Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
May 04, 2015
Kartika Ummu Arina
bersambung insyaALLAH . . . . .
posted by @Adimin
Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [1]
Written By dBisnis on 04 May, 2015 | May 04, 2015
Mendapatkan pasangan empatik adalah dambaan. Pasangan tak hanya
bersedia memberikan “telinganya” untuk mendengarkan, juga memberikan
perhatian dan hatinya
SEPERTI tidak ada waktu
bersama. Sepulang kantor sang suami langsung mandi, makan, kemudian
kembali sibuk dengan hp-nya; entah baca berita, ber-whatsapp atau chatting dengan fasilitas Blackberry Messenger
(BBM). Ibunya anak-anak pun terbelit dengan pekerjaan rumah tangga dan
aneka permintaan dari ananda. Akhirnya aktivitas hari itupun ditutup
dengan alasan yang selalu sama, “ngantuk”.
Rasanya awal pernikahan dulu, pasangan
bagaikan teman setia yang selalu menyediakan waktu untuk bicara. Selalu
tersedia waktu untuk curhat dan selalu ada teman lucu untuk hunting yang
seru. Tapi itu dulu. Sekarang, bisa bicara berdua untuk hal yang
penting pun langka. Lebih enak “ngobrol” dengan teman-teman di Whatsapp atau di BBM. Atau, lebih baik tidur setelah seharian berjibaku dengan rutinitas.
Bertindak Membahagiakan
Tentu ini kondisi yang tidak diinginkan
oleh siapapun. Mendapatkan pasangan yang simpatik dan empatik tentu
adalah dambaan. Pasangan yang tak hanya bersedia memberikan “telinganya”
untuk mendengarkan apa yang kita katakan tetapi juga memberikan
perhatian dan hatinya untuk bisa membahagiakan. Seperti layaknya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Siti Khadijah yang selalu
menjadi teman untuk saling mendengarkan dan membahagiakan.
Mari kita tengok dialog yang terjadi saat
Rasulullah menceritakan peristiwa di Gua Hira pada Khadijah ra, “Ketika
aku bertemu dengan Khadijah, aku duduk di pahanya dan bersandar padanya.
Khadijah kemudian bertanya, ‘Hai Abu Qasim, dimana engkau berada?
Sungguh aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka
tiba di Makkah atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil.’ Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab pertanyaan tersebut dengan
menceritakan semua hal yang dialaminya di Gua Hira. Khadijah kemudian
berkata, ‘Saudara misanku, bergembiralah dan tegarlah. Demi Dzat yang
jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku berharap kiranya engkau menjadi
Nabi bagi umat ini.’” (Sirah Ibnu Hisyam: 198).
Kita dapat melihat tindakan yang luar
biasa dilakukan Khadijah manakala melihat suaminya pulang dalam keadaan
bergetar dan menanggung ketakutan. Ia menyediakan dirinya hingga
Rasulullah Shallallu ‘Alaihi Wassallam dapat duduk dipangkuannya dan
bersandar padanya. Layaknya seorang anak yang merapat pada ibunya saat
merasa ketakutan. Kata-kata yang diucapkannya juga menenangkan dan
menegaskan kesediaan untuk menjadi pendukung Rasulullah menghadapi hal
yang besar. Padahal bila yang mendengar hal tersebut bukan Khadijah ra,
maka bukan tak mungkin yang dihadapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam adalah tuduhan mengada-ada atau saran untuk tidak terlalu
memikirkannya.
Namun, Khadijah ra memang pendamping
pilihan. Ia tidak demikian. Dengan simpatinya yang luar biasa, ia
menyediakan dirinya mendengar bahkan memberikan posisi yang nyaman bagi
suaminya. Kemudian, dengan empati yang dalam, ia menenangkan, menghibur
bahkan memberi dukungan bagi sang suami. Tak hanya sekadar simpati dan
empati, Khadijah ra pun bertindak dengan mengkonfirmasi berita yang
diterima dari suaminya pada seorang keluarganya, Waraqah bin Naufal,
untuk mengukuhkan kebenaran tersebut. Setelah kebenaran itu nyata,
Khadijah-lah yang pertama kali mengimani kerasulan suaminya.
Ibnu Ishaq menceritakan dalam sirah-nya,
“Dengan masuknya Khadijah, Allah Ta’ala meringankan beban Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika beliau mendengar perkataan yang tidak
disukainya; baik itu penolakan atau pendustaan yang membuat hatinya
sedih, maka Allah Subhanahu Wata’ala menghilangkan kesedihan beliau
dengan pulang ke rumah dan menjumpai Khadijah. Khadijah binti Khuwailid
menyemangati beliau, meringankan beban beliau, membenarkan beliau, dan
memandang remeh tanggapan manusia terhadap beliau
Kartika Ummu Arina
bersambung insyaALLAH . . . . .
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran. Tapi, itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu.
Ulama Yang Fakir
Written By dBisnis on 03 May, 2015 | May 03, 2015
Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran. Tapi, itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu.
Lihatlah sikap seorang ulama besar Islam bernama Al-Qadhi Abu
Abdillah Syarik Ibnu Abdillah an-Nakha’i al-Kufi. Dia adalah salah
seorang ulama besar pada zamannya (Tarikh Baghdad 9/288, al-Khatib
al-Baghdadi).
Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya pada pagi hari ia disambut oleh Al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian sembari membawa bubur.
Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya pada pagi hari ia disambut oleh Al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian sembari membawa bubur.
Kemudian, sahabatnya itu berkomentar, “Engkau telah banyak menyelesaikan masalah hukum, namun keadaanmu masih seperti ini.”
Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silakan duduk, duduklah!”
Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silakan duduk, duduklah!”
Keadaannya yang seperti itu tidak membuatnya mengurungkan diri
melayani sahabatnya. Mereka tetap mengobrol asyik membicarakan satu
permasalahan dari satu bab fikih nikah.
Apa yang dialami Al-Qadhi dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan, muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka di hadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga, ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).
Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeser pun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), tapi ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’-nya, ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan.
Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).
Kefakiran juga pernah dialami Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu. Umar Ibnu Hafsh al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka.
Lalu, mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Kemudian, mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya.
Apa yang dialami Al-Qadhi dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan, muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka di hadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga, ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).
Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeser pun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), tapi ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’-nya, ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan.
Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).
Kefakiran juga pernah dialami Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu. Umar Ibnu Hafsh al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka.
Lalu, mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Kemudian, mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya.
Hingga, ia kembali mengajarkan ilmu kepada mereka. (Tarikh Baghdad:
2/13, al-Khatib al-Baghdadi). Apakah kita pernah mengalami kondisi
seperti para ulama panutan umat di atas? Pernahkah kita sehari saja
lapar?
Bahron Ansori
Bahron Ansori
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
OASE,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
posted by @Adimin
Wawako : Hardiknas, Pendidikan & Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan

PADANG - Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Sekaligus modal untuk mengelola potensi yang dimiliki. Bukan saja beorientasi pada kekayaan alam, tetapi juga mengembangkan sumber daya manusia yang berkuakitas.
Hal itu disampaikan Wakil Walikota Padang H. Emzalmi sebagai amanat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5).
Pada pelaksanaan upacara yang sempat diguyur hujan lebat di Lapangan Imam Bonjol itu, Emzalmi menegaskan, agar semua elemen peduli dengan gerakan pencerdasan dan penumbuhan generasi berkarakter Pancasila.
"Saya menghimbau seluruh insan peduli pendidikan agar mengambil bagian dan peran dari gerakan ini," kata Emzalmi.
Tema Hardiknas tahun ini, "Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila", maka sejalan dengan visi Pemko Padang mewujudkan Padang sebagai kota pendidikan, perdagangan dan pariwisata yang sejahtera, religius dan berbudaya.
Guna memperkuat visi tersebut Pemko Padang melahirkan kebijakan, mulai awal tahun pelajaran 2015/2016 maka semua peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan seluruh tingkatan di Kota Padang wajib memakai baju kurung basiba bagi perempuan dan baju taluak balango bagi pria.
"Dengan kebijakan ini diharapkan akan menanamkan kekuatan jati diri, ciri dan identitas kita sebagai suku bangsa yang berbudaya lujur dan mulia," pungkas Wawako.
Sementara itu, Pemko Padang juga memberikan penghargaan terhadap sejumlah guru, pengawas, kepala sekolah, serta siswa berprestasi pada peringatan Hardiknas tahun ini. [Humas dan Protokol Kota Padang]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
Tujuh Kalimat Mustajab
Semua orang mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi, memaknai sebuah
kebahagiaan bisa berbeda antara satu dan yang lainnya. Bagi kaum
materialis, bahagia adalah jika sudah terpenuhinya segala kebutuhan
fisik. Hanya, kebutuhan fisik tidak akan pernah ada batasannya.
Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa'adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa tidak hanya ketika masih hidup di dunia, tetapi juga akan terus berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak.
Ada tujuh kalimat yang sangat mulia di sisi Allah beserta para malaikat, sekaligus menempatkan orang yang istiqamah mengamalkannya, mendapatkan ampunan Allah SWT. Inilah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki yang dicari setiap hamba Allah SWT.
Pertama, membaca basmalah (bismillah) ketika akan memulai segala sesuatu. Dengan membaca basmalah, berarti seorang hamba menyertakan permohonan keberkahan dan limpahan rahmat Allah dalam pekerjaannya.
Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa'adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa tidak hanya ketika masih hidup di dunia, tetapi juga akan terus berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak.
Ada tujuh kalimat yang sangat mulia di sisi Allah beserta para malaikat, sekaligus menempatkan orang yang istiqamah mengamalkannya, mendapatkan ampunan Allah SWT. Inilah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki yang dicari setiap hamba Allah SWT.
Pertama, membaca basmalah (bismillah) ketika akan memulai segala sesuatu. Dengan membaca basmalah, berarti seorang hamba menyertakan permohonan keberkahan dan limpahan rahmat Allah dalam pekerjaannya.
Kedua, membaca hamdalah (alhamdulillah)
ketika selesai mengerjakan sesuatu. Hamdalah adalah kalimat pujian
seorang hamba atas kemudahan dan kemurahan Allah yang menyertai
pekerjaannya.
Ketiga, membaca istighfar (astaghfirullah) jika terucap kata yang tidak patut. Perkataan kotor, nista, dan mengandung unsur nifak merupakan hal yang tercela, karenanya Islam sangat mengecam perilaku ini. Demikian juga tindakan-tindakan yang menyalahi norma agama. Maka sepatutnya bagi pelakunya untuk memohon ampunan Allah SWT.
Ketiga, membaca istighfar (astaghfirullah) jika terucap kata yang tidak patut. Perkataan kotor, nista, dan mengandung unsur nifak merupakan hal yang tercela, karenanya Islam sangat mengecam perilaku ini. Demikian juga tindakan-tindakan yang menyalahi norma agama. Maka sepatutnya bagi pelakunya untuk memohon ampunan Allah SWT.
Keempat, mengucapkan “insya Allah” ketika ingin berbuat sesuatu.
Rasulullah Muhammad SAW pernah diingatkan oleh Allah agar mengucapkan
kalimat tersebut jika menjanjikan sesuatu. Ini terkait dengan janji
Beliau untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kaum Quraisy.
Kelima, mengucapkan “la haula wala quwwata illa billahil 'aliyil adzim” jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Kalimat ini sekaligus menegaskan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan kelemahan hamba di hadapan-Nya. Keenam, mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji'un” jika sedang tertimpa musibah. Kalimat yang dikenal dengan sebutan istirja' ini menunjukkan sikap tawakal sang hamba. Dan tawakal merupakan salah satu sifat yang diperintahkan dalam Islam.
Ketujuh, membaca “La Ilaha Illallahu, Muhammadur Rosulullah” sepanjang hari, petang dan malam. Kalimat persaksian ini merupakan akar sekaligus password bagi setiap kaum Muslimin. Dengan kalimat ini seorang hamba bisa langsung mengikatkan ruhaninya dengan Sang Pencipta segala sesuatu. Kalimat yang jika dibaca di akhir hayat seseorang akan menjadi penjamin surga sekaligus pembuka pintu surga di akhirat kelak.
Kelima, mengucapkan “la haula wala quwwata illa billahil 'aliyil adzim” jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Kalimat ini sekaligus menegaskan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan kelemahan hamba di hadapan-Nya. Keenam, mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji'un” jika sedang tertimpa musibah. Kalimat yang dikenal dengan sebutan istirja' ini menunjukkan sikap tawakal sang hamba. Dan tawakal merupakan salah satu sifat yang diperintahkan dalam Islam.
Ketujuh, membaca “La Ilaha Illallahu, Muhammadur Rosulullah” sepanjang hari, petang dan malam. Kalimat persaksian ini merupakan akar sekaligus password bagi setiap kaum Muslimin. Dengan kalimat ini seorang hamba bisa langsung mengikatkan ruhaninya dengan Sang Pencipta segala sesuatu. Kalimat yang jika dibaca di akhir hayat seseorang akan menjadi penjamin surga sekaligus pembuka pintu surga di akhirat kelak.
Wallahu a'lam bishawab.
A. Khotimi Bahri
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
Pemblokiran Media Islam dan Jebakan Huntington [2]
Huntington, Bernard Lewis, dkk terus berkampanye agar Barat mengikuti
jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat,
setelah komunis
sambungan . . . .
DARI kasus doktrin ‘preemptive strike’
ini tampak bagaimana pola pikir ‘bahaya Islam’ atau ‘ancaman Islam’
yang dikembangkan ilmuwan seperti Huntington, berjalan cukup efektif.
Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran
langsung, meskipun tanpa melalui persetujuan PBB. Pola pikir Huntington,
bahwa ‘Islam’ lebih berbahaya dari ‘komunis’ juga tampak mewarnai
kebijakan politik dan militer AS tersebut.
Tentu saja, yang penting kemudian adalah
pendefinisian siapa yang dimaksud sebagai “musuh baru yang lebih bahaya
dari komunis?” Dalam Who Are We? Huntington menyebut, yang
disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usama bin Ladin atau al-Qaida
group. Tetapi, banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS.
Kata Huntington, sebagaimana dilakukan oleh Komunis Internasional dulu,
kelompok-kelompok Islam militan melakukan protes dan demonstrasi damai,
dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Mereka
juga melakukan kerja-kerja amal sosial.
Dengan definisi dan penggambaran seperti
itu, banyak kelompok Islam yang dimasukkan ke dalam kategori militan,
dan layak diserang secara dini. Tanpa menampilkan sebab-sebab dan fakta
yang komprehansif, misalnya, Huntington menulis, bahwa selama beberapa
dekade terakhir, kaum Muslim memerangi kaum Protestan, Katolik, Kristen
Ortodoks, Hindu, Yahudi, Budha atau Cina. (In recent decades, Muslims have fought Protestan, Catholic, and Orthodox Christians, Hindus, Jews, Buddhists, and Han Chinese). Ia
tidak menjelaskan, apakah dalam kasus-kasus itu kaum Muslim diperangi
dan dizalimi, atau Muslim yang memerangi. Dalam menyinggung kasus
Bosnia, misalnya, dia tidak memaparkan bagaimana kaum Muslim menjadi
korban kebiadaban yang tiada tara di Bosnia. Dan ketika itu, AS dan
sekutunya menjadi penonton yang baik atas pembasmian umat Muslim.
Samantha Power, dalam bukunya “A Problem from Hell: America and The Age of Genocide” (London:
Flamingo, 2003), membongkar habis-habisan sikap tidak peduli AS
terhadap praktik pembasmian umat manusia di berbagai tempat, termasuk di
Bosnia. Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2003.
Dalam kasus Bosnia, tulis Samantha, AS bukan hanya tidak berusaha
menghentikan pembasmian etnis Muslim, tetapi malah memberi jalan kepada
Serbia untuk melaksanakan kebiadaban mereka. (Along with its European allies, it maintained an arms embargo against the Bosnian Muslims from defending themselves). Untuk Bosnia, Samanta yang menjadi saksi berbagai kebiadaban Serbia di Bosnia, menulis judul “Bosnia: No More than Witnesses at a Funeral”.
Sebagaimana ilmuwan “neo-orientalis”
lainnya, seperti Bernard Lewis, Huntington juga tidak mau melakukan
kritik internal terhadap kebijakan AS yang imperialistik – sebagaimana
banyak dikritik oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Noam Chomsky, Paul Findley,
dan Edward Said. Ia tidak mengakui bahwa kebijakan AS yang membabi buta
mendukung kekejaman dan penjajahan Israel adalah keliru dan menjadi
satu sebab penting tumbuhnya ketidakpuasan dan kemarahan kaum Muslim dan
umat manusia. Ia hanya mau menunjukkan bahwa Islam adalah potensi musuh
besar dan bahaya bagi Barat dan AS khususnya. Ia menampilkan polling-polling
di sejumlah negeri Islam yang menunjukkan, sebagian besar kaum Muslim
sangat tidak menyukai kebijakan AS. Misal, sebuah polling di sembilan
negara Islam, antara Desember 2001-Januari 2002, menampilkan realitas
opini di kalangan Muslim, bahwa AS adalah “kejam, agresif, sombong,
arogan, mudah terprovokasi dan bias dalam politik luar negerinya.”
Tetapi, Huntington tidak mau menampilkan
fakta bahwa kebencian masyarakat Barat (Eropa dan rakyat AS sendiri)
terhadap kebijakan-kebijakan politik AS juga sangat besar. Bahkan, jauh
lebih besar dari apa yang terjadi di kalangan Muslim. Di dunia Islam,
tidak ada demonstrasi besar-besaran diikuti ratusan ribu sampai jutaan
orang dalam menentang AS seperti yang terjadi di berbagai negara Eropa
dan di dalam AS sendiri. Banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Prof.
Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’.
Karena itu, sangatlah naif, bahwa ilmuwan seperti Huntington ini justru
mencoba menampilkan fakta yang tidak fair dan sengaja membingkai Islam
sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rhetoric of
America’s ideological war with militant communism has been transferred
to its religious and cultural war with militant Islam.”
Huntington, Bernard Lewis, dan
kawan-kawannya terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga
mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh
utama Barat, setelah komunis. John Vinocur, dalam artikelnya berjudul “Trying to put Islam on Europe’s agenda”, (International Herald Tribune, 21 September 2004), mencatat, “But Huntington insists Europe’s situation vis-à-vis Islam is more acute.”
Skenario inilah yang dirancang kelompok “Neo-konservatif” di AS, yang
beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan
konfrontasionis. (Lihat buku The High Priests of War “ (Washington DC: American Free Press, 2004), karya Michel Colin Piper).
Tanpa pendefinisian yang jelas terhadap
“Islam militan”, maka itu akan menyeret kaum Muslim lainnya. Itu,
misalnya, menimpa Thariq Ramadhan dan Yusuf Islam, yang dilarang
memasuki AS. Begitu juga ribuan warga Muslim yang menerima perlakuan
tidak manusiawi. Dalam sub-bab berjudul “The Search for an Enemy”,
Huntington mencatat, bahwa pasca Perang Dingin, AS memang melakukan
pencarian musuh baru, yang kemudian menemukan musuh baru bernama “Islam
militan”, setelah peristiwa WTC. Huntington menulis: “Some
Americans came to see Islamic fundamentalist groups, or more broadly
political Islam, as the enemy, epitomized in Iraq, Iran, Sudan, Libya,
Afghanistan under Taliban, and to lesser degree other Muslim states, as
well as in Islamic terrorist groups such as Hamas, Hezbollah, Islamic
Jihad, and the al-Qaeda network… The cultural gap between Islam and
America’s Christianity and Anglo-Protestanism reinforces Islam’s enemy
qualifications. And on September 11, 2001, Osama bin Laden ended
America’s search. The attacks on New York and Washington followed by the
wars with Afghanistan and Iraq and more diffuse “war on terrorism” make
militant Islam America’s first enemy of the twenty-first century.”
Di sini, tampak, bahwa sangatlah sulit
dunia Islam menerima standar AS dalam soal Islam militan. Dunia Islam,
misalnya, secara keseluruhan tetap menolak memasukkan Hamas di
Palestina, sebagai kelompok teroris, sebab mereka melakukan perjuangan
membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Buku Who Are We? memang masih merupakan kelanjutan garis berpikir Huntington dalam soal Islam dari buku The Clash of Civilizations. Sebagaimana
Lewis, Huntington sudah jauh-jauh hari mengingatkan Barat agar mereka
waspada terhadap perkembangan Islam. Sebab, Islam adalah satu-satunya
peradaban yang pernah menggoyahkan dan mengancam peradaban Barat. (Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice).
Karena itulah, Huntington memperingatkan,
pertumbuhan penduduk Muslim merupakan satu faktor destabilitas terhadap
masyarakat Muslim dan lingkungannya. Jumlah besar kaum muda Muslim
dengan pendidikan menengah akan terus memperkuat kebangkitan Islam dan
militansi Islam, militerisme, dan imigrasi. Hasilnya, pada awal-awal
abad ke-21, Barat akan menyaksikan kebangkitan kekuatan dan kebudayaan
non-Barat dan sekaligus benturan antar-masyarakat non-Barat atau dengan
Barat.
Sebagaimana buku The Clash of Civilizations, buku Who Are We? perlu
dicermati dalam konteks skenario politik global terhadap Islam, yang
sebenarnya merupakan satu upaya “viktimisasi Islam” untuk menutupi
berbagai kesalahan kebijakan AS dan sejumlah sekutunya.
Kini, silakan dicermati, mengapa situs-situs Islam itu diblokir? Allah Maha Tahu dan Allah tak pernah tidur.
DR Adian Husaini
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
TOPIK PILIHAN
May 02, 2015
posted by @Adimin
Mahyeldi Ansharullah: Pemimpin Teladan yang Rendah Hati
Written By Anonymous on 02 May, 2015 | May 02, 2015

Rendah hati adalah kesan pertama yang tampak dari pria kelahiran 48 tahun lalu ini. Mahyeldi Ansharullah, wali kota Padang sejak tahun 2014 lalu, menjadi contoh teladan masyarakat di bidang politik. Beliau menghabiskan masa perkuliahannya di Universitas Andalas bukan sebagai mahasiswa politik, melainkan pertanian. Setelah lulus, beliau menjadi guru dan da’i yang berdakwah dari masjid ke masjid, juga dari surau ke surau. Bagaimanapun, beliau mengaku bersedia untuk terjun ke dunia politik praktis.
Mahyeldi adalah sosok pemimpin yang senang berada dekat dengan rakyat. Misalnya saja, beliau mengadakan sahur bersama warga kurang mampu. Tak hanya membawa kebutuhan sahur, tapi beliau juga memperhatikan keadaan mereka; kesehatan, pendidikan, serta kelayakan tempat tinggal warga. Beliau juga menjadi khatib Jumat dari masjid ke masjid di kota Padang.
Mahyeldi merupakan seorang suami dari Harneli Bahar dan Ayah dari 9 buah hatinya. Saat dirumah, ia tanggalkan jabatannya dan menjadi sosok Ayah yang sederhana, santun, dan penyayang. Baginya, bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan layak sudah menjadi hal yang patut disyukuri. Semua hal yang dilakukan didasari atas rasa cinta beliau terhadap keluarga dan rakyatnya.
Menjadi sosok pemimpin yang sederhana dan rendah hati tak berarti merendahkan diri. Mahyeldi Ansharullah menjadi bukti bahwa seorang pemimpin justru dicintai karena kelembutannya, bukan karena sikap yang otoriter.
Sabtu ini (2/5), Mahyeldi Ansharullah akan berbagi inspirasi dalam talkshow #DiBalikKeajaiban bersama Ippho Santosa & Tim Khalifah (Ippho Santosa) pkl. 12.30 WIB di TV One!
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 02, 2015
posted by @Adimin
Indonesia Butuh Kader Bangsa yang Bertanggungjawab
JAKARTA (2/5) – Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) DPP PKS Surahman Hidayat menilai Indonesia membutuhkan kader-kader bangsa yang bertanggung jawab, bisa mengelola diri, lingkungan, dan negerinya. Karena menurutnya, tanggal 2 Mei bukan semata-mata peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). 2 Mei merupakan momen mengingat dan memahami kembali makna pendidikan bagi bangsa, tidak hanya dari segi tataran umum, tetapi lebih dalam dan kualitatif, yaitu kekaderan.
Surahman menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Kantor DPP PKS, MD Building, Jakarta, Sabtu (2/5). Ia mengatakan hasil pendidikan kekaderan dapat dilihat dari kemunculan tokoh-tokoh nasional di setiap dekade. Tokoh-tokoh itu lahir tidak hanya berbasis keterampilan keras (hard skills) seperti ilmu atau keahlian tertentu, tetapi juga keterampilan lunak (soft skills) berupa karakter dan kepribadian yang tangguh.
“Keterampilan lunak dapat mengendalikan diri seseorang saat bertindak atau mengambil keputusan. Ini perlu ditekankan. Apalagi di akhir tahun 2015 Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Masing-masing negara ASEAN akan berusaha menawarkan konsep pendidikannya. Indonesia pun harus siap berbaur, tetapi tidak harus melebur. Nah, disinilah karakter tangguh dibutuhkan agar kita bisa memegang teguh akar budaya, nilai, dan cita-cita luhur Bangsa Indonesia,” kata Surahman.
Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI itu menyoroti pentingnya pembinaan karakter karena pendidikan tidak sekedar memberi ilmu atau keterampilan. Menurutnya, pendidikan ialah tentang kebermanfaatan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Sehingga, apapun ilmu yang dipelajari, bila tidak memberi manfaat dapat berbalik arah, bahkan membawa kerugian.
“Pendidikan nasional itu bagaikan sebuah bangunan besar yang sudah ada sejak dahulu. Tentu kita melanjutkan, mana yang perlu ditambah atau justru ditambal agar menjadi bangunan kokoh, megah, dan siap menampung siapa saja yang membutuhkan keteduhan serta perlindungan. Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan nasional diperlukan evaluasi menyeluruh dari waktu ke waktu. Agar perjalanan itu bisa lurus menuju cita-cita sebagaimana tujuan nasional,” ujarnya.
Anggota Komisi X DPR RI yang bekerja dalam ruang lingkup pendidikan, kebudayaan, pariwisata, pemuda, olahraga, dan perpustakaan tersebut menilai Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) sudah cukup baik. Ia berharap pemerintah dapat memanifestasikan prinsip-prinsip UU Sisdiknas kedalam berbagai program yang tepat sasaran.
“Tujuan pendidikan itu kan melahirkan suatu potensi yang baik. Tinggal bagaimana potensi baik ini dipupuk, sedangkan potensi-potensi negatif diminimalisasi. Karena memang manusia dasarnya begitu, punya pilihan mengembangkan potensi di dua arah, baik atau buruk. Sedangkan saat ini banyak kita lihat anak-anak sekolah juga mahasiswa memiliki cukup waktu untuk hura-hura. Padahal, waktu-waktu tersebut bisa untuk menggali bakat masing-masing, kemudian berkompetisi menghasilkan karya atau penemuan baru,” lanjutnya.
Bangsa Indonesia, tambah Surahman, harus semakin yakin bahwa pendidikan dapat menjadikan manusia lebih dewasa, manusiawi, dan beradab. Hasil pendidikan berkualitas dapat dimanfaatkan untuk membangun sektor ekonomi, politik, maupun budaya. Namun apabila esensi pendidikan ini tidak diyakini secara tepat, Surahman menyebut masyarakat hanya akan menjadi alat pihak-pihak tertentu.
“Misalnya ketika masa pemilihan umum (pemilu) masyarakat suatu wilayah dimanfaatkan untuk menarik suara, setelah itu dibuang saja. Kemudian muncul penyesalan karena salah pilih atau merasa kebijakan tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Kondisi ini tentu sangat merugikan bila terus terjadi. Oleh karena itu, kita harus meyakini bahwa pendidikan memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya memerlukan pendidikan,” pungkasnya. [pks.id]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
May 02, 2015
posted by @Adimin
Hidayat Nur Wahid: PKS Koalisi dengan Buruh Bukan Mustahil
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengungkapkan koalisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan berbagai serikat atau konfederasi buruh, mungkin saja terjadi. Terlebih dalam pengajuan calon independen pada Pemilihan Umum Kepala Daerah 9 Desember mendatang.
"PKS dan Buruh sudah erat hubungannya jadi jika mau ada koalisi mungkin saja, karena hubungan kami baik," kata Hidayat setelah acara Mayday Fiesta di Jakarta, Jumat (1/5).
Kendati demikian, Hidayat mengatakan pihaknya masih ingin melihat perkembangan terkait siapa calonnya dan daerah mana yang menjadi target pemenangan. "Itu proses, karena kita belum tahu yang diajukan siapa, dan daerah mana, apakah sudah ada calon atau belum," ujar Politikus PKS tersebut.
Lebih lanjut, dia mengatakan pihak buruh bisa saja menjadi calon yang diusung PKS. Namun Hidayat juga meminta buruh harus realistis dengan pilihan tokoh yang diajukan, karena memang ada pertimbangan tersendiri.
"Saya pikir rekan buruh pun akan realistis, siapapun yang dimajukan itu adalah calon terbaik yang dianggap bisa pegang amanat rakyat," katanya. [republika.co.id]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 02, 2015
posted by @Adimin
PKS: Inilah Wawasan Nasionalisme dan Kebangsaan Kami!
Sebenarnya, soal nasionalisme atau kebangsaan, di PKS biasa kita bahas, bahkan pada pembinaan kader-kader tingkat pemula. Istilah kita kader tamhidiyah. Di tingkat pemula saja pasti diajari tentang doktrin-doktrin masalah cinta. Yaitu cinta yang dibingkai oleh batas-batas geografis ataupun cinta yang dibatasi oleh batas demografis.
Dari sudut pandang kami, yang mudah-mudahan insya Allah ini adalah sudut pandang Islam, nasionalisme atau kebangsaan itu adalah suatu hal yang fitri. Kata orang Malaysia, “yang semula jadi”, dan bersifat universal. Karena cinta kepada bangsa, kepada tanah air itu pasti ada pada makhluk yang bernyawa.
Bahkan Al-Qur’an pun karena sifatnya fitrah, memberikan isyarat-isyarat yang tegas tentang hal itu. Umpamanya ketika kita harus berbuat kebaikan, kata Allah SWT dalam Al-Qur’an,
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya…” (Q.S. Al-Isra’: 26)
Sudah tentu ‘kerabat dekat’ ini bukan hanya kedekatan dalam kaitan darah keturunan. Tapi bisa juga kedekatan geografis-demografis. Jadi menunaikan hak-hak kekerabatan itu, kita dituntut untuk melaksanakannya sebagai perintah Allah.
Begitu juga ayat lain menyebutkan, ketika kita berdakwah, memberi peringatan, beramar ma’ruf nahi munkar, yang didahulukan harus orang yang dekat dulu. Allah SWT berfirman,
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Q.S. Asy-Syu’ara: 214).
Dan, keluarga dekat kita adalah keluarga besar bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, beliau sangat merindukan untuk kembali ke Makkah. Kerinduan ini dijawab langsung oleh wahyu Allah SWT,
“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah)…”(Q.S. Al-Qashash: 85)
Jadi, kecintaan kepada tanah air, kepada bangsa, itu adalah fitrah. Atas dasar ini maka doktrin-doktrin seperti itu, yaitu kecintaan kepada tanah air, kepada bangsa—kita tanamkan pada masa tamhidiyah atau masa kader pemula.
Walaupun begitu, kita tidak menginginkan nasionalisme dan kebangsaan yang super dalam pengertian yang meremehkan, mendiskriditkan, dan merendahkan bangsa lain, atau menyepelekan negeri-negeri lain. Karena semangat kebersamaan dan kerjasama dalam kehidupan nasionalisme dan kebangsaan ini kita kembangkan secara lebih luas dalam konteks semangat kebersamaan dan semangat kerjasama dalam kehidupan kemanusiaan secara global internasional.
Kalau dalam pergaulan internasional itu kita tidak mempunyai basis bingkai kebangsaan dan ketanah-airan, maka kita tidak begitu dihargai. Cenderung dianggap pengungsi, cenderung dianggap wabah yang patut dikasihani. Sehingga tidak bisa tampil dengan mengangkat kepala. Tapi ketika kita tampil mewakili bangsa Indonesia, negara Indonesia, yang luasnya seluas Eropa Barat dan Timur, ketika kita tampil di forum internasional dengan memiliki basis bingkai kebangsaan dan ketanah-airan, niscaya ada kebanggaan dan kita pun dihargai.
Jadi, saya ingin menggaris bawahi, bahwa nasionalisme dan kebangsaan bagi kami adalah sangat fitrah, ‘semula jadi’ dan universal. Sehingga tidak harus menjadi sesuatu yang sangat complicated dan sulit. Masalah ini sudah selesai, karena itu bagian dari fitrah.
Kebersamaan dalam Merespon Arus Perubahan
Kita menghadapi arus perubahan yang terus menerus. Terutama dipacu dan dipicu oleh arus informasi secara global yang demikian deras. Perubahan mendorong kita untuk merespon bahkan mengantisipasi.
Sebetulnya perubahan itu adalah keniscayaan. Ada istilah dalam bahasa Arab, “Dawamul haal minal muhaal.”, artinya, “Keadaan yang tetap itu adalah sesuatu yang mustahil.”
Jadi memang selalu berubah, dan kita diharapkan mampu menjadi agen-agen perubahan. Agar jangan tergerus oleh perubahan yang didorong oleh hegemoni pihak-pihak asing. Tapi perubahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Dalam merespon arus perubahan itu sudah barang tentu kita tidak mungkin sendirian. Sebab perubahan ini pasti dialami oleh semua komponen bangsa. Oleh karena itu merespon perubahan harus berdasarkan semangat kebersamaan dan semangat kerjasama dari segenap komponen bangsa.
Agar kebersamaan itu bisa terjalin, maka forum-forum dialog, berkomunikasi dan bermusyawarah harus semakin digalakkan. Untuk memudahkan dialog, berkomunikasi dan musyawarah, kita harus mempunyai ijabiyatur ru’yah atau positive thinking antara satu dengan yang lain.
Semua kita punya potensi positif—dan inilah yang harus kita gali, kita bangun, kita jalin, kita koordinasikan dan kita konsolidasikan. Potensi positif yang dimiliki oleh segenap komponen bangsa inilah yang harus kita himpun. Maka modal dasarnya adalah positif thinking. Jangan ada pandangan minor dan mendeskriditkan satu sama lain.
Insya Allah kalau kita sering musyawarah, sering bertemu, sering berembuk, kita bisa melahirkan al-khittah adz-dzakiyah, atau smart planning, perencanaan yang cerdas. Perencanaan yang cerdas yang sudah menghimpun daya inovasi bangsa ini, daya kreatif bangsa ini dan semangat kebersamaan bangsa ini, serta semangat kerjasama bangsa ini. Sehingga perencanaan kita Insya Allah menjadi perencanaan yang cerdas, sebab merupakan hasil urunan, urun rembuk dari seluruh komponen bangsa.
Yang ketiga harus ditindak lanjuti dengan al-a’maal al-qawiyyah (kerja keras). Insya Allah dengan tiga hal ini: positive thinking, smart planning, dan hard working—kita bisa selalu merespon perubahan. Walaupun perubahan itu sulit, didorong juga arus globalisasi, tapi dengan semangat kebersamaan, pandangan positif antara satu dengan yang lain, termasuk juga kepada aspek-aspek perubahan yang datang dari luar, kita bisa meramu dalam perencanaan kita yang cerdas, smart planning. Setelah smart planning, kita bekerja keras untuk merespon arus perubahan dan arus globalisasi. Sehingga bangsa Indonesia akan terus berjaya dalam merespon perubahan dan globalisasi. Tidak menjadi bangsa yang ketakutan melihat perubahan, ketakutan melihat globalisasi. Tapi justeru Insya Allah kita menjadi bangsa yang maju, bisa mewarnai arus perubahan dan arus globalisasi.
Menjadi Bangsa yang Unggul
Sudah tentu, untuk bisa mewarnai arus perubahan dan arus globalisasi, kita harus menjadi bangsa yang unggul. Apalagi bangsa ini secara geografis dan demografis adalah bangsa yang besar. Wilayahnya luas, populasinya besar. Sehingga jika bangsa ini berpegang teguh kepada nilai-nilai yang berakar pada budaya bangsa yaitu bangsa yang religius, insya Allah kita akan mempunyai winning value, nilai yang unggul, yang menang dalam menghadapi arus globalisasi dan arus perubahan apa pun.
Yang kedua, nilai-nilai itu harus dijabarkan dalam bentuk konsep, yang disusun bersama oleh komponen-komponen bangsa. Sehingga kita mempunyai winning concept, konsep yang unggul, yang pantas menang dalam pergaulan internasional.
Yang ketiga, kita juga harus unggul dalam sistem (winning system). Kalau bicara sistem, harus terkait dengan kerja dan kinerja, terkait dengan performa, terkait dengan regulasi, terkait dengan pengaturan-pengaturan, terkait dengan pembagian tugas, terkait dengan sistem komunikasi dan kerja sama antar komponen bangsa. Sistem inilah yang harus kita wujudkan. Sistem yang laik menang dalam pergaulan internasional, winning system.
Yang keempat, kita juga harus menjadi bangsa yang satu dan terpadu. Dengan kesatuan dan keterpaduan bangsa ini, kita bisa menjadi winning team dalam pergaulan antar bangsa. Satu tim. Ketika kita tampil di mana pun adalah merasa mewakili bangsa dan didukung oleh seluruh bangsa dan juga melaksanakan program-program bangsa dan misi-misi bangsa. Agar bangsa ini menjadi satu tim.
Walaupun kita berpartai-partai, saya lihat partai-partai ini hanya sebuah lembaga penataan potensi bangsa. Karena potensi bangsa besar ini tidak mungkin diurus oleh satu partai. Partai apapun tidak bisa sendiri mengurus bangsa ini. Tapi kita juga harus berbagi. Menata potensi bangsa ini, mengelola potensi bangsa ini, dan mengarahkan potensi bangsa ini. Yang kemudian secara sistematis kita padukan, kita konsolidasikan, kita koordinasikan, dan kita mobilisasikan untuk mencapai sebesar-besarnya mashlahat bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Yang kelima, sudah tentu target-target pencapaian perjuangan bangsa ini sangat banyak. Tapi kita harus ambil skala prioritas, mana yang didahulukan.Harus ada winning goal. Dimana seluruh komponen bangsa serentak mencapai kesatuan pencapaian prioritas. Tentu ini perlu ada kesepakatan bersama, sering berkomunikasi, sering bermusyawarah, sering duduk bersama. Agar skala prioritas target-target perjuangan bangsa Indonesia ini bisa kita sepakati tahap demi tahap, sebagai winning goal, atau tujuan yang akan kita unggulkan dan kita menangkan dalam prospek perjuangan bangsa.
Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan memperjelas dan bisa menjawab pertanyaan tentang nasionalisme atau kebangsaan dalam benak, pikiran kader-kader PKS. Ini bisa dibilang merupakan jawaban resmi dari PKS.
Dari sudut pandang kami, yang mudah-mudahan insya Allah ini adalah sudut pandang Islam, nasionalisme atau kebangsaan itu adalah suatu hal yang fitri. Kata orang Malaysia, “yang semula jadi”, dan bersifat universal. Karena cinta kepada bangsa, kepada tanah air itu pasti ada pada makhluk yang bernyawa.
Bahkan Al-Qur’an pun karena sifatnya fitrah, memberikan isyarat-isyarat yang tegas tentang hal itu. Umpamanya ketika kita harus berbuat kebaikan, kata Allah SWT dalam Al-Qur’an,
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya…” (Q.S. Al-Isra’: 26)
Sudah tentu ‘kerabat dekat’ ini bukan hanya kedekatan dalam kaitan darah keturunan. Tapi bisa juga kedekatan geografis-demografis. Jadi menunaikan hak-hak kekerabatan itu, kita dituntut untuk melaksanakannya sebagai perintah Allah.
Begitu juga ayat lain menyebutkan, ketika kita berdakwah, memberi peringatan, beramar ma’ruf nahi munkar, yang didahulukan harus orang yang dekat dulu. Allah SWT berfirman,
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Q.S. Asy-Syu’ara: 214).
Dan, keluarga dekat kita adalah keluarga besar bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, beliau sangat merindukan untuk kembali ke Makkah. Kerinduan ini dijawab langsung oleh wahyu Allah SWT,
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah)…”(Q.S. Al-Qashash: 85)
Jadi, kecintaan kepada tanah air, kepada bangsa, itu adalah fitrah. Atas dasar ini maka doktrin-doktrin seperti itu, yaitu kecintaan kepada tanah air, kepada bangsa—kita tanamkan pada masa tamhidiyah atau masa kader pemula.
Walaupun begitu, kita tidak menginginkan nasionalisme dan kebangsaan yang super dalam pengertian yang meremehkan, mendiskriditkan, dan merendahkan bangsa lain, atau menyepelekan negeri-negeri lain. Karena semangat kebersamaan dan kerjasama dalam kehidupan nasionalisme dan kebangsaan ini kita kembangkan secara lebih luas dalam konteks semangat kebersamaan dan semangat kerjasama dalam kehidupan kemanusiaan secara global internasional.
Kalau dalam pergaulan internasional itu kita tidak mempunyai basis bingkai kebangsaan dan ketanah-airan, maka kita tidak begitu dihargai. Cenderung dianggap pengungsi, cenderung dianggap wabah yang patut dikasihani. Sehingga tidak bisa tampil dengan mengangkat kepala. Tapi ketika kita tampil mewakili bangsa Indonesia, negara Indonesia, yang luasnya seluas Eropa Barat dan Timur, ketika kita tampil di forum internasional dengan memiliki basis bingkai kebangsaan dan ketanah-airan, niscaya ada kebanggaan dan kita pun dihargai.
Jadi, saya ingin menggaris bawahi, bahwa nasionalisme dan kebangsaan bagi kami adalah sangat fitrah, ‘semula jadi’ dan universal. Sehingga tidak harus menjadi sesuatu yang sangat complicated dan sulit. Masalah ini sudah selesai, karena itu bagian dari fitrah.
Kebersamaan dalam Merespon Arus Perubahan
Kita menghadapi arus perubahan yang terus menerus. Terutama dipacu dan dipicu oleh arus informasi secara global yang demikian deras. Perubahan mendorong kita untuk merespon bahkan mengantisipasi.
Sebetulnya perubahan itu adalah keniscayaan. Ada istilah dalam bahasa Arab, “Dawamul haal minal muhaal.”, artinya, “Keadaan yang tetap itu adalah sesuatu yang mustahil.”
Jadi memang selalu berubah, dan kita diharapkan mampu menjadi agen-agen perubahan. Agar jangan tergerus oleh perubahan yang didorong oleh hegemoni pihak-pihak asing. Tapi perubahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Dalam merespon arus perubahan itu sudah barang tentu kita tidak mungkin sendirian. Sebab perubahan ini pasti dialami oleh semua komponen bangsa. Oleh karena itu merespon perubahan harus berdasarkan semangat kebersamaan dan semangat kerjasama dari segenap komponen bangsa.
Agar kebersamaan itu bisa terjalin, maka forum-forum dialog, berkomunikasi dan bermusyawarah harus semakin digalakkan. Untuk memudahkan dialog, berkomunikasi dan musyawarah, kita harus mempunyai ijabiyatur ru’yah atau positive thinking antara satu dengan yang lain.
Semua kita punya potensi positif—dan inilah yang harus kita gali, kita bangun, kita jalin, kita koordinasikan dan kita konsolidasikan. Potensi positif yang dimiliki oleh segenap komponen bangsa inilah yang harus kita himpun. Maka modal dasarnya adalah positif thinking. Jangan ada pandangan minor dan mendeskriditkan satu sama lain.
Insya Allah kalau kita sering musyawarah, sering bertemu, sering berembuk, kita bisa melahirkan al-khittah adz-dzakiyah, atau smart planning, perencanaan yang cerdas. Perencanaan yang cerdas yang sudah menghimpun daya inovasi bangsa ini, daya kreatif bangsa ini dan semangat kebersamaan bangsa ini, serta semangat kerjasama bangsa ini. Sehingga perencanaan kita Insya Allah menjadi perencanaan yang cerdas, sebab merupakan hasil urunan, urun rembuk dari seluruh komponen bangsa.
Yang ketiga harus ditindak lanjuti dengan al-a’maal al-qawiyyah (kerja keras). Insya Allah dengan tiga hal ini: positive thinking, smart planning, dan hard working—kita bisa selalu merespon perubahan. Walaupun perubahan itu sulit, didorong juga arus globalisasi, tapi dengan semangat kebersamaan, pandangan positif antara satu dengan yang lain, termasuk juga kepada aspek-aspek perubahan yang datang dari luar, kita bisa meramu dalam perencanaan kita yang cerdas, smart planning. Setelah smart planning, kita bekerja keras untuk merespon arus perubahan dan arus globalisasi. Sehingga bangsa Indonesia akan terus berjaya dalam merespon perubahan dan globalisasi. Tidak menjadi bangsa yang ketakutan melihat perubahan, ketakutan melihat globalisasi. Tapi justeru Insya Allah kita menjadi bangsa yang maju, bisa mewarnai arus perubahan dan arus globalisasi.
Menjadi Bangsa yang Unggul
Sudah tentu, untuk bisa mewarnai arus perubahan dan arus globalisasi, kita harus menjadi bangsa yang unggul. Apalagi bangsa ini secara geografis dan demografis adalah bangsa yang besar. Wilayahnya luas, populasinya besar. Sehingga jika bangsa ini berpegang teguh kepada nilai-nilai yang berakar pada budaya bangsa yaitu bangsa yang religius, insya Allah kita akan mempunyai winning value, nilai yang unggul, yang menang dalam menghadapi arus globalisasi dan arus perubahan apa pun.
Yang kedua, nilai-nilai itu harus dijabarkan dalam bentuk konsep, yang disusun bersama oleh komponen-komponen bangsa. Sehingga kita mempunyai winning concept, konsep yang unggul, yang pantas menang dalam pergaulan internasional.
Yang ketiga, kita juga harus unggul dalam sistem (winning system). Kalau bicara sistem, harus terkait dengan kerja dan kinerja, terkait dengan performa, terkait dengan regulasi, terkait dengan pengaturan-pengaturan, terkait dengan pembagian tugas, terkait dengan sistem komunikasi dan kerja sama antar komponen bangsa. Sistem inilah yang harus kita wujudkan. Sistem yang laik menang dalam pergaulan internasional, winning system.
Yang keempat, kita juga harus menjadi bangsa yang satu dan terpadu. Dengan kesatuan dan keterpaduan bangsa ini, kita bisa menjadi winning team dalam pergaulan antar bangsa. Satu tim. Ketika kita tampil di mana pun adalah merasa mewakili bangsa dan didukung oleh seluruh bangsa dan juga melaksanakan program-program bangsa dan misi-misi bangsa. Agar bangsa ini menjadi satu tim.
Walaupun kita berpartai-partai, saya lihat partai-partai ini hanya sebuah lembaga penataan potensi bangsa. Karena potensi bangsa besar ini tidak mungkin diurus oleh satu partai. Partai apapun tidak bisa sendiri mengurus bangsa ini. Tapi kita juga harus berbagi. Menata potensi bangsa ini, mengelola potensi bangsa ini, dan mengarahkan potensi bangsa ini. Yang kemudian secara sistematis kita padukan, kita konsolidasikan, kita koordinasikan, dan kita mobilisasikan untuk mencapai sebesar-besarnya mashlahat bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Yang kelima, sudah tentu target-target pencapaian perjuangan bangsa ini sangat banyak. Tapi kita harus ambil skala prioritas, mana yang didahulukan.Harus ada winning goal. Dimana seluruh komponen bangsa serentak mencapai kesatuan pencapaian prioritas. Tentu ini perlu ada kesepakatan bersama, sering berkomunikasi, sering bermusyawarah, sering duduk bersama. Agar skala prioritas target-target perjuangan bangsa Indonesia ini bisa kita sepakati tahap demi tahap, sebagai winning goal, atau tujuan yang akan kita unggulkan dan kita menangkan dalam prospek perjuangan bangsa.
Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan memperjelas dan bisa menjawab pertanyaan tentang nasionalisme atau kebangsaan dalam benak, pikiran kader-kader PKS. Ini bisa dibilang merupakan jawaban resmi dari PKS.
KH. Hilmi Aminudin
Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
[pkskelapadua]
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 01, 2015
posted by @Adimin
PKS Terus Kawal Kesejahteraan Buruh
Written By Anonymous on 01 May, 2015 | May 01, 2015

JAKARTA (1/5) – Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Martri Agung mengaku bersyukur karena Indonesia saat ini telah menetapkan Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei sebagai Hari Besar Nasional. Karena Martri menilai, buruh merupakan elemen yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia, sehingga kesejahteraannya harus selalu dijaga.
“Buruh merupakan salah satu stakeholder dalam pembangunan atau perekonomian Indonesia. Tidak mungkin ekonomi bergerak tanpa adanya buruh. Jadi itu salah satu fakta, mau tidak mau Indonesia akan bangkit dan maju ketika buruhnya pun sejahtera. Ketika kesejahteraan buruh terjaga, mereka bekerja jadi lebih tenang, lebih aman, sehingga akhirnya produktifitas kerja pun meningkat” ungkap Martri saat ditemui di Gedung DPP PKS, Rabu (29/4).
Dari awal pembentukannya, PKS memang sudah fokus terhadap isu perburuhan. Hal tersebut terbukti dengan adanya bidang khusus bagi buruh beserta dengan tani dan nelayan. Dalam bidang tersebut, para Kader PKS fokus memberikan pembinaan dan program-program terkait dengan perburuhan bersama dengan serikat pekerja maupun federasi dan konfederasi pekerja di Indonesia.
PKS, ujar Martri, selalu mendukung elemen buruh dalam melakukan advokasi. Tak hanya lewat agenda pengawalan langsung, PKS pun turut serta dalam mengawal perundang-undangan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.
“Bersama dengan federasi dan konfederasi, Departemen Buruh DPP PKS beserta anggota legislatif baik tingkat DPR RI maupun DPRD Provinsi/Kabupaten selalu melakukan komunikasi dengan organisasi-organisasi atau serikat pekerja dalam membahas peraturan perundangan. Baik di tingkat pusat sebagai Undang-Undang maupun di tingkat daerah dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) yang terkait dengan tenaga kerja atau buruh,” jelas Martri.
Martri menambahkan untuk gerakan di Hari Buruh tahun ini, PKS akan turun bersama rekan-rekan buruh menyuarakan tuntutannya diantaranya pemberlakuan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) secara konsisten dan transparan terkait jaminan kesehatan dan jaminan pensiun serta pembubaran pengadilan hubungan industrial yang justru merugikan buruh.
Lebih lanjut Martri pun menuturkan ada beberapa isu tentang perburuhan yang sedang dikawal PKS lewat Komisi IX DPR RI, yakni revisi Undang-Undang Nomor 39 tentang Tenaga Kerja Luar Negeri, pembubaran peradilan perselisihan industrial, serta penolakan upah murah.
Tak lupa Martri pun berpesan kepada rekan-rekan buruh yang akan melakukan aksi hari ini, agar senantiasa menjaga ketertibannya terutama di pusat-pusat keramaian.
“Karena sebenarnya masyarakat akan simpati kepada gerakan kita, ketika kita bisa menjaga ketertiban dan kenyamanan khalayak luas,” pungkasnya.
Keterangan foto: Muhammad Martri Agung, Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan DPP PKS.
[kabarpks.com]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 01, 2015
Ketika tejadi bisikan nafsu syahwat baik oleh Yusuf maupun oleh istri raja, Zulaekha, dan hampir terjadi perbuatan dosa. Tapi Allah buktikan kekuasaannya sehingga akhirnya nabi Yusuf tersadar dan akhirnya terhindar dari dosa tersebut.
posted by @Adimin
BELAJAR DARI AKHLAK NABI YUSUF AS | Oleh: Mulyadi Muslim, Lc, M.A

Ketika tejadi bisikan nafsu syahwat baik oleh Yusuf maupun oleh istri raja, Zulaekha, dan hampir terjadi perbuatan dosa. Tapi Allah buktikan kekuasaannya sehingga akhirnya nabi Yusuf tersadar dan akhirnya terhindar dari dosa tersebut.
Hal ini juga dijelaskan olehistri raja, hampir terjadinya perbuatan maksiat itu adalah keinginan istri raja itu sendiri. Ketika kebenaran perbuatan itu diketahui oleh raja dan munculnya desas desus bahwa telah terjadi fitnah yang luar biasa ditengah kerajaan akhirnya raja memutuskan istrinya harus beristigfar dan menetapkan bahwa yusuf dipenjara.
Ketika yusuf menerima penjara untuk mengamankan dirinya, dia mengatakan “wahai Tuhanku, penjara sebenarnya lebih aku sukai”. Ini membuktikan bahwa menjaga kehormatan jauh lebih utama bukan disanjung oleh perempuan yang menginginkannya.
Saat dipenjara, Nabi Yusuf tidak lupa dengan misinya, bahwa ia adalah nabi, sehingga ketika ada 2 pelayan kerajaan yang sama-sama dipenjara menyampaikan mimpi mereka. Diantara mereka ada yang menyampaikan bahwa ia membawa roti di atas kepalanya dan roiti itu di patuk burung. Yang satu lagi mengatakan ia bermimpi memeras anggur dan mereka berdua meminta menjelaskan apa takwil dari mimpi-mimpi tersebut.
Nabi Yusuf tidak langsung memberikan rincian dari takwil mimpi tersebut, tapi Nabi Yusuf mengajak mereka berdua kepada Rabb yang menciptakan dunia serta isinya. Sehingga Nabi yusuf mengatakan “manakah yang lebih baik Tuhan yang bermacam-macam atau Allah SWT? (QS Yusuf : 39).
Baru kemudian Yusuf menjelaskan tentang takwil mimpi kedua pelayan tersebut. Orang yang memeras anggur ternyata tetap jadi pelayan raja, adapun orang yang membawa roti di atas kepalanya dan dipatuk burung ternyata ia akan disalib.
Maka pelajaran akhlak yang diajarkan allah melalui nabi Yusuf adalah
- Manusia dari awal penciptaannya adalah mengabdi. QS Adz Dzariyat : 56.
- Kita harus posisikan diri dengan potensi kita.Barangkali ada orang yang menyanjung kita, tetap saja semua itu harus dipandang objektif, sebagaimana Yusuf ditawarkan raja bermacam-macam, namun ia Cuma memilih bendaharawan negara karna menurutnya hanya itu bidang yang mampu dilakukannya.
Pelajaran akhlak berikutnya yang dapat kita pelajari dari Yusuf adalah:
- Seorang muslim yang baik tidak memiliki rasa dendam dan sakit hati
- Seorang muslim mesti tawadhu/rendah hati kepada siapapun
Dalam perjalanan kisah Nabi Yusuf kita ketahui bahwa yang menjerumuskan Yusuf ke dalam sumur adalah saudara-saudaranya sendiri. Lalu ketika Allah takdirkan di Mesir datang musim paceklik dan Yusuf adalah bendaharawan kerajaan saat itu yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat. Dalam sejarah dikatakan bahwa saudara-saudara nabi Yusuf ini d perintahkan orang tuanya unuk datang ke Mesir agar mendapatkan bantuandari kerajaan. Dan saudaranya-saudaranya ini akhirnya bertemu dengan Yusuf, namun pada tahap awal mereka tidak menyadari bahwa yang memberikan bantuan itu adalah saudaranya sendiri. Pada tahapan berikutnya saudara-saudaranya datang dan nabi Yusuf membuat siasat bagaimana saudara kandungnya yang paling kecil yang bernama Bunyamin bisa tertahan di Mesir.
Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan bahwa Yusuf memerintahkan kepada anggotanya untuk memasukkan semacam surat untuk menghitung/menimbang barang kedalam karung Bunyamin (Kisah ini diceritakan dalam QS Yusuf : 66-76).
Sampai pada akhirnya Yusuf mengatakan bagaimana kalau seandainya barang yg hilang itu ditemukan pada salah satu saudara2mu? Salah seorang dari saudara Yusuf mengatakan siapa yang ada dalam karungnya barang yang hilang itu, maka dialah yang bertanggung jawab (QS Yusuf : 75).
Maka di mulailah pencarian, digeledah semua karung-karung yang ada dan akhirnya ditemukan pada karung nya Bunyamin. Saudara nabi Yusuf yang lain berkata “Jika ia mencuri maka sesungguhnya saudaranya dulu pernah mencuri”. Ungkapan ini sebenarnya menyakitkan hati Yusuf. Tanpa di sadari saudaranya yang lain, sebenarnya ia menuduh yusuf menfitnah. Dulu di awal Yusuf di buang ke dalam sumur, pelakunya adalah mereka juga. Sekarang ia menuduh Yusuf melakukan pencurian.
Dan ini lah hikmah yang bisa kita ambil, bahwa seperti apapun perlakuan orang lain terhadap kita, jangan sesekali menyimpan rasa dendam. (*)
Label:
Dunia Islam,
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN





