Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
Showing posts with label HIKMAH. Show all posts
Showing posts with label HIKMAH. Show all posts
February 01, 2017
Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
posted by @Adimin
Written By @Adimin on 01 February, 2017 | February 01, 2017
Umat
Islam yang diharap menjadi umat terdepan dalam mengemban amanat Ilahi sebagai
khalifah di muka bumi tak boleh gentar dengan cercaan dan hinaan seberat apapun
UMAT
Islam
Indonesia baru saja menikmati keindahan dalam ukhuwah Islamiyah dan persatuan
Islam dalam Aksi Bela
Islam III, 02 Desember 2016 atau sering disebut Aksi 212.
Dalam
acara itu, Ketua Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Ustad
Bachtiar Nasir menyampaikan tausiyah memberi semangat kepada umat Islam
disambut gemuruh takbir dari jutaan umat Islam yang hadir begitu nyaring
terdengar.
Ada
yang menarik dari tausiyah yang disampaikan dimana ia memberikan kriteria ideal
umat Nabi Muhammad Shalallahu
‘Alaihi Wassallam berdasarkan Al-Quran Surat Al-Maidah 54 :
وَلاَ يَخَافُونَ
لَوْمَةَ لآئِمٍ
ذَلِكَ فَضْلُ
اللّهِ يُؤْتِيهِ
مَن يَشَاءُ
وَاللّهُ وَاسِعٌ
عَلِيمٌ
“Yang
Bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang
suka mencela.”
Berangkat
dari ayat di atas ada 3 kriteria umat Nabi Muhammad yang digadang-gadang
membawa kebaikan dan kemulian bagi alam semesta (rahmatan lil `aalamiin).
Kriteria
pertama adalah adzillatin
`alal mu`miniina a`izzatin `alal kaafiriin (bersikap lemah lembut
terhadap sesama mukmin dan bersikap tegas tehadap orang-orang kafir).
Artinya,
umat Islam harusnya menjadi umat yang bersikap kasih sayang kepada sesama muslim,
saling mencintai, mengasihi, membantu dan menolong.
Janji Allah dan “Generasi Al-Maidah”
Sayidina
Abdullah bin Abbas ra mengatakan bahwa yang dimaksud bunyi ayat “adzillatin `alal mu`miniina
a`izzatin `alal kaafiriin ” adalah, “Mereka adalah orang-orang yang
memperlakukan orang-orang beriman bak ayah kepada anaknya, seperti tuan kepada
bawahannya dan bersikap keras kepada orang-orang kafir bak singa di hadapan
mangsanya.”
Karakter
pertama ini
sejalan dengan ayat pada firman Allah Subhanahu
Wata’ala yang lain:
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ
اللَّهِ وَالَّذِينَ
مَعَهُ أَشِدَّاء
عَلَى الْكُفَّارِ
رُحَمَاء بَيْنَهُمْ
“Keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath [48]: 29).
Karakter
kedua adalah yujaahiduuna fii sabiilillah
(berjihad di jalan Allah).
Umat
Islam tidak boleh tidak ikut ambil bagian dalam medan jihad dengan beragam cara
dan sarana yang ada. Berjihad dengan harta, jiwa, ilmu, opini yang benar
tentang Islam dan sebagainya.
Bumi
Pertiwi bernama Indonesia jika dibelah perutnya maka darah para mujahid, darah
para syuhada menjadi saksi nyata kemerdekaan Indonesia dari penjajahan kaum
kafir Belanda, Portugis, Jepang, Inggris dan sekutunya.
Maka
aksi bela Islam dalam bentuk ‘jihad’ belum usai dan tak akan pernah usai hingga
akhir kehidupan dunia.
Karakter
ketiga adalah wa laa yakhoofuuna lawmata laaim
(tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela).
Umat
Islam yang digadang-gadang menjadi umat terdepan dalam mengemban amanat Ilahi
sebagai khalifah di muka bumi tak gentar dengan cercaan dan hinaan seberat
apapun itu.
Mereka
tidak memedulikan cemoohan yang dilontarkan oleh berbagai pihak terkait
kiprahnya dalam membela Islam. Tidak takut menjadi sasaran bully sebab ridha Allah
lah yang mereka buru dan cari.
Bagi
umat Islam yang memiliki karakter seperti ini, hinaan dan cercaan justru
menjadi pemompa semangat sikap istiqomah membela Allah dan Rasul, semakin
dihina mereka semakin yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar, benar
karena membela kebenaran, bukan merasa benar padahal membela hal-hal yang
menyimpang.
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi
Wassallam pernah menyampaikan sebuah petuah yang maknanya, jangan
karena rasa takut terhadap manusia kita enggan menyampaikan kebenaran kepada
khalayak. Sebab rasa takut itu tidak akan memendekkan umur dan menjauhkan
rezeki kita yang karenanya kita dilanda ketakutan dalam menyuarakan kebenaran.
Itulah
tiga karakter umat Islam sebagai tercantum dalam Al-Maidah 54 yang berada tiga
ayat setelah ayat larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin.
Mari
tunjukkan karakter keislaman kita, banggalah sebagai orang Islam, orang yang
beriman, bersikaplah santun kepada sesama muslim, tegas kepada orang kafir,
berani berjuang dan tahan banting dalam menghadapi beragam teror, intimidasi,
dan kriminalisasi seperti yang tengah dihadapi oleh sejumlah ulama dan habaib
akhir-akhir ini
Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
January 02, 2017
posted by @Adimin
MENGOKOHKAN IDENTITAS | Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc,. M.Ed
Written By Anonymous on 02 January, 2017 | January 02, 2017
| Irsyad Syafar Ketua DPW PKS Sumbar (Al Amin/PKSFoto) |
Dihari-hari pertama keberadaan Rasulullah saw dan para sahabat di kota Madinah, mereka senantiasa shalat 5 waktu berjamaah. Namun waktu itu belum ada cara atau alat yang digunakan untuk memanggil dan menandakan waktu shalat sudah masuk. Para sahabat hanya memperkirakan saja kapan waktu shalat masuk, sesuai arahan Nabi, lalu mereka berdatangan ke Masjid Nabawi.
Kondisi semacam ini tentunya cukup rumit dan tentu tidak akurat. Apalagi untuk memastikan semua datang shalat berjamaah ke masjid dalam waktu yang bersamaan. Sehingga muncullah waktu itu ide untuk menggunakan alat atau bunyian untuk memanggil shalat berjamaah. Ada yang mengusulkan terompet dan ada yang menyarankan penggunaan loceng.
Usulan-usulan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah saw. Karena keduanya merupakan identitas agama lain. Terompet adalah identitas yahudi dan lonceng adalah identitas nasrani.
Bertepatan pula waktu itu ada seorang sahabat Rasulullah (Abdullah bin Zaid) yang bermimpi, dimana dia dalam mimpinya diajarkan oleh malaikat kalimat-kalimat adzan. Maka Rasulullah saw langsung memerintahkannya untuk mengajarkan kalimat-kalimat tersebut kepada Bilal bin Rabbah. Dan kemudian Bilal yang mengumandangkan kalimat adzan tersebut karena suaranya yang keras dan indah. Ketika Umar mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin Khattab keluar dari rumahnya dan menemui Rasulullah saw, lalu berkata, "Demi Allah, saya juga bermimpi diajarkan kalimat-kalimat tersebut". Semenjak itu adzan menjadi pertanda masuknya waktu shalat sekaligus sarana untuk memanggil orang ke masjid. (Terdapat dalam HR Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Zaid serta HR Bukhari dari abu Ibnu Umar).
Sementara itu, selama berada di Madinah, Rasulullah saw shalat bersama para sahabat menghadap ke Masjidil Aqsa. Padahal sebelumnya saat di Makkah Beliau shalat menghadap Ka'bah. Sesampai di Madinah ini tidak bisa dilakukan. Sebab Makkah di selatan, sedangkan Masjidil Aqsa di utara.
Rasulullah saw tidak nyaman dengan kiblat seperti ini. Sebab kaum yahudi sering mengejek beliau dan sahabat akan kiblat yang sama ini dengan kiblat yahudi. Rasulullah saw sering menengokkan wajahnya ke langit, berharap kepada Allah diberikan kiblat yang lebih diredhai. Akhirnya setelah lebih dari satu setengah tahun, Allah menurunkan perintah arah kiblat ke Ka'bah di kota Makkah.
Begitulah kejelasan identitas bagi setiap muslim. Agar agama tidak tercampur dan jati diri tidak ambigu. Bagi kita agama kita, bagi mereka agama mereka.
Kejelasan identitas ini menjadi syariat dan ajaran yang sangat penting di dalam Al Quran dan Hadits-Hadits Rasulullah saw.
Allah berfirman:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115)
Artinya: "Barang siapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya kebenaran, dan dia mengikuti bukan cara hidup orang-orang beriman, maka akan Kami biarkan dia dengan perbuatannya, lalu Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali". (QS An Nisa: 115)
Ancaman Allah sangatlah keras bagi kaum muslimin yang mengikuti cara dan gaya hidup orang-orang non muslim. Yaitunya pembiaran yang menjebak dan diakhiri dengan adzab neraka yang sangat pedih.
Dari haditsnya seringkali Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk menyelisihi kaum yahudi dan nasrani. Mulai dari hal yang sederhana dari segi penampilan, pakaian dan kebiasaan serta hari raya, sampai kepada tata cara beribadah. Ini semua merupakan upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga dan menguatkan identitas keislaman.
Dan Rasulullah saw sudah memprediksi akan datangnya generasi dari umatnya yang meniru dan mengikuti kabiasaan dan gaya hidup kaum yahudi dan nasrani:
عن أبي سعيد رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " لتتبعن سَنن من قبلكم شبراً بشبرٍ وذراعاً بذراعٍ ، حتى لو سلكوا جحر ضبٍّ لسلكتموه ، قلنا : يا رسول الله اليهود والنصارى ؟ قال : فمن !؟ " ، رواه البخاري ( 3269 ) ومسلم ( 2669 ) .
Artinya: Sungguh kalian akan ikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai mereka masuk lobang biawak pun kalian ikuti". Para sahabat bertanya: "Apakah mereka kaum yahudi dan Nasrani, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Siapa lagi...".
Dan prediksi Rasulullah saw itu hari ini begitu mudah kita temukan buktinya. Tidak sedikit orang Islam yang melarutkan identitasnya dengan identitas kaum lainnya. Baik itu dengan kesadaran, ataupun karena ketidaktahuan.
Momen ujung tahun masehi adalah yang paling sering terjadi pelarutan identitas dan jati diri. Baik yang terkait natal apalagi yang berhubungan dengan tahun baru. Penyakit utamanya adalah ikut-ikutan. Lama kelamaan menjadi budaya dan kebiasaan.
Pesta tahun baru masehi bukanlah identitas bagi seorang muslim, dan ajaran Islam sangat jauh dari itu semua. Belum lagi hura-hura dan maksiat yang ditimbulkan dari pesta tersebut. Tentu itu hanya akan mengundang murka Allah SWT.
Rasulullah saw bersabda:
لا تكونوا إمعة ، تقولون : إن أحسن الناس أحسنا ، و إن ظلموا ظلمنا ، و لكن وطنوا أنفسكم إن أحسن الناس أن تحسنوا ، و إن أساؤوا فلا تظلموا (رواه الترمذي)
Artinya: "Janganlah kalian menjadi orang yang ikut2an. Kalian katakan: " Jika orang berbuat baik, aku juga berbuat baik. Jika mereka berbuat zhalim, aku juga berbuat zhalim. Akan tetapi kuatkanlah diri kalian. Jika mereka berbuat baik, maka kami berbuat baik pula. Jika mereka aniaya, maka janganlah kalian berbuat aniaya..." (HR Tirmidzi)
Saatnya setiap muslim mengokohkan identitas, menjaga harga diri dan jati diri. Bila perlu, kondisikan rumah dan keluarga bisa beramal shaleh maksimal di malam tahun baru.
Wallahu A'laa wa A'lam.
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 09, 2016
posted by @Adimin
Misi Pencerdasan Pada Sholat Gerhana
Written By Anonymous on 09 March, 2016 | March 09, 2016
Kehadiran agama Islam membawa misi untuk mencerdaskan kehidupan peradaban dunia. Berawal dari masyarakat jahiliyah Arab, Islam mulai mengikis kesalahkaprahan yang menjadi sebab kebodohan masyarakat zaman itu, menggantinya dengan pencerahan Robbani yang membuat kehidupan lebih baik.
Anggapan berhala bisa menyampaikan doa kepada Allah swt, anggapan anak wanita itu aib bagi keluarga, hingga anggapan bahwa gerhana merupakan pertanda kematian atau kelahiran, adalah noda-noda pemikiran yang perlu digerus.
Allah men-setting peristiwa demi peristiwa untuk menciptakan momentum pembersihan anasir kejahiliyahan. Misalnya dalam bab gerhana. Allah swt menyengajakan terjadinya gerhana matahari saat anak Nabi Muhammad saw, Ibrahim, meninggal dunia dalam usia batita. Pada momen itu Rasulullah membersihkan anggapan sesat masyarakat soal gerhana.
عن الْمُغِيرَةِ بْنَ شُعْبَةَ رضي الله عنه قَالَ انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah ra, berkata
”Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw. saat kematian Ibrahim”. Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang dan tidak karena kelahiran seseorang. Ketika kalian melihatnya, maka berdo’alah pada Allah dan shalatlah sampai selesai.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Saat ini manusia hidup di zaman modern di mana akses informasi dan teknologi mudah dijangkau. Berbagai anggapan takhayul dengan mudah dipatahkan. Tetapi kenyataannya sisa-sisa “bisikan” lokal kuno masih terngiang di masyarakat. Lihat saja, masih ada masyarakat yang harus membuat tempat ari-ari bayi yang diterangi dengan lampu. Tujuannya? Tak jelas. Atau masih ada masyarakat muslim yang berpegangan pada zodiak atau feng shui.
Padahal tidak ada yang mendatangkan manfaat dan mudhorot selain Allah swt. Sesuatu yang dianggap memiliki tuah tertentu tanpa bisa dijelaskan secara ilmiah, sudah barang tentu itu adalah khurafat atau tahayul yang harus dientaskan. Itu semua agar kita hanya bertawakkal kepada Allah swt, bukan malah bergantung pada makhluk atau sebab yang tak jelas.
Zico Alviandri
#RelawanLiterasi
#RelawanLiterasi
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
March 05, 2016
Keberkahan Hidup | Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc. M.Ed
Written By Anonymous on 05 March, 2016 | March 05, 2016
Kenikmatan hidup yang sesungguhnya adalah terletak pada keberkahannya. Berkah itu sangat sederhana. Tidak sulit mendeteksinya. Bisa langsung dievaluasi hari perhari.
Seberapakah hari ini kita mentaati Allah dan RasulNya, segitulah keberkahannya. Semakin maksimal kebaikan dan keshalehan kita hari ini, maka semakin berkahlah hidup kita.
Bahasa Al Quran menyebutkan dengan istilah hayaatan thayyibah, kehidupan yang baik.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ ....
"Barang siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia seorang mukmin, niscaya akan Kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik.... (QS An Nahl: 97).
Para mufassir di kalangan sahabat dan tabi'in menerangkan bahwa orang yang beramal saleh mengikuti tuntunan Al Quran dan as sunnah akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia, berupa rezeki yang halal, ibadah yang maksimal, kebahagiaan, rasa puas dan nyaman serta merasa cukup (qanaah).
Dalam bahasa haditsnya, Rasulullah menyatakan:
(قد أفلح من أسلم، ورزق كفافاً، وقنعه اللّه بما آتاه)
"Sungguh beruntung orang yang berislam (tunduk kpd Allah), diberi rezeki yang cukup dan diberikan qanaah oleh Allah atas pemberianNya... (HR Ahmad dan Turmidzi)
Karenanya, keberkahan hidup bukanlah karena banyaknya harta, tingginya jabatan dan popularitas, kalau itu semua kemudian menjauhkan diri dari Allah dan amal shaleh.
Seorang istri khalifah pernah menasehati suaminya:
إياك والكسب الحرام.... فإننا نصبر على الجوع, ولا نصبر على النار...
"Jangan engkau bawa rezeki yang haram. Sesungguhnya kami sanggup sabar menahan lapar. Tapi kami takkan mampu sabar menghadapi api neraka...."
Allahummahfazhnaa wasturnaa...
(H. Irsyad Syafar adalah Ketua DPW PKS SUMBAR, Juga Anggota DPRD Prov. SUMBAR F-PKS 2014 - 2019)
sumber: sumbar.pks.id
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
December 05, 2015
posted by @Adimin
Dakwah | Oleh H. Irsyad Syafar Ketua DPW PKS Sumbar
Written By Anonymous on 05 December, 2015 | December 05, 2015
Dakwah itu adalah perjuangan, pengorbanan dan militansi. Dakwah itu adalah memperbaiki apa-apa yang belum baik, memperindah apa-apa yang sudah baik. Dakwah adalah mengeluarkan manusia dari kekegelapan jahiliyah menuju cahaya keimanan. Dakwah itu adalah membuat hati-hati yang lalai dan alpa menjadi tersentak dan sadar. Dakwah itu adalah membangun tempat yang kondusif di dalam dada untuk berlabuhnya hidayah.
Karena itu, dakwah menghendaki pengorbanan dan totalitas. Bila engkau berikan hanya sebagian dari dirimu untuknya, maka dia takkan memberimu apa-apa. Jika engkau berikan segala-galanya, maka dia hanya memberimu sebagian. Maka dia akan tagih darimu waktumu, jiwamu, pikiranmu, perasaanmu, harta-bendamu dan ego pribadimu.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu. Dan mereka berjuang dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (Terjemahan QS Al Hujurat: 15)
Jika engkau mulai kikir dengan waktu, harta dan jiwamu untuk kemenangan dakwah, dan engkau berlari mengejar dunia dan perhiasannya, niscaya Allah akan menjadikan dirimu hina dan tidak berdaya. Dan kehinaan itu takkan hilang kecuali setelah engkau kembali (bertaubat) kepadaNya.
Pengorbanan dan perjuangan dalam berdakwah memang berat. Memerlukan jiwa yang beriman dan hati yang bersih. Karena itu, engkau mesti bekerja dan melakukan segala yang menguatkan iman dan membersihkan hati. Dakwah akan menuntut pengorbanan harta dan segala usaha. Maka, bersiap-siagaah selalu untuk itu.
Sesungguhnya apa yang engkau miliki adalah fana dan akan habis. Sedangkan apa yang di sisi Allah akan abadi dan berlipat-ganda. Sesungguhnya Allah membeli harta dan jiwa orang-orang beriman dengan harga termahal yaitu sorga, yang luasnya seluas langit dan bumi.
Janganlah engkau menjadi orang-orang yang celaka. Yaitu orang-orang yang menjadi budak dinar, budak dirham dan budak selimut.
Janganlah engkau menjadi orang-orang yang hina. Yaitu orang-orang yang kerjanya hanya makan dan bersenang-senang. Mereka bagaikan binatang yang kerjanya (dan pikirannya) hanya makan dan bersenang-senang. Lalu di akhirat kelak mereka pulangnya ke neraka. [irsyadsyafar.com]
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
August 07, 2015
posted by @Adimin
Tiga Cara Cerdas Memilih Pemimpin
Written By Sjam Deddy on 07 August, 2015 | August 07, 2015
Pemilihan pemimpin daerah serentak akan segera digelar. Melalui
pemilihan ini diharapkan lahir pemimpin yang amanah, bertanggung jawab,
dan dapat membawa perubahan kehidupan bangsa menjadi lebih baik.
Mengingat peran kepemimpinan sangat vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat tidak boleh salah dalam memilih pemimpin. Kesalahan menentukan pilihan selama lima menit dalam bilik surat akan turut menentukan nasib kehidupan bangsa lima tahun mendatang.
Karena saking pentingnya masalah kepemimpinan, sampai Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengangkat seorang pemimpin meskipun hanya bertiga (HR Abu Dawud). Karena itu, momentum lima tahunan ini tidak boleh disia-siakan atau golput. Tindakan golput atau tidak turut memilih berarti memberikan kesempatan untuk menang kepada calon pemimpin yang kurang baik.
Agar tidak salah dalam memilih, ada cara cerdas yang perlu diperhatikan dan ikuti. Pertama, pilihlah pemimpin yang terbaik. Pilihlah pemimpin yang amanah, bertanggung jawab, dan berkomitmen terhadap ajaran agamanya. Sebab, jika terhadap agamanya saja tidak punya komitmen menjalankan ajarannya, apalagi komitmen terhadap rakyat yang memilihnya.
Salah satu indikasi pemimpin yang berkomitmen terhadap agamanya adalah yang aktif ke masjid. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu melihat seseorang aktif ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang yang beriman (saleh). Karena Allah SWT berfirman bahwa yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Mardawaih, dan al-Hakim).
Dan termasuk kategori berkhianat kepada Allah, rasul-Nya, dan kaum Muslimin adalah jika tidak memilih pemimpin yang terbaik (saleh). Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang memilih seorang pemimpin padahal ia tahu ada orang yang lebih pantas (saleh), maka ia telah mengkhianati Allah, rasul-Nya, dan kaum Muslimin.” (HR Hakim). Naudzu billah.
Kedua, shalat Istikharah dan bermusyawarah. Jika mengalami kesulitan dalam memilih pemimpin, sebaiknya lakukan shalat Istikharah dan bermusyawarahlah dengan orang-orang yang mengetahui persoalan memilih pemimpin agar tidak salah.
Dalam hal ini Rasulullah SAW menegaskan tidak akan pernah kecewa orang-orang yang beristikharah dan tidak akan pernah menyesal pula orang-orang yang suka bermusyawarah (HR Ahmad).
Ketiga, hendaknya bertanya kepada ahlinya atau orang yang mengenal sepak terjang dan latar belakang calon pemimpin yang akan dipilih. Allah SWT menegaskan, “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak mengetahui.” (QS an-Nahl [16]: 43). Semoga Allah selalu membimbing masyarakat agar dapat memilih pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab. Amin
Mengingat peran kepemimpinan sangat vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat tidak boleh salah dalam memilih pemimpin. Kesalahan menentukan pilihan selama lima menit dalam bilik surat akan turut menentukan nasib kehidupan bangsa lima tahun mendatang.
Karena saking pentingnya masalah kepemimpinan, sampai Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengangkat seorang pemimpin meskipun hanya bertiga (HR Abu Dawud). Karena itu, momentum lima tahunan ini tidak boleh disia-siakan atau golput. Tindakan golput atau tidak turut memilih berarti memberikan kesempatan untuk menang kepada calon pemimpin yang kurang baik.
Agar tidak salah dalam memilih, ada cara cerdas yang perlu diperhatikan dan ikuti. Pertama, pilihlah pemimpin yang terbaik. Pilihlah pemimpin yang amanah, bertanggung jawab, dan berkomitmen terhadap ajaran agamanya. Sebab, jika terhadap agamanya saja tidak punya komitmen menjalankan ajarannya, apalagi komitmen terhadap rakyat yang memilihnya.
Salah satu indikasi pemimpin yang berkomitmen terhadap agamanya adalah yang aktif ke masjid. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu melihat seseorang aktif ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang yang beriman (saleh). Karena Allah SWT berfirman bahwa yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Mardawaih, dan al-Hakim).
Dan termasuk kategori berkhianat kepada Allah, rasul-Nya, dan kaum Muslimin adalah jika tidak memilih pemimpin yang terbaik (saleh). Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang memilih seorang pemimpin padahal ia tahu ada orang yang lebih pantas (saleh), maka ia telah mengkhianati Allah, rasul-Nya, dan kaum Muslimin.” (HR Hakim). Naudzu billah.
Kedua, shalat Istikharah dan bermusyawarah. Jika mengalami kesulitan dalam memilih pemimpin, sebaiknya lakukan shalat Istikharah dan bermusyawarahlah dengan orang-orang yang mengetahui persoalan memilih pemimpin agar tidak salah.
Dalam hal ini Rasulullah SAW menegaskan tidak akan pernah kecewa orang-orang yang beristikharah dan tidak akan pernah menyesal pula orang-orang yang suka bermusyawarah (HR Ahmad).
Ketiga, hendaknya bertanya kepada ahlinya atau orang yang mengenal sepak terjang dan latar belakang calon pemimpin yang akan dipilih. Allah SWT menegaskan, “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak mengetahui.” (QS an-Nahl [16]: 43). Semoga Allah selalu membimbing masyarakat agar dapat memilih pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab. Amin
Imam Nur Suharno
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
August 07, 2015
Rahasia Manajemen Waktu Rasulullah
Alquran dan sunah sangat perhatian terhadap waktu dari berbagai sisi dan
dengan gambaran yang bermacam-macam. Allah SWT telah bersumpah dengan
waktu-waktu tertentu dalam beberapa surah Alquran, seperti al-Lail
(waktu malam), an-Nahar (waktu siang), al-Fajr (waktu fajar), adh-Dhuha
(waktu matahari sepenggalahan naik), al-‘Ashr (masa).
Sebagaimana firman Allah (QS al-Lail 92: 1-2; QS al-Fajr 89: 1-2; QS adh-Dhuha 93: 1-2; QS al-‘Ashr 103: 1-2). Ketika Allah SWT bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.
Rasulullah SAW pun telah mengabarkan bahwasanya waktu adalah salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah kepada hamba-Nya yang harus disyukuri. Jika tidak, nikmat tersebut akan diangkat dan pergi meninggalkan pemiliknya.
Manifestasi dari syukur nikmat adalah dengan memanfaatkannya dalam ketaatan dan amal saleh. Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya: waktu luang dan kesehatan." (HR Bukhari).
Waktu luang adalah salah satu nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Maka Anda akan melihat mereka menyia-nyiakannya dan tidak mensyukurinya. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda, “Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR Hakim dishahihkan oleh Al Albani).
Allah memberikan kita setiap hari “modal” waktu kepada semua manusia adalah sama, yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Ada tujuh poin rahasia manajemen “modal” waktu Nabi Muhammad. Dalam waktu 23 tahun beliau telah membuat perubahan besar di Jazirah Arab. Hal ini terjadi lantaran bagusnya manajemen waktu Rasulullah.
Rahasia pertama adalah shalat fardhu sebagai ajang membentuk watak dan tonggak ritme hidup. Umat Islam telah membuat pemilahan waktu dalam sehari dengan jelas. Umat Islam memiliki trik manajemen waktu sehingga aktivitas kita dapat terprogram dengan baik.
Rahasia kedua, berpola pikir investasi, antimanajemen waktu instan. Maksudnya, jangan mengelola waktu dengan instan karena akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita sehingga kita dapat memetik hasilnya di kemudian hari.
Rahasia ketiga, terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma. Rahasia keempat adalah gunakan aji mumpung selagi ada peluang dan kesempatan.
Rahasia kelima adalah jauhi sikap menunda-nunda. Rahasia keenam adalah cepat tetapi jangan tergesa-gesa. Rahasia terakhir adalah rutin melakukan evaluasi. Ternyata beginilah Rasulullah menggunakan dan mengelola waktu, sungguh menghargai waktu dan tidak pernah menyia-nyiakannya dengan hal yang tak bermanfaat. Semoga.
Sebagaimana firman Allah (QS al-Lail 92: 1-2; QS al-Fajr 89: 1-2; QS adh-Dhuha 93: 1-2; QS al-‘Ashr 103: 1-2). Ketika Allah SWT bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.
Rasulullah SAW pun telah mengabarkan bahwasanya waktu adalah salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah kepada hamba-Nya yang harus disyukuri. Jika tidak, nikmat tersebut akan diangkat dan pergi meninggalkan pemiliknya.
Manifestasi dari syukur nikmat adalah dengan memanfaatkannya dalam ketaatan dan amal saleh. Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya: waktu luang dan kesehatan." (HR Bukhari).
Waktu luang adalah salah satu nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Maka Anda akan melihat mereka menyia-nyiakannya dan tidak mensyukurinya. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda, “Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR Hakim dishahihkan oleh Al Albani).
Allah memberikan kita setiap hari “modal” waktu kepada semua manusia adalah sama, yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Ada tujuh poin rahasia manajemen “modal” waktu Nabi Muhammad. Dalam waktu 23 tahun beliau telah membuat perubahan besar di Jazirah Arab. Hal ini terjadi lantaran bagusnya manajemen waktu Rasulullah.
Rahasia pertama adalah shalat fardhu sebagai ajang membentuk watak dan tonggak ritme hidup. Umat Islam telah membuat pemilahan waktu dalam sehari dengan jelas. Umat Islam memiliki trik manajemen waktu sehingga aktivitas kita dapat terprogram dengan baik.
Rahasia kedua, berpola pikir investasi, antimanajemen waktu instan. Maksudnya, jangan mengelola waktu dengan instan karena akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita sehingga kita dapat memetik hasilnya di kemudian hari.
Rahasia ketiga, terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma. Rahasia keempat adalah gunakan aji mumpung selagi ada peluang dan kesempatan.
Rahasia kelima adalah jauhi sikap menunda-nunda. Rahasia keenam adalah cepat tetapi jangan tergesa-gesa. Rahasia terakhir adalah rutin melakukan evaluasi. Ternyata beginilah Rasulullah menggunakan dan mengelola waktu, sungguh menghargai waktu dan tidak pernah menyia-nyiakannya dengan hal yang tak bermanfaat. Semoga.
Ahmad Agus Fitriawan
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
July 12, 2015
Oleh: Ahmad Kholili Hasib
posted by @Adimin
Islamisasi Pemikiran di Bulan Ramadhan
Written By Sjam Deddy on 12 July, 2015 | July 12, 2015
Bulan suci Ramadlan merupakan momentum tepat untuk membersihkan
virus-virus pemikiran. Termasuk virus liberal dan pluralism agama
SALAH satu produk dari
sekularisasi pemikiran adalah pemisahan antara ilmu dan agama. Ilmu
pengetahuan tidak dikaitkan dengan agama. Agama tidak mendapatkan tempat
dalam proses pengetahuan. Akibatnya adalah, agama tidak menjadi
parameter untuk mengukur benar dan salahnya suatu pengetahuan. Inilah
salah satu wujud liberalisasi pemikiran.
Liberalisasi pemikiran dan agama cenderung
menggiring kepada penistaan dan desakralisasi agama. Sebab,
sekularisasi membenci ajaran agama. Seseorang yang membenci agama
hatinya terkotori oleh hawa nafsu dan jauh dari Allah. Bentuk-bentuk
penghujatan itu bervariasi, mulai menghujat al-Qur’an hingga melegalkan
perkawinan sejenis. Jika diamati, penistaan-penistaan terhadap ajaran
Islam lebih terkesan emosional, mengumbar nafsu kebencian daripada kesan
akademik dan intelek.
Banyak di antara hujatan aktivis liberal
yang telah terekam media. Ada yang pernah mengatakan bahwa al-Qur’an
telah mengalami copy-editing yang dilakukan sahabat. Wujud al-Qur’an
bukan murni kalamullah. Seorang aktivis menulis bahwa Islam adalah
ajaran oplosan, campuran berbagai ajaran agama-agama. Ada cendekiawan
muda yang menista keagungan Allah sambil mengatakan “Memuja matahari itu
jauh lebih penting dari memuja selainnya. Dia selalu memberi kita pagi
yang indah ini”.
Jadi, Liberalisasi dan sekularisasi
sesungguhnya tidak menididik intelektual kaum Muslim, tapi membuka kran
pemikiran yang tidak bermoral. Problemnya kembali kepada hati dan
pikiran yang tidak bersih dari konsep-konsep pemikiran asing. Karena
mereka berdiri menentang hukum Allah. Kadangkala umat Islam tidak
tersadar mendukung kampanye sekularisasi. Oleh sebab itu, hati dan
pemikiran yang sekular harus diobati dengan membersihkan dari hawa
nafsu, untuk lebih dekat kepada Allah.
Bulan suci Ramadlan merupakan momentum
tepat untuk membersihkan virus-virus pemikiran. Ramadlan merupakan
‘madrasah’ untuk membersihkan hati manusia dan membakar (ramadl) kotoran
dosa dan nafsu. Ia juga disebut bulan ilmu. Di bulan suci ini Allah
subhanahu wa ta’ala untuk pertama kali menyeru manusia untuk membaca
(iqra’) melalui ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi
Muhammadshalallahu ‘alaihi wa sallam. Pembersihan hati diproses melalui
aktifitas keilmuan.
Bulan ini layaknya madrasah yang
dipersiapkan untuk mencetak individu-individu beradab (insan adabi).
Suasana bulan suci dengan semarah ibadah dan mengaji sangat mendukung
untuk melakukan proses islamisasi pemikiran. Masyarakat muslim biasanya
lebih taat ibadah pada bulan ini. Kemaksiatan juga relatif berkurang.
Oleh karena itu, aktifitas ini melibatkan pemikiran sekaligus hati.
Karena dalam Islam, ilmu harus dikaitkan dengan iman. Proses pembersihan
ini dapat disebut ‘Islamisasi’. Islamisasi adalah pembebasan jiwa dan
pikiran manusia dari unsur kebudayaan dan ajaran yang berlawanan dengan
Islam.
Jiwa yang Islami menurut Syed Naquib
al-Attas adalah jiwa yang akal dan bahasanya tidak terkungkung oleh
mitos, animisme dan budaya sekularisme. Setelah dilakukan pembersihan
terhadap unsur asing itu, maka jiwa dan pikiran dimasuki unsur-unsur
Islam. Mengembalikan hati untuk kembali beriman, membersihkan pemikiran
untuk patuh kepada syariat Allah. Di bulan Ramadlan, umat Islam dilatih
melawan hafwa nafsu. Terutama nafsu yang menentang hukum Allah.
Islamisasi pemikiran berarti memperbaiki
iman. Ilmu yang dimiliki seorang Muslim harus berdimensi iman. Mindset
pemikiran harus ditimbang dengan keyakinan asas dalam Islam, seperti
faham tentang Allah, konsep manusia, konsep hidup, konsep jiwa dan
faham-faham kunci lainnya. Karena berdimensi iman, maka epistemologi
Islam selalu bertaut dengan teologi secara dinamis.
Problem-problem pemikiran seperti maraknya
ideologi pluralisme, feminisme, relativisme, sekularisme, dan lain-lain
merupakan problem keyakinan. Keyakinan dan hati yang rusak tidak mampu
mengontrol pemikiran dan prilakuknya untuk menentang hukum Allah.
Oleh sebab itu, tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dapat disebut juga proses tazkiyatu al-fikr (pembersihan
pemikiran) sekaligus pembersihan iman. Dengan demikian, langkah
mengislamkan pemikiran yang pertama-tama perlu dilakukan adalah dengan
mengikuti petunjuk riyadlah al-nafs (melatih jiwa melawan hawa nafsu) seperti yang dijelaskan oleh imam al-Ghazali dalam kita Ihya’ Ulumuddin.
Keyakinan-keyakinan materialistik dalam hati harus dibersihkan. Sebab,
hati dan pikiran itu mengontrol dan membentuk perilaku. Beradab atau
bi-adabnya perilaku dipengaruhi oleh bersih dan kotornya jiwa.
Jadi, Ramadlan adalah ‘madrasah’ untuk
mengislamkan jiwa dan pikiran. Jiwa dan pikiran yang Islami, yaitu yang
bersih, selalu patuh dan tunduk kepada syariat Allah, beradab, bermoral
dan terbebas dari kekuasaan nafsu untuk membenci agama. Jiwa dan
pikiran yang patuh kepada-Nya terisi nilai-nilai suci, tiada nilai lain
kecuali nilai Islam dan kebenaran.
Ramadhan sengaja menjadi tempat untuk
mencetak jiwa-jiwa Islami, bukan jiwa yang sekular. Perbanyaklah ibadah,
sering-seringlah mengikuti kajian ilmu. Sekali-kali jangan beri
kesempatan nafsu untuk menguasai jiwa selama bulan puasa. Jika seusai
Ramadlan jiwa kita tetap sekular, maka kita gagal beribadah puasa
Ramadlan. Maka, siapkanlah diri sejak sekarang
Oleh: Ahmad Kholili Hasib
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
June 20, 2015
Pentingnya Menuntut Ilmu
Written By Sjam Deddy on 20 June, 2015 | June 20, 2015
Majelis ilmu itu
adalah majelis yang memudahkan jalan ke surga. Menuntut ilmu hukumnya wajib
baik bagi laki-laki maupun perempuan. Ilmu akan menuntut untuk membentuk akhlak
yang mulia. Allah sangat memuliakan orang yang berilmu. Dengan ilmu kita bisa
melaksanakan amal ibadah dengan sempurna. Ada sebuah istilah yang mengungkapkan
“tidak sempurnanya kewajiban karena sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib”
sesuatu itu diartikan dengan ilmu, di mana sebuah kegiatan wajib, tidak akan
sempurna tanpa mengetahui ilmunya. Contoh: Shalat merupakan ibadah wajib yang
harus dilakukan oleh umat Islam. Shalat mempunyai rukun dan syarat sah shalat
yang wajib dipenuhi oleh setiap orang yang mendirikan shalat. Maka agar shalat
menjadi sempurna, rukun shalat, syarat sah shalat, dan ilmu mengenai tata cara
shalat wajib dipelajari, sehingga kewajiban untuk melaksanakan shalat bisa
dilakukan dengan baik sesuai ilmunya.
Ilmu menjadi
konteks utama dalam suatu peradaban. Contohnya: Nabi Adam AS lebih dimuliakan
dibanding malaikat karena ilmu yang dimilikinya. Allah mengajarkan nama-nama
benda kepada Nabi Adam sehingga ia bisa menjawab benda-benda yang diperintahkan
oleh Allah untuk menyebutnya, sementara malaikat tidak bisa menyebut nama-nama
benda itu. Dengan ketinggian ilmu yang dimiliki oleh nabi Adam, Allah menyuruh
malaikat untuk memuliakan Nabi Adam dengan bersujud kepadanya. Ini membuktikan
bahwa Allah memuliakan orang-orang yang berilmu. Peristiwa ini diabadikan oleh
Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 31-35.
Sebelum Rasulullah
hadir di muka bumi, manusia berada pada masa kejahaliyaan. Hidup manusia berada
pada kondisi yang suram. Banyak terjadi pembunuhan terhadap anak perempuan,
minum-minuman, khamar, perendahan terhadap kaum wanita, menyembah berhala, dan
lain sebagainya. Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menyempurnakan akhlak
manusia. Dalam pengangkatan Nabi Muhammad menjadi nabi, ayat yang pertama
diturunkan adalah QS. Al-‘alaq ayat 1-5. Ayat pertama artinya “bacalah”, di
mana malaikat Jibril memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membaca. Hal ini
menunjukkan betapa Islam sangat mendorong manusia untuk menuntut ilmu.
Allah mengangkat
derajat orang yang beriman dan berilmu, sesuai dengan firman-Nya dalam QS.
Al-Mujaadilah ayat 11:
“Wahai orang-orang
yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam
majelis-majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, nisacaya
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti terhadap
apa yang kamu kerjakan”.
Barangsiapa yang
keluar meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu maka ia akan berada
di jalan Allah asalkan niatnya untuk mencari keridhaan Allah. Jadi jelaslah
bahwa setiap muslim wajib untuk menuntut ilmu karena ilmu sangat penting untuk
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
dakwatuna
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
May 19, 2015
posted by @Adimin
Dakwah Kebaikan Yang Tak Pernah Putus
Written By Anonymous on 19 May, 2015 | May 19, 2015

Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah yang telah menghimpun kita dalam partai dakwah ini. Semoga dengan syukur kita semuanya menjadi berkah. Berkah berarti ada kebaikan baru yang bertambah.
Seperti dakwah, dakwah adalah kerja kebaikan yang tak pernah putus. Pahalanya terus mengalir, seperti sabda Rasulullah saw.
“Barang siapa menunjukkan kebaikan, ia mendapat pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya.“ (HR. Muslim).
Satu orang yang kita dakwahi, lalu dia berubah dan melakukan kebaikan, maka kebaikan yang ia lakukan juga akan sampai kepada kita tanpa mengurangi pahalanya, dan begitu seterusnya.
Maka ikhwan wa akhwat fillah, dakwah adalah nikmat Allah. Dikatakan nikmat karena dakwah merupakan sebaik-baik amal, karena ia memelihara nilai-nilai Islam dalam pribadi dan masyarakat.
Dan bagi orang-orang yang berdakwah, Allah SWT menjanjikan kedudukan dan pertolongan-Nya.
“Intansurullaha yansurkum wayusabbit aqdamakum.” (Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu).
Selanjutnya, setelah kita berdakwah dan terlibat bersama gerakan dakwah, yang dibutuhkan adalah konsistensi atau yang sering kita sebut dengan “Istiqomah”.
Istiqomah ini susah, tantangannya susah, tapi pahalanya besar. Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat: 30).
Karenanya, mari kita berupaya agar tetap istiqomah. Kalau di awal- awal semangat, itu biasa. Tapi kalau udah berpuluh-puluh tahun tetap semangat, itu baru luar biasa.
Mari kita berdo’a semoga Allah SWT menguatkan dan menjaga keistiqomahan kita di dalam partai dakwah ini. Wallahu’alam.
[kabarpks.com]
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 08, 2015
posted by @Adimin
Penyakit Hati Orang "Sukses"
Written By dBisnis on 08 May, 2015 | May 08, 2015
Tiada godaan terhebat dari seorang yang sukses rizkinya, jabatannya,
popularitasnya, ilmunya, dan keturunannya kecuali bangga, kagum pada
dirinya sendiri, pongah, dan akhinya merendahkan orang lain.
Merasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling suci. Inilah penyakit hati orang sukses termasuk orang seperti abang ini.
Begini begitu kan kesannya saja padahal aib kekurangan seabrek abrek, untungnya saja aib abang dan kita semua masih ditutupi Allah.
Kalau dibuka pasti sangat malu dan hina. “Jangan kamu terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri” (QS Al-Qashash 76).
“Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa” (QS An-Najm 32).
Rasulullah mengingatkan mengulang sampai tiga kali, "Takutlah kalian pada al uzba" yaitu bangga kagum pada diri sendiri. Nasehat ini beliau arahkan pada para sahabat sahabat beliau yang shaleh dan hafal Alquran.
Memang dosa ujub ini lebih halus dari langkah semut, bisa jadi kesannya tawadhu tetapi di hati ingin dipuji, marah dihina ternyata karena berharap dipuji.
Inilah "dho'ful aqli wal iimaani" tanda lemahnya akal dan iman. Padahal sangat rugi, sudah cape-cape beramal dihancurkan kemudian dengan ujub.
Jadi, seringlah duduk di majlis Ilmu dan Zikir. Saat menengadah menatap wajah guru, rontoklah kebanggaan dirinya. Duduklah bersama faqir miskin, yatim piatu, orang-orang susah.
Ziarahilah kuburan, perkuat puasa sunnah, tadabburkan Alqur'an, perhebat istigfar. Dan selalu harus sempatkan diri secara khusus muhasabah diri selesai sholat malam, "siapa aku, darimana, dimana, dan mau kemana akhirnya aku?"
Sungguh tidak pantas bangga diri kecuali hanya Allah Maha Terpuji.
Sungguh ini abang tulis untuk diri abang yang banyak dosa ini, dan kalian sahabatku tercinta.
Allahumma ya Allah jadikanlah kami hambaMu yang Kau ridhoi minal mukhlishiin, berilah kami rizki teragung yaitu sifat ikhlas, dan bersihkan hati kami dari riya, sum'ah, ujub, dan semua penyakit hati... Aaamiin
Merasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling suci. Inilah penyakit hati orang sukses termasuk orang seperti abang ini.
Begini begitu kan kesannya saja padahal aib kekurangan seabrek abrek, untungnya saja aib abang dan kita semua masih ditutupi Allah.
Kalau dibuka pasti sangat malu dan hina. “Jangan kamu terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri” (QS Al-Qashash 76).
“Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa” (QS An-Najm 32).
Rasulullah mengingatkan mengulang sampai tiga kali, "Takutlah kalian pada al uzba" yaitu bangga kagum pada diri sendiri. Nasehat ini beliau arahkan pada para sahabat sahabat beliau yang shaleh dan hafal Alquran.
Memang dosa ujub ini lebih halus dari langkah semut, bisa jadi kesannya tawadhu tetapi di hati ingin dipuji, marah dihina ternyata karena berharap dipuji.
Inilah "dho'ful aqli wal iimaani" tanda lemahnya akal dan iman. Padahal sangat rugi, sudah cape-cape beramal dihancurkan kemudian dengan ujub.
Jadi, seringlah duduk di majlis Ilmu dan Zikir. Saat menengadah menatap wajah guru, rontoklah kebanggaan dirinya. Duduklah bersama faqir miskin, yatim piatu, orang-orang susah.
Ziarahilah kuburan, perkuat puasa sunnah, tadabburkan Alqur'an, perhebat istigfar. Dan selalu harus sempatkan diri secara khusus muhasabah diri selesai sholat malam, "siapa aku, darimana, dimana, dan mau kemana akhirnya aku?"
Sungguh tidak pantas bangga diri kecuali hanya Allah Maha Terpuji.
Sungguh ini abang tulis untuk diri abang yang banyak dosa ini, dan kalian sahabatku tercinta.
Allahumma ya Allah jadikanlah kami hambaMu yang Kau ridhoi minal mukhlishiin, berilah kami rizki teragung yaitu sifat ikhlas, dan bersihkan hati kami dari riya, sum'ah, ujub, dan semua penyakit hati... Aaamiin
M. Arifin Ilham
sumber : republika
sumber : republika
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN








