pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post
Showing posts with label NEWS. Show all posts
Showing posts with label NEWS. Show all posts

Sidak ke Pasar Indarung, Walikota Padang Masuk Selokan

Written By Anonymous on 13 November, 2015 | November 13, 2015

PADANG (12/11) - Walikota Padang Mahyeldi Dt Marajo melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Indarung. Di sini, Walikota Padang masuk selokan dan membersihkan sampah yang menumpuk di dalam selokan tersebut. “Siapa yang membuang sampah ke dalam ini? Sampah ini bisa menjadi penyebab banjir,” tanya Walikota kepada pedagang yang berjualan di dekat selokan tersebut.
Melihat kondisi tersebut, Walikota langsung turun ke beberapa selokan yang dijadikan para pedagang untuk membuang sampah dagangannya. Ia mengeluarkan sampah yang telah menumpuk tersebut. Walikota kembali menegaskan, jika pedagang masih saja membuang sampah ke selokan akan dilarang berjualan di sekitar lokasi itu lagi.
“Ini tak bisa dibiarkan, pedagang harus bertanggung jawab dengan sampahnya. Banjir yang terjadi adalah karena kita tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Mari kita sama-sama menjaga agar sampah yang dihasilkan tak mengganggu lingkungan," ujar beliau.
Dikatakan Walikota, permasalahan sampah di pasar menjadi tanggung jawab petugas pasar dan lurah setempat. Barang dagangan yang ada sampahnya harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung, tidak dibuang keselokan karena akan menjadi penyebab banjir.
Ia mengatakan, semua pihak perlu saling mengingatkan. Sebab melihat kondisi saat ini, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Pemerintah Kota Padang per 1 Januari 2015 mulai efektif menerapkan peraturan daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2012 tentang Sampah.
"Bagi yang melanggar dan membuang sampah sembarangan di Kota Padang, diberikan sanksi maksimal Rp 5 juta atau denda tiga bulan kurungan. Kita perlu saling mengingatkan. Termasuk soal sampah yang ada di pasar ini, jika tidak maka banjir ini akan selalu menghantui kita,” ungkapnya.
Peninjauan Pasar Indarung dilakukan disela-sela mengunjungi lokasi banjir dan longsor di Batu Gadang. Dalam kesempatan itu, Walikota didampingi Kepala BPBD Damkar Kota Padang Dedi Henidal, Camat Lubuk Kilangan Syafwan dan Kabag Humas dan Protokol Pemko Padang Mursalim.(Charlie / Yurizal / Tafrizal / Mursalim)

posted by @Adimin

Walikota Padang Tinjau Lokasi Longsor dan Banjir

PADANG – Rasa empati kepada warganya kembali ditunjukkan Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo. Musibah longsor dan banjir yang melanda Kota Padang, Rabu (11/11) malam membuat Walikota Padang yang sedang dinas di Jakarta langsung bertolak ke Padang.
Kamis (12/11) pagi, Walikota Padang langsung menuju lokasi yang terkena longsor dan banjir. Sekitar pukul 08.30 Wib, Mahyeldi sampai di Batu Gadang, Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan. Di sini Walikota melihat langsung korban longsor dan meninjau langsung penyebab longsor.
Walikota menyebut penyebab terjadinya longsor di daerah itu karena landainya kontur tebing dan ‘gundulnya’ di bagian atas tebing tersebut. Sehingga begitu hujan datang tanah tersebut turun dan langsung menghantam rumah, tempat ibadah dan mushalla.
“Saat diperiksa ke bagian atas tebing, pohon banyak ditebang dan dikuliti hingga mati, sedangkan di bagian bawah mereka rapikan dengan menambah tanah. Sebetulnya terjadinya longsor dan banjir karena penggundulan dan lainnya,” kata Wako.
Topografi tanah di Kota Padang memang cukup labil, curah hujan juga cukup tinggi. Karena itu Walikota Padang mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memotong kayu dan pembalakan hutan. Walikota juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dengan tingginya curah hujan yang diprediksi hingga akhir Desember.
Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh dari Camat Lubuk Kilangan Syafwan menyebut bencana longsor di Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan, sebanyak dua rumah dihondoh longsor. Di dua rumah itu terdapat tiga Kepala Keluarga (KK) yakni Andi (29) bersama isteri dan dua anak. Kemudian Apriadi (31) beserta isteri dan dua anak. Serta Rosni (60) beserta tiga anak. Selain menghondoh dua rumah, longsor juga melanyau mushalla dan Sekolah Dasar (SD) 13 Batu Gadang.
“Korban longsor sudah diamankan ke rumah yang berada di dekat Kantor Lurah. Bantuan juga sudah diberikan,” ujar Syafwan.
Setelah itu, Walikota bertolak menuju Kampung Baru, Kecamatan Lubuak Bagaluang. Di sini Walikota juga melihat langsung rumah warga yang terendam banjir. Tidak hanya itu, Walikota juga menyambangi Batuang Taba XX, Kecamatan Lubuak Bagaluang. Di sini, Walikota juga melihat langsung rumah warga yang terendam banjir. Sebanyak 18 KK di lokasi ini terpaksa diungsikan.
Camat Lubuak Bagaluang Ances Kurniawan mengatakan sejumlah warga dilanyau banjir pada Rabu malam itu. Di Kelurahan Banuaran, 70 rumah terendam banjir. Sebanyak 425 jiwa dari 85 KK diungsikan ke SD 32. Di Kelurahan Parak Laweh, tujuh rumah dengan penghuni 30 jiwa ikut terendam.
Di Kelurahan Kampung Baru cukup parah lagi. Di sini, dua rumah hanyut terbawa air bah. Akan tetapi beruntung tidak ada korban jiwa. Sedangkan di Kelurahan Tanjung Saba, rumah yang dihuni 20 jiwa ikut terendam. Dan di Kelurahan Gurun Lawas, 41 KK menjadi korban banjir.
“Di kelurahan Batuang Taba sebanyak 18 KK yang diantaranya terdapat tiga ibu hamil dan 13 balita diungsikan ke SD 24,” tukas Ances.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Padang Frisdawati Boer menyebut bantuan telah disebarkan ke tempat korban banjir dan longsor. Bantuan itu diantaranya perlatan masak, peralatan bayi, beras, panic dan kebutuhan lainnya.
“Untuk bantuan lain kita hitung dulu dan sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” sebut Frisdawati.
Hingga berita ini diturunkan belum bisa dipastikan berapa jumlah kerugian akibat bencana banjir dan longsor. Kepala BPBD-PK Dedi Henidal mengatakan pihaknya belum bisa memastikan berapa kerugian akibat banjir dan longsor. Namun pihaknya hanya bisa menaksir kerugian sementara di atas Rp 1 miliar.(Charlie / Yurizal / Tafrizal / Mursalim)


posted by @Adimin

Pemerintah Harus Investigasi Beredarnya Beras Impor Ilegal

Written By Anonymous on 12 November, 2015 | November 12, 2015

JAKARTA (11/11) – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS Rofi Munawar meminta pemerintah serius melakukan investigasi terhadap beredarnya beras impor asal Vietnam yang masuk dan beredar secara ilegal di Sumatera. Jika tidak ada respon yang baik dari pemerintah, dipastikan beras ilegal ini akan membanjiri sentra-sentra beras utama di Sumatera.
“Sejatinya temuan beras Vietnam ilegal ini sudah diketahui pemerintah dan bulog sejak lama, namun mereka seakan enggan melakukan investigasi terhadap masalah ini. Jika saja ada keseriusan pemerintah, tentu saja masalah tata niaga beras tidak akan berlarut–larut,” kata Rofi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (11/11).
Kepala Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Jambi Laode Amijaya Kamaludin menyebutkan beras Vietnam ilegal yang masuk ke Indonesia mencapai 4 juta ton per tahun. Beras Vietnam ini ilegal karena importasinya tidak dilakukan oleh Perum Bulog dan tidak tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS).
Situasi ini ditegaskan oleh peneliti beras dari Universitas Cantho Vietnam yang menyebutkan produksi beras Vietnam mengalami surplus 6-7 juta ton per tahun. Kelebihan produksi tersebut diserap oleh Cina sebanyak 2 juta ton, Indonesia 1-1,5 juta ton, dan Filipina 0,5-1 juta ton.
“Pemerintah menegaskan tidak akan melakukan importasi beras di Tahun 2015, namun dalam perkembangannya wacana impor datang silih berganti dari pihak pemerintah sendiri. Sejalan dengan itu, proses audit kebutuhan data beras nasional tidak kunjung sinkron antara kementerian teknis, otoritas data, dan konsumen,” kata Rofi.
Politisi PKS ini menyatakan keberadaan beras impor ilegal telah meresahkan petani lokal karena komoditas ini harganya lebih murah, mudah disamarkan, dan sulit dideteksi perbedaannya dengan beras lokal. Melihat kondisi tersebut, ia menyarankan pemerintah untuk melakukan hal-hal berikut.
Pertama, secara teknis melakukan verifikasi dan identifikasi pintu-pintu masuk tidak resmi yang seringkali dijadikan tempat masuk beras impor ilegal. Kedua, penguatan regulasi dengan membangun sistem koordinasi yang efisien antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, Bulog dan aparat penegak hukum berbasis real time dan terintegrasi. Ketiga, penegakan hukum yang serius terhadap pelaku penyeludupan beras ilegal baik secara administratif maupun hukum positif agar mampu memberikan efek jera.
“Keberadaan beras impor ilegal dikhawatirkan menjadi salah satu basis data pemerintah terkait kesediaan cadangan beras nasional. Apa yang kita anggap beras lokal ternyata campuran beras impor ilegal, hal ini perlu diversifikasi secara serius,” kata legislator dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur VII yang meliputi Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi ini. [pks.id]
Sumber: Humas Fraksi PKS DPR RI

posted by @Adimin

Mereka Bicara . . . . . .

Written By Sjam Deddy on 10 June, 2014 | June 10, 2014





Mereka bicara jangan SARA, ketika dimana mana mereka melakukan SARA dengan kentara

Mereka bicara jangan diskriminasi, ketika iklan mereka justru menampilkan diskriminasi

Mereka bicara kasih, ketika dibelahan lain mereka membantai orang yang berlainan dengan mereka tanpa kasih

Mereka bicara keadilan, ketika ditempat lain mereka melakukan berbagai kedzaliman

Mereka bicara HAM, ketika mereka terlalu banyak melakukan pelanggaran HAM.

Ini realita dan fakta . . . . . . . .

Jangan begitu kawan, sesungguhnya dunia ini bermata bagi orang orang yang peka

Jangan begitu kawan karena ucapan anda akan disaksikan dunia

Kawan, Mari berdemokrasi secara jantan sehingga hilang semua dugaan


Oleh : Asdeddy Syam
 





posted by @Adimin

Tidur Cukup dan Banyak Membaca Dapat Menjaga Otak di Usia Tua

Written By Sjam Deddy on 12 May, 2014 | May 12, 2014


Orangtua yang tidur lebih dari delapan jam atau kurang dari enam, 2,6 kali lebih mungkin menderita gangguan kognitif dibandingkan dengan mereka yang tidur enam sampai delapan jam semalam.



BARANGKALI saran ini penting diketahui bagi orang yang mulai memasuki usia tua. Tujuh jam tidur malam dan banyak membaca tampaknya menjadi rumus ajaib dalam menjaga kewaspadaan secara mental dalam memasuki usia tua, kata hasil penelitian terbaru dari Spanyol.

Setelah menganalisis gaya hidup dari 245 orang berusia 65 tahun atau lebih, peneliti dari CEU Cardenal Herrera University di Valencia, Spanyol, menemukan bahwa mereka yang tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, dan abstain dalam melakukan stimulasi otak seperti membaca, berada pada risiko penurunan kemampuan kognitif.

Menurut penelitian mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Revista de Investigacion Clinica dan juga diberitakan laman New York Daily News baru-baru ini, orangtua yang tidur lebih dari delapan jam atau kurang dari enam, 2,6 kali lebih mungkin menderita gangguan kognitif dibandingkan dengan mereka yang tidur enam sampai delapan jam semalam.

Demikian juga, tidak adanya kegiatan mengasah otak seperti membaca, juga memberikan kontribusi terhadap penurunan kognitif. Mereka yang mengaku tidak membaca, 3,7 kali memiliki risiko penurunan kognitif, sementara mereka yang hanya kadang-kadang membaca, memiliki risiko 2,5 kali penurunan kognitif.

Secara keseluruhan, 12 persen orangtua yang diteliti menderita gangguan kognitif.

Para peneliti menunjukkan, penurunan kognitif yang berkaitan dengan usia mempengaruhi 35,6 juta orang di seluruh dunia.

Menurut Laporan terhadap Penderita Alzheimer di Dunia (World Alzheimer Report), angka itu diperkirakan akan melonjak menjadi 100 juta kasus pada tahun 2050.
 
Kebiasaan positif lain yang dapat membantu para manula menjaga ketajaman otak mereka adalah dengan melakukan olahraga teratur dan menerapkan diet yang sehat, termasuk mengkonsumsi nutrisi untuk menjaga kesehatan otak seperti omega-3 dan antioksidan


posted by @Adimin

Mencermati ‘Tarian Politik’ PKS

Written By Sjam Deddy on 03 March, 2014 | March 03, 2014


Suka atau tidak, semenjak kelahirannya partai yang sebelumnya bernama PK ini terus saja menjadi sorotan publik, menjadi buah bibir dan mungkin juga sering ‘dipergunjingkan’. PKS seperti tidak pernah kehabisan energi dan ide untuk tetap bisa membuat berita. Setiap aksi, kebijakan, perilaku dan ucapan para politisinya tak jarang menimbulkan pro dan kontra, melahirkan sejuta cerita dengan nada warna warni; mulai dari puja puji pecinta sejatinya sampai caci maki para pembencinya. Terlalu banyak list untuk dibuat di sini terkait isu pro kontra dari partai yang lahir di era reformasi ini. Jika anda mengikuti berita politik Indonesia 15 tahun terakhir, anda pasti bisa menemukan sendiri contoh pro kontra yang saya maksud.
Sekali lagi, berjuta pasang mata terus memperhatikan aksi dan liukan tarian mereka di panggung politik Indonesia selama lima belas tahun itu. Jutaan jemari mungkin juga telah menari menuliskan namanya pada keyboard komputer, laptop, tablet dan sejenisnya. Karenanya, tak heran hasil riset Independent Research Institute (IRI) yang melakukan penelitian dan survey perbincangan tentang partai politik di sosial media periode Januari-Februari 2014 menyimpulkan bahwa PKS adalah salah satu partai populer yang banyak diperbincangkan di media sosial. Jika anda ketikkan kata kunci “PKS AND Partai” pada mesin pencari google, sedikitnya anda akan menemukan 9,000,000 entry dengan kata kunci ini.
Menariknya, partai ini tidak hanya dibahas dan menjadi perhatian banyak orang di dalam negeri, namun juga oleh banyak pengamat dan pemerhati politik Indonesia di luar negeri. Sebutlah diantaranya Dr. Karen Brook (Dosen di Cornel University-USA), Ellen Nakashima (jurnalis Washington Post), Sydney Jones (peneliti di International Crisis Group/ICG), atau Greg Barton (professor di Monash University, Australia). Mereka adalah para Indonesianis yang cukup sering membahas PKS. Di dunia akademik, fenomena PKS juga telah mengilhami banyak sarjana untuk meneliti dan menganalisa fenomenanya secara ilmiah. Ratusan sarjana, dari S1 sampai S3 telah meneliti partai ini. Yang paling banyak dikutip adalah thesis doktoral Yon Machmudi (The Rise of Jemaah Tarbiyah and the Prosperous Justice Party/PKS), di Australian National University (ANU), dan juga thesis master pengamat politik terkenal, Burhanuddin Muhtadi, dari universitas yang sama. Analisa tentang fenomena PKS juga datang dari Najwa Shihab (presenter Metro TV), ketika dia bersekolah di Fakultas Hukum, Melbourne University.
PKS itu Beda
Populer di media atau di mesin pencari semisal google tentu tidak serta merta berarti bahwa partai ini adalah partai yang hebat. Karena bisa saja orang terkenal karena jeleknya ^^. Poin saya adalah, adalah fakta bahwa partai ini adalah ‘unik’ dan karenanya selalu menarik untuk dibicarakan. PKS adalah anak kandung reformasi, karena mayoritas aktivisnya adalah mereka para pelaku gerakan mahasiswa saat menumbangkan Suharto tahun 1998. Tidak hanya itu, terlahir dari rahim pergerakan adalah salah satu yang membuat partai ini berbeda dengan yang lain. Mereka membesar bukan karena bertumpu pada satu dua sosok yang dominan, namun pada sistem dan ideologi yang kuat. Inilah diantara alasan yang membuat mereka bisa bertahan dari pemilu ke pemilu, bisa selamat dari ‘tsunami SBY’ pada pemilu 2009, tetap eksis bahkan di tengah amuk badai - serangan dari ‘tujuh penjuru mata angin’ saat kasus LHI mencuat.
Ya, pengkaden yang sistemik dan ideologi keIslaman yang kental adalah kekuatan partai ini. Sebagaimana diakui oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Tjahjo Kumolo kepada media baru-baru ini, bahwa PKS dan PDIP adalah diantara sedikit partai dengan pola kaderisasi dan ideologi yang relatif baik. Di dua partai ini, sangat jarang ditemukan ada seseorang yang bisa ‘tiba-tiba’ menjadi petinggi struktural partai. Dari sisi ideologi, Anis Matta mengatkan bahwa PKS memiliki kader dengan mentalitas ‘pemburu surga’. Dari pilihan kata ini, anda bisa eksplor sendiri seberapa kuat dan dalamnya ideologi kader partai berlambang padi emas ini.
Dari aspek pengkaderan ini, PKS beruntung karena mereka behasil masuk dan diterima oleh kalangan menengah terdidik di masa-masa awal pendiriannya. Sebagaimana diungkap oleh Burhanuddin Muhtadi dan kemudian menjadi pengetahuan publik bahwa sejarah PKS tidak bisa dipisahkan dari gerakan tarbiyah yang booming di kampus-kampus besar (sekuler) Indonesia pada akhir 80-an atau awal 90an. Karenanya, mayoritas kader PKS itu dari dulu sampai sekarang adalah para mahasiswa. Anda yang kuliah pada tahuan 90-an (dan juga sekarang), mungkin pernah ‘bersentuhan’ dengan aktifitas tarbiyah mereka atau minimal berinteraksi dengan aktivis mereka. Sebagian anda bahkan mungkin pernah jadi kader, bertemu jodoh melalyu komunitas PKS, walau sekarang mungkin sudah gak lagi aktif (karena berbagai alasan) ^^. Sebagian lagi tentu masih banyak yang setia dengan manhaj dan cita-cita perjuangannya.
Para pelaku politik persis paham bahwa PKS adalah partai dengan kader mahasiswa dan sarjana terbanyak dibanding partai lain. Saya melihat para mahasiswa inilah kemudian yang berjasa besar membesarkan PKS sampai ke sudut-sudut kampung. Karena ketika mereka menjadi sarjana, sebagian mereka pulang, dan kemudian menyebarkan dakwah dan pemikiran mereka di kampung mereka. Dalam struktur ekonomi dan sosial kita, seringkali para sarjana inilah yang kemudian menjadi informal leader di kampung mereka. Pada saat yang sama, PKS pun kemudian dikenal dan menjadi pilihan di kampung-kampung itu. Inilah diantara faktor yang menjelaskan mengapa suara PKS pada pemilu 2009 tidak hanya relatif signifikan di perkotaan (sebagaimana pemilu 1999 dan 2004), tetapi juga menyebar ke berbagai pelosok kampung/desa.

Dari sisi ideologi,terobosan ideologi politik mereka (baca: ijtihad politik) yang memadukan antara dakwah yang suci dengan politik yang (biasanya dipersepsi) kotor adalah keunikan yang lain. Bahwa perjuangan mereka di panggung politik jauh melampaui tujuan-tujuan politik singkat, seperti sekedar meraih kekuasaan an sich. Karenanya inilah satu-satunya partai yang kadernya sering menolak jika ditawari (baca: dicalonkan) menjadi penguasa atau menjadi caleg saat pemilu. Inilah juga partai yang dengan mudah melakukan pergantian ketua umumnya, tanpa intrik dan atau kegaduhan seperti di partai lain.
Komunitas PKS adalah mereka yang sedang berusaha mempraktekkan nilai-nilai Islam yang syumul (komprehensif) di lembaga negara. Islam yang tidak hanya bicara masalah aqidah dan ibadah mahdah, namun juga bicara tentang aspek politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya. Mereka sedang dan terus belajar bagaimana menjadi pribadi muslim yang baik di level individu, namun juga terampil dalam mengelola negara dan pemerintahan, memakmurkan rakyat, dan sekaligus memperkenalkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Tidak hanya di panggung politik, jauh sebelum mendeklarasikan partai, parak aktifis dakwah tarbiyah itu juga menjadi bagian penting dalam gerakan islamisasi banyak aspek kehidupan di tanah air sejak awal tahun 80-an. Jika ditelesik, di bidang pendidikan, misalnya, kader mereka adalah diantara individu yang menjadi trend setter munculnya lembaga pendidikan Islam semisal Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang sekarang menjamur. Mereka juga bagian dari tumbuhnya semangat ekonomi Islam di tanah air, dengan munculnya Baitul Mal wa Tamwil (BMT) dan juga bank syariah. Belum lagi gerakan jilbab yang massif di kalangan muslimah dan alternatif seni serta literasi Islam pada tahun-tahun itu. Pelajarilah sejarahnya, saya yakin anda akan bertemu dengan cerita para kader gerakan dakwah tarbiyah ini di balik semua itu.
Doktrin untuk menjadikan dunia politik sebagai ladang dakwah di satu sisi adalah suatu hal yang ideal, namun di sisi lain dia juga menjadi ‘lubang semut’ yang kapan saja bisa menjadi bumerang bagi PKS. Terutama ketika partai ini dianggap ‘gagal’ menjalani misinya. Di titik inilah kita bisa memahami ‘kemarahan publik’ saat PKS juga terbawa-bawa kasus korupsi pada kasus LHI (walaupun saat ini kasusnya masih belum memiliki kekuatan hukum tetap).
Walau saya tentu juga setuju agar PKS jauh dari isu korupsi, namun alasan terakhir bagi saya adalah misleading. Orang beragama bisa saja salah atau khilaf. Sebagaimana orang yang berpuasa dan sholat juga kadang melakukan kesalahan (walau ideal teksnya tidak seharusnya begitu).
Statemen pemakluman terhadap kesalahan partai berbasis non agama juga bisa salah dipahami; bahwa seakan-akan partai dengan ideologi non agama (misal, kebangsaan dan nasionalis) boleh dan wajar jika korupsi, dan karenanya gak perlu dipelototi dan dimaki. Apa memang ideologi kebangsaan dan nasionalis serendah itu?
Menari di tengah badai
Proses membesarnya PKS tentu tidaklah mulus. Panggung politik adalah medan perang. Sejarah pertumbuhan PKS juga diwarnai berbagai serangan, demarketting, black campaign, dan fitnah. Baik yang datang dari kekuatan asing, rival sesama parpol, maupun dari kelompok yang secara ideologis berseberangan dengan ideologi Islam yang dibawa PKS. Parpol Golkar misalnya sudah lama memberi warning para fungsionarisnya tentang potensi ancaman dari PKS terhadap esksistensi mereka sebagai partai tua. Gesekan juga terjadi sesama aktivis ormas dan partai Islam, karena PKS dianggap ‘merebut’ lahan yang sama dengan mereka. Serangan yang paling kuat dan konstan biasanya datang dari aktivis liberal dan sekularis yang menganggap ideologi yang dibawa PKS mengancam eksistensi ideologi mereka.
Aktivis liberal dan kaum sekuler di Indonesia sepertinya tak pernah berhenti melancarkan serangan kepada partai ini. Isu yang paling banyak dilemparkan adalah bahwa PKS adalah partai yang eksklusif, Islam yang dibawa PKS adalah Islam yang tidak toleran dan tidak inklusif, atau menuduh PKS sebagai partai yang tidak memiliki jiwa Indonesia dan nasionalisme. Adalagi serangan dengan praktik pologami segelintir elit PKS, ataupun isu bahwa PKS membawa hidden agenda akan menjadikan Indonesia negara Islam.
Biasanya kader PKS menjawab segala tuduhan ini dengan kerja dan kerja. Bahwa di lapangan para aktivis mereka bisa bergaul dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang beda agama sekalipun – tentu dengan tidak harus menggadaikan aqidah. Tentang nasionalisme, saya yakin darah mereka dan cinta mereka terhadap Indonesia sama kuat dan merahnya dengan mereka para nasionalis sejati. Jika Indonesia hari ini diserang oleh asing misalnya, saya haqqul yakin, para kader PKSlah diantara mereka yang pertama angkat senjata jika diperintahkan negara untuk membela tanah air, sebagaimana dulu kemerdekaan Indonesia juga direbut dan diperjuangkan oleh pekikan Allah Akbar oleh para santri.
Terkait hidden agenda, para elit PKS semisal HNW dalam beberapa kesempatan sudah sering mengatkan bahwa bentuk negara bangsa dan Pancasila itu adalah final. Sydney Jones sendiri selain menyebut PKS sebagai partai paling cerdas, juga mengatakan bahwa PKS bukanlah partai radikal. Dia percaya bahwa PKS adalah partai yang commited menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Beberapa ceramah dan tulisan Anis Matta pada beberapa waktu terakhir yang membahas gelombang ketiga Indonesia juga menyiratkan bahwa bagi PKS pembahasan dan debat tentang sistem pemerintahan, pertanyaan tentang relasi agama dan negara itu sudah tidak relevan. Saatnya kita sebagai bangsa memasuki gelombang baru dimana semua kekuatan bangsa bersatu untuk peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup di bawah sistem demokrasi yang makin mapan.
Kalangan liberal juga menghantam ideologi transnasionalisme yang dibawa PKS, dimana kadang mereka seperti lebih peduli dengan saudara-saudara muslim yang jauh, seperti Palestina, dan mengabaikan saudara dekat yang juga butuh bantuan. Saya yakin tuduhan seperti ini lebih didasari sentimen ideologi, karena membantu saudara yang jauh tidak berarti melupkan saudara dekat. Jika pengkritik ini benar-benar paham PKS, maka seharusnya mereka tahu bahwa kader PKS adalah diantara kelompok yang hampir selalu ada bersama susah senangnya masyarakat. Para kader mereka selalu siaga dalam setiap aksi bantuan pasca bencana, misalnya. Anda bisa tanya kepada rakyat Aceh saat tsunami, siapa diantara kelompok pertama dan terakhir (yang paling lama bertahan) dalam membantu korban saat tragedi tsunami tahun 2004 lalu. Belum lagi banyak kader mereka yang menjadi relawan di lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa, Post Keadilan Peduli Ummat (PKPU), MERC, ataupun Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Kembali pada serangan tadi, pasca kasus LHI, banyak sekali suara sumbang yang meragukan eksistensi dan keberlangsungan PKS di masa datang, terutama (kembali) datang dari aktivis liberal dan beberapa kalangan kritis rasional yang menguasai sosial media. Bentuk sentimen dan sinisme para oposan ini bisa dengan mudah anda lacak di berbagai jaring socmed atau di situs berita online. Jika kelompok pertama membenci PKS karena alasan ideologis, kelompok kedua adalah mereka yang kecewa dengan beberapa fakta media terkait PKS yang mungkin masih bisa diperdebatkan.
Namun, ijinkan saya menyampaikan di sini bahwa mesin PKS terus saja bekerja dalam diam. Dengan cara mereka, PKS tetap bisa meliuk dan menari di tengah badai. Para oposan PKS mungkin bisa saja berteriak sampai ke langit di media sosial agar PKS mati, namun jantung kaderisasi PKS terus berdenyut. Jutaan kader mereka terus bekerja dan berkhidmat untuk negeri. Kader mereka yang diamanahkan di lembaga eksekutif terus membuat prestasi demi prestasi (Anda bisa telusuri sendiri deret panjang penghargaan yang diterime Aher dan Irwan Prayitno, misalnya). Gemuruh PKS, sekali lagi tidak hanya di media sosial, di perkotaan, namun juga melintas sungai dan pulau, lembah dan gunung, melewati samudera (sedikit lebbay ya :D). Jika eksistensi parpol itu dilihat dari pemerolehan suara pemilu dan pilkada, saat ini kader PKS dipercaya menjadi gubernur di empat propinsi: Sumbar, Jabar, Sumut, dan yang terbaru Maluku Utara.
Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa PKS sama sekali adalah zero masalah. Saya menyadari bahwa PKS bukanlah partai malaikat. Karenanya sangat mungkin melakukan kekeliruan dan kesalahan., baik di level individu maupun komunitas. Saya berharap nurani PKS bisa mendengar segala kebisingan masyarakat yang kritis terhadap PKS belakangan. Bahwa tidak semua mereka yang mengkritik itu karena benci, saya yakin juga karena cinta. Perbanyaklah mendengar, berefleksi, meresapi, dan membalas semuanya dengan perbaikan dan amal yang lebih baik.
Bagimana dengan adanya fakta bahwa sebagian kecil kader yang keluar (atau dikeluarkan)? Bagi saya sendiri hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Jangankan keluar dari PKS sebagai parpol, sejarah Islam justru juga diwarnai sebagian sahabat rasul yang keluar (murtad) dari Islam. Mereka yang murtad itu justru generasi yang pernah bertemu dan berinteraksi lansung dengan rasulullah SAW. Jika bahkan dari agamapun ada orang yang memutuskan keluar, apalagi hanya dari parpol semisal PKS. It is not a big deal sekali lagi. Saya tahu ada satu dua ustadz mantan pendiri PK yang ‘berijtihad’ untuk say good bye pada partai ini, namun pada saat yang sama ada ratusan atau mungkin ribuan ustadz yang tetap setia dan Insyallah terus ‘menjaga’ kapal dakwah bernama PKS ini agar tetap on the right track.Asumsi sederhananya, tidak mungkin 99 orang majlis syuro atau para asaatidz di dewan syariat yang memiliki pemahaman syariat yang baik akan membiarkan atau malah bersepakat berbuat maksiat atau melakukan sesuatu yang menabrak prinsip-prinsip syariat.
Memimpin Indonesia
Melihat karakter PKS yang unik, saya optimis bahwa partai ini akan terus membesar. Bukan tak mungkin, para kader partai inilah yang akan dominan mewarnai dinamika kepemimpinan nasional kita pada masa yang akan datang. Formula sederhananya, jika ingin melihat kepemimpinan Indonesia sepuluh tahun yang akan datang, maka lihatlah kepemimpinan lembaga kemahasiswaan di berbagai kampus hari ini.
Dulu kita bisa melihat bagaimana para kader HMI menguasai banyak lembaga kemahasiswaan di kampus pada era 80-an dan 90an awal. Sekitar sepuluh tahun kemudiaan, merekalah yang dominan mewarnai kepemimpinan nasional kita 10 tahun belakangan (anda bisa melihat fenomena ini dengan memperhatikan beragam tokoh yang mengunjungi Anas Urbaningrum dulu setelah menjadi tersangka, atau ketika Anas membuat PPI setelah itu - mereka adalah para kader HMI yang tersebar di banyak posisi).
Dan jika kita kembali ke kampus dan melihat fenomena kepemimpinan lembaga mahasiswa hari ini, suka atau tidak, anda akan menemukan bahwa mayoritas lembaga kemahasiswaan kampus itu, baik yang di Jawa maupun di luar Jawa, cukup banyak ‘dikuasai’ oleh para mahasiswa yang berideologi kanan, seperti PKS. Sejak pertengahan tahun 1990an, para mahasiswa yang secara ideologi berafiliasi dengan PKS ini berhasil menggeser dominasi aktivis HMI. Karenanya, sekali lagi, bukan tak mungkin, merekalah yang akan menjadi pemimpinan nasional lima atau sepuluh tahun yang akan datang.
Banyak memang yang meragukan bahwa cita-cita PKS untuk masuk tiga besar pada pemilu 2014 hanyalah impian belaka. Tapi seperti saya katakan, jutaan kader mereka terus bekerja dalam senyap. Ada yang dengan sinis bilang, ini tidak zamannya lagi memilih partai, tapi memilih tokoh. Iya, saya setuju. Saya bicara PKS di sini tidaklah dalam konteks PKS sebagai kardus kosong yang berisi ‘hantu blau’, tapi PKS sebagai kumpulan manusia dengan semua prestasi dan keunikan jutaan kadernya.
Tentu kita berharap bahwa jika memang PKS ditakdirkan menjadi pemimpin nasional, mereka bisa menjadi pemimpin yang amanah, yang membawa Indonesia menjadi lebih baik. Kita juga berharap bahwa PKS bisa memahami Indonesia yang plural. Jati diri Indonesia adalah keberagaman itu senidri. Karenanya, dalam mengelola negara dan pemerintahan PKS harus bisa menjalin kerjasama dengan semua golongan, termasuk dengan kelompok sekuler dan nasionalis. Indonesia yang majemuk tidak bisa dikelola oleh salah satu kelompok saja. Sekali lagi, PKS harus bisa bekerjasama dengan semua kekuatan bangsa dan bekerja untuk kepentingan semua golongan, tidak untuk kepentingan sempit kelompok tertentu, apalagi hanya untuk golongan PKS. Waktunya bagi PKS untuk memperkenalkan praktek Islam sebagai rahmatan lil alamin itu di lapangan, tidak hanya dikhutbahkan dari mimbar kajian para ustadz selama ini.  
Wallahu’alam.
sumber : http://politik.kompasiana.com/2014/03/02/mencermati-tarian-politik-pks-638806.html

posted by @Adimin

Melacak Jejak "Badai" PKS dari Perspektif Kolonialisme

Written By Sjam Deddy on 07 June, 2013 | June 07, 2013



Apakah Penghancuran PKS untuk Pelemahan Islam..? | Melacak Jejak "Badai" PKS dari Perspektif Kolonialisme.

Tulisan ini dilatarbelakangi keprihatinan perihal kasus daging impor di Indonesia. Bukan prihatin atas “prahara” yang menerpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS), atau berempati kepada oknum kader yang terlibat, ataupun pro dan kontra pada peristiwa itu sendiri —penulis bukan orang politik— tetapi inti keprihatinan ialah gegap propaganda di berbagai media seperti sudah diluar kelaziman. Telah melebihi kewajaran. Hal ini yang layak dikaji.  

Konsekuensi logis berupa “vonis sosial” via media memang telah melekat terhadap pihak-pihak yang terlibat hampir tanpa pembelaan, dan dalam perpolitikan, itu syah-syah saja karena merupakan resiko meski sesungguhnya tidak ada langkah mati dalam politik. Bahkan jamak di dunia politik, setiap tujuan niscaya membawa (ada) korban. Itu yang dinamai ‘tumbal politik’. Meskipun terkadang, terpaksa —atau mau tidak mau— harus mengorbankan kelompok, partai, rakyat bahkan keluarga sendiri.  

Membaca arah politik, jangan sampai tertipu dengan apa yang terjadi diatas permukaan, karena sering ia cuma deception, sekedar pengalihan situasi, dan lain-lain untuk memuluskan agenda utama. Entah apa. Namun lazimnya terkait “kekuasaan”. Manakala masuk ke rimba politik tanpa strategi dan taktik, maka ibarat kambing yang dipiara setelah besar harus siap dijual atau disembelih.

Terkait dugaan korupsi impor daging para kader PKS, kini berkembang kegelisahan di masyarakat soal trial by press serta caci maki berbagai elemen bangsa yang marak digebyarkan media. Sepertinya arah (indikasi) makian ingin menyudutkan, atau menjelek-jelekan ‘basis ideologi’ serta bendera landasan partai tersebut. Ini perlu dicermati. Dalam hal ini adalah Islam. Ya. Islam sebagai entitas, ia bukanlah ideologi, bukan pula aliran, ataupun suatu kepercayaan tertentu di masyarakat. Islam itu agama dari langit. Hal ini mutlak digugat jika tendensi cacian mengarah kesana.

Dan jika mengikuti gebyar media mainstream, tanpa sadar segenap elemen bangsa hampir-hampir larut atas hiruk–pikuk yang tersurat tanpa mampu melihat hal tersirat di balik semua itu. Bukankah kata Pepe Escobar, wartawan senior Asia Times, politik praktis itu bukan yang tersurat melainkan apa yang tersirat?

Sekali lagi, tulisan ini tak hendak turut campur dalam carut marut politik yang terbukti tidak memiliki arti apa-apa bagi Kepentingan Nasional RI (KENARI). Dinamika politik kita hampir tidak ada manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat. Cuma glamour di pesona dan cenderung high cost. Penulis sengaja menjauh dari gaduh kepentingan, berhening pikir sejenak — lalu mengkaji peristiwa secara total dan jernih, mencoba menyelami hal terdalam dari yang paling dalam. Inilah uraian sederhananya.

Benarkah Olong Agen Asing?
Melacak jati diri Ahmad Fathanah alis Olong akan meluas kemana-mana, terkait topik ini sebaiknya dimulai ketika ia ditangkap di Bangkok lalu dideportasi ke Australia (Aussie), oleh sebab terlibat human trafficing sekitar 353 orang ke Christmas Island, Aussie (1999).


Sebetulnya ia terancam 20 tahun penjara, tetapi hukuman dijalani 3 tahun karena dinilai “kooperatif” terhadap pemerintah federal. Entah kenapa. Informasi yang berkembang tentang “kooperatif” yang dimaksud karena Olong dekat dengan lingkaran dalam PKS. Sementara ada fakta bahwa saat itu ekspor sapi Aussie ke Indonesia terkendala akibat kebijakan Menteri Pertanian (Mentan) RI Suswono menekan angka impor. Retorikanya: adakah deal khusus antara Aussie dengan Olong atas keringanan hukuman sehubungan dengan kendala serta prospek ekspor sapi Aussie ke Indonesia? Fakta lain yang menarik, Pak Suswono, Mentan RI itu dari PKS.

Menyimpang topik sebentar tetapi masih dalam koridor materi, bahwa dokumen Global Future Institute (GFI), Jakarta pimpinan Hendrajit mencatat, ketika mengamankan rencana kolonialisasi, pihak Barat menyiapkan beberapa metode dan modus operandi. Terkait kasus PKS, mungkin modus dimaksud adalah sebagai berikut:

(1) Membuat Sentimen Agama.
Ini merupakan metode dini atau permulaan, semacam mapping daerah target. Sudah tentu, latar belakang pemilik kekuasaan dipelajari lalu agama mayoritas “tuan penguasa” dijadikan alibi. Misalnya membuat sesuatu yang saat ini tengah dibenci publik. Terkait kasus ini tampaknya isu korupsi, “main” perempuan, isue suap — dianggap tepat; dan

(2) Menciptakan Agitasi.
Dibuat “peristiwa” yang mampu menimbulkan antipati publik terhadap target sasaran, tetapi sebaliknya menimbulkan simpati bagi organ yang memusuhi atau menangani. Misalnya, “diciptakan” kemudian ditinggalkan jejak buruk kiprah inner circle, atau rekam dosa para kader partai yang ditarget, dan lain-lain. Retorikanya: benarkah masuknya Olong ke lingkaran dalam PKS merupakan implementasi kedua metode di atas?

Berbasis circumstance evidence (bukti keadaan) tadi, berapa hipotesa pun membiak: apakah pihak asing tak suka ekspornya dikurangi kemudian Olong dikirim untuk bargaining ulang masalah kuota; ataukah impor daging hanya pintu masuk sedang tujuan Aussie sebenarnya ialah memperlemah partai ber-“ideologi” Islam; atau ada hipotesa nakal lain, bukankah Aussie merupakan perpanjangan Barat dan kepentingannya di Asia dalam rangka menghancurkan simbol agama mayoritas di Indonesia? (baca: Membongkar Falsafah Perang Barat di Dunia Islam dan Indonesia, di www.theglobal-review.com). Silahkan berhipotesa serta berargumen berbasis fakta, data dan logika.

Dalam diskusi terbatas di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI) pimpinan Dirgo D. Purbo terkuak fakta, bahwa sekitar 80-an persen APBN Australia tergantung Indonesia. Arti “tergantung” disini dapat dimaknai luas.

Barangkali pengiriman berbagai ekspor-impor (raw material) Aussie dari dan menuju berbagai benua mutlak harus melewati perairan Indonesia, atau mungkin republik tercinta ini sekarang dinilai sebagai sumber devisa Aussie dari sisi ekspor, dan lain-lain. Tampaknya data terakhir, Indonesia dianggap buffer zone bagi Australia. Inilah informasi yang nyata. Maka membaca serangan bertubi-tubi melalui media terhadap kasus PKS, boleh dibaca merupakan serangan asimetris asing melalui pintu “impor daging” yang kebetulan dalam Kabinet RI dikomandoi oleh orang PKS selaku Mentan RI.

ISAF dan Pola Kolonialisme

Masih ingat International Security Assistance Force (ISAF)? Itulah koalisi40-an negara pimpinan Amerika Serikat (AS) yang hendak menghancurkan Islam. Salah satu anggotanya adalah Aussie. Jujur saja, pamor koalisi itu kini memudar. Ya. ISAF itu “amuba”-nya NATO di Asia. Dan Paman Sam sebagai pemegang saham utama bertugas menyiapkan pasukan serta modal yang diperoleh melalui sharing negara anggota. Ia bebas memilih daerah jajahan.

Inggris misalnya, memiliki saham di Basra, Belanda mengkapling Uruzgan, Israel memilih Lebanon dan sebagian kota di Irak, sementara AS sendiri di Baghdad, demikian seterusnya. Inilah mapping kapling daerah koloni pasca serbuan militer AS beserta sekutu (NATO dan ISAF) di Irak (2003-2012).

Akan tetapi ketika ada perlawanan super dahsyat oleh tentara lokal di Irak —kapling-kapling itu pun akhirnya bubar— dalam logika perang, berita soal penebalan, atau penambahan pasukan koalisi di Irak dahulu dapat diartikan bahwa tentara asing banyak yang tewas di medan pertempuran. Tentara lokal mampu mengalahkan pasukan AS dan sekutu. Ini tak boleh dipungkiri, kendati media mainstream banyak melakukan edit dan kontra berita. Itu memang bagian metode kolonialisme. Dan kuat disinyalir bahwa Barat tidak mau sejarah berpihak kepada Islam.

Tercatat sebelum muncul perlawanan maha dashyat di Irak, sepertinya mereka ingin berbagi kue (kekuasaan). Bahkan lebih dari sekedar bagi-bagi kekuasaan, ISAF dan sekutunya berencana membuat umat Islam menjadi budak di negeri sendiri dan mengusung kelompoknya menjadi Tuan Tanah Baru.

Skenario itu sempat muncul di Negeri 1001 Malam meski akhirnya gagal. Terkait perspektif catatan ini, akan diurai sekilas perihal pola kolonialisasi di muka bumi. Ya. Membaca peta konflik dari aspek kolonialisme yang dikembangkan Barat, hampir dipastikan satu rute bahkan pararel dengan jalur-jalur (negara) yang memiliki potensi besar atas minyak, emas dan gas alam. Kelaziman pola adalah tebar duluan isu-isu aktual terkait budaya dan karakteristik di wilayah target. Setelah itu dimunculkan “tema” gerakan, dan seterusnya. Tema bisa berujud konflik internal, invasi militer, jajak pendapat, atau aksi massa non kekerasan sebagaimana Arab Spring di Tunisia, Yaman dan Mesir. Timor Timur misalnya, isu yang dilempar soal pelanggaran HAM oleh aparat, kemudian dimunculkan tema “konflik dan jajak pendapat”, dan ujung (skema) yang diraih ternyata minyak di Celah Timor yang kini digarap oleh Australia dan Thailand.

Pertanyaannya: jika dulu tak ditemukan potensi besar minyak di Celah Timor apakah bakal ada jajak pendapat di Timor Timur?


Baluchistan pun demikian juga. Isu yang ditebar tentang radikalisme dan separatis, tema yang diangkat soal referendum, sedang skemanya tetap minyak, minyak dan minyak. Apa tidak miskin Pakistan bila Baluchistan kelak memisahkan diri? Dan banyak lagi contoh lain.
Dengan demikian pola kolonialisme yang digelar selalu diawali dengan isu-isu (aktual), kemudian dimunculkan tema (gerakan) dan berakhir pada skema kolonial yang merupakan tujuan pokok. Hingga kapanpun dan dimanapun model kolonialisasi, skema utama hampir tidak berubah yakni penguasaan ekonomi dan pencaplokan sumberdaya alam (SDA). Kendati pada kasuistis tertentu bisa meluas ke sasaran lain, akan tetapi ujungnya dipastikan soal cengkraman ekonomi dan pendudukan SDA di daerah target. Pola ini tidak akan berbeda baik ketika memakai pola simetris (militer) maupun tata cara asimetris (non militer).

Kembali ke prahara PKS, tulisan sederhana ini tidak akan mengurai jauh mengapa PT Indoguna Utama tempat Olong ‘bekerja’ ternyata berpangkal di Paman Sam, tepatnya berada 141 Pierpont Avenue Salt Lake City, UT 84101 USA; atau kenapa PT tersebut membuka pula layanan jasa intelijen. Catatan ini juga tidak akan membahas kenapa perkara korupsi lainnya dengan kualitas dan kuantitas lebih besar justru “dibekukan”. Juga tak akan
diurai 40-an wanita yang menjadi “mainan” Olong, dan lain-lain. Terlalu berputar-putar malah bias kemana-mana, sedang itu hanya sekedar isu permulaan dalam tahapan kolonialisasi. Semacam jejak dosa yang sengaja “diciptakan”, ditinggalkan, lalu diungkap sendiri oleh sang agen ke publik.

Kajian ini mencoba membidik, bahwa gegap pemberitaan oleh media-mediamainstream terhadap PKS soal korupsi serta perempuan-perempuan di sekeliling Olong sesungguhnya merupakan propaganda di tahapan TEMA kolonialisme, akan tetapi sungguh menyedihkan segenap elemen bangsa malah larut ke dalam “tarian gendang” yang ditabuh asing.
Menyimak kasus PKS dari perspektif kolonialisme, bahwa tebaran isu asimetris perihal korupsi daging impor, itu hanyalah pintu masuk pertama. Sedang tema gerakan bertajuk pelemahan partai berbendera Islam, dalam hal ini adalah PKS itu sendiri. Ini jelas terbaca. Lihat saja, media lebih senang memuat berita para kaum hawa di sekeliling Olong daripada mengurai esensi unsur korupsi PKS. Dari aspek hukum, korupsi itu suatu perbuatan pidana namun blow up media malah menggebyarkan hal-hal di luar esensi korupsi kendati memang mata rantainya. Terkesan ada propaganda dahsyat disana-sini.
Selanjutnya tatkala berkembang argumen bahwa SKEMA kolonialisme cuma meminta tambahan kuota impor daging saja, boleh dan syah-syah saja. Tetapi bagi penulis jika sekedar target kuota terlalu kecil dibanding resiko serta akibat atas ‘kehancuran PKS’ di mata publik sebagai partai Islam yang besar, solid, militan dan memiliki prospek sebagai partai penguasa.

Dugaan penulis, SKEMA yang hendak ditancapkan oleh Barat justru pelemahan dan penghancuran Islam di Indonesia melalui modus adu domba sesama umat. Teori management by objective (MBO) mengajarkan, bahwa meraih tujuan cukup melalui capaian sasaran-sasaran antara saja. Dalam kasus di atas, penghancuran PKS hanya sekedar “sasaran antara” tetapi niscaya berefek pada tujuan pokok, yakni pelemahan Islam. Apakah ini yang tengah berlangsung? Itu loh partai Islam ternyata bejat! Mau juga korupsi, suka main perempuan! Amoral! dan lain-lain. Dan tampaknya, skenario dimaksud terus bergulir liar baik di gedung tinggi, di kampus-kampus, di jalan-jalan, di bangku sekolahan, bahkan di warung-warung kaki lima.

Selamat datang MBO! Selamat bermain metode agitasi dan sentimen agama di Indonesia!.

(M Arief Pranoto/Research Associate Global Future Institute (GFI)/Analisis The Golbal Review, 29-05-2013)

 

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger