Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
October 22, 2012
PKS Padang Gelar BAKSOS
Written By @Adimin on 22 October, 2012 | October 22, 2012
Bersih, peduli dan profesional adalah jargon Partai Kedilan sejahtera yang bukan hanya sekedar jargon tanpa bukti.
PKS selalu memberikan kepedulian kepada masyarakat karena partai ini adalah partai dakwah. Untuk itu PKS Padang melalui bidang
sosialnya menggelar acara peduli kesehatan masyarakat, Minggu 21 Oktover 2012. Pelayanan yang di berikan berupa pengobatan gratis dan penyuluhan hidup sehat.
Pada kesempatan ini PKS padang dan tim kesehatan terjun ke kelurahan Gates
kecamatan Lubuk Begalung padang. Sebanyak 10 orang tenaga medis yang terdiri
dari dokter dan apoteker di libatkan.
Ketua bidang sosial PKS padang Pun Ardi, S.Ag mengatakan “kegiatan yang di angkat ini sudah jauh-jauh
hari di rencanakan, Alhamdulillah atas izin ALLAH swt sekarang baru bisa kita
wujudkan. Kedepannya baksos ini akan terus kita lakukan ke kelurahan-kelurahan
yang ada di kota padang. Beliau juga berterima kasih karena kegiatan ini bisa
terangkatkan berkat kerjasama DPC dan DPRa PKS.”. Ketua DPC Lubeg Ust. Yudhi Saputra, ST juga bersemangat menyambut kegiatan baksos ini, terbukti beliau juga terjun langsung dalam melayani masyarakat Gates.
BAKSOS ini di mulai dari pagi hingga siang hari dan di sambut baik oleh
warga mulai dari orang tua, anak-anak dan para lanjut usia. Ini di lihat dari
warga yang datang di balai pemuda kelurahan gates. Umumnya warga yang datang dalam pengobatan
gratis ini beragam mulai dari yang batuk, luka ringan, mengecek tensi serta
gula darah.
Kelurahan gates merupakan sebuah kawasan pesisir
pantai selatan kota padang yang berbatasan langsung dengan kecamatan Bungus
teluk kabung. Masyarakat yang tinggal pada umumnya pada beragam mulai dari
melaut, buruh dan lainnya.
posted by Adimin
Label:
SLIDER
October 17, 2012
sumber : hidayatullah
posted by Adimin
Fanatik . . . . .???
Written By @Adimin on 17 October, 2012 | October 17, 2012
FANATIK! Sudah kenyang telinga kita mendengar kata itu. Itu bukan
lagi hal yang menggelitik. Tak sekedar kritik. Namun menjadi sidang penghakiman
sebuah 'kejahatan' bernama ghirah. Fanatik menjadi ketok vonis untuk menyudutkan
umat Islam. Nabi dihina, kita marah, dicap fanatik. Ada pemurtadan
ditengah saudara-saudara seiman, tak boleh kita bersuara. Bersuara berarti
fanatik. Malah kata Buya Hamka, ada yang berani berkata, “jangan disebut-sebut
juga hukum Islam itu disini, negeri ini bukan negeri Islam. Negeri ini negeri
Pancasila.” Kalau sebut-sebut hukum Islam, itu juga fanatik.
Semburan tuduhan fanatik itu bukan barang baru. Itu lagu usang yang diputar
berulang-ulang. Tuduhan fanatik, kata KH Wahid Hasyim dalam “Mengapa Saya
Memilih NU?” (1985),
“...timbulnya
perkataan ta’asshub (fanatisme) di dalam kalangan Islam ialah setelah orang
Barat,merasa tidak dapat menembus keteguhan pendirian umat Islam dengan cara
hujjah, lalu menuduh ummat Islam adalah fanatik. “
Buya Hamka
pun sejalan dengan beliau. Ia katakan, “Orang Barat menimbulkan kata fanatik,
karena setelah mereka menancapkan penjajahan di negeri-negeri Islam, orang
Islam itu melawan. Bergelimpangan bangkai mereka terhantar ditengah medan
pertempuran, namun mereka masih tetap melawan. Dan meskipun telah beratus-ratus
yang syahid , namun yang tinggal masih meneruskan perlawanan.”
Tuduhan
fanatik oleh Barat, yang dikenakan pada orang Islam itu, menurutnya hanyalah
akal-akalan, tipuan semata.
“Bukan mereka
sendirikah yang fanatik terhadap kebiasaan, kepercayaan, untuk mempertahankan
kepentingan-kepentingan mereka sungguh luar biasa sekali? Jadi tuduhan orang
Barat melemparkan kata-kata fanatik kepada umat Islam semata-mata seperti
siasat perang, mengadakan tembakan-tembakan pancingan, dan dengan demikian
dapat diketahui mana-mana yang lemah,” tukas KH Wahid Hasyim.
Sayang,
justru saat ini sebagian orang Islam suka memakan pancingan ini. Suka mewarisi
pusaka tuduhan bernama fanatik ini. Mereka orang-orang yang tak lain
menggadaikan imannya. Menukar akidahnya dengan gelar modern, progressif,
toleran, atau semacamnya. Menggeser kiblatnya pada Barat.
“…golongan
modern ini ma’mum pada orang-orang Barat. dengan pendirian yang teguh pula.
Sebenarnya mereka ini juga fanatik, akan tetapi tidak pada Islam, hanya kepada
orang-orang Barat. Akan tetapi mereka juga tidak suka dinamakan fanatik, dan
menamakan dirinya,’ modern’, ‘progressif.” Begitulah sindir KH Wahid
Hasyim.
Senada dengan
Wahid Hasyim, menurut Buya Hamka, orang-orang ini adalah, “…orang yang ghirah agamanya
sudah berkurang, yang tidak usah menyebut-nyebut lagi perbedaan halal dengan
haram; lalu dia sudah sanggup berdiam diri saja melihat yang munkar menurut
ajaran agamanya, dan dia pandai menyesuaiakan diri, barulah orang ini dapat
pujian karena pandai menyesuaikan diri.” (Buya Hamka, "Dari Hati ke
Hati", Pustaka Panjimas).
Padahal,
menurut KH Wahid Hasyim, orang yang memegang teguh pendirian dengan pengertian,
bukanlah ta’assub (fanatik). “Tetapi yang demikian itu adalah kesatriaan dan
memegang dengan perasaan tanggung jawab yang penuh. “
Lantas apakah
kita sekarang masih mau menjadi kerbau yang dicocok hidungnya karena takut
dituduh fanatik? Masih bangga menjadi pewaris pusaka penjajah dengan turut
melemparkan kata fanatik?
Masih gamang
terombang-ambing di lautan tuduhan fanatik?
“Bagaimana
sekarang, wahai mereka yang disudut jiwanya masih ada sisa rasa tanggung jawab
agama? Takutkah kalian dituduh fanatik? Kalau takut lebih baik berhenti jadi
orang Islam. Lalu terima saja segala yang ada dalam kenyataan, dan jangan mulut
mengatakan halal-haram,” tegas Buya Hamka.
Buya Hamka
bahkan menyitir perintah Allah kepada Nabi Muhammad, “Katakanlah : Jikalau kamu
memang mencintai Allah, hendaklah ikut aku,niscaya kamu akan dicintai Allah
pula.” Selama kita mengikuti jalan Allah, pasti kita akan bersimpangan dengan
mereka yang menentangnya. Mutlak akan bersinggungan dengan vonis fanatik.
“Sebab alat
penuduh yang bernama fanatik itu masih tinggal dinegeri ini, untuk mengemplang
kepala kita, (dengan) pusaka penjajah,” tukas Buya Hamka.
Buya Hamka
kemudian menegaskan, “Tuanku Imam Bonjol melawan Belanda adalah karena fanatik.
Tengku Cik Ditiro melawan Belanda adalah karena fanatik, Pangeran Diponegoro
melawan Belanda adalah karena fanatik. Semuanya adalah karena fanatik. Yang
habis mati bertimbun mayat, menegakkan kemerdekaan adalah orang-orang fanatik.
Kalau tak ada lagi orang-orang fanatik di negeri ini, maka segala sampah,
segala kurap akan masuk kemari, tidak dapat ditahan-tahan. Sayangnya
orang-orang yang mempertahankan yang munkar itulah sekarang yang dengan fanatik
menantang tiap orang yang ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. “
Maka mari
kita amini doa beliau;
“Ya Allah!
Kalau lantaran karena cinta kepada-Mu dan Rasul-Mu, dan bercita-cita agar
hukum-Mu, jalan dalam dunia ini; Kalau lantaran berani menentang segala yang
bathil, kalau itu yang dikatakan fanatik, perdalamlah Ya Allah rasa fanatik itu
dalam jiwa kami. Dan matikanlah kami dalam membuktikan cinta kepada Engkau!”
sumber : hidayatullah
posted by Adimin
Label:
OASE
October 15, 2012
Malah mendapat hadiah
Written By @Adimin on 15 October, 2012 | October 15, 2012
Pada suatu siang Abu Nawas berada di istana ketika Raja Harun
Ar-Rasyid sedang sibuk menerima rombongan tamu dari kerajaan sahabat. Saat itu
hanya ada dua orang pelayan. Abu Nawas diminta untuk membantu kedua pelayan
itu. Ketika Abu Nawas sedang membawa semangkuk gulai yang masih panas
untuk hidangan siang, tiba-tiba kakinya terpeleset. Gulai yang dibawanya pun
tumpah dan sebagian mengenai muka sang raja.
Sebenarnya Raja sangat marah atas kejadian tersebut. Tetapi karena
banyak tamu, ia tahan kemarahannya.
“Maafkan, Tuan-tuan, atas kelakuan pelayan kami yang kurang ajar
tadi,” kata Raja.
Dari balik pintu tiba-tiba Abu
Nawas membaca sepotong ayat Al-Qur’an, “.... Orang-orang yang bertaqwa, yaitu
mereka yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya....”
“Ya, aku memang sedang menahan amarah,” sahut sang raja.
“Dan memaafkan atas kesalahan orang...,” Abu Nawas
meneruskan pembacaan ayat.
“Baik, aku memaafkanmu atas
kesalahanmu,” sahut Raja.
“Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan (QS Ali Imran: 133-134),” Abu Nawas mengakhiri pembacaan ayat
itu.
“Hai pelayan, kemari! Ini terimalah uang lima ratus dirham sebagai
hadiah,” kata Raja. “Lain kali, tolong kamu siram lagi mukaku dengan gulai,
biar kamu bisa menerima hadiah lebih besar lagi dariku.”
***
Salah satu ibrah yang bisa kita petik dari kisah di atas adalah
kemuliaan menahan amarah.
Mungkin ada sebagian orang yang menganggap, orang yang bisa
mengumbar amarah adalah orang yang kuat. Tidak, tidak demikian.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Bukanlah kuat
itu dengan mengalahkan musuh saat bergulat, akan tetapi kuat itu adalah orang
yang bisa menguasai dirinya tatkala marah.” (HR Bukhari Muslim dan Imam Ahmad).
Pada suatu hari, Nabi melewati sekelompok kaum yang saling
bergulat, maka beliau bertanya, “Apakah ini?”
Mereka menjawab, “Dia pegulat yang kuat, tidaklah seorang pun yang
bergulat dengannya kecuali dia mengalahkannya.” Kemudian beliau berkata, “Aku tunjukkan kepada kalian orang yang
lebih kuat darinya, yaitu seorang yang dizhalimi namun ia menahan kemarahannya.
Ia mengalahkan orang yang menzhaliminya dan mengalahkan setan yang ada pada
dirinya serta mengalahkan setan yang ada pada saudaranya.” (HR Al-Bazzar).
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Tetapi orang yang bersabar
dan memaafkan, sesungguhnya hal demikian itu termasuk keteguhan yang kuat.” (QS
As-Syura’: 43).
Jelas dari kedua hadits dan surah Al-Qur’an di atas, justru orang
yang mampu menguasai dirinya saat marah adalah orang yang kuat. Bukan orang
yang mengumbar amarah dengan berteriak-teriak, mencaci maki, dan sebagainya,
misalnya. Sebagaimana yang sering kita saksikan akhir-akhir ini, yang mungkin
saja di antara pelakunya adalah saudara kita juga, umat Islam. Di jalanan,
bahkan di televisi, yang ditonton seluruh rakyat negeri ini, juga dunia.
Tentu tidak berarti kita anti demo, karena adanya demonstrasi adalah
salah satu ciri negeri yang demokratis. Hanya saja, demo yang Islami adalah
demo yang tidak mencaci maki, karena Islam tidak pernah mengajarkan kepada
umatnya hal yang demikian. Apalagi demo yang anarkis, karena Islam tidak pernah
mengajarkan kepada penganutnya untuk merusak.
Bagi mereka yang mampu menahan amarah, Allah telah menyediakan
ganjaran. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menahan kemarahannya sedangkan
ia mampu untuk melakukannya, Allah Azza wa Jalla akan menyeru dia di hadapan
seluruh manusia pada hari Kiamat untuk dipilihkan baginya bidadari yang
dikehendakinya.” (HR Abu Daud).
Rasulullah juga bersabda, “Janganlah marah, maka bagimu adalah
surga.” (Hadits shahih Al-Jami’).
Lebih dari itu semua, menahan amarah adalah perintah Nabi SAW. Dan
karena itu perintah Nabi, tentu kita semua, sebagai umatnya, mesti
melaksanakan.
Disebutkan dalam hadits, seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW,
“Berilah aku wasiat.”
Beliau berkata, “Janganlah marah.”
Tahap selanjutnya, setelah mampu menahan amarah, yaitu memaafkan.
Allah berfirman, “Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya secara sembunyi
dan terang-terangan dan orang yang menahan kemarahan serta memaafkan orang
lain, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali
Imran:134). “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf,
serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raf: 199).
Sering kita saksikan di televisi beberapa ahli mengatakan bahwa
serang-menyerang antar-rezim terjadi karena dendam sejarah.
Seseorang, atau bahkan rezim, kalau bersalah memang boleh diadili,
atau mungkin harus diadili. Tapi dasarnya mestinya adalah upaya penegakan hukum
dan keadilan, bukan dendam. Jika dendam yang dijadikan dasar, kesalahan yang
kecil pun bisa terlihat besar. Seorang bijak mengatakan, dendam itu ibarat batu
kerikil yang meluncur di lembah yang bersalju. Makin jauh, akan makin membesar. Seseorang, atau bahkan rezim, kalau bersalah memang boleh diadili,
atau mungkin harus diadili. Tapi, bukankah memaafkan itu lebih mulia?
Dalam konteks negeri ini, bisakah kita menutup semua lembaran
sejarah kelabu masa lalu? Bisakah kita cukup menjadikannya sebagai pelajaran?
Demi membangun Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang penuh
kedamaian, bisakah kita menjadikan langkah kita sekarang ini sebagai langkah
awal yang terbebas dari segala macam konflik, atau setidaknya meminimalisir?
Kalau kita ikhlas, mau, dan mampu mengendalikan sifat marah, jawabannya jelas:
Bisa!
Mengatasi Kemarahan
Untuk mengatasi kemarahan, Islam memberikan petunjuk.
Pertama, berlindung kepada Allah dari godaan setan. Karena, di
samping nafsu yang ada dalam diri kita, peran setan juga sangat dominan dalam
membangkitkan amarah. Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengetahui satu
kalimat yang, seandainya diucapkan, niscaya akan hilanglah gejolak yang ada
pada diri:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR
Bukhari-Muslim).
Kedua, diam, tidak berbicara. “Apabila salah seorang di antara
kalian marah, hendaklah diam.” (HR Imam Ahmad).
Ketiga, tinggalkan tempat, berdirilah, lalu pergi.
Keempat, bersikap tenang, duduk apabila sedang berdiri, atau tidur
telentang bilamana sedang duduk. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah
seorang di antara kalian marah sedangkan dia berdiri, hendaklah dia duduk, agar
kemarahannya hilang. Apabila masih belum mereda, hendaklah berbaring.” (HR Abu
Daud).
Kelima, berwudhu. Nabi bersabda, “Marah itu adalah bara api, maka
padamkanlah dia dengan berwudhu’.” (HR. Al-Baihaqi).
Keenam, shalat. "Penghapus setiap perselisihan adalah dua
raka’at (shalat sunnah).” (HR Silsilah Hadits Shahihah).
Marah yang Terpuji
Pada umumnya marah memang tercela, tapi ada pula yang terpuji.
Misalnya marah karena ajaran-ajaran Allah dihinakan.
Kasus Ahmadiyah, misalnya. Dalam aqidah Islam, jelas, tidak ada
nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW. Pengakuan Ahmadiyah bahwa Mirza Ghulam
Ahmad adalah nabi dapat dikategorikan sebagai penistaan terhadap ajaran Islam.
posted by Adimin
Label:
HUMOR
October 15, 2012
posted by Adimin
Korupsi karena gaji . . ???
Baru baru ini wakapolri Nanan Sukarna menyatakan bahwa kepolisian sulit untuk keluar dari kasus kasus korupsi dikarenakan masalah gaji yang kurang mencukupi. Bahkan beliau secara pribadi menyatakan bahwa dirinya juga tidak cukup kalau hanya mengandalkan gaji saja.
Naudzubillah... mungkin itu yang bisa kita ucapkan jika mencermati pernyataan beliau, mengingat beliau adalah seorang wakapolri yang sejatinya bisa dikatakan mewakili institusi polri. Nanan adalah polisi berpangkat Komisaris Jenderal Polisi atau setingkat dengan Letnan Jenderal yang kita tahu berapa kira kira rata-rata gaji anggota Polisi berpangkat jenderal. Jika kita runut masalah pernyataan beliau, sungguh akan mempunyai dampak dahsyat terhadap para polisi yang notabene adalah anak buah beliau yang tentunya mempunyai gaji jauh lebih rendah dibanding seorang nanan, dimana seorang jenderal polisi tidak cukup hanya dengan mengandalkan gaji saja. Konsekuensinya adalah bagaimana dengan polisi yang berpangkat dibawah wakapolri...???, tentunya akan lebih merasa kekurangan . . . . . !!!!. Kita khawatir justru pernyataan wakapolri ini menjadi pembenaran untuk melakukan korupsi.
Pernyataan beliau bahwa korupsi sangat terkait dengan besar kecilnya gaji sangatlah memprihatinkan, karena sebenarnya menjauhi tindak pidana korupsi bukan
semata karena gaji, melainkan mentalitas. Terlalu banyak orang orang yang bergaji pas pasan tetapi sudah merasa cukup sehingga terhindar dari penyakit MENGHALALKAN SEGALA CARA termasuk korupsi.
"Gaji tinggi juga tidak ada jaminan orang terhindar dari korupsi. Yang utama adalah mentalitas untuk menghindari korupsi itu sendiri.
"Gaji tinggi juga tidak ada jaminan orang terhindar dari korupsi. Yang utama adalah mentalitas untuk menghindari korupsi itu sendiri.
Mudah mudahan mentalitas korupsi ini tidak merupakan penyakit masif yang sudah menyebar diseluruh lapisan birokrasi kita..... Semoga
posted by Adimin
October 11, 2012
posted by Adimin
RAPIMDA PKS Padang
Written By @Adimin on 11 October, 2012 | October 11, 2012
PKS kota padang melaksanakan
kegiatan Rapimda yang dilaksanakan pada hari Ahad 7 Oktober 2012, yang terdiri dari unsur DPC (Ketua, Sekretaris, dan
Kaderisasi) dan unsure DPD (Anggota DPH dan pleno). Kegiatan berlangsung lancer
dimulai dengan arahan dari Drs Muhidi, MM selaku ketua DPD PKS Kota Padang. Ust.
Muhidi memaparkan kondisi terkini dari jagat perpolitikan di kota padang yang
terkait dengan pilkada 2013 dan pemilu 2014, beliau memaparkan kondisi internal
PKS dan bagaimana struktur mensikapinya. Dibutuhkan rancangan dan langkah
langkah strategis mengingat agenda kedepan yang sangat berat palagi jika
melihat kondisi real internal dan eksternal.
Selanjutnya acara dikembangkan oleh ust
Muharlion selaku sekretaris umum DPD PKS padang, beliau memaparkan program-program unggulan DPD yang diturunkan dari hasil rakorda sebelumnya dan
dilanjutkan dengan pencapaian target sekaligus evaluasi capaian-capaian terhadap pelaksanaan program
tersebut. Evaluasi dibahas bersama dengan pengurus DPD dan DPC sekaligus
membahas kendala kendala yang ada dan bagaimana solusi yang harus dilakukan
Diskusi hangat terjadi ketika membahas rancangan strategis kedepan. Tanya jawab antara pengurus DPD dan DPC berlangsung hangat, apalagi ketika Ust Armadan selaku ketua DPC Lubuk Kilangan melancarkan joke joke segarnya sehingga suasana menjadi hidup. Singkat kata Rapimda ditutup dengan arahan Ketua DPD terkait dengan apa dan bagaimana seharusnya kita sebagai kader mensikapi agenda agenda dakwah kedepan, melihat seorang kader sekaligus jundi memiliki keistimewaan/tamayyus yang mestinya disalurkan dengan tepat dan terarah yang erat kaitannya dengan agenda agenda dakwah kedepan.
Dan semoga semua agenda dan langkah langkah partai dakwah ini senantiasa mendapatkan barokah dan pertolongan dari ALLAH SWT sebagai penguasa semesta alam, Amiin ya robbal alamiin
Label:
NEWS,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN









