pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Ilmu Didatangi Bukan Mendatangi

Written By NeO on 12 July, 2017 | July 12, 2017


Ilmu Didatangi Bukan Mendatangi

Semoga kita bersemangat terus mendatangi majelis ilmu di dunia nyata tidak hanya mencukupkan diri total dengan ilmu yang didapatkan di dunia maya atau internet



Sumber: https://muslim.or.id/30719-ilmu-didatangi-bukan-mendatangi.html


Ilmu Didatangi Bukan Mendatangi

Semoga kita bersemangat terus mendatangi majelis ilmu di dunia nyata tidak hanya mencukupkan diri total dengan ilmu yang didapatkan di dunia maya atau internet

 



Istimewanya Ilmu Agama

Ilmu agama memang istimewa dan agak berbeda dengan ilmu dunia pada umumnya. Ilmu agama berkaitan erat dengan berkahnya ilmu. Maksud berkahnya ilmu adalah bagaimana ilmu tersebut bisa bermanfaat dan menjaga orang yang berilmu tersebut. Mungkin untuk ilmu dunia, seseorang bisa jadi berilmu misalnya menguasai dan pintar ilmu kedokteran, tetapi bisa jadi ilmu tersebut malah membuatnya sombong dan angkuh. Ilmu agama berbeda, ilmu agama tidak akan berlama-lama pada dada dan ingatan seseorang, jika orang yang memegang ilmu agama tersebut tidak menjalankan dan mengamalkannya. Misalnya ia sombong dan berniat jelek ketika menuntut ilmu agama, maka ilmu agama itu tidak akan bertahan lama, ia akan hilang dan tidak akan betah pada orang tersebut.
Al-Ghazali mengatakan,
طلبنا العلم لغير الله فأبى أن يكون إلا لله
“Dahulu kami menuntut ilmu dengan niat selain Allah, tetapi ilmu tersebut enggan (pada kami) kecuali kami berniat hanya karena Allah.” (Thabaqat Asy-Syafi’iyah 6/194, Darun Nasry)

Perhatikan Adab Dalam Menuntut Ilmu

Salah satu cara agar ilmu agama tetap bertahan dan berkah adalah dengan memperhatikan adab menuntut ilmu agama. Adab sangat penting dalam menuntut ilmu agama, permisalannya seperti ini:

Jika ada orang ingin minta bantuan misalnya minta makanan kepada kita, tapi adabnya ketika meminta tidak sopan, semisal kasar meminta bahkan membentak, apakah kita akan memberi? tentu tidak

Demikian juga dengan ilmu agama, bagaimana kita bisa mendapatkan ilmu dan keberkahannya jika cara dan adab menuntut ilmu tidak kita tunaikan.


Adab Penuntut Ilmu Adalah Mendatangi Sumber Ilmu

Adab menuntut ilmu di zaman ini yang mungkin mulai hilang adalah mendatangi sumber ilmu yaitu mendatangi majelis ilmu. Tidak heran, karena di zaman ini dengan kemajuan teknologi, internet dan sosial media, manusia sangat mudah mendapatkan ilmu. Ada broadcast harian ilmu agama yang datang tiap hari kepada kita. Ada pelajaran jarak jauh via sosmed dan video-video kajian via youtube yang sangat banyak. Kita bersyukur ada media-media ini karena sangat bermanfaat bagi mereka yang jauh tempat tinggalnya dari majelis ilmu atau di daerahnya sangat sulit mendapatkan majelis ilmu, akan tetapi bagi mereka yang mudah mendapatkan majelis ilmu atau rumahnya dekat dengan majelis ilmu, sebaiknya lebih banyak menuntut ilmu di majelis ilmu dibandingkan melalui internet dan sosial media. Ilmu itu kita datangi ke majelis ilmu, bukan ilmu yang mendatangi kita melalui pesan broadcast, sharing di grop-grop sosial media.
Ulama dahulu menjelaskan,

ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺆﺗﻰ ﻭ ﻻ ﻳﺄﺗﻲ

“Ilmu (agama) itu didatangi bukan ilmu yang mendatangi”
Semoga kita bersemangat terus mendatangi majelis ilmu di dunia nyata tidak hanya mencukupkan diri total dengan ilmu yang didapatkan di dunia maya atau internet.

6 Adab Yang Harus Dihindari Seorang Penuntut Ilmu

Ada banyak adab menuntut ilmu lainnya, hendaknya kita benar-benar memperhatikan. Berikut contoh praktik menuntut ilmu dengan adab yang kurang baik:
  1. Terlambat datang dan tidak minta izin dahulu, tetapi kalau gurunya terlambat langsung ditelpon atau SMS: “ustadz kajiannya jadi tidak?”
  2. Kalau tidak datang, tidak izin dahulu (untuk kajian yang khusus) dan kajian datang semaunya
  3. Duduk selalu paling belakang dan sambil menyandar (tanpa udzur)
  4. Ketika kajian terlalu banyak memainkan HP dan gadget tanpa ada keperluan
  5. Terlalu banyak bercanda atau ribut dalam majelis Ilmu
  6. Terlalu Fokus ke Ilmu saja tanpa memperhatikan adab, niatnya hanya ingin memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat serta lupa memperhatikan dan mencontoh adab dan akhlak gurunya.
Contoh adab dalam menuntut ilmu adalah tenang dan fokus ketika di majelis ilmu. Ahmad bin Sinan menjelaskan mengenai majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau berkata,

ﻛﺎﻥ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻣﻬﺪﻱ يتحدث في ﻣﺠﻠﺴﻪ، ﻭﻻ ﻳﻘﻮﻡ ﺃﺣﺪ ﻭﻻ ﻳﺒﺮﻯ ﻓﻴﻪ ﻗﻠﻢ، ﻭﻻ ﻳﺘﺒﺴﻢ ﺃﺣﺪ

“Tidak ada seorangpun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun yang mengasah/ meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum.”( Siyaru A’lamin Nubala’ 17/116)

Demikian semoga bermanfaat


By dr. Raehanul Bahraen 

posted by @Adimin

Ketua Fraksi PKS: Pemerintah Seharusnya Apresiasi Rohis Bukan Curigai

Written By NeO on 11 July, 2017 | July 11, 2017


Jakarta (10/7) -- Banyak pihak menyayangkan pernyataan Menteri Agama, Lukman Hakim Saefudin, yang meminta pihak sekolah untuk mengawasi Kerohanian Islam (rohis) di sekolah-sekolah. Pernyataan itu dinilai tidak arif, karena seharusnya pemerintah justru mengapresiasi rohis atas kiprahnya selama ini. 
Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menilai pernyataan itu (jika benar) tidak arif dan tidak mendidik khususnya bagi para aktivis rohis.

"Mudah-mudahan pernyataan Pak Lukman tentang rohis salah atau sekurang-kurang hanya kesalahpahaman saja. Tapi kalaupun benar mudah-mudahan segera diralat," kata Jazuli di Jakarta pada Ahad (9/7/2017). 

Pemerintah dan semua pihak, kata Jazuli, seharusnya justru berterima kasih dan  mendukung hadirnya rohis dengan berbagai aktivitas dan perannya yang sangat positif selama ini.

"Manfaat rohis itu nyata dalam membantu proses pendidikan akhlak di sekolah, bahkan aktivitasnya nyata dalam mencegah dekadensi moral dan budaya liberal di kalangan pelajar atau remaja. Saya tanya, mana ada aktivis rohis yang pakai narkoba, tawuran, seks bebas, atau pornografi?" tanya Jazuli serius. 

Sebaliknya, lanjut Anggota Komisi I ini, program-program rohis justru kerap menjadi solusi atas permasalahan di atas dan faktanya sekolah mengandalkan rohis untuk mengatasi masalah-masalah aktual pelajar itu. 

"Coba tunjukkan kerusakan apa yang ditimbulkan oleh aktivitas rohis? Justru manfaat besar yang kita petik. Maka, pemerintah perlu mengapresiasi rohis dengan mengokohkan perannya dan mensupport aktivitasnya, bukan sebaliknya," tegas Jazuli. 

Kalaupun ada hal-hal yang dinilai masih kurang, menjadi tugas pemerintah dan sekolah untuk melakukan pembinaan melalui pendekatan yang asertif dan apresiatif, bukan pendekatan yang justru mendeskriditkan atau terkesan menyalahkan. 

"Apalagi kalau masalahnya bersifat kasuistis lalu digenaralisasi. Ini tidak baik dan tidak mendidik bagi anak-anak kita khususnya yang menjadi aktivis rohis. Sikap yang tepat adalah mengapresiasi dan membesarkan hati mereka sehingga memotivasi untuk terus berkontribusi bagi kebaikan," katanya. 

Untuk itu, Ketua Fraksi PKS ini mengajak semua pihak untuk mendukung kegiatan rohis, "Mari kita berterima kasih dan terus mensupport anak-anak (rohis) ini, yang secara langsung dan tidak langsung, membantu mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat Pasal 31 UUD 1945 dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa," pungkas Jazuli


posted by @Adimin

Ramadhan 12 (HANYA KEPADAMU KAMI MINTA TOLONG)

Written By NeO on 10 July, 2017 | July 10, 2017


HANYA KEPADAMU KAMI MINTA TOLONG
(وإياك نستعين)

Oleh Irsyad Syafar Lc., MEd
Ada hakekat yang harus kita imani dan yakini dengan baik, yaitu kita adalah makhluk yang lemah. Kesadaran inilah yang akan membuat kita selalu minta tolong dan bergantung kepada Yang Maha Kuat, yaitunya Allah ta'alaa.

Ketika manusia lupa bahwa dia lemah, ketika itulah dia mulai tersesat. Ketika manusia merasa bisa dan mampu sendiri, maka ketika itu pula dia merasa tidak perlu dan tidak butuh kepada Allah.

Iblis tersesat dan terkutuk serta diusir dari sorga karena merasa paling baik. Ia membangkang terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Perasaan hebatnya telah membuatnya angkuh. Akibatnya, ia dan pengikutnya menjadi penduduk abadi di dalam neraka. Allah berfirman:

قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا ۖ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ.
Artinya: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya". (QS Al A'raf: 18).

Anak Nabi Nuh mati tenggelam dalam banjir besar karena merasa mampu menyelamatkan diri sendiri. Ia enggan menerima tawaran pertolongan dari sang Ayah yang Nabi. Ia menolak untuk beriman kepada Allah. Akibatnya berakhir dengan tragis:

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِين. قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ.
Artinya: ".... Dan Nuh memanggil anaknya (yaitu Kan`an) sedangkan anaknya itu berada di tempat yang jauh) dari bahtera ("Hai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.

Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (QS Hud: 42-43).

Qarun telah merasa hebat dengan ilmu dan seluruh kekayaannya yang tak terkira. Akibatnya ia menjadi angkuh dan sombong, merasa bisa melakukan apa saja dengan ilmu dan kekayaannya. Padahal telah banyak orang-orang yang lebih kuat sebelumnya, dibinasakan oleh Allah. Allah ta'alaa berfirman:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ.
Artinya: Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya memperoleh harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." (QS Al Qashash: 78).

Setelah itu Allah binasakan dia dengan seluruh hartanya, tanpa mampu dia dan orang lain untuk membela dirinya:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ.
Artinya: "Maka Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada lagi baginya suatu golongan pun yang mampu menolongnya (terhadap azab Allah) selain Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya (dari azab Allah)". (QS Al Qashash: 81).

Begitu pula tragisnya nasib Firaun yang telah merasa kuat, bahkan mengklaim diri sebagai Tuhan. Ia pun tewas tenggelam di laut merah bersama pasukannya. Juga raja Abrahah dengan pasukan bergajahnya. Merasa sangat kuat dan ingin berbuat sekehendaknya. Sampai "rumah Allah" hendak dia runtuhkan dan dia tukar dengan tempat peribadatan baru di kampungnya. Hanya dengan sangat sederhana, dengan batu-batu kecil yang dibawa burung ababil, dia dan pasukannya pun musnah tak bersisa.

تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ.
Artinya: "(burung itu) Yang melempar mereka dengan batu berasal dari tanah yang terbakar. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (QS Al Fiil: 4-5).

Sebaliknya, disaat seorang hamba dalam puncak kelemahan dan ketidakberdayaannya, lalu berserah diri dan meminta tolong kepada Allah, maka dia bisa berubah menjadi kuat, selamat dan bangkit karena pertolongan dari Allah ta'laa.

Nabi Adam bersama istrinya Hawwa, mengalami kesengsaraan yang tiada tara. Yaitu saat dilempar dari sorga yang penuh nikmat dan fasilitas, ke dunia yang penuh kesulitan, perjuangan dan duka cita. Namun keduanya berserah diri kepada Allah. Sehingga Allah menjaga dan menguatkan keduanya dalam kehidupan berat di dunia. Sebagaimana Allah firmankan dalam QS Al A'raf: 23-25:

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. 23
Artinya: Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".

قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ .24
Artinya: Allah berkata, "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan".

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ. 25
Artinya: Allah berfirman, "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan".

Begitu juga Nabi Yunus yang sudah ditelan oleh ikan besar. Secara logika manusia dia sudah tewas. Tak ada yang bisa menyelamatkannya. Sampai hari kiamat dia akan berada dalam perut ikan tersebut. Namun, karena dia meminta pertolongan kepada Allah, maka selamatlah dia sampai kembali ke daratan.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ.
Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (yaitu Nabi Yunus bin Matta) ketika ia pergi dalam keadaan marah terhadap kaumnya (sedangkan Nabi Yunus belum mendapat izin dari Allah untuk pergi) lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mampu untuk menghukumnya. Maka ia menyeru dalam tempat yang gelap gulita (gelapnya suasana dalam perut ikan paus) "bahwa bahwasanya tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".

Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS Al Anbiya: 87-88).

Begitu juga Nabi Ayyub as, yang Allah selamatkan dengan pertolonganNya dari musibah berat yang menimpanya dan seluruh istri, anak-anak dan hartanya. Bahkan juga dari penyakit berat yang menimpanya. Pertolongan itu datang karena Nabi Ayyub menyerahkan diri kepada Allah SWT.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)
Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya,"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS Al Anbiya: 83-84).

Dan Nabi Ibrahim as yang menghadapi raja yang bengis yang mengklaim diri sebagai Tuhan. Tubuhnya sudah terikat dan terkurung dalam kayu bakar yang sangat besar. Api besar akan segera melahap sekujur tubuhnya. Namun Nabi Ibrahim menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Hanya Dia yang mampu dan berkuasa menolongnya. Api yang sangat besar itupun berubah menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim.

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68) قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69) وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ (70)
Artinya: Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman, "Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim, "mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi." (QS Al Anbiya: 68-70).

Begitulah, dua situasi yang sangat kontradiktif. Di saat manusia merasa kuat dan mampu, serta tak meminta tolong kepada Allah, justru saat itulah dia menjadi sangat lemah. Sebaliknya, ketika manusia berada dalam posisi paling lemah dan tak berdaya, tapi meminta tolong dan berserah diri kepada Allah, justru ketika itulah dia menjadi kuat dan selamat.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)
Artinya: ".... Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS Ath Thalaq: 2-3).

posted by @Adimin

Ramadhan 11 (15 IBADAH) Oleh Irsyad Syafar Lc., MEd

Written By Sjam Deddy on 21 June, 2017 | June 21, 2017


Ramadhan 11
15 IBADAH
(إياك نعبد)

Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
 
Dalam menyembah Allah kita menggunakan 3 perangkat utama, yaitu: hati, lisan dan anggota badan. Sementara itu, hukum fiqh dalam Islam ada 5, yaitu: Wajib, sunat, mubah, makruh dan haram.

Maka, ada 15 macam ibadah yang kita lakukan. Ibnul Qayyim menyatakan: "Pusaran ibadah itu ada 15 kaedah. Barang siapa yang menyempurnakannya, maka sempurnalah level ibadahnya.

Ibadah yang 15 itu adalah hasil pengalian dari 3 perangkat ibadah dengan 5 hukum fiqh untuk masing-masingnya. Jadilah totalnya 15 macam.

Maka hati kita, ia punya ibadah wajib kepada Allah, ibadah haram, yang sunat, yang makruh dan yang mubah.

Ibadah wajib dan sunat bagi hati dengan mengamalkannya. Sedangkan ibadah haram dan makruh bagi hati dengan meninggalkannya.

Ibadah wajib bagi hati adalah semua yang wajib dikerjakan oleh hati, karena tempatnya di hati. contohnya: ikhlas, tawakkal, mencintai Allah, takut dan harap kepadaNya.

Semua ibadah tersebut dikatakan wajib karena memang ada perintah Allah untuk itu:

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ.
Artinya: Berkata Musa, "Hai kaumku! Jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja jika kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri." (QS Yunus: 84).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ...
Artinya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama...". (QS Albayyinah: 5)

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ....
Artinya: "....karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS Ali Imran: 175).

Dan banyak lagi dalil-dalil yang memerintahkan amalan atau ibadah hati. Adapun yang haram bagi hati adalah antara lain: kafir, syirik, sombong, riya, ujub, hasad, nifaq, putus asa, senang dengan kesusahan kaum muslimin dan lain-lain. Bila hati kita menghindari dan bersih dari semua itu, maka hatinya telah beribadah kepada Allah.

Dan hati takkan pernah baik kecuali menjauhinya serta bertaubat segera bila hati terkena salah satu dari perbuatan tersebut.


Sebagian dari dosa-dosa hati ini bisa lebih besar dari pada dosa zina atau minum tuak, yaitu seperti dosa kafir, syirik dan nifaq. Sebagian lagi bisa menghabiskan pahala ibadah seperti hasad dan sombong.

Diantara yang wajib dan yang haram inilah beredar ibadah sunat, makruh dan mubah bagi hati. Seperti bahagia dengan kebaikan, bergembira di hari raya, bersedih saat musibah (tanpa meratap), senang dengan hal-hal yang halal dalam pakaian, makanan dan lain-lain.

Begitu juga dengan lisan, ia juga punya ibadah wajib, sunat, mubah, makruh dan haram. 

Ibadah wajib lisan antara lain adalah: mengucapkan dua kalimat syahadat, membaca bacaan rukun dalam shalat, baik saat berdiri, rukuk, sujud dan duduk, menjawab salam, amar makruf dan nahi munkar, bersaksi secara benar dan adil, dan lain-lain.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا...
Artinya: "... dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia..." (QS Albaqarah: 83).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ...
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil...." (QS Almaidah: 8).

Adapun yang haram bagi lidah adalah: mengucapkan kalimat kufur/murtad, kalimat-kalimat kotor dan porno, menuduh orang lain berbuat dosa besar, menfitnah dan mengadu domba, berbohong, dan lain-lain yang mendatangkan murka Allah dan RasulNya.

Rasulullah saw bersabda:

وإن العبد ليتكلم بالكلمة -من سَخَط الله- لا يُلْقِي لها بالاً، يهوي بها في جهنم.
Artinya: "Seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang dimurkai Allah, dia bisa dilemparkan ke jurang neraka selama 70 tahun". (HR Bukhari dan Muslim).

فعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ؟ ) ، قلنا : بلى يا رسول الله ، قال : ( الإشراك بالله ، وعقوق الوالدين ) ، وكان متكئاً فجلس فقال : ( ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ، ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ) ، فما زال يقولها حتى قلت لا يسكت " رواه البخاري ( 5631 ) ، ومسلم ( 87 ) .
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Bakrah, bhw Rasulullah bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan dosa besar yang paling besar?". Para sahabat menjawab, "Iya wahai Rasulullah. Beliau berkata: "Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua...". Waktu itu beliau berbaring, maka lalu Beliau duduk dan berkata: "Ketahuilah yaitunya perkataan bohong, dan kesaksian palsu.... kesaksian palsu... (Beliau ulang2). (HR Bukhari dan Muslim).

Diantara yang wajib dan yang haram inilah, ibadah2 sunat, makruh dan mubah bagi lisan. Contoh: tilawah Alquran, berdzikir, mengulang2 ilmu, terlalu banyak bicara, dan lain-lain.

Kemudian ibadah anggota badan, yang meliputi mata, telinga, hidung, tangan, kaki, kulit, dan lain-lain. Masing-masing dari anggota badan itu ada kewajiban kepada Allah, ada yang terlarang, dan ada yang diantara keduanya pada tingkatan sunat dan makruh serta mubah.

Mata wajib melihat mushaf, ayat-ayat Allah, membedakan antara yang halal dengan haram dan sebagainya. Mata haram melihat aurat orang lain, baik laki-laki maupun perempuan, melihat ke lawan jenis dengan syahwat, melihat tulisan orang lain tanpa izin, dan lain-lain.

Telinga wajib mendengar ayat-ayat Allah, mendengar khutbah, adzan, bacaan imam dalam shalat, seruan dakwah dan lain-lain. Sebaliknya telinga haram mendengar kata-kata kotor, nyanyian maksiat, obrolan kekafiran dan lain-lain.

Adapun tangan, wajib baginya menyentuh suami atau istri, menyambut salam, menghentikan kemungkaran yang dibawah tanggung-jawabnya dan lain-lain. Sebaliknya haram baginya menganiaya orang lain, menyentuh yang bukan mahramnya, mencuri, mengisyaratkan kekafiran atau kesyirikan.

Sedangkan kaki, wajib baginya melangkah menuju masjid, menuju shalat jumat, thawaf dan sa'i, menegakkan hukum Allah dan lain-lain. Sebaliknya, haram baginya melangkah ke tempat maksiat dan dosa, menyakiti orang lain, berdiri untuk menyembah berhala dan lain sebagainya.

Begitulah, seluruh diri kita, mulai dari hati, lisan dan sampai ke seluruh anggota tubuh, ikut serta semuanya dalam beribadah kepada Allah.

Wallahu A'laa wa A'lam.

posted by @Adimin

Ramadhan 10 (IBADAH YANG PALING UTAMA) Oleh Irsyad Syafar, Lc., MEd

Ramadhan 10
IBADAH YANG PALING UTAMA
(إياك نعبد)
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
 
Kita tentunya ingin semaksimal mungkin beribadah kepada Allah. Akan tetapi kita juga punya keterbatasan. Baik dari segi waktu, tenaga, kemampuan dan sebagainya. Takkan mampu kita untuk mengambil semua ibadah.

Pilihan kita kemudian tentunya mencari dan mengerjakan ibadah-ibadah yang utama saja. Para sahabat Rasul yang mulia pun mereka sering bertanya tentang mana ibadah yang paling utama, diantaranya:

• عن أبي هريرة قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أفضل؟ قال: ((إيمانٌ بالله))، قال: ثم ماذا؟ قال: ((الجهاد في سبيل الله))، قال: ثم ماذا؟ قال: ((حج مبرورٌ)).
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah ditanya tentang amalan yang paling utama? Beliau menjawab, "Iman kepada Allah". Orang itu bertanya lagi, "Lalu apa?". Rasulullah menjawab, "Berjihad di jalan Allah". Orang itu bertanya lagi, "Lalu apa lagi?". Rasulullah menjawab, "Haji yang mabrur". (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits tentang pertanyaan seperti ini lebih dari satu. Menunjukkan bahwa para sahabat juga berambisi mencari ibadah-ibadah terbaik.

Dalam menentukan ibadah atau amalan terbaik, ada 4 macam pendapat atau pendekatan yang menjadi acuan.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah ibadah yang paling berat di hati. Alasannya, ibadah seperti itu sangat jauh dari hawa nafsu. Dan itulah hakekat utama dari penghambaan diri. 

Pendapat pertama ini berdasarkan kepada sebuah kaedah yang bukan hadits: الإجر على قدر المشقة "Pahala sesuai tingkat kesulitan". Kaedah ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, kesulitan bukanlah tujuan dari syariat Islam.

Namun bisa juga kita contohkan dalam kehidupan yang sederhana. Misalnya orang miskin yang berinfaq bisa lebih banyak pahalanya dari orang kaya yang berinfaq. Orang yang ke masjid berjalan kaki bisa lebih banyak pahalanya dari pada yang berkendaraan.

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa acuan ibadah yang paling utama adalah totalitas, zuhud dari dunia dan menguranginya semaksimal mungkin.

Pendapat ini berlandaskan kepada dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan Akhirat terhadap dunia. Allah ta'alaa berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ.
Artinya: "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS Al a'laa: 17)

Dalam ayat lain:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Artinya: "Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)." (QS Adh Dhuha: 4).

Dengan dalil-dalil di atas maka ibadah dan amalan akhirat menjadi paling utama dibandingkan dengan amalan dunia. Sehingga, hati hanya terpaut dengan akhirat. Sebagian malah menganggap bahwa zuhud terhadap dunia lebih utama dari menuntut ilmu dan ibadah lainnya. Namun pendapat kedua ini belum sepenuhnya tepat.

Pendapat ketiga, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah yang paling luas manfaatnya atau paling banyak faedahnya. Tidak sekedar dinikmati oleh pelakunya saja, akan tetapi menyentuh banyak orang. 

Maka mengayomi faqir miskin, mendidik dan mengajarkan ilmu kepada banyak orang, membuatkan jalan dan kubutuhan serta kepentingan umum, adalah ibadah yang paling utama.

Pendapat ini berlandaskan kepada beberapa dalil yang mengisyaratkan makna tersebut. Diantaranya dari sabda Rasulullah saw:

عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله على مسلم أو تكشف عنه كربة أو تقضي عنه دينا أو تطرد عنه جوعا. ولأن أمشي مع أخي المسلم في حاجة أحب إلى من أن أعتكف فى هذا المسجد شهرا. ومن كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رضا يوم القيامة. ومن مشى مع أخيه المسلم فى حاجة حتى تتهيأ له أثبت الله قدمه يوم تزل الأقدام. وإن سوء الخلق ليفسد العمل كما يفسد الخل العسل). أخرجه ابن أبى الدنيا فى كتاب قضاء الحوائج (ص 47، رقم 36) وحسنه الألباني).
Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwa Raaulullah bersabda: "Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amalan yang paling utama adalah kebahagian yang anda masukan ke dalam hati muslim lain, atau anda tuntaskan kesulitannya, atau anda bayarkan hutangnya, atau anda hilangkan laparnya. Aku lebih suka berjalan mengantarkan saudaraku muslim menuju kebutuhannya dari pada aku beri'tikaf di masjid ini (masjid nabawi) selama sebulan. Barang siapa yang menahan kemarahannya niscaya Allah akan menutupi auratnya. Dan barang siapa yang menekan emosinya padahal dia sanggup untuk melampiaskannya, niscaya Allah akan penuhkan hatinya dengan keredhaan pada hari kiamat. Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya muslim menuju kebutuhannya sampai selesai, niscaya Allah akan kokohkan kakinya pada hari tergelincirnya banyak kaki (hari kiamat). Dan seaungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amalan sebagaimana cuka bisa merusak madu." (HR Ibnu Abi Ad Dunya, dihasankan Albany).

Hadits di atas menyebutkan secara jelas pujian Allah dan pahala yang besar untuk amalan yang memberi manfaat luas bagi orang lain. Bahkan bisa mengalahkan pahala iktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.

Masih banyak lagi dalil lain yang menyebutkan keutamaan orang alim dari pada ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap bintang-bintang, keutamaan menunjuki orang lain ke jalan yang benar, keutamaan berdakwah dan lain-lain. Intinya ibadah-ibadah tersebut mempunyai manfaat yang lebih luas.

Pendapat keempat, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah ibadah yang paling Allah redhai sesuai tuntutan waktu dan momen seketika itu.

Misalnya, disaat datang seruan adzan, maka ibadah yang paling utama adalah menyambut seruan itu dan bersegera ke masjid, tinggalkan segala urusan yanh lain. Di saat ada orang miskin yang meminta pertolongan dan bantuan, maka ibadah yang paling utama saat itu adalah menolong orang tersebut. Di saat kedatangan tamu, maka ibadah yang paling afdal adalah menghormati tamu, bukan shalat sunat. Dikala sepertiga malam terakhir ibadah yang paling utama adalah bermunajat, bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Ketika datang seruan jihad yang sangat mendesak maka ibadah terbaik adalah berangkat berjuang ke medan jihad. Di saat wukuf di arafah maka ibadah terbaik adalah bersungguh-sungguh dengan doa dan dzikir.

Begitulah seterusnya, standar ke empat ini betul-betul betul-betul mengacu kepada keredhaan dan pilihan Allah yang menjadi acuan. Bukan pilihan-pilihan hamba.

Pada ramadhan yang mulia ini, tentunya ibadah yang paling utama adalah shiyam di siang harinya dan qiyam di malam harinya. Dan bila 10 hari terakhir ramadhan telah datang, maka iktikaf di masjid menjadi ibadah yang paling utama dan mulia.

Imam Ibnul Qayyim menyatakan, "Ibadah kriteria ke empat inilah yang ibadah mutlak. Sedangkan yang sebelumnya masih terkait dengan yang lain."
Dan hamba yang mengamalkan ibadah dengan acuan yang ke empat ini, "dialah yang sebenarnya hamba. Yang beramal tidak berdasarkan kehendak pribadinya, atau kesenangan dirinya, melainkan sesuai kehendak Rabbnya walaupun bertentangan dengan keinginannya".

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger