Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
July 12, 2015
Oleh: Ahmad Kholili Hasib
posted by @Adimin
Islamisasi Pemikiran di Bulan Ramadhan
Written By Sjam Deddy on 12 July, 2015 | July 12, 2015
Bulan suci Ramadlan merupakan momentum tepat untuk membersihkan
virus-virus pemikiran. Termasuk virus liberal dan pluralism agama
SALAH satu produk dari
sekularisasi pemikiran adalah pemisahan antara ilmu dan agama. Ilmu
pengetahuan tidak dikaitkan dengan agama. Agama tidak mendapatkan tempat
dalam proses pengetahuan. Akibatnya adalah, agama tidak menjadi
parameter untuk mengukur benar dan salahnya suatu pengetahuan. Inilah
salah satu wujud liberalisasi pemikiran.
Liberalisasi pemikiran dan agama cenderung
menggiring kepada penistaan dan desakralisasi agama. Sebab,
sekularisasi membenci ajaran agama. Seseorang yang membenci agama
hatinya terkotori oleh hawa nafsu dan jauh dari Allah. Bentuk-bentuk
penghujatan itu bervariasi, mulai menghujat al-Qur’an hingga melegalkan
perkawinan sejenis. Jika diamati, penistaan-penistaan terhadap ajaran
Islam lebih terkesan emosional, mengumbar nafsu kebencian daripada kesan
akademik dan intelek.
Banyak di antara hujatan aktivis liberal
yang telah terekam media. Ada yang pernah mengatakan bahwa al-Qur’an
telah mengalami copy-editing yang dilakukan sahabat. Wujud al-Qur’an
bukan murni kalamullah. Seorang aktivis menulis bahwa Islam adalah
ajaran oplosan, campuran berbagai ajaran agama-agama. Ada cendekiawan
muda yang menista keagungan Allah sambil mengatakan “Memuja matahari itu
jauh lebih penting dari memuja selainnya. Dia selalu memberi kita pagi
yang indah ini”.
Jadi, Liberalisasi dan sekularisasi
sesungguhnya tidak menididik intelektual kaum Muslim, tapi membuka kran
pemikiran yang tidak bermoral. Problemnya kembali kepada hati dan
pikiran yang tidak bersih dari konsep-konsep pemikiran asing. Karena
mereka berdiri menentang hukum Allah. Kadangkala umat Islam tidak
tersadar mendukung kampanye sekularisasi. Oleh sebab itu, hati dan
pemikiran yang sekular harus diobati dengan membersihkan dari hawa
nafsu, untuk lebih dekat kepada Allah.
Bulan suci Ramadlan merupakan momentum
tepat untuk membersihkan virus-virus pemikiran. Ramadlan merupakan
‘madrasah’ untuk membersihkan hati manusia dan membakar (ramadl) kotoran
dosa dan nafsu. Ia juga disebut bulan ilmu. Di bulan suci ini Allah
subhanahu wa ta’ala untuk pertama kali menyeru manusia untuk membaca
(iqra’) melalui ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi
Muhammadshalallahu ‘alaihi wa sallam. Pembersihan hati diproses melalui
aktifitas keilmuan.
Bulan ini layaknya madrasah yang
dipersiapkan untuk mencetak individu-individu beradab (insan adabi).
Suasana bulan suci dengan semarah ibadah dan mengaji sangat mendukung
untuk melakukan proses islamisasi pemikiran. Masyarakat muslim biasanya
lebih taat ibadah pada bulan ini. Kemaksiatan juga relatif berkurang.
Oleh karena itu, aktifitas ini melibatkan pemikiran sekaligus hati.
Karena dalam Islam, ilmu harus dikaitkan dengan iman. Proses pembersihan
ini dapat disebut ‘Islamisasi’. Islamisasi adalah pembebasan jiwa dan
pikiran manusia dari unsur kebudayaan dan ajaran yang berlawanan dengan
Islam.
Jiwa yang Islami menurut Syed Naquib
al-Attas adalah jiwa yang akal dan bahasanya tidak terkungkung oleh
mitos, animisme dan budaya sekularisme. Setelah dilakukan pembersihan
terhadap unsur asing itu, maka jiwa dan pikiran dimasuki unsur-unsur
Islam. Mengembalikan hati untuk kembali beriman, membersihkan pemikiran
untuk patuh kepada syariat Allah. Di bulan Ramadlan, umat Islam dilatih
melawan hafwa nafsu. Terutama nafsu yang menentang hukum Allah.
Islamisasi pemikiran berarti memperbaiki
iman. Ilmu yang dimiliki seorang Muslim harus berdimensi iman. Mindset
pemikiran harus ditimbang dengan keyakinan asas dalam Islam, seperti
faham tentang Allah, konsep manusia, konsep hidup, konsep jiwa dan
faham-faham kunci lainnya. Karena berdimensi iman, maka epistemologi
Islam selalu bertaut dengan teologi secara dinamis.
Problem-problem pemikiran seperti maraknya
ideologi pluralisme, feminisme, relativisme, sekularisme, dan lain-lain
merupakan problem keyakinan. Keyakinan dan hati yang rusak tidak mampu
mengontrol pemikiran dan prilakuknya untuk menentang hukum Allah.
Oleh sebab itu, tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dapat disebut juga proses tazkiyatu al-fikr (pembersihan
pemikiran) sekaligus pembersihan iman. Dengan demikian, langkah
mengislamkan pemikiran yang pertama-tama perlu dilakukan adalah dengan
mengikuti petunjuk riyadlah al-nafs (melatih jiwa melawan hawa nafsu) seperti yang dijelaskan oleh imam al-Ghazali dalam kita Ihya’ Ulumuddin.
Keyakinan-keyakinan materialistik dalam hati harus dibersihkan. Sebab,
hati dan pikiran itu mengontrol dan membentuk perilaku. Beradab atau
bi-adabnya perilaku dipengaruhi oleh bersih dan kotornya jiwa.
Jadi, Ramadlan adalah ‘madrasah’ untuk
mengislamkan jiwa dan pikiran. Jiwa dan pikiran yang Islami, yaitu yang
bersih, selalu patuh dan tunduk kepada syariat Allah, beradab, bermoral
dan terbebas dari kekuasaan nafsu untuk membenci agama. Jiwa dan
pikiran yang patuh kepada-Nya terisi nilai-nilai suci, tiada nilai lain
kecuali nilai Islam dan kebenaran.
Ramadhan sengaja menjadi tempat untuk
mencetak jiwa-jiwa Islami, bukan jiwa yang sekular. Perbanyaklah ibadah,
sering-seringlah mengikuti kajian ilmu. Sekali-kali jangan beri
kesempatan nafsu untuk menguasai jiwa selama bulan puasa. Jika seusai
Ramadlan jiwa kita tetap sekular, maka kita gagal beribadah puasa
Ramadlan. Maka, siapkanlah diri sejak sekarang
Oleh: Ahmad Kholili Hasib
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
July 11, 2015
posted by @Adimin
Keluarga Besar PKS Rangkul Warga Padang
Written By Anonymous on 11 July, 2015 | July 11, 2015
Padang - Kelurga besar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Padang
berbuka puasa bersama dengan warga di sekitar kantor DPD PKS Padang di Jalan
Kis Mangunsarkoro Padang, kemarin (10/7). Hadir juga Wali Kota Padang, Mahyeldi
Ansharullah yang merupakan kader PKS, serta anggota DPR RI Hermanto.
Ketua DPD PKS Padang, Muhidi menyebutkan, buka bersama yang
di laksanakan, jumat (10/7) ini merupakan agenda rutin. "Ini wujud
kebersamaan PKS dengar warga sekitar. Tak ada hubungan agenda politik,"
ujar Muhidi.
Muhidi yang juga wakil ketua DPRD Padang ini menyampaikan
ucapan terimakasih atas dukungan warga selama ini. Dalam kebersamaan PKS dengan
warga sekitar berjalan dengan baik.
Sehubungan dengan Idul Fitri yang sudah dekat, Muhidi juga
menyampaikan permohonan maaf. "Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga di
penghujung Ramadhan ini kita mendapatkan keberkahan takwa,"tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Padang, Mahyeldi dalam kesempatan
itu menginformasikan berbagai program-program Pemko Padang, terutama sepuluh program
unggulan wali kota. Salah satu program tersebut adalah asuransi untuk warga
miskin. "Banyak program yang memang diperuntukkan untuk masyarakat. Jadi
masyarakat perlu tahu program-program yang dilaksanakan Pemko, "ujar
Mahyeldi.
Buka bersama PKS dengan warga ini berlangsung penuh
kekeluargaan. Sejumlah warga pun dalam kesempatan terbuka berdialog langsung
dengan Wali Kota Mahyeldi. [padek]
posted by @Adimin
July 09, 2015
posted by @Adimin
I’tikaf, Menemukan Kesejatian Diri
Written By Anonymous on 09 July, 2015 | July 09, 2015
Diambil dari Buku Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M. Anis Matta - Keajaiban I’tikaf (Menemukan Kesejatian Diri)
Kita sudah relatif jauh berjalan. Banyak yang sudah kita lihat dan yang kita raih. Tapi banyak yang masih kita keluhkan: rintangan yang menghambat, goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa, suara-suara gaduh yang memekakkan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu, dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret. Dan masih banyak lagi.
Jadi, mari kita berhenti sejenak disini! Ber’itikaf. Kita memerlukan saat-saat itu: saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual; saat dimana kita melepaskan sejenak beban kehidupan yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina kita.
Kita memerlukan saat-saat seperti itu, karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.
I’tikaf kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbarui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal, dan target-target yang dapat kita raih.
Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan; bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridha-Nya.
Karena itu, i’tikaf harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan hidup sudah semakin jauh. Tradisi i’tikaf ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, dan aktual di samping kebiasaan muhasabah, memperbarui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad.
Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakikat kekhusyukan yang disebutkan Al-Qur’an, maka ini salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam.
Maka, Allah SWT mengatakan, “Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka jadi keras, dan banyak dari mereka jadi fasik.” (QS Al Hadid: 16).
Di masa Islam, Allah mensyariatkan i’tikaf sepuluh hari terakhir pada setiap Bulan Ramadhan. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka, kata Ali bin Abi Thalib, adalah dzikir, dan diam mereka adalah perenungan.
Tradisi inilah yang hilang di antara kita, sehingga diam kita berubah jadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka, dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan berupa pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan, dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku. [pks.id]
Jadi, mari kita berhenti sejenak disini! Ber’itikaf. Kita memerlukan saat-saat itu: saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual; saat dimana kita melepaskan sejenak beban kehidupan yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina kita.
Kita memerlukan saat-saat seperti itu, karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.
I’tikaf kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbarui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal, dan target-target yang dapat kita raih.
Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan; bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridha-Nya.
Karena itu, i’tikaf harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan hidup sudah semakin jauh. Tradisi i’tikaf ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, dan aktual di samping kebiasaan muhasabah, memperbarui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad.
Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakikat kekhusyukan yang disebutkan Al-Qur’an, maka ini salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam.
Maka, Allah SWT mengatakan, “Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka jadi keras, dan banyak dari mereka jadi fasik.” (QS Al Hadid: 16).
Di masa Islam, Allah mensyariatkan i’tikaf sepuluh hari terakhir pada setiap Bulan Ramadhan. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka, kata Ali bin Abi Thalib, adalah dzikir, dan diam mereka adalah perenungan.
Tradisi inilah yang hilang di antara kita, sehingga diam kita berubah jadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka, dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan berupa pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan, dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku. [pks.id]
posted by @Adimin
Label:
Ramadhan,
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
July 09, 2015
posted by @Adimin
Gubernur Sumbar Makan Sahur Bersama Keluarga Sederhana
PADANG (5/7) - Masrizal, salah seorang warga Kampung Tampat Durian, Kelurahan Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), terlihat kaget sekaligus gembira. Ia tidak menyangka dikunjungi orang nomor satu di Sumbar, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.
Bahkan, Gubernur bersama rombongan antara lain Wakil Walikota Padang, Emzalmi, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) Edi Hasymi, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Ekal Lusti serta Camat Kuranji Salisma makan sahur bersama dengan keluarga yang dikaruniai tiga anak itu.
Di dalam rumah berlantai tanah berukuran 7 kali 8 meter, kelurga bersahaja itu menghabiskan waktu santap sahur bersama Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan rombongan singgah sahur Pemko Padang, meskipun sederhana dengan duduk bersila di teras rumah yang sangat sempit.
Singgah Sahur Pemerintah Kota Padang sudah menjadi program rutin sejak Ramadhan 1435 Hijriah. Namun, berbeda dengan pelaksanaan kegiatan singgah sahur sebelumnya. Singgah sahur Ahad (5/7) dini hari dihadiri Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, yang sengaja menyempatkan diri untuk melihat kondisi warga.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, kegiatan singgah sahur bukan sekedar program mengunjungi masyarakat, melainkan juga menyalurkan bantuan berupa bedah rumah dengan nilai Rp20 juta, beserta sejumlah bantuan lain seperti uang bea siswa sekolah dan permodalan usaha.
“Kunjungan tim ini bukan sekedar membawa makan sahur untuk dimakan bersama-sama. Tim membawa bantuan berupa bedah rumah. Ada juga bantuan Kelompok Usaha Bersama (Kube) dari Dinas Sosial, yang diberikan untuk istri pak Masrizal ini,” kata Irwan Prayitno.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Walikota Padang Emzalmi mengatakan, program bedah rumah telah dilaksanakan sejak tahun 2014 lalu. Sejak program berjalan sudah 600 unit rumah warga yang diperbaiki yang tersebar di sejumlah Kecamatan.
Tahun ini Pemerintah Kota Padang menargetkan program bedah rumah untuk 1000 unit yang tidak layak huni dan dilakukan secara bertahap.
“Kriteria tempat tinggal warga yang dibantu diperbaiki yakni rumah yang tidak layak ditinggali secara teknis maupun kesehatan, seperti lantai masih tanah dan dinding dari papan seadanya. Tahun ini kita akan bedah seribu rumah bertahap. Sampai 2019 program ini tetap dijalankan, hingga tidak ada lagi rumah tidak layak huni,” ujar Emzalmi.
Sementara itu, pasangan suami isteri itu mengaku terkejut dikunjungi Gubernur Sumbar bersama Wakil Walikota Padang Emzalmi beserta rombongan singgah sahur Pemko Padang, mengingat sebelumnya keluarga itu tidak mendapat pemberitahuan secara lisan maupun tulisan akan dikunjungi orang nomor satu di Sumbar. Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan dan isterinya Evayanti sebagai pedagang keripik, tidak mampu berucap banyak selain melontarkan kata senang dan bahagia, karena ternyata masih ada perhatian pemerintah terhadap warganya yang hidup dalam kondisi susah.
“Terkejut, kaget. Tiba-tiba datang Pak Gubernur. Alhadullilah ada bantuan bedah rumah ini. Saya hanya tukang, kadang dapat kerjaan, kadang liburnya panjang. Bagi saya mengumpulkan uang untuk memperbaiki rumah susah, apalagi ada kebutuhan untuk anak juga,” ujar Masrizal.
Pria berusia 39 tahun itu berharap, tempat tinggalnya akan selesai dibedah sebelum Idul Fitri, sehingga di hari Lebaran, keluarganya dapat merayakan hari kemenangan, tinggal di rumah yang layak, yang sejak lama diimpikan namun tak kunjung terwujud karena keterbatasan pembiayaan.
Sumber: http://obsessionnews.composted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
July 08, 2015
posted by @Adimin
Wako Ingin Padang Jadi Kota Penghafal Alquran
Written By Anonymous on 08 July, 2015 | July 08, 2015

PADANG – Kota Padang tidak hanya diharapkan sebagai kota yang sukses dalam pembangunan dan masyarakatnya, akan tetapi juga sebagai kota yang sukses dalam keagamaan. Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah bertekad Padang ke depannya menjadi kota penghafal Alquran.
“Mudah-mudahan Padang ke depan menjadi kota penghafal Alquran, kita berharap masyarakat senantiasa memberi dukungan,” kata Wako saat membuka Mukhayam Quran Terpadu (MQT) I yang diselenggarakan Rumah Tahfidz Baitul Quran di jalan Jakarta, Siteba, Padang, Senin (6/7).
Langkah untuk menjadikan Padang sebagai kota penghafal Alquran sudah terlihat sejak beberapa tahun ini. Dimulai dengan digelarnya Pesantren Ramadhan serta menjadikan seluruh siswa didik di Padang hafal Alquran sejak dini. Wako mengaku cukup senang melihat perkembangan Kota Padang. Langkah dan upaya untuk menjadikan Padang sebagai kota melek Alquran telah dilakukan seperti kegiatan ‘one day one juz’ dan sebagainya. “Target kita setiap siswa tamat Sekolah Dasar (SD) mampu hafal satu juz Alquran. Sebab kita ingin di Padang ini hadir para penghafal Alquran dan penghafal Alquran itu adalah calon penghuni surga,” ujar Wako Mahyeldi.
Seperti diketahui selama ini, Alquran telah menjadi variabel prestasi bagi siswa untuk diterima di sekolah-sekolah. Mereka yang mampu membaca dan hafal Alquran sebanyak 30 juz diberi kesempatan memilih sekolah yang diinginkan. “Pada umumnya anak yang cerdas adalah anak yang hafal Alquran,” tambah Wako.
Terkait Mukhayam Quran Terpadu (MQT) I yang diselenggarakan Rumah Tahfidz Baitul Quran, Wako Mahyeldi cukup menyambut baik kegiatan tersebut. “Mudah-mudahan ini bagian untuk mendorong masyarakat baca, hafal dan pahami Alquran,” katanya.
Sementara, Kepala Rumah Tahfidz Baitul Quran Rezki Rahmadani menyebut kegiatan Mukhayam Quran Terpadu (MQT) I merupakan upaya untuk menjadikan santri hafal Alquran. Pada MQT I ini sebanyak 24 santri ikut terlibat. “Kita berharap selama tiga hari pelaksanaan MQT ini seluruh santri hafal setengah juz Alquran,” terangnya. [Humas dan Protokol Kota Padang]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 24, 2015
posted by @Adimin
Di Hadapan Politisi Anis Matta Bicara Relasi Agama dan Negara
Written By Anonymous on 24 June, 2015 | June 24, 2015
JAKARTA (23/6) - Hari ini milyaran Umat Islam di dunia menjalankan ibadah puasa walau tidak ada satupun undang-undang yang memaksa, tidak ada satupun negara yang mewajibkan warganya untuk berpuasa, tidak ada polisi yang ditugaskan untuk mengawasi orang-orang yang tidak berpuasa. Mengapa hal demikian bisa terjadi?
Pertanyaan itu dilontarkan oleh Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta ketika mengawali ceramahnya dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar oleh Aburizal Bakrie di Grand Ballroom Shangri-La Hotel, Ahad (21/06). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah politisi lainnya.
“Agama memiliki wibawa spiritual yang hidup dalam hati manusia yang tidak dimiliki oleh negara. Karena itu, ada atau tidak ada negara, agama tetap akan dijalankan oleh manusia,” terangnya.
Anis menekankan bahwa perbedaan paling fundamental antara agama dan negara adalah sisi manusia yang mereka atur. Agama memandang manusia secara individu sedangkan negara memandang manusia dalam bentuk kelompok.
“Agama masuk kedalam kehidupan individu, mengintegrasikan tujuan hidup individu dengan kelompoknya, sementara negara tidak pernah peduli pada urusan manusia sebagai individu. Ini yang menjadi penyebab mengapa agama lebih abadi dibanding negara, bagaimana imperium dan negara bisa hilang silih berganti, namun pemeluk agama justru semakin bertambah,” ujarnya.
Meskipun demikian, lanjut Anis, negara tetap memiliki peran dalam kehidupan beragama seseorang. Negara punya peranan penting dalam mendekatkan individu pada agama, yakni dengan cara memberi kebebasan untuk memeluk dan menjalankan agama tanpa rasa takut, serta menjamin kesejahteraan warganya.
“Kesejahteraan memang tidak serta merta mendekatkan manusia pada agama, namun dengan kesejahteraan, manusia akan mampu berfikir tentang kebutuhannya sebagai individu, jauh melampaui kebutuhan secara fisik," katanya.
Menurut Anis, kesejahteraan tidak akan pernah terjadi jika kebutuhan dasar manusia (sandang dan pangan) tidak terpenuhi,” tegasnya sambil menambahkan bahwa kemiskinan bisa mendekatkan manusia pada kekufuran.
Pada kesempatan itu, Anis juga menyampaikan sebuah analisa tentang fenomena gaya hidup penduduk Eropa saat ini yang seolah semakin kehilangan arah.
”Penduduk Eropa saat ini mulai kehilangan tujuan hidup, dan tujuan hidup ini tidak bisa dijelaskan oleh negara,” pungkasnya.
Sumber: http://www.anismatta.netposted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 22, 2015
posted by @Adimin
Didatangi Walikota Padang saat Sahur, Warga Terharu
Written By Anonymous on 22 June, 2015 | June 22, 2015
Program “Singgah Sahur” yang dilakukan Walikota Padang, Sumatera Barat, Mahyeldi Ansyarullah, setiap Bulan Ramadhan dengan mendatangi rumah warga miskin, secara diam-diam tanpa pemberitahuan, masih dilanjutkan pada Ramadhan 1436H tahun ini.
Dalam aksi itu, didalam rumah warga, sang wali Kota makan sahur bersama dengan nasi bungkus yang ia bawa, sambil berbincang-bincang dan mendengar aspirasi. Kemudian, dia memberikan bantuan bedah rumah.
Seperti dilansir vivanews, untuk menuju rumah warga miskin agar bisa ikut makan sahur bersama, Mahyeldi harus berjalan kaki menyusuri jalan kampung. Dari jalan raya, Mahyeldi dan rombongan berjalan di pinggiran sungai dan pematang sawah. Rombongan ini akan melakukan sahur bersama dengan masyarakat dari keluarga miskin.
Mahyeldi ingin mengetahui bagaimana kondisi warganya di saat bulan Ramadhan, sembari menyerap aspirasi mereka.
Sesampai di salah satu rumah di kampung Tabek Batu, kelurahan Air Pacah, kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Mahyeldi langsung menemui keluarga tersebut. Tak ayal lagi, Syafril Rajo Basa dan istrinya kaget bukan kepalang karena di pagi buta, Wali Kota Padang datang ke rumahnya.
Awalnya, istri dan anak anak Syafril bingung, kenapa rombongan wali kota mendatangi rumahnya. Setelah diberi penjelasan, mereka sangat senang dan terharu bisa sahur bersama dengan orang nomor satu di kota Padang tersebut.
Makan sahur dengan nasi bungkus pun berjalan dengan khidmat. Tampak anak-anak Syafril dengan lahap makan dengan nasi bawaan Mahyeldi. Usai makan, Mahyeldi langsung menyampaikan rencana bedah rumah yang akan dilakukan di rumah Syafril tersebut, mengingat kondisi rumah yang sudah tidak layak.
Mahyeldi mengatakan, selama Ramadhan tahun ini terdapat 12 rumah keluarga miskin yang akan dikunjungi untuk dilakukan makan sahur bersama, sekaligus survei dalam rangka memberikan bantuan bedah rumah.
Perlu diketahui, program “Singgah Sahur” yang dilakukan oleh Walikota Padang ini tahun lalu sempat menjadi buah bibir.
Pasalnya, program tersebut terbilang tidak lazim dilakukan terutama ketika yang melakukannya adalah pejabat sekelas walikota. Apalagi, kegiatan sahur tersebut tidak dilakukan di rumah dinas atau hotel, tetapi datang langsung ke pemukiman warga tidak mampu yang ada di seantero Kota Padang. [viva/islamedia/YL]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 20, 2015
Pentingnya Menuntut Ilmu
Written By Sjam Deddy on 20 June, 2015 | June 20, 2015
Majelis ilmu itu
adalah majelis yang memudahkan jalan ke surga. Menuntut ilmu hukumnya wajib
baik bagi laki-laki maupun perempuan. Ilmu akan menuntut untuk membentuk akhlak
yang mulia. Allah sangat memuliakan orang yang berilmu. Dengan ilmu kita bisa
melaksanakan amal ibadah dengan sempurna. Ada sebuah istilah yang mengungkapkan
“tidak sempurnanya kewajiban karena sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib”
sesuatu itu diartikan dengan ilmu, di mana sebuah kegiatan wajib, tidak akan
sempurna tanpa mengetahui ilmunya. Contoh: Shalat merupakan ibadah wajib yang
harus dilakukan oleh umat Islam. Shalat mempunyai rukun dan syarat sah shalat
yang wajib dipenuhi oleh setiap orang yang mendirikan shalat. Maka agar shalat
menjadi sempurna, rukun shalat, syarat sah shalat, dan ilmu mengenai tata cara
shalat wajib dipelajari, sehingga kewajiban untuk melaksanakan shalat bisa
dilakukan dengan baik sesuai ilmunya.
Ilmu menjadi
konteks utama dalam suatu peradaban. Contohnya: Nabi Adam AS lebih dimuliakan
dibanding malaikat karena ilmu yang dimilikinya. Allah mengajarkan nama-nama
benda kepada Nabi Adam sehingga ia bisa menjawab benda-benda yang diperintahkan
oleh Allah untuk menyebutnya, sementara malaikat tidak bisa menyebut nama-nama
benda itu. Dengan ketinggian ilmu yang dimiliki oleh nabi Adam, Allah menyuruh
malaikat untuk memuliakan Nabi Adam dengan bersujud kepadanya. Ini membuktikan
bahwa Allah memuliakan orang-orang yang berilmu. Peristiwa ini diabadikan oleh
Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 31-35.
Sebelum Rasulullah
hadir di muka bumi, manusia berada pada masa kejahaliyaan. Hidup manusia berada
pada kondisi yang suram. Banyak terjadi pembunuhan terhadap anak perempuan,
minum-minuman, khamar, perendahan terhadap kaum wanita, menyembah berhala, dan
lain sebagainya. Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menyempurnakan akhlak
manusia. Dalam pengangkatan Nabi Muhammad menjadi nabi, ayat yang pertama
diturunkan adalah QS. Al-‘alaq ayat 1-5. Ayat pertama artinya “bacalah”, di
mana malaikat Jibril memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membaca. Hal ini
menunjukkan betapa Islam sangat mendorong manusia untuk menuntut ilmu.
Allah mengangkat
derajat orang yang beriman dan berilmu, sesuai dengan firman-Nya dalam QS.
Al-Mujaadilah ayat 11:
“Wahai orang-orang
yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam
majelis-majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, nisacaya
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti terhadap
apa yang kamu kerjakan”.
Barangsiapa yang
keluar meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu maka ia akan berada
di jalan Allah asalkan niatnya untuk mencari keridhaan Allah. Jadi jelaslah
bahwa setiap muslim wajib untuk menuntut ilmu karena ilmu sangat penting untuk
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
dakwatuna
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
June 19, 2015
posted by @Adimin
3 Kader PKS Raih WTP di Sumatera Barat
Written By Anonymous on 19 June, 2015 | June 19, 2015
PADANG (18/6) - Hasil menggembirakan diraih oleh 3 kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menjadi Kepala Daerah di Sumatera Barat. 3 kader PKS raih WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK RI atas Laporan Kauangan dan Aset pada tahun 2014.
3 kader PKS raih WTP diantaranya Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat; Mahyeldi Ansharullah, Walikota Padang; dan Riza Falepi, Walikota Payakumbuh.
Untuk Padang dan Payakumbuh, raihan WTP masih dengan adanya paragraf penjelasan dimana masih ada beberapa hal yang masih harus diperbaiki, seperti laporan keuangan dan aset pemeirntah.
Namun berbeda dengan Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat yang berhasil meraih WTP Penuh tanpa ada catatan dan paragraf. Dimana 2 tahun sebelumnya Provinsi Sumatera Barat juga meraih WTP namun masih memiliki catatan dan paragraf.
Ini adalah raihan tertinggi dari seorang Iwan Prayitno dalam memimpin Sumatera Barat. Dimana WTP Penuh menandakan adanya pengelolaan keuangan daerah yang terlaksana dengan baik dan hal ini termaktub dalam LKPJ akhir masa jabatan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno.
Sementara untuk Payakumbuh, yang dipimpin oleh Riza Falepi, raihan WTP kali ini adalah untuk yang pertama kalinya setelah lima tahun berturut-turut meraih WDP (Wajar Dengan Pengecualian).
Raihan ini juga sama dengan yang dialami oleh Mahyeldi Ansharullah, Walikota Padang. Dimana pada tahun ini,di bawah kepemimpinan beliau, Kota Padang mengalami perbaikan dalam hal Laporan Keuangan dan Aset sehingga bisa meraih WTP.
3 kader PKS raih WTP ini adalah prestasi yang sangat luar biasa dan membanggakan dalam memimpin daerahnya masing-masing. Sebagai partai islam yang mengusung tagline Cinta, Kerja, dan Harmoni, PKS mengantarkan kader-kadernya berhasil mengelola keuangan daerah secara baik dan bersih.
Sumber: http://serambiminang.composted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 17, 2015
posted by @Adimin
Demografi & Agama
Written By Anonymous on 17 June, 2015 | June 17, 2015
Demografi & Agama, Oleh Anis Matta (Presiden Partai Keadilan sejahtera)
Dimuat di Koran SINDO 17 Juni 2015
Agama salah satu faktor yang memengaruhi perilaku individu. Ketika individu- individu berkembang menjadi kelompok, tentu ia akan memengaruhi wajah suatu masyarakat.
Sejumlah orang menganut agama tertentu, dengan identitas dan perilaku tertentu, adalah fakta demografis dan sosiologis yang membentuk peta sosial-politik. Bagaimana pada tataran global? Pada April lalu Pew Research Centre di Amerika Serikat melansir laporan prediksi pertumbuhan agama-agama di dunia. Dalam laporan itu diperkirakan pada 2050 jumlah muslim akan sama dengan pemeluk agama Kristen di dunia.
Sebagai perbandingan, pada 2010 Kristen adalah agama terbesar di dunia dengan estimasi pemeluk 2,2 miliar (31%) dari 6,9 miliar penduduk Bumi. Islam berikutnya, dengan jumlah 1,6 miliar atau 23%. Lebih lanjut Pew memprediksi muslim akan mengisi 10% populasi Eropa dan menggeser Yahudi sebagai agama non-Kristen terbesar di Amerika. Di negeri Paman Sam, pemeluk Kristen akan turun dari tiga perempat menjadi dua pertiga pada 2050. Yang menarik India. Hindu akan tetap menjadi agama mayoritas.
Namun, karena penduduk yang begitu banyak, jumlah muslim di India akan melewati negara mana pun, termasuk Indonesia. Atheis, agnostik, dan orang yang tidak berafiliasi dengan agama, walaupun meningkat di sejumlah negara seperti AS dan Prancis, akan menurun pangsanya dalam komposisi populasi global. Buddha akan berjumlah sama dengan jumlahnya pada 2010, sementara Hindu dan Yahudi akan tumbuh.
Di Afrika diperkirakan Kristen akan tumbuh mencapai 40% dari jumlah penduduk benua itu. Nigeria akan menjadi negara dengan jumlah umat Kristen terbanyak dibanding semua negara, kecuali AS dan Brasil. Inilah prediksi wajah demografi agama di dunia pada 2050. Setiap prediksi tentu punya kelemahan dan ruang untuk kesalahan ( margin of errors ), namun laporan Pew ini menarik untuk kita jadikan sebagai referensi secara kritis.
Selain potret demografis, kita juga menyaksikan tokoh-tokoh berbagai agama muncul di berbagai bidang. Ambil contoh di Amerika. CEO Microsoft Satya Nadella adalah warga negara AS beragama Hindu kelahiran Hyderabad, India. Co-founder YouTube Jawed Karim adalah muslim keturunan Bangladesh kelahiran Jerman Timur (waktu itu) yang melintas ke Jerman Barat dan pindah ke Amerika setelah reunifikasi Jerman.
Di negeri Paman Sam sudah ada dua orang muslim menjadi anggota Kongres. Di Belanda, wali kota Rotterdam adalah muslim kelahiran Maroko dan di Inggris sudah ada beberapa wali kota muslim. Masih banyak contoh di berbagai negara.
Keseimbangan Baru
Fenomena di atas dan prediksi Pew menunjukkan dunia sedang bergerak ke arah keseimbangan baru—dengan segala harapan dan kecemasannya. Dalam berbagai kesempatan berdiskusi di negara-negara dunia Islam, seperti Turki, Mesir, atau Aljazair, saya kerap mendapat pertanyaan bagaimana Indonesia melewati transisi demokrasi dalam ketegangan hubungan antara Islam dan negara serta Islam vis-a-vis modernitas.
Di Indonesia sendiri ini diskusi panjang yang telah dibuka Tjokroaminoto dan Sutan Takdir Alisjahbana sebelum kemerdekaan, dilanjutkan Nurcholish Madjid mulai 1970-an, hingga sekarang. Yang juga banyak dibahas adalah betapa benturan budaya yang belum sepenuhnya selesai menjadi masalah bagi modernisasi di dunia Islam. Basis keagamaan yang kental di suatu masyarakat tidak dapat dicerabut begitu saja oleh proyek besar modernisasi. Pada saat yang sama, negara tidak dapat menyelesaikan benturan ini dengan pendekatan struktural.
Dalam hal relasi agama (Islam) dan negara, dari pengalaman banyak negara, ketegangan yang muncul malah berujung pada pertempuran yang merugikan kedua belah pihak ( lose-lose battle). Jika kita membaca data Pew di atas, kita melihat keseimbangan geopolitik baru di masa depan dimulai dari perubahan lanskap demografis. Negara tidak lagi menjadi ”lawan bicara” tunggal agama dalam berinteraksi. Masyarakat sipil dan pasar kini berperan untuk menjadi ruang aktualisasi agama-agama.
Negara akan surut menjadi penjaga ketertiban administrasi penduduk global yang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Negara akan menjadi makin netral dan tak ”berwarna”. Agama pernah menjadi faktor pemicu globalisasi sejak lebih dari seribu tahun lalu, ketika terjadi penyebaran agama dari pusat-pusat agama ke berbagai penjuru dunia, baik Buddha, Hindu, Islam, dan Kristen. Namun, konteks penyebaran agama pada saat itu adalah ekstensifikasi basis pengikut secara kuantitatif yang kerap berkelindan dengan motif-motif politik dan ekonomi.
Globalisasi agama yang sekarang berlangsung adalah rasa pertautan orang-orang di seluruh dunia oleh ajaran, referensi dan perilaku dari ajaran agama yang sama. Pertumbuhan agama bukan lagi disebabkan ekspansi wilayah dan penaklukan, tetapi akibat ”pertumbuhan organik” di dalam umat beragama tersebut dan akseptabilitas agama oleh individu yang makin atomistik. Daya globalisasi agama kini dalam beberapa hal mengaburkan negara-bangsa.
Globalisasi punya sisi gelap membuat orang teralienasi, merasa asing, dan sendiri di tengah dunia yang hiruk-pikuk. Maka tak heran jika globalisasi, selain menghasilkan keterbukaan, juga memicu lahirnya ”ketertutupan”. Fenomena ekstremisme dan primodialisme merupakan pantulan balik dari globalisasi yang menjangkau hingga ke relung-relung privat kehidupan. Kita beruntung karena semua umat beragama merupakan bagian yang tak terpisahkan dari terbentuknya negara-bangsa Indonesia.
Perdebatan Piagam Jakarta dalam proses pembentukan negara Indonesia adalah referensi sejarah yang berharga. Saya memandang peristiwa itu secara positif. Itulah bentuk kompromi dan jiwa besar para pendiri bangsa dalam menyusun suatu cetak biru yang dapat memayungi seluruh warga dari berbagai agama. Karena itu, untuk konteks Indonesia, globalisasi agama (atau agama-agama) dan negara-bangsa dapat diarahkan untuk saling memberi manfaat dan menguatkan satu sama lain. Keseimbangan baru di tataran global tidak boleh dimaknai karena ”kuat sama kuat, mari kita bertarung”.
Sebaliknya, spirit yang harus dikedepankan adalah ”karena kita sama kuat, mari bekerja sama”. Koeksistensi damai antaragama adalah proyek besar berikutnya untuk meredam kekerasan berkedok agama yang dimainkan sekelompok kecil tertentu. Dunia kini diliputi kecemasan akibat terorisme karena siapa pun kita dan apa pun agama kita dapat saja tiba-tiba terluka bahkan terbunuh oleh alasan yang tidak kita mengerti.
Rasa sakit akibat luka itu sama. Karena itu, sebenarnya umat manusia di dunia dipersatukan oleh ketakutan yang sama. Terciptanya perimbangan demografis baru pada 2050 itu harus menjadi momentum keseimbangan perdamaian global yang diusahakan oleh semua pihak, baik dari negara maupun komunitas agama global. Keseimbangan baru itu juga menjadi peluang Indonesia berperan sebagai referensi dalam transisi demokrasi dan pengelolaan relasi agama dan negara— khususnya bagi negara-negara dunia Islam.
Tentu itu memberi tantangan yang lebih berat lagi bagi kita sendiri untuk merawat demokrasi dan perdamaian antarumat beragama di negeri kita. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan. [Koran SINDO 17 Juni 2015]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 17, 2015
posted by @Adimin
Sumbar Menjadi Lokasi Pencanangan Gerakan Remaja Melek Media
PADANG (15/6) – Melalui kegiatan pencanangan Gerakan Remaja Melek Media diharapkan para siswa tidak lagi sekedar menjadi konsumen berita, melainkan menjadi produsen informasi dan kritis terhadap berita yang dimuat pada berbagai media.
“Berbeda dengan dahulu, saat ini kita hidup di era informasi yang luar biasa banyaknya. Informasi yang banyak itu mengharuskan anak-anak harus bisa memilah, memilih, memanfaatkan, dan mengkritisi,” ungkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan usai membuka Gerakan Remaja Melek Media di Auditorium Gubernuran, Sumatera Barat, Senin (15/6).
Dalam merealisasikan gerakan dimaksud, Kemendikbud menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang telah menjalankan kegiatan itu, melalui pemberian pelatihan bagi guru dan siswa secara berkelanjutan.
“Nantinya kawan-kawan di PWI akan datang ke sekolah-sekolah memberikan pelatihan, tidak hanya bagi siswa tapi juga untuk guru. Kalau guru malas membaca, menulis, dan menganalisa informasi, maka siswanya juga malas. Untuk itu keduanya dilatih, agar di fase berikutnya mereka justru bisa menjadi produsen informasi,” terangnya.
Menurut Anies, dipilihnya Sumatera Barat (Sumbar) sebagai lokasi pencanangan Gerakan Remaja Melek Media, karena tanah Minangkabau memiliki potensi untuk melahirkan jurnalis dan tokoh intelektual yang berkontribusi terhadap berdirinya Republik Indonesia ini.
“Sumatera Barat melahirkan Adinegoro, Rasuna Said, mereka jurnalis hebat yang berkontribusi besar terhadap lahirnya bangsa ini. Ke depan, bukan tidak mungkin, Sumatera Barat melahirkan kembali tokoh serupa melalui gerakan ini,” harapnya.
Sementara itu, untuk mendukung suksesnya gerakan ini, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengaku akan mengeluarkan surat edaran ke seluruh Kabupaten/Kota, yang meminta setiap sekolah berlangganan koran lokal, nasional, ataupun internasional.
“Sekolah harus langganan koran, lalu diletakkan di perpustakaan agar siswa memiliki akses untuk mendapatkan informasi yang luas. Dari situ mereka memahami informasi. Selanjutnya melalui bimbingan PWI, mereka bisa menghasilkan karya juga,” terang Irwan. [humas pemprov]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN

