Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
June 22, 2014
posted by @Adimin
Sandiaga Uno: Prabowo Lepas Sekali...
Written By Anonymous on 22 June, 2014 | June 22, 2014
JAKARTA - Perwakilan tim ekonomi Prabowo-Hatta, Sandiaga Salahudin Uno, puas dengan penampilan Prabowo malam ini dalam "Dialog Kadin dengan Capres-Cawapres", di Jakarta, Jumat (20/6/2014).
"Prabowo lepas sekali," katanya sambil tersenyum kepada wartawan. Bos PT Saratoga Investama Sedaya itu menambahkan, meskipun mantan orang militer, Prabowo juga seorang pengusaha.
Inilah yang menjadikan Prabowo terlihat luwes berdialog dengan pengusaha. "Pak Prabowo juga sudah menunjukkan bahwa Indonesia open for business. Sehingga kalau kemarin ada investor yang khawatir dengan kebijakan Prabowo, sekarang kekhawatiran itu hilang," katanya.
Dalam dialog yang digelar Kadin malam ini, Prabowo mendapatkan urutan pertama untuk memaparkan visi dan misinya. Setelah itu, giliran Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang memberikan pemaparan. [kompas]
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
June 22, 2014
posted by @Adimin
Lindungi Prabowo, PKS Terjunkan 20.000 Relawan
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Wilayah DIY menerjunkan 20.000 relawan PKS ke rumah-rumah warga untuk mengkampanyekan Calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor Urut 1. Upaya tersebut sekaligus menangkal “serangan” kepada Prabowo Subianto yang akhir-akhir ini gencar.
PKS menganggap serangan yang dilakukan lawan politik Prabowo sudah meresahkan. Isu penculikan aktivis 1998 masuk ranah hukum militer dan harus diselesaikan di internal sesuai mekanisme militer.
“Tidak perlu dibawa ke ranah politik,” kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Sukamto di Warung Makan Cimoll Jalan Ipda Tut Harsono, Jumat (20/6/2014)
Menurut Sukamto, saat ini persaingan pemilihan presiden, bukan saatnya lagi mengungkit-ungkit masa lalu. Prabowo, kata Sukamto, pada 2009 lalu digandeng menjadi calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri. Kendati demikian, Sukamto menyerahkan persoalan personal prabowo kepada tim Prabowo yang mengetahui persis persoalan mantan Komandan Jenderal Kopassus tersebut.
“PKS DIY akan mengerahkan 20.000 kader lakukan kampanye door to door.” Kata Sukamto.
Sekretaris DPW PKS DIY Zuhrif Hudaya mengungkapkan model kampanye door to door yang dilakukan PKS adalah model kampanye yang menjadi ciri khas dan keunggulan PKS. Dengan model tersebut juga bisa menangkal isu-isu negatif yang selama ini digencarkan lawan politik Prabowo-Hatta.
“Dengan kampanye door to door melalui relawan ini bisa mencegah isu negatif tentang Prabowo,” ujar Zuhrif
Ditambahkan Zuhrif, PKS juga sudah menyiapkan ribuan kader untuk menjadi saksi sebagai upaya mengantisipasi kecurangan saat pencoblosan hingga penghitungan suara. Pola saksi yang diterapkan adalah saksi berlapis baik di Tempat Pemungutan Suara (TPS), PPS, PPK sampai di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten dan Kota.
“Kami komitmen akan mengawal suara secara ketat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan,” kata dia.[solopos/dm/pksnongsa]
PKS menganggap serangan yang dilakukan lawan politik Prabowo sudah meresahkan. Isu penculikan aktivis 1998 masuk ranah hukum militer dan harus diselesaikan di internal sesuai mekanisme militer.
“Tidak perlu dibawa ke ranah politik,” kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Sukamto di Warung Makan Cimoll Jalan Ipda Tut Harsono, Jumat (20/6/2014)
Menurut Sukamto, saat ini persaingan pemilihan presiden, bukan saatnya lagi mengungkit-ungkit masa lalu. Prabowo, kata Sukamto, pada 2009 lalu digandeng menjadi calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri. Kendati demikian, Sukamto menyerahkan persoalan personal prabowo kepada tim Prabowo yang mengetahui persis persoalan mantan Komandan Jenderal Kopassus tersebut.
“PKS DIY akan mengerahkan 20.000 kader lakukan kampanye door to door.” Kata Sukamto.
Sekretaris DPW PKS DIY Zuhrif Hudaya mengungkapkan model kampanye door to door yang dilakukan PKS adalah model kampanye yang menjadi ciri khas dan keunggulan PKS. Dengan model tersebut juga bisa menangkal isu-isu negatif yang selama ini digencarkan lawan politik Prabowo-Hatta.
“Dengan kampanye door to door melalui relawan ini bisa mencegah isu negatif tentang Prabowo,” ujar Zuhrif
Ditambahkan Zuhrif, PKS juga sudah menyiapkan ribuan kader untuk menjadi saksi sebagai upaya mengantisipasi kecurangan saat pencoblosan hingga penghitungan suara. Pola saksi yang diterapkan adalah saksi berlapis baik di Tempat Pemungutan Suara (TPS), PPS, PPK sampai di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten dan Kota.
“Kami komitmen akan mengawal suara secara ketat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan,” kata dia.[solopos/dm/pksnongsa]
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
June 21, 2014
posted by @Adimin
Ini Alasan Elektabilitas Jokowi Tersalip Prabowo
Written By Anonymous on 21 June, 2014 | June 21, 2014
JAKARTA - Hasil survei belakangan ini yang ditunjukkan beberapa lembaga menunjukkan tren elektabiltas Joko Widodo terus melorot. Posisi Jokowi yang sebelumnya sangat mendominasi pertarungan, kini telah disalib Prabowo Subianto.
Data Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) terakhir menyebutkan elektabilitas Jokowi-JK turun menjadi 42,79 persen dan Prabowo meraih 44,69 persen. Direktur Puskaptis Husin Yazid mengatakan bahwa masyarakat menginginkan sosk pemimpin yang tegas, berani dan berwibawa. “Faktor keamanan adalah salah satu kebutuhan masyarakat,” kata Husin saat dihubungi wartawan, Jumat (20/6)
Dia menyatakan, keamanan yang dimaksud bukan hanya dari ancaman luar, tapi juga keamanan dalam hal bidang ekonomi. “Ekonomi Global sudah berlangsung, masyarakat butuh proteksi dalam bidang ekonomi. Dalam hal ini masyarakat mempercayai Prabowo bisa melakukan perlindungan tersebut,” ujarnya.
Faktor kedua adalah masyarakat memilih Prabowo, lantaran presiden akan membawa nama Indonesia di mata dunia. Dalam hal ini, ketua dewan pembina Partai Gerindra itu lebih bisa dipercaya, untuk memberikan kewibawaan pada Tanah Air. Artinya, citra dan nilai Indonesia di mata dunia bisa dijaga oleh Prabowo.
Selain itu faktor yang juga banyak berpengaruh terhadap menurunnya elektabilitas Jokowi adalah serangan brutal yang bertubi-tubi alias menyerang tanpa dasar. "Masyarakat bisa melihat hal itu dan itu memberikan rasa simpati kepada Prabowo,” kata Husin.
Dia mengatakan selama ini banyak sekali rumor yang diembuskan untuk menjatuhkan Prabowo. Namun menurut Husein, saat ini masyarakat sudah jauh lebih cerdas karena derasnya arus informasi. Akibatnya rumor yang tidak berdasar sejatinya sudah mereka bisa pilah-pilah.
Penyebab lainnya adalah penguasaan daerah dari ketokohan cawapres. Keberadaan JK sebagai pendamping Jokowi tidak mendongkrak suara secara siginifikan. Berbeda dengan Hatta Rajasa yang menjadi wakil Prabowo, figur Hatta dinilai menjadi penopang suara.
"Sekitar 21 persen pemilih ada di pulau Sumatra dan Hatta Rajasa mampu menguasai daerah ini dengan baik. JK, meskipun menguasai daerah Sulawesi namun pemilih di sana hanya sekitar tuju persen," jelas Husin.
Husin menambahkan, bergabungnya mayoritas kader Demokrat dalam koalisi Prabowo-Hatta, juga turut berpengaruh. “Banyak masyarakat yang masih menyukai figur SBY." [ROL]
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
June 21, 2014
posted by @Adimin
Survei Vox Populi: Elektabilitas Prabowo-Hatta Lampaui Jokowi-JK Hingga 15,1%
JAKARTA - Vox Populi Survey merilis survei yang menunjukkan elektabilitas calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa lebih unggul dibanding capres-cawapres lainnya, yakni Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Dalam survei tersebut, Prabowo-Hatta memiliki elektabilitas 52,8 persen, sedangkan Jokowi-JK 37,7 persen. Yang tidak memberi jawaban dalam survei itu ialah sebesar 9,5 persen.
"Dari berbagai kelompok masyarakat yang ada, terlihat bahwa Prabowo-Hatta selalu unggul elektabilitasnya dibanding Jokowi-Kalla," ujar Direktur Eksekutif Vox Populi Survei, Basynursyah, saat memaparkan hasil survei di Whiz Hotel Cikini, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (20/6/2014).
Basynursyah mengatakan, unggulnya elektabilitas Prabowo-Hatta disebabkan oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Prabowo-Hatta untuk memecahkan segala persoalan bangsa, seperti nasionalisme yang mulai pudar dan ekonomi kapitalis yang menyengsarakan bangsa.
Prabowo-Hatta juga dianggap memiliki ketegasan, integritas, kejujuran, dan moral yang tinggi untuk bisa memecahkan permasalahan tersebut. Sementara itu, menurunnya elektabilitas Jokowi-JK, lanjut Basynursyah, disebabkan Jokowi dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah kemacetan dan banjir di Jakarta yang hingga kini masih terjadi.
Tak hanya itu, kasus bus transjakarta yang ditangani oleh Kejaksaan Agung, yang diduga melibatkan Jokowi, juga mempunyai pengaruh akan turunnya elektablilitas Jokowi-JK. Survei ini dilaksanakan pada tanggal 3-15 Juni 2014 dengan populasi warga Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum.
Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah sampel yang ditetapkan sebanyak 5.226, tetapi yang berhasil dianalisis sebanyak 4.998 sampel. Toleransi kesalahan survei ini adalah sebesar /- 1,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini dibuat dan dibiayai oleh Vox Populi dan dibantu oleh Persatuan Wartawan Republik Indonesia. [kompas]
posted by @Adimin
Label:
EDITORIAL,
TOPIK PILIHAN
June 21, 2014
posted by @Adimin
Irwan Prayitno: Organisasi Harus Tepat Ukuran Dan Fungsi
Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Irwan Prayitno mengatakan menjalankan sebuah organisasi harus tepat ukuran dan fungsi sehingga reformasi dan birokrasi berjalan sebagaimana tuntutan undang-undang.
"Kita butuh organisasi yang betul-betul dapat menjalankan roda pemerintahan dengan baik, tepat ukuran dan tepat fungsi, sehinga reformasi dan birokrasi berjalan sebagaimana tuntutan undang-undang," ujar Irwan saat melantik Forum Komunikasi keorganisasian Provinsi dan Kabupaten/kota se-Sumatra Barat sekaligus membuka Rapat Koordinasi Teknis Kelembagaan Kabupaten/Kota di hotel Pangeran City Padang, pada Rabu (18/6) lalu.
Pada kesempatan itu Irwan juga menyampaikan agar dapat menyempurnakan kebutuhan organisasi yang ada di daerah masing-masing.
“Tepat fungsi bagaimana suatu organisasi atau lembaga bisa menjalankan amanah sesuai dengan fungsi dan tugas pokoknya, jadi tepat fungsi itu bagaimana berjalan secara profesional," tegasnya.
Irwan juga berharap organisasi yang dibuat sesuai dengan kebutuhan. Sebuah struktur baru yang semestinya dibuat demi membantu tugas-tugas khusus dan sesuai dengan ukuran yaitu tepat fungsi, ukuran perbaikan Kelembagaan (organisasi).
"Organisasi sebagai salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam melakukan penyelenggaraan Reformasi Birokrasi. Penyelenggaraan organisasi paling tidak mempunyai tiga unsur, yaitu, adanya orang yang bekerja, adanya kerjasama dan adanya tujuan yang akan dicapai oleh organisasi tersebut," katanya.
Menurut Irwan yang merupakan kader PKS ini, dalam prilaku organisasi unsur pekerja dan kerjasama merupakan hal yang rutin terjadi sebagaimana mestinya perjalanan organisasi sebelumnya.
"Dalam reformasi birokrasi ini yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita menentukan kejelasan titik akhir atau tujuan apa yang akan dicapai," jelasnya.
Tentunya, lanjut Irwan, pencapaian tujuan melalui prosedur, program, pola (network), kebijaksanaan (policy), strategi, anggaran (budgeting), dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan. Selain pentingnya ketiga unsur tersebut, penciptaan lingkungan organisasi yang kondusif mutlak diperlukan dalam kesuksesan penyelenggaraan reformasi birokrasi.
"Hal ini dikarenakan organisasi merupakan sebagai suatu sistem terbuka yang berada di dalam sebuah lingkungan. Kegiatan organisasi akan merubah lingkungan dan juga sebaliknya lingkungan akan mendorong perubahan pada organisasi. Begitu juga iklim organisasi yang tercipta dalam interaksi antar personil yang terlibat di dalamnya," ungkapnya.[pr/dm/pksnongsa]
"Kita butuh organisasi yang betul-betul dapat menjalankan roda pemerintahan dengan baik, tepat ukuran dan tepat fungsi, sehinga reformasi dan birokrasi berjalan sebagaimana tuntutan undang-undang," ujar Irwan saat melantik Forum Komunikasi keorganisasian Provinsi dan Kabupaten/kota se-Sumatra Barat sekaligus membuka Rapat Koordinasi Teknis Kelembagaan Kabupaten/Kota di hotel Pangeran City Padang, pada Rabu (18/6) lalu.
Pada kesempatan itu Irwan juga menyampaikan agar dapat menyempurnakan kebutuhan organisasi yang ada di daerah masing-masing.
“Tepat fungsi bagaimana suatu organisasi atau lembaga bisa menjalankan amanah sesuai dengan fungsi dan tugas pokoknya, jadi tepat fungsi itu bagaimana berjalan secara profesional," tegasnya.
Irwan juga berharap organisasi yang dibuat sesuai dengan kebutuhan. Sebuah struktur baru yang semestinya dibuat demi membantu tugas-tugas khusus dan sesuai dengan ukuran yaitu tepat fungsi, ukuran perbaikan Kelembagaan (organisasi).
"Organisasi sebagai salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam melakukan penyelenggaraan Reformasi Birokrasi. Penyelenggaraan organisasi paling tidak mempunyai tiga unsur, yaitu, adanya orang yang bekerja, adanya kerjasama dan adanya tujuan yang akan dicapai oleh organisasi tersebut," katanya.
Menurut Irwan yang merupakan kader PKS ini, dalam prilaku organisasi unsur pekerja dan kerjasama merupakan hal yang rutin terjadi sebagaimana mestinya perjalanan organisasi sebelumnya.
"Dalam reformasi birokrasi ini yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita menentukan kejelasan titik akhir atau tujuan apa yang akan dicapai," jelasnya.
Tentunya, lanjut Irwan, pencapaian tujuan melalui prosedur, program, pola (network), kebijaksanaan (policy), strategi, anggaran (budgeting), dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan. Selain pentingnya ketiga unsur tersebut, penciptaan lingkungan organisasi yang kondusif mutlak diperlukan dalam kesuksesan penyelenggaraan reformasi birokrasi.
"Hal ini dikarenakan organisasi merupakan sebagai suatu sistem terbuka yang berada di dalam sebuah lingkungan. Kegiatan organisasi akan merubah lingkungan dan juga sebaliknya lingkungan akan mendorong perubahan pada organisasi. Begitu juga iklim organisasi yang tercipta dalam interaksi antar personil yang terlibat di dalamnya," ungkapnya.[pr/dm/pksnongsa]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 21, 2014
posted by @Adimin
20.000 Kader PKS DIY Door to Door Menangkan Prabowo-Hatta
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DIY telah menyiapkan seluruh sumber daya yang dimiliki guna mendukung agenda pemenangan pasangan Capres Prabowo-Hatta. Sejauh ini agenda konsolidasi internal telah tuntas dilakukan.
Menurut Sukamta, P.hD selaku Ketua DPW PKS DIY, selama 1 bulan semenjak deklarasi dukungan, PKS DIY telah menuntaskan agenda konsolidasi internal dengan kegiatan pemantapan struktur pemenangan hingga level kepengurusan DPRa (kelurahan) dan mensosialisasikan agenda pemenangan kepada seluruh kader PKS dalam agenda Apel Siaga Kader. Kami meyakini 100% kader PKS Solid menjadi mesin pemenangan Prabowo-Hatta.
Selanjutnya pasca agenda konsolidasi, PKS DIY saat ini telah menyiapkan 2 kegiatan utama pemenangan yaitu kampanye dan pengawalan suara. Untuk kampanye, PKS DIY telah memulai dengan memasang 1000 spanduk “Coblos Prabowo-Hatta”.
Tak cukup dengan spanduk sebagai media sosialiasi, guna lebih menguatkan tingkat keterpilihan Prabowo-Hatta, PKS DIY akan mengerahkan dua puluh ribu kader lakukan kampanye door to door. Ini adalah model kampanye selama ini menjadi ciri dan keunggulan PKS. Kami tentu berharap dukungan konkret ini akan menambah dukungan masyarakat kepada Prabowo-Hatta, jelas Sukamta.
Sementara itu Zuhrif Hudaya selaku Sekum DPW PKS DIY menyampaikan, bahwa tidak kalah penting dari kampanye adalah kegiatan pengawalan suara. Sebagaimana telah diserukan oleh Tim Pusat bahwa untuk mengantisipasi kemungkinan kecurangan dalam proses pencoblosan hingga penghitungan suara akan dilakukan dengan Pola Saksi Berlapis. PKS DIY dalam hal ini akan membantu pengawalan suara secara penuh dengan menyiapkan saksi di 8348 TPS, 438 PPS, 78 PPK dan 6 saksi di KPU Kabupaten/Kota dan Propinsi. Kami telah berkomitmen bahwa PKS akan kawal suara secara ketat sehingga bisa mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan dan jika ada kecurangan pasti akan tercatat/ terekam oleh saksi PKS untuk kemudian bisa ditindaklanjuti oleh Tim Advokasi.
Sebagai penutup, PKS DIY berharap kampanye Pilpres tidak dinodai dengan tindak kekerasan dan kampanye hitam (black campaign). Apalagi kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan, sudah sepantasnya kampanye dilakukan dengan santun dan mendidik. [pkspiyungan]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
June 21, 2014
Twit @Fahrihamzah
20/06/2014
Temans,
Hari ini, ada penyerahan LHP Pemda DKI.
LHP adalah laporan hasil pemeriksaan BPK.
Atas kepatuhan..
Laporan itu,
Seperti laporan pemeriksaan Pemerintah pusat,
Diserahkan kepada LEgislatif, DPRD.
Mari kita lihat,
Apakah E-Government,
Apakah e-procurement,
Apakah e-budgeting,
Dll itu...
Nyata atau khayalan...
Dalam kasus Solo,
Jelas sudah bahwa,
Jokowi itu pedagang,
Bukan pemimpin,
Dia hanya berkepentingan
dagangannya laku.
Maka semua hal,
Dalam pemerintahan,
Kepentingannya adalah peresmian
(Masuk Media dapat nama)
Selanjutnya #nggakMikir
Dia merasa,
Kalau sudah laku dan dapat untung selesai,
Dia merasa,
Kalau sudah peresmian selesai...
(Otak dagang)
Maka jangan heran,
Yang kayak begini,
Meninggalkan banyak masalah...
Nampak di bukunya,
Solo adalah bukti.
DKI di depan mata kita,
Kita melihat banyak masalah.
Tapi ditutupi.
Pencitraan kuat sekali.
Industri media punya mau.
Nah sepertinya,
Industri media,
Alat pencitraan ini,
Sudah punya mau lain,
Media berbalik,
Terbelalak,
...
Siapa yg bermain dengan media,
Kalau dia tak memilikinya,
Waspadalah,
Sudah banyak korban...
Jokowi contoh baru..
Buat media sekarang,
Lebih menarik mengungkap kepalsuan jokowi,
Daripada sisi aslinya..
Sebab tidak ada...
Dicitrakan jujur,
Tetapi kerap berbohong...
Dicitrakan konsisten
Tetapi kerap berubah....
Dicitrakan sederhana,,
Tapi hidupnya mewah...
(Media ungkap harga tas isterinya CHANNEL...)
Masih banyak lagi..
Itulah kalau kita palsu...
Mengerikan..
Jadilah apa adanya..
Prabowo tidak pernah sok miskin...
Karena keluarganya dikaruniai harta...
Tuhan juga bilang,
Kalau kalian punya Rizki tunjukkanlah..
Yg penting halal..
Pencitraan melelahkan aktornya..
Juga melelahkan Republik Indonesia...
Inilah yang kita hadapi...
Jokowi naik #esemka
Datang ke jakarta..
Dia tahu sebagai pedagang..
Mobil itu mimpi kita..
Esemka sebagai mimpi
Bagi jokowi,,,
Baik untuk ditumpangi...
Bukan diwujudkan...
Jokowi pandai menumpang di mimpi kita..
Tak pandai mewujudkannya,,,
Jokowi itu pemain sulap..
Dia memakai kartu-kartu...
Masuk jakarta
Jokowi masih mau simsalabim..
Kita hadang...
Kita rakyat..
Bukan penonton pertunjukan..
Negara bukan seni pertunjukan..
Negara adalah cita-cita kehidupan..
Content from Twitter
Negara adalah kehendak umum..
Bukan mau satu-dua orang...
Manuver kepalsuan akan ditangkap...
Pencitraan akan diungkap..
Warna asli akan disingkap...
Kita hanya perlu keberanian bertanya..
Setiap saat..
Tentang hal-hal yang janggal..
Menurut saya,
Jokowi itu janggal,
Dan biarlah BPK mengungkapkan..
Karena negara adalah Pranata..
Pemimpin bukan segalanya...
Selamat bekerja...
Jangan lupa jumatan..
Bagi yg melaksanakan...
posted by @Adimin
"Manuver Kepalsuan Akan Ditangkap" by @FahriHamzah #JokowiDisclaimer
Twit @Fahrihamzah
20/06/2014
Temans,
Hari ini, ada penyerahan LHP Pemda DKI.
LHP adalah laporan hasil pemeriksaan BPK.
Atas kepatuhan..
Laporan itu,
Seperti laporan pemeriksaan Pemerintah pusat,
Diserahkan kepada LEgislatif, DPRD.
Mari kita lihat,
Apakah E-Government,
Apakah e-procurement,
Apakah e-budgeting,
Dll itu...
Nyata atau khayalan...
Dalam kasus Solo,
Jelas sudah bahwa,
Jokowi itu pedagang,
Bukan pemimpin,
Dia hanya berkepentingan
dagangannya laku.
Maka semua hal,
Dalam pemerintahan,
Kepentingannya adalah peresmian
(Masuk Media dapat nama)
Selanjutnya #nggakMikir
Dia merasa,
Kalau sudah laku dan dapat untung selesai,
Dia merasa,
Kalau sudah peresmian selesai...
(Otak dagang)
Maka jangan heran,
Yang kayak begini,
Meninggalkan banyak masalah...
Nampak di bukunya,
Solo adalah bukti.
DKI di depan mata kita,
Kita melihat banyak masalah.
Tapi ditutupi.
Pencitraan kuat sekali.
Industri media punya mau.
Nah sepertinya,
Industri media,
Alat pencitraan ini,
Sudah punya mau lain,
Media berbalik,
Terbelalak,
...
Siapa yg bermain dengan media,
Kalau dia tak memilikinya,
Waspadalah,
Sudah banyak korban...
Jokowi contoh baru..
Buat media sekarang,
Lebih menarik mengungkap kepalsuan jokowi,
Daripada sisi aslinya..
Sebab tidak ada...
Dicitrakan jujur,
Tetapi kerap berbohong...
Dicitrakan konsisten
Tetapi kerap berubah....
Dicitrakan sederhana,,
Tapi hidupnya mewah...
(Media ungkap harga tas isterinya CHANNEL...)
Masih banyak lagi..
Itulah kalau kita palsu...
Mengerikan..
Jadilah apa adanya..
Prabowo tidak pernah sok miskin...
Karena keluarganya dikaruniai harta...
Tuhan juga bilang,
Kalau kalian punya Rizki tunjukkanlah..
Yg penting halal..
Pencitraan melelahkan aktornya..
Juga melelahkan Republik Indonesia...
Inilah yang kita hadapi...
Jokowi naik #esemka
Datang ke jakarta..
Dia tahu sebagai pedagang..
Mobil itu mimpi kita..
Esemka sebagai mimpi
Bagi jokowi,,,
Baik untuk ditumpangi...
Bukan diwujudkan...
Jokowi pandai menumpang di mimpi kita..
Tak pandai mewujudkannya,,,
Jokowi itu pemain sulap..
Dia memakai kartu-kartu...
Masuk jakarta
Jokowi masih mau simsalabim..
Kita hadang...
Kita rakyat..
Bukan penonton pertunjukan..
Negara bukan seni pertunjukan..
Negara adalah cita-cita kehidupan..
Content from Twitter
Negara adalah kehendak umum..
Bukan mau satu-dua orang...
Manuver kepalsuan akan ditangkap...
Pencitraan akan diungkap..
Warna asli akan disingkap...
Kita hanya perlu keberanian bertanya..
Setiap saat..
Tentang hal-hal yang janggal..
Menurut saya,
Jokowi itu janggal,
Dan biarlah BPK mengungkapkan..
Karena negara adalah Pranata..
Pemimpin bukan segalanya...
Selamat bekerja...
Jangan lupa jumatan..
Bagi yg melaksanakan...
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 20, 2014
Pengujung transisi menuju demokrasi adalah situasi yang khas: ekspektasi akan hidup yang lebih baik kian membuncah tapi pada saat yang sama energi dan euforia– bahkan kesabaran–sudah menyurut.
Fase pungkas transisi, yaitu konsolidasi demokrasi, adalah jalan sepi yang ditempuh dengan ketekunan, bukan panggung ingar-bingar penuh deklamasi. Dalam tahap ini diperlukan pemimpin yang mampu menggerakkan sekaligus mendorong rakyat, agar mau melangkah lagi agar tujuan transisi, yaitu demokrasi yang sejati dapat tercapai. Itulah yang kini terjadi di Indonesia. Pemilu demokratis sudah tiga kali kita lewati dan kini kita tengah melaksanakan pemilu demokratis keempat dengan ekosistem politik yang jauh lebih stabil.
Kita telah berusaha merumuskan arah yang ingin dituju agar transisi ini tidak menjadi jalan berputar atau–malah lebih parah–berputar-putar tanpa arah. Tantangan itulah yang coba dijawab dalam Sidang Umum MPR dan proses amendemen UUD 1945 pasca-Reformasi. Kita berusaha untuk menulis kembali cetak biru dan mempertegas alasan kehadiran (raison d(raison detre) Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi semua warga bangsa yang berlindung dalam naungannya.
Dalam perjalanannya, cetak biru itu harus berdialektika dengan realitas dan ekspektasi yang terus berubah. Kini kita harus menjaga stamina agar negara dan warganya tidak kehabisan tenaga untuk menuntaskan transisi demokrasi karena janji perbaikan hidup sebagian belum terwujud.
Karena itu, kita harus bekerja bersama menuntaskan transisi demokrasi dan menghindarkan Indonesia dari jebakan transisi berkepanjangan (prolonged transition), di mana nilai dan sistem lama telah dihancurkan namun nilai dan sistem baru belum terbangun, atau belum mampu menghasilkan kehidupan lebih baik sebagaimana yang dijanjikan.
Jebakan transisi berkepanjangan ini membutuhkan pemimpin yang mampu memecah kebuntuan situasi sekaligus menjaga api harapan tetap menyala untuk mencapai garis tujuan.
Demokrasi “Media-Sentris”
Kita tengah berada di era “demokrasi melalui media” di mana media memegang peran penting dalam mentransmisikan pesan ke dan dari masyarakat. Media telah menghablurkan batas antara realitas yang kita alami sendiri dan realitas yang kita serap dari media. Hari ini orang yang tidak tinggal di Jakarta bisa bercerita tentang macetnya Jakarta akibat pengetahuan yang diserapnya dari media.
Ini juga yang mempengaruhi ruang politik kita. Media berperan sangat penting karena media tidak semata mempresentasi realitas, tetapi merepresentasi (mewakilkan hadirnya) realitas ke depan khalayak. Menurut ahli kajian media David Buckingham (2010), media tidaklah menawarkan jendela bening tembus pandang untuk melihat “dunia”, namun menghadirkan sebuah “dunia” dalam versi yang telah dimediasi.
Media bukan menyediakan kacamata atau teropong, tapi menghadirkan akuarium sehingga kita beranggapan bahwa akuarium itulah keseluruhan dunia ini. Yang terserak di luar akuarium dianggap tidak penting dan bermakna. Logika media (terutama televisi/ tv) adalah “menonton dan ditonton” dengan dikotomi peran pasif-aktif yang semakin kabur, terutama dalam konteks pemilihan umum.
Penonton yang selama ini dinilai pasif dan tidak berdaya, dalam politik menjadi berdaya karena dialah pemilik suara yang diperebutkan. Sementara, para tokoh politik yang diimajikan berkuasa, sebenarnya sedang memainkan pertunjukan yang naskahnya didiktekan oleh massa rakyat melalui survei opini publik. Dalam situasi “media-sentris” seperti ini, sangat mudah orang terjebak untuk menjadi penghibur bagi penonton.
Tokoh-tokoh politik menyajikan tontonan yang menyenangkan hati penontonnya, melalui suatu pertunjukan buatan. Apa yang dipertontonkan belakangan ini tentu berbeda makna dan motivasinya dengan, misalnya, kebiasaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX keliling Yogyakarta pada malam hingga subuh. Pada suatu kesempatan beliau memberi tumpangan kepada seorang mbok pasar.
Ketika sampai di pasar, orang-orang memberi tahu mbok bahwa yang memberinya tumpangan adalah Ngarsa Dalem. Langsung mbok itu pingsan! Tidak ada media yang meliput, tapi cerita itu hidup sampai sekarang. Cerita yang otentik, nyata, bukan pertunjukan. Masyarakat umum mengetahuinya belasan tahun kemudian melalui buku Takhta Untuk Rakyat.
Karena dikendalikan dengan logika hiburan, bukan otentisitas, tokoh politik terjebak untuk menyederhanakan masalah dan cara penyelesaian masalah. Ini tak terelakkan karena dalam demokrasi media- sentris, durasi, jam tayang, prime time, sound byte menjadi indikator utama. Pesan pemimpin dikemas mirip iklan yang renyah dan berdimensi tunggal agar mudah diingat tanpa elaborasi yang mendalam.
Gagasan Pemimpin
Di tengah arus media-sentris itu, kita kekurangan kesempatan menelaah gagasan pemimpin secara mendalam. Ruang-ruang publik yang didominasi logika media dan budaya instan berpotensi melahirkan figur pemimpin penghibur yang membuat kita tertawa sejenak meskipun masalah tetap menggunung.
Pemimpin penghibur tidak mengajak penontonnya berkerut kening karena yang ditawarkan adalah keceriaan sesaat—tanpa memikirkan bagaimana besok atau lusa. Pemimpin penghibur tidak menawarkan masa depan karena yang penting baginya adalah hari ini. Pemimpin penghibur juga kerap khawatir penontonnya berpaling mencari tontonan lain yang lebih menghibur.
Mirip logika rating dalam industri sinetron. Indonesia tidak membutuhkan pemimpin penghibur atau pemimpin sinetron. Kita sudah melewati sejumlah krisis dan kini tengah bersiap untuk naik kelas dari negara skala menengah menjadi negara kuat dalam ukuran ekonomi dan pengaruh geopolitik.
Kondisi itu akan tercapai jika kita berhasil menuntaskan transisi demokrasi dan menghasilkan negarabangsa yang kuat dan demokratis. Yang dibutuhkan adalah pemimpin penyala harapan, bukan penyaji hiburan, bahwa hari esok yang lebih baik akan datang jika kita mau bekerja keras, bukan dengan tertawatawa sejenak.
Peran penting pemimpin adalah menciptakan “state of mind” atau situasi psikologis di dalam masyarakatnya dengan cara melahirkan dan mengartikulasikan tujuan yang menggerakkan orang dari kepentingan mereka sendiri menuju kepentingan bersama yang lebih tinggi. (JW Gardner, 1988).Kita membutuhkan lebih banyak ruang lagi untuk mendengarkan gagasan pemimpin untuk mendapat harapan, bukan hiburan.[]
*Koran SINDO (Opini, edisi 19/6/2014)
posted by @Adimin
"Harapan atau Hiburan?" | Kolom Anis Matta
Written By Anonymous on 20 June, 2014 | June 20, 2014
Harapan atau Hiburan?
(Oleh Anis Matta)
Pengujung transisi menuju demokrasi adalah situasi yang khas: ekspektasi akan hidup yang lebih baik kian membuncah tapi pada saat yang sama energi dan euforia– bahkan kesabaran–sudah menyurut.
Fase pungkas transisi, yaitu konsolidasi demokrasi, adalah jalan sepi yang ditempuh dengan ketekunan, bukan panggung ingar-bingar penuh deklamasi. Dalam tahap ini diperlukan pemimpin yang mampu menggerakkan sekaligus mendorong rakyat, agar mau melangkah lagi agar tujuan transisi, yaitu demokrasi yang sejati dapat tercapai. Itulah yang kini terjadi di Indonesia. Pemilu demokratis sudah tiga kali kita lewati dan kini kita tengah melaksanakan pemilu demokratis keempat dengan ekosistem politik yang jauh lebih stabil.
Kita telah berusaha merumuskan arah yang ingin dituju agar transisi ini tidak menjadi jalan berputar atau–malah lebih parah–berputar-putar tanpa arah. Tantangan itulah yang coba dijawab dalam Sidang Umum MPR dan proses amendemen UUD 1945 pasca-Reformasi. Kita berusaha untuk menulis kembali cetak biru dan mempertegas alasan kehadiran (raison d(raison detre) Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi semua warga bangsa yang berlindung dalam naungannya.
Dalam perjalanannya, cetak biru itu harus berdialektika dengan realitas dan ekspektasi yang terus berubah. Kini kita harus menjaga stamina agar negara dan warganya tidak kehabisan tenaga untuk menuntaskan transisi demokrasi karena janji perbaikan hidup sebagian belum terwujud.
Karena itu, kita harus bekerja bersama menuntaskan transisi demokrasi dan menghindarkan Indonesia dari jebakan transisi berkepanjangan (prolonged transition), di mana nilai dan sistem lama telah dihancurkan namun nilai dan sistem baru belum terbangun, atau belum mampu menghasilkan kehidupan lebih baik sebagaimana yang dijanjikan.
Jebakan transisi berkepanjangan ini membutuhkan pemimpin yang mampu memecah kebuntuan situasi sekaligus menjaga api harapan tetap menyala untuk mencapai garis tujuan.
Demokrasi “Media-Sentris”
Kita tengah berada di era “demokrasi melalui media” di mana media memegang peran penting dalam mentransmisikan pesan ke dan dari masyarakat. Media telah menghablurkan batas antara realitas yang kita alami sendiri dan realitas yang kita serap dari media. Hari ini orang yang tidak tinggal di Jakarta bisa bercerita tentang macetnya Jakarta akibat pengetahuan yang diserapnya dari media.
Ini juga yang mempengaruhi ruang politik kita. Media berperan sangat penting karena media tidak semata mempresentasi realitas, tetapi merepresentasi (mewakilkan hadirnya) realitas ke depan khalayak. Menurut ahli kajian media David Buckingham (2010), media tidaklah menawarkan jendela bening tembus pandang untuk melihat “dunia”, namun menghadirkan sebuah “dunia” dalam versi yang telah dimediasi.
Media bukan menyediakan kacamata atau teropong, tapi menghadirkan akuarium sehingga kita beranggapan bahwa akuarium itulah keseluruhan dunia ini. Yang terserak di luar akuarium dianggap tidak penting dan bermakna. Logika media (terutama televisi/ tv) adalah “menonton dan ditonton” dengan dikotomi peran pasif-aktif yang semakin kabur, terutama dalam konteks pemilihan umum.
Penonton yang selama ini dinilai pasif dan tidak berdaya, dalam politik menjadi berdaya karena dialah pemilik suara yang diperebutkan. Sementara, para tokoh politik yang diimajikan berkuasa, sebenarnya sedang memainkan pertunjukan yang naskahnya didiktekan oleh massa rakyat melalui survei opini publik. Dalam situasi “media-sentris” seperti ini, sangat mudah orang terjebak untuk menjadi penghibur bagi penonton.
Tokoh-tokoh politik menyajikan tontonan yang menyenangkan hati penontonnya, melalui suatu pertunjukan buatan. Apa yang dipertontonkan belakangan ini tentu berbeda makna dan motivasinya dengan, misalnya, kebiasaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX keliling Yogyakarta pada malam hingga subuh. Pada suatu kesempatan beliau memberi tumpangan kepada seorang mbok pasar.
Ketika sampai di pasar, orang-orang memberi tahu mbok bahwa yang memberinya tumpangan adalah Ngarsa Dalem. Langsung mbok itu pingsan! Tidak ada media yang meliput, tapi cerita itu hidup sampai sekarang. Cerita yang otentik, nyata, bukan pertunjukan. Masyarakat umum mengetahuinya belasan tahun kemudian melalui buku Takhta Untuk Rakyat.
Karena dikendalikan dengan logika hiburan, bukan otentisitas, tokoh politik terjebak untuk menyederhanakan masalah dan cara penyelesaian masalah. Ini tak terelakkan karena dalam demokrasi media- sentris, durasi, jam tayang, prime time, sound byte menjadi indikator utama. Pesan pemimpin dikemas mirip iklan yang renyah dan berdimensi tunggal agar mudah diingat tanpa elaborasi yang mendalam.
Gagasan Pemimpin
Di tengah arus media-sentris itu, kita kekurangan kesempatan menelaah gagasan pemimpin secara mendalam. Ruang-ruang publik yang didominasi logika media dan budaya instan berpotensi melahirkan figur pemimpin penghibur yang membuat kita tertawa sejenak meskipun masalah tetap menggunung.
Pemimpin penghibur tidak mengajak penontonnya berkerut kening karena yang ditawarkan adalah keceriaan sesaat—tanpa memikirkan bagaimana besok atau lusa. Pemimpin penghibur tidak menawarkan masa depan karena yang penting baginya adalah hari ini. Pemimpin penghibur juga kerap khawatir penontonnya berpaling mencari tontonan lain yang lebih menghibur.
Mirip logika rating dalam industri sinetron. Indonesia tidak membutuhkan pemimpin penghibur atau pemimpin sinetron. Kita sudah melewati sejumlah krisis dan kini tengah bersiap untuk naik kelas dari negara skala menengah menjadi negara kuat dalam ukuran ekonomi dan pengaruh geopolitik.
Kondisi itu akan tercapai jika kita berhasil menuntaskan transisi demokrasi dan menghasilkan negarabangsa yang kuat dan demokratis. Yang dibutuhkan adalah pemimpin penyala harapan, bukan penyaji hiburan, bahwa hari esok yang lebih baik akan datang jika kita mau bekerja keras, bukan dengan tertawatawa sejenak.
Peran penting pemimpin adalah menciptakan “state of mind” atau situasi psikologis di dalam masyarakatnya dengan cara melahirkan dan mengartikulasikan tujuan yang menggerakkan orang dari kepentingan mereka sendiri menuju kepentingan bersama yang lebih tinggi. (JW Gardner, 1988).Kita membutuhkan lebih banyak ruang lagi untuk mendengarkan gagasan pemimpin untuk mendapat harapan, bukan hiburan.[]
*Koran SINDO (Opini, edisi 19/6/2014)
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 20, 2014
posted by @Adimin
Kaum Disabilitas Dukung Prabowo-Hatta
(19/06/2014) Memasuki pekan kedua masa kampanye, capres nomor urut 1, Prabowo Subianto memilih tidak berkampanye terbuka, dan melakukan pertemuan internal di Hambalang, Bogor. Sedangkan pasangannya cawapres Hatta Rajasa melakukan kampanye di langkat sumatera utara. Sementara, kaum disabilitas atau para penyandang cacat kemarin mendeklarasikan sikap mendukung pasangan nomor urut satu tersebut dalam pemilihan presiden.
Kreasi yang dipertunjukkan para penyandang cacat ini merupakan rangkaian acara deklarasi dalam mendukung pasangan capres nomor urut 1, Prabowo Subianto - Hatta Radjasa di Jakarta kemarin. Keterbatasan fisik, rupanya tak menyurutkan para penyandang cacat dalam hiruk pikuk dunia politik menjelang pemilihan presiden.
Dukungan kepada Prabowo Hatta dikemukakan kaum disabilitas karena dianggap memiliki kepedulian terhadap mereka.
Sekitar seribu lebih kaum disabilitas yang memberikan dukungan kepada Prabowo-Hatta berharap, jika terpilih nanti pasangan nomor urut satu tersebut dapat lebih memperhatikan nasib kaum disabilitas dengan memperjuangkan undang - undang disabilitas, agar mereka dapat hidup layak. Pasalnya dari jutaan kaum disabilitas yang ada di indonesia saat ini, banyak yang kehidupannya masih memprihatinkan. Tak hanya sulit mencari lapangan pekerjaan , mereka bahkan belum memiliki akses fasilitas penunjang yang lengkap di tempat-tempat umum.[indosiar/dm/pksnongsa.org]
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
June 20, 2014
posted by @Adimin
Timses Prabowo-Hatta: Silakan Proses Hukum Transkip yang Beredar
Anggota tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Viva Yoga Mauladi menilai, beredarnya transkrip atau salinan pembicaraan yang diduga dilakukan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan diduga Jaksa Agung Basrief Arief untuk mencari simpati masyarakat. Menurutnya, kubunya merasa tak melakukan kampanye hitam tersebut.
"Dalam political marketing segala cara dilakukan untuk raih dukungan. Kita bersikap apa adanya. Kita tidak merasa melakukan itu, silakan diproses hukum saja," tegas Viva di Jakarta, Kamis (19/6/2014).
Atas dugaan transkip tersebut, dia meminta Bawaslu bertindak. "Kalau etika media jadi bagian KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan Dewan Pers, kalau pidana ya polisi gerak. Jangan masyarakat disuguhi hal-hal fitnah dan prasangka, sehingga ganggu proses demokrasi," sambung Viva.
Selain itu, politisi PAN ini juga menyarankan agar Basrief segera melapor ke Polri bila merasa dicemarkan nama baiknya."Masak tidak merasa tercemarkan dan tidak melaporkan," pungkas Viva.
Berikut transkrip pembicaraan yang diduga dilakukan Megawati dengan diduga Basrief Arief melalui saluran telepon sebagaimana selebaran yang disebarkan Progres 98:
Diduga Basrief: terima kasih bu, arahannya sudah saya terima, langsung saya rapatkan dengan teman-teman.
Diduga Mega: itu anu, sampeyan jangan khawatir, soal media saya serahkan ke Pak Surya, nanti beliau yang berusaha meredam.
Diduga Basrief: makasih bu, eskalasi pemberitaan beberapa hari ini agak naik, tapi alhamdulillah trennya mulai menurun. Tim kami sudah menghadap Pak Jokowi, meminta yang bersangkutan agar tidak terlalu reaktif ke media massa.
Diduga Mega: syukurlah kalau begitu, intinya jangan sampai masalah ini (kasus TransJakarta) melemahkan kita, bisa blunder hadapi pilpres, tolong diberi kepastian, soal teknis bicarakan langsung dengan Pak Trimedya dan Mas Todung, aku percaya sama sampeyan.
Diduga Basrief: tadi sore kami sudah berkoordinasi, Insya Allah semua berjalan lancar, mohon dukungan dan doanya bu, saya akan berusaha maksimal, Pak Trimedya juga sudah menjamin data-datanya.
Diduga Mega: amin, semua ini ujian, semoga tidak berlarut-larut, apa sih yang nggak dipolitisir, apalagi situasi kini makin dinamis, tapi saya percaya sampeyan dan kawan-kawan bisa meyakinkan ke media, saya percaya bisa diatasi, jangan kasus ini Pak Jokowi jadi terseret dan membuat agenda kita semua berantakan.
Diduga Basrief: Insya Allah saya usahakan, sekali lagi terima kasih kepercayaan ibu kepada saya dan teman-teman, kita komit kok bu, untuk urusan ini (kasus Transjakarta) saya pasang badan.[liputan6/dm/pksnongsa]
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
June 20, 2014
AYO..!! PUTIHKAN GBK! HADIRI KAMPANYE AKBAR PRABOWO-HATTA AHAD BESOK
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN










