Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
May 29, 2017
Ramadhan 1
(Oleh: Ustad Irsyad Syafar)
Dengan Nama Allah..
Kita awali hari-hari kita bersama Ramadhan. Semoga menjadi hari-hari terbaik kita seumur hidup.
posted by @Adimin
Ramadhan 1
Written By @Adimin on 29 May, 2017 | May 29, 2017
Ramadhan 1
(Oleh: Ustad Irsyad Syafar)
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah..
Kita awali hari-hari kita bersama Ramadhan. Semoga menjadi hari-hari terbaik kita seumur hidup.
Dengan Bismillah kita memulai
berbagai amal shaleh kita di bulan mulia ini. Sebab, Rasulullah saw
menganjurkan kita untuk mengawali setiap kebaikan dengan bismillah. Sebelum
makan, menjelang tidur, ketika memakai pakaian, hendak keluar rumah dan kembali masuk ke rumah, saat akan menyembelih
hewan qurban, ketika akan memulai thawaf di Ka'bah, dan lain-lain.
Dari ‘Umar bin [Abi] Salamah
Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam , dan di sisinya ada makanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيِمِيْنِكِ وَكُلْ مِمَّ يَليْكَ
Sebutlah nama Allah Ta’ala,
makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.
[Muttafaqun ‘alaih].
Pentingnya tasmiyah (membaca
bismillah) ini semakin jelas dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bagi orang yang lupa membacanya. Disebutkan dalam satu hadits dari
‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda, yang artinya: “Jika salah seorang
dari kalian akan makan, hendaklah menyebut nama Allah Ta’ala. Apabila lupa
menyebut nama Allah Ta’ala, hendaklah mengucapkan: ‘Bismillah awwalahu wa
akhirahu’.” [HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh Syaikh
al-Albâni].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ
Artinya: "Apabila salah
seorang masuk ke rumahnya dan mengingat Allah (berdzikir) ketika masuknya dan
ketika makan, maka setan berkata : “Tidak ada tempat istirahat dan makan malam
untuk kalian”. Dan apabila ia masuk dan tidak mengingat Allah ketika masuk,
maka setan berkata :”Kalian telah mendapatkan tempat istirahat dan makan
malam". (HR. Muslim)
Maka, dengan bismillah akan dapat
menyempurnakan keberkahan pada berbagai amal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ (وفي رواية بِذِكْرِاللّه) فَهُوَ أَ قْطَع (وفي رواية فَهُوَ أبتر)
Artinya: "Setiap perkara
penting yang tidak dimulai dengan bismillah (dalam riwayat lain : dengan
mengingat Allah) maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahannya".
(HR Ibnu Hibban, hadits hasan).
Mengawali Ramadhan ini dengan
nama Allah adalah merupakan upaya serius kita untuk menghadirkan niat yang
benar dan husnul bidayah. Sebab, "....setiap amalan itu tergantung dengan
niat. Dan seseorang hanya akan memperoleh apa yang di niatkannya". (Dari
HR Bukhari Muslim).
Awal yang baik dengan niat yang
baik, akan menjadi modal yang kuat untuk meraih akhir yang baik (husnul
khaatimah). Karena kemudian, setiap amalan akan tergantung dengan akhirnya.
Rasulullah saw bersabda:
عن سهل بن سعد رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن العبد ليعمل عمل أهل النار وإنه من أهل الجنة، ويعمل عمل أهل الجنة وإنه من أهل النار. الأعمال بالخواتيم.
Artinya: diriwayatkan dari Sahal
bin Sa'ad bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba
melakukan perbuatan penduduk neraka, tetapi dia penduduk sorga. Dan seseorang
melakukan perbuatan penduduk sorga, tetapi dia penduduk neraka. Sesungguhnya
amalan itu tergantung saat di akhirnya". (HR. Bukhari).
Memulai Ramadhan ini dengan Nama
Allah, berarti mengawalinya dengan Nama Allah yang paling agung dan mulia. Yang
bila Allah diminta dan diseru dengan nama tersebut, niscaya Dia akan
mengabulkannya.
Suatu hari Rasulullah saw
mendengar seorang lelaki berdoa kepada Allah dengan lafadz berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنِّى أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: "Ya Allah, aku
memohon kepada-Mu karena aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada
tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, yang menjadi tempat
bergantung semua makhluk-Nya, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada
seorangpun yang sepadan dengan-Nya".
Mendengar doa teraebut, Beliau bersabda menyebutkan keutamaannya:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
Artinya: "Demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang ini telah meminta kepada Allah
dengan ismullah al-a’dzam (nama Allah yang paling agung), dimana, ketika
seseorang berdoa dengan menyebut nama itu, maka doanya akan diijabahi. Daan apabila
dia meminta kepada Allah dengan menyebut nama itu, maka dia akan diberi".
(HR. Ahmad 23654, Abu Daud 1495,
Turmudzi 3812, dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).
Sesungguhnya, memulai ramadhan
ini, dengan niat yang baik, menyebut Nama Allah yang paling agung, menyandarkan
harapan pahala dariNya semata, merupakan sebuah modal untuk maksimalnya kita
beribadah selama Ramadhan nanti.
Mari, Bismillah....
Wallahu A'laa wa A'lam.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 22, 2017
posted by @Adimin
DPC Pauh Selenggarakan Pawai Sambut Ramadhan
Written By NeoBee on 22 May, 2017 | May 22, 2017
pkspadang.com : Ramadhan datang menjelang, bulan penuh ampunan bulan penuh berkah akan memasuki hari hari ummat Islam kedepan. Untuk menyambut kedatangan bulan yang senantiasa dinanti nantikan kaum Muslimin seluruh dunia, maka DPC Pauh menyelenggarakan pawai sambut ramadhan.
Meskipun cuaca kurang bersahabat dengan turunnya hujan rintik-rintik, pawai tetap berlangsung dengan meriah. Pawai sambut ramadhan dikuti pengurus DPC Pauh, kader dan simpatisan, ibu-ibu, remaja, bapak-bapak, ibu ibu, dengan semangat dan wajah wajah optimis dan penuh harap akan datangnya ramadhan. karena memang tidak semua ummat Islam diberi kesempatan untuk mendapatkan bulan Ramadhan.
Pawai dilanjutkan dengan pembagian pamflet Imsakiyah 1438 H untuk kader simpatisan dan masyarakat sekitar. Rafdi sebagai pemegang amanah Ketua DPC Pauh menyampaikan terimakasih sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu acara pawai sambut Ramadhan 1438 H.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 20, 2017
Oleh: Umma Muhammad
posted by @Adimin
Jejak Intelektual Muslim dan Ulama Membangun Indonesia [1]
Written By NeoBee on 20 May, 2017 | May 20, 2017
Para pendakwah Islam sengaja memilih bahasa Melayu untuk diislamkan. Banyak
sekali istilah-istilah bahasa Melayu yang diambil dari bahasa Arab
SEJARAH pendirian negara Indonesia menjadi
spirit anak bangsa dalam membangun negeri tercinta, Republik Indonesia.
Permasalahanya, kesadaran akan sejarah bangsa masih minim. Di lain pihak, masih
menyisakan kontroversi.
Padahal, sejarah bangsa adalah inspirasi generasi
terpelajar anak negeri untuk menentukan masa depan. Tentu saja, berdirinya
sebuah negara bernama Indonesia tidak bisa terpisahkan dengan prestasi-prestasi
umat Islam di Nusantara ini dalam intelektualisme, ekonomi dan politik.
Adanya deislamisasi sejarah Indonesia terhadap prestasi
ulama dan santri mengakibatkan sejarah nasionalisme ulama dan santri menjadi
tertutup. Sejarah perjuagan aslinya ditiadakan atau tetap ada tetapi dimaknai
dengan pengertian yang lain.
Salah satu contohnya, Wali Songo, tokoh penyebar
Islam di bumi Nusantara ini, diselewengkan sejarahnya dengan penuturan
dongeng seperti tokoh yang jauh dari syariat Islam, seperti bertapa, masih
menjalankan ajaran Hindu dan lain sebagainya.
Padahal, mereka memimpin perang sengit melawan penjajahan
Barat yang membawa misi Gospel. Salah satu contohnya seperti Sunan Gunung jati
atau Syarif Hidayatullah, memimpin perlawanan bersenjata terhadap Imprealis
Kerajaan Katolik Protugis guna merebut kembali pelabuhan niaga Jayakarta
bersama Fatahillah.
Karena itulah, kota tersebut diberi nama Jayakarta,
diangkat dari Al Quran Surat Al Fath (48:1), “inna fattahna laka fathan mubina.” Makna fathan mubina adalah
kememnangan paripurna atau
Jayakarta. (Ahmad
Mansyur Suryanegara,Api Sejarah, viii )
Begitu pula yang terjadi di daerah-daerah lain mulai Aceh,
Palembang, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sejak semula di masa revolusi,
perlawanan terhadap penjajah didominasi oleh komunitas kaum pesantren.
Identitas Bangsa
Bangsa yang kini disebut bangsa Indonesia yang tergabung
dalam negara bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dahulunya
sebelum ada NKRI adalah bangsa yang pernah disatukan oleh satu bahasa, dan
budaya.
Bahasa yang menyatukan dulu adalah bahasa Melayu.
Khususnya ketika Nusantara berada dalam kerajaan-kerajaan atau kesultanan
Islam.
Meski tidak ada catatan konsensus di antara
kerajaan tersebut, namun semua menggunakan bahasa Melayu.
Dai-dai Islam memilih menggunakan bahasa Melayu sebagai
bahasa dakwah karena karakter bahasa Melayu pada zaman itu belum tercampur
dengan pandangan dan pikiran apapun. Bahasa Melayu bukan saja menjadi bahasa
persatuan kepulauan Nusantara, tetapi juga mengangkat derajatnya menjadi bahasa
ilmu pengetahuan, komunikasi, perdagangan dan sebagai bahasa yang digunakan
dalam penulisan resmi.
Termasuk penulisannya menggunakan huruf-huruf Arab tetapi
bahasa dan bunyinya Melayu. Huruf-huruf ini disebut huruf Arab-Melayu atau perso (Syed Muhammad
Naquib al-Attas,
Historical Fact and Fiction, hal. xvi). Di Indonesia huruf ini
kemudian dikenal dengan nama pegon
(pego).
Salah satu kontribusi nyata di Nusantara adalah
penggunaan bahasa Melayu, sehingga menjadi bahasa pemersatu Nusantara. Ia
menjadi lingua franca penduduk
Melayu-Indonesia, bahkan sampai kepada daerah Filipina dan Thailand.
Para pendakwah Islam sengaja memilih bahasa Melayu untuk
diislamkan. Banyak sekali istilah-istilah bahasa Melayu yang diambil dari
bahasa Arab. Misalnya, kata akal,
musyawarah, mukadimah, adil, adab, dan lain-lain.
Tulisan pegon
(pego) populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad
lamanya, sejak kedatangan Islam. Namun, sayang jenis tulisan ini tidak lagi
populer di Indonesia – hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Tapi di Malaysia
masih digunakan dalam tulisan-tulisan di ruang publik.
Pengislaman bahasa ini berlanjut kepada pengislaman
konsep-konsep kehidupan masyarakat Melayu-Nusantara. Sehingga sedari dulu,
bahasa Melayu identik dengan Islam. Para mubaligh Arab juga mengenalnya sebagai
salah satu bahasa dunia Islam waktu itu, bahkan tercatat sebagai bahasa Islam
nomor dua terbesar setelah bahasa Arab.
Pengaruh besar itu adalah bahwa ada informasi sejarah
yang jarang diketahui publik. Prof. Mansur Suryanegara berpendapat dalam
bukunya Api Sejarah
bahwa para ulama yang aktif dalam BPUPKI biasa menulis rapat dalam
tulisan pegon.
Oleh karena itu, satu satunya bangsa terjajah di asia
tengara promlamisnya menggunakan teks bahasa sendiri, bukan bahasa
penjajah adalah Indonesia.
Dengan kata lain, karena prestasi ulama dan santri bangsa
Indonesia memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia merupakan satu rumpun dengan
Melayu dan Bahasa Indonesia termasuk dari bahasa Melayu juga.
Sebagian peneliti mengatakan bahasa Indonesia dulu
merupakan bahasa Melayu. Pesantren-pesantren yang berdiri di Sumatera dan Jawa
menggunakan bahasa ini sebagai pengantar dalam belajar Islam. Tulisan yang
digunakan dimodifikasi antara bahaya lokal dengan Arab. Tulisan yang disebut pegon itu adalah bahasa
lokal tetapi huruf yang digunakan untuk menuliskannya adalah Arab. Prof. Naquib
al-Attas menyatakan para ulama dan santri berhasil mengangkat bahasa Melayu
menjadi bahasa persatuan di kepulauan Nusantara.
Karena itu ketika penjajah asing masuk Indonesia, maka
yang diangkat oleh para pejuang adalah Islam. Karena berabad-abad lamanya, bumi
budaya Indonesia dibentuk dan dibina oleh kebudayaan Islam. Pribumi telah
merasakan Islam sebagai identitas tepat untuk melawan penjajah.
Tatanan kebudayaan Islam dalam naungan kesultanan Islam
telah membentuk tatanan budaya, ekonomi dan politik yang stabil selama
berabad-abad.
Oleh: Umma Muhammad
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 15, 2017
Ramadhan menanti kita.....
posted by @Adimin
Sambut Bulan Suci Ramadhan Dengan Tarhib Ramadhan
Written By NeoBee on 15 May, 2017 | May 15, 2017
Ramadhan menanti kita.....
pkspadang.com : Jelang ramadhan yang akan menjemput kita dua pekan lagi. Untuk itu DPC DPC dilingkungan DPD PKS Padang mengadakan Tarhib Ramadhan. Tarhib ramadhan yang merupakan agenda rutin PKS ketika akan memasuki bulan suci ramadhan sangat membantu ummat Islam dalam persiapan ramadhan dan amalan amalan apa saja yang meskita dilakukan ummat, disamping persiapan persiapan apa saja yang harus dilakukan, mengingat segala sesuatu harus ada ilmunya.
DPC Kuranji melaksanakan Tarhib di masjid Ar Rahman Taratak paneh yang dihadiri sekitar 70 orang. Sementara DPC PAuh melaksanakan Tarhib Ramadhan di Musholla Darussalam dengan pematri Ust. Kamrizal Lc.
Semoga dengan adanya Tarhib Ramadhan ini akan semakin meningkatkan ilmu dan kualitas amalan kita ketika memasuki bulan suci ramadhan.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 08, 2017
posted by @Adimin
Akhir Zaman: Lebih Baik Kalah tapi Selamat
Written By NeoBee on 08 May, 2017 | May 08, 2017
Di
hari-hari yang penuh fitnah masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang
keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran.
Dari
Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassallam:
يَأْتِي
عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يُخَيَّرُ فِيهِ الرَّجُلُ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالْفُجُورِ
فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَلْيَخْتَرْ الْعَجْزَ عَلَى الْفُجُورِ
“Akan
datang pada kalian semua suatu zaman di mana seorang laki-laki akan dihadapkan
pada pilihan antara kondisi ketidakmampuan dan kemaksiatan di mana-mana.
Barangsiapa yang mendapatkan zaman tersebut maka hendaknya dia memilih sebagai
pihak yang tertekan daripada harus melakukan tindakan kemaksiatan. [HR. Ahmad, hadits no. 7686.
Al-Haitsami menyatakan hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya‘la dari
seorang syaikh yang sanadnya berakhir pada Abu Hurairah ra. Sedangkan para
perawinya adalah orang-orang yang terkenal tsiqah. [Majma‘ Az-Zawâ’id (7/287)].
Merujuk
kembali pada apa yang pernah dikatakan oleh Ahmad Thomson tentang jenis
masyarakat ketiga, yakni masyarakat jahiliyah yang jauh dari syari’at dan jauh
dari keselerasan alam semesta. Hidup dalam atmosfir peradaban Dajjal yang
sistemik telah membuat banyak orang berada pada posisi yang dilematis. Larut
dalam arus global kadangkala memang menjanjikan keuntungan duniawi yang besar,
namun bersamaan dengan itu larut pula identitas keimanan kita karena telah
melebur dalam kekufuran.
Ada
seorang kawan yang curhat paska PHK yang menimpa dirinya. Demi menyambung
hidupnya, ia memutuskan untuk menjual susu segar dengan membuka lapak / warung
tenda di pinggir jalan. Malam itu pembelinya adalah dua orang pemuda dan pemudi
yang hanya memesan segelas susu. Butuh satu jam lebih bagi keduanya untuk
menghabiskan susu itu, lantaran di sela-sela menikmati susu itu keduanya juga
sedang ‘menikmati’ dunia cinta mereka yang sedang merah jambu. Kawan penjual
susu ini tentu saja merasa resah, satu jam lebih ia dipaksa menonton adegan pacaran
konsumennya. Menjual susu segar tentu halal dan legal, namun bila setiap hari
harus dipaksa menikmati ‘tayangan life’ pasangan muda-mudi semacam itu, tentu
saja bisa mengancam keselamatan imannya.
Di
luar sana, masih ribuan contoh lain yang menggambarkan kondisi dilematis
seorang muslim saat harus berhadapan dengan system jahiliyah; suap, bohong,
manipulasi, riba, maksiat dan kejahatan lainnya, terutama yang berkaitan erat
dengan transaksi bisnis dan muamalah.
Hadits
di atas memberikan isyarat terkait merajalelanya kezhaliman dan kemaksiatan di
muka bumi dalam seluruh sendi kehidupan. Kondisi yang demikian itu
mengakibatkan seorang muslim dihadapkan pada pilihan sulit.
Namun
demikian, Rasulullah Shalallahu
’Alaihi Wassallam mengingatkan agar seorang mukmin memilih yang
lebih rendah, yaitu kondisi tertekan. Mungkin ia dianggap kalah secara dunia,
namun sejatinya ia telah memenangkan akhiratnya.
Nubuwat
di atas juga dikuatkan dengan hadits lain yang menggambarkan bukan hanya ujian
eksternal saja yang akan dihadapi oleh seorang mukmin. Namun ada juga ujian
internal dari dalam dirinya berupa sifat kikir dan mengikuti hawa nafsu. Inilah
kombinasi ujian yang membuat seorang mukmin yang tetap sabar berpegang pada
syariat seperti mereka yang menggenggam bara.
Dari
Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah
Al-Khusyani dan bertanya kepadanya,
“Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka
aku pun membaca ayat: “Hai
orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu
akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.
(Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah
menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna
ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda,
بَلْ
ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ
شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي
رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ
مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ
لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ
عَمَلِكُمْ
‘Teruskanlah
olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan
menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan
dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai
pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang
yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu
itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh
agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus
berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga
melakukan hal yang sama dari kalian’.[1] [ HR. Abu Dawud, Al-Malâhim,
hadits no. 4319]
Hadits
di atas menjelaskan bahwa di hari-hari yang penuh ekstra kesabaran (ayyamush shabr)
tersebut masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan
kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah yang hidup dalam keterasingan yang yang
dijanjikan keselamatan dan kemenangan. Mereka itu orang-orang yang akan
mendapatkan pahala yang amat besar dari Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan atas
keteguhan mereka dalam memegang agamanya.
Nubuwat
di atas memang bernada ancaman, namun di dalamnya juga mengandung bisyarah /
kabar gembira yang menakjubkan. Jika di masa itu Allah mengkaruniakan kita
kesabaran, maka itulah zaman dimana kita akan menuai kebajikan 50 kali lipat
generasi para sahabat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari beratnya ujian di akhir
zaman.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 06, 2017
posted by @Adimin
Kebijakan Pendidikan Nasional Masih Parsial
Written By NeoBee on 06 May, 2017 | May 06, 2017
Sekretaris Jenderal DPP PKS Mustafa
Kamal mempertanyakan kebijakan pemerintah terhadap dunia pendidikan di
Indonesia tidak utuh dan masih setengah-setengah.
"Kalau setengah hati bagaimana
mempercepat pembangunan. Bab niat sangat menentukan, kalau niat setengah
hati hasilnya akan setengah-setengah," kata Mustafa dalam Diskusi
Publik "Pendidikan Sebagai Lokomotif Pembangunan Peradaban Bangsa" di
Gedung DPP PKS, Jln. TB Simatupang Jakarta Selatan, Kamis (4/5/2017).
Mustafa memberikan contoh peradaban
masyarakat Indonesia yang pernah mengalami peningkatan luar biasa ketika
Islam masuk ke Indonesia. "Bukan tentang Islamisasi namun tingkat
peradaban yang tinggi. Masyarakat lokalnya yang ketika itu punya
penerimaan luar biasa. Ulama datang bukan sebagai peminta minta namun
melakukan pemberdayaan. Tidak setengah-setengah memberdayakan makanya
ada akulturasi dan asimilasi. Beda dengan penjajah yang menjajah
Indonesia," ungkap Mustafa.
Pendidikan itu, ujar Mustafa, merupakan
bagian dari kampanye revolusi mental oleh Pemerintah. Karena itu,
revolusi mental seharusnya menekankan komitmen penuh pada dunia
pendidikan, tidak setengah-tengah pada sektor ini. "Karena nyawa utama
pertumbuhan Indonesia adalah pendidikan," kata anggota dewan dari komisi
X Fraksi PKS itu.
Dalam diskusi yang diadakan oleh Bidang
Kesejahteraan Rakyat DPP PKS itu hadir pula cendekiawan Muslim Adian
Husaini sebagai pembicara dan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Arie Budhiman.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 05, 2017
Dalil Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
@Gemawang,
posted by @Adimin
Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
Written By NeoBee on 05 May, 2017 | May 05, 2017
“Belum pernah Nabi saw berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan
Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Dalil Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
Sya’ban adalah satu bulan
sebelum Ramadhan. Terdapat hadits bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, bahkan termasuk puasa sunnah terbanyak
yang beliau lakukan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Adalah sunnah
memperbanyak puasa di bulan sya’ban berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh
‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata,
يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ
حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا
رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Terkadang Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau
tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami
katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan,
saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan
Sya’ban” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Aisyah juga berkata,
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ
شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu
bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau
berpuasa Sya’ban sebulan penuh” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim).
Keutamaan
Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
Hikmah memperbanyak puasa
di bulan Sya’ban adalah karena pada bulan itu amal terangkat dan lebih baik
jika amal tersebut terangkat dan kita dalam keadaan berpuasa. Sebagaimana
penjelasan dari Al-Hafidz Ibnu Hajar beliau berkata,
وَالْأَوْلَى فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ
أَصَحَّ مِمَّا مضى أخرجه النسائي وأبو داود وصححه بن خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ
بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ
مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ
النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ
الْأَعْمَالُ إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وَأَنَا صَائِمٌ .
“Pendapat yang benar di
dalam hal ini adalah apa yang disebutkan di dalam sebuah hadits yang lebih
shahih dibandingkan sebelumnya, diriwayatkan oleh An-Nasai dan Abu Daud dan
dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: “Engkau
pernah berkata: “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa (lebih
banyak) dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana engkau berpuasa
di bulan Sya’ban, kemudian beliau menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang
dilalaikan manusia yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan
yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam, maka aku
menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa” (Lihat
penjelasan kitab Fathul Al Bari).
Demikian juga penjelasan
dari Ibnul Qayyim, beliau berkata,
فإن عمل العام يرفع في شعبان كما أخبر به الصادق المصدوق أنه شهر ترفع فيه الأعمال فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
“Sesungguhnya amalan
dalam setahun akan diangkat pada bulan Sya’ban sebagaimana yang diberitahulkan
oleh Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan ia adalah
bulan diangkatnya amalan-amalan di dalamnya dan aku suka diangkat amalanku
dalam keadaan aku berpuasa” (Hasyiah Ibnul Qayyim, 12/313).
Sebagai
Persiapan Sebelum Puasa Ramadhan
Hikmahnya juga adalah dalam
rangka persiapan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, yaitu bulan setelah
Sya’ban. Mempersiapkan diri sudah terbiasa puasa sebulan sebelumnya. Syaikh
Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata,
الصيام من شهر شعبان استعداداً لصوم شهر رمضان
“Puasa bulan Sya’ban dalam
rangka persiapan puasa bulan Ramadhan” (Fatawa Jawab wa Sual no. 92748)
Beberapa
Puasa yang Bisa Dilakukan di Bulan Sya’ban
- Puasa Daud yaitu sehari puasa dan sehari tidak berpuasa
- Puasa Senin dan kamis
- Puasa sebanyak tiga hari di setiap bulan Hijriyah
Bisa dilakukan di awal
bulan, di tengah bulan dan di akhir bulan. Jika dilakukan tiga hari pada
tanggal 13, 14 dan 15, maka inilah yang disebut dengan puasa Ayyamul Bidh
Kombinasi
Amalan Puasa di Bulan Sya’ban
Timbul pertanyaan, apakah
puasa Daud bisa dikombinaasikan dengan puasa lainnya seperti puasa
senin-kamis. Ini ada dua pendapat:
- Tidak boleh dikombinasikan
Berdasarkan hadits mengenai
Abdullah bin ‘Amr yang dinasehati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
berpuasa Daud, lalu beliau menegaskan mampu melakukan lebih dari puasa Daud.
Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya, beliau lalu
bersabda,
لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ
“Tidak ada yang lebih utama
dari pada puasa Daud” (HR. Bukhari 3418, Muslim 1159).
- Boleh dikombinasikan
Dalam Fatawa Syabakiyah AL-Islamiyah dijelaskan,
ولكن من أحب أن يجمع بين الفضيلتين، وهو صيام يوم، وإفطار يوم، وصيام
الاثنين والخميس، فقد حصَّل خيراً كثيراً… وعليه فلا حرج في ذلك، بل هو من
المسارعة في الخيرات
“Mereka yang suka
menggabungkan dua puasa yang punya keutamaan yaitu puasa Daud dan Puasa
Senin-Kamis, maka telah mendapatkan kebaikan yang banyak, bahkan termasuk dalam
bersegera daam kebaikan” (Fatawa no. 6488)
Demikian semoga bermanfaat
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 04, 2017
Mahmud Budi Setiawan
posted by @Adimin
Arif dalam Perbedaan
Written By NeoBee on 04 May, 2017 | May 04, 2017
Buya
sudah mengedepankan tasamuh (toleransi). Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk
bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham Chalid. Hamka tak segan untuk ikut
berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud Diba.
PERBEDAAN
adalah
keniscayaan. Namun, ada dua perbedaan yang harus dipahami dalam fikih Islam
agar tidak salah dalam menyikapinya. Pertama, tadhâdh [perbedaan kontradiktif mengenai
sesuatu yang sudah final dalam Islam seperti akidah dan ibadah mahdhah]. Kedua,
tanawwu’
[perbedaan cabang, multi tafsir misalnya dalam hukum fikih yang teknis] (Yasir
Husain Barhami, Fiqhu
al-Khilâf, 12).
Dari
kedua perbedaan tersebut, memang perbedaan tadhâdh
(kontradiktif), tidak ada kompromi sedikit pun. Namun, pada wilayah perbedaan tanawwu’ (cabang, multi
tafsir), umat Islam diharuskan berlapang dada dan toleransi. Ironisnya, masih
banyak dari kalangan umat Islam yang belum arif dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ini. Pada
tingkat yang lebih ekstrim, di antara mereka ada yang saling membid’ahkan,
merasa pihaknya sendiri yang paling benar, bahkan mengkafirkan orang yang
berseberangan. Hal ini tentu bisa menyulut permusuhan dan mengoyak persatuan.
Konflik
semacam ini tidak akan terjadi jika perbedaan furu’iyah ini disikapi dengan kearifan. Ada
banyak contoh sejak zaman Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassallam yang bisa dijadikan teladan untuk menyikapi perbedaan
demikian secara arif.
Semasa
nabi hidup misalnya –tanpa bermaksud membatasi- ada 3 peristiwa yang bisa
diangkat dalam menyikapi perbedaan furu’iyah
secara arif.
Pertama,
pasca Perang Khandak (5H), Rasulullah menginstruksikan sahabat nya, “Jangan
shalat Ashar, melainkan di Bani Quraidzah!” (HR. Bukhari, Muslim).
Para
sahabat tebelah dua dalam memahami instruksi nabi tersebut. Ada yang
memahaminya secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar kecuali sudah sampai
lokasi. Ada juga yang memahaminya secara kontekstual, sehingga memahaminya
segera melaksanakan shalat tepat waktu. Menariknya, saat kedua kelompok ini
mengadu kepada nabi, beliau sikapi dengan arif dengan tidak mencela keduanya.
Kedua,
Abu Qatadah menceritakan, suatu saat Nabi bertanya kepada Abu Bakar, “Kapan
kamu menunaikan witir?” Abu Bakar menjawab bahwa ia menunaikan witir di awal
malam. Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada Umar. Beliau pun menjawab,
“Aku menunaikan witir di akhir malam.” (HR. Abu Daud).
Sikap
nabi ketika melihat perbedaan antara keduanya bukan dengan menyalahkan, tapi
justru menyebutkan sisi positif masing-masing. Abu Bakar, dipuji nabi sebagai
seorang yang teguh. Sedangkan Umar bin Khathab, disanjung sebagai orang yang
kuat.
Ketiga,
‘Amr bin ‘Âsh bercerita, saat dirinya diutus dalam peperangan Dzâtus Salâsil,
pada suatu malam yang sangat dingin, ia bermimpi hingga junub. Saat bangun
pagi-pagi, beliau mengganti perintah mandi junub dengan tayamum. Pada saat itu
juga, ia menjadi imam shalat Shubuh. Kejadian ini diadukan langsung kepada
Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassallam oleh sahabat yang tak sependapat. Ketika
diklarifikasi nabi, Amru bin Ash berargumen dengan Surah An-Nisa [4]: 29, yang
intinya tak boleh membunuh diri karena Allah Maha Penyayang (HR. Abu Daud,
Ahmad). Setelah mendengar argumentasinya, Rasulullah pun tertawa tanpa
mengatakan sesuatu apapun –sebagai taqrir
(pengakuan)- bahwa apa yang dilakukan Amru ini bukan perbuatan yang salah.
Jamaluddin
al-Qasimi dalam buku Qawâ’idu
al-Tahdîts min Funûni Mushthalah al-Hadîts (371) menuturkan bahwa
perbedaan di kalangan sahabat dan tabi’in dalam masalah furu’iyah sudah biasa.
Di antara mereka ada yang membaca basmalah dalam shalat, ada pula yang tidak;
ada yang mengeraskan basmalah, ada juga yang tidak’; ada yang qunut pada waktu
shalat Shubuh, ada pula yang tidak melakukannya; ada yang berwudhu setelah
berbekam, ada pula yang tidak berwudu. Uniknya, meski terjadi perbedaan, mereka
tetap tidak menghalangi mereka shalat secara berjama’ah.
Dikisahkan,
Abu Hanifah dan penganut madzhab Syafi’i serta yang lainnya shalat di belakang
imam-imam Madinah yang bermadzhab Maliki (meskipun mereka tidak membaca
basmallah baik secara lirih maupun keras). Harun Ar-Rasyid pernah menjadi Imam
shalat –padahal ia telah berbekam- waktu itu Abu Yusuf menjadi makmumnya dan
tak mengulangi shalatnya.
Dalam
kisah lain disebutkan bahwa pernah Abu Yusuf dan Muhammad ketika bertakbir
dalam Idul Fithri keduanya bertakbir seperti pendapat Ibnu Abbas, ini karena
Harun Ar-Rasyid suka terhadap takbir kakeknya (Ibnu Abbas). Lebih dari itu,
pernah Imam Syafi’i shalat Shubuh tanpa qunut dekat kuburan Abu Hanifah sebagai
wujud adab beliau terhadap Abu Hanifah.
Ada
kisah lain yang cukup menarik. Seusai melaksanakan shalat Jum’at, Imam Abu
Yusuf diingatkan jama’ah bahwa di sumur dekat kamar mandi (yang beliau pakai
mandi sebelum Jum’at), terdapat bangkai tikus. Mendengar ini beliau
berkomentar, “Kalau begitu, kita mengambil pendapat saudara kita Ahli Madinah,
“Jika air mencapai dua qulla, maka kotor [najis].” (HR. Ahmad).
Lihat
bagaimana mereka menyikapi perbedaan furu’iyah,
tidak ada yang saling mencela bahkan sinis terhadap pendapat yang
berseberangan.
Di
Indonesia sendiri, sejak sebelum kemerdekaan perbedaan furu’iyah memang
menimbulkan selalu ketegangan. Terbelahlah umat Islam pada waktu itu dengan
istilah kaum tradisionalis dan kaum modernis. Perbedaan tersebut dampaknya
masih berpengaruh hingga saat ini. Padahal, kalau diamati secara cermat,
perbedaan mereka kebanyakan pada masalah furu’iyah
bukan prinsipil.
Melihat
fenomena demikian, Tjokroaminoto dan Agus Salim menginisiasi Kongres
Islam pertama di Cirebon 1922 untuk merajut Ukhuwah Islamiah dan tidak
disibukkan dengan Urusan Khilafiyah (Aji Dedi Mulawarman, Jang Oetama Jejak dan
Perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto, 187).
Contoh
lain dari Pahlawan Muslim Indonesia dalam menyikapi perbedaan furu’iyah ialah
seperti yang dipraktikkan Buya Hamka. Dalam buku Mengenang 100 tahun Haji Abdul
Malik Karim Amrullah (Hamka), disebutkan bahwa Hamka adalah sosok yang mengutamakan
silaturahim ketimbang meributkan perbedaan tak prinsip. Ada beberapa contoh
yang menunjukkan toleransi hamka dalam menyikapi perbedaan furu’iyah.
Pertama,
ketika KH Abdullah Syafi’i menunaikan shalat Jum’at di Masjid Al-Azhar. Waktu
itu, Buya Hamka sudah terjadwal sebagai khatib. Melihat kedatangan KH Abdullah
Syafi’i, seketika Buya “memaksa” beliau menggantikan dirinya. Buya juga meminta
adzan dikumandangkan dua kalisebagaimana tradisi Nahdhiyin yang dipegang
Syafi’i.
Kedua,
sejak dibukanya Masjid Al-Azhar, Buya sudah mengedepankan tasamuh (toleransi).
Waktu itu, Hamka ikut hadir dan duduk bersebelahan dengan tokoh NU KH Idham
Chalid. Hamka tak segan untuk ikut berdiri dan membacakan asrakai pada Maulud
Diba. (Shobahussurur, 2008).
Ketiga,
pada saat Hamka dan Idham Chalid berada dalam satu pesawat menuju Mekah.
Masing-masing bergantian menjadi imam shalat Shubuh. Saat Idham menjadi
imam, beliau tidak membaca qunut karena ada Hamka di belakangnya. Demikian juga
Hamka, saat menjadi imam, beliau membaca qunut karena ada Idham Chalid di
belakangnya. (Abdillah Mubarak Nurin, Islam Agama Kasih Sayang, 86).
Ada
pula contoh dari tokoh nasional yang masih hidup, yaitu: Amin Rais. Tokoh yang
pernah menjabat menjadi Ketua Umum Muhammadiyah ke-12 (1995-2000) ini sangat
arif dalam menyikapi perbedaan furû’iyyah.
Zaim
Uchrowi dalam buku Mohammad
Amien Rais: Memimpin dengan Nurani menceritakan bahwa meski lahir
dari kultur Muhammadiyah, Amin dikatakan sebagai sosok yang fasih dalam membaca
qunut. Ia selalu membaca doa qunut saat menjadi umam penganut Islam ‘kultural’
saat shalat Subuh (2004: 146). Bahkan, masih menurut buku yang sama, beberapa
kali saat berkunjung ke pesantren tradisional, beliau diminta menjadi imam
shalat Shubuh. Jika kebiasaan di tempat itu memakai doa qunut, maka belia pun
juga membaca doa qunut (2004: 85).
Dari
beberapa contoh di atas, perbedaan furû’iyah
memang harus disikapi secara arif. Perbedaan demikian seyogianya tidak merusak
persatuan. Justru umat Islam saling berlapang dada, toleran dan menyikapinya
dengan kearifan. Hal ini persis yang dicontohkan nabi, para sahabat, tabiin,
ulama hingga tokoh Islam negeri ini.
Sebagai
penutup, pernyataan Ibnu Najim (ulama bermadzab Hanafi) berikut bisa dicamkan
baik-baik dalam menyikapi perbedaan furû’iyah secara arif, “Jika kita
ditanya tentang madzhab kita oleh orang-orang yang berbeda dengan kita dalam
masalah furu’ (cabang fikih), kita wajib menjawab bahwa madzhab kita shawab
(benar) tapi ada kemungkinan salah, sedangkan madzhab yang menyelisihi kita bisa
jadi khatha` (salah) tapi bisa jadi benar.” (al-Asybâh wa al-Nadhâir, Ibnu
Najim 330). Wallâhu a’lam.
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 02, 2017

posted by @Adimin
Dalam Rangka Milad PKS Ke 19, PKS Padang selenggarakan Jalan Sehat dan Donor Darah
Written By NeoBee on 02 May, 2017 | May 02, 2017
Dalam ragka Milad PKS ke 19, DPD PKS Kota Padang menyelenggarakan jalan sehat bagi kader dan masyarakat umum. Jalan sehat yang dimulai dijalan utama MD Building Jl KIS Mangunsarkoro diikuti dengan antusias oleh kader kota Padang dan masyarakat umum, ibu ibu, bapak-bapak, anak anak, remaja. Dengan hadiah doorprize yang cukup menjanjikan, ada Sepeda, Mesin cuci, kipas angin, dispenser dan sabagainya, semakin menyeruakkan aura optimisme.
Acara yang dimulai pada pukul 07.30 dan berakhir di pantai padang yang semasa kepemimpinan Mahyeldi menjadi pantai yang bersih dan indah. Jalan sehat di lepas dengan khidmat oleh Walikota Padang sekaligus membuka rangkaian acara milad PKS ke 19 tersebut. yang sebelumnya diawali dengan aksi bersih-bersih masjid disekitar kantor DPD PKS Kota Padang. Jalan sehat berlangsung dengan lancar, aman dan tertib.
Meskipun kelelahan menggelayuti wajah-wajah peserta jalan sehat, masyarakat tetap setia mengikuti seluruh rangkaian acara milad PKS yang ke 19 tersebut. Meskipun suasana Kota Padang panas seperti khasnya panas pantai, tetapi panggung tempat acara puncak Milad PKS tetap dipenuhi dengan ribuan kader dan masyarakat, yang dengan harap harap cemas menunggu pembacaan nomor undian untuk mendapatkan doorprize. Hadir dipanggung acara Jajaran Pengurus DPW yang dikomandani Ust Irsyad Syafar dan Jajaran DPD Kota Padang yang di gawangi Ust Gufron. Dalam arahannya Ust Irsyad Syafar mengatakan bahwa dengan jalan sehat ini diharapkan menjadi pembiasaan bagi kader dan masyarakat agar nantinya bisa menjadi ummat yang kuat dari sisi fisik dan mental. Karena ALLAH memang lebih mencintai seorang mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah.
Meskipun kelelahan menggelayuti wajah-wajah peserta jalan sehat, masyarakat tetap setia mengikuti seluruh rangkaian acara milad PKS yang ke 19 tersebut. Meskipun suasana Kota Padang panas seperti khasnya panas pantai, tetapi panggung tempat acara puncak Milad PKS tetap dipenuhi dengan ribuan kader dan masyarakat, yang dengan harap harap cemas menunggu pembacaan nomor undian untuk mendapatkan doorprize. Hadir dipanggung acara Jajaran Pengurus DPW yang dikomandani Ust Irsyad Syafar dan Jajaran DPD Kota Padang yang di gawangi Ust Gufron. Dalam arahannya Ust Irsyad Syafar mengatakan bahwa dengan jalan sehat ini diharapkan menjadi pembiasaan bagi kader dan masyarakat agar nantinya bisa menjadi ummat yang kuat dari sisi fisik dan mental. Karena ALLAH memang lebih mencintai seorang mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah.
Selain membagi bagikan doorprize PKS juga melaksanakan donor darah bagi kader dan masyarakat, donor darah ini terselenggara berkat kerjasama DPD PKS dengan PMI Kota Padang. Dengan donor ini diharapkan akan tumbuh jiwa jiwa sosial yang senantiasa peduli dengan sesama. Singkatkata rangkaian acara Milad PKS ke 19 di Padang berakhir dengan indah diiringi dengan wajah wajah yang penuh dengan kegembiraan dan optimis dalam mensikapi kondisi saat ini dan kader tetap senantiasa siap siaga berkhidmat untuk rakyat.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
April 29, 2017
posted by @Adimin
DPD PKS Kota Padang Adakan Rakorda
Written By NeoBee on 29 April, 2017 | April 29, 2017
pkspadang.com : Padang, Sabtu 29 April 2017. Dalam rangka memaksimalkan kerja kerja dakwah, DPD PKS Kota Padang melaksanakan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda). Perangkat perangkat dan agenda agenda kerja Partai yang di sudah disusun DPP di turunkan ke DPD dan DPC DPC yang ada. Program program kerja partai dirumuskan dalam bentuk IKU (Indikator Kerja Utama) sehingga seluruh program program kerja masing masing bidang bisa terlaksana dan terukur dengan baik. Rakorda dibuka secara resmi oleh Ketua DPW Sumatera Barat yang dalam hal ini diwakili Ketua Bidang Kaderisasi Ust Ahmad Yasin, Lc.
Hadir dalam rakorda kali ini Ketua DPW Sumbar yang diwakili Ketua Bidang Kaderisasi Ust Muhammad Yasin, Lc, Ketua MPD Ust Drs. Muhidi, MM dan Ketua DPD Kota Padang Ust Gufron, SS dan seluruh pengurus DPD Kota Padang beserta seluruh Pengurus DPC Kota Padang. Tak lupa pula panitia memberikan doorprize dan penghargaan kepada DPC yang pengurusnya paling banyak dalam mengikuti rakorda dan kader yang paling tepat waktu dalam menghadiri acara, yang semuanya diraih oleh DPC Pauh. ALLAHU AKBAR....
Dalam arahannya Ust Muhammad Yasin mengingatkan betapa pentingnya komitmen terhadap agenda kerja jamaah. Karena akan semakin meningkatkan amal amal kita dengan kerja kerja berjamaah, mengingat pahala berjamaah, sama dengan pahala multi level yang dapat meningkatkan nilai dari amal kita. Begitu juga sebaliknya jika dalam berjamaah seorang kader menanamkan nilai nilai negarif, maka efeknya adalah dosa yang didapatkan juga akan berlipat ganda. Sehingga diharapkan seorang kader hendaknya berhati-hati dalam berucap dan beramal agar selamat dari dosa besar yang tak terasa. Mudah mudahan dengan adanya Rakorda ini akan menambah soliditas dan seluruh program program kerja yang sudah dirumuskan bisa terlaksana dengan baik
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
April 21, 2017
posted by @Adimin
Anies Sujud Syukur Bersama Ribuan Jamaah di Istiqlal
Written By NeoBee on 21 April, 2017 | April 21, 2017
Cagub DKI Anies Baswedan melaksanakan sujud syukur bersama ribuan
jamaah kaum muslimin di Masjid Istiqlal. Kegiatan itu bentuk syukur atas
hasil Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang berjalan aman dan lancar.
Cagub DKI yang diusung PKS dan Partai Gerindra tersebut hadir tanpa
ditemani cawagub Sandiaga Shalahuddin Uno. Anies tiba sekitar pukul
19.00 wib, Rabu (19/4/2017).
Ikut bersama Anies, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto.
Mereka terlebih dahulu menunaikan sholat Isya di masjid terbesar di Asia
tenggara itu. Usai sholat, imam besar Front Pembela Islam FPI Habib
Rizieq Shihab mengajak seluruh jamaah untuk sujud syukur.
"Mari kita sujud syukur untuk gubernur muslim kita," ujar Rizieq.
Dalam sambutannya, Prabowo mengucapkan terima kasih dan apresiasi
untuk keberanian Habib Rizieq menegakkan kebenaran. "Habib dan
masyarakat muslim sama dengan kami yang membela kepentingan rakyat
indonesia dan menegakkan keadilan serta menyelamatkan demokrasi di
Indonesia dan masa depan indonesia," kata Prabowo.
Anies juga turut memberikan sambutannya dalam majelis yang dihadiri
para ulama dan habib itu. Mendikbud era Presiden Joko Widodo itu
mengatakan sujud syukur sebenarnya bukan hanya dilakukan di Istiqlal.
"Kita tempelkan kening kita dimana seluruh Indonesia menyaksikan, dan
di seluruh Indonesia sekarang juga sedang melakukan sujud syukur,"
tutur Anies.
Inisiator Indonesia Mengajar itu juga mengajak seluruh umat islam
khususnya di Jakarta untuk menjaga kedamaian dan persatuan terlebih
Jakarta merupakan kota yang sangat bhinneka. "Kita tunjukkan umat islam
penjaga kedamaian dan perekat persatuan," ajaknya.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
















