Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
March 29, 2015
Akademisi: Pemira PKS, Teladan Demokratisasi Internal Parpol
Written By Anonymous on 29 March, 2015 | March 29, 2015
JAKARTA (29/3) - Fenomena pemilihan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui mekanisme pemilihan raya laiknya pemilu adalah potret bagaimana nilai dan praktek demokrasi tengah diaktualisasi dan dikembangkan oleh sebuah partai modern.
“Apa yang dilakukan PKS ini dapat disebut sebagai best practice demokratisasi internal parpol yang layak menjadi teladan bagi parpol-parpol lain,” ujar Ketua Jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (FISIP Unila) Dr. Dedy Hermawan (26/3).
Menurut dosen Ilmu Administrasi Negara ini, partai politik (parpol) merupakan pilar penting demokrasi. “Untuk itu menjadi mendesak untuk mengaktualisasikan dan menumbuhkembangkan nilai dan praktek demokrasi di internal parpol,” ujar Dedy.
Ia menegaskan bahwa parpol baru bisa disebut demokratis ketika tradisi taat hukum, melakukan musyawarah mufakat, memperluas partisipasi dalam pembuatan keputusan seperti dalam suksesi kepemimpinan telah melembaga didalamnya.
“Dan laku demokratis tersebut dihidangkan dengan sangat baik oleh PKS, baik melalui pemilihan anggota majelis syuro maupun pemira-pemira lain yang sepengetahuan kami selalu melibatkan aspirasi kader akar rumput,” tambahnya.
Menurut Dedy, publik tentu berharap teladan PKS ini dapat diikuti oleh parpol lainnya, sehingga dapat terwujud demokrasi yang lebih bermakna karena ditopang oleh parpol yang kuat dan sehat demokrasinya.
Seperti diberitakan, PKS menyelenggarakan Pemilihan Raya (Pemira) Anggota Majelis Syuro (MS) Masa Khidmah 1436-1441 H (2015-2020 M) serentak di 34 provinsi seluruh Indonesia, Ahad (29/3/15).
Sumber: http://www.dakwatuna.com
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
March 29, 2015
posted by @Adimin
Pemilih Pemira PKS di Luar Negeri Pakai Sistem Online
JAKARTA (29/3) - Pemilihan Raya (Pemira) Anggota Majelis Syura (MS) Partai Keadilan Sejahtera Masa Khidmah 2015-2020 tidak hanya diselenggarakan di 34 provinsi se-Indonesia, melainkan juga di 22 negara. Berbeda dengan di Indonesia, mekanisme Pemira di luar negeri (LN) berjalan unik, yaitu menggunakan sistem online.
Hal ini disampaian Ketua Badan Hubungan Luar Negeri (BHLN) Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS, Taufik Ramlan Wijaya saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (28/3) malam. Taufik mengungkapkan perbedaan mekanisme pemilihan disebabkan jumlah kader dan kantor resmi PKS di luar negeri (Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera/PIP PKS) belum tersebar merata.
"Kalau di Indonesia setiap kota/kabupaten ada kantor resmi PKS. Sehingga kader yang punya hak suara mendatangi masing-masing DPD (Dewan Pengurus Daerah) sebagai TPS (Tempat Pemungutan Suara). Tetapi kalau di luar negeri masing-masing daerah belum tentu ada DPD. Oleh karena itu, sudah diputuskan menggunakan perangkat teknologi informasi atau sistem online," ungkapnya.
Sistem online dalam Pemira MS di luar negeri, lanjut Taufik, berupa suatu website tertentu yang harus dikunjungi oleh kader PKS pemilik hak suara. Ia menjelaskan waktu pemilihan di LN menyesuaikan di Indonesia yaitu pukul 8.00 - 16.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Sedangkan durasi akses website Pemira diperkirakan tidak lebih dari 3 menit.
"Bisa dikatakan pemilih di LN memiliki rentang waktu yang cukup lama untuk menggunakan hak suaranya melalui website. Jadi kalau ada kendala koneksi internet, Insya Allah dapat diatasi dalam rentang waktu yang cukup panjang itu," tuturnya.
Taufik mengungkapkan diantara 22 negara di luar Indonesia yang juga menyelenggarakan Pemira Anggota MS antara lain Amerika Serikat, Australia, Jepang, Taiwan, Malaysia, dan lain-lain. Meskipun mengunakan sistem online, suara kader PKS di LN akan dimasukkan kedalam Dapil DKI Jakarta.
"Untuk di luar negeri mengikuti daerah pemilihan Jakarta. Tidak ada dapil tersendiri. Ini sudah keputusan BPPR (Badan Pelaksana Pemilihan Raya). Sehingga formatnya sama seperti di Indonesia. Ada 25 calon dengan nomor urut 1-25 dan sudah dikirimkan data profil para Calon MS sesuai ketetapan," kata Taufik.
Dengan mekanisme yang berbeda, Taufik berharap para kader PKS di LN dapat lebih mudah dan tetap semangat untuk berpartisipasi dalam pemilihan raya. Ia mengimbau para kader PKS di LN menggunakan hak suara dengan sebaik-baiknya.
"Mari luangkan waktu sejenak untuk memberikan suara kepada calon-calon Anggota MS PKS yang telah ditetapkan. Mohon diingat, bahwa kuota MS untuk di LN ialah 5 orang sama seperti di Jakarta. Pelajari profil-profilnya dengan cermat. Pilihlah calon yang dapat memberikan kontribusi terbaiknya," pesan Taufik.
Pemira Anggota MS PKS Masa Khidmah 2015-2020 (1436-1441 H) merupakan suatu mekanisme pemilihan anggota lembaga tertinggi dalam struktur PKS. MS bertugas merumuskan, mengubah, dan menetapkan AD-ART, platform, maupun kebijakan-kebijakan strategis partai lainnya. Pemira MS dilaksanakan serentak pada Ahad, 29 Maret 2015 di 34 provinsi seluruh Indonesia serta 22 negara lainnya. [pks.id]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
March 29, 2015
HNW Tausiyah Saat Shalat Jenazah Olga Syahputra
JAKARTA (28/3) – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menyampaikan tausiyah saat pelaksanaan Shalat Jenazah Almarhum Olga Syahputra di Masjid Nurul Islam, Jakarta Timur, Sabtu (28/3).
Sementara itu tokoh masyarakat, Habib Selon bertindak sebagai imam. Sebagaimana diketahui, Komedian Olga Syahputra meninggal dunia pada Jumat (27/3/2015) di Singapura. Jenazah Olga tiba di rumah duka, kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, pada pukul 09.55 WIB.
Jenazah dimandikan di rumah duka lalu dishalatkan di masjid terdekat. Tampak ribuan pentakziyah mengantarkan Olga dari rumah duka menuju masjid, termasuk sejumlah ulama serta tokoh juga turut menshalati Olga. [pks.id]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 29, 2015
posted by @Adimin
Gubernur Sumbar Ikuti Pemira Anggota Majelis Syuro PKS

pkspadang.com - Hari ini ahad (29/3) seluruh kader PKS di seluruh Indonesia mengikuti pemilihan raya anggota majelis syuro PKS periode 2015-2020.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno juga turut serta mengikuti pemilihan anggota majelis syuro PKS. Irwan yang datang dengan memakai kaos bersahaja tiba di DPD PKS Padang di jalan kis mangunsarkoro sekitar pukul 07:45 wib pagi.
Didampingi ketua DPD PKS Padang Muhidi dan waketum Arwim El Ibrahimi, Irwan langsung naik ke lantai dua, guna mengikuti rangkaian pemilihan yang telah di siapkan oleh panitia. Irwan juga menjadi orang pertama saat memilih dan sekaligus sebagai tanda dibukanya gelaran pemilihan raya anggota majelis syuro PKS di Padang.
Irwan Prayitno adalah salah satu calon yang masuk dalam daftar anggota majelis syuro PKS periode 2015-2020 mewakili provinsi sumatera barat.
Semoga dengan adanya pemira ini, menjadikan partai dakwah ini menjadi lebih solid, lebih berdaya dan lebih dirasakan manfaatnya untuk Islam dan ummat.
Semoga dengan adanya pemira ini, menjadikan partai dakwah ini menjadi lebih solid, lebih berdaya dan lebih dirasakan manfaatnya untuk Islam dan ummat.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 28, 2015
posted by @Adimin
PKS Yakin Tak Pecah Jelang Pemira
Written By Anonymous on 28 March, 2015 | March 28, 2015
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yakin internalnya tidak akan pecah menjelang Pemilu Raya (Pemira) dalam menentukan nahkoda barunya. Dalam waktu dekat, Pemira tersebut akan memilih 9 anggota Majelis Syuro periode 2015-2020, yang salah satu tugas Majelis Syuro adalah menentukan siapa calon Presiden PKS selanjutnya.
"Kami berkeyakinan tidak akan pecah, yakin kami solid karena kami terikat satu sama lain," kata Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini di ruangan kerjanya, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (26/3/2015) seperti dilansir liputan6.com.
Anggota Komisi III ini menuturkan, keyakinan tersebut didasarkan karena semua kader PKS baik di pusat maupun di daerah berhak memilih calon anggota Majelis Syuro yang dianggap berkompeten. Karena itu, semua kader terutama di daerah bisa menyalurkan aspirasinya siapa calon terbaik yang harus memegang komando PKS ke depannya.
"Pemira dilakukan serentak di masing-masing provinsi dengan masing-masing jumlah kader. Jelas ada panitianya juga. Kan yang dipilih dari kader dan oleh kader juga," tutur dia.
Syarat bagi calon anggota Majelis Syuro yang nantinya memilih calon Presiden PKS, Jazuli mengungkapkan asal yang bersangkutan kader PKS yang aktif dan terdaftar.
"Yang penting dia kader PKS, masa iya kader mau milih yang bukan kader. Yang pasti kader PKS kan akan memilih kader terbaiknya untuk menjadi Majelis Syuro," ucap Jazuli.
Tak Punya Uang
Selain itu, Jazuli mengatakan, keyakinannya akan kesolidan PKS karena partainya tak memiliki cukup banyak uang untuk membuat rusuh dan memecah belah partai.
"Insya Allah tidak akan terjadi (perpecahan) di PKS. PKS tidak punya banyak uang untuk bikin rusuh," kata dia.
Sekali lagi ia menegaskan, PKS sangat menjauhi perpecahan internal. Maka dari itu, Jazuli berujar, PKS selalu mengajarkan kepada seluruh kadernya bahwa jabatan itu bukan kenikmatan, melainkan amanah.
"PKS itu suatu amanah yang harus dikerjakan, bukan suatu kehormatan. Insya Allah konflik PKS tidak akan memperdebatkan itu," tandas Jazuli Juwaini.(*)
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 28, 2015
PKS Siap Gelar Pemilihan Raya Majelis Syuro 2015-2020
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan menyelenggarakan pemilihan raya (Pemira) anggota Majelis Syuro (MS) Masa Khidmah 1436-1441 H (2015-2020 M) serentak di 34 kabupaten/kota seluruh Indonesia, Ahad (29/3) mendatang. Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Pelaksana Pemilu Raya (BPPR) TB Soemandjaya Rukmandis, di Jakarta (26/3).
Soenmandjaya menjelaskan, sebagai lembaga tertinggi dalam struktur kepengurusan PKS, menjadi Bakal Calon (Balon) MS harus memenuhi syarat-syarat tertentu dalam keanggotaannya. “Balon Anggota MS harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam AD-ART partai. Diantaranya sudah menjadi Anggota Ahli tidak kurang dari 7 tahun, berusia paling sedikit 30 tahun, berpengalaman sebagai pengurus paling rendah pada struktur partai tingkat provinsi, amanah, disiplin, juga profesional, serta berwawasan keagamaan, kebangsaan, dan kenegaraan,” papar pria yang akrab disapa Kang Soenman ini.
Meskipun memiliki syarat-syarat tertentu, lanjut Kang Soenman, keanggotaan MS PKS tidak sesulit yang diperkirakan masyarakat. PKS sudah mengatur dengan jelas proses dan tahapan yang harus dilalui anggota dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahuinya.
“Tidak sulit seperti yang dibayangkan. Dalam hal ini anggota terbina atau angkatan muda memang belum dilibatkan. Namun, sudah ketentuan partai apabila Balon MS sudah menjadi Anggota Ahli selama 7 tahun, berarti dalam Pemira 2015 ini sudah sejak 28 Februari 2008. Di AD-ART partai yang terpublikasikan pun sudah dicantumkan bagaimana proses naik tingkat keanggotaan melalui pendidikan dan pembinaan,” lanjut kang Soenman.
Kang Soenman menambahkan, anggota MS terpilih akan mengemban amanah yang tidak ringan. Selain berwenang mengubah dan menetapkan AD-ART, anggota MS juga berwenang menetapkan falsafah dasar dan platform pembangunan partai.
"Anggota MS juga wajib memegang teguh sumpah setia untuk mengabdi kepada agama dan bangsa," tambah Ketua Fraksi PKS MPR RI ini.
Terkait keterwakilan perempuan dalam Pemira MS PKS, legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Barat V ini menegaskan, bahwa panitia tidak membatasi siapapun Anggota Ahli untuk berpartisipasi. Pemenuhan 30 persen anggota perempuan, menurutnya, tergantung pada pemilih dalam Pemira mendatang.
“Partisipasi perempuan dalam Pemira MS sangat terbuka, meski tetap tergantung persebaran suara dan para pemilih. Andai dari hasil Pemira belum terpenuhi 30 persen, maka masih terbuka kemungkinan penambahan anggota dari hasil musyawarah Majelis Syuro,” ujarnya.
Lebih lanjut Kang Soenman menambahkan, pemilihan anggota MS dalam PKS dapat dibilang berbeda dengan partai politik lainnya. Kondisi ini pula yang menjadikan isu perpecahan dalam suksesi kepemimpinan PKS jarang terdengar. Menurutnya, Pemira PKS dilangsungkan secara terbuka, objektif, dan mendahulukan musyawarah mufakat.
“Di PKS, amanah ini sebagai bentuk ibadah, mengabdi kepada agama dan bangsa untuk meraih ridha Allah SWT. Sehingga tidak dipenuhi dengan ambisi perseorangan. Selain itu, penyelenggaraan Pemira ini pun kami publikasikan ke masyarakat. Sifatnya terbuka, semua orang tahu karena diekspos di media. Meskipun berpartisipasi dalam Pemira merupakan hak anggota, namun muatannya wajib memilih dan tidak boleh abstain,” jelasnya.
Seluruh kader PKS, masih kata Kang Soenman, diharapkan ikut menjaga ketertiban serta menyukseskan penyelenggaraan Pemira MS. yang hasilnya akan diumumkan pada 24 April 2015. Soemandjaya juga mengingatkan, dalam Pemira tidak boleh ada kampanye dalam bentuk apapun. Kader hanya boleh menyebarkan ke khalayak luas bahwa PKS menyelenggarakan Pemira Anggota Majelis Syura periode 2015-2020.
"Kami mohon doa restu seluruh elemen bangsa agar pelaksanaan Pemira dapat berjalan lancar dan menghasilkan kepemimpinan yang amanah dan selalu siap membawa kebaikan bagi Indonesia,” pungkasnya.
Perlu diketahui, BPPR merupakan sebuah badan yang dibentuk oleh Anggota MS PKS untuk mengadakan penyaringan anggota baru melalui Pemira yang diselenggarakan serentak oleh pengurus PKS se-Indonesia, pada Ahad 29 Maret 2015 mendatang.(*)
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 28, 2015
posted by @Adimin
PKS Himbau Polwan Tak Ragu Berjilbab
Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Almuzzammil Yusuf mengapresiasi Plt Kapolri Badrodin Haiti yang secara resmi telah mengeluarkan Keputusan tentang membolehkan penggunaan jilbab bagi Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia.
"Alhamdulillah, akhirnya peraturan resmi Polwan berjilbab keluar. Fraksi PKS sangat mengapresiasi langkah Plt Kapolri Pak Badrodin Haiti yang telah resmikan jilbab Polwan," kata Almuzzammil Yusuf di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (25/3/2015) seperti dilansir harianterbit.com.
Menurut Muzzammil ini merupakan perjuangan semua pihak, termasuk mantan Kapolri, Jenderal (Purn) Sutarman dan Timur Pradopo dengan jajarannya dan fraksi-fraksi di Komisi III DPR RI yang sudah membahas dan mengesahkan anggaran jilbab Polwan dalam APBN 2015.
"Dan ini juga perjuangan para tokoh, ormas Islam, dan masyarakat yang menyampaikan aspirasinya melalui berbagai media masa dan media sosial," ujar anggota Komisi III DPR RI ini.
Surat keputusan itu, kata Muzzammil, merupakan kabar gembira bagi umat Islam, terutama Polwan yang ingin berjilbab.
"Ini kegembiraan kita semua. Saya mengajak kepada para Polwan yang Muslimah, ayo jangan ragu kenakan jilbab," ungkapnya. [pksnongsa]
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 27, 2015
posted by @Adimin
Pengelolaan PAD Padang Disigi Kota Surakarta
Written By Anonymous on 27 March, 2015 | March 27, 2015

PADANG - Meski Kota Surakarta memiliki Pendapat Asli Daerah (PAD) mencapai angka triliunan rupiah, akan tetapi daerah yang terletak di Jawa Tengah itu masih “belajar” tatacara pengelolaan PAD ke Pemerintah Kota Padang. Kamis (26/3) kemarin, sebanyak 11 rombongan dari Komisi III DPRD Kota Surakarta berkunjung ke Pemko Padang yang disambut langsung Asisten I Pemerintahan, Wedistar, Asisten III Administrasi, Corri Saidan dan Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Muhidi, di ruang Bagindo Aziz Chan Kantor Balaikota Padang.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Surakarta, Sugeng Riyanto menyebut, salahsatu tujuan kedatangan rombongan ke Padang yakni untuk mencoba menggali dan mempelajari penerapan PAD Kota Padang. “Padang merupakan kota yang cukup menarik, terutama di segi pariwisata serta sisi pengelolaan PAD,” katanya.
Dalam diskusi yang dilakukan, cukup banyak strategi serta cara peningkatan PAD yang disampaikan Asisten I, Asisten III serta sejumlah kepala SKPD yang hadir di kesempatan itu. “Tadi cukup banyak strategi dan cara peningkatan PAD yang didapat. Misalkan tentang pelaksanaan pemungutan pajak daerah secara online. “Di Surakarta belum kami terapkan, di sini (Padang) ternyata sudah diterapkan. Ini sesuatu yang baru dan harapan kami ke depan bisa diterapkan di Surakarta sendiri,” papar Sugeng.
Selain belajar tentang pemerintahan, Sugeng mengaku tujuan mereka ke Padang yakni untuk melihat pembangunan Padang terutama pascagempa besar berkekuatan 7,9 SR pada 2009 silam. “Kami juga ingin melihat bagaimana pembangunan Padang terutama setelah dilanda gempa lalu,” timpalnya.
“Padang juga punya legenda Malin Kundang dan Siti Nurbaya yang sudah tersohor. Sejak kecil saya juga sudah mendengarkan lagu ‘Teluk Bayur’. Ini yang membuat kami ingin ke Padang,” aku Sugeng.
Sementara, Asisten I Pemerintahan, Wedistar menyambut hangat kedatangan rombongan Komisi III DPRD Kota Surakarta. Menurutnya, dengan kedatangan rombongan tersebut akan semakin mempererat tali silaturahim kedua daerah. “Semoga dengan kunjungan ini akan bermanfaat bagi Kota Surakarta dan mempererat tali silaturahim,” kata Asisten I.
Asisten I juga sempat bertanya kepada rombongan dari DPRD Kota Surakarta tentang kiat bagaimana cara kota tersebut mampu meraih prediket Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam segi pelaporan keuangan selama lima kali berturut-turut. “Datang langsung ke Surakarta, nanti akan kami jelaskan kiatnya,” kata Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Surakarta, Sugeng Riyanto sambil berseloroh.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Muhidi melihat kedatangan DPRD Kota Surakarta ke Pemko Padang merupakan hal positif yang tentunya suatu kebanggaan tersendiri bagi Kota Padang karena dipilih sebagai tempat studi banding atau kunjungan kerja. “Dalam dialog tadi kita melihat sendiri bagaimana usaha maksimal Kota Padang dalam meningkatkan PAD dan pelayanan kepada masyarakat dengan sistem online,” beber wakil rakyat dari partai PKS ini.
Muhidi menilai, selama ini usaha dan kerjasama antara Pemko dengan DPRD Padang dalam menggali potensi daerah untuk PAD cukup baik. “Saya rasa ini suatu yang sangat bagus dan tentunya ini tidak berhenti sampai di sini,” tutupnya. [humas pemko padang ]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 27, 2015
posted by @Adimin
Wakil Ketua MPR RI, “HNW” Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan

pkspadang.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Hidayat Nur Wahid serta anggota MPR RI, Hermanto bersama rombongan dari Komisi 8 DPR RI tengah melakukan reses ke Kota Padang. Dalam kunjungannya kali ini, dalam rangka mengisi beberapa agenda berupa peninjauan, sosialisasi serta menampung aspirasi bagi warga ranah minang.
Seperti dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, MPR RI yang bekerja sama dengan Keluarga Besar Mahasiswa Minangkabau (KBMM) disambut baik oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang, Nasir Ahmad selaku mewakili Walikota Padang. Kegiatan yang bertempat di Palanta Walikota Padang, Kamis (26/3) lalu ini juga dihadiri beberapa tokoh masyarakat, Organisasi masyarakat (Ormas) serta 250 orang anggota dan pengurus KBMM.
Dalam sambutannya, Nasir Ahmad menyampaikan, atas nama Pemerintah Kota (Pemko) Padang, sangat setuju dengan terus dilakukannya kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Bahwasanya menurut Sekda, empat pilar seperti, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD Dasar RI Tahun 1945 sebagai konstitusi Negara, NKRI sebagai bentuk Negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara wajib terus diperkuat demi kedaulatan berbangsa dan bernegara.
“Sosialisasi empat pilar ini sangat penting bagi masyarakat khususnya generasi muda seperti di lingkungan mahasiswa. Empat pilar ini menjadi simbol kebangsaan sejak masa orde baru, namun di era reformasi saat ini cenderung terabaikan. Untuk itu, wajib terus diperkuat, selaku dasar kekuatan bangsa Indonesia yang harus diimplementasikan secara konkrit,” ungkap Sekda.
Sementara itu, ketika diwawancarai, Hidayat nur Wahid menerangkan, kegiatan sosialisasi empat pilar ini, salah satu dari dua agenda resesnya bersama Komisi 8 DPR RI ke Kota Padang. Selain sosialisasi empat pilar, rombongan juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar). Pertemuan terkait meninjau kondisi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar. Dimana, Sumbar termasuk kategori daerah yang rawan bencananya cukup tinggi.
“Aspirasi dan usulan yang ada sewaktu reses ini, akan kami terima dan akan ditindak lanjuti sesampai di Jakarta,” imbuh Hidayat.
Seteah itu,lanjutnya, terkait kegiatan sosialisasi empat pilar, ia mengaku sangat mengapresiasi antusias dari para mahasiswa yang tergabung dalam KBMM. Sebagaimana, empat pilar kebangsaan merupakan hasil dari buah perjuangan keras para pahlawan demi mewujudkan cita-cita bangsa.
“Jadi, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka tungga ika memang tidak terlepas dari berbagai tantangan selaku prinsip bangsa dan bernegara. Ini, merupakan tugas penting dari beberapa rangkaian kegiatan yang dikerjakan MPR RI. Untuk itu, diharapkan masyarakat tidak hanya mengetahui ideologinya saja, namun sewajib mempertahankan eksistensi sampai kapanpun. Sehingga, bangsa Indonesia tidak mudah terpecah belah yang disebabkan berbagai pengaruh dan gangguan yang datang dari luar Indonesia,” sebut Hidayat. [humas pemko]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
March 27, 2015
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki.
posted by @Adimin
Siapa Layak Menyandang Nama Ulama?
"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
"Sebaik-baiknya
ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki.
"Sebaik-baiknya ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah swt." (Ibnu Athoillah).
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
SAMA sekali tidak bisa kita pungkiri bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan dan memelihara seluruh jagad raya alam semesta beserta isinya. Dia-lah Dzat yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas segala apa pun yang terjadi terhadap mahluk-mahluk-Nya.
Segenap mahluk yang menghuni langit dan bumi, bahkan jagat raya ini sekalipun. Tunduk takluk kepada segala apa yang menjadi ketetapan-Nya. Tidak bisa tidak! Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim.
Oleh karena itu, adakah yang kita takuti selain Allah? Manusia; adakah sesuatu yang lebih dari mahluk yang satu ini kalau toh ternyata kelebihan itu sendiri adalah karunia yang dititipkan Allah kepadanya. Mestikah kelebihan yang ada pada manusia itu membuatnya pongah dan takabur, menyombongkan diri di muka bumi? Dan dengan demikian, tidak lagi menampakkan rasa takut kepada Allah, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mencabut segala apa yang ada pada dirinya. Kapan saja kalau Dia mau?
Ternyata hanyalah "ilama" inilah derajat kemuliaan tertinggi yang dikaruniakan kepada manusia, siapa saja dia, yang merasa takut kepada Allah. Siapa saja, asal dia teramat sangat menyadari kemaha besaran dan kemaha kuasaan Allah Azza wa Jalla!
"Innamaa yakhsyallaahu min ibaadihil ulamaa"(sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama). (Q.S. Faathir [35]:26).Demikian firman-Nya.
Orang yang merasa takut kepada Allah itu, tulis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, tiada lain hanyalah ulama yang telah mencapai marifat, yaitu mengenal Tuhan (karena) meniliki hasil kekuasaan dan kebesaran-Nya. Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui, yang mempunyai kekuasaan sifat kesempurnaan dan yang memiliki al-Asmaul Husna.
Apabila marifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapnya bertambah matang, maka ketentuan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak. (Tafsir al-Azhar:Juz XXII hlm.301).
Sementara itu, ada sebuah jawaban yang bagus atas pertanyaan; mengapa sekarang terjadi kemerosotan dalam bidang ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam? Sebab, kalau kita mendengar kata ulama, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah orang yang ahli agama. Padahal dulu ada suatu jaman dimana masyarakatnya tidak membeda-bedakan mana ahli agama, mana ahli matematika, mana ahli kedokteran, dan seterusnya. Asalkan dengan ilmunya membuatnya menjadi dekat dengan Allah, maka mereka adalah ulama.
Kita baca dalam sejarah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun; dan sebagainya. Mereka terus mengembangkan disiplin ilmu yang dikarunia Allah kepadanya seoptimal mungkin, sampai merasa yakin semua itu membuat jalan yang membuat dekat dengan Allah.
Seorang ahli kedokteran terus-menerus dengan tanpa mengenal lelah menggali dan memahami ilmu kedokterannya sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Begitupun ahli matematika, ahli perdagangan, ahli politik pemerintahan; mereka jadikan ilmunya itu menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Mereka adalah ulama.
Akan tetapi sayang, lambat laun masa ini berubah, sehingga orang menyangka ulama itu hanya datang dari kalangan orang-orang yang faqih dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Pemahaman ini terus bertahan hingga kini. Dengan demikian, orang-orang secara langsung menganggap remeh kepada ahli kedokteran, ahli matematika, ahli ekonomi, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa berkedudukan ulama di sisi Allah sepanjang bidang keilmuannya tersebut bisa membuat takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Jadi, siapapun bisa mencapai derajat kemuliaan sebagai ulama sepanjang memenuhi kriteria ulama di atas. Seseorang yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sekalipun bisa menjadi ulama dalam pandangan Allah selama profesinya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Tangan sibuk bekerja, hati dan lisan sibuk berdzikir mengingat Allah. Sedangkan akal fikirannya menyakini bahwa Allah sedang melihat apa yang dikerjakannya.
Ia pun berikhtiar sekuat tenaga untuk berbuat sesuatu yang terbaik, sehingga bisa memberikan kepuasan kepada pemesannya sekaligus ikhtiar itu menjadi ladang amal shalih bagi dirinya. Maka, bukan tidak mungkin sang konsumen menjadi kagum atas kejujurannya, sehingga jika pada saat itu turun hidayah Allah kepadanya, tidak bisa tidak profesi sebagai tukang sablon itu menjadi jalan kemaslahatan juga bagi orang lain.
Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat apapun dan dengan disiplin ilmu apapun, sepanjang ikhtiar bisa membuat dirinya sendiri maupun orang lain dapat mengingat Allah, maka tidak sulit bagi Allah menjadikan seseorang dekat dengan-Nya kalau Allah mengetahui di hatinya ada rasa takut kepada-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah, adakah "ulama" yang sebenarnya bukan ulama? Untuk mejawab pertanyaan ini baiklah terlebih dahulu dinukilkan sebuah riwayat yang dibawakan dari Sufyan ats-Tsauri. Ulama itu, kata Tsauri, ada tiga macam. Yakni, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah, tetapi tidak mengenal perintah Allah, dan (3) alim yang mengenal Allah, tapi tidak mengenal mengenal Allah.
Ulama pertama adalah yang takut kepada Allah dan mengenal batas-batasnya, perintah, serta larangan-Nya. Ulama kedua adalah yang takut kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya karena ketidaktahuannya, sedangkan ulama ketiga yaitu yang sangat tahu batas-batas dan perintah Allah, tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah.
Kelihatannya ulama yang ketigalah yang paling tidak bisa disebut ulama. Siksa bagi seorang alim seperti ini , kata al-Hasan r.a., adalah matinya hati karena dia gemar mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Naudzu billah min dzaalik!
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memelihara kita dari perilaku yang tidak terpuji karena ilmu yang kita miliki. - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2186406/siapa-layak-menyandang-nama-ulama#sthash.XhslzKOz.dpuf
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
March 26, 2015
hidayatullah
posted by @Adimin
Selain Informatif, Media Islam Harus Punya Peran Edukasi
Written By Sjam Deddy on 26 March, 2015 | March 26, 2015
Dan ketika media Islam produknya mampu menjadi jembatan mempersatukan
umat, maka pewarta Muslim hendak menjauhkan diri dan produknya dari
sikap sektarian
Selain informatif, hendaknya media Islam juga harus mempunyai peran edukasi.
“Awak media adalah mereka yang berada,
minimal, satu langkah lebih maju dari masyarakat pembacanya,” kata Herry
saat memaparkan materi dalam diskusi bertema, “Jurnalisme Islami dan
Tanggung Jawab Moral Wartawan Muslim” di kantor Media Hidayatullah,
Jakarta Timur, Rabu (25/03/2015) sore.
Karena itu, menurut Herry, fardhu ‘ain
bagi insan media Muslim untuk terus memperdalam dan memperkaya
ilmu-ilmu ke-Islamannya. Setiap berita dan artikel yang disiarkan,
hendaknya ada muatan edukasinya, agar masyarakat (pembacanya) mendapat
ilmu dari apa yang dibaca.
“Di situ letak tugas untuk amar ma’ruf nahi munkar,” ujar Herry.
Selain itu, kata Herry, media Islam harus bisa menjadi pemersatu umat dalam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Dan ketika media Islam produknya mampu
menjadi jembatan mempersatukan umat, maka pewarta Muslim hendak
menjauhkan diri dan produknya dari sikap sektarian sepanjang perbedaan
bersifat furu’ (ranting) dan diserahkan kepada internal umat agar persoalan tidak melebar dan memperkeruh suasana.
“Selanjutnya media Islam juga harus bisa menjadi pejuang dan pembela Islam,” ujar Herry.
Hal itu, menurut Herry bisa dilihat dari
produk-produknya yang terus menerus dalam mensyiarkan Islam, menegakkan
nilai-nilai Islam di tengah masyarakat dan mendorong umat agar
melaksanakan ‘Halal Lifestyle’ dalam berbagai bidang kehidupan.
hidayatullah
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN



.jpg)

