Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
December 06, 2013
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang diminta siap siaga memasuki bulan Desember tahun 2013 ini. Pasalnya, cuaca buruk mulai terjadi di Kota Padang.
posted by @Adimin
Mahyeldi Minta BPBD Tetap Waspada Bencana Banjir
Written By Sjam Deddy on 06 December, 2013 | December 06, 2013
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang diminta siap siaga memasuki bulan Desember tahun 2013 ini. Pasalnya, cuaca buruk mulai terjadi di Kota Padang.
Dikatakan
Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Dt Maradjo BPBD harus lebih proaktif
dan siap bekerja saat cuaca buruk terjadi seperti saat ini.
"Jangan
meleng atau kurang antisipatif sedikit saja, kemudian akhirnya dampak
yang terjadi justru sangat besar dan merugikan. Makanya saya ingatkan
untuk waspada dini," kata Mahyeldi usai Acara peresmian pemakaian Kantor
Camat Kuranji, Rabu, (4/12)
Tak
hanya mengingatkan BPBD, Wakil Walikota Padang ini sendiri meminta
kepada masyarakat juga sadar diri terkait dengan cuaca buruk yang
terjadi akhir-akhir ini.
Menurutnya,
masyarakat jangan tunggu pemerintah melakukan evakuasi, tetapi harus
lebih dulu menyadari dampak yang akan terjadi, sehingga jika melihat ada
gejala bakal terjadi bencana, bisa langsung lebih dulu mengungsi.
Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang diminta siap siaga
memasuki bulan Desember tahun 2013 ini. Pasalnya, cuaca buruk mulai
terjadi di Kota Padang.
Dikatakan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Dt Maradjo BPBD harus lebih proaktif dan siap bekerja saat cuaca buruk terjadi seperti saat ini.
"Jangan meleng atau kurang antisipatif sedikit saja, kemudian akhirnya dampak yang terjadi justru sangat besar dan merugikan. Makanya saya ingatkan untuk waspada dini," kata Mahyeldi usai Acara peresmian pemakaian Kantor Camat Kuranji, Rabu, (4/12)
Tak hanya mengingatkan BPBD, Wakil Walikota Padang ini sendiri meminta kepada masyarakat juga sadar diri terkait dengan cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini.
Menurutnya, masyarakat jangan tunggu pemerintah melakukan evakuasi, tetapi harus lebih dulu menyadari dampak yang akan terjadi, sehingga jika melihat ada gejala bakal terjadi bencana, bisa langsung lebih dulu mengungsi.
"Intinya disini kita harus saling waspada," kata Mahyeldi kembali - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4331-mahyeldi-minta-bpbd-tetap-waspada-bencana-banjir.html#sthash.NwiL5YWy.dpuf
Dikatakan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Dt Maradjo BPBD harus lebih proaktif dan siap bekerja saat cuaca buruk terjadi seperti saat ini.
"Jangan meleng atau kurang antisipatif sedikit saja, kemudian akhirnya dampak yang terjadi justru sangat besar dan merugikan. Makanya saya ingatkan untuk waspada dini," kata Mahyeldi usai Acara peresmian pemakaian Kantor Camat Kuranji, Rabu, (4/12)
Tak hanya mengingatkan BPBD, Wakil Walikota Padang ini sendiri meminta kepada masyarakat juga sadar diri terkait dengan cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini.
Menurutnya, masyarakat jangan tunggu pemerintah melakukan evakuasi, tetapi harus lebih dulu menyadari dampak yang akan terjadi, sehingga jika melihat ada gejala bakal terjadi bencana, bisa langsung lebih dulu mengungsi.
"Intinya disini kita harus saling waspada," kata Mahyeldi kembali - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4331-mahyeldi-minta-bpbd-tetap-waspada-bencana-banjir.html#sthash.NwiL5YWy.dpuf
minangkabaunews
posted by @Adimin
Label:
Pilkada,
TOPIK PILIHAN
December 04, 2013
minangkabaunews
posted by @Adimin
Ribuan Pendukung Siap Hantarkan Mahyeldi Jadi Walikota Padang
Written By Sjam Deddy on 04 December, 2013 | December 04, 2013
Sekitar
10 ribu masa pendukung Mahyeldi dan Emzalmi (Mahyeldi) hadir dalam
acara silahturrahmi di Rumah makan Palapa Jalan Bay Pass di depan SPBU Korong Gadang Kecamatan Kuranji Padang, hari hujan tak mengalangi niat
para masa mahyeldi untuk hadir yang datang dari segala unsur lampisan
masyarakat, Bundo Kanduang, Ormas-orams dan tokoh-tokoh masyarakat Kota
Padang, Minggu (1/12).
Acara tatap muka dan silahturrahmi ini di sponsori H. Almin Bachtiar
salah seorang pengusaha Kapal Tengker di tanah air ibu pertiwi dan
bahkan usahanya sudah berkembang di dunia Internasional,
Beliau sosok seorang darmawan yang dapat di andalkan, pemurah, penyayang
dan suka memberikan bantuan terhadap siapapun orangnya. Begitu juga
dengan Armailis seorang tokoh masyarakat Kota Padang yang ikut
mencalonkan diri pada putaran pertama, gagal untuk masuk pada putaran
kedua, berpasangan dengan Maigus Nasir, sedangkan maigus Nasir bergabung
dengan Deje. nampaknya pasangan satu paket ini tidak dapat bergabung
dan bersatu pada putaran kedua dalam menentukan pilihannya.
Almin Bachtiar katakan mari kita berikan semangat dan motivasi
sesungguhnya kepada Mahyeldi dalam putaran kedua 18 Desember 2013, siapa
lagi yang akan dapat mengangkat derajat Saudara kita yang harapkan,
kalau tidak kita semuanya, maka itu saya ajak dan himbau seluruh warga
Kota Padang jangan sampai tidak memilih pemimpin terbaik di atas yang
baik.
Satu suara sangat berarti buat kita semuanya dan menentukan nasib kota
ini kedepannya, berikanlah suara itu kepada Mahyeldi, Mahyeldi sosok
pemimpin Jenius dan enerjik serta sudah perpengalaman, teruji
kemampuannya, di bidang pembangunan dan kemasyarakatan.
Di samping itu, orangnya jujur, piawai, terbuka dan sangat mudah di ajak
bicara apa saja, tentu kita berharap pasangan Mahyeldi ini di Izinkan
Allah nantinya menjadi Walikota dan Wakilwali Padang untuk 5 tahun
kedepannya, ujar Datuk Rajo Sikumbang Sumatera Barat.
Di samping itu, H.Almin bachtiar yang di dampingi Armailis dan beberapa
tokoh masyarakat, katakan kami siap memberikan dukungan sepenuhnya baik
moril dan materil sampai pelantikan pasangan ini menjadi Walikota dan
Wakil Walikota Padang untuk priode 2014-2019.
Selanjutnya Mahyeldi di dampingi Emzalmi mengucapkan ribuan terima kasih
yang tak terhingga atas kehadiran masa pendukung Mahyeldi yang luar
biasa banyaknya, terutama sekali kepada orang tua kita H. Almin Bachtiar
dan Armailis telah mempersiapkan tempat dengan baik senyaman mungkin .
Walaupun hari hujan tak mengalangi niat masa mahyeldi untuk hadir dalam
acara silahturrahmi sesama pendukung Mahyeldi di rumah makan Palapa
milik Armalis. Dengan rasa senang dan terharu, Mahyeldi tak banyak
bicara dalam kesempatan ini, Beliau hanya berpesan untuk selalu menjaga
keamanan dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat. Dalam hitungan
hari,tanggal 18 Desember 2013 nanti adalah waktu penentuan buat kita
bersama, apa kita sukses atau tidaknya. Sukses kami adalah sukses kita
semuanya dan suksesnya warga Kota Padang dalam menentukan pilihannya,
ujar Mahyeldi.
Jadi, acara silahturrahmi ini sangat penting sekali dalam mengambil
sikap dan keputusan diri pribadi kita semua, baik yang belum sempat
hadir dalam acara hari ini, kita akan terus lakukan silahturrahmi agar
kedekatan antara sesama kita lebih terasa dan menyatu dalam satu
pilihan, ujar Mahyeldi mengakhirinya.
minangkabaunews
posted by @Adimin
Label:
Pilkada,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
November 29, 2013
Beberapa nama yang muncul mungkin udah tidak asing lagi baik dikalangan internal maupun dikalangan eksternal seperti M. Anis Matta (Presiden PKS), Hidayat Nur Wahid (Mantan Ketua MPR), Fahri Hamzah (Aleg DPR), Irwan Prayitno (Gubernur Sumbar), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat) dan tokoh tokoh lainnya.
Kata pepatah, Manusia yang baik biasanya berasal dari manusia yang baik pula. Dan untuk membuktikannya mari kita sama sama tunggu hasil dari pemira.
posted by @Adimin
Pemilihan Raya di DPD PKS Padang
Written By Sjam Deddy on 29 November, 2013 | November 29, 2013
pkspadang.com : Sesuai dengan arahan dari DPP PKS bahwa PKS akan mengusung Capres dikalangan internal PKS sendiri maka untuk itu DPD PKS Padang mengadakan pemilihan raya yang dilaksanakan pada hari Jum;at 29 Nopember 2013 di DPD.
Seluruh kader beramai ramai memberikan suaranya untuk bersama sama aktif dalam menjalankan amanah dakwah ini. DPP PKS sendiri telah mengusung 22 tokoh internal PKS yang sejak didirikannya, ke 22 tokoh ini sudah sangat dikenal oleh kader kader PKS maupun oleh publik.
Beberapa nama yang muncul mungkin udah tidak asing lagi baik dikalangan internal maupun dikalangan eksternal seperti M. Anis Matta (Presiden PKS), Hidayat Nur Wahid (Mantan Ketua MPR), Fahri Hamzah (Aleg DPR), Irwan Prayitno (Gubernur Sumbar), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat) dan tokoh tokoh lainnya.
Dengan berlangsungnya Pemira ini, diharapkan muncul tokoh tokoh bangsa yang nantinya akan membawa perubahan pada bangsa dan negara menjadi ke arah yang jauh lebih baik, seperti yang selama ini dibuktikan oleh PKS.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH
November 26, 2013
posted by @Adimin
Inilah Pasukan Yang Paling Ditakuti Di Dunia
Written By Sjam Deddy on 26 November, 2013 | November 26, 2013
Era kini mungkin tak banyak yang mengenal Yanissari. Lebih populer
istilah "knight templar" ataupun "three muskeeter". Padahal, di abad
pertengahan lalu, pasukan Yanissari inilah yang sangat ditakuti dunia.
Pasukan Salib luluhlantak tatkala berhadapan dengan tentara Yanissari.
Kisahnya terjadi tatkala Kesultanan Utsmaniyah menguasai separuh belahan
dunia di abad pertengahan lalu.
Yanissari adalah sebutan untuk kelompok pasukan elit Utsmaniyah. Pasukan ini dibentuk kali pertama kala Murad I menjadi Sultan Ustamaniyah. Menurut Felix Siauw, penulis buku "Muhammad Al Fatih 1453", pasukan elit dalam Islam sebenarnya sudah dibentuk sejak era Utsman bin Affan menjadi Khalifah, di abad 7 Masehi lalu. "Utsmaniyah kemudian mengembangkan lagi pasukan elit seperti yang dilakukan Khalifah Utsman, itulah Yanissari itu," tuturnya kepada Mahkamah, beberapa waktu lalu.
Roger Crowly, penulis buku "1453 Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Islam", sempat menggambarkan ringkas tentang keperkasaan Yanissari. Peneliti asal Inggris itu menggambarkan pasukan Yanissari sempat membikin merinding tentara Kristen yang mempertahankan Konstantinopel, ibukota Romawi, tatkala diserbu oleh pasukan Utsmaniyah. Pasukan itu, tulis Crowly lagi, seperti tak takut kematian, memiliki keahlian beladiri yang sangat tinggi, berperang seperti singa padang pasir.
Crowly juga menggambarkan proses perekrutan pasukan Yanissari yang sangat ketat. "Bila ayahnya adalah anggota Yanissari, maka anaknya kemudian menjadi Yanissari, tanpa diketahui siapapun. Hanya sultan yang mengetahuinya," tutur Crowly lagi. Begitu kehebatan pasukan khusus ini.
Di era Utsmaniyah menguasai dunia, memang warga Eropa sekalipun berlomba-lomba agar anaknya bisa masuk menjadi pasukan Yanissari. Ini digambarkan terang oleh sejarahwan Yunani, Dimitri Kitsikis. Dalam bukunya, Turk Yunan Imparatorlugu, Dimitri melukiskan banyak keluarga Kristen yang bernafsu memasukkan anak laki-lakinya menjadi pasukan Yanissari. Karena dengan bergabung menjadi Yanissari, menurut Dimitri lagi, bisa memberikan kemajuan keluarganya secara sosial.
Dimitri melukiskan lagi, kala Yunani di bawah kekuasaan Utsmaniyah, lulusan Yanissari kemungkinan besar diangkat menjadi Wazir Agung, Gubernur Jenderal dan pejabat teras Utsmaniyah lainnya. Tak heran banyak warga yang ingin anaknya bergabung dengan Yanissari.
Dalam gambaran Crowly lagi, kala berperang, pasukan Yanissari inilah penggedor tembok terakhir Konstantinopel. "Mereka sangat terlatih, tidak pernah ada pasukan Kristen seperti pasukan itu," papar Crowly lagi. Pasukan Yanissari ini memang sangat disegani. Crowly menceritakan, pasukan itu bisa tidur di padang pasir, kemudian bangun dan langsung siap berperang. Begitulah dahsyatnya.
Felix juga menuturkan, selain dibekali kemampuan tempur tingkat tinggi, pasukan Yanissari juga sangat unggul dari sisi keimanan. "Ketika Sultan Al Fatih berhasil menjebol Konstantinopel, dia langsung mengumpulkan seluruh prajurit Yanissari di Masjid Hagia Sophia untuk melaksanakan sholat berjamaah pertama kalinya. Mereka memilih siapa yang layak menjadi imam," kisah Felix lagi. Hampir seluruh pasukan Yanissari, tutur Felix lagi, tak pernah meninggalkan sholat lima waktu dan sholat sunnat. "Mereka sangat Islami sekali," pungkasnya.
Tak heran, Lord Kinross, peneliti asal Inggris dalam bukunya The Ottoman Centuries: The Rise and the Fall of Turkish Empire, tak kuasa untuk melukiskan tentang rahasia keperkasaan pasukan Utsmani. Dia mengutip seorang pengembara bernama Bertrand de Broquiere yang melukiskan,"Pasukan Utsmani sangat cepat gerakannya. Seratus pasukan Kristen akan jauh lebih gaduh dari sepuluh ribu pasukan Utsmani tatkala diperintah untuk bergerak. Tatkala genderang perang telah ditabuh, maka dengan segera mereka akan bergerak, mereka tidak berhenti melangkah hingga komando dikeluarkan. Mereka adalah pasukan yang terlatih. Dalam semalam mereka mampu melakukan tiga kali lipat perjalanan yang dilakukan musuh-musuhnya orang-orang Kristen".
Di kesultanan Utsmaniyah, pasukan Yanisari ini juga berperan sebagai pasukan pengawal Sultan. Pasukan Yanissari inilah yang kemudian ditiru Barat. Di abad 18, beberapa negara Barat membentuk Musketeer, pasukan pengawal Presiden atau Raja. Keahlian pasukan Yanissari ini juga yang kemudian diadopsi oleh CIA, FBI, Mossad, dan lembaga intelijen lainnya.
Yanissari adalah sebutan untuk kelompok pasukan elit Utsmaniyah. Pasukan ini dibentuk kali pertama kala Murad I menjadi Sultan Ustamaniyah. Menurut Felix Siauw, penulis buku "Muhammad Al Fatih 1453", pasukan elit dalam Islam sebenarnya sudah dibentuk sejak era Utsman bin Affan menjadi Khalifah, di abad 7 Masehi lalu. "Utsmaniyah kemudian mengembangkan lagi pasukan elit seperti yang dilakukan Khalifah Utsman, itulah Yanissari itu," tuturnya kepada Mahkamah, beberapa waktu lalu.
Roger Crowly, penulis buku "1453 Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Islam", sempat menggambarkan ringkas tentang keperkasaan Yanissari. Peneliti asal Inggris itu menggambarkan pasukan Yanissari sempat membikin merinding tentara Kristen yang mempertahankan Konstantinopel, ibukota Romawi, tatkala diserbu oleh pasukan Utsmaniyah. Pasukan itu, tulis Crowly lagi, seperti tak takut kematian, memiliki keahlian beladiri yang sangat tinggi, berperang seperti singa padang pasir.
Crowly juga menggambarkan proses perekrutan pasukan Yanissari yang sangat ketat. "Bila ayahnya adalah anggota Yanissari, maka anaknya kemudian menjadi Yanissari, tanpa diketahui siapapun. Hanya sultan yang mengetahuinya," tutur Crowly lagi. Begitu kehebatan pasukan khusus ini.
Di era Utsmaniyah menguasai dunia, memang warga Eropa sekalipun berlomba-lomba agar anaknya bisa masuk menjadi pasukan Yanissari. Ini digambarkan terang oleh sejarahwan Yunani, Dimitri Kitsikis. Dalam bukunya, Turk Yunan Imparatorlugu, Dimitri melukiskan banyak keluarga Kristen yang bernafsu memasukkan anak laki-lakinya menjadi pasukan Yanissari. Karena dengan bergabung menjadi Yanissari, menurut Dimitri lagi, bisa memberikan kemajuan keluarganya secara sosial.
Dimitri melukiskan lagi, kala Yunani di bawah kekuasaan Utsmaniyah, lulusan Yanissari kemungkinan besar diangkat menjadi Wazir Agung, Gubernur Jenderal dan pejabat teras Utsmaniyah lainnya. Tak heran banyak warga yang ingin anaknya bergabung dengan Yanissari.
Dalam gambaran Crowly lagi, kala berperang, pasukan Yanissari inilah penggedor tembok terakhir Konstantinopel. "Mereka sangat terlatih, tidak pernah ada pasukan Kristen seperti pasukan itu," papar Crowly lagi. Pasukan Yanissari ini memang sangat disegani. Crowly menceritakan, pasukan itu bisa tidur di padang pasir, kemudian bangun dan langsung siap berperang. Begitulah dahsyatnya.
Felix juga menuturkan, selain dibekali kemampuan tempur tingkat tinggi, pasukan Yanissari juga sangat unggul dari sisi keimanan. "Ketika Sultan Al Fatih berhasil menjebol Konstantinopel, dia langsung mengumpulkan seluruh prajurit Yanissari di Masjid Hagia Sophia untuk melaksanakan sholat berjamaah pertama kalinya. Mereka memilih siapa yang layak menjadi imam," kisah Felix lagi. Hampir seluruh pasukan Yanissari, tutur Felix lagi, tak pernah meninggalkan sholat lima waktu dan sholat sunnat. "Mereka sangat Islami sekali," pungkasnya.
Tak heran, Lord Kinross, peneliti asal Inggris dalam bukunya The Ottoman Centuries: The Rise and the Fall of Turkish Empire, tak kuasa untuk melukiskan tentang rahasia keperkasaan pasukan Utsmani. Dia mengutip seorang pengembara bernama Bertrand de Broquiere yang melukiskan,"Pasukan Utsmani sangat cepat gerakannya. Seratus pasukan Kristen akan jauh lebih gaduh dari sepuluh ribu pasukan Utsmani tatkala diperintah untuk bergerak. Tatkala genderang perang telah ditabuh, maka dengan segera mereka akan bergerak, mereka tidak berhenti melangkah hingga komando dikeluarkan. Mereka adalah pasukan yang terlatih. Dalam semalam mereka mampu melakukan tiga kali lipat perjalanan yang dilakukan musuh-musuhnya orang-orang Kristen".
Di kesultanan Utsmaniyah, pasukan Yanisari ini juga berperan sebagai pasukan pengawal Sultan. Pasukan Yanissari inilah yang kemudian ditiru Barat. Di abad 18, beberapa negara Barat membentuk Musketeer, pasukan pengawal Presiden atau Raja. Keahlian pasukan Yanissari ini juga yang kemudian diadopsi oleh CIA, FBI, Mossad, dan lembaga intelijen lainnya.
posted by @Adimin
Label:
Sejarah,
TOPIK PILIHAN
November 26, 2013
posted by @Adimin
Akbar Tanjung: Anis Matta Sukses Pimpin PKS
Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tanjung mengakui bahwa
sosok muda Anis Matta telah sukses memimpin salah satu partai Islam di
Indonesia yang terus berkembang, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Hal tersebut disampaikan oleh mantan Ketua DPR RI ini saat menyampaikan arahan di depan ribuan mahasiswa Universitas Diponegoro dalam agenda Dialog Kebangsaan mencari pemimpin Indonesia, Senin (25/11/2013).
Menurut Akbar, sosok Anis Matta telah mampu meletakkan konsep dasar nasionalisme dan visi kebangsaan di partainya. "Sejak PKS berdiri, sebenarnya pak Anis sudah menjadi pemimpin, karena waktu itu siapapun presidennya sekjennya adalah Anis matta," ujarnya.
Lebih lanjut Akbar yang juga tokoh senior perpolitikan nasional ini menilai bahwa dirinya mengapresiasi munculnya banyak tokoh yang memiliki kapasitas untuk memimpin Indonesia seperti Anis Matta.
Agenda dialog kebangsaan ini digelar oleh Badan Eksekutif mahasiswa Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Lembaga Pol-Tracking Institute pimpinan pengamat politik Hanta Yudha. Dalam kesempatan tersebut Hanta Yudha yang juga mantan Presiden Mahasiswa ini menjadi moderator untuk ketiga pembicara, yakni Akbar Tanjung, Anis Matta dan Endriartono Sutarto.
Hal tersebut disampaikan oleh mantan Ketua DPR RI ini saat menyampaikan arahan di depan ribuan mahasiswa Universitas Diponegoro dalam agenda Dialog Kebangsaan mencari pemimpin Indonesia, Senin (25/11/2013).
Menurut Akbar, sosok Anis Matta telah mampu meletakkan konsep dasar nasionalisme dan visi kebangsaan di partainya. "Sejak PKS berdiri, sebenarnya pak Anis sudah menjadi pemimpin, karena waktu itu siapapun presidennya sekjennya adalah Anis matta," ujarnya.
Lebih lanjut Akbar yang juga tokoh senior perpolitikan nasional ini menilai bahwa dirinya mengapresiasi munculnya banyak tokoh yang memiliki kapasitas untuk memimpin Indonesia seperti Anis Matta.
Agenda dialog kebangsaan ini digelar oleh Badan Eksekutif mahasiswa Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Lembaga Pol-Tracking Institute pimpinan pengamat politik Hanta Yudha. Dalam kesempatan tersebut Hanta Yudha yang juga mantan Presiden Mahasiswa ini menjadi moderator untuk ketiga pembicara, yakni Akbar Tanjung, Anis Matta dan Endriartono Sutarto.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
November 23, 2013
posted by @Adimin
Mengapa Suami Cenderung Tidak Romantis di Mata Istri ?
Written By Sjam Deddy on 23 November, 2013 | November 23, 2013
Banyak istri mengeluhkan suami yang kehilangan romantisme. Dulu saat
masih masa pacaran, tampak sisi romantisme yang membuat mereka
berinteraksi secara intim dan mesra. Demikian pula saat pengantin baru,
sisi-sisi romantisme masih dirasakan. Namun seiring perjalanan waktu,
istri mulai mengeluhkan sikap suami yang cenderung pasif dan kehilangan
romantisme. Interaksi dan komunikasi setelah berumah tangga semakin lama
semakin mengalami penurunan baik kualitas maupun kuantitas.
“Mengapa engkau tidak pernah lagi memuji dan merayuku? Dulu engkau
bisa berlaku romantis, sekarang sudah tidak bisa lagi”, keluh Mia kepada
Bayu, suaminya.
“Kita sudah tambah tua, anak sudah besar, apa iya disuruh seperti
anak muda pacaran yang suka merayu…. Ingat Ma, kita sudah tidak muda
lagi…”, jawab Bayu.
“Apakah pasangan umur empat puluhan seperti kita sudah tidak layak
untuk romantis lagi Pa? Kita ini belum terlalu tua…” sergah Mia tidak
mau mengalah.
Apakah yang terjadi pada Bayu dan Mia? Sebenarnya ini bukan soal
“salah siapa”, namun hanya persoalan perbedaan khas antara dunia
laki-laki dan dunia perempuan. Mereka saling tidak memahami ada yang
berbeda di antara suami dan istri, sehingga menimbulkan suasana saling
heran bahkan saling menyalahkan satu dengan yang lain.
Apa yang Terjadi Pada Suami?
Secara umum, laki-laki cenderung memiliki “zona nyaman” dalam suatu
hubungan. Sebelum memiliki istri, ia berusaha mendapatkan istri yang
ideal menurut standar kelelakiannya, dan untuk itu ia rela melakukan
apapun demi mendapatkan calon pendamping hidupnya. Seorang lelaki
berusaha mengejar dan mendapatkan perempuan yang menarik dan membuatnya
tergila-gila, yang diharapkan menjadi istri. Ia melakukan berbagai usaha
agar bisa mendapatkan perempuan tersebut, walau kadang harus bersaing
dengan banyak lelaki lain.
Namun setelah memiliki istri, laki-laki mulai memasuki zona nyaman.
Ia merasa aman, tidak perlu mengejar atau melakukan usaha untuk
mendapatkan pendamping hidup, karena sudah ada di sampingnya. Ketika
sudah memasuki zona nyaman dalam hubungan, laki-laki merasa bisa fokus
pada hal lain dalam hidupnya tanpa harus memusingkan lagi urusan mencari
pendamping hidup. Ia bisa fokus pada karier, pekerjaan, organisasi,
hobi, dan lain sebagainya, dan yakin bahwa istri juga nyaman berada di
sampingnya.
Pada beberapa kalangan suami, ketika sedang berduaan dengan istri,
tidak masalah bila dia asyik membaca koran, menonton berita di TV atau
bekerja di laptop, dan istrinya pun asyik membaca buku atau memainkan
blackberry. Saling sibuk dan asyik mengerjakan urusan masing-masing,
adalah sebuah kedamaian dan kebahagiaan tersendiri bagi beberapa
kalangan laki-laki. Baginya, itu sudah lebih dari cukup. Maka laki-laki
terkesan berubah menjadi lebih cuek setelah menikah, padahal itu artinya
dia sudah merasa nyaman dan stabil dengan istrinya.
Sikap seperti inilah yang oleh kebanyakan istri disebut sebagai tidak
romantis dan tidak peduli. Di mata istri, suami kehilangan romantisme
setelah berumah tangga, apalagi ketika sudah menempuh masa yang panjang.
Padahal suami merasa tidak ada yang berubah dari dirinya. Bahkan dia
merasa sudah sedemikian nyaman hidup berumah tangga, dan heran mengapa
sang istri masih mencari-cari kekurangannya.
Apa yang Terjadi pada Istri?
Di sisi lain, perempuan memerlukan “perhatian yang konsisten” dalam
suatu hubungan. Istri ingin diperlakukan secara romantis, sedikit
dicemburui, dirayu, dipuji, butuh bermesraan, dan lain sebagainya.
Apalagi bila sebelum menikah dulu si laki-laki sudah tampak romantis,
maka perempuan memiliki ekspektasi yang tinggi bahwa suaminya akan
semakin romantis setelah menikah. Banyak perempuan menginginkan romance
dan drama dalam suatu hubungan, dia ingin melihat suaminya berusaha
membahagiakan dirinya. Bahkan cukup dengan melihat usahanya saja,
perempuan sudah merasa bahagia. Karena itu, ketika sedang berduaan,
wanita akan mengeluh bila suaminya asyik bekerja di laptop atau
memainkan blackberry tanpa mempedulikannya.
Ketika istri sedang berduaan dengan suami di rumah dan melihat suami
sibuk melakukan aktivitas di komputer atau handphone, istri akan
berpikir, “Mengapa aku dicuekin begini? Sudah dia super sibuk, jarang di
rumah, begitu di rumah malah asyik dengan aktivitasnya sendiri. Mungkin
dia sudah tidak sayang lagi padaku….” Padahal yang ada di dalam pikiran
suami adalah, “Ada kamu di sini saja, aku sudah senang. Sekarang aku
bisa beraktivitas dengan tenang….”
Istri berpikir, “Kenapa asyik dengan laptop atau handphone saat
berduaan dengan aku? Kamu kan bisa melakukan itu saat di kantor. Mengapa
engkau tidak peduli kepadaku?” Sementara suami berpikir, “Kenapa harus
nungguin aku yang lagi kerja di laptop? Kamu kan bisa mengerjakan hal
lain, nonton TV, baca koran atau baca buku atau apapunlah yang
menyenangkanmu…”
Apabila berulang kali mengalami kejadian seperti ini, istri akan
mulai mengeluh pada suami. Lama kelamaan keluhan ini berubah menjadi
tuntutan. Tanggapan suami biasanya tersinggung dan membela diri, karena
merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Istri menuduh suami tidak peka,
tidak romantis dan tidak pengertian, sedangkan suami menuduh istri
banyak menuntut dan mencari-cari masalah. Akibatnya pertengkaran pun
terjadi dan saling menyalahkan satu sama lain. Hanya karena keduanya
tidak mengerti kebutuhan pasangannya, dan tidak tahu apa yang harus
dilakukan.
Saling Memahami, Saling Kompromi
Dalam kejadian seperti yang dialami oleh Mia dan Bayu di atas,
sebenarnya tidak ada yang perlu disalahkan. Keduanya hanya perlu dilatih
dan dibiasakan untuk saling mengerti, saling memahami dan saling
kompromi. Bila Mia dan Bayu sudah mengerti apa yang dibutuhkan
pasangannya, maka solusinya menjadi mudah mereka dapatkan. Yang
diperlukan adalah kesediaan suami dan istri untuk selalu berusaha
memahami pasangan, dan kemudian menentukan titik kompromi yang paling
mungkin atas perbedaan yang terjadi di antara mereka.
Para istri harus mengerti kecenderungan umum laki-laki dalam
mengapresiasi sebuah hubungan, demikian pula para suami harus mengerti
kecenderungan umum perempuan. Mereka berdua akan lebih mudah
menyesuaikan diri, karena mengerti mengapa perbedaan sudut pandang ini
bisa terjadi. Kompromi lebih mungkin dilakukan antara suami dengan
istri, apabila keduanya sudah saling memahami dengan baik keinginan
pasangannya.
Contoh kompromi itu adalah, suami dan istri menyediakan waktu-waktu
khusus untuk tidak boleh ada gangguan dalam hubungan. Misalnya hari
tertentu atau jam tertentu, suami dan istri tidak disibukkan oleh
pekerjaan dan aktivitas masing-masing. Bisa duduk, bercengkerama,
bercanda berdua dengan leluasa. Tanpa diganggu handphone, blackberry,
laptop, koran, majalah, TV dan lain sebagainya. Waktu-waktu yang
istimewa dan spesial, di mana mereka bisa leluasa mengobrol dan
memperbincangkan apa saja tanpa diganggu oleh kesibukan masing-masing.
Oleh : Cahyadi Takariawan
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
November 18, 2013
Menurut Para Jenderal, Standar Operasi Satgas PKS Sudah Seperti TNI
Written By Sjam Deddy on 18 November, 2013 | November 18, 2013
Mungkin saya akan memberi sedikit informasi tentang penilaian gerakan organisasi masyarakat dimata para bintang TNI. Ingat dulu; tentang kehebohan kebijakan aturan pelarangan ormas atau satgas partai memakai seragam yang 'mirip' loreng sebuah angkatan di TNI dan aturan latihan semi militer yang dilakukan organisasi masyarakat. Hampir semua pihak membicarakannya, termasuk para bintang di TNI dan pihak ormas seperti FPI, FKPPI, satgas partai PDIP hingga pemuda pancasila. Dan saya tertarik dengan informasi; pendapat dari para bintang TNI.
Berikut pertanyaan yang dijawab mereka;
"Diantara ormas dan satgas yang ada di indonesia yang memiliki kekuatan dan soliditas mirip TNI, siapa saja dan apa saja pak jenderal?"
>"Saya lihat kekuatan dan soliditas itu ada di satgas partai PKS; selama 6 bulan kami memantau dan memberi standar penilaian berdasarkan kebutuhan keputusan; ternyata cuma 'mereka' lah yang terbaik dalam pelatihan dan pembangunan kekuatan soliditas organisasi dan gerakan" (sjafrie sjamsoedin-wamenhan)
Berikut pertanyaan yang dijawab mereka;
"Diantara ormas dan satgas yang ada di indonesia yang memiliki kekuatan dan soliditas mirip TNI, siapa saja dan apa saja pak jenderal?"
>"Saya lihat kekuatan dan soliditas itu ada di satgas partai PKS; selama 6 bulan kami memantau dan memberi standar penilaian berdasarkan kebutuhan keputusan; ternyata cuma 'mereka' lah yang terbaik dalam pelatihan dan pembangunan kekuatan soliditas organisasi dan gerakan" (sjafrie sjamsoedin-wamenhan)
>"Semua ormas memang lahir dengan tujuannya masing masing; seperti FPI ataupun pemuda pancasila, tapi ada fenomena sebuah gerakan tentang sebuah ormas, yang saya nilai mereka memang patut dicontoh secara organisir gerakan dan soliditas kekuatannya; anda tahu partai PKS, semua database saya miliki termasuk penilaian ketika melakukan aksi, dan memang satgas PKS lah yang terbaik"...
(djoko santoso- mantan panglima TNI)
>"Itu, satgas nya PKS, cuma mereka yang punya standar operasi yang sangat rapi mirip dengan organisasi struktural ala TNI, cuma 'mereka' tidak memiliki loreng ala PP ataupun FKPPI, menurut data yang saya miliki satgas PKS sudah seperti pasukan ala vietkong yang dibentuk melawan amerika'.....
(ryamizard ryacudu- mantan KSAD).....
Lalu pertanyaan kedua; "Kalau mereka terbaik menurutjenderal; mengapa mereka tidak dicurigai dan dianggap 'berbahaya'?"
Saya ambil satu jawaban dari sosok satu ini:
>"Karena mereka bukan preman; kebijakan ini (pelarangann seragam mirip TNI -ed) dibuat untuk membatasi premanisme dengan memakai baju besar atau loreng mereka; sementara organisasi satgas PKS hanya kumpulan kader partai yang terbina dan terdidik; itu menurut kacamata saya setelah sempat menerima informasi dilapangan, toh mereka tidak membangun pos pos keamanan ala ormas yang lain, mereka banyak berguna di masyarakat, itu yang membuat kami harus berpikir ulang seandainya menempatkan 'mereka' dalam zona ormas rapor merah"....
(djoko santoso- mantan panglima TNI)
by: Bang DW
(djoko santoso- mantan panglima TNI)
>"Itu, satgas nya PKS, cuma mereka yang punya standar operasi yang sangat rapi mirip dengan organisasi struktural ala TNI, cuma 'mereka' tidak memiliki loreng ala PP ataupun FKPPI, menurut data yang saya miliki satgas PKS sudah seperti pasukan ala vietkong yang dibentuk melawan amerika'.....
(ryamizard ryacudu- mantan KSAD).....
Lalu pertanyaan kedua; "Kalau mereka terbaik menurutjenderal; mengapa mereka tidak dicurigai dan dianggap 'berbahaya'?"
Saya ambil satu jawaban dari sosok satu ini:
>"Karena mereka bukan preman; kebijakan ini (pelarangann seragam mirip TNI -ed) dibuat untuk membatasi premanisme dengan memakai baju besar atau loreng mereka; sementara organisasi satgas PKS hanya kumpulan kader partai yang terbina dan terdidik; itu menurut kacamata saya setelah sempat menerima informasi dilapangan, toh mereka tidak membangun pos pos keamanan ala ormas yang lain, mereka banyak berguna di masyarakat, itu yang membuat kami harus berpikir ulang seandainya menempatkan 'mereka' dalam zona ormas rapor merah"....
(djoko santoso- mantan panglima TNI)
by: Bang DW
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
November 14, 2013
posted by @Adimin
Anis Matta: PKS Ingin Menjadi Bagian Sejarah Perubahan Indonesia
Written By Sjam Deddy on 14 November, 2013 | November 14, 2013
Presiden
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta, menegaskan terkait target
tiga besar PKS di Pemilu 2014 bukan sekedar hasrat mengejar kekuasaan
semata. Menurut Anis, justru PKS ingin menjadi bagian penting dari
sejarah perubahan Republik Indonesia.
"Jauh
lebih penting di balik kemenangan, kita ingin menjadi bagian penting
dari gelombang sejarah perubahan republik ini. Menang Pemilu 2014 hanya
pintu masuk ke tujuan lebih besar," kata Anis Matta seperti dilansir
kantor berita Antara.
Matta
mengemukakan hal itu di hadapan seribuan lebih simpatisan, kader, dan
pengurus PKS se-NTB, dalam Dialog Kebangsaan di Convention Hall Paruga
Na'e, Bima, NTB, Senin (4/11).
Itu adalah forum rangkaian konsolidasi seluruh elemen PKS se-Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Selain Matta, juga hadir Sekretaris Jenderal DPP PKS, Taufiq Ridho, anggota Komisi III DPR Daerah Pemilihan NTB, Fahri Hamzah, dan legislator Komisi X DPR, Ahmad Zainuddin, dan Ketua DPP Wilda Bali-Nusra, Oktan Hidayat.
Matta mengatakan, PKS harus masuk dalam pusaran gelombang yang sedang berputar di seluruh sendi bangsa.
"Saat PKS memenangi Pemilu 2014, kita akan punya peran strategis dan kontribusi nyata dalam mengendalikan setiap tahapan sejarah bangsa ini," ujarnya.
Itu adalah forum rangkaian konsolidasi seluruh elemen PKS se-Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Selain Matta, juga hadir Sekretaris Jenderal DPP PKS, Taufiq Ridho, anggota Komisi III DPR Daerah Pemilihan NTB, Fahri Hamzah, dan legislator Komisi X DPR, Ahmad Zainuddin, dan Ketua DPP Wilda Bali-Nusra, Oktan Hidayat.
Matta mengatakan, PKS harus masuk dalam pusaran gelombang yang sedang berputar di seluruh sendi bangsa.
"Saat PKS memenangi Pemilu 2014, kita akan punya peran strategis dan kontribusi nyata dalam mengendalikan setiap tahapan sejarah bangsa ini," ujarnya.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
November 11, 2013
Ogah Terima Jabatan
Written By Sjam Deddy on 11 November, 2013 | November 11, 2013
Khalifah Umar bin Abdul Aziz hatinya gundah. Semalaman dia tidak bisa
tidur karena sibuk memikirkan siapa gerangan yang layak diangkat menjadi
hakim di Basrah. Sebagai penguasa, dia harus memastikan bahwa orang
yang kelak menduduki kursi jabatan itu harus benar-benar sanggup berdiri
tegak di atas keadilan. Menemukan pejabat negara yang tahan ujian dan
tidak gila pujian sungguh tidak mudah.
Lama merenung, pikirannya akhirnya tertambat pada dua nama yang dipandang memenuhi fit and proper test sebagai seorang hakim. Kedua sosok itu dikenal tegas dalam kebenaran dan cemerlang dalam pemikiran. Kepada wakilnya, Adi bin Arthah, khalifah lantas memerintahkan supaya dipanggilkan kedua nama itu. Mereka adalah Iyas bin Muawiyah Al-Muzani dan Al-Qasim bin Rabiah Al-Haritsi.
Setelah kedua calon itu menghadap, khalifah lantas menjelaskan maksudnya. Namun, masalah tidak segera tuntas, karena keduanya saling mengunggulkan rekannya. Iyas berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tolong Anda tanyakan tentang diriku dan Al-Qasim kepada dua ulama fikih di Irak, yaitu Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanya paling mampu membedakan antara kami berdua.”
Iyas berkata begitu karena tahu bahwa Al-Qasim adalah murid kedua ulama terkenal itu. Dia sendiri tidak memiliki hubungan apa pun dengan mereka. Tetapi, Al-Qasim sudah menangkap ke mana arah pembicaraan Iyas. Al-Qasim yakin, jika Khalifah Umar bin Abdul Aziz sampai berunding dengan kedua gurunya itu, pasti mereka akan memilih dirinya, bukan Iyas.
Segera Al-Qasim menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, jangan Anda tanyakan tentangku pada siapa pun. Demi Allah, Iyas ini orang yang lebih paham tentang agama Allah dan lebih mampu menjadi hakim daripada aku. Bila aku berbohong dalam sumpahku ini, maka Anda tidak pantas memilihku karena itu berarti Anda memberikan jabatan kepada orang yang cacat. Bila aku jujur, Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”
Mendengar itu, Iyas tidak kurang akal. Dia lalu berargumen, “Wahai Amirul Mukminin, Anda memanggil orang untuk dijadikan sebagai hakim. Ibaratnya, Anda sedang meletakkan orang itu di tepi jahanam. Karena itulah Al-Qasim hendak menyelamatkan diri dengan bersumpah palsu, yang bisa dia tebus dengan meminta ampun kepada Allah, sehingga selamatlah dia dari apa yang ditakutkannya.”
Apa jawab Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal adil dan zuhud itu? “Iyas, orang yang mampu berpandangan mulia seperti dirimu inilah yang pantas untuk diangkat menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai hakim di Basrah. Kelak, sejarah mencatat Iyas Al-Qadhi sebagai hakim yang bijaksana dan jujur. Selama menjabat hakim di Basrah, dia mampu memutuskan setiap masalah yang rumit secara cerdas dan sederhana.
Kita tidak usah bermimpi akan mendapati kisah serupa terjadi di zaman sekarang. Bagi orang modern seperti kita, kisah semacam itu hanya isapan jempol. Boleh jadi kita menganggap itu sekadar khayalan indah yang tidak akan terbukti di dunia nyata. Mana ada orang membuang kesempatan emas. Kebanyakan orang justru saling berebut menduduki kursi jabatan elite yang tidak semua orang berkesempatan mendapatkannya.
Orang sekarang sering merasa pandai, tetapi tidak pandai merasa. Apalagi sampai berpikir bahwa jabatan itu amanah. Ah, itu hanya kalimat hikmah saja. Itu cerita jadul alias jaman dulu. Kursi jabatan itu empuk. Kedudukan mentereng itu impian. Kekayaan melimpah itu dambaan. Pamor diri itu prestasi. Sedangkan kesempatan emas tidak datang dua kali. Hanya orang gila yang akan menyiakannya. Pusing amat dengan pendapat orang lain, yang penting kita segera menenggak manisnya harta dan ketenaran.
Tidak sedikit dari kita yang begitu gila harta dan ketenaran. Mudah menghalalkan segala cara supaya lekas sampai tujuan. Apalagi untuk sebuah jabatan atau kedudukan, mana mungkin kita malah menyodorkan nama kawan. Setiap akan digelar pemilihan pemimpin, kita justru sangat rajin mengiklankan diri. Miliaran rupiah kita gelontorkan guna mencetak selebaran dan spanduk berisi gambar kita. Kita poles diri kita demikian rupa agar dapat meraup dukungan. Kita pajang seluruh gelar kita untuk menerbitkan kesan kepintaran. Untuk menarik simpati, kita bumbui dengan sejuta janji indah.
Setiap mencalonkan diri sebagai pemimpin di level mana pun, kita selalu mengaku sebagai yang nomor satu. Menyatakan diri sebagai pemimpin harapan yang akan mengentas segala kesulitan. Untuk meyakinkan orang, di samping gambar kita harus ditempel potret orang-orang terkenal. Entah itu ulama, pimpinan organisasi, elite partai, atau siapa saja. Yang penting mampu mendongkrak perolehan suara kita di ajang pemilihan nanti.
Kita ingin menegaskan bahwa pencalonan kita telah direstui dan didukung oleh tokoh-tokoh yang potretnya nongol di samping gambar kita itu. Lucunya, ada sebuah iklan calon pemimpin yang malah memasang potret tokoh yang sudah almarhum. Mungkinkah tokoh yang berada di ribaan Allah itu masih memberikan restu dan dukungan atas pencalonannya itu?
Di tengah era yang sangat mengagungkan demokrasi ini, rakyat sulit menemukan sosok elite negeri yang menjunjung tinggi moralitas dalam politik. Kepemimpinan bagi kebanyakan elite kita tidak lebih sekadar sarana untuk memperbaiki dapur, memperbesar rumah, ganti mobil, atau menambah pasangan. Itulah profil elite negeri minus nurani dan akal sehat yang setiap hari nongol di media. Masih bisa senyum-senyum saat ditangkap karena ketahuan melakukan korupsi. Kepemimpinan mereka palsu, perjuangan mereka dusta, kecuali untuk membangun kemegahan bagi diri dan keluarga.
Lama merenung, pikirannya akhirnya tertambat pada dua nama yang dipandang memenuhi fit and proper test sebagai seorang hakim. Kedua sosok itu dikenal tegas dalam kebenaran dan cemerlang dalam pemikiran. Kepada wakilnya, Adi bin Arthah, khalifah lantas memerintahkan supaya dipanggilkan kedua nama itu. Mereka adalah Iyas bin Muawiyah Al-Muzani dan Al-Qasim bin Rabiah Al-Haritsi.
Setelah kedua calon itu menghadap, khalifah lantas menjelaskan maksudnya. Namun, masalah tidak segera tuntas, karena keduanya saling mengunggulkan rekannya. Iyas berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tolong Anda tanyakan tentang diriku dan Al-Qasim kepada dua ulama fikih di Irak, yaitu Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanya paling mampu membedakan antara kami berdua.”
Iyas berkata begitu karena tahu bahwa Al-Qasim adalah murid kedua ulama terkenal itu. Dia sendiri tidak memiliki hubungan apa pun dengan mereka. Tetapi, Al-Qasim sudah menangkap ke mana arah pembicaraan Iyas. Al-Qasim yakin, jika Khalifah Umar bin Abdul Aziz sampai berunding dengan kedua gurunya itu, pasti mereka akan memilih dirinya, bukan Iyas.
Segera Al-Qasim menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, jangan Anda tanyakan tentangku pada siapa pun. Demi Allah, Iyas ini orang yang lebih paham tentang agama Allah dan lebih mampu menjadi hakim daripada aku. Bila aku berbohong dalam sumpahku ini, maka Anda tidak pantas memilihku karena itu berarti Anda memberikan jabatan kepada orang yang cacat. Bila aku jujur, Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”
Mendengar itu, Iyas tidak kurang akal. Dia lalu berargumen, “Wahai Amirul Mukminin, Anda memanggil orang untuk dijadikan sebagai hakim. Ibaratnya, Anda sedang meletakkan orang itu di tepi jahanam. Karena itulah Al-Qasim hendak menyelamatkan diri dengan bersumpah palsu, yang bisa dia tebus dengan meminta ampun kepada Allah, sehingga selamatlah dia dari apa yang ditakutkannya.”
Apa jawab Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal adil dan zuhud itu? “Iyas, orang yang mampu berpandangan mulia seperti dirimu inilah yang pantas untuk diangkat menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai hakim di Basrah. Kelak, sejarah mencatat Iyas Al-Qadhi sebagai hakim yang bijaksana dan jujur. Selama menjabat hakim di Basrah, dia mampu memutuskan setiap masalah yang rumit secara cerdas dan sederhana.
Kita tidak usah bermimpi akan mendapati kisah serupa terjadi di zaman sekarang. Bagi orang modern seperti kita, kisah semacam itu hanya isapan jempol. Boleh jadi kita menganggap itu sekadar khayalan indah yang tidak akan terbukti di dunia nyata. Mana ada orang membuang kesempatan emas. Kebanyakan orang justru saling berebut menduduki kursi jabatan elite yang tidak semua orang berkesempatan mendapatkannya.
Orang sekarang sering merasa pandai, tetapi tidak pandai merasa. Apalagi sampai berpikir bahwa jabatan itu amanah. Ah, itu hanya kalimat hikmah saja. Itu cerita jadul alias jaman dulu. Kursi jabatan itu empuk. Kedudukan mentereng itu impian. Kekayaan melimpah itu dambaan. Pamor diri itu prestasi. Sedangkan kesempatan emas tidak datang dua kali. Hanya orang gila yang akan menyiakannya. Pusing amat dengan pendapat orang lain, yang penting kita segera menenggak manisnya harta dan ketenaran.
Tidak sedikit dari kita yang begitu gila harta dan ketenaran. Mudah menghalalkan segala cara supaya lekas sampai tujuan. Apalagi untuk sebuah jabatan atau kedudukan, mana mungkin kita malah menyodorkan nama kawan. Setiap akan digelar pemilihan pemimpin, kita justru sangat rajin mengiklankan diri. Miliaran rupiah kita gelontorkan guna mencetak selebaran dan spanduk berisi gambar kita. Kita poles diri kita demikian rupa agar dapat meraup dukungan. Kita pajang seluruh gelar kita untuk menerbitkan kesan kepintaran. Untuk menarik simpati, kita bumbui dengan sejuta janji indah.
Setiap mencalonkan diri sebagai pemimpin di level mana pun, kita selalu mengaku sebagai yang nomor satu. Menyatakan diri sebagai pemimpin harapan yang akan mengentas segala kesulitan. Untuk meyakinkan orang, di samping gambar kita harus ditempel potret orang-orang terkenal. Entah itu ulama, pimpinan organisasi, elite partai, atau siapa saja. Yang penting mampu mendongkrak perolehan suara kita di ajang pemilihan nanti.
Kita ingin menegaskan bahwa pencalonan kita telah direstui dan didukung oleh tokoh-tokoh yang potretnya nongol di samping gambar kita itu. Lucunya, ada sebuah iklan calon pemimpin yang malah memasang potret tokoh yang sudah almarhum. Mungkinkah tokoh yang berada di ribaan Allah itu masih memberikan restu dan dukungan atas pencalonannya itu?
Di tengah era yang sangat mengagungkan demokrasi ini, rakyat sulit menemukan sosok elite negeri yang menjunjung tinggi moralitas dalam politik. Kepemimpinan bagi kebanyakan elite kita tidak lebih sekadar sarana untuk memperbaiki dapur, memperbesar rumah, ganti mobil, atau menambah pasangan. Itulah profil elite negeri minus nurani dan akal sehat yang setiap hari nongol di media. Masih bisa senyum-senyum saat ditangkap karena ketahuan melakukan korupsi. Kepemimpinan mereka palsu, perjuangan mereka dusta, kecuali untuk membangun kemegahan bagi diri dan keluarga.
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN
November 11, 2013
Empati Pemimpin
Menurut riwayat Baihaqi dan Ibnu Asakir, Khalifah Umar bin Khattab
pernah berkata, “Di antara keturunanku, ada seseorang yang terdapat
bekas luka di wajahnya. Dia adalah orang yang akan menegakkan keadilan
di muka bumi.” Siapakah yang diramalkan Umar itu?
Dialah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abi Ash. Lahir di keluarga ulama dan bangsawan, dia mewarisi jiwa kepemimpinan kakek buyutnya, Umar bin Khattab. Ibunya bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai gubernur Mekah dan Madinah pada masa Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam Bani Umaiyah. Setelah mangkatnya Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah ketujuh Bani Umaiyah sekaligus sepupu dari jalur ayahnya, Umar bin Abdul Aziz kemudian diangkat sebagai khalifah kedelapan Bani Umaiyah.
Kelak, sejarah mencatat nama Umar bin Abdul Aziz dengan tinta emas. Sejak menjabat khalifah, dia langsung meninggalkan semua hartanya. Kesederhanaan adalah pilihan hidupnya. Ketika sedang berbincang dengan istrinya di ranjang kamar, tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz teringat akhirat. Mukanya berubah pucat, seperti seekor burung yang berada di atas air. Dia lalu duduk, kemudian menangis. Melihat itu, istrinya yang bernama Fatimah bin Abdul Malik berkata, “Seandainya saja jarak antara kami dan tugas kekhalifahan dijauhkan seperti jauhnya jarak antara barat dan timur.”
Umar bin Abdul Aziz tidak merasa enak-enakan memegang tampuk kuasa. Dia mengumpulkan sejumlah ulama fikih di Madinah, seperti Urwah bin Zubair bin Awwam, Ubaidillah bin Atabah, Abu Bakar bin Abdurrahman, Sulaiman bin Yasar, Qasim bin Muhammad Salim bin Abdullah, Abdullah bin Ibnu Amir, Kharijah bin Zaid, Abu Bakar bin Sulaiman, dan Abdullah bin Abdullah Ibnu Umar bin Khattab. Mereka semua diminta menulis setiap kezaliman yang mereka lihat. Padahal keadaan rakyat di bawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz sangat sejahtera. Kas negara melimpah. Tanah-tanah ditanami. Sumur-sumur air meruah. Jalan-jalan licin. Masjid-masjid banyak dan ramai. Hebatnya, tidak ada orang miskin yang mau menerima sedekah. Gaji pegawai juga mencapai 300 dinar.
Tidak ditemukan kezaliman menimpa rakyat, karena keadilan sangat dijunjung tinggi. Bahkan, salah seorang pejabat negara bernama Jarah Al-Hukmi pernah dicopot gara-gara mengambil upeti dari orang-orang yang sudah masuk Islam. Padahal, Jarah Al-Hukmi melakukan itu karena paham bahwa orang-orang tersebut masuk Islam semata agar selamat dari kewajiban membayar upeti. Tetapi, ketegasan sang khalifah ternyata tidak tebang pilih. Tidak heran, para ulama sepakat bahwa Umar bin Abdul Aziz merupakan salah seorang Al-Khulafa Ar-Rasyidun. Seperti dikatakan Imam Syafi’i, “Al-Khulafa Ar-Rasyidun itu ada lima. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan Umar bin Abdul Aziz.”
Sejarah Islam dipenuhi kisah-kisah heroik dan berpengaruh besar terhadap peradaban. Sekian lama manusia hidup di masa-masa kelam, kehadiran Islam jelas merupakan babak baru sejarah yang memancarkan cahaya benderang. Di balik sejarah gemilang tentu ada sosok-sosok cemerlang di belakangnya. Karena, sejarah terhormat pasti lahir dari aktor-aktor terhormat. Sebaliknya, sejarah menjadi kelam karena dikendalikan aktor-aktor pecundang. Hari ini, umat Islam di seluruh dunia dan Indonesia khususnya, sedang berada di roda bagian bawah sejarah. Kita menanti lahirnya pemimpin-pemimpin besar yang mampu melambungkan umat Islam ke mercusuar peradaban.
Kita merindukan sosok pemimpin yang memiliki kecerdasan brilian dan empati besar semacam empat khalifah pengganti Rasulullah, Said bin Amir Al-Jumahi, Al-Ala Al-Hadhrami, Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz, Abu Ja’far Al-Mansur, Al-Mahdi, Harun Rasyid, Abdullah Abu Abbas Al-Makmun, dan pemimpin lain sekaliber mereka.
Nabi dan Rasul itu berpikiran brilian, empati mereka besar. Misalnya, dengan kebijakannya yang cerdas, Nabi Yusuf mampu menyelamatkan rakyat Mesir dari bencana kelaparan. Persediaan makanan di gudang negara sangat cukup untuk menghidupi rakyat selama tujuh tahun Mesir dilanda kekeringan. Bahkan, stok kebutuhan pokok itu juga digunakan untuk menyuplai tetangga-tetangga Mesir yang sedang mengalami krisis pangan. Rombongan peminta bantuan berdatangan, termasuk rombongan saudara-saudara Nabi Yusuf dari Palestina yang dulu sangat memusuhinya.
Juga Nabi Musa yang siap pasang badan demi menyelamatkan rakyatnya dari kekejaman Firaun Minephtah. Hati Nabi Musa teriris-iris menyaksikan rakyat Bani Israil di Mesir menjadi bulan-bulanan raja super zalim itu. Sementara, tidak seorang pun berani menentang titah Firaun, termasuk kebijakannya untuk membunuh setiap jabang bayi laki-laki. Rumah-rumah penduduk dimasuki petugas Firaun untuk memeriksa setiap ibu yang baru melahirkan bayi. Kesewenang-wenangan itulah yang menggugah Nabi Musa. Sedari bayi hidup sebagai anak pungut Firaun ternyata tidak menghentikan tekad Nabi Musa untuk menumpas beragam kekejaman Firaun. Semuanya untuk rakyat Bani Israil.
Pemimpin besar terbukti mampu memposisikan perasaan dan keadaan dirinya seperti perasaan atau keadaan rakyat yang dipimpinnya. Itulah pemimpin yang memiliki empati. Tentu empati tidak hanya didasarkan atas kekayaan, jabatan, keturunan, kepintaran, dan prestasi seseorang. Bagi pemimpin besar, simbol-simbol bersifat keduniaan itu sudah melebur dalam dirinya, berganti rasa kepedulian dan kasih sayang. Kepada siapa pun, termasuk kalangan jelata sekali pun, pemimpin besar tidak akan berlaku pilih kasih. Tidak kenal istilah pandang bulu. Pemimpin besar sangat mencintai sekaligus dicintai rakyatnya.
Ada kisah mengharukan yang terjadi pada awal-awal Islam datang di Mekah. Selain Khadijah binti Khuwailid, Waraqah bin Naufal, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar As-Shiddiq, beberapa orang miskin, seperti Zaid bin Haritsah, Said bin Abu Waqqas, Ibnu Mas’ud, dan Bilal bin Rabah juga menyatakan keimanan kepada Rasulullah. Tetapi ketika mereka berkumpul bersama Rasulullah, para pembesar dari kalangan kafir Mekah datang dan berkata, “Usirlah mereka dari kami!” Tampaknya mereka merasa tidak level duduk satu majelis dengan orang-orang rendahan itu. Apa jawab Rasulullah? Beliau membacakan firman Allah yang seketika itu turun sebagai jawaban atas penghinaan kafir Mekah kepada orang-orang yang sebenarnya sangat mulia di sisi Allah itu.
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).” [QS Al-An’am/6: 52].
Pemimpin sekarang harus menakar kebesarannya. Memimpin tidak cukup hanya bermodal uang, popularitas, citra, apalagi tampang. Selain kecerdasan, empati yang besar mutlak diperlukan dalam tugas kepemimpinan. Dengan demikian, tidak akan ada rakyat yang menjadikan pemimpin sebagai sasaran kebencian dan hinaan. Pejabat di bawahnya juga akan bekerja secara benar, jujur, dan ikhlas. Seluruh rakyat merasa senang dan bangga karena memiliki pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan dan kesejahteraan mereka.
Dialah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abi Ash. Lahir di keluarga ulama dan bangsawan, dia mewarisi jiwa kepemimpinan kakek buyutnya, Umar bin Khattab. Ibunya bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai gubernur Mekah dan Madinah pada masa Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam Bani Umaiyah. Setelah mangkatnya Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah ketujuh Bani Umaiyah sekaligus sepupu dari jalur ayahnya, Umar bin Abdul Aziz kemudian diangkat sebagai khalifah kedelapan Bani Umaiyah.
Kelak, sejarah mencatat nama Umar bin Abdul Aziz dengan tinta emas. Sejak menjabat khalifah, dia langsung meninggalkan semua hartanya. Kesederhanaan adalah pilihan hidupnya. Ketika sedang berbincang dengan istrinya di ranjang kamar, tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz teringat akhirat. Mukanya berubah pucat, seperti seekor burung yang berada di atas air. Dia lalu duduk, kemudian menangis. Melihat itu, istrinya yang bernama Fatimah bin Abdul Malik berkata, “Seandainya saja jarak antara kami dan tugas kekhalifahan dijauhkan seperti jauhnya jarak antara barat dan timur.”
Umar bin Abdul Aziz tidak merasa enak-enakan memegang tampuk kuasa. Dia mengumpulkan sejumlah ulama fikih di Madinah, seperti Urwah bin Zubair bin Awwam, Ubaidillah bin Atabah, Abu Bakar bin Abdurrahman, Sulaiman bin Yasar, Qasim bin Muhammad Salim bin Abdullah, Abdullah bin Ibnu Amir, Kharijah bin Zaid, Abu Bakar bin Sulaiman, dan Abdullah bin Abdullah Ibnu Umar bin Khattab. Mereka semua diminta menulis setiap kezaliman yang mereka lihat. Padahal keadaan rakyat di bawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz sangat sejahtera. Kas negara melimpah. Tanah-tanah ditanami. Sumur-sumur air meruah. Jalan-jalan licin. Masjid-masjid banyak dan ramai. Hebatnya, tidak ada orang miskin yang mau menerima sedekah. Gaji pegawai juga mencapai 300 dinar.
Tidak ditemukan kezaliman menimpa rakyat, karena keadilan sangat dijunjung tinggi. Bahkan, salah seorang pejabat negara bernama Jarah Al-Hukmi pernah dicopot gara-gara mengambil upeti dari orang-orang yang sudah masuk Islam. Padahal, Jarah Al-Hukmi melakukan itu karena paham bahwa orang-orang tersebut masuk Islam semata agar selamat dari kewajiban membayar upeti. Tetapi, ketegasan sang khalifah ternyata tidak tebang pilih. Tidak heran, para ulama sepakat bahwa Umar bin Abdul Aziz merupakan salah seorang Al-Khulafa Ar-Rasyidun. Seperti dikatakan Imam Syafi’i, “Al-Khulafa Ar-Rasyidun itu ada lima. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan Umar bin Abdul Aziz.”
Sejarah Islam dipenuhi kisah-kisah heroik dan berpengaruh besar terhadap peradaban. Sekian lama manusia hidup di masa-masa kelam, kehadiran Islam jelas merupakan babak baru sejarah yang memancarkan cahaya benderang. Di balik sejarah gemilang tentu ada sosok-sosok cemerlang di belakangnya. Karena, sejarah terhormat pasti lahir dari aktor-aktor terhormat. Sebaliknya, sejarah menjadi kelam karena dikendalikan aktor-aktor pecundang. Hari ini, umat Islam di seluruh dunia dan Indonesia khususnya, sedang berada di roda bagian bawah sejarah. Kita menanti lahirnya pemimpin-pemimpin besar yang mampu melambungkan umat Islam ke mercusuar peradaban.
Kita merindukan sosok pemimpin yang memiliki kecerdasan brilian dan empati besar semacam empat khalifah pengganti Rasulullah, Said bin Amir Al-Jumahi, Al-Ala Al-Hadhrami, Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz, Abu Ja’far Al-Mansur, Al-Mahdi, Harun Rasyid, Abdullah Abu Abbas Al-Makmun, dan pemimpin lain sekaliber mereka.
Nabi dan Rasul itu berpikiran brilian, empati mereka besar. Misalnya, dengan kebijakannya yang cerdas, Nabi Yusuf mampu menyelamatkan rakyat Mesir dari bencana kelaparan. Persediaan makanan di gudang negara sangat cukup untuk menghidupi rakyat selama tujuh tahun Mesir dilanda kekeringan. Bahkan, stok kebutuhan pokok itu juga digunakan untuk menyuplai tetangga-tetangga Mesir yang sedang mengalami krisis pangan. Rombongan peminta bantuan berdatangan, termasuk rombongan saudara-saudara Nabi Yusuf dari Palestina yang dulu sangat memusuhinya.
Juga Nabi Musa yang siap pasang badan demi menyelamatkan rakyatnya dari kekejaman Firaun Minephtah. Hati Nabi Musa teriris-iris menyaksikan rakyat Bani Israil di Mesir menjadi bulan-bulanan raja super zalim itu. Sementara, tidak seorang pun berani menentang titah Firaun, termasuk kebijakannya untuk membunuh setiap jabang bayi laki-laki. Rumah-rumah penduduk dimasuki petugas Firaun untuk memeriksa setiap ibu yang baru melahirkan bayi. Kesewenang-wenangan itulah yang menggugah Nabi Musa. Sedari bayi hidup sebagai anak pungut Firaun ternyata tidak menghentikan tekad Nabi Musa untuk menumpas beragam kekejaman Firaun. Semuanya untuk rakyat Bani Israil.
Pemimpin besar terbukti mampu memposisikan perasaan dan keadaan dirinya seperti perasaan atau keadaan rakyat yang dipimpinnya. Itulah pemimpin yang memiliki empati. Tentu empati tidak hanya didasarkan atas kekayaan, jabatan, keturunan, kepintaran, dan prestasi seseorang. Bagi pemimpin besar, simbol-simbol bersifat keduniaan itu sudah melebur dalam dirinya, berganti rasa kepedulian dan kasih sayang. Kepada siapa pun, termasuk kalangan jelata sekali pun, pemimpin besar tidak akan berlaku pilih kasih. Tidak kenal istilah pandang bulu. Pemimpin besar sangat mencintai sekaligus dicintai rakyatnya.
Ada kisah mengharukan yang terjadi pada awal-awal Islam datang di Mekah. Selain Khadijah binti Khuwailid, Waraqah bin Naufal, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar As-Shiddiq, beberapa orang miskin, seperti Zaid bin Haritsah, Said bin Abu Waqqas, Ibnu Mas’ud, dan Bilal bin Rabah juga menyatakan keimanan kepada Rasulullah. Tetapi ketika mereka berkumpul bersama Rasulullah, para pembesar dari kalangan kafir Mekah datang dan berkata, “Usirlah mereka dari kami!” Tampaknya mereka merasa tidak level duduk satu majelis dengan orang-orang rendahan itu. Apa jawab Rasulullah? Beliau membacakan firman Allah yang seketika itu turun sebagai jawaban atas penghinaan kafir Mekah kepada orang-orang yang sebenarnya sangat mulia di sisi Allah itu.
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).” [QS Al-An’am/6: 52].
Pemimpin sekarang harus menakar kebesarannya. Memimpin tidak cukup hanya bermodal uang, popularitas, citra, apalagi tampang. Selain kecerdasan, empati yang besar mutlak diperlukan dalam tugas kepemimpinan. Dengan demikian, tidak akan ada rakyat yang menjadikan pemimpin sebagai sasaran kebencian dan hinaan. Pejabat di bawahnya juga akan bekerja secara benar, jujur, dan ikhlas. Seluruh rakyat merasa senang dan bangga karena memiliki pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan dan kesejahteraan mereka.
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN
November 07, 2013
Oleh Nasrullah MU
posted by @Adimin
Kasus Import Sapi, Cerita Sampah yang Menghebohkan
Written By Sjam Deddy on 07 November, 2013 | November 07, 2013
Seluruh tersangka kasus import sapi seperti Fatonah dan Indoguna sudah
divonis dipengadilan Tipikor. Tinggal LHI yang belum divonis. Namun
sepertinya sidang-sidang LHI memasuki tahap akhir.
Awal kasus ini terungkap hebohnya sangat luar biasa dari uang 1,3 milyar, 17 milyar hingga 40 milyar. Lalau kemama uang itu mengalir ?
Sampai sidang-sidang terakhir tak satu pun uang itu yang mengalir ke LHI dan PKS. 1,3 milyar ternyata negoisasi pribadi Fatonah kepada Indoguna. Tidak ada permintaan dan aliran uang ke LHI dan PKS. Semua berakhir di Fatonah.
Saat Fatonah ditangkap, memang ada sadapan telpon bahwa Fatonah menelpon LHI, namun isinya berupa pembicaraan “ada yang menggembirakan”. Namun maksudnya apa semua masih multitafsir. Ketika ditanya majlis hakim, Fatonah mengakui bahwa LHI tidak tahu sama sekali tentang 1 milyar tersebut dan Fatonah mengakui hanya mencatut LHI saja.
Soal 17 milyar dan 40 milyar, ternyata berdasarkan sadapan telpon uangnya justru dibawa oleh Sengman yang merupakan orang dalam lingkaran Istana. Namun sayang KPK dan majlis hakim tidak mau dan tidak berminat untuk menggali cerita soal Sengman. Walau di BAP nama Sengman juga disebutkan.
Fatonah ternyata punya hutang ke LHI, sehingga segala aliran uang ke LHI dianggap sebagai aliran pembayaran hutang dari Fatonah. Lalu dimana cerita Suap, Korupsi dan Gratifikainya ?
Ya…semua hanya cerita untuk menghebohkan media saja….
Awal kasus ini terungkap hebohnya sangat luar biasa dari uang 1,3 milyar, 17 milyar hingga 40 milyar. Lalau kemama uang itu mengalir ?
Sampai sidang-sidang terakhir tak satu pun uang itu yang mengalir ke LHI dan PKS. 1,3 milyar ternyata negoisasi pribadi Fatonah kepada Indoguna. Tidak ada permintaan dan aliran uang ke LHI dan PKS. Semua berakhir di Fatonah.
Saat Fatonah ditangkap, memang ada sadapan telpon bahwa Fatonah menelpon LHI, namun isinya berupa pembicaraan “ada yang menggembirakan”. Namun maksudnya apa semua masih multitafsir. Ketika ditanya majlis hakim, Fatonah mengakui bahwa LHI tidak tahu sama sekali tentang 1 milyar tersebut dan Fatonah mengakui hanya mencatut LHI saja.
Soal 17 milyar dan 40 milyar, ternyata berdasarkan sadapan telpon uangnya justru dibawa oleh Sengman yang merupakan orang dalam lingkaran Istana. Namun sayang KPK dan majlis hakim tidak mau dan tidak berminat untuk menggali cerita soal Sengman. Walau di BAP nama Sengman juga disebutkan.
Fatonah ternyata punya hutang ke LHI, sehingga segala aliran uang ke LHI dianggap sebagai aliran pembayaran hutang dari Fatonah. Lalu dimana cerita Suap, Korupsi dan Gratifikainya ?
Ya…semua hanya cerita untuk menghebohkan media saja….
Oleh Nasrullah MU
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN









