pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Ramadhan 1

Written By @Adimin on 29 May, 2017 | May 29, 2017


Ramadhan 1

(Oleh: Ustad Irsyad Syafar)



بسم الله الرحمن الرحيم
 
Dengan Nama Allah..

Kita awali hari-hari kita bersama Ramadhan. Semoga menjadi hari-hari terbaik kita seumur hidup.


Dengan Bismillah kita memulai berbagai amal shaleh kita di bulan mulia ini. Sebab, Rasulullah saw menganjurkan kita untuk mengawali setiap kebaikan dengan bismillah. Sebelum makan, menjelang tidur, ketika memakai pakaian, hendak keluar rumah dan  kembali masuk ke rumah, saat akan menyembelih hewan qurban, ketika akan memulai thawaf di Ka'bah, dan lain-lain.


Dari ‘Umar bin [Abi] Salamah Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan di sisinya ada makanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيِمِيْنِكِ وَكُلْ مِمَّ يَليْكَ

Sebutlah nama Allah Ta’ala, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu. [Muttafaqun ‘alaih].


Pentingnya tasmiyah (membaca bismillah) ini semakin jelas dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang lupa membacanya. Disebutkan dalam satu hadits dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda, yang artinya: “Jika salah seorang dari kalian akan makan, hendaklah menyebut nama Allah Ta’ala. Apabila lupa menyebut nama Allah Ta’ala, hendaklah mengucapkan: ‘Bismillah awwalahu wa akhirahu’.” [HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni].


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.


إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ



Artinya: "Apabila salah seorang masuk ke rumahnya dan mengingat Allah (berdzikir) ketika masuknya dan ketika makan, maka setan berkata : “Tidak ada tempat istirahat dan makan malam untuk kalian”. Dan apabila ia masuk dan tidak mengingat Allah ketika masuk, maka setan berkata :”Kalian telah mendapatkan tempat istirahat dan makan malam". (HR. Muslim)



Maka, dengan bismillah akan dapat menyempurnakan keberkahan pada berbagai amal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.



كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ (وفي رواية بِذِكْرِاللّه) فَهُوَ أَ قْطَع (وفي رواية فَهُوَ أبتر)



Artinya: "Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan bismillah (dalam riwayat lain : dengan mengingat Allah) maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahannya". (HR Ibnu Hibban, hadits hasan).



Mengawali Ramadhan ini dengan nama Allah adalah merupakan upaya serius kita untuk menghadirkan niat yang benar dan husnul bidayah. Sebab, "....setiap amalan itu tergantung dengan niat. Dan seseorang hanya akan memperoleh apa yang di niatkannya". (Dari HR Bukhari Muslim).



Awal yang baik dengan niat yang baik, akan menjadi modal yang kuat untuk meraih akhir yang baik (husnul khaatimah). Karena kemudian, setiap amalan akan tergantung dengan akhirnya.



Rasulullah saw bersabda:



 عن سهل بن سعد رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:  إن العبد ليعمل عمل أهل النار وإنه من أهل الجنة، ويعمل عمل أهل الجنة وإنه من أهل النار. الأعمال بالخواتيم.



Artinya: diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan penduduk neraka, tetapi dia penduduk sorga. Dan seseorang melakukan perbuatan penduduk sorga, tetapi dia penduduk neraka. Sesungguhnya amalan itu tergantung saat di akhirnya". (HR. Bukhari).



Memulai Ramadhan ini dengan Nama Allah, berarti mengawalinya dengan Nama Allah yang paling agung dan mulia. Yang bila Allah diminta dan diseru dengan nama tersebut, niscaya Dia akan mengabulkannya.


Suatu hari Rasulullah saw mendengar seorang lelaki berdoa kepada Allah dengan lafadz berikut:



اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنِّى أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karena aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, yang menjadi tempat bergantung semua makhluk-Nya, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada seorangpun yang sepadan dengan-Nya".



Mendengar doa teraebut,  Beliau bersabda menyebutkan keutamaannya:



وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى



Artinya: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang ini telah meminta kepada Allah dengan ismullah al-a’dzam (nama Allah yang paling agung), dimana, ketika seseorang berdoa dengan menyebut nama itu, maka doanya akan diijabahi. Daan apabila dia meminta kepada Allah dengan menyebut nama itu, maka dia akan diberi".

(HR. Ahmad 23654, Abu Daud 1495, Turmudzi 3812,  dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).


Sesungguhnya, memulai ramadhan ini, dengan niat yang baik, menyebut Nama Allah yang paling agung, menyandarkan harapan pahala dariNya semata, merupakan sebuah modal untuk maksimalnya kita beribadah selama Ramadhan nanti.


Mari, Bismillah....

Wallahu A'laa wa A'lam.
 

 
posted by @Adimin

DPC Pauh Selenggarakan Pawai Sambut Ramadhan

Written By NeoBee on 22 May, 2017 | May 22, 2017


pkspadang.com : Ramadhan datang menjelang, bulan penuh ampunan bulan penuh berkah akan memasuki hari hari ummat Islam kedepan. Untuk menyambut kedatangan bulan yang senantiasa dinanti nantikan kaum Muslimin seluruh dunia, maka DPC Pauh menyelenggarakan pawai sambut ramadhan.


Meskipun cuaca kurang bersahabat dengan turunnya hujan rintik-rintik, pawai tetap berlangsung dengan meriah. Pawai sambut ramadhan dikuti pengurus DPC Pauh, kader dan simpatisan, ibu-ibu, remaja, bapak-bapak, ibu ibu, dengan semangat dan wajah wajah optimis dan penuh harap akan datangnya ramadhan. karena memang tidak semua ummat Islam diberi kesempatan untuk mendapatkan bulan Ramadhan.

Pawai dilanjutkan dengan pembagian pamflet Imsakiyah 1438 H untuk kader simpatisan dan masyarakat sekitar. Rafdi sebagai pemegang amanah Ketua DPC Pauh menyampaikan terimakasih sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu acara pawai sambut Ramadhan 1438 H.
 
posted by @Adimin

Jejak Intelektual Muslim dan Ulama Membangun Indonesia [1]

Written By NeoBee on 20 May, 2017 | May 20, 2017

Para pendakwah Islam sengaja memilih bahasa Melayu untuk diislamkan. Banyak sekali istilah-istilah bahasa Melayu yang diambil dari bahasa Arab


SEJARAH pendirian negara Indonesia menjadi spirit anak bangsa dalam membangun negeri tercinta, Republik Indonesia. Permasalahanya, kesadaran akan sejarah bangsa masih minim. Di lain pihak, masih menyisakan kontroversi.

Padahal, sejarah bangsa adalah inspirasi generasi terpelajar anak negeri untuk menentukan masa depan. Tentu saja, berdirinya sebuah negara bernama Indonesia tidak bisa terpisahkan dengan prestasi-prestasi umat Islam di Nusantara ini dalam intelektualisme, ekonomi dan politik.

Adanya deislamisasi sejarah Indonesia terhadap prestasi ulama dan santri mengakibatkan sejarah nasionalisme ulama dan santri menjadi tertutup. Sejarah perjuagan aslinya ditiadakan atau tetap ada tetapi dimaknai dengan pengertian yang lain.

Salah satu contohnya, Wali Songo,  tokoh penyebar Islam di bumi Nusantara ini,  diselewengkan sejarahnya dengan penuturan dongeng seperti tokoh yang jauh dari syariat Islam, seperti bertapa, masih menjalankan ajaran Hindu dan lain sebagainya.

Padahal, mereka memimpin perang sengit melawan penjajahan Barat yang membawa misi Gospel. Salah satu contohnya seperti Sunan Gunung jati atau Syarif Hidayatullah, memimpin perlawanan bersenjata terhadap Imprealis Kerajaan Katolik Protugis guna merebut kembali pelabuhan niaga Jayakarta bersama Fatahillah.

Karena itulah,  kota tersebut diberi nama  Jayakarta, diangkat dari Al Quran Surat Al Fath (48:1), “inna fattahna laka fathan mubina.” Makna fathan mubina adalah kememnangan paripurna atau Jayakarta. (Ahmad Mansyur Suryanegara,Api Sejarah, viii )

Begitu pula yang terjadi di daerah-daerah lain mulai Aceh, Palembang, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sejak semula di masa revolusi, perlawanan terhadap penjajah didominasi oleh komunitas kaum pesantren.

Identitas Bangsa

Bangsa yang kini disebut bangsa Indonesia yang tergabung dalam negara bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dahulunya sebelum ada NKRI adalah bangsa yang pernah disatukan oleh satu bahasa, dan budaya.

Bahasa yang menyatukan dulu adalah bahasa Melayu. Khususnya ketika Nusantara berada dalam kerajaan-kerajaan atau kesultanan Islam.

Meski tidak ada catatan konsensus  di antara kerajaan tersebut, namun semua menggunakan bahasa Melayu.

Dai-dai Islam memilih menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa dakwah karena karakter bahasa Melayu pada zaman itu belum tercampur dengan pandangan dan pikiran apapun. Bahasa Melayu bukan saja menjadi bahasa persatuan kepulauan Nusantara, tetapi juga mengangkat derajatnya menjadi bahasa ilmu pengetahuan, komunikasi, perdagangan dan sebagai bahasa yang digunakan dalam penulisan resmi.

Termasuk penulisannya menggunakan huruf-huruf Arab tetapi bahasa dan bunyinya Melayu. Huruf-huruf ini disebut huruf Arab-Melayu atau perso (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, hal. xvi). Di Indonesia huruf ini kemudian dikenal dengan nama pegon (pego).

Salah satu kontribusi nyata di Nusantara adalah penggunaan bahasa Melayu, sehingga menjadi bahasa pemersatu Nusantara. Ia menjadi lingua franca penduduk Melayu-Indonesia, bahkan sampai kepada daerah Filipina dan Thailand.

Para pendakwah Islam sengaja memilih bahasa Melayu untuk diislamkan. Banyak sekali istilah-istilah bahasa Melayu yang diambil dari bahasa Arab. Misalnya, kata akal, musyawarah, mukadimah, adil, adab, dan lain-lain.

Tulisan pegon (pego)  populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad lamanya, sejak kedatangan Islam. Namun, sayang jenis tulisan ini tidak lagi populer di Indonesia – hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Tapi di Malaysia masih digunakan dalam tulisan-tulisan di ruang publik.

Pengislaman bahasa ini berlanjut kepada pengislaman konsep-konsep kehidupan masyarakat Melayu-Nusantara. Sehingga sedari dulu, bahasa Melayu identik dengan Islam. Para mubaligh Arab juga mengenalnya sebagai salah satu bahasa dunia Islam waktu itu, bahkan tercatat sebagai bahasa Islam nomor dua terbesar setelah bahasa Arab.

Pengaruh besar itu adalah bahwa ada informasi sejarah yang jarang diketahui publik. Prof. Mansur Suryanegara berpendapat dalam bukunya Api Sejarah bahwa para ulama yang aktif dalam BPUPKI biasa menulis rapat  dalam tulisan pegon.

Oleh karena itu, satu satunya bangsa terjajah di asia tengara  promlamisnya menggunakan teks bahasa sendiri, bukan bahasa penjajah adalah Indonesia.
Dengan kata lain, karena prestasi ulama dan santri bangsa Indonesia memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia  merupakan satu rumpun dengan Melayu dan Bahasa Indonesia termasuk dari bahasa Melayu juga.

Sebagian peneliti mengatakan bahasa Indonesia dulu merupakan bahasa Melayu. Pesantren-pesantren yang berdiri di Sumatera dan Jawa menggunakan bahasa ini sebagai pengantar dalam belajar Islam. Tulisan yang digunakan dimodifikasi antara bahaya lokal dengan Arab. Tulisan yang disebut pegon itu adalah bahasa lokal tetapi huruf yang digunakan untuk menuliskannya adalah Arab. Prof. Naquib al-Attas menyatakan para ulama dan santri berhasil mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di kepulauan Nusantara.

Karena itu ketika penjajah asing masuk Indonesia, maka yang diangkat oleh para pejuang adalah Islam. Karena berabad-abad lamanya, bumi budaya Indonesia dibentuk dan dibina oleh kebudayaan Islam. Pribumi telah merasakan Islam sebagai identitas tepat untuk melawan penjajah.

Tatanan kebudayaan Islam dalam naungan kesultanan Islam telah membentuk tatanan budaya, ekonomi dan politik yang stabil selama berabad-abad.


Oleh: Umma Muhammad
 
posted by @Adimin

Sambut Bulan Suci Ramadhan Dengan Tarhib Ramadhan

Written By NeoBee on 15 May, 2017 | May 15, 2017


Ramadhan menanti kita.....


pkspadang.com : Jelang ramadhan yang akan menjemput kita dua pekan lagi. Untuk itu DPC DPC dilingkungan DPD PKS Padang mengadakan Tarhib Ramadhan. Tarhib ramadhan yang merupakan agenda rutin PKS ketika akan memasuki bulan suci ramadhan sangat membantu ummat Islam dalam persiapan ramadhan dan amalan amalan apa saja yang meskita dilakukan ummat, disamping persiapan persiapan apa saja yang harus dilakukan, mengingat segala sesuatu harus ada ilmunya.

DPC Kuranji melaksanakan Tarhib di masjid Ar Rahman Taratak paneh yang dihadiri sekitar 70 orang. Sementara DPC PAuh melaksanakan Tarhib Ramadhan di Musholla Darussalam dengan pematri Ust. Kamrizal Lc.

Semoga dengan adanya Tarhib Ramadhan  ini akan semakin meningkatkan ilmu dan kualitas amalan kita ketika memasuki bulan suci ramadhan.
 
posted by @Adimin

Akhir Zaman: Lebih Baik Kalah tapi Selamat

Written By NeoBee on 08 May, 2017 | May 08, 2017

Di hari-hari yang penuh fitnah masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran.

Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam:

يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يُخَيَّرُ فِيهِ الرَّجُلُ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالْفُجُورِ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَلْيَخْتَرْ الْعَجْزَ عَلَى الْفُجُورِ
“Akan datang pada kalian semua suatu zaman di mana seorang laki-laki akan dihadapkan pada pilihan antara kondisi ketidakmampuan dan kemaksiatan di mana-mana. Barangsiapa yang mendapatkan zaman tersebut maka hendaknya dia memilih sebagai pihak yang tertekan daripada harus melakukan tindakan kemaksiatan. [HR. Ahmad, hadits no. 7686. Al-Haitsami menyatakan hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya‘la dari seorang syaikh yang sanadnya berakhir pada Abu Hurairah ra. Sedangkan para perawinya adalah orang-orang yang terkenal tsiqah. [Majma‘ Az-Zawâ’id (7/287)].

Merujuk kembali pada apa yang pernah dikatakan oleh Ahmad Thomson tentang jenis masyarakat ketiga, yakni masyarakat jahiliyah yang jauh dari syari’at dan jauh dari keselerasan alam semesta. Hidup dalam atmosfir peradaban Dajjal yang sistemik telah membuat banyak orang berada pada posisi yang dilematis. Larut dalam arus global kadangkala memang menjanjikan keuntungan duniawi yang besar, namun bersamaan dengan itu larut pula identitas keimanan kita karena telah melebur dalam kekufuran.

Ada seorang kawan yang curhat paska PHK yang menimpa dirinya. Demi menyambung hidupnya, ia memutuskan untuk menjual susu segar dengan membuka lapak / warung tenda di pinggir jalan. Malam itu pembelinya adalah dua orang pemuda dan pemudi yang hanya memesan segelas susu. Butuh satu jam lebih bagi keduanya untuk menghabiskan susu itu, lantaran di sela-sela menikmati susu itu keduanya juga sedang ‘menikmati’ dunia cinta mereka yang sedang merah jambu. Kawan penjual susu ini tentu saja merasa resah, satu jam lebih ia dipaksa menonton adegan pacaran konsumennya. Menjual susu segar tentu halal dan legal, namun bila setiap hari harus dipaksa menikmati ‘tayangan life’ pasangan muda-mudi semacam itu, tentu saja bisa mengancam keselamatan imannya.

Di luar sana, masih ribuan contoh lain yang menggambarkan kondisi dilematis seorang muslim saat harus berhadapan dengan system jahiliyah; suap, bohong, manipulasi, riba, maksiat dan kejahatan lainnya, terutama yang berkaitan erat dengan transaksi bisnis dan muamalah.

Hadits di atas memberikan isyarat terkait merajalelanya kezhaliman dan kemaksiatan di muka bumi dalam seluruh sendi kehidupan. Kondisi yang demikian itu mengakibatkan seorang muslim dihadapkan pada pilihan sulit.

Namun demikian, Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wassallam mengingatkan agar seorang mukmin memilih yang lebih rendah, yaitu kondisi tertekan. Mungkin ia dianggap kalah secara dunia, namun sejatinya ia telah memenangkan akhiratnya.

Nubuwat di atas juga dikuatkan dengan hadits lain yang menggambarkan bukan hanya ujian eksternal saja yang akan dihadapi oleh seorang mukmin. Namun ada juga ujian internal dari dalam dirinya berupa sifat kikir dan mengikuti hawa nafsu. Inilah kombinasi ujian yang membuat seorang mukmin yang tetap sabar berpegang pada syariat seperti mereka yang menggenggam bara.

Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda, 

بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ
‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’.[1] [  HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319]

Hadits di atas menjelaskan bahwa di hari-hari yang penuh ekstra kesabaran (ayyamush shabr) tersebut masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah yang hidup dalam keterasingan yang yang dijanjikan keselamatan dan kemenangan. Mereka itu orang-orang yang akan mendapatkan pahala yang amat besar dari Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan atas keteguhan mereka dalam memegang agamanya.

Nubuwat di atas memang bernada ancaman, namun di dalamnya juga mengandung bisyarah / kabar gembira yang menakjubkan. Jika di masa itu Allah mengkaruniakan kita kesabaran, maka itulah zaman dimana kita akan menuai kebajikan 50 kali lipat generasi para sahabat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari beratnya ujian di akhir zaman.

 

posted by @Adimin

Kebijakan Pendidikan Nasional Masih Parsial

Written By NeoBee on 06 May, 2017 | May 06, 2017


Sekretaris Jenderal DPP PKS Mustafa Kamal mempertanyakan kebijakan pemerintah terhadap dunia pendidikan di Indonesia tidak utuh dan masih setengah-setengah.
 
"Kalau setengah hati bagaimana mempercepat pembangunan. Bab niat sangat menentukan, kalau niat setengah hati hasilnya akan setengah-setengah," kata Mustafa dalam Diskusi Publik "Pendidikan Sebagai Lokomotif Pembangunan Peradaban Bangsa" di Gedung DPP PKS, Jln. TB Simatupang Jakarta Selatan, Kamis (4/5/2017).

Mustafa memberikan contoh peradaban masyarakat Indonesia yang pernah mengalami peningkatan luar biasa ketika Islam masuk ke Indonesia. "Bukan tentang Islamisasi namun tingkat peradaban yang tinggi. Masyarakat lokalnya yang ketika itu punya penerimaan luar biasa. Ulama datang bukan sebagai peminta minta namun melakukan pemberdayaan. Tidak setengah-setengah memberdayakan makanya ada akulturasi dan asimilasi. Beda dengan penjajah yang menjajah Indonesia," ungkap Mustafa.

Pendidikan itu, ujar Mustafa, merupakan bagian dari kampanye revolusi mental oleh Pemerintah. Karena itu, revolusi mental seharusnya menekankan komitmen penuh pada dunia pendidikan, tidak setengah-tengah pada sektor ini. "Karena nyawa utama pertumbuhan Indonesia adalah pendidikan," kata anggota dewan dari komisi X Fraksi PKS itu.

Dalam diskusi yang diadakan oleh Bidang Kesejahteraan Rakyat DPP PKS itu hadir pula cendekiawan Muslim Adian Husaini sebagai pembicara dan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Arie Budhiman.

posted by @Adimin

Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Written By NeoBee on 05 May, 2017 | May 05, 2017

“Belum pernah Nabi saw berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Dalil Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
 
Sya’ban adalah satu bulan sebelum Ramadhan. Terdapat hadits bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, bahkan termasuk puasa sunnah terbanyak yang beliau lakukan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Adalah sunnah memperbanyak puasa di bulan sya’ban berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata,
يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Aisyah juga berkata,
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keutamaan Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Hikmah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah karena pada bulan itu amal terangkat dan lebih baik jika amal tersebut terangkat dan kita dalam keadaan berpuasa. Sebagaimana penjelasan dari Al-Hafidz Ibnu Hajar beliau berkata,

وَالْأَوْلَى فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ أَصَحَّ مِمَّا مضى أخرجه النسائي وأبو داود وصححه بن خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وَأَنَا صَائِمٌ .
Pendapat yang benar di dalam hal ini adalah apa yang disebutkan di dalam sebuah hadits yang lebih shahih dibandingkan sebelumnya, diriwayatkan oleh An-Nasai dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: “Engkau pernah berkata: “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa (lebih banyak) dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban, kemudian beliau menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan manusia yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam, maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa” (Lihat penjelasan kitab Fathul Al Bari).

Demikian juga penjelasan dari Ibnul Qayyim, beliau berkata,
فإن عمل العام يرفع في شعبان كما أخبر به الصادق المصدوق أنه شهر ترفع فيه الأعمال فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
Sesungguhnya amalan dalam setahun akan diangkat pada bulan Sya’ban sebagaimana yang diberitahulkan oleh Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan ia adalah bulan diangkatnya amalan-amalan di dalamnya dan aku suka diangkat amalanku dalam keadaan aku berpuasa” (Hasyiah Ibnul Qayyim, 12/313).

Sebagai Persiapan Sebelum Puasa Ramadhan

Hikmahnya juga adalah dalam rangka persiapan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, yaitu bulan setelah Sya’ban. Mempersiapkan diri sudah terbiasa puasa sebulan sebelumnya. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata,
الصيام من شهر شعبان استعداداً لصوم شهر رمضان
“Puasa bulan Sya’ban dalam rangka persiapan puasa bulan Ramadhan” (Fatawa Jawab wa Sual no. 92748)

Beberapa Puasa yang Bisa Dilakukan di Bulan Sya’ban
  1. Puasa Daud yaitu sehari puasa dan sehari tidak berpuasa
  2. Puasa Senin dan kamis
  3. Puasa sebanyak tiga hari di setiap bulan Hijriyah
Bisa dilakukan di awal bulan, di tengah bulan dan di akhir bulan. Jika dilakukan tiga hari pada tanggal 13, 14 dan 15, maka inilah yang disebut dengan puasa Ayyamul Bidh

Kombinasi Amalan Puasa di Bulan Sya’ban

Timbul pertanyaan, apakah puasa Daud bisa dikombinaasikan dengan puasa lainnya seperti puasa  senin-kamis. Ini ada dua pendapat:
  1. Tidak boleh dikombinasikan
Berdasarkan hadits mengenai Abdullah bin ‘Amr yang dinasehati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa Daud, lalu beliau menegaskan mampu melakukan lebih dari puasa Daud. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya, beliau lalu bersabda,
لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ
“Tidak ada yang lebih utama dari pada puasa Daud” (HR. Bukhari 3418, Muslim 1159).
  1. Boleh dikombinasikan
Dalam Fatawa Syabakiyah AL-Islamiyah dijelaskan,
ولكن من أحب أن يجمع بين الفضيلتين، وهو صيام يوم، وإفطار يوم، وصيام الاثنين والخميس، فقد حصَّل خيراً كثيراً…  وعليه فلا حرج في ذلك، بل هو من المسارعة في الخيرات
“Mereka yang suka menggabungkan dua puasa yang punya keutamaan yaitu puasa Daud dan Puasa Senin-Kamis, maka telah mendapatkan kebaikan yang banyak, bahkan termasuk dalam bersegera daam kebaikan” (Fatawa no. 6488)

Demikian semoga bermanfaat

@Gemawang,


posted by @Adimin

Arif dalam Perbedaan

Written By NeoBee on 04 May, 2017 | May 04, 2017


Buya sudah mengedepankan tasamuh (toleransi). Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham Chalid. Hamka tak segan untuk ikut berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud Diba.

PERBEDAAN adalah keniscayaan. Namun, ada dua perbedaan yang harus dipahami dalam fikih Islam agar tidak salah dalam menyikapinya. Pertama, tadhâdh [perbedaan kontradiktif mengenai sesuatu yang sudah final dalam Islam seperti akidah dan ibadah mahdhah]. Kedua, tanawwu’ [perbedaan cabang, multi tafsir misalnya dalam hukum fikih yang teknis] (Yasir Husain Barhami, Fiqhu al-Khilâf, 12).

Dari kedua perbedaan tersebut, memang perbedaan tadhâdh (kontradiktif), tidak ada kompromi sedikit pun. Namun, pada wilayah perbedaan tanawwu’ (cabang, multi tafsir), umat Islam diharuskan berlapang dada dan toleransi. Ironisnya, masih banyak dari kalangan umat Islam yang belum arif dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ini. Pada tingkat yang lebih ekstrim, di antara mereka ada yang saling membid’ahkan, merasa pihaknya sendiri yang paling benar, bahkan mengkafirkan orang yang berseberangan. Hal ini tentu bisa menyulut permusuhan dan mengoyak persatuan.

Konflik semacam ini tidak akan terjadi jika perbedaan furu’iyah ini disikapi dengan kearifan. Ada banyak contoh sejak zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang bisa dijadikan teladan untuk menyikapi perbedaan demikian secara arif.

Semasa nabi hidup misalnya –tanpa bermaksud membatasi- ada 3 peristiwa yang bisa diangkat dalam menyikapi perbedaan furu’iyah secara arif.

Pertama, pasca Perang Khandak (5H), Rasulullah menginstruksikan sahabat nya, “Jangan shalat Ashar, melainkan di Bani Quraidzah!” (HR. Bukhari, Muslim).

Para sahabat tebelah dua dalam memahami instruksi nabi tersebut. Ada yang memahaminya secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar kecuali sudah sampai lokasi. Ada juga yang memahaminya secara kontekstual, sehingga memahaminya segera melaksanakan shalat tepat waktu. Menariknya, saat kedua kelompok ini mengadu kepada nabi, beliau sikapi dengan arif dengan tidak mencela keduanya.

Kedua, Abu Qatadah menceritakan, suatu saat Nabi bertanya kepada Abu Bakar, “Kapan kamu menunaikan witir?” Abu Bakar menjawab bahwa ia menunaikan witir di awal malam. Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada Umar. Beliau pun menjawab, “Aku menunaikan witir di akhir malam.” (HR. Abu Daud).

Sikap nabi ketika melihat perbedaan antara keduanya bukan dengan menyalahkan, tapi justru menyebutkan sisi positif masing-masing. Abu Bakar, dipuji nabi sebagai seorang yang teguh. Sedangkan Umar bin Khathab, disanjung sebagai orang yang kuat.

Ketiga, ‘Amr bin ‘Âsh bercerita, saat dirinya diutus dalam peperangan Dzâtus Salâsil, pada suatu malam yang sangat dingin, ia bermimpi hingga junub. Saat bangun pagi-pagi, beliau mengganti perintah mandi junub dengan tayamum. Pada saat itu juga, ia menjadi imam shalat Shubuh. Kejadian ini diadukan langsung kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam oleh sahabat yang tak sependapat. Ketika diklarifikasi nabi, Amru bin Ash berargumen dengan Surah An-Nisa [4]: 29, yang intinya tak boleh membunuh diri karena Allah Maha Penyayang (HR. Abu Daud, Ahmad). Setelah mendengar argumentasinya, Rasulullah pun tertawa tanpa mengatakan sesuatu apapun –sebagai taqrir (pengakuan)- bahwa apa yang dilakukan Amru ini bukan perbuatan yang salah.
Jamaluddin al-Qasimi dalam buku Qawâ’idu al-Tahdîts min Funûni Mushthalah al-Hadîts (371) menuturkan bahwa perbedaan di kalangan sahabat dan tabi’in dalam masalah furu’iyah sudah biasa. Di antara mereka ada yang membaca basmalah dalam shalat, ada pula yang tidak; ada yang mengeraskan basmalah, ada juga yang tidak’; ada yang qunut pada waktu shalat Shubuh, ada pula yang tidak melakukannya; ada yang berwudhu setelah berbekam, ada pula yang tidak berwudu. Uniknya, meski terjadi perbedaan, mereka tetap tidak menghalangi mereka shalat secara berjama’ah.

Dikisahkan, Abu Hanifah dan penganut madzhab Syafi’i serta yang lainnya shalat di belakang imam-imam Madinah yang bermadzhab Maliki (meskipun mereka tidak membaca basmallah baik secara lirih maupun keras). Harun Ar-Rasyid pernah menjadi Imam shalat –padahal ia telah berbekam- waktu itu Abu Yusuf menjadi makmumnya dan tak mengulangi shalatnya.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa pernah Abu Yusuf dan Muhammad ketika bertakbir dalam Idul Fithri keduanya bertakbir seperti pendapat Ibnu Abbas, ini karena Harun Ar-Rasyid suka terhadap takbir kakeknya (Ibnu Abbas). Lebih dari itu, pernah Imam Syafi’i shalat Shubuh tanpa qunut dekat kuburan Abu Hanifah sebagai wujud adab beliau terhadap Abu Hanifah.

Ada kisah lain yang cukup menarik. Seusai melaksanakan shalat Jum’at, Imam Abu Yusuf diingatkan jama’ah bahwa di sumur dekat kamar mandi (yang beliau pakai mandi sebelum Jum’at), terdapat bangkai tikus. Mendengar ini beliau berkomentar, “Kalau begitu, kita mengambil pendapat saudara kita Ahli Madinah, “Jika air mencapai dua qulla, maka kotor [najis].” (HR. Ahmad).

Lihat bagaimana mereka menyikapi perbedaan furu’iyah, tidak ada yang saling mencela bahkan sinis terhadap pendapat yang berseberangan.

Di Indonesia sendiri, sejak sebelum kemerdekaan perbedaan furu’iyah memang menimbulkan selalu ketegangan. Terbelahlah umat Islam pada waktu itu dengan istilah kaum tradisionalis dan kaum modernis. Perbedaan tersebut dampaknya masih berpengaruh hingga saat ini. Padahal, kalau diamati secara cermat, perbedaan mereka kebanyakan pada masalah furu’iyah bukan prinsipil.
Melihat fenomena demikian, Tjokroaminoto dan Agus Salim  menginisiasi Kongres Islam pertama di Cirebon 1922 untuk merajut Ukhuwah Islamiah dan tidak disibukkan dengan Urusan Khilafiyah (Aji Dedi Mulawarman, Jang Oetama Jejak dan Perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto, 187).

Contoh lain dari Pahlawan Muslim Indonesia dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ialah seperti yang dipraktikkan Buya Hamka. Dalam buku Mengenang 100 tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), disebutkan bahwa Hamka adalah sosok yang mengutamakan silaturahim ketimbang meributkan perbedaan tak prinsip. Ada beberapa contoh yang menunjukkan toleransi hamka dalam menyikapi perbedaan furu’iyah.

Pertama, ketika KH Abdullah Syafi’i menunaikan shalat Jum’at di Masjid Al-Azhar. Waktu itu, Buya Hamka sudah terjadwal sebagai khatib. Melihat kedatangan KH Abdullah Syafi’i, seketika Buya “memaksa” beliau menggantikan dirinya. Buya juga meminta adzan dikumandangkan dua kalisebagaimana tradisi Nahdhiyin yang dipegang Syafi’i.

Kedua, sejak dibukanya Masjid Al-Azhar, Buya sudah mengedepankan tasamuh (toleransi). Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham Chalid. Hamka tak segan untuk ikut berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud Diba. (Shobahussurur, 2008).

Ketiga, pada saat Hamka dan Idham Chalid berada dalam satu pesawat menuju Mekah. Masing-masing bergantian menjadi imam shalat Shubuh.  Saat Idham menjadi imam, beliau tidak membaca qunut karena ada Hamka di belakangnya. Demikian juga Hamka, saat menjadi imam, beliau membaca qunut karena ada Idham Chalid di belakangnya. (Abdillah Mubarak Nurin, Islam Agama Kasih Sayang, 86).

Ada pula contoh dari tokoh nasional yang masih hidup, yaitu: Amin Rais. Tokoh yang pernah menjabat menjadi Ketua Umum Muhammadiyah ke-12 (1995-2000) ini sangat arif dalam menyikapi perbedaan furû’iyyah.

Zaim Uchrowi  dalam buku Mohammad Amien Rais: Memimpin dengan Nurani menceritakan bahwa meski lahir dari kultur Muhammadiyah, Amin dikatakan sebagai sosok yang fasih dalam membaca qunut. Ia selalu membaca doa qunut saat menjadi umam penganut Islam ‘kultural’ saat shalat Subuh (2004: 146). Bahkan, masih menurut buku yang sama, beberapa kali saat berkunjung ke pesantren tradisional, beliau diminta menjadi imam shalat Shubuh. Jika kebiasaan di tempat itu memakai doa qunut, maka belia pun juga membaca doa qunut (2004: 85).

Dari beberapa contoh di atas, perbedaan furû’iyah memang harus disikapi secara arif. Perbedaan demikian seyogianya tidak merusak persatuan. Justru umat Islam saling berlapang dada, toleran dan menyikapinya dengan kearifan. Hal ini persis yang dicontohkan nabi, para sahabat, tabiin, ulama hingga tokoh Islam negeri ini.

Sebagai penutup, pernyataan Ibnu Najim (ulama bermadzab Hanafi) berikut bisa dicamkan baik-baik dalam menyikapi perbedaan furû’iyah secara arif,  “Jika kita ditanya tentang madzhab kita oleh orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah furu’ (cabang fikih), kita wajib menjawab bahwa madzhab kita shawab (benar) tapi ada kemungkinan salah, sedangkan madzhab yang menyelisihi kita bisa jadi khatha` (salah) tapi bisa jadi benar.” (al-Asybâh wa al-Nadhâir, Ibnu Najim 330). Wallâhu a’lam.

Mahmud Budi Setiawan
  
posted by @Adimin

Dalam Rangka Milad PKS Ke 19, PKS Padang selenggarakan Jalan Sehat dan Donor Darah

Written By NeoBee on 02 May, 2017 | May 02, 2017


Dalam ragka Milad PKS ke 19, DPD PKS Kota Padang menyelenggarakan jalan sehat bagi kader dan masyarakat umum. Jalan sehat yang dimulai dijalan utama MD Building Jl KIS Mangunsarkoro diikuti dengan antusias oleh kader kota Padang dan masyarakat umum, ibu ibu, bapak-bapak, anak anak, remaja. Dengan hadiah doorprize yang cukup menjanjikan, ada Sepeda, Mesin cuci, kipas angin, dispenser dan sabagainya, semakin menyeruakkan aura optimisme. 
Acara yang dimulai pada pukul 07.30 dan berakhir di pantai padang yang semasa kepemimpinan Mahyeldi menjadi pantai yang bersih dan indah. Jalan sehat di lepas dengan khidmat oleh Walikota Padang sekaligus membuka rangkaian acara milad PKS ke 19 tersebut. yang sebelumnya diawali dengan aksi bersih-bersih masjid disekitar kantor DPD PKS Kota Padang. Jalan sehat berlangsung dengan lancar, aman dan tertib. 


Meskipun kelelahan menggelayuti wajah-wajah peserta jalan sehat, masyarakat tetap setia mengikuti seluruh rangkaian acara milad PKS yang ke 19 tersebut. Meskipun suasana Kota Padang panas seperti khasnya panas pantai, tetapi panggung tempat acara puncak Milad PKS tetap dipenuhi dengan ribuan kader dan masyarakat, yang dengan harap harap cemas menunggu pembacaan nomor undian untuk mendapatkan doorprize. Hadir dipanggung acara Jajaran Pengurus DPW yang dikomandani Ust Irsyad Syafar dan Jajaran DPD Kota Padang yang di gawangi Ust Gufron. Dalam arahannya Ust Irsyad Syafar mengatakan bahwa dengan jalan sehat ini diharapkan menjadi pembiasaan bagi kader dan masyarakat agar nantinya bisa menjadi ummat yang kuat dari sisi fisik dan mental. Karena ALLAH memang lebih mencintai seorang mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah.
Selain membagi bagikan doorprize PKS juga melaksanakan donor darah bagi kader dan masyarakat, donor darah ini terselenggara berkat kerjasama DPD PKS dengan PMI Kota Padang. Dengan donor ini diharapkan akan tumbuh jiwa jiwa sosial yang senantiasa peduli dengan sesama. Singkatkata rangkaian acara Milad PKS ke 19 di Padang berakhir dengan indah diiringi dengan wajah wajah yang penuh dengan kegembiraan dan optimis dalam mensikapi kondisi saat ini dan kader tetap senantiasa siap siaga berkhidmat untuk rakyat.



posted by @Adimin

DPD PKS Kota Padang Adakan Rakorda

Written By NeoBee on 29 April, 2017 | April 29, 2017


pkspadang.com : Padang, Sabtu 29 April 2017. Dalam rangka memaksimalkan kerja kerja dakwah, DPD PKS Kota Padang melaksanakan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda). Perangkat perangkat dan agenda agenda kerja Partai yang di sudah disusun DPP di turunkan ke DPD dan DPC DPC yang ada. Program program kerja partai dirumuskan dalam bentuk IKU (Indikator Kerja Utama) sehingga seluruh program program kerja masing masing bidang bisa terlaksana dan terukur dengan baik. Rakorda dibuka secara resmi oleh Ketua DPW Sumatera Barat yang dalam hal ini diwakili Ketua Bidang Kaderisasi Ust Ahmad Yasin, Lc.


Hadir dalam rakorda kali ini Ketua DPW Sumbar yang diwakili Ketua Bidang Kaderisasi Ust Muhammad Yasin, Lc, Ketua MPD Ust Drs. Muhidi, MM dan Ketua DPD Kota Padang Ust Gufron, SS dan seluruh pengurus DPD Kota Padang beserta seluruh Pengurus DPC Kota Padang. Tak lupa pula panitia memberikan doorprize dan penghargaan kepada DPC yang pengurusnya paling banyak dalam mengikuti rakorda dan kader yang paling tepat waktu dalam menghadiri acara, yang semuanya diraih oleh DPC Pauh. ALLAHU AKBAR....


Dalam arahannya Ust Muhammad Yasin mengingatkan betapa pentingnya komitmen terhadap agenda kerja jamaah. Karena akan semakin meningkatkan amal amal kita dengan kerja kerja berjamaah, mengingat pahala berjamaah, sama dengan pahala multi level yang dapat meningkatkan nilai dari amal kita. Begitu juga sebaliknya jika dalam berjamaah seorang kader menanamkan nilai nilai negarif, maka efeknya adalah dosa yang didapatkan juga akan berlipat ganda. Sehingga diharapkan seorang kader hendaknya berhati-hati dalam berucap dan beramal agar selamat dari dosa besar yang tak terasa. Mudah mudahan dengan adanya Rakorda ini akan menambah soliditas dan seluruh program program kerja yang sudah dirumuskan bisa terlaksana dengan baik


posted by @Adimin

Anies Sujud Syukur Bersama Ribuan Jamaah di Istiqlal

Written By NeoBee on 21 April, 2017 | April 21, 2017


Cagub DKI Anies Baswedan melaksanakan sujud syukur bersama ribuan jamaah kaum muslimin di Masjid Istiqlal. Kegiatan itu bentuk syukur atas hasil Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang berjalan aman dan lancar.
 
Cagub DKI yang diusung PKS dan Partai Gerindra tersebut hadir tanpa ditemani cawagub Sandiaga Shalahuddin Uno. Anies tiba sekitar pukul 19.00 wib, Rabu (19/4/2017).

Ikut bersama Anies, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto. Mereka terlebih dahulu menunaikan sholat Isya di masjid terbesar di Asia tenggara itu. Usai sholat, imam besar Front Pembela Islam FPI Habib Rizieq Shihab mengajak seluruh jamaah untuk sujud syukur.

"Mari kita sujud syukur untuk gubernur muslim kita," ujar Rizieq.

Dalam sambutannya, Prabowo mengucapkan terima kasih dan apresiasi untuk keberanian Habib Rizieq menegakkan kebenaran. "Habib dan masyarakat muslim sama dengan kami yang membela kepentingan rakyat indonesia dan menegakkan keadilan serta menyelamatkan demokrasi di Indonesia dan masa depan indonesia," kata Prabowo.

Anies juga turut memberikan sambutannya dalam majelis yang dihadiri para ulama dan habib itu. Mendikbud era Presiden Joko Widodo itu mengatakan sujud syukur sebenarnya bukan hanya dilakukan di Istiqlal.

"Kita tempelkan kening kita dimana seluruh Indonesia menyaksikan, dan di seluruh Indonesia sekarang juga sedang melakukan sujud syukur," tutur Anies.

Inisiator Indonesia Mengajar itu juga mengajak seluruh umat islam khususnya di Jakarta untuk menjaga kedamaian dan persatuan terlebih Jakarta merupakan kota yang sangat bhinneka. "Kita tunjukkan umat islam penjaga kedamaian dan perekat persatuan," ajaknya.

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger