lewat akun @msi_sohibuliman, Selasa (10/11).
Menurut anggota DPR ini, hakikat kepahlawanan adalah kontribusi dan dedikasi, bukan atribusi. Berkarya nyata lebih esensi daripada gelar itu sendiri. "Ayo berkarya!" ajaknya.
Ia menjelaskan, menjadi pahlawan tidak harus muluk-muluk. Mulailah dari hal-hal kecil. Berlaku jujur itu ciri seorang pahlawan. Tidak malas itu ciri seorang pahlawan. Tidak memgambil hak orang lain itu ciri seorang pahlawan. Mau memberi dan berbagi itu ciri seorang pahlawan.
"Dan menjaga kepentingan dan ketertiban umum itu juga ciri pahlawan," demikian Sohibul Iman. [pks.id]
Sumber: http://www.rmol.co/

posted by @Adimin

Hari Pahlawan Momentum Inspirasi Bagi Generasi Muda

JAKARTA (11/11) - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid menegaskan momentum Hari Pahlawan harus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Oleh karena itu, Hidayat menolak jika muncul anggapan bahwa hari yang biasa diperingati setiap tanggal 10 November ini peristiwa masa lalu semata.
"Abad 21 ini menantang. Banyak tokoh hebat yang menciptakan media sosial (twitter, facebook, whatsapp) yang memengaruhi pola hidup kita. Kalau anak-anak muda kita mengacu pada orang zaman dulu, orang Indonesia seperti sekarang adalah tokoh hebat. Orang di luar negeri itu sama dengan kita, sama-sama manusia," papar Hidayat saat talkshow Radio Republik Indonesia (RRI) di Ruang Presentasi Perpustakaan MPR RI, Selasa (10/11).
Anggota Komisi Pendidikan DPR ini juga menilai bahwa inspirasi yang berasal dari sejarah itu harus dibangun dari adanya perbaikan dalam sistem pendidikan sejarah di Indonesia. Mulai dari tingka Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah, hingga perguruan tinggi. Atas dasar ini, Hidayat mendorong buku-buku sejarah bermutu agar segera disebarluaskan hingga ke pelosok Indonesia, khususnya di daerah terpencil yang minim pendidikan sejarah, baik guru maupun bukunya.
“Kita tidak hidup di ruang kosong. Kita hidup dengan situasi di Indonesia. Daripada kita sekadar pelangkap data statistik,kita bisa jadi seorang pahlawan. Kita lihat sejarah, pahlawan berasal dari beragam suku dan latar profesi. Walaupun tidak harus dicita-citakan, kita bisa jadi pahlawan,” jelas doktor lulusan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia ini. [pks.id]
posted by @Adimin

Salim Segaf: Kader PKS, Teruslah Berprestasi

Written By Anonymous on 10 November, 2015 | November 10, 2015

Tegal (10/11) - Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri berpesan kepada kader PKS untuk terus berkiprah di masyarakat. Terus mengukir prestasi dalam melayani umat.
"Tetap jaga semangat yang kuat dan terus berprestasi, lakukan pendekatan kepada umat dan tokoh-tokoh yang ada di daerah agar termotivasi untuk selalu bekerja keras," ujar Salim dalam silaturahmi dengan kader PKS Kabupaten/Kota Tegal di Gedung Politeknik Transportasi Kota Tegal, Ahad (8/11/2015).
Salim mengatakan PKS  lahir untuk memberikan  yang terbaik bagi bangsa dan negeri.  Sehingga slogan baru PKS “Berkhidmat untuk Rakyat” memang sudah menjadi kerjaan PKS sejak dulu.
Hadir dalam pertemuan itu sekitar 500 kader PKS dari  Tegal, Brebes, Pemalang dan Pekalongan. Selepas memberi motivasi dalam pertemuan itu, para kader PKS mengunjungi undangan Haul ke-83  Syekh Armia bin Kurdi  di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia, Cikura, Bojong. [pks.id]
Keterangan Foto: Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri dalam silaturahmi dengan kader PKS Kabupaten/Kota Tegal di Gedung Politeknik Transportasi Kota Tegal, Ahad (8/11/2015).
posted by @Adimin

Belajar Trendi Syari Tanpa Glamor di Arena Mukernas PKS

Written By Anonymous on 07 November, 2015 | November 07, 2015

DEPOK (3/11) – Berbusana muslimah seringkali dikonotasikan dengan gaya pakaian perempuan Islam yang kuno dan jauh dari perkembangan zaman. Karena kerap tercitrakan demikian, muslimah yang bersemangat berpakaian Islami justru seringkali malah terjebak pada gaya pakaian 'menutup aurat' tapi glamor, mahal, bahkan tidak syari. 

Menurut pelaku bisnis busana muslim brand Keke, Hartati Desi Yanti, muslimah memang sudah seharusnya berpakaian menutup aurat sesuai kewajiban yang disyariatkan Islam. Namun Desi menegaskan, berpakaian Islami tapi trendi tidak harus bersifat glamor dan menguras banyak uang dengan tetap memperhatikan unsur syariah. 

“Siapapun sebenarnya, bisa bergaya trendi namun tetap syar’i," ujar Desi dalam talkshow bertema 'Yang Muda, Yang Bergaya: Hijab Style dan Perawatan Wajah' di arena Mukernas ke-4 PKS, di Hotel Bumi Wiyata Depok, Jawa Barat, Rabu (4/11/2015). 

Desi mengatakan, busana perempuan sudah seharusnya menutup aurat. “Namun, pemilihan warna dapat bersifat trendi, cerah, dan coraknya yang floral”, tutur Desi.

Perwakilan dari Kosmetik Wardah Echa Novita pun menjelaskan tips untuk tetap terlihat cantik namun tetap natural. “Yaitu gunakan warna putih, krem, dipadukan dengan warna coklat. Untuk eye shadow dan blush on,usahakan jangan memakai warna-warna yang ngejreng,” tutur Echa.

Acara tutorial Hijab ini adalah bagian dari menyemarakkan acara Mukernas ke-4 PKS. Selain talkshowkemuslimahan ini, Mukernas juga dimeriahkan oleh talkshow “Let Your Hands Making Money” yang diisi dari Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Rendy Saputra. [kabarpks.com]

Keterangan Foto: Suasana Bazar di Mukernas ke-4 PKS


posted by @Adimin

“Islam Nusantara”: Islamisasi Nusantara atau Menusantarakan Islam? [2]

Written By dBisnis on 04 June, 2015 | June 04, 2015

Dalam bersikap terhadap tradisi Nusantara, ada yang diterima dan ada yang harus ditolak. Budaya atau kepercayaan lokal yang tidak sesuai dengan pokok ajaran Islam



PADAHAL aliran kebatinan memiliki cirri iqtha’usy syari’ah (menggugurkan kewajiban syariah). Pesantren Sidogiri Pasuruan menerbitkan buku yang khusus mengkaji masalah ini berjudul Bahaya Aliran Kebatinan (Tim Penulis Pustaka Sidogiri, 1432 H).

Di halaman 190 ditulis “Ciri-ciri umum kebatinan itu, baik yang ada di Indonesia maupun yang di bagian lain dunia Islam, adalah iqtha’usy syari’ah, membatalkan ajaran-ajaran agama. Seperti menggugurkan kewajiban ibadah salat, puasa, zakat dan lain-lain. sementara semua larangan agama dianggap tidaka dad an boleh saja dilakukan. Karenanya Imam Abu Nu’aim al-Asfhihani, ulama sufi dan hafidz abad kelima Hijriyah, menganggap kebatinan itu mubahiyyun, serba boleh melakukan apa saja, seperti beliau tulis dalam pembukaan kitab Hilyatul Auliya’ “.

Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari juga berpendapat bahwa aliran kebatinan mubahiyyun termasuk aliran yang sesat. Dalam kitabnya Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah beliau menulis: “Di antara aliran yang berkembang setelah tahun 1330 H, adalah aliran Ibahiyyun (serba boleh), yang berpendapat, bahwa apabila seseorang telah mencapai puncak kecintaan kepada Allah, hatinya bersih dari kelalaian, dan telah berketetapan memilih keimanan daripada kekufuran, maka perintah dan larangan Allah menjadi gugur darinya dan Allah tidak akan memasukkannya ke neraka meskipun melakukan dosa-dosa besar. Sebagian mereka juga mengatakan, bahwa ibadah-ibadah lahiriyah gugur dari kewajibannya, dan ibadah yang harus dilakukannya cukup merenung dan memperbaiki akhlak batin saja. Sayyid Muhammad berkata dalam Syarh Ihya Ulumuddin: ‘Pedapat ini merupakan kekufuran, zidiq dan kesesatan’. Memang kaum Ibahiyyun selalu ada sejak masa dulu, mereka pada umumnya orang-orang bodoh, tersesat dan tidak memiliki tokoh yang mengetahui ilmu syar’i secara memadai” (KH Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 11-12).

Berdasarkan hal itu, dalam bersikap terhadap tradisi Nusantara, ada yang diterima dan ada yang harus ditolak. Budaya atau kepercayaan lokal yang tidak sesuai dengan pokok ajaran Ahlus Sunnah ditolak.

Di sinilah diperlukan ilmu alat ushul fikih. Dalam Islam, ada aspek ushul dan ada aspek furu’. Ushul dalam Islam bersifat tetap, final dan qath’i. sedangkan aspek furu’ merupakan medan ‘kreatifitas’ ulama mujtahid. Bisa terjadi perbedaan antara ulama satu dengan ulama yang lain. Kewajiban shalat merupakan perakar ushul. Barangsiapa yang mengingkarinya maka dia kufur. Budaya atau aliran kepercayaan apa saja yang membolehkan tidak shalat fardhu, tidak boleh dipelihara.


Meskipun budaya itu adalah produk tradisi Nusantara.

Maka, jika ada sekelompok orang mentradisikan shalat dengan berbahasa daerah misalnya, maka tetap dihukum sebagai kelompok sesat. Cara-cara seperti ini tidak dilakukan Walisongo.

Sedangkan apa yang dilakukan para dai Walisongo adalah memasukkan pandangan hidup Islam kepada tradisi-tradisi yang bisa diafirmasi. Salah satu keberhasilan para dai penyebar agama Islam di Nusantara adala melalui bahasa. Proses pengislamannya — salah satunya — dengan memasukkan term-term Arab-Islam ke dalam bahasa lokal. Ada banyak kosa kata bahasa Melayu dan Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Misalanya kosa kata ‘akal’, ‘musyawarah’, ‘adil’, ‘adab’, ‘akhlak’, ‘dewan’, ‘kalimat’, ‘khutbah’, ‘jama’ah’, ‘kursi’, ‘zahir’, ‘batin’, ‘kalbu’, ‘kuliah’, dan lain sebagainya.

Keberhasilan mengislamkan bahasa oleh para dai terdahulu dicatat oleh Prof. al-Attas sebagai keberhasilan yang mengalahkan pencapaian Hindu-Budha. Karena mereka berhasil mengangkan bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di kepulauan Nusantara (M. Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, hal.xvi).

Sementara bahasa kaum Hindu, sansekerta, tidak popular kecuali di kalangan istana dan para pemuka agama mereka saja. Sementara bahasa Melayu yang telah banyak menyerap istilah Arab-Islam itu lebih merakyat area penyebarannya luas seiring dengan luasnya dakwah Islam di bumi Nusantara.

Dikenal pula di sini jenis tulisan Arab-Jawi yang sering disebut tulisan Pegon (pego). Tulisan berbahasa jawa atau sunda tapi dengan menggunakan huruf Arab. Jenis tulisan ini populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad lamanya, sejak kedatangan Islam. Namun, sayang jenis tulisan ini tidak lagi populer di Indonesia – hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Jenis tulis ini merupakan keunikan Muslim di Nusantara warisan para dai penyebar Islam terdahulu.

Pakaian orang-orang Muslim di Indonesia dan Malaysia juga memiliki kekhasan. Mereka memakai sarung, baju takwa dan songkok Nasional (songkok berwarna hitam). Baju takwa mirip dengan baju gamis Arab yang dipotong sampai pinggang. Konon nama ‘baju takwa’ ini diambil dari firman Allah Subhanahu Wata’ala, ..wa libasut takwa.. Blangkon, juga disebut-sebut tidak lepas dari simbol Arab-Islam yaitu berasal dari serban imamah, yaitu kain panjang yang dililitkan di kepala dengan model tertentu. Di tanah jawa, serban imamah itu dibuat praktis, yaitu lilitannya dilekatkan supaya dengan mudah bisa dilepas dan dipakai lagi. Karena di Jawa, maka kemudian kainnya menggunakan batik. Sehingga kita bisa memperhatikan, serban imamah yang biasa dipakai oleh para ulama Hadramaut Yaman atau habaib Indonesia bentuknya hampir mirip dengan blankon.

Simbol-simbol dan tradisi di Nusantara yang berlaku di kalangan Muslim Nusantara tersebut merupakan produk Islamisasi. Kita lebih tepat menyebut tradisi Nusantara yang terislamkan. Bukan agama Islam yang ternusantarakan. Sebab, pengaruh Islamnya lebih kuat dan mengakar bahkan mengandung filosofi yang berdasarkan al-Qur’an dan hadis.

Setelah terislamkan, yang terlihat adalah warna Islamnya bukan warna Hindu-Budha atau animisme-dinamisme.

Hasilnya, Dari abad ke-15 sampai ke-17 di bumi Nusantara terlihat perubahan pemikiran dalam pandangan hidupnya (worldview), yang melahirkan filsuf, ulama’ dan pemikir tingkat internasional dengan karya-karya yang berbobot. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan:

“Abad-abad ke-enam belas dan ke-tujuh belas suasana kesuburan dalam penulisan sastera falsafah, metafizika dan teologi rasional yang tiada terdapat tolak bandinganya di mana-mana dan di zaman apa pun di Asia Tenggara. Penterjemahan al-Qur’an yang pertama dalam bahasa Melayu telah diselenggarakan beserta syarahannya yang berdasarkan al-Baydawi; dan terjemahan-terjemahan lain serta syarahan-syarahan dan karya-karya asli dalam bidang falsafah, tasawuf dan ilmu kalam semuanya telah diselenggarakan pada zaman ini juga” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hal.45).

Maka, cara yang telah dilakukan Walisongo harus dilanjutkan dakwah dan perjuangannya. Dakwah mereka adalah memasukkan nilai-nilai Tauhid ke dalam tradisi Muslim Indonesia, bukan mengindonesiakan makna Tauhid. Jika memasukkan nilai Tauhid, maka inilah yang dinamakan Islamisasi. Manakala menusantarakan makna Tauhid, maka ini bisa berujung kepada liberalisasi Islam. Sejak berabad-abad lamanya Indonesia merupakan bumi Aswaja, bukan bumi Liberal. Tiga setengah abad Indonesia dijajah Belanda, namun Indonesia masih berpegang pada tradisi Islam, bukan tradisi Barat-Kristen. Hal ini menunjukkan akar Islamisasi di bumi Nusantara ini sangat kuat.

Dan yang juga penting, Al-Attas mencatat, bahwa kedatangan Islam di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah kepulauan tersebut. Melayu kemudian menjadi identik dengan Islam. Sebab, agama Islam merupakan unsur terpenting dalam peradaban Melayu. Islam dan bahasa Melayu kemudian berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism,  hal. 178).

Oleh: A. Kholili Hasib

hidayatullah

posted by @Adimin

Ulama Yang Fakir

Written By dBisnis on 03 May, 2015 | May 03, 2015


Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran. Tapi, itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu.
 
Lihatlah sikap seorang ulama besar Islam bernama Al-Qadhi Abu Abdillah Syarik Ibnu Abdillah an-Nakha’i al-Kufi. Dia adalah salah seorang ulama besar pada zamannya (Tarikh Baghdad 9/288, al-Khatib al-Baghdadi).

Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya pada pagi hari ia disambut oleh Al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian sembari membawa bubur.
Kemudian, sahabatnya itu berkomentar, “Engkau telah banyak menyelesaikan masalah hukum, namun keadaanmu masih seperti ini.”

Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silakan duduk, duduklah!”
Keadaannya yang seperti itu tidak membuatnya mengurungkan diri melayani sahabatnya. Mereka tetap mengobrol asyik membicarakan satu permasalahan dari satu bab fikih nikah.

Apa yang dialami Al-Qadhi dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan, muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka di hadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga, ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).

Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeser pun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), tapi ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’-nya, ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan.

Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).

Kefakiran juga pernah dialami Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu. Umar Ibnu Hafsh al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka.

Lalu, mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Kemudian, mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya.

Hingga, ia kembali mengajarkan ilmu kepada mereka. (Tarikh Baghdad: 2/13, al-Khatib al-Baghdadi). Apakah kita pernah mengalami kondisi seperti para ulama panutan umat di atas? Pernahkah kita sehari saja lapar?

Bahron Ansori

posted by @Adimin

3 Hal Penting yang Mesti Dilakukan Kawula Muda Masa Kini

Written By Sjam Deddy on 23 March, 2015 | March 23, 2015

Entah itu di masjid, di sekolah, di kampus atau dimana saja. Kita harus punya rasa haus yang tinggi akan ilmu


DI ERA media sosial seperti sekarang, handphone seringkali menyita waktu. Di kawasan Depok, kalau kita mau perhatikan perilaku remaja zaman sekarang, mereka yang ke sekolah dibonceng sepeda motor oleh orang tuanya tak henti-henti menatap layar handphonenya. Tangannya aktif ‘menari’ dengan kepala tunduk penuh ‘konsentrasi.’

Sementara itu, dikalangan mahasiswa juga sama. Pernah suatu ketika sekelompok mahasiswi kumpul di sebuah kafe di seputaran kampus di kawasan Pasar Minggu. Setelah basa-basi, ternyata mereka bukannya bercengkrama, suasana sontak hening. Bukan karena mereka sedang membaca sesuatu, tetapi masing-masing asyik menatap layar handphonennya.

Kira-kira itulah pemandangan umum kehidupan remaja kita di kota besar. Gak di motor, di kafe, di kendaraan umum, bahkan kereta, mayoritas remaja kita asyik sekali dengan gad-getnya. Mereka seperti sedang menemukan dirinya kala berinteraksi dengan smartphone.

Padahal, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa terlalu lama bergad-get ria, remaja rentan terkena banyak masalah, seperti susah tidur, kualitas konsentrasi yang menurun, sampai pada perhatian yang salah dan sulit hidup teratur atau disiplin.

Mungkin inilah trend zaman. Tetapi bagaimanapun kita ini Muslim yang memiliki orientasi hidup tak hanya dunia, tetapi juga akhirat. Dalam konteks ini kita perlu meningkatkan kualitas diri secara integral, jasmani-ruhani.

Oleh karena itu, gaul, sesuai zaman – sejauh tidak melanggar syariat – why not? Boleh-boleh saja, asalkan wajar alias tidak berlebihan. Apalagi, sebagai Muslim kita punya kewajiban penting yang mesti diasah setiap hari. Seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian keilmuan dan memahami shirah nabawiyah.


Membaca Al-Qur’an

Harus disadari, Muslim itu butuh membaca Al-Qur’an. Bukan karena semata-mata perintah Allah Ta’ala dan keutamaan pahalanya di akhirat. Tetapi juga dikarenakan Al-Qur’an ini sangat penting dalam kehidupan kita.

Coba lihat perilaku remaja sekarang. Sedikit masalah, curhat. Syukur kalau curhat sama orang yang tepat. Nah, ini curhat di media sosial. Tak jarang loh, gara-gara curhat berujung pada penyesalan.

Mengapa remaja sekarang mudah sekali narsis dan curhat? Jawabannya mungkin bisa beragam. Namun satu di antara hal yang pasti adalah, mereka belum membiasakan diri membaca Al-Qur’an secara sungguh-sungguh.

Kalaulah mereka membaca Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh setiap hari, maka tidak perlu hati mereka galau, resah apalagi sebentar-sebentar mau narsis. Mengapa? Ada ketenangan di dalam batin mereka. Dan, ketenangan ini hanya akan diperoleh manakala kita memang membaca dengan sungguh-sungguh. Bukan sekedar hatam, tetapi meresapi maknanya.

Nah, kalau seharian, baca Al-Qur’an kita tinggalin, lantas berharap kebahagiaan darimana? Sementara Al-Qur’an itu adalah obat dan rahmat dari Allah Ta’ala. Mestinya, Al-Qur’an ini yang paling sering kita lihat, ketimbang layar handphone. Jadi, mulailah berpikir, utamanya bagaimana membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari.

Sampai-sampai dalam satu kesempatan taushiyahnya, seorang dai kondang di negeri ini pernah berkata, “Kalau saja kita bisa menatap Al-Qur’an seperti kita menatap layar handphone kita, black berry kita, saya jamin, satu tahun hafal Qur’an 30 juz.”


Mengakrabi Kajian Ilmu

Hal yang tidak kalah penting setelah berusaha membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari adalah mengikuti kajian keilmuan. Entah itu di masjid, di sekolah atau di kampus. Kita harus punya rasa haus yang tinggi akan masalah ilmu ini.

Mengapa ada sebagian dari remaja Muslim-Muslimah yang terjerembab pada budaya tidak sehat, satu sebab utamanya adalah karena minim ilmu. Ketiadaan ilmu memang rentan menyeret manusia pada kebinasaan.

Memang benar, di internet sudah tersedia banyak artikel yang mengkaji beragam bahasan penting dalam Islam. Tetapi, belajar dengan menghadiri majelis ilmu tidak sama dengan belajar via internet. Selain ada keutamaan yang jauh lebih bernilai, majelis keilmuan juga memperkenalkan kita dengan banyak orang, sehingga memungkinkan terjalin silaturrahim yang menyelamatkan kita dari sisi pergaulan yang salah.

Oleh karena itu, jangan malu apalagi gengsi untuk pergi ke masjid mengikuti kajian keilmuan. Ingat, ilmu itu penting bukan untuk siapa-siapa. Semua itu penting demi kehidupan kita sendiri. Maka jangan sia-siakan hidup dengan tidak mencintai majelis keilmuan.


Belajar Shirah Nabawiyah

Ada sebuah ungkapan menarik, “Islam memang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Tetapi keduanya akan semakin hidup manakala kita juga memahami shirah nabawiyah. Sebab, bagaimana Qur’an dan Hadits itu dimanivestasikan, shirah nabawiyah-lah yang meneladankan.”

Dengan demikian, satu hal yang tidak boleh terlewatkan dalam agenda harian kita adalah bagaimana memahami shirah nabawi. Misalnya, kala nabi mendapat cemoohan dari orang lain, apakah beliau membalasnya atau memaafkannya.

Kalau membaca ayat yang memerintahkan kita untuk memaafkan, mungkin hati kita masih belum bisa menerima secara utuh apa untungnya memaafkan kesalahan orang. Tetapi, kalau kita lengkapi dengan mempelajari shirah nabawiyah, insya Allah hati kita akan mantab memilih memaafkan. Jadi, pelajarilah shirah nabawiyah setiap hari.

Sahabat, inilah tiga hal penting yang mesti kita lakukan setiap hari. Rahasia kesuksesan kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan dalam keseharian kita. Dan, tidak pernah ada soerang pun bisa melakukan sebuah kebaikan dan kemanfaatan tanpa latihan setiap hari.
Jadi, demi masa depan dunia-akhirat kita, apalagi yang kita pikirkan untuk bersegera melatih diri melakukan tiga hal ini? Wallahu a’lam

Imam Nawawi (hidayatullah)

posted by @Adimin

Dua Manfaat Rajin Baca Al-Quran

Written By Sjam Deddy on 17 November, 2014 | November 17, 2014

Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Baqarah pada suatu malam, maka syaitan tidak akan masuk ke rumahnya pada malam itu


SETIAP Muslim, tentu memiliki keinginan kuat untuk hidup aman, tentram dan damai dalam lindungan-Nya, terutama aman dari gangguan syaitan yang terkutuk.

Apalagi, syaitan sebagai musuh nyata tak henti-hentinya melakukan berbagai makar untuk menggelincirkan setiap Muslim dari keimanan, sehingga hidup dalam kegelisahan, kebimbangan, keraguan bahkan kemunkaran dan kekafiran.

Oleh karena itu, sangat wajar, jika setiap Muslim mendamba kehidupan bahagia dan aman dari gangguan syaitan yang terkutuk. Dan, mengenai bagaimana kehidupan kaum Muslimin selamat dari gangguan syaitan,Allah dan Rasul-Nya telah memberikan ‘senjata’ dan cara agar benar-benar selamat dari gangguan syaitan.

Karena syaitan tidak pernah putus asa, dan terus menerus menggelincirkan kaum Muslimin dari keimanan dan ketakwaan, Allah dan Rasul-Nya pun memberikan metode yang setiap Muslim harus melakukannya sesering mungkin atau dengan konsisten, yakni membaca Al-Qur’an, utamanya Surah Al-Baqarah.
Hal ini didasarkan pada apa yang diterangkan dengan sangat gamblang dalam pembukaan tafsir Surah Al-Baqarah Ibn Katsir dengan mencantumkan hadits-hadits shohih perihal tersebut.

Aman dari syaitan
“Janganlah kalian menjadikan rumah kalian bagai kuburan. Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah tidak akan dimasuki syaitan.” (HR. Muslim).

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Semoga aku tidak mendapatkan salah seorang di antara kalian meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang lain, sambil bernyanyi dan meninggalkan Surah Al-Baqarah tanpa membacanya. Sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah. Sesungguhnya rumah yang paling kosong adalah bagian dalam rumah yang hampa dari kitab Allah (Al-Qur’an).” (HR. An-Nasa’i).

Sekiranya dalam keseharian kita menghadapi kesibukan yang sangat padat, maka jangan khawatir, sebab 10 ayat saja dari Surah Al-Baqarah yang senantiasa dibaca setiap hari juga akan memberikan kemanfaatan yang sama dengan membaca Surah Al-Baqarah secara keseluruhan.

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Barang siapa membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Baqarah pada suatu malam, maka syaitan tidak akan masuk ke rumahnya pada malam itu. Yaitu empat ayat dari awal Surah Al-Baqarah, ayat kursi dan dua ayat selanjutnya, serta tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah.”

Dalam riwayat lain darinya disebutkan, “Pada hari itu dia dan keluarganya tidak akan didekati syaitan, dan sesuatu apaun yang dibencinya. Dan, tidaklah ayat-ayat itu dibacakan atas orang gila, melainkan dia akan sadar (sembuh).”

Dengan demikian, sangat merugi setiap Muslim yang melewati harinya tanpa membaca Surah Al-Baqarah. Padahal, jaminan keuntungan dari Allah Ta’ala sedemikian dahsyat dan nyata. Bahkan, sekiranya tak mampu, 10 ayat saja dari Surah Al-Baqarah dibaca setiap hari, syaitan pun Allah jamin tidak akan mendekati kita, rumah dan keluarga kita.

Jaminan Syafaat

Selain aman dari gangguan syaitan, membaca Al-Qur’an secara keseluruhan akan memberikan keuntungan maha dahsyat lainnya, yakni mendapat syafaat di hari kiamat.

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu akan memberi syafa’at bagi pembacanya pada hari Kiamat kelak. Dan, bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena kedua surat itu akan datang pada hari Kiamat, soelah-olah keduanya bagai tumpukan awan, atau bagai dua benda yang menaungi, atau bagai dua kelompok burung yang mengembangkan sayapnya. Keduanya akan membela pembacanya pada hari Kiamat.”

Kemudian beliau bersabda, “Bacalah Al-Baqarah, karena membacanya akan mendatangkan berkah dan meninggalkannya adalah kerugian. Dan, para tukang sihir tidak akan sanggup menjangkau (pembacanya).” (HR.Muslim).
 
Dengan demikian, amat rugi, seorang Muslim yang melewati harinya tanpa membaca Al-Qur’an. Jika Allah dan Rasul-Nya memberikan jaminan keuntungan yang sangat dahsyat seperti ini, masihkah kita mau merelakan hari-hari kita tanpa membaca Al-Qur’an?


posted by @Adimin

Keshalihan Para Pemuda dan Kesadaran Orang Tua

Written By Sjam Deddy on 04 November, 2014 | November 04, 2014


Alangkah menyedihkan bila menyaksikan anak muda yang menghabiskan waktunya untuk hura-hura atau bermain tak tentu arah.

Tapi lebih menyedihkan lagi bila melihat orang tua menghabiskan sisa umurnya untuk main gaple atau domino di warung kopi.

Bertambah lagi kesedihan, bila sudah tua tapi masih merasa muda, angan-angan masih panjang, ketamakan terhadap dunia semakin menjadi-jadi, dan syahwat masih menggebu.

Tidak cukupkah uban bertabur di kepala, gigi satu persatu mulai rontok, pandangan yang sudah tidak terang lagi, pendengaran yang tidak nyaring lagi, kulit yang sudah keriput, tulang yang sudah keropos, tenaga yang sudah melemah, penyakit yang sudah komplek, selera yang sudah berkurang, bilangan usia yang sudah semakin banyak, sebagai operator pengingat yang mengatakan:

“Maaf, pulsa hidup anda sudah hampir habis, tidak ada lagi kesempatan untuk isi ulang, beberapa saat lagi umur anda akan berakhir, harap siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke akhirat”.

Tua itu adalah kesempatan emas untuk bertaubat.
Tua itu adalah nikmat tersendiri untuk memperbaiki diri.
Tua itu karunia tidak terhingga untuk persiapan menuju akhirat.
Betapa banyak anak muda yang tidak sempat mencicipi masa tua, mereka mati ketika asyik dengan dunia.

Rasulullah bersabda: “Siapa yang umurnya sudah sampai 40 tahun, tapi kebaikannya belum mengungguli kejahatannya, berarti ia sudah mempersiapkan kapling untuk dirinya di dalam neraka”.

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka….? (Al Hadid: 16)

Kelak orang tua yang lupa diri akan dicela…
“….Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat perpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?…..” (Fathir: 37)

Ya Allah, karuniakan lah keshalehan kepada pemuda kami dan kesadaran kepada orang-orang tua kami.


posted by @Adimin

“Belanda Hitam” dan Fenomena Neo KNIL

Written By Sjam Deddy on 10 October, 2014 | October 10, 2014

Banyak warga Indonesia sendiri justru menjadi ‘tangan kanan asing’ dan rela menjual dan menggadaikan Negererinya kepada pihak asing


DALAM setiap penjajahan selalu ada dari orang-orang bumi putera yang membantu dan melayani sang penjajah, termasuk di Indonesia.

Tidak mungkin Belanda negara yang begitu kecil dan sedikit penduduknya bisa menjajah Indonesia ratusan tahun, tanpa bantuan pribumi. Termasuk pasukan militer Belanda jaman dahulu seperti KNIL, banyak menggunakan orang-orang Indonesia sendiri yang menjadi anggotanya dan siap bertempur melawan saudaranya sendiri.

Fenomena seperti ini nampak masih berjalan meski kita sudah merdeka hampir 70 tahun lamanya. Banyak warga Indonesia sendiri justru menjadi ‘tangan kanan asing’ dan rela menjual dan menggadaikan Negererinya kepada pihak asing.

Pertanyaannya adalah mengapa bisa sampai sedemikian hebatnya sang penjajah menggunakan tenaga manusia yang berasal dari negara jajahannya sendiri?

KNIL singkatan dari Koninklijk Nederlands Indische Leger adalah tentara kerjaan Hindia Belanda yang melayani dan membantu Pemerintahan Hindia Belanda.

KNIL, lebih tepatnya serdadu belanda yang terdiri dari orang-orang belanda, tentara bayaran dan sewaan dari negara lain serta warga pribumi (Indonesia).

Tahun 1936 jumlah pribumi yang menjadi tentara KNIL mencapai 33 ribu orang atau sekitar 77%. Tentu tidak mudah begitu saja diterima sebagai tentara KNIL karena akan ditugaskan berperang melawan saudara sebangsanya sendiri. Karena itulah harus melalui proses cuci otak dan seleksi yang ketat, agar tidak terjadi senjata makan tuan.

Rupanya perkembangan zaman tidak membuat paradigma KNIL ini menjadi lapuk. Bahkan sekarang ini kita dapatkan orang berlomba-lomba untuk menjadi “Neo KNIL” dengan iming-iming materi, gengsi dan kehormatan, mereka yang hari ini mentalitasnya Budak Penjajah justru merasa bangga menjadi “Londo Ireng” (The Zwarte Hollanders/Belanda Hitam). Di Negeri yang budaya feodalis belum hilang seperti ini, atribut materi, pangkat, jabatan dan kedudukan menjadi supermasi. Jangan heran kalau para budak penjajah menempati kedudukan yang terhormat di tengah-tengah masyarakat feodal seperti ini.
Untuk itu marilah kita lihat seperti apa mentalitas Neo KNIL itu saat ini.

1. Inferior

Di antara mental seorang budak yang paling menonjol adalah mental inferior (Rendah Diri). Merasa tidak punya apa-apa, tidak bisa apa, tidak bisa berdiri dikaki sendiri, merasa belum siap untuk merdeka, hanya dengan bantuan majikan merasa bisa hidup. Maka penghormatan kepada majikan kaum imperialis sangat berlebihan semantara melihat bangsanya sendiri penuh dengan kehinaan.

Indikator yang paling mencolok adalah ketidak mampuan mereka melihat kejahatan majikan yang sedemikian jelasnya, sehingga tidak bisa mengkritisi majikan, mungkin karena sudah banyak diberikan roti dan keju. Sementara terhadap saudara sebangsanya sendiri sangat sinis, terutama kepada para pejuang yang ingin memerdekakan bangsa ini dari berbagai bentuk penjajahan.
Indikator lainnya adalah pembelaan kepada sang majikan kaum imprialis sangat berlebihan dan over acting seperti orang yang sedang mencari muka.

Padahal roti dan keju yang diberikan oleh majikan adalah hasil rampasan dari berbagai kekayaan Negara si jongos tersebut. Tapi yang namanya sudah mental budak tidak mau tahu, yang penting perut kenyang bantuan dari majikan.

Kita juga menyaksikan apabila si jongos ketemu dengan si majikan bahasa tubuhnya tidak bisa disembunyikan, terlihat dengan jelas mental jongosnya, dengan membungkukkan badannya, sambil tangannya memegang bagian bawah dekat kemaluanya. Saat terjadi dialog maka satu kata yang haram keluar dari mulut si jongos tadi adalah kata “tidak”. Apa saja yang diinginkan oleh simajikan harus dijawab dengan “Inggiih”


2. Shock Culture

Sifat Inferior membawa dampak seseorang menjadi sering norak atau katro. Melihat kemajuan material, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di kecuali harus ikut apa majikan kalau mau maju. Saat itulah otak menjadi beku, kreatifitas mandeg, yang ada cuma copy paste, ikut, nurut, nunut, manut, ngekor, ngintil, jiplak, ngepek seperti kerbau yang negara-negara imperialis semakin merasa tidak berdaya lagi. Seolah tidak ada pilihan lain sudah cicocor hidungnya, ditarik kemana saja mau ikut.

Menjadi tolak ukur kemajuan kalau dalam kesehariannya jika sudah bisa mengikuti pola dan gaya hidup barat. Juga menjadi naik status sosialnya jika bisa menyelenggarakan berbagai event, termasuk pesta perkawinan dan seremonial laiinya dengan “Gaya Londo”. Kalau perlu anak dijadikan obyek untuk meningkatkan status social orang tuanya melalui pesta pernikahan tersebut. Belum lagi hari-hari yang dianggap besar, seperti tahun baru, valentine day, april mop dan pesta-pesta lainnya, maka berlomba-lombalah si Belanda Hitam untuk memamerkan atraksi ke”Norak”annya dengan sangat PD nya.

Semakin norak lagi dengan bangganya memamerkan hasil fikirannya yang tidak lain cuma hasil jiplakan punya majikannya, tetapi merasa hasil karyanya sendiri. Memang diantara ciri khas budak ialah tidak merasa bahwa dirinya sedang diperbudak. Dengan bangganya mengabdi pada majikan yang dianggap punya jasa besar terhadap dirinya.


3. Komprador Volunteer

Ketika noraknya sudah sedemikian rupa, sampai ia siap menjadi tenaga sukarelawan untuk mempromosikan barang dagangan majikannya. Mulai dari gaya hidup, budaya, seni, makanan, minuman, pakaian, assesoris, symbol, lambing atribut dan sebagainya. Dengan media informasi yang dimiliki majikannya, menjadi laris manis dagangan yang dijualnya. Jadilah bangsa ini menjadi sangat konsumeris dan pengimpor besar barang-barang asing.

Rupiah terus anjlog terutama terhadap mata uang Negara-negara Imperialis. Ekonomi tidak stabil, inflasi semakin tinggi. Pengangguran semakin banyak. Produk asing semakin tidak terbendung, mulai dari teknologi tinggi sampai tusuk gigi. Negara ini isinya 2/3 lautan tapi garam bisa import dan tidak merasa malu. Tempe tahu kecap makanan rakyat, tapi 80% kedelenya Impor.

Mereka-mereka yang berhasil mengimpor produk-produk asing terutama seni dan budaya, bisa bertengger di papan atas, seperti pahlawan lagaknya, karena berhasil mempekenalkan budaya asing ke tengah-tengah anak bangsa ini. Sementara milyaran uang terus terkuras keluar, karena kesukaannya terhadap produk-produk asing. Sementara kerusakan moral akibat dari budaya Import tersebut sudah sedemikian besar, tidak bisa dihitung lagi dampak kerugiannya.
Diantara ciri seni dan budaya Negara-negara Imprialis adalah Kebebasan berekspresi kebinatangan atau mengumbar syahwat. Atas nama Hak Asasi dan Kebebasan, ekspresi mereka tidak bisa dilarang. Karena nanti akan dituduh Anti HAM dan akan diadukan kemajikannya. Sekarang ini organisasi atau club-club yang menjadi kaki tangan Imprialis berada di papan atas. Dengan pongah, sombong serta bangganya mereka terus menjajakan barang dagangan milik majikannya ke tengah-tengah masyarakat pribumil.

Sementara mereka yang mempertahankan kedaulatan Negara, menjaga rupiah jangan sampai anjlog, menjaga budaya bangsa agar jangan sampai dirusak, mengingatkan anak bangsa agar mencintai produk dalam negeri, akan dicap sebagai orang yang menghalangi kebebasan berekpresi, tidak mengerti HAM dan sebagainya. Ribuan orang pribumi tewas mereka akan seperti orang buta, gagu dan budge, tidak bisa bicara. Tetapi andai satu orang bule saja mati, maka geger dunia seperti kebakaran jenggot, media gempar, ramai-ramai si jongos imperialis itu juga ikut teriak-teriak, sambil menyalahkan saudaranya sendiri sesama pribumi.


4. Raja Tega

Seorang tentara KNIL dilatih, dididik, serta dicuci otaknya agar siap berperang melawan pribumi atau saudaranya sendiri. Maka dimasukan resep PIL yang bernama “Si Raja Tega”. Dengan demikian dia tidak akan ragu-ragu lagi siap bertempur untuk mengganyang saudaranya sendiri. Orang belanda menyebut panggilan pribumi yang berani melawan dengan Istilah Extrimist. Orang yang sudah otaknya tercuci maka dia tidak punya beban apapun ketika harus membantu majikan si Imperialis dalam memberangus para pejuang kemerdekaan. Roti dan keju yang telah membutakan hati si jongos tadi, sehingga tidak lagi terfikir bagaimana Negara yang semakin hancur lebur ini.

Sementara sekarang Neo KNIL sudah berada di zaman modern yang serba tehnologi. Bukan hanya cuci baju saja yang bisa pakai mesin otomatis, tetapi cuci otak juga sudah bisa secara otomatis. Dengan sarana dan fasilitas pengumbar nafsu syahawat yang semakin mudah, murah dan dekat terjangkau, terjadilah proses cuci otak melalui “CANDUisasi” dengan “pil syahwat” yang semakin lama semakin tinggi dosisnya sampai dalam keadaan sakau yang terus menerus, tidak bisa dihentikan.

Dalam keadaan sakau yang terus menerus, maka setiap orang yang memberikan pil candu tersebut akan diangkat sebagai majikan, sebaliknya siapa saja yang mencoba menghentikan akan dianggap sebagai lawan. Di situlah proses cuci otak terjadi. Hak Asasi diartikan kebebasan mengumbar nafsu syahwat, sementara melarangnya berarti menentang HAM, akan siap berhadapan dengan majikannya.

Secara otomatis otak sudah tercuci, “kawan dan lawan” diukur siapa yang memberikan candu dan siapa yang melarang. Bagi yang memberi itu kawan dan yang melarang itu lawan. Dalam keadaan sakau pula orang bisa nekat yang penting bisa mendapatkan candu. Saat itulah seseorang bisa jadi raja tega karena sudah hilang akal sehatnya dan sudah putus urat malunya.

Seorang yang ingin mempertahankan kedaulatan negaranya, menjaga kehormatan dan harga diri bangsanya, mengajak untuk bisa berdiri sendiri, akan sangat bertentangan dengan keinginan Negara-negara Imperialis yang menjadi majikan Neo KNIL tersebut. Mereka menginginkan Negara jajahan terus berada dalam keadaan ketergantungan yang terus-menerus, sehingga mudah dikendalikan.
 
Saat itulah dua kepentingan bertemu. Si majikan bagaimana bisa terus menjajah, si Neo KNIL yang sudah sakau berkeinginan bagaimana roti dan keju plus candu syahawat tadi tidak boleh putus. Ketika Negara berdaulat, kehormatan dan harga diri terjaga disitulah nafsu liar yang akan merusak negara sangat dibatasi, sehingga si Jongos tadi merasa terancam kepentingannya

Oleh. M. Fuadz

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger