pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

DPC PKS Kuranji Mengadakan Training Orientasi Partai

Written By NeoBee on 20 March, 2017 | March 20, 2017




Pkspadang.com : Untuk lebih menggerakkan mesin dan menggelorakan semangat jihad siyasi maka DPC Kuranji mengadakan TOP (training Orientasi Partai). TOP Kuranji yang dilaksanakan pada hari Ahad 19 Maret 2017 dihadiri oleh kurang lebih 50 orang peserta yang berkomitmen akan berjuang bersama sama PKS DPC Kuranji…..


Dalam TOP tersebut peserta mendapatkan pencerahan kepada peserta TOP tentang pentingnya ummat Islam untuk berperan serta dalam dunia politik yang tentunya bermuara untuk kepentingan ummat juga. Hal tersebut disampaikan oleh, Ust Gufron, SS sebagai Ketua Umum DPD PKS Padang sekaligus sebagai pemateri dalam TOP tersebut. TOP kali ini dihadiri juga oleh Ketua DPC PKS Kuranji yang saat ini diemban oleh Ust Syafriyon beserta jajarannya.

Semoga dengan diadakannya TOP tersebut maka seluruh kader dan pengurus PKS Kuranji semakin menggelora semangat jihadnya…….
 

posted by @Adimin

PKS Sumbar Selenggarakan Rakorwil



pkspadang.com : Untuk menyamakan suhu dan semangat rakornas PKS, maka DPW PKS Sumbar mengadakan rakorwil (rapat Koordinasi Wayah). Program program unggulan DPP yang sudah dirumuskan saat rakornas diturunkan ke DPW dan DPD sesumatera barat dengan memperhatikan dan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada pada masing masing DPD di tiap tiap Kota/kabupaten di Sumatera Barat.

Program program DPD diolah sedemikian rupa berdasarkan IKU (Indikator Kerja Utama) masing masing bidang. Dengan kerja masing masing bidang yang ada yang berdasarkan IKU, maka diharapkan kinerja masing masing bidang bias terarah dan terukur. 

Rakorwil Sumbar di hadiri oleh pengurus Wilda Sumbagsel Ust. Hermanto beserta jajaran pengurus, hadir pula musyrif SUmbar Ust. Syaurium Khatib dan seluruh jajaran DPW Sumatera Barat yang saat ini di komandani oleh Ust Irsyad Syafar. 

Semoga dengan diadakannya Rakorwil Sumbar ini bias lebih menggelorakan dakwah di Sumatera Barat dan di kota/kabupaten yang ada diwialayah sumatera Barat. ALLAHU AKBAR…………….


posted by @Adimin

Hati-Hati Dalam Menjadikan Seseorang Sebagai Rujukan Beragama

Written By NeoBee on 17 March, 2017 | March 17, 2017

Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.

Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:
“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).

Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:

Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:
“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.

Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).

Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:
“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).

Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:
“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).

Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:
“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin
 





posted by @Adimin

“Sinar Ramadhan” di Pelupuk Mata

Written By NeoBee on 15 March, 2017 | March 15, 2017


MUNGKIN masih terbilang jauh (masih sekitar 73 hari), namun kerinduan hati sudah mulai terasa, Kehadirannya sudah harap dinanti. Suasana manis tahun lalu seolah sudah berada di depan mata untuk terulang kembali. Momentum yang kedatangannya yang hanya satu bulan membuatnya menjadi bulan yang penuh fenomenal diantara sahabat-sahabat bulan yang lain.

Masih ingatkah kita saat detik-detik berpisah dengannya tahun lalu, haru bercampur sedih, seolah tidak ingin melepasnya. Apalagi ketika kita mulai menyadari dan memuhasasah bahwa ternyata ibadah kita masih belum maksimal. Hari-hari yang kita lewati bersamanya penuh dinamika perjuangan dan tarbiyah.

Moment itupun Allah tutup dengan kembali menghadirkan satu hari yang sangat istimewa bagi kaum muslimin yakni “Idul Fitri”. Mata berkaca-kaca dan sesekali meneteskan air mata, ada yang karena tidak kuasa menahan haru dan gembira karena berkumpul dengan keluarga, saudara dan kerabat. Namun ada juga yang karena bersedih tidak bisa menikmati udara “fitri” bersama keluarga dan kerabat. Namun nafas sedikit lega dan hati terasa riang saat tangan-tangan mulai kuat saling menjabat sesama saudara seiman, berpelukan dan saling mendoakan.

Hari-demi hari, hitungan minggu dan bulan, Ramadhanpun berlalu. Ayat كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ sudah tidak terdengar lagi di atas mimbar yang lantang. Ayat itu hidup namun karena lekatnya hukum ramadhan atau puasa kepadanya membuat ayat-ayat itu istirahat sejenak. Syawal, Muharam, safar dst.. berlalu kitapun melupakan pesona Ramadhan. Mungkin itu alamiyah.. Allahu A’lam.

Namun kini kita sudah berada di Bulan Rajab, setelah itu Sya’ban lalu Ramadhanpun hadir menyelimuti kita. Ia datang menawarkan berjuta faedah, sejuta pahala dan penghapus dosa.

Puasa, Ibadah yang Melegenda

Ibadah Puasa merupakan ibadah yang telah berlangsung lama, sebelum menjadi syari’at Muhammad. Al-Qur’an sendiri menyatakan hal tersebut dalam frasa ayat-Nya, Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”.

Ayat di atas mengindikasikan bahwa ibadah puasa (Ramadhan) merupakan titik temu antar agama yang terdahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassallam. Syeikh Yusuf Qardhawi  mengatakan bahwa syariat puasa merupakan syari’at kolektif agama samawi, yang menjadi kalimatun sawa’ antar seluruh penganutnya, sehingga tepat untuk dijadikan alat ukur keberlangsungan sebuah ibadah. (Ayat-ayat Puasa Tadabbur 30 Ayat Seputar Ramadhan, Dr.H. Atabik, Luthfi, MA)

Dalam buku itu,  Atabik,  mengutip dari Syeikh Mutawalli As-Sya’rawi mengatakan bahwa ibadah puasa merupakan rukun ta’abbudin (pondasi dan dasar ibadah) bagi seluruh agama Allah. Juga sebagai manhaj tarbiyah dan pembinaan ummat.

Kalaimatun sawa’ antar seluruh agama samawi dalam ibadah puasa selain kesamaan dalam prinsip kualitas kebaikan manusia, juga dalam tata cara pelaksanaannya.

Sebagai contoh, meninggalkan makan dan minum, serta nafsu syahwat pada beberapa waktu yang ditentukan. Namun seiring dengan waktu, nilai-nilai puasa pada ummat terdahulu (sebelum Islam) sedikit demi sedikit terkikis dan dilupakan.

Kalimatu sawa’ (puasa) terhenti begitu saja, banyaknya perubahan yang mereka lakukan termasuk syariat puasa yang secara eksplisit oleh al-qur’an atau oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sendiri dalam haditsnya mengatakan;

شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا
”(Puasa yang wajib bagimu adalah) puasa Ramadhan. Jika engkau menghendaki untuk melakukan puasa sunnah (maka lakukanlah).” (HR. Bukhari)

 “Puasa Ramadhan telah diwajibkan oleh Allah kepada seluruh ummat sebelum kalian.” (HR. Bukhari)

Daya Tarik Ramadhan

Ramadhan sepertinya sudah dimasukkan benang benang berkah oleh Allah, sehingga hal itu dapat terkoneksi langsung dengan umat Islam yang sedang menanti untuk merajut dan menyemai pakaian taqwa.

Bahkan Sejak bulan rajab, kita sudah mulai berpikir tentang ramadhan, padahal bulan sya’ban akan terlebih dahulu menyela sebelum datangnya ramadhan. Do’apun mulai kita panjatkan agar kita diberikan umur yang panjang dan berjumpa dengan tamu yang mulia.

Terlihat jelas bagaimana Rasulullah menggambarkan daya tarik Ramadhan, sehingga Sya’ban adalah arena pemanasan, latihan dan tarbiyah memasukinya. Seperti banyak melaksanakan puasa sunnah.

Dari Aisyah R.A berkata: dari ‘Aisyah yang menyebutkan,
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” (HR. Muslim no. 1176).

Selain memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban,  juga sebagai bulan memperbanyak amal saleh.

Dalam hadits dari Usamah bin Zaid R.A, ia berkata: “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau menjawab:

ذَلِكَشَهْرٌيَغْفِلُالنَّاسُعَنْهُوَهُوَشَهْرٌتُرْفَعُفِيهِالأَعْمَالإِلىرَبِّالعَالمِينَ،فَأُحِبُّأَنْيُرْفَعَعمليوَأَنَاصَائِمٌ
“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

Dan Sya’ban merupakan masa latihan sebelum naik ke ring Berkah (ramadhan) berbagai upaya bisa dilakukan: belajar tentang fiqih puasa, ilmu tentang ramadhan, persiapan mental, materi keluarga dan lain sebagainya.

Kalau misalnya ada yang interested (tertarik) kepada ramadahan karena ingin maraup materi dan untung yang banyak, panen rezeki, hal itu bukanlah tujuan utama dan juga tidak terlarang hanya jangan sampai kita jadikan tujuan utama, tetapi hal itu adalah  salah satu dari berkah dari bulan ramadhan yang penuh attractiveness (daya tarik)

Sejak bulan rajab sampai bulan Sya’ban, alampun mulai kembali ramai dengan akan datangnya tamu yang agung (Ramadhan) setelah sekian lama pergi meninggalkan kita. Lembar-lembar kertas akan mulai terlukis dengan segudang ilmu tentangnya. Serpiha-serpihan faedah akan terkumpul kembali dalam rumah yang memberikan jaminan perlindungan dunia akhirat.

Maukah kita tampil sebagai pemain terbaik yang layak mendapat tropi “Syurga”? Atau sebaliknya apakah kita akan menjadi pecundang yang tidak mampu memanfaatkan kesempatan emas, tidak gembira dengan datangnya ramadhan dan tidak tertarik dengannya, sehingga strategi melepaskan belenggu syetan tidak mampu dilakukan? Dan sertifikat “terbebas dari api neraka” pun tidak didapatkan  ‘naudzu billahi min dzalik’.

Ibarat kedatangan tamu yang mulia, maka tuan rumah yang baik tentu akan mempersiapkan sambutan yang matang. Kita semua kaum muslimin adalah tuan rumah yang akan mempersiapkan tamu ramadhan. Allahu A’lam
 

posted by @Adimin

Sejak Dulu Umat Islam Adalah Benteng Keutuhan NKRI Sejak Dulu

Written By @Adimin on 13 March, 2017 | March 13, 2017


Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari mengatakan bahwa yang menjaga terwujudnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak dulu adalah umat Islam. Indonesia jika tidak ada peran umat Islam dalam menjaganya, pasti sudah runtuh.
 
Kharis mengatakan, tentara jika mau berangkat perang pasti mendekatkan diri kepada Tuhannya.

"Kalau tentara itu umat Islam dan dekat dengan Allah, yakin bahwa kematiannya membela agama adalah syahid, maka mental tentara tersebut akan semakin kuat,” ungkapnya dalam Kajian Purnama (Kapur) yang digelar di halaman kantor DPC PKS Pasar Kliwon, Ahad (12/3). 

Dalam acara yang bertemakan Peran Umat Islam dalam Menjaga NKRI tersebut, Kharis juga mengatakan bahwa dalam sejarah penjajah datang ke Indonesia selain membawa misi meraup kekayaan dan kejayaan untuk negaranya, namun mereka juga membawa misi agama juga yang dikenal dengan Gold, Glory, Gospel. "Dan itu bukan Islam, kedatangan Islam menyejahterakan,” katanya.

Ancaman terbesar sering tidak disadari adalah ancaman distorsi informasi. Misal ketika mendengar seluruh terduga teroris mempunyai jenggot. Maka persepsi yang ada dalam benak masyarakat, berjenggot mempunyai potensi menjadi teroris.

“Ini lebih berbahaya dari perang gerilya. Tentara kita adalah salah satu yang terbaik jika perang gerilya. Namun jika ancaman distorsi informasi, hal ini sulit dicegah karena ancaman ini bahkan dibawa masuk ke rumah kita,” ujarnya. 

Rahmat Abdullah menyampaikan mengenai sejarah kerajaan Islam yang pernah berjaya di Indonesia. Menurutnya, adanya kerajaan Islam tersebut menjadi benteng nusantara dalam melawan penjajahan asing.

Tak hanya mendapatkatkan pemaparan tentang materi, dalam Kapur tersebut juga disuguhkan menu susu segar dan camilan kepada peserta.


posted by @Adimin

PKS Padang Salurkan Bantuan utk Korban Banjir Lima Puluh Kota

Written By NeoBee on 12 March, 2017 | March 12, 2017


pkspadang.com : Seiring dengan musibah yang terjadi di kabupaten lima puluh kota, PKS kota Padang memberikan bantuan berupa makanan pokok dan pakaian layak pakai yang bias dimanfaatkan oleg masyarakat sekitar yang terkena bencana. Bantuan disalurkan dan dikoordinasikan melalui BKO (bidang Kepanduan dan Olahraga) yang dikomandani oleh Jhon Bahrian. Bantuan dilepas langsung oleh Ketua PKS Kota Padang yang saat ini diemban oleh Ust. Gufron, SS. Beliau dalam arahannya menitikberatkan agar bantuan bisa cepat sampai dan tepat sasaran sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang terkena musibah.


Bencana kali ini cukup luas sebanyak delapan kecamatan dan 13 nagari terdampak langsung dari banjir dan longsor yang meliputi Kecamatan Pangkalan, Kapur IX, Mungka, Harau, Payakumbuh, Lareh Sago Halaban, Suliki, dan Empat Barisan.


Hingga Sabtu (4/3/2017) sore korban jiwa akibat longsor di Kabupaten Limapuluh Kota adalah lima orang meninggal dunia dan Dua orang luka berat. 


Ratusan rumah terendam banjir seperti di 150 rumah di Jorong Ranah Pasar, 50 unit rumah di Jorong Ranah Baru, 50 unit rumah di Jorong Abai. Pendataan masih dilakukan oleh BPBD.
 

posted by @Adimin

Jadilah Muslim yang Pandai Mengambil Hikmah

Written By NeoBee on 09 March, 2017 | March 09, 2017

SESEORANG akan terus menghadapi ujian yang sama jika setiap kali ujian datang, ia tak pernah lulus dari ujian tersebut,” demikian ungkapan seorang pengusaha kala memberikan motivasi.

Ia pun menyontohkan, “Misalnya ada orang tiba-tiba sakit perut. Ia terus mencari obat, reda. Dan, tidak lama lagi, sakit perut lagi. Loh, kenapa jadi sering sakit perut,” urainya.

“Orang yang seperti itu tidak mengambil hikmah. Sebenarnya ketika sakit perut pertama, ia mestinya mengambil hikmah, cek kebiasaan makannya. Apakah makanannya berdasarkan kebutuhan atau nurutin selera, sambel yang banyak misalnya. Jika dia tidak mengambil hikmah, sampai kapanpun, sekalipun ia minum obat, sakit perut itu akan terus menimpanya. Kenapa, ia bersandar pada obat dan tidak benar-benar ingin sehat. Kalau mau sehat, ambil hikmah dan berhenti makan secara tidak sehat,” jelasnya.

Pandangan tersebut patut memantik kesadaran kita untuk melihat hidup ini dengan menemukan atau mengambil hikmah dari setiap kejadian yang mewarnai kehidupan ini.

Allah Ta’ala pun memerintahkan kita untuk berpikir dengan kisah-kisah, perumpamaan yang Allah jabarkan di dalam Al-Qur’an.

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar merepa berpikir.” (QS. Al-A’raf: 176).

Dalam bahasa umum hikmah dipahami sebagai kebijaksanaan atau bijaksana. Dan, di dalam Al-Qur’an istilah ‘hikmah’ yang merupakan langsung dan asli dari Al-Qur’an itu disebut sebanyak 20 kali. Hamid Fahmy Zarkasy dalam artikelnya yang berjudul “Hikmah” menjelaskan bahwa Hikmah juga berkaitan dengan berpikir yang logis dan mendalam. Karena itu Ibn Rusyd menerjemahkan ‘hikmah’ dengan filsafat dan hakim dengan filosof.

Tentu saja, makna praktis yang bisa kita ambil adalah bagaimana kita senantiasa mau mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang mengitari kehidupan sekaligus mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah-kisah yang ada di dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, perubahan mindset dan perilaku bisa secara perlahan diupayakan di dalam diri kita.

Sebagai contoh, mari kita pelajari mengapa Abu Bakar diberi gelar Ash-Shiddiq. Aisyah Raiyallahu ‘Anha mengatakan, “Ketika Nabi Shallallahu alayhi wasallam dalam perjalanan ke Masjid Aqsha saat Isra Mi’raj, banyak orang membicarakannya.

Beberapa orang yang telah beriman pun berbalik tidak percaya, lalu mendatangi Abu Bakar dan berkata, “Apa pendapatmu tentang cerita temanmu itu? Dia mengaku telah diperjalankan ke Baitul Maqdis semalam. Dia mengaku telah diperjalankan ke Baitul Maqdis semalam.”

Abu Bakar balik bertanya, Dia mengatakan demikian?” Mereka menjawab, “Ya.” Abu Bakar menimpali, “Kalau begitu dia benar.”

“Jika dia pergi ke Baitul Maqdis semalam dan kembali sebelum pagi hari ini, apa engkau akan membenarkannya juga?” tanya mereka lagi.

Abu Bakar menjawab, “Seandainya dia mengatakan lebih jauh lagi dari itu, aku akan membenarkannya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Hal inilah yang menjadikan Abu Bakar dijuluki dengan Ash-Shiddiq.

Kisah di atas memberikan petunjuk bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan segala kebenaran yang belum bisa dijangkau oleh rasio dan cara berpikir saat itu sama sekali bukan penentu untuk mengukur kebenaran dan keabsahan kerasulan Muhammad. Toh, dalam praktik keseharian, Nabi Muhammad adalah orang yang berkahlakul karimah, menghendaki hidayah bagi umatnya dan tidak pernah berpikir bagaimana mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi. Dengan logika sederhana bisa dipahami, “Jadi apa untungnya Nabi Muhammad berbohong dan itu sangat mustahil.” Oleh karena itu, keimanan Abu Bakar tidak pernah goyah dengan ketidaktahuan masyarakat Arab pada umumnya.

Secara lebih utuh, kisah Nabi Yusuf adalah kisah terlengkap di dalam Al-Qur’an yang terurai secara keseluruhan di dalam satu surah, yang tentu saja memudahkan kita untuk mengambil pelajaran (hikmah) di dalam kisah tersebut.
Sampai-sampai Allah Ta’ala menegaskan

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَـذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yusuf [12]: 3).

Di antara hikmah terbesar dari kisah Nabi Yusuf adalah kesabarannya dalam menghadapi cobaan hidup dan bahkan Nabi Yusuf berlapang dada dan memaafkan saudara-saudaranya saat dirinya menjadi orang yang Allah angkat derajatnya.

Secara eksplisit Allah nyatakan mengenai kisah Nabi Yusuf ini.

لَّقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ
“Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (QS. Yusuf [12]: 7).

Bagi orang-orang yang bertanya menunjukkan bahwa apa yang ditegaskan oleh Hamid Fahmy Zarkasy bahwa hikmah bermakna pemikiran yang mendalam sangatlah relevan. Oleh karena itu, Allah banyak sekali memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berpikir, terutama untuk memahami kekuasaan Allah Ta’ala.

Di antara hikmah dari kisah Nabi Yusuf adalah jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, sekalipun rasa-rasanya hidup diterpa kesulitan secara bertubi-tubi. Kemudian, jangan pernah kompromi dengan kebatilan, sebab sekalipun harus menghadapi kesulitan karena konsisten di dalam kebenaran, Allah lah yang akan berikan jalan keluar terbaik dan membalikkan keadaan.

Selanjutnya, jangan pernah dendam, sekalipun terhadap mereka yang telah membuat hidup kita sengsara. Maafkan dan terimalah mereka kembali. Di sana ada kebahagiaan luar biasa.

Dengan demikian, sebenarnya hidup seorang Muslim tidak perlu dilanda stress dan frustasi. Sebab, apapun yang kita alami, hakikatnya solusi sudah ada di dalam Al-Qur’an.

Pertanyaannya adalah, apakah diri kita telah benar-benar mengambil pelajaran dengan sungguh-sungguh mentadabburinya atau sekedar tahu tanpa pernah melakukan perenungan dan pendalaman dari setiap ayat-ayat Allah yang terpapar di dalam Al-Qur’an.

Padahal, mengambil hikmah itu adalah perlu karena itulah sejatinya kekuatan dari setiap pembacaan yang kita lakukan. Dan, tentu saja hikmah itu datangnya dari Allah, bukan kemampuan kita semata.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
 “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 269).

Semoga Allah bimbing kita senantiasa mampu mengambil hikmah, sehingga dapat mengambil pelajaran dan istiqomah di dalam keimanan dan kebenaran. 
Wallahu a’lam

Imam Nawawi


posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger