Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label OASE. Show all posts
Showing posts with label OASE. Show all posts
October 13, 2018
posted by @Adimin
Lima Langkah Memperkuat Ikatan Ukhuwah Islamiyah
Written By NeoBee on 13 October, 2018 | October 13, 2018
Siapa
melapangkan kesulitan saudaranya di dunia ini, Allah akan melapangkan pula
orang itu dari malapetaka hari kiamat
Rasulullah pernah membuat gambaran indah
tentang persaudaraan antar pemeluk agama Islam. Beliau melukiskan bahwa
persaudaraan dalam ikatan keislaman itu seperti satu tubuh. Beliau bersabda:
مثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَداعَى لهُ سائِرُ الْجسدِ بالسهَرِ والْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman, dalam saling
mencintai, saling menyantuni sesama mereka, adalah laksana kesatuan tubuh.
Apabila satu bagian dari tubuh itu menderita sakit, maka seluruh badan turut
merasakannya.” (HR. Muslim)
Sungguh indah apa yang disampaikan oleh Nabi. Betapa
erat, dekat, dan akrab hubungan sesama muslim. Meski pun ada perbedaan:
perbedaan mazhab, politik, warna kulit, suku dan bangsa, namun kita tetap satu
tubuh, kita tetap harus saling bersaudara dalam ikatan keislaman. Inilah yang
disebut ukhuwah islamiyah.
Ukhuwah Islamiyah mudah diucapkan, tapi yang sulit adalah
praktik dan aplikasinya dalam berbagai situasi serta kondisi kehidupan
sehari-hari. Namun, perlu disadari bahwa mewujudkan persaudaraan Islam dalam
arti yang sebenarnya merupakan kewajiban setiap Muslim.
Meski tak ada pakta perjanjian tertulis, namun umat Islam
karena ikatan keislamannya haruslah memandang sesama Muslim sebagai saudaranya
atas dasar kesamaan pandangan hidup. Segala yang merusak ukhuwah Islamiyah harus
dijauhi.
Setidaknya ada lima hal yang harus kita lakukan untuk
membentengi persatuan kita sesama umat Islam. Kelima hal ini termasuk dalam hak
dan kewajiban ukhuwah yang ditetapkan dalam Islam.
Pertama, menutup aib saudara seiman.
Rasa-rasanya tidak ada manusia yang terbebas dan bersih dari aib, cacat dan
kekurangan diri. Setiap orang pasti punya kelemahan. Karenanya, tidak
selayaknya kita menjadi bak bunyi pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak,
namun kuman di seberang lautan tampak.”
Kita harus mampu menahan diri untuk tidak membuka aib
saudara kita. Kita jaga kehormatan mereka. Kita tutupi kekurangan dengan saling
melengkapi dan menyempurnakan. Tidak dengan mengumbar aib mereka yang dapat
menimbulkan ketersinggungan hingga berujung pada permusuhan.
Rasulullah bersabda,
مَنْ رد عن عرض أخيه كان له حجابا من النار
“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya (sesama
Muslim), maka hal itu menjadi penghalang untuknya dari api neraka.” (HR
Tirmidzi). Sabda Nabi berikutnya:
“Adalah kejahatan bagi seorang Muslim mempermalukan saudara Muslim lainnya.” (HR
Muslim).
Kedua, memaafkan saudara seiman. Langkah
kedua ini diperlukan dalam hubungan kita sebagai makhluk sosial. Di sela
interaksi sosial yang kita lakukan mungkin ada friksi dan hal-hal lain yang
mengakibatkan kesalah-pahaman.
Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang lepas
dari kesalahan. Karena pada dasarnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Namun, sebaik-baik manusia yang berbuat salah adalah yang segera menyadari,
meminta maaf, menerima maaf, dan bertaubat.
Rasulullah bersabda,
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis.
Ampunan Ilahi dilimpahkan kepada setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatu, kecuali yang menyimpan dendam kepada saudaranya. Tentang mereka
dikatakan: Tunggu, tunggu, tunggu, sampai mereka berbaikan.” (HR
Muslim)
Ketiga, melepaskan kesulitan sesama
Muslim. Jika kita diminta untuk memilih antara kemudahan dan kesulitan, nyaris
setiap kita lebih suka kemudahan dan tidak menginginkan kesulita. Namun, hidup
tidak selalu berjalan mulus. Ada rintangan dan hambatan yang membuat perjalanan
hidup tidak seperti yang diharapkan.
Kesulitan yang timbul terkadang membuat sebagian orang
kehilangan orang-orang yang disayangi. Musibah gempa bumi dan tsunami di Palu
serta Donggala adalah potret buram tentang betapa kesulitan itu dalam sekejap
menghilangkan apa yang dimiliki. Rumah, kendaraan, keluarga, bisa lenyap dalam
hitungan detik. Hanya dalam sekejap semua luluh lantak. Semuanya lenyap
digoncang gempa bumi, lenyap oleh hantaman tsunami. Innaa lillaah wa innaa
ilaihi rooji’uun ..
Kewajiban kita sebagai sesama muslim yang saling
bersaudara, adalah membantu mereka. Kita sisingkan lengan. Kita kenyangkan
perut mereka yang lapar. Kita obati yang sakit. Kita kasihi mereka yang
berduka. Kita hapus air mata kesedihan mereka. Kita bahagiakan dengan apa yang
mampu kita berikan.
Duka mereka adalah duka kita. Kebahagiaan mereka juga
kebahagiaan kita. Rasa sakit yang tengah mereka rasakan juga rasa sakit bagi
kita. Kita seharusnya tidak merasa nyaman dengan apa yang menimpa dan menindih
mereka. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ فَرَّجَ عَنْ أَخِيهِ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيه، وَمَنْ سَتَرَ عَلَى أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة
“Siapa yang melapangkan kesulitan saudaranya dari
kesulitan hidup di dunia ini, Allah akan melapangkan pula orang itu dari
malapetaka hari kiamat. Allah tetap akan menolong seorang hamba, selama hamba
itu sudi menolong saudaranya. Siapa yang menutup aib (malu) orang Islam, Allah
akan menutupi aib orang itu di dunia dan akhirat.” (HR Muslim,
Abu Daud, Turmidzi).
Keempat, berbaik sangka kepada sesama
Muslim. Sikap baik sangka tidak berarti kita kehilangan kewaspadaan terhadap
potensi kejahatan seseorang. Baik sangka adalah akhlak yang diajarkan oleh
Allah Subhanahu Wata’ala kepada para hamba-Nya. Kita dianjurkan untuk berbaik
sangka kepada saudara kita. Tidak mudah terjebak dalam buruk sangka yang bisa
mengakibatkan gangguan dalam hubungan antara sesama kita.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah
kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing
sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12).
Kelima, berdoa untuk sesama Muslim, baik
semasa hidupnya maupun setelah wafat. Doa yang baik akan kembali kepada kita
yang mendoakannya. Demikian pula sebaliknya. Kita doakan saudara-saudara kita
yang dekat atau jauh. Kita kirimkan doa terbaik kita untuk seluruh umat Islam
khususnya mereka yang sakit, terkena musibah, tertimpa kesulitan, maka kita pun
akan mendapatkan kebaikan dan pahala dari doa kita sendiri.
Salah satu contoh doa yang diabadikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala adalah:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيم
“Tuhan! Beri ampun kepada kami dan saudara-saudara kami
yang telah beriman lebih dulu dari kami; janganlah Engkau membiarkan kedengkian
dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Tuhan! Engkau Maha Penyantun
lagi Maha Pengasih.” (Al-Hasyr: 10).
Inilah lima langkah untuk membentengi dan memperkuat tali
persaudaraan sesama pemeluk Islam. Persatuan tidak sebatas teori di atas kertas
yang disampaikan dalam bentuk ceramah dan tulisan. Persatuan itu harus kita
hadirkan dan kita wujudkan dalam bentuk membela serta kehormatan
saudara-saudara kita. Kita realisasikan dengan saling memaafkan, saling tolong
menolong, berbaik sangka, dan saling mendoakan. Wallaahu a’lam bis shawaab.*/Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
posted by @Adimin
Label:
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 07, 2018
posted by @Adimin
Izzah Islam : Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan
Written By neobattosai on 07 September, 2018 | September 07, 2018
Kami
adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan
Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita
hina
ISLAM sebagai agama penutup yang sempurna
dan paripurna, mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki karakter “Izzah”. Dalam al-Qur`an
misalnya –Surah Al-Munafiqun [63]: 8- termaktub bahwa Izzah itu milik Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka sudah seharusnya, setiap mukmin
menjadikan Izzah
sebagai karakter pribadinya. Bahkan, dalam Surah Al-Ma’idah [5] ayat 54,
disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah bersikap Izzah (tegas) kepada orang-orang kafir dan
bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada sesamanya.
Dalam
bahasa Arab, kata “Izzah”
mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan
unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219) Di dalam bahasa Indonesia
pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom kamus bahasa Indonesia. Dalam kamus
tersebut, ‘Izzah’
ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini
tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.
Salah
satu sosok legendaris yang patut diteladani dalam masalah Izzah adalah Umar bin
Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab
“al-Bidâyah wa al-Nihâyah” (1998: VII/70) mencatat dengan baik kata-kata
bersejarah khalifah kedua ini yang menggambarkan kapasitas Izzahnya yang diilhami
oleh Islam, “Kami adalah kaum yang dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan
Islam. Maka, kami tidak akan mencari alternatif (Izzah) selain (yang dianugerahkan) Allah.”
Semua
orang mengenal ‘Umar bin Khattab, salah satu Khulafa’
ar-Rasyidin. Keadilan dan ketegasannya dalam menjalankan
pemerintahan sangat masyhur.
Umar
bin Khattab terkenal dengan keadilannya ketika menjabat Khalifah ar-Rasyidin kedua.
Semasa kekuasaanya wilayah Islam sudah meliputi seluruh wilalah Jazirah
Arabiyah, sebagian Asia kecil, Afrika Utara, bahkan sampai ke Eropa.
Namun
siapa sangka, bahwa suatu kali Umar pernah tertipu saat berbicara dengan Raja
Persia yang bernama Hurmuzan.
Tiga
orang kepercayaan Khalifah Umar –Anas Bin Malik, Mughirah bin Syu’bah dan Ahnaf
bin Qais– mendatangi negeri Hurmuzan dan berhasil menangka pnya atas permintaan
Khalifah Umar.
Dikisahkan
bahwa dalam salah peperangan pasukan Islam berhasil menaklukkan Persia dan
menangkap Hurmuzan. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah untuk dihadapkan kepada
Umar bin Khattab.
Menjelang
tiba di Kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat
dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara.
Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan
pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin.
Sepanjang
perjalanan, sang tawanan membayangkan alangkah megah dan hebatnya istana Umar
mengingat daerah kekuasaannya yang begitu luas meliputi dua pertiga dunia.
Fikirannya sang Kisra merasa rendah diri (inferor) ketika hendak menemui
sang Khalifah.
Kisah
pertemuan antara Hurmuzan dan Umar bin Khattab berikut adalah di antara contoh
nyata bagaimana karakter Izzah
ini benar-benar tercermin dalam diri sahabat yang oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam dijuluki Al-Faruq ini.
Dalam
buku “Nizhâm al-Hukûmiyah
al-Nabawiyyah” (II/250) Muhammad Abdul Hayyi Al-Kattani menulis
sepenggal kisah antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan. Kisah ini ditulis dalam
bab “Fîman Kâna Yudhrabu
bihi al-Matsal fi al-Haibah min al-Shahâbah” (Bab tentang orang
yang dijadikan percontohan dari kalangan sahabat terkait masalah kemuliaan).
Menukil
cerita Sya’bi, dikisahkan bahwa tongkat kecil Umar bin Khattab –karena begitu
hebat Izzah
beliau- lebih ditakuti daripada pedang Hajjaj. Suatu hari saat Hurmuzan (Raja
Khurasan) menjadi tawanan yang dibawa beberapa sahabat –di antaranya Anas-
untuk menemui langsung orang nomer satu umat Islam kala itu (‘Umar).
Kebetulan,
saat sampai di Madinah, Umar tidak ada di rumah. Kemudian beliau dicari hingga
ditemukan di salah satu masjid Madinah. Saat itu posisinya sedang tidur
bersandar tongkatnya. Melihat fenomena demikian, Hurmuzan berseloroh, “Ini
-demi Allah- adalah raja yang baik. Anda telah berbuat adil, sehingga bisa
tidur (dengan nyenyak). Demi Allah, sesungguhnya aku telah melayani empat Raja
Kisra (Persia) yang memiliki mahkotah, tidak ada satu pun di antara mereka yang
aku rasakan kehebatan –Izzah
nya- melebihi orang yang sedang tidur beralas tongkat ini.”
Izzah yang dimiliki Umar benar-benar
membuat Hurmuzan terkagum-kagum. Sosok nomer satu yang memimpin pasukan hebat
yang bisa mengalahkan Imperium Persia ini ternyata jauh dari yang dibayangkannya.
Dalam benaknya, ‘Umar ini pasti raja hebat yang memiliki istana mega, harta
melimpah, penjagaan yang super ketat dan lain sebagainya.
Hurmuzan
tidak yakin berhadapan dengan seorang pria sederhana, khalifah besar, pemimpin
pasukan Islam yang menguasai Timur dan Barat, yang mampu menjatuhkan dua
raksasa super power
dunia kala itu, kekuasaan Persia dan Byzantium (Rum/Romawi Timur).
Terkejutnya
Hurmuzan, pemimpin besar umat Islam ini gaya hidupnya begitu bersahaja
dan tanpa penjagaan. Sebuah fenomena aneh yang belum pernah Hurmuzan dapati
sebelumnya. Namun, Hurmuzan menyadari bahwa salah satu kunci yang bisa membuka
rasa penasaran terkait kehebatan dan izzah
Umar adalah keadilan yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab.
‘Umar
baru bisa tidur nyenyak ketika keadilan ditegakkan dan didistribusikan secara
merata kepada rakyatnya. Sebuah tipikal pemimpin yang lebih mementingkan
kehidupan rakyat daripada diri dan kerabat; lebih memilih hidup melarat demi
terciptanya keadilan untuk rakyat.
Senada
dengan kisah Hurmuzan, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam buku “Minhâj al-Muslim” (1964:
126) menceritakan bagaimana utusan Kaisar Romawi yang kagum kepada Umar bin
Khattab. Saat sampai Madinah, dia bertanya kepada para penduduk, “Dimana raja
kalian?” Oleh penduduk dijawab, “Kami tidak memiliki raja, tapi Amir
(Pemimpin). Ternyata setelah dicari-cari, Umar ditemukan sedang tidur di atas
pasir berbantalkan tongkat kecilnya.
“Orang
yang seluruh raja goncang kerajaannya karena kehebatannya ternyata keadaannya
seperti ini. Tapi, wahai Umar engkau telah berbuat adil, sehingga bisa tidur
(nyenyak). Sedangkan raja kami berbuat zalim. Tidak mengherankan jika (raja
kami) selalu merasa takut dan tidak bisa tidur malam.” Demikianlah contoh dari izzah Umar bin Khattab.
Bagi para pemimpin yang ingin memiliki izzah
seperti Umar, maka jadikanlah keadilan sebagai pusat perhatian.
bersambung . . . . . . . .
posted by @Adimin
Label:
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
January 01, 2018
hidayatullah.com
posted by @Adimin
Kewajiban Ulama Menjelaskan Ilmu, Haram Menyembunyikannya
Written By NeO on 01 January, 2018 | January 01, 2018
SEBAGAIMANA diharamkan bagi seorang berbicara dalam
perkara agama yang ia tidak ketahui, maka seseorang juga diharamkan
untuk menyembunyikan perkara agama yang ia ketahui, seperti keterangan
dan petunjuk yang telah Allah jadikan bermanfaat bagi manusia.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah
Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk,
setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu
dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat
melaknati, kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan
penerangan (kebenaran). Maka, terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya
dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 159-160)
Kedua ayat di atas diturunkan berkenaan dengan Ahli Kitab dari para
pendeta Yahudi dan rahib Nasrani, yang menyembunyikan ciri-ciri Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam
dalam kitab-kitab suci mereka, melalui penghapusan, penyembunyian,
ataupun melalui penyelewengan mereka. Namun, lafal ini berarti umum, dan
mencakup setiap orang yang melakukan penyembunyian informasi agama
Allah yang harus disebarluaskan.
Seorang alim ulama tidak diperbolehkan dalam hal apa pun
menyembunyikan ilmu yang bermanfaat. Barangsiapa bertujuan seperti itu,
maka ia telah berbuat maksiat dan berdosa.
Jika ia tidak bertujuan untuk menyembunyikan ilmu, dan ketika itu
terdapat orang yang bertugas menyampaikan penerangan, penyampaian dan
dakwah, maka ia akan dimaafkan dosanya. Karena sesungguhnya penerangan
merupakan kewajiban fardhu kifayah. Jika kewajiban ini telah
dilaksanakan oleh sebagian orang, maka sebagian yang lainnya akan gugur
kewajiban. Kondisi ini ketika jumlah para mubaligh dan dai-dai
berkecukupan, dan mereka orang-orang yang beruntung, sebagaimana telah
Allah jelaskan dengan firman-Nya,
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyuruh
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang
munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran: 104).
Hukum memberikan penerangan menjadi wajib atas seorang alim ulama
jika ia ditanya oleh seorang penanya yang meminta petunjuk dalam satu
perkara dari berbagai perkara agama yang mendesak, yaitu perkara yang
tidak dapat diundur-undur lagi. Dalam kondisi ini, seorang alim ulama
tidak diperbolehkan menyembunyikan ilmunya, dengan mengandalkan kepada
ulama yang lainnya. Hal itu supaya si penanya tidak bimbang antara
memilih yang ini atau yang itu, selama hal ini tidak di luar batas
kemampuannya.
Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda,
“Barangsiapa yang ditanya tentang ilmunya, lalu ia menyembunyikannya,
maka pada hari kiamat ia akan dikekang dengan kekangan api neraka.”
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Hal itu karena yang menjadi hak bagi seorang penanya atas seorang
alim adalah agar si alim ulama menjawab pertanyaan dan mengajarinya,
selama si penanya tidak mencari-cari kesalahan dan memfasih-fasihkan
suaranya, yaitu mencari-cari hal-hal yang aneh dan
permasalahan-permasalahan yang diputarbalikkan. Umar r.a. pernah
menghukum seorang penanya yang melakukan hal seperti itu.
Seorang alim ulama diharamkan tutup mulut dari memberikan keterangan
ilmiah melalui lisan ataupun tulisan. Jika tutup mulutnya itu
berkonsekuensi pada kesamaran antara yang benar dan yang batil,
bercampur-aduknya yang halal dengan yang haram, dan bercampurnanya yang
makruf dengan yang munkar, maka ia harus memberikan keterangan untuk
menghilangkan kekeliruan dan memperjelas yang benar. Karena posisi
keterangan di sini, termasuk dalam persaksian (syahadah) yang haram
untuk disembunyikan.
Allah berfirman,
“Janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.
Barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang
yang berdosa hatinya.” (QS. al-Baqarah: 283)
Al-Qur’an telah memberikan kepada kita contoh tentang ulama buruk
dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang berani menyembunyikan apa yang
telah diwahyukan Allah, dengan tujuan untuk mencari kemuliaan dunia.
Lalu Allah melaknat mereka supaya menjadi pelajaran bagi kita.
Allah berfirman,
“Sesungguhnya, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah
diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang
sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke
dalam perutnya melainkan api. Allah tidak akan berbicara kepada mereka
pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa
yang amat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan
petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka, alangkah beraninya mereka
menentang api neraka.” (QS. Ali-Imran: 174-175).
Sesungguhnya, dalam ancaman yang keras ini terselip pesan bagi
orang-orang yang mengenakan jubah ulama yang senang berdekatan dengan
raja-raja yang fasik dan pemimpin-pemimpin yang zalim, dan mereka yang
menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya. Mereka adalah
ulama yang menghalalkan bagi mereka (para raja dan pemimpin yang fasik)
sesuatu yang telah haram, menjauhkan dari tanggung jawab mereka dari
tuntutan kewajiban, dan mensuplai mereka dengan fatwa-fatwa yang telah
dipersiapkan bagi setiap bid’ah yang mereka ciptakan dan bagi setiap
kemungkaran yang mereka kerjakan
hidayatullah.com
posted by @Adimin
Label:
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
November 18, 2017
posted by @Adimin
Shalatlah Untuk Mengingat ALLAH
Written By NeoBee on 18 November, 2017 | November 18, 2017
Orang beriman merasakan nikmatnya shalat dan merasakan betapa nikmatnya berdekatan dengan Allah dalam shalat.
FIRMAN Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.” (QS. Toha: 14)
Shalat merupakan jembatan dan untuk mengingat Allah dengan senantiasa
menyebut asma-Nya dalam shalat. Aktivitas zikir merupakan manifestasi
dari kecintaan seorang hamba kepada Allah. Karena barang siapa yang
mencintai kekasihnya, maka otomatis dia akan banyak menyebut nama
kekasihnya tersebut. Begitu pula orang-orang beriman yang sangat cinta
kepada Allah, karena dia tahu hanya Allah-lah dzat yang pantas dicintai.
Dengan mendalami ilmu-Nya, maka semakin dalam keimanannya dan semakin
besar pula rasa cintanya kepada Allah. Seiring dengan itu, semakin
banyak pula dia berzikir menyebut asma Sang Kekasih sejati.
Allah memfasilitasi proses itu dengan suatu kegiatan ritualitas yang
begitu tinggi bernama shalat. Maka orang beriman akan merasakan
nikmatnya shalat dan merasakan betapa nikmatnya berdekatan dengan Allah
dalam shalat.
Inilah yang terjadi pada para sahabat, tabi’in serta para ulama
salafusshalihin. Tanpa sadar mereka menghabiskan waktu untuk
melaksanakan shalat karena merasakan keasyikan dalam shalatnya. Inilah
yang disabdakan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam: “Dan
dijadikan bagiku hiasan mata dalam shalat.”
Ini menjadi bukti bahwa
shalat sangat erat kaitannya dengan keimanan dan kecintaan kepada Allah,
dua amal yang paling utama. Dampaknya sangat jelas bahwa orang yang
banyak mengingat Allah dia akan banyak diingat oleh Allah. Dia memang
tidak akan menyia-nyiakan amalan hambanya.
*/Sudirman STAIL (sumber buku: Top Ten Amalan, penulis: Anwar Anshary
posted by @Adimin
Label:
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN



