Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
April 19, 2015
Bidpuan PKS Padang adakan Talk Show "Home Sweet Home"
Written By @Adimin on 19 April, 2015 | April 19, 2015
pkspadang.com : Bidpuan PKS Kota Padang dengan
program RKI nya (rumah Keluarga Indonesia) mengadakan program acara talk show
dengan tema "Home Sweet Home" dengan pembicara Ust. M Yasin, Lc dan
ustazh Nuria Safitri. Acara di selenggarakan di halaman parkir markas dakwah DPD PKS Kota Padang pada hari minggu 19 April 2015. Talk show ini di tujukan untuk kalangan umum, simpatisan, dan kader yang ingin suasana rumahnya ibarat surga, sesuai
dengan tuntunan nabi, Baiti jannati (rumahku adalah surgaku). Ketua Panitia acara
dalam hal ini Ibu Elya Devinta berharap, dengan adanya acara ini, keluarga
Indonesia akan tahan terhadap berbagai ujian, rintangan dan gocangan kehidupan.
Apalagi Islam sangat menekankan pentingnya ketahanan rumah tangga selaku unit
terkecil dari suatu bangsa.
Ust Yasin dalam paparannya
menyebutkan bagaimana sepadang suami istri harus bisa berkomunikasi dengan baik
dan berupaya untuk saling memahami antara satu dengan yg lain, sehingga
tercipta hubungan yang harmonis.
Begitu juga dengan orang tua,
selaku pembimbing dan pembina rumah tangga dan anak anak, harus bisa mengenali
karakter dari masing masing anaknya, sehingga mampu menyesuaikan apa yang cocok
yang sesuai dan yang seharusnya orang tua lakukan terhadap masing masing
anaknya tersebut, karena masing masing individu dari anak tersebut mempunyai
karakter dan punya ciri khas sendiri sendiri.
Lebih dalam Ust. Yasin juga
menyampaikan, jika seorang anak lebih cenderung kenestetik atau suka bermain di
alam terbnuka maka jangan kita selaku orang tua, menyekapnya didalam rumah
dengan alasan agar lebih aman, karena mengekang anak yang lebih suka bermain di
alam terbuka justru akan membuatnya stress. Dan situasi ini justru akan menekan
potensi yang ada pada anak, dan bahkan yang lebih ekstrim juga bisa menyebabkan
menurunnnya prestasi sang anak.
Acara berlangsung lancar dan
santai, terlihat ibu ibu begitu antusias menyimak paparan dari para nara
sumber.
Semoga dengan adanya acara
ini, lebih membuat kondisi keluarga di lingkungan kader PKS, simpatisan serta
ummat pada umumnya, bisa lebih harmonis lebih berbahagia sehingga nantinya akan
menumbuhkan generasi Islam yang berkontribusi untuk Islam dan ummat.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
April 18, 2015
Padang, Jum’at (17/4) – Pos Ekonomi Keluarga (EKA) Latansa Belimbing adakan pelatihan buat ibu-ibu rumah tangga (IRT) membuat Fried Chicken (FC). Pelatihan ini diberikan dalam pertemuan bulanan di rumah Ibu Yayan di Jl. Manggis Kec. Kuranji.
Tingkatkan Ekonomi Keluarga, Pos EKA Latansa Latih IRT Bikin Fried Chicken
Written By Anonymous on 18 April, 2015 | April 18, 2015
Padang, Jum’at (17/4) – Pos Ekonomi Keluarga (EKA) Latansa Belimbing adakan pelatihan buat ibu-ibu rumah tangga (IRT) membuat Fried Chicken (FC). Pelatihan ini diberikan dalam pertemuan bulanan di rumah Ibu Yayan di Jl. Manggis Kec. Kuranji.
Dalam pertemuan tersebut Ibu-ibu yang mengikuti pelatihan di tuntut untuk bisa membuat masakan fried chicken yang layak untuk dijual dengan tujuan untuk dijadikan sebagai peluang usaha yang dapat membantu perekonomian keluarga.
Tidak kurang dari tiga puluh orang IRT mengikuti pelatihan yang dimulai dari pukul 14:00 wib. Pos EKA yang dikelola oleh Ibu Nelly, Ibu Yayan Mulyani dan Ibu Endang ini sudah baik dalam mengelola Pos EKA yang di pimpinnya.
Saat ini Pos EKA Latansa sudah punya dana kas sosial. Tidak hanya itu, Pos EKA ini telah memiliki koperasi simpan pinjam yang simpanannya telah mampu memberikan modal usaha kepada para anggotanya.
Pos EKA Latansa melakukan kegiatan dalam setiap bulannya bervariasi. Contohnya pengajian, penyuluhan kesehatan dan lingkungan, keluarga dan pendidikan anak, keterampilan dan lain-lain.
Pos EKA adalah pos ekonomi keluarga yang di bentuk oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di bawah Bidang Perempuan (BidPuan). Tujuan dibentuk Pos EKA adalah untuk membantu perekonomian keluarga menjadi lebih baik. [humas]
posted by @Adimin
Label:
KIPRAH KAMI,
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
April 18, 2015
bersambung . . . . . . .
Oleh Salih Hasyim
posted by @Adimin
Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [1]
Salah seorang ahli ilmu mengatakan: Induk dari semua dosa ada tiga, yaitu dengki, rakus dan sombong
SESUNGGUHNYA Allah subhanahu wa ta’ala
menciptakan 100 kasih sayang ketika menciptakan langit dan bumi. Satu rahmat
daripada-Nya seluas langit dan bumi. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala turunkan
salah satu rahmat itu ke bumi. Dengan itulah makhluk saling menyanggupi. Dengan
itu ibu mengasihi anaknya. Dengan itu burung dan binatang buas meneguk air
(dari satu lokasi). Dengan itu seluruh makhluk dapat hidup. (Dalam Kanzul ‘Ummal, hadits
no. 10464).
Jika kita mencermati kehidupan berbangsa dan bernegara
kita sekarang dengan bashirah (mata hati), maka hati kita akan tersayat.
Seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang
diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Yaitu sosok manusia
yang kehilangan jati dirinya sendiri. Kehadirannya bukan sebagai anugrah/mitra
bagi orang lain. Tetapi, manusia yang menjadi ancaman/rivalitas bagi sesama.
Muncullah sebuah pameo, hari ini makan apa, dan esok hari memangsa siapa ?.
Banyak bermunculan manusia yang hilang rasa kemanusiaannya. Manusia bagaikan
srigala bagi yang lain.
Fakta membuktikan, bukankah kita seringkali menjumpai
manusia sipil berwatak militer, manusia sehat secara pisik, ruhaninya sakit.
Manusia maju, tapi ia primitive. Ia terasing dari kehidupan sosialnya.
Banyak orang mengalami split personality.
Ketika di masjid ia khusyuk beribadah, tapi ketika di tengah-tengah kehidupan
sosial ia lihai menipu dan mengkhianati saudaranya. Memalsukan
angka-angka kwitansi.
Inilah sumber persoalannya. Agama dipandang sebagai
urusan privasi. Allah tidak boleh mencampuri urusan sosial. Alangkah kejinya
mereka memposisikan kedudukan Allah. Peran-Nya diberi ruang pada lorong yang
pengap dan sempit.
Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini
mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita
idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang
menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat
serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang
wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan
gelap dengan laki-laki lain. Oknum partai politik tertentu mengancam pesaing
politiknya, karena kalah dalam pemilihan pilkada.
Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan
kepadanya? Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya?
Efek Virus Takatsur
Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya
penyebab hilangnya sifat rahmat (kasih sayang) pada diri manusia karena telah
terjangkiti penyakit ruhani (mental) bernama takatsur
(usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, berebut
massa/pengikut (al Atba’),
tidak untuk memenangkan kebenaran dinul Islam). Tetapi, untuk kepentingan perut
dan di bawah perut.
Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut
hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di
bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu. Penyakit-penyakit tersebut
adalah pemicu pelanggaran pertama anak Adam di muka bumi ini dengan berbagai
bentuk dan variasinya (hunna ashlul khathiah).
إيَّاكُمْ
وَالْكِبْرَ فَإِنَّ إِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ أَلاَّ يَسْجُدَ ِلآدَمَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحِرْصَ فَإِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ آكَلَ الشَجَرَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ ابْنَيَ آدَمَ قَتَلَ أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ حَسَدًا هُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ (رواه ابن عساكر عن ابن مسعود رضي الله عنه)
“Waspada dan jauhi al-kibr
(sombong), karena sesungguhnya Iblis terbawa sifat al-kibr sehingga menolak
perintah Allah subhanahu wa ta’ala agar bersujud (menghormati) kepada Adam
‘alaihis salam. Waspada dan jauhi al-hirsh (serakah), karena sesungguhnya Adam
‘alaihis salam terbawa sifat al-hirsh sehingga makan dari pohon yang dilarang
oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Waspada serta jauhi al-hasad (dengki), karena
sesungguhnya kedua putra Adam ‘alaihis salam salah seorang dari keduanya
membunuh saudaranya hanya karena al-hasad. Ketiga sifat tercela itulah asal
segala kesalahan (di dunia ini).” (HR
Ibnu Asakir dari Ibnu Masud, dalam Mukhtaru al-Ahadits).
Ketika virus ruhani tersebut penyebab pemiliknya salah
dalam menempatkan dirinya, lupa kepada Pemilik Hakiki. Memandang wasilah (alat)
sebagai ghoyah (tujuan). Ia salah kaprah dalam mempersepsikan harta, tahta, dan
wanita. Ia tidak menyadari bahwa dunia adalah lahan untuk menanam benih
kebaikan untuk dipanen di akhirat.
Serakah (thoma’)
Salah seorang ahli ilmu mengatakan: Induk dari semua
dosa ada tiga, yaitu dengki, rakus dan sombong. Sombong itu asalnya dari Iblis
ketika ia enggan (keberatan) bersujud (hormat) kepada Nabi Adam as sehingga ia
terkutuk (terlaknat).
Rakus asalnya dari Adam ketika dikatakan kepadanya
bahwa semua yang ada di dalam surga itu boleh dikonsumsi kecuali satu pohon.
Namun sikap thoma’ menghinggapi dirinya sehingga ia memakannya lantas ia
dikeluarkan dari surga. Sedangkan dengki berasal dari Qabil bin Adam ketika
membunuh saudaranya (Habil) sehingga ia menjadi kafir dan kekal di neraka
(dalam Tanbihul Ghafilin,
jilid 1).
Ada dua macam rakus. Rakus yang tercela. Dan rakus yang
tidak tercela. Rakus yang pertama melalaikan syariat Allah. Dan rakus yang
kedua tidak sampai melupakan perintah dan larangan-Nya.
Jika, direnugkan maka rakus itu merugikan. Karena, apa
yang ada ditangan kita tidak permanen. Timbul dan tenggelam. Bisa saja,
atas kuasa-Nya, yang ada digenggaman kita diambil oleh pemilik-Nya. Orang yang
beriman tidak perlu mempertanyakan, apakah yang menjadi kepemilikan kita sudah
resmi (formal), tetapi apakah karunia yang kita terima menambah barakah
(tambahan kebaikan). Alangkah menyakitkan, jika yang kita usahakan dan kita
peroleh justru secara bertahap membuat lubang kehancuran citra diri kita (istidraj).
Kita tidak akan memperoleh bagian rizki kecuali yang
sudah ditentukan oleh-Nya. Ada rizki itu yang kita buru. Dan ada karunia itu
yang memburu kita. Adapun kerja keras itu adalah dalam rangka ibadah
kepada-Nya. Banyak sekali sumber rizki tidak berkaitan langsung dengan ikhtiar
kita. Tidak menggunakan logika manusia. Misalnya, silaturrahmi, takwa,
memperbanyak sedekah, dll. Yang menarik, binatang cecak yang menempel di
dinding. Justru, sumber rizkinya binatang yang bisa terbang.
اَللَّهُمَّ
لَامَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مَعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
(Ya
Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan
tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan
orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam membaca Al Hakumut Takatsur .. hatta
zurtumul maqabir (bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai
kamu masuk ke dalam liang lahat), kemudian beliau bersabda; “Manusia
selalu berkata, Hartaku, hartaku, dan bukanlah termasuk hartamu kecuali apa
yang kamu makan lantas kamu habiskan, atau kamu pakai lalu kamu rusakkan, dan
kamu sedekahkan lalu kekal (pahalanya) bagimu.”
Orang yang memiliki sifat rakus merasa tidak adil dalam
memandang pembagian rizki dari Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal, pengalaman
empiris mengajarkan bahwa rakus tidak menambah jatah rizki seseorang.
Dan sifat qonaah
tidak mengurangi rizki. Qonaah
adalah kekayaan hati yang sangat mahal. Justru, dengan memelihara sifat tercela
ini, bagaikan meminum air laut, semakin banyak yang diteguk, bertambah haus.
Tidak akan sembuh penyakit yang berbahaya ini kecuali kematian. Jika manusia
diberi satu lembah emas, maka ia akan mengharapkan tambahan satu lembah lagi,
dst.
Adil itu tidak harus sama, tetapi proporsional.
Meletakkan sesuatu pada tempatnya secara pas. Sedangkan zhalim adalah
kebalikannya.
Suasana kehidupan sosial yang saling ta’aruf (kenal
mengenal), tafahum
(saling memahami), ta’awun
(saling bersinergi), takaful
(saling menanggung),
tanashuh (saling memberi nasihat), taakhi (saling bersaudara), adalah karunia
yang terbaik melebihi dari yang dikumpulkan manusia berupa kekayaan itu
sendiri.
Karena, pada dasarnya karunia itu disamping yang
bersifat lahiriyah pula berbentuk nikmat batiniyah. Kehidupan sosial yang
menyeimbangkan kebutuhan ruhani dan jasmani, indikator kehidupan sosial yang
sehat.
Orang yang memahami posisi harta, memiliki kecerdasan
finansial. Ia tidak sekedar pandai mencari uang, tidak sekedar pandai
mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, tidak sekedar trampil membuka gembok-gembok
rizki, tidak sekedar membuka pintu-pintu karunia. Tetapi, gemar pula berinfak,
sebagai hak dari harta itu sendiri. Jadi kaya itu berkaitan dengan sikap
mental.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah memberikan
definisi yang jelas tentang orang yang mempunyai kecerdasan finansial.
ليس
الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس
“Yang disebut al-ghina (orang yang
cerdas finansial) itu bukanlah mereka yang sekedar memiliki harta yang banyak,
tetapi al-ghina itu mereka yang kaya jiwa.” (HR. Bukhari).
Bukan disebut cerdas finansial orang yang memiliki
harta yang banyak tetapi serakah dan kikir. Apa gunanya memiliki banyak
kekayaan tetapi tidak dibelanjakan. Seharusnya berapa pun yang diinfakkan tidak
masalah. Satu rupiah pun pantang dibelanjakan untuk maksiat.
Harta bagi orang yang terjangkiti virus ruhani kikir
adalah segala-galanya. Semakin banyak yang ia terima, ia semakin rakus.
Bagaikan meminum air laut, semakin banyak meminumnya semakin haus. Ia
mengira harta itu mengekalkan kehidupannya. Ia memandang harta sebagai hak
milik, bukan hak pakai atau hak guna (titipan dari Allah Subhanahu Wata’ala).
Ancaman Allah pada Orang Yang
Mengumpulkan Harta
Allah Subhanahu Wata’ala mengancam terhadap orang yang
memiliki pandangan negatif/miring dengan harta.
“Kecelakaanlah
bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan
menghitung-hitung [mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia
menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah], dia mengira bahwa
hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia
benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al Humazah (104) : 1-4).
Tidak termasuk cerdas finansial orang yang kaya raya
tetapi serakah. Sekalipun kaya secara lahiriyah tetapi jiwanya miskin.
Sekalipun kaya, tapi masih menginginkan harta orang lain dengan menghalalkan
segala cara. Sekalipun hartanya banyak, tetapi tidak cukup.
Perhatikan, para koruptor itu bukanlah orang-orang
miskin. Mereka bukan orang yang tidak punya duit. Mereka punya rumah besar,
mobil mewah, dan harta berlimpah, tapi karena mereka serakah, masih saja tega
merampok harta negara. Mereka terjangkiti penyakit “Takatsur” (menumpuk-numpuk harta, pengaruh,
massa, pengikut, dll)
Oleh Salih Hasyim
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
April 17, 2015
JAKARTA (17/4) - Kemunculan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak bisa dilepaskan dari situasi politik dalam negeri dan internasional yang berlangsung pada awal tahun 1980-an hingga akhir rezim Orde Baru tahun 1998. PKS lahir dan memberi warna baru bagi politik Islam di Indonesia.
posted by @Adimin
Dialog dgn Mahasiswa Malaysia, Anis Matta Bicara Sejarah PKS
Written By Anonymous on 17 April, 2015 | April 17, 2015

JAKARTA (17/4) - Kemunculan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak bisa dilepaskan dari situasi politik dalam negeri dan internasional yang berlangsung pada awal tahun 1980-an hingga akhir rezim Orde Baru tahun 1998. PKS lahir dan memberi warna baru bagi politik Islam di Indonesia.
Hal itu dikatakan Presiden Anis Matta dalam dialog dengan sekitar 40 mahasiswa dari University of Malaya, Malaysia, di bilangan Kuningan, Jakarta, Kamis (16/4/2015) malam.
Anis mengatakan sejarah pergerakan dan politik Indonesia terpolarisasi pada tiga aliran ideologi utama, yaitu Islam, Nasionalisme, dan Sosialisme. Dialog dan dialektika ketiga ideologi utama ini menimbulkan gejolak sosial dan dinamika politik yang selalu hangat sejak kemunculan Budi Utomo, Sarekat Islam, Sumpah Pemuda, hingga lahirnya Indonesia sebagai negara dan berkembang sampai saat ini.
Menurut Anis Matta, kelahiran PKS merupakan salah satu bagian dari dinamika pertarungan di antara ketiga ideologi utama ini.
"Kemudian tahun 1979 ada Revolusi Iran. Revolusi ini menjadi inspirasi bagi kami di sini. Setelah itu tahun 1980-an Tembok Berlin runtuh. Dan tahun 1990 Uni Sovyet juga runtuh. Situasi-situasi internasional ini berdampak pada politik dalam negeri, yang secara tidak langsung mendorong gerakan tarbiyah di kampus-kampus tahun 1980-an," kata Anis.
Anis juga menjelaskan salah satu problem utama gerakan dan partai politik Islam di berbagai negara adalah kesulitan dalam mengintegrasikan antara Islam sebagai ideologi dan nilai, dengan keinginan masyarakat atas kebutuhan hidup mereka.
"Saya kira ini juga yang berlaku di partai Islam di Malaysia. Keberhasilan partainya Erdogan di Turki, karena sudah berpengalaman naik-turun sejak tahun 1962, dan mereka tahu mengintegrasikan antara bagaimana memenuhi kebutuhan masyarakat dengan nilai-nilai Islam," ucapnya.
Salah seorang mahasiswa juga bertanya bagaimana penerimaan masyarakat Indonesia yang non-muslim terhadap PKS yang berbasis ideologi Islam.
"Di wilayah Indonesia Timur, ada pengurus PKS yang berasal dari kalangan Kristen. Ada pendeta yang menjadi pimpinan di PKS di Papua, karena 90 persen di sana Kristen," jawab Anis.
Dialog yang berlangsung selama dua jam tersebut ditutup dengan saling tukar cinderamata. Selain berkunjung ke PKS, para mahasiswa tersebut berencana melakukan kunjungan muhibah ke sejumlah kampus di Jakarta untuk berdialog tentang gerakan mahasiswa. [pks.id]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
April 17, 2015
JAKARTA (16/4) – Peringatan konferensi Asia Afrika di Bandung pada 24 April 2015 nanti menjadi momentum refleksi bagi seluruh Negara Asia Afrika bahwa semangat awal peristiwa bersejarah ini ialah keinginan memperjuangkan kemerdekaan dan menghilangkan segala bentuk penjajahan di atas muka bumi.
posted by @Adimin
Anis Matta : Solusi Damai di Palestina PR bagi Negara-Negara Asia Afrika
JAKARTA (16/4) – Peringatan konferensi Asia Afrika di Bandung pada 24 April 2015 nanti menjadi momentum refleksi bagi seluruh Negara Asia Afrika bahwa semangat awal peristiwa bersejarah ini ialah keinginan memperjuangkan kemerdekaan dan menghilangkan segala bentuk penjajahan di atas muka bumi.
Hal tersebut disampaikan Presiden PKS Anis Matta melalui akun twitter nya @anismatta, Kamis (14/6).
"Konferensi Asia Afrika bukan sekedar regionalisme karena jarak antar negara yang begitu jauh. Ini adalah kesadaran atas nasib yang sama dan solidaritas" tulisnya.
Lebih jauh Anis Matta menyampaikan bahwa sudah waktunya Konferensi Asia Afrika membangun kesadaran baru tentang solidaritas bagi negara-negara yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya.
"Termasuk mencari solusi damai untuk Palestina, ini PR bagi Negara-Negara dikawasan Asia Afrika" pungkasnya sambil menegaskan bahwa perdamaian di Palestina akan menjadi sumber perdamaian dunia.
Seperti yang kita ketahui, Palestina sudah berada di bawah jajahan Israel sejak tahun 1948 dan hingga kini masih terus berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Sudah menjadi kewajiban bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang dulunya disatukan oleh semangat melawan penjajahan untuk mendukung segala upaya Negara Palestina dalam meraih kemerdekaannya.
Keterangan Foto:
Presiden PKS Anis Matta (kanan) dalam acara Nonton Bareng Film Guru Bangsa Tjokroaminoto Bersama Fraksi PKS DPR RI di Cinema XXI, Plaza Senayan Jakarta, Kamis (16/04/2015).
[pks.id]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
April 17, 2015
posted by @Adimin
Inilah Tokoh-tokoh yang Berpeluang Jadi Ketua Syuro PKS

JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menggelar Pemilu Raya (Pemira) untuk menentukan anggota majelis syuro. Ketua Lajnah Pemira PKS, Sumandjaja mengatakan sudah ada 66 nama anggota majelis syuro yang terpilih. Nama anggota syuro itu disaring dari sekitar 300-an nama yang masuk ke Lajnah Pemira PKS.
PKS belum dapat mengumumkan 66 nama hasil pemira yang digelar akhir Maret kemarin. Sebab hasil itu baru akan dilaporkan secara resmi awal Mei dalam sidang. Hal itu sekaligus dilakukan pelantikan pada 66 nama anggota syuro yang sudah masuk tersebut.
Setelah itu, baru anggota syuro akan menggelar sidang untuk menentukan ketua majelis syuro periode 2015-2020. Menurutnya untuk menjadi ketua syuro harus memenuhi syarat-syarat khusus yang sudah ditentukan.
Misalnya, minimal berumur 40 tahun, memiliki masa keanggotaan minimal 12 tahun sebagai kader ahli di PKS. Meskipun, ketua majelis syuro saat ini, Hilmi Aminuddin masih memiliki peluang memimpin majelis syuro, namun ada tokoh lain yang dapat menjadi pesaing Hilmi Aminuddin sebagai ketua majelis syuro.
"Ada tokoh lain yang peluangnya sama, seperti Hidayat Nur Wahid (HNW), Anis Matta, Tifatul Sembiring, maupun Surachman Hidayat," katanya Republika, Kamis (16/4).
Selain tokoh-tokoh itu, masih ada tokoh lain yang juga memiliki peluang yang sama. Untuk menjadi calon ketua majelis syuro, kata Sumandjaja, harus dicalonkan minimal satu anggota majelis syuro. Mereka yang sudah dicalonkan akan memaparkan visi misi serta kesediaannya dicalonkan.
"Kalau mereka menerima apa visi misinya, kalau menolak apa alasannya, kalau penolakan tidak diterima anggota majelis maka otomatis langsung menjadi calon ketua majelis syuro," jelasnya.
Setelah ada beberapa calon ketua majelis syuro, maka anggota majelis syuro akan musyawarah untuk memilih siapa yang akan menjadi ketua majelis syuro selanjutnya. [ROL]
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
April 17, 2015
posted by @Adimin
Pelajaran Penting dari Cokroaminoto Menurut Anis Matta
JAKARTA (16/4) – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta mengatakan, Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto memiliki dua peran besar dalam sejarah Indonesia. Pertama, kata Anis yaitu sebagai guru bangsa.
"Beliaulah yang menyatukan antara ide nasionalisme dan keislaman. Bahkan sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah bangsa, dan ide tentang kebangsaan digarap oleh beliau," kata Anis sesaat sebelum nonton bareng film Guru Bangsa Cokroaminoto, di Plaza Senayan, Jakarta (16/4).
Anis melanjutkan, Cokroaminoto menjadi guru bangsa karena di rumahnyalah lahir para pemimpin bangsa.
"Beliau sebagai guru bangsa karena semua pemimpin bangsa yang sesudahnya itu lahir dari rumah beliau," ujar Anis.
Kedua, lanjut Anis, peran terbesar Cokroaminoto adalah mengkonsolidasikan elit baru Indonesia.
"Seperti yang kita tahu sejarah di Indonesia, elit-elit baru Indonesia itu biasanya datang dari kaum terpelajar. Biasanya juga dibayang-bayangi oleh para pedagang pribumi. Nah elit-elit baru Indonesia yang muncul dari dunia pendidikan ini kemudian dikonsolidasi oleh Pak Cokroaminoto dalam satu ide tentang Indonesia, sebuah bangsa baru, sebuah negara baru," papar Anis.
Menurutnya, bahwa semua hal-hal besar yang dilakukan sebagai bangsa terjadi pada saat elit-elit Indonesia sedang terkonsolidasi dengan baik.
"Sewaktu elit terkonsolidasi dengan baik pada zaman Pak Cokroaminoto, lahirlah pemimpin-pemimpin baru yang kemudian membawa Indonesia merdeka. Sementara, waktu kaum elit terkonsolidasi pada era Soekarno, kita berhasil mempertahankan kemerdekaan kita. Sewaktu kaum elit terkonsolidasi pada zaman orde baru, lahir sebuah negara moderen yang kuat," tutur Anis.
Maka yang perlu dipelajari dari film Guru Bangsa Cokroaminoto, kata Anis, adalah 16 tahun berjalannya demokrasi justru elit-elit Indonesia terfragmentasi sangat luas.
"Para elit terpecah-pecah sangat luas. Karena itu, siapapun yang memimpin, menjadi tantangan pertamanya adalah menyatukan para elit-elit Indonesia, mengkonsolidasi para elit Indonesia, saya kira itu pelajaran yang sangat penting," pungkas Anis. [pks.id]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
April 17, 2015
Anis Matta Ajak Pengurus PKS Nonton Film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto'
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta mengajak para pengurus partainya menyaksikan film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto'.
Nonton bareng tersebut digelar di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (16/4/2015).
Nonton bareng tersebut dimulai pada pukul 15.00 WIB di studio 5 XXI Plaza Senayan. Puluhan pengurus partai dan kader PKS memenuhi studio yang dijadwalkan memutar film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' tersebut.
Selama kurang lebih dua jam, Anis Matta beserta pengurus PKS menyaksikan film drama tersebut. Turut hadir pula dalam acara nonton bareng tersebut Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini.
Film terbaru berjudul 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' (2015) ini dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas seperti Reza Rahardian, Tanta Ginting, Putri Ayudya, Egi Fedly, Chelsea Islan, Maia Estianty (cucu kandung HOS Tjokroaminoto), Alex Komang, Ibnu Jamil, Deva Mahendra, Sujiwo Tejo, Christine Hakim. [tribunnews.com]
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
April 17, 2015
DR. Adian Husaini
posted by @Adimin
Pemblokiran Media Islam dan Jebakan Huntington [2]
DARI kasus doktrin ‘preemptive strike’
ini tampak bagaimana pola pikir ‘bahaya Islam’ atau ‘ancaman Islam’
yang dikembangkan ilmuwan seperti Huntington, berjalan cukup efektif.
Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran
langsung, meskipun tanpa melalui persetujuan PBB. Pola pikir Huntington,
bahwa ‘Islam’ lebih berbahaya dari ‘komunis’ juga tampak mewarnai
kebijakan politik dan militer AS tersebut.
Tentu saja, yang penting kemudian adalah
pendefinisian siapa yang dimaksud sebagai “musuh baru yang lebih bahaya
dari komunis?” Dalam Who Are We? Huntington menyebut, yang
disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usama bin Ladin atau al-Qaida
group. Tetapi, banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS.
Kata Huntington, sebagaimana dilakukan oleh Komunis Internasional dulu,
kelompok-kelompok Islam militan melakukan protes dan demonstrasi damai,
dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Mereka
juga melakukan kerja-kerja amal sosial.
Dengan definisi dan penggambaran seperti
itu, banyak kelompok Islam yang dimasukkan ke dalam kategori militan,
dan layak diserang secara dini. Tanpa menampilkan sebab-sebab dan fakta
yang komprehansif, misalnya, Huntington menulis, bahwa selama beberapa
dekade terakhir, kaum Muslim memerangi kaum Protestan, Katolik, Kristen
Ortodoks, Hindu, Yahudi, Budha atau Cina. (In recent decades, Muslims have fought Protestan, Catholic, and Orthodox Christians, Hindus, Jews, Buddhists, and Han Chinese). Ia
tidak menjelaskan, apakah dalam kasus-kasus itu kaum Muslim diperangi
dan dizalimi, atau Muslim yang memerangi. Dalam menyinggung kasus
Bosnia, misalnya, dia tidak memaparkan bagaimana kaum Muslim menjadi
korban kebiadaban yang tiada tara di Bosnia. Dan ketika itu, AS dan
sekutunya menjadi penonton yang baik atas pembasmian umat Muslim.
Samantha Power, dalam bukunya “A Problem from Hell: America and The Age of Genocide” (London:
Flamingo, 2003), membongkar habis-habisan sikap tidak peduli AS
terhadap praktik pembasmian umat manusia di berbagai tempat, termasuk di
Bosnia. Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2003.
Dalam kasus Bosnia, tulis Samantha, AS bukan hanya tidak berusaha
menghentikan pembasmian etnis Muslim, tetapi malah memberi jalan kepada
Serbia untuk melaksanakan kebiadaban mereka. (Along with its European allies, it maintained an arms embargo against the Bosnian Muslims from defending themselves). Untuk Bosnia, Samanta yang menjadi saksi berbagai kebiadaban Serbia di Bosnia, menulis judul “Bosnia: No More than Witnesses at a Funeral”.
Sebagaimana ilmuwan “neo-orientalis”
lainnya, seperti Bernard Lewis, Huntington juga tidak mau melakukan
kritik internal terhadap kebijakan AS yang imperialistik – sebagaimana
banyak dikritik oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Noam Chomsky, Paul Findley,
dan Edward Said. Ia tidak mengakui bahwa kebijakan AS yang membabi buta
mendukung kekejaman dan penjajahan Israel adalah keliru dan menjadi
satu sebab penting tumbuhnya ketidakpuasan dan kemarahan kaum Muslim dan
umat manusia. Ia hanya mau menunjukkan bahwa Islam adalah potensi musuh
besar dan bahaya bagi Barat dan AS khususnya. Ia menampilkan polling-polling
di sejumlah negeri Islam yang menunjukkan, sebagian besar kaum Muslim
sangat tidak menyukai kebijakan AS. Misal, sebuah polling di sembilan
negara Islam, antara Desember 2001-Januari 2002, menampilkan realitas
opini di kalangan Muslim, bahwa AS adalah “kejam, agresif, sombong,
arogan, mudah terprovokasi dan bias dalam politik luar negerinya.”
Tetapi, Huntington tidak mau menampilkan
fakta bahwa kebencian masyarakat Barat (Eropa dan rakyat AS sendiri)
terhadap kebijakan-kebijakan politik AS juga sangat besar. Bahkan, jauh
lebih besar dari apa yang terjadi di kalangan Muslim. Di dunia Islam,
tidak ada demonstrasi besar-besaran diikuti ratusan ribu sampai jutaan
orang dalam menentang AS seperti yang terjadi di berbagai negara Eropa
dan di dalam AS sendiri. Banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Prof.
Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’.
Karena itu, sangatlah naif, bahwa ilmuwan seperti Huntington ini justru
mencoba menampilkan fakta yang tidak fair dan sengaja membingkai Islam
sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rhetoric of
America’s ideological war with militant communism has been transferred
to its religious and cultural war with militant Islam.”
Huntington, Bernard Lewis, dan
kawan-kawannya terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga
mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh
utama Barat, setelah komunis. John Vinocur, dalam artikelnya berjudul “Trying to put Islam on Europe’s agenda”, (International Herald Tribune, 21 September 2004), mencatat, “But Huntington insists Europe’s situation vis-à-vis Islam is more acute.”
Skenario inilah yang dirancang kelompok “Neo-konservatif” di AS, yang
beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan
konfrontasionis. (Lihat buku The High Priests of War “ (Washington DC: American Free Press, 2004), karya Michel Colin Piper).
Tanpa pendefinisian yang jelas terhadap
“Islam militan”, maka itu akan menyeret kaum Muslim lainnya. Itu,
misalnya, menimpa Thariq Ramadhan dan Yusuf Islam, yang dilarang
memasuki AS. Begitu juga ribuan warga Muslim yang menerima perlakuan
tidak manusiawi. Dalam sub-bab berjudul “The Search for an Enemy”,
Huntington mencatat, bahwa pasca Perang Dingin, AS memang melakukan
pencarian musuh baru, yang kemudian menemukan musuh baru bernama “Islam
militan”, setelah peristiwa WTC. Huntington menulis: “Some
Americans came to see Islamic fundamentalist groups, or more broadly
political Islam, as the enemy, epitomized in Iraq, Iran, Sudan, Libya,
Afghanistan under Taliban, and to lesser degree other Muslim states, as
well as in Islamic terrorist groups such as Hamas, Hezbollah, Islamic
Jihad, and the al-Qaeda network… The cultural gap between Islam and
America’s Christianity and Anglo-Protestanism reinforces Islam’s enemy
qualifications. And on September 11, 2001, Osama bin Laden ended
America’s search. The attacks on New York and Washington followed by the
wars with Afghanistan and Iraq and more diffuse “war on terrorism” make
militant Islam America’s first enemy of the twenty-first century.”
Di sini, tampak, bahwa sangatlah sulit
dunia Islam menerima standar AS dalam soal Islam militan. Dunia Islam,
misalnya, secara keseluruhan tetap menolak memasukkan Hamas di
Palestina, sebagai kelompok teroris, sebab mereka melakukan perjuangan
membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Buku Who Are We? memang masih merupakan kelanjutan garis berpikir Huntington dalam soal Islam dari buku The Clash of Civilizations. Sebagaimana
Lewis, Huntington sudah jauh-jauh hari mengingatkan Barat agar mereka
waspada terhadap perkembangan Islam. Sebab, Islam adalah satu-satunya
peradaban yang pernah menggoyahkan dan mengancam peradaban Barat. (Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice).
Karena itulah, Huntington memperingatkan,
pertumbuhan penduduk Muslim merupakan satu faktor destabilitas terhadap
masyarakat Muslim dan lingkungannya. Jumlah besar kaum muda Muslim
dengan pendidikan menengah akan terus memperkuat kebangkitan Islam dan
militansi Islam, militerisme, dan imigrasi. Hasilnya, pada awal-awal
abad ke-21, Barat akan menyaksikan kebangkitan kekuatan dan kebudayaan
non-Barat dan sekaligus benturan antar-masyarakat non-Barat atau dengan
Barat.
Sebagaimana buku The Clash of Civilizations, buku Who Are We? perlu
dicermati dalam konteks skenario politik global terhadap Islam, yang
sebenarnya merupakan satu upaya “viktimisasi Islam” untuk menutupi
berbagai kesalahan kebijakan AS dan sejumlah sekutunya.
Kini, silakan dicermati, mengapa situs-situs Islam itu diblokir? Allah Maha Tahu dan Allah tak pernah tidur
DR. Adian Husaini
posted by @Adimin
Label:
REFLEKSI,
TOPIK PILIHAN







