Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
May 31, 2017
posted by @Adimin
Ramadhan 2
Written By @Adimin on 31 May, 2017 | May 31, 2017
Oleh. Irsyad Syafar, Lc, MEd
الحمد لله ربّ العالمين
Segala puji hanya bagi Allah,
Tuhan semesta Alam. Dialah satu-satunya yang berhak dipuji. Karena Dialah
pemilik seluruh sifat-sifat kesempurnaan. Adapun makhlukNya, penuh dengan
kelemahan dan kekurangan.
Dialah Allah Yang Maha Kaya, dan
sebenar-benarnya kaya. Dia tidak butuh akan makhluknya. Secuilpun kekafiran
makhluknya takkan mengurangi kemulianNya. Sebanyak apapun ibadah dan ketaatan
hamba-hambaNya, takkan sedikitpun menambah kerajaanNya. Bahkan kekayaanNya
takkan pernah berkurang bila Dia membagi-bagikannya kepada semua makhlukNya.
Rasulullah bersabda dari hadits
Qudsi, bahwa Allah berfirman:
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . (رواه مسلم)
Artinya: "Wahai
hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan
kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat
kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu. Wahai hamba-hambaKu, seandainya
generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan
jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat
ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun.
Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari
kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan
seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu
takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun. Wahai hambaKu, seandainya generasi
pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin,
semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu,
lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi
apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke
dalam lautan..." (HR Muslim, dari Abu Hurairah)
Adapun manusia semuanya miskin.
Berapapun kekayaannya, maka dia butuh dan tergantung kepada orang lain. Dan
kekyaannya bisa hilang sekejap mata tanpa mampu dia menjaganya.
Karenanya, bila seorang muslim
berpuasa pada bulan ramadhan, shalat malam, berinfaq dsb, maka itu adalah untuk
kebaikan dirinya sendiri. Tidak menambah kekayaan Allah. Sebaliknya bila dia
engkar dan tidak mentaati Allah, maka dia sendiri yang akan merugi. Sama sekali
tak merugikan Allah SWT.
Segala puji hanya bagi Allah,
karena Dialah yang sebenar-benar mulia. Adapun manusia semuanya hina dan
rendah, kecuali bila dimuliakan oleh Allah. Bahkan bila seorang hamba engkar
dan kafir kepada Allah, maka dia lebih rendah dari binatang ternak. Allah
berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah
kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka
mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.
(QS Al A'raf: 179)
Dalam hadits Qudsi, Allah
menggambarkan kerendahan dan kehinaan manusia, bahwa mereka sesat, telanjang,
lapar, berbuat dosa siang dan malam, kecuali bila dimuliakan oleh Allah:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ... (رواه مسلم)
Artinya: "Wahai hamba-hambaKu, kalian semua sesat,
kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya
Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hambaKu, kalian semua lapar,
kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku
akan memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, kalian semua telanjang, kecuali
orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku akan
memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah di
siang dan di malam hari, sedangkan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka
minta ampunlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian..." (HR Muslim
dari Abu Hurairah).
Orang-orang beriman sangat wajib bersyukur memuji Allah
atas berbagai ibadah yang disyariatkanNya selama bulan Ramadhan. Sebab semua
ibadah tersebut akan mengangkat derjatnya menjadi mulia.
Disamping itu, Alhamdulillah adalah pujian universal.
Mencakup segala pujian dan penghormatan. Tidak dibatasi oleh sekat waktu dan
ruang. Pujian yang berlaku untuk masa lalu, masa sekarang ini dan masa yang
akan datang sampai akhir zaman. Alhamdulillah juga pujian yang mencakup seluruh
Nama-Nama Allah Yang Mulia dan Sifat-sifatNya Yang Agung serta pujian atas
nikmat-nikmaNya yang tidak terhingga.
Allah ta'alaa memuliakan dan memuji hamba-hamba yang
memujiNya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول : قال الله تعالى
: ( قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل ، فإذا قال العبد : الحمد لله رب العالمين ، قال الله تعالى : حمدني عبدي.... (رواه مسلم)
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah saw
telah bersabda, Allah telah berfirman: "Aku telah membagi dua Alfatihah
antara Aku dan HambaKu. Bila seorang hamba mengucapkan "alhamdulillahi
rabbil 'aalamin", maka Allah akan menjawab: "Aku dipuji oleh
hambaKu...". (HR Muslim).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa
"Alhamdulillah" merupakan salah satu wujud kesyukuran kepada Allah.
Yaitu syukur dalam bentuk lisan. Ada dua lagi bentuk kesyukuran yang
"wajib" dipenuhi seorang hamba kepada Allah SWT:
Pertama syukur hati, yaitu dalam bentuk iman dan
ketundukan kepada Allah, rasa khusyuk saat menyembahNya, rasa harap akan
karuniaNya dan rasa khawatir akan siksaNya.
Kedua, syukur anggota badan. Yaitu berupa amal shaleh
dengan seluruh anggota dan organ tubuh. Syukur mata dengan menggunakannya untuk
melihat kebaikan dan menjauhi dari melihat yang haram. Syukur telinga dalam
bentuk mendengar yang diredhaiNya dan menjauhi pendengaran yang dimurkaiNya.
Syukur mulut adalah memakan yang halal dan menjauhi yang haram. Syukur tangan
adalah menggerakkannya untuk kebaikan dan menjauhkannya dari menganiaya orang
lain. Syukur kaki adalah melangkah menuju ketaatan dan menghindari perbuatan
dosa, dan seterusnya.
Dengan cara itulah maka hati dan anggota tubuh telah melakukan "alhamdulillah".
Namun, bila lidah telah berucap alhamdulillah, akan tetapi hati belum tunduk
dan patuh kepadaNya, atau anggota tubuh masih melakukan maksiat dan dosa, tentu
alhamdulillahnya hanyalah palsu dan berpura-pura. Maha Agung Allah dari segala
kepalsuan dan kepura-puraan.
Mari kita hidangkan ibadah-ibadah yang "asli"
(tidak palsu dan pura-pura) kepada Allah selama ramadhan ini.
Wallahu A'laa wa A'lam.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 29, 2017
Ramadhan 1
(Oleh: Ustad Irsyad Syafar)
Dengan Nama Allah..
Kita awali hari-hari kita bersama Ramadhan. Semoga menjadi hari-hari terbaik kita seumur hidup.
posted by @Adimin
Ramadhan 1
Written By @Adimin on 29 May, 2017 | May 29, 2017
Ramadhan 1
(Oleh: Ustad Irsyad Syafar)
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah..
Kita awali hari-hari kita bersama Ramadhan. Semoga menjadi hari-hari terbaik kita seumur hidup.
Dengan Bismillah kita memulai
berbagai amal shaleh kita di bulan mulia ini. Sebab, Rasulullah saw
menganjurkan kita untuk mengawali setiap kebaikan dengan bismillah. Sebelum
makan, menjelang tidur, ketika memakai pakaian, hendak keluar rumah dan kembali masuk ke rumah, saat akan menyembelih
hewan qurban, ketika akan memulai thawaf di Ka'bah, dan lain-lain.
Dari ‘Umar bin [Abi] Salamah
Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam , dan di sisinya ada makanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيِمِيْنِكِ وَكُلْ مِمَّ يَليْكَ
Sebutlah nama Allah Ta’ala,
makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.
[Muttafaqun ‘alaih].
Pentingnya tasmiyah (membaca
bismillah) ini semakin jelas dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bagi orang yang lupa membacanya. Disebutkan dalam satu hadits dari
‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda, yang artinya: “Jika salah seorang
dari kalian akan makan, hendaklah menyebut nama Allah Ta’ala. Apabila lupa
menyebut nama Allah Ta’ala, hendaklah mengucapkan: ‘Bismillah awwalahu wa
akhirahu’.” [HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh Syaikh
al-Albâni].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ
Artinya: "Apabila salah
seorang masuk ke rumahnya dan mengingat Allah (berdzikir) ketika masuknya dan
ketika makan, maka setan berkata : “Tidak ada tempat istirahat dan makan malam
untuk kalian”. Dan apabila ia masuk dan tidak mengingat Allah ketika masuk,
maka setan berkata :”Kalian telah mendapatkan tempat istirahat dan makan
malam". (HR. Muslim)
Maka, dengan bismillah akan dapat
menyempurnakan keberkahan pada berbagai amal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ (وفي رواية بِذِكْرِاللّه) فَهُوَ أَ قْطَع (وفي رواية فَهُوَ أبتر)
Artinya: "Setiap perkara
penting yang tidak dimulai dengan bismillah (dalam riwayat lain : dengan
mengingat Allah) maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahannya".
(HR Ibnu Hibban, hadits hasan).
Mengawali Ramadhan ini dengan
nama Allah adalah merupakan upaya serius kita untuk menghadirkan niat yang
benar dan husnul bidayah. Sebab, "....setiap amalan itu tergantung dengan
niat. Dan seseorang hanya akan memperoleh apa yang di niatkannya". (Dari
HR Bukhari Muslim).
Awal yang baik dengan niat yang
baik, akan menjadi modal yang kuat untuk meraih akhir yang baik (husnul
khaatimah). Karena kemudian, setiap amalan akan tergantung dengan akhirnya.
Rasulullah saw bersabda:
عن سهل بن سعد رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن العبد ليعمل عمل أهل النار وإنه من أهل الجنة، ويعمل عمل أهل الجنة وإنه من أهل النار. الأعمال بالخواتيم.
Artinya: diriwayatkan dari Sahal
bin Sa'ad bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba
melakukan perbuatan penduduk neraka, tetapi dia penduduk sorga. Dan seseorang
melakukan perbuatan penduduk sorga, tetapi dia penduduk neraka. Sesungguhnya
amalan itu tergantung saat di akhirnya". (HR. Bukhari).
Memulai Ramadhan ini dengan Nama
Allah, berarti mengawalinya dengan Nama Allah yang paling agung dan mulia. Yang
bila Allah diminta dan diseru dengan nama tersebut, niscaya Dia akan
mengabulkannya.
Suatu hari Rasulullah saw
mendengar seorang lelaki berdoa kepada Allah dengan lafadz berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنِّى أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: "Ya Allah, aku
memohon kepada-Mu karena aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada
tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, yang menjadi tempat
bergantung semua makhluk-Nya, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada
seorangpun yang sepadan dengan-Nya".
Mendengar doa teraebut, Beliau bersabda menyebutkan keutamaannya:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
Artinya: "Demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang ini telah meminta kepada Allah
dengan ismullah al-a’dzam (nama Allah yang paling agung), dimana, ketika
seseorang berdoa dengan menyebut nama itu, maka doanya akan diijabahi. Daan apabila
dia meminta kepada Allah dengan menyebut nama itu, maka dia akan diberi".
(HR. Ahmad 23654, Abu Daud 1495,
Turmudzi 3812, dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).
Sesungguhnya, memulai ramadhan
ini, dengan niat yang baik, menyebut Nama Allah yang paling agung, menyandarkan
harapan pahala dariNya semata, merupakan sebuah modal untuk maksimalnya kita
beribadah selama Ramadhan nanti.
Mari, Bismillah....
Wallahu A'laa wa A'lam.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 22, 2017
posted by @Adimin
DPC Pauh Selenggarakan Pawai Sambut Ramadhan
Written By NeoBee on 22 May, 2017 | May 22, 2017
pkspadang.com : Ramadhan datang menjelang, bulan penuh ampunan bulan penuh berkah akan memasuki hari hari ummat Islam kedepan. Untuk menyambut kedatangan bulan yang senantiasa dinanti nantikan kaum Muslimin seluruh dunia, maka DPC Pauh menyelenggarakan pawai sambut ramadhan.
Meskipun cuaca kurang bersahabat dengan turunnya hujan rintik-rintik, pawai tetap berlangsung dengan meriah. Pawai sambut ramadhan dikuti pengurus DPC Pauh, kader dan simpatisan, ibu-ibu, remaja, bapak-bapak, ibu ibu, dengan semangat dan wajah wajah optimis dan penuh harap akan datangnya ramadhan. karena memang tidak semua ummat Islam diberi kesempatan untuk mendapatkan bulan Ramadhan.
Pawai dilanjutkan dengan pembagian pamflet Imsakiyah 1438 H untuk kader simpatisan dan masyarakat sekitar. Rafdi sebagai pemegang amanah Ketua DPC Pauh menyampaikan terimakasih sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu acara pawai sambut Ramadhan 1438 H.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 20, 2017
Oleh: Umma Muhammad
posted by @Adimin
Jejak Intelektual Muslim dan Ulama Membangun Indonesia [1]
Written By NeoBee on 20 May, 2017 | May 20, 2017
Para pendakwah Islam sengaja memilih bahasa Melayu untuk diislamkan. Banyak
sekali istilah-istilah bahasa Melayu yang diambil dari bahasa Arab
SEJARAH pendirian negara Indonesia menjadi
spirit anak bangsa dalam membangun negeri tercinta, Republik Indonesia.
Permasalahanya, kesadaran akan sejarah bangsa masih minim. Di lain pihak, masih
menyisakan kontroversi.
Padahal, sejarah bangsa adalah inspirasi generasi
terpelajar anak negeri untuk menentukan masa depan. Tentu saja, berdirinya
sebuah negara bernama Indonesia tidak bisa terpisahkan dengan prestasi-prestasi
umat Islam di Nusantara ini dalam intelektualisme, ekonomi dan politik.
Adanya deislamisasi sejarah Indonesia terhadap prestasi
ulama dan santri mengakibatkan sejarah nasionalisme ulama dan santri menjadi
tertutup. Sejarah perjuagan aslinya ditiadakan atau tetap ada tetapi dimaknai
dengan pengertian yang lain.
Salah satu contohnya, Wali Songo, tokoh penyebar
Islam di bumi Nusantara ini, diselewengkan sejarahnya dengan penuturan
dongeng seperti tokoh yang jauh dari syariat Islam, seperti bertapa, masih
menjalankan ajaran Hindu dan lain sebagainya.
Padahal, mereka memimpin perang sengit melawan penjajahan
Barat yang membawa misi Gospel. Salah satu contohnya seperti Sunan Gunung jati
atau Syarif Hidayatullah, memimpin perlawanan bersenjata terhadap Imprealis
Kerajaan Katolik Protugis guna merebut kembali pelabuhan niaga Jayakarta
bersama Fatahillah.
Karena itulah, kota tersebut diberi nama Jayakarta,
diangkat dari Al Quran Surat Al Fath (48:1), “inna fattahna laka fathan mubina.” Makna fathan mubina adalah
kememnangan paripurna atau
Jayakarta. (Ahmad
Mansyur Suryanegara,Api Sejarah, viii )
Begitu pula yang terjadi di daerah-daerah lain mulai Aceh,
Palembang, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sejak semula di masa revolusi,
perlawanan terhadap penjajah didominasi oleh komunitas kaum pesantren.
Identitas Bangsa
Bangsa yang kini disebut bangsa Indonesia yang tergabung
dalam negara bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dahulunya
sebelum ada NKRI adalah bangsa yang pernah disatukan oleh satu bahasa, dan
budaya.
Bahasa yang menyatukan dulu adalah bahasa Melayu.
Khususnya ketika Nusantara berada dalam kerajaan-kerajaan atau kesultanan
Islam.
Meski tidak ada catatan konsensus di antara
kerajaan tersebut, namun semua menggunakan bahasa Melayu.
Dai-dai Islam memilih menggunakan bahasa Melayu sebagai
bahasa dakwah karena karakter bahasa Melayu pada zaman itu belum tercampur
dengan pandangan dan pikiran apapun. Bahasa Melayu bukan saja menjadi bahasa
persatuan kepulauan Nusantara, tetapi juga mengangkat derajatnya menjadi bahasa
ilmu pengetahuan, komunikasi, perdagangan dan sebagai bahasa yang digunakan
dalam penulisan resmi.
Termasuk penulisannya menggunakan huruf-huruf Arab tetapi
bahasa dan bunyinya Melayu. Huruf-huruf ini disebut huruf Arab-Melayu atau perso (Syed Muhammad
Naquib al-Attas,
Historical Fact and Fiction, hal. xvi). Di Indonesia huruf ini
kemudian dikenal dengan nama pegon
(pego).
Salah satu kontribusi nyata di Nusantara adalah
penggunaan bahasa Melayu, sehingga menjadi bahasa pemersatu Nusantara. Ia
menjadi lingua franca penduduk
Melayu-Indonesia, bahkan sampai kepada daerah Filipina dan Thailand.
Para pendakwah Islam sengaja memilih bahasa Melayu untuk
diislamkan. Banyak sekali istilah-istilah bahasa Melayu yang diambil dari
bahasa Arab. Misalnya, kata akal,
musyawarah, mukadimah, adil, adab, dan lain-lain.
Tulisan pegon
(pego) populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad
lamanya, sejak kedatangan Islam. Namun, sayang jenis tulisan ini tidak lagi
populer di Indonesia – hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Tapi di Malaysia
masih digunakan dalam tulisan-tulisan di ruang publik.
Pengislaman bahasa ini berlanjut kepada pengislaman
konsep-konsep kehidupan masyarakat Melayu-Nusantara. Sehingga sedari dulu,
bahasa Melayu identik dengan Islam. Para mubaligh Arab juga mengenalnya sebagai
salah satu bahasa dunia Islam waktu itu, bahkan tercatat sebagai bahasa Islam
nomor dua terbesar setelah bahasa Arab.
Pengaruh besar itu adalah bahwa ada informasi sejarah
yang jarang diketahui publik. Prof. Mansur Suryanegara berpendapat dalam
bukunya Api Sejarah
bahwa para ulama yang aktif dalam BPUPKI biasa menulis rapat dalam
tulisan pegon.
Oleh karena itu, satu satunya bangsa terjajah di asia
tengara promlamisnya menggunakan teks bahasa sendiri, bukan bahasa
penjajah adalah Indonesia.
Dengan kata lain, karena prestasi ulama dan santri bangsa
Indonesia memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia merupakan satu rumpun dengan
Melayu dan Bahasa Indonesia termasuk dari bahasa Melayu juga.
Sebagian peneliti mengatakan bahasa Indonesia dulu
merupakan bahasa Melayu. Pesantren-pesantren yang berdiri di Sumatera dan Jawa
menggunakan bahasa ini sebagai pengantar dalam belajar Islam. Tulisan yang
digunakan dimodifikasi antara bahaya lokal dengan Arab. Tulisan yang disebut pegon itu adalah bahasa
lokal tetapi huruf yang digunakan untuk menuliskannya adalah Arab. Prof. Naquib
al-Attas menyatakan para ulama dan santri berhasil mengangkat bahasa Melayu
menjadi bahasa persatuan di kepulauan Nusantara.
Karena itu ketika penjajah asing masuk Indonesia, maka
yang diangkat oleh para pejuang adalah Islam. Karena berabad-abad lamanya, bumi
budaya Indonesia dibentuk dan dibina oleh kebudayaan Islam. Pribumi telah
merasakan Islam sebagai identitas tepat untuk melawan penjajah.
Tatanan kebudayaan Islam dalam naungan kesultanan Islam
telah membentuk tatanan budaya, ekonomi dan politik yang stabil selama
berabad-abad.
Oleh: Umma Muhammad
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 15, 2017
Ramadhan menanti kita.....
posted by @Adimin
Sambut Bulan Suci Ramadhan Dengan Tarhib Ramadhan
Written By NeoBee on 15 May, 2017 | May 15, 2017
Ramadhan menanti kita.....
pkspadang.com : Jelang ramadhan yang akan menjemput kita dua pekan lagi. Untuk itu DPC DPC dilingkungan DPD PKS Padang mengadakan Tarhib Ramadhan. Tarhib ramadhan yang merupakan agenda rutin PKS ketika akan memasuki bulan suci ramadhan sangat membantu ummat Islam dalam persiapan ramadhan dan amalan amalan apa saja yang meskita dilakukan ummat, disamping persiapan persiapan apa saja yang harus dilakukan, mengingat segala sesuatu harus ada ilmunya.
DPC Kuranji melaksanakan Tarhib di masjid Ar Rahman Taratak paneh yang dihadiri sekitar 70 orang. Sementara DPC PAuh melaksanakan Tarhib Ramadhan di Musholla Darussalam dengan pematri Ust. Kamrizal Lc.
Semoga dengan adanya Tarhib Ramadhan ini akan semakin meningkatkan ilmu dan kualitas amalan kita ketika memasuki bulan suci ramadhan.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 08, 2017
posted by @Adimin
Akhir Zaman: Lebih Baik Kalah tapi Selamat
Written By NeoBee on 08 May, 2017 | May 08, 2017
Di
hari-hari yang penuh fitnah masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang
keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran.
Dari
Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassallam:
يَأْتِي
عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يُخَيَّرُ فِيهِ الرَّجُلُ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالْفُجُورِ
فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَلْيَخْتَرْ الْعَجْزَ عَلَى الْفُجُورِ
“Akan
datang pada kalian semua suatu zaman di mana seorang laki-laki akan dihadapkan
pada pilihan antara kondisi ketidakmampuan dan kemaksiatan di mana-mana.
Barangsiapa yang mendapatkan zaman tersebut maka hendaknya dia memilih sebagai
pihak yang tertekan daripada harus melakukan tindakan kemaksiatan. [HR. Ahmad, hadits no. 7686.
Al-Haitsami menyatakan hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya‘la dari
seorang syaikh yang sanadnya berakhir pada Abu Hurairah ra. Sedangkan para
perawinya adalah orang-orang yang terkenal tsiqah. [Majma‘ Az-Zawâ’id (7/287)].
Merujuk
kembali pada apa yang pernah dikatakan oleh Ahmad Thomson tentang jenis
masyarakat ketiga, yakni masyarakat jahiliyah yang jauh dari syari’at dan jauh
dari keselerasan alam semesta. Hidup dalam atmosfir peradaban Dajjal yang
sistemik telah membuat banyak orang berada pada posisi yang dilematis. Larut
dalam arus global kadangkala memang menjanjikan keuntungan duniawi yang besar,
namun bersamaan dengan itu larut pula identitas keimanan kita karena telah
melebur dalam kekufuran.
Ada
seorang kawan yang curhat paska PHK yang menimpa dirinya. Demi menyambung
hidupnya, ia memutuskan untuk menjual susu segar dengan membuka lapak / warung
tenda di pinggir jalan. Malam itu pembelinya adalah dua orang pemuda dan pemudi
yang hanya memesan segelas susu. Butuh satu jam lebih bagi keduanya untuk
menghabiskan susu itu, lantaran di sela-sela menikmati susu itu keduanya juga
sedang ‘menikmati’ dunia cinta mereka yang sedang merah jambu. Kawan penjual
susu ini tentu saja merasa resah, satu jam lebih ia dipaksa menonton adegan pacaran
konsumennya. Menjual susu segar tentu halal dan legal, namun bila setiap hari
harus dipaksa menikmati ‘tayangan life’ pasangan muda-mudi semacam itu, tentu
saja bisa mengancam keselamatan imannya.
Di
luar sana, masih ribuan contoh lain yang menggambarkan kondisi dilematis
seorang muslim saat harus berhadapan dengan system jahiliyah; suap, bohong,
manipulasi, riba, maksiat dan kejahatan lainnya, terutama yang berkaitan erat
dengan transaksi bisnis dan muamalah.
Hadits
di atas memberikan isyarat terkait merajalelanya kezhaliman dan kemaksiatan di
muka bumi dalam seluruh sendi kehidupan. Kondisi yang demikian itu
mengakibatkan seorang muslim dihadapkan pada pilihan sulit.
Namun
demikian, Rasulullah Shalallahu
’Alaihi Wassallam mengingatkan agar seorang mukmin memilih yang
lebih rendah, yaitu kondisi tertekan. Mungkin ia dianggap kalah secara dunia,
namun sejatinya ia telah memenangkan akhiratnya.
Nubuwat
di atas juga dikuatkan dengan hadits lain yang menggambarkan bukan hanya ujian
eksternal saja yang akan dihadapi oleh seorang mukmin. Namun ada juga ujian
internal dari dalam dirinya berupa sifat kikir dan mengikuti hawa nafsu. Inilah
kombinasi ujian yang membuat seorang mukmin yang tetap sabar berpegang pada
syariat seperti mereka yang menggenggam bara.
Dari
Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah
Al-Khusyani dan bertanya kepadanya,
“Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka
aku pun membaca ayat: “Hai
orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu
akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.
(Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah
menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna
ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda,
بَلْ
ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ
شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي
رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ
مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ
لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ
عَمَلِكُمْ
‘Teruskanlah
olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan
menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan
dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai
pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang
yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu
itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh
agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus
berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga
melakukan hal yang sama dari kalian’.[1] [ HR. Abu Dawud, Al-Malâhim,
hadits no. 4319]
Hadits
di atas menjelaskan bahwa di hari-hari yang penuh ekstra kesabaran (ayyamush shabr)
tersebut masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan
kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah yang hidup dalam keterasingan yang yang
dijanjikan keselamatan dan kemenangan. Mereka itu orang-orang yang akan
mendapatkan pahala yang amat besar dari Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan atas
keteguhan mereka dalam memegang agamanya.
Nubuwat
di atas memang bernada ancaman, namun di dalamnya juga mengandung bisyarah /
kabar gembira yang menakjubkan. Jika di masa itu Allah mengkaruniakan kita
kesabaran, maka itulah zaman dimana kita akan menuai kebajikan 50 kali lipat
generasi para sahabat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari beratnya ujian di akhir
zaman.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN









