Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
March 02, 2017
1. Fikrah yang jelas
Pemikiran Islami tentang tujuan-tujuan dakwah dan kehidupan keluarga merupakan unsur pentng dalam perkawinan. Ini adalah syarat utama.Keluarga islami bukanlah keluarga yang tenang tanpa gejolak. Bukan pula keluarga yang berjalan di atas ketidakjelasan tujuan sehingga melahirkan kebahagiaan semu. Kalaulah Umar bin Khattab menggebah para pedagang di pasar yang tidak memahami fiqih (perdagangan), maka layak dipandang sebagai sebuah kekeliruan besar seseorang yang menikah namun tak memahami dengan jelas apa hakekat pernikahan dalam Islam dan bagaimana kaitannya dengan kemajuan dakwah.
Kiat-kiat Membangun Keluarga Islami
Written By NeoBee on 02 March, 2017 | March 02, 2017
Bagaimanakah wujud keluarga Islami itu?
Bayangan anda tentang suami isteri yang bertingkah laku bagai malaikat
serta rahmat Allah yang senantiasa melimpahi kebutuhan hidup mereka
tentu bukanlah gambaran yang benar. Ajaran Islam sendiri merupakan
ajaran yang dirancang bagi manusia yang memiliki berbagai kelemahan dan
kekurangan dan siap diterapkan dalam berbagai keadaan yang menyertai
hidup manusia.
Jadi,
jika anda menemui goncangan-goncangan yang menyangkut diri anda dalam
masalah pribadi, hubungan dengan suami atau isteri dan anak-anak, atau
dalam berbagai kondisi yang menyertai keluarga, janganlah anda panik
dulu atau merasa dunia hampir kiamat. Sebab, justru dalam momen seperti
itulah anda dapat memperlihatkan komitmen sebagai seseorang sebelum
dibuktikannya melalui amal kehidupan.
Ada beberapa hal yang patut anda perhatikan dalam upaya menumbuhkan keluarga bahagia menurut ajaran Islam atau dalam menghadapi berbagai persoalan, diantaranya;
1. Fikrah yang jelas
Pemikiran Islami tentang tujuan-tujuan dakwah dan kehidupan keluarga merupakan unsur pentng dalam perkawinan. Ini adalah syarat utama.Keluarga islami bukanlah keluarga yang tenang tanpa gejolak. Bukan pula keluarga yang berjalan di atas ketidakjelasan tujuan sehingga melahirkan kebahagiaan semu. Kalaulah Umar bin Khattab menggebah para pedagang di pasar yang tidak memahami fiqih (perdagangan), maka layak dipandang sebagai sebuah kekeliruan besar seseorang yang menikah namun tak memahami dengan jelas apa hakekat pernikahan dalam Islam dan bagaimana kaitannya dengan kemajuan dakwah.
2. Penyatuan idealisme
Ketika ijab qobul dikumandangkan di depan wali, sebenarnya yang bersatu bukanlah sekedar jasad dua makhluk yang berlainan jenis. Pada detik itu sesungguhnya tengah terjadi pertemuan dua pemikiran, perjumpaan dua tujuan hidup dan perkawinan dua pribadi dengan tingkat keimanan masing-masing. Karena itu, penyatuan pemikiran dan idealisme akan menyempurnakan pertemuan fisik kedua insan.
Ketika ijab qobul dikumandangkan di depan wali, sebenarnya yang bersatu bukanlah sekedar jasad dua makhluk yang berlainan jenis. Pada detik itu sesungguhnya tengah terjadi pertemuan dua pemikiran, perjumpaan dua tujuan hidup dan perkawinan dua pribadi dengan tingkat keimanan masing-masing. Karena itu, penyatuan pemikiran dan idealisme akan menyempurnakan pertemuan fisik kedua insan.
3. Mengenal karakter pribadi
Kepribadian manusia ditentukan oleh berbagai unsur lingkungan: nilai yang diyakini dan pengaruh sosialisasi perilaku lingkungan terdekat serta lingkungan internal (sifat bawaan) itu sendiri. Mengenal secara jelas karakter pasangan hidup adalah bekal utama dalam upaya penyesuaian, penyeimbangan dan bahkan perbaikan. Satu catatan penting mengenai hal ini ialah anda harus menyediakan kesabaran selama proses pengenalan itu berlangsung, sebab hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Kepribadian manusia ditentukan oleh berbagai unsur lingkungan: nilai yang diyakini dan pengaruh sosialisasi perilaku lingkungan terdekat serta lingkungan internal (sifat bawaan) itu sendiri. Mengenal secara jelas karakter pasangan hidup adalah bekal utama dalam upaya penyesuaian, penyeimbangan dan bahkan perbaikan. Satu catatan penting mengenai hal ini ialah anda harus menyediakan kesabaran selama proses pengenalan itu berlangsung, sebab hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
4. Pemeliharaan kasih sayang
Sikap rahmah (kasih sayang) kepada pasangan hidup dan anak-anak merupakan tulang punggung kelangsungan keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan hati. Bahkan beliau membolehkan seseorang berdiplomasi kepada pasangan hidupnya dalam rangka membangun kasih sayang. Suami atau isteri harus mampu menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang kerinduan. Ingat, di atas rasa kasih sayanglah pasangan hidup dapat membagi beban, meredam kemelut dan mengurangi rasa lapar.
Sikap rahmah (kasih sayang) kepada pasangan hidup dan anak-anak merupakan tulang punggung kelangsungan keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan hati. Bahkan beliau membolehkan seseorang berdiplomasi kepada pasangan hidupnya dalam rangka membangun kasih sayang. Suami atau isteri harus mampu menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang kerinduan. Ingat, di atas rasa kasih sayanglah pasangan hidup dapat membagi beban, meredam kemelut dan mengurangi rasa lapar.
5. Kontinuitas tarbiyah
Tarbiyah (pendidikan) merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Para suami yang telah aktif dalam medan dakwah biasanya akan mudah mendapatkan hal ini. Namun, isteri juga memiliki hak yang sama. Penyelenggaraannya merupakan tanggung jawab suami khususnya, kaum lelaki muslim umumnya. Itulah sebabnya Rasulullah SAW meluluskan permintaan ta’lim (pengajaran) para wanita muslimah yang datang kepada beliau. Beliau memberikan kesempatan khusus bagi pembinaan wanita dan kaum ibu (ummahaat). Perbedaan perlakuan tarbiyah antara suami dan isteri akan membuat timpang pasangan itu dan akibatnya tentu kegoncangan rumah tangga.
Tarbiyah (pendidikan) merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Para suami yang telah aktif dalam medan dakwah biasanya akan mudah mendapatkan hal ini. Namun, isteri juga memiliki hak yang sama. Penyelenggaraannya merupakan tanggung jawab suami khususnya, kaum lelaki muslim umumnya. Itulah sebabnya Rasulullah SAW meluluskan permintaan ta’lim (pengajaran) para wanita muslimah yang datang kepada beliau. Beliau memberikan kesempatan khusus bagi pembinaan wanita dan kaum ibu (ummahaat). Perbedaan perlakuan tarbiyah antara suami dan isteri akan membuat timpang pasangan itu dan akibatnya tentu kegoncangan rumah tangga.
6 Penataan ekonomi
Turunnya Surat al Ahzab yang berkaitan dengan ultimatum Allah SWT kepada para isteri Nabi SAW, erat kaitannya dengan persoalan ekonomi. Islam dengan tegas telah melimpahkan tanggung jawab nafkah kepada suami, tanpa melarang isteri membantu beban ekonomi suami jika kesempatan dan peluang memang ada, dan tentu selama masih berada dalam batas-batas syari’ah. Ditengah-tengah tanggung jawab dakwahnya, suami harus bekerja keras agar dapat memberikan pelayanan fisik kepada keluarga. Sedangkan qanaah (bersyukur atas seberapa pun hasil yang diperoleh) adalah sikap yang patut ditampilkan isteri. Persoalan-persoalan teknis yang menyangkut pengelolaan ekonomi keluarga dapat dimusyawarahkan dan dibuat kesepakatan antara suami dan isteri. Kebahagiaan dan ketenangan akan lahir jika di atas kesepakatan tersebut dibangun sikap amanah (benar dan jujur).
Turunnya Surat al Ahzab yang berkaitan dengan ultimatum Allah SWT kepada para isteri Nabi SAW, erat kaitannya dengan persoalan ekonomi. Islam dengan tegas telah melimpahkan tanggung jawab nafkah kepada suami, tanpa melarang isteri membantu beban ekonomi suami jika kesempatan dan peluang memang ada, dan tentu selama masih berada dalam batas-batas syari’ah. Ditengah-tengah tanggung jawab dakwahnya, suami harus bekerja keras agar dapat memberikan pelayanan fisik kepada keluarga. Sedangkan qanaah (bersyukur atas seberapa pun hasil yang diperoleh) adalah sikap yang patut ditampilkan isteri. Persoalan-persoalan teknis yang menyangkut pengelolaan ekonomi keluarga dapat dimusyawarahkan dan dibuat kesepakatan antara suami dan isteri. Kebahagiaan dan ketenangan akan lahir jika di atas kesepakatan tersebut dibangun sikap amanah (benar dan jujur).
7. Sikap kekeluargaan
Pernikahan antara dua anak manusia sebenarnya diiringi dengan pernikahan ”antara dua keluarga besar”, dari pihak isteri dan juga suami. Selayaknyalah, dalam batas-batas yang diizinkan syari’at, sebuah pernikahan tidak menghancurkan struktur serta suasana keluarga. Pernikahan janganlah membuat suami atau isteri kehilangan perhatian pada keluarganya (ayah, ibu, adik, kakak dan seterusnya). Menurunnya frekuensi interaksi fisik (dan ini wajar) tidak boleh berarti menurun pula perhatian dan kasih sayang. Sebaliknya, perlu ditegaskan juga bahwa pernikahan adalah sebuah lembaga legal (syar’i) yang harus dihormat keberadaannya. Sebuah kesalahan serius terjadi tatkala seorang isteri atau suami menghabiskan perhatiannya hanya untuk keluarganya msing-masing sehingga tanggung jawabnya sebagai pasangan keluarga di rumahnya sendiri terbengkalai.
Pernikahan antara dua anak manusia sebenarnya diiringi dengan pernikahan ”antara dua keluarga besar”, dari pihak isteri dan juga suami. Selayaknyalah, dalam batas-batas yang diizinkan syari’at, sebuah pernikahan tidak menghancurkan struktur serta suasana keluarga. Pernikahan janganlah membuat suami atau isteri kehilangan perhatian pada keluarganya (ayah, ibu, adik, kakak dan seterusnya). Menurunnya frekuensi interaksi fisik (dan ini wajar) tidak boleh berarti menurun pula perhatian dan kasih sayang. Sebaliknya, perlu ditegaskan juga bahwa pernikahan adalah sebuah lembaga legal (syar’i) yang harus dihormat keberadaannya. Sebuah kesalahan serius terjadi tatkala seorang isteri atau suami menghabiskan perhatiannya hanya untuk keluarganya msing-masing sehingga tanggung jawabnya sebagai pasangan keluarga di rumahnya sendiri terbengkalai.
8. Pembagian beban
Meski ajaran Islam membeberkan dengan jelas fungsi dan tugas elemen keluarga (suami, isteri, anak, pembantu) namun dalam pelaksanaannya tidaklah kaku. Jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah dan anak-anak, bukan berarti seorang suami tidak perlu terlibat dalam pengurusan rumah dan anak-anak. Ajaran Islam tentang keluarga adalah sebuah pedoman umum baku yang merupakan titik pangkal segala pemikiran tentang keluarga. Dalam tindakan sehari-hari, nilai-nilai lain, misalnya tentang itsar (memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain), ta’awun (tolong menolong), rahim (kasih sayang) dan lainnya juga harus berperan. Itu dapat dijumpai dalam riwayat yang sahih betapa Nabi SAW bercengkrama dengan anak dan cucu, menyapu rumah, menjahit baju yang koyak dan lain-lain.
Meski ajaran Islam membeberkan dengan jelas fungsi dan tugas elemen keluarga (suami, isteri, anak, pembantu) namun dalam pelaksanaannya tidaklah kaku. Jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah dan anak-anak, bukan berarti seorang suami tidak perlu terlibat dalam pengurusan rumah dan anak-anak. Ajaran Islam tentang keluarga adalah sebuah pedoman umum baku yang merupakan titik pangkal segala pemikiran tentang keluarga. Dalam tindakan sehari-hari, nilai-nilai lain, misalnya tentang itsar (memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain), ta’awun (tolong menolong), rahim (kasih sayang) dan lainnya juga harus berperan. Itu dapat dijumpai dalam riwayat yang sahih betapa Nabi SAW bercengkrama dengan anak dan cucu, menyapu rumah, menjahit baju yang koyak dan lain-lain.
9. Penyegaran
Manusia bukanlah robot-robot logam yang mati. Manusia mempunyai hati dan otak yang dapat mengalami kelelahan dan kejenuhan. Nabi SAW mengeritik seseorang yang menamatkan Al Quran kurang dari tiga hari, yang menghabiskan waktu malamnya hanya dengan shalat, dan yang berpuasa setiap hari. Dalam ta’lim beliau SAW juga memberikan selang waktu (dalam beberapa riwayat per pekan), tidak setiap saat atau setiap hari. Variasi aktivitas dibutuhkan manusia agar jiwanya tetap segar. Dengan demikian, keluarga yang bahagia tdak akan tumbuh dari kemonotonan aktivitas keluarga. Di samping tarbiyah, keluarga membutuhkan rekreasi (perjalanan, diskusi-diskusi ringan, kemah, dll).
Manusia bukanlah robot-robot logam yang mati. Manusia mempunyai hati dan otak yang dapat mengalami kelelahan dan kejenuhan. Nabi SAW mengeritik seseorang yang menamatkan Al Quran kurang dari tiga hari, yang menghabiskan waktu malamnya hanya dengan shalat, dan yang berpuasa setiap hari. Dalam ta’lim beliau SAW juga memberikan selang waktu (dalam beberapa riwayat per pekan), tidak setiap saat atau setiap hari. Variasi aktivitas dibutuhkan manusia agar jiwanya tetap segar. Dengan demikian, keluarga yang bahagia tdak akan tumbuh dari kemonotonan aktivitas keluarga. Di samping tarbiyah, keluarga membutuhkan rekreasi (perjalanan, diskusi-diskusi ringan, kemah, dll).
10. Menata diri
Allah SWT mengisyaratkan hubungan yang erat antara ketaqwaan dan yusran (kemudahan), makhrojan (jalan keluar). Faktor kefasikan atau rendahnya iman identik dengan kesukaran, kemelut dan jalan buntu. Patutlah pasangan muslim senantiasa menata dirinya masing-masing agar jalan panjang kehidupan rumah tangganya dapat diarungi tanpa hambatan dan rintangan yang menghancurkan.
Allah SWT mengisyaratkan hubungan yang erat antara ketaqwaan dan yusran (kemudahan), makhrojan (jalan keluar). Faktor kefasikan atau rendahnya iman identik dengan kesukaran, kemelut dan jalan buntu. Patutlah pasangan muslim senantiasa menata dirinya masing-masing agar jalan panjang kehidupan rumah tangganya dapat diarungi tanpa hambatan dan rintangan yang menghancurkan.
11. Mengharapkan rahmat Allah
Ketenangan dan kasih sayang dalam keluarga merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang Salih. Rintangan-rintangan menuju keadaan itu datang tidak saja dari faktor internal manusia, namun juga dapat muncul dari faktor eksternal termasuk gangguan syaitan dan jin. Karena itu, hubungan vertikal dengan al Khaliq harus dijaga sebaik mungkin melalui ibadah dan doa. Nabi SAW banyak mengajarkan doa-doa yang berkaitan dengan masalah keluarga.
Ketenangan dan kasih sayang dalam keluarga merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang Salih. Rintangan-rintangan menuju keadaan itu datang tidak saja dari faktor internal manusia, namun juga dapat muncul dari faktor eksternal termasuk gangguan syaitan dan jin. Karena itu, hubungan vertikal dengan al Khaliq harus dijaga sebaik mungkin melalui ibadah dan doa. Nabi SAW banyak mengajarkan doa-doa yang berkaitan dengan masalah keluarga.
mudah-mudahan dengan menerapkan kiat-kiat di atas kita bisa membangun keluarga islami yang akan melahirkan juga generasi-generasi yang mempunyai komitmen kuat dalam memperjuangkan agama Islam.
Wallahu a’lamu.
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 07, 2015
Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [2]
Written By dBisnis on 07 May, 2015 | May 07, 2015
Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami
ALANGKAH indahnya, jika
kita pun bersikap layaknya Rasulullah Saw dan Khadijah ra. Bukankah
rentang waktu pernikahan mereka hingga kerasulan telah menjejak waktu 15
tahun? Namun, jika melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam saat mengadu pada istrinya dan apa yang istrinya
lakukan, maka kita bisa mengetahui indahnya komunikasi mereka selama 15
tahun.
Indahnya Bicara
Kitapun juga pasti ingin mendapatkan
pasangan yang bersedia menjadi teman “curhat” yang mau menyediakan
perhatian dan hatinya. Mengapa pasangan yang mau diajak bicara ini
penting? Karena, yang tahu persis problem-problem yang terjadi dalam
rumah tangga adalah pasangan itu sendiri. Sehingga yang paling tepat
untuk melakukan evaluasi plus menyepakati solusi tentu adalah pasangan
sendiri. Bukan orang lain yang tidak mengetahui secara pasti masalah
yang sesungguhnya dan pastinya bilapun menjadi bagian dari solusi, maka
pelaku utama tetap kita sendiri.
Pasangan yang saling terbuka membicarakan
keinginan dan kekhawatiran mereka, biasanya akan tumbuh menjadi pasangan
yang saling mendukung. Sehingga mereka dapat tumbuh bersama termasuk
melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka berdua dan mengantisipasi
hal buruk yang mungkin terjadi.
Mulailah Bicara
Namun demikian, untu jadi pasangan yang
tumbuh bersama, semuanya justru diawali oleh perbedaan. Dari mulai beda
fisik, beda kebiasaan, bahkan bisa jadi beda pemahaman keislaman. Inilah
yang luar biasa bila memperhatikan firman Alah Subhanahu Wata’ala dalam
surat Ar-Ruum [30]: 21, “…supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang.”
Bagaimana mungkin jadi tumbuh rasa kasih
sayang kalau begitu berbeda? Karena berbeda itulah, semestinya berupaya
untuk saling memahami.
Memahami perbedaan inilah yang akan
membuat kita memahami bahwa waktu bicara dengan suami atau waktu bicara
dengan istri sangat berbeda. Bicara dengan suami butuh pengertian bahwa
mereka butuh waktu untuk dirinya lebih dahulu dan butuh verbalisasi yang
jelas. Sehingga istri memang tidak dianjurkan merajuk atau
bertele-tele. Sedangkan bicara dengan istri pasti butuh kesabaran untuk
membujuk dan mendengarkannya bicara.
Rasa dan upaya untuk bisa mencapai paham
inilah yang akan membuahkan kasih sayang. Bila langsung paham tanpa
belajar dan mengelola perasaan maka tentu tidak akan ada
pengalaman-pengalaman indah yang dapat dikenang. Tidak ada canda atau
tangis yang menguatkan perasaan memiliki. Juga tidak ada hikmah yang
dapat diambil bersama dan tidak ada saat-saat manis setelah berselisih
paham dan akhirnya berbaikan.
Akhirnya, dengan berbekal iman dan kasih
sayang, semoga kita termasuk orang yang diridhai Allah dan Rasul-Nya
karena berjuang mengikuti sunnah. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan
berita gembira untuk Khadijah ra, “Aku diperintahkan menyampaikan berita
gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara) yang
didalamnya tidak ada teriakan keras dan kelelahan
Kartika Ummu Arina
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
May 04, 2015
Kartika Ummu Arina
bersambung insyaALLAH . . . . .
posted by @Adimin
Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [1]
Written By dBisnis on 04 May, 2015 | May 04, 2015
Mendapatkan pasangan empatik adalah dambaan. Pasangan tak hanya
bersedia memberikan “telinganya” untuk mendengarkan, juga memberikan
perhatian dan hatinya
SEPERTI tidak ada waktu
bersama. Sepulang kantor sang suami langsung mandi, makan, kemudian
kembali sibuk dengan hp-nya; entah baca berita, ber-whatsapp atau chatting dengan fasilitas Blackberry Messenger
(BBM). Ibunya anak-anak pun terbelit dengan pekerjaan rumah tangga dan
aneka permintaan dari ananda. Akhirnya aktivitas hari itupun ditutup
dengan alasan yang selalu sama, “ngantuk”.
Rasanya awal pernikahan dulu, pasangan
bagaikan teman setia yang selalu menyediakan waktu untuk bicara. Selalu
tersedia waktu untuk curhat dan selalu ada teman lucu untuk hunting yang
seru. Tapi itu dulu. Sekarang, bisa bicara berdua untuk hal yang
penting pun langka. Lebih enak “ngobrol” dengan teman-teman di Whatsapp atau di BBM. Atau, lebih baik tidur setelah seharian berjibaku dengan rutinitas.
Bertindak Membahagiakan
Tentu ini kondisi yang tidak diinginkan
oleh siapapun. Mendapatkan pasangan yang simpatik dan empatik tentu
adalah dambaan. Pasangan yang tak hanya bersedia memberikan “telinganya”
untuk mendengarkan apa yang kita katakan tetapi juga memberikan
perhatian dan hatinya untuk bisa membahagiakan. Seperti layaknya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Siti Khadijah yang selalu
menjadi teman untuk saling mendengarkan dan membahagiakan.
Mari kita tengok dialog yang terjadi saat
Rasulullah menceritakan peristiwa di Gua Hira pada Khadijah ra, “Ketika
aku bertemu dengan Khadijah, aku duduk di pahanya dan bersandar padanya.
Khadijah kemudian bertanya, ‘Hai Abu Qasim, dimana engkau berada?
Sungguh aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka
tiba di Makkah atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil.’ Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab pertanyaan tersebut dengan
menceritakan semua hal yang dialaminya di Gua Hira. Khadijah kemudian
berkata, ‘Saudara misanku, bergembiralah dan tegarlah. Demi Dzat yang
jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku berharap kiranya engkau menjadi
Nabi bagi umat ini.’” (Sirah Ibnu Hisyam: 198).
Kita dapat melihat tindakan yang luar
biasa dilakukan Khadijah manakala melihat suaminya pulang dalam keadaan
bergetar dan menanggung ketakutan. Ia menyediakan dirinya hingga
Rasulullah Shallallu ‘Alaihi Wassallam dapat duduk dipangkuannya dan
bersandar padanya. Layaknya seorang anak yang merapat pada ibunya saat
merasa ketakutan. Kata-kata yang diucapkannya juga menenangkan dan
menegaskan kesediaan untuk menjadi pendukung Rasulullah menghadapi hal
yang besar. Padahal bila yang mendengar hal tersebut bukan Khadijah ra,
maka bukan tak mungkin yang dihadapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam adalah tuduhan mengada-ada atau saran untuk tidak terlalu
memikirkannya.
Namun, Khadijah ra memang pendamping
pilihan. Ia tidak demikian. Dengan simpatinya yang luar biasa, ia
menyediakan dirinya mendengar bahkan memberikan posisi yang nyaman bagi
suaminya. Kemudian, dengan empati yang dalam, ia menenangkan, menghibur
bahkan memberi dukungan bagi sang suami. Tak hanya sekadar simpati dan
empati, Khadijah ra pun bertindak dengan mengkonfirmasi berita yang
diterima dari suaminya pada seorang keluarganya, Waraqah bin Naufal,
untuk mengukuhkan kebenaran tersebut. Setelah kebenaran itu nyata,
Khadijah-lah yang pertama kali mengimani kerasulan suaminya.
Ibnu Ishaq menceritakan dalam sirah-nya,
“Dengan masuknya Khadijah, Allah Ta’ala meringankan beban Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika beliau mendengar perkataan yang tidak
disukainya; baik itu penolakan atau pendustaan yang membuat hatinya
sedih, maka Allah Subhanahu Wata’ala menghilangkan kesedihan beliau
dengan pulang ke rumah dan menjumpai Khadijah. Khadijah binti Khuwailid
menyemangati beliau, meringankan beban beliau, membenarkan beliau, dan
memandang remeh tanggapan manusia terhadap beliau
Kartika Ummu Arina
bersambung insyaALLAH . . . . .
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
April 10, 2015
posted by @Adimin
Anak yang Dibesarkan dengan Doa
Written By Sjam Deddy on 10 April, 2015 | April 10, 2015
Kedekatan dengan Penciptanya akan memudahkan semua hal yang dibutuhkan
dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang kelak akan meninggikan
kalimat Allah Subhanahu Wata’ala dimuka bumi ini
DINI HARI, seorang anak
bangun dengan tubuh yang menggigil. Panas tinggi yang bersarang,
membuatnya merengek pada ibunya. Pertama minta diambikan minum, kemudian
minta dipijat karena badan bagian belakangnya sakit, kemudian minta
dielus-elus kepalanya. Beberapa saat kemudian, deru nafasnya sudah mulai
mereda dan matanya mulai mengatup. Si ibu pun mulai terlelap karena
kelelahan menjaga buah hatinya yang sedang demam tersebut.
Namun, lagi-lagi balita berumur empat
tahun itu terjaga, ia menarik jari ibunya yag masih menempel di
kepalanya. Sang ibu pun ikut terjaga, “Ada apa, Nak? Ibu kira kamu sudah
tidur.” Balita itu menjawab, “Aku belum bisa tidur, Bu. ‘Kan aku belum
berdoa.” Ibunya tersenyum dan menuntun balitanya itu berdoa sebelum
tidur. Tak lama, buah hatinya itu kembali terlelap.
Awal Kejayaan Umat
Berdoa mungkin menjadi bagian yang sudah
dibiasakan dalam kehidupan anak, bahkan tidak ada taman kanak-kanak
muslim yang lupa mengharuskan anak-anak didiknya menghapal doa
sehari-hari. Anak-anak kita yang cerdas, begitu cepat menghapal doa
sehari-hari yang diajarkan kita di rumah maupun gurunya di sekolah.
Namun, betapa banyak anak-anak kita yang juga sangat cepat melafalkan
doa tersebut dengan sekadarnya, manakala kita memintanya berdoa ketika
hendak melakukan sesuatu. Doa kepada Penciptanya meluncur deras dari
mulut mereka laksana hapalan rumus atau perkalian angka, tanpa bekas
yang mengakar dalam jiwa mereka.
Padahal doa sejatinya adalah sumsumnya
ibadah ummat ini. Begitu pula anak-anak yang kemudian tumbuh menjadi
manusia dewasa yang lebih percaya pada apa yang mampu dilakukannya,
dibandingkan kuasa Sang Pemilik Semesta untuk menetapkan apapun yang
akan terjadi. Termasuk hal yang tidak diharapkan. Meski mereka adalah
orang-orang yang mengenal iman sejak usia dini. Maka, berdoa pun kini
menjadi hak orang-orang yang dianggap pandai merangkai doa untuk
kemudian diamini.
Padahal kejayaan ummat ini berada dalam
untaian doa yang dihantarkan ke ‘Arsy tempat Allah Subhanahu Wata’ala
bertahta. Ingatlah Rasulullah Saw yang menghiba pada Allah Al-Malik
sebelum ia mengarungi peperangan Badar bersama para sahabat. Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berdoa, “Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini (para sahabat) pada hari ini, Engkau tidak akan disembah.”
Rasulullah terus berdoa hingga Abu Bakar mengingatkan Rasulullah
Shallallahu ‘Alahi Wassallam bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan
mengingkari janji-Nya. (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam)
Padahal bagaimana mungkin Rasulullah Saw
ragu pada janji Allah Subhanahu Wata’ala? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam pun tak pernah meragukan loyalitas dan kualitas para sahabat
dalam menghadapi musuh. Apalagi Rasulullah pun seseorang yang memiliki
pengalaman berperang dan fisik yang kuat. Namun, Rasulullah terus
berdoa. Kejayaan ummat ini pun terletak pada tersambungnya doa
Rasulullah Saw yang demikian khawatir akan kekalahan Kaum Muslimin dan
harapnya pada pertolongan Allah Yang Mahaperkasa.
Poin ketakutan akan tak tersambungnya
ikhtiar dengan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala dan besarnya harapan
akan janji Allah Subhanahu Wata’ala yang tak pernah diingkari inilah
yang semakin memudar dalam jiwa anak-anak kita. Namun, disinilah
sejatinya perjuangan yang harus kita tempuh agar kelak kita tak hanya
mewariskan anak-anak yang kuat menggenggam dunia tetapi hatinya juga
selalu kokoh terikat dengan akhirat.
Anak akan merasa butuh untuk berdoa
manakala ia menyadari bahwa ada kekuatan yang Mahakuasa untuk
melindunginya dan memberikan yang terbaik padanya, lebih dari dirinya
bahkan melebihi apa yang selama ini dilakukan orangtuanya. Alangkah baik
untuk mengenalkan anak pada keperkasaan Allah Subhanahu Wata’ala
melalui hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia untuk
mengendalikannya.
Seperti yang terjadi pada suatu sore
manakala hujan turun dengan lebatnya diiringi petir yang
menyambar-nyambar. Seorang anak menarik lengan ibunya yang tengah sibuk
membereskan apa-apa yang dikhawatirkan terkena bocor. Ibunya dikejutkan
oleh kata-kata sang anak, “Ibu, sini dulu. Beldoa dulu yuk sama Allah,
supaya lumah (rumah) kita nggak banjil (banjir),” demikianlah celoteh
cadel balita mungil itu yang membuat ibunya sejenak terperangah. Betapa
ia sibuk membereskan apa-apa yang mampu dijangkaunya tetapi si anak
justru mengajaknya memohon pada Robb-nya terlebih dahulu.
Dimulai dari Doa
Menanamkan keyakinan pada anak bahwa ada
kekuatan yang Mahaperkasa dibandingkan apa yang manusia mampu lakukan
adalah bagian dari menanamkan iman. Bahwa kekuatan manusia justru
terletak pada kepasrahannya pada Allah Subhanahu Wata’ala.
Memperlihatkan pada anak bahwa ada hal-hal yang terjadi dengan kekuatan
doa, seperti kisah-kisah Rasulullah dalam peperangan, akan menambah
keyakinannya bahwa doa untuk memperoleh pertolongan Allah Subhanahu
Wata’ala adalah kebutuhan yang tak dapat ditinggalkan.
Maka, alangkah indahnya, bila kita selalu
meyakinkan pada anak bahwa Allah Subhanahu Wata’ala selalu sayang
padanya. Kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala lebih besar dari apapun
yang mampu dilihat oleh panca indera kita. Karena itu, kita selalu bisa
melihat dan merasakan kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala, walau kita
tak dapat melihat Allah Subhanahu Wata’ala saat ini. Pemahaman-pemaham
inilah yang akan mendekatkan anak pada Allah Subhanahu Wata’ala, merasa
bahwa Allah Subhanahu Wata’ala disisinya dan selalu memperhatikannya.
Kedekatan dengan Pencipta akan memudahkan
semua hal yang dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang
kelak akan meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wata’ala dimuka bumi ini.
Semakin lekat hati mereka dengan doa-doa yang selalu dipanjatkannya,
maka dengan izin-Nya akan semakin lembut hatinya untuk tunduk pada
titah-Nya. Hingga kalimat-kalimat-Nya pun akan semakin kokoh mengakar
dalam hatinya. Menjadi tolak ukur kebenaran, menjadi kompas kehidupan,
dan kelak ia akan benar-benar membaktikan dirinya sebagai orang-orang
yang membela agama Allah Subhanahu Wata’ala.
Semua bermula dari doa. Dari ketundukkan
hati yang membawanya pada kesalehan dan ketegapan untuk menjadi prajurit
Allah SWT. Layaknya generasi saleh diawal bersinarnya Islam, yang
berjalan tegap menghadapi berbagai kemusykilan dengan hanya berharap
pada pertolongan-Nya saja. Yang gagah menantang para penguasa dunia
dengan ketundukkan pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Yang meninggikan
jiwa karena kebanggaannya menjadi hamba Allah dan bukan karena apa yang
digenggamnya.
Semua bermula dari doa. Dari permohonan
dan ketakutan tidak dipedulikannya iman dan pengorbanannya oleh Allah
Subhanahu Wata’ala. Maka, alangkah indahnya bila kita pun menjadi contoh
bagi anak-anak kita tentang bagaimana memasrahkan diri dalam doa.
Meminta bukan karena ingin menjadi mulia dimata manusia, melainkan
karena ingin diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan dengan apa yang
diberi-Nya. Memulai dengan doa, bukan karena ingin berhasil dan diiringi
decak kagum manusia, tetapi karena yakin bahwa penentu akhir dari apa
yang kita usahkan hanyalah Allah saja.
Maka, marilah memulai dengan doa. Agar
anak-anak kita menjadi orang-orang yang saleh dan selalu melakukan
apapun dalam payungan doa. Karena, doa kitalah yang akan menuntun
hatinya untuk selalu berdoa.
Kartika Ummu Arina
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
December 08, 2014
posted by @Adimin
Tidur Lebih Awal Menyehatkan Pikiran
Written By Sjam Deddy on 08 December, 2014 | December 08, 2014
Mereka yang suka begadang, dengan jangka waktu tidur pendek dan tidur
larut malam, dilaporkan mengalami pikiran negatif berulang kali daripada
mereka yang punya jadwal tidur teratur.
TIDUR lebih awal dan menjaga jam tidur yang teratur
dapat mengurangi pikiran negatif dan kecemasan, menurut penelitian
terbaru di Binghamton University (BU) di New York.
Penelitian ini melibatkan 100 mahasiswa BU yang diminta untuk mengisi
beberapa kuesioner dan melakukan dua tugas komputerisasi untuk menilai
tingkat berpikir negatif mereka yang terus muncul berulang, dengan
mengukur tingkat kecemasan, pikiran, dan obsesi.
Mereka juga diminta untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan
kebiasaan tidur, jam berapa, apakah dilakukan teratur, atau kebiasaan
itu bergantung pada saat ujian dan kegiatan sosial.
Mereka yang menggambarkan diri sebagai manusia suka begadang, dengan
jangka waktu tidur pendek dan tidur larut malam, dilaporkan mengalami
pikiran negatif berulang kali daripada mereka yang punya jadwal tidur
teratur dan masa tidur yang lebih panjang, kata para peneliti.
Temuan mereka juga menunjukkan, pikiran negatif yang berulang terkait
dengan kurangnya tidur. Persoalan ini dapat berisiko terkena gangguan
kesehatan mental.
“Jika temuan lebih lanjut mendukung hubungan antara waktu tidur dan
berpikir negatif yang berulang, bisa dijadikan langkah pengobatan bagi
individu yang mengalami gangguan internal,” kata seorang peneliti,
Meredith Coles.
Inspirasi melakukan penelitian ini berawal dari hubungan antara
masalah tidur dan kesehatan mental, baik kecil dan besar, menurut para
peneliti.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Therapy and Research dan dimuat di New York Daily News, Jumat (5/12/2014)
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
Kesehatan,
TOPIK PILIHAN
November 05, 2014
posted by @Adimin
Tak Bolehkah Kita Semulia Asiyah?
Written By Sjam Deddy on 05 November, 2014 | November 05, 2014
Padang pasir itu begitu panas. Membuat
Al A’masyi yang menemani Harun Ar Rasyid pergi berburu menjadi sangat
kehausan. Menteri itu pun menoleh ke kanan dan ke kiri, barangkali ada
orang yang bisa memberinya air.
Pandangan Al Ma’masyi berhenti pada
sebuah kemah. Ya, ada kemah di padang pasir ini. Ia pun bergegas ke
sana. Ternyata kemah itu dihuni oleh seorang wanita cantik yang
mempesona.
Melihat ada tamu yang datang, wanita itu mempersilakannya untuk duduk agak jauh darinya.
“Aku Al A’masyi, menterinya Harun Ar Rasyid. Bolehkah aku minta air?” kata Al A’masyi memberitahukan keperluannya.
“Maaf, suamiku melarangku memberikan air
kepada orang lain,” jawab wanita itu membuat Al A’masyi yang tadinya
berharap segera terbebas dari kehausan merasa harus menahan sabar.
Muncul pertanyaan dalam dirinya, mengapa suami wanita ini melarangnya
menolong orang lain.
“Tapi aku punya jatah makan pagi, berupa susu yang belum kuminum. Ambillah untukmu,” lanjut wanita itu.
Al A’masyi bersyukur sekaligus kagum dengan kemuliaan wanita tersebut.
Tak berselang lama, wajah wanita itu
tampak berubah. Rupanya ada sebuah titik hitam mendekat. Makin lama
makin tampak, seorang laki-laki di atas untanya berjalan ke arah kemah
itu.
“Itu suamiku,” kata wanita tersebut
sambil bergegas menghampiri suaminya. Ia membantu lelaki tua, hitam dan
jelek itu turun dari ontanya, serta mencuci tangan dan kakinya.
Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam kemah tanpa mempedulikan dan
menyapa Al A’masyi. Dari dalam kemah, terdengar laki-laki itu berkata
buruk kepada istrinya.
“Aku kasihan kepadamu,” kata Al A’masyi
kepada wanita itu, sebelum ia berpamitan. “Engkau ini masih muda,
cantik, berakhlak mulia, tetapi bergantung kepada suami tua, hitam dan
buruk akhlaknya. Mengapa kamu bergantung kepadanya? Apakah karena
hartanya? Padahal ia miskin. Apakah karena ketampanannya? Padahal ia
hitam dan jelek. Apakah karena akhlaknya? Padahal akhlaknya buruk”
“Aku justru kasihan kepadamu wahai Al A’masyi,” jawab wanita itu dengan tegas.
“Bagaimana mungkin Harun Ar Rasyid punya
menteri yang berusaha menjauhkan seorang muslimah dari suaminya.
Ketahuilah, iman itu separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah
sabar. Aku bersyukur karena Allah membimbingku dengan Islam dan
memberiku kecantikan. Dan kini aku belajar bersabar dengan suami seperti
yang engkau sebutkan.”
Al A’masyi tak bisa berkata apa-apa.
Sungguh mengagumkan wanita itu. Allah telah memuliakan akhlaknya
sebagaimana Dia telah mempercantik wajahnya.
Sebagaimana keseluruhan hidup ini,
pernikahan juga ujian. Istri atau suami yang telah menikah dengan kita,
kadang kita dapati tidak sesuai dengan mimpi-mimpi indah kita. Allah
telah memberikan banyak contoh. Ada pasangan ideal seperti Adam dan
Hawa, Ibrahim dan Sarah, atau Muhammad dan Khadijah. Namun Allah juga
memberikan contoh sejarah, ada Nuh dan istrinya. Ada Fir’aun dan
suaminya.
Sungguh membahagiakan jika suami dan
istri kita adalah sosok ideal yang kita harapkan. Tetapi jika kita telah
menikah dan suami atau istri kita tak seideal yang kita harapkan,
kebahagiaan itu ada pada sikap kita. Ada nasehat bijak mengatakan, jika
suami kita tak seburuk Fir’aun, tidak bolehkah kita menjadi perempuan
semulia Asiyah?
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
OASE,
TOPIK PILIHAN
November 04, 2014
posted by @Adimin
Keshalihan Para Pemuda dan Kesadaran Orang Tua
Written By Sjam Deddy on 04 November, 2014 | November 04, 2014
Alangkah menyedihkan bila menyaksikan anak muda yang menghabiskan waktunya untuk hura-hura atau bermain tak tentu arah.
Tapi lebih menyedihkan lagi bila melihat orang tua menghabiskan sisa umurnya untuk main gaple atau domino di warung kopi.
Bertambah lagi kesedihan, bila sudah tua
tapi masih merasa muda, angan-angan masih panjang, ketamakan terhadap
dunia semakin menjadi-jadi, dan syahwat masih menggebu.
Tidak cukupkah uban bertabur di kepala,
gigi satu persatu mulai rontok, pandangan yang sudah tidak terang lagi,
pendengaran yang tidak nyaring lagi, kulit yang sudah keriput, tulang
yang sudah keropos, tenaga yang sudah melemah, penyakit yang sudah
komplek, selera yang sudah berkurang, bilangan usia yang sudah semakin
banyak, sebagai operator pengingat yang mengatakan:
“Maaf, pulsa hidup anda sudah hampir
habis, tidak ada lagi kesempatan untuk isi ulang, beberapa saat lagi
umur anda akan berakhir, harap siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke
akhirat”.
Tua itu adalah kesempatan emas untuk bertaubat.
Tua itu adalah nikmat tersendiri untuk memperbaiki diri.
Tua itu karunia tidak terhingga untuk persiapan menuju akhirat.
Betapa banyak anak muda yang tidak sempat mencicipi masa tua, mereka mati ketika asyik dengan dunia.
Rasulullah bersabda: “Siapa yang umurnya
sudah sampai 40 tahun, tapi kebaikannya belum mengungguli kejahatannya,
berarti ia sudah mempersiapkan kapling untuk dirinya di dalam neraka”.
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang
yang beriman untuk khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang
telah diwahyukan kepada mereka….? (Al Hadid: 16)
Kelak orang tua yang lupa diri akan dicela…
“….Bukankah Kami telah memanjangkan
umurmu untuk dapat perpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah
datang kepadamu seorang pemberi peringatan?…..” (Fathir: 37)
Ya Allah, karuniakan lah keshalehan kepada pemuda kami dan kesadaran kepada orang-orang tua kami.
posted by @Adimin
Label:
Analisis,
INSPIRASI,
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
October 10, 2014
posted by @Adimin
Kisah Orangtua yang Mendurhakai Anaknya
Written By Sjam Deddy on 10 October, 2014 | October 10, 2014
Datanglah kala itu seseorang bersama anaknya kepada Umar bin
Khaththab. Dengan segera, sesaat selepas bertemu, ia mengadukan perihal
anaknya, “Wahai Umar, anakku ini telah berlaku durhaka kepadaku.”
Guna mengetahui duduk persoalannya, anak al-Khaththab ini bertanya
kepada sang anak, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah Swt karena
telah durhaka kepada bapakmu, hai anak muda?” Umar menerangkan bahwa
berbakti kepada orangtua adalah hak yang layak diterimanya karena mereka
telah mengurus sang anak.
Sang anak yang merasa dituduh itu menukasi, “Wahai Amirul Mukminin,” katanya sebagaimana disebutkan dalam Tanbihul Ghafilin yang dikutip oleh Ahmad al-Habsi dalam buku Ada Surga di Rumahmu, Mukjizat Orangtua Sempurnakan Suksesmu. Lanjut anak itu, “Bukankah anak juga memiliki hak atas orangtuanya?”
Sosok yang terkenal dengan al-Faruq (Pembeda antara yang baik dan
buruk) itu menjawab singkat, “Kamu benar.” Anak itu lantas melanjutkan,
“Apa sajakah hak-hak anak atas orangtuanya itu, wahai Amirul Mukminin?”
Sahabat yang sekaligus menantu Rasulullah Saw ini pun menjelaskan.
Bahwa hak anak atas orang tuanya adalah dipilihkan ibu yang baik
baginya, diberikan nama yang bagus dan diajarkan al-Qur’an kepadanya.
Tepat seketika setelah Umar menerangkan, sang anak sudah menyiapkan
jawabannya, lugas. Kata anak itu, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan
ibu yang baik untukku,” lanjutnya, “Ibuku adalah seorang budak yang
dibeli di pasar dengan harga 400 dirham.” Berarti, hak pertama yang
disampaikan oleh Umar, telah dilanggar oleh ayahnya.
Tentang hak bahwa anak berhak diberikan nama yang baik, ia
melanjutkan pembelaannya, “Ia juga tidak memberikan nama yang baik
kepadaku. Dia menamaiku Ju’al.” Makna dari Ju’al adalah sejenis kumbang yang hidupnya akrab dengan kotoran hewan. Aduhai, malangnya sang anak ini.
Kemudian, tentang hak ketiganya, ia memungkasi lirih, “Dia juga tidak
mengajarkan al-Qur’an kepadaku, kecuali satu ayat saja.” Akhirnya,
semuanya jelas sudah.
Selepas pengakuan sang anak, Umar langsung menoleh kepada sang ayah,
kemudian menyampaikan, agak keras, “Kau bilang anakmu telah
mendurhakaimu?!” Hentinya sesaat, lantas melanjutkan, “Padahal, kau
telah mendurhakai anakmu sebelum ia mendurhakaimu.”
Bagi seorang anak, kisah ini adalah sebuah pengingat. Bahwa kelak, ia
juga akan menjadi orangtua. Maka, belajar amatlah penting agar tak
tergelincir karena ketiadaan ilmu. Dengan adanya ilmu, bahagia adalah
jaminan bagi seorang individu. Tentu, ini juga bukan sebuah “tiket” bagi
anak untuk menggugat orangtuanya. Sebab bisa jadi, banyak orangtua yang
tidak mengetahui, sehingga perlu diingatkan.
Bagi para orangtua, inilah ajaran yang mesti diamalkan sebelum
menuntut apa pun dari anak-anak kita. Sebab, alangkah meruginya ketika
dalam hisab kelak kita mengadu kepada Allah Swt bahwa anak-anak telah
mendurhakai kita, sementara ternyata, kita sudah terlebih dahulu
mendurhakai anak-anak kita itu
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
September 05, 2014
Seperti yang Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam lakukan ketika memanggil Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. “Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam memanggilku : ‘Wahai pemilik dua telinga’ (HR Ahmad dalam al-Musnad 3/127, Abu Dawud dalam sunannya no. 4994, at-Tirmidzi dalam sunannya no. 2059).
Namun, kala dewasa ternyata dari candaan ringan itu Anas Radhiyallahu Anhu benar-benar mampu menggunakan telinganya sebagai alat penerima pesan penting dari apa yang Rasulullah ucapkan. Jadi, tidak heran jika Anas menjadi sahabat yang termasuk banyak meriwayatkan hadits.
posted by @Adimin
Wahai Ayah, Bermainlah Bersama Anak-Anakmu
Written By Sjam Deddy on 05 September, 2014 | September 05, 2014
Rasulullah di tengah kesibukannya memimpin umat masih menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak-anak
SEORANG ayah memang memiliki tanggung jawab
nafkah bagi keluarga, sehingga wajar jika umumnya para ayah sangat
sedikit memiliki waktu di rumah. Apalagi yang tinggal di kota besar
seperti Jakarta, Surabaya dan lainnya. Tentu selain sedikit, mungkin
kondisi fisik kala di rumah sudah sangat lelah.
Namun demikian, seorang ayah tidak boleh terbawa keadaan. Ada satu
kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan yang dipesankan Nabi Muhammad
Shallallahu Alayhi Wasallam, terutama ketika anak-anak masih balita.
Yakni bermain bersama anak-anak.
Sekalipun terkesan sederhana, jika tidak disadari dengan baik,
seorang ayah akan sangat kecil kemungkinan mengagendakan waktunya
bermain bersama anak-anak. Padahal, bermain bersama anak-anak, terutama
kala balita sangat baik untuk menguatkan hubungan bathin antara ayah dan
anak.
Tauladan Rasulullah
Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam sendiri di tengah kesibukannya
memimpin umat masih menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak-anak.
Suatu riwayat menyebutkanRasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam
menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya
Al-Abbas Radhiyallahu anhu, untuk berbaris lalu berkata, “Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”
Anak-anak itu pun bergegas berlomba-lomba menuju beliau, kemudian
duduk di pangkuan Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam, lalu
Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.
Dengan demikian para ayah jangan sampai tidak mengagendakan waktunya
untuk bermain bersama putra-putrinya. Tidak mesti ke taman bermain
sebagaimana umumnya orang melakukannya. Cukup di rumah saja; dengan
bermain kuda-kudaan, kejar-kejaran atau pun sekedar berjalan-jalan di
sekitar rumah sambil mengenalkan anak pada lingkungan sekitar.
Mengubah Emosi
Selain itu, bermain bersama anak bisa mengubah emosi anak. Misalnya,
seorang anak marah karena mainannya dipinjam oleh adik atau kakaknya.
Kemudian dia menjadi rewel dan mencari perhatian. Dalam kondisi itu
bermain bisa membuat emosi anak berubah seketika.
Ajak saja anak untuk berlari-lari, atau bersama anak masuk dalam
selimut untuk menutup badan bersama. Atau dengan bermain apa yang
disukai sang anak, insya Allah anak akan segera terpancing untuk ikut
bermain dan merelakan apa yang sebelumnya membuatnya tidak nyaman.
Tidak Monoton
Seorang ayah yang memiliki kebiasaan bermain dengan anak-anaknya akan
memiliki kemampuan komunikasi yang luwes, sesuai dengan tabiat
anak-anak. Tidak kaku sebagaimana orang dewasa. Hal ini tentu akan
sangat menyenangkan hati anak-anak.
Seperti yang Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam lakukan ketika memanggil Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. “Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam memanggilku : ‘Wahai pemilik dua telinga’ (HR Ahmad dalam al-Musnad 3/127, Abu Dawud dalam sunannya no. 4994, at-Tirmidzi dalam sunannya no. 2059).
Di sini tentu sangat menarik apa yang dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu Alayhi Wasallam. Bagaimana cara beliau bermin-main dengan
bercanda dengan memanggil Anas dengan sebutan ‘pemilik dua telinga.’
Tentu panggilan semacam itu sangat aneh dan mengundang kelucuan, sebab bagaimana mungkin Anas tidak memiliki dua telinga.
Namun, kala dewasa ternyata dari candaan ringan itu Anas Radhiyallahu Anhu benar-benar mampu menggunakan telinganya sebagai alat penerima pesan penting dari apa yang Rasulullah ucapkan. Jadi, tidak heran jika Anas menjadi sahabat yang termasuk banyak meriwayatkan hadits.
Jika para ayah mau meluangkan waktu bermain bersama anak-anaknya,
insya Allah anak-anak tidak akan merasa ‘gerah’ apalagi sampai tidak
betah berada di rumah. Ia akan senang dan nyaman di rumah bersama ayah
yang suka mengajaknya bermain.
Dan, dalam kondisi seperti itu, insya Allah anak lebih siap mendengar
nasehat dan lebih bisa merasuk dalam qalbunya. Seperti yang Rasulullah
Shallallahu Alayhi Wasallam teladankan kepada Anas Radhiyallahu Anhu.
Jika demikian, kenapa tidak kita lakukan?
Wallahu A’lam.*
Imam Nawawi
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
May 10, 2014
Pada 2003, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pernah mengadakan survei internasional—dengan tes yang disebut PISA—untuk mengukur kemampuan siswa di bidang sains, membaca, dan juga matematika. Hasilnya, Finlandia ditetapkan sebagai peringkat pertama dunia dalam kualitas pendidikan.
Bagaimana sistem pendidikan Finlandia? Finlandia tidak membebani siswanya dengan tambahan jam-jam belajar, memberi PR tambahan, menerapkan disiplin ala tentara, atau menteror siswa dengan tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia agak lambat, pada usia 7 tahun. Jam sekolah merekapun hanya sedikit, 30 jam per minggu. Siswa diajar mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka belajar bertanggung jawab. Rasa tanggung jawab itu membuat mereka lebih bebas untuk maju. Guru tinggal memotivasi, tidak harus selalu mengontrol mereka. Minimnya rasa tertekan inilah yang memungkinkan belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan dinamis.
Beban kurikulum yang terlalu besar adalah perkara yang merisaukan dalam pendidikan di Indonesia. Ketetapan passing grade untuk kelulusan, membuat semua sekolah dihantui rasa takut kalau tidak dapat melampauinya. Demi target lulus, sekolah lebih mirip bimbingan belajar. Ada tambahan waktu untuk mengerjakan soal-soal. Selalu ada PR yang dibawa siswa ke rumah. Tak cukup itu, sebagian besar anak masih harus ikut les di luar sekolah. Lacur, siswa laksana mesin robot penghafal dan penghitung par excellence!
Seto Mulyadi (Ketua Komnas Perlindungan Anak) dan Neno Warisman (da’iyah, mantan artis) adalah sebagian orang tua yang menyadari kelemahan sistem pendidikan kita. Sebagaimana Seto, Neno Warisman menarik anaknya dari sekolah formal. Menurutnya, sesuai fitrah otak mau belajar kalau ada perasaan nyaman. Bismillah, ia mengajari sendiri anaknya di rumah.
Apa yang dilakukan oleh Neno Warisman kita kenal saat sebagai ‘sekolah rumah’ (home schooling). Sekolah alternatif—yang saat ini telah diakui legalitasnya--ini mengingatkan kita pada Ki Hajar Dewantara. Jika kita tilik sejarah Ki Hajar Dewantara, tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka belajar sendiri di rumah. Ini juga dilakukan oleh Haji Agus Salim. Bimbingan tersebut mengantarkan sukses seluruh anaknya. Di luar negeri kisah serupa juga kita dapati pada Bill Gates (pemilik Microsoft) dan Thomas Alfa Edison. Mereka tidak belajar di sekolah formal. Mereka banyak sekali melakukan eksperimen di rumahnya. Sukses besar pun dapat diraih dua orang tersebut.
Pemahaman
Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orangtuanya ialah memberikan pendidikan yang baik. Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw.: ”Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadap diriku?” Rasulullah menjawab, ”Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan (pelihara) ia di tempat yang baik.”
Pendidikan yang baik tentunya tidak bisa disederhanakan dengan nilai rangking atau kelulusan UN dari sekolah favorit. Sahabat Rasulullah sendiri, tidak ada yang mengenyam sekolah formal. Tetapi, lewat didikan akhlak Rasulullah, mereka menjadi orang-orang yang mempunyai prestasi raksasa dalam sejarah.
Yang harus kita sadari, banyak sekali masalah kehidupan yang tidak ditemui dalam pelajaran berhitung dan hafalan di sekolah. Berhitung dan menghafal hanyalah sebagian kecil dari cara melatih berfikir sistematis. Fungsi utama sekolah semestinya adalah membentuk pola fikir dan perilaku positif anak-anak. Inilah yang kemudian akan membuat anak didik siap menjawab masalah dalam kehidupan nyata. Inilah yang dalam bahasa Al Qur’an, pendidikan itu diartikan sebagai sarana mensucikan diri. “Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”(QS Al Baqarah: 151)
Mensucikan diri sama artinya dengan tumbuhnya perilaku positif dalam belajar. Belajar bukan diniatkan untuk sekadar mendapat angka tinggi dalam rapor. Belajar adalah aktivitas mulia untuk meraih derajat tinggi di sisi Allah dan memberi manfaat kepada sesama. Pengertian inilah yang kemudian secara otomatis memotivasi anak didik untuk terus belajar. Inilah yang mengarahkan anak didik pada kepahaman.
Islam sendiri menempatkan derajat orang yang mengerti dan memahami (“faqih”) lebih tinggi dari pada orang yang menghafal (“hafizh”). Pada kurun terbaik dalam Islam—yaitu pada tiga abad pertama Islam—kedudukan dan kepeloporan berada di tangan para faqih, sedangkan pada masa-masa kemunduran, kedudukan dan kepeloporan itu ada pada para hafizh.
Tentu bukan berarti hafalan itu tidak perlu.. Namun, kita penting memahami bahwa hafalan hanyalah sebagai gudang data dan ilmu pengetahuan; untuk kemudian dimanfaatkan. Menghafal bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi ia adalah sarana untuk mencapai tujuan yang lain. Apalagi saat ini, gudang data itu banyak digantikan oleh kaset/ disket—atau program penyimpan data digital lain yang saat ini begitu mudah didapat dan dipakai. Menurut Yusuf Qardhawi, kesalahan yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin saat ini adalah perhatian mereka kepada hafalan yang lebih tinggi daripada pemahaman. Sampai tingkat tertentu, menurut Qardhawi, ini menjadi persoalan yang sangat memalukan dalam dunia pendidikan di negeri-negeri Muslim. Sistem pendidikan itu kebanyakan didasarkan pada hafalan dan ”kebisuan,” serta tidak didasarkan pada pemahaman dan pencernaan. Kalau apa yang mereka pelajari didasarkan atas pemahaman dan contoh yang nyata, maka hal itu akan masuk kedalam otak mereka dan tidak mudah hilang dari ingatan. (Yusuf Qardhawi, Fiqh Aulawiyat).
Jadi, tak perlu ada yang dirisaukan bila anak kita tidak berada di sekolah favorit. Yang penting dilakukan adalah mengimbangi ketimpangan dalam sistem pendidikan negeri ini dengan pendidikan sebenarnya di rumah. Rumah dan keluarga adalah sekolah informal penentu sukses sejati. Orang tualah guru besarnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi, atau majusi.” (HR. Bukhari). Dalam bahasa kita saat ini, orang tualah pemberi saham terbesar sebagai penentu sukses hidup seseorang.
Mencipta Sekolah Kehidupan
Written By Sjam Deddy on 10 May, 2014 | May 10, 2014
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.”
(QS Al ‘Alaq: 1-3).
(QS Al ‘Alaq: 1-3).
Pendaftaran masuk sekolah sudah dimulai. Jika Anda termasuk orang tua
yang sempat harap-harap cemas dengan sekolah baru anak Anda, buku
Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi rasanya
penting dibaca. Saya sendiri merasa perlu menghadiahkan buku tersebut
kepada sahabat saya yang menjadi guru.
SD Tomoe, sekolah yang dikisahkan dalam buku tersebut, bangunannya tak meyakinkan. Seluruh gedung kelas terbuat dari bangkai gerbong kereta api. Tak ada muridnya yang menjadi juara lomba antarsekolah. Tak ada medali emas karena juara olimpiade sains. Usia sekolah inipun tak lama—bangunannya musnah saat jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (1945). Namun, situasi belajar yang menarik dan menyenangkan di sekolah tersebut mempunyai pengaruh luar biasa bagi para alumninya. Dengan gaya kisahan yang ringan, buku tersebut mampu menggambarkan filosofi seperti apa sesungguhnya “sekolah bermutu.” Walhasil, buku yang laris (best seller) di Jepang ini bisa mengubah cara pandang terhadap pendidikan buah hati kita. Tidak ada yang perlu diratapi atas kegagalan UN dan masuk sekolah (atau kelas) favorit. Bahkan, kita perlu waspada dengan sistem pendidikan saat ini yang bisa jadi malah membodohi dan mengancam masa depan buah hati kita.
Kenyamanan
SD Tomoe, sekolah yang dikisahkan dalam buku tersebut, bangunannya tak meyakinkan. Seluruh gedung kelas terbuat dari bangkai gerbong kereta api. Tak ada muridnya yang menjadi juara lomba antarsekolah. Tak ada medali emas karena juara olimpiade sains. Usia sekolah inipun tak lama—bangunannya musnah saat jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (1945). Namun, situasi belajar yang menarik dan menyenangkan di sekolah tersebut mempunyai pengaruh luar biasa bagi para alumninya. Dengan gaya kisahan yang ringan, buku tersebut mampu menggambarkan filosofi seperti apa sesungguhnya “sekolah bermutu.” Walhasil, buku yang laris (best seller) di Jepang ini bisa mengubah cara pandang terhadap pendidikan buah hati kita. Tidak ada yang perlu diratapi atas kegagalan UN dan masuk sekolah (atau kelas) favorit. Bahkan, kita perlu waspada dengan sistem pendidikan saat ini yang bisa jadi malah membodohi dan mengancam masa depan buah hati kita.
Kenyamanan
Pada 2003, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pernah mengadakan survei internasional—dengan tes yang disebut PISA—untuk mengukur kemampuan siswa di bidang sains, membaca, dan juga matematika. Hasilnya, Finlandia ditetapkan sebagai peringkat pertama dunia dalam kualitas pendidikan.
Bagaimana sistem pendidikan Finlandia? Finlandia tidak membebani siswanya dengan tambahan jam-jam belajar, memberi PR tambahan, menerapkan disiplin ala tentara, atau menteror siswa dengan tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia agak lambat, pada usia 7 tahun. Jam sekolah merekapun hanya sedikit, 30 jam per minggu. Siswa diajar mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka belajar bertanggung jawab. Rasa tanggung jawab itu membuat mereka lebih bebas untuk maju. Guru tinggal memotivasi, tidak harus selalu mengontrol mereka. Minimnya rasa tertekan inilah yang memungkinkan belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan dinamis.
Beban kurikulum yang terlalu besar adalah perkara yang merisaukan dalam pendidikan di Indonesia. Ketetapan passing grade untuk kelulusan, membuat semua sekolah dihantui rasa takut kalau tidak dapat melampauinya. Demi target lulus, sekolah lebih mirip bimbingan belajar. Ada tambahan waktu untuk mengerjakan soal-soal. Selalu ada PR yang dibawa siswa ke rumah. Tak cukup itu, sebagian besar anak masih harus ikut les di luar sekolah. Lacur, siswa laksana mesin robot penghafal dan penghitung par excellence!
Seto Mulyadi (Ketua Komnas Perlindungan Anak) dan Neno Warisman (da’iyah, mantan artis) adalah sebagian orang tua yang menyadari kelemahan sistem pendidikan kita. Sebagaimana Seto, Neno Warisman menarik anaknya dari sekolah formal. Menurutnya, sesuai fitrah otak mau belajar kalau ada perasaan nyaman. Bismillah, ia mengajari sendiri anaknya di rumah.
Apa yang dilakukan oleh Neno Warisman kita kenal saat sebagai ‘sekolah rumah’ (home schooling). Sekolah alternatif—yang saat ini telah diakui legalitasnya--ini mengingatkan kita pada Ki Hajar Dewantara. Jika kita tilik sejarah Ki Hajar Dewantara, tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka belajar sendiri di rumah. Ini juga dilakukan oleh Haji Agus Salim. Bimbingan tersebut mengantarkan sukses seluruh anaknya. Di luar negeri kisah serupa juga kita dapati pada Bill Gates (pemilik Microsoft) dan Thomas Alfa Edison. Mereka tidak belajar di sekolah formal. Mereka banyak sekali melakukan eksperimen di rumahnya. Sukses besar pun dapat diraih dua orang tersebut.
Pemahaman
Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orangtuanya ialah memberikan pendidikan yang baik. Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw.: ”Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadap diriku?” Rasulullah menjawab, ”Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan (pelihara) ia di tempat yang baik.”
Pendidikan yang baik tentunya tidak bisa disederhanakan dengan nilai rangking atau kelulusan UN dari sekolah favorit. Sahabat Rasulullah sendiri, tidak ada yang mengenyam sekolah formal. Tetapi, lewat didikan akhlak Rasulullah, mereka menjadi orang-orang yang mempunyai prestasi raksasa dalam sejarah.
Yang harus kita sadari, banyak sekali masalah kehidupan yang tidak ditemui dalam pelajaran berhitung dan hafalan di sekolah. Berhitung dan menghafal hanyalah sebagian kecil dari cara melatih berfikir sistematis. Fungsi utama sekolah semestinya adalah membentuk pola fikir dan perilaku positif anak-anak. Inilah yang kemudian akan membuat anak didik siap menjawab masalah dalam kehidupan nyata. Inilah yang dalam bahasa Al Qur’an, pendidikan itu diartikan sebagai sarana mensucikan diri. “Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”(QS Al Baqarah: 151)
Mensucikan diri sama artinya dengan tumbuhnya perilaku positif dalam belajar. Belajar bukan diniatkan untuk sekadar mendapat angka tinggi dalam rapor. Belajar adalah aktivitas mulia untuk meraih derajat tinggi di sisi Allah dan memberi manfaat kepada sesama. Pengertian inilah yang kemudian secara otomatis memotivasi anak didik untuk terus belajar. Inilah yang mengarahkan anak didik pada kepahaman.
Islam sendiri menempatkan derajat orang yang mengerti dan memahami (“faqih”) lebih tinggi dari pada orang yang menghafal (“hafizh”). Pada kurun terbaik dalam Islam—yaitu pada tiga abad pertama Islam—kedudukan dan kepeloporan berada di tangan para faqih, sedangkan pada masa-masa kemunduran, kedudukan dan kepeloporan itu ada pada para hafizh.
Tentu bukan berarti hafalan itu tidak perlu.. Namun, kita penting memahami bahwa hafalan hanyalah sebagai gudang data dan ilmu pengetahuan; untuk kemudian dimanfaatkan. Menghafal bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi ia adalah sarana untuk mencapai tujuan yang lain. Apalagi saat ini, gudang data itu banyak digantikan oleh kaset/ disket—atau program penyimpan data digital lain yang saat ini begitu mudah didapat dan dipakai. Menurut Yusuf Qardhawi, kesalahan yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin saat ini adalah perhatian mereka kepada hafalan yang lebih tinggi daripada pemahaman. Sampai tingkat tertentu, menurut Qardhawi, ini menjadi persoalan yang sangat memalukan dalam dunia pendidikan di negeri-negeri Muslim. Sistem pendidikan itu kebanyakan didasarkan pada hafalan dan ”kebisuan,” serta tidak didasarkan pada pemahaman dan pencernaan. Kalau apa yang mereka pelajari didasarkan atas pemahaman dan contoh yang nyata, maka hal itu akan masuk kedalam otak mereka dan tidak mudah hilang dari ingatan. (Yusuf Qardhawi, Fiqh Aulawiyat).
Jadi, tak perlu ada yang dirisaukan bila anak kita tidak berada di sekolah favorit. Yang penting dilakukan adalah mengimbangi ketimpangan dalam sistem pendidikan negeri ini dengan pendidikan sebenarnya di rumah. Rumah dan keluarga adalah sekolah informal penentu sukses sejati. Orang tualah guru besarnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi, atau majusi.” (HR. Bukhari). Dalam bahasa kita saat ini, orang tualah pemberi saham terbesar sebagai penentu sukses hidup seseorang.
Kholid
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
April 28, 2014
posted by @Adimin
Memperlakukan Anak Perempuan
Written By Sjam Deddy on 28 April, 2014 | April 28, 2014
Selain sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan, anak merupakan
karunia dan hibah dari Allah SWT sebagai penyejuk pandangan mata,
kebanggaan orang tua, dan sekaligus sebagai perhiasan dunia, serta
belahan jiwa (QS al-Kahfi [18]: 46).
Karena itu, perlakukan anak dengan penuh cinta dan kasih sayang, lebih-lebih bagi anak perempuan. Terkait anak perempuan, secara khusus Rasulullah SAW melarang memperlakukannya dengan kasar.
Dari Uqbah bin Amir berkata Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah kalian memperlakukan anak-anak perempuan dengan kasar, karena sesungguhnya mereka adalah manusia yang berpembawaan lembut lagi peka perasaannya.” (HR Ahmad).
Hadis di atas menuntun kita, para orang tua, untuk mendidik anak-anak perempuan dengan baik dan bijak, serta tidak memperlakukannya dengan kasar. Sebab, perlakuan kasar dapat memicu rasa sakit hati dan dendam yang tidak mudah hilang dari ingatannya.
Bagaimana jika anak perempuan itu melakukan perbuatan yang menjengkelkan? Orang tua hendaknya dapat meluruskannya dengan baik dan bijak. Karena perlakuan kasar itu tidak dapat menyelesaikan masalah. Alih-alih meluruskan kesalahan anak, orang tua malah dijauhi.
Oleh karena itu, hindarkan tindakan menuduh, berburuk sangka, dan bermuka masam terhadap anak perempuan. Perlakukan anak perempuan dengan kelembutan dan kasih sayang.
Dan, sungguh beruntung orang tua yang dikaruniai anak perempuan dan ia dapat memperlakukannya dengan baik, bijak, dan penuh kesabaran. Maka, baginya balasan kemuliaan, yaitu surga. Subhanallah.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan, lalu bersikap sabar terhadap keluh-kesah, suka-duka, dan jerih-payah mengasuh (mendidik) mereka, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayangnya kepada mereka.”
Dalam hadis yang lain, “Barang siapa mempunyai tiga orang anak perempuan atau tiga saudara perempuan, dua orang anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengasuh mereka, maka baginya surga.” (HR Tirmidzi).
Hadis lainnya, “Barang siapa menanggung tiga anak perempuan, lalu mendidiknya, menikahkannya, dan memperlakukannya dengan baik, maka baginya surga.” (HR Abu Dawud).
Semoga Allah mengaruniai kita, para orang tua, tambahan kesabaran dan ketakwaan dalam mendidik anak-anak, terutama anak perempuan dengan penuh cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab. Aamiin.
Karena itu, perlakukan anak dengan penuh cinta dan kasih sayang, lebih-lebih bagi anak perempuan. Terkait anak perempuan, secara khusus Rasulullah SAW melarang memperlakukannya dengan kasar.
Dari Uqbah bin Amir berkata Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah kalian memperlakukan anak-anak perempuan dengan kasar, karena sesungguhnya mereka adalah manusia yang berpembawaan lembut lagi peka perasaannya.” (HR Ahmad).
Hadis di atas menuntun kita, para orang tua, untuk mendidik anak-anak perempuan dengan baik dan bijak, serta tidak memperlakukannya dengan kasar. Sebab, perlakuan kasar dapat memicu rasa sakit hati dan dendam yang tidak mudah hilang dari ingatannya.
Bagaimana jika anak perempuan itu melakukan perbuatan yang menjengkelkan? Orang tua hendaknya dapat meluruskannya dengan baik dan bijak. Karena perlakuan kasar itu tidak dapat menyelesaikan masalah. Alih-alih meluruskan kesalahan anak, orang tua malah dijauhi.
Oleh karena itu, hindarkan tindakan menuduh, berburuk sangka, dan bermuka masam terhadap anak perempuan. Perlakukan anak perempuan dengan kelembutan dan kasih sayang.
Dan, sungguh beruntung orang tua yang dikaruniai anak perempuan dan ia dapat memperlakukannya dengan baik, bijak, dan penuh kesabaran. Maka, baginya balasan kemuliaan, yaitu surga. Subhanallah.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan, lalu bersikap sabar terhadap keluh-kesah, suka-duka, dan jerih-payah mengasuh (mendidik) mereka, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayangnya kepada mereka.”
Dalam hadis yang lain, “Barang siapa mempunyai tiga orang anak perempuan atau tiga saudara perempuan, dua orang anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengasuh mereka, maka baginya surga.” (HR Tirmidzi).
Hadis lainnya, “Barang siapa menanggung tiga anak perempuan, lalu mendidiknya, menikahkannya, dan memperlakukannya dengan baik, maka baginya surga.” (HR Abu Dawud).
Semoga Allah mengaruniai kita, para orang tua, tambahan kesabaran dan ketakwaan dalam mendidik anak-anak, terutama anak perempuan dengan penuh cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab. Aamiin.
Oleh: Hj Siti Mahmudah
Rol
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
April 28, 2014
posted by @Adimin
Sayangi Anak Kita
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, ada seseorang wanita yang datang kepada
Aisyah. Lalu, Aisyah memberikan tiga buah kurma. Wanita itu kemudian
memberikannya kepada setiap anak satu buah kurma dan satu kurma tinggal
di tangannya.
Dua anak kecil sudah memakan dua buah kurma itu dan memandang pada ibunya. Si ibu lalu membelah yang satu kurma itu menjadi dua dan memberikan kepada kedua anak itu masing-masing separuh. Setelah Nabi Muhammad datang, Aisyah mengabarkan tentang kejadian itu.
Beliau lalu berkata, “Apa yang membuatmu takjub dengan kejadian itu, sungguh Allah telah memberi rahmat-Nya kepada si ibu itu atas kasih sayangnya kepada kedua anak kecil itu.'' (HR Imam Muslim).
Dalam kisah lain, seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Nabi, ’’Apakah Anda mencium anak laki-laki? Kami tidak pernah mencium anak laki-laki.” Nabi SAW bersabda, ’’Aku tak dapat berbuat apa-apa terhadap kamu jika Allah mencabut kasih sayang dari hatimu.” (HR Imam Al-Bukhari).
Aqra bin Habis pernah melihat Nabi sedang menciumi Al-Hasan. Aqra berkata, “Sesungguhnya, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium seorangpun di antara mereka!”
Lalu Rasulullah SAW bersabda,’’Barang siapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.'' (HR Imam Muslim). Kasih sayang Rasulullah SAW kepada anak kecil selain senang menciumi mereka maka beliau juga seneng memangku anak-anak kecil.
Usamah bin Zaid mengungkapkan, Rasulullah SAW pernah mendudukkan seorang anak di atas salah satu pahanya dan mendudukkan al-Hasan di atas pahanya yang lain. Lalu, Rasul memeluk mereka berdua lalu berdoa, “Ya Allah! Sayangilah kedua anak ini, karena saya menyayangi keduanya.’’
Makna hadis di atas paling tidak ada empat perilaku model dalam memberikan kasih sayang yang diajarkan dalam Islam kepada anak-anak yang masih kecil. Pertama, memberikan makanan ringan yang dia sukai seperti permen.
Membagi makanan-makanan itu dengan adil kepada anak-anak jika lebih dari satu dan jangan ada yang lebih banyak dibandingkan dengan yang lain sebab akan menimbulkan iri hati kepada yang lain. Kedua, memberikan ciuman sebagai bentuk kasih sayang.
Ketiga, memangku anak-anak dan dan keempat meletakkan mereka di atas pundak. Cara-cara di atas merupakan gambaran bagaimana memperlakukan anak-anak supaya tumbuh dengan baik dalam hal kecerdasan yakni kecerdasan emosional dan spiritual.
Kasih sayang terhadap anak akan memengaruhi perilaku dan karakternya. Tentu hasilnya akan berbeda jika yang muncul adalah kekerasan terhadap anak.
Dua anak kecil sudah memakan dua buah kurma itu dan memandang pada ibunya. Si ibu lalu membelah yang satu kurma itu menjadi dua dan memberikan kepada kedua anak itu masing-masing separuh. Setelah Nabi Muhammad datang, Aisyah mengabarkan tentang kejadian itu.
Beliau lalu berkata, “Apa yang membuatmu takjub dengan kejadian itu, sungguh Allah telah memberi rahmat-Nya kepada si ibu itu atas kasih sayangnya kepada kedua anak kecil itu.'' (HR Imam Muslim).
Dalam kisah lain, seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Nabi, ’’Apakah Anda mencium anak laki-laki? Kami tidak pernah mencium anak laki-laki.” Nabi SAW bersabda, ’’Aku tak dapat berbuat apa-apa terhadap kamu jika Allah mencabut kasih sayang dari hatimu.” (HR Imam Al-Bukhari).
Aqra bin Habis pernah melihat Nabi sedang menciumi Al-Hasan. Aqra berkata, “Sesungguhnya, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium seorangpun di antara mereka!”
Lalu Rasulullah SAW bersabda,’’Barang siapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.'' (HR Imam Muslim). Kasih sayang Rasulullah SAW kepada anak kecil selain senang menciumi mereka maka beliau juga seneng memangku anak-anak kecil.
Usamah bin Zaid mengungkapkan, Rasulullah SAW pernah mendudukkan seorang anak di atas salah satu pahanya dan mendudukkan al-Hasan di atas pahanya yang lain. Lalu, Rasul memeluk mereka berdua lalu berdoa, “Ya Allah! Sayangilah kedua anak ini, karena saya menyayangi keduanya.’’
Makna hadis di atas paling tidak ada empat perilaku model dalam memberikan kasih sayang yang diajarkan dalam Islam kepada anak-anak yang masih kecil. Pertama, memberikan makanan ringan yang dia sukai seperti permen.
Membagi makanan-makanan itu dengan adil kepada anak-anak jika lebih dari satu dan jangan ada yang lebih banyak dibandingkan dengan yang lain sebab akan menimbulkan iri hati kepada yang lain. Kedua, memberikan ciuman sebagai bentuk kasih sayang.
Ketiga, memangku anak-anak dan dan keempat meletakkan mereka di atas pundak. Cara-cara di atas merupakan gambaran bagaimana memperlakukan anak-anak supaya tumbuh dengan baik dalam hal kecerdasan yakni kecerdasan emosional dan spiritual.
Kasih sayang terhadap anak akan memengaruhi perilaku dan karakternya. Tentu hasilnya akan berbeda jika yang muncul adalah kekerasan terhadap anak.
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
February 03, 2014
posted by @Adimin
Daripada Lihat Komedi, lebih Berkah Bercanda Bersama Istri
Written By Sjam Deddy on 03 February, 2014 | February 03, 2014
BELAKANGAN ini fenomena keretakan rumah tangga
hampir sering sekali terjadi. Tidak saja dari kalangan masyarakat biasa,
tetapi juga selebriti dan pejabat. Hal ini menunjukkan bahwa ada titik
atau potensi ketidakharmonisan dalam rumah tangga yang gagal dibenahi
secara tepat.
Sangat tidak lucu jika ketidakharmonisan rumah tangga juga dialami
keluarga Muslim. Bukankah Rasulullah adalah seorang suami yang terdapat
banyak sekali teladan yang bisa menjadi solusi dari problem
kerumahtanggaan keluarga Muslim?
Firman Allah mengatakan;
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن
كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.” (QS: al-Ahzab [33]: 21)
Secara maknawi tidak hanya terletak pada aspek ibadah secara formal,
tetapi melingkupi seluruh sisi kehidupan beliau, termasuk dalam hal
kerumahtanggaan.
Sebagai suami Rasulullah tidak pernah menomorduakan istrinya dengan
apa pun. Ketika di dalam rumah maka beliau akan menyibukkan diri bersama
istrinya. Mulai dari makan sepiring berdua, saling menyisir rambut,
bersenda guraru berdua dan bahkan mandi bersama.
Berbeda dengan kebanyakan suami saat ini. Dengan dalih pekerjaan,
seorang suami masih asyik dengan gadgetnya ketika di dalam rumah.
Bahkan, selepas kerja, untuk mengusir penat seharian karena pekerjaan
tidak sedikit suami yang melihat televisi hanya untuk melihat komedi.
Hampir tidak ada perhatian yang memadai terhadap istri, apalagi
interaksi yang menyenangkan hati.
Bercandalah dengan Istri
Sebagai seorang Muslim yang juga memiliki istri, maka tidak
sepatutnya seorang suami menghabiskan waktunya kala di dalam rumah tidak
dalam rangka membina hubugan bermutu antara suami dan istri.
Rasulullah adalah contoh terbaik untuk diteladani para suami. Beliau
meskipun sibuk mengurusi kepentingan umat, kala di dalam rumah bersama
istri beliau tampil sebagai sosok yang romantis dan sangat lemah lembut
terhadap istrinya.
Bahkan beliau menyempatkan waktu bercanda bersama istri, tentu dengan
candaan yang tetap penuh adab, kesopanan dan keluhuran akhlak. Sebuah
hadits hasan yang diriwayatkan oleh Thabrani menyebutkan bahwa
Rasulullah adalah orang yang paling banyak bergurau bersama
istri-istrinya.
“Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istri beliau.”
Artinya, kala di rumah Nabi tidak sibuk dengan urusan apa pun selain
membahagiakan istrinya. Bercanda atau bergurau adalah satu cara ampuh
yang digunakan Nabi untuk membahagiakan dan menenangkan hati istrinya.
Suatu saat Aisyah berkata, “Suatu hari Saudah mengunjungi kami, dan
Rasulullah duduk di antara diriku dan Saudah. Sedangkan satu kaki beliau
berada di pangkuanku dan satunya berada di pangkuan Saudah.
Maka kubawakan untuknya makanan (yang terbuat dari bahan tepung dan
air susu) lalu kukatakan, “(Demi Allah), makanlah atau aku akan megotori
wajahmu.” Dia lalu menolak dengan berkata, “Aku tak akan mencicipinya.”
Lalu, kuambil makanan dari mangkuk yang besar dan kulumurkan ke
wajahnya. Nabi Shallallahu alayhi Wasallam tertawa. Lalu beliau
mengangkat kaki belaiu dari pangkuan Saudah, agar ia bisa membalasku.
Beliau berkata kepada Saudah, “Kotorilah mukanya!” Lalu dia mengambil makanan dari mangkuk besar dan melumurkannya ke mukaku, dan Rasulullah tertawa.” (HR: An-Nasa’i).
Dari dua hadits tersebut dapat diambil pemahaman bahwa kala di Rumah
Rasulullah selalu meluangkan waktu untuk bercanda atau bersenda gurau
dengan istri-istrinya. Rasulullah memang tidak pernah menomorduakan
istrinya kala di rumah.
Beliau sangat sayang, cinta dan penuh perhatian kepada
istri-istrinya. Bahkan beliau tidka pernah dalam sehari pun tidak
mencium istrinya. Subhanallah. Jika demikian, masihkah para suami akan
mencari kelucuan dalam komedi, sementara bersama istri bisa bergurau
bersama yang efeknya tentu sangat menentramkan dan membahagiakan hati
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN












