pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Kenali Cara Allah SWT Mewujudkan Harapan Kita

Written By @Adimin on 03 July, 2012 | July 03, 2012


HIDUP manusia bisa diibaratkan sebatang rokok. Api rokok adalah semangat yang membutuhkan waktu untuk membakar batang rokok. Abu rokok adalah kegagalan yang jatuh ke bawah dalam upaya mengeluarkan asap rokok yang membumbung tinggi ibarat sebuah cita-cita. Begitulah manusia hidup, butuh waktu, punya semangat, dan kadangkala mengalami kegagalan dalam menggapai cita-citanya. Tidak ada kesuksesan hidup yang digapai secara instan.

Untuk menggapai cita-cita, tujuan, atau harapan dalam hidupnya manusia senantiasa berusaha (ikhtiar). Agar usahanya terasa maksimal, dibuatlah berbagai program, target, atau langkah-langkah yang ditempuh. Namun kenyataan hidup mengajarkan, apa yang dilakukan kadangkala tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Usaha tidak sebanding dengan hasil yang diinginkan. Rencana dan target kehidupan, hasilnya jauh diluar perkiraan. Inilah yang kita sebut dengan satu kata: kegagalan!

Memaknai Kegagalan

Kegagalan adalah bukti bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan. Manusia hanya wajib berusaha tetapi tidak wajib untuk berhasil. Manusia boleh berencana, namun garis (takdir) kehidupan telah punya rencananya sendiri. Di sini, kegagalan dalam hidup mengajarkan satu hal kepada kita, bahwa kita manusia adalah makhluk yang jauh dari kesempurnaan. Yang sempurna hanyalah pemilik diri dan jiwa manusia, dialah Allah SWT.

Di saat kegagalan sebagai akhir dari usaha yang didapatkan, suasana yang menyelimuti diri adalah resah, kecewa, bahkan putus asa. Kondisi saat itu memerlukan tempat kita bersandar, nasihat yang memotivasi, dan kekuatan untuk bangkit kembali. Sehingga harapan-harapan baru muncul sebagai pemantik potensi yang kembali melahirkan aksi. Disinilah rekonstruksi visi sangat penting sekali. Visi hidup, terutama sebagai Muslim sejati, tidak terbatas di dunia ini tapi jauh menembus kehidupan ukhrawi.

Jika keyakinan adanya kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini terpatri, sungguh tidak akan ada ruang bagi kita untuk berhenti berharap atau berputus asa. Karena pergantian waktu senantisa memberi nasihat, bahwa harapan masih ada jika nafas dan kesadaran masih ada. Berhenti berharap, larut dalam alunan keputus-asaan, adalah sebuah dosa dan bentuk mentalitas kekufuran (QS. Yusuf: 87).

Padahal janji Allah SWT terhadap insan yang senantiasa menjaga harapan telah dinyatakan. Allah SWT berfirman:

“Berharaplah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan harapanmu sekalian.” (QS. Almukmin: 60). Allah SWT akan mengabulkan harapan bagi siapa saja yang berharap hanya kepada-Nya (QS. Al Baqarah: 186).

Cara Allah SWT mewujudkan harapan

Persoalannya, yang sering alfa dalam pengetahuan sebagian orang adalah, bagaimana Allah SWT memperkenan atau mewujudkan harapan-harapan itu? Pemahaman terhadap jawaban pertanyaan ini penting, agar terhindar dari prasangka buruk (su’uzzhan) terhadap diri apatah lagi terhadap Allah SWT.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan al-Hakim dari Abu Sa’id dijelaskan oleh Rasulullah SAW tiga cara Allah SWT mengabulkan setiap harapan atau do’a hamba-Nya. Dengan catatan, seorang hamba tersebut tidak memutuskan hubungan silaturrahim dan melakukan dosa besar. Cara Allah SWT mengabulkan harapan (do’a) tersebut adalah:

Pertama, harapan itu langsung dikabulkan atau dalam waktu yang tidak berapa lama.
Di antara golongan manusia yang mendapat prioritas cepatnya terkabul harapannya, sesuai dengan beberapa penjelasan hadits Rasulullah SAW yaitu orangtua, orang yang teraniaya, pemimpin yang adil, juga harapan kebaikan dari seseorang kepada orang lain yang jauh dari dirinya. Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang Muslim mendo’akan saudaranya yang tidak berada dihadapannya, melainkan malaikat akan berkata: ‘Dan engkau juga mendapatkan yang seperti itu." (HR. Muslim).

Kedua, harapan itu ditunda di dunia dan menjadi tabungan pahala yang akan diterima di akhirat nanti. Seringkali misalnya, keadilan di dunia sulit didapatkan, namun percayalah keadilan akhirat pasti ada. Pengadilan akhirat tidak pernah pandang bulu bahkan menerima sogokan dalam memvonis kasus kehidupan di dunia. Kesadaran ini seharusnya memupuk optimis atau harapan dalam hidup. Sebab, senantiasa berharap (raja’) atas nikmat dan ridho dari Allah SWT merupakan akhlak yang terpuji yang mampu memupuk keimanan dan mendekatkan diri seorang hamba kepada-Nya. Hasil kebaikan ini senantiasa akan mendapatkan balasannya. Tidak di dunia, di akhirat pasti.

Ketiga, dijauhkan dari keburukan yang sebanding dengan harapan itu. Dengan kata lain, Allah SWT mengabulkan harapan dengan mengganti sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan, yaitu terhindar dari musibah yang seharusnya menimpa kita. Atau mengganti harapan itu dengan sesuatu yang tidak pernah kita harapkan. Mengapa? Karena Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik bagi kehidupan hamba-Nya (QS. Al Baqarah: 216). Sebab, Dia-lah zat yang menguasai yang awal, yang akhir, yang zahir, yang bathin, dan Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al Hadid: 3).

Rencana Allah SWT lebih hebat

Apa yang diharapkan oleh seorang hamba boleh jadi hal itu sesuatu yang buruk baginya. Sebaliknya, apa yang tidak diharapkan boleh jadi itulah yang terbaik untuk kita.

Perhatikanlah firman Allah SWT yang mulia ini.


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Albaqarah: 216).

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa, rencana Allah SWT terhadap diri kita lebih hebat dari rencana yang kita buat. Oleh sebab itu, logis jika kita dilarang berhenti berharap karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan apapun.

Ada di antara kita, bahkan boleh jadi kita pernah melakukannya. Mengeluh dan dengan tega mengatakan: “Saya tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa lagi dalam hidup ini”.

Padahal, bumi masih gratis untuk kita pijak. Langit tidak dibayar memayungi kita. Oksigen masih tersedia untuk nafas kita. Angin masih kita rasakan hembusannya. Waktu masih tersisa untuk berkarya. Raga masih ada bukti kita nyata. Lalu, pantaskah kita mendustakan nikmat Allah SWT tanpa ada alasan? Allah SWT berulang kali mempertanyakan persoalan ini agar kita senantiasa bersyukur dan berpikir (perhatikan QS. Ar Rahman).

Segalanya Indah

Akhirnya, kehidupan yang kita lalui akan senantiasa bermuara kepada dua hal, yakni bahagia dan kecewa. Begitulah kodrat perasaan manusia. Namun rasa bahagia dan kecewa bisa menjerumuskan manusia ke dalam kubang kemaksiatan bila hal itu tidak disikapi dengan bijak. Karenanya, seorang Muslim harus mampu menjaga keadaan dirinya dalam kondisi apapun untuk senantiasa menumbuhkan ladang kebaikan dan pahala. Caranya, senantiasa berdzikir dengan menjadikan sabar dan shalat sebagai perantara untuk menghadirkan pertolongan Allah SWT (QS. Albaqarah: 153).

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh menakjubkan perkara orang-orang mukmin. Karena segala urusannya merupakan kebaikan. Ketika mendapat nikmat ia bersyukur, karena bersyukur itu baik baginya. Ketika mendapatkan musibah ia bersabar, karena sabar itu juga baik bagi dirinya."

Dengan kata lain, perkara apapun bagi seorang mukmin sejati, seluruhnya menjadi indah di hati. Semoga Allah SWT membantu kita merealisasikannya dalam kehidupan ini. Insya Allah! Wallaahu a’lam



Posted by Adimin

ANAK . . . .

Written By @Adimin on 29 June, 2012 | June 29, 2012


Saudaraku..
Anak keturunan merupakan sumber kebahagiaan kita dalam hidup. Sebuah keluarga yang jauh dari suara tawa dan tangisan anak-anak, terasa sepi, mencekam dan kaku. Tidak jarang hubungan pasutri menjadi hambar, pemicunya adalah karena buah hati yang didamba tak kunjung datang menghampiri keluarga.

Aisyah radhiallahu ’anha, sering cemburu terhadap Khadijah radhiallahu ’anha, karena Nabi saw sering menyebut nama Khadijah di depannya. Bukankah salah satu penyebabnya adalah karena Khadijah satu-satunya istri beliau yang dapat memberikan keturunan untuknya? Yang tentunya tidak beliau dapatkan dari ummahatul mukminin lainnya?.

Anak adalah penyambung amal shalih setelah kepergian kita ke alam baqa. Ia merupakan tali cinta dalam sebuah keluarga. Keberadaannya di hati ini tak tergantikan oleh kekayaan dunia seberapa pun besarnya. Ia merupakan investasi paling berharga dalam hidup kita.

Namun, saudaraku..
Jika kita memiliki anak-anak yang rapuh dalam kepribadian. Berperangai buruk. Berakhlak tercela. Memiliki iman yang ringkih dan yang senada dengan itu. Maka mereka bisa menghitamkan wajah kita. Mencoreng nama baik keluarga kita. Dan tentunya bisa menjadi investasi neraka bagi kita di akherat sana.

Untuk itu, kita perlu mendidik dan mengarahkan mereka. Agar mereka senantiasa berada di atas jalan hidayah. Menapaki tangga-tangga kebahagiaan yang hakiki serta terhindar dari jalan yang sesat dan menyimpang. Di mana tujuan akhir dari pendidikan yang kita garap adalah menyelamatkan anak-anak kita dari siksa neraka. "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka." At tahrim: 6.

Mendidik anak tak semudah membalikan telapak tangan. Banyak pengorbanan yang harus kita keluarkan. Berkorban harta, waktu, tenaga, potensi yang kita miliki dan tak jarang kita mengorbankan perasaan kita.
Terkait dengan pendidikan anak, Syaikh Mustafa Siba’i dalam bukunya "Hakadza Allamatnil Hayat", berbagi pengalamannya dengan kita. Berikut petikannya:
· Jauhkan anak-anak kita dari teman pergaulan yang rapuh kepribadiannya seperti kita menjauhkannya dari penyakit berbahaya. Kita mulai prinsip ini dari masa kecilnya. Jika tidak, maka kita seolah-olah membiarkan anak kita terserang penyakit kronis, sehingga tiba masanya obat penawar tak lagi memberikan manfaat baginya.
· Keras dalam mendidik anak, akan membawanya pada sifat durhaka. Berlebih-lebihan dalam memanjakan anak, akan menyeretnya pada perilaku menyimpang. Anak yang tumbuh dalam didikan keras dan terlalu dimanja akan melahirkan perilaku kriminal.
· Anak itu seperti mahar. Jika kita memberi setiap apa yang diminta, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang keras kepala, sulit diarahkan. Jika kita tolak semua permintaannya, maka ia akan menjadi anak yang buruk perangainya, membenci semua orang yang ada di sekitarnya. Jadilah kita orang yang bijak dalam memberi dan membatasi keinginan anak. Jangan sekali-kali kita memanjakannya berlebihan atas nama cinta, karena hal itu bisa merenggut kebahagiaan kita dan kebahagiaannya.
· Banyak orang tua yang lebih menyukai anak laki-laki daripada anak perempuan. Padahal pengalaman mengajarkan; anak perempuan lebih banyak mendatangkan kebahagiaan daripada anak laki-laki.
· Biasakan anak-anak kita hidup mandiri walaupun kita hidup dalam kecukupan. Dan jika ia telah mampu membuka kran-kran rezki, tanpa diimbangi dengan semangat menuntut ilmu pengetahuan, waspadalah! Jika kita tetap memanjakannya dengan memberinya makan di meja makan kita. Atau memberinya tempat tinggal di rumah kita. Atau memenuhi kebutuhannya dari saku kita. Maka berarti kita telah membunuh ruh perjuangannya dalam menjalani kehidupan. Pengalaman hidup telah membuktikan hal itu.

· Seorang anak yang putus asa karena tak mendapatkan curahan kasih sayang orang tua, maka ia akan tumbuh menjadi anak durhaka. Tapi jika ia terlalu kenyang mendapat curahan kasih sayang, maka ia akan tumbuh menjadi anak pemalas. Sebaik-baik orang tua adalah orang yang tak menghalangi anak keturunannya mendapat kasih sayangnya dan tidak pula menjadikan anak bersandar pada kebaikan orang tua (tak mandiri).
· Teramat keras dalam mendidik anak, maka ia akan memutus tali hubungan dengan kita. Terlalu lemah dalam mendidik (memanjakannya berlebihan), berarti kita telah memutuskan tali-nya dari kita. Hendaknya kita bijak dalam mendidiknya (di antara keduanya), karena jika tidak maka akan terlepaslah tali kekang itu dari tangan kita.
· Membiasakan anak untuk merasakan beban tanggung jawab dalam menjalani hidup, maka hal itu lebih baik daripada kita membiarkannya tenggelam dalam kenikmatan hidup, bertumpu pada orang tua.
· Jangan sampai kita meninggalkan harta kekayaan kita kepada anak-anak yang rusak akhlaknya. Karena sesungguhnya mereka akan menghabiskan harta kita dalam sehari, padahal kita telah mengumpulkannya bertahun-tahun lamanya. Lalu mereka mencoreng nama baik kita, melukai kemuliaan keluarga kita serta memberatkan urusan kita kepada Zat yang Maha cepat hisab-Nya.
· Anak yang shalih akan selalu mendo’akan kebaikan buat kita. Karenanya manusia akan mengenang kebaikan kita lantaran kita mampu mendidiknya. Setelah kita menghadap-Nya, maka anak-lah yang akan menyambung kebaikan untuk kita atau sebaliknya menghadirkan keburukan untuk kita. Anak-anak adalah bagian dari hati kita. Apakah kita ingin hal yang buruk menggerogoti hati kita, yang menyebabkan hati kita sakit dan terluka? Atau kita menginginkan hati kita selalu sehat wal afiat?.
· Sekiranya setiap orang tua (baca; ayah) mengkhususkan waktu tertentu dalam setiap hari untuk menemani anaknya, tentulah para orang tua tidak banyak merasa lelah dalam mendidik anak-anaknya.
· Orang tua yang tak memiliki pengetahuan, merasa senang dengan tampilan lahir anaknya yang tampan atau cantik. Meskipun akhlaknya kurang terpuji. Sedangkan orang tua yang cerdas, gembira dengan keindahan akhlak anaknya, walaupun anaknya tak memiliki ketampanan wajah atau berparas menarik.
· Orang tua yang besar adalah orang yang berusaha sekuat tenaga menjadikan anaknya lebih besar darinya. Orang tua yang cerdas berupaya menjadikan anaknya seperti dirinya. Tidak terbayang, jika ada orang tua yang menginginkan anaknya lebih kecil darinya.

· Orang tua akan berbahagia dengan kelahiran anaknya. Namun kebahagiaan itu sirna manakala menyaksikan anaknya tumbuh menjadi anak yang perangai kurang terpuji. Siapa yang mampu menyandingkan dua kebahagiaan yakni; kelahiran dan pertumbuhan anak shalih, maka ia seolah-olah telah meraih kebahagiaan dengan dua kelahiran sekaligus.

· Saat kita meninggalkan anak yang shalih, maka kita seperti terlahir kembali setelah kita wafat. Sebaliknya saat kita meninggalkan anak yang rapuh kepribadiannya, maka seolah-olah kita meninggal dunia dua kali.
· Ya Tuhanku, sekiranya Engkau tidak menciptakan untuk kami perasaan menjadi orang tua dan tidak Engkau janjikan pahala yang besar untuk kami dalam mendidiknya, niscaya kelahiran anak-anak kami dan kesusahan dalam mendidik mereka menjadi sia-sia. Yang sulit dipahami oleh orang yang menggunakan akalnya.
· Orang tua tidak pernah lupa, beratnya mendidik anaknya, terkecuali jika ia melihat anaknya berbakti dan istiqamah di atas jalan ketaatan. Dan orang tua tak akan pernah dihinggapi penyesalan atas kelahiran anak dan kesusahannya dalam mendidiknya, terkecuali jika ia menyaksikan anaknya durhaka dan menyimpang dari jalan yang lurus.
· Medan perjuangan orang tua adalah medan pendidikan anak. Karena mendidik anak lebih sulit daripada jihadnya para pahlawan di medan perang.
· Salah satu kendala orang tua dalam mendidik anak adalah usia yang telah uzur sementara anak-anak masih belia. Maka bersegeralah kita menikah di usia dini, mengakhiri masa lajang setelah kita berstatus mampu.
· Kepada Allah kita mengadu, dengan kesungguhan yang telah kita kerahkan dalam mendidik anak-anak kita di rumah. Kita titipkan mereka kepada Allah, agar Dia menjaga mereka di madrasah dan lingkungan tempat mereka bergaul.
· Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Di antara fitrahnya adalah bahwa ia suka meniru hal-hal yang dilihatnya. Dan yang paling disukainya adalah ia bisa meniru perilaku ayah dan ibunya. Bukankah ia senantiasa memperhatikan kita saat berdekatan dengan kita atau ibunya? Bukankah ia senantiasa memperhatikan kita bagaimana kita berinteraksi dengan dia dan manusia di sekeliling kita?.
· Siapa yang membawa keburukan ke dalam rumahnya, berarti ia telah mengundang anak dan istrinya berpartisipasi dalam keburukan tersebut, meskipun ia beranggapan bahwa ia telah menghilangkan jejaknya itu dari mereka.
· Pernah terjadi dialog antara seorang ayah dan anaknya yang sama-sama buruk perangainya.
Sang ayah berkata kepada anaknya, "Tidakkah kamu malu denganku? Kamu berlaku buruk kepadaku padahal aku telah mendidikmu?."
Sang anak menjawab, "Seharusnya engkau lebih malu kepada Tuhan-mu. Engkau telah berbuat buruk terhadap-Nya padahal Dia telah menciptakanmu dan mengucurkan berbagai nikmat kepadamu."
Ayahnya berkata, "Akan tetapi Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sang anak berkata, "Seharusnya, itu yang aku dapatkan darimu. Engkau memaafkan kesalahanku dan menyayangiku."
Sang ayah berkata, "Namun, rahmat Allah akan memasukkan aku ke dalam surga, sedangkan rahmatku untukmu akan memasukkanmu ke dalam neraka."
Sang anak berkata, "Sekiranya engkau memperhatikan pendidikanku sejak kecil, tentulah aku mencukupkan rahmat-Nya untukku dan tak membutuhkan rahmatmu."
Sang ayah berkata, "Maukah kamu mentaatiku?."
Sang anak berkata, "Mustahil! Sebelum engkau kembali mentaati Allah Swt."
Sang ayah berkata, "Bukankah kamu tidak menghormatiku selaku orang tua di hadapan manusia?."

Sang anak berkata, "Kedua tanganmu berbisa dan mulutmu berbusa."
· Seorang anak sejak lahir membawa tabiat tertentu. Kedua orang tua tak mampu merubah tabiat pada anaknya. Hanya saja keduanya mampu untuk memperhalusnya. Adapun akhlak budi pekerti anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikannya. Dari sini, hendaknya orang tua menjalankan perannya yang vital untuk membahagiakannya atau sebaliknya malah menyengsarakannya.
· Anak laki-laki lebih banyak terwarnai ayahnya. Sedangkan anak perempuan banyak dipengaruhi ibunya. Para ibu yang tak terdidik akan mendidik anak-anak perempuannya dengan jalan; melontarkan celaan dan memberikan kutukan kematian dan kebinasaan. Para ayah yang sempit pengetahuannya, mendidik anak laki-laki mereka dengan cara memukul dan merendahkannya.
"Ya Rabb, jadikanlah anak-anak kami penyejuk mata hati kami. Dan jadikanlah mereka imam bagi hamba-hamba-Mu yang bertakwa, amien."
Oleh Fir’adi Nasruddin, Lc )*

Posted by Adimin

Robthul ‘am Jalan Menuju Kemenangan Dakwah

Written By @Adimin on 28 June, 2012 | June 28, 2012

Agar kemenangan dakwah tercapai tentu butuh perjuangan sampai ke tingkat bawah, untuk merealisasikan itu semua hingga kelapisan masyarakat tidaklah mudah karena butuh strategi yang matang dan efektif agar tepat sasaran. Guna merealisasikannya Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kota Padang melalui Bidang Pembinaan Umat menggelar acara workshop robthul ‘am.
Workshop ini bertujuan agar terbangunnya hubungan yang baik antara kader/aktivis dengan seluruh lapisan masyarakat atau kelompok. Robthul ‘am adalah hubungan yang kuat antara aktivis dan sekelompok orang atau komunitas tertentu. Dalam interaksinya aktivis memberikan pengaruh yang positif. Hubungan ini biasanya bersifat permanen, relatif stabil dan tanpa ikatan.
Peserta workshop melibatkan seluruh pengurus Cabang dan ranting Partai keadilan sejahtera di setiap kecamatan di kota padang yang terbagi kedalam beberapa wilayah sesuai dengan dapil yang ada. Pada minggu (24/06) workshop di laksanakan di Dapil 3 bertempat di aula BKKBN SUMBAR di jalan khatib sulaiman, dapil tiga masuk kedalam wilayah padang utara dan padang barat.
Pada sesi pertama seluruh peserta yang mengikuti workshop di bekali dengan materi bagaimana melakukan rabtul Amm , selanjutnya sesi kedua sharing dengan pelaku robthul ‘am yang langsung di pimpin oleh ketua DPD PKS Padang Drs. Muhidi, MM serta di dampingi oleh ustad Romi Iskandar, SE. MM.
Ust. Muhidi menjelaskan kunci agar rabthul ‘am bisa tercapai adalah membangun komuniksi yang baik kepada siapapun kapanpun dan dimanapun, ada tiga yang penting dalam kita membangun komunikasi yang efektif tapi dalam robthul ‘am ini cukup dua saja, pertama melalui persuasif (cara merayu) dan kedua melalui informatif (informasi), kata beliau. Tidak hanya itu saja beliau juga menyampaikan tips praktis menghadapi para tokoh-tokoh masyarakat dengan bebagai macam pendekatan. Sengaja ini di berikan agar seluruh peserta yang hadir tidak takut dan ragu untuk terjun langsung ketengah-tengah masyarakat terutama kepada para tokoh masyarakat.
Kegiatan ini di tutup dengan saling tanya jawab, Selain itu para pesereta juga di beri form pengisian daftar orang yang akan mereka kunjungi/silaturahim dalam waktu dua minggu kedepan. Ini sengaja di berikan untuk membuka celah kepada masyarakat atau kelompok agar terbangunnya sebuah komunikasi yang efektif dan memberikan dampak positif untuk kemenangan dakwah di kota padang.


Posted by Adimin

Kok Isinya Politik Melulu..? Kapan dakwahnya . . .

Written By @Adimin on 27 June, 2012 | June 27, 2012



Ust. Ko' akhir2 ini statusnya politik dan kampanye mlulu….?
Apa ga sebaiknya statusnya diisi dengan nilai2 dakwah saja….

Begini…..

likulli maqaamin maqaalun… Setiap tempat dan situasi ada ungkapannya (yang cocok untuk disampaikan).

Kalau yang antum maksud dengan pertanyaan tersebut adalah mengapa status saya tidak berisi nilai-nilai dakwah saja, maka hendaknya masalahnya dipahami dengan cermat. Memilih atau mendukung terpilihnya pemimpin yang kita percaya dapat membawa nilai dan misi lebih baik daripada yang lainnya, menurut saya juga memiliki nilai dakwah yang tidak kalah pentingnya. Jadi, ini juga sebenarnya 'status dakwah', hanya 'kemasannya' yang sedikit beda. Kesannya memang 'mengejar kekuasaan', atau 'mengejar dunia'. Tapi saya meyakini, selagi ada orientasi dakwah di dalamnya serta tidak ada perkara prinsip yang dilanggar, maka, apa yang dikatakan sebagai 'mengejar kekuasaan' atau 'mengejar dunia' sesungguhnya dibalik itu terdapat medan dakwah dan medan pahala yang sangat besar.

Sebab, jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan, "Aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaraku, lebih aku suka daripada I'tikaf di masjidku sebulan." (HR. Thabrani), maka saya menganggap bahwa mendukung seorang calon pemimpin hingga terpilih, agar dengan itu diharapkan dapat membantu penyelesaian berbagai problematika masyarakat, adalah perkara yang sangat besar nilainya.

Bukankah golongan yang pertama kali disebut dari 7 golongan yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan akan mendapatkan naungan di hari kiamat pada hari tidak ada naungan selain naungan Allah adalah 'Pemimpin yang adil'?

Bukankah Utsman bin Affan radhiallahu anhu pernah berkata,

إِنَّ اللهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لاَ يَزَعُ بِالْقُرْآنِ

"Sesungguhnya Allah mencegah (kemunkaran) lewat penguasa apa yang tidak dicegah melalui Al-Quran.."

Maksudnya adalah bahwa keputusan seorang penguasa yang berpihak kepada nilai-nilai dakwah dan agama dapat lebih efektif untuk mencegah kemunkaran ketimbang ayat-ayat dan nasehat-nasehat yang disampaikan. Perkara ini sangat jelas realitanya bagi siapa saja yang ingin merenunginya.

Bukankah para shahabat menunda pemakaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tujuannya adalah agar mereka segera mendapatkan kepastian pemimpin setelah beliau wafat agar tidak timbul fitnah. Itu semua, dan masih banyak lagi bukti lainya, tak lain kecuali menunjukkan pentingnya seorang pemimpin yang mumpuni di tengah masyarakat. Maka, hal itu semestinya berbanding lurus dengan pentingnya kita memiliki peran, sedikit atau banyak, dalam mewujudkan kepemimpinan terbaik dari yang ada.

Bahwa masih banyak kekurangan di sana sini dan masih jauh mencapai titik sempurna, itu pasti. Lagipula tidak ada yang sempurna selain Allah Ta'ala. Namun, setidaknya di sana ada usaha manusiawi yang dapat dilakukan. Disamping, para ulama telah mengajarkan kepada kita….

مَالاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جُلُّهُ

"Jika sesuatu (kebaikan) tidak dapat diraih seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya."

Jadi, jangan terlalu tabu dengan kemasan 'dunia' dan 'politik' selagi yang dituju adalah akhirat dan kebaikan umat serta tidak ada perkara prinsip yang dilanggar. Sebaliknya, jangan terlalu 'terpedaya' dan 'terbuai' dengan kemasan 'akhirat' namun dibalik itu ternyata menyimpan hasrat duniawi dan cenderung menghindar dari problematika umat terkini.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ingatkan hal tersebut dalam sabdanya

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

"Sesungguhnya seseorang (boleh jadi) tampak di hadapan manusia melakukan amal ahli surga, padahal dia adalah (calon) penghuni neraka. Dan seseorang (boleh jadi) tampak oleh manusia melakukan amal ahli neraka, padahal dia adalah (calon) penghuni surga." (HR. Muslim)

Saya tidak ingin mengatakan bahwa 'saya adalah ahli surga' meskipun itu yang selalu saya mohon. Hanya yang ingin saya katakan adalah jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan tampilan luarnya saja.

Jadi, 'kampanye' yang saya lakukan melalui status saya sesungguhnya adalah bagian dari wilayah dakwah yang ingin saya geluti. Itupun saya akui tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang langsung berjibaku di lapangan. Namun setidaknya saya ingin punya kontribusi walau sekecil apapun. Bagi saya, kalau kita memimpikan pemimpin yang baik, mengapa tidk sekalian menampakkan dukungan utk membantu mewujudkannya... ketimbang pasif menjadi penonton...

Di sisi lain, insya Allah, agenda dakwah yang sudah dijalani tdk ada yg diabaikan. Saya termasuk orang yang berpandangan bahwa politik memang bukan segala-galanya, tapi, aspek politik tidak dapat dilepaskan dari agenda dakwah, bahkan dari agenda kehidupan sosial kita!

Antum setuju?

Ahlan wa sahlan, kita dapat bergandengan tangan.

Antum tidak setuju?

Ahlan wa sahlan, kita tetap dapat saling memberi salam dan berjabat tangan… jangan sampai ada luka di antara kita …. :)

Saya tentu tidak dapat memaksa antum untuk mengikuti sikap saya, namun setidaknya kita dapat saling memahami … "Tidak harus org meyakini apa yg kau katakan, yang harus adalah engkau meyakini apa yang engkau katakan.."

Semoga Allah limpahkan kepada antum dan saya ilmu yang bermanfaat serta hidayah dan taufiq-Nya… aamiin.

Beli ikan asin di Purwakarta….
Jika dapat, bawa ke kramat jati

Jika ingin beresin Jakarta…
Nomor empat pilihan sejati…

Sehat terdidik harapan kita
Hidayat-Didik Pilihan kita..!!




Akhukum fillah…
Abdullah Haidir





Posted by Adimin

Biarkan Masa Depan Datang Sendiri

Written By @Adimin on 26 June, 2012 | June 26, 2012



"Telah pasti datangnya ketetapan Alloh, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang ) nya". (QS. An Nahl : 1)

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah anda mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum terwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna.

Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana bencana yang bakal ada didalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?

Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di atasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.

Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. pasalnya hal itu termasuk thuulul amal (angan angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tidak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak termakan oleh ramalan ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krisis ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang diajarkan di "sekolah sekolah syetan".

"setan menjanjikan (menakut nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Alloh menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia." (QS. Al Baqarah : 268)

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di 'genggaman yang lain' tentu tidak akan menggadaikan untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak terwujud.

Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab, hari ini anda sudah sangat sibuk.

Jika anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan angan yang berlebihan.

wallahu'alam

DR Aidh AlQarni

Posted by Adimin

Tips Sebelum Nonton Video Mesum


Ada beberapa saran menarik yang bisa dicoba sebelum Anda menyaksikan sebuah video mesum. Saran-saran ini gunanya, agar saat menonton Anda mendapatkan kualitas hiburan sex media yang memuaskan, menyenangkan, panas dingin tentunya…

Bukan sulap, bukan sihir. Di bawah ini beberapa tips yang sangat berguna, untuk meningkatkan tensi adrenalin, khususon bagi para penyuka adegan panas dari video-video hot. (Sepanas apa ya? Sepanas cabe India gak? Ya, kurang lebih seperti itu lah).

[1] Mula-mula periksa mata Anda, “Apakah masih berfungsi normal?” Sebab bagi kaum tuna netra, mereka tidak akan bisa menikmati tontonan panas. Jika ternyata, mata Anda cukup normal, berarti Anda telah memenuhi syarat. Lebih afdhal periksa telinga juga, “Apakah masih berfungsi?” Sebab para artis video cabul sering mengeluarkan suara seperti Tarzan di hutan…Wooouuuwooooooo….

[2] Cobalah ngaca sebentar di cermin. Lihat diri Anda, “Apakah sudah 17 tahun ke atas?” Kalau sudah 17 tahun ke atas, berarti Anda sudah dewasa. Tahu tidak konsekuensinya? …ya itu tadi, dosa-dosa Anda sudah dicatat dengan sangat rapi, sangat teliti. Ada rekaman super canggih 6 dimensi di sekitar Anda (bukan hanya 3 dimensi, tapi 6 dimensi). CCTV di hotel JW. Marriot tidak ada apa-apanya dibanding “CCTV” versi ini.

[3] Oke, sampai langkah ke-2 Anda lulus, lanjutkan ke langkah selanjutnya: Siapkan makanan yang super pedas. Bisa apa saja. Bisa nasi goreng, bisa baso sapi, bisa lumpia basah, bisa soto ayam, apa saja deh. Asalkan sangat pedas. Ini untuk jaga-jaga, kalau nanti “adrenalin” Anda tidak terkontrol.

[4] Selanjutnya, persiapan memutar video mesum. Alat-alat dan fasilitas yang dibutuhkan siapkan dulu. Ya, kayak persiapan orang mau “qiyamul lail” nonton bola itulah.

[5] Sebelum memutar video, cobalah Anda memejam mata, sambil rileks. Lepaskan semua beban, memajamkan mata, suasana tenang, damai. Suara-suara berisik hindari, riuh-rendah even olahraga (World Cup) lupakan saja. Masalah tagihan hutang, masalah ditolak lamaran, masalah ketombe di kepala, ah lupakan dulu. Tenangkan pikiran Anda, rilekskan posisi tubuh Anda, bernafas pelan-pelan secara teratur, mata tetap dipejamkan. Dalam keheningan suasana, ajukan beberapa pertanyaan ke hati nurani: “Mengapa aku ada disini? Untuk apa aku melakukan semua ini? Apakah bunda melahirkan aku untuk melakukan semua ini?“

[6] Jika langkah ke-5 belum meyakinkan, masih dalam posisi memejamkan mata, ajukan pertanyaan lain: “Bagaimana jika pemain dalam video mesum itu adikku sendiri, kakakku sendiri, atau anakku sendiri? Apakah aku akan suka menyaksikan adikku, kakakku, atau anakku melakukan terlibat perbuatan seperti itu?” Jika hati Anda menolak, maka tinggalkanlah video mesum itu secepatnya. Jika Anda merasa senang menyaksikan video semacam itu, sekalipun ia terjadi pada keluarga Anda sendiri, maka kelak kejadian yang sama bisa menimpa keluarga Anda. Apa yang Anda sukai dari menonton aib-aib manusia, kelak bisa terjadi hal sebaliknya; manusia akan menyaksikan aib-aib keluarga Anda. …hindari video-video semacam itu, agar Allah selalu menjaga adik, kakak, anak-anak, dan keluarga Anda semua dalam kesucian. Allahumma amin.

[7] Jika langkah ke-6 belum efektif juga, masih sambil memejamkan mata, ingatlah saudaraku: tontonan yang penuh dosa itu akan meninggalkan TRAUMA di dasar hati dan pikiran. Trauma ini tidak mudah dihapuskan dari memori, bahkan bisa selalu teringat sepanjang hayat. Kalau pikiran Anda banyak diisi trauma-trauma, dapat dipastikan pikiran Anda akan bodoh, mudah lupa, tidak kritis, nalar analisisnya lemah. Tapi kalau pikiran Anda penuh dengan memori-memori yang baik, pikiran Anda akan sangat kuat, cerdas, brilian.

[8] Jika langkah ke-7 belum juga efektif, maka ingatlah saudaraku: tontonan penuh dosa itu akan merusak hati Anda untuk beberapa hari ke depan, bahkan beberapa minggu. Selama itu, hati Anda akan selalu gelisah, terbayang-bayang tontonan bodoh. Bahkan Anda akan menemui banyak kesulitan-kesulitan. Menonton hanya beberapa puluh menit, tapi sanksi yang diterima terasa pahit sampai sebulanan.

[9] Jika langkah ke-8 tidak juga efektif untuk menghalangi niat Anda menonton video mesum, ingatlah sebuah PRINSP BESAR wahai saudaraku: “Jika Anda suatu ketika sengaja mengambil sesuatu yang haram, maka saat itu juga Anda akan kehilangan sebagian kebaikan-kebaikan yang Anda miliki.” Bisa saja, Allah membiarkan Anda cengengesan menyaksikan video mesum. Tetapi pada saat yang sama, Allah akan mengambil kebaikan-kebaikan yang Anda miliki. Duh, ini sangat menyakitkan, kalau Anda menyadarinya. Bisa saja, tiba-tiba peluang bisnis di depan mata lenyap; atau Anda mendapat nilai ujian yang buruk; atau Anda mendapat sanksi administrasi; atau kontrak Anda diputus; atau tiba-tiba anak Anda masuk rumah sakit, dll. Sekali Anda mengambil sesuatu yang haram, maka Anda akan kehilangan sesuatu yang halal dari sisi Anda.

[10] Andaikan langkah ke-9 masih juga belum efektif, karena mungkin saking bebal-nya diri Anda, semoga tidak demikian kenyataannya. Maka sadarilah saudaraku: “Adegan ranjang. Hubungan seks. Permainan alat reproduksi. Berbagai gaya dalam sexual game. Semua itu bukan perkara yang aneh, bagi PASANGAN SUAMI-ISTERI. Bagi mereka yang sudah menikah, hubungan seksual sama sekali tidak aneh. Wong, mereka biasa melakukannya. Hal-hal demikian ini sangat lumrah sekali. Bahkan dalam hubungan suami-isteri, mereka bisa memutuskan mau memakai cara bagaimanapun, asalkan tidak cara yang haram. Mau memakai gaya kijang melompat, silakan; elang menukik, silakan; gajah menendang, silakan; mau gaya buaya berguling-guling, silakan; atau mungkin biar lebih unik, memakai gaya ‘Didier Drogba kebentur tiang gawang‘, juga silakan.” Hal-hal semacam itu sangat tidak aneh bagi yang sudah menikah. Maka itu, Anda tidak usah menyaksikan hal-hal seperti itu. Nanti kalau Anda menikah (atau bisa jadi saat ini Anda sudah berumah-tangga), adegan-adegan seperti itu akan menjadi menu hidup Anda. Jangan menjadi seperti orang dungu, yang menyukai hal-hal kecil, melupakan hal-hal besar miliknya.

[11] Jika semua saran di atas Anda mentahkan, Anda tetap maksa ingin nonton video mesum. Ya, sudahlah. Sebelum itu berdoalah dulu: “Bismillahirrahmanirrahiim. Ya Allah berikan aku kebaikan, dan jauhkan aku dari keburukan. Terutama keburukan nafsuku yang ngeyel ingin nonton video mesum. Amin.” Berdoalah dengan khusyuk, dan berharap Allah mengabulkan. (Siapa tahu, saat tangan Anda mulai bergerak untuk “klik” sebuah video mesum, tiba-tiba ada sebuah meteor jatuh ke kamar Anda, lalu seketika itu Anda mati dalam keadaan “terangsang”. Siapa tahu kan? Anda tidak bisa menjegah bahaya masuk ke kamar Anda).

[12] Sebelum acara nonton dimulai, lakukan saran ini. Jika Anda menonton di internet, atau hasil download video, maka klik tombol STAR, lalu naik sedikit saja klik bagian TURN OFF, lalu pilih sekali lagi TURN OFF, lalu tunggu barang 5 menit. Ini cara pertama. Adapun cara kedua, kalau Anda memakai CD Player, karena baru membeli VCD bajakan. Sebelum VCD diputar, coba lakukan test fisik terhadap keping VCD itu. Test ini penting, biar nanti saat menonton, hasilnya memuaskan. Caranya, Anda pegang erat-erat keping VCD itu, lalu tekuk keping itu sekitar 90 derajat. Ditekuk bolak-balik ya, cukup 10 kali saja ditekuknya. Kalau menekuknya kurang profesional, boleh dibantu dengan kaki. Nah, setelah keping VCD itu lulus test fisik, silakan Anda putar di CD Player. Kalau Anda mau menonton memakai HP atau BB, caranya justru sangat mudah. Ini lebih mudah dari cara apapun. Anda ambil rekaman video mesum itu untuk dibuka. Sebelum dibuka, pegang HP itu baik-baik, angkat ke atas, lalu…blarrrr! Banting HP itu ke lantai sekeras-kerasnya. Kehilangan HP lebih baik, daripada kehilangan kesucian nurani. Cuma gitu aja kok.

[13] Kalau sampai tahap ke-12 masih juga ingin nonton video mesum, saya sarankan Anda mengambil makanan EKSTRA PEDAS yang tadi sudah dipersiapkan itu. Kalau cabenya memakai cabe India, katanya bisa membawa seseorang ke RS. Oke juga tuh dicoba… Sebelum nonton, makan makanan pedas itu sampai habis. Nah, rasa pedas yang amat sangat bisa mengubah pikiran seseorang dari keinginan nonton video mesum ke urusan lain, yaitu menyelamatkan mulut dari rasa pedas yang menyiksa. Rasa pedas ini masih lebih ringan, ketimbang nanti di Yaumil Akhir, Anda disuruh makan potongan-potongan logam yang membara.

Nah, inilah beberapa tips praktis sebelum menonton video mesum. Video apa saja lah, apakah video di internet, VCD, atau hasil download-an. Siapa saja pelakunya, tidak peduli pelacur, tukang zina, gigolo, pelacur berkedok artis, pelacur berkedok isteri orang, pelacur berkedok penyanyi, dan sebagainya.

Semoga bermanfaat. Allahumma amin.

AMW.

NB.: Maunya komitmen dengan niat terminal. Tetapi ada saja kenyataan-kenyataan yang membuat kita “tidak boleh diam”. Kalau diam, khawatir makin merebak kerusakan yang luas. Sungguh, kenyataan ini kerap kali membuat saya “maju-mundur”. Bukannya tidak konsisten. Tetapi ini benar-benar konsekuensi dari amanah ilmu yang Allah Ta’ala titipkan. Menyembunyikan ilmu, alangkah beratnya. Ya, mohon doa dari pembaca semua, agar semua sisi urusan kami mendapat kemudahan dan pertolongan dari Allah As Shamad. Agar amanah yang satu tidak merugikan amanah yang lain. Wastaghfirullaha li lakum ajma’in.



Sumber

Posted by Adimin

Perangkat Nilai “Mesin” Dakwah

Written By @Adimin on 25 June, 2012 | June 25, 2012



Bekerja di ladang dakwah telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran kepada kita semua. Semakin hari semestinya kita menjadi semakin dewasa, karena dimatangkan oleh peristiwa demi peristiwa, oleh benturan, oleh gesekan, oleh program yang berkesinambungan.

Ketika dakwah mampu menghimpun para aktivis dalam sebuah tatanan, sesungguhnya pada dirinya terkandung dua sisi sekaligus. Pertama sisi potensi yang melimpah ruah, oleh karena dakwah akan dikuatkan oleh berbagai potensi yang dibawa oleh setiap aktivis. Namun pada sisi lainnya, terdapat pula peluang terjadinya gesekan tingkat tinggi, karena semua orang memiliki kemampuan yang setara untuk memimpin dan menempati posisi strategis.

Misalnya saat menentukan kepemimpinan lembaga dakwah, semua aktivis pada hakikatnya memiliki kemampuan, kapasitas, dan kapabilitas yang setara. Artinya, semua aktivis memiliki peluang yang sama dalam menempati posisi tersebut. Demikian pula saat menentukan personal untuk menempati pos-pos strategis dalam dakwah, baik di dalam lembaga maupun di luar lembaga, semua aktivis relatif memiliki kapasitas yang setara untuk mendudukinya.

Para pemimpin sering kesulitan saat harus memilih personal, bukan karena tidak ada potensi, namun justru karena semua aktivis memiliki potensi. Sementara pos-pos strategis baik internal maupun eksternal jumlahnya cukup terbatas, yang tentu saja tidak mungkin mampu mewadahi semua aktivis. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus memilih. Bagi yang tidak terpilih, bukan berarti “tidak potensial” atau “tidak terpakai”, sesungguhnyalah semua ingin dipilih, namun pos yang ada sangat terbatas.

Gesekan Adalah Keniscayaan
Setiap titik interaksi kita, selalu menimbulkan gesekan. Walaupun interaksi itu seluruhnya dalam kebaikan, tidak ada satupun yang bernilai kejahatan. Namun selalu menimbulkan gesekan. Justru karena saling bergesekan antara satu komponen dengan komponen lainnya itulah yang menyebabkan mesin menjadi berfungsi dan bisa menggerakkan roda mobil.

Gesekan itu kadang terasa menyakitkan, justru karena kita semua menginginkan kebaikan. Sejak awal kita “menjadi mesin” yang menggerakkan roda perjalanan dakwah, sepenuhnya telah sadar, bahwa apapun akan kita tempuh untuk mencapai tujuan mulia. Kita menyadari ada bahaya dan hambatan dari luar, namun amat banyak pula yang berasal dari dalam.

Manajemen apapun tidak akan bisa menghindarkan kita dari saling bergesekan, karena sebagai mesin kita semua harus bergerak. Satu komponen berpengaruh dan terhubung dengan komponen lain, saling berinteraksi secara positif, sehingga bergeraklah roda dakwah. Namun sepanjang perjalanan, mesin tentu mengalami pemanasan, dan semakin kencang laju mobil dakwah, semakin kuat pula gesekan antar komponen.

Manajemen yang diperlukan bukanlah menghindarkan gesekan antar komponen, namun manajemen untuk melicinkannya, agar gesekan yang terjadi sebagai sebuah keharusan tidak saling menyakiti dan tidak saling melukai. Semua komponen diperlkukan, walau hanya mur dan baut, walau hanya karet penghubung, namun seluruhnya menjadi satu kesatuan untuk berfungsinya mesin dengan baik.

Pada banyak kalangan partai politik, gesekan bisa sedemikian keras dan kasar. Dampaknya, sebagian pihak terlempar, sebagian terjatuh, sebagian terbuang, sebagian tersingkirkan, dan sebagian lainnya berkuasa. Mereka tidak tahan terhadap gesekan, karena memiliki watak ingin menguasai. Semua komponen ingin mengalahkan dan menjatuhkan yang lainnya, dalam sebuah rivalitas yang amat keras.

Sepuluh Perangkat Nilai

Bersyukur, dalam dakwah telah disiapkan perangkat yang memungkinkan semua komponen siap untuk bekerja dengan optimal. Perangkat paling utama bernama kepahaman. Dengan perangkat ini semua komponen mengerti berbagai tuntutan perjalanan dakwah sehingga mampu menyiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.

Perangkat kedua adalah keikhlasan. Dengan landasan keikhlasan, berbagai gesekan tidak sampai menimbulkan korban yang berjatuhan. Bukankah kita semua bekerja untuk mencari ridha Allah dan bukan mencari jabatan, kemuliaan, popularitas, kedudukan dan lain sebagainya.

Perangkat ketiga adalah amal yang berkesinambungan. Bekerja dalam dakwah memerlukan kontinuitas amal, sehingga menuntut bekerjanya semua komponen mesin dakwah setiap saat. Dakwah tidak akan berhenti hanya oleh karena ketakutan terkena dampak gesekan.
Perangkat keempat adalah kesungguhan atau jihad. Semua komponen dituntut untuk melaksanakan kegiatan dan agenda dakwah sepenuh kesungguhan. Termasuk bersungguh-sungguh menyiapkan jiwa agar memiliki daya tahah prima di medan dakwah yang penuh tantangan.

Perangkat kelima adalah pengorbanan. Dakwah tidak akan bisa berjalan tanpa didukung pengorbanan. Semua komponen siap memberikan pengorbanan terbaik demi tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Termasuk mengorbankan “gengsi” diri, dalam rangka mencapai tujuan dakwah.

Perangkat keenam adalah ketaatan. Semua pihak dalam tatanan dakwah harus memiliki ketaatan terhadap rujukan utama dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam tataran praktis, dituntut pula memiliki ketaatan terhadap manhaj dakwah, serta keputusan lembaga dan para pimpinan, walaupun di antara isi keputusan tersebut ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.

Perangkat ketujuh adalah keteguhan. Seluruh aktivis dakwah harus memiliki keteguhan dan ketegaran dalam menapaki jalan dakwah. Sangat banyak cobaan dan hambatan di sepanjang perjalanan dakwah, hanya aktivis yang memiliki keteguhan hati, ketegaran jiwa, kekokohan sikap, yang akan mampu melewatinya.
Perangkat kedelapan adalah kemurnian. Dakwah menuntut kemurnian hati, pemikiran dan aktivitas. Dakwah menghajatkan kemurnian orientasi, niat dan tujuan, agar terbebaskan dari penyimpangan tujuan yang sangat membahayakan.

Perangkat kesembilan adalah persaudaraan. Kita semua diikat dalam sebuah tali persaudaraan yang kuat. Setiap kita lebih mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri. Kita bahagia jika mampu membahagiakan saudaranya. Semua kita menjadi bersedih jika membuat saudaranya berduka. Kebersamaan adalah kunci kemenangan dakwah.

Perangkat kesepuluh adalah kepercayaan. Ikatan dalam dakwah bukanlah materi, bukan jabatan, bukan kedudukan duniawi, namun ikatan visi, ikatan tujuan, ikatan iman, ikatan manhaj. Oleh karena itu sangat diperlukan saling kepercayaan antara satu bagian dengan bagian lainnya, antara pimpinan dengan anggota, dan antara sesama aktivis dakwah.
Saya selalu merangkai sepuluh perangkat tersebut dalam satu kesatuan. Saya selalu melihat kesepuluh perangkat itu adalah mutiara berkilauan. Sebelum berbicara manajemen praktis, kita terlebih dahulu diikat oleh sepuluh perangkat nilai, yang menyebabkan kita mampu melewati semua mihwar, semua tahapan, semua fase dalam dakwah, kendati sangat banyak gesekan dalam menjalankan kegiatan.

Sumber


Posted by Adimin

Konsolidasi Internal DPD Padang dan Pengurus DPC

Seiring dengan berputarnya waktu dan terus bergeraknya roda dakwah Partai Keadilan Sejahtera maka kali ini DPD PKS Kota Padang mengadakan konsolidasi internal antara DPD dan DPC. Kegiatan ini dilakukan di Rumah makan Mama restu dikawasan Tarandam, turut serta struktur DPD PKS Kota Padang diantaranya Ketum DPD Padang Ust. Drs. Muhidi, MM bersama Sekum Ust. Muharlion, SPd serta beberapa Ketua-ketua DPC yang ada di kota Padang beserta Ketua Bidang Kaderisasi masing masing DPC.
Dalam arahannya Ust Muhidi, MM menyampaikan perlunya pengurus DPC untuk segera bergerak dalam mengimplementasikan program-program unggulan yang sudah dirumuskan pada Rakorda PKS Padang beberapa saat yang lalu. Beliau menyampaikan bahwa sudah saatnya struktur pengurus DPC dan DPRa untuk terjun kemasyarakat luas agar nantinya masyarakat lebih merasakan manfaat dari Partai Keadilan Sejahtera. Acara berlangsung gayeng, serius tapi santai diselingi dengan snack yang membangkitkan selera.
Setelah sholat maghrib peserta syuron makan malam bersama dan langsung dilanjutkan dengan diskusi antara pengurus DPD dan DPC. Dalam diskusi itu masing masing DPC menyampaikan kendala kendala yang dihadapi dilapangan dan kemudian diberikan arahan oleh Ust Muhidi, bagaimana caranya melakukan kiat-kiat agar DPC dan DPRa bisa lebih eksis dan keberadaannya sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Acara selesai sekitar waktu sholat Isya yang diringi dengan semangat membara pada diri masing masing pengurus DPC untuk berbakti dan bekerja untuk Padang yang lebih baik insyaALLAH . . . . . . . .

Posted by Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger