pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Gubernur Sumbar, Launching Kawasan Rumah Pangan Lestari

Written By Unknown on 24 May, 2013 | May 24, 2013


Percepatan penganekaragaman konsumsi pangan, merupakan suatu hal yang harus mendapat perhatian serius baik dari Pemerintah maupun oleh masyarakat, sebab dari perkembangan konsumsi penduduk Indonesia saat ini masih menunjukkan kecendrungan belum beragamnya jenis pangan dan keseimbangan gizi yang ditunjukan. Hal demikian disampaikan oleh Gubenur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Kamis (23/05) sore, pada acara pencanangan Kawasan Rumah Pangan Lestari di daerah Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok.

Menurut Gubenur Sumatera Barat, sebagai bukti akan keseriusan pemerintah terhadap permasalahan ini, Pemerintah telah mengeluarkan sebuah keputusan tentang ketahan pangan dengan Keputusan Presiden No. 22 Tahun 2009, untuk itu kepada masyarakat diharapkan juga bisa menyambut dan menyikapinya dengan serius.

Harapan pada tahun 2012, kecendrungan belum beragamnya jenis pangan dan keseimbangan gizi yang ditunjukan dari skor pola pangan. Untuk Nasional baru mencapai 75,4 % sedangkan untuk sumatera barat anggka PPH masih berkisar 77,5 %,.

Untuk Kota Solok sendiri, Irwan Prayitno menambahkan, bahwa saat ini telah tumbuh sebanyak 15 kelompok dengan anggota masing-masing kelompok sebanyak 10 keluarga, dimana mereka telah melakukan berupa kegiatan, yakni Kawasan Rumah pangan Lestari dengan focus kegiatan yang dilaksanakan oleh para ibu-ibu melalui optimalisasi pemamfaatan perkarangan.

Hal itu merupakan solusi yang tepat untuk menuju kosumsi masyarakat yang beragam, bergizi, seimbang dan aman.

“Selaku Pemerintah serta atas nama masyarakat Sumatera Barat menucapkan terima kasih kepada Kementrian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan atas diluncurkannya kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari untuk tahun ini di Propinsi Sumatera Barat “, jelasnya.

Sementara itu Walikota Solok, Irzal Ilyas mengucapkan terima kasih atas telah dialokasikannya dana bantuan social untuk KRPL di Kota Solok. Dengan adanya bantuan sebanyak 15 kelompok wanita di daerah tersebut, maka mereka dapat memamfaatkan dalam berbagai hal untuk menujang program ketahan pangan dengan sasaran optimalisasi pemamfaatan perkaranga.

“kalau program ini berjalan dengan baik tentunya akan bisa menumbuh kembangakan ekonomi masyarakat, dimana setelah mereka konsumsi sendiri tentunya nanti juga bisa mereka pasarkan dengan baik “, jelas Wako Solok.

Sementara itu dipilihnya daerah Payo sebagai tempat dilaksanakannya launcing KRPL ini, lantaran daerah tersebut merupakan kawasan sentra produksi dan kawasan usaha tani terpadu yang berorientasi bisnis, selain itu daerah ini memiliki potensi yang sangat besar dalam pengelolaan Tanaman, Perkebunan dan bahkan Peternakan sendiri. (*)

*padang-today.com

posted by @A.history

Indonesia Bersih



Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sebelum tahun 1970, kondisi Singapura tak jauh berbeda dengan keadaan Indonesia saat ini. Sampah bertebaran di mana-mana, sungai-su­ngai kotor, bau karena dicemari beraneka jenis sampah. Keruwetan ter­lihat jelas di kota pulau be­kas jajahan Inggris yang didiami penduduk beragam etnis tersebut.
Jepang dulu juga de­mikian. Sungai-sungai, pantai dan pelabuhan ter­li­hat jorok dan bau, penuh sampah. Bahkan berbagai limbah industri, termasuk bahan buangan berbahaya (B3) seenaknya digelontorkan ke perairan umum menambah parah pencemaran lingkungan.
Suasana tak nyaman tentu saja jelas terasa. Tak hanya itu, pencemaran lingkungan ternyata juga berdampak terhadap kesehatan manusia. Akibat pencemaran, di Jepang muncul penyakit aneh yang dinamakan itai-itai. Penyakit ini menyebabkan kelumpuhan sistem syaraf manusia yang menyebabkan ia merasa sakit sepanjang hari. Karena itu penderita sepanjang hari mengeluh “itai… itai…” (bahasa Jepang = sakit). Lalu penyakit itu dinamakan itai-itai.
Selanjutnya diketahui bahwa penyakit itai-itai disebabkan oleh pencemaran logam mercuri pada air dan lingkungan. Logam ini masuk melalui air dan makanan ke dalam tubuh manusia, lalu menumpuk (terdeposit) dalam jaringan syaraf manusia. Kejadian inilah yang menyebabkan munculnya penyakit itai-itai yang menimbulkan gangguan sistem syaraf, kelumpuhan, cacat pada bayi, bahkan kematian.
Terpicu oleh kejadian tersebut, pemerintah dan masyarakat Jepang melakukan perubahan. Pemerintah mengeluarkan peraturan ketat untuk mencegah pencemaran lingkungan. Sanksi tegas diberikan bagi pelaku pencemar lingkungan. Perusahaan-perusahaan dan industri harus membuat instalasi pengolahan limbah, agar air buangannya tidak mencemari lingkungan. Sedangkan masyarakat sebagai individu menegakkan disiplin agar tidak menjadi kontributor pencemar lingkungan.
Singapura juga melakukan hal serupa, sejumlah program dibuat untuk menanggulangi pencemaran lingkungan, termasuk sampah-sampah yang bertebaran yang merusak pemandangan dan mencemari lingkungan. Aturan dan sanksi diperketat, disiplin ditegakkan secara tegas, masyarakat mematuhinya dan ikut berkontribusi sebagai penjaga kebersihan, bukan lagi sebagai pencemar.
Hasilnya sekarang bisa kita lihat. Singapura menjelma menjadi negara kecil maju, bersih, tertib dan nyaman. Siapa pun ingin berkunjung, berwisata atau melakukan investasi di Singapura. Jepang apalagi, meski terkenal sebagai negara industri, namun kota-kota di Jepang selalu bersih, rapi dan nyaman. Kualitas kesehatan masyarakat menjadi tinggi tinggi. Karena sehat, rata-rata penduduknya berumur panjang.
Dari contoh dan pengalaman di atas bisa kita simpulkan bahwa kota semrawut, kotor dan kacau balau, bisa diubah menjadi kota yang indah, nyaman dan sehat. Kuncinya adalah tekad dan kemauan serius masyarakatnya untuk berubah dan memperbaikinya menjadi baik. Aturan dan sanksi lalu dibuat pemerintah sebagai kontrol. Namun lebih penting tentu saja kemauan masyarakatnya untuk berubah.
Di Padang yang jumlah penduduknya lebih dari 600 ribu jiwa, bagaimana mungkin masalah sampah dan kebersihan bisa diselesaikan hanya oleh sekitar 50 orang petugas kebersihan? Tentu saja justru peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dan lebih dominan.
Menjaga kebersihan dan menciptakan lingkungan nyaman bisa dimulai dari hal-hal kecil. Setiap keluarga menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan di rumah masing-masing. Sekolah-sekolah juga menciptakan kenyamanan dan kebersihan di lingkungannya masing-masing. Sedangkan setiap kantor juga menjaga kebersihan, menciptakan kenyamanan dan keindahan di lingkungan masing-masing. Mushala dan masjid bersama jamaahnya juga menjaga kebersihan dan kenyamanan di lingkungan masing-masing.
Insya Allah jika hal itu dilakukan, tanpa terasa kita telah memperbaiki kualitas lingkungan kita serta kulitas hidup kita. Jika hal itu dilakukan di semua kota di Indonesia dan seluruh Indonesia, kita yakin negara yang kita yang indah ini menjadi negara yang bersih dan nyaman. Kesejahteraan akan datang menyusul. (*)
Padang Ekspres 24 Mei 2013
posted by @A.history

Sebar Berita PKS Tendensius di Google, Akhirnya Kompas.Com Diblokir Facebook?



Sejumlah pemberitaan terkait di portal berita Kompas.com tak bisa disebarluaskan melalui situs jejaring sosial Facebook.
Ketika pembaca hendak melakukan sharing berita via Facebook melalui tombol "Like" dan "Share" yang terdapat di dalam artikel, sebuah pesan "error" akan muncul.
Pesan "error" tersebut menyatakan bahwa tautan berita yang bersangkutan telah diblokir lantaran dianggap tidak aman atau mengandung spam.
Pemblokiran yang sama juga terjadi di browser dan aplikasi Facebook versi mobile, serta apabila pembaca hendak melakukan sharing manual via Facebook dengan melakukan "copy-paste" alamat URL berita ke kolom status dalam situs jejaring sosial tersebut.
Hal yang sama terjadi bila pengguna Facebook ingin mengirimkan tautan berita tertentu ke teman melalui fitur "Private Message".
Lebih spesifiknya, pemblokiran Facebook menimpa sejumlah berita yang dipublikasikan pada hari Rabu, 22 Mei 2013 kemarin, tepatnya di rubrik Nasional. Sementara itu, berita yang dipublikasikan pada hari lain ataupun di rubrik lain tidak mengalami masalah yang sama.
Informasi sebelumnya menyatakan bahwa masalah hanya terjadi pada artikel terkait kasus impor daging sapi. Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa masalah terjadi tidak secara spesifik ke pemberitaan tersebut. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dari pemberitaan sebelumnya.(tkp)

*Suara news

posted by @A.history

Mengkritisi “Opini” Majalah Tempo Edisi 20-26 Mei 2013


Membaca rubrik opini majalah Tempo edisi 20-26 Mei 2013 dengan judul “Patgulipat partai Dakwah”, langsung terlihat betapa kuatnya keinginan majalah itu dalam menyerang PKS, bahkan bisa dibilang mencoba membunuh karakter PKS yang saban hari belakangan ini  menjadi bulan-bulanan pemberitaan media. Di rubrik opini itu, Tempo di paragraf pembukanya langsung dengan bahasa menyerang. Tanpa ragu Tempo menulis “Teori tentang Ahmad Fathanah dan PKS adalah cerita tentang politik buruk rupa. Politik yang tak ditujukan untuk kemaslahatan orang ramai, tapi menghamba pada urusan perut dan bawah perut—politik yang terkontaminasi oleh korupsi dan esek-esek.”

Kesan menyerang tak bisa disembunyikan karena dalam paragraf itu Tempo telah berupaya menjadikan sama (identik) antara PKS dan Fathanah. Bagi Tempo yang memang dikenal galak dengan PKS itu,  mungkin perlu membuka-buka lembaran surat kabar atau searching google untuk sekadar melihat begitu banyaknya kerja nyata dan positif PKS di tengah masyarakat. Siapa partai yang selalu hadir melakukan pelayanan kepada warga seperti bakti sosial, pertolongan terhadap korban bencana, bazar sembako murah, pelayanan kesehatan, dan sebagainya. Jika tempo merasa tidak menemukan jawabannya di media mainstream atau di google sekalipun, itu karena memang jarang sekali media besar yang mau meliput kerja-kerja nyata PKS.

Berbeda dengan para pemilik media besar yang jika membacakan pidato saja, media miliknya mau siarkan dengan waktu khusus. Jika begitu, Tempo juga bisa mengutus reporternya untuk turun langsung ke masyarakat, tanya mereka yang tinggal di gang-gang sempit, bantaran kali, perumahan kumuh, siapakah partai yang rutin menyapa mereka dengan berbagai kegiatan positif. Apakah sekian banyaknya aksi nyata PKS di tengah masyarakat itu harus dilupakan, dan digantikan dengan citra negatif (korupsi dan esek-esek) hanya karena satu orang Fathanah yang memang pada faktanya tak pernah mengaku sebagai kader PKS?

Serangan Tempo itu terus berlanjut dengan mengatakan bahwa sosok Fathanah yang kedapatan ketangkap di kamar hotel bersama seorang perempuan adalah icon aib partai dakwah. Padahal sudah jelas bahwa Fathanah itu bukan siapa-siapa PKS, kader bukan, apalagi petinggi struktural. Namun kenapa Tempo dengan gampangnya berkata bahwa Fathanah adalah ikon aib PKS. Apakah kurang klarifikasi dari Fathanah sendiri bahwa dia bukan kader PKS? Atau Tempo tak peduli dan hanya mau asyik dengan imajinasi kebenciannya sendiri, karena dalam paragraf selanjutnya Tempo mengatakan dengan analisa terkesan canggih. “Seperti dalam novel spion Melayu, aksi Fathanah disangkal petinggi PKS. Politik amputasi ini terkesan strategis meski sesungguhnya amatiran. Sebab seperti menyembunyikan bangkai, bau busuk duit Fathanah tak bisa dicegah maruap.” Dalam bagian itu Tempo terlihat bergerak lebih jauh. Setelah tidak percaya klarifikasi dari Fathanah bahwa ia bukan kader PKS, ia bahkan berimajinasi bahwa Fathanah adalah sosok yang coba dibuang oleh PKS setelah dimanfaatkan dananya. Hal ini menjadikan kita bingung mana fakta dan mana imajinasi.

Tidak selesai sampai di situ. Bahkan Tempo kemudian menyerang dengan membuka front baru. Pada paragraf selanjutnya bukan lagi dengan sosok Fathanah yang pada awal tulisan rubrik opini sempat menjadi bahan pembahasan utama dan dijadikan identik dengan PKS. Tempo bergerak dengan sosok baru bernama Yudi Setiawan. Entah kenapa Tempo beralih pada sosok baru bernama Yudi Setiawan, mungkin karena sosok ini bisa digunakan untuk menyerang PKS.

Di bagian paragraf rubrik opini selanjutnya Tempo menulis tentang Yudi Setiawan yang dikatakannya memiliki keterkaitan dengan elit PKS dalam melakukan kejahatan korupsi. Tempo menulis “adalah Yudi Setiawan, sang pembocor. Ia tersangka kasus pengadaan alat peraga pendidikan di kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, yang kini mendekam di LP Teluk Dalam, Banjarmasin. Jauh sebelum terungkap, Yudi membobol banyak proyek pemerintah, ditengarai dengan bantuan Fathanah,” stop di situ, dan kita liat, bahwa dalam paragraf itu Tempo  mengatakan bahwa sebelum ditangkap Yudi membobol banyak proyek pemerintah, ditengarai dengan bantuan Fathanah dan Luthfi. Entah kenapa tiba-tiba Tempo sangat percaya dengan kesaksian penjahat bernama Yudi Setiawan ini, padahal di awal Tempo menulis berbagai kejahatan seorang Yudi ini. Mungkin karena kesaksiannya menyerang PKS, boleh saja dipercaya.

Jika kita sandingkan antara opini dengan rubrik “laporan utama” Tempo yang berjudul “Dana Hitam Partai Putih” sebagai ulasan lengkapnya. Di sana tertulis berdasarkan kesaksian Yudi, ia mengenal Luhfi pertama kali tanggal 16 Juni 2012  dikenalkan oleh Fathonah. (wawancara Tempo halaman 45). Lalu berdasarkan ulasan di majalah itu hal 36 tertulis bahwa pada pertemuan kedua tanggal 29 Juni 2012, Luthfi menurut Yudi sudah berani membicarakan sejumlah proyek yang bisa digarap Yudi. Bahkan sudah berani buka-buka urusan target pengumpulan dana pemenangan pemilu 2014 yang disebutkannya berjumlah Rp 2 triliun.

Dikatakan Yudi, bahwa diskusi mengenai pencarian dana target Rp 2 triliun itu kemudian diterangkan pada papan tulis samping meja rapat. Sebelum pertemuan rapat selesai seorang karyawan Yudi memotret papan itu untuk dokumentasi notulen rapat. Sampai di sini terlihat Tempo di atas angin karena seolah memiliki fakta otentik tentang upaya pencarian dana PKS itu. Padahal kalau dipikir secara mendalam, apakah PKS sebodoh itu, membuka rahasia pencarian dana kepada orang yang baru dikenal? Untuk urusan penempatan pejabat strukutral di partai saja, PKS termasuk partai yang sangat hati-hati. Di sana ada alur yang jelas dan rigit. Penjenjangan karir kader harus dijalankan dari bawah hingga  tingkat atas. Apalagi untuk urusan dapur macam pencarian dana yang dikatakan Tempo berasal dari dana haram yang diambil dari beberapa kementerian yang dipimpin oleh elit PKS itu. Sebodoh itukah partai yang terbiasa bergerak underground sejak jaman orde baru itu? Dan yang lebih aneh lagi di halaman 40, majalah Tempo menulis Yudi sudah menjadi buruan polisi berbagai daerah sejak 2011.  Tempo menulis “adapun Yudi, simpul utama dalam kasus pembobolan Bank Jatim, sudah menjadi buruan polisi berbagai daerah sejak 2011. Soalnya pria kelahiran Surabaya 35 tahun lalu itu merupakan tersangka dalam belasan kasus korupsi di berbagai kabupaten di Jawa dan luar jawa. Di Kepolisian daerah Metro jaya, Yudi juga menjadi tersangka kasus narkotik,” aneh, kok buronan bisa berkeliaran bebas?
Lagi pula, argumen Tempo untuk mengaitkan Yudi Setiawan dengan beberapa elit PKS yang disebutkannya seperti Luthfi dan Anis Matta dalam masalah uang, sangat lemah. Karena dalam rubrik “Laporan Utama”  hanya disebutkan permintaan dana dari (katanya) elit PKS selalu melalui Fathanah. Seperti pada halaman 36 tertulis: “Permintaan mulai datang dari Luthfi melalui Fathanah. Pada  7 Juli 2012, Fathanah mengaku diperintah Luthfi meminta uang tunai Rp 250 juta. Luthfi juga pernah meminta Rp 1,45 milyar untuk keperluan partai. Sebagian besar uang itu diterima Fathanah,”

Kemudian di halaman 37 di rubrik “laporan Utama” juga demikian.  Tempo menulis “Dalam catatan keuangan Yudi yang salinannya diperoleh Tempo, tertulis sembilan kali penyerahan uang untuk Anis, yang totalnya Rp 7,077 miliyar. Pemberian selalu dilakukan dengan transfer ke rekening Fathanah,” Jadi seperti di awal, Tempo telah gegabah menyamakan sosok Fathanah yang selalu meminta uang kepada Yudi dengan PKS. Padahal sejak dari Fathanah sendiri mengatakan tak ada keterkaitan antara dirinya dengan PKS.

Tidak sampai di situ, Tempo bergerak dengan serangan lainnya bahkan tak ragu dengan menempatkan diri sebagai hakim yang telah memvonis bahwa PKS dalam hal ini telah benar-benar melakukan korupsi, dan bukan hanya oknumnya saja, tapi sudah melibatkan organisasi partai.  Seperti yang ditulis Tempo: “Keterlibatan Luthfi dan Anis Matta menunjukkan perkara Fathanah bukan sekadar masalah oknum, melainkan organisasi. Kuat dugaan uang itu tak cuma masuk ke kantong pribadi, tapi juga dipakai untuk menggerakkan organisasi,”

Kemudian terlihat pada akhirnya, maksud Tempo mengaitkan kasus ini dengan PKS secara organisatoris pun terungkap pada paragraf selanjutnya. Tempo menulis “Diskusi pembubaran partai yang terbukti melakukan kejahatan korporasi selayaknya dilanjutkan. Meski sulit, gagasan itu bukanlah suatu yang mustahil, setelah dibuktikan di pengadilan, rencana pembubaran partai bisa diajukan ke mahkamah Konstitusi,”

Luar biasa Tempo ini, kita lihat alur berpikirnya dimulai dari menyamakan perilaku Fathanah dalam perkara percobaan penyuapan dan asusila dengan PKS. Kemudian mengaitkan tuduhan yang masih perlu bukti itu dengan kejahatan yang melibatkan organisasi. Kemudian  ditutup dengan usulan untuk melakukan pembubaran PKS. Tidak sulit untuk mengatakan bahwa rubrik opini ini penuh dengan serangan terhadap PKS sejak dari awal hingga akhir.

Kita pun paham bahwa semua media massa pasti memiliki pendapat terhadap suatu kasus yang ditempatkan di satu rubrik. Banyak sebutannya untuk rubrik itu, seperti “tajuk utama”, “gagasan”, “editorial, “opini”, dan sebagainya. Rubrik seperti opini dalam majalah Tempo ini   disajikan sebagai sebuah pendapat media, bukan sebagai berita yang berdasarkan fakta. Oleh karena itu tak seharusnya pendapat itu disikapi sebagai sebuah berita. Begitu juga, media tak perlu merekayasa sebuah rubrik opini sebagai suatu yang berlandaskan fakta dan akhirnya menipu publik.

Setidaknya kita harus memahami, rubrik opini bukanlah dibangun atas dasar fakta yang layak dipercaya. Selain itu,  dengan melihat opini tempo dari awal hingga akhir, sebenarnya kita bisa memahami bahwa pemberitaan tendensius dan berat sebelah sudah pasti jauh dari unsur objektivitas dalam menyajikan berita. Wallahu a’lam.

*dakwatuna

posted by @A.history

Sikap Resmi PKS Menyikapi Ujian yang Menimpanya



Jakarta - Ketika sebuah pohon tumbuh semakin tinggi, tentulah angin yang menerpanya semakin kencang. Kekuatan akar yang tumbuh sebagai buah dari kesabaran dalam merawatnya menjadi kekuatan yang mampu menahan terpaan panas, hujan dan badai.


Demikian pula yang dihadapi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kali ini, terpaan badai ujian dan cobaan serasa demikian kuat mengombang-ambingkan pucuk dan dahan, bahkan terasa hingga menusuk ke akar. Pertanyaan datang bertubi-tubi, hinaan menerpa silih berganti, bahkan kasus hukum dan politik telah merambah keranah gosip dan ghibah. Harta, tahta dan wanita jadi senjata guna memutarbalikkan fakta. Asas praduga tak bersalah jadi barang langka, demi untuk memuaskan dahaga para pendusta.

Namun dibalik itu semua, PKS sangat menyadari betapa besar harapan masyarakat terhadap perubahan kearah yang lebih baik. Oleh karena itu PKS berusaha untuk menyikapi ini semua secara arif dan bijaksana.

Kepala Bidang Humas PKS, Mardani Alisera menjelaskan sikap PKS. “PKS tetap berusaha selalu menjadi partai yang lebih baik. Karena itu PKS membuka diri atas masukan, kritik, dan saran dari semua. PKS yakin itu bagian dari rasa cinta dan perhatian,” ujarnya.

“Untuk kasus dana yang mengalir dari AF monggo diusut dan dibuka di pengadilan. PKS mengapresiasi PPATK yang sangat diperlukan bagi terwujudnya transparansi yang jadi dasar Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera,” jelasnya sambil menegaskan bahwa kasus Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq adalah persoalan pribadi yang tak ada kaitannya dengan PKS.

“Untuk kasus Darin, kami berpendapat, monggo dibuktikan, diusut dan diselidiki. Jika terbukti benar terjadi pernikahan, ini sangat tidak biasa dalam rumah tangga kader PKS,” lanjutnya lagi.

Mardani juga menjelaskan tentang pernikahan yang dilakukan oleh kader PKS. Kader PKS telah punya standard yang jelas dalam mencari jodoh, yaitu sholih/ah. Dan lebih dipilih lagi yang sama-sama aktivis dalam dakwah.

“Selalunya pernikahan kami lakukan di antara ikhwan dan akhwat yang satu perjuangan. Karena itu, sekali lagi jika itu benar terjadi maka kami tidak memahami landasan terjadinya pernikahan itu. Doa kami, berita itu tidak benar.”

Pada akhirnya, setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

“Jikapun benar, maka tiap orang mesti bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya,” pungkasnya. (sbb/dtk)

*dakwatuna


posted by @A.history

Prahara PKS sampai ke Mana ?

Written By @Adimin on 23 May, 2013 | May 23, 2013







Nah, itu adalah judul ILC malam tadi. Dari sisi judul saja paling tidak, “ILC” sendiri pun tidak tahu kemana sebenarnya arah kasus LHI. Jika arah kasus itu tujuannya adalah PKS, PKS sama sekali tidak terlibat dalam masalah impor daging. Jika arah kasusnya adalah LHI, maka makin bingung lagi kita memikirkannya. 


Siapa itu LHI sekarang? pejabat publik bukan, pemimpin masyarakat juga bukan. Pun dia tidak akan membawa nyanyian-nyanyian yang akan melibatkan petinggi PKS lainnya. Lantas apa sebenarnya yang terjadi? Para pakar hukum yang menyampaikan pendapat pun dengan bahasa yang mudah dimengerti, mengisyaratkan kasus daging ini sudah selesai, kecuali jika memang KPK memiliki banyak logistik yang memang hanya KPK saja yang tahu. Aneh.

Bahkan yang bukan pakar hukum pun, seperti Sujiwo Tejo mengomentari para pakar hukum itu dengan sindirannya yang khas, kalau memang ini kasus hukum, ya hukum saja yang diangkat, jangan membawa bawa masalah wanita. Pandangan yang mewakili orang awam. Permasalahan wanita lebih menjadi intens ketimbang masalah kasusnya sendiri. 

Mungkin semuanya sepakat, ketika nama-nama wanita itu muncul, naluri investigasi kita lansung mencari informasi, siapa dia? mengapa dia? dimana dia? kapan dia? kenapa dia? dan lain sebagainya. Pun, investigasi yang kita lakukan adalah berdasarkan info-info sepotong dari media web. Jika pertanyaan itu terjawab, maka kita mencoba merangkaikan info-info dari media web itu sehingga menjadi sebuah kesimpulan. Oh, ternyata dia itu ini. Pendek akal.

Mengapa kita tidak mencoba sedikit berkonspirasi dan berimajinas serta berparanoid sedikit. Otak kita mampu untuk itu. Kemampuan otak kita bukan hanya merangkai info-info dari media web yang berisikan 2 paragraf tulisan. Otak mampu melakukan lebih dari itu.

Coba saja kita berandai. Sesuai misinya, PKS menargetkan 3 besar. Apa yang akan terjadi jika misi itu tercapai? Apakah PKS akan dominan di Legislatif dan Eksekutif? Siapa yang merasa paling terancam dengan ke dominan tersebut? Bagaimana hasil survey terhadap saat sebelum dan sesudah LHI di jadikan tersangka? Jika mau lebih jauh, bagaimana Freeport, Exxon Mobil, Chevron, dll jika partai ini dominan? akankah terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan itu? 

Lihat saja, ketika keran impor daging di sempitkan sedikit, banyak pihak-pihak berpaham neo liberal mengernyitkan kening. Termasuk manusia tak tersentuh, Budiono. Nah, jika memang iklim yang dibawa partai ini akan membahayakan dunia ke liberalan, kapitalisme, secara cerdas apa yang akan kita lakukan? Tekel dulu, hajar dulu, sikat dulu. Masalah benar salah, kartu kuning atau merah, belakangan.

Tetapi ini jika mencoba untuk berimajinasi secara liar saja. Semuanya, “Kita tunggu di Pengadilan”.
  

sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/05/22/prahara-pks-sampai-ke-mana-558231.html  (dengan sedikit editing)

posted by @Adimin

Cinta Dunia




Cinta dunia sudah menjadi fitrah setiap manusia. Tapi, jika porsinya berlebihan, cinta dunia bisa melemahkan hati dan jiwa. Karena itu, penting untuk selalu hati-hati dalam bergaul dengan dunia.

Menurut Syaikh as-Sadhan, cinta dunia yang terlarang adalah cinta dunia yang menyebabkan seorang lalai dari urusan akhiratnya. Kondisi seperti ini secara otomatis akan melemahkan hati.

Lemahnya hati merupakan kondisi yang sangat dinanti setan. Pada saat kita lemah, setan akan leluasa mempermainkan dan memecundangi kita. Sekitar 14 abad silam, Rasulullah telah mengingatkan tentang hal ini.

Beliau bersabda dalam sebuah hadisnya yang sangat populer, “Hampir saja umat-umat  memperebutkan kalian seperti sekolompok orang yang sedang lapar memperebutkan makanan. Para sahabat bertanya, “Apakah karena kami sedikit waktu itu wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Tidak, bahkan waktu itu kamu sangat banyak tapi kalian tak ubahnya buih dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan memasukkan kepada  kalian al wahn. Sahabat bertanya, “Apakah al wahn itu?” Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Hadis di atas mengabarkan kuantitas bukanlah jaminan utama lahirnya sebuah kekuatan. Kekuatan sesungguhnya akan tumbuh ketika kita bisa selamat dari al wahn, penyakit cinta dunia dan benci terhadap kematian. Untuk mengobati penyakit berbahaya ini, Rasulullah telah memberikan resepnya.

Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan (mati).” (HR Tirmidzi). Yang dimaksud pemutus kenikmatan adalah mati.

Mengingat mati bisa menjadi penawar atas ambisi dan cinta dunia kita yang berlebihan. Dengan mengingat mati, visi akhirat kita akan senantiasa terasah dan kekuatan jiwa kita akan kembali tumbuh.

Semangat mengejar akhirat kitapun akan menjadi dominan dalam keseharian tanpa mengabaikan urusan dunia. Hal inilah yang diinginkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (al-Qashas: 77).

Imam Shan'ani dalam bukunya Subulussalam menyebutkan atsar yang menjelasakan pengaruh mengingat mati dalam menguatkan jiwa.

Ad-Dailami meriwayatkan, “Perbanyaklah kalian mengingat mati karena tidaklah seorang mengingat mati kecuali Allah akan selalu menghidupkan hatinya dan menghilangkan rasa takutnya terhadap kematian.”

Dalam atsar lain disebutkan, “Perbanyaklah mengingat mati sebab ia akan menjadi penghapus dosa dan menyebabkan orang lebih zuhud dalam urusan dunianya.”

Singkatnya, dalam kondisi apa pun mengingat mati akan selalu mendatangkan manfaat dan kebaikan. Semua manfaat yang disebutkan tadi akan bermuara pada lahirnya satu kekuatan jiwa.

Semoga, dengan kekuatan ini umat akan lebih siap dalam menghadapi kebengisan dan kekejaman musuh yang kerap datang secara tiba-tiba. Amin.

Oleh Ahmad Rifai

posted by @Adimin

Rumah Kontrakan Darin Mumtazah Milik Anggota BIN?


JAKARTA - Darin Mumtazah mendadak tenar di tengah hiruk pikuk kasus suap impor yang melibatkan politisi PKS. Belum habis dikabarkan bahwa siswi salah satu SMK di Jakarta itu sebagai istri siri mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, kini muncul kabar bahwa rumah yang disewa keluarganya di Jalan Bhineka Raya No 3 RT 10 RW 09, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur ternyata milik seorang anggota Badan Intelejen Negara (BIN). 

"Rumah yang disewa keluarga Darin punyanya Pak Saut Situmorang," kata Ketua RT 10 Dede kepada wartawan beberapa waktu lalu. Saut, lanjut Pak RT bekerja di salah satu departemen pemerintahan, tanpa mengetahui nama departemannya secara rinci. 

Namun Dede mengingat bahwa Saut berciri-ciri kepala agak botak dan berbadan tegap. Awalnya muncul dugaan bahwa Saut yang dimaksud Dede adalah Staf Ahli Mendagri Bidang Pemerintahan yang juga bernama Saut Situmorang. Namun saat dikonformasi ternyata Saut yang juga bekas juru bicara Kemendagri membantah memiliki rumah tersebut. 

"Saya tidak punya rumah di daerah situ," ujar Saut setelah mengikuti rapat dengan Komisi I di DPR, Jakarta, Rabu (22/5). Lebih lanjut Saut mengatakan, dirinya hanya memiliki satu rumah yang beralamat di Jalan Pondok Bambu II Blok B no. 22, RT 01 RW 05 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit. "Mungkin saja itu Saut yang lain," imbuh Saut. 

JPNN pun menelusuri siapa sebenarnya Saut sang pemilik rumah. Munculah nama Saut Situmorang anggota Badan Intelejen Negara (BIN). Ciri-cirinya pun tak jauh beda dengan yang disebutkan Dede. Wartawan Jawa Pos pun mencoba menunjukkan foto Saut BIN yang didapat dari internet. "Benar pemilik rumah yang dikontrak orang tua Darin itu ya Pak Saut ini," kata Dede. 

Beberapa kali diminta mengamati, Dede pun yakin bahwa foto pria itu memang warganya yang memiliki rumah tersebut. "Dia jarang ke sini. kalau ke sini pas rumah yang dikontrakkannya habis masanya," imbuhnya. 

Berdasarkan situs tokohindonesia.com, Saut yang bernama lengkap Thony Saut Situmorang merupakan salah satu tokoh BIN yang pernah mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK untuk periode 2011-2015. Dia juga aktif sebagai dosen S2 Kajian Strategik Intelijen Universitas Indonesia. Selain itu, Saut juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Pertama KBRI di Australia. (mas/ara/gun/jpnn)

*jppn.com

posted by @A.history

Pengamat Hukum: Kurang Greget Tangani Kasus Besar, KPK Utamakan Pencitraan Daripada Profesionalita



Jakarta - Kelambanan Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) dalam menangani kasus-kasus besar mengundang reaksi dari beberapa pengamat dan politikus DPR.

Pengamat hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Muzakir mengatakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih mengutamakan pencitraan daripada profesionalitas. Terbukti sampai saat ini KPK belum dapat menuntaskan kasus korupsi besar seperti Century dan BLBI.

“KPK diberi wewenang yang besar, tapi cara menggunakan wewenangnya kurang elegant, cenderung mencitrakan dirinya, daripada meningkatkan kualitas dan profesionalitas aparat penegak hukum. Ini juga menjadi tugas KPK,” ujarnya kepada wartawan, tadi malam.

Muzakir menegaskan KPK hanya mencari pencitraan di mata masyarakat yang reaktif dengan kasus-kasus kecil.

“Tindakan KPK yang kurang greget dengan kasus yang besar, Century dan BLBI, menunjukkan bahwa KPK mencari jalan yang mudah dan cepat memperoleh citra yang baik di mata masyarakat (walaupun itu perlu), meskipun dananya yang dikembalikan ke negara relatif kecil,” tuturnya.

Apabila KPK dapat menyelesaikan kasus-kasus besar tersebut, maka KPK tidak akan dianggap tebang pilih dalam memberantas korupsi karena dana yang kembali ke negara juga lebih besar.

“Sementara jika berhasil ungkap perkara BLBI dan Century akan memberikan masukan ke negara dana ratusan triliun yang signifikan, dengan maksud dan tujuan pembentukan KPK dan anggaran negara yang dikeluarkan untuk KPK,” tandasnya.

Selanjutnya dikatakan juga, janji Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad untuk menuntaskan kasus bailout Bank Century belum juga terjawab. KPK belum menemukan titik terang dalam kasus yang merugikan keuangan negara Rp6,7 triliun itu.

Anggota Komisi VIII DPR, Nasir Djamil mengatakan, institusi tindak kejahatan korupsi tersebut seharusnya lebih ganas untuk menuntaskan kasus korupsi yang diduga melibatkan penguasa.

“Penyidik KPK seharusnya lebih ganas dengan kasus Century, publik bisa berharap kasus Century dibuka. Itu kan janji Abraham Samad waktu pemilihan di komisi III,” kata Nasir, di Jakarta, tadi malam.

Menurut dia, penyidik KPK harus lebih fokus untuk mengungkap dugaan keterlibatan penguasa terkait kasus Century. “Penyidik KPK harus lebih ganas terhadap Century, karena diduga terkait dengan kekuasaan,” tegas mantan Ketua Komisi III DPR itu.

Kata Nasir, janji Abraham Samad untuk menuntaskan kasus Century hanya janji belaka. “Itu membuat kami agak miris, harusnya lebih ganas, tapi seolah-olah tidak ada perkembangan,” tegas politikus PKS itu.

KPK sendiri mangkir dari undangan yang digagas Timwas Century DPR terkait penyelesaian kasus bank century pada rabu, 22/5.

“Kami terus terang kecewa. Kami kan hanya ingin mendengar progres report, tidak ingin melakukan persidangan,” ujar anggota Timwas Century DPR, Hendrawan Supratikno di DPR, Jakarta, Rabu (22/5). (fz/ind)

*dakwatuna

posted by @Adimin

Fahri Hamzah: Zaky Cerita Mau Diintimidasi KPK



Jakarta – Wasekjen PKS Fahri Hamzah kembali bicara soal Ahmad Zaky. Fahri menegaskan, Zaky yang juga orang dekat Luthfi Hasan ini sudah 9 kali diperiksa KPK dan datang. Kecuali diinsiden terakhir pada Senin (6/5) lalu. Zaky, disebut KPK kabur.

“Zaky orangnya nervous sudah 9 kali dipanggil, 9 kali datang. Kecuali insiden terakhir untuk saya duga penyerobotan di DPP PKS,” jelas Fahri, Rabu (22/5/2013).

Fahri menuturkan insiden ‘hilangnya’ Zaky. Saat itu dia menyebut KPK menyerobot masuk ke dalam area kantor DPP PKS. Zaky tengah menjalani pemeriksaan dan dibawa ke DPP PKS untuk menunjukkan mobil milik Luthfi.

“Dari KPK ngomongnya mau nganter dan mau lihat. Dan Zaky punya mobil di DPP, mau lihat mobil. Zaky ini yang menceritakan, tidak ada hubungan dengan penyitaan. Zaky mau diintimidasi,” tuturnya.

Ahmad Zaky orang dekat Luthfi Hasan. Diduga dia tahu banyak perihal aliran uang Luthfi. Zaki kini tak jelas rimbanya, dua kali panggilan KPK dia tak datang.

*Fahrihamzah.com


posted by @A.history

Fahri Hamzah: KPK Hancurkan Moral Luthfi Lewat Darin Mumtazah


JAKARTA - Nama Darin Mumtazah mencuat di publik. Pasalnya, Darin yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dipanggil KPK terkait kasus suap kuota impor sapi. Darin merupakan pelajar yang diduga dekat dengan tersangka Luthfi Hasan Ishaaq.

Wasekjen PKS Fahri Hamzah menilai hal itu merupakan bagian dari festival yang dilakukan KPK. "Dia (KPK) memenangkan opini publik. Publik kalau disinggung moral akan hancur. Lalu masuk ke hukum. Ini karena mau menghukum orang dihancurin dulu moralnya," kata Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (22/5/2013).

Fahri menyebutkan adanya aturan penyadapan yang diabaikan KPKsehingga moral seseorang bisa hancur. Ia menyebutkan penyadapan seharusnya diatur oleh Undang-undang. "Tapi di Indonesia PP penyadapan ditolak, KUHP diabaikan juga karena KPK lex specialis," ujarnya.

Sehingga pada akhirnya tidak ada aturan yang mengatur mengenai penyadapan. "Penyadapan maunya KPK saja," imbuh Fahri.

Ia mengatakan penyadapan juga harus disetujui oleh komite yang dibentuk oleh pengadilan. "Tapi akhirnya dia (KPK) menyadap Lutfi soal pusthun, hancurlah Lutfi, hancur lah Fathonah. Karena penyadapan adalah perampasan hak seseorang sehingga harus diatur terlebih dahulu," katanya.

*Tribunnews

posted by @A.history

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger