Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
March 27, 2015
posted by @Adimin
Wakil Ketua MPR RI, “HNW” Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan
Written By Anonymous on 27 March, 2015 | March 27, 2015

pkspadang.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Hidayat Nur Wahid serta anggota MPR RI, Hermanto bersama rombongan dari Komisi 8 DPR RI tengah melakukan reses ke Kota Padang. Dalam kunjungannya kali ini, dalam rangka mengisi beberapa agenda berupa peninjauan, sosialisasi serta menampung aspirasi bagi warga ranah minang.
Seperti dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, MPR RI yang bekerja sama dengan Keluarga Besar Mahasiswa Minangkabau (KBMM) disambut baik oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang, Nasir Ahmad selaku mewakili Walikota Padang. Kegiatan yang bertempat di Palanta Walikota Padang, Kamis (26/3) lalu ini juga dihadiri beberapa tokoh masyarakat, Organisasi masyarakat (Ormas) serta 250 orang anggota dan pengurus KBMM.
Dalam sambutannya, Nasir Ahmad menyampaikan, atas nama Pemerintah Kota (Pemko) Padang, sangat setuju dengan terus dilakukannya kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Bahwasanya menurut Sekda, empat pilar seperti, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD Dasar RI Tahun 1945 sebagai konstitusi Negara, NKRI sebagai bentuk Negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara wajib terus diperkuat demi kedaulatan berbangsa dan bernegara.
“Sosialisasi empat pilar ini sangat penting bagi masyarakat khususnya generasi muda seperti di lingkungan mahasiswa. Empat pilar ini menjadi simbol kebangsaan sejak masa orde baru, namun di era reformasi saat ini cenderung terabaikan. Untuk itu, wajib terus diperkuat, selaku dasar kekuatan bangsa Indonesia yang harus diimplementasikan secara konkrit,” ungkap Sekda.
Sementara itu, ketika diwawancarai, Hidayat nur Wahid menerangkan, kegiatan sosialisasi empat pilar ini, salah satu dari dua agenda resesnya bersama Komisi 8 DPR RI ke Kota Padang. Selain sosialisasi empat pilar, rombongan juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar). Pertemuan terkait meninjau kondisi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar. Dimana, Sumbar termasuk kategori daerah yang rawan bencananya cukup tinggi.
“Aspirasi dan usulan yang ada sewaktu reses ini, akan kami terima dan akan ditindak lanjuti sesampai di Jakarta,” imbuh Hidayat.
Seteah itu,lanjutnya, terkait kegiatan sosialisasi empat pilar, ia mengaku sangat mengapresiasi antusias dari para mahasiswa yang tergabung dalam KBMM. Sebagaimana, empat pilar kebangsaan merupakan hasil dari buah perjuangan keras para pahlawan demi mewujudkan cita-cita bangsa.
“Jadi, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka tungga ika memang tidak terlepas dari berbagai tantangan selaku prinsip bangsa dan bernegara. Ini, merupakan tugas penting dari beberapa rangkaian kegiatan yang dikerjakan MPR RI. Untuk itu, diharapkan masyarakat tidak hanya mengetahui ideologinya saja, namun sewajib mempertahankan eksistensi sampai kapanpun. Sehingga, bangsa Indonesia tidak mudah terpecah belah yang disebabkan berbagai pengaruh dan gangguan yang datang dari luar Indonesia,” sebut Hidayat. [humas pemko]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 27, 2015
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki.
posted by @Adimin
Siapa Layak Menyandang Nama Ulama?
"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
"Sebaik-baiknya
ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki.
"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
March 26, 2015
hidayatullah
posted by @Adimin
Selain Informatif, Media Islam Harus Punya Peran Edukasi
Written By Sjam Deddy on 26 March, 2015 | March 26, 2015
Dan ketika media Islam produknya mampu menjadi jembatan mempersatukan
umat, maka pewarta Muslim hendak menjauhkan diri dan produknya dari
sikap sektarian
Selain informatif, hendaknya media Islam juga harus mempunyai peran edukasi.
“Awak media adalah mereka yang berada,
minimal, satu langkah lebih maju dari masyarakat pembacanya,” kata Herry
saat memaparkan materi dalam diskusi bertema, “Jurnalisme Islami dan
Tanggung Jawab Moral Wartawan Muslim” di kantor Media Hidayatullah,
Jakarta Timur, Rabu (25/03/2015) sore.
Karena itu, menurut Herry, fardhu ‘ain
bagi insan media Muslim untuk terus memperdalam dan memperkaya
ilmu-ilmu ke-Islamannya. Setiap berita dan artikel yang disiarkan,
hendaknya ada muatan edukasinya, agar masyarakat (pembacanya) mendapat
ilmu dari apa yang dibaca.
“Di situ letak tugas untuk amar ma’ruf nahi munkar,” ujar Herry.
Selain itu, kata Herry, media Islam harus bisa menjadi pemersatu umat dalam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Dan ketika media Islam produknya mampu
menjadi jembatan mempersatukan umat, maka pewarta Muslim hendak
menjauhkan diri dan produknya dari sikap sektarian sepanjang perbedaan
bersifat furu’ (ranting) dan diserahkan kepada internal umat agar persoalan tidak melebar dan memperkeruh suasana.
“Selanjutnya media Islam juga harus bisa menjadi pejuang dan pembela Islam,” ujar Herry.
Hal itu, menurut Herry bisa dilihat dari
produk-produknya yang terus menerus dalam mensyiarkan Islam, menegakkan
nilai-nilai Islam di tengah masyarakat dan mendorong umat agar
melaksanakan ‘Halal Lifestyle’ dalam berbagai bidang kehidupan.
hidayatullah
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
March 25, 2015
posted by @Adimin
Sumbar Kembali Berdayakan Fasilitator PNPM Perdesaan
Written By Sjam Deddy on 25 March, 2015 | March 25, 2015
Seiring dengan
berakhirnya kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),
kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan yang
telah berlangsung sejak tahun 2007 juga dihentikan. Namun, program
serupa tetap dilangsungkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui dana
desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi (Kemen Desa-PDTT).
“Untuk itu, pendamping atau fasilitator PNPM yang sudah berpengalaman
dan sempat menganggur selama tiga bulan di tahun 2015 karena sempat
ditiadakan, kita berdayakan kembali,” demikian kata Gubernur Sumatera
Barat (Sumbar) Irwan Prayitno usai membuka pertemuan pelaku PNPM Mandiri
Perdesaan di Hotel Grand Inna Muara, Padang, Senin (23/3).
Irwan menjelaskan fasilitator PNPM yang sempat menganggur akan mulai
bekerja pada April 2015, seiring turunnya kucuran dana desa. Di Sumbar
sendiri tercatat 880 nagari akan menerima dana desa dengan besaran
masing-masing 300 - 500 juta Rupiah, tergantung dari luas wilayah,
jumlah penduduk, dan kondisi pembangunan di nagari yang dimaksud.
“Bulan April dana desa yang bersumber dari APBN Perubahan 2015 akan
turun. Untuk itu, fasilitator PNPM Perdesaan akan kita jadikan
pendamping dana desa. Mereka terlebih dahulu menginventarisasi aset yang
telah terealisasi melalui kegiatan PNPM. Apakah berbentuk infrastruktur
atau kegiatan simpan pinjam. Selanjutnya, pendamping akan mengarahkan
penggunaan dana desa untuk kegiatan lanjutan,” paparnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM)
Sumbar, Syafrizal mengakui selama ini program PNPM Perdesaan dengan
total anggaran Rp1,8 triliun, ternyata mampu menurunkan angka kemiskinan
dan membuat masyarakat sejahtera, melalui pembangunan infrastruktur dan
mendorong kegiatan perekonomian.
“Untuk itu, kurang lebih 500 fasilitator PNPM Perdesaan dari 12
Kabupaten di Sumatera Barat sudah sepantasnya diberdayakan kembali untuk
menyerap aspirasi dari masyarakat dan diwujudkan dalam kegiatan yang
nyata,” kata Syafrizal.
Syafrizal menambahkan Gubernur Sumbar berharap agar seluruh elemen
PNPM dapat melaksanakan tugas, baik memberikan pendidikan maupun
membebaskan masyarakat dari kemiskinan, dengan cara cerdas meskipun
tidak mudah.
“Lakukan dengan cara cerdas meskipun tidak mudah, karena dengan
bersama-sama kita bisa menuntaskan segala permasalahan yang ada di
Sumatera Barat yang tercinta ini,” pungkasnya.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
March 23, 2015
3 Hal Penting yang Mesti Dilakukan Kawula Muda Masa Kini
Written By Sjam Deddy on 23 March, 2015 | March 23, 2015
Entah itu di masjid, di sekolah, di kampus atau dimana saja. Kita harus punya rasa haus yang tinggi akan ilmu
DI ERA media sosial seperti sekarang, handphone
seringkali menyita waktu. Di kawasan Depok, kalau kita mau perhatikan
perilaku remaja zaman sekarang, mereka yang ke sekolah dibonceng sepeda
motor oleh orang tuanya tak henti-henti menatap layar handphonenya.
Tangannya aktif ‘menari’ dengan kepala tunduk penuh ‘konsentrasi.’
Sementara itu, dikalangan mahasiswa juga
sama. Pernah suatu ketika sekelompok mahasiswi kumpul di sebuah kafe di
seputaran kampus di kawasan Pasar Minggu. Setelah basa-basi, ternyata
mereka bukannya bercengkrama, suasana sontak hening. Bukan karena mereka
sedang membaca sesuatu, tetapi masing-masing asyik menatap layar
handphonennya.
Kira-kira itulah pemandangan umum
kehidupan remaja kita di kota besar. Gak di motor, di kafe, di kendaraan
umum, bahkan kereta, mayoritas remaja kita asyik sekali dengan
gad-getnya. Mereka seperti sedang menemukan dirinya kala berinteraksi
dengan smartphone.
Padahal, sejumlah penelitian menyebutkan
bahwa terlalu lama bergad-get ria, remaja rentan terkena banyak masalah,
seperti susah tidur, kualitas konsentrasi yang menurun, sampai pada
perhatian yang salah dan sulit hidup teratur atau disiplin.
Mungkin inilah trend zaman. Tetapi
bagaimanapun kita ini Muslim yang memiliki orientasi hidup tak hanya
dunia, tetapi juga akhirat. Dalam konteks ini kita perlu meningkatkan
kualitas diri secara integral, jasmani-ruhani.
Oleh karena itu, gaul, sesuai zaman – sejauh tidak melanggar syariat – why not?
Boleh-boleh saja, asalkan wajar alias tidak berlebihan. Apalagi,
sebagai Muslim kita punya kewajiban penting yang mesti diasah setiap
hari. Seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian keilmuan dan memahami
shirah nabawiyah.
Membaca Al-Qur’an
Harus disadari, Muslim itu butuh membaca
Al-Qur’an. Bukan karena semata-mata perintah Allah Ta’ala dan keutamaan
pahalanya di akhirat. Tetapi juga dikarenakan Al-Qur’an ini sangat
penting dalam kehidupan kita.
Coba lihat perilaku remaja sekarang.
Sedikit masalah, curhat. Syukur kalau curhat sama orang yang tepat. Nah,
ini curhat di media sosial. Tak jarang loh, gara-gara curhat berujung
pada penyesalan.
Mengapa remaja sekarang mudah sekali
narsis dan curhat? Jawabannya mungkin bisa beragam. Namun satu di antara
hal yang pasti adalah, mereka belum membiasakan diri membaca Al-Qur’an
secara sungguh-sungguh.
Kalaulah mereka membaca Al-Qur’an dengan
sungguh-sungguh setiap hari, maka tidak perlu hati mereka galau, resah
apalagi sebentar-sebentar mau narsis. Mengapa? Ada ketenangan di dalam
batin mereka. Dan, ketenangan ini hanya akan diperoleh manakala kita
memang membaca dengan sungguh-sungguh. Bukan sekedar hatam, tetapi
meresapi maknanya.
Nah, kalau seharian, baca Al-Qur’an kita
tinggalin, lantas berharap kebahagiaan darimana? Sementara Al-Qur’an itu
adalah obat dan rahmat dari Allah Ta’ala. Mestinya, Al-Qur’an ini yang
paling sering kita lihat, ketimbang layar handphone. Jadi, mulailah
berpikir, utamanya bagaimana membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap
hari.
Sampai-sampai dalam satu kesempatan
taushiyahnya, seorang dai kondang di negeri ini pernah berkata, “Kalau
saja kita bisa menatap Al-Qur’an seperti kita menatap layar handphone
kita, black berry kita, saya jamin, satu tahun hafal Qur’an 30 juz.”
Mengakrabi Kajian Ilmu
Hal yang tidak kalah penting setelah
berusaha membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari adalah mengikuti
kajian keilmuan. Entah itu di masjid, di sekolah atau di kampus. Kita
harus punya rasa haus yang tinggi akan masalah ilmu ini.
Mengapa ada sebagian dari remaja
Muslim-Muslimah yang terjerembab pada budaya tidak sehat, satu sebab
utamanya adalah karena minim ilmu. Ketiadaan ilmu memang rentan menyeret
manusia pada kebinasaan.
Memang benar, di internet sudah tersedia
banyak artikel yang mengkaji beragam bahasan penting dalam Islam.
Tetapi, belajar dengan menghadiri majelis ilmu tidak sama dengan belajar
via internet. Selain ada keutamaan yang jauh lebih bernilai, majelis
keilmuan juga memperkenalkan kita dengan banyak orang, sehingga
memungkinkan terjalin silaturrahim yang menyelamatkan kita dari sisi
pergaulan yang salah.
Oleh karena itu, jangan malu apalagi
gengsi untuk pergi ke masjid mengikuti kajian keilmuan. Ingat, ilmu itu
penting bukan untuk siapa-siapa. Semua itu penting demi kehidupan kita
sendiri. Maka jangan sia-siakan hidup dengan tidak mencintai majelis
keilmuan.
Belajar Shirah Nabawiyah
Ada sebuah ungkapan menarik, “Islam memang
bersumber dari Qur’an dan Hadits. Tetapi keduanya akan semakin hidup
manakala kita juga memahami shirah nabawiyah. Sebab, bagaimana Qur’an
dan Hadits itu dimanivestasikan, shirah nabawiyah-lah yang
meneladankan.”
Dengan demikian, satu hal yang tidak boleh
terlewatkan dalam agenda harian kita adalah bagaimana memahami shirah
nabawi. Misalnya, kala nabi mendapat cemoohan dari orang lain, apakah
beliau membalasnya atau memaafkannya.
Kalau membaca ayat yang memerintahkan kita
untuk memaafkan, mungkin hati kita masih belum bisa menerima secara
utuh apa untungnya memaafkan kesalahan orang. Tetapi, kalau kita
lengkapi dengan mempelajari shirah nabawiyah, insya Allah hati kita akan
mantab memilih memaafkan. Jadi, pelajarilah shirah nabawiyah setiap
hari.
Sahabat, inilah tiga hal penting yang
mesti kita lakukan setiap hari. Rahasia kesuksesan kita ditentukan oleh
apa yang kita lakukan dalam keseharian kita. Dan, tidak pernah ada
soerang pun bisa melakukan sebuah kebaikan dan kemanfaatan tanpa latihan
setiap hari.
Jadi, demi masa depan dunia-akhirat kita, apalagi yang kita pikirkan untuk bersegera melatih diri melakukan tiga hal ini? Wallahu a’lam
Imam Nawawi (hidayatullah)
posted by @Adimin
Label:
EDITORIAL,
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN
March 22, 2015
posted by @Adimin
Irwan Prayitno Resmikan Jembatan Baru Sumbar, Jarak 30 KM Jadi 1 KM
Written By Anonymous on 22 March, 2015 | March 22, 2015

Pembangunan tiga jembatan di Kabupaten Padang Pariaman diharapkan mampu menghubungkan beberapa daerah di Kabupaten Padang Pariaman. Sehingga transportasi semakin mudah diakses yang berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat.
Demikian kata Bupati Pariaman, Ali Mukhni saat peresmian tiga jembatan yang dipusatkan di Desa Ampalu, Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan Tujuah Koto, Kabupaten Padang Pariaman. Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno pada Jumat (20/3). Ketiga jembatan tersebut antara lain Jembatan Batang Piaman Kabupaten Padang Pariaman, Jembatan Bukik Kandung Kabupaten Tanah Datar, dan Jembatan Subang-Subang Kabupaten Agam.
“Terima kasih banyak atas bantuan Pemerintah Provinsi atas pembangunan ini. Sebelum jembatan ini dibangun, masyarakat harus menempuh jalan memutar dengan jarak hampir 30 KM. Namun setelah jembatan ini ada, masyarakat hanya menempuh jalan 1 KM saja, dan itu juga akan menghemat waktu", terang Ali Mukhni.
Sementara itu, Pelaksana Kegiatan Indra Jaya melaporkan bahwa ketiga jembatan menggunakan dana APBD Sumbar tahun anggaran 2012, 2013, 2014, dan 2015 dengan masa pelaksanaan 812 hari kalender. "Sedangkan dana yang dikucurkan untuk ketiga jembatan ini adalah 25.086.947.300 Rupiah,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Irwan mengatakan bahwa sudah ada 18 jembatan yang telah dibangun dari APBD Sumbar. Empat diantaranya sudah diresmikan di Kabupaten Solok pada Rabu (11/3), sedangkan sisanya segera dituntaskan. Irwan pun menjelaskan tentang kendala yang selama ini ditemui dalam pembangunan jembatan.
“Ada dua faktor yang menjadi kendala. Pertama, masalah tanah yang tidak gampang untuk diselesaikan. Walaupun sebenarnya masyarakat ingin sekali mewujudkan pembangunan tersebut. Namun ketika tanah dipergunakan, ternyata tanah tersebut tanah ulayat. Sehingga memerlukan proses yang panjang dan memperlambat pembangunan,” jelas Irwan.
Sedangkan masalah yang kedua, lanjut Irwan, yaitu anggaran yang terbatas. Menurutnya, sudah dapat dipastikan apabila anggaran terbatas, maka pembangunan jembatan juga akan terbentur. "Namun pemerintah provinsi sudah mengambil kebijakan dengan pembangunan secara multi years atau bertahap,” terang Irwan.
Irwan juga menyampaikan bahwa masih ada jembatan yang akan menjadi prioritas untuk dibangun. "45 jembatan yang akan menjadi prioritas dan jumlah dananya itu tergantung pada ukuran jembatan yang akan dibangun pula,” ujarnya.[islamedia.co/pks]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 20, 2015
posted by @Adimin
Jazuli Juwaini: Jangan Budayakan Ghibah, Nasehati dengan Cara Yang Santun
Written By Anonymous on 20 March, 2015 | March 20, 2015
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah partai dakwah, jika keluar bisa bicara dengan indah, ke dalam harus bicara lebih indah lagi. "Jangan budayakan ghibah, jangan mengadili sesama kader di belakang layar, nasehati dengan cara yang santun," ujar Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini dalam Rapat Kerja FPKS se-Lampung (12/3) lalu di Grand Anugerah.
Jazuli menyampaikan bahwa meski banyak kalangan memprediksi PKS akan hilang dalam kancah perpolitikan di Indonesia, ternyata hingga saat ini PKS masih tetap eksis.
"Bahkan DPW Lampung harus diberi apresiasi karena anggota legislatif kita bertambah dari periode sebelumnya," lanjut legislator senior dari daerah pemilihan Banten ini.
Menurut Jazuli, beberapa hal yang menyebabkan PKS tetap eksis adalah pertolongan Allah SWT lewat ibadah-ibadah para kader yang terjaga.
"Rasa-rasanya tidak ada kader partai yang ibadahnya dievaluasi pekanan. Hanya PKS. Mulai sholat dhuha, ma’tsurat, tahajud, tilawah, dan ibadah lainnya. Menjaga keikhlasan dalam menjalankan ibadah juga penting," tegas Jazuli di hadapan anggota dewan PKS seLampung itu.
Jazuli mengingatkan jika kader PKS tidak pandai menjaga ruhiyah, niscaya kekuatannya akan lemah. "Itu sebabnya di DPRI RI, saya menggagas untuk menggelar rapat pleno fraksi PKS setiap Senin dan Kamis diakhiri buka puasa bersama misalnya dan membiasakan dzikir matsurat berjamaah," tambah Jazuli.
Faktor lainnya yang membuat PKS eksis adalah kejujuran dan kesanggupan seluruh kader untuk berkorban demi kepentingan dakwah.
"Maka insyaallah kemenangan dakwah akan menjadi milik kita," pungkasnya.(*)
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 20, 2015
posted by @Adimin
Pakai Nama Muhammad dan Ali di Bandara Dilarang, DPR Murka
Isu diskrimatif muncul di Indonesia, kali ini menyangkut nama Muhammad dan Ali yang identik dengan identitas seorang muslim. Perlakuan itu sendiri terjadi di autogate Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.
Perlakukan diskriminatif ini membuat Anggota Komisi III DPR RI, Aboe Bakar Alhabsy berang. Menurutnya, tindakan tersebut jelas-jelas adalah bentuk diskriminasi.
“Ini adalah bentuk diskriminasi. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi di Indonesia, apalagi Muhammad merupakan salah satu suku kata yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia,” kata dia saat dihubungi wartawan di Jakarta, seperti dilansir okezone.com, Kamis (19/3/2015).
Kebijakan pihak imigrasi tersebut, kata Aboe Bakar telah melukai para pengguna dua suku kata nama tersebut. Belum lagi, nama tersebut berhubungan langsung dengan pemeluk agama Islam.
“Selain itu diskriminasi ini juga melukai umat Islam, hal yang demikian sungguh menyakitkan, seolah muslim selalu dicurigai berhubungan dengan aktivitas terorisme,” tegasnya.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menegaskan bahwa Islamphobia yang terjadi di negara-negara Barat tidak perlu terjadi di Indonesia.
“Oleh karenanya Dirjen Imigrasi harus segera membenahi persoalan ini, sehingga jangan sampai ada diskriminasi. Apalagi kepada kelompok mayoritas di Indonesia,” pungkasnya.(*)
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 19, 2015
Harneli: Badoncek Lewat Medsos Bantu Bedah Rumah
Written By Anonymous on 19 March, 2015 | March 19, 2015

PADANG - Komunitas Media Sosial (Medsos) Peduli, kembali badoncek untuk membangun salah satu rumah yang jadi sasaran bedah rumah. Cara ini digagas dan sudah dilakukan, istri Walikota Padang, Ny. Harneli Mahyeldi sewaktu sang suami masih sebagai Wakil Walikota Padang.
Jika komunitas pengguna media sosial yang digerakkan Ketua TP PKK Kota Padang ini langsung tergerak berpartisipasi, maka rumah yang terletak di Jalan Jambu Ampang ini bakal segera dibedah.
”Kita berharap saudara kita yang menempati rumah tak layak huni ini bisa memiliki rumah yang layak dan memenuhi standar kesehatan,” harapnya.
Gayung bersambut, banyak pengguna medsos yang tergerak mengulurkan tangan. Baik melalui komentar di status yang diposting First Lady Kota Padang yang akrab disapa Ummi ini, maupun yanh mengontak langsung.
Pengguna medsos Facebook tersebut ada yang berdomisili di Kota Padang, namun tak sedikit yang berdiam di luar Padang.
Salah satu yang merespon dengan komentar yang menyentuh adalah Sastry Y Bakry, pejabat di Kementerian Dalam Negeri yang mengawali karir di Pemko Padang.
”Subhannallah, ummi tetap konsisten dan peduli untuk membangunkan rumah si miskin. Ternyata bukan di masa - masa kampanye saja. Saya juga akan berpartisipasi ummi. Kapan perlu ajaklah saya ke lokasi,” komentarnya. [singgalang]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 17, 2015
posted by @Adimin
Ini Cara Sumbar Antisipasi Lonjakan Harga Cabe
Written By Anonymous on 17 March, 2015 | March 17, 2015
PADANG (17/3) - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno menilai terjadinya inflasi di daerah bukan hanya karena mekanisme pasar, tetapi juga disebabkan oknum pedagang yang memainkan harga komoditi, terutama beras dan cabe.
“Dua komoditi ini seringkali langka di pasaran sehingga harga menjadi naik gila-gilaan, apalagi cabe. Padahal di daerah lain, harga cabe stabil, tetapi di Sumbar bisa melonjak drastis. Ada indikasi sejumlah pedagang memonopoli pasokan cabe dan menaikkan harga sesukanya di Sumbar,” kata Irwan di Padang, Senin (16/3).
Menurutnya, pemerintah harus melakukan intervensi agar tidak ada monopoli komoditi tertentu oleh pedagang.
“Monopoli ini membuat harga pasar untuk komoditi cabe hanya ditentukan oleh beberapa orang. Kita harus intervensi agar mereka tidak bisa semaunya,” ujar Irwan.
Saat ini, lanjut Irwan, Pemprov Sumbar sedang menyiapkan mekanisme dengan mengikutsertakan Perusahaan Daerah (Perusda) Andalas Tuah Sakato (ATS) untuk membantu mengendalikan harga beras dan cabe.
“ATS akan didorong bersaing dengan pedagang untuk membeli komoditi beras dan cabe langsung dari petani di Sumbar. Komoditi yang terkumpul itu nanti akan dijual langsung kepada masyarakat dengan harga yang pantas,” tutupnya. [http://irwan-prayitno.com]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN





