pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post
Showing posts with label OASE. Show all posts
Showing posts with label OASE. Show all posts

Lima Langkah Memperkuat Ikatan Ukhuwah Islamiyah

Written By NeoBee on 13 October, 2018 | October 13, 2018



Siapa melapangkan kesulitan saudaranya di dunia ini, Allah akan melapangkan pula orang itu dari malapetaka hari kiamat


Rasulullah pernah membuat gambaran indah tentang persaudaraan antar pemeluk agama Islam. Beliau melukiskan bahwa persaudaraan dalam ikatan keislaman itu seperti satu tubuh. Beliau bersabda:

مثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَداعَى لهُ سائِرُ الْجسدِ بالسهَرِ والْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman, dalam saling mencintai, saling menyantuni sesama mereka, adalah laksana kesatuan tubuh. Apabila satu bagian dari tubuh itu menderita sakit, maka seluruh badan turut merasakannya.” (HR. Muslim)

Sungguh indah apa yang disampaikan oleh Nabi. Betapa erat, dekat, dan akrab hubungan sesama muslim. Meski pun ada perbedaan: perbedaan mazhab, politik, warna kulit, suku dan bangsa, namun kita tetap satu tubuh, kita tetap harus saling bersaudara dalam ikatan keislaman. Inilah yang disebut ukhuwah islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah mudah diucapkan, tapi yang sulit adalah praktik dan aplikasinya dalam berbagai situasi serta kondisi kehidupan sehari-hari. Namun, perlu disadari bahwa mewujudkan persaudaraan Islam dalam arti yang sebenarnya merupakan kewajiban setiap Muslim.

Meski tak ada pakta perjanjian tertulis, namun umat Islam karena ikatan keislamannya haruslah memandang sesama Muslim sebagai saudaranya atas dasar kesamaan pandangan hidup. Segala yang merusak ukhuwah Islamiyah harus dijauhi.

Setidaknya ada lima hal yang harus kita lakukan untuk membentengi persatuan kita sesama umat Islam. Kelima hal ini termasuk dalam hak dan kewajiban ukhuwah yang ditetapkan dalam Islam.

Pertama, menutup aib saudara seiman. Rasa-rasanya tidak ada manusia yang terbebas dan bersih dari aib, cacat dan kekurangan diri. Setiap orang pasti punya kelemahan. Karenanya, tidak selayaknya kita menjadi bak bunyi pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, namun kuman di seberang lautan tampak.”

Kita harus mampu menahan diri untuk tidak membuka aib saudara kita. Kita jaga kehormatan mereka. Kita tutupi kekurangan dengan saling melengkapi dan menyempurnakan. Tidak dengan mengumbar aib mereka yang dapat menimbulkan ketersinggungan hingga berujung pada permusuhan.

Rasulullah bersabda,
مَنْ رد عن عرض أخيه كان له حجابا من النار
“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya (sesama Muslim), maka hal itu menjadi penghalang untuknya dari api neraka.” (HR Tirmidzi). Sabda Nabi  berikutnya: “Adalah kejahatan bagi seorang Muslim mempermalukan saudara Muslim lainnya.” (HR Muslim).

Kedua, memaafkan saudara seiman. Langkah kedua ini diperlukan dalam hubungan kita sebagai makhluk sosial. Di sela interaksi sosial yang kita lakukan mungkin ada friksi dan hal-hal lain yang mengakibatkan kesalah-pahaman.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang lepas dari kesalahan. Karena pada dasarnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun, sebaik-baik manusia yang berbuat salah adalah yang segera menyadari, meminta maaf, menerima maaf, dan bertaubat.

Rasulullah bersabda,
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Ampunan Ilahi dilimpahkan kepada setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali yang menyimpan dendam kepada saudaranya. Tentang mereka dikatakan: Tunggu, tunggu, tunggu, sampai mereka berbaikan.” (HR Muslim)

Ketiga, melepaskan kesulitan sesama Muslim. Jika kita diminta untuk memilih antara kemudahan dan kesulitan, nyaris setiap kita lebih suka kemudahan dan tidak menginginkan kesulita. Namun, hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada rintangan dan hambatan yang membuat perjalanan hidup tidak seperti yang diharapkan.

Kesulitan yang timbul terkadang membuat sebagian orang kehilangan orang-orang yang disayangi. Musibah gempa bumi dan tsunami di Palu serta Donggala adalah potret buram tentang betapa kesulitan itu dalam sekejap menghilangkan apa yang dimiliki. Rumah, kendaraan, keluarga, bisa lenyap dalam hitungan detik. Hanya dalam sekejap semua luluh lantak. Semuanya lenyap digoncang gempa bumi, lenyap oleh hantaman tsunami. Innaa lillaah wa innaa ilaihi rooji’uun ..

Kewajiban kita sebagai sesama muslim yang saling bersaudara, adalah membantu mereka. Kita sisingkan lengan. Kita kenyangkan perut mereka yang lapar. Kita obati yang sakit. Kita kasihi mereka yang berduka. Kita hapus air mata kesedihan mereka. Kita bahagiakan dengan apa yang mampu kita berikan.
Duka mereka adalah duka kita. Kebahagiaan mereka juga kebahagiaan kita. Rasa sakit yang tengah mereka rasakan juga rasa sakit bagi kita. Kita seharusnya tidak merasa nyaman dengan apa yang menimpa dan menindih mereka. Oleh karena itu, Rasulullah bersabda:

مَنْ فَرَّجَ عَنْ أَخِيهِ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيه، وَمَنْ سَتَرَ عَلَى أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة
“Siapa yang melapangkan kesulitan saudaranya dari kesulitan hidup di dunia ini, Allah akan melapangkan pula orang itu dari malapetaka hari kiamat. Allah tetap akan menolong seorang hamba, selama hamba itu sudi menolong saudaranya. Siapa yang menutup aib (malu) orang Islam, Allah akan menutupi aib orang itu di dunia dan akhirat.” (HR Muslim, Abu Daud, Turmidzi).

Keempat, berbaik sangka kepada sesama Muslim. Sikap baik sangka tidak berarti kita kehilangan kewaspadaan terhadap potensi kejahatan seseorang. Baik sangka adalah akhlak yang diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada para hamba-Nya. Kita dianjurkan untuk berbaik sangka kepada saudara kita. Tidak mudah terjebak dalam buruk sangka yang bisa mengakibatkan gangguan dalam hubungan antara sesama kita.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12).

Kelima, berdoa untuk sesama Muslim, baik semasa hidupnya maupun setelah wafat. Doa yang baik akan kembali kepada kita yang mendoakannya. Demikian pula sebaliknya. Kita doakan saudara-saudara kita yang dekat atau jauh. Kita kirimkan doa terbaik kita untuk seluruh umat Islam khususnya mereka yang sakit, terkena musibah, tertimpa kesulitan, maka kita pun akan mendapatkan kebaikan dan pahala dari doa kita sendiri.

Salah satu contoh doa yang diabadikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala adalah:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيم
“Tuhan! Beri ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami; janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Tuhan! Engkau Maha Penyantun lagi Maha Pengasih.” (Al-Hasyr: 10).

Inilah lima langkah untuk membentengi dan memperkuat tali persaudaraan sesama pemeluk Islam. Persatuan tidak sebatas teori di atas kertas yang disampaikan dalam bentuk ceramah dan tulisan. Persatuan itu harus kita hadirkan dan kita wujudkan dalam bentuk membela serta kehormatan saudara-saudara kita. Kita realisasikan dengan saling memaafkan, saling tolong menolong, berbaik sangka, dan saling mendoakan. Wallaahu a’lam bis shawaab.*/Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
 

posted by @Adimin

Izzah Islam : Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan

Written By neobattosai on 07 September, 2018 | September 07, 2018

Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita hina

 

ISLAM sebagai agama penutup yang sempurna dan paripurna, mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki karakter “Izzah”. Dalam al-Qur`an misalnya –Surah Al-Munafiqun [63]: 8- termaktub bahwa Izzah itu milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka sudah seharusnya, setiap mukmin menjadikan Izzah sebagai karakter pribadinya. Bahkan, dalam Surah Al-Ma’idah [5] ayat 54, disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah bersikap Izzah (tegas) kepada orang-orang kafir dan bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada sesamanya.

Dalam bahasa Arab, kata “Izzah” mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219) Di dalam bahasa Indonesia pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom kamus bahasa Indonesia. Dalam kamus tersebut, ‘Izzah’ ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.

Salah satu sosok legendaris yang patut diteladani dalam masalah Izzah adalah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab “al-Bidâyah wa al-Nihâyah” (1998: VII/70) mencatat dengan baik kata-kata bersejarah khalifah kedua ini yang menggambarkan kapasitas Izzahnya yang diilhami oleh Islam, “Kami adalah kaum yang dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Maka, kami tidak akan mencari alternatif (Izzah) selain (yang dianugerahkan) Allah.”

Semua orang mengenal ‘Umar bin Khattab, salah satu Khulafa’ ar-Rasyidin. Keadilan dan ketegasannya dalam menjalankan pemerintahan sangat masyhur.

Umar bin Khattab terkenal dengan keadilannya ketika menjabat Khalifah ar-Rasyidin kedua. Semasa kekuasaanya wilayah Islam sudah meliputi seluruh wilalah Jazirah Arabiyah, sebagian Asia kecil, Afrika Utara, bahkan sampai ke Eropa.

Namun siapa sangka, bahwa suatu kali Umar pernah tertipu saat berbicara dengan Raja Persia yang bernama Hurmuzan.

Tiga orang kepercayaan Khalifah Umar –Anas Bin Malik, Mughirah bin Syu’bah dan Ahnaf bin Qais– mendatangi negeri Hurmuzan dan berhasil menangka pnya atas permintaan Khalifah Umar.

Dikisahkan bahwa dalam salah peperangan pasukan Islam berhasil menaklukkan Persia dan menangkap Hurmuzan. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah untuk dihadapkan kepada Umar bin Khattab.

Menjelang tiba di Kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin.

Sepanjang perjalanan, sang tawanan membayangkan alangkah megah dan hebatnya istana Umar mengingat daerah kekuasaannya yang begitu luas meliputi dua pertiga dunia. Fikirannya  sang Kisra merasa rendah diri (inferor) ketika hendak menemui sang Khalifah.

Kisah pertemuan antara Hurmuzan dan Umar bin Khattab berikut adalah di antara contoh nyata bagaimana karakter Izzah ini benar-benar tercermin dalam diri sahabat yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dijuluki Al-Faruq ini.

Dalam buku “Nizhâm al-Hukûmiyah al-Nabawiyyah” (II/250) Muhammad Abdul Hayyi Al-Kattani menulis sepenggal kisah antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan. Kisah ini ditulis dalam bab “Fîman Kâna Yudhrabu bihi al-Matsal fi al-Haibah min al-Shahâbah” (Bab tentang orang yang dijadikan percontohan dari kalangan sahabat terkait masalah kemuliaan).

Menukil cerita Sya’bi, dikisahkan bahwa tongkat kecil Umar bin Khattab –karena begitu hebat Izzah beliau- lebih ditakuti daripada pedang Hajjaj. Suatu hari saat Hurmuzan (Raja Khurasan) menjadi tawanan yang dibawa beberapa sahabat –di antaranya Anas- untuk menemui langsung orang nomer satu umat Islam kala itu (‘Umar).

Kebetulan, saat sampai di Madinah, Umar tidak ada di rumah. Kemudian beliau dicari hingga ditemukan di salah satu masjid Madinah. Saat itu posisinya sedang tidur bersandar tongkatnya. Melihat fenomena demikian, Hurmuzan berseloroh, “Ini -demi Allah- adalah raja yang baik. Anda telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (dengan nyenyak). Demi Allah, sesungguhnya aku telah melayani empat Raja Kisra (Persia) yang memiliki mahkotah, tidak ada satu pun di antara mereka yang aku rasakan kehebatan –Izzah nya- melebihi orang yang sedang tidur beralas tongkat ini.”

Izzah yang dimiliki Umar benar-benar membuat Hurmuzan terkagum-kagum. Sosok nomer satu yang memimpin pasukan hebat yang bisa mengalahkan Imperium Persia ini ternyata jauh dari yang dibayangkannya. Dalam benaknya, ‘Umar ini pasti raja hebat yang memiliki istana mega, harta melimpah, penjagaan yang super ketat dan lain sebagainya.

Hurmuzan tidak yakin berhadapan dengan seorang pria sederhana, khalifah besar, pemimpin pasukan Islam yang menguasai Timur dan Barat, yang mampu menjatuhkan dua raksasa super power dunia kala itu, kekuasaan Persia dan Byzantium (Rum/Romawi Timur).

Terkejutnya Hurmuzan,  pemimpin besar umat Islam ini gaya hidupnya begitu bersahaja dan tanpa penjagaan. Sebuah fenomena aneh yang belum pernah Hurmuzan dapati sebelumnya. Namun, Hurmuzan menyadari bahwa salah satu kunci yang bisa membuka rasa penasaran terkait kehebatan dan izzah Umar adalah keadilan yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab.

‘Umar baru bisa tidur nyenyak ketika keadilan ditegakkan dan didistribusikan secara merata kepada rakyatnya. Sebuah tipikal pemimpin yang lebih mementingkan kehidupan rakyat daripada diri dan kerabat; lebih memilih hidup melarat demi terciptanya keadilan untuk rakyat.

Senada dengan kisah Hurmuzan, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam buku “Minhâj al-Muslim” (1964: 126) menceritakan bagaimana utusan Kaisar Romawi yang kagum kepada Umar bin Khattab. Saat sampai Madinah, dia bertanya kepada para penduduk, “Dimana raja kalian?” Oleh penduduk dijawab, “Kami tidak memiliki raja, tapi Amir (Pemimpin). Ternyata setelah dicari-cari, Umar ditemukan sedang tidur di atas pasir berbantalkan tongkat kecilnya.

“Orang yang seluruh raja goncang kerajaannya karena kehebatannya ternyata keadaannya seperti ini. Tapi, wahai Umar engkau telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (nyenyak). Sedangkan raja kami berbuat zalim. Tidak mengherankan jika (raja kami) selalu merasa takut dan tidak bisa tidur malam.” Demikianlah contoh dari izzah Umar bin Khattab. Bagi para pemimpin yang ingin memiliki izzah seperti Umar, maka jadikanlah keadilan sebagai pusat perhatian.

bersambung . . . . . . . .


 


posted by @Adimin

Kewajiban Ulama Menjelaskan Ilmu, Haram Menyembunyikannya

Written By NeO on 01 January, 2018 | January 01, 2018

SEBAGAIMANA diharamkan bagi seorang berbicara dalam perkara agama yang ia tidak ketahui, maka seseorang juga diharamkan untuk menyembunyikan perkara agama yang ia ketahui, seperti keterangan dan petunjuk yang telah Allah jadikan bermanfaat bagi manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
Sesungguhnya, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan penerangan (kebenaran). Maka, terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 159-160)

Kedua ayat di atas diturunkan berkenaan dengan Ahli Kitab dari para pendeta Yahudi dan rahib Nasrani, yang menyembunyikan ciri-ciri Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam kitab-kitab suci mereka, melalui penghapusan, penyembunyian, ataupun melalui penyelewengan mereka. Namun, lafal ini berarti umum, dan mencakup setiap orang yang melakukan penyembunyian informasi agama Allah yang harus disebarluaskan.

Seorang alim ulama tidak diperbolehkan dalam hal apa pun menyembunyikan ilmu yang bermanfaat. Barangsiapa bertujuan seperti itu, maka ia telah berbuat maksiat dan berdosa.

Jika ia tidak bertujuan untuk menyembunyikan ilmu, dan ketika itu terdapat orang yang bertugas menyampaikan penerangan, penyampaian dan dakwah, maka ia akan dimaafkan dosanya. Karena sesungguhnya penerangan merupakan kewajiban fardhu kifayah. Jika kewajiban ini telah dilaksanakan oleh sebagian orang, maka sebagian yang lainnya akan gugur kewajiban. Kondisi ini ketika jumlah para mubaligh dan dai-dai berkecukupan, dan mereka orang-orang yang beruntung, sebagaimana telah Allah jelaskan dengan firman-Nya,
Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyuruh kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran: 104).

Hukum memberikan penerangan menjadi wajib atas seorang alim ulama jika ia ditanya oleh seorang penanya yang meminta petunjuk dalam satu perkara dari berbagai perkara agama yang mendesak, yaitu perkara yang tidak dapat diundur-undur lagi. Dalam kondisi ini, seorang alim ulama tidak diperbolehkan menyembunyikan ilmunya, dengan mengandalkan kepada ulama yang lainnya. Hal itu supaya si penanya tidak bimbang antara memilih yang ini atau yang itu, selama hal ini tidak di luar batas kemampuannya.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda,
“Barangsiapa yang ditanya tentang ilmunya, lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dikekang dengan kekangan api neraka.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Hal itu karena yang menjadi hak bagi seorang penanya atas seorang alim adalah agar si alim ulama menjawab pertanyaan dan mengajarinya, selama si penanya tidak mencari-cari kesalahan dan memfasih-fasihkan suaranya, yaitu mencari-cari hal-hal yang aneh dan permasalahan-permasalahan yang diputarbalikkan. Umar r.a. pernah menghukum seorang penanya yang melakukan hal seperti itu.

Seorang alim ulama diharamkan tutup mulut dari memberikan keterangan ilmiah melalui lisan ataupun tulisan. Jika tutup mulutnya itu berkonsekuensi pada kesamaran antara yang benar dan yang batil, bercampur-aduknya yang halal dengan yang haram, dan bercampurnanya yang makruf dengan yang munkar, maka ia harus memberikan keterangan untuk menghilangkan kekeliruan dan memperjelas yang benar. Karena posisi keterangan di sini, termasuk dalam persaksian (syahadah) yang haram untuk disembunyikan.

Allah berfirman,
Janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” (QS. al-Baqarah: 283)

Al-Qur’an telah memberikan kepada kita contoh tentang ulama buruk dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang berani menyembunyikan apa yang telah diwahyukan Allah, dengan tujuan untuk mencari kemuliaan dunia. Lalu Allah melaknat mereka supaya menjadi pelajaran bagi kita.

Allah berfirman,
Sesungguhnya, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka, alangkah beraninya mereka menentang api neraka.” (QS. Ali-Imran: 174-175).

Sesungguhnya, dalam ancaman yang keras ini terselip pesan bagi orang-orang yang mengenakan jubah ulama yang senang berdekatan dengan raja-raja yang fasik dan pemimpin-pemimpin yang zalim, dan mereka yang menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya. Mereka adalah ulama yang menghalalkan bagi mereka (para raja dan pemimpin yang fasik) sesuatu yang telah haram, menjauhkan dari tanggung jawab mereka dari tuntutan kewajiban, dan mensuplai mereka dengan fatwa-fatwa yang telah dipersiapkan bagi setiap bid’ah yang mereka ciptakan dan bagi setiap kemungkaran yang mereka kerjakan

hidayatullah.com
 
posted by @Adimin

Shalatlah Untuk Mengingat ALLAH

Written By NeoBee on 18 November, 2017 | November 18, 2017

Orang beriman merasakan nikmatnya shalat dan merasakan betapa nikmatnya berdekatan dengan Allah dalam shalat.



FIRMAN Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.” (QS. Toha: 14)
Shalat merupakan jembatan dan untuk mengingat Allah dengan senantiasa menyebut asma-Nya dalam shalat. Aktivitas zikir merupakan manifestasi dari kecintaan seorang hamba kepada Allah. Karena barang siapa yang mencintai kekasihnya, maka otomatis dia akan banyak menyebut nama kekasihnya tersebut. Begitu pula orang-orang beriman yang sangat cinta kepada Allah, karena dia tahu hanya Allah-lah dzat yang pantas dicintai.

Dengan mendalami ilmu-Nya, maka semakin dalam keimanannya dan semakin besar pula rasa cintanya kepada Allah. Seiring dengan itu, semakin banyak pula dia berzikir menyebut asma Sang Kekasih sejati.

Allah memfasilitasi proses itu dengan suatu kegiatan ritualitas yang begitu tinggi bernama shalat. Maka orang beriman akan merasakan nikmatnya shalat dan merasakan betapa nikmatnya berdekatan dengan Allah dalam shalat.

Inilah yang terjadi pada para sahabat, tabi’in serta para ulama salafusshalihin. Tanpa sadar mereka menghabiskan waktu untuk melaksanakan shalat karena merasakan keasyikan dalam shalatnya. Inilah yang disabdakan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam: “Dan dijadikan bagiku hiasan mata dalam shalat.” 
 
Ini menjadi bukti bahwa shalat sangat erat kaitannya dengan keimanan dan kecintaan kepada Allah, dua amal yang paling utama. Dampaknya sangat jelas bahwa orang yang banyak mengingat Allah dia akan banyak diingat oleh Allah. Dia memang tidak akan menyia-nyiakan amalan hambanya.
 
*/Sudirman STAIL (sumber buku: Top Ten Amalan, penulis: Anwar Anshary

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger