pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Meski Gerbong Masih Pendek, Partai Harus Seperti Shinkansen

Written By Anonymous on 22 April, 2016 | April 22, 2016

Depok (22/4) - Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mustafa Kamal mengatakan bahwa gerbong Partai Dakwah ini harus seperti kereta cepat Shinkansen di Jepang.

"Meski gerbong pendek akan tetapi kecepatannya harus lebih tinggi, jangan kalah dengan yang gerbongnya lebih panjang. Seperti Shinkansen kereta cepat dari Jepang, minim goncangan dan cepat," kata Mustafa di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jumat (22/4/2016).

Oleh karena itu, katanya, kader dakwah jangan terlalu bising menghadapi fenomena yang sedang terjadi.

"Jangan sampai suara terlalu keras tapi tidak sampai-sampai. Ini hanya akan memancing lawan. Lebih baik kita terus bekerja dan diam-diam sampai," ucap pria yang pernah membidangi Kepemudaan DPP PKS ini.

Hari ini adalah hari ketiga Sekolah Kepemimpinan Partai. Program ini adalah bagian dari rangkaian milad ke-18 PKS.

Diketahui, Sekolah Kepemimpinan Partai adalah salah satu rangkaian agenda Milad 18 PKS. Ketua Penyelenggara Sekolah Kepemimpinan Partai, Musholi menyebutkan Ketua DPW PKS dari seluruh wilayah dan juga Wilayah Dakwah (Wilda) di Indonesia hadir selama tiga hari dari tanggal 20 hingga 23 April 2016. [pks.id]

Keterangan Foto: Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal
posted by @Adimin

Kisah Kekaguman Fahry Ali Pada PKS

Ada kisah menarik yang disampaikan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman ketika menjadi keynote speaker dalam pertemuan di Sekolah Kepemimpinan Partai (SKP) di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Rabu (20/4) kemarin.

Akhir tahun 2005, Sohibul sedang menghadiri undangan acara peluncuran buku Arifin Panigoro. Dalam peluncuran tersebut, yang jadi pembahas adalah seorang pengamat politik bernama Fahry Ali. Pada waktu itu bisa dikatakan Fahry Ali merupakan pengagum Partai Dakwah ini. Ia pun ngobrol dengan Sohibul, namun tiba-tiba pembawa acara mengatakan kepada Fahry Ali bahwa sebelum acara dimulai hadirin diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama. Fahry Ali mengiyakan, lalu ia mengatakan sesuatu ke Sohibul seperginya pembawa acara.

“Man, saya taruhan,” kata Fahry, “Pasti kamu nanti tidak nyanyi Indonesia Raya,” lanjutnya.

Terang saja pernyataan tersebut membuat Sohibul terkesiap. “Hehe..sembarangan aja, Bang. Nanti saya akan berdiri dan akan nyanyi dengan lantang. Kenapa Abang punya pikiran seperti itu?” ucap Sohibul.

Fahry Ali mengatakan bahwa itulah persepsi publik tentang PKS yang dimilai anti-Indonesia Raya, antipancasila, anti-Undang-Undang Dasar 1945 dan anti sebagainya.

Sohibul pun mengajak diskusi panjang lebar tentang PKS pada Fahry Ali.

“Kalau begitu persepsi saya salah ya, Man?” sadar Fahry.

Sohibul mengiyakan, meskipun begitu ia tetap saja penasaran dengan Fahry Ali yang mengaku pengagum PKS tapi mengatakan sesuatu yang berseberangan dengan PKS. Kemudian ia bertanya untuk meruntuhkan rasa penasaran itu.

“Bang Fahry ini kan pengagum PKS. Sekarang kalau benar PKS yang katanya anti-Indonesia Raya, antipancasila, anti-Undang-Undang Dasar 1945—ini kalau benar ya, Bang Fahry masih kagum dengan PKS atau tidak?” tantang Sohibul dengan nada ramah.

Jawabannya cukup mengejutkan, Fahry berkata, “Saya tetap mengagumi kalian (PKS)!”

“Lah, kok mau dengan yang anti segala-segalanya?” tanya Sohibul masih penasaran.

Fahry pun menjawab dengan penjelasan yang cukup menarik. “Man, yang namanya orang seperti saya itu merindukan ruang publik khususnya pengelolaan Negara yang baik. Tapi kami sadar kami tidak bisa membawa kebaikan tersebut karena kami bukan orang baik. Nah, di tengah-tengah kerinduan itu tiba-tiba muncul segerombolan anak muda yang datang ke ruang publik dengan membawa moralitas. Demonstrasi rapi, tidak mengganggu yang lain. Selesai demonstrasi bersih (dari sampah). Anggota dewannya di DPR dan DPRD hingga dibukukan ‘Bukan di Negeri Dongeng’ sampai segala macam. Jadi, buat orang-orang seperti saya, masalah di internal kamu seperti apa, anti apa anti apa, itu peduli amat! Tapi yang kamu bawa ke ruang publik yang membawa moralitas, pasti kami dukung!” aku Fahry Ali.

Kisah masa lampau doktor lulusan Jepang tersebut membuat para peserta SKP yang terdiri dari para ketua DPW, Bidang Kaderisasi dan BPSDM tersenyum dan semringah. SKP sendiri adalah salah satu rangkaian agenda Milad 18 PKS yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 20 April hingga 23 April 2016.

“Apa yang membuat mereka tertarik kepada kita? Mereka hanya merindukan hadirnya moralitas di tengah publik!” ucap Sohibul mengakhiri satu kisah klasiknya.

Ilustrasi: Sekolah Kepemimpinan Partai

posted by @Adimin

Wako Mahyeldi: “Kartini” Kuat Karena Kesabarannya

PADANG – Kuatnya “Kartini” (wanita) bukan karena mampu mengangkat beban berat. Akan tetapi kuatnya wanita karena rasa sabar yang begitu tinggi di dalam dirinya. Demikian antara lain dikatakan Walikota Padang, H. Mahyeldi Dt Marajo saat membuka Peringatan Hari Kartini tingkat Kota Padang 2016 di Aula Stikes Ranah Minang, Kamis (21/4).

“Belajar sabar itu kepada wanita, bukan kepada laki-laki,” sebut Mahyeldi.

Kesabaran yang dimiliki wanita dirasakan langsung oleh Walikota di dalam kehidupannya. Seperti kesabaran yang dimiliki dari sosok nenek, orangtua, maupun pada sosok istri Walikota sendiri. 
“Saya melihat sendiri kesabaran mereka,” tukas Walikota.

Walikota mencontohkan kesabaran penuh yang dimiliki istrinya, Ny Harneli Mahyeldi. Di dalam keluarganya, peranan isteri sangat memegang peranan penting.

“Kami yang keluarga besar tentu setiap paginya cukup banyak pakaian yang menumpuk. Kalau saya yang laki-laki kalau melihat pakaian menumpuk pasti kusut pikiran, tetapi wanita tidak. Satu persatu dikerjakan akhirnya selesai juga. Inilah kesabaran,” ungkap Walikota.

Menurut Mahyeldi, kesabaran yang dimiliki setiap wanita mesti ditransformasikan kepada generasi muda saat ini. Bagaimana agar kesabaran tersebut dapat terpatri di dalam sanubari setiap generasi muda yang tidak pernah menyerah saat ingin terus mencoba. “Generasi saat ini selalu ingin cepat (tidak sabar), akan tetapi tidak mau berusaha keras. Jika ingin sukses tentu diiringi dengan pengorbanan,” hemat Walikota.

Dengan mentransformasikan kesabaran kepada generasi muda, Walikota meyakini nantinya akan terbentuk generasi yang nasionalis dan membangun bangsa. Menurut Mahyeldi, hal inilah yang selalu ada di dalam diri Raden Ajeng (RA) Kartini di masa penjajahan dulu dan perlu dimiliki oleh setiap wanita Indonesia saat ini.

“Mari kita bekalkan generasi muda dengan semangat bela Tanah Air dan rasa memiliki bangsa,” ajak Walikota.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Padang, Ny Harneli Mahyeldi berpesan kepada seluruh “Kartini” di Kota Padang. Terutama bagi yang tengah berkarir di dunia kerja untuk tetap memberi perhatian lebih kepada keluarga, suami dan anak-anak. Karena menurutnya, peranan sebagai ibu maupun isteri di keluarga tidak boleh diabaikan. “Karena tugas itulah yang akan dipertanggungjawabkan kelak,” ungkapnya.

Ny Harneli juga berharap agar wanita di Kota Padang tetap mandiri. Tidak bergantung kepada penghasilan suami. “Wanita mesti mampu mandiri dan memiliki ilmu sehingga tidak terjadi kekerasan dalam rumahtangga,” harapnya.

Dalam Puncak Peringatan Hari Kartini itu, sejumlah lomba dipertandingkan. Termasuk penilaian kepada sebelas wanita tangguh di Kota Padang. Masing-masing kecamatan mengusung seorang wanita tangguh untuk dinilai. Akhirnya pada Puncak Peringatan Hari Kartini itu tiga wanita tangguh mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Padang. Ketiganya disematkan cincin oleh Walikota Padang, Ketua TP PKK Kota Padang dan Ketua Dharma Wanita Kota Padang. [humas dan protokol kota padang]


posted by @Adimin

Tifatul: PKS Tempatkan Perempuan sebagai Mitra Bangun Peradaban

Written By Anonymous on 21 April, 2016 | April 21, 2016

Jakarta (20/4) – Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Tifatul Sembiring menegaskan PKS menempatkan kedudukan perempuan sebagaipartnership (mitra) dalam membangun peradaban.

Hal itu tercermin bahwa PKS memiliki prosentase total terbesar dalam menempatkan kadernya menjadi calon legislatif, baik di pusat maupun daerah.

“PKS sudah memiliki buku Falsafah Dasar Perjuangan PKS yang memuat pandangan PKS tentang gender, bahwa kedudukan perempuan adalah partnership dalam membangun peradaban,” jelas Tifatul sembiring dalam Diskusi Publik bertema ‘Inspirasi Kartini dan Kepeloporan Perempuan’ yang diselenggarakan oleh Fraksi PKS DPR RI, di Gedung Nusantara 1, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/4).

Namun demikian, menurut Tifatul, ada peraturan baru di PKS bahwa sepasang suami-istri tidak dapat maju keduanya di pileg. Bahkan, istri-istri pejabat publik dari PKS pun tidak diperbolehkan untuk maju, agar dapat fokus mengelola keluarga.

“Ini berbeda, mohon maaf, dengan partai lain, yang istri, anak, menantu, diajak menjadi caleg. Kita menjaga itu. Tapi, meskipun satu, langsung diangkat menjadi pimpinan DPR RI,” jelas Tifatul.

Diketahui, dalam rangka menyambut Milad PKS ke-18 pada 20 April, Fraksi PKS DPR RI menyelenggarakan beragam kegiatan sebagai bagian Berkhidmat untuk Rakyat. Selain diskusi publik, Fraksi PKS juga akan menyelenggarakan puncak final Lomba Baca Kitab Kuning di Gedung DPP PKS TB Simatupang pada Minggu 24 April 2016. [pks.id]

Keterangan Foto: Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Tifatul Sembiring

posted by @Adimin

Ledia: Melalui Tulisan, Kartini Melawan Kesewenangan Kebijakan

Jakarta (20/4) - Wakil Ketua DPR RI Ledia Hanifa menegaskan Kartini melawan kesewenangan kebijakan yang terjadi pada zamannya, melalui tulisan, yaitu melalui surat-surat yang dikirimkan kepada para sahabatnya di Eropa.

"Ada dua cara dalam melakukan perubahan sosial, yaitu melalui kebijakan publik dan pembangunan masyarakat. Kartini menulis untuk mengubah kebijakan. Karena hanya dengan itulah, ia bisa melawan," jelas Ledia dalam Diskusi Publik 'Inspirasi Kartini dan Kepeloporan Perempuan' yang diselenggarakan oleh Fraksi PKS DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/4).

Selain berjuang lewat tulisan (pendidikan), menurut Ledia, adalah Kartini juga dikenal sebagai pendiri sekolah perempuan, pemberdaya ekonomi perempuan (ekonomi), dan hingga pemberdaya pengrajin ukir Jepara.

"Oleh karena, Kartini ingin membangun kematangan pematangan bagi perempuan yang akan membangun peradaban. Perempuan mandiri bukan untuk lepas dari keluarga, tapi lepas dari ketergantungan penjajah," tegas Legislator PKS sejak tahun 2009 ini.

Oleh karena itu, Ledia berharap inspirasi Kartini tidak hanya dipahami sebagai bagian perjuangan perempuan.

"Tapi, Kartini juga memperjuangkan hal-hal yang mendasar yang sepatutnya dimiliki Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang Merdeka," harap Ledia.

Selain Ledia, turut hadir dalam acara ini sebagai narasumber, yaitu KH Jazir ASP (sejarawan), Wirianingsih (Kepala Bidang Perempuan dan Ketahanan DPP PKS), dan Muhammad Ikhsan (Asdep Pemberdayaan Masyarakat Kemen-PPPA; dengan diisi keynote speech oleh Tifatul Sembiring (Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI). [pks.id]

Keterangan Foto: Wakil Ketua DPR RI Ledia Hanifa

posted by @Adimin

Sohibul Iman: Kader PKS Harus Jadi Kunci Perubaha

Depok (20/4) --Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman berpesan agar kader-kader dakwah tak hanya mengikuti perubahan namun menjadi kunci perubahan itu sendiri.

Sohibul mengimbau para kader juga harus mau berubah dalam menanggapi perubahan-perubahan lingkungan yang ada. Harapannya partai mampu memberikan jawaban terhadap perubahan dan kebutuhan masyarakat dan mampu menjadi partai memimpin dalam perubahan.

"To be lead, jangan sampai to be late. Insya Allah akan leading tahun tahun depan, " kata Sohibul dalam Sekolah Kepemimpinan Partai di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Rabu (20/4/2016).

Sohibul Iman juga mengungkapkan bahwa Sekolah Kepemimpinan Partai ini menjadikan partai sebagai organisasi yang memberikan pelajaran-pelajaran bagi para kadernya sebagai pemimpin perubahan.

Yang harus kita lakukan, lanjutnya, ketika lingkungan berubah kita harus memahami perubahan. Yang Kedua kita sendiri mau berubah.

"Pertanyaannya kita ada kemauan berubah tidak. Dalam fisika ada yang namanya momen inersia. Tidak hanya benda hidup, tapi benda mati pun punya momen ini. Kecenderungan status quo," ucapnya.

Proses perubahan tersebut, ungkap Sohibul, juga memiliki beberapa jebakan. Salah satunya adalah stagnansi. "Kita harus memahami perubahan terhadap entitas-entitas, jangan sampai kita terjebak pada rutinitas," katanya.

Stagnasi membuat seseorang tidak bisa menemukan inovasi-inovasi dalam pelayanan kepada masyarakat. "Yang ada kita terkena sindrom yang namanya Not Invented Syndrome (NIS). Kita terjebak pada politik involutif. Yang berputar pada situ-situ saja," ujar doktor lulusan Jepang itu.

Sekolah Kepemimpinan Partai adalah salah satu rangkaian agenda Milad 18 PKS. Ketua Penyelenggara Sekolah Kepemimpinan Partai, Musholi menyebutkan Ketua DPW PKS dari seluruh wilayah dan juga Wilayah Dakwah (Wilda) di Indonesia hadir selama tiga hari dari tanggal 20 hingga 23 April 2016.

Musholi mengungkapkan Sekolah Kepemimpinan Partai ini adalah yang pertama melibatkan ketua-ketua wilayah tingkat provinsi dan wilayah dakwah (Wilda). Ia menjelaskan pengurus di tingkat wilayah di seluruh Indonesia merupakan representasi partai yang berhubungan langsung dengan masyarakat. "Karena itu menjadi sangat penting untuk memberikan materi kepemimpinan partai kepada para pengurus tingkat DPW dan Wilda," papar dia. [pks.id]

Keterangan Foto: Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman

posted by @Adimin

Mahyeldi Doakan Kesembuhan Hasan Basri Durin

JAKARTA - Walikota Padang, H. Mahyeldi Dt Marajo membezuk mantan Gubernur Sumatera Barat, Hasan Basri Durin yang terbaring sakit di RS Medistra, Jakarta Pusat, Selasa (19/4). Walikota mendoakan kesembuhan Hasan Basri Durin yang sudah cukup lama dirawat karena mengalami pendarahan di otak.

Pagi itu, sekira pukul 09.00 Wib, Walikota mendatangi ruang rawat inap RS Medistra. Saat itu Walikota bertemu langsung dengan Aditia, putera bungsu Hasan Basri Durin. Saat masuk ke ruang rawat inap tersebut, Hasan Basri Durin terlihat tidur mengenakan pakaian putih milik RS Medistra.

"Kalau siang, Bapak tidur. Tapi kalau malam, mata Bapak terbuka, namun tidak bisa bicara," kata Aditia kepada Walikota Padang.

Ketika itu pula, Walikota Padang memegang tangan Hasan Basri Durin. Sambil membaca salam, Walikota membisikkan namanya kepada Hasan Basri Durin. "Ambo Mahyeldi, Pak," ujar Walikota sambil setengah berbisik.

Saat itu pula Hasan Basri Durin merespon ucapan salam dari Walikota Padang. Seketika mata mantan Gubernur Sumbar itu terbuka sambil menggerakkan jari tangannya.

"Beliau merespon dengan baik, semoga beliau cepat sembuh. Kita mintakan doa dari seluruh warga Kota Padang untuk kesembuhan beliau," sebut Walikota.

Di sela-sela membezuk itu, Walikota berbincang-bincang dengan Aditia. Mahyeldi menyebut bahwa dirinya terakhir bertemu dengan Hasan Basri Durin pada saat serah terima jabatan antara Plt Gubernur Sumbar dengan Gubernur Sumbar terpilih di Auditorium Gubernuran, dua bulan lalu. "Saat itu kami bersalaman cukup lama. Beliau juga memberikan masukan-masukan tentang Kota Padang ke depan," tutur Walikota kepada Aditia.

Aditia juga menyebut bahwa ayahnya sudah dirawat di RS Medistra sejak 21 Maret 2016. 
Hasan Basri Durin sempat dirawat di ICU RS Medistra selama dua minggu. "Mohon doa untuk kesembuhan Bapak," ujar Aditia. [humas dan protokol kota padang]


posted by @Adimin

Sohibul Iman: Politik Melayani Harus Jadi Tren di Masa Depan

Written By Anonymous on 20 April, 2016 | April 20, 2016

Jakarta (19/4) - Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman menegaskan partai politik harus bisa menjawab tantangan ekonomi dan politik Indonesia ke depan agar tak tergusur oleh zaman. Model politik melayani diyakini akan menjadi tren politik di masa mendatang.

“Kalau kita perhatikan, lanskap ekonomi-politik Indonesia saat ini berubah, cara berpolitik harus diubah juga kalau tidak digusur zaman," ujar Sohibul Iman dalam Kongkow Bareng Wartawan di Kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang No 82, Jakarta Selatan, Selasa (19/4/2016).

Pria yang akrab disapa Kang Iman ini menganalogikan perubahan lanskap tersebut dengan kasus transportasi online yang termasuk ke dalam new business model, ada perubahan cara berbisnis. Mereka yang masih menggunakan cara lama berpolitik, lanjut dia, akan ditindas perkembangan zaman.

“Kalau kita berpolitik dengan cara lama, old-fashioned, maka kita tidak bisa berpolitik. Kader PKS calon pemimpin harus memikirkan lanskap baru sosial politik ekonomi di Indonesia dan harus bisa berkhidmat dengan cara baru," jelasnya.

Lebih lanjut Kang Iman mengatakan, perubahan lanskap dapat dilihat dari karakteristik masyarakat Indonesia yang semakin rasional. Hal itu dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah kelas menengah baru.

"Bonus demografi yang kita dapat dari tahun 2012 sampai 2030-an, kalau melihat sejarah di negara lain, bila fase ini dikelola dengan baik akan memunculkan kelas menengah yang banyak. Karakteristiknya yaitu rasional, secara sosial-ekonomi mandiri, mereka juga well-informed, mudah akses informasi, terfasilitasi oleh teknologi," paparnya.

Dengan karakteristik tersebut, kang Iman menegaskan masyarakat menjadi pihak yang lebih mandiri, dimana pola hubungan mereka dengan pemimpin menjadi equal dan egaliter.

"Kepemimpinan yang baru tidak bisa dibangun dengan pola hubungan yang feodal, dimana saya pemimpin anda yang dipimpin. Tidak bisa. Kepemimpinan yang baru bukan self-oriented, bukan memikirkan bagaimana saya, tapi memikirkan bagaimana kondisi orang lain. Saya kira sikap kepedulian dan lebih banyak melayani akan jadi trend kepemimpinan ke depan," pungkas mantan wakil ketua DPR ini. [pks.id]

Keterangan Foto: Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman

posted by @Adimin

Perempuan Saatnya Diberi Kesempatan Pimpin Parlemen

Jakarta (19/4) – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman menyatakan PKS sangat mengapresiasi keberadaan perempuan untuk memimpin parlemen. Hal ini menjadi salah satu alasan mengusulkan Ledia Hanifa untuk menduduki posisi Wakil Ketua DPR RI.

“Saya kira layak karena kepimpinan seperti etalase. Tidak bisa sembarangan kriterianya. Sebab, yang bersangkutan juga mempunyai kapabilitas untuk menjalankan fungsi,” kata Kang Iman, dalam “Kongkow Bersama Wartawan” di Kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (19/4/2016).

Kang Iman menyebut menjadi pimpinan parlemen diperlukan ketrampilan mengendalikan anggota. Kapasitas kepemimpinan harus ada pada sosok pimpinan DPR.

“Kalau kita tempatkan orang yang tidak punya kepemimpinan, nanti sulit. Ledia sudah terbiasa memimpin karena wakil ketua komisi,” ujarnya.

Kang Iman menyebut Ledia dilihat secara kapabilitas itu luar biasa, sangat aktif dalam beragam kegiatan baik skala nasional ataupun internasional. Pemahamannya terhadap sebuah permasalahan pun sangat mumpuni. Hal ini terlihat selama dua periode di parlemen, Ledia selalu membawahi bidang kesejahteraan rakyat.

“Saya kira Ledia sangat memahami tentang portofolio wakil ketua bidang Kesra. Hal itu menjadi salah satu pertimbangan, selain integritas,” pungkasnya. [pks.id]

Keterangan Foto: Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman

posted by @Adimin

Kongkow Bareng Sohibul Iman, Wartawan Ngobrol Milad PKS Hingga Isu Nasional

Jakarta (19/4) -- Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman kongkow bareng sejumlah wartawan media nasional di Markaz Dakwah (MD) Building, DPP PKS, Jakarta, Selasa ( 19/4/2016). Berbagai isu nasional diperbincangkan dalam pertemuan yang digelar penuh keakraban tersebut, termasuk rencana PKS menggelar hajatan besar Miladnya ke 18, pada 20- 24 April mendatang.

Sohibul Iman mengatakan, dalam usianya yang sejalan dengan usia reformasi, PKS ingin lebih meneguhkan jati diri sebagai partai dakwah yang kokoh dalam melayani umat, bangsa dan negara.

"Disadari sepanjang 18 tahun perjalanan, PKS berusaha memberi banyak kontribusi dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Kami menyadari masih ada kekurangan, karena itu PKS ingin meneguhkan jati diri dalam berkhidmat untuk rakyat," ujar pria yang akrab disapa Kang Iman itu.

Politisi asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini mengungkapkan beberapa kontribusi yang telah disumbangkan PKS di bidang legislasi seperti terlibat dalam inisiasi UU Sisdiknas, UU Pornografi, dan UU Kewirausahaan. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, lanjut Kang Iman, kader-kader PKS di berbagai daerah ikut membantu pemerintah dalam advokasi korban bencana alam.

"Ini hanya sedikit yang bisa dilakukan PKS. Ke depan, PKS sudah menyusun beragam program pelayanan untuk rakyat, salah satunya pusat-pusat khidmat PKS di berbagai daerah," jelasnya.

Sebagai rangkaian Milad ke 18, Kang Iman menuturkan, PKS menggelar sejumlah kegiatan di antaranya Lomba Nasional Kitab Kuning yang saat ini sedang berlangsung. Menyambut Hari Kartini juga akan digelar Simposium Perempuan Nasional 20 April di DPR RI, Sekolah Kepemimpinan Partai pada 20-23 April dan Ramah Tamah dengan Nelayan pada 23 April.

Sementara pada puncak milad 24 April berbagai agenda akan digelar sejak pagi. Diantaranya gerak jalan dan peluncuran Pusat Khidmat PKS bersama kader PKS, Final Lomba Kitab Kuning dan ditutup Leadership Talk.

"Dalam puncak milad nanti, kami mengundang Profesor BJ Habibie untuk memberikan nasihat kepemimpinan. Juga PKS akan menganugerahkan PKS Award kepada kader, simpatisan ataupun masyarakat umum yang berperan terhadap pembangunan dan pemberdayaan masyarakat," pungkas Kang Iman. [pks.id]

Keterangan Foto: Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman

posted by @Adimin

Kartini dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Jepara

Inspirasi Memajukan Potensi Lokal
RA Kartini yang selama ini banyak dikenal sebagai tokoh yang peduli pendidikan, ternyata juga seorang perempuan yang berusaha meningkatkan kesejahteraan keluarga masyarakat Jepara kala itu. Saat usianya enam belas tahun, bersama adiknya Rukmini dan Kardinah, Kartini mengirimkan beberapa karya seninya dalam Pameran Nasional Karya Wanita (Nationale Tentoonstelling voor Vrownarbeid) yang diselenggarakan di Den Haag tahun 1898. Dalam pameran itu, Kartini mengirim karyanya berupa dua buah lukisan pemandangan alam berbingkai kayu ukiran, hiasan dinding bunga tulip, hiasan dinding bergambar burung dari kain satin dalam bingkai bambu, lukisan kaca, sembilan buah kerang besar yang dilukis aneka pemandangan, enam buah bambu berukir dan alat batik serta tulisan proses pembatikan. Karya seni Kartini dan adik-adiknya ini mendapat perhatian khusus dari Sri Ratu Wilhelmina dan Ibu Suri Ratu Emma. Bahkan kepada Ketua Panitia, Ny. Lucardie, keduanya minta dibacakan surat pengantar dari Kartini. Kejadian ini ditulis dalam surat kabar De Rotterdamse Courant tanggal 30 Agustus 1898 (Hadi Priyanto, 2014:32-33).
Keberhasilan dalam pameran tersebut mendorong sekaligus menginspirasi Kartini dalam upaya  membantu perajin yang ada di Jepara untuk meningkatkan penghasilannya. Pada masa itu, seni ukir memang mulai berkembang namun hanya sebatas seni kerajinan tangan, belum dikerjakan dengan tujuan komersial sehingga belum begitu berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Diantara banyak desa yang banyak perajin ukirnya, Kartini memilih perajin yang berada di daerah Belakang Gunung, sebuah kampung artis yang terletak di belakang Benteng Portugis, di atas bukit. Penduduk Belakang Gunungkebanyakan adalah para pengukir, pandai besi dan pemahat kulit. Kampung ini secara tradisional merupakan kampung artis namun mereka sangat miskin. Bagi Kartini, keahlian ini tidak boleh dibiarkan merana (Pramoedya, 2010:189). Menurutnya, daerah Belakang Gunung memiliki banyak perajin yang karya-karyanya tergolong indah namun mereka tetap miskin dan tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan reyot. Penghasilan perajin yang rendah ini disebabkan harga jual yang rendah dan kadang harga ditentukan oleh pembeli yang kebetulan datang ke kawasan tersebut.
Kartini memulai upaya pemberdayaan ekonomi bagi para perajin ukir tersebut. Dengan dukungan ayah dan saudaranya, ia menampung duabelas perajin (akhirnya bertambah menjadi lima puluh orang karena pesanan bertambah banyak) yang diberi tempat di belakang rumah kadipaten dan dibimbing oleh Singowiryo. Para perajin itu diminta membuat barang berukuran kecil seperti peti rokok, tempat jahitan, meja kecil dan lainnya. Setelah jadi, Kartini menjual barang-barang ini ke Batavia dan Semarang dengan harga cukup tinggi dibanding harga jual di Jepara. Setelah dipotong biaya pengiriman dan bahan baku, uang hasil penjualan ini diberikan kepada para perajin.
Usaha pemberdayaan para perajin ukir ini terus berkembang. Salah satu bentuk promosi yang Kartini lakukan selain menjual, adalah dengan mengirim barang-barang itu sebagai cinderamata kepada teman-temannya yang orang Belanda, baik yang ada di Semarang, Batavia maupun yang ada di Belanda. Karena mutunya cukup bagus, pesananpun berdatangan. Bahkan saat itu barang-barang yang dibuat tidak hanya yang berukuran kecil tapi mulai berkembang pada perkakas ukir seperti kursi pengantin, meja, tempat tidur dan kursi tamu. Disini Kartini mulai terlibat dalam mendesain ukiran. Motif yang disukainya adalah motif Lunglungan Bunga dan menjadi motif yang digemari masyarakat. Motif ciptaan Kartini ini kemudian menjadi salah satu motif khas asli Jepara.
Usaha Kartini membuahkan hasil. Ukir kayu Jepara mulai dikenal luas tidak hanya di pasar lokal namun juga di pasar internasional. Ia seringkali menulis di surat kabar yang ada di Hindia Belanda dan surat kabar yang ada di Belanda tentang keindahan seni ukir Jepara, yang dengan tulisan itu banyak orang kagum akan keindahan seni ukir Jepara. Berkat tulisan-tulisan tersebut, sebuah lembaga perdagangan yang dipimpin oleh Ny. N. van Zuylen Tromp (didirikan tahun 1899 setelah acara Pameran Karya Wanita di Den Haag), bernama Oost en West,mengajak Kartini untuk bermitra dagang (Hadi Priyanto, 2014:37). Demikianlah, Kartini telah merintis jalan bagi terbukanya pasar baru bagi seni ukir Jepara.
Ukiran Jepara Go International
Kerja keras Kartini memberdayakan ekonomi masyarakat Jepara melalui kerajinan ukiran kayu membuahkan hasil. Ia mulai membangun hubungan dagang dengan Oost en West yang baru membuka cabang di Batavia. Oost en Westbertujuan untuk mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan masyarakat bumiputera. Bahkan pada tahun 1903, Oost en West mendirikan sebuah perusahaan di Den Haag yang diberi nama Boeatan yang secara khusus menangani bisnis kerajinan.
Hubungan perdagangan ini mudah dibangun karena nama RA Kartini sudah dikenal, terutama setelah Kartini mengikutkan karyanya pada Pameran Nasional Karya Wanita (Nationale Tentoonstelling voor Vrownarbeid) tahun 1898 di Den Haag. Kartini dengan tekun membersamai dan mengawasi para perajin ukir dari Belakang Gunung yang mulai dipesan Oost en West.
Kartini menuliskan kegembiraannya pada Eddy Abendanon, putra J.H. Abendanon, pada tanggal 15 Agustus 1902 ketika Oost en West banyak memesan barang ukiran untuk keperluan pesta sinterklas.
“Hore untuk kesenian dan kerajinan rakyat kami! Hari depanmu pasti akan gemilang! Aku tak dapat mengatakan betapa girang dan bahagia aku. Kami mengagumi rakyat kami. Kami bangga atas mereka. Rakyat kami yang kurang dikenal, karena itu juga kurang dihargai……. Hari depan Jepara sekarang terjamin….. Tuan Zimmermann memuji setinggi langit hasil karya arsitek dari rakyat berkulit coklat yang sering dihina. Seniman-seniman kami mendapatkan pesanan dari Oost en West untuk sinterklas. Sekarang seniman-seniman kami dapat melaksanakan ide-ide mereka yang sangat bagus-bagus. Dapat menjelmakan gagasan-gagasan yang puitis dalam bentuk-bentuk yang indah, garis-garis yang ramping, berombak-ombak, berkelok-kelok dalam pancawarna yang cemerlang.”
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Usaha Mikro Kerajinan Rakyat
Kartini mengatakan dalam suratnya kepada Ny. R.M. Abendanon tertanggal 9 Maret 1903:
“Kami sudah menerima kabar. Beberapa hari lagi kulit penyu itu sudah ada disini, dan akan dibawa pandai emas ke Solo. Senang sekali bahwa sekarang sudah ada tiga cabang kerajinan seni yang sedang berkembang di tempat kelahiran saya. Dan kami sedang berikhtiar mencari kerajinan lain yang akan kami galakkan”(Rahayu Amatullah, 2016).
Demikianlah Kartini tak pernah berhenti bekerja untuk rakyat. Pikiran beliau tak lelah menganalisa, mencari ide-ide untuk membuat rakyat Jepara khususnya menjadi lebih sejahtera. Dan Kartini menjalaninya dengan segenap ketelatenan dalam pembinaan. Beliau melanjutkan dalam suratnya: “Mereka sekarang tahu, mengerti bahwa maksud kami ialah memakmurkan mereka sendiri. Mereka maklum akan keuntungannya sendiri, dan mereka menghargai usaha kami dengan membantu secara gembira dan rajin. Semuanya yang kami kerjakan bagi mereka akan sia-sia saja bila mereka tidak mengerti, bahwa kami bermaksud baik bagi mereka dan kesejahteraan merekalah yang kami tuju…… Alangkah senangnya melihat, bagaimana cabang kerajinan tadi benar-benar mulai hidup. Perempuan tukang dringin [kerajinan sabuk sutera bersulam benang emas, pen.] mulai bekerja besar-besaran. Bahkan di kampung sekitar kampung Melayu orang Bumiputera juga mengerjakan hal itu…”
Dari penggal paragraf surat diatas kita memahami bahwa Kartini melakukan pemberdayaan masyarakat. Beliau bekerja tekun melakukan pembinaan dan pendampingan kelompok-kelompok perajin di beberapa kampung dan bukan hanya kerajinan seni ukir kayu. Ketelatenan pendampingan itu beliau maksudkan agar pada akhirnya para perajin dapat mandiri.
Kartini bahkan memikirkan pengkaderan perajin sebagaimana yang disampaikan kepada Ny. Abendanon:
“Tukang emas sudah bertambah banyak pembantu dan murid-muridnya. Dan ada pula anak-anak yang minta dididk menjadi tukang ukir kayu. Ada satu hal yang lebih-lebih menggirangkan hati saya benar. Diantara murid-murid itu ada satu anak kota, juga bukan anak dari Belakang Gunung, desa tukang ukir kayu. Murid-murid lain kami yang mencarinya, tetapi yang seorang datang dari kota itu datang sendiri minta turut belajar. Itulah yang kami kehendaki. Itulah tanda yang mengggembirakan, menyenangkan hati! Syukur, beribu-ribu syukur!” (Rahayu Amatullah, 2016).
Kartini memang seorang pemimpin yang natural sekaligus visioner, yang berorientasi pada kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan pribadinya.
Dra Wirianingsih, Msi
Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS
 --------------------
Daftar Pustaka:
  1. Hadi Priyanto, dkk, Mozaik Seni Ukir Jepara (Pemkab Jepara: Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara)
  2. Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja (Lentera Dipantara 2010)
  3. Rahayu Amatullah, Kartini: Jejak Sebuah Jatidiri (Granada Publishing House 2016)

*sumber www.pks.id


posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger