pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Pemblokiran Media Islam dan Jebakan Huntington [2]

Written By dBisnis on 03 May, 2015 | May 03, 2015

 Huntington, Bernard Lewis, dkk terus berkampanye agar Barat mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat, setelah komunis

  

sambungan . . . .

DARI  kasus doktrin ‘preemptive strike’ ini tampak bagaimana pola pikir ‘bahaya Islam’ atau ‘ancaman Islam’ yang dikembangkan ilmuwan seperti Huntington, berjalan cukup efektif. Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran langsung, meskipun tanpa melalui persetujuan PBB. Pola pikir Huntington, bahwa ‘Islam’ lebih berbahaya dari ‘komunis’ juga tampak mewarnai kebijakan politik dan militer AS tersebut.

Tentu saja, yang penting kemudian adalah pendefinisian siapa yang dimaksud sebagai “musuh baru yang lebih bahaya dari komunis?” Dalam Who Are We? Huntington menyebut, yang disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usama bin Ladin atau al-Qaida group. Tetapi, banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS. Kata Huntington, sebagaimana dilakukan oleh Komunis Internasional dulu, kelompok-kelompok Islam militan melakukan protes dan demonstrasi damai, dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Mereka juga melakukan kerja-kerja amal sosial.

Dengan definisi dan penggambaran seperti itu, banyak kelompok Islam yang dimasukkan ke dalam kategori militan, dan layak diserang secara dini.  Tanpa menampilkan sebab-sebab dan fakta yang komprehansif, misalnya, Huntington menulis, bahwa selama beberapa dekade terakhir, kaum Muslim memerangi kaum Protestan, Katolik, Kristen Ortodoks, Hindu, Yahudi, Budha atau Cina. (In recent decades, Muslims have fought Protestan, Catholic, and Orthodox Christians, Hindus, Jews, Buddhists, and Han Chinese). Ia tidak menjelaskan, apakah dalam kasus-kasus itu kaum Muslim diperangi dan dizalimi, atau Muslim yang memerangi. Dalam menyinggung kasus Bosnia, misalnya, dia tidak memaparkan bagaimana kaum Muslim menjadi korban kebiadaban yang tiada tara di Bosnia. Dan ketika itu, AS dan sekutunya menjadi penonton yang baik atas pembasmian umat Muslim.

Samantha Power, dalam bukunya “A Problem from Hell: America and The Age of Genocide” (London: Flamingo, 2003), membongkar habis-habisan sikap tidak peduli AS terhadap praktik pembasmian umat manusia di berbagai tempat, termasuk di Bosnia.  Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2003. Dalam kasus Bosnia, tulis Samantha, AS bukan hanya tidak berusaha menghentikan pembasmian etnis Muslim, tetapi malah memberi jalan kepada Serbia untuk melaksanakan kebiadaban mereka. (Along with its European allies, it maintained an arms embargo against the Bosnian Muslims from defending themselves). Untuk Bosnia, Samanta yang menjadi saksi berbagai kebiadaban Serbia di Bosnia, menulis judul “Bosnia: No More than Witnesses at a Funeral”.

Sebagaimana ilmuwan “neo-orientalis”  lainnya, seperti Bernard Lewis, Huntington juga tidak mau melakukan kritik internal terhadap kebijakan AS yang imperialistik – sebagaimana banyak dikritik oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Noam Chomsky, Paul Findley, dan Edward Said. Ia tidak mengakui bahwa kebijakan AS yang membabi buta mendukung kekejaman dan penjajahan Israel adalah keliru dan menjadi satu sebab penting tumbuhnya ketidakpuasan dan kemarahan kaum Muslim dan umat manusia. Ia hanya mau menunjukkan bahwa Islam adalah potensi musuh besar dan bahaya bagi Barat dan AS khususnya. Ia menampilkan polling-polling di sejumlah negeri Islam yang menunjukkan, sebagian besar kaum Muslim sangat tidak menyukai kebijakan AS. Misal, sebuah polling di sembilan negara Islam, antara Desember 2001-Januari 2002, menampilkan realitas opini di kalangan Muslim, bahwa AS adalah “kejam, agresif, sombong, arogan, mudah terprovokasi dan bias dalam politik luar negerinya.”

Tetapi, Huntington tidak mau menampilkan fakta bahwa kebencian masyarakat Barat (Eropa dan rakyat AS sendiri) terhadap kebijakan-kebijakan politik AS juga sangat besar. Bahkan, jauh lebih besar dari apa yang terjadi di kalangan Muslim. Di dunia Islam, tidak ada demonstrasi besar-besaran diikuti ratusan ribu sampai jutaan orang dalam menentang AS seperti yang terjadi di berbagai negara Eropa dan di dalam AS sendiri. Banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Prof. Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’. Karena itu, sangatlah naif, bahwa ilmuwan seperti Huntington ini justru mencoba menampilkan fakta yang tidak fair dan sengaja membingkai Islam sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rhetoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam.”

Huntington, Bernard Lewis, dan kawan-kawannya terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat, setelah komunis. John Vinocur, dalam artikelnya berjudul “Trying to put Islam on Europe’s agenda”, (International Herald Tribune, 21 September 2004), mencatat, “But Huntington insists Europe’s situation vis-à-vis Islam is more acute.”  Skenario inilah yang dirancang kelompok “Neo-konservatif” di AS, yang beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan konfrontasionis. (Lihat buku The High Priests of War “ (Washington DC: American Free Press, 2004), karya Michel Colin Piper).

Tanpa pendefinisian yang jelas terhadap “Islam militan”, maka itu akan menyeret  kaum Muslim lainnya. Itu, misalnya, menimpa Thariq Ramadhan dan Yusuf Islam, yang dilarang memasuki AS. Begitu juga ribuan warga Muslim yang menerima perlakuan tidak manusiawi.  Dalam sub-bab berjudul “The Search for an Enemy”, Huntington mencatat, bahwa pasca Perang Dingin, AS memang melakukan pencarian musuh baru, yang kemudian menemukan musuh baru bernama “Islam militan”, setelah peristiwa WTC.  Huntington menulis: “Some Americans came to see Islamic fundamentalist groups, or more broadly political Islam, as the enemy, epitomized in Iraq, Iran, Sudan, Libya, Afghanistan under Taliban, and to lesser degree other Muslim states, as well as in Islamic terrorist groups such as Hamas, Hezbollah, Islamic Jihad, and the al-Qaeda network… The cultural gap between Islam and America’s Christianity and Anglo-Protestanism reinforces Islam’s enemy qualifications. And on September 11, 2001, Osama bin Laden ended America’s search. The attacks on New York and Washington followed by the wars with Afghanistan and Iraq and more diffuse “war on terrorism” make militant Islam America’s first enemy of the twenty-first century.”

Di sini, tampak,  bahwa sangatlah sulit dunia Islam menerima standar AS dalam soal Islam militan. Dunia Islam, misalnya, secara keseluruhan tetap menolak memasukkan Hamas di Palestina, sebagai kelompok teroris, sebab mereka melakukan perjuangan membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Buku Who Are We? memang masih merupakan kelanjutan garis berpikir Huntington dalam soal Islam dari buku The Clash of Civilizations.  Sebagaimana Lewis, Huntington sudah jauh-jauh hari mengingatkan Barat agar mereka waspada terhadap perkembangan Islam. Sebab, Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah menggoyahkan dan mengancam peradaban Barat. (Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice).  

Karena itulah, Huntington memperingatkan, pertumbuhan penduduk Muslim merupakan satu faktor destabilitas terhadap masyarakat Muslim dan lingkungannya. Jumlah besar kaum muda Muslim dengan pendidikan menengah akan terus memperkuat kebangkitan Islam dan militansi Islam, militerisme, dan imigrasi. Hasilnya, pada awal-awal abad ke-21, Barat akan menyaksikan kebangkitan kekuatan dan kebudayaan non-Barat dan sekaligus benturan antar-masyarakat non-Barat atau dengan Barat.

Sebagaimana buku The Clash of  Civilizations, buku Who Are We? perlu dicermati dalam konteks skenario politik global terhadap Islam, yang sebenarnya merupakan satu upaya “viktimisasi Islam” untuk menutupi berbagai kesalahan kebijakan AS dan sejumlah sekutunya.
Kini, silakan dicermati, mengapa situs-situs Islam itu diblokir? Allah Maha Tahu dan Allah tak pernah tidur.

DR Adian Husaini

posted by @Adimin

Mahyeldi Ansharullah: Pemimpin Teladan yang Rendah Hati

Written By Anonymous on 02 May, 2015 | May 02, 2015


Rendah hati adalah kesan pertama yang tampak dari pria kelahiran 48 tahun lalu ini. Mahyeldi Ansharullah, wali kota Padang sejak tahun 2014 lalu, menjadi contoh teladan masyarakat di bidang politik. Beliau menghabiskan masa perkuliahannya di Universitas Andalas bukan sebagai mahasiswa politik, melainkan pertanian. Setelah lulus, beliau menjadi guru dan da’i yang berdakwah dari masjid ke masjid, juga dari surau ke surau. Bagaimanapun, beliau mengaku bersedia untuk terjun ke dunia politik praktis.

Mahyeldi adalah sosok pemimpin yang senang berada dekat dengan rakyat. Misalnya saja, beliau mengadakan sahur bersama warga kurang mampu. Tak hanya membawa kebutuhan sahur, tapi beliau juga memperhatikan keadaan mereka; kesehatan, pendidikan, serta kelayakan tempat tinggal warga. Beliau juga menjadi khatib Jumat dari masjid ke masjid di kota Padang.

Mahyeldi merupakan seorang suami dari Harneli Bahar dan Ayah dari 9 buah hatinya. Saat dirumah, ia tanggalkan jabatannya dan menjadi sosok Ayah yang sederhana, santun, dan penyayang. Baginya, bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan layak sudah menjadi hal yang patut disyukuri. Semua hal yang dilakukan didasari atas rasa cinta beliau terhadap keluarga dan rakyatnya.

Menjadi sosok pemimpin yang sederhana dan rendah hati tak berarti merendahkan diri. Mahyeldi Ansharullah menjadi bukti bahwa seorang pemimpin justru dicintai karena kelembutannya, bukan karena sikap yang otoriter.

Sabtu ini (2/5), Mahyeldi Ansharullah akan berbagi inspirasi dalam talkshow‪ #‎DiBalikKeajaiban‬ bersama Ippho Santosa & Tim Khalifah (Ippho Santosa) pkl. 12.30 WIB di TV One!


posted by @Adimin

Indonesia Butuh Kader Bangsa yang Bertanggungjawab


JAKARTA (2/5) – Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) DPP PKS Surahman Hidayat menilai Indonesia membutuhkan kader-kader bangsa yang bertanggung jawab, bisa mengelola diri, lingkungan, dan negerinya. Karena menurutnya, tanggal 2 Mei bukan semata-mata peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). 2 Mei merupakan momen mengingat dan memahami kembali makna pendidikan bagi bangsa, tidak hanya dari segi tataran umum, tetapi lebih dalam dan kualitatif, yaitu kekaderan.

Surahman menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Kantor DPP PKS, MD Building, Jakarta, Sabtu (2/5). Ia mengatakan hasil pendidikan kekaderan dapat dilihat dari kemunculan tokoh-tokoh nasional di setiap dekade. Tokoh-tokoh itu lahir tidak hanya berbasis keterampilan keras (hard skills) seperti ilmu atau keahlian tertentu, tetapi juga keterampilan lunak (soft skills) berupa karakter dan kepribadian yang tangguh.

“Keterampilan lunak dapat mengendalikan diri seseorang saat bertindak atau mengambil keputusan. Ini perlu ditekankan. Apalagi di akhir tahun 2015 Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Masing-masing negara ASEAN akan berusaha menawarkan konsep pendidikannya. Indonesia pun harus siap berbaur, tetapi tidak harus melebur. Nah, disinilah karakter tangguh dibutuhkan agar kita bisa memegang teguh akar budaya, nilai, dan cita-cita luhur Bangsa Indonesia,” kata Surahman.

Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI itu menyoroti pentingnya pembinaan karakter karena pendidikan tidak sekedar memberi ilmu atau keterampilan. Menurutnya, pendidikan ialah tentang kebermanfaatan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Sehingga, apapun ilmu yang dipelajari, bila tidak memberi manfaat dapat berbalik arah, bahkan membawa kerugian.

“Pendidikan nasional itu bagaikan sebuah bangunan besar yang sudah ada sejak dahulu. Tentu kita melanjutkan, mana yang perlu ditambah atau justru ditambal agar menjadi bangunan kokoh, megah, dan siap menampung siapa saja yang membutuhkan keteduhan serta perlindungan. Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan nasional diperlukan evaluasi menyeluruh dari waktu ke waktu. Agar perjalanan itu bisa lurus menuju cita-cita sebagaimana tujuan nasional,” ujarnya.

Anggota Komisi X DPR RI yang bekerja dalam ruang lingkup pendidikan, kebudayaan, pariwisata, pemuda, olahraga, dan perpustakaan tersebut menilai Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) sudah cukup baik. Ia berharap pemerintah dapat memanifestasikan prinsip-prinsip UU Sisdiknas kedalam berbagai program yang tepat sasaran.

“Tujuan pendidikan itu kan melahirkan suatu potensi yang baik. Tinggal bagaimana potensi baik ini dipupuk, sedangkan potensi-potensi negatif diminimalisasi. Karena memang manusia dasarnya begitu, punya pilihan mengembangkan potensi di dua arah, baik atau buruk. Sedangkan saat ini banyak kita lihat anak-anak sekolah juga mahasiswa memiliki cukup waktu untuk hura-hura. Padahal, waktu-waktu tersebut bisa untuk menggali bakat masing-masing, kemudian berkompetisi menghasilkan karya atau penemuan baru,” lanjutnya.

Bangsa Indonesia, tambah Surahman, harus semakin yakin bahwa pendidikan dapat menjadikan manusia lebih dewasa, manusiawi, dan beradab. Hasil pendidikan berkualitas dapat dimanfaatkan untuk membangun sektor ekonomi, politik, maupun budaya. Namun apabila esensi pendidikan ini tidak diyakini secara tepat, Surahman menyebut masyarakat hanya akan menjadi alat pihak-pihak tertentu.

“Misalnya ketika masa pemilihan umum (pemilu) masyarakat suatu wilayah dimanfaatkan untuk menarik suara, setelah itu dibuang saja. Kemudian muncul penyesalan karena salah pilih atau merasa kebijakan tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Kondisi ini tentu sangat merugikan bila terus terjadi. Oleh karena itu, kita harus meyakini bahwa pendidikan memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya memerlukan pendidikan,” pungkasnya. [pks.id]


posted by @Adimin

Hidayat Nur Wahid: PKS Koalisi dengan Buruh Bukan Mustahil


Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengungkapkan koalisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan berbagai serikat atau konfederasi buruh, mungkin saja terjadi. Terlebih dalam pengajuan calon independen pada Pemilihan Umum Kepala Daerah 9 Desember mendatang.

"PKS dan Buruh sudah erat hubungannya jadi jika mau ada koalisi mungkin saja, karena hubungan kami baik," kata Hidayat setelah acara Mayday Fiesta di Jakarta, Jumat (1/5).

Kendati demikian, Hidayat mengatakan pihaknya masih ingin melihat perkembangan terkait siapa calonnya dan daerah mana yang menjadi target pemenangan. "Itu proses, karena kita belum tahu yang diajukan siapa, dan daerah mana, apakah sudah ada calon atau belum," ujar Politikus PKS tersebut.

Lebih lanjut, dia mengatakan pihak buruh bisa saja menjadi calon yang diusung PKS. Namun Hidayat juga meminta buruh harus realistis dengan pilihan tokoh yang diajukan, karena memang ada pertimbangan tersendiri.

"Saya pikir rekan buruh pun akan realistis, siapapun yang dimajukan itu adalah calon terbaik yang dianggap bisa pegang amanat rakyat," katanya. [republika.co.id]


posted by @Adimin

PKS: Inilah Wawasan Nasionalisme dan Kebangsaan Kami!


Sebenarnya, soal nasionalisme atau kebangsaan, di PKS biasa kita bahas, bahkan pada pembinaan kader-kader tingkat pemula. Istilah kita kader tamhidiyah. Di tingkat pemula saja pasti diajari tentang doktrin-doktrin masalah cinta. Yaitu cinta yang dibingkai oleh batas-batas geografis ataupun cinta yang dibatasi oleh batas demografis. 

Dari sudut pandang kami, yang mudah-mudahan insya Allah ini adalah sudut pandang Islam, nasionalisme atau kebangsaan itu adalah suatu hal yang fitri. Kata orang Malaysia, “yang semula jadi”, dan bersifat universal. Karena cinta kepada bangsa, kepada tanah air itu pasti ada pada makhluk yang bernyawa. 

Bahkan Al-Qur’an pun karena sifatnya fitrah, memberikan isyarat-isyarat yang tegas tentang hal itu. Umpamanya ketika kita harus berbuat kebaikan, kata Allah SWT dalam Al-Qur’an, 

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya…” (Q.S. Al-Isra’: 26) 

Sudah tentu ‘kerabat dekat’ ini bukan hanya kedekatan dalam kaitan darah keturunan. Tapi bisa juga kedekatan geografis-demografis. Jadi menunaikan hak-hak kekerabatan itu, kita dituntut untuk melaksanakannya sebagai perintah Allah.

Begitu juga ayat lain menyebutkan, ketika kita berdakwah, memberi peringatan, beramar ma’ruf nahi munkar, yang didahulukan harus orang yang dekat dulu. Allah SWT berfirman, 

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Q.S. Asy-Syu’ara: 214). 

Dan, keluarga dekat kita adalah keluarga besar bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, beliau sangat merindukan untuk kembali ke Makkah. Kerinduan ini dijawab langsung oleh wahyu Allah SWT, 

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah)…”(Q.S. Al-Qashash: 85) 

Jadi, kecintaan kepada tanah air, kepada bangsa, itu adalah fitrah. Atas dasar ini maka doktrin-doktrin seperti itu, yaitu kecintaan kepada tanah air, kepada bangsa—kita tanamkan pada masa tamhidiyah atau masa kader pemula. 

Walaupun begitu, kita tidak menginginkan nasionalisme dan kebangsaan yang super dalam pengertian yang meremehkan, mendiskriditkan, dan merendahkan bangsa lain, atau menyepelekan negeri-negeri lain. Karena semangat kebersamaan dan kerjasama dalam kehidupan nasionalisme dan kebangsaan ini kita kembangkan secara lebih luas dalam konteks semangat kebersamaan dan semangat kerjasama dalam kehidupan kemanusiaan secara global internasional. 

Kalau dalam pergaulan internasional itu kita tidak mempunyai basis bingkai kebangsaan dan ketanah-airan, maka kita tidak begitu dihargai. Cenderung dianggap pengungsi, cenderung dianggap wabah yang patut dikasihani. Sehingga tidak bisa tampil dengan mengangkat kepala. Tapi ketika kita tampil mewakili bangsa Indonesia, negara Indonesia, yang luasnya seluas Eropa Barat dan Timur, ketika kita tampil di forum internasional dengan memiliki basis bingkai kebangsaan dan ketanah-airan, niscaya ada kebanggaan dan kita pun dihargai. 

Jadi, saya ingin menggaris bawahi, bahwa nasionalisme dan kebangsaan bagi kami adalah sangat fitrah, ‘semula jadi’ dan universal. Sehingga tidak harus menjadi sesuatu yang sangat complicated dan sulit. Masalah ini sudah selesai, karena itu bagian dari fitrah. 

Kebersamaan dalam Merespon Arus Perubahan 


Kita menghadapi arus perubahan yang terus menerus. Terutama dipacu dan dipicu oleh arus informasi secara global yang demikian deras. Perubahan mendorong kita untuk merespon bahkan mengantisipasi. 

Sebetulnya perubahan itu adalah keniscayaan. Ada istilah dalam bahasa Arab, “Dawamul haal minal muhaal.”, artinya, “Keadaan yang tetap itu adalah sesuatu yang mustahil.” 

Jadi memang selalu berubah, dan kita diharapkan mampu menjadi agen-agen perubahan. Agar jangan tergerus oleh perubahan yang didorong oleh hegemoni pihak-pihak asing. Tapi perubahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Dalam merespon arus perubahan itu sudah barang tentu kita tidak mungkin sendirian. Sebab perubahan ini pasti dialami oleh semua komponen bangsa. Oleh karena itu merespon perubahan harus berdasarkan semangat kebersamaan dan semangat kerjasama dari segenap komponen bangsa. 

Agar kebersamaan itu bisa terjalin, maka forum-forum dialog, berkomunikasi dan bermusyawarah harus semakin digalakkan. Untuk memudahkan dialog, berkomunikasi dan musyawarah, kita harus mempunyai ijabiyatur ru’yah atau positive thinking antara satu dengan yang lain. 

Semua kita punya potensi positif—dan inilah yang harus kita gali, kita bangun, kita jalin, kita koordinasikan dan kita konsolidasikan. Potensi positif yang dimiliki oleh segenap komponen bangsa inilah yang harus kita himpun. Maka modal dasarnya adalah positif thinking. Jangan ada pandangan minor dan mendeskriditkan satu sama lain. 

Insya Allah kalau kita sering musyawarah, sering bertemu, sering berembuk, kita bisa melahirkan al-khittah adz-dzakiyah, atau smart planning, perencanaan yang cerdas. Perencanaan yang cerdas yang sudah menghimpun daya inovasi bangsa ini, daya kreatif bangsa ini dan semangat kebersamaan bangsa ini, serta semangat kerjasama bangsa ini. Sehingga perencanaan kita Insya Allah menjadi perencanaan yang cerdas, sebab merupakan hasil urunan, urun rembuk dari seluruh komponen bangsa. 

Yang ketiga harus ditindak lanjuti dengan al-a’maal al-qawiyyah (kerja keras). Insya Allah dengan tiga hal ini: positive thinking, smart planning, dan hard working—kita bisa selalu merespon perubahan. Walaupun perubahan itu sulit, didorong juga arus globalisasi, tapi dengan semangat kebersamaan, pandangan positif antara satu dengan yang lain, termasuk juga kepada aspek-aspek perubahan yang datang dari luar, kita bisa meramu dalam perencanaan kita yang cerdas, smart planning. Setelah smart planning, kita bekerja keras untuk merespon arus perubahan dan arus globalisasi. Sehingga bangsa Indonesia akan terus berjaya dalam merespon perubahan dan globalisasi. Tidak menjadi bangsa yang ketakutan melihat perubahan, ketakutan melihat globalisasi. Tapi justeru Insya Allah kita menjadi bangsa yang maju, bisa mewarnai arus perubahan dan arus globalisasi. 

Menjadi Bangsa yang Unggul 
Sudah tentu, untuk bisa mewarnai arus perubahan dan arus globalisasi, kita harus menjadi bangsa yang unggul. Apalagi bangsa ini secara geografis dan demografis adalah bangsa yang besar. Wilayahnya luas, populasinya besar. Sehingga jika bangsa ini berpegang teguh kepada nilai-nilai yang berakar pada budaya bangsa yaitu bangsa yang religius, insya Allah kita akan mempunyai winning value, nilai yang unggul, yang menang dalam menghadapi arus globalisasi dan arus perubahan apa pun. 

Yang kedua, nilai-nilai itu harus dijabarkan dalam bentuk konsep, yang disusun bersama oleh komponen-komponen bangsa. Sehingga kita mempunyai winning concept, konsep yang unggul, yang pantas menang dalam pergaulan internasional. 

Yang ketiga, kita juga harus unggul dalam sistem (winning system). Kalau bicara sistem, harus terkait dengan kerja dan kinerja, terkait dengan performa, terkait dengan regulasi, terkait dengan pengaturan-pengaturan, terkait dengan pembagian tugas, terkait dengan sistem komunikasi dan kerja sama antar komponen bangsa. Sistem inilah yang harus kita wujudkan. Sistem yang laik menang dalam pergaulan internasional, winning system. 

Yang keempat, kita juga harus menjadi bangsa yang satu dan terpadu. Dengan kesatuan dan keterpaduan bangsa ini, kita bisa menjadi winning team dalam pergaulan antar bangsa. Satu tim. Ketika kita tampil di mana pun adalah merasa mewakili bangsa dan didukung oleh seluruh bangsa dan juga melaksanakan program-program bangsa dan misi-misi bangsa. Agar bangsa ini menjadi satu tim. 

Walaupun kita berpartai-partai, saya lihat partai-partai ini hanya sebuah lembaga penataan potensi bangsa. Karena potensi bangsa besar ini tidak mungkin diurus oleh satu partai. Partai apapun tidak bisa sendiri mengurus bangsa ini. Tapi kita juga harus berbagi. Menata potensi bangsa ini, mengelola potensi bangsa ini, dan mengarahkan potensi bangsa ini. Yang kemudian secara sistematis kita padukan, kita konsolidasikan, kita koordinasikan, dan kita mobilisasikan untuk mencapai sebesar-besarnya mashlahat bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. 

Yang kelima, sudah tentu target-target pencapaian perjuangan bangsa ini sangat banyak. Tapi kita harus ambil skala prioritas, mana yang didahulukan.Harus ada winning goal. Dimana seluruh komponen bangsa serentak mencapai kesatuan pencapaian prioritas. Tentu ini perlu ada kesepakatan bersama, sering berkomunikasi, sering bermusyawarah, sering duduk bersama. Agar skala prioritas target-target perjuangan bangsa Indonesia ini bisa kita sepakati tahap demi tahap, sebagai winning goal, atau tujuan yang akan kita unggulkan dan kita menangkan dalam prospek perjuangan bangsa. 

Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan memperjelas dan bisa menjawab pertanyaan tentang nasionalisme atau kebangsaan dalam benak, pikiran kader-kader PKS. Ini bisa dibilang merupakan jawaban resmi dari PKS.
 
KH. Hilmi Aminudin
Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

[pkskelapadua]


posted by @Adimin

PKS Terus Kawal Kesejahteraan Buruh

Written By Anonymous on 01 May, 2015 | May 01, 2015


JAKARTA (1/5) – Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Martri Agung mengaku bersyukur karena Indonesia saat ini telah menetapkan Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei sebagai Hari Besar Nasional. Karena Martri menilai, buruh merupakan elemen yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia, sehingga kesejahteraannya harus selalu dijaga.

“Buruh merupakan salah satu stakeholder dalam pembangunan atau perekonomian Indonesia. Tidak mungkin ekonomi bergerak tanpa adanya buruh. Jadi itu salah satu fakta, mau tidak mau Indonesia akan bangkit dan maju ketika buruhnya pun sejahtera. Ketika kesejahteraan buruh terjaga, mereka bekerja jadi lebih tenang, lebih aman, sehingga akhirnya produktifitas kerja pun meningkat” ungkap Martri saat ditemui di Gedung DPP PKS, Rabu (29/4).

Dari awal pembentukannya, PKS memang sudah fokus terhadap isu perburuhan. Hal tersebut terbukti dengan adanya bidang khusus bagi buruh beserta dengan tani dan nelayan. Dalam bidang tersebut, para Kader PKS fokus memberikan pembinaan dan program-program terkait dengan perburuhan bersama dengan serikat pekerja maupun federasi dan konfederasi pekerja di Indonesia.

PKS, ujar Martri, selalu mendukung elemen buruh dalam melakukan advokasi. Tak hanya lewat agenda pengawalan langsung, PKS pun turut serta dalam mengawal perundang-undangan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.

“Bersama dengan federasi dan konfederasi, Departemen Buruh DPP PKS beserta anggota legislatif baik tingkat DPR RI maupun DPRD Provinsi/Kabupaten selalu melakukan komunikasi dengan organisasi-organisasi atau serikat pekerja dalam membahas peraturan perundangan. Baik di tingkat pusat sebagai Undang-Undang maupun di tingkat daerah dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) yang terkait dengan tenaga kerja atau buruh,” jelas Martri.

Martri menambahkan untuk gerakan di Hari Buruh tahun ini, PKS akan turun bersama rekan-rekan buruh menyuarakan tuntutannya diantaranya pemberlakuan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) secara konsisten dan transparan terkait jaminan kesehatan dan jaminan pensiun serta pembubaran pengadilan hubungan industrial yang justru merugikan buruh.

Lebih lanjut Martri pun menuturkan ada beberapa isu tentang perburuhan yang sedang dikawal PKS lewat Komisi IX DPR RI, yakni revisi Undang-Undang Nomor 39 tentang Tenaga Kerja Luar Negeri, pembubaran peradilan perselisihan industrial, serta penolakan upah murah.

Tak lupa Martri pun berpesan kepada rekan-rekan buruh yang akan melakukan aksi hari ini, agar senantiasa menjaga ketertibannya terutama di pusat-pusat keramaian.

“Karena sebenarnya masyarakat akan simpati kepada gerakan kita, ketika kita bisa menjaga ketertiban dan kenyamanan khalayak luas,” pungkasnya.

Keterangan foto: Muhammad Martri Agung, Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan DPP PKS.

[kabarpks.com]


posted by @Adimin

BELAJAR DARI AKHLAK NABI YUSUF AS | Oleh: Mulyadi Muslim, Lc, M.A


Ketika tejadi bisikan nafsu syahwat baik oleh Yusuf maupun oleh istri raja, Zulaekha, dan hampir terjadi perbuatan dosa. Tapi Allah buktikan kekuasaannya sehingga akhirnya nabi Yusuf tersadar dan akhirnya terhindar dari dosa tersebut. 

Hal ini juga dijelaskan olehistri raja, hampir terjadinya perbuatan maksiat itu adalah keinginan istri raja itu sendiri. Ketika kebenaran perbuatan itu diketahui oleh raja dan munculnya desas desus bahwa telah terjadi fitnah yang luar biasa ditengah kerajaan akhirnya raja memutuskan istrinya harus beristigfar dan menetapkan bahwa yusuf dipenjara.

Ketika yusuf menerima penjara untuk mengamankan dirinya, dia mengatakan “wahai Tuhanku, penjara sebenarnya lebih aku sukai”. Ini membuktikan bahwa menjaga kehormatan jauh lebih utama bukan disanjung oleh perempuan yang menginginkannya. 

Saat dipenjara, Nabi Yusuf tidak lupa dengan misinya, bahwa ia adalah nabi, sehingga ketika ada 2 pelayan kerajaan yang sama-sama dipenjara menyampaikan mimpi mereka. Diantara mereka ada yang menyampaikan bahwa ia membawa roti di atas kepalanya dan roiti itu di patuk burung. Yang satu lagi mengatakan ia bermimpi memeras anggur dan mereka berdua meminta menjelaskan apa takwil dari mimpi-mimpi tersebut. 

Nabi Yusuf tidak langsung memberikan rincian dari takwil mimpi tersebut, tapi Nabi Yusuf mengajak mereka berdua kepada Rabb yang menciptakan dunia serta isinya. Sehingga Nabi yusuf mengatakan “manakah yang lebih baik Tuhan yang bermacam-macam atau Allah SWT? (QS Yusuf : 39). 

Baru kemudian Yusuf menjelaskan tentang takwil mimpi kedua pelayan tersebut. Orang yang memeras anggur ternyata tetap jadi pelayan raja, adapun orang yang membawa roti di atas kepalanya dan dipatuk burung ternyata ia akan disalib. 

Maka pelajaran akhlak yang diajarkan allah melalui nabi Yusuf adalah
  1. Manusia dari awal penciptaannya adalah mengabdi. QS Adz Dzariyat : 56.
  2. Kita harus posisikan diri dengan potensi kita.Barangkali ada orang yang menyanjung kita, tetap saja semua itu harus dipandang objektif, sebagaimana Yusuf ditawarkan raja bermacam-macam, namun ia Cuma memilih bendaharawan negara karna menurutnya hanya itu bidang yang mampu dilakukannya.

Pelajaran akhlak berikutnya yang dapat kita pelajari dari Yusuf adalah: 
  • Seorang muslim yang baik tidak memiliki rasa dendam dan sakit hati 
  • Seorang muslim mesti tawadhu/rendah hati kepada siapapun 
Dalam perjalanan kisah Nabi Yusuf kita ketahui bahwa yang menjerumuskan Yusuf ke dalam sumur adalah saudara-saudaranya sendiri. Lalu ketika Allah takdirkan di Mesir datang musim paceklik dan Yusuf adalah bendaharawan kerajaan saat itu yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat. Dalam sejarah dikatakan bahwa saudara-saudara nabi Yusuf ini d perintahkan orang tuanya unuk datang ke Mesir agar mendapatkan bantuandari kerajaan. Dan saudaranya-saudaranya ini akhirnya bertemu dengan Yusuf, namun pada tahap awal mereka tidak menyadari bahwa yang memberikan bantuan itu adalah saudaranya sendiri. Pada tahapan berikutnya saudara-saudaranya datang dan nabi Yusuf membuat siasat bagaimana saudara kandungnya yang paling kecil yang bernama Bunyamin bisa tertahan di Mesir. 

Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan bahwa Yusuf memerintahkan kepada anggotanya untuk memasukkan semacam surat untuk menghitung/menimbang barang kedalam karung Bunyamin (Kisah ini diceritakan dalam QS Yusuf : 66-76). 

Sampai pada akhirnya Yusuf mengatakan bagaimana kalau seandainya barang yg hilang itu ditemukan pada salah satu saudara2mu? Salah seorang dari saudara Yusuf mengatakan siapa yang ada dalam karungnya barang yang hilang itu, maka dialah yang bertanggung jawab (QS Yusuf : 75). 

Maka di mulailah pencarian, digeledah semua karung-karung yang ada dan akhirnya ditemukan pada karung nya Bunyamin. Saudara nabi Yusuf yang lain berkata “Jika ia mencuri maka sesungguhnya saudaranya dulu pernah mencuri”. Ungkapan ini sebenarnya menyakitkan hati Yusuf. Tanpa di sadari saudaranya yang lain, sebenarnya ia menuduh yusuf menfitnah. Dulu di awal Yusuf di buang ke dalam sumur, pelakunya adalah mereka juga. Sekarang ia menuduh Yusuf melakukan pencurian. 

Dan ini lah hikmah yang bisa kita ambil, bahwa seperti apapun perlakuan orang lain terhadap kita, jangan sesekali menyimpan rasa dendam. (*)


posted by @Adimin

Ternyata Tidur Nyenyak, Cerdaskan Otak

Written By dBisnis on 30 April, 2015 | April 30, 2015

Otak mampu menyimpan memori yang hampir terlupakan melalui waktu malam. Dan ketika diperlukan dari otak untuk mengingat sesuatu yang awalnya diingat dalam kondisi tidak stabil


Semakin banyak ilmuwan menyingkap banyak penemuan semakin mudah kita temukan kebenaran Al-Quran dan Islam. Rupanya, ilmuwan menyingkap rahasia tidur.

Penemuan paling penting dalam masalah ini adalah ketika mereka memperoleh informasi tentang adanya aktifitas besar otak manusia di saat sedang tidur. Mereka menyimpulkan, manusia bisa memanfaatkan waktu tidurnya untuk mempelajari banyak hal baru.

Para ilmuwan di Institut Max Planck Jerman mendalami masalah cara penyimpanan informasi serta meaknisme kerja otak manusia. Hasil penelitian yang disebarkan di Majalah Nature Neuroscience, November 2006, itu membuka jendela mengetahui bagaimana cara belajar dan mengingat yang dimiliki manusia karena mereka mendapatkan fakta bahwa otak manusia bekerja aktif saat tidur.

Temuan menyebutkan bahwa ada berbagai informasi yang tersimpan dalam suatu area otak, yang disebut hippocampus, di mana informasi itu tersimpan hanya dalam waktu singkat. Tapi Hippocampus lalu bergerak dalam beberapa hari, khususnya saat tidur nyenyak, hingga  sampai lapisan luar otak di area yang disebut neocortex. Neocortex kemudian menjadi tempat penyimpanan informasi dalam waktu panjang atau lama.

Ilmuwan Thomas Hahn, Mayank Mehta, Bert Saknamnn, menyimpulkan pentingnya tidur untuk aktifitas belajar dan mengingat, karena mereka menyaksikan bagaimana aktifitas besar yang dilakukan sel syaraf saat seseorang dalam kondisi tidur.

Kajian Amerika menegaskan bahwa tidur nyenyak menyedikitkan masalah over obesitas terutama untuk anak-anak. Dalam penelitian yang dilakukan di Universitas Evanston di Elinwi Snile, disebutkan setiap jam tambahan akan menyedikitkan problema berat badan berlebih dan kegemukan.

“Sedikit tidur berpengaruh pada hormon yang memunculkan rasa lapar, khususnya untuk anak-anak,” ujar Emily Snile pakar yang juga memimpin tim penelitian ini mengatakan.


Memperkuat Daya Ingat

Kelompok yang paling mengambil manfaat dari penelitian ini adalah para pelajar, dan sudah tentu para penghafal Al Quran. Para pelajar yang kerap mengatakan bahwa mereka mudah lupa informasi yang telah mereka pelajari di malam ujian. Mereka lalu memilih antara tidur atau menambah jam waktu mengulang pelajaran. Para peneliti menemukan bahwa tidur sangat membantu menciptakan perubahan yang diinginkan terkait hubungan dengan sel-sel syaraf dan  otak. Adanya hubungan-hubungan ini, memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan otak untuk mengontrol sikap, belajar dan memperkuat daya ingat.

Berdasarkan hal itu, para peneliti percaya bahwa hasil penelitian mereka 
memberi bukti kuat bahwa tidur membantu pikiran untuk melakukan pekerjaan dengan baik, dan mengubah pengalaman ke dalam memori, serta menunjukkan pentingnya metode ini dalam persiapan menghadapi ujian. Selain itu, mereka juga menyingkap hasil temuan lain yang mengkaitkan adanya perubahan dalam otak yang berhubungan dengan tidur nyenyak, itu melebihi tidur ringan.

Penemuan ini lalu mendorong para peneliti untuk menjawab pertanyaan yang rumit: Mengapa kita tidur?




Ini merupakan gambar salah satu sel saraf listrik di daerah otak yang bertanggung jawab untuk penyimpanan memori yang disebut hippocampus dan kurva merah menunjukkan aktivitas listrik di wilayah tersebut. Sedangkan kurva biru adalah aktivitas listrik di lapisan luar otak saat yang sama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa informasi baru yang diperoleh seseorang pertama kali disimpan di bagian otak yang disebut “Hippocampus”. Pada akhir hari, otak tidak menghapus informasi ini dan melupakannya, tetapi informasi itu akan dipanggil kembali dan disimpan di dalam otak. (Max Planck Institute for Medical Research)

Profesor Michael Strykr dari Universitas California mengatakan, ”Jika seorang pelajar mengulang pelajarannya dengan baik hingga ia kelelahan lalu tidur, maka otak akan terus bekerja  saat tidur dengan cara yang sama! Di sini kita mengingat ayat Allah yang agung, yang mengingatkan kita tentang hal ini sejak zaman tak satupun manusia di bumi ini mengetahui pentingnya dan keajaiban tidur.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”(QS: Ar Ruum: 23)


Memantapkan Memori yang Terhapus

Sementara itu peneliti dari Universitas Chicago menegaskan bahwa ada sejumlah fakta yang dilupakan orang saat melewati hari yang sibuk mungkin akan mengingat kembali apa yang ia kerjakan  jika ia tidur setelah itu dalam kondisi baik.

Para peneliti meminta relawan untuk mengingat kata-kata sederhana, dan menemukan bahwa banyak memori mereka gagal menyimpan informasi kata-kata itu di sore harinya. Tapi keesokan harinya mereka bisa tidur dengan nyenyak dan mampu mengingat kembali informasi yang telah mereka ingat dengan sangat lebih baik.

Ini berarti bahwa otak mampu menyimpan memori yang hampir terlupakan melalui waktu malam. Dan ketika diperlukan dari otak untuk mengingat sesuatu yang awalnya diingat dalam kondisi tidak stabil, yang berarti sudah dilupakan oleh orang yang bersangkutan, lalu pada tahap tertentu, otak menempatkan kembali informasi itu secara lebih stabil dan konsisten. Tapi para peneliti percaya bahwa adalah mungkin untuk kembali ke memori ketidakstabilan menjadi stabil lagi ketika diperlukan. Ini berarti bahwa ingatan dapat termodifikasi dan tersimpan lagi ketika berhadapan dengan pengalaman baru. Masalah ini mungkin menjadikan orang terkejut. Tapi, apakah alam ini yang sistemnya merancang sistem yang tepat untuk tidur? Apakah keadaan malam yang gelap, yang membuat makhluk hidup cenderung untuk tidur, karena tahu bila tidur berguna untuknya?

Kita tidak memiliki jawaban. Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan;

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

”Dan dalam diri kalian, apakah kalian tidak memikirkan.” (QS: Adz Dzariyat : 21)


Mengembangkan Potensi dan Keterampilan

Terkait dengan masalah tidur, para peneliti kini juga mendapatkan banyak fakta ilmiah lain. Misalnya, mereka mengatakan bahwa  tidur nyaman, yang dilakukan dengan konsisten, bisa membina dan mengembangkan skill individu, bakat dan keterampilan, khususnya yang berkaitan dengan revitalisasi memori otak dan juga menstimulasi pengembalian memori untuk mengingat apa yang terjadi di masa lalu, bahkan mengingat kembali pemandangan.


Perangkat gambar diambil scan resonansi magnetik. Kita melihat dalam gambar sebelah kiri otak tertidur pada awal tidur dan tidak muncul dalam aktifitas apapun. Setelah ia mendengar informasi saat tidur, informasi itu direspon oleh otak dan otak mulai aktif (lihat area merah di sebelah kanan). Di sini para ilmuwan menegaskan bahwa otak bekerja selama tidur dan menerima informasi lalu menyimpannya. Karenanya, saya menyarankan siapapun yang ingin menghafal Al Quran dengan memanfaatkan teori atau metode mendengarkan Al Quran di saat tidur

Menurut Dr Stefan Fischer, pemimpin tim penelitian: Tidur berguna bahkan sangat diperlukan untuk mencapai tingkat keterampilan yang lebih baik.

”Studi baru menegaskan pentingnya tidur dalam kehidupan manusia dan adalah salah pendapat orang yang mengatakan bahwa tidur hanyalah aktifitas sia-sia dan membuang-buang waktu,” ujar Neal Standley.

Allah subhanahu Wata’ala berfirman;

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا

”Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al Furqan : 47)

Ayat ini diturunkan di zaman tak ada orang yang meneliti tentang tidur, dan kebanyakan orang mengangap bahwa tidur hanyalah kebiasaan yang tak berguna.

Tapi hanya Al Quran yang telah membicarakan hal ini, dengan menjadikan tidur sebagai salah satu keajaiban dan salah satu bukti kekuasaan Allah Subhanahu Wata’a. Inilah salah satu kemukjizatan Al-Quran.

Sebelum ini, para ilmuwan Jerman juga tertarik meneliti fenomena tidur. Mereka mencoba mengambil kesimpulan dari eksperimen yang mereka lakukan. Mereka mengatakan, perubahan pada otak mempengaruhi kreatifitas dan pengembangan kemampuan dalam proses yang dinamakan gelombang lambat (slow waves), saat seseorang tidur nyenyak dan terjadi selama empat jam pertama dari siklus tidur. Penelitian Jerman juga menjelaskan, daya ingat yang akan hilang bersamaan dengan pertambahan usia yang terkait dengan adanya  gangguan dan kondisi kurang tidur, khususnya tidur nyenyak yang sangat diperlukan untuk proses mempertajam memori, demikian dikutip kaheel7.com.




posted by @Adimin

Wako Mahyeldi Respon Aspirasi Pedagang Inpres II


PADANG - Keinginan ratusan pedagang Pasar Inpres II yang meminta agar mendapat hak berdagang di lantai I direspon Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah. Selasa (28/4) malam kemarin, pedagang yang mengatasnamakan dirinya Himpunan Pedagang Pasar Inpres (HIPPI) II akhirnya bertemu Wako Padang.

Sebelumnya, pada sore harinya ratusan pedagang itu menyampaikan aspirasi ke DPRD Kota Padang dan diterima langsung Ketua DPRD, Erisman. Dan pada malam harinya sekitar pukul 20.45 Wib, Wako Padang mengundang 20 perwakilan pedagang tersebut ke kediaman untuk mendengarkan aspirasi mereka.

Dalam pertemuan itu pada prinsipnya Wako Mahyeldi setuju untuk memfasilitasi aspirasi mereka. Terkait hal itu, Wako menugaskan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di jajaran kerjanya untuk melakukan pertemuan teknis untuk membahas keinginan pedagang.

Rabu (29/4), Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait bersama konsultan mengadakan pertemuan di Kantor Disperindagtamben. Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Pertambangan dan Energi (Disperindagtamben) Kota Padang, Dian Wijaya menjelaskan permintaan pedagang untuk berdagang di lantai satu Pasar Inpres II akan dicarikan titik temu. “Mudah-mudahan ada titik temu tanpa mengurangi dan menyalahi aturan tentang pembangunan pasar itu sendiri,” kata Dian.

Dian mengatakan, untuk memfasilitasi hal itu memang dibutuhkan perhitungan yang konkrit dengan dinas terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Pasar, Bagian Pembangunan, konsultan, Disperindagtamben dan lainnya. Apalagi menurutnya, di lantai I Inpres II itu sesuai rencana peruntukkannya hanya bagi 144 pedagang saja. Sementara pedagang menginginkan 379 pedagang di lantai I itu. “Kalau kita paksakan 379 itu berdagang di lantai I tentu lahan berdagang menjadi sempit. Suasana jual beli juga tidak nyaman, sempit dan sumpek. Namun kita akan tinjau ulang dan lihat sisi teknis sebuah pasar yang sehat, nyaman dan bersih,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Pasar Hendrizal Azhar mengatakan sejak dulunya pembangunan Pasar Inpres II secara formal dan hukumnya sudah ada legalitas. Meski ada keinginan pedagang untuk mengubah bentuk desain tentunya mesti merujuk atau mereview ke desain lama milik Pemko, apakah nanti bisa ditune-in kan dengan desain yang dibuat pedagang.

Setelah dilakukan pertemuan, tim Pemko Padang serta konsultan dan didampingi para pedagang melakukan kunjungan ke Pasar Inpres II untuk mencocokkan kondisi pasar sesuai dengan desain versi Pemko dengan versi pedagang. Walikota Mahyeldi menginginkan seluruh pedagang Pasar Inpres II hadir saat kunjungan itu, sehingga nantinya dapat dilihat kesesuaian kondisi di lapangan dengan desain gambar yang ada.

Teks foto: Wako Padang, H. Mahyeldi Ansharullah menerima perwakilan pedagang Pasar Inpres II di kediaman Wako di A. Yani, Selasa (28/4) malam.

[Humas dan Protokol Kota Padang]


posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger