Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
July 10, 2013
posted by @A.history
Prof. Mudzakir (Kasus LHI) : Kumpulkan Bukti Yg Banyak, Baru Jadi Tersangka. Jangan Dibalik!
Written By Unknown on 10 July, 2013 | July 10, 2013
Guru Besar Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Mudzakir melontarkan kritik keras pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam diskusi Indonesia Lawyer’s Club (ILC) TV One Selasa malam (9-7) bertema “Eksepsi Luthfi: KPK Bermain Opini?”
Pakar hukum pidana yang pernah menjadi saksi ahli pada persidangan Susno Duadji ini merupakan salah satu narasumber dari banyak narsum ILC yang malam itu mengamini lontaran Fahri Hamzah soal absurdnya prosedur penyadapan KPK (baca http://www.pkslampung.org/?p=890). “Merampas hak orang itu melanggar konstitusi,” tegasnya.
Pada diskusi yang turut menghadirkan juru bicara KPK Johan Budi dan Febridiansyah (ICW) itu, Prof. Mudzakir juga mengkritisi intervensi lembaga-lembaga anti korupsi terhadap instansi formal penegakan hukum.
“Semua gerakan anti korupsi harus berhenti di tempat-tempat dimana aparat penegak hukum hendak mengambil suatu keputusan. Jangan sekali-kali gerakan apapun itu bisa masuk ke ruang kantor-kantor penegakan hukum. Apalagi mendikte mereka. Apalagi bertindak mewakili mereka.” – quote -
Berikut statemen lengkap Prof. Mudzakir:
Prof. Mudzakir: Ada beberapa hal saya ingin sampaikan terkait hal penting dalam proses penegakan hukum. Saya mulai dari aspek materi hukumnya.
Tadi yang banyak dibahas tentang penyadapan. Memang pasal penyadapan ini pernah diuji di Mahkamah Konstitusi.
Penyadapan adalah persoalan yang penting karena dalam perkembangan hukum terkini dan demokrasi terkini sadap adalah hal yang krusial sekali dan itu mengancam kebebasan seseorang.
Oleh sebab itu dalam pengujian, Mahkamah Konstitusi menuntut pelaksanaan dari Undang-Undang yang mengatur tentang penyadapan. Kalo ga salah dulu ada 4 atau 5 pasal tersebar di berbagai UU yang meminta agar ada UU yang mengatur teknik penyadapan.
Maunya begitu. Bukan kepada Peraturan Pemerintah juga bukan pada peraturan lembaga yang bersangkutan.
Maksudnya apa? Maksudnya ini hal yang krusial di alam demokrasi seperti sekarang ini, sadapan itu harus dengan UU. Nah, UU itu sampai sekarang belum terbit. Saya kira catatan buat legislatif untuk memikirkan ini supaya sadapan harus ada mekanisme, bagaimana prosedur dsb supaya nanti hak rakyat yang dirampas karena sadapan itu (menjadi) legal.
Oleh sebab itu, himbauan saya buat aparat penegak hukum usahakan bagaimana caranya melakukan penyadapan yang mengarah pada gagasan Mahkamah Konstitusi itu. Harus hati-hati pada hal yang belum ada peraturannya.
Dalam interpretasi yang futuristik, sadapan harusnya mengacu pada norma-norma yang telah diatur di perundang-undangan.
Intisarinya begini. Sadapan itu bukan untuk mencari pelaku, tapi untuk mencari bukti lanjutan pada seseorang yang telah dijadikan tersangka. Sehingga ada satu proses di sini, ketika orang itu ingin dicari sebelum disadap, semestinya nyari dulu dong bukti-bukti, pembuktian lebih dulu …
Karni Ilyas: Bukti-bukti permulaan …
Prof. Mudzakir: Bukti permulaan yang cukup, baru kemudian ada produk hukum yang nyatakan: sadap. Nah, untuk penyidik kepolisian sudah ada standarnya. Mereka harus minta ijin pengadilan. Saya kira harus diberi warning juga bahwa sadapan untuk diijinkan mestinya yang layak adalah yang (pasca ijin pengadilan) “itu bisa disadap”. Begitu. Itu yang pertama.
Kedua adalah mengenai hal yang terkait penetapan seseorang menjadi tersangka. Ini juga penting.
Saya mengkaji dari proses hukum yang selama ini terjadi. Merampas hak orang pakai ijin pengadilan, dst, menggeledah pakai ijin pengadilan, tapi mengapa menahan orang tanpa ijin pengadilan? Karena menahan orang itu berkenaan dengan manusia dan hak manusia dilindungi oleh konstitusi.
Kalau menurut saya, Pak Karni, atmosfer yang sekarang ini harus dirujuk maka gagasan dalam RUU KUHAP itu menurut saya bagus sekali, bahwa nanti perampasan hak rakyat itu harus ada ijin pengadilan.
Saya kira nanti bisa didiskusikan, bentuknya seperti apa. Tapi yang paling penting rakyat itu dirampas haknya karena diduga melakukan tindak pidana, harus melalui ijin pengadilan.
Persoalannya adalah kapan seseorang dinyatakan boleh dirampas haknya untuk dijadikan tersangka. Saya kira kita harus mengkritik praktek selama ini. Mestinya berdasarkan bukti-bukti yang cukup, dia baru dinyatakan sebagai tersangka. Diuji dulu di pengadilan, baru dia tersangka. Ini penting.
Jadi saya terus terang agak sedikit kritik. Mengapa orang jadi tersangka dibiarkan saja berbulan-bulan, bertahun-tahun (applause). Saya kira praktek ini harus dihentikan, Pak.
Kumpulkan dulu sebanyak-banyaknya alat bukti, barang bukti itu, tetapkan dia sebagai tersangka. Proses secepatnya. Jangan sampai tetapkan dulu dia tersangka, urusan pembuktian urusan nanti. Saya kira prosesnya jangan dibalik seperti itu (applause).
Ini harus menjadi perhatian kita bersama. Banyak orang yang hancur lebur karier mereka disebabkan sudah jadi tersangka terlebih dahulu.
Ga usah menuntut dengan mengatakan: Ini kan kewenangan saya. Ga usah begitu. Harus kesadaran konstitusional bahwa merampas hak orang itu melanggar konstitusi. Oleh sebab itu perampasan harus diproses secara konstitusional pula.
Dan yang berikutnya, dalam rangka itu pula saya menyampaikan, Pak Karni, tadi ada opini mempengaruhi proses putusan dsb. Saya malah justru, ini kalimat saya tiga tahun yang lalu, bahwa semua gerakan anti korupsi harus berhenti di depan kantor polisi, berhenti di depan kantor pengadilan, berhenti di depan kantor KPK, berhenti juga di tempat-tempat dimana ketika aparat penegak hukum hendak mengambil suatu keputusan.
Jangan sekali-kali gerakan apapun itu bisa masuk ke ruang kantor-kantor penegakan hukum itu. Apalagi mendikte mereka. Apalagi bertindak mewakili mereka. Tidak boleh juga. Saya kira ini penting (big applause, KI + audience LOL).
Lembaga ini harus independen karena dalam republik ini disebut pro justitia atau demi keadilan berdasarkan Tuhan YME. Ini tidak boleh dicampuri, sehingga hakim dijaga independensinya atau dia memutus dengan adil dan bijaksana, berdasar hukum dan keadilan.
Jangan sampai hakim diteror sehingga merasa takut sehingga harus memutus bertentangan dengan hati nuraninya. Saya kira hakim cuma gak mau ngomong aja. Saya mewakili aspirasi mereka. Ketakutan yang luar biasa mereka ini (applause).
Terakhir, sebagai bagian yang perlu saya tegaskan kembali ketika dikatakan (KPK) perlu lebih menekankan pada penegakan hukum. Saya setuju sekali tadi. Sebaiknya pencegahan lebih dikedepankan daripada penegakan hukum.
Di Semarang saya mengusulkan, mengapa kita tidak lagi mendirikan KPKPN seperti dulu sehingga kalau ada pejabat penyelenggara negara yang kekayaaannya berlimpah di luar kewajaran cukup diproses KPKPN.
Suruh dia membuktikan kok ini kelihatannya banyak sekali darimana? Buktikan dulu. Kalau kira-kira dalam jangka waktu sekian tidak bisa membuktikan, mohon maaf akan kami sita menjadi harta kekayaan negara tanpa harus melalui proses pidana.
Saya kira itu lebih bagus untuk di masa depan. KPK harus rela untuk dicopot lagi, untuk menjadi lembaga yang independen. [pkslampung]
Label:
TOPIK PILIHAN
July 10, 2013
posted by @Adimin
Puisi Mahyeldi - Emzalmi
Mahyeldi -Emzalmi
Dua partai berlambang ka’bah sudah berbenah
Untuk membangun Kota Padang yang lebih berkah
Mahyeldi-nya Ustadz, Emzalmi-nya seorang birokrat
Semoga semakin berkurangm masyarakat yang
melarat
Karena mereka
pasangan hebat lagi kuat
Semoga
KotaPadang lebih maju dan terhormat
Untuk kejayaan
Islam dan ummat
Air
Dingin, 03 Juli 2013
posted by @Adimin
Label:
Pilkada,
TOPIK PILIHAN
July 10, 2013
Mulyadi Muslim, Lc MA.
posted by @Adimin
Egoisme Beribadah
Setiap
akan memasuki bulan puasa, hampir selalu
diawali dengan perbedaan pandangan dan pendapat dalam penentuan awal puasa dan
juga lebaran. Dulu sebelum era informasi, perbedaan itu hanya ditemukan dalam
buku-buku fikih atau dakam diskusi terbatas para mujtahid. Namun seiring dengan
kemajuan teknologi dan bahkan pasca reformsi bagi Indonesia, maka pebedaan
pendapat atau perdebatan ilmiah yang seharunya berada dalam ruang dan komunitas
terbatas telah menembus ruang public. Kehebatan dalam berargumen mempertahan
kan pendapat yang kemungkinan besar marjuh(kurang kuat), egoisme berbeda dengan
pemerintah dipertontonkan (terlihat) oleh masyarakat. Dengan alasan bahwa pemerintah tidak boleh mengintervensi
keyakinan seseorang dalam beribadah, tetapi
yang terjadi adalah simpati telah berubah menjadi antipati.
Menelisik
kepada bentuk-bentuk ibadah yang dikerjakan oleh setiap muslim, maka dalam
kajian fikih diketahui bahwa hampir semua ibadah memiliki etika atau adab yang
menyesuaikan dengan ruang dan waktu, bahkan adat kebiasaan suatu tempat atau
kondisi daerah. Ketika seseorang akan shalat misalnya, maka harus dipastikan
syarat dan rukunnya terpenuhi. Dan idealnya seseorang berlama-lama dalam
shalat, karena sejatinya dia sedang berdialog dengan Rabbnya. Tetapi ketika dia
shalat berjamaah dan bahkan menjadi Imam, maka dia harus tahu kondisi
makmumnya, tidak boleh dipanjangkan bacaan dalam shalat, karena dikhawatirkan
ada diantara jamaahnya yang sakit(tidak bisa berdiri lama), atau punya agenda
lain, sehingga harus cepat selesai
shalat. Atau ada yang punya anak kecil(sedang
menangis), sehingga mengganggu kekhusyu’an dalam shalat. Sebagaimana pernah
terjadi pada masa rasul s.a.w. ketika beliau menjadi imam dalam shalat, beliau
mendengar suara anak kecil menangis, maka beliau memendekkan bacaan
shalat.
Pernah
suatu ketika tiga orang shabat datang menemui istri Nabi S.A,W dan menanyakan
bagaimana ibadahnya nabi Muhmamad s.a.w. Setalah mendapat penjelasan, salah
seorang dari mereka berkata, betapa
sedikitnya dan rendahnhya ibadah kita bila dibandingkan dengan Rasul
s.a.w yang sudah mendapat jamanian ampunan dari Allah s.w.t atas dosa-dosanya
yang telah berlalu ataupun masa yang akan datang jika ada. Saya bertekad akan
selalu shalat malam tanpa istirahat, orang kedua berkata saya akan puasa
sepanjang hari, orang ketiga berkata, saya akan membujang dan tidak akan
menikah.
Rencana
mereka diatas didengar oleh Rasul s.a.w, lalu beliau bersabda:
وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا آكُلُ اللَّحْمَ وَقَالَ
بَعْضُهُمْ لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ
مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ
وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Kenapa
kalian yang punya rencana ini dan itu, Demi Allah saya adalah orang yang paling
takut kepada Allah dan paling bertakawa
dibandingkan kalian. Saya shalat malam tetapi juga tidur, saya berpuasa tetapi
juga berbuka dan saya juga menikah, Siapa yang membenci sunnahku, maka
sesungguhnya dia bukan bagian dari umatku.(H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam
riwayat lain didapatkan informasi, bahwa
seorang tabiin menetap di masjid untuk
beribadah, sementara untuk biaya hidupnya ditanggung oleh saudaranya, ketika
Umar bin Khattab mendengar hal itu, ia berkata saudaramu yang berkerja jauh
lebih baik dari kamu.Beberapa riwayat diatas mengindikasikan bahwa sejatinya
ibadah adalah pengabdian dengan ketundukan dan kepatuhan kepada aturan,
menyesuaikan dengan kondisi. Bukan sekedar ingin menikmati ibadah secara pribadi
atau menunjukkan egoisme golongan.
Dalam
ibadah haji sebenarnya lebih terasa bahwa ibadah bukan untuk menujukkan ego
pribadi dan golongan, waktu pelaksanaanya “terpaksa tunduk dan patuh” kepada
perhitungan pakar/ulama Saudi, jika tidak mau dipermalukan dengan melakukan
wukuf di Arafah sehari sebelum atau sesudah umat Islam secara keseluruhan
melakukan wukuf. Untuk mencium hajar aswad tidak diwajibkan, bahkan dibolehkan
dengan isyarat saja dari kejauhan, jika dikhawatirkan menginjak-injak orang
lain, atau menimbulkan dosa.
Seharusnya
dalam berpuasa juga demikian, jika secara keilmuan terbaru dan tercanggih hari
ini, bulan belum bisa terlihat, maka
sudah sejatinya ijtihad yang dipakai adalah dengan menyempurnakan hitungan
sya’ban menjadi tiga puluh hari karena juga berkekuatan hukum secara dalil.
Demikian juga halnya, walaupun sedang bersemangat untuk berpuasa, jika saatnya
sudah berbuka, maka dilarang untuk menunda berbuka, malah dianjurkan rasul
s.a.w untuk segera berbuka walaupun hanya dengan segelas air putih. Alangkah
indah juga kalau seandainya di sebuah masjid bergabung dua kelompok yang shalat
tarawehnya sebelas rakaat dengan
yang dua puluh satu rakaat, cukup dengan
menambah dari delapan menjadi dua puluh dan ditutup dengan witir. Sehingga
tidak ada yang merasa hebat dan menjadi egois, sebab apalah artinya shalat dua
puluh rakaat jika dikerjakan dengan buru-buru tanpa khusyu’ kemudian merasa
lebih sempurna ibadahnya. Begitu juga dengan yang shalat delapan rakaat, tetapi
setelah itu menggunjingkan yang shalat dua puluh rakaat. Sekali lagi inti dari
ibadah adalah pengabdian dan ketundukan hati, membunuh rasa lebih hebat dan
egoism diri ataupun golongan.
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
Hikmah Ramadhan,
TOPIK PILIHAN
July 10, 2013
Emy Hajar Abra
posted by @Adimin
Karni “Hebat-hebat Orang PKS ini” Johan Budi pun Meradang
Pulang taraweh maksud hati ingin keluar membeli makan, ternyata saya
lupa hari ini adalah hari selasa, yang tentunya ada acara ter”heboh” di Indonesia nerkaitan dengan problematika hukum di negara ini, yakni
Indonesia Lawyers Club. Awalnya saya mengira bahwa paling beritanya
tentang apalah gitu atau Century atau lainnya, ternyata melihat isi
ruangnnya adalah orang-orang PKS, spontan saja saya langsung mantengin
tuh tivi, ternyata benar, temanya berkaitan dengan eksepsi LHI.
Sedikit kaget memang, kok yah PKS lagi PKS lagi, tapi ketika mengingat
“perlakuan KPK” terhadap PKS, maka sudah sepantasnya judul ini
dikemukaan, mengingat pentingnya PKS berargumen atas pandangan
masyarakat terhadap yang terjadi belakangan ini.
Walau sedikit terlambat, tapi cukup menarik perhatian ketika yang
berbicara adalah Fahri Hamzah, selepas FH berbicara kemudian
disambungkan oleh kawan seperjuangannya disisi sebelah kanan, setelah
kedua kader PKS itu membela dan berargumentasi dengan cukup panjang,
tegas, dan argumentatif, Karni pun memotong untuk komersial break, namun
yang jauh lebih mengagetkan adalah, pernyataaan singkat dari bos besar
ILC itu sendiri, Karni mengatakan entah dengan spontan atau memang dari
dari hati terdalamnya yakni, “hebat-hebat ini orang PKS”, tentu hal
tersebut menjadi “gimik” yang tidak mudah dibiarkan begitu saja,
artinya gimik tersebut akan melekat dan diingat oleh beberapa penonton
lainnya, nyatanya beberapa detik dan menit setelahnya gimik tersebut
telah menjadi perbincangan tersendiri di media sosial twitter.
Pada saat FH berargumen, kamera sering juga men”shot” wajah dari Johan
Budi, gambar tersebut di gabungkan dalam layar mnejadi satu frame, dan
jika kita melihat dengan seksama maka, begitu meradangnya wajah Johan
Budi dengan tatapan yang cukup memiliki makna tersendiri.
Atas kasus PKS dan KPK belakangan ini, maka ada beberapa hal yang menjadi point penting dalam pandangan saya, yakni:
- Negara ini negara hukum,, yang tentunya berjalan atas koridor hukum, banyak aturan main didalmnya, yang tidak bisa dilanggar dan dijalankan dengan kemauan tafsir kita sendiri.
- Hukum kita mulai memperlihatkan keberadaanya berada pada titik yang menghawatirkan, ketika KPK yang pada kepemimpinan periode sekrang ini cukup di perhitungkan, nyatanya menunjukkan wibawa dan posisi yang lebih memilukan, berbagai dugaan mulai bermunculan, dari ditunggangi sampai pada pembiayaan KPK yang dipertanyakan.
- Kasus yang melibatkan petinggi PKS dimainkan dengan cara yang berbeda dari kasus-kasus kebanyakan yang sudah ada, lihat saja dari kasus pejabat ataupun anggota partai, ataupun yang masih menjadi saksi dan begitupun tersangka, apakah perlakuannya serentak sama dengan apa yang dialami oleh PKS sekarang ini?.
- Media bermain dengan cara yang sangat masif dan seakan terorganisir untuk memberitakan kasus LHI dengan berbagai macam cara dan sudut pandang. Jika mau lebih jujur, hampir semua tuduhan dan pemberitaan media tersebut hanyalah issu-gosip-isapan jempol-dan kemudian menjadi permainan media semata.
- Terakhir yang bisa saya sampaikan dalam tulisan kali ini adalah, pergulatan politik. Dalam hal ini tentu banyak pihak yang menilai bahwa kasus LHI semakin digemboskan berkaitan dengan 2014 akan datang, namun yang menjadi “lucu” adalah permainan kotor yang dijalankan oleh mereka yang sengaja menjalankan cerita ini sampai keakar-akarnya. manusia dihina sampai pada titik terendah hanya karena mereka yang memiliki sebuah power yang disebut dengan kekuasaaan dan demi sebuah hawa nafsu yang sudah menutupi akal mereka, yang tidak ada menjadi ada, yang tidak memiliki korelasi dibuat menjadi satu-kesatuan, dan lainnya demi sebuah nama KEPENTINGAN semata.
Dari tulisan singkat diatas, kita bisa belajar dari kasus yang terjadi
di Mesir belakangan ini, jika bisa diminta suatu penjelasan kongkrit
yang jujur, maka apa dosa Mursi sehingga kudeta yang tidak berdasar
tersebut bisa terjadi?, hanya dengan ratusan orang, dibanding ribuan
pendukung Mursi, kudetapun terjadi, hal tersebut tidak akan berjalan
jika tidak di tunggangi oleh “raja-raja kelaparan dunia”. Mungin akan
panjang perdebatannya, hanya saja itulah kejamnya sebuah fitnah, jika
digambarkan seperti sebuah masakan yang tawar, yang jika semakin diberi
bumbu pelengkap maka akan semakin enak rasanya, sayangnya rasa enak
tersebut bukan sejatinya enak untuk dinikmati pada lidah semua orang,
tapi enak hanya bagi mereka para penyebar fitnah yang ingin
menggulingkan seseorang karena ketakutan kehadirnnya ditengah-tengah
masyarakat.
Kembali pada PKS banyak sudah tulisan saya sebelumnya yang menjelaskan
tentang hal tersebut, namun waktu jua yang akan menentukan, jika LHI
salah maka hukumlah secara individu tanpa membawa-bawa orang atau pihak
lain yang tidak tau-menau, tapi jika LHI tak bersalah maka inilah hukum
negara kita, KPK yang sudah diimpikan menjadi pendobrak penegakkan
hukum, khusunya pemimpin periode ini yang diharapkan banyak kalangan,
toh ternyata, kekuaasan dan ketakutan pada orang lainlah yang membuat
KPK tunduk dan menjadi memalukan
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
July 10, 2013
Budiman: Selama Ramadhan, Tutup Saja Tempat Hiburan
![]() |
| Budiman, S, Ag |
PADANG — Pemko Padang telah mengeluarkan imbauan agar tempat hiburan dan tempat makan, boleh dibuka dengan catatan mengikuti aturan yang ada. Hanya saja, kalangan DPRD Padang meminta, demi kekhusukan umat beribadah, sebaiknya tempat hiburan malam ditutup total selama Ramadhan 1434 H ini.
Dalam imbauan yang dikeluarkan Walikota Padang, tempat hiburan boleh dibuka pada pukul 22.00-01.00 WIB. Sedangkan tempat makan diizinkan buka lewat dari pukul 17.00 WIB.
Wakil Ketua DPRD Padang Budiman, menyatakan, lebih baik Pemko Padang melarang saja tempat hiburan buka selama Ramadhan. Pasalnya, siapa yang bisa mengawasi operasionalnya nanti. Selain itu, dibukanya tempat hiburan malam tentu akan merusak kenyamanan dalam beribadah.
Dia menyatakan, pihaknya meminta hiburan malam ditutup. Tidak ada kaitannya dengan toleransi beragama. Menurutnya, jika dikaitkan dengan toleransi hidup beragama, selama ini di Padang atau Sumbar toleransi tersebut terlaksana dengan baik.
“Jadi, diharapkan juga ketika Ramadhan ini warga non muslim juga ikut menjaga kenyamanan dalam beribadah umat Islam. Saya kira Pemko Padang bisa mengeluarkan imbauan bahkan edaran agar bisa menutup saja tempat hiburan malam ini. Untuk tempat makan, mungkin masih bisa ditoleransi dibuka setelah pukul 17.00 WIB,” katanya.
Melihat saat ini, dengan imbauan yang dikeluarkan Pemko, diharapkan ketegasan dalam mengawasinya. Pasalnya, dengan membuka peluang buka tempat hiburan malam ini, tentu perlu disiapkan petugas untuk mengawasinya dengan ketat.
Bagi masyarakat non muslim, tentu bisa menahan diri untuk makan di rumah saja. “Jika lapar tentu bisa makan di rumah sendiri,” ulasnya.
Terpisah, Kepala Kantor Sat Pol PP Padang Sugana, menjelaskan, telah mempersiapkan petugas untuk pengawasan ini. Di Sat Pol PP Padang, ada tiga pembagian waktu jam kerja. Pertama, pagi hari dengan empat pleton petugas, sore hari dengan tiga pleton, dan malam harinya dua pleton.
“Untuk tugas mengawasi khusus memang tidak ada, tapi petugas ini akan stand by dan menyisir lokasi yang dicurigakan,” imbuhnya.
Sugana menambahkan, pihaknya juga membutuhkan informasi dari masyarakat. Misalnya, ada tempat makan yang buka di siang hari, maka bisa langsung memberi informasi ke kantor. Peran masyarakat ini juga dibutuhkan agar tidak ada lokasi yang luput dari pengawasan petugas. [hariangsinggalang.co.id]
posted by @A.history
Label:
Bingkai Berita,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
July 10, 2013
posted by @A.history
Puasa vs Laju Inflasi
Kita tentu sedih dan sedikit tersentak dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok serta kebutuhan sehari-hari pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Harga barang-barang tersebut sontak meningkat tajam. Hal serupa sebenarnya selalu terjadi setiap tahun di saat menjelang memasuki bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Namun tahun ini porsinya lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena bersamaan dengan peristiwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Beban tersebut tentu makin dirasakan masyarakat, karena juga bersamaan dengan datangnya tahun ajaran baru. Para orangtua harus mengeluarkan biaya ekstra untuk biaya anak masuk sekolah atau kuliah, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Para orangtua juga harus menyisihkan sejumlah uang untuk beli buku, peralatan dan seragam sekolah.
Fenomena anomali tersebut memang selalu terjadi setiap tahun selama bulan Ramadhan (puasa). Di saat Allah menganjurkan kita untuk berpuasa, di saat kita hanya diperbolehkan makan dan minum di malam hari, justru pengeluaran keluarga di bulan puasa malah meningkat. Kaum ibu makin mengeluh, karena uang belanja sehari-hari tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama bulan Ramadhan.
Apa yang terjadi? Berdasarkan pengamatan lapangan, memang biasa terjadi penurunan jumlah penjualan beras selama bulan Ramadhan, karena umumnya masyarakat berpuasa. Namun terjadi kenaikan untuk membeli bahan makanan lain. Anggaran lauk pauk justru meningkat, anggaran untuk membeli “pabukoan” yang di hari-hari biasa tidak ada, di bulan puasa justru tinggi secara signifikan.
Maka makin pusinglah para ibu-ibu mengatur uang belanja dapurnya. Di sisi lain, otomatis berlaku hukum ekonomi. Jika permintaan meningkat, sementara persediaan barang terbatas, maka harga otomatis juga akan meningkat. Kondisi ini seperti bak kata pepatah: sudah jatuh ditimpa tangga. Harga barang-barang naik mengikuti kenaikan harga BBM, ditambah lagi dengan meningkatnya permintaan konsumen “menyambut” bulan puasa. Maka laju inflasi makin menjadi-jadi.
Lalu apa solusinya? Solusi yang termudah yang bisa kita lakukan saat ini adalah kembali ke konsep dasar puasa. Puasa kunci dasarnya adalah mengendalikan hawa napsu, mengendalikan sikap dan perilaku, serta meningkatkan ibadah. Dengan mengendalikan hawa nafsu, terutama makan dan minum, insya Allah kita bisa mengendalikan membengkaknya kebutuhan belanja di bulan puasa dan pada akhirnya mampu menekan gejolak harga pasar dan pada akhirnya mampu menekan laju inflasi.
Fenomena bulan puasa yang terjadi selama ini sebaiknya perlu dikoreksi. Puasa tidak lagi sekadar mengurangi konsumsi beras, namun meningkatkan konsumsi bahan makanan lain yang harga jualnya justru jauh lebih tinggi. Kita bisa memilih bahan makanan yang lebih murah, namun tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi terutama energi yang dibutuhkan.
Kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki dan banyak serta mewahnya makanan yang kita makan. Banyak orang yang kaya raya dan hartanya berlimpah, tapi mereka tidak bahagia. Banyak juga orang yang menderita berbagai penyakit, karena makan makanan serba mewah dan berlebihan. Di situlah letak pentingnya pengendalian diri, memperbanyak ibadah (selama bulan puasa) yang membuat jiwa selalu merasa tenang dan tentram. Itulah hikmah berpuasa.
Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah akan menunjukkan berbagai jalan (subula) bagi orang-orang yang sabar dan bertakwa. (*)
Padang Ekspres 9 Juli 2013
posted by @A.history
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
July 09, 2013
posted by @A.history
Gubernur Sumbar Ajak Masyarakat Sambut Ramadhan dengan Sederhana
Written By Unknown on 09 July, 2013 | July 09, 2013
Padang (9/7) -- Kader Partai Keadian Sejahtera (PKS) yang juga Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Irwan Prayitno bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Ali Asmar melakukan Apel Pagi dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, Senin (8/7).
Irwan Prayitno mengajak jajaran pemerintah provinsi Sumbar dan seluruh warga Sumatera Barat agar menyambut Ramadhan dengan sikap sederhana.
Irwan juga mengingatkan 3 hal yang menjadi kebiasaan warga Sumatera Barat menjelang Ramadhan, yaitu ziarah, silaturrahim dan "Balimau". Ketiga hal ini dinilainya sebagai sesuatu yang baik, agar kita menyadari dan mau intropeksi diri sehingga dapat menjalani ibadah dengan baik dan khusyuk.
Terkait tradisi "Balimau", Gubernur menghimbau warga agar tidak menodainya dengan hal-hal yang tidak ada gunanya. "Marilah kita jauhkan diri dan keluarga kita dari kegiatan yang mubazir dan dilarang Allah SWT. Beribadah yang sungguh-sungguh, tulus ikhlas, dan tawakal tentunya akan menjadikan amalan Ibadah Puasa kita semakin baik," ajaknya.
Gubernur Irwan Prayitno menginformasikan bahwa selama bulan suci Ramadhan jadwal kerja hari Senin sampai Kamis masuk pukul 08.00 pulang pukul 15.00 WIB, kecuali hari Jum’at masuk pukul 08.15 pulang 15.30 WIB. Bagi pegawai perempuan diberi dispensasi pulang sebelum jam 15.00 untuk menyiapkan makan keluarga dalam berbuka puasa.
Menutup sambutannya, Irwan Prayitno menyampaikan pesan selamat menunaikan ibadah puasa, "Marhaban Ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah Puasa Ramadhan 1434 H, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah Nya pada kita semua, Amin," tutupnya. [pks.or.id]
posted by @A.history
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
July 09, 2013
Orang Khusus Mursi, Ungkap Pra-Pasca Kudeta
Bagaimana gejolak jiwa dan ketegaran Mursi sebelum dan sesudah kudeta
militer ? Hanya orang khusus dan terdekat saja yang bisa
mengungkapkannya.
Dr Najla Mahmud, Istri sang Presiden, bercerita tentang hari-hari
sebelum terjadinya kudeta militer. Sang istri berkata,”Di hari-hari yang
penuh ujian, tatkala aku masuk ke dalam bilik, Kulihat beliau sedang
sujud memohon pertolongan Allah. Dia tengah mengadukan hal dirinya dan
negaranya, sambil menangis.
Apabila dia hendak tidur, tangisannya masih terdengar, walau dia sudah berada diatas katilnya. Sehingga basahnya umpama mandi.”
Untuk menghibur suaminya, sang istri berkata,”Wahai Mursi, niscaya Allah
tak akan membiarkanmu dalam keadaan sedih, dan tidak membiarkanmu tanpa
pertolongan dari Allah.”
Perlu diketahui saja, walau Mursi seorang Presiden, dia tinggal di rumah
kontraka biasa saja, dia sendiri yang membayarnya bukan dari uang
negara. Dia pun, belum pernah mengambil gajinya sejak menjabat.
Adakah Presiden yang seperti ini ?
Staff khusus Mursi mengungkapkan, pada saat kudeta akan terjadi, Menlu
dan Dubes Amerika datang menghadap Mursi. Permintaan mereka, Mursi
segera menanggalkan kepresidenannya atau tetap jadi presiden namun
pedana mentri, kabinet dan pejabat penting diganti sesuai keinginan
mereka. Namun Mursi menolak.
Akhirnya utusan tersebut berkata,”Telpon saya ketika kamu sudah dipenjara,”
Melihat gelagat ini, maka Mursi pun membuat pidato rahasia yang
pidatonya diposting ke youtube. Ketika Mursi sudah ditangkap, maka
postingan pidato Mursi baru tersebar luas di internet.
Dimana keberadaan Mursi sekarang ?
Secara valid belum ada yang tahu. Tetapi dari bocoran yang ada, sudah
beberapa kali pihak militer mesir memintanya untuk segera mengumumkan
pengunduran dirinya sebagai presiden.
Mursi pun menolaknya, dengan berkata,” saya tidak akan menanggalkan
kepercayaan yang sudah diberikan rakyat mesir. Lebih baik anda menembak
saya dengan peluru daripada melakukan itu.”
Permintaan Mursi pada mereka yang menahannya hanya satu. Yaitu Meminta sajadah dan mushaf al-Qur’an saja.
Subhanallah, heroik dan penuh ketenangan….
Oleh : Nasrulloh Mu.
*http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/07/08/orang-khusus-mursi-ungkap-pra-pasca-kudeta-571943.html
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
July 09, 2013
Abdullah bin Abbas adalah seorang anak muda yang selalu dibawa oleh Umar bin Khathab untuk mengikuti berbagai diskusi di majelis orang tua yang pernah mengikuti Perang Badar. Melihat ada anak muda yang selalu mengikuti majelis diskusinya, sebagian dari mereka seakan-akan tidak suka dengan kehadirannya.
Mereka berkata, “Mengapa pemuda ini masuk dalam kelompok kita, padahal kita juga mempunyai anak yang sebaya dengannya?” Mendengar pertanyaan itu, Umar pun menjawab, “Sesungguhnya ia adalah anak yang kalian ketahui, yakni anak yang lahir dari pendidikan Nabi Muhammad SAW dan merupakan sumber ilmu.
Pada suatu kesempatan, Umar memanggil Abdullah bin Abbas untuk menujukkan kelebihannya di hadapan mereka, lalu Umar berkata, “Apakah komentar kalian terhadap firman Allah SWT Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat (QS an-Nashr (110) : 1-3)?’’
Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami diperintahkan untuk memuji dan memohon ampunan kepada Allah bila kita mendapat pertolongan dan kemenangan.” Sementara sahabat yang lain terdiam dan tidak berkata apa-apa. Lantas, Umar bertanya kepada Abdullah bin Abbas, “Apakah komentarmu pun seperti itu wahai Ibnu Abbas? Ibnu Abbas menjawab, “Tidak.”
Umar bertanya lagi, “Bagaimana komentarmu?” Ibnu Abbas menjawab, “Itu adalah saat kepergian Rasulullah yang diberitahukan oleh Allah kepada beliau. Mendengar jawaban itu, Umar bin Khathab berkata, “Saya tidak mengetahui pengertian ayat itu demikian kecuali dari apa yang kamu katakan.’’
Demikianlah ketinggian ilmu Abdullah bin Abbas, dengan ilmu mumpuni yang dimilikinya ia dilibatkan ke dalam lingkungan sahabat-sahabat yang sudah senior, para orang tua yang pernah ikut dalam perang badar, dari kalangan sahabat yang utama. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang bisa lebih utama dari teman-teman segenerasinya, bahkan melebihi para seniornya, karena pemahamannya yang baik dan ilmu pengetahuan yang luas.
Lebih daripada itu, Allah menjanjikan akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan sampai beberapa derajat, sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surah al-Mujadilah (58) ayat 11, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’’
Dari sini, dapat kita pahami mengapa Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu sejak dari buaian sampai ajal menjemputnya. Tujuannya, Islam hendak memuliakan umatnya dengan ilmu yang dimilikinya.
Untuk itu, janganlah kita merasa cukup dengan ilmu yang telah kita miliki dan jangan pula membatasi diri untuk mencari ilmu karena usia telah senja. Selama hayat dikandung badan hendaknya kita tidak berhenti untuk menuntut ilmu agar kita mendapat keutamaan dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat kelak. "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS Thaha (20) ; 114).
Keutamaan Ilmu
Abdullah bin Abbas adalah seorang anak muda yang selalu dibawa oleh Umar bin Khathab untuk mengikuti berbagai diskusi di majelis orang tua yang pernah mengikuti Perang Badar. Melihat ada anak muda yang selalu mengikuti majelis diskusinya, sebagian dari mereka seakan-akan tidak suka dengan kehadirannya.
Mereka berkata, “Mengapa pemuda ini masuk dalam kelompok kita, padahal kita juga mempunyai anak yang sebaya dengannya?” Mendengar pertanyaan itu, Umar pun menjawab, “Sesungguhnya ia adalah anak yang kalian ketahui, yakni anak yang lahir dari pendidikan Nabi Muhammad SAW dan merupakan sumber ilmu.
Pada suatu kesempatan, Umar memanggil Abdullah bin Abbas untuk menujukkan kelebihannya di hadapan mereka, lalu Umar berkata, “Apakah komentar kalian terhadap firman Allah SWT Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat (QS an-Nashr (110) : 1-3)?’’
Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami diperintahkan untuk memuji dan memohon ampunan kepada Allah bila kita mendapat pertolongan dan kemenangan.” Sementara sahabat yang lain terdiam dan tidak berkata apa-apa. Lantas, Umar bertanya kepada Abdullah bin Abbas, “Apakah komentarmu pun seperti itu wahai Ibnu Abbas? Ibnu Abbas menjawab, “Tidak.”
Umar bertanya lagi, “Bagaimana komentarmu?” Ibnu Abbas menjawab, “Itu adalah saat kepergian Rasulullah yang diberitahukan oleh Allah kepada beliau. Mendengar jawaban itu, Umar bin Khathab berkata, “Saya tidak mengetahui pengertian ayat itu demikian kecuali dari apa yang kamu katakan.’’
Demikianlah ketinggian ilmu Abdullah bin Abbas, dengan ilmu mumpuni yang dimilikinya ia dilibatkan ke dalam lingkungan sahabat-sahabat yang sudah senior, para orang tua yang pernah ikut dalam perang badar, dari kalangan sahabat yang utama. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang bisa lebih utama dari teman-teman segenerasinya, bahkan melebihi para seniornya, karena pemahamannya yang baik dan ilmu pengetahuan yang luas.
Lebih daripada itu, Allah menjanjikan akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan sampai beberapa derajat, sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surah al-Mujadilah (58) ayat 11, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’’
Dari sini, dapat kita pahami mengapa Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu sejak dari buaian sampai ajal menjemputnya. Tujuannya, Islam hendak memuliakan umatnya dengan ilmu yang dimilikinya.
Untuk itu, janganlah kita merasa cukup dengan ilmu yang telah kita miliki dan jangan pula membatasi diri untuk mencari ilmu karena usia telah senja. Selama hayat dikandung badan hendaknya kita tidak berhenti untuk menuntut ilmu agar kita mendapat keutamaan dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat kelak. "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS Thaha (20) ; 114).
Oleh Moch Hisyam
posted by @Adimin
Label:
Ramadhan,
TOPIK PILIHAN
July 09, 2013
Heri Ruslan
posted by @Adimin
Berbenah Diri Sambut Bulan Suci Ramadhan
“Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Puasa adalah perisai selama
yang bersangkutan tidak merusak’. Lalu ada yang bertanya, ‘Dengan apa
merusaknya?’ Jawab Rasulullah SAW. ‘Dengan berbohong atau bergunjing.” (Hadis Riwayat Abi Ubaidah RA)
Seluruh umat Islam akan menjalan ibadah puasa Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan memang ibadah yang paling banyak ditunggu-tunggu umat Islam. Karena itu, dalam beberapa hari ini, untaian kalimat Marhaban ya Ramadhan, selamat datang bulan suci Ramadhan patut kita kumandangkan.
Marhaban ya Ramadhan sepatutnya bukan sekadar ucapan selamat datang yang terlontar dari mulut belaka. Sebab bulan yang penuh berkah ini sepatutnya disambut suka cita dan kebahagian hati yang diekspresikan, tetapi kebahagian hati yang diekspresikan dengan perubahan tindakan dan perilaku.
Maka Marhaban ya Ramadhan patut kita implementasikan dengan berbenah diri. Berbenah diri untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Ibadah puasa di bulan suci ini yang diwajibkan untuk orang-orang beriman di seluruh dunia bukan sekadar ibadah. Ibadah puasa di bulan Ramadhan sangat berbeda dengan ibadah lain. Sebab, puasa adalah ibadah ‘rahasia’. Artinya, orang itu berpuasa atau tidak hanyalah orang berpuasa itu sendiri dan Allah saja yang mengetahuinya.
Banyak nilai yang kita petik dalam ketika menjalankan ibadah puasa. Tidak sedikit literature dan referensi kajian tentang makna puasa yang mengatakan bahwa beragam nilai yang kita petik dari ibadah puasa di bulan Ramadhan seperti nilai sosial, kesehatan, spiritual hingga kepribadian.
Nilai sosial, perdamaian, kemanusiaan, semangat gotong royong, solidaritas, kebersamaan, persahabatan dan semangat prularisme. Ada pula manfaat lahiriah seperti pemulihan kesehatan (terutama perncernaan dan metabolisme), peningkatan intelektual, kemesraan dan keharmonisan keluarga, kasih sayang, pengelolaan hawa nafsu dan penyempurnaan nilai kepribadian lainnya.
Ada lagi aspek spiritualitas: puasa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, ketaqwaan dan penjernihan hati nurani dalam berdialog dengan al-Khaliq. Semuanya adalah nilai-nilai positif yang terkandung dalam puasa yang selayaknya tidak hanya kita pahami sebagai wacana yang memenuhi intelektualitas kita, namun menuntut implementasi dan penghayatan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Yang juga penting dalam menyambut bulan Ramadhan tentunya adalah bagaimana kita merancang langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya, seperti nilai-nilai kejujuran. Karena kejujuran saat ini merupakan suatu hal yang paling sulit di cari di negeri ini. Kejujuran menjadi dasar dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Kejujuran adalah prasyarat utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah oleh Allah SWT.
Seorang ulama menyatakan bahwa hakikat kejujuran ialah mengatakan sesuatu dengan jujur di tempat (situasi) yang tidak ada sesuatu pun yang menjadi penyelamat kecuali kedustaan.
Secara psikologis, kejujuran akan mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya seseorang yang tidak jujur pasti tega melakukan perbuatan serta menutupi kebenaran.
Ketidakjujuran akan selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya akan mengancam stabilitas sosial. Ketidakjujuran selalu akan melahirkan kepada ketidakadilan, disebabkan karena orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya saja.
Kejujuran juga akan melahirkan penghargaan terhadap hak hak orang lain. Sebab kejujuran sebagaimana yang telah kita uraikan diatas juga akan menumbuhkembangkan kecintaan terhadap kebenaran, keadilan dan kedisiplinan. Namun kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran.
Marhaban ya Ramadhan. Bulan penuh pengampunan itu akan datang dalam beberapa hari ke depan. Banyak tradisi bangsa ini dalam menyambut Ramadhan. Namun inti dari semua tradisi yang berkembang di Indonesia adalah kita diharuskan berbenah diri ketika menyambut bulan penuh kesucian ini. Perbuatan-perbuatan tercela, tidak terpuji, kebohongan, kemalasan dan perbuatan-perbuatan negatif yang (mungkin) kita telah lakukan sebelumnya harus segera ditinggalkan. Kita sambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan jernih. Terakhir, penulis hanya bisa mengatakan bahwa kita baru akan menang dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan jika kita mampu mengubah perilaku di dalam kehidupan keseharian kita. Dari yang tidak jujur menjadi jujur, dari yang serakah menjadi suka berbagi, dan dari yang sombong menjadi rendah hati.
Seluruh umat Islam akan menjalan ibadah puasa Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan memang ibadah yang paling banyak ditunggu-tunggu umat Islam. Karena itu, dalam beberapa hari ini, untaian kalimat Marhaban ya Ramadhan, selamat datang bulan suci Ramadhan patut kita kumandangkan.
Marhaban ya Ramadhan sepatutnya bukan sekadar ucapan selamat datang yang terlontar dari mulut belaka. Sebab bulan yang penuh berkah ini sepatutnya disambut suka cita dan kebahagian hati yang diekspresikan, tetapi kebahagian hati yang diekspresikan dengan perubahan tindakan dan perilaku.
Maka Marhaban ya Ramadhan patut kita implementasikan dengan berbenah diri. Berbenah diri untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Ibadah puasa di bulan suci ini yang diwajibkan untuk orang-orang beriman di seluruh dunia bukan sekadar ibadah. Ibadah puasa di bulan Ramadhan sangat berbeda dengan ibadah lain. Sebab, puasa adalah ibadah ‘rahasia’. Artinya, orang itu berpuasa atau tidak hanyalah orang berpuasa itu sendiri dan Allah saja yang mengetahuinya.
Banyak nilai yang kita petik dalam ketika menjalankan ibadah puasa. Tidak sedikit literature dan referensi kajian tentang makna puasa yang mengatakan bahwa beragam nilai yang kita petik dari ibadah puasa di bulan Ramadhan seperti nilai sosial, kesehatan, spiritual hingga kepribadian.
Nilai sosial, perdamaian, kemanusiaan, semangat gotong royong, solidaritas, kebersamaan, persahabatan dan semangat prularisme. Ada pula manfaat lahiriah seperti pemulihan kesehatan (terutama perncernaan dan metabolisme), peningkatan intelektual, kemesraan dan keharmonisan keluarga, kasih sayang, pengelolaan hawa nafsu dan penyempurnaan nilai kepribadian lainnya.
Ada lagi aspek spiritualitas: puasa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, ketaqwaan dan penjernihan hati nurani dalam berdialog dengan al-Khaliq. Semuanya adalah nilai-nilai positif yang terkandung dalam puasa yang selayaknya tidak hanya kita pahami sebagai wacana yang memenuhi intelektualitas kita, namun menuntut implementasi dan penghayatan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Yang juga penting dalam menyambut bulan Ramadhan tentunya adalah bagaimana kita merancang langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya, seperti nilai-nilai kejujuran. Karena kejujuran saat ini merupakan suatu hal yang paling sulit di cari di negeri ini. Kejujuran menjadi dasar dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Kejujuran adalah prasyarat utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah oleh Allah SWT.
Seorang ulama menyatakan bahwa hakikat kejujuran ialah mengatakan sesuatu dengan jujur di tempat (situasi) yang tidak ada sesuatu pun yang menjadi penyelamat kecuali kedustaan.
Secara psikologis, kejujuran akan mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya seseorang yang tidak jujur pasti tega melakukan perbuatan serta menutupi kebenaran.
Ketidakjujuran akan selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya akan mengancam stabilitas sosial. Ketidakjujuran selalu akan melahirkan kepada ketidakadilan, disebabkan karena orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya saja.
Kejujuran juga akan melahirkan penghargaan terhadap hak hak orang lain. Sebab kejujuran sebagaimana yang telah kita uraikan diatas juga akan menumbuhkembangkan kecintaan terhadap kebenaran, keadilan dan kedisiplinan. Namun kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran.
Marhaban ya Ramadhan. Bulan penuh pengampunan itu akan datang dalam beberapa hari ke depan. Banyak tradisi bangsa ini dalam menyambut Ramadhan. Namun inti dari semua tradisi yang berkembang di Indonesia adalah kita diharuskan berbenah diri ketika menyambut bulan penuh kesucian ini. Perbuatan-perbuatan tercela, tidak terpuji, kebohongan, kemalasan dan perbuatan-perbuatan negatif yang (mungkin) kita telah lakukan sebelumnya harus segera ditinggalkan. Kita sambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan jernih. Terakhir, penulis hanya bisa mengatakan bahwa kita baru akan menang dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan jika kita mampu mengubah perilaku di dalam kehidupan keseharian kita. Dari yang tidak jujur menjadi jujur, dari yang serakah menjadi suka berbagi, dan dari yang sombong menjadi rendah hati.
Heri Ruslan
posted by @Adimin
Label:
Ramadhan,
TOPIK PILIHAN
July 09, 2013
Pelajaran berharga dari Kudeta Militer Terhadap Presiden Mursi
Inilah beberapa pelajaran berharga dari kudeta militer mesir terhadap Presiden Mohammad Mursi.
Pelajaran Pertama. Pertarungan abadi antara al haq dan al batil, serta junudul haq dan junudul batil.
Ikhwah fillah a’azzaniyallah wa iyyakum …
Ini adalah hakikat yang tidak terbantahkan, bahwa keduanya tidak akan pernah akur, kecuali hudnah dalam waktu yang sesaat. Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan, Bani Khuzaah yang pernah memberikan pertolongan kepada perjuangan Beliau pun akhirnya berkhianat hingga menghasilkan perang Khandaq.
Basa basi yang mereka lakukan di hadapan Islamiyyun (aktifis muslim), hanyalah permen manis untuk melenakan kita agar terlupa atas kejahatan dan makar-makar mereka yang lalu, sekarang, dan akan datang. Maka, jangan pernah melupakan madah tarbiyah: “Ash Shiraa’ bainal haq wal baathil”
Pelajaran Kedua. Musuh-musuh da’wah bersatu walau mereka juga mengalami friksi.
Ikhwah fillah …
Ini pelajaran kedua, yang begitu terang benderang. Al Kufru millatu waahidahi. Apa pun baju dan merk mereka, walau mereka juga terjadi perpecahan, mereka mampu melupakan perselisihan di antara mereka sendiri demi menghalau musuh mereka bersama; aktifis muslim. Jika sudah selesai, maka mereka akan berselisih kembali.
Tahsabuhum jami’an wa quluubuhum syatta … kamu menyangka mereka bersatu padahal hati mereka berpecah belah.
Baik itu liberal, sekuler, zionis Yahudi, dan Salibis, baik di Indonesia, Mesir, AS, Uni Eropa, dan lainnya … sama saja!
Pelajaran Ketiga. Tidak padunya sesama aktifis muslim
Perhatikan nasihat Rabbani ini:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak bersatu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al Anfal: 73)
Sungguh disayangkan, ketika Presiden Muhammad Mursi dikudeta, justru Hizbun Nuur (Salafi), Raja Abdullah dari Arab Saudi, dan yang semisal mereka malah mendukung penggulingan itu, bahkan memberikan selamat kepada presiden baru.
Padahal ini bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang melarang memberontak kepada pemimpin yang sah lagi shalih. Bukankah ini yang selalu mereka dengungkan, bahkan mereka menyebut khawarij bagi para pelaku bughat?
Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:
وأما النصيحة لأئمة المسلمين فمعاونتهم على الحق وطاعتهم فيه وأمرهم به وتنبيهم وتذكيرهم برفق ولطف وإعلامهم بما غفلوا عنه ولم يبلغهم من حقوق المسلمين وترك الخروج عليهم وتألف قلوب الناس لطاعتهم قال الخطابي رحمه الله ومن النصيحة لهم الصلاة خلفهم والجهاد معهم وأداء الصدقات إليهم وترك الخروج بالسيف عليهم إذا ظهر منهم حيف أو سوء عشرة وأن لا يغروا بالثناء الكاذب عليهم وأن يدعى لهم بالصلاح وهذا كله على أن المراد بأئمة المسلمين الخلفاء وغيرهم ممن يقوم بأمور المسملين من أصحاب الولايات وهذا هو المشهور وحكاه أيضا الخطابي ثم قال وقد يتأول ذلك على الأئمة الذين هم علماء الدين وأن من نصيحتهم قبول ما رووه وتقليدهم في الأحكام وإحسان الظن بهم
“Ada pun nasihat untuk para imam kaum muslimin adalah: dengan membantu mereka di atas kebenaran, mentaati mereka, memerintahkan mereka dengan ketaatan, dan memperingatkan mereka dengan cara lembut dan santun, memberitahu mereka ketika mereka melalaikan hak kaum muslimin, tidak memberontak, dan menyatukan hati kaum muslimin untuk mentaatinya.
Berkata Al Khathabi Rahimahullah: diantara bentuk nasihat untuk mereka adalah: shalat di belakang mereka, jihad bersama mereka, menunaikan zakat, tidak memberontak dan mengangkat senjata jika melihat adanya kezaliman pada mereka atau perilaku yang buruk, tidak mempardayai mereka dengan pujian-pujian dusta, dan mendoakan mereka dengan kebaikan. Semua ini nasihat bagi para imam kaum muslimin dalam pengertian para khalifah dan selain mereka yang mengurusan urusan kaum muslimin, dari kalangan para penguasa. Inilah yang masyhur. Ini juga dikatakan oleh Al Khathabi. Kemudian dia berkata: ada juga yang metakwil bahwa pemimpin di sini adalah para ulama, dan nasihat bagi mereka adalah dengan menerima pandangan mereka, mengikuti mereka dalam masalah hukum, dan berbaik sangka kepada mereka.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/38-39)
Jangan sampai hanya karena presidennya dari Ikhwanul Muslimin, maka pemberontakan dan penggulingan adalah sah! Tidak peduli dia shalih atau tidak, berprestasi atau tidak, pokokya dari Ikhwan, maka boleh digulingkan …
Ada juga yang diam, tidak peduli, bahkan masih mencibir dan sinis karena Mursi adalah presiden terpilih melalui proses demokrasi yang kufur kata mereka … Wallahul Musta’an wa Ilahi Musytaka!
Pelajaran Keempat. Pentingnya kekuatan media
Di dalam negeri, kita dibombardir berita demonstrasi anti Mursi, seakan mereka mendominasi di sana. Padahal mereka –liberal, sekuler, dan salibis- adalah tirani minoritas. Bahkan memelintir berita adalah halal bagi mereka. Merubah hakikat peristiwa adalah biasa saja ….. walau itu zalim!
Fabaddalal ladziina zhalamuu qaulan ghairalladzi qiila lahum … dan orang-orang zalim itu merubah kata-kata yang tidak dikatakan kepada mereka ……
Sebaliknya, aksi dukungan untuk Mursi sepi pemberitaan. Mereka tidak tertarik memberitakannya, walau aksi dukungan tersebut jauh lebih besar. Kenapa mereka tidak tertarik? Apakah juga karena ideologi yang berbeda? Ini pun juga dialami oleh aktifis muslim di Indonesia.
Jika memang begitu, apakah belum cukup alasan bagi aktifis Islam untuk memiliki Media sendiri? Jangan satu, buatlah seribu …..! Kita memiliki banyak SDM dan kekayaan, dan mampu untuk itu, tapi maukah?
Pelajaran Kelima. Pentingnya menda’wahi militer
Ya! Mereka adalah bagian dari mad’u kita. Bukan musuh, mereka punya moncong senjata kita punya fikrah. Paduan keduanya adalah kekuatan untuk menjaga agama dan teritori. Oleh karenanya Al Ustadz Hasan Al Banna pernah mengatakan bahwa di antara Syumuliatul Islam adalah Akhlaq wa Quwwah – akhlak dan kekuatan. Semua ini agar moncong mereka tidak diarahkan kepada aktifis muslim apalagi jamaah shalat. Melainkan kepada musuh-musuh Islam dan kaum muslimin.
Pelajaran Keenam. Sabar tiada henti
Inilah jalan da’wah, apa yang dialami oleh Ikhwanul Muslimin dengan berbagai sejarah panjang penyiksaan, penangkapan, pengusiran, dan pembunuhan yang mereka alami, baik di Mesir, atau di negara lain, dulu dan sekarang, adalah pengulangan apa yang dialami oleh Junudul Haq generasi pertama. Fa’tabiruu yaa ulil abshaaar!
Wallahu A’lam
Farid Nu'man Hasan
Pelajaran Pertama. Pertarungan abadi antara al haq dan al batil, serta junudul haq dan junudul batil.
Ikhwah fillah a’azzaniyallah wa iyyakum …
Ini adalah hakikat yang tidak terbantahkan, bahwa keduanya tidak akan pernah akur, kecuali hudnah dalam waktu yang sesaat. Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan, Bani Khuzaah yang pernah memberikan pertolongan kepada perjuangan Beliau pun akhirnya berkhianat hingga menghasilkan perang Khandaq.
Basa basi yang mereka lakukan di hadapan Islamiyyun (aktifis muslim), hanyalah permen manis untuk melenakan kita agar terlupa atas kejahatan dan makar-makar mereka yang lalu, sekarang, dan akan datang. Maka, jangan pernah melupakan madah tarbiyah: “Ash Shiraa’ bainal haq wal baathil”
Pelajaran Kedua. Musuh-musuh da’wah bersatu walau mereka juga mengalami friksi.
Ikhwah fillah …
Ini pelajaran kedua, yang begitu terang benderang. Al Kufru millatu waahidahi. Apa pun baju dan merk mereka, walau mereka juga terjadi perpecahan, mereka mampu melupakan perselisihan di antara mereka sendiri demi menghalau musuh mereka bersama; aktifis muslim. Jika sudah selesai, maka mereka akan berselisih kembali.
Tahsabuhum jami’an wa quluubuhum syatta … kamu menyangka mereka bersatu padahal hati mereka berpecah belah.
Baik itu liberal, sekuler, zionis Yahudi, dan Salibis, baik di Indonesia, Mesir, AS, Uni Eropa, dan lainnya … sama saja!
Pelajaran Ketiga. Tidak padunya sesama aktifis muslim
Perhatikan nasihat Rabbani ini:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak bersatu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al Anfal: 73)
Sungguh disayangkan, ketika Presiden Muhammad Mursi dikudeta, justru Hizbun Nuur (Salafi), Raja Abdullah dari Arab Saudi, dan yang semisal mereka malah mendukung penggulingan itu, bahkan memberikan selamat kepada presiden baru.
Padahal ini bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang melarang memberontak kepada pemimpin yang sah lagi shalih. Bukankah ini yang selalu mereka dengungkan, bahkan mereka menyebut khawarij bagi para pelaku bughat?
Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:
وأما النصيحة لأئمة المسلمين فمعاونتهم على الحق وطاعتهم فيه وأمرهم به وتنبيهم وتذكيرهم برفق ولطف وإعلامهم بما غفلوا عنه ولم يبلغهم من حقوق المسلمين وترك الخروج عليهم وتألف قلوب الناس لطاعتهم قال الخطابي رحمه الله ومن النصيحة لهم الصلاة خلفهم والجهاد معهم وأداء الصدقات إليهم وترك الخروج بالسيف عليهم إذا ظهر منهم حيف أو سوء عشرة وأن لا يغروا بالثناء الكاذب عليهم وأن يدعى لهم بالصلاح وهذا كله على أن المراد بأئمة المسلمين الخلفاء وغيرهم ممن يقوم بأمور المسملين من أصحاب الولايات وهذا هو المشهور وحكاه أيضا الخطابي ثم قال وقد يتأول ذلك على الأئمة الذين هم علماء الدين وأن من نصيحتهم قبول ما رووه وتقليدهم في الأحكام وإحسان الظن بهم
“Ada pun nasihat untuk para imam kaum muslimin adalah: dengan membantu mereka di atas kebenaran, mentaati mereka, memerintahkan mereka dengan ketaatan, dan memperingatkan mereka dengan cara lembut dan santun, memberitahu mereka ketika mereka melalaikan hak kaum muslimin, tidak memberontak, dan menyatukan hati kaum muslimin untuk mentaatinya.
Berkata Al Khathabi Rahimahullah: diantara bentuk nasihat untuk mereka adalah: shalat di belakang mereka, jihad bersama mereka, menunaikan zakat, tidak memberontak dan mengangkat senjata jika melihat adanya kezaliman pada mereka atau perilaku yang buruk, tidak mempardayai mereka dengan pujian-pujian dusta, dan mendoakan mereka dengan kebaikan. Semua ini nasihat bagi para imam kaum muslimin dalam pengertian para khalifah dan selain mereka yang mengurusan urusan kaum muslimin, dari kalangan para penguasa. Inilah yang masyhur. Ini juga dikatakan oleh Al Khathabi. Kemudian dia berkata: ada juga yang metakwil bahwa pemimpin di sini adalah para ulama, dan nasihat bagi mereka adalah dengan menerima pandangan mereka, mengikuti mereka dalam masalah hukum, dan berbaik sangka kepada mereka.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/38-39)
Jangan sampai hanya karena presidennya dari Ikhwanul Muslimin, maka pemberontakan dan penggulingan adalah sah! Tidak peduli dia shalih atau tidak, berprestasi atau tidak, pokokya dari Ikhwan, maka boleh digulingkan …
Ada juga yang diam, tidak peduli, bahkan masih mencibir dan sinis karena Mursi adalah presiden terpilih melalui proses demokrasi yang kufur kata mereka … Wallahul Musta’an wa Ilahi Musytaka!
Pelajaran Keempat. Pentingnya kekuatan media
Di dalam negeri, kita dibombardir berita demonstrasi anti Mursi, seakan mereka mendominasi di sana. Padahal mereka –liberal, sekuler, dan salibis- adalah tirani minoritas. Bahkan memelintir berita adalah halal bagi mereka. Merubah hakikat peristiwa adalah biasa saja ….. walau itu zalim!
Fabaddalal ladziina zhalamuu qaulan ghairalladzi qiila lahum … dan orang-orang zalim itu merubah kata-kata yang tidak dikatakan kepada mereka ……
Sebaliknya, aksi dukungan untuk Mursi sepi pemberitaan. Mereka tidak tertarik memberitakannya, walau aksi dukungan tersebut jauh lebih besar. Kenapa mereka tidak tertarik? Apakah juga karena ideologi yang berbeda? Ini pun juga dialami oleh aktifis muslim di Indonesia.
Jika memang begitu, apakah belum cukup alasan bagi aktifis Islam untuk memiliki Media sendiri? Jangan satu, buatlah seribu …..! Kita memiliki banyak SDM dan kekayaan, dan mampu untuk itu, tapi maukah?
Pelajaran Kelima. Pentingnya menda’wahi militer
Ya! Mereka adalah bagian dari mad’u kita. Bukan musuh, mereka punya moncong senjata kita punya fikrah. Paduan keduanya adalah kekuatan untuk menjaga agama dan teritori. Oleh karenanya Al Ustadz Hasan Al Banna pernah mengatakan bahwa di antara Syumuliatul Islam adalah Akhlaq wa Quwwah – akhlak dan kekuatan. Semua ini agar moncong mereka tidak diarahkan kepada aktifis muslim apalagi jamaah shalat. Melainkan kepada musuh-musuh Islam dan kaum muslimin.
Pelajaran Keenam. Sabar tiada henti
Inilah jalan da’wah, apa yang dialami oleh Ikhwanul Muslimin dengan berbagai sejarah panjang penyiksaan, penangkapan, pengusiran, dan pembunuhan yang mereka alami, baik di Mesir, atau di negara lain, dulu dan sekarang, adalah pengulangan apa yang dialami oleh Junudul Haq generasi pertama. Fa’tabiruu yaa ulil abshaaar!
Wallahu A’lam
Farid Nu'man Hasan
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN









