Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
March 23, 2017
Kita harus jaga dan rawat kebhinekaan dan NKRI yang kita cintai ini agar tetap kokoh dan tergoyahkan. Ada tiga modal sosial bangsa yang bisa menjadi penompang hal tersebut.
Saya meyakini ketika ketiga modal sosial bangsa tersebut dijalankan secara konsisten dan konsekwen, InsyAllah bangsa dan negara ini akan semakin maju, kokoh dan bermartabat serta dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini
Islam, Kebhinnekaan, dan NKRI
Written By NeoBee on 23 March, 2017 | March 23, 2017
Mohamad Sohibul Iman, Ph.D
Presiden Partai Keadilan Sejahtera
Ketika umat Islam berjuang membela
martabat agamanya karena merasa dinodai oleh ucapan Seorang pejabat
publik, tiba-tiba ada sebagian kelompok yang justru menstigmanya sebagai
sikap anti-kebhinekaan dan anti-NKRI. Ada anggapan bahwa menghormati
kebhinekaan semata-mata diartikan sebagai sikap merayakan perbedaan
namun kurang mengindahkan hak-hak setiap warga dalam memeluk dan
menjalankan ajaran agama dan keyakinannya sebagaimana telah dijamin
dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kebhinekaan akhir-akhir ini terasa
direduksi maknanya menjadi semata-mata melindungi hak-hak minoritas
tanpa menghormati hak-hak mayoritas. Klaim-klaim sepihak tentang
kebhinekaan adalah cara termudah untuk mengasosiakan diri dengan hal
tersebut. Tapi yang sulit adalah membuktikannya pada sikap dan perilaku
di kehidupan nyata. Kebhinekaan terawat bukan karena klaim-klaim sepihak
tetapi karena adanya sikap jujur, terbuka, tanggungjawab, dan berpihak
kepada kebenaran dan rasa keadilan masyarakat.
Adanya pemikiran yang mencoba
membenturkan antara Islam, Kebhinekaan dan NKRI adalah pemikiran yang
berbahaya dan ahistoris. Islam, Kebhinekaan dan NKRI adalah satu
kesatuan yang tak terpisahkan. Menjadi seorang muslim yang seutuhnya
maka secara aksiomatis ia juga menjadi seorang nasionalis dan pluralis
seutuhnya. Jika masih ada entitas di Republik ini yang mengatakan bahwa
umat Islam tidak nasionalis, anti-kebhinekaan, maka sesungguhnya mereka
telah memunggungi takdir sejarah Republik Indonesia.
Bung Karno pernah berpesan kepada bangsa
Indonesia bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah. Oleh karena itu,
jangan pernah melupakan sejarah panjang perjuangan umat Islam dalam
memerdekakan dan membangun Republik ini. Janganlah melupakan jasa besar
Kiyai Haji Hasyim Asy’ari bersama umat Nahdhiyin yang menyerukan
Resolusi Jihad untuk mengobarkan semangat perlawananan pejuang Surabaya
dibawah komando jihad Bung Tomo dalam mempertahankan Kota Pahlawan dari
gempuran Imperialis.
Sejarah juga telah mencatat bagaimana Ki
Bagus Hadi Kusumo sebagai pucuk pimpinan Muhammadiyah bersama
tokoh-tokoh umat Islam lainnya telah berbesar hati mengorbankan aspirasi
umat Islam dengan merelakan penghapusan 7 kata dalam Piagam Jakarta dan
menggantinya dengan Sila Pertama Pancasila sebagai sikap penghormatan
kepada aspirasi Saudara-saudara sebangsanya dari Indonesia bagian timur.
Kita juga harus ingat bagaimana peran
diplomat muslim kita, Haji Agus Salim dan AR Baswedan, yang dengan susah
payah bergerilya mencari pengakuan kedaulatan kemerdekaan RI dari dunia
Internasional. Dengan mengedepankan semangat ukhuwah Islamiyah, mereka
berhasil mengantarkan RI mendapatkan pengakuan kedaulatan pertamanya
dari negara-negara Islam seperti Mesir, Lebanon, Suriah, Irak, Arab
Saudi dan Yaman. Kiprah diplomasi mereka berhasil menyudutkan Belanda di
forum PBB dan mengukuhkan kedaulatan RI di mata dunia.
Bahkan jika merujuk pada konsepsi NKRI
itu sendiri, secara legal-konstitusional justru terlahir dari
kepeloporan dan perjuangan umat Islam di Parlemen yang saat itu
disuarakan oleh Mohamad Natsir. Melalui Mosi Integralnya, Natsir
mengusulkan kepada Parlemen RI untuk mengganti konsep Negara Republik
Indonesia Serikat (NRIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Insiatif Natsir ini akhirnya disambut baik oleh seluruh kekuatan
politik di Parlemen saat itu, sehingga konsep NRIS dibubarkan dan
sebagai gantinya Indonesia menjadi NKRI.
Modal Sosial Bangsa
Kita telah memahami bersama bahwa
kebhinekaan Indonesia merupakan sebuah keajaiban dunia. Kita semua telah
merawatnya dengan susah payah. Maka tak sepatutnya kebhinekaan ini
dikoyak-koyak oleh kekerasan verbal yang melukai rasa persatuan bangsa.
Semangat menghormati kebhinekaan dan
persatuan bangsa adalah modal sosial bangsa yang wajib kita jaga
bersama. Semua tindakan yang menodai kebhinekaan oleh siapa pun, apa pun
agamanya, apa pun suku bangsanya, apa pun partai dan posisi jabatannya,
maka harus diperlakukan yang sama di depan hukum (equality before the
law).
Kita harus jaga dan rawat kebhinekaan dan NKRI yang kita cintai ini agar tetap kokoh dan tergoyahkan. Ada tiga modal sosial bangsa yang bisa menjadi penompang hal tersebut.
Pertama, Sense of Belonging
yakni rasa saling memiliki sebagai bangsa. Semua harus merasa memiliki
NKRI, jangan ada yang tidak merasa memiliki. Di sisi lain, jangan pernah
ada yang mengklaim bahwa ia satu-satunya pewaris sah republik ini.
Bangsa ini lahir atas jerih payah dan
pengorbanan berbagai komponen bangsa. Dalam benak kita semua harus
tertanam kuat bahwa bangsa ini adalah milik semua anak bangsa: dari
Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Bangsa ini bukan
hanya milik suku dan agama tertentu, tapi merupakan milik semua suku dan
agama yang diakui di Indonesia.
Kebhinekaan tercermin ketika kelompok
mayoritas mampu mengayomi minoritas, dan disaat yang sama kelompok
minoritas juga bisa memposisikan diri mereka dan menghormati kelompok
mayoritas. Rasa saling memiliki di antara sesama anak bangsa akan
menumbuhkan sinergi dan harmoni, karena kita percaya bahwa sikap dan
tindakan setiap anak bangsa dilandasai oleh rasa saling memiliki atas
bangsa ini.
Kedua, Sense of Togetherness
yakni rasa kebersamaan sebagai sesama anak bangsa yang sama-sama cinta
kepada tanah airnya. Bangsa ini sangat majemuk. Bangsa ini terdiri dari
belasan ribu pulau, ratusan bahasa daerah, ribuan suku bangsa, beberapa
agama dan kepercayaan. Bahkan bukan hanya majemuk, tapi juga
terfragmentasi dan tersegmentasi.
Adalah sebuah Sunnatullah bahwa untuk
membangun bangsa ini harus dengan menumbuhkan rasa kebersamaan dan
saling bekerjasama atau gotong royong. Kita tidak bisa membangun
Republik ini sendirian hanya melibatkan golongan dan kelompok tertentu
saja tanpa bantuan dan kerjasama dengan berbagai elemen bangsa lainnya.
Bangsa ini lahir dan bisa tetap tumbuh berkembang hingga saat ini karena
rasa kebersamaan yang terus terjalin.
Dan ketiga adalah Trustworthiness
yakni rasa saling percaya diantara seluruh komponen bangsa. Pada
tingkat gagasan kita harus saling percaya bahwa semua warga Indonesia
memiliki niat baik untuk bangsanya dengan caranya masing-masing. Namun,
pada tingkat tindakan kita harus membuktikannya dengan melihat sepak
terjang dan perilakunya apakah niat baik itu benar-benar ditunjukkan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika terbukti ada niat jahat,
maka semua wajib mencegah dan menghentikannya.
Saya meyakini ketika ketiga modal sosial bangsa tersebut dijalankan secara konsisten dan konsekwen, InsyAllah bangsa dan negara ini akan semakin maju, kokoh dan bermartabat serta dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 20, 2017
posted by @Adimin
DPC PKS Kuranji Mengadakan Training Orientasi Partai
Written By NeoBee on 20 March, 2017 | March 20, 2017
Pkspadang.com : Untuk
lebih menggerakkan mesin dan menggelorakan semangat jihad siyasi maka DPC
Kuranji mengadakan TOP (training Orientasi Partai). TOP Kuranji yang dilaksanakan
pada hari Ahad 19 Maret 2017 dihadiri oleh kurang lebih 50 orang peserta yang
berkomitmen akan berjuang bersama sama PKS DPC Kuranji…..
Dalam TOP tersebut peserta
mendapatkan pencerahan kepada peserta TOP tentang pentingnya ummat Islam untuk
berperan serta dalam dunia politik yang tentunya bermuara untuk kepentingan
ummat juga. Hal tersebut disampaikan oleh, Ust Gufron, SS sebagai Ketua Umum
DPD PKS Padang sekaligus sebagai pemateri dalam TOP tersebut. TOP kali ini dihadiri juga oleh Ketua DPC PKS Kuranji yang saat ini diemban oleh Ust Syafriyon beserta jajarannya.
Semoga dengan diadakannya
TOP tersebut maka seluruh kader dan pengurus PKS Kuranji semakin menggelora
semangat jihadnya…….
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 20, 2017
posted by @Adimin
PKS Sumbar Selenggarakan Rakorwil
pkspadang.com : Untuk
menyamakan suhu dan semangat rakornas PKS, maka DPW PKS Sumbar mengadakan
rakorwil (rapat Koordinasi Wayah). Program program unggulan DPP yang sudah dirumuskan
saat rakornas diturunkan ke DPW dan DPD sesumatera barat dengan memperhatikan
dan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada pada masing masing DPD di tiap
tiap Kota/kabupaten di Sumatera Barat.
Program program DPD diolah
sedemikian rupa berdasarkan IKU (Indikator Kerja Utama) masing masing bidang. Dengan
kerja masing masing bidang yang ada yang berdasarkan IKU, maka diharapkan
kinerja masing masing bidang bias terarah dan terukur.
Rakorwil Sumbar di hadiri
oleh pengurus Wilda Sumbagsel Ust. Hermanto beserta jajaran pengurus, hadir
pula musyrif SUmbar Ust. Syaurium Khatib dan seluruh jajaran DPW Sumatera Barat
yang saat ini di komandani oleh Ust Irsyad Syafar.
Semoga dengan diadakannya
Rakorwil Sumbar ini bias lebih menggelorakan dakwah di Sumatera Barat dan di
kota/kabupaten yang ada diwialayah sumatera Barat. ALLAHU AKBAR…………….
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 17, 2017
Musyaffa Addariny, Lc., MA
posted by @Adimin
Hati-Hati Dalam Menjadikan Seseorang Sebagai Rujukan Beragama
Written By NeoBee on 17 March, 2017 | March 17, 2017
Dalam situasi seperti masa-masa
sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai
rujukan ilmu agama.
Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh–
mengatakan:
“Mayoritas para imam salaf.. mereka
memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru
A’lamin Nubala‘ 7/261).
Ini di zaman mereka, apalagi di zaman
kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan
mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:
Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu
anhuma-:
“Dahulu, jika kami mendengar orang
mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung
tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg
seksama.
Lalu ketika orang-orang menaiki
tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak
mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali
ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).
Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:
“Dahulu para ulama salaf tidak
menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan:
‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat
orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut
ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).
Beliau juga mengatakan dalam pesannya
yang masyhur:
“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian,
maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih
Muslim 1/14).
Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:
“Dahulu, jika mereka ingin mengambil
(ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya,
kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu
Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).
Semoga Allah memberikan taufiq kepada
kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas
sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin
Musyaffa Addariny, Lc., MA
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 15, 2017
posted by @Adimin
“Sinar Ramadhan” di Pelupuk Mata
Written By NeoBee on 15 March, 2017 | March 15, 2017
MUNGKIN
masih
terbilang jauh (masih sekitar 73 hari), namun kerinduan hati sudah mulai
terasa, Kehadirannya sudah harap dinanti. Suasana manis tahun lalu seolah sudah
berada di depan mata untuk terulang kembali. Momentum yang kedatangannya yang
hanya satu bulan membuatnya menjadi bulan yang penuh fenomenal diantara
sahabat-sahabat bulan yang lain.
Masih
ingatkah kita saat detik-detik berpisah dengannya tahun lalu, haru bercampur
sedih, seolah tidak ingin melepasnya. Apalagi ketika kita mulai menyadari dan
memuhasasah bahwa ternyata ibadah kita masih belum maksimal. Hari-hari yang
kita lewati bersamanya penuh dinamika perjuangan dan tarbiyah.
Moment
itupun Allah tutup dengan kembali menghadirkan satu hari yang sangat istimewa
bagi kaum muslimin yakni “Idul Fitri”. Mata berkaca-kaca dan sesekali
meneteskan air mata, ada yang karena tidak kuasa menahan haru dan gembira
karena berkumpul dengan keluarga, saudara dan kerabat. Namun ada juga yang
karena bersedih tidak bisa menikmati udara “fitri” bersama keluarga dan
kerabat. Namun nafas sedikit lega dan hati terasa riang saat tangan-tangan
mulai kuat saling menjabat sesama saudara seiman, berpelukan dan saling
mendoakan.
Hari-demi
hari, hitungan minggu dan bulan, Ramadhanpun berlalu. Ayat كَمَا كُتِبَ عَلَى
الَّذِينَ مِن
قَبْلِكُمْ sudah tidak terdengar lagi di atas
mimbar yang lantang. Ayat itu hidup namun karena lekatnya hukum ramadhan atau
puasa kepadanya membuat ayat-ayat itu istirahat sejenak. Syawal, Muharam, safar
dst.. berlalu kitapun melupakan pesona Ramadhan. Mungkin itu alamiyah.. Allahu A’lam.
Namun
kini kita sudah berada di Bulan Rajab, setelah itu Sya’ban lalu Ramadhanpun
hadir menyelimuti kita. Ia datang menawarkan berjuta faedah, sejuta pahala dan
penghapus dosa.
Puasa, Ibadah yang Melegenda
Ibadah
Puasa merupakan ibadah yang telah berlangsung lama, sebelum menjadi syari’at
Muhammad. Al-Qur’an sendiri menyatakan hal tersebut dalam frasa ayat-Nya,
Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”.
Ayat
di atas mengindikasikan bahwa ibadah puasa (Ramadhan) merupakan titik temu
antar agama yang terdahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassallam.
Syeikh Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa syariat puasa merupakan syari’at
kolektif agama samawi, yang menjadi kalimatun
sawa’ antar seluruh penganutnya, sehingga tepat untuk dijadikan
alat ukur keberlangsungan sebuah ibadah. (Ayat-ayat
Puasa Tadabbur 30 Ayat Seputar Ramadhan, Dr.H. Atabik, Luthfi, MA)
Dalam
buku itu, Atabik, mengutip dari Syeikh Mutawalli As-Sya’rawi
mengatakan bahwa ibadah puasa merupakan rukun ta’abbudin (pondasi dan dasar ibadah) bagi
seluruh agama Allah. Juga sebagai manhaj tarbiyah dan pembinaan ummat.
Kalaimatun
sawa’ antar
seluruh agama samawi dalam ibadah puasa selain kesamaan dalam prinsip kualitas
kebaikan manusia, juga dalam tata cara pelaksanaannya.
Sebagai
contoh, meninggalkan makan dan minum, serta nafsu syahwat pada beberapa waktu
yang ditentukan. Namun seiring dengan waktu, nilai-nilai puasa pada ummat
terdahulu (sebelum Islam) sedikit demi sedikit terkikis dan dilupakan.
Kalimatu
sawa’ (puasa)
terhenti begitu saja, banyaknya perubahan yang mereka lakukan termasuk syariat
puasa yang secara eksplisit oleh al-qur’an atau oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam
sendiri dalam haditsnya mengatakan;
شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا
”(Puasa
yang wajib bagimu adalah) puasa Ramadhan. Jika engkau menghendaki untuk
melakukan puasa sunnah (maka lakukanlah).” (HR. Bukhari)
“Puasa
Ramadhan telah diwajibkan oleh Allah kepada seluruh ummat sebelum kalian.” (HR. Bukhari)
Daya
Tarik Ramadhan
Ramadhan
sepertinya sudah dimasukkan benang benang berkah oleh Allah, sehingga hal itu
dapat terkoneksi langsung dengan umat Islam yang sedang menanti untuk merajut
dan menyemai pakaian taqwa.
Bahkan
Sejak bulan rajab, kita sudah mulai berpikir tentang ramadhan, padahal bulan
sya’ban akan terlebih dahulu menyela sebelum datangnya ramadhan. Do’apun mulai kita
panjatkan agar kita diberikan umur yang panjang dan berjumpa dengan tamu yang
mulia.
Terlihat
jelas bagaimana Rasulullah menggambarkan daya tarik Ramadhan, sehingga Sya’ban
adalah arena pemanasan, latihan dan tarbiyah memasukinya. Seperti banyak melaksanakan
puasa sunnah.
Dari
Aisyah R.A berkata: dari ‘Aisyah yang menyebutkan,
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ
“Aku
tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada
sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” (HR. Muslim no. 1176).
Selain
memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, juga sebagai bulan
memperbanyak amal saleh.
Dalam
hadits dari Usamah bin Zaid R.A, ia berkata: “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam,
kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu
yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau menjawab:
ذَلِكَشَهْرٌيَغْفِلُالنَّاسُعَنْهُوَهُوَشَهْرٌتُرْفَعُفِيهِالأَعْمَالإِلىرَبِّالعَالمِينَ،فَأُحِبُّأَنْيُرْفَعَعمليوَأَنَاصَائِمٌ
“Ia
adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara
Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah
Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah
saat aku mengerjakan puasa sunah.”
(HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits
ini)
Dan
Sya’ban merupakan masa latihan sebelum naik ke ring Berkah (ramadhan) berbagai
upaya bisa dilakukan: belajar tentang fiqih puasa, ilmu tentang ramadhan,
persiapan mental, materi keluarga dan lain sebagainya.
Kalau
misalnya ada yang interested
(tertarik) kepada ramadahan karena ingin maraup materi dan untung yang banyak,
panen rezeki, hal itu bukanlah tujuan utama dan juga tidak terlarang hanya
jangan sampai kita jadikan tujuan utama, tetapi hal itu adalah salah satu
dari berkah dari bulan ramadhan yang penuh attractiveness
(daya tarik)
Sejak
bulan rajab sampai bulan Sya’ban, alampun mulai kembali ramai dengan akan
datangnya tamu yang agung (Ramadhan) setelah sekian lama pergi meninggalkan
kita. Lembar-lembar kertas akan mulai terlukis dengan segudang ilmu tentangnya.
Serpiha-serpihan faedah akan terkumpul kembali dalam rumah yang memberikan
jaminan perlindungan dunia akhirat.
Maukah
kita tampil sebagai pemain terbaik yang layak mendapat tropi “Syurga”? Atau sebaliknya
apakah kita akan menjadi pecundang yang tidak mampu memanfaatkan kesempatan
emas, tidak gembira dengan datangnya ramadhan dan tidak tertarik dengannya,
sehingga strategi melepaskan belenggu syetan tidak mampu dilakukan? Dan
sertifikat “terbebas dari api neraka” pun tidak didapatkan ‘naudzu billahi min dzalik’.
Ibarat
kedatangan tamu yang mulia, maka tuan rumah yang baik tentu akan mempersiapkan
sambutan yang matang. Kita semua kaum muslimin adalah tuan rumah yang akan
mempersiapkan tamu ramadhan. Allahu
A’lam
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 13, 2017
posted by @Adimin
Sejak Dulu Umat Islam Adalah Benteng Keutuhan NKRI Sejak Dulu
Written By @Adimin on 13 March, 2017 | March 13, 2017
Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis
Almasyhari mengatakan bahwa yang menjaga terwujudnya keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak dulu adalah umat Islam.
Indonesia jika tidak ada peran umat Islam dalam menjaganya, pasti sudah
runtuh.
Kharis mengatakan, tentara jika mau berangkat perang pasti mendekatkan diri kepada Tuhannya.
"Kalau tentara itu umat Islam dan dekat
dengan Allah, yakin bahwa kematiannya membela agama adalah syahid, maka
mental tentara tersebut akan semakin kuat,” ungkapnya dalam Kajian Purnama (Kapur) yang digelar di halaman kantor DPC PKS Pasar Kliwon, Ahad (12/3).
Dalam acara yang bertemakan Peran Umat Islam dalam Menjaga NKRI tersebut, Kharis juga mengatakan bahwa
dalam sejarah penjajah datang ke Indonesia selain membawa misi meraup
kekayaan dan kejayaan untuk negaranya, namun mereka juga membawa misi
agama juga yang dikenal dengan Gold, Glory, Gospel. "Dan itu bukan Islam, kedatangan Islam menyejahterakan,” katanya.
Ancaman terbesar sering tidak disadari
adalah ancaman distorsi informasi. Misal ketika mendengar seluruh
terduga teroris mempunyai jenggot. Maka persepsi yang ada dalam benak
masyarakat, berjenggot mempunyai potensi menjadi teroris.
“Ini lebih berbahaya dari perang
gerilya. Tentara kita adalah salah satu yang terbaik jika perang
gerilya. Namun jika ancaman distorsi informasi, hal ini sulit dicegah
karena ancaman ini bahkan dibawa masuk ke rumah kita,” ujarnya.
Rahmat Abdullah menyampaikan
mengenai sejarah kerajaan Islam yang pernah berjaya di Indonesia.
Menurutnya, adanya kerajaan Islam tersebut menjadi benteng nusantara
dalam melawan penjajahan asing.
Tak hanya mendapatkatkan pemaparan
tentang materi, dalam Kapur tersebut juga disuguhkan menu susu segar dan
camilan kepada peserta.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 12, 2017
posted by @Adimin
PKS Padang Salurkan Bantuan utk Korban Banjir Lima Puluh Kota
Written By NeoBee on 12 March, 2017 | March 12, 2017
pkspadang.com : Seiring dengan musibah yang terjadi di kabupaten lima puluh
kota, PKS kota Padang memberikan bantuan berupa makanan pokok dan pakaian layak
pakai yang bias dimanfaatkan oleg masyarakat sekitar yang terkena bencana. Bantuan
disalurkan dan dikoordinasikan melalui BKO (bidang Kepanduan dan Olahraga) yang
dikomandani oleh Jhon Bahrian. Bantuan dilepas langsung oleh Ketua PKS Kota
Padang yang saat ini diemban oleh Ust. Gufron, SS. Beliau dalam arahannya
menitikberatkan agar bantuan bisa cepat sampai dan tepat sasaran sehingga bisa dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat yang terkena musibah.
Bencana kali ini cukup luas sebanyak delapan kecamatan dan 13
nagari terdampak langsung dari banjir dan longsor yang meliputi Kecamatan
Pangkalan, Kapur IX, Mungka, Harau, Payakumbuh, Lareh Sago Halaban, Suliki, dan
Empat Barisan.
Hingga Sabtu (4/3/2017) sore korban jiwa akibat longsor di
Kabupaten Limapuluh Kota adalah lima orang meninggal dunia dan Dua orang luka
berat.
Ratusan rumah terendam banjir seperti di 150 rumah di Jorong
Ranah Pasar, 50 unit rumah di Jorong Ranah Baru, 50 unit rumah di Jorong Abai.
Pendataan masih dilakukan oleh BPBD.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN








