pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Wakil Ketua MPR RI, “HNW” Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan

Written By Anonymous on 27 March, 2015 | March 27, 2015




pkspadang.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Hidayat Nur Wahid serta anggota MPR RI, Hermanto bersama rombongan dari Komisi 8 DPR RI tengah melakukan reses ke Kota Padang. Dalam kunjungannya kali ini, dalam rangka mengisi beberapa agenda berupa peninjauan, sosialisasi serta menampung aspirasi bagi warga ranah minang.

Seperti dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, MPR RI yang bekerja sama dengan Keluarga Besar Mahasiswa Minangkabau (KBMM) disambut baik oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang, Nasir Ahmad selaku mewakili Walikota Padang. Kegiatan yang bertempat di Palanta Walikota Padang, Kamis (26/3) lalu ini juga dihadiri beberapa tokoh masyarakat, Organisasi masyarakat (Ormas) serta 250 orang anggota dan pengurus KBMM.

Dalam sambutannya, Nasir Ahmad menyampaikan, atas nama Pemerintah Kota (Pemko) Padang, sangat setuju dengan terus dilakukannya kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Bahwasanya menurut Sekda, empat pilar seperti, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD Dasar RI Tahun 1945 sebagai konstitusi Negara, NKRI sebagai bentuk Negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara wajib terus diperkuat demi kedaulatan berbangsa dan bernegara.

“Sosialisasi empat pilar ini sangat penting bagi masyarakat khususnya generasi muda seperti di lingkungan mahasiswa. Empat pilar ini menjadi simbol kebangsaan sejak masa orde baru, namun di era reformasi saat ini cenderung terabaikan. Untuk itu, wajib terus diperkuat, selaku dasar kekuatan bangsa Indonesia yang harus diimplementasikan secara konkrit,” ungkap Sekda.

Sementara itu, ketika diwawancarai, Hidayat nur Wahid menerangkan, kegiatan sosialisasi empat pilar ini, salah satu dari dua agenda resesnya bersama Komisi 8 DPR RI ke Kota Padang. Selain sosialisasi empat pilar, rombongan juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar). Pertemuan terkait meninjau kondisi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar. Dimana, Sumbar termasuk kategori daerah yang rawan bencananya cukup tinggi.

“Aspirasi dan usulan yang ada sewaktu reses ini, akan kami terima dan akan ditindak lanjuti sesampai di Jakarta,” imbuh Hidayat.

Seteah itu,lanjutnya, terkait kegiatan sosialisasi empat pilar, ia mengaku sangat mengapresiasi antusias dari para mahasiswa yang tergabung dalam KBMM. Sebagaimana, empat pilar kebangsaan merupakan hasil dari buah perjuangan keras para pahlawan demi mewujudkan cita-cita bangsa.

“Jadi, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka tungga ika memang tidak terlepas dari berbagai tantangan selaku prinsip bangsa dan bernegara. Ini, merupakan tugas penting dari beberapa rangkaian kegiatan yang dikerjakan MPR RI. Untuk itu, diharapkan masyarakat tidak hanya mengetahui ideologinya saja, namun sewajib mempertahankan eksistensi sampai kapanpun. Sehingga, bangsa Indonesia tidak mudah terpecah belah yang disebabkan berbagai pengaruh dan gangguan yang datang dari luar Indonesia,” sebut Hidayat. [humas pemko]


posted by @Adimin

Siapa Layak Menyandang Nama Ulama?


"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).

SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.

Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.

Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?

Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!

"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.

Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.

Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).

Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.

Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.

Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.

Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.

Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.

Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.

Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.

Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.

Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.

Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!

Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).

SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.

Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.

Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?

Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!

"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.

Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.

Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).

Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.

Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.

Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.

Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.

Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.

Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.

Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.

Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.

Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.

Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!

Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf



"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).

SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.


Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.


Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?


Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!


"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.


Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.


Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).


Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.


Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.


Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.


Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.

Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.


Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.


Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.


Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.

Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.


Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!


Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki.

 

"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).

SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.

Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.

Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?

Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!

"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.

Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.

Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).

Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.

Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.

Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.

Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.

Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.

Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.

Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.

Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.

Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.

Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!

Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf


posted by @Adimin

Selain Informatif, Media Islam Harus Punya Peran Edukasi

Written By Sjam Deddy on 26 March, 2015 | March 26, 2015


Dan ketika media Islam produknya mampu menjadi jembatan mempersatukan umat, maka pewarta Muslim hendak menjauhkan diri dan produknya dari sikap sektarian
 
Selain informatif, hendaknya media Islam juga harus mempunyai peran edukasi.
 
“Awak media adalah mereka yang berada, minimal, satu langkah lebih maju dari masyarakat pembacanya,” kata Herry saat memaparkan materi dalam diskusi bertema, “Jurnalisme Islami dan Tanggung Jawab Moral Wartawan Muslim” di kantor Media Hidayatullah, Jakarta Timur, Rabu (25/03/2015) sore.

Karena itu, menurut Herry, fardhu ‘ain bagi insan media Muslim untuk terus memperdalam dan memperkaya ilmu-ilmu ke-Islamannya. Setiap berita dan artikel yang disiarkan, hendaknya ada muatan edukasinya, agar masyarakat (pembacanya) mendapat ilmu dari apa yang dibaca.

“Di situ letak tugas untuk amar ma’ruf nahi munkar,” ujar Herry.

Selain itu, kata Herry, media Islam harus bisa menjadi pemersatu umat dalam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Dan ketika media Islam produknya mampu menjadi jembatan mempersatukan umat, maka pewarta Muslim hendak menjauhkan diri dan produknya dari sikap sektarian sepanjang perbedaan bersifat furu’ (ranting) dan diserahkan kepada internal umat agar persoalan tidak melebar dan memperkeruh suasana.

“Selanjutnya media Islam juga harus bisa menjadi pejuang dan pembela Islam,” ujar Herry.

Hal itu, menurut Herry bisa dilihat dari produk-produknya yang terus menerus dalam mensyiarkan Islam, menegakkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat dan mendorong umat agar melaksanakan ‘Halal Lifestyle’ dalam berbagai bidang kehidupan.

hidayatullah

posted by @Adimin

Sumbar Kembali Berdayakan Fasilitator PNPM Perdesaan

Written By Sjam Deddy on 25 March, 2015 | March 25, 2015


 

Seiring dengan berakhirnya kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan yang telah berlangsung sejak tahun 2007 juga dihentikan. Namun, program serupa tetap dilangsungkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui dana desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemen Desa-PDTT).

“Untuk itu, pendamping atau fasilitator PNPM yang sudah berpengalaman dan sempat menganggur selama tiga bulan di tahun 2015 karena sempat ditiadakan, kita berdayakan kembali,” demikian kata Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno usai membuka pertemuan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di Hotel Grand Inna Muara, Padang, Senin (23/3).

Irwan menjelaskan fasilitator PNPM yang sempat menganggur akan mulai bekerja pada April 2015, seiring turunnya kucuran dana desa. Di Sumbar sendiri tercatat 880 nagari akan menerima dana desa dengan besaran masing-masing 300 - 500 juta Rupiah, tergantung dari luas wilayah, jumlah penduduk, dan kondisi pembangunan di nagari yang dimaksud.

“Bulan April dana desa yang bersumber dari APBN Perubahan 2015 akan turun. Untuk itu, fasilitator PNPM Perdesaan akan kita jadikan pendamping dana desa. Mereka terlebih dahulu menginventarisasi aset yang telah terealisasi melalui kegiatan PNPM. Apakah berbentuk infrastruktur atau kegiatan simpan pinjam. Selanjutnya, pendamping akan mengarahkan penggunaan dana desa untuk kegiatan lanjutan,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Sumbar, Syafrizal mengakui selama ini program PNPM Perdesaan dengan total anggaran Rp1,8 triliun, ternyata mampu menurunkan angka kemiskinan dan membuat masyarakat sejahtera, melalui pembangunan infrastruktur dan mendorong kegiatan perekonomian.

“Untuk itu, kurang lebih 500 fasilitator PNPM Perdesaan dari 12 Kabupaten di Sumatera Barat sudah sepantasnya diberdayakan kembali untuk menyerap aspirasi dari masyarakat dan diwujudkan dalam kegiatan yang nyata,” kata Syafrizal.

Syafrizal menambahkan Gubernur Sumbar berharap agar seluruh elemen PNPM dapat melaksanakan tugas, baik memberikan pendidikan maupun membebaskan masyarakat dari kemiskinan, dengan cara cerdas meskipun tidak mudah.

“Lakukan dengan cara cerdas meskipun tidak mudah, karena dengan bersama-sama kita bisa menuntaskan segala permasalahan yang ada di Sumatera Barat yang tercinta ini,” pungkasnya.



posted by @Adimin

3 Hal Penting yang Mesti Dilakukan Kawula Muda Masa Kini

Written By Sjam Deddy on 23 March, 2015 | March 23, 2015

Entah itu di masjid, di sekolah, di kampus atau dimana saja. Kita harus punya rasa haus yang tinggi akan ilmu


DI ERA media sosial seperti sekarang, handphone seringkali menyita waktu. Di kawasan Depok, kalau kita mau perhatikan perilaku remaja zaman sekarang, mereka yang ke sekolah dibonceng sepeda motor oleh orang tuanya tak henti-henti menatap layar handphonenya. Tangannya aktif ‘menari’ dengan kepala tunduk penuh ‘konsentrasi.’

Sementara itu, dikalangan mahasiswa juga sama. Pernah suatu ketika sekelompok mahasiswi kumpul di sebuah kafe di seputaran kampus di kawasan Pasar Minggu. Setelah basa-basi, ternyata mereka bukannya bercengkrama, suasana sontak hening. Bukan karena mereka sedang membaca sesuatu, tetapi masing-masing asyik menatap layar handphonennya.

Kira-kira itulah pemandangan umum kehidupan remaja kita di kota besar. Gak di motor, di kafe, di kendaraan umum, bahkan kereta, mayoritas remaja kita asyik sekali dengan gad-getnya. Mereka seperti sedang menemukan dirinya kala berinteraksi dengan smartphone.

Padahal, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa terlalu lama bergad-get ria, remaja rentan terkena banyak masalah, seperti susah tidur, kualitas konsentrasi yang menurun, sampai pada perhatian yang salah dan sulit hidup teratur atau disiplin.

Mungkin inilah trend zaman. Tetapi bagaimanapun kita ini Muslim yang memiliki orientasi hidup tak hanya dunia, tetapi juga akhirat. Dalam konteks ini kita perlu meningkatkan kualitas diri secara integral, jasmani-ruhani.

Oleh karena itu, gaul, sesuai zaman – sejauh tidak melanggar syariat – why not? Boleh-boleh saja, asalkan wajar alias tidak berlebihan. Apalagi, sebagai Muslim kita punya kewajiban penting yang mesti diasah setiap hari. Seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian keilmuan dan memahami shirah nabawiyah.


Membaca Al-Qur’an

Harus disadari, Muslim itu butuh membaca Al-Qur’an. Bukan karena semata-mata perintah Allah Ta’ala dan keutamaan pahalanya di akhirat. Tetapi juga dikarenakan Al-Qur’an ini sangat penting dalam kehidupan kita.

Coba lihat perilaku remaja sekarang. Sedikit masalah, curhat. Syukur kalau curhat sama orang yang tepat. Nah, ini curhat di media sosial. Tak jarang loh, gara-gara curhat berujung pada penyesalan.

Mengapa remaja sekarang mudah sekali narsis dan curhat? Jawabannya mungkin bisa beragam. Namun satu di antara hal yang pasti adalah, mereka belum membiasakan diri membaca Al-Qur’an secara sungguh-sungguh.

Kalaulah mereka membaca Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh setiap hari, maka tidak perlu hati mereka galau, resah apalagi sebentar-sebentar mau narsis. Mengapa? Ada ketenangan di dalam batin mereka. Dan, ketenangan ini hanya akan diperoleh manakala kita memang membaca dengan sungguh-sungguh. Bukan sekedar hatam, tetapi meresapi maknanya.

Nah, kalau seharian, baca Al-Qur’an kita tinggalin, lantas berharap kebahagiaan darimana? Sementara Al-Qur’an itu adalah obat dan rahmat dari Allah Ta’ala. Mestinya, Al-Qur’an ini yang paling sering kita lihat, ketimbang layar handphone. Jadi, mulailah berpikir, utamanya bagaimana membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari.

Sampai-sampai dalam satu kesempatan taushiyahnya, seorang dai kondang di negeri ini pernah berkata, “Kalau saja kita bisa menatap Al-Qur’an seperti kita menatap layar handphone kita, black berry kita, saya jamin, satu tahun hafal Qur’an 30 juz.”


Mengakrabi Kajian Ilmu

Hal yang tidak kalah penting setelah berusaha membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari adalah mengikuti kajian keilmuan. Entah itu di masjid, di sekolah atau di kampus. Kita harus punya rasa haus yang tinggi akan masalah ilmu ini.

Mengapa ada sebagian dari remaja Muslim-Muslimah yang terjerembab pada budaya tidak sehat, satu sebab utamanya adalah karena minim ilmu. Ketiadaan ilmu memang rentan menyeret manusia pada kebinasaan.

Memang benar, di internet sudah tersedia banyak artikel yang mengkaji beragam bahasan penting dalam Islam. Tetapi, belajar dengan menghadiri majelis ilmu tidak sama dengan belajar via internet. Selain ada keutamaan yang jauh lebih bernilai, majelis keilmuan juga memperkenalkan kita dengan banyak orang, sehingga memungkinkan terjalin silaturrahim yang menyelamatkan kita dari sisi pergaulan yang salah.

Oleh karena itu, jangan malu apalagi gengsi untuk pergi ke masjid mengikuti kajian keilmuan. Ingat, ilmu itu penting bukan untuk siapa-siapa. Semua itu penting demi kehidupan kita sendiri. Maka jangan sia-siakan hidup dengan tidak mencintai majelis keilmuan.


Belajar Shirah Nabawiyah

Ada sebuah ungkapan menarik, “Islam memang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Tetapi keduanya akan semakin hidup manakala kita juga memahami shirah nabawiyah. Sebab, bagaimana Qur’an dan Hadits itu dimanivestasikan, shirah nabawiyah-lah yang meneladankan.”

Dengan demikian, satu hal yang tidak boleh terlewatkan dalam agenda harian kita adalah bagaimana memahami shirah nabawi. Misalnya, kala nabi mendapat cemoohan dari orang lain, apakah beliau membalasnya atau memaafkannya.

Kalau membaca ayat yang memerintahkan kita untuk memaafkan, mungkin hati kita masih belum bisa menerima secara utuh apa untungnya memaafkan kesalahan orang. Tetapi, kalau kita lengkapi dengan mempelajari shirah nabawiyah, insya Allah hati kita akan mantab memilih memaafkan. Jadi, pelajarilah shirah nabawiyah setiap hari.

Sahabat, inilah tiga hal penting yang mesti kita lakukan setiap hari. Rahasia kesuksesan kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan dalam keseharian kita. Dan, tidak pernah ada soerang pun bisa melakukan sebuah kebaikan dan kemanfaatan tanpa latihan setiap hari.
Jadi, demi masa depan dunia-akhirat kita, apalagi yang kita pikirkan untuk bersegera melatih diri melakukan tiga hal ini? Wallahu a’lam

Imam Nawawi (hidayatullah)

posted by @Adimin

Irwan Prayitno Resmikan Jembatan Baru Sumbar, Jarak 30 KM Jadi 1 KM

Written By Anonymous on 22 March, 2015 | March 22, 2015



Pembangunan tiga jembatan di Kabupaten Padang Pariaman diharapkan mampu menghubungkan beberapa daerah di Kabupaten Padang Pariaman. Sehingga transportasi semakin mudah diakses yang berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat.


Demikian kata Bupati Pariaman, Ali Mukhni saat peresmian tiga jembatan yang dipusatkan di Desa Ampalu, Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan Tujuah Koto, Kabupaten Padang Pariaman. Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno pada Jumat (20/3). Ketiga jembatan tersebut antara lain Jembatan Batang Piaman Kabupaten Padang Pariaman, Jembatan Bukik Kandung Kabupaten Tanah Datar, dan Jembatan Subang-Subang Kabupaten Agam.

“Terima kasih banyak atas bantuan Pemerintah Provinsi atas pembangunan ini. Sebelum jembatan ini dibangun, masyarakat harus menempuh jalan memutar dengan jarak hampir 30 KM. Namun setelah jembatan ini ada, masyarakat hanya menempuh jalan 1 KM saja, dan itu juga akan menghemat waktu", terang Ali Mukhni.

Sementara itu, Pelaksana Kegiatan Indra Jaya melaporkan bahwa ketiga jembatan menggunakan dana APBD Sumbar tahun anggaran 2012, 2013, 2014, dan 2015 dengan masa pelaksanaan 812 hari kalender. "Sedangkan dana yang dikucurkan untuk ketiga jembatan ini adalah 25.086.947.300 Rupiah,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Irwan mengatakan bahwa sudah ada 18 jembatan yang telah dibangun dari APBD Sumbar. Empat diantaranya sudah diresmikan di Kabupaten Solok pada Rabu (11/3), sedangkan sisanya segera dituntaskan. Irwan pun menjelaskan tentang kendala yang selama ini ditemui dalam pembangunan jembatan.

“Ada dua faktor yang menjadi kendala. Pertama, masalah tanah yang tidak gampang untuk diselesaikan. Walaupun sebenarnya masyarakat ingin sekali mewujudkan pembangunan tersebut. Namun ketika tanah dipergunakan, ternyata tanah tersebut tanah ulayat. Sehingga memerlukan proses yang panjang dan memperlambat pembangunan,” jelas Irwan.

Sedangkan masalah yang kedua, lanjut Irwan, yaitu anggaran yang terbatas. Menurutnya, sudah dapat dipastikan apabila anggaran terbatas, maka pembangunan jembatan juga akan terbentur. "Namun pemerintah provinsi sudah mengambil kebijakan dengan pembangunan secara multi years atau bertahap,” terang Irwan.

Irwan juga menyampaikan bahwa masih ada jembatan yang akan menjadi prioritas untuk dibangun. "45 jembatan yang akan menjadi prioritas dan jumlah dananya itu tergantung pada ukuran jembatan yang akan dibangun pula,” ujarnya.[islamedia.co/pks]



posted by @Adimin

Jazuli Juwaini: Jangan Budayakan Ghibah, Nasehati dengan Cara Yang Santun

Written By Anonymous on 20 March, 2015 | March 20, 2015



Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah partai dakwah, jika keluar bisa bicara dengan indah, ke dalam harus bicara lebih indah lagi. "Jangan budayakan ghibah, jangan mengadili sesama kader di belakang layar, nasehati dengan cara yang santun," ujar Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini dalam Rapat Kerja FPKS se-Lampung (12/3) lalu di Grand Anugerah.

Jazuli menyampaikan bahwa meski banyak kalangan memprediksi PKS akan hilang dalam kancah perpolitikan di Indonesia, ternyata hingga saat ini PKS masih tetap eksis. 

"Bahkan DPW Lampung harus diberi apresiasi karena anggota legislatif kita bertambah dari periode sebelumnya," lanjut legislator senior dari daerah pemilihan Banten ini.

Menurut Jazuli, beberapa hal yang menyebabkan PKS tetap eksis adalah pertolongan Allah SWT lewat ibadah-ibadah para kader yang terjaga. 

"Rasa-rasanya tidak ada kader partai yang ibadahnya dievaluasi pekanan. Hanya PKS. Mulai sholat dhuha, ma’tsurat, tahajud, tilawah, dan ibadah lainnya. Menjaga keikhlasan dalam menjalankan ibadah juga penting," tegas Jazuli di hadapan anggota dewan PKS seLampung itu.

Jazuli mengingatkan jika kader PKS tidak pandai menjaga ruhiyah, niscaya kekuatannya akan lemah. "Itu sebabnya di DPRI RI, saya menggagas untuk menggelar rapat pleno fraksi PKS setiap Senin dan Kamis diakhiri buka puasa bersama misalnya dan membiasakan dzikir matsurat berjamaah," tambah Jazuli.

Faktor lainnya yang membuat PKS eksis adalah kejujuran dan kesanggupan seluruh kader untuk berkorban demi kepentingan dakwah. 

"Maka insyaallah kemenangan dakwah akan menjadi milik kita," pungkasnya.(*)

posted by @Adimin

Pakai Nama Muhammad dan Ali di Bandara Dilarang, DPR Murka


Isu diskrimatif muncul di Indonesia, kali ini menyangkut nama Muhammad dan Ali yang identik dengan identitas seorang muslim. Perlakuan itu sendiri terjadi di autogate Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Perlakukan diskriminatif ini membuat Anggota Komisi III DPR RI, Aboe Bakar Alhabsy berang. Menurutnya, tindakan tersebut jelas-jelas adalah bentuk diskriminasi.

“Ini adalah bentuk diskriminasi. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi di Indonesia, apalagi Muhammad merupakan salah satu suku kata yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia,” kata dia saat dihubungi wartawan di Jakarta, seperti dilansir okezone.com, Kamis (19/3/2015).

Kebijakan pihak imigrasi tersebut, kata Aboe Bakar telah melukai para pengguna dua suku kata nama tersebut. Belum lagi, nama tersebut berhubungan langsung dengan pemeluk agama Islam.

“Selain itu diskriminasi ini juga melukai umat Islam, hal yang demikian sungguh menyakitkan, seolah muslim selalu dicurigai berhubungan dengan aktivitas terorisme,” tegasnya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menegaskan bahwa Islamphobia yang terjadi di negara-negara Barat tidak perlu terjadi di Indonesia.

“Oleh karenanya Dirjen Imigrasi harus segera membenahi persoalan ini, sehingga jangan sampai ada diskriminasi. Apalagi kepada kelompok mayoritas di Indonesia,” pungkasnya.(*)

posted by @Adimin

Harneli: Badoncek Lewat Medsos Bantu Bedah Rumah

Written By Anonymous on 19 March, 2015 | March 19, 2015


PADANG - Komunitas Media Sosial (Medsos) Peduli, kembali badoncek untuk membangun salah satu rumah yang jadi sasaran bedah rumah. Cara ini digagas dan sudah dilakukan, istri Walikota Padang, Ny. Harneli Mahyeldi sewaktu sang suami masih sebagai Wakil Walikota Padang.

Jika komunitas pengguna media sosial yang digerakkan Ketua TP PKK Kota Padang ini langsung tergerak berpartisipasi, maka rumah yang terletak di Jalan Jambu Ampang ini bakal segera dibedah.

”Kita berharap saudara kita yang menempati rumah tak layak huni ini bisa memiliki rumah yang layak dan memenuhi standar kesehatan,” harapnya.

Gayung bersambut, banyak pengguna medsos yang tergerak mengulurkan tangan. Baik melalui komentar di status yang diposting First Lady Kota Padang yang akrab disapa Ummi ini, maupun yanh mengontak langsung.

Pengguna medsos Facebook tersebut ada yang berdomisili di Kota Padang, namun tak sedikit yang berdiam di luar Padang.

Salah satu yang merespon dengan komentar yang menyentuh adalah Sastry Y Bakry, pejabat di Kementerian Dalam Negeri yang mengawali karir di Pemko Padang.

”Subhannallah, ummi tetap konsisten dan peduli untuk membangunkan rumah si miskin. Ternyata bukan di masa - masa kampanye saja. Saya juga akan berpartisipasi ummi. Kapan perlu ajaklah saya ke lokasi,” komentarnya. [singgalang]


posted by @Adimin

Ini Cara Sumbar Antisipasi Lonjakan Harga Cabe

Written By Anonymous on 17 March, 2015 | March 17, 2015


PADANG (17/3) - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno menilai terjadinya inflasi di daerah bukan hanya karena mekanisme pasar, tetapi juga disebabkan oknum pedagang yang memainkan harga komoditi, terutama beras dan cabe.

“Dua komoditi ini seringkali langka di pasaran sehingga harga menjadi naik gila-gilaan, apalagi cabe. Padahal di daerah lain, harga cabe stabil, tetapi di Sumbar bisa melonjak drastis. Ada indikasi sejumlah pedagang memonopoli pasokan cabe dan menaikkan harga sesukanya di Sumbar,” kata Irwan di Padang, Senin (16/3).

Menurutnya, pemerintah harus melakukan intervensi agar tidak ada monopoli komoditi tertentu oleh pedagang.

“Monopoli ini membuat harga pasar untuk komoditi cabe hanya ditentukan oleh beberapa orang. Kita harus intervensi agar mereka tidak bisa semaunya,” ujar Irwan.

Saat ini, lanjut Irwan, Pemprov Sumbar sedang menyiapkan mekanisme dengan mengikutsertakan Perusahaan Daerah (Perusda) Andalas Tuah Sakato (ATS) untuk membantu mengendalikan harga beras dan cabe.

“ATS akan didorong bersaing dengan pedagang untuk membeli komoditi beras dan cabe langsung dari petani di Sumbar. Komoditi yang terkumpul itu nanti akan dijual langsung kepada masyarakat dengan harga yang pantas,” tutupnya. [http://irwan-prayitno.com]


posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger