Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
October 06, 2014
Ada yang menjadi pertanyaan seputar do’a Arafah:
Rasulullah pernah bersabda: Sebaik-baik do’a adalah do’a hari Arafah, dan sebaik-baik do’a yang aku baca dan dibaca oleh nabi-nabi sebelumku adalah:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Pertanyaannya: Yang disebutkan Rasulullah ini adalah zikir, tidak terdapat do’a atau permintaan di sana. Tapi kenapa Rasulullah menyebutnya itu do’a?
Pertanyaan seperti ini juga pernah ditanyakan oleh Husain bin Hasan al Marwazi kepada Sufyan bin ‘Uyainah, lalu beliau menjawab:
“Dia memang zikir, tidak terdapat di dalamnya do’a. Akan tetapi Nabi pernah bersabda dalam sebuah hadits Qudsi yang berasal dari firman Allah: “Siapa yang sibuk dengan mengingat-Ku dari meminta kepada-Ku, akan Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada yang Aku berikan kepada orang yang meminta”.
Kemudian beliau menambahkan dengan sebuah sya’ir yang dilantunkan oleh Umayyah bin Abi Shalt untuk memuji Abdullah bin Jud’an:
أأذكر حاجتي أم قد كفاني …….. حياؤك إن شيمتك الحياء
إذا أثنى عليك المرء يومًا ……….. كفاه من تعرضك الثناء
Artinya kira-kira begini:
“Apakah perlu aku menyebutkan kebutuhanku, atau rasa malumu sudah cukup bagiku. Kamu sungguh orang yang mempunyai sifat pemalu.
Apabila suatu hari seseorang memujimu, cukuplah baginya pujian itu sebagai pemaparan terhadap apa yang ia inginkan darimu”.
Maksud sya’ir ini adalah:
Suatu kali Umayyah bin Abi Shalt – tokoh masyarakat dari daerah Thaif di zaman jahiliyyah – mendatangi Abdullah bin Jud’an – salah seorang tokoh Quraisy yang sangat terhormat, yang sangat terkenal dengan kedermawanannya – untuk mengutarakan keinginannya minta bantuan dana. Tapi dia merasa sangat sungkan untuk mengungkapkannya secara terus terang.
Karena ia seorang yang sangat mahir dalam bersya’ir, ia ungkapkan dalam bentuk bait-bait sya’ir yang mengandung pujian. Di akhir sya’irnya itu ia mengatakan “cukuplah sya’ir pujian ini sebagai ungkapan isi hatiku yang sebenarnya atas apa yang aku inginkan. Tidak usahlah aku harus berkata terus terang. Aku malu untuk mengungkapkannya, sementara kamu adalah orang yang sangat cerdas untuk memahami apa isi hatiku yang tergambar pada ungkapan sya’ir-sya’ir ku ini”.
Imam Sufyan bin ‘Uyainah melanjutkan penjelasannya:
Ini adalah makhluk, ketika ia disifati sebagai orang yang sangat dermawan cukup dengan pujian sebagai ungkapan meminta kepadanya. Apalagi kepada Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Pemurah.
Jadi, sekalipun zikir pujian kepada Allah itu tidak mengandung do’a, tapi kalimat itu lebih manjur dari pada do’a sebagai ungkapan apa yang kita inginkan kepada Allah yang Maha Mendengar do’a hamba-Nya.
Hal itu dikuatkan dengan sebagian do’a-do’a yang diajarkan Allah dalam al Qur’an, tidak ada mengandung permintaan, tapi hanya ungkapan pengaduan atau semacam laporan, di antaranya:
1. Kita lihat do’a ayahnda kita Nabi Adam dan Ibunda Siti Hawa ketika bertaubat dari keterlanjurannya memakan buah terlarang:
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Al A’raf: 23)
2. Do’a Nabi Ayyub memohon kesembuhan dari penyakitnya:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ.
dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.
Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al Anbiya': 83-84)
Dalam ayat ini Nabi Ayyub tidak ada meminta dengan bahasa langsung, beliau hanya mengadukan apa yang menimpa dirinya.
3. Do’a Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan:
لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْت مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (Al Anbiya': 87)
Kemudian Rasulullah menguatkan bahwa ungkapan ini adalah do’a:
“Tidak seorang pun di antara orang muslim yang berdo’a dengan do’a ini dalam suatu perkara melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya itu”. (HR. Turmudzi, Nasa-i dan Hakim)
4. Nabi Musa ketika mengungkapkan kefakiran dan kebutuhannya kepada makanan dan orang yang mengayomi, dia bermunajat:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (al Qashash: 24)
Di samping itu semua, saya mendapatkan pelajaran dari anak saya Abdullah yang kalau minta sesuatu tidak pernah menggunakan bahasa “minta” secara terus terang. Kami tidak pernah mengajarinya bicara seperti itu, tapi sepertinya dia mendapatkan bahasa halus itu secara fitrah.
Kalau dia menginginkan sesuatu selalu menggunakan bahasa “ta’ridh” atau sindiran. Seperti: “Mobil-mobilan ini bagus ya, bi?”, Teman Abdullah si Fulan punya mainan seperti ini, bi”, Abi ada rezki untuk beli buku baru?”
Yang membuat saya tidak berdaya dan perasaan ingin memenuhi segera apa yang ia inginkan kalau dia berkata seperti ini: ” Abi, teman-teman Abdullah yang lain makan pizza”,” Abdullah saja yang tidak makan ayam goreng, bi”.
Ini adalah ungkapan seorang manusia kepada sesama manusia yang kasih sayangnya sesama mereka berasal dari karunia Allah. Bagaimana kasih sayang Allah yang menciptakan manusia itu yang bersifat dengan Maha Penyayang, tentu Dia akan memperkenankan lebih cepat dari pada itu. Cuma kita manusia saja yang bersifat dengan ketergesa-gesaan.
Lihat lah bagaimana Allah memperkenankan do’a dari mulut hamba-Nya Nabi Ayyub yang sangat sabar ketika beliau mengadukan penyakitnya. Ketika itu Allah menyembuhkan beliau secara instran, tanpa proses alami yang biasanya dilalui manusia, yang sembuh dari penyakit secara berangsur-angsung. Apalagi kalau penyakit itu sudah mengidap selama 18 tahun.
Ya Allah, jadikanlah lidah kami selalu basah dengan mengingat-Mu.
(Zulfi Akmal, Al-Azhar Cairo)
posted by @Adimin
Yang Lebih Utama dari Doa
Written By Anonymous on 06 October, 2014 | October 06, 2014
Ada yang menjadi pertanyaan seputar do’a Arafah:
Rasulullah pernah bersabda: Sebaik-baik do’a adalah do’a hari Arafah, dan sebaik-baik do’a yang aku baca dan dibaca oleh nabi-nabi sebelumku adalah:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Pertanyaannya: Yang disebutkan Rasulullah ini adalah zikir, tidak terdapat do’a atau permintaan di sana. Tapi kenapa Rasulullah menyebutnya itu do’a?
Pertanyaan seperti ini juga pernah ditanyakan oleh Husain bin Hasan al Marwazi kepada Sufyan bin ‘Uyainah, lalu beliau menjawab:
“Dia memang zikir, tidak terdapat di dalamnya do’a. Akan tetapi Nabi pernah bersabda dalam sebuah hadits Qudsi yang berasal dari firman Allah: “Siapa yang sibuk dengan mengingat-Ku dari meminta kepada-Ku, akan Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada yang Aku berikan kepada orang yang meminta”.
Kemudian beliau menambahkan dengan sebuah sya’ir yang dilantunkan oleh Umayyah bin Abi Shalt untuk memuji Abdullah bin Jud’an:
أأذكر حاجتي أم قد كفاني …….. حياؤك إن شيمتك الحياء
إذا أثنى عليك المرء يومًا ……….. كفاه من تعرضك الثناء
Artinya kira-kira begini:
“Apakah perlu aku menyebutkan kebutuhanku, atau rasa malumu sudah cukup bagiku. Kamu sungguh orang yang mempunyai sifat pemalu.
Apabila suatu hari seseorang memujimu, cukuplah baginya pujian itu sebagai pemaparan terhadap apa yang ia inginkan darimu”.
Maksud sya’ir ini adalah:
Suatu kali Umayyah bin Abi Shalt – tokoh masyarakat dari daerah Thaif di zaman jahiliyyah – mendatangi Abdullah bin Jud’an – salah seorang tokoh Quraisy yang sangat terhormat, yang sangat terkenal dengan kedermawanannya – untuk mengutarakan keinginannya minta bantuan dana. Tapi dia merasa sangat sungkan untuk mengungkapkannya secara terus terang.
Karena ia seorang yang sangat mahir dalam bersya’ir, ia ungkapkan dalam bentuk bait-bait sya’ir yang mengandung pujian. Di akhir sya’irnya itu ia mengatakan “cukuplah sya’ir pujian ini sebagai ungkapan isi hatiku yang sebenarnya atas apa yang aku inginkan. Tidak usahlah aku harus berkata terus terang. Aku malu untuk mengungkapkannya, sementara kamu adalah orang yang sangat cerdas untuk memahami apa isi hatiku yang tergambar pada ungkapan sya’ir-sya’ir ku ini”.
Imam Sufyan bin ‘Uyainah melanjutkan penjelasannya:
Ini adalah makhluk, ketika ia disifati sebagai orang yang sangat dermawan cukup dengan pujian sebagai ungkapan meminta kepadanya. Apalagi kepada Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Pemurah.
Jadi, sekalipun zikir pujian kepada Allah itu tidak mengandung do’a, tapi kalimat itu lebih manjur dari pada do’a sebagai ungkapan apa yang kita inginkan kepada Allah yang Maha Mendengar do’a hamba-Nya.
Hal itu dikuatkan dengan sebagian do’a-do’a yang diajarkan Allah dalam al Qur’an, tidak ada mengandung permintaan, tapi hanya ungkapan pengaduan atau semacam laporan, di antaranya:
1. Kita lihat do’a ayahnda kita Nabi Adam dan Ibunda Siti Hawa ketika bertaubat dari keterlanjurannya memakan buah terlarang:
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Al A’raf: 23)
2. Do’a Nabi Ayyub memohon kesembuhan dari penyakitnya:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ.
dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.
Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al Anbiya': 83-84)
Dalam ayat ini Nabi Ayyub tidak ada meminta dengan bahasa langsung, beliau hanya mengadukan apa yang menimpa dirinya.
3. Do’a Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan:
لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْت مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (Al Anbiya': 87)
Kemudian Rasulullah menguatkan bahwa ungkapan ini adalah do’a:
“Tidak seorang pun di antara orang muslim yang berdo’a dengan do’a ini dalam suatu perkara melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya itu”. (HR. Turmudzi, Nasa-i dan Hakim)
4. Nabi Musa ketika mengungkapkan kefakiran dan kebutuhannya kepada makanan dan orang yang mengayomi, dia bermunajat:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (al Qashash: 24)
Di samping itu semua, saya mendapatkan pelajaran dari anak saya Abdullah yang kalau minta sesuatu tidak pernah menggunakan bahasa “minta” secara terus terang. Kami tidak pernah mengajarinya bicara seperti itu, tapi sepertinya dia mendapatkan bahasa halus itu secara fitrah.
Kalau dia menginginkan sesuatu selalu menggunakan bahasa “ta’ridh” atau sindiran. Seperti: “Mobil-mobilan ini bagus ya, bi?”, Teman Abdullah si Fulan punya mainan seperti ini, bi”, Abi ada rezki untuk beli buku baru?”
Yang membuat saya tidak berdaya dan perasaan ingin memenuhi segera apa yang ia inginkan kalau dia berkata seperti ini: ” Abi, teman-teman Abdullah yang lain makan pizza”,” Abdullah saja yang tidak makan ayam goreng, bi”.
Ini adalah ungkapan seorang manusia kepada sesama manusia yang kasih sayangnya sesama mereka berasal dari karunia Allah. Bagaimana kasih sayang Allah yang menciptakan manusia itu yang bersifat dengan Maha Penyayang, tentu Dia akan memperkenankan lebih cepat dari pada itu. Cuma kita manusia saja yang bersifat dengan ketergesa-gesaan.
Lihat lah bagaimana Allah memperkenankan do’a dari mulut hamba-Nya Nabi Ayyub yang sangat sabar ketika beliau mengadukan penyakitnya. Ketika itu Allah menyembuhkan beliau secara instran, tanpa proses alami yang biasanya dilalui manusia, yang sembuh dari penyakit secara berangsur-angsung. Apalagi kalau penyakit itu sudah mengidap selama 18 tahun.
Ya Allah, jadikanlah lidah kami selalu basah dengan mengingat-Mu.
(Zulfi Akmal, Al-Azhar Cairo)
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
October 06, 2014
JAKARTA - Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua MPR akan dilakukan anggota dewan pada hari ini, Senin 6 Oktober. Koalisi Merah Putih bertekad menggolkan kadernya jadi pimpinan MPR.
Koalisi Merah Putih memutuskan paket calon pimpinan MPR yang mereka ajukan dalam sidang paripurna MPR akan mengusung empat kandidat dari koalisi dan satu kandidat dari Partai Demokrat.
"Demokrat (Ketua MPR-nya)," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, usai pertemuan tertutup dengan elite parpol Koalisi Merah Putih di kediaman Ketua Presidium koalisi itu Aburizal Bakrie, Jalan Ki Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2014) dini hari. Demikian dilanisr KOMPAS.
Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali, Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta, dan elite partai dalam koalisi. Turut hadir pula Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua.
Fadli memastikan pemilihan Demokrat sebagai Ketua MPR itu sudah diputuskan secara musyawarah mufakat dan disepakati semua partai. Tidak ada rasa iri dari partai lain meskipun Demokrat adalah partai penyeimbang. "Oh enggak, enggak ada (rasa iri). Kami putuskan bersama," tepis dia.
Max ketika dikonfirmasi juga memastikan Demokrat masuk ke dalam paket calon pimpinan MPR yang diajukan Koalisi Merah Putih. Namun, dia enggan menyebut apakah Demokrat mendapat jatah sebagai ketua atau wakil ketua. "Saya kira Demokrat masuk, tapi kami belum menentukan nama," ujarnya.
Baik Max dan Fadli hanya menyebut soal Partai Demokrat. Mereka menolak membeberkan partai lain yang masuk dan tidak masuk ke dalam paket, termasuk nama-nama yang bakal diusung.
"Jadi kita tidak pernah membicarakan nama. Masalah nama diserahkan kepada partai yang bersangkutan untuk menentukan siapa yang akan diajukan menjadi ketua MPR," ujar Fadli.
Jadi, kata Fadli, siapapun pimpinan MPR yang nantinya terpilih, KMP tetap memberikan dukungan. Namun dia berharap ada unsur DPD di dalam pimpinan MPR tersebut.
"Jadi siapa namanya, nanti kita lihat besok (hari ini -ed) bagaimana rapat konsultasi dan hasilnya, tapi kami juga mendukung bawah MPR itu harus ada unsur dari DPD," tandas Fadli.
Sebelumnya, Demokrat juga sudah masuk dalam paket calon pimpinan DPR yang diajukan koalisi merah putih dalam sidang paripurna pemilihan pimpinan DPR.
Koalisi Merah Putih mendapatkan empat kursi pimpinan DPR, yakni Setya Novanto (Golkar) sebagai Ketua DPR dan tiga Wakil Ketua DPR, yakni Fahri Hamzah (PKS), Taufik Kurniawan (PAN), dan Fadli Zon (Gerindra). Satu kursi terakhir diberikan kepada politisi Partai Demokrat Agus Hermanto
Koalisi Jokowi-JK hanya terdiri dari empat partai dan gagal melobi partai lain hingga akhirnya gagal pula mengusung paket calon pimpinan. Paket calon pimpinan harus mencakup lima orang dari lima fraksi yang berbeda. Pemilihan MPR mendatang akan dilakukan dengan mekanisme serupa. [pyg]
posted by @Adimin
Koalisi Merah Putih Siap Menangkan Lagi Pemilihan Ketua MPR Hari Ini
JAKARTA - Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua MPR akan dilakukan anggota dewan pada hari ini, Senin 6 Oktober. Koalisi Merah Putih bertekad menggolkan kadernya jadi pimpinan MPR.
Koalisi Merah Putih memutuskan paket calon pimpinan MPR yang mereka ajukan dalam sidang paripurna MPR akan mengusung empat kandidat dari koalisi dan satu kandidat dari Partai Demokrat.
"Demokrat (Ketua MPR-nya)," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, usai pertemuan tertutup dengan elite parpol Koalisi Merah Putih di kediaman Ketua Presidium koalisi itu Aburizal Bakrie, Jalan Ki Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2014) dini hari. Demikian dilanisr KOMPAS.
Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali, Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta, dan elite partai dalam koalisi. Turut hadir pula Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua.
Fadli memastikan pemilihan Demokrat sebagai Ketua MPR itu sudah diputuskan secara musyawarah mufakat dan disepakati semua partai. Tidak ada rasa iri dari partai lain meskipun Demokrat adalah partai penyeimbang. "Oh enggak, enggak ada (rasa iri). Kami putuskan bersama," tepis dia.
Max ketika dikonfirmasi juga memastikan Demokrat masuk ke dalam paket calon pimpinan MPR yang diajukan Koalisi Merah Putih. Namun, dia enggan menyebut apakah Demokrat mendapat jatah sebagai ketua atau wakil ketua. "Saya kira Demokrat masuk, tapi kami belum menentukan nama," ujarnya.
Baik Max dan Fadli hanya menyebut soal Partai Demokrat. Mereka menolak membeberkan partai lain yang masuk dan tidak masuk ke dalam paket, termasuk nama-nama yang bakal diusung.
"Jadi kita tidak pernah membicarakan nama. Masalah nama diserahkan kepada partai yang bersangkutan untuk menentukan siapa yang akan diajukan menjadi ketua MPR," ujar Fadli.
Jadi, kata Fadli, siapapun pimpinan MPR yang nantinya terpilih, KMP tetap memberikan dukungan. Namun dia berharap ada unsur DPD di dalam pimpinan MPR tersebut.
"Jadi siapa namanya, nanti kita lihat besok (hari ini -ed) bagaimana rapat konsultasi dan hasilnya, tapi kami juga mendukung bawah MPR itu harus ada unsur dari DPD," tandas Fadli.
Sebelumnya, Demokrat juga sudah masuk dalam paket calon pimpinan DPR yang diajukan koalisi merah putih dalam sidang paripurna pemilihan pimpinan DPR.
Koalisi Merah Putih mendapatkan empat kursi pimpinan DPR, yakni Setya Novanto (Golkar) sebagai Ketua DPR dan tiga Wakil Ketua DPR, yakni Fahri Hamzah (PKS), Taufik Kurniawan (PAN), dan Fadli Zon (Gerindra). Satu kursi terakhir diberikan kepada politisi Partai Demokrat Agus Hermanto
Koalisi Jokowi-JK hanya terdiri dari empat partai dan gagal melobi partai lain hingga akhirnya gagal pula mengusung paket calon pimpinan. Paket calon pimpinan harus mencakup lima orang dari lima fraksi yang berbeda. Pemilihan MPR mendatang akan dilakukan dengan mekanisme serupa. [pyg]
Label:
TOPIK PILIHAN
October 05, 2014
Jalan Kebangkitan dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja dan Berkorban
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
الحمد لله الذي فرض الجهاد على المسلمين.. و جعله مناط عزهم و رفعهم..
اشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له.. و اشهد أن محمدا عبده و رسوله المبعوث رحمة للعالمين..
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم.. الذي أدى الأمانة.. و بلغ الرسالة.. و نصح الأمة.. و جاهد فى الله حق جهاده.. و على آل بيته الأطهار.. وأصحابه الأبرار.. الذين آمنوا به.. و صدقوا بما جاء به.. و ساروا على نهجه.. و اقتدوا بسنته.. و على من جاء ممن بعد هم من التابعين و تابعيهم.. و على كل من سار على نهجهم إلى يوم الدين..
فيا معاشر المسلمين.. أوصيكم و اياى نفسى الخاطئة المذنبة بتقوى الله.. فقد فاز المتقون.. وإن العاقبة للمتقين..
ALLAHU AKBAR 3x
Pagi ini memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa kita pada kenangan ribuan tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan kita, dan membuat kita semua berkumpul di lapangan besar ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka. Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw.
Bayangkanlah bahwa lebih dari 4000 tahun lalu tiga manusia agung itu Ibrahim, Hajar dan Ismail berjalan kaki sejauh lebih dari 2000 km atau sejauh Makassar Jakarta dari negeri Syam yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon menuju jazirah tandus yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun.
Bayangkanlah bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.Bayangkanlah bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru. Bayangkanlah bagaimana 42 generasi dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun hingga Nabi Muhammad saw. membawa agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin peradaban dunia.
Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan akan ditawafi sekitar 12 juta manusia setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat.. maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..” ( Surat Ibrahim: 37).
Bayangkanlah bagaimana jazirah yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti doa Ibrahim:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ
“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak..”(Surat Al Baqarah: 126)
Bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi yang melanjutkan pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad saw menutup mata rantai kenabian di lembah itu, lalu kini 1500 tahun kemudian agama itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, persis seperti doa Ibrahim:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al Baqarah 129)
Bayangkanlah bagaimana dari sebuah kampung kecil di Irak bernama Azar Nabi Ibrahim datang seorang diri membawa agama samawi ini, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu garis dari istrinya Hajar yang menurunkan Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah lebih dari 4 millenium agama samawi itu Islam, Kristen dan Yahudi dipeluk oleh lebih dari 4 milyar manusia.
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Surat Al Baqarah: 132).
ALLAHU AKBAR 3X
Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak. Begitulah agar kesadaran sajarah kita tetap terjaga, bahwa;
Pertama, pertumbuhan adalah ciri agama
Berbagai kerajaan, dinasti, rezim dan imperium datang silih berganti dalam sejarah manusia. Ia lahir, tumbuh besar, berjaya, lalu menua, melemah dan akhirnya mati. Tapi agama yang dibawa Ibrahim datang dan terus bertumbuh tanpa henti hingga kini. Tak ada kekuasaan sezalim dan setiran apapun ia yang sanggup menghentikan laju pertumbuhannya. Agama ini membangun kerajaan dalam hati dan pikiran manusia, bukan bangunan megah di atas tanah yang akan segera punah oleh waktu. Agama terus bertumbuh karena memberi arah bagi kehidupan manusia, mengakhiri pencarian akalnya akan kebenaran, kebaikan dan keindahan, serta memenuhi dahaga jiwanya akan cinta, ketenangan dan kebahagiaan. Lihatlah bagaimana doa-doa Nabi Ibrahim menjadi kenyataan satu per satu dan terus menerus sepanjang waktu. Nabi Ibrahim mengajarkan kita sunnatullah yang menjadi hukum sejarah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an:
فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ
“Adapun buih itu pasti akan pergi sia-sia. Sedang yang bermanfaat bagi manusia akan bertahan di muka bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.(Surat Ar Ra’du: 17)
Kedua, agama adalah narasi terbesar dalam sejarah manusia
Arus sejarah yang digerakkan oleh narasi Barat lahir dari ruh Kristiani. Sementara arus sejarah yang digerakkan narasi Timur lahir dari Islam. Jadi di Barat maupun di Timur agamalah yang membentuk semua peradaban besar yang pernah menghiasi lembar-lembar sejarah manusia. Dan selamanya akan terus begitu. Semua pemberontakan manusia untuk keluar dari jalan agama – seperti yang kita saksikan di abad yang lalu melalui gelombang sekularisme dan ateisme, baik atas nama ilmu pengetahuan atau atas nama yang lain hanya akan berujung dengan kesia-siaan dan kesengsaraan. Lihatlah misalnya bagaimana perang dunia pertama dan kedua mengorbankan sekitar 94 juta nyawa manusia. Pemberontakan itu lahir dari keangkuhan manusia yang terlalu rapuh, disusun oleh akal yang terlalu sederhana untuk melawan kebenaran abadi yang dibawah oleh agama.
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”(An Nuur: 35 )
Ketiga, Islam adalah agama masa depan manusia
Rasio pemeluk Islam adalah sekitar 1 orang Muslim untuk setiap 1000 penduduk bumi di zaman Nabi Muhammad saw. Kini angka itu berkembang menjadi 1 orang Muslim untuk setiap 5 orang penduduk bumi, termasuk sekitar 100 juta muslim yang menghuni benua Eropa dan sekitar 100 juta muslim yang menghuni China daratan.
Semua perang yang ditujukan untuk merusak citra agama ini seperti label fundamentalisme dan terorisme demi mencegah manusia memeluknya tidak akan sanggup mencegah pertumbuhan dan penyebarannya, bahkan di jantung sekularisme seperti Eropa dan Amerika.
Sementara itu semua sistem dan ideologi lain mulai bangkrut satu per satu seperti komunisme. Dan kini kapitalisme pun sedang menyusul secara perlahan dan pasti. Semua sistem dan ideologi itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan dan dahaga manusia akan kebenaran, keadilan dan kebahagiaan. Dunia membutuhkan pencerahan baru, dan hanya Islamlah yang bisa membawa cahaya. Dunia membutuhkan sumber solusi, dan hanya Islamlah yang bisa menawarkan jalan keluar.
ليبلغن هذا الأمر ما بلغ الليل و النهار
“Urusan (agama) ini pasti akan menjangkau seluruh manusia, sepanjang siang dan malam menjangkau (seluruh pelosok bumi)”.
Keempat, bekerja dan berkorban adalah tradisi kebangkitan dan kepemimpinan
Bekerja itu seperti menanam pohon. Berkorban itu adalah pupuk yang mempercepat pertumbuhannya. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena ia hanya bekerja menabur kebajikan di ladang hati manusia. Tanpa henti. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena pengorbanannya yang tidak terbatas.
Makna hidup kita baik sebagai individu maupun sebagai umat dan bangsa terletak pada kerja keras dan pengorbanan tanpa henti dalam menebar kebajikan bagi kemanusiaan. Bekerja adalah simbol keberdayaan dan kekuatan. Berkorban adalah simbol cinta dan kejujuran. Itu nilai yang menjelaskan mengapa bangsa-bangsa bisa bangkit dan para pemimpin bisa memimpin. Hanya mereka yang mau bekerja dalam diam yang panjang, dan terus menerus berkorban dengan cinta, yang akan bangkit dan memimpin. Itulah jalan kebangkitan. Itulah jalan kepemimpinan. Itu nilai yang menjelaskan mengapa Islam di masa lalu bangkit dan memimpin peradaban manusia selama lebih dari 1000 tahun. Dan itu jugalah jalan kebangkitan kita kembali: bekerja keras dan berkorban tanpa henti. Dengarlah firman Allah swt:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah (hai Muhammad), bekerjalah kalian, nanti Allah yang akan menyaksikan amal kalian, beserta RasulNya dan orang-orang yang beriman”. (Surat At Taubah:105)
ALLAHU AKBAR 3X
Hari ini sebagaimana kita mengenang manusia-manusia agung itu; Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw kita juga mendengar rintihan hati umat manusia dari berbagai pelosok dunia. Di belahan dunia Islam ada rintihan anak-anak Palestina, Irak, Afganistan, Sudan, dan Khashmir yang membutuhkan solidaritas dan bantuan kita untuk membebaskan mereka dari kezaliman dan penjajahan. Bahkan bumi pertiwi sedang berduka. Hampir setiap saat, kita dikagetkan dengan berbagai macam bencana dan musibah, tak ada ujungnya. Bencana ada di sekitar kita, lebih-lebih di bulan ini, mulai dari banjir lumpur Warior, tsunami Mentawai dan gunung Merapi, bahkan gempa bumi setiap hari. Ratusan jiwa meninggal.
Sementara di belahan dunia lainnya, ada milyaran jiwa manusia yang hidup dalam kehampaan dan juga menanti para pembawa cahaya kebenaran untuk menyelamatkan dan mengeluarkan mereka dari himpitan hidup yang pengap kedalam rengkuhan cahaya Islam yang penuh rahmat. Tangis hati para korban kezaliman di Dunia Islam dan rintihan jiwa para pencari kebenaran di Dunia Barat sama-sama menantikan kehadiran kepemimpinan baru yang datang membawa cahaya kebenaran, cinta bagi kemanusiaan, tekad untuk bekerja keras serta kemurahan hati untuk terus berkorban.
Marilah kita bangkit membebaskan diri kita dari keserakahan dan kebakhilan, kesedihan dan ketakutan, kelemahan dan ketidakberdayaan, egoisme dan perpecahan. Marilah kita bangkit dengan semangat kerja keras dan pengorbanan tanpa henti, melupakan masalah-masalah kecil dan memikirkan serta merebut peluang-peluang besar bagi kejayaan umat dan bangsa kita. Marilah kita bangkit dengan kepercayaan penuh bahwa Islam adalah masa depan manusia dan bahwa masa depan adalah milik Islam. Marilah kita bangkit dengan semangat dan keyakinan penuh bahwa kita bisa memimpin umat manusia kembali jika kita mau bekerja keras dan berkorban demi cita-cita besar kita.
ALLAHU AKBAR 3X
*islamedia
posted by @Adimin
[Khutbah Idul Adha Anis Matta] Kepemimpinan Adalah Bekerja dan Berkorban
Written By Anonymous on 05 October, 2014 | October 05, 2014
Jalan Kebangkitan dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja dan Berkorban
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
الحمد لله الذي فرض الجهاد على المسلمين.. و جعله مناط عزهم و رفعهم..
اشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له.. و اشهد أن محمدا عبده و رسوله المبعوث رحمة للعالمين..
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم.. الذي أدى الأمانة.. و بلغ الرسالة.. و نصح الأمة.. و جاهد فى الله حق جهاده.. و على آل بيته الأطهار.. وأصحابه الأبرار.. الذين آمنوا به.. و صدقوا بما جاء به.. و ساروا على نهجه.. و اقتدوا بسنته.. و على من جاء ممن بعد هم من التابعين و تابعيهم.. و على كل من سار على نهجهم إلى يوم الدين..
فيا معاشر المسلمين.. أوصيكم و اياى نفسى الخاطئة المذنبة بتقوى الله.. فقد فاز المتقون.. وإن العاقبة للمتقين..
ALLAHU AKBAR 3x
Pagi ini memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa kita pada kenangan ribuan tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan kita, dan membuat kita semua berkumpul di lapangan besar ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka. Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw.
Bayangkanlah bahwa lebih dari 4000 tahun lalu tiga manusia agung itu Ibrahim, Hajar dan Ismail berjalan kaki sejauh lebih dari 2000 km atau sejauh Makassar Jakarta dari negeri Syam yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon menuju jazirah tandus yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun.
Bayangkanlah bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.Bayangkanlah bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru. Bayangkanlah bagaimana 42 generasi dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun hingga Nabi Muhammad saw. membawa agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin peradaban dunia.
Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan akan ditawafi sekitar 12 juta manusia setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat.. maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..” ( Surat Ibrahim: 37).
Bayangkanlah bagaimana jazirah yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti doa Ibrahim:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ
“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak..”(Surat Al Baqarah: 126)
Bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi yang melanjutkan pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad saw menutup mata rantai kenabian di lembah itu, lalu kini 1500 tahun kemudian agama itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, persis seperti doa Ibrahim:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al Baqarah 129)
Bayangkanlah bagaimana dari sebuah kampung kecil di Irak bernama Azar Nabi Ibrahim datang seorang diri membawa agama samawi ini, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu garis dari istrinya Hajar yang menurunkan Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah lebih dari 4 millenium agama samawi itu Islam, Kristen dan Yahudi dipeluk oleh lebih dari 4 milyar manusia.
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Surat Al Baqarah: 132).
ALLAHU AKBAR 3X
Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak. Begitulah agar kesadaran sajarah kita tetap terjaga, bahwa;
Pertama, pertumbuhan adalah ciri agama
Berbagai kerajaan, dinasti, rezim dan imperium datang silih berganti dalam sejarah manusia. Ia lahir, tumbuh besar, berjaya, lalu menua, melemah dan akhirnya mati. Tapi agama yang dibawa Ibrahim datang dan terus bertumbuh tanpa henti hingga kini. Tak ada kekuasaan sezalim dan setiran apapun ia yang sanggup menghentikan laju pertumbuhannya. Agama ini membangun kerajaan dalam hati dan pikiran manusia, bukan bangunan megah di atas tanah yang akan segera punah oleh waktu. Agama terus bertumbuh karena memberi arah bagi kehidupan manusia, mengakhiri pencarian akalnya akan kebenaran, kebaikan dan keindahan, serta memenuhi dahaga jiwanya akan cinta, ketenangan dan kebahagiaan. Lihatlah bagaimana doa-doa Nabi Ibrahim menjadi kenyataan satu per satu dan terus menerus sepanjang waktu. Nabi Ibrahim mengajarkan kita sunnatullah yang menjadi hukum sejarah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an:
فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ
“Adapun buih itu pasti akan pergi sia-sia. Sedang yang bermanfaat bagi manusia akan bertahan di muka bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.(Surat Ar Ra’du: 17)
Kedua, agama adalah narasi terbesar dalam sejarah manusia
Arus sejarah yang digerakkan oleh narasi Barat lahir dari ruh Kristiani. Sementara arus sejarah yang digerakkan narasi Timur lahir dari Islam. Jadi di Barat maupun di Timur agamalah yang membentuk semua peradaban besar yang pernah menghiasi lembar-lembar sejarah manusia. Dan selamanya akan terus begitu. Semua pemberontakan manusia untuk keluar dari jalan agama – seperti yang kita saksikan di abad yang lalu melalui gelombang sekularisme dan ateisme, baik atas nama ilmu pengetahuan atau atas nama yang lain hanya akan berujung dengan kesia-siaan dan kesengsaraan. Lihatlah misalnya bagaimana perang dunia pertama dan kedua mengorbankan sekitar 94 juta nyawa manusia. Pemberontakan itu lahir dari keangkuhan manusia yang terlalu rapuh, disusun oleh akal yang terlalu sederhana untuk melawan kebenaran abadi yang dibawah oleh agama.
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”(An Nuur: 35 )
Ketiga, Islam adalah agama masa depan manusia
Rasio pemeluk Islam adalah sekitar 1 orang Muslim untuk setiap 1000 penduduk bumi di zaman Nabi Muhammad saw. Kini angka itu berkembang menjadi 1 orang Muslim untuk setiap 5 orang penduduk bumi, termasuk sekitar 100 juta muslim yang menghuni benua Eropa dan sekitar 100 juta muslim yang menghuni China daratan.
Semua perang yang ditujukan untuk merusak citra agama ini seperti label fundamentalisme dan terorisme demi mencegah manusia memeluknya tidak akan sanggup mencegah pertumbuhan dan penyebarannya, bahkan di jantung sekularisme seperti Eropa dan Amerika.
Sementara itu semua sistem dan ideologi lain mulai bangkrut satu per satu seperti komunisme. Dan kini kapitalisme pun sedang menyusul secara perlahan dan pasti. Semua sistem dan ideologi itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan dan dahaga manusia akan kebenaran, keadilan dan kebahagiaan. Dunia membutuhkan pencerahan baru, dan hanya Islamlah yang bisa membawa cahaya. Dunia membutuhkan sumber solusi, dan hanya Islamlah yang bisa menawarkan jalan keluar.
ليبلغن هذا الأمر ما بلغ الليل و النهار
“Urusan (agama) ini pasti akan menjangkau seluruh manusia, sepanjang siang dan malam menjangkau (seluruh pelosok bumi)”.
Keempat, bekerja dan berkorban adalah tradisi kebangkitan dan kepemimpinan
Bekerja itu seperti menanam pohon. Berkorban itu adalah pupuk yang mempercepat pertumbuhannya. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena ia hanya bekerja menabur kebajikan di ladang hati manusia. Tanpa henti. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena pengorbanannya yang tidak terbatas.
Makna hidup kita baik sebagai individu maupun sebagai umat dan bangsa terletak pada kerja keras dan pengorbanan tanpa henti dalam menebar kebajikan bagi kemanusiaan. Bekerja adalah simbol keberdayaan dan kekuatan. Berkorban adalah simbol cinta dan kejujuran. Itu nilai yang menjelaskan mengapa bangsa-bangsa bisa bangkit dan para pemimpin bisa memimpin. Hanya mereka yang mau bekerja dalam diam yang panjang, dan terus menerus berkorban dengan cinta, yang akan bangkit dan memimpin. Itulah jalan kebangkitan. Itulah jalan kepemimpinan. Itu nilai yang menjelaskan mengapa Islam di masa lalu bangkit dan memimpin peradaban manusia selama lebih dari 1000 tahun. Dan itu jugalah jalan kebangkitan kita kembali: bekerja keras dan berkorban tanpa henti. Dengarlah firman Allah swt:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah (hai Muhammad), bekerjalah kalian, nanti Allah yang akan menyaksikan amal kalian, beserta RasulNya dan orang-orang yang beriman”. (Surat At Taubah:105)
ALLAHU AKBAR 3X
Hari ini sebagaimana kita mengenang manusia-manusia agung itu; Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw kita juga mendengar rintihan hati umat manusia dari berbagai pelosok dunia. Di belahan dunia Islam ada rintihan anak-anak Palestina, Irak, Afganistan, Sudan, dan Khashmir yang membutuhkan solidaritas dan bantuan kita untuk membebaskan mereka dari kezaliman dan penjajahan. Bahkan bumi pertiwi sedang berduka. Hampir setiap saat, kita dikagetkan dengan berbagai macam bencana dan musibah, tak ada ujungnya. Bencana ada di sekitar kita, lebih-lebih di bulan ini, mulai dari banjir lumpur Warior, tsunami Mentawai dan gunung Merapi, bahkan gempa bumi setiap hari. Ratusan jiwa meninggal.
Sementara di belahan dunia lainnya, ada milyaran jiwa manusia yang hidup dalam kehampaan dan juga menanti para pembawa cahaya kebenaran untuk menyelamatkan dan mengeluarkan mereka dari himpitan hidup yang pengap kedalam rengkuhan cahaya Islam yang penuh rahmat. Tangis hati para korban kezaliman di Dunia Islam dan rintihan jiwa para pencari kebenaran di Dunia Barat sama-sama menantikan kehadiran kepemimpinan baru yang datang membawa cahaya kebenaran, cinta bagi kemanusiaan, tekad untuk bekerja keras serta kemurahan hati untuk terus berkorban.
Marilah kita bangkit membebaskan diri kita dari keserakahan dan kebakhilan, kesedihan dan ketakutan, kelemahan dan ketidakberdayaan, egoisme dan perpecahan. Marilah kita bangkit dengan semangat kerja keras dan pengorbanan tanpa henti, melupakan masalah-masalah kecil dan memikirkan serta merebut peluang-peluang besar bagi kejayaan umat dan bangsa kita. Marilah kita bangkit dengan kepercayaan penuh bahwa Islam adalah masa depan manusia dan bahwa masa depan adalah milik Islam. Marilah kita bangkit dengan semangat dan keyakinan penuh bahwa kita bisa memimpin umat manusia kembali jika kita mau bekerja keras dan berkorban demi cita-cita besar kita.
ALLAHU AKBAR 3X
*islamedia
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
October 05, 2014
Menurut Syekh Yusuf Qardhawi di dalam bukunya, Mi'atu Su'âlin 'anil-Hajj wal-'Umrah wal-Udhiyah wal-Îdain, hari raya umat Islam itu memiliki dua ciri khas dalam pemaknaannya, yaitu makna ketuhanan, dan makna kemanusiaan.
Kalau kita melihat, hari raya pada sebagian agama lain dirayakan dengan mengumbar nafsu, di mana orang-orang melakukan kemungkaran, mengerjakan dosa-dosa besar, dan meminum minuman haram yang memabukkan. Tapi tidak demikian dalam Islam.
Takbir dan Shalat
Dalam agama kita, hari raya dimulai dengan shalat, baik itu Idulfitri maupun Iduladha, lalu dihiasi dengan takbir, sebagaimana hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, “Hiasilah hari raya kalian dengan takbir.”
Khusus pada hari raya Idul Adha, kalimat takbir muqayyad (takbir yang khusus untuk hari raya) disyariatkan dibaca setiap selesai mengerjakan shalat. Waktunya dimulai dari fajar hari tanggal sepuluh Dzulhijah sampai 23 shalat berikutnya, yaitu sampai waktu Ashar hari tasyriq ketiga. Sedangkan takbir ghair muqayyad (kalimat takbir pada umumnya) disyariatkan untuk dibaca pada setiap waktu. Seorang muslim harus menjaga makna ketuhanan ini, karena inilah makna ketuhanan dari hari raya umat Islam.
Berbagi Kegembiraan dengan Sesama
Adapun dari segi makna kemanusiaannya, pada hari raya Idul Fitri, Islam mewajibkan zakat fitrah untuk memberi makan orang-orang miskin sebagai bentuk bantuan, dan pada saat hari raya Iduladha, disyariatkanlah menyembelih kurban dengan maksud memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, keluarga, orang-orang di sekelilingnya, dan juga para fakir miskin. Memang sudah seyogianya seorang muslim ingat pada kaum fakir miskin yang kekurangan pada saat kegembiraan hari raya, bukan terbatas memikirkan diri sendiri dan melupakan mereka. Hal ini merupakan bagian dari perintah pada saat hari raya, dan inilah makna kemanusiaan dari hari raya umat Islam.
Pada Hari Raya Idul Fitri, Allah swt. telah mensyariatkan untuk menunaikan zakat, yaitu zakat fitrah. Dan pada Hari Raya Idul Adha Dia swt. mensyariatkan menyembelih kurban. Hal ini dimaksudkan agar kegembiraan bisa menyeluruh dan semua orang dapat sama-sama merasakan suasana kegembiraan Hari Raya itu. Sebab, agama Islam memang menjadikan momen hari raya sebagai hari pesta Islam, yaitu hari bagi semua kaum muslimin, baik yang dewasa maupun yang masih kecil, wanita maupun pria, dan yang kaya maupun yang miskin.
Semuanya dalam Kondisi Bersih dan Menyenangkan
Untuk itu, dalam suasana gembira ini, seorang muslim ketika berhari raya dianjurkan dalam kondisi rapi dan bersih. Islam ingin agar seseorang itu dalam kondisi bersih, khususnya pada waktu perkumpulan, seperti ketika shalat Jumat dan shalat Id. Juga agar ketika bertemu dengan orang lain tidak dalam keadaan bau yang mengganggu atau dengan pakaian yang membuat orang lain merasa iba.
Seorang Muslim hendaknya bertemu dengan orang lain hanya pada saat dalam keadaan sudah mandi, berpakaian rapi, dan tidak bau mulut karena mengonsumsi makanan yang berbau, seperti bawang putih, bawang merah, petai, jengkol, dan sejenisnya. Nabi saw. telah bersabda, “Barang siapa yang mengonsumsi sesuatu dari ini (bawang putih dan merah) maka janganlah mendekati masjid kami (HR. Bukhari-Muslim).” Maksudnya, menjauhlah dari orang lain sehingga bau yang tidak enak itu tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Semua Merayakannya
Karena hari raya adalah hari milik semua umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, maka kaum perempuan juga dianjurkan untuk ikut merayakannya, baik ia dalam kondisi suci, maupun sedang tidak suci, semisal haid dan nifas. Nabi saw. memerintahkan kaum perempuan untuk ikut menghadiri shalat Id. Bahkan wanita yang sedang haid sekalipun juga dianjurkan keluar dari rumah menuju tanah lapang atau tempat-tempat pelaksanaan shalat Id, meski kehadiran mereka tidak untuk melaksanakan shalat. Wanita yang sedang haid dianjurkan untuk ikut keluar agar mereka juga menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin.
Hal ini sebagaimana sebuah riwayat dari Ummu Ahtiyah r.a., “Ada beberapa wanita yang sedang haid menghadiri Hari Raya. Di antara mereka ada yang tidak punya jilbab, kemudian mereka berkata kepada Rasulullah saw., “Salah seorang di antara kami tidak punya jilbab,” lalu beliau bersabda, “Supaya saudaranya meminjaminya dari jilbab yang ada.” Wanita tersebut kemudian meminjam jilbab dari tetangga atau temannya yang bisa dia pakai, lalu pergi menghadiri shalat Id. Seperti inilah tindakan kaum muslimin pada tempo dulu. Kita juga harus menghidupkan sunah Rasul ini.
Silaturahmi, Saling Memberi Ucapan, dan Bersenang-senang
Karena hari raya adalah hari kegembiraan umat Islam, maka pada hari ini kita sangat dianjurkan untuk mengakrabkan hubungan kaum muslimin satu dengan lainnya. Caranya, bisa dengan bersilaturahmi kepada para kerabat dan handai-tolan, tetangga, orang-orang yang dicintai, dan teman-teman. Juga dengan saling memberi ucapan selamat. Misalnya, mengucapkan, taqabbalallâhu minnâ wa minkum (Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu) atau kullu `âm wa antum bi khair (Setiap tahun dan kalian selalu dalam keadaan baik). Ucapan-ucapan seperti inilah yang dianjurkan.
Pada saat hari raya, Islam membolehkan bersenang-senang asalkan tidak dalam hal kemungkaran. Nabi saw. memperbolehkan ketika dua anak perempuan bernyanyi di rumah Aisyah r.a. pada hari raya. Pada saat itu, Abu Bakar menegur kedua anak tersebut seraya berkata, “Apakah alat musik setan berada di rumah Nabi saw.?” Tapi kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Abu Bakar, biarkan kedua anak itu, sesungguhnya saat ini adalah hari raya, setiap kaum memiliki hari raya dan ini hari raya kita, agar orang-orang Yahudi mengerti bahwa dalam agama kita ada kelonggaran, dan sesungguhnya aku diutus dengan membawa agama yang lurus dan penuh kelonggaran.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Jadi, menyanyi boleh saja, asal tidak mendatangkan seseorang untuk berjoget atau seseorang yang berdandan menor untuk bernyanyi. Tidak begitu caranya. Menyanyi boleh asal memenuhi syarat-syaratnya yang sudah masyhur, yaitu (1) kata-katanya tidak keluar dari jalur syariat, akidah, dan etika-etika keislaman, (2) tidak terdapat penyimpangan di dalamnya, (3) tidak dibarengi dengan barang-barang haram, semisal minuman keras, berhias secara berlebihan, apalagi bertelanjang, dan (4) tetap pada batas-batas yang wajar. Inilah syarat yang harus dipenuhi agar nyanyian menjadi boleh, khususnya dalam acara-acara tertentu, seperti pesta pernikahan, hari-hari raya, dan momen-momen kegembiraan yang dianjurkan oleh Islam untuk refreshing asal tidak merugikan orang lain. [ali/pkspiyungan]
posted by @Adimin
"Beginilah Cara Islam Merayakan Hari Raya" | Syekh Yusuf Qardhawi
Menurut Syekh Yusuf Qardhawi di dalam bukunya, Mi'atu Su'âlin 'anil-Hajj wal-'Umrah wal-Udhiyah wal-Îdain, hari raya umat Islam itu memiliki dua ciri khas dalam pemaknaannya, yaitu makna ketuhanan, dan makna kemanusiaan.
Kalau kita melihat, hari raya pada sebagian agama lain dirayakan dengan mengumbar nafsu, di mana orang-orang melakukan kemungkaran, mengerjakan dosa-dosa besar, dan meminum minuman haram yang memabukkan. Tapi tidak demikian dalam Islam.
Takbir dan Shalat
Dalam agama kita, hari raya dimulai dengan shalat, baik itu Idulfitri maupun Iduladha, lalu dihiasi dengan takbir, sebagaimana hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, “Hiasilah hari raya kalian dengan takbir.”
Khusus pada hari raya Idul Adha, kalimat takbir muqayyad (takbir yang khusus untuk hari raya) disyariatkan dibaca setiap selesai mengerjakan shalat. Waktunya dimulai dari fajar hari tanggal sepuluh Dzulhijah sampai 23 shalat berikutnya, yaitu sampai waktu Ashar hari tasyriq ketiga. Sedangkan takbir ghair muqayyad (kalimat takbir pada umumnya) disyariatkan untuk dibaca pada setiap waktu. Seorang muslim harus menjaga makna ketuhanan ini, karena inilah makna ketuhanan dari hari raya umat Islam.
Berbagi Kegembiraan dengan Sesama
Adapun dari segi makna kemanusiaannya, pada hari raya Idul Fitri, Islam mewajibkan zakat fitrah untuk memberi makan orang-orang miskin sebagai bentuk bantuan, dan pada saat hari raya Iduladha, disyariatkanlah menyembelih kurban dengan maksud memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, keluarga, orang-orang di sekelilingnya, dan juga para fakir miskin. Memang sudah seyogianya seorang muslim ingat pada kaum fakir miskin yang kekurangan pada saat kegembiraan hari raya, bukan terbatas memikirkan diri sendiri dan melupakan mereka. Hal ini merupakan bagian dari perintah pada saat hari raya, dan inilah makna kemanusiaan dari hari raya umat Islam.
Pada Hari Raya Idul Fitri, Allah swt. telah mensyariatkan untuk menunaikan zakat, yaitu zakat fitrah. Dan pada Hari Raya Idul Adha Dia swt. mensyariatkan menyembelih kurban. Hal ini dimaksudkan agar kegembiraan bisa menyeluruh dan semua orang dapat sama-sama merasakan suasana kegembiraan Hari Raya itu. Sebab, agama Islam memang menjadikan momen hari raya sebagai hari pesta Islam, yaitu hari bagi semua kaum muslimin, baik yang dewasa maupun yang masih kecil, wanita maupun pria, dan yang kaya maupun yang miskin.
Semuanya dalam Kondisi Bersih dan Menyenangkan
Untuk itu, dalam suasana gembira ini, seorang muslim ketika berhari raya dianjurkan dalam kondisi rapi dan bersih. Islam ingin agar seseorang itu dalam kondisi bersih, khususnya pada waktu perkumpulan, seperti ketika shalat Jumat dan shalat Id. Juga agar ketika bertemu dengan orang lain tidak dalam keadaan bau yang mengganggu atau dengan pakaian yang membuat orang lain merasa iba.
Seorang Muslim hendaknya bertemu dengan orang lain hanya pada saat dalam keadaan sudah mandi, berpakaian rapi, dan tidak bau mulut karena mengonsumsi makanan yang berbau, seperti bawang putih, bawang merah, petai, jengkol, dan sejenisnya. Nabi saw. telah bersabda, “Barang siapa yang mengonsumsi sesuatu dari ini (bawang putih dan merah) maka janganlah mendekati masjid kami (HR. Bukhari-Muslim).” Maksudnya, menjauhlah dari orang lain sehingga bau yang tidak enak itu tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Semua Merayakannya
Karena hari raya adalah hari milik semua umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, maka kaum perempuan juga dianjurkan untuk ikut merayakannya, baik ia dalam kondisi suci, maupun sedang tidak suci, semisal haid dan nifas. Nabi saw. memerintahkan kaum perempuan untuk ikut menghadiri shalat Id. Bahkan wanita yang sedang haid sekalipun juga dianjurkan keluar dari rumah menuju tanah lapang atau tempat-tempat pelaksanaan shalat Id, meski kehadiran mereka tidak untuk melaksanakan shalat. Wanita yang sedang haid dianjurkan untuk ikut keluar agar mereka juga menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin.
Hal ini sebagaimana sebuah riwayat dari Ummu Ahtiyah r.a., “Ada beberapa wanita yang sedang haid menghadiri Hari Raya. Di antara mereka ada yang tidak punya jilbab, kemudian mereka berkata kepada Rasulullah saw., “Salah seorang di antara kami tidak punya jilbab,” lalu beliau bersabda, “Supaya saudaranya meminjaminya dari jilbab yang ada.” Wanita tersebut kemudian meminjam jilbab dari tetangga atau temannya yang bisa dia pakai, lalu pergi menghadiri shalat Id. Seperti inilah tindakan kaum muslimin pada tempo dulu. Kita juga harus menghidupkan sunah Rasul ini.
Silaturahmi, Saling Memberi Ucapan, dan Bersenang-senang
Karena hari raya adalah hari kegembiraan umat Islam, maka pada hari ini kita sangat dianjurkan untuk mengakrabkan hubungan kaum muslimin satu dengan lainnya. Caranya, bisa dengan bersilaturahmi kepada para kerabat dan handai-tolan, tetangga, orang-orang yang dicintai, dan teman-teman. Juga dengan saling memberi ucapan selamat. Misalnya, mengucapkan, taqabbalallâhu minnâ wa minkum (Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu) atau kullu `âm wa antum bi khair (Setiap tahun dan kalian selalu dalam keadaan baik). Ucapan-ucapan seperti inilah yang dianjurkan.
Pada saat hari raya, Islam membolehkan bersenang-senang asalkan tidak dalam hal kemungkaran. Nabi saw. memperbolehkan ketika dua anak perempuan bernyanyi di rumah Aisyah r.a. pada hari raya. Pada saat itu, Abu Bakar menegur kedua anak tersebut seraya berkata, “Apakah alat musik setan berada di rumah Nabi saw.?” Tapi kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Abu Bakar, biarkan kedua anak itu, sesungguhnya saat ini adalah hari raya, setiap kaum memiliki hari raya dan ini hari raya kita, agar orang-orang Yahudi mengerti bahwa dalam agama kita ada kelonggaran, dan sesungguhnya aku diutus dengan membawa agama yang lurus dan penuh kelonggaran.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Jadi, menyanyi boleh saja, asal tidak mendatangkan seseorang untuk berjoget atau seseorang yang berdandan menor untuk bernyanyi. Tidak begitu caranya. Menyanyi boleh asal memenuhi syarat-syaratnya yang sudah masyhur, yaitu (1) kata-katanya tidak keluar dari jalur syariat, akidah, dan etika-etika keislaman, (2) tidak terdapat penyimpangan di dalamnya, (3) tidak dibarengi dengan barang-barang haram, semisal minuman keras, berhias secara berlebihan, apalagi bertelanjang, dan (4) tetap pada batas-batas yang wajar. Inilah syarat yang harus dipenuhi agar nyanyian menjadi boleh, khususnya dalam acara-acara tertentu, seperti pesta pernikahan, hari-hari raya, dan momen-momen kegembiraan yang dianjurkan oleh Islam untuk refreshing asal tidak merugikan orang lain. [ali/pkspiyungan]
posted by @Adimin
Label:
Dunia Islam,
TOPIK PILIHAN
October 05, 2014
posted by @Adimin
Imam Besar Istiqlal Ingatkan Kepalsuan Hadits Haji Akbar
Imam Besar Masjid
Istiqlal Jakarta KH Ali Mustafa Ya'qub mengingatkan bahwa hadits yang
menyebut jika wukuf jatuh pada hari Jumat, maka peristiwa tersebut
merupakan haji akbar dan pahalanya sama dengan tujuh puluh kali haji
adalah hadits maudhu atau palsu.
Di masyarakat ramai membicarakan bahwa pada tahun ini adalah haji akbar, dan diimbau agar umat Islam untuk tidak mudah percaya dan ikut-ikutan, katanya di Jakarta, Jumat.
Pascasidang itsbat penetapan awal bulan Zulhijjah 1435 H, di Gedung Kementerian Agama Jakarta pada 24 September 2014, sempat terdengar di antara peserta menyebut bahwa karena wukuf jatuh pada hari Jumat, maka Idul Adha tahun ini disebut sebagai haji akbar.
Lantas, di antara wartawan ada bertanya kepada seorang ulama yang ikut sidang itsbat tersebut. Katanya, apa bedanya haji akbar, haji reguler, haji khusus, haji kecil dan haji-haji lainnya.
Bagi awak media, yang kebanyakan hanya meliput di Kementerian Agama setahun sekali khususnya meliput sidang itsbat penetapan awal Ramadhan dan Idul Adha, tentu akan semakin bingung dengan istilah-istilah atau terminologi keagamaan seperti itu. Apa lagi jika wartawan bersangkutan hanya bermodalkan sekolah umum, tak pernah bersentuhan dengan madrasah atau pondok pesantren.
Terminologi bidang keagamaan, wabil khusus bidang perhajian, ternyata demikian luas. Untung saja, pada acara sidang itsbat tersebut tak mencuat istilah haji mabrur dan mardud. "Wah, bingung lagi," kata seorang wartawan muda.
Kini publik pun banyak menyoal haji akbar. Apa sih bedanya dengan Idul Adha dan haji lainnya. Perihal ini, sejatinya sudah lama menjadi bahan diskusi hangat.
Imam An-Nawawi mengakui dan mengatakan, sudah lama para ulama berselisih pendapat mengenai apa yang dimaksud hari haji akbar.
Ada yang mengatakan, hari Arafah. Sementara Imam Malik, Imam as-Syafi'i, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa haji akbar adalah hari Nahr (Idul Adha), dan sebagian ulama menjelaskan, "Dinamakan hari haji akbar, untuk membedakannya dengan haji Asghar, yaitu umrah." Hal ini
termaktub dalam Syarh Sahih Muslimkarya An-Nawawi, 9:116.
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengemukakan, sebagaimana tercatat dalam Fathul Bari Syarh Sahih Bukhari, 8:321: "Ulama berbeda pendapat tentang makna haji asghar. Mayoritas ulama berpendapat bahwa haji asghar adalah umrah. Ada juga yang mengatakan, 'Haji asghar adalah hari arafah (9 Dzulhijah) dan haji akbar adalah Idul Adha'. Karena di hari Idul Adha merupakan penyempurna kegiatan manasik haji yang belum dilakukan."
Berbagai laman Islam menyimpulkan bahwa penamaan haji akbar pada dasarnya adalah untuk membedakan dengan umrah atau dengan kegiatan haji yang lain, sehingga tidak ada hubungannya dengan wukuf yang jatuh pada hari Jumat.
Kebetulan sekali Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menetapkan Idul Adha 1435 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu (4/10). Dengan begitu pelaksanaan wukuf di Arafah bertepatan pada Jumat (3/10). Sebagian umat Islam ada yang percaya bahwa pelaksanaan wukuf bertepatan dengan hari Jumat itu disebut haji akbar.
Haji akbar disebut mempunyai banyak keistimewaan. Benarkah wukuf yang jatuh pada hari Jumat disebut haji akbar? Di sini, Imam Besar Masid Istiqlal Jakarta KH Ali Mustafa Ya'qub kembali menegaskan, hadits yang menyebut bahwa jika wukuf jatuh pada hari Jumat, maka pahala haji sama dengan tujuh puluh kali haji adalah hadits maudhu atau palsu.
Ia mengimbau, umat Islam untuk tidak mudah percaya dan ikut-ikutan.
Hadits itu, dikemukakannya, sengaja dipakai orang untuk kepentingan tertentu, sehingga kembali sangat diharapkan umat Islam tidak ikut-ikutan.
Ya'qub mengakui, istilah haji akbar memang ada. Tetapi, harus dipahami bahwa haji akbar itu adalah haji yang dilakukan dengan menjalankan wukuf di Arafah.
Ibadah haji setiap tahun itu merupakan haji akbar karena wukuf adalah salah satu rukun haji. Sedangkan, dinyatakannya, yang tidak wukuf disebut haji asghar atau haji kecil. "Itulah yang dimaksud umrah," ujarnya.
Apabila merujuk kepada Alquran (QS. At-Taubah: 3), maka haji akbar adalah haji terakhir Rasulullah SAW atau haji wada' pada tahun ke-10 hijriyah.
Saat itu hari di Arafah bertepatan dengan Jumat. Tetapi, asbabun nuzul atau sebab turunnya ayat tersebut secara substansi adalah tidak diperkenankannya lagi kaum musyrikin untuk berhaji dan melakukan thawaf tanpa mengenakan pakaian secuil pun setelah tahun itu.
Ya'qub menegaskan, keutamaan wukuf di Arafah pada hari Jumat adalah karena memang hari itu dalam Islam memang hari yang utama.
Untuk itu diimbaunya, kepada seluruh jamaah haji Indonesia agar tetap khusyu melaksanakan ibadah, serta tidak terpengaruh apapun dalam menjalankan ibadah.
Di masyarakat ramai membicarakan bahwa pada tahun ini adalah haji akbar, dan diimbau agar umat Islam untuk tidak mudah percaya dan ikut-ikutan, katanya di Jakarta, Jumat.
Pascasidang itsbat penetapan awal bulan Zulhijjah 1435 H, di Gedung Kementerian Agama Jakarta pada 24 September 2014, sempat terdengar di antara peserta menyebut bahwa karena wukuf jatuh pada hari Jumat, maka Idul Adha tahun ini disebut sebagai haji akbar.
Lantas, di antara wartawan ada bertanya kepada seorang ulama yang ikut sidang itsbat tersebut. Katanya, apa bedanya haji akbar, haji reguler, haji khusus, haji kecil dan haji-haji lainnya.
Bagi awak media, yang kebanyakan hanya meliput di Kementerian Agama setahun sekali khususnya meliput sidang itsbat penetapan awal Ramadhan dan Idul Adha, tentu akan semakin bingung dengan istilah-istilah atau terminologi keagamaan seperti itu. Apa lagi jika wartawan bersangkutan hanya bermodalkan sekolah umum, tak pernah bersentuhan dengan madrasah atau pondok pesantren.
Terminologi bidang keagamaan, wabil khusus bidang perhajian, ternyata demikian luas. Untung saja, pada acara sidang itsbat tersebut tak mencuat istilah haji mabrur dan mardud. "Wah, bingung lagi," kata seorang wartawan muda.
Kini publik pun banyak menyoal haji akbar. Apa sih bedanya dengan Idul Adha dan haji lainnya. Perihal ini, sejatinya sudah lama menjadi bahan diskusi hangat.
Imam An-Nawawi mengakui dan mengatakan, sudah lama para ulama berselisih pendapat mengenai apa yang dimaksud hari haji akbar.
Ada yang mengatakan, hari Arafah. Sementara Imam Malik, Imam as-Syafi'i, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa haji akbar adalah hari Nahr (Idul Adha), dan sebagian ulama menjelaskan, "Dinamakan hari haji akbar, untuk membedakannya dengan haji Asghar, yaitu umrah." Hal ini
termaktub dalam Syarh Sahih Muslimkarya An-Nawawi, 9:116.
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengemukakan, sebagaimana tercatat dalam Fathul Bari Syarh Sahih Bukhari, 8:321: "Ulama berbeda pendapat tentang makna haji asghar. Mayoritas ulama berpendapat bahwa haji asghar adalah umrah. Ada juga yang mengatakan, 'Haji asghar adalah hari arafah (9 Dzulhijah) dan haji akbar adalah Idul Adha'. Karena di hari Idul Adha merupakan penyempurna kegiatan manasik haji yang belum dilakukan."
Berbagai laman Islam menyimpulkan bahwa penamaan haji akbar pada dasarnya adalah untuk membedakan dengan umrah atau dengan kegiatan haji yang lain, sehingga tidak ada hubungannya dengan wukuf yang jatuh pada hari Jumat.
Kebetulan sekali Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menetapkan Idul Adha 1435 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu (4/10). Dengan begitu pelaksanaan wukuf di Arafah bertepatan pada Jumat (3/10). Sebagian umat Islam ada yang percaya bahwa pelaksanaan wukuf bertepatan dengan hari Jumat itu disebut haji akbar.
Haji akbar disebut mempunyai banyak keistimewaan. Benarkah wukuf yang jatuh pada hari Jumat disebut haji akbar? Di sini, Imam Besar Masid Istiqlal Jakarta KH Ali Mustafa Ya'qub kembali menegaskan, hadits yang menyebut bahwa jika wukuf jatuh pada hari Jumat, maka pahala haji sama dengan tujuh puluh kali haji adalah hadits maudhu atau palsu.
Ia mengimbau, umat Islam untuk tidak mudah percaya dan ikut-ikutan.
Hadits itu, dikemukakannya, sengaja dipakai orang untuk kepentingan tertentu, sehingga kembali sangat diharapkan umat Islam tidak ikut-ikutan.
Ya'qub mengakui, istilah haji akbar memang ada. Tetapi, harus dipahami bahwa haji akbar itu adalah haji yang dilakukan dengan menjalankan wukuf di Arafah.
Ibadah haji setiap tahun itu merupakan haji akbar karena wukuf adalah salah satu rukun haji. Sedangkan, dinyatakannya, yang tidak wukuf disebut haji asghar atau haji kecil. "Itulah yang dimaksud umrah," ujarnya.
Apabila merujuk kepada Alquran (QS. At-Taubah: 3), maka haji akbar adalah haji terakhir Rasulullah SAW atau haji wada' pada tahun ke-10 hijriyah.
Saat itu hari di Arafah bertepatan dengan Jumat. Tetapi, asbabun nuzul atau sebab turunnya ayat tersebut secara substansi adalah tidak diperkenankannya lagi kaum musyrikin untuk berhaji dan melakukan thawaf tanpa mengenakan pakaian secuil pun setelah tahun itu.
Ya'qub menegaskan, keutamaan wukuf di Arafah pada hari Jumat adalah karena memang hari itu dalam Islam memang hari yang utama.
Untuk itu diimbaunya, kepada seluruh jamaah haji Indonesia agar tetap khusyu melaksanakan ibadah, serta tidak terpengaruh apapun dalam menjalankan ibadah.
Label:
EDITORIAL,
TOPIK PILIHAN
October 04, 2014
posted by @Adimin
PKS: Beda Waktu Lebaran, Jangan Korbankan Ukhuwah
Written By Anonymous on 04 October, 2014 | October 04, 2014
Jakarta (3/10)- Umat Islam di Indonesia dapat berlebaran Idul Adha, baik hari Sabtu (4/10) seperti ditetapkan oleh ormas Muhammadiyah ataupun hari Ahad (5/10) sebagaimana ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama. Meski demikian, umat Islam jangan mengorbankan ukhuwah atau rasa persaudaraan hanya karena perbedaan waktu lebaran tersebut. Demikian disampaikan Ketua Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DSP PKS) KH Surahman Hidayat di Jakarta, hari ini (3/10).
Menurut Surahman, perbedaan waktu Idul Adha sama seperti penetapan Hari Raya Idul Fitri yang seringkali tidak sama. "Hal ini disebabkan terdapat dua metode penetapan kalender hijriyah di Indonesia, yaitu berdasarkan ru’yatul hilal (melihat bulan secara langsung) dan hisab (perhitungan ilmiah)," ujar Surahman yang juga anggota DPR ini.
Surahman menekankan bahwa umat Islam di Indonesia bisa berlebaran sesuai keyakinan, baik itu dengan pertimbangan ilmiah maupun tabaiyah (mengikuti). "Kalau kaitannya dengan PKS, ya sebagai partai politik Islam dengan ribuan kader seluruh Indonesia, harus menunjukkan sikap atau memberikan imbauan yang jelas kepada para kader. Dan sejak dahulu PKS selalu menekankan pada proyeksi persatuan wihdatul ummah (persatuan umat)," jelas Surahman.
Berkaitan dengan sikap PKS dan imbauan bagi para kadernya, Surahman menyatakan bahwa sebaiknya para kader menyesuaikan diri dengan kondisi di sekitarnya. Meskipun berbeda tanggal pelaksanaan sholat, namun Dewan Syariah PKS, ujar Surahman, menyatakan Shaum Arafah dilakukan pada hari Jumat (3/10) bertepatan dengan wuquf jamaah haji di Arafah.
Surahman juga mengingatkan tentang semangat perjuangan yang dibawa para kader dalam kaitannya dengan isu sosial politik saat ini. Idul Adha, tuturnya, merupakan momen bagi umat Islam mengenang dan meneladani amalan Nabi Ibrahim AS. yang dikenal sebagai nabi yang sangat patuh kepada Allah SWT. "Beliau selalu sami’na wa ato’na, bahkan ikhlas (akan) menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS, karena Allah SWT. Sebagai umat Islam di Indonesia dan kader PKS, kita harus meneladani kepatuhan Nabi Ibrahim AS kepada Allah," pesannya di akhir wawancara. [pks.or.id]
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
October 04, 2014
posted by @Adimin
Irwan Prayitno Targetkan 2015 Sumbar Bebas Buta Aksara
Muaro Sijunjung - Provinsi Sumatera Barat menargetkan masyarakatnya bebas dari buta aksara pada tahun 2015. Hal ini disampaikan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, pada acara puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-49 tingkat Provinsi Sumbar, di Gedung Pancasila, Kota Muaro Sijunjung, Sumbar, Kamis (2/10).
"Empat bupati (Sijunjung, Solok, Solok Selatan dan Pesisir Selatan ) telah berhasil menurunkan angka buta aksara masyarakat secara signifikan, pada tahun 2014 ini tinggal 25.741 orang, turun sekitar 0,5 persen dari jumlah tahun 2010 yaitu 87.852 orang, kita berharap dapat kita tuntaskan pada tahun 2015 nol persen," kata Gubernur yang juga kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.
Kendati demikian, Irwan juga menyadari sulitnya geografi, tempat tinggal penduduk diperbukitan dan lain-lain di Sumatera Barat yang kadang sulit dijangkau oleh para tutor dan pendidik menjadi salah satu penyebab utama terhambatnya target tersebut.
Irwan menuturkan, bahwa negara-negara maju saat ini telah berhasil menol persenkan buta aksara penduduk sesuai dengan tuntutan UNESCO. Oleh karena itu mau tidak mau, tambahnya, Pemprov Sumbar bersama bupati dan walikota se-Sumbar akan melakukan upaya menol persenkan buta aksara pada tahun 2015. "Ini tanggungjawab dan kerjanya pemerintah," ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Irwan memberi apresiasi kepada Bupati Sijunjung dan Bupati Solok yang telah turut memberikan perhatian dan melibatkan masyarakat lansia dalam kegiatan pembangunan. "Ini sesuatu yang baik dalam pelayanan pemerintah kepada masyarakat dan nilai-nilai kemanusiaan. Walaupun dalam ketentuan yang berumur 61 keatas tidak dianggap lagi masuk dalam penilaian penuntasan buta aksara," paparnya.
Irwan juga meminta jangan sampai usia lansia dianggap sudah tidak produktif lagi. "Jadi tetap kita perhatikan secara baik karena mereka tetap manusia. Karena tidak ada batasan umur dekat dengan bau tanah, karena kita melihat kenyataan usia tidak jamin, jika dipanggil Allah SWT," jelasnya.
Dia menambahkan, selain kondisi geografis masyarakat juga dipengaruhi oleh sikap budaya dibeberapa daerah seperti anggapan tidak perlunya anak bersekolah, dan anggapan 'sudah pandai mengaji ya sudah', mereka kemudian disibukan oleh kerja mencari nafkah hidup. Akan tetapi, Irwan meminta bupati dan walikota se-Sumbar tetap optimis.
"Dengan program jemput bola ke daerah tersebut dengan pendidikan formal maupun non formal. Mudah-mudahan pengorban para tutor, tetap tekun dalam menuntaskan buta aksara di Sumatera Barat bisa nol persen," pungkasnya.
Kegiatan yang bertajuk “Aksara Membangun Peradaban dan Keunggulan Pembangunan Berkelanjutan di Sijunjung” ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan dan pameran hasil karya pendidikan buta aksara. [pks.or.id]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
October 03, 2014
posted by @Adimin
Kembali ke Jalan yang Benar
Written By Sjam Deddy on 03 October, 2014 | October 03, 2014
Perjuangan yang suci membutuhkan energi iman sejati. Iman tersebut tak
terkontaminasi dengan kesyirikan meski hanya sebesar biji sawi. Iman
yang terus menggelora, tak bisa padam hanya dengan bujukan konspirasi
harta, wanita, ataupun takhta.
Tak ada lawan yang paling hebat untuk mengalahkan perjuangan suci, kecuali kemaksiatan dan dosa. Meriam dan bom atom dengan izin Allah tak akan bisa memadamkan gerakan masif yang bersumber dari kekuatan iman. Sebaliknya, dengan iman nuklir bisa sama sekali tak berbunyi, api tak membakar, laut terbelah menjadi jalan raya. Akhirnya, budak beriman bisa menjadi naik sekelas perdana menteri, sementara tuannya yang tetap kafir bisa jatuh terhina.
Suatu gerakan perbaikan yang terjebak hanya sibuk dengan sarana dan prasarana bendawi, tak akan bisa sampai pada tujuan yang dicita-citakan. Kalau toh sampai pada puncak kekuasaan, mereka tidak akan menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya yang digantikan. Baju berubah, tapi sesungguhnya jiwa raga yang memakainya tetap sama.
Ingatkah kita? Ujian pertama yang diumumkan Thalut kepada pasukannya, yakni sungai. "Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sungai. Barang siapa yang meminumnya maka ia bukan golonganku dan barang siapa tiada meminumnya maka ia adalah golonganku, kecuali yang menciduk secidukan dengan tangannya." (al-Baqarah [2]: 249).
Di tengah situasi yang banyak ujian dan fitnah seperti ini, energi iman harus terus ditingkatkan. Kalau sudah banyak yang berguguran, baik karena judi, minuman keras atau ekstasi, hingga korupsi maka itu tak boleh membuat patah semangat dan putus asa. Perjuangan suci tetap tak boleh terhenti. Meski harus memulai dari awal bak menanam biji kembali. Atau, menggigit akar pohon (keimanan) seorang diri.
Maka, kembalilah ke jalan yang benar. Jalan yang bersumber dari iman yang suci. Inilah seruan abadi yang selalu relevan.Tak hanya sekarang, tapi semenjak dulu hingga matahari tak terbit lagi. Seruan ini pun umum. Secara individual baik yang sudah beriman maupun yang masih ingkar. Tanpa kembali ke jalan yang benar, siapa pun dan golongan dengan bendera apa pun pasti akan kandas mengenaskan.
Iklan di TV setiap hari tak akan ada arti. Road show mengitari bumi yang dibungkus dengan kover safari dakwah pun tak akan jauh beda dengan panggung sulap. Banyak memang penggemarnya, tapi itu hanyalah seperti buih.
"Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)." (as-Sajadah [32]: 21). Wallahu a’lam.
Tak ada lawan yang paling hebat untuk mengalahkan perjuangan suci, kecuali kemaksiatan dan dosa. Meriam dan bom atom dengan izin Allah tak akan bisa memadamkan gerakan masif yang bersumber dari kekuatan iman. Sebaliknya, dengan iman nuklir bisa sama sekali tak berbunyi, api tak membakar, laut terbelah menjadi jalan raya. Akhirnya, budak beriman bisa menjadi naik sekelas perdana menteri, sementara tuannya yang tetap kafir bisa jatuh terhina.
Suatu gerakan perbaikan yang terjebak hanya sibuk dengan sarana dan prasarana bendawi, tak akan bisa sampai pada tujuan yang dicita-citakan. Kalau toh sampai pada puncak kekuasaan, mereka tidak akan menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya yang digantikan. Baju berubah, tapi sesungguhnya jiwa raga yang memakainya tetap sama.
Ingatkah kita? Ujian pertama yang diumumkan Thalut kepada pasukannya, yakni sungai. "Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sungai. Barang siapa yang meminumnya maka ia bukan golonganku dan barang siapa tiada meminumnya maka ia adalah golonganku, kecuali yang menciduk secidukan dengan tangannya." (al-Baqarah [2]: 249).
Di tengah situasi yang banyak ujian dan fitnah seperti ini, energi iman harus terus ditingkatkan. Kalau sudah banyak yang berguguran, baik karena judi, minuman keras atau ekstasi, hingga korupsi maka itu tak boleh membuat patah semangat dan putus asa. Perjuangan suci tetap tak boleh terhenti. Meski harus memulai dari awal bak menanam biji kembali. Atau, menggigit akar pohon (keimanan) seorang diri.
Maka, kembalilah ke jalan yang benar. Jalan yang bersumber dari iman yang suci. Inilah seruan abadi yang selalu relevan.Tak hanya sekarang, tapi semenjak dulu hingga matahari tak terbit lagi. Seruan ini pun umum. Secara individual baik yang sudah beriman maupun yang masih ingkar. Tanpa kembali ke jalan yang benar, siapa pun dan golongan dengan bendera apa pun pasti akan kandas mengenaskan.
Iklan di TV setiap hari tak akan ada arti. Road show mengitari bumi yang dibungkus dengan kover safari dakwah pun tak akan jauh beda dengan panggung sulap. Banyak memang penggemarnya, tapi itu hanyalah seperti buih.
"Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)." (as-Sajadah [32]: 21). Wallahu a’lam.
M. Syamlan
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
October 03, 2014
posted by @Adimin
Hikmah Ibadah Kurban
Ibadah Kurban memiliki pesan moral yang sangat dalam. Seperti pesan
yang terkandung dalam makna bahasanya. Qurb atau qurbân berarti “dekat”
dengan imbuhan ân (alif dan nun) yang mengandung arti “kesempurnaan”,
sehingga qurbân yang diindonesiakan dengan “kurban” berarti “kedekatan
yang sempurna”. Kata Qurbân berulang tiga kali dalam al-Qur’an, yaitu
pada QS.Ali Imran/3: 183, al-Ma’idah/5: 27, dan al-Ahqaf/46: 28.
Jadi, kurban adalah penyembelihan binatang tertentu yang dilakukan
pada hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya (hari tasyrik), yakni pada
tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah yang bertujuan untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT.
Dalam ilmu fiqh, kurban juga disebut udhḫiyah (karena dilaksanakan
dalam suasana Idul Adha) juga berasal dari kata dahwah atau dhuhaa
(waktu matahari sedang naik di pagi hari), karena biasanya penyembelihan
hewan qurban dilaksanakan pada waktu duha. Dari kata dahwah atau duhaa
tersebut diambil kata daahiyah yang bentuk jamaknya udhḫiyah.
Adapun di antara hikmahnya adalah
Pertama, sebagai bukti nyata
ekspresi syukur, “Supaya merek amenyebut nama Allah atas apa yang Allah
karuniakan kepada mereka berupa binatang ternak….” (QS. al-Hajj, 22 :
34);
Kedua, bukti sebagai hamba bertaqwa, “Daging daging qurban dan
darahnya itu sekali kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
ketaqwaanmulah yang dapat mencapainya…” (QS al-Hajj, 22 :37)
Ketiga, terakuinya sebagai umat Rasulullah Saw, “Barang siapa yang
mempunyai keluasan (harta) dan tidak mau berqurban, maka janganlah
mendekati tempat shalat kami!” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, Ad
Daruquthni dan Al Baihaqi).
Keempat, meraih ampunan dosa, ”Fatimah,
berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu
diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa dosa yang kamu
lakukan...” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)
Kelima, berpahala besar, "Pada setiap lembar bulunya itu kita
memperoleh satu kebaikan," (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Keenam, mendapat
kesaksian yang indah dari hewan Qurban kita kelak, “Sesungguhnya ia
(hewan qurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku dan
bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban akan jatuh pada sebuah
tempat di dekat Allah sebelum darah mengalir menyentuh tanah. Maka
berbahagialah jiwa dengannya". (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al
Hakim).
SubhanaAllah demikian besar keutamaan ibadah kurban ini
wahai ikhwah! Semoga Allah beri keluasan rejeki kepada kita untuk
memenuhinya dan menerima amal ibadah kurban kita. Aamiin.
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
October 02, 2014
posted by @Adimin
Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR dari PKS
Written By Anonymous on 02 October, 2014 | October 02, 2014
Jakarta (2/10)- Waktu subuh telah hampir tiba saat Ketua dan 4 Wakil Ketua DPR terpilih diambil sumpahjabatannya oleh Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali. Keempat pimpinan tersebut adalah Setya Novanto, Ketua DPR yang berasal dari Fraksi Partai Golkar, dan dengan empat Wakil Ketua, masing-masing Fadli Zon (Fraksi Gerindra), Agus Hermanto (Fraksi Partai Demokrat), Taufik Kurniawan (Fraksi PAN) dan Fahri Hamzah (Fraksi PKS).
Benar, itu adalah Fahri Hamzah yang selama ini dikenal publik sebagai anggota dewan yang kerap menyuarakan hal kritis terkait kasus century yang merugikan negara dan rakyat puluhan triliun rupiah. Ia juga yang dengan gigih melawan adanya lembaga negara yang superbody dan anti pengawasan, serta Fahri juga yang memperjuangkan agar BPK eksis sebagai lembaga akuntabilitas negara yang kredibel dan dipercaya rakyat.
Bagaimana profil seorang Fahri Hamzah?
Berikut profil ringkas suami dari dokter bedah Farida Briani dan ayah dari putra kembar tersebut:
Fahri Hamzah mulai dikenal publik sejak reformasi bergulir, awal 1998. Laki-laki kelahiran Utan, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 10 Nopember 1971 ini adalah deklarator dan ketua umum pertama organisasi gerakan mahasiswa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Saat itu Fahri Hamzah menjadi sorotan media karena berbagai aksi yang dipimpinnya dan wacana yang dilontarkan guna menurunkan rezim yang berkuasa. Sebagai intelektual muda, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) ini banyak terlibat dalam kegiatan akademis dan kecendekiawanan sejak menjadi mahasiswa. Ia pernah aktif sebagai Ketua Departemen Pengembangan Cendekiawan Muda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat dan berbagai kegiatan lainnya.
Berbagai pengalaman dan keahliannya didedikasikan bagi lembaga legislatif di tingkat pusat sejak tahun 2004. Lewat PKS, Fahri Hamzah terpilih menjadi anggota DPR RI mewakili daerah kelahirannya, NTB. Fahri Hamzah pertama kali bertugas di Komisi VI yang menangani masalah Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi/UKM, dan BUMN. Inilah yang membuat ia makin memahami masalah di sektor riil umumnya dan masalah seputar BUMN khususnya.
Selanjutnya ia pernah merasakan menjadi anggota Komisi III, sebelum menjadi Wakil Ketua di Komisi yang membawahi masalah Hukum dan HAM pada tahun 2009. Fahri Hamzah juga pernah menjadi anggota Komisi VII dimana ia menekankan pentingnya kedaulatan energi nasional. Banyaknya perusahaan asing yang mengelola hulu migas dinilai menyebabkan tersedotnya sumber daya alam Indonesia ke negara lain.
Selain pernah menjadi anggota Badan Kehormatan DPR, Fahri juga sempat mencicipi menjadi anggota BAKN (Badan Akuntabilitas Keuangan Negara). Di BAKN, ia memberikan perhatian besar terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan BPK setiap tahun. Fahri Hamzah menekankan perlunya tindak lanjut yang memadai terhadap laporan-laporan BPK.
Disela aktivitas sebagai anggota Dewan, Fahri juga gemar menulis dalam berbagai artikel dan buku. Hingga kini telah terbit beberapa buku karyanya dengan judul “Negara, BUMN dan Kesejahteraan Rakyat”, “Negara, Pasar dan Rakyat”, “Kemana Ujung Century”, dan “Demokrasi, Transisi, Korupsi” yang diterbitkan melalui Yayasan Faham Indonesia (YFI).
Fahri Hamzah dikenal sebagai sosok yang rasional, mengedepan argumentasi yang kuat dan selalu siap dengan segala risiko atas sikap dan pilihan politiknya bersama PKS. [pks.or.id]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
October 02, 2014
posted by @Adimin
Koalisi Merah Putih Pimpin DPR
Jakarta (2/10)- Koalisi Merah Putih (KMP) akan pimpin lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk lima tahun kedepan. Enam partai politik yang lima diantaranya menjadi tulang punggung pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada pemilihan presiden lalu. Keenam partai, yang melalui fraksinya masing-masing mengajukan paket pimpinan yang sama adalah: Partai Golkar (PG), Partai Gerindra, Partai Demokrat (PD), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Sidang paripurna yang berjalan alot akhirnya menentukan pimpinan lembaga wakil rakyat tersebut pada pukul 02.45wib, Kamis (2/10). Pimpinan sidang sementara DPR yang ditentukan sesuai tata tertib yaitu dari anggota yang tertua dan termuda, yaitu Popong Otje Djundjunan dan Ade Rezki Pratama, menetapkan pimpinan DPR terpilih yang diusulkan oleh keenam fraksi tersebut. Para pimpinan terpilih adalah : Setya Novanto dari Fraksi PG sebagai Ketua, selanjutnya berturut-turut sebagai Wakil Ketua DPR, yaitu: Fadli Zon (Fraksi Gerindra), Agus Hermanto (Fraksi PD), Taufik Kurniawan (Fraksi PAN) dan Fahri Hamzah (Fraksi PKS).
Sidang paripurna sempat diwarnai hujan interupsi yang utamanya dilakukan oleh anggota-anggota dari Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi PKB, Fraksi Nasdem dan Fraksi Hanura. Namun dengan terus berpatokan pada tata tertib sidang dan hasil rapat konsultasi pimpinan Fraksi, Popong dan Ade yang memimpin sementara sidang tersebut, akhirnya mampu menyelesaikan agenda sidang hingga pelantikan pimpinan DPR terpilih.
Ketua Fraksi PKS DPR RI Hidayat Nur Wahid menyatakan, terpilihnya pimpinan dari partai-partai yang tergabung di KMP menunjukkan solidnya partai-partai tersebut. Menurutnya, upaya untuk menggoyang partai-partai KMP juga tidak kecil. “Alhamdulillah, keinginan untuk menjadikan DPR sebagai lembaga penyeimbang kekuasaan bisa terwujud dengan konfigurasi pimpinan DPR terpilih ini,” ujar Hidayat.
Menurutnya, penting bagi pemerintah memiliki mitra di lembaga perwakilan rakyat yang dapat mengkritisi program-program yang prorakyat. Ia juga tidak setuju bila DPR selalu menjadi lembaga stempel kebijakan-kebijakan yang diinginkan oleh lembaga eksekutif. “Mudah-mudahan dengan adanya keseimbangan antara eksekutif dan legislatif akan didapatkan kebijakan yang terbaik buat rakyat, karena inti keberadaan kedua lembaga tersebut adalah untuk kepentingan rakyat seluas-luasnya,” pungkasnya. [pks.or.id]
Label:
TOPIK PILIHAN






