Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
June 01, 2017
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ, رَدَّ اللهُ وَجْهَهُ
النَّارَ
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ
وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Ingatlah sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
posted by @Adimin
Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari
Written By @Adimin on 01 June, 2017 | June 01, 2017
Al-Qur'an ini tegas melarang tajassus alias mencari-cari
kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat besar
ALANGKAH banyak aib kita yang Allah Ta’ala
tutupi. Andaikan aib itu berupa bau busuk, niscaya kita tak akan sanggup
mencium aib kita sendiri. Sesiapa yang Allah Ta’ala telah tutupi aibnya saat
berbuat dosa, maka janganlah ia menceritakan menyebarluaskannya kepada orang
lain. Janganlah menjadi mujahirin.
Siapakah mujahirin itu? Orang yang melakukan perbuatan
dosa secara terang-terangan. Mereka inilah orang yang tidak mendapat ampunan
Allah Ta’ala. Termasuk mujahirin adalah orang yang melakukan perbuatan mungkar
secara diam-diam, Allah Ta’ala pun tutupi, tetapi ia kemudian menceritakan
kepada orang lain tanpa alasan yang haq.
Sangat banyak aib kita yang Allah Ta’ala tutupi. Maka
hendaklah kita berusaha menjaga diri agar tak membuka aib orang lain &
menyebarkannya.
Tidakkah kita ingin termasuk yang dijamin Nabi
shallaLlahu ‘alaihi wa sallam?
“Sesiapa mempertahankan kehormatan saudaranya yang akan
dicemarkan orang, maka Allah akan menolak api neraka dari mukanya pada hari
Kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad ini
menunjukkan betapa melindungi kehormatan seorang muslim akan menyelamatkan
seseorang dari api neraka. Kehormatan seorang muslim sama mulianya dengan
darahnya; tak boleh menetes sedikit pun tanpa alasan yang dibenarkan.
Jika menjaga kehormatan saudara seiman dan menutupi
aibnya merupakan kemuliaan, maka menyebarluaskan tanpa hak (ghibah) sangat
tercela. Menggunjing (ghibah) itu ibarat memakan bangkai saudaranya; pertanda
sangat busuk dan kejinya perbuatan yang kadang terasa mengasyikkan itu.
Ingatlah, wahai diriku yang bertumpuk kesalahan,
sesungguhnya setiap muslim itu mulia. Haram kita ciderai darahnya, kehormatan
dan hartanya. Sesungguhnya Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda:
“Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram,
yaitu darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR. Muslim).
Tidakkah kita perhatikan ini?
Tidak ada yang memudahkan kita untuk merusak kehormatan
sesama muslim kecuali karena lemahnya iman. Terlebih jika sudah ada buruk
sangka. Penyebab lain yang menggelincirkan kita merusak kehormatan saudara
seiman adalah besarnya kemaksiatan diri yang hendak ditutupi. Sesungguhnya
kemaksiatan yang beriring dengan kezaliman dan kejahatan itu membuat seseorang
cemas terhadap terbukanya aib.
Nurani yang bersih membuat kita merasa gelisah dan malu
apabila berbuat maksiat. Dan semakin bertambah kegelisahan itu jika
kemungkarannya besar. Kecemasan terhadap aib yang tak dapat ditutupi akan semakin
besar dan menakutkan pada orang yang terbiasa membuka aib orang lain, padahal
ia sedang memperbuat kemungkaran besar yang mengancam kehormatan diri serta
kedudukannya di tengah-tengah manusia. Jika kemaksiatan dan buruk sangka telah
mengakar pada diri seseorang, maka pintu keburukan berikutnya yang segera ia
masuki adalah tajassus.
Apakah tajassus itu? Mencari-cari kesalahan hingga
mencari kemungkinan yang tersulit sekalipun. Jika mendapati, ia besarkan
kesalahan itu. Semakin besar semangat untuk melakukan tajassus, semakin besar
pula kecenderungan membesar-besarkan kesalahan atau kekeliruan yang kecil. Apa
yang sebenarnya merupakan kekhilafan dalam urusan sederhana yang wajar terjadi
dan sepatutnya dimaafkan, ditampak-tampakkan sebagai kejahatan besar. Jika
tidak segera bertaubat dari keburukan ini, ia dapat terperosok kepada keburukan
yang lebih besar, yakni mengada-adakan kesalahan.
Apa bedanya? Mencari-cari kesalahan memang berusaha
sekuat tenaga menemukan keburukan seseorang, sedangkan mengada-adakan lebih
buruk lagi. Mengada-adakan kesalahan itu ia mengetahui betul bahwa tidak ada
kesalahan pada orang tersebut, tetapi ia menisbahkan kesalahan kepadanya;
mengesankan kepadanya bahwa ia berbuat kesalahan yang sangat besar. Ini semua
termasuk fitnah yang keji. Ghibah itu buruk. Tajassus itu sangat buruk. Dan
lebih buruk lagi adalah melakukan fitnah. Karena itu, kita perlu berhati-hati
terhadap buruk sangka agar tidak tergelincir kepada tajassus atau yang lebih
buruk lagi, yakni fitnah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang lain (tajassus) dan jangan pula menggunjingkan
satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan bangkai
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49 : 12).
Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an ini tegas melarang
tajassus alias mencari-cari kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat
besar. Buruknya tajassus, apalagi jika sampai mengada-adakan kesalahan, akan
lebih besar kerusakannya jika menimpa tokoh, sosok panutan dan penguasa. Maka,
ikhtiar agar tidak bermudah-mudah menjatukan kehormatan sesama muslim, kita
perlu memperbaiki iman, menjaga lisan dan menjaga diri.
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ
“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka
adalah dua lubang: mulut dan kemaluan.” (HR.
Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).
Semoga Allah Ta’ala melindungi kita, para tokoh serta
sosok panutan kita maupun para penguasa dari merusak kehormatan, tajassus dan
mengada-adakan kesalahan
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 31, 2017
posted by @Adimin
Ramadhan 2
Written By @Adimin on 31 May, 2017 | May 31, 2017
Oleh. Irsyad Syafar, Lc, MEd
الحمد لله ربّ العالمين
Segala puji hanya bagi Allah,
Tuhan semesta Alam. Dialah satu-satunya yang berhak dipuji. Karena Dialah
pemilik seluruh sifat-sifat kesempurnaan. Adapun makhlukNya, penuh dengan
kelemahan dan kekurangan.
Dialah Allah Yang Maha Kaya, dan
sebenar-benarnya kaya. Dia tidak butuh akan makhluknya. Secuilpun kekafiran
makhluknya takkan mengurangi kemulianNya. Sebanyak apapun ibadah dan ketaatan
hamba-hambaNya, takkan sedikitpun menambah kerajaanNya. Bahkan kekayaanNya
takkan pernah berkurang bila Dia membagi-bagikannya kepada semua makhlukNya.
Rasulullah bersabda dari hadits
Qudsi, bahwa Allah berfirman:
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . (رواه مسلم)
Artinya: "Wahai
hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan
kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat
kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu. Wahai hamba-hambaKu, seandainya
generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan
jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat
ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun.
Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari
kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan
seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu
takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun. Wahai hambaKu, seandainya generasi
pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin,
semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu,
lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi
apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke
dalam lautan..." (HR Muslim, dari Abu Hurairah)
Adapun manusia semuanya miskin.
Berapapun kekayaannya, maka dia butuh dan tergantung kepada orang lain. Dan
kekyaannya bisa hilang sekejap mata tanpa mampu dia menjaganya.
Karenanya, bila seorang muslim
berpuasa pada bulan ramadhan, shalat malam, berinfaq dsb, maka itu adalah untuk
kebaikan dirinya sendiri. Tidak menambah kekayaan Allah. Sebaliknya bila dia
engkar dan tidak mentaati Allah, maka dia sendiri yang akan merugi. Sama sekali
tak merugikan Allah SWT.
Segala puji hanya bagi Allah,
karena Dialah yang sebenar-benar mulia. Adapun manusia semuanya hina dan
rendah, kecuali bila dimuliakan oleh Allah. Bahkan bila seorang hamba engkar
dan kafir kepada Allah, maka dia lebih rendah dari binatang ternak. Allah
berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah
kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka
mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.
(QS Al A'raf: 179)
Dalam hadits Qudsi, Allah
menggambarkan kerendahan dan kehinaan manusia, bahwa mereka sesat, telanjang,
lapar, berbuat dosa siang dan malam, kecuali bila dimuliakan oleh Allah:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ... (رواه مسلم)
Artinya: "Wahai hamba-hambaKu, kalian semua sesat,
kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya
Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hambaKu, kalian semua lapar,
kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku
akan memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, kalian semua telanjang, kecuali
orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku akan
memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah di
siang dan di malam hari, sedangkan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka
minta ampunlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian..." (HR Muslim
dari Abu Hurairah).
Orang-orang beriman sangat wajib bersyukur memuji Allah
atas berbagai ibadah yang disyariatkanNya selama bulan Ramadhan. Sebab semua
ibadah tersebut akan mengangkat derjatnya menjadi mulia.
Disamping itu, Alhamdulillah adalah pujian universal.
Mencakup segala pujian dan penghormatan. Tidak dibatasi oleh sekat waktu dan
ruang. Pujian yang berlaku untuk masa lalu, masa sekarang ini dan masa yang
akan datang sampai akhir zaman. Alhamdulillah juga pujian yang mencakup seluruh
Nama-Nama Allah Yang Mulia dan Sifat-sifatNya Yang Agung serta pujian atas
nikmat-nikmaNya yang tidak terhingga.
Allah ta'alaa memuliakan dan memuji hamba-hamba yang
memujiNya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول : قال الله تعالى
: ( قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل ، فإذا قال العبد : الحمد لله رب العالمين ، قال الله تعالى : حمدني عبدي.... (رواه مسلم)
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah saw
telah bersabda, Allah telah berfirman: "Aku telah membagi dua Alfatihah
antara Aku dan HambaKu. Bila seorang hamba mengucapkan "alhamdulillahi
rabbil 'aalamin", maka Allah akan menjawab: "Aku dipuji oleh
hambaKu...". (HR Muslim).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa
"Alhamdulillah" merupakan salah satu wujud kesyukuran kepada Allah.
Yaitu syukur dalam bentuk lisan. Ada dua lagi bentuk kesyukuran yang
"wajib" dipenuhi seorang hamba kepada Allah SWT:
Pertama syukur hati, yaitu dalam bentuk iman dan
ketundukan kepada Allah, rasa khusyuk saat menyembahNya, rasa harap akan
karuniaNya dan rasa khawatir akan siksaNya.
Kedua, syukur anggota badan. Yaitu berupa amal shaleh
dengan seluruh anggota dan organ tubuh. Syukur mata dengan menggunakannya untuk
melihat kebaikan dan menjauhi dari melihat yang haram. Syukur telinga dalam
bentuk mendengar yang diredhaiNya dan menjauhi pendengaran yang dimurkaiNya.
Syukur mulut adalah memakan yang halal dan menjauhi yang haram. Syukur tangan
adalah menggerakkannya untuk kebaikan dan menjauhkannya dari menganiaya orang
lain. Syukur kaki adalah melangkah menuju ketaatan dan menghindari perbuatan
dosa, dan seterusnya.
Dengan cara itulah maka hati dan anggota tubuh telah melakukan "alhamdulillah".
Namun, bila lidah telah berucap alhamdulillah, akan tetapi hati belum tunduk
dan patuh kepadaNya, atau anggota tubuh masih melakukan maksiat dan dosa, tentu
alhamdulillahnya hanyalah palsu dan berpura-pura. Maha Agung Allah dari segala
kepalsuan dan kepura-puraan.
Mari kita hidangkan ibadah-ibadah yang "asli"
(tidak palsu dan pura-pura) kepada Allah selama ramadhan ini.
Wallahu A'laa wa A'lam.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 29, 2017
Ramadhan 1
(Oleh: Ustad Irsyad Syafar)
Dengan Nama Allah..
Kita awali hari-hari kita bersama Ramadhan. Semoga menjadi hari-hari terbaik kita seumur hidup.
posted by @Adimin
Ramadhan 1
Written By @Adimin on 29 May, 2017 | May 29, 2017
Ramadhan 1
(Oleh: Ustad Irsyad Syafar)
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah..
Kita awali hari-hari kita bersama Ramadhan. Semoga menjadi hari-hari terbaik kita seumur hidup.
Dengan Bismillah kita memulai
berbagai amal shaleh kita di bulan mulia ini. Sebab, Rasulullah saw
menganjurkan kita untuk mengawali setiap kebaikan dengan bismillah. Sebelum
makan, menjelang tidur, ketika memakai pakaian, hendak keluar rumah dan kembali masuk ke rumah, saat akan menyembelih
hewan qurban, ketika akan memulai thawaf di Ka'bah, dan lain-lain.
Dari ‘Umar bin [Abi] Salamah
Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam , dan di sisinya ada makanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيِمِيْنِكِ وَكُلْ مِمَّ يَليْكَ
Sebutlah nama Allah Ta’ala,
makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.
[Muttafaqun ‘alaih].
Pentingnya tasmiyah (membaca
bismillah) ini semakin jelas dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bagi orang yang lupa membacanya. Disebutkan dalam satu hadits dari
‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda, yang artinya: “Jika salah seorang
dari kalian akan makan, hendaklah menyebut nama Allah Ta’ala. Apabila lupa
menyebut nama Allah Ta’ala, hendaklah mengucapkan: ‘Bismillah awwalahu wa
akhirahu’.” [HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh Syaikh
al-Albâni].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ
Artinya: "Apabila salah
seorang masuk ke rumahnya dan mengingat Allah (berdzikir) ketika masuknya dan
ketika makan, maka setan berkata : “Tidak ada tempat istirahat dan makan malam
untuk kalian”. Dan apabila ia masuk dan tidak mengingat Allah ketika masuk,
maka setan berkata :”Kalian telah mendapatkan tempat istirahat dan makan
malam". (HR. Muslim)
Maka, dengan bismillah akan dapat
menyempurnakan keberkahan pada berbagai amal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ (وفي رواية بِذِكْرِاللّه) فَهُوَ أَ قْطَع (وفي رواية فَهُوَ أبتر)
Artinya: "Setiap perkara
penting yang tidak dimulai dengan bismillah (dalam riwayat lain : dengan
mengingat Allah) maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahannya".
(HR Ibnu Hibban, hadits hasan).
Mengawali Ramadhan ini dengan
nama Allah adalah merupakan upaya serius kita untuk menghadirkan niat yang
benar dan husnul bidayah. Sebab, "....setiap amalan itu tergantung dengan
niat. Dan seseorang hanya akan memperoleh apa yang di niatkannya". (Dari
HR Bukhari Muslim).
Awal yang baik dengan niat yang
baik, akan menjadi modal yang kuat untuk meraih akhir yang baik (husnul
khaatimah). Karena kemudian, setiap amalan akan tergantung dengan akhirnya.
Rasulullah saw bersabda:
عن سهل بن سعد رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن العبد ليعمل عمل أهل النار وإنه من أهل الجنة، ويعمل عمل أهل الجنة وإنه من أهل النار. الأعمال بالخواتيم.
Artinya: diriwayatkan dari Sahal
bin Sa'ad bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba
melakukan perbuatan penduduk neraka, tetapi dia penduduk sorga. Dan seseorang
melakukan perbuatan penduduk sorga, tetapi dia penduduk neraka. Sesungguhnya
amalan itu tergantung saat di akhirnya". (HR. Bukhari).
Memulai Ramadhan ini dengan Nama
Allah, berarti mengawalinya dengan Nama Allah yang paling agung dan mulia. Yang
bila Allah diminta dan diseru dengan nama tersebut, niscaya Dia akan
mengabulkannya.
Suatu hari Rasulullah saw
mendengar seorang lelaki berdoa kepada Allah dengan lafadz berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنِّى أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: "Ya Allah, aku
memohon kepada-Mu karena aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada
tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, yang menjadi tempat
bergantung semua makhluk-Nya, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada
seorangpun yang sepadan dengan-Nya".
Mendengar doa teraebut, Beliau bersabda menyebutkan keutamaannya:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
Artinya: "Demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang ini telah meminta kepada Allah
dengan ismullah al-a’dzam (nama Allah yang paling agung), dimana, ketika
seseorang berdoa dengan menyebut nama itu, maka doanya akan diijabahi. Daan apabila
dia meminta kepada Allah dengan menyebut nama itu, maka dia akan diberi".
(HR. Ahmad 23654, Abu Daud 1495,
Turmudzi 3812, dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).
Sesungguhnya, memulai ramadhan
ini, dengan niat yang baik, menyebut Nama Allah yang paling agung, menyandarkan
harapan pahala dariNya semata, merupakan sebuah modal untuk maksimalnya kita
beribadah selama Ramadhan nanti.
Mari, Bismillah....
Wallahu A'laa wa A'lam.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 22, 2017
posted by @Adimin
DPC Pauh Selenggarakan Pawai Sambut Ramadhan
Written By NeoBee on 22 May, 2017 | May 22, 2017
pkspadang.com : Ramadhan datang menjelang, bulan penuh ampunan bulan penuh berkah akan memasuki hari hari ummat Islam kedepan. Untuk menyambut kedatangan bulan yang senantiasa dinanti nantikan kaum Muslimin seluruh dunia, maka DPC Pauh menyelenggarakan pawai sambut ramadhan.
Meskipun cuaca kurang bersahabat dengan turunnya hujan rintik-rintik, pawai tetap berlangsung dengan meriah. Pawai sambut ramadhan dikuti pengurus DPC Pauh, kader dan simpatisan, ibu-ibu, remaja, bapak-bapak, ibu ibu, dengan semangat dan wajah wajah optimis dan penuh harap akan datangnya ramadhan. karena memang tidak semua ummat Islam diberi kesempatan untuk mendapatkan bulan Ramadhan.
Pawai dilanjutkan dengan pembagian pamflet Imsakiyah 1438 H untuk kader simpatisan dan masyarakat sekitar. Rafdi sebagai pemegang amanah Ketua DPC Pauh menyampaikan terimakasih sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu acara pawai sambut Ramadhan 1438 H.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN





