pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Perangkat Nilai “Mesin” Dakwah

Written By @Adimin on 25 June, 2012 | June 25, 2012



Bekerja di ladang dakwah telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran kepada kita semua. Semakin hari semestinya kita menjadi semakin dewasa, karena dimatangkan oleh peristiwa demi peristiwa, oleh benturan, oleh gesekan, oleh program yang berkesinambungan.

Ketika dakwah mampu menghimpun para aktivis dalam sebuah tatanan, sesungguhnya pada dirinya terkandung dua sisi sekaligus. Pertama sisi potensi yang melimpah ruah, oleh karena dakwah akan dikuatkan oleh berbagai potensi yang dibawa oleh setiap aktivis. Namun pada sisi lainnya, terdapat pula peluang terjadinya gesekan tingkat tinggi, karena semua orang memiliki kemampuan yang setara untuk memimpin dan menempati posisi strategis.

Misalnya saat menentukan kepemimpinan lembaga dakwah, semua aktivis pada hakikatnya memiliki kemampuan, kapasitas, dan kapabilitas yang setara. Artinya, semua aktivis memiliki peluang yang sama dalam menempati posisi tersebut. Demikian pula saat menentukan personal untuk menempati pos-pos strategis dalam dakwah, baik di dalam lembaga maupun di luar lembaga, semua aktivis relatif memiliki kapasitas yang setara untuk mendudukinya.

Para pemimpin sering kesulitan saat harus memilih personal, bukan karena tidak ada potensi, namun justru karena semua aktivis memiliki potensi. Sementara pos-pos strategis baik internal maupun eksternal jumlahnya cukup terbatas, yang tentu saja tidak mungkin mampu mewadahi semua aktivis. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus memilih. Bagi yang tidak terpilih, bukan berarti “tidak potensial” atau “tidak terpakai”, sesungguhnyalah semua ingin dipilih, namun pos yang ada sangat terbatas.

Gesekan Adalah Keniscayaan
Setiap titik interaksi kita, selalu menimbulkan gesekan. Walaupun interaksi itu seluruhnya dalam kebaikan, tidak ada satupun yang bernilai kejahatan. Namun selalu menimbulkan gesekan. Justru karena saling bergesekan antara satu komponen dengan komponen lainnya itulah yang menyebabkan mesin menjadi berfungsi dan bisa menggerakkan roda mobil.

Gesekan itu kadang terasa menyakitkan, justru karena kita semua menginginkan kebaikan. Sejak awal kita “menjadi mesin” yang menggerakkan roda perjalanan dakwah, sepenuhnya telah sadar, bahwa apapun akan kita tempuh untuk mencapai tujuan mulia. Kita menyadari ada bahaya dan hambatan dari luar, namun amat banyak pula yang berasal dari dalam.

Manajemen apapun tidak akan bisa menghindarkan kita dari saling bergesekan, karena sebagai mesin kita semua harus bergerak. Satu komponen berpengaruh dan terhubung dengan komponen lain, saling berinteraksi secara positif, sehingga bergeraklah roda dakwah. Namun sepanjang perjalanan, mesin tentu mengalami pemanasan, dan semakin kencang laju mobil dakwah, semakin kuat pula gesekan antar komponen.

Manajemen yang diperlukan bukanlah menghindarkan gesekan antar komponen, namun manajemen untuk melicinkannya, agar gesekan yang terjadi sebagai sebuah keharusan tidak saling menyakiti dan tidak saling melukai. Semua komponen diperlkukan, walau hanya mur dan baut, walau hanya karet penghubung, namun seluruhnya menjadi satu kesatuan untuk berfungsinya mesin dengan baik.

Pada banyak kalangan partai politik, gesekan bisa sedemikian keras dan kasar. Dampaknya, sebagian pihak terlempar, sebagian terjatuh, sebagian terbuang, sebagian tersingkirkan, dan sebagian lainnya berkuasa. Mereka tidak tahan terhadap gesekan, karena memiliki watak ingin menguasai. Semua komponen ingin mengalahkan dan menjatuhkan yang lainnya, dalam sebuah rivalitas yang amat keras.

Sepuluh Perangkat Nilai

Bersyukur, dalam dakwah telah disiapkan perangkat yang memungkinkan semua komponen siap untuk bekerja dengan optimal. Perangkat paling utama bernama kepahaman. Dengan perangkat ini semua komponen mengerti berbagai tuntutan perjalanan dakwah sehingga mampu menyiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.

Perangkat kedua adalah keikhlasan. Dengan landasan keikhlasan, berbagai gesekan tidak sampai menimbulkan korban yang berjatuhan. Bukankah kita semua bekerja untuk mencari ridha Allah dan bukan mencari jabatan, kemuliaan, popularitas, kedudukan dan lain sebagainya.

Perangkat ketiga adalah amal yang berkesinambungan. Bekerja dalam dakwah memerlukan kontinuitas amal, sehingga menuntut bekerjanya semua komponen mesin dakwah setiap saat. Dakwah tidak akan berhenti hanya oleh karena ketakutan terkena dampak gesekan.
Perangkat keempat adalah kesungguhan atau jihad. Semua komponen dituntut untuk melaksanakan kegiatan dan agenda dakwah sepenuh kesungguhan. Termasuk bersungguh-sungguh menyiapkan jiwa agar memiliki daya tahah prima di medan dakwah yang penuh tantangan.

Perangkat kelima adalah pengorbanan. Dakwah tidak akan bisa berjalan tanpa didukung pengorbanan. Semua komponen siap memberikan pengorbanan terbaik demi tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Termasuk mengorbankan “gengsi” diri, dalam rangka mencapai tujuan dakwah.

Perangkat keenam adalah ketaatan. Semua pihak dalam tatanan dakwah harus memiliki ketaatan terhadap rujukan utama dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam tataran praktis, dituntut pula memiliki ketaatan terhadap manhaj dakwah, serta keputusan lembaga dan para pimpinan, walaupun di antara isi keputusan tersebut ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.

Perangkat ketujuh adalah keteguhan. Seluruh aktivis dakwah harus memiliki keteguhan dan ketegaran dalam menapaki jalan dakwah. Sangat banyak cobaan dan hambatan di sepanjang perjalanan dakwah, hanya aktivis yang memiliki keteguhan hati, ketegaran jiwa, kekokohan sikap, yang akan mampu melewatinya.
Perangkat kedelapan adalah kemurnian. Dakwah menuntut kemurnian hati, pemikiran dan aktivitas. Dakwah menghajatkan kemurnian orientasi, niat dan tujuan, agar terbebaskan dari penyimpangan tujuan yang sangat membahayakan.

Perangkat kesembilan adalah persaudaraan. Kita semua diikat dalam sebuah tali persaudaraan yang kuat. Setiap kita lebih mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri. Kita bahagia jika mampu membahagiakan saudaranya. Semua kita menjadi bersedih jika membuat saudaranya berduka. Kebersamaan adalah kunci kemenangan dakwah.

Perangkat kesepuluh adalah kepercayaan. Ikatan dalam dakwah bukanlah materi, bukan jabatan, bukan kedudukan duniawi, namun ikatan visi, ikatan tujuan, ikatan iman, ikatan manhaj. Oleh karena itu sangat diperlukan saling kepercayaan antara satu bagian dengan bagian lainnya, antara pimpinan dengan anggota, dan antara sesama aktivis dakwah.
Saya selalu merangkai sepuluh perangkat tersebut dalam satu kesatuan. Saya selalu melihat kesepuluh perangkat itu adalah mutiara berkilauan. Sebelum berbicara manajemen praktis, kita terlebih dahulu diikat oleh sepuluh perangkat nilai, yang menyebabkan kita mampu melewati semua mihwar, semua tahapan, semua fase dalam dakwah, kendati sangat banyak gesekan dalam menjalankan kegiatan.

Sumber


Posted by Adimin

Konsolidasi Internal DPD Padang dan Pengurus DPC

Seiring dengan berputarnya waktu dan terus bergeraknya roda dakwah Partai Keadilan Sejahtera maka kali ini DPD PKS Kota Padang mengadakan konsolidasi internal antara DPD dan DPC. Kegiatan ini dilakukan di Rumah makan Mama restu dikawasan Tarandam, turut serta struktur DPD PKS Kota Padang diantaranya Ketum DPD Padang Ust. Drs. Muhidi, MM bersama Sekum Ust. Muharlion, SPd serta beberapa Ketua-ketua DPC yang ada di kota Padang beserta Ketua Bidang Kaderisasi masing masing DPC.
Dalam arahannya Ust Muhidi, MM menyampaikan perlunya pengurus DPC untuk segera bergerak dalam mengimplementasikan program-program unggulan yang sudah dirumuskan pada Rakorda PKS Padang beberapa saat yang lalu. Beliau menyampaikan bahwa sudah saatnya struktur pengurus DPC dan DPRa untuk terjun kemasyarakat luas agar nantinya masyarakat lebih merasakan manfaat dari Partai Keadilan Sejahtera. Acara berlangsung gayeng, serius tapi santai diselingi dengan snack yang membangkitkan selera.
Setelah sholat maghrib peserta syuron makan malam bersama dan langsung dilanjutkan dengan diskusi antara pengurus DPD dan DPC. Dalam diskusi itu masing masing DPC menyampaikan kendala kendala yang dihadapi dilapangan dan kemudian diberikan arahan oleh Ust Muhidi, bagaimana caranya melakukan kiat-kiat agar DPC dan DPRa bisa lebih eksis dan keberadaannya sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Acara selesai sekitar waktu sholat Isya yang diringi dengan semangat membara pada diri masing masing pengurus DPC untuk berbakti dan bekerja untuk Padang yang lebih baik insyaALLAH . . . . . . . .

Posted by Adimin

Mesir : Pertarungan Sepanjang Sejarah Antara Ikhwan dengan Militer

Written By @Adimin on 23 June, 2012 | June 23, 2012


Nampaknya akan terus terjadi pertarungan sepanjang sejarah antara Ikhwan dengan militer Mesir. Tak pernah putus-putus. Ikhwan yang ingin membebaskan Mesir dari belenggu penjajah Barat, sementara itu militer menjadi garda paling terdepan dalam membela kepentingan dan ideologi Barat. Sekalipun sekarang sudah mulai terjadi perubahan.

Inilah yang menjadi persoalan besar dalam sisi kemanusiaan. Karena akan membawa dampak bagi masa depan bangsa Mesir.

Ikhwan sudah sangat akomodatif dan menyesuaikan diri ldengan kecenderungan global yaitu memanfaatkan demokrasi guna memperbaiki sistem kehidupan bangsa Mesir. Ikhwan sudah bersedia ikut dalam format Barat, yaitu demokrasi, serta pemilihan.

Lagi-lagi partisipasi Ikhwan dalam politik yang sifatnya legal itu, justeru hasilnya ditolak militer. Dengan berbagai rekayasa konstitusi, militer menghalangi Ikhwan, dan berusaha menganulir hasil pemilihan, dan bahkan ingin mengeliminir peran politik Ikhwan.

Dengan kondisi seperti itu, seperti tak pernah berubah pola hubungan antara IKhwan dengan militer, dan akan selalu berhadap-hadapan. Tentu tidak ada yang diuntungkan, dan hanya membawa kehancuran bangsa Mesir.

Militer menolak hasi pemilihan parlemen yang dimenangkan oleh Ikhwan. Militer juga kemungkinan menolak hasil pemilihan presiden yang dimenangkan calon Ikhwan, yaitu Mohammad Mursi. Militer tidak mau mengalihkan kekuasaan sepenuhnya kepada sipil, dan bersikukuh ingin tetap memegang kekuasaan.

Kondisi di Mesir sangat berbahaya. Hanya dengan dalam hitungan hari, kemungkinan akan meledak konflik terbuka antara Ikhwan dengan militer. Meskipun, secara eksplisit Wakil Mursyid 'Aam, Jamaah Ikhwanul Muslimin, Khairat al-Shater, menolak kemungkinan Mesir akan jatuh ke dalam skenario seperti yang terjadi di Aljazair. Al-Shater tetap berkomitmen akan menggunakan cara-cara yang non-kekerasan. Termasuk seperti melakukan pembangkangan sipil dalam menghadapi militer.

Ikhwan dengan dukungan kekuatan perubahan, seperti Salafi, kalangan nasionalis, sosialis, kelompok gerakan pemuda 6 Mei, dan sejumlah elemen gerakan sipil lainnya, yang ingin mengakhiri kekuasaan militer, mereka bersatu, dan bersama-sama menggalang kekuatan, serta mereka melakukan aksi protes di Tahrir Square, yang menolak campur tangan militer.

Militer tetap bersikukuh tidak mau membagi kekuasan dan menyerahkan kekuasaan kepada kalangan sipil, terutama kalangan Islamis, yang secara terbuka memenangkan pemilihan melalui proses demokrasi.

Perjuangan kaum Islamis di Mesir ini, masih sangat panjang, dan belum jelas, bagaimana akhir dari perjuangan mereka dalam menghadapi hegemoni militer. Konflik antara Ikhwan dengan para penguasa dan militer Mesir, sudah berlangsung sejak lahirnya Gerakan Ikhwan, di tahun 1928. Mulai dari Raja Farouk, Jenderal Muhammad Najib, Jenderal Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat, sampai Marsekal Hosni Mubarak. Bahkan, yang paling keras konflik antara Ikhwan dengan Jenderal Gamal Abdul Nasser. Meskipun, mulanya Nasser adalah anggota Ikhwan, yang direkrut langsung oleh Hassan al-Banna.

Tetapi, ketika Nasser berkuasa, bukan hanya meninggalkan Ikhwan, tetapi Nasser membuat makar terhadap Ikhwan, dan membumihanguskan gerakan itu, sampai dalam skala yang sangat luas. Ribuan tokoh dan anggota Ikhwan yang ditangkap dan dipenjara, dihukum mati, dan sebagian diusir dari Mesri.

Sekarang ini, kemungkinan akan berulang lagi, konflik yang paling buruk antara Ikhwan dengan militer. Di mana komisi pemilihan yang menjadi alat militer itu, bisa mengambil keputusan besok atau lusa, mengumumkan hasil pemilihan presiden dengan memberikan kemenangan kepada Marsekal Ahmed Shafiq, yang menjadi representasi dari rezim militer dan mantan Presiden Hosni Mubarak.

Apakah puncak ketegangan antara Ikhwan yang didukung seluruh kekuatan sipil di Mesir dengan militer ini, berakhir dengan konflik terbuka, dan menjadi perang terbuka antara kekuatan sipil melawan militer?

Ini hanya akan dapat dilihat dalam beberapa hari mendatang. Perang terbuka antara sipil dengan militer di Mesir, kemungkinan bisa saja terjadi, akibat puncak kekecewaan rakyat Mesir terhadap militer, yang berkuasa selama puluhan dekade.

Jum'at kemarin, ratusan ribu rakyat Mesir, melakukan unjuk rasa di Tahrir Square, yang menolak campur tangan militer, dan meminta segera militer menyerahkan kekuasaaannya kepada sipil.

Kekuatan sipil di Mesir, yang digalang Ikhwan bertekad terus melakukan protes, dan menentang kekuasaan militer, dan tidak mau memberikan konsesi politik kepada militer. Sehingga, ini menjadi suatu bencana masa depan bagi bangsa Mesir.

Kalau terjadi pemberontakan sipil, yang akan berlangsung sangat keras, maka kemungkinan akan banyak jatuh korban.

Militer sudah mengerahkan seluruh kekuatannya, dan masuk ke pusat kota Cairo, mengantisipasi aksi yang bakal terjadi bersamaan dengan pengumuman hasil pemilihan presiden yang kemungkinan akan sesuai dengan skanerio militer, yaitu memberikan kemenangan kepada Marsekal Ahmed Shafiq. Sementara itu, Shafiq menjadi simbol militer dan rezim lama, dibawah Hosni Mubarak.

Militer sudah mengeluarkan pernyataan selama empat menit melalui televisi negara dengan nada yang sangat keras, Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) menegaskan tidak akan mengindahkan seruan kelompok-kelompok sipil yang sekarang berkumpul di Tahrir Square, dan menolak mencabut dekrit yang sudah dikeluarkan yang membubarkan parlemen, dan memperluas kekuasaannya.

Ikhwan dengan sangat tegas mengecam tindakan militer sebagai "tidak konstitusional". Kebuntuan antara dua kekuatan terkuat Mesir, tampaknya terus mengeras, dan membuat keraguan yang serius terhadap prospek demokrasi di Mesir.

Mohamed Beltagy, anggota senior Ikhwan, mengatakan Ikhwan akan terus menolak keputusan SCAF, di mana militer membubarkan parlemen baru. "Para pemimpin Ikhwan menyatakan kembali penolakannya terhadap deklarasi konstitusi, yang itu sendiri tidak konstitusional," tambah Beltagy. "Dewan militer tidak memiliki hak hukum mengeluarkan dekrit", tambah Beltaqy.

Pernyataan militer terbaru, menurut Hassan Nafaa, seorang analis politik, dan seorang pengecam Mubarak, mengatakan: "Pernyataan Dewan militer dimaksudkan untuk menakut-nakuti rakyat, dan memadamkan semangat revolusioner bangsa Mesir, melalui nada yang otoriter,di mana pernyataan itu disampaikan", ungkapnya.

"Ini revolusi klasik yang akan dilawan oleh kekuatan para demonstran," kata Safwat Ismail, 43, anggota Ikhwanul Muslimin yang datang dari Delta Nil. "Saya tetap tinggal di Tahrir Square ini sampai militer turun", tambahnya. mi


Sumber

Posted by Adimin

Rahasia Kemenangan Moursi

Written By @Adimin on 20 June, 2012 | June 20, 2012


Hanya 23 hari waktu yang dimiliki timses Moursi sebelum masa tenang pilpres putaran pertama. Terhitung sejak kegagalan capres ikhwan yang pertama Khaerut Shater pada proses verifikasi capres. Dengan sedikit waktu yang tersedia praktis menjadi tantangan tersendiri bagi timses Moursi untuk mengenalkan capres yang mereka usung. Berbeda dengan calon lain yang sudah melakukan sosialisai sejak awal. Namun dengan kemenangan yang diraih oleh Moursi membuat orang bertanya-tanya. Apa rahasia di balik kemenangan Moursi menjadi orang nomor satu mesir? Secara garis besar, kemenangan Moursi dalam pertarungan pilpres dapat diketahui dengan mengetahui beberapa faktor:

Pertama, Militansi Kader Ikhwan

Bukan rahasia lagi jika kekuatan kader ikhwan menjadi rahasia utama kemenangan capres Moursi. Selain jumlahnya yang signifikan loyalitas kader ikhwan juga tidak diragukan lagi. Sebanyak 7 juta kader ikhwan tersebar di semua wilayah Mesir dan setiap saat siap digerakan untuk memenangkan pemilihan.

Khusus kader ikhwan yang berusia muda, hampir rata-rata memiliki kemampuan tekhnologi yang memadai. Mereka juga telah akrab dengan dunia maya. Selain sebagai media sosialisasi, jejaring sosial seperti facebook dan twiter juga digunakan untuk mengkanter isu negatif yang dilancarkan oleh pendukung calon lain.

Pada hari pemilihan setiap kader ikhwan mendapat amanah untuk membawa setidaknya 50 pemilih di luar kader ikhwan. Selain itu, proses pencoblosan yang berlangsung selama dua hari membuat potensi kecurangan juga cukup besar. Untuk itu, di setiap TPS Ikhwan menempatkan setidaknya 20 orang untuk menjaga dan mengamankan suara sampai proses pencoblosan selesai. Secara bergantian, mereka mengamankan TPS selama 2 x 24 jam.

Di beberapa propinsi ikhwan juga menyediakan bus jemputan untuk mengantar pemilih ke TPS. Mengingat di banyak tempat jarak antara rumah warga dengan TPS mencapai 3 kilo meter bahkan lebih. Belum lagi mesir yang sedang memasuki musim panas. Pada siang hari suhu udara bisa mencapai 40 derajat. Bus-bus jemputan disediakan terutama untuk melayani ibu-ibu dan lansia.

Tidak diperbolehkannya masing-masing timses capres mendapatkan salinan DPT pemilih tidak mengurangi militansi kader terutama akhwat. Di sebuah TPS misalnya, dijumpai beberapa akhwat yang berdiri di depan antrian pemilih. Sebelum masuk ke bilik pencoblosan, satu persatu pemilih ditanya perihal capres yang akan dipilih. Jika jawabannya adalah Moursi maka dengan senyum mengembang mereka mengucapkan terima kasih dan sesegera mungkin rekannya memberikan tanda pada kertas yang bergambar Moursi. Begitu juga saat jawaban pemilih adalah Syafiq.

Sedang di tempat lain kader ikhwan bahu membahu membantu pemilih dengan menyediakan tenda darurat bagi warga yang sedang antri untuk melindungi warga dari panas.

Kedua, Bekal Pengalaman Pemilu Legislatif

Keikutsertaan ikhwan dalam pilpres mesir cukup mengejutkan banyak pihak. Mengingat jauh-jauh hari ikhwan menyatakan tidak akan mengajukan capres untuk pertarungan pilpres mesir. pada awalnya ikhwan hanya akan berkonsentrasi pada pemilihan anggota legislatif. Hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya pembenahan dan perbaikan undang-undang mesir.

Namun masa depan revolusi mesir yang semakin terancam menuntut Ikhwan sebagai pemenang pemilu untuk mengajukan calon. Pada akhirnya ikhwan mengajukan Moursi menjadi capres setelah sebelumnya capres Khaerut Shater tidak lolos verifikasi di Komisi Pemilihan. Hal ini membuat mesin politik ikhwan, partai hurriyah wal Adalah yang sempat dingin kembali memanas. Sejak hari pertama pencalonan mesin partai yang tersebar di seluruh wilayah langsung digerakkan.

Kemenangan 47% pemilu legislatif beberapa bulan sebelumnya agaknya menjadi pengalaman berharga untuk kembali memenangi pertarungan. Terbukti pada dua kali pemilihan Moursi mampu mengungguli capres lainnya yang didukung oleh kekuatan materi juga media. Pengalaman yang didapat dari pemilihan legislatif tidak hanya pada pola sosialisasi calon. Lebih dari itu, pada pilpres kali ini ikhwan telah siap mengantisipasi potensi kecurangan yang mungkin terjadi selama proses pemilihan. Termasuk menghadapi black campain yang dilancarkan calon lain melalui media.

Ketiga, Variasi Kampanye

Sebab lain kemenangan Moursi dalam pilpres kali ini adalah variasi kampanye yang dilakukan kader ikhwan. Tidak hanya militansi, kader ikhwan juga kreatif. Dalam berbagai kampanye yang dilakukan, ikhwan mampu menarik massa dalam jumlah besar. Sebuah hal yang tidak bisa dilakukan oleh timses capres lain.

Menurut salah satu anggota tim pemenangan Moursi, salah satu faktor kemenangan Moursi dalam pilpres kali ini adalah kemampuan kader dalam menembus semua lapisan masyarakat untuk memperkenalkan program-program Moursi untuk 4 tahun ke depan. Serta visi pembangunan mesir untuk jangka waktu 20 tahun ke depan. Dan yang terpenting adalah program 100 hari pertama Moursi yang akan memprioritaskan pada keamanan dan penyediaan kebutuhan pokok masyarakat yang sempat bermasalah beberapa bulan terakhir.

Sejak menit pertama pengumuman resmi Majelis Syuro ikhwanul muslimin terkait pancalonan, kader ikhwan langsung bekerja di lapangan. Sebanyak 812 markas pemenangan didirikan di semua wilayah. Hal menarik lain sebagaimana diungkap adalah, bahwa tumpuan utama mesin pergerakan bukan pada markas-markas pemenangan. Namun tertumpu langsung pada setiap kader yang jumlahnya jutaan dan tersebar di seluruh wilayah mesir.

Sebuah prestasi yang tidak dimiliki timses lain, dimana timses Moursi mampu mendokumentasikan puluhan ribu video dengan berbagai durasi waktu. Serta jutaan foto dan gambar dalam berbagai momen. Setelah itu video dan gambar tersebut disebarkan melalui internet. Dalam waktu kurang dari satu bulan timses Moursi juga mampu menggelar setidaknya 971 kampanye terbuka. Dan lebih dari 1677 kali parade kendaraan yang mampu menembus semua wilayah propinsi yang ada di mesir baik pedesaan maupun perkotaan.

Berbagai kreatifitas selama proses kampanye juga semakin dirasakan mengalami kemajuan dibanding pada pemilu legislatif. Namun hal terpenting dari semua kreatifitas itu adalah keberhasilan timses dalam mengenalkan program pembangunan capres ikhwan. Hingga meyakinkan warga untuk tidak ragu memilih Moursi.

Atas semua kerja dan prestasi ini pantaslah kemenangan menjadi milik umat. Semua kader ikhwan yang bekerja di semua lini, bekerja dengan semangat dan tanpa pamrih. Tidak ada yang diharapkan dari semua itu kecuali ridho Allah SWT dan kemenangan islam. Wallahu A’lam Bisshowab. ( Dikutip dari beberapa surat kabar mesir)

Dan katakanlah, “ Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanm, begitu juga rasul-Nya dan orang orang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang ghaib dan nyata, lalu diberikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Attaubah: 105)


sumber


Posted by Adimin

MISI DAKWAH KITA: PERUBAHAN DAN PERBAIKAN

Written By @Adimin on 19 June, 2012 | June 19, 2012

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:

Urgensi Dakwah

Dakwah adalah ajakan seorang Muslim kepada orang lain, baik sesama Muslim maupun non-Muslim, untuk mengikuti perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana firman-Nya,

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl: 125).

Dakwah adalah sesuatu yang melekat pada diri Muslim sehingga tidak ada alasan sedikit pun bagi seseorang, yang bahkan hanya memiliki sedikit pengetahuan yang benar dan bermanfaat, untuk menghindar dari tugas-tugas dakwah sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (H.R Bukhari).

Dakwah dapat dilakukan dengan lisan, tulisan, perbuatan, atau sikap keteladanan. Dakwah juga dapat dilakukan secara sendiri-sendiri atau berkelompok, melalui organisasi sosial, partai politik, dan organisasi negara. Dakwah dapat dilakukan kepada keluarga sendiri, orang-orang di dalam negeri, di luar negeri, dan yang terpenting terhadap diri sendiri. Sedemikian luasnya arti komitmen kepada dakwah, sampai-sampai Rasulullah SAW merumuskan esensi Islam dari aspek ini. Sabdanya, “Agama adalah nasihat.” Ibnu Aus dan para sahabat bertanya, “Bagi siapa ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah SAW, “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemuka muslimin serta rakyat mereka.” (H.R Muslim). Jabir bin Abdullah RA berkata, “Aku berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk tetap shalat, membayar zakat dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Pahala orang berdakwah demikian besarnya dan tak dapat ditimbang dengan ukuran-ukuran material sehingga yang menjadi ukuran keberhasilan dakwah adalah upayanya itu sendiri serta hidayah orang-orang yang mau menerimanya. Berjihad adalah dakwah, tetapi berjihad bukanlah untuk mengharapkan ghanimah, meski pengorbanan harta telah demikian besar dikeluarkan. Ali bin Abi Thalib RA yang diamanahi memimpin Perang Khaibar ketika menerima panji-panji bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya, apakah mereka langsung diperangi sampai mau (masuk Islam) seperti kami?”

Rasulullah SAW bersabda, “Berlaku tenanglah sampai di kawasan mereka, lalu dakwahilah mereka kepada Islam dan kabarkanlah kepada mereka hal-hal yang wajib mereka lakukan atas hak-hak Allah. Demi Allah, jika Allah menunjuki seseorang lewat dakwahmu, maka yang demikian itu lebih baik bagimu, melebihi hasil ghanimah besar yang terdiri dari hewan ternak terbaik.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Perubahan ke arah perbaikan: Esensi hasil dakwah

Perubahan adalah tema utama dari proses yang dikelola dalam kerja-kerja dakwah, sebagaimana firman Allah SWT,

“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11). Perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat atau negara tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada individu-individu, sehingga dakwah Islam adalah dakwah yang ditujukan kepada hati-hati dari individu itu.

Tidak sekadar perubahan-perubahan yang bersifat permukaan, sedangkan inti di dalamnya tidak terjadi perubahan apa pun. Perubahan yang hakiki itulah yang dicari dalam dakwah Islam. Kedatangan Ali bin Abi Thalib RA ke Khaibar bukanlah sekadar untuk mengubah agama mereka sehingga mereka memeluk agama Islam dengan terpaksa dan penuh ketakutan. Namun, Rasulullah SAW memerintahkan lebih dahulu untuk memberikan pengertian kepada mereka sehingga perubahan yang hakiki diharapkan terjadi.

Perubahan yang semu bukanlah sebuah fenomena yang menjadi target dalam dakwah, sebagaimana yang digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya,

Orang-orang Arab badwi itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk’ karena iman itu belum lagi masuk ke dalam hati kamu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al- Hujurat: 14).

Dalam kaitan mengukur terjadinya perubahan ini, agar tidak terjebak ke dalam fatamorgana perubahan, seorang dai harus sungguh-sungguh memiliki pengetahuan tentang indikator-indikator perubahan yang benar. Dengan bekal ini ia tidak akan merasa puas dengan hasil dakwah yang sesungguhnya masih jauh dari selesai dan dia tidak akan beristirahat karena menganggap tidak ada lagi pekerjaan-pekerjaan dakwah yang harus dilakukannya, padahal sebenarnya ia belum melakukan sesuatu yang fundamental.

Inilah yang terjadi pada para sahabat Anshar ketika setelah mengikuti serangkaian perang yang panjang bersama Rasulullah SAW dan agama Islam telah tersebar kemana-mana, mereka berkata, “Alhamdulillah, kami telah dimuliakan Allah dengan Islam dan bersahabat dengan Nabi-Nya serta membelanya sehingga tersebar dan banyak pengikutnya. Sedangkan kami telah lama meninggalkan sawah ladang kami dan kini peperangan telah selesai, maka lebih baik kami kembali mengurus kebun ladang kami dan tinggal bersama keluarga kami.” Maka turunlah ayat 195 Surat Al-Baqarah, “Dan berinfaklah kalian di jalan Allah dan janganlah menjerumuskan diri kamu ke dalam kebinasaan. Dan berbuat baiklah kalian, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasai).

Ayat itu seolah-olah ingin menegaskan kembali pemahaman orang-orang Anshar, “Wahai orang-orang Anshar, memang kalian telah begitu banyak berkorban harta dan jiwa demi perjuangan Islam. Memang peperangan-peperangan kini telah bertukar haluan dengan kemenangan-kemenangan yang diraih. Memang telah begitu banyak manusia yang dengan sukarela atau terpaksa memasuki agama Islam ini. Memang untuk semua itu kalian telah meninggalkan sawah ladang dan keluarga kalian. Tetapi ingat, semua itu bukanlah ukuran-ukuran keberhasilan yang hakiki yang menandakan perjuangan dakwah telah selesai karena misi yang lebih besar telah menanti di hadapan kalian.

Dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini, maka adalah keliru jika ada yang beranggapan bahwa dengan jatuhnya Soeharto dan rezim Orde Baru maka kondisinya berarti telah berubah secara hakiki. Jangankan dikaitkan dengan tujuan-tujuan dakwah Islam yang begitu tinggi, dikaitkan dengan proyek reformasi saja umumnya pengamat berpendapat hanya sedikit perubahan yang telah terjadi.

Jiwa-jiwa yang korup dan otoriter masih bergentayangan di berbagai tubuh manusia dan organisasi yang hidup pasca 21 Mei 1998. Bahkan, tokoh-tokoh baru yang muncul pada masa ini, baik di kalangan pemerintahan maupun legislatif, justru tidak sedikit yang malah ketularan virus Orde Baru sehingga tingkat korupsi Indonesia justru semakin parah di tingkat dunia dibandingkan zaman Orde Baru dahulu. Sungguh, perjalanan dakwah di Indonesia masih panjang dan barangkali kita baru bergerak belum setengah langkah pun.

Stagnasi : ciri kelemahan iman

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melihat kemunkaran maka ubahlah kemunkaran itu dengan tanganmu. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim, An-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Sabda Rasulullah SAW tersebut jelas memberikan salah satu ciri tentang kekuatan iman kaum muslimin, baik sebagai individu maupun sebagai umat, yakni pada keinginan dan kemampuannya untuk melakukan sebuah perubahan. Orang Muslim yang perasaannya tidak senang melihat kemunkaran tetapi hanya mampu menonton kemunkaran tersebut tanpa melakukan langkah apa pun, maka ia dijuluki orang yang selemah-lemah iman.

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa pada dasarnya perubahan harus dilakukan dalam situasi tujuan-tujuan dakwah pada suatu tahapan belum tercapai. Adapun mengenai cara-cara yang dilakukan dalam proses perubahan itu pada akhirnya disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang menyertainya dalam kaitan kemampuan maupun tahapan-tahapan dakwah yang sedang dilakukannya. Dalam kaitan inilah kita berurusan dengan sebuah fenomena dakwah: dakwah dengan hati. Sebuah fenomena kelemahan iman!

Mengapa kemampuan dihubungkan dengan iman? Karena sesungguhnya keimananlah yang menjadi motivator utama perubahan pada diri seseorang. Keimanan yang kuat akan melahirkan keyakinan, semangat, kesungguh-sungguhan, dan ketekunan dalam berdakwah. Memang Rasulullah SAW pada periode Makkiyah hanya dapat menatap sedih Bilal yang tengah disiksa orang-orang kafir atau Ammar bin Yasir yang menyerah lantaran kedua orang tuanya disiksa dengan bengis. Tetapi ini bukan cerminan kelemahan iman karena keimanan Rasulullah SAW demikian kuat, demikian pula para sahabat beliau. Kekuatan iman itu tengah bekerja dan terus bekerja yang secara bertahap menghasilkan kekuatan demi kekuatan sehingga pada akhirnya tak terkalahkan lagi oleh orang-orang kafir Quraisy.

Iman yang lemah tidak akan memproses kekuatan apa pun, dan jika pun memproses kekuatan maka hanya sebuah percikan kecil yang sangat lambat berkembang menjadi kobaran api kekuatan. Kita akan menyaksikan orang-orang yang lemah imannya maka tahapan perjuangannya akan terus-menerus melalui hati dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, tanpa ada kemajuan apapun. Bahkan, ia tidak memiliki perencanaan dan kemauan apapun untuk mengubahnya menjadi dakwah dengan lisan atau dengan tangannya. Inilah stagnasi iman yang apabila terjadi akan menyebabkan terjadinya stagnasi perubahan pada diri dan lingkungan kaum muslimin.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mati dalam keadaan tidak pernah berperang (berjuang) atau tidak pernah meniatkan pada dirinya sendiri (untuk berperang/berjuang) maka dia mati di atas satu cabang kemunafikan.” (H.R Muslim, An-Nasai dan Abu Daud). Jika niat untuk melakukan perubahan saja tidak ada niscaya orang seperti itu hanya akan menjadi penonton atas berbagai fenomena kezhaliman di sekitarnya. Dan diamnya tidak saja sekadar menunjukkan kelemahan iman, bahkan mungkin menunjukkan ketiadaan iman sama sekali.

Keadaan mereka seperti yang digambarkan Al-Qur’an, “Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan,

“Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan bagi kami.” Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya ….” (Q.S. 48/Al-Fath: 11).

Insya Allah, hal ini tidak terjadi pada aktivis dakwah kita.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger