Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts
Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts
May 04, 2017
Mahmud Budi Setiawan
posted by @Adimin
Arif dalam Perbedaan
Written By NeoBee on 04 May, 2017 | May 04, 2017
Buya
sudah mengedepankan tasamuh (toleransi). Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk
bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham Chalid. Hamka tak segan untuk ikut
berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud Diba.
PERBEDAAN
adalah
keniscayaan. Namun, ada dua perbedaan yang harus dipahami dalam fikih Islam
agar tidak salah dalam menyikapinya. Pertama, tadhâdh [perbedaan kontradiktif mengenai
sesuatu yang sudah final dalam Islam seperti akidah dan ibadah mahdhah]. Kedua,
tanawwu’
[perbedaan cabang, multi tafsir misalnya dalam hukum fikih yang teknis] (Yasir
Husain Barhami, Fiqhu
al-Khilâf, 12).
Dari
kedua perbedaan tersebut, memang perbedaan tadhâdh
(kontradiktif), tidak ada kompromi sedikit pun. Namun, pada wilayah perbedaan tanawwu’ (cabang, multi
tafsir), umat Islam diharuskan berlapang dada dan toleransi. Ironisnya, masih
banyak dari kalangan umat Islam yang belum arif dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ini. Pada
tingkat yang lebih ekstrim, di antara mereka ada yang saling membid’ahkan,
merasa pihaknya sendiri yang paling benar, bahkan mengkafirkan orang yang
berseberangan. Hal ini tentu bisa menyulut permusuhan dan mengoyak persatuan.
Konflik
semacam ini tidak akan terjadi jika perbedaan furu’iyah ini disikapi dengan kearifan. Ada
banyak contoh sejak zaman Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassallam yang bisa dijadikan teladan untuk menyikapi perbedaan
demikian secara arif.
Semasa
nabi hidup misalnya –tanpa bermaksud membatasi- ada 3 peristiwa yang bisa
diangkat dalam menyikapi perbedaan furu’iyah
secara arif.
Pertama,
pasca Perang Khandak (5H), Rasulullah menginstruksikan sahabat nya, “Jangan
shalat Ashar, melainkan di Bani Quraidzah!” (HR. Bukhari, Muslim).
Para
sahabat tebelah dua dalam memahami instruksi nabi tersebut. Ada yang
memahaminya secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar kecuali sudah sampai
lokasi. Ada juga yang memahaminya secara kontekstual, sehingga memahaminya
segera melaksanakan shalat tepat waktu. Menariknya, saat kedua kelompok ini
mengadu kepada nabi, beliau sikapi dengan arif dengan tidak mencela keduanya.
Kedua,
Abu Qatadah menceritakan, suatu saat Nabi bertanya kepada Abu Bakar, “Kapan
kamu menunaikan witir?” Abu Bakar menjawab bahwa ia menunaikan witir di awal
malam. Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada Umar. Beliau pun menjawab,
“Aku menunaikan witir di akhir malam.” (HR. Abu Daud).
Sikap
nabi ketika melihat perbedaan antara keduanya bukan dengan menyalahkan, tapi
justru menyebutkan sisi positif masing-masing. Abu Bakar, dipuji nabi sebagai
seorang yang teguh. Sedangkan Umar bin Khathab, disanjung sebagai orang yang
kuat.
Ketiga,
‘Amr bin ‘Âsh bercerita, saat dirinya diutus dalam peperangan Dzâtus Salâsil,
pada suatu malam yang sangat dingin, ia bermimpi hingga junub. Saat bangun
pagi-pagi, beliau mengganti perintah mandi junub dengan tayamum. Pada saat itu
juga, ia menjadi imam shalat Shubuh. Kejadian ini diadukan langsung kepada
Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassallam oleh sahabat yang tak sependapat. Ketika
diklarifikasi nabi, Amru bin Ash berargumen dengan Surah An-Nisa [4]: 29, yang
intinya tak boleh membunuh diri karena Allah Maha Penyayang (HR. Abu Daud,
Ahmad). Setelah mendengar argumentasinya, Rasulullah pun tertawa tanpa
mengatakan sesuatu apapun –sebagai taqrir
(pengakuan)- bahwa apa yang dilakukan Amru ini bukan perbuatan yang salah.
Jamaluddin
al-Qasimi dalam buku Qawâ’idu
al-Tahdîts min Funûni Mushthalah al-Hadîts (371) menuturkan bahwa
perbedaan di kalangan sahabat dan tabi’in dalam masalah furu’iyah sudah biasa.
Di antara mereka ada yang membaca basmalah dalam shalat, ada pula yang tidak;
ada yang mengeraskan basmalah, ada juga yang tidak’; ada yang qunut pada waktu
shalat Shubuh, ada pula yang tidak melakukannya; ada yang berwudhu setelah
berbekam, ada pula yang tidak berwudu. Uniknya, meski terjadi perbedaan, mereka
tetap tidak menghalangi mereka shalat secara berjama’ah.
Dikisahkan,
Abu Hanifah dan penganut madzhab Syafi’i serta yang lainnya shalat di belakang
imam-imam Madinah yang bermadzhab Maliki (meskipun mereka tidak membaca
basmallah baik secara lirih maupun keras). Harun Ar-Rasyid pernah menjadi Imam
shalat –padahal ia telah berbekam- waktu itu Abu Yusuf menjadi makmumnya dan
tak mengulangi shalatnya.
Dalam
kisah lain disebutkan bahwa pernah Abu Yusuf dan Muhammad ketika bertakbir
dalam Idul Fithri keduanya bertakbir seperti pendapat Ibnu Abbas, ini karena
Harun Ar-Rasyid suka terhadap takbir kakeknya (Ibnu Abbas). Lebih dari itu,
pernah Imam Syafi’i shalat Shubuh tanpa qunut dekat kuburan Abu Hanifah sebagai
wujud adab beliau terhadap Abu Hanifah.
Ada
kisah lain yang cukup menarik. Seusai melaksanakan shalat Jum’at, Imam Abu
Yusuf diingatkan jama’ah bahwa di sumur dekat kamar mandi (yang beliau pakai
mandi sebelum Jum’at), terdapat bangkai tikus. Mendengar ini beliau
berkomentar, “Kalau begitu, kita mengambil pendapat saudara kita Ahli Madinah,
“Jika air mencapai dua qulla, maka kotor [najis].” (HR. Ahmad).
Lihat
bagaimana mereka menyikapi perbedaan furu’iyah,
tidak ada yang saling mencela bahkan sinis terhadap pendapat yang
berseberangan.
Di
Indonesia sendiri, sejak sebelum kemerdekaan perbedaan furu’iyah memang
menimbulkan selalu ketegangan. Terbelahlah umat Islam pada waktu itu dengan
istilah kaum tradisionalis dan kaum modernis. Perbedaan tersebut dampaknya
masih berpengaruh hingga saat ini. Padahal, kalau diamati secara cermat,
perbedaan mereka kebanyakan pada masalah furu’iyah
bukan prinsipil.
Melihat
fenomena demikian, Tjokroaminoto dan Agus Salim menginisiasi Kongres
Islam pertama di Cirebon 1922 untuk merajut Ukhuwah Islamiah dan tidak
disibukkan dengan Urusan Khilafiyah (Aji Dedi Mulawarman, Jang Oetama Jejak dan
Perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto, 187).
Contoh
lain dari Pahlawan Muslim Indonesia dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ialah
seperti yang dipraktikkan Buya Hamka. Dalam buku Mengenang 100 tahun Haji Abdul
Malik Karim Amrullah (Hamka), disebutkan bahwa Hamka adalah sosok yang mengutamakan
silaturahim ketimbang meributkan perbedaan tak prinsip. Ada beberapa contoh
yang menunjukkan toleransi hamka dalam menyikapi perbedaan furu’iyah.
Pertama,
ketika KH Abdullah Syafi’i menunaikan shalat Jum’at di Masjid Al-Azhar. Waktu
itu, Buya Hamka sudah terjadwal sebagai khatib. Melihat kedatangan KH Abdullah
Syafi’i, seketika Buya “memaksa” beliau menggantikan dirinya. Buya juga meminta
adzan dikumandangkan dua kalisebagaimana tradisi Nahdhiyin yang dipegang
Syafi’i.
Kedua,
sejak dibukanya Masjid Al-Azhar, Buya sudah mengedepankan tasamuh (toleransi).
Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham
Chalid. Hamka tak segan untuk ikut berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud
Diba. (Shobahussurur, 2008).
Ketiga,
pada saat Hamka dan Idham Chalid berada dalam satu pesawat menuju Mekah.
Masing-masing bergantian menjadi imam shalat Shubuh. Saat Idham menjadi
imam, beliau tidak membaca qunut karena ada Hamka di belakangnya. Demikian juga
Hamka, saat menjadi imam, beliau membaca qunut karena ada Idham Chalid di
belakangnya. (Abdillah Mubarak Nurin, Islam Agama Kasih Sayang, 86).
Ada
pula contoh dari tokoh nasional yang masih hidup, yaitu: Amin Rais. Tokoh yang
pernah menjabat menjadi Ketua Umum Muhammadiyah ke-12 (1995-2000) ini sangat
arif dalam menyikapi perbedaan furû’iyyah.
Zaim
Uchrowi dalam buku Mohammad
Amien Rais: Memimpin dengan Nurani menceritakan bahwa meski lahir
dari kultur Muhammadiyah, Amin dikatakan sebagai sosok yang fasih dalam membaca
qunut. Ia selalu membaca doa qunut saat menjadi umam penganut Islam ‘kultural’
saat shalat Subuh (2004: 146). Bahkan, masih menurut buku yang sama, beberapa
kali saat berkunjung ke pesantren tradisional, beliau diminta menjadi imam
shalat Shubuh. Jika kebiasaan di tempat itu memakai doa qunut, maka belia pun
juga membaca doa qunut (2004: 85).
Dari
beberapa contoh di atas, perbedaan furû’iyah
memang harus disikapi secara arif. Perbedaan demikian seyogianya tidak merusak
persatuan. Justru umat Islam saling berlapang dada, toleran dan menyikapinya
dengan kearifan. Hal ini persis yang dicontohkan nabi, para sahabat, tabiin,
ulama hingga tokoh Islam negeri ini.
Sebagai
penutup, pernyataan Ibnu Najim (ulama bermadzab Hanafi) berikut bisa dicamkan
baik-baik dalam menyikapi perbedaan furû’iyah secara arif, “Jika kita
ditanya tentang madzhab kita oleh orang-orang yang berbeda dengan kita dalam
masalah furu’ (cabang fikih), kita wajib menjawab bahwa madzhab kita shawab
(benar) tapi ada kemungkinan salah, sedangkan madzhab yang menyelisihi kita bisa
jadi khatha` (salah) tapi bisa jadi benar.” (al-Asybâh wa al-Nadhâir, Ibnu
Najim 330). Wallâhu a’lam.
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
November 13, 2015
posted by @Adimin
Walikota Padang Tinjau Lokasi Longsor dan Banjir
Written By Anonymous on 13 November, 2015 | November 13, 2015
PADANG – Rasa empati kepada warganya kembali ditunjukkan Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo. Musibah longsor dan banjir yang melanda Kota Padang, Rabu (11/11) malam membuat Walikota Padang yang sedang dinas di Jakarta langsung bertolak ke Padang.
Kamis (12/11) pagi, Walikota Padang langsung menuju lokasi yang terkena longsor dan banjir. Sekitar pukul 08.30 Wib, Mahyeldi sampai di Batu Gadang, Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan. Di sini Walikota melihat langsung korban longsor dan meninjau langsung penyebab longsor.
Walikota menyebut penyebab terjadinya longsor di daerah itu karena landainya kontur tebing dan ‘gundulnya’ di bagian atas tebing tersebut. Sehingga begitu hujan datang tanah tersebut turun dan langsung menghantam rumah, tempat ibadah dan mushalla.
“Saat diperiksa ke bagian atas tebing, pohon banyak ditebang dan dikuliti hingga mati, sedangkan di bagian bawah mereka rapikan dengan menambah tanah. Sebetulnya terjadinya longsor dan banjir karena penggundulan dan lainnya,” kata Wako.
Topografi tanah di Kota Padang memang cukup labil, curah hujan juga cukup tinggi. Karena itu Walikota Padang mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memotong kayu dan pembalakan hutan. Walikota juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dengan tingginya curah hujan yang diprediksi hingga akhir Desember.
Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh dari Camat Lubuk Kilangan Syafwan menyebut bencana longsor di Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan, sebanyak dua rumah dihondoh longsor. Di dua rumah itu terdapat tiga Kepala Keluarga (KK) yakni Andi (29) bersama isteri dan dua anak. Kemudian Apriadi (31) beserta isteri dan dua anak. Serta Rosni (60) beserta tiga anak. Selain menghondoh dua rumah, longsor juga melanyau mushalla dan Sekolah Dasar (SD) 13 Batu Gadang.
“Korban longsor sudah diamankan ke rumah yang berada di dekat Kantor Lurah. Bantuan juga sudah diberikan,” ujar Syafwan.
Setelah itu, Walikota bertolak menuju Kampung Baru, Kecamatan Lubuak Bagaluang. Di sini Walikota juga melihat langsung rumah warga yang terendam banjir. Tidak hanya itu, Walikota juga menyambangi Batuang Taba XX, Kecamatan Lubuak Bagaluang. Di sini, Walikota juga melihat langsung rumah warga yang terendam banjir. Sebanyak 18 KK di lokasi ini terpaksa diungsikan.
Camat Lubuak Bagaluang Ances Kurniawan mengatakan sejumlah warga dilanyau banjir pada Rabu malam itu. Di Kelurahan Banuaran, 70 rumah terendam banjir. Sebanyak 425 jiwa dari 85 KK diungsikan ke SD 32. Di Kelurahan Parak Laweh, tujuh rumah dengan penghuni 30 jiwa ikut terendam.
Di Kelurahan Kampung Baru cukup parah lagi. Di sini, dua rumah hanyut terbawa air bah. Akan tetapi beruntung tidak ada korban jiwa. Sedangkan di Kelurahan Tanjung Saba, rumah yang dihuni 20 jiwa ikut terendam. Dan di Kelurahan Gurun Lawas, 41 KK menjadi korban banjir.
“Di kelurahan Batuang Taba sebanyak 18 KK yang diantaranya terdapat tiga ibu hamil dan 13 balita diungsikan ke SD 24,” tukas Ances.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Padang Frisdawati Boer menyebut bantuan telah disebarkan ke tempat korban banjir dan longsor. Bantuan itu diantaranya perlatan masak, peralatan bayi, beras, panic dan kebutuhan lainnya.
“Untuk bantuan lain kita hitung dulu dan sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” sebut Frisdawati.
Hingga berita ini diturunkan belum bisa dipastikan berapa jumlah kerugian akibat bencana banjir dan longsor. Kepala BPBD-PK Dedi Henidal mengatakan pihaknya belum bisa memastikan berapa kerugian akibat banjir dan longsor. Namun pihaknya hanya bisa menaksir kerugian sementara di atas Rp 1 miliar.(Charlie / Yurizal / Tafrizal / Mursalim)
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
KIPRAH KAMI,
Kutipan media,
NEWS,
Sejarah,
TOPIK PILIHAN
November 13, 2015
posted by @Adimin
Tonton Teater Revolusi Burung, Kang Iman: PKS Dukung Seni Pertunjukan
JAKARTA (13/11) -- Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman menyempatkan diri menikmati pertunjukan Teater Kanvas dengan naskah Revolusi Burung di Gedung Pertunjukan, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (12/11/2015) malam.
Sohibul yang datang dengan jajaran pengurus DPP PKS sengaja ingin menonton seni teater yang disutradarai Zak Sorga itu sebagai bentuk dukungan terhadap seni pertunjukan Tanah Air.
Berkemeja batik, pria yang akrab disapa Kang Iman ini menekankan jika PKS sebagai partai politik dan parai dakwah ingin menghidupkan seluruh sektor masyarakat, termasuk budaya. "Kita dukung penuh pertunjukan teater para budayawan dan seniman. Jadi tidak hanya politik saja," ujar Kang Iman.
Kang Iman larut dalam pertunjukan kritik sosial dengan judul naskah Revolusi Burung yang dipentaskan selama dua jam itu. Sebagai anggota Komisi X DPR RI, Kang Iman melihat ada beberapa dukungan pemerintah untuk seni pertunjukan yang belum memadai. "Meski sudah ada program namun saya lihat masih belum memadai," tandasnya.
Revolusi Burung sendiri adalah pertunjukan ke-100 teater Kanvas. Lakon dalam pertunjukan tersebut mengisahkan sekelompok merpati yang merupakan mayoritas dalam bangsa burung salah memilih pemimpin.
"Jangan sampai salah memilih pemimpin dalam karung," ungkap penulis naskah sekaligus sutradara, Zak Sorga pasca pertunjukan. [pks.id]
posted by @Adimin
November 11, 2015
posted by @Adimin
Presiden PKS: Pahlawan Bukan Gelar Bawaan atau Rekaan
Written By Anonymous on 11 November, 2015 | November 11, 2015
JAKARTA (11/11) - Hari Pahlawan Nasional di Indonesia diperingati setiap 10 November. Artinya, hari ini (Selasa, 20/11) rakyat Indonesia memperingati Hari Pahlawan.
Bagi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman, pahlawan bukan gelar bawaan atau rekaan, tapi penghormatan atas jasa-jasa bagi nusa dan bangsa.
"Mari berkarya tuk rakyat dan negeri tercinta," kata dia lewat akun @msi_sohibuliman, Selasa (10/11).
Menurut anggota DPR ini, hakikat kepahlawanan adalah kontribusi dan dedikasi, bukan atribusi. Berkarya nyata lebih esensi daripada gelar itu sendiri. "Ayo berkarya!" ajaknya.
Ia menjelaskan, menjadi pahlawan tidak harus muluk-muluk. Mulailah dari hal-hal kecil. Berlaku jujur itu ciri seorang pahlawan. Tidak malas itu ciri seorang pahlawan. Tidak memgambil hak orang lain itu ciri seorang pahlawan. Mau memberi dan berbagi itu ciri seorang pahlawan.
"Dan menjaga kepentingan dan ketertiban umum itu juga ciri pahlawan," demikian Sohibul Iman. [pks.id]
Sumber: http://www.rmol.co/posted by @Adimin
November 11, 2015
Hari Pahlawan Momentum Inspirasi Bagi Generasi Muda
JAKARTA (11/11) - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid menegaskan momentum Hari Pahlawan harus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Oleh karena itu, Hidayat menolak jika muncul anggapan bahwa hari yang biasa diperingati setiap tanggal 10 November ini peristiwa masa lalu semata.
"Abad 21 ini menantang. Banyak tokoh hebat yang menciptakan media sosial (twitter, facebook, whatsapp) yang memengaruhi pola hidup kita. Kalau anak-anak muda kita mengacu pada orang zaman dulu, orang Indonesia seperti sekarang adalah tokoh hebat. Orang di luar negeri itu sama dengan kita, sama-sama manusia," papar Hidayat saat talkshow Radio Republik Indonesia (RRI) di Ruang Presentasi Perpustakaan MPR RI, Selasa (10/11).
Anggota Komisi Pendidikan DPR ini juga menilai bahwa inspirasi yang berasal dari sejarah itu harus dibangun dari adanya perbaikan dalam sistem pendidikan sejarah di Indonesia. Mulai dari tingka Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah, hingga perguruan tinggi. Atas dasar ini, Hidayat mendorong buku-buku sejarah bermutu agar segera disebarluaskan hingga ke pelosok Indonesia, khususnya di daerah terpencil yang minim pendidikan sejarah, baik guru maupun bukunya.
“Kita tidak hidup di ruang kosong. Kita hidup dengan situasi di Indonesia. Daripada kita sekadar pelangkap data statistik,kita bisa jadi seorang pahlawan. Kita lihat sejarah, pahlawan berasal dari beragam suku dan latar profesi. Walaupun tidak harus dicita-citakan, kita bisa jadi pahlawan,” jelas doktor lulusan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia ini. [pks.id]
posted by @Adimin
November 10, 2015
Salim Segaf: Kader PKS, Teruslah Berprestasi
Written By Anonymous on 10 November, 2015 | November 10, 2015
Tegal (10/11) - Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri berpesan kepada kader PKS untuk terus berkiprah di masyarakat. Terus mengukir prestasi dalam melayani umat.
"Tetap jaga semangat yang kuat dan terus berprestasi, lakukan pendekatan kepada umat dan tokoh-tokoh yang ada di daerah agar termotivasi untuk selalu bekerja keras," ujar Salim dalam silaturahmi dengan kader PKS Kabupaten/Kota Tegal di Gedung Politeknik Transportasi Kota Tegal, Ahad (8/11/2015).
Salim mengatakan PKS lahir untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negeri. Sehingga slogan baru PKS “Berkhidmat untuk Rakyat” memang sudah menjadi kerjaan PKS sejak dulu.
Hadir dalam pertemuan itu sekitar 500 kader PKS dari Tegal, Brebes, Pemalang dan Pekalongan. Selepas memberi motivasi dalam pertemuan itu, para kader PKS mengunjungi undangan Haul ke-83 Syekh Armia bin Kurdi di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia, Cikura, Bojong. [pks.id]
Keterangan Foto: Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri dalam silaturahmi dengan kader PKS Kabupaten/Kota Tegal di Gedung Politeknik Transportasi Kota Tegal, Ahad (8/11/2015).
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
SEPUTAR PKS,
TOKOH
November 07, 2015
Belajar Trendi Syari Tanpa Glamor di Arena Mukernas PKS
Written By Anonymous on 07 November, 2015 | November 07, 2015
DEPOK (3/11) – Berbusana muslimah seringkali dikonotasikan dengan gaya pakaian perempuan Islam yang kuno dan jauh dari perkembangan zaman. Karena kerap tercitrakan demikian, muslimah yang bersemangat berpakaian Islami justru seringkali malah terjebak pada gaya pakaian 'menutup aurat' tapi glamor, mahal, bahkan tidak syari.
Menurut pelaku bisnis busana muslim brand Keke, Hartati Desi Yanti, muslimah memang sudah seharusnya berpakaian menutup aurat sesuai kewajiban yang disyariatkan Islam. Namun Desi menegaskan, berpakaian Islami tapi trendi tidak harus bersifat glamor dan menguras banyak uang dengan tetap memperhatikan unsur syariah.
“Siapapun sebenarnya, bisa bergaya trendi namun tetap syar’i," ujar Desi dalam talkshow bertema 'Yang Muda, Yang Bergaya: Hijab Style dan Perawatan Wajah' di arena Mukernas ke-4 PKS, di Hotel Bumi Wiyata Depok, Jawa Barat, Rabu (4/11/2015).
Desi mengatakan, busana perempuan sudah seharusnya menutup aurat. “Namun, pemilihan warna dapat bersifat trendi, cerah, dan coraknya yang floral”, tutur Desi.
Perwakilan dari Kosmetik Wardah Echa Novita pun menjelaskan tips untuk tetap terlihat cantik namun tetap natural. “Yaitu gunakan warna putih, krem, dipadukan dengan warna coklat. Untuk eye shadow dan blush on,usahakan jangan memakai warna-warna yang ngejreng,” tutur Echa.
Acara tutorial Hijab ini adalah bagian dari menyemarakkan acara Mukernas ke-4 PKS. Selain talkshowkemuslimahan ini, Mukernas juga dimeriahkan oleh talkshow “Let Your Hands Making Money” yang diisi dari Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Rendy Saputra. [kabarpks.com]
Keterangan Foto: Suasana Bazar di Mukernas ke-4 PKS
posted by @Adimin
Menurut pelaku bisnis busana muslim brand Keke, Hartati Desi Yanti, muslimah memang sudah seharusnya berpakaian menutup aurat sesuai kewajiban yang disyariatkan Islam. Namun Desi menegaskan, berpakaian Islami tapi trendi tidak harus bersifat glamor dan menguras banyak uang dengan tetap memperhatikan unsur syariah.
“Siapapun sebenarnya, bisa bergaya trendi namun tetap syar’i," ujar Desi dalam talkshow bertema 'Yang Muda, Yang Bergaya: Hijab Style dan Perawatan Wajah' di arena Mukernas ke-4 PKS, di Hotel Bumi Wiyata Depok, Jawa Barat, Rabu (4/11/2015).
Desi mengatakan, busana perempuan sudah seharusnya menutup aurat. “Namun, pemilihan warna dapat bersifat trendi, cerah, dan coraknya yang floral”, tutur Desi.
Perwakilan dari Kosmetik Wardah Echa Novita pun menjelaskan tips untuk tetap terlihat cantik namun tetap natural. “Yaitu gunakan warna putih, krem, dipadukan dengan warna coklat. Untuk eye shadow dan blush on,usahakan jangan memakai warna-warna yang ngejreng,” tutur Echa.
Acara tutorial Hijab ini adalah bagian dari menyemarakkan acara Mukernas ke-4 PKS. Selain talkshowkemuslimahan ini, Mukernas juga dimeriahkan oleh talkshow “Let Your Hands Making Money” yang diisi dari Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Rendy Saputra. [kabarpks.com]
Keterangan Foto: Suasana Bazar di Mukernas ke-4 PKS
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
June 04, 2015
Oleh: A. Kholili Hasib
posted by @Adimin
“Islam Nusantara”: Islamisasi Nusantara atau Menusantarakan Islam? [2]
Written By dBisnis on 04 June, 2015 | June 04, 2015
Dalam bersikap terhadap tradisi Nusantara, ada yang diterima dan ada
yang harus ditolak. Budaya atau kepercayaan lokal yang tidak sesuai
dengan pokok ajaran Islam
PADAHAL aliran kebatinan memiliki cirri iqtha’usy syari’ah (menggugurkan
kewajiban syariah). Pesantren Sidogiri Pasuruan menerbitkan buku yang
khusus mengkaji masalah ini berjudul Bahaya Aliran Kebatinan (Tim
Penulis Pustaka Sidogiri, 1432 H).
Di halaman 190 ditulis “Ciri-ciri umum
kebatinan itu, baik yang ada di Indonesia maupun yang di bagian lain
dunia Islam, adalah iqtha’usy syari’ah, membatalkan ajaran-ajaran agama.
Seperti menggugurkan kewajiban ibadah salat, puasa, zakat dan
lain-lain. sementara semua larangan agama dianggap tidaka dad an boleh
saja dilakukan. Karenanya Imam Abu Nu’aim al-Asfhihani, ulama sufi dan
hafidz abad kelima Hijriyah, menganggap kebatinan itu mubahiyyun, serba
boleh melakukan apa saja, seperti beliau tulis dalam pembukaan kitab Hilyatul Auliya’ “.
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari juga berpendapat bahwa aliran kebatinan mubahiyyun termasuk aliran yang sesat. Dalam kitabnya Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah beliau menulis: “Di antara aliran yang berkembang setelah tahun 1330 H, adalah aliran Ibahiyyun
(serba boleh), yang berpendapat, bahwa apabila seseorang telah mencapai
puncak kecintaan kepada Allah, hatinya bersih dari kelalaian, dan telah
berketetapan memilih keimanan daripada kekufuran, maka perintah dan
larangan Allah menjadi gugur darinya dan Allah tidak akan memasukkannya
ke neraka meskipun melakukan dosa-dosa besar. Sebagian mereka juga
mengatakan, bahwa ibadah-ibadah lahiriyah gugur dari kewajibannya, dan
ibadah yang harus dilakukannya cukup merenung dan memperbaiki akhlak
batin saja. Sayyid Muhammad berkata dalam Syarh Ihya Ulumuddin: ‘Pedapat
ini merupakan kekufuran, zidiq dan kesesatan’. Memang kaum Ibahiyyun
selalu ada sejak masa dulu, mereka pada umumnya orang-orang bodoh,
tersesat dan tidak memiliki tokoh yang mengetahui ilmu syar’i secara
memadai” (KH Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 11-12).
Berdasarkan hal itu, dalam bersikap
terhadap tradisi Nusantara, ada yang diterima dan ada yang harus
ditolak. Budaya atau kepercayaan lokal yang tidak sesuai dengan pokok
ajaran Ahlus Sunnah ditolak.
Di sinilah diperlukan ilmu alat ushul fikih. Dalam Islam, ada aspek ushul dan ada aspek furu’. Ushul dalam Islam bersifat tetap, final dan qath’i. sedangkan aspek furu’
merupakan medan ‘kreatifitas’ ulama mujtahid. Bisa terjadi perbedaan
antara ulama satu dengan ulama yang lain. Kewajiban shalat merupakan
perakar ushul. Barangsiapa yang mengingkarinya maka dia kufur. Budaya
atau aliran kepercayaan apa saja yang membolehkan tidak shalat fardhu, tidak boleh dipelihara.
Meskipun budaya itu adalah produk tradisi Nusantara.
Maka, jika ada sekelompok orang
mentradisikan shalat dengan berbahasa daerah misalnya, maka tetap
dihukum sebagai kelompok sesat. Cara-cara seperti ini tidak dilakukan
Walisongo.
Sedangkan apa yang dilakukan para dai
Walisongo adalah memasukkan pandangan hidup Islam kepada tradisi-tradisi
yang bisa diafirmasi. Salah satu keberhasilan para dai penyebar agama
Islam di Nusantara adala melalui bahasa. Proses pengislamannya — salah
satunya — dengan memasukkan term-term Arab-Islam ke dalam bahasa lokal.
Ada banyak kosa kata bahasa Melayu dan Indonesia yang diserap dari
bahasa Arab. Misalanya kosa kata ‘akal’, ‘musyawarah’, ‘adil’, ‘adab’,
‘akhlak’, ‘dewan’, ‘kalimat’, ‘khutbah’, ‘jama’ah’, ‘kursi’, ‘zahir’,
‘batin’, ‘kalbu’, ‘kuliah’, dan lain sebagainya.
Keberhasilan mengislamkan bahasa oleh para
dai terdahulu dicatat oleh Prof. al-Attas sebagai keberhasilan yang
mengalahkan pencapaian Hindu-Budha. Karena mereka berhasil mengangkan
bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di kepulauan Nusantara (M. Naquib
al-Attas, Historical Fact and Fiction, hal.xvi).
Sementara bahasa kaum Hindu, sansekerta,
tidak popular kecuali di kalangan istana dan para pemuka agama mereka
saja. Sementara bahasa Melayu yang telah banyak menyerap istilah
Arab-Islam itu lebih merakyat area penyebarannya luas seiring dengan
luasnya dakwah Islam di bumi Nusantara.
Dikenal pula di sini jenis tulisan
Arab-Jawi yang sering disebut tulisan Pegon (pego). Tulisan berbahasa
jawa atau sunda tapi dengan menggunakan huruf Arab. Jenis tulisan ini
populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad lamanya,
sejak kedatangan Islam. Namun, sayang jenis tulisan ini tidak lagi
populer di Indonesia – hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Jenis
tulis ini merupakan keunikan Muslim di Nusantara warisan para dai
penyebar Islam terdahulu.
Pakaian orang-orang Muslim di Indonesia
dan Malaysia juga memiliki kekhasan. Mereka memakai sarung, baju takwa
dan songkok Nasional (songkok berwarna hitam). Baju takwa mirip dengan
baju gamis Arab yang dipotong sampai pinggang. Konon nama ‘baju takwa’
ini diambil dari firman Allah Subhanahu Wata’ala, ..wa libasut takwa..
Blangkon, juga disebut-sebut tidak lepas dari simbol Arab-Islam yaitu
berasal dari serban imamah, yaitu kain panjang yang dililitkan di kepala
dengan model tertentu. Di tanah jawa, serban imamah itu dibuat praktis,
yaitu lilitannya dilekatkan supaya dengan mudah bisa dilepas dan
dipakai lagi. Karena di Jawa, maka kemudian kainnya menggunakan batik.
Sehingga kita bisa memperhatikan, serban imamah yang biasa dipakai oleh
para ulama Hadramaut Yaman atau habaib Indonesia bentuknya hampir mirip
dengan blankon.
Simbol-simbol dan tradisi di Nusantara
yang berlaku di kalangan Muslim Nusantara tersebut merupakan produk
Islamisasi. Kita lebih tepat menyebut tradisi Nusantara yang
terislamkan. Bukan agama Islam yang ternusantarakan. Sebab, pengaruh
Islamnya lebih kuat dan mengakar bahkan mengandung filosofi yang
berdasarkan al-Qur’an dan hadis.
Setelah terislamkan, yang terlihat adalah warna Islamnya bukan warna Hindu-Budha atau animisme-dinamisme.
Hasilnya, Dari abad ke-15 sampai ke-17 di bumi Nusantara terlihat perubahan pemikiran dalam pandangan hidupnya (worldview),
yang melahirkan filsuf, ulama’ dan pemikir tingkat internasional dengan
karya-karya yang berbobot. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan:
“Abad-abad
ke-enam belas dan ke-tujuh belas suasana kesuburan dalam penulisan
sastera falsafah, metafizika dan teologi rasional yang tiada terdapat
tolak bandinganya di mana-mana dan di zaman apa pun di Asia Tenggara.
Penterjemahan al-Qur’an yang pertama dalam bahasa Melayu telah
diselenggarakan beserta syarahannya yang berdasarkan al-Baydawi; dan
terjemahan-terjemahan lain serta syarahan-syarahan dan karya-karya asli
dalam bidang falsafah, tasawuf dan ilmu kalam semuanya telah
diselenggarakan pada zaman ini juga” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hal.45).
Maka, cara yang telah dilakukan Walisongo
harus dilanjutkan dakwah dan perjuangannya. Dakwah mereka adalah
memasukkan nilai-nilai Tauhid ke dalam tradisi Muslim Indonesia, bukan
mengindonesiakan makna Tauhid. Jika memasukkan nilai Tauhid, maka inilah
yang dinamakan Islamisasi. Manakala menusantarakan makna Tauhid, maka
ini bisa berujung kepada liberalisasi Islam. Sejak berabad-abad lamanya
Indonesia merupakan bumi Aswaja, bukan bumi Liberal. Tiga setengah abad
Indonesia dijajah Belanda, namun Indonesia masih berpegang pada tradisi
Islam, bukan tradisi Barat-Kristen. Hal ini menunjukkan akar Islamisasi
di bumi Nusantara ini sangat kuat.
Dan yang juga penting, Al-Attas mencatat,
bahwa kedatangan Islam di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia merupakan
peristiwa terpenting dalam sejarah kepulauan tersebut. Melayu kemudian
menjadi identik dengan Islam. Sebab, agama Islam merupakan unsur
terpenting dalam peradaban Melayu. Islam dan bahasa Melayu kemudian
berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional (Syed
Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, hal. 178).
Oleh: A. Kholili Hasib
hidayatullah
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran. Tapi, itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu.
Ulama Yang Fakir
Written By dBisnis on 03 May, 2015 | May 03, 2015
Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran. Tapi, itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu.
Lihatlah sikap seorang ulama besar Islam bernama Al-Qadhi Abu
Abdillah Syarik Ibnu Abdillah an-Nakha’i al-Kufi. Dia adalah salah
seorang ulama besar pada zamannya (Tarikh Baghdad 9/288, al-Khatib
al-Baghdadi).
Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya pada pagi hari ia disambut oleh Al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian sembari membawa bubur.
Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya pada pagi hari ia disambut oleh Al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian sembari membawa bubur.
Kemudian, sahabatnya itu berkomentar, “Engkau telah banyak menyelesaikan masalah hukum, namun keadaanmu masih seperti ini.”
Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silakan duduk, duduklah!”
Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silakan duduk, duduklah!”
Keadaannya yang seperti itu tidak membuatnya mengurungkan diri
melayani sahabatnya. Mereka tetap mengobrol asyik membicarakan satu
permasalahan dari satu bab fikih nikah.
Apa yang dialami Al-Qadhi dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan, muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka di hadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga, ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).
Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeser pun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), tapi ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’-nya, ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan.
Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).
Kefakiran juga pernah dialami Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu. Umar Ibnu Hafsh al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka.
Lalu, mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Kemudian, mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya.
Apa yang dialami Al-Qadhi dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan, muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka di hadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga, ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).
Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeser pun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), tapi ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’-nya, ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan.
Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).
Kefakiran juga pernah dialami Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu. Umar Ibnu Hafsh al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka.
Lalu, mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Kemudian, mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya.
Hingga, ia kembali mengajarkan ilmu kepada mereka. (Tarikh Baghdad:
2/13, al-Khatib al-Baghdadi). Apakah kita pernah mengalami kondisi
seperti para ulama panutan umat di atas? Pernahkah kita sehari saja
lapar?
Bahron Ansori
Bahron Ansori
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
OASE,
TOPIK PILIHAN
March 23, 2015
3 Hal Penting yang Mesti Dilakukan Kawula Muda Masa Kini
Written By Sjam Deddy on 23 March, 2015 | March 23, 2015
Entah itu di masjid, di sekolah, di kampus atau dimana saja. Kita harus punya rasa haus yang tinggi akan ilmu
DI ERA media sosial seperti sekarang, handphone
seringkali menyita waktu. Di kawasan Depok, kalau kita mau perhatikan
perilaku remaja zaman sekarang, mereka yang ke sekolah dibonceng sepeda
motor oleh orang tuanya tak henti-henti menatap layar handphonenya.
Tangannya aktif ‘menari’ dengan kepala tunduk penuh ‘konsentrasi.’
Sementara itu, dikalangan mahasiswa juga
sama. Pernah suatu ketika sekelompok mahasiswi kumpul di sebuah kafe di
seputaran kampus di kawasan Pasar Minggu. Setelah basa-basi, ternyata
mereka bukannya bercengkrama, suasana sontak hening. Bukan karena mereka
sedang membaca sesuatu, tetapi masing-masing asyik menatap layar
handphonennya.
Kira-kira itulah pemandangan umum
kehidupan remaja kita di kota besar. Gak di motor, di kafe, di kendaraan
umum, bahkan kereta, mayoritas remaja kita asyik sekali dengan
gad-getnya. Mereka seperti sedang menemukan dirinya kala berinteraksi
dengan smartphone.
Padahal, sejumlah penelitian menyebutkan
bahwa terlalu lama bergad-get ria, remaja rentan terkena banyak masalah,
seperti susah tidur, kualitas konsentrasi yang menurun, sampai pada
perhatian yang salah dan sulit hidup teratur atau disiplin.
Mungkin inilah trend zaman. Tetapi
bagaimanapun kita ini Muslim yang memiliki orientasi hidup tak hanya
dunia, tetapi juga akhirat. Dalam konteks ini kita perlu meningkatkan
kualitas diri secara integral, jasmani-ruhani.
Oleh karena itu, gaul, sesuai zaman – sejauh tidak melanggar syariat – why not?
Boleh-boleh saja, asalkan wajar alias tidak berlebihan. Apalagi,
sebagai Muslim kita punya kewajiban penting yang mesti diasah setiap
hari. Seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian keilmuan dan memahami
shirah nabawiyah.
Membaca Al-Qur’an
Harus disadari, Muslim itu butuh membaca
Al-Qur’an. Bukan karena semata-mata perintah Allah Ta’ala dan keutamaan
pahalanya di akhirat. Tetapi juga dikarenakan Al-Qur’an ini sangat
penting dalam kehidupan kita.
Coba lihat perilaku remaja sekarang.
Sedikit masalah, curhat. Syukur kalau curhat sama orang yang tepat. Nah,
ini curhat di media sosial. Tak jarang loh, gara-gara curhat berujung
pada penyesalan.
Mengapa remaja sekarang mudah sekali
narsis dan curhat? Jawabannya mungkin bisa beragam. Namun satu di antara
hal yang pasti adalah, mereka belum membiasakan diri membaca Al-Qur’an
secara sungguh-sungguh.
Kalaulah mereka membaca Al-Qur’an dengan
sungguh-sungguh setiap hari, maka tidak perlu hati mereka galau, resah
apalagi sebentar-sebentar mau narsis. Mengapa? Ada ketenangan di dalam
batin mereka. Dan, ketenangan ini hanya akan diperoleh manakala kita
memang membaca dengan sungguh-sungguh. Bukan sekedar hatam, tetapi
meresapi maknanya.
Nah, kalau seharian, baca Al-Qur’an kita
tinggalin, lantas berharap kebahagiaan darimana? Sementara Al-Qur’an itu
adalah obat dan rahmat dari Allah Ta’ala. Mestinya, Al-Qur’an ini yang
paling sering kita lihat, ketimbang layar handphone. Jadi, mulailah
berpikir, utamanya bagaimana membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap
hari.
Sampai-sampai dalam satu kesempatan
taushiyahnya, seorang dai kondang di negeri ini pernah berkata, “Kalau
saja kita bisa menatap Al-Qur’an seperti kita menatap layar handphone
kita, black berry kita, saya jamin, satu tahun hafal Qur’an 30 juz.”
Mengakrabi Kajian Ilmu
Hal yang tidak kalah penting setelah
berusaha membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari adalah mengikuti
kajian keilmuan. Entah itu di masjid, di sekolah atau di kampus. Kita
harus punya rasa haus yang tinggi akan masalah ilmu ini.
Mengapa ada sebagian dari remaja
Muslim-Muslimah yang terjerembab pada budaya tidak sehat, satu sebab
utamanya adalah karena minim ilmu. Ketiadaan ilmu memang rentan menyeret
manusia pada kebinasaan.
Memang benar, di internet sudah tersedia
banyak artikel yang mengkaji beragam bahasan penting dalam Islam.
Tetapi, belajar dengan menghadiri majelis ilmu tidak sama dengan belajar
via internet. Selain ada keutamaan yang jauh lebih bernilai, majelis
keilmuan juga memperkenalkan kita dengan banyak orang, sehingga
memungkinkan terjalin silaturrahim yang menyelamatkan kita dari sisi
pergaulan yang salah.
Oleh karena itu, jangan malu apalagi
gengsi untuk pergi ke masjid mengikuti kajian keilmuan. Ingat, ilmu itu
penting bukan untuk siapa-siapa. Semua itu penting demi kehidupan kita
sendiri. Maka jangan sia-siakan hidup dengan tidak mencintai majelis
keilmuan.
Belajar Shirah Nabawiyah
Ada sebuah ungkapan menarik, “Islam memang
bersumber dari Qur’an dan Hadits. Tetapi keduanya akan semakin hidup
manakala kita juga memahami shirah nabawiyah. Sebab, bagaimana Qur’an
dan Hadits itu dimanivestasikan, shirah nabawiyah-lah yang
meneladankan.”
Dengan demikian, satu hal yang tidak boleh
terlewatkan dalam agenda harian kita adalah bagaimana memahami shirah
nabawi. Misalnya, kala nabi mendapat cemoohan dari orang lain, apakah
beliau membalasnya atau memaafkannya.
Kalau membaca ayat yang memerintahkan kita
untuk memaafkan, mungkin hati kita masih belum bisa menerima secara
utuh apa untungnya memaafkan kesalahan orang. Tetapi, kalau kita
lengkapi dengan mempelajari shirah nabawiyah, insya Allah hati kita akan
mantab memilih memaafkan. Jadi, pelajarilah shirah nabawiyah setiap
hari.
Sahabat, inilah tiga hal penting yang
mesti kita lakukan setiap hari. Rahasia kesuksesan kita ditentukan oleh
apa yang kita lakukan dalam keseharian kita. Dan, tidak pernah ada
soerang pun bisa melakukan sebuah kebaikan dan kemanfaatan tanpa latihan
setiap hari.
Jadi, demi masa depan dunia-akhirat kita, apalagi yang kita pikirkan untuk bersegera melatih diri melakukan tiga hal ini? Wallahu a’lam
Imam Nawawi (hidayatullah)
posted by @Adimin
Label:
EDITORIAL,
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN
November 17, 2014
posted by @Adimin
Dua Manfaat Rajin Baca Al-Quran
Written By Sjam Deddy on 17 November, 2014 | November 17, 2014
Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Baqarah pada suatu malam,
maka syaitan tidak akan masuk ke rumahnya pada malam itu
SETIAP Muslim, tentu memiliki keinginan kuat untuk
hidup aman, tentram dan damai dalam lindungan-Nya, terutama aman dari
gangguan syaitan yang terkutuk.
Apalagi, syaitan sebagai musuh nyata tak henti-hentinya melakukan
berbagai makar untuk menggelincirkan setiap Muslim dari keimanan,
sehingga hidup dalam kegelisahan, kebimbangan, keraguan bahkan
kemunkaran dan kekafiran.
Oleh karena itu, sangat wajar, jika setiap Muslim mendamba kehidupan
bahagia dan aman dari gangguan syaitan yang terkutuk. Dan, mengenai
bagaimana kehidupan kaum Muslimin selamat dari gangguan syaitan,Allah
dan Rasul-Nya telah memberikan ‘senjata’ dan cara agar benar-benar
selamat dari gangguan syaitan.
Karena syaitan tidak pernah putus asa, dan terus menerus
menggelincirkan kaum Muslimin dari keimanan dan ketakwaan, Allah dan
Rasul-Nya pun memberikan metode yang setiap Muslim harus melakukannya
sesering mungkin atau dengan konsisten, yakni membaca Al-Qur’an,
utamanya Surah Al-Baqarah.
Hal ini didasarkan pada apa yang diterangkan dengan sangat gamblang
dalam pembukaan tafsir Surah Al-Baqarah Ibn Katsir dengan mencantumkan
hadits-hadits shohih perihal tersebut.
Aman dari syaitan
“Janganlah kalian menjadikan rumah kalian bagai kuburan.
Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah tidak
akan dimasuki syaitan.” (HR. Muslim).
Dalam hadits yang lain disebutkan, “Semoga aku tidak mendapatkan
salah seorang di antara kalian meletakkan salah satu kakinya di atas
kakinya yang lain, sambil bernyanyi dan meninggalkan Surah Al-Baqarah
tanpa membacanya. Sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang
dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah. Sesungguhnya rumah yang paling
kosong adalah bagian dalam rumah yang hampa dari kitab Allah
(Al-Qur’an).” (HR. An-Nasa’i).
Sekiranya dalam keseharian kita menghadapi kesibukan yang sangat
padat, maka jangan khawatir, sebab 10 ayat saja dari Surah Al-Baqarah
yang senantiasa dibaca setiap hari juga akan memberikan kemanfaatan yang
sama dengan membaca Surah Al-Baqarah secara keseluruhan.
Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Barang siapa membaca sepuluh
ayat dari Surah Al-Baqarah pada suatu malam, maka syaitan tidak akan
masuk ke rumahnya pada malam itu. Yaitu empat ayat dari awal Surah
Al-Baqarah, ayat kursi dan dua ayat selanjutnya, serta tiga ayat
terakhir Surah Al-Baqarah.”
Dalam riwayat lain darinya disebutkan, “Pada hari itu dia dan
keluarganya tidak akan didekati syaitan, dan sesuatu apaun yang
dibencinya. Dan, tidaklah ayat-ayat itu dibacakan atas orang gila,
melainkan dia akan sadar (sembuh).”
Dengan demikian, sangat merugi setiap Muslim yang melewati harinya
tanpa membaca Surah Al-Baqarah. Padahal, jaminan keuntungan dari Allah
Ta’ala sedemikian dahsyat dan nyata. Bahkan, sekiranya tak mampu, 10
ayat saja dari Surah Al-Baqarah dibaca setiap hari, syaitan pun Allah
jamin tidak akan mendekati kita, rumah dan keluarga kita.
Jaminan Syafaat
Selain aman dari gangguan syaitan, membaca Al-Qur’an secara
keseluruhan akan memberikan keuntungan maha dahsyat lainnya, yakni
mendapat syafaat di hari kiamat.
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu akan memberi
syafa’at bagi pembacanya pada hari Kiamat kelak. Dan, bacalah
Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena kedua surat
itu akan datang pada hari Kiamat, soelah-olah keduanya bagai tumpukan
awan, atau bagai dua benda yang menaungi, atau bagai dua kelompok burung
yang mengembangkan sayapnya. Keduanya akan membela pembacanya pada hari
Kiamat.”
Kemudian beliau bersabda, “Bacalah Al-Baqarah, karena membacanya
akan mendatangkan berkah dan meninggalkannya adalah kerugian. Dan, para
tukang sihir tidak akan sanggup menjangkau (pembacanya).” (HR.Muslim).
Dengan demikian, amat rugi, seorang Muslim yang melewati harinya
tanpa membaca Al-Qur’an. Jika Allah dan Rasul-Nya memberikan jaminan
keuntungan yang sangat dahsyat seperti ini, masihkah kita mau merelakan
hari-hari kita tanpa membaca Al-Qur’an?
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN
November 04, 2014
posted by @Adimin
Keshalihan Para Pemuda dan Kesadaran Orang Tua
Written By Sjam Deddy on 04 November, 2014 | November 04, 2014
Alangkah menyedihkan bila menyaksikan anak muda yang menghabiskan waktunya untuk hura-hura atau bermain tak tentu arah.
Tapi lebih menyedihkan lagi bila melihat orang tua menghabiskan sisa umurnya untuk main gaple atau domino di warung kopi.
Bertambah lagi kesedihan, bila sudah tua
tapi masih merasa muda, angan-angan masih panjang, ketamakan terhadap
dunia semakin menjadi-jadi, dan syahwat masih menggebu.
Tidak cukupkah uban bertabur di kepala,
gigi satu persatu mulai rontok, pandangan yang sudah tidak terang lagi,
pendengaran yang tidak nyaring lagi, kulit yang sudah keriput, tulang
yang sudah keropos, tenaga yang sudah melemah, penyakit yang sudah
komplek, selera yang sudah berkurang, bilangan usia yang sudah semakin
banyak, sebagai operator pengingat yang mengatakan:
“Maaf, pulsa hidup anda sudah hampir
habis, tidak ada lagi kesempatan untuk isi ulang, beberapa saat lagi
umur anda akan berakhir, harap siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke
akhirat”.
Tua itu adalah kesempatan emas untuk bertaubat.
Tua itu adalah nikmat tersendiri untuk memperbaiki diri.
Tua itu karunia tidak terhingga untuk persiapan menuju akhirat.
Betapa banyak anak muda yang tidak sempat mencicipi masa tua, mereka mati ketika asyik dengan dunia.
Rasulullah bersabda: “Siapa yang umurnya
sudah sampai 40 tahun, tapi kebaikannya belum mengungguli kejahatannya,
berarti ia sudah mempersiapkan kapling untuk dirinya di dalam neraka”.
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang
yang beriman untuk khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang
telah diwahyukan kepada mereka….? (Al Hadid: 16)
Kelak orang tua yang lupa diri akan dicela…
“….Bukankah Kami telah memanjangkan
umurmu untuk dapat perpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah
datang kepadamu seorang pemberi peringatan?…..” (Fathir: 37)
Ya Allah, karuniakan lah keshalehan kepada pemuda kami dan kesadaran kepada orang-orang tua kami.
posted by @Adimin
Label:
Analisis,
INSPIRASI,
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
October 10, 2014
“Belanda Hitam” dan Fenomena Neo KNIL
Written By Sjam Deddy on 10 October, 2014 | October 10, 2014
Banyak warga Indonesia sendiri justru menjadi ‘tangan kanan asing’ dan
rela menjual dan menggadaikan Negererinya kepada pihak asing
DALAM setiap penjajahan selalu ada dari orang-orang bumi putera yang membantu dan melayani sang penjajah, termasuk di Indonesia.
Tidak mungkin Belanda negara yang begitu kecil dan sedikit
penduduknya bisa menjajah Indonesia ratusan tahun, tanpa bantuan
pribumi. Termasuk pasukan militer Belanda jaman dahulu seperti KNIL,
banyak menggunakan orang-orang Indonesia sendiri yang menjadi anggotanya
dan siap bertempur melawan saudaranya sendiri.
Fenomena seperti ini nampak masih berjalan meski kita sudah merdeka
hampir 70 tahun lamanya. Banyak warga Indonesia sendiri justru menjadi
‘tangan kanan asing’ dan rela menjual dan menggadaikan Negererinya
kepada pihak asing.
Pertanyaannya adalah mengapa bisa sampai sedemikian hebatnya sang
penjajah menggunakan tenaga manusia yang berasal dari negara jajahannya
sendiri?
KNIL singkatan dari Koninklijk Nederlands Indische Leger adalah tentara kerjaan Hindia Belanda yang melayani dan membantu Pemerintahan Hindia Belanda.
KNIL, lebih tepatnya serdadu belanda yang terdiri dari orang-orang
belanda, tentara bayaran dan sewaan dari negara lain serta warga pribumi
(Indonesia).
Tahun 1936 jumlah pribumi yang menjadi tentara KNIL mencapai 33 ribu
orang atau sekitar 77%. Tentu tidak mudah begitu saja diterima sebagai
tentara KNIL karena akan ditugaskan berperang melawan saudara
sebangsanya sendiri. Karena itulah harus melalui proses cuci otak dan
seleksi yang ketat, agar tidak terjadi senjata makan tuan.
Rupanya perkembangan zaman tidak membuat paradigma KNIL ini menjadi
lapuk. Bahkan sekarang ini kita dapatkan orang berlomba-lomba untuk
menjadi “Neo KNIL” dengan iming-iming materi, gengsi dan kehormatan,
mereka yang hari ini mentalitasnya Budak Penjajah justru merasa bangga
menjadi “Londo Ireng” (The Zwarte Hollanders/Belanda Hitam). Di
Negeri yang budaya feodalis belum hilang seperti ini, atribut materi,
pangkat, jabatan dan kedudukan menjadi supermasi. Jangan heran kalau
para budak penjajah menempati kedudukan yang terhormat di tengah-tengah
masyarakat feodal seperti ini.
Untuk itu marilah kita lihat seperti apa mentalitas Neo KNIL itu saat ini.
1. Inferior
Di antara mental seorang budak yang paling menonjol adalah mental
inferior (Rendah Diri). Merasa tidak punya apa-apa, tidak bisa apa,
tidak bisa berdiri dikaki sendiri, merasa belum siap untuk merdeka,
hanya dengan bantuan majikan merasa bisa hidup. Maka penghormatan kepada
majikan kaum imperialis sangat berlebihan semantara melihat bangsanya
sendiri penuh dengan kehinaan.
Indikator yang paling mencolok adalah ketidak mampuan mereka melihat
kejahatan majikan yang sedemikian jelasnya, sehingga tidak bisa
mengkritisi majikan, mungkin karena sudah banyak diberikan roti dan
keju. Sementara terhadap saudara sebangsanya sendiri sangat sinis,
terutama kepada para pejuang yang ingin memerdekakan bangsa ini dari
berbagai bentuk penjajahan.
Indikator lainnya adalah pembelaan kepada sang majikan kaum imprialis
sangat berlebihan dan over acting seperti orang yang sedang mencari
muka.
Padahal roti dan keju yang diberikan oleh majikan adalah hasil
rampasan dari berbagai kekayaan Negara si jongos tersebut. Tapi yang
namanya sudah mental budak tidak mau tahu, yang penting perut kenyang
bantuan dari majikan.
Kita juga menyaksikan apabila si jongos ketemu dengan si majikan
bahasa tubuhnya tidak bisa disembunyikan, terlihat dengan jelas mental
jongosnya, dengan membungkukkan badannya, sambil tangannya memegang
bagian bawah dekat kemaluanya. Saat terjadi dialog maka satu kata yang
haram keluar dari mulut si jongos tadi adalah kata “tidak”. Apa saja
yang diinginkan oleh simajikan harus dijawab dengan “Inggiih”
2. Shock Culture
Sifat Inferior membawa dampak seseorang menjadi sering norak atau
katro. Melihat kemajuan material, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di
kecuali harus ikut apa majikan kalau mau maju. Saat itulah otak menjadi
beku, kreatifitas mandeg, yang ada cuma copy paste, ikut, nurut, nunut, manut, ngekor, ngintil, jiplak, ngepek
seperti kerbau yang negara-negara imperialis semakin merasa tidak
berdaya lagi. Seolah tidak ada pilihan lain sudah cicocor hidungnya,
ditarik kemana saja mau ikut.
Menjadi tolak ukur kemajuan kalau dalam kesehariannya jika sudah bisa
mengikuti pola dan gaya hidup barat. Juga menjadi naik status sosialnya
jika bisa menyelenggarakan berbagai event, termasuk pesta perkawinan
dan seremonial laiinya dengan “Gaya Londo”. Kalau perlu anak dijadikan
obyek untuk meningkatkan status social orang tuanya melalui pesta
pernikahan tersebut. Belum lagi hari-hari yang dianggap besar, seperti
tahun baru, valentine day, april mop dan pesta-pesta lainnya, maka
berlomba-lombalah si Belanda Hitam untuk memamerkan atraksi ke”Norak”annya dengan sangat PD nya.
Semakin norak lagi dengan bangganya memamerkan hasil fikirannya yang
tidak lain cuma hasil jiplakan punya majikannya, tetapi merasa hasil
karyanya sendiri. Memang diantara ciri khas budak ialah tidak merasa
bahwa dirinya sedang diperbudak. Dengan bangganya mengabdi pada majikan
yang dianggap punya jasa besar terhadap dirinya.
3. Komprador Volunteer
Ketika noraknya sudah sedemikian rupa, sampai ia siap menjadi tenaga
sukarelawan untuk mempromosikan barang dagangan majikannya. Mulai dari
gaya hidup, budaya, seni, makanan, minuman, pakaian, assesoris, symbol,
lambing atribut dan sebagainya. Dengan media informasi yang dimiliki
majikannya, menjadi laris manis dagangan yang dijualnya. Jadilah bangsa
ini menjadi sangat konsumeris dan pengimpor besar barang-barang asing.
Rupiah terus anjlog terutama terhadap mata uang Negara-negara
Imperialis. Ekonomi tidak stabil, inflasi semakin tinggi. Pengangguran
semakin banyak. Produk asing semakin tidak terbendung, mulai dari
teknologi tinggi sampai tusuk gigi. Negara ini isinya 2/3 lautan tapi
garam bisa import dan tidak merasa malu. Tempe tahu kecap makanan
rakyat, tapi 80% kedelenya Impor.
Mereka-mereka yang berhasil mengimpor produk-produk asing terutama
seni dan budaya, bisa bertengger di papan atas, seperti pahlawan
lagaknya, karena berhasil mempekenalkan budaya asing ke tengah-tengah
anak bangsa ini. Sementara milyaran uang terus terkuras keluar, karena
kesukaannya terhadap produk-produk asing. Sementara kerusakan moral
akibat dari budaya Import tersebut sudah sedemikian besar, tidak bisa
dihitung lagi dampak kerugiannya.
Diantara ciri seni dan budaya Negara-negara Imprialis adalah
Kebebasan berekspresi kebinatangan atau mengumbar syahwat. Atas nama Hak
Asasi dan Kebebasan, ekspresi mereka tidak bisa dilarang. Karena nanti
akan dituduh Anti HAM dan akan diadukan kemajikannya. Sekarang ini
organisasi atau club-club yang menjadi kaki tangan Imprialis berada di
papan atas. Dengan pongah, sombong serta bangganya mereka terus
menjajakan barang dagangan milik majikannya ke tengah-tengah masyarakat
pribumil.
Sementara mereka yang mempertahankan kedaulatan Negara, menjaga
rupiah jangan sampai anjlog, menjaga budaya bangsa agar jangan sampai
dirusak, mengingatkan anak bangsa agar mencintai produk dalam negeri,
akan dicap sebagai orang yang menghalangi kebebasan berekpresi, tidak
mengerti HAM dan sebagainya. Ribuan orang pribumi tewas mereka akan
seperti orang buta, gagu dan budge, tidak bisa bicara. Tetapi andai satu
orang bule saja mati, maka geger dunia seperti kebakaran jenggot, media
gempar, ramai-ramai si jongos imperialis itu juga ikut teriak-teriak,
sambil menyalahkan saudaranya sendiri sesama pribumi.
4. Raja Tega
Seorang tentara KNIL dilatih, dididik, serta dicuci otaknya agar siap
berperang melawan pribumi atau saudaranya sendiri. Maka dimasukan resep
PIL yang bernama “Si Raja Tega”. Dengan demikian dia tidak akan
ragu-ragu lagi siap bertempur untuk mengganyang saudaranya sendiri.
Orang belanda menyebut panggilan pribumi yang berani melawan dengan
Istilah Extrimist. Orang yang sudah otaknya tercuci maka dia tidak punya
beban apapun ketika harus membantu majikan si Imperialis dalam
memberangus para pejuang kemerdekaan. Roti dan keju yang telah
membutakan hati si jongos tadi, sehingga tidak lagi terfikir bagaimana
Negara yang semakin hancur lebur ini.
Sementara sekarang Neo KNIL sudah berada di zaman modern yang serba
tehnologi. Bukan hanya cuci baju saja yang bisa pakai mesin otomatis,
tetapi cuci otak juga sudah bisa secara otomatis. Dengan sarana dan
fasilitas pengumbar nafsu syahawat yang semakin mudah, murah dan dekat
terjangkau, terjadilah proses cuci otak melalui “CANDUisasi”
dengan “pil syahwat” yang semakin lama semakin tinggi dosisnya sampai
dalam keadaan sakau yang terus menerus, tidak bisa dihentikan.
Dalam keadaan sakau yang terus menerus, maka setiap orang yang
memberikan pil candu tersebut akan diangkat sebagai majikan, sebaliknya
siapa saja yang mencoba menghentikan akan dianggap sebagai lawan. Di
situlah proses cuci otak terjadi. Hak Asasi diartikan kebebasan
mengumbar nafsu syahwat, sementara melarangnya berarti menentang HAM,
akan siap berhadapan dengan majikannya.
Secara otomatis otak sudah tercuci, “kawan dan lawan” diukur siapa
yang memberikan candu dan siapa yang melarang. Bagi yang memberi itu
kawan dan yang melarang itu lawan. Dalam keadaan sakau pula orang bisa
nekat yang penting bisa mendapatkan candu. Saat itulah seseorang bisa
jadi raja tega karena sudah hilang akal sehatnya dan sudah putus urat
malunya.
Seorang yang ingin mempertahankan kedaulatan negaranya, menjaga
kehormatan dan harga diri bangsanya, mengajak untuk bisa berdiri
sendiri, akan sangat bertentangan dengan keinginan Negara-negara
Imperialis yang menjadi majikan Neo KNIL tersebut. Mereka menginginkan
Negara jajahan terus berada dalam keadaan ketergantungan yang
terus-menerus, sehingga mudah dikendalikan.
Saat itulah dua kepentingan bertemu. Si majikan bagaimana bisa terus
menjajah, si Neo KNIL yang sudah sakau berkeinginan bagaimana roti dan
keju plus candu syahawat tadi tidak boleh putus. Ketika Negara
berdaulat, kehormatan dan harga diri terjaga disitulah nafsu liar yang
akan merusak negara sangat dibatasi, sehingga si Jongos tadi merasa
terancam kepentingannya
Oleh. M. Fuadz
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN







