pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Sikap Koalisi PKS Ditentukan di Rapat Majelis Syuro

Written By Anonymous on 23 April, 2014 | April 23, 2014

Presiden PKS Anis Matta (Foto: Heru/Okezone)
  
PADANG - Hasil hitung cepat (quick count) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan suara 6,9 persen dalam pemilu legislatif. Dengan perolehan tersebut, PKS akan segera menentukan sikap untuk berkoalisi dengan partai lain.

Keputusan akan diambil dalam rapat majelis syuro 27 April mendatang. "Insya Allah tanggal 27 April, PKS akan ada majelis syuro. Disitu akan dibahas. Paling lambat tanggal 9-10 Mei," ujar Anggota Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri di sela pembukaan Rapat Koordinasi Pengembangan SDM dan Pembangunan Kesos III Tahun 2014 di Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (22/4/2014).

Kendati demikian, Menteri Sosial enggan menyebut partai mana yang akan menjadi pilihan PKS untuk berkoalisi. Menurutnya hasil tersebut akan segera diumumkan usai rapat.

"Belum tahu, nanti yang jelas akan dibahas salah satunya PKS akan berkoalisi dengan siapa, itu yang real yang akan dibahas," tegasnya.

Dia tak memungkiri kemungkinan koalisi dengan partai Islam lain dan membentuk poros tengah jilid II. Menurutnya, hal tersebut juga akan dibahas dalam majelis syuro. "Poros tengah bisa, poros samping bisa. Bisa semua. Tapi kan tidak sekarang, nanti dibahasnya," paparnya. [ded/okezone]


posted by @Adimin

Pleno Terbuka Padang Pariaman, PKS Dapat 4 Kursi di DPRD

PKS mendapat 4 kursi dari total 40 kursi di DPRD Padang Pariaman, ini di dapat dari hasil rapat pleno terbuka KPU di aula IKK, Parit Malintang, Kecamtan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, minggu (20/4) lalu.

Ke empat kursi yang di dapat masing-masing mewakili empat dapil yang ada. Berikut adalah nama aleg PKS yang di perkirakan duduk di DPRD Padang Pariaman periode 2014-2019.

Dapil 1: Jon Hendri  daerah pemilihan (Sungai Limau, Sungai Geringging, IV Koto Aua Malintang dan Batang Gasan)

Dapil 2: Bahzar  daerah pemilihan (V Koto Kampung Dalam, V Koto Timur, VII Koto Sungai Sariak, Patamuan dan Padang Sago)

Dapil 3: Hendrawati  daerah pemilihan (Ulakan Tapakis, Nan Sabaris, Enam Lingkung, 2x11 Enam Lingkung dan 2x11 Kayu Tanam)

Dapil 4: Suryadi Zukri Ali  daerah pemilihan (Sintuak Toboh Gadang, Lubuk Alung dan Batang Anai)

[al/sglg]


posted by @Adimin

PKS Raih 5 Kursi di DPRD Padang


Setelah dilaksanakan rapat Pleno KPU 20-21 April 2014 lalu, maka berikut ini adalah perkiraan anggota DPRD Kota Padang 2014-2019 yang akan duduk di gedung DPRD Kota Padang selama 5 tahun kedepan berdasarkan nomor urut partai.

NasdemMailinda Rose, Dian Anggraini Oktavia, Amrizal Hadi, Azirwan

PKBIswandi

PKS: Muharlion, Hadison, Budiman, Muhidi, Djunaidy Hendry

PDIPWilmar Panjaitan, Nuzul Putra, Iswanto Kwara

Golkar: Jumadi, Zulhardi Z. Latif, Dinul Akbar, Helmi Moesim, Wahyu Iramana Putra

Gerindra: Delma Putra, Muzni Zen, Dewi Susanti, Elly Thrisyanti*, Emmu Azamri, Erisman

Demokrat: Gustin Pramona, Usman Ismail, Surya Jufri Bitel, Ilham Maulana, Yulisman

PAN: Fakhri Bahar, Yandri, Asrizal, Masrul*, Amril Amin, Faisal Nasir

PPP: Yuhilda Darwis, Dasman, Nila Kartika, Maidestal Hari Mahesa

Hanura: Elvi Amri, Zaharman, Yendril, Rafli, Osman Ayub

PBB: Arpendi Dt Tan Bagindo



posted by @Adimin

Terima Kasih atas "Suara Cinta" Untuk Partai Dakwah | Ketua DPP PKS Wilda Sumatera

PEKANBARU - Dalam bincang santai pksmarpoyan.org bersama Drs. H. Chairul Anwar, Apt, Ketua DPP PKS Wilayah Sumatera menyampaikan bahwa PKS merasa berbesar hati dan bersyukur setelah melihat hasil perolehan suara dan kursi usai Pileg 2014 di Riau.

Hal itu disampaikannya kepada pksmarpoyan.org Selasa pagi, (22/04/14), "Alhamdulillah, suara PKS di Riau ini grafiknya ada yang bertahan, ada yang naik, ada juga yang turun, inilah dinamika pemilu, kita syukuri semuanya," katanya.

Selanjutnya beliau menggaris bawahi pula, "Setelah melihat hasil ini (pleno KPUD di beberapa kab./kota di Riau) kita semakin percaya bahwa suara PKS adalah murni suara cinta dari masyarakat Riau untuk partai dakwah ini. Ini adalah hasil dari kerja kader dan relawan PKS yang bergerak bersama-sama," kata ustadz yang diprediksi lolos ke DPR RI ini.

Beliau menegaskan bahwa PKS di akar rumput telah berupaya bergaul dan bersosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat sejak pemilu sebelumnya, baik melalui pendekatan dakwah maupun aksi sosial, yang merupakan inspirasi bagi semua kader PKS dengan slogan, "Apapun Yang Terjadi, Kami Tetap Melayani."

Karena itu Chairul Anwar, selaku Ketua DPP PKS dan anggota Majelis Syura PKS menyampaikan tiga hal, pertama, ucapan Terimakasih dari DPP PKS, dan memberikan apresiasi kepada seluruh kader dan relawan PKS di Riau atas usahanya memenangkan PKS di tengah dugaan derasnya money politic selama berlangsungnya pemilu legislatif 2014 kemarin.

Kedua, Terus bekerja melayani umat dan bangsa, diawali dengan kembali melakukan  Konsolidasi pasca pemilu legislatif ini, dan bersiap melanjutkan perjuangan memenangkan pemilu-pemilu berikutnya. Yang terdekat tentunya Pilpres dan Pilkada di beberapa kabupaten/kota.

Ketiga, senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah SWT agar dimudahkan dan diberikan jalan menuju kemenangan itu. "Harapan kita mudah-mudahan berikutnya di Pileg 2019 mendatang menjadi Era-nya PKS," kata Chairul dengan senyum optimisnya. [adn/pksmarpoyan]



posted by @Adimin

Pengamat: Saatnya Partai Islam Jawab Tantangan Bung Karno

 
Partai-partai Islam dan berbasis massa Islam dinilai berada dalam momentum tepat untuk meraih tampuk kekuasaan politik di pemerintahan, baik eksekutif maupun legislatif.

Pengamat politik Islam Universitas Indonesia, Dr. Abdul Muta'ali menegaskan, saat ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengejawantahkan politik Islam yang harmonis dan akomodatif.

"Setelah dunia tidak mendapatkan jawabannya dari politik Islam di Mesir atas kemenangan Partai Ikhwanul Muslimin (IM), saatnya Indonesia menunjukkan politik Islam yang rahmatan lil a'lamin," tutur Abdul Muta'ali saat dihubungi Republika, Senin malam (21/4), melalui layanan pesan singkat (sms).

Sejatinya, ujar Abdul Muta'ali, partai-partai politik Islam di Indonesia telah memperoleh suara sangat signifikan dalam pemilihan umum (pemilu) legislatif pada April 2014 lalu.

Abdul Muta'ali menjelaskan, sudah sepatutnya dan sewajarnya parpol-parpol Islam itu sanggup membangun identitas politiknya dengan cara berkoalisi. Apalagi jika perolehan suara mereka digabung, perolehannya tembus di angka 31%.

Dalam dialog antara Soekarno dan Muhammat Natsir, lanjut Abdul Muta'ali, Soekarno pernah menyatakan: "Kalian boleh mayoritas dalam jumlah, namun kalian tidak akan pernah sanggup melawanku secara politik di Parlemen".

Seharusnya, jelas Abdul Muta'ali, ucapan Soekarno itu menjadi tantangan yang harus dijawab parpol-parpol Islam saat ini.

"Pemilu legislatif 2014 ini jelas merupakan aspirasi suara 'pulang kampung' untuk Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Joko Widodo. Pasalnya, 'Jokowi Effect' terbukti tidak ngefek," tegas Abdul Muta'ali yang juga Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) UI.

Mengapa hal itu terjadi? Karena pada saat yang bersamaan, terang Abdul Muta'ali, masyarakat Muslim Indonesia sudah mengendus perihal Partai Banteng yang sedang menghipnotis mereka.

Jadi, ujar Abdul Muta'ali, hasil pemilu legislatif 2014 menunjukkan masyarakat muslim Indonesia sudah tidak mau dikibuli lagi setelah kasus Solo dan Jakarta.[rol]


posted by @Adimin

"Membeli Kemenangan" | Oleh Akmal Sjafril

Written By Anonymous on 22 April, 2014 | April 22, 2014



“Andaikan kalian sanggup berkomitmen untuk begini dan begitu, tentu akan saya dukung. Tapi sejauh ini, saya masih melihat banyak kekurangan dari diri kalian. Sesungguhnya kita tidak mungkin membersihkan lantai yang kotor dengan kain pel yang kotor!”

Kalimat semacam di atas, dalam berbagai varian bentuknya, sering sekali terdengar. Hemat saya, terutama ungkapan yang terakhir, memang dapat menemukan konteksnya dalam banyak kasus, namun tidak untuk semua kasus. Memang benar, kain pel yang akan digunakan untuk membersihkan lantai tidak boleh kotor. Tapi sebersih apakah ‘tidak kotor’ itu sebenarnya?

Khalid ibn Walid ra bisa dibilang ‘bukan siapa-siapa’ ketika situasi memaksanya untuk menjadi pemimpin pasukan Muslim di Perang Mu’tah. Rasulullah saw telah menyerahkan bendera pasukan kepada Zaid ibn Haritsah ra, dan berwasiat agar memberikannya kepada Ja’far ibn Abu Thalib ra jika Zaid ra gugur, kemudian berwasiat lagi agar memberikannya kepada ‘Abdullah ibn Rawahah ra jika Ja’far ra gugur. Allah SWT berkehendak ketiga panglima nan gagah ini menjadi syuhada. Saat itulah kaum Muslimin berembuk dan mengangkat Khalid ibn Walid ra – yang belum lama masuk Islam – untuk menjadi pemimpin mereka. Khalid ra, yang di Perang Uhud mengayunkan pedangnya untuk menghabisi kaum Muslimin, kini menjadi Syaifullaah (Pedang Allah) yang akhirnya mampu membawa pasukan Muslim meraih kemenangan.

Dalam pasukan yang dikirim ke Perang Mu’tah itu, tidak tertutup kemungkinan ada yang jauh lebih senior, jauh lebih bagus ibadahnya, dan jauh lebih baik akhlaq-nya daripada Khalid ra. Apalagi, sebelum memeluk Islam, Khalid ra bertahun-tahun mendapat pendidikan dari sang ayah, Walid bin al-Mughirah, yang sangat memusuhi Islam. Akan tetapi, Khalid ra adalah orang yang sangat pas untuk memimpin pasukan Muslim, baik di Perang Mu’tah ataupun di perang-perang sesudahnya.

Jika kita ingin mencari ‘kain pel’ yang putih bersih tanpa noda sama sekali, tentu kita akan berpaling kepada orang-orang yang sudah lama memeluk Islam, atau yang telah membersamai Rasulullah saw sejak dahulu, misalnya Abu Bakar ra. Akan tetapi, jika yang dibutuhkan adalah seorang panglima, maka Khalid ra nyaris tak punya pesaing.

Tentu saja kita tidak hendak mengatakan bahwa ‘kain pel’ yang bersih itu tidak penting. Hanya saja, dalam banyak kasus, kita tidak perlu menunggu kedatangan kain pel yang bersih mengkilat sebersih kain pel di toko sebelum akhirnya benar-benar membersihkan lantai. Tidak semua kondisi ideal dapat tercapai. Bahkan seringnya, jika kita menunggu-nunggu kondisi ideal terjadi, maka kita tidak akan beranjak dari tempat kita berada sekarang. Orang-orang tua jaman dahulu sudah mengajarkan sebuah kebijakan: tak ada rotan, akar pun jadi.

Di tengah-tengah generasi Muslim akhir jaman ini, ke manakah akan kita cari seorang Abu Bakar ra atau seorang ‘Umar ibn al-Khaththab ra? Di manakah akan kita temukan sang pemimpin yang bersih tiada cela, yang kuat ibadahnya, terpuji akhlaq-nya dan cemerlang akalnya, hingga kita tak bisa menyebutkan barang satu saja keburukannya?

Betapa banyak orang yang merasa dirinya terlalu suci untuk bergabung dengan yang lain. Ia dapat menghitung secara terperinci sekian ratus kesalahan mereka. Shalatnya salah di sini dan di situ, caranya mendidik anak kurang begini dan begitu, kesehariannya masih kurang yang ini dan itu. Ia merasa tak punya harapan jika harus bergabung dengan orang-orang yang dianggapnya tak membuatnya lebih baik. Ia lupa bahwa – andaikan benar – tak ada orang yang bisa membawa kebaikan pada dirinya, maka ia sendirilah yang berkewajiban membawa kebaikan itu pada orang-orang di sekitarnya.

Betapa banyak orang yang bagus ibadahnya namun menyimpan semua kebaikan untuk dirinya sendiri. Ia membenci si pelaku dosa sebagaimana ia membenci dosa itu. Ia selalu sendiri, karena di sekelilingnya hanya ada para pembuat dosa, dan ia khawatir ia pun akan melakukan dosa yang sama jika bergaul bersama mereka. Ia hibur dirinya sendiri dengan kata-kata Rasulullah saw yang mengisyaratkan bahwa kelak orang-orang yang memegang teguh agama ini akan menjadi ‘asing’. Ia lupa sama sekali bahwa setiap kamus bahasa Indonesia selalu membedakan makna “orang asing” dengan “orang yang mengasingkan diri”.

Pada akhirnya, ia menghibur dirinya sendiri dengan menolak semua tuduhan bahwa ia telah memelihara penyakit ukhuwwah dalam dirinya sendiri. Muncullah kalimat seperti di atas tadi, yang menegaskan bahwa ia siap bergabung kapan saja dan berkomitmen penuh, asalkan yang hadir di hadapannya adalah kelompok yang serbasempurna dan tak pernah salah.

Janganlah heran sekiranya orang semacam ini pada akhirnya selalu berjalan sendiri. Kalaupun ia menemukan teman-teman yang segagasan dengannya, mereka hanya akan berkumpul (atau lebih tepatnya bergerombol) dan tidak jalan ke mana-mana. Mereka hanyalah sekumpulan orang malang yang diam sambil menunggu kendaraan yang tak kunjung lewat, sambil mengutuki jaman yang terus berganti.

Manusia, sebagaimana yang telah kita maklumi bersama, bukan hanya tak ada yang sempurna, namun juga tak bisa menyempurnakan dirinya sendiri. Setiap anak dibesarkan bukan atas usaha dirinya sendiri, bukan pula hanya oleh kerja keras kedua orang tuanya, melainkan juga oleh lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, duhai tuan-tuan, pahamilah bahwa masyarakat yang sakit parah selamanya takkan melahirkan pemimpin yang baik. Bolehlah berikan pengecualian kepada para Nabi, karena mereka dibimbing langsung oleh Allah. Tapi di luar itu, berlaku hukum yang sama.

Maka, duhai tuan-tuan yang suci, janganlah bermimpi akan berjumpa dengan pemimpin besar nan adil jika masyarakatnya masih jauh dari nilai-nilai kebaikan. Jika para guru dan orang tua masih ridha siswa-siswi menyontek asalkan lulus UN, maka janganlah menolak takdir jika kelak mereka makan uang haram hasil korupsi. Jika orang tua masih susah mematuhi rambu lalu lintas atau menerobos lampu merah, janganlah terlalu kecewa sekiranya sang anak cepat belajar dan melanggar segala aturan dengan mudah di usia remaja. Dan tentu saja, jika engkau, tuan-tuan yang suci ini, tidak pernah membimbing umat untuk menyucikan diri dan perbuatannya, maka jangan memasang impian terlalu tinggi agar kelak suatu hari negeri ini makmur sejahtera dan dilimpahi rahmat Allah SWT dari segala penjurunya.

Orang-orang beriman tidak mengenal putus asa selama mereka masih merasakan kebersamaan dengan Allah SWT. Kita tidak berputus asa dengan negeri ini, sebagaimana kita tidak berputus asa dengan perkumpulan atau organisasi apa pun yang kita bentuk untuk membangun negeri. Jika ada kekurangan, maka itulah kenyataan, sebagaimana kenyataan yang biasa kita hadapi di tengah-tengah generasi Muslim akhir jaman ini. Kita telah berdamai dengan kenyataan bahwa keadaan negeri ini masih jauh dari ideal, dan kita berusaha menyelamatkannya dengan berbagai cara. Oleh karena itu, kita berdamai pula dengan kenyataan bahwa orang-orang yang memiliki komitmen sama dengan kita pun masih jauh dari ideal, namun kita menghargai tekadnya untuk terus memperbaiki diri dan mensyukuri kenyataan bahwa masih ada sekelompok orang yang mau menerima kita dengan segala kekurangan kita.

Berhentilah menunggu. Kemenangan yang sesungguhnya takkan hadir di depan mata dan tak bisa kaubeli begitu saja. Kemenangan itu ada di depan sana, menunggu orang-orang yang siap untuk jatuh-bangun dalam memperjuangkannya. [pyg]


posted by @Adimin

Inilah Program Utama Koalisi Partai Islam

Jakarta (22/4) - Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Almuzzammil Yusuf menegaskan calon presiden dan calon wakil presiden dari koalisi partai Islam bisa dari kader partai atau non partai. Yang terpenting mereka memiliki program kerja keumatan dan kebangsaan yang jelas lima tahun ke depan.

“Program utama capres dan cawapres koalisi partai Islam menurut saya tidak usah muluk-muluk, cukup berfokus pada 3 program utama yang diisyaratkan dalam Alquran, Surat Quraisy. Tiga pesan tersebut akan mudah diingat publik. Yakni keteladanan relijius, ketahanan pangan dan keamanan publik,” jelas Wakil Ketua Komisi III DPR RI ini di Jakarta, Selasa (22/4).

Program pertama, tentang keteladanan relijius, kata Muzzammil, capres dan cawapres Koalisi Partai Islam harus orang yang mampu melaksanakan syiar minimal Islam kepada publik. 

“Minimal Capres/Cawapres itu jelas sholat 5 waktunya tepat waktu di masjid/musholla berjamaah bersama para menteri-menterinya di sela-sela sidang kabinet. Itu adalah syiar minimal keseharian kepala negara di negara mayoritas Muslim. Sehingga rakyat akan meniru,” Kata Ketua DPP PKS ini.

Selain itu, menurut Muzzammil, capres dan cawapres dari Koalisi Partai Islam akidahnya harus bersih dan akhlak minimalnya tidak melakukan hal-hal tercela.

“Jika tiang agama kokoh, maka tiang negara akan kokoh. InsyaAlloh pemimpin negara yang seperti ini akan mendatangkan keberkahan bagi rakyatnya,” Papar politisi PKS asal Lampung ini.

Program kedua capres dan cawapres koalisi partai Islam, menurut Muzzammil, adalah pembebasan masyarakat dari haus dan lapar melalui program ketahanan pangan.

"Dalam bahasa Alqurannya ath'amahum min ju', program ini kemudian bisa diperluas dengan pemenuhan 4 kebutuhan pokok lainnya yaitu sandang, papan, pendidikan dan kesehatan," Ujarnya. 

Program ketiga, menurut Muzzammil adalah memberikan jaminan Keamanan atau 'wa amanahum min khouf' kepada publik, melalui penghormatan HAM dan penegakan hukum dan keadilan.

“Maka Capres koalisi partai Islam harus memiliki komitmen untuk melakukan reformasi dan penguatan TNI, Polri, dan aparatur penegak hukum lainnya,” tegas alumni FISIP Universitas Indonesia ini. 

Rasa keamanan dan keadilan tersebut, menurut Muzzammil, akan mudah dihadirkan manakala seleksi aparatur negara, sipil maupun militer, dilakukan secara jujur, transparan, berkualitas, dan tidak ada suap.

"Sehingga para aparatur negara yang melayani publik benar-benar putra-putri terbaik pelayan masyarakat. Sehingga nantinya sektor pelayanan publik akan prima dan menerapkan anti diskriminasi terhadap warganegara. Itulah ciri Islam yang merahmati semua golongan," tuturnya. 

Lebih lanjut Muzzammil menambahkan bahwa inilah tiga syarat dasar kelahiran masyarakat Madani yang ideal yang belum hadir dari lebih 15 tahun perjalanan reformasi.

"Tentu dari situ bisa dikembangkan berbagai program unggulan lainnya, sesuai RPJP yang sudah ada di undang-undang kita." Katanya.

Baik koalisi partai Islam murni atau kombinasi dengan partai nasionalis, imbuh Muzzammil, harus merealisisasikan 3 program tersebut. “Agar negara adil makmur dengan keridhoan Alloh SWT yang kita cita-citakan sejak proklamasi terwujud," pungkasnya. [pks.or.id]


posted by @Adimin

Raih Suara Tertinggi, PKS Dapat Dua Kursi di Dapil Kota Padang


Pleno KPU Kota Padang yang dimulai sejak hari minggu akhirnya selesai, 10 nama telah dipastikan akan memperoleh 10 kursi di DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Dapil Kota Padang, ada yang bertahan, ada yang naik kelas dan ada yang baru, mereka adalah:
  1. Trianda Farhan Satria (PKS)
  2. Rahmat Saleh (PKS)
  3. Albert Indra Lukman (PDI Perjuangan)
  4. Afrizal (Golkar)
  5. Hidayat.SS (Gerindra)
  6. Suwirpen Suib (Demokrat)
  7. Indra Dt Rajo Lelo (PAN)
  8. Yuliarman (PPP)
  9. Taufik Hidayat (Hanura)
  10. H.Apris (Nasdem)

Dari Dapil Kota Padang, suara terbanyak untuk DPRD Sumbar diperoleh PKS dengan jumlah suara sebanayk 47.304 suara, disusul Golkar dengan 43.067 suara, sedangkan untuk DPR RI suara terbanyak diperoleh PAN dengan jumlah suara 56.913 disusul Gerindra dengan 49.205 suara.

Sementara itu Pemenang Pileg untuk DPRD Kota Padang adalah Gerindra dengan jumlah suara sebanyak 44.538, disusul Golkar 39.658 suara.

[http://rangtalu.wordpress.com]


posted by @Adimin

Yusuf Mansur Minta Umat Berdoa Agar Koalisi Parpol Islam Berhasil

Written By Anonymous on 21 April, 2014 | April 21, 2014


JAKARTA - Pimpinan Darul Qur'an Ustaz Yusuf Mansur meminta kepada umat Islam agar berdoa kesuksesan koalisi partai politik (parpol) Islam dan bermassa Islam. Menurut Yusuf Mansur, kekuatan doa umat Islam itu bisa berdampak besar.

"Doa saja dari kita, itu ikhtiar yang terbaik yang bisa kita lakukan," ujar Yusuf Mansyur kepada Republika usai rapat ormas Islam Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Senin (21/4).

Ia berharap pada tahun politik ini tidak ada kemungkinan terburuk bagi nasib umat Islam di Indonesia. "Gak ada kemungkinan terburuk andai mau sungguh-sungguh berdoa," katanya.

Namun ia mengungkapkan hal itu tidak bisa terwujud bila memang tidak ada niatan dari umat Islam dan para pimpinan parpol Islam. "Pertanyaannya, kita semua sudah berdoa belum agar semua itu terjadi?"

Ia mengakui cukup prihatin dengan kondisi beberapa parpol Islam saat ini yang malah cenderung bukan bersatu tapi malah berpecah. "Silahkan tanya diri kita masing-masing, apakah kita atau parpol Islam memang mau ada persatuan dalam koalisi itu," terangnya. [ROL]



posted by @Adimin

[Catatan Milad PKS Ke-16] Kami Punya Banyak Nakhoda | By @antho_bandara


PKS adalah sungai kecil tempat kami bermain, wudhu dan mandi. Sedangkan Islam, kewibawaan dan kejayaannya, adalah tempat berpijak serta bernafas untuk tetap bisa hidup dalam keselamatan.

Kami tak sudi mengenal lelah dan kekalahan. Walau kadang kecewa, sebentar saja riak itu kembali tenang, takkan pernah besar bergelombang. Kami kemudian siap kembali berjuang.

PKS sekarang, mungkin hanya sungai kecil tempat kami bermain, wudhu dan mandi. Tempat berlayar rakit bambu, sampan kayu dari hilir ke hulu. Membawa pengorbanan dan perjuangan yang terus membatu.
Airnya yang jernih, jadi asupan darah segar ke otak kecil hingga ke urat nadi.

PKS jadi sumber energi buat terus belajar dan mengaji.

Harapan itu selalu ada. Bukan sekedar mimpi anak desa dibawah pohon kamboja.
Mengenang ternak gembalanya, selalu saja ada yang dimakan Srigala.

Semangat itu akan terus bergelora. Terwariskan ke anak cucu pendamba syurga. PKS menjelma jadi lautan samudra.
Memakmurkan Indonesia Raya.

Hai kapal kapal besar !...
Kami punya banyak Nakhoda.

Batam 21 April 2014

Oleh: Antho Bandara - 081277018244
Follow @antho_bandara on Twitter 



posted by @Adimin

Perempuan dan Masa Depan Bangsa Indonesia | Oleh: Herlini Amran

Oleh: Dra. Hj. Herlini Amran, MA

Memperingati peringatan hari kartini sejatinya kita harus membahas ulang tentang judul buku yang beliau tulis “Dari Gelap Terbitlah Terang” judul yang penuh makna tersebut konon diambil dari QS.Baqarah 256, dari kalimatminadzhulamaati ilannuur, "Dia (Allah) mengeluarkan mereka (manusia) dari kegelapan menuju cahaya (iman)". 

 Sejauh ini belum ada tulisan yang mencoba mengaitkan secara khusus dan detail tema buku tersebut dengan Al Quran. Akan tetapi yang pasti, tulisan Kartini tentang nasib perempuan di negeri ini telah menjadikan kebangkitan perempuan tentang posisinya dalam kehidupan private danpublic.

Dengan demikian, apabila orientasi Kartini adalah QS Al Baqarah maka boleh jadi Kartini adalah sosok yang sangat religius. Ketidaksetujuan Kartini terhadap budaya yang menjadikan perempuan sebagai pelengkap kehidupan boleh jadi didorong oleh semangat Islam amar ma’ruf nahi mungkar.

Terlepas itu semua, yang jelas Kartini telah berjasa menjadikan perempuan Indonesia memperoleh hak-haknya sebagai warga negara, tentu dapat dibayangkan apabila Kartini tidak menyerukan mungkin saja nasib perempuan Indonesia tidak seperti saat ini.

Yang jelas, kebangkitan sejati perempuan, apabila menyadari harmonisasi perempuan atau ibu dengan asas kehidupan utama, yakni moralitas. Ibu dan moralitas adalah harmoni kehidupan yang apik, ibu adalah penyambung kehidupan, sementara moralitas adalah penyelamat kehidupan. Dan, pemilik kehidupan Tuhan Semesta Alam, akan selalu melihat bagaimana setiap insan berperilaku secara bijak terhadap ibu dan moralitas. Karenanya keduanya adalah jalan bebas hambatan menuju surga. Seperti dalam sebuah hadist, “Surga dibawah telapak kaki Ibu”.

Kekuatan ibu dan moralitaslah yang telah juga melahirkan kebaikan, keberhasilan, ketangguhan kehidupan sebuah bangsa. Ingatlah bangsa yang besar sangat tergantung bagaimana ibu membesarkan anaknya, sehingga tepatlah ungkapan yang mengatakan : "al-Mar’ah ‘imad al-Bilad. Idza shaluhat shulahat al-Bilad wa idza fasadat fasadat al-Bilad”(Perempuan itu tiangnya negara. Apabila ia baik, maka baiklah negaranya. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah negara Itu). Ungkapan tersebut merupakan poros utama kehidupan manusia yakni ibu dan moralitas. “Ibu adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya”. Sehingga, ibu sangat menentukan kemajuan bangsa. 

Persoalan utamanya adalah kesenjangan dalam akses pendidikan untuk ibu dan perempuan. Banyak ibu-ibu yang pendidikannya rendah, oleh karena itu perannya dalam mendidik anaknya sejak dini sangatlah terbatas. Keterbatasan inilah yang menjadi keprihatinan kita dalam nasib perempuan di negeri ini. 

Apatah lagi, bila kita ingin menegakkan idealisme Islam tentang perempuan tentu lebih berat lagi. Karena akan membutuhkan internalisasi keislaman yang massif. Dan internalisasi nilai-nilai Islam hanya dapat dilakukan manakala pendidikan memberikan ruang dan waktu yang tepat bagi kaum muslim untuk belajar dan tumbuh sesuai fithrah Islam. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan pendidikan negara-negara muslim termasuk Indonesia jangan sampai bertabrakan dengan fithrah Islam. Indonesia hanya akan maju bila menjadikan Islam sebagai inspirasi utama dalam setiap langkahnya. Ini yang perlu disadari, karena waktu telah menunjukkan bahwa memajukan Indonesia dengan jalan menihilkan Islam justru telah menunjukkan arah yang kontra produktif, misalnya ketika Orba menjalankan kebijakan asas tunggal Pancasila, yang terjadi adalah konflik terbuka atau terselubung antara Islam dan negara. 

Demikian juga ketika Orla membuka hanya pada satu kelompok Islam sementara memusuhi kelompok Islam yang lain, juga berujung pada konflik. Untuk itu perlu disadari hubungan Islam dan negara, perlu memberikan ruang yang luas bagi Islam untuk menemukan jatidirinya. Tanpa perlu dicurigai sebagai usaha yang radikal, subversif, anti demokrasi dsb. Stigma-stigma yang memang telah tertanam lama dalam pola pandang sebagian elit di Indonesia terhadap Islam, khususnya terhadap Islam politik.

Untuk itu, para pendidik, para politisi, para birokrat perlu mengkaji ulang bagaimana pendidikan karakter dalam kebijakan pendidikan saat ini. Apakah politik pendidikan Indonesia, memberikan ruang yang luas atau terbatas bagi pendidikan Islam? Kalau memberikan ruang yang luas ternyata belum menunjukkan hasil yang maksimal, tentu perlu mengkaji apakah pelaksana pendidikan telah memiliki bekal yang cukup untuk memberikan pendidikan berkarakter? Karena bagaimanapun nilai Islam adalah ideal dan universal seperti yang telah dibuktikan di sebagian negara-negara Barat. Untuk itu, kesadaran bahwa Islam adalah solusi bagi Indonesia, perlu disosialisasikan sekaligus dibuktikan. Sehingga masyarakat merasa tenang dan tentram bersama Islam, bukan sebaliknya merasa takut dan tertekan. Untuk itu jalinan silaturahim elit Islam ke seluruh kelompok dan golongan adalah upaya kongkrit yang terus harus dilakukan agar Islam menjadi solusi di Indonesia. 

Maka dari itu, tidak salah bila kita mengembalikan semangat Kartini, maka sejatinya kita membahas tentang arti penting Islam bagi Indonesia. Islam adalah berkah untuk Indonesia. Menganggap Islam bukanlah sesuatu yang utama di Indonesia adalah pandangan utopis dan tidak mengerti sejarah Indonesia.

Oleh karenanya, kearifan para pemimpin negeri ini untuk memuliakan perempuan sangat tergantung bagaimana sikap mereka terhadap perkembangan moralitas bangsa ini secara umum. Peran perempuan tidak harus dihitung bagaimana peran perempuan dalam sector public, berapa jumlah politisi perempuan di lembaga legislative? Berapa jumlah pejabat politik dan karir dalam pemerintahan ? Dan pertanyaan lain yang berkisar tentang kuantifikasi.

Memang peningkatan kuantitas perempuan dalam sector public adalah penting. Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kebijakan yang ada, dapat meningkatkan kapasitas perempuan dalam meningkatkan kapasitas manusia Indonesia menjadi manusia yang sanggup bersaing dengan bangsa lain. Hal ini saya kira jauh lebih penting ketimbang membicarakan kuantitas peran perempuan di sector public.

Kita adalah bangsa besar yang membutuhkan manusia yang kokoh dan mandiri agar mampu bersaing pada abad-abad mendatang. Dengan kondisi saat ini, telah terjadi persaingan yang kuat antara negara, baik di tingkat regional atau internasional, sangat miris jika kita hanya menjadi pelengkap dalam silang dunia, meskipun secara geografis, posisi indonesia sangat strategis.

Kesadaran nasib bangsa kita ke depan, sangat ditentukan dengan cara pandang dan sikap kita pada kaum perempuan dan ibu yang menjadi pencetak generasi mendatang. Apabila ibu dan perempuannya lemah baik dari sisi moralitas, dan pendidikan maka masa depan bangsa ini akan suram. Namun sebaliknya bila ibu dan kaum perempuannya kokoh dan mandiri maka optimisme masa depan bangsa adalah sesuatu yang nyata.

Dengan demikian sudah saatnya, kita semua berpikir jernih agar perempuan mendapatkan hak-haknya secara penuh, sehingga mereka mampu melahirkan generasi muda Indonesia yang kuat di masa mendatang. Agar kita tidak menyesal di kemudian hari nanti. Wallahu’alam



posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger