pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

PKS Siapkan Strategi Perang Jarak Pendek

Written By Anonymous on 16 January, 2014 | January 16, 2014


JAKARTA -- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq mengungkapkan, partainya akan menerapkan strategi 'perang jarak pendek' untuk bisa menang pada Pemilu 2014 terutama dalam menghadapi pemberitaan negatif dari media massa.

"Orang (partai) lain bertempur dalam jarak jauh namun kami (dengan strategi) jarak pendek," kata Mahfudz di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (15/1).

Strategi tersebut, ia gambarkan sebagai strategi yang mengandalkan kesolidan kader dan mesin partainya. Dia mengatakan partainya memiliki sumber daya kader dan mesin partai yang tetap terjaga serta terkonsolidasi. Sumber daya itu menurut dia akan dimaksimalkan dalam menghadapi Pemilu 2014.

Mahfudz menilai survei Pol-Tracking terkait pemberitaan negatif mengaitkan persoalan hukum partainya. Namun menurut dia saat ini PKS sudah masuk wilayah landai setelah mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq divonis pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

"Sebenarnya PKS sudah masuk wilayah landai dengan vonis (Luthfi Hasan) yang sudah diputus meskipun kami melihat vonisnya 'bermasalah'," ujarnya.

Dia mengatakan PKS memiliki waktu tiga bulan untuk meningkatkan elektabilitas partai. Mahfudz mengatakan tiga bulan itu merupakan waktu yang sempit dan sumber daya partai akan digunakan untuk menjalankan misi itu. "Sumber daya kami memiliki cara untuk meningkatkannya," kata Mahfudz.

Dia menegaskan target partainya tetap masuk dalam tiga besar dan kalau pun tidak tercapai minimal memperoleh suara seperti di Pemilu 2009.

Namun Mahfudz menegaskan suara PKS selalu berada di posisi papan tengah dan calon presiden serta calon wakil presiden tidak bisa maju tanpa partai papan tengah.

"Jangan salah, melalui suara dan jumlah kursi PKS di papan tengah, siapapun capres dan cawapres tidak bisa sendiri namun harus bersama partai papan tengah," katanya menegaskan.

Pol-Tracking Institute dalam surveinya menyoroti frekuensi pemberitaan partai politik selama setahun.
Parpol dengan tone pemberitaan paling negatif ditempati Partai Keadilan Sejahtera (23,87 persen), Partai Demokrat (20,53 persen), dan Partai Golkar (19,1 persen).

Pemberitaan negatif kepada empat partai di atas dipicu kasus-kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh partai terkait. Pemberitaan negatif di media tersebut, menurut Poltreking akhirnya sangat berpengaruh terhadap naik turunnya elektabilitas partai politik.

Survei Pol-Tracking dilakukan dengan metode purposive sampling dari pemberitaan politik di 15 media, yang terdiri dari lima cetak (Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, dan Seputar Indonesia), lima media online (Detik.com, Kompas.com, Merdeka.com, Okezone.com, dan Viva.co.id), serta lima televisi (TransTV, SCTV, RCTI, Metro TV, dan Tv One).

Sementara jumlah sampel sebanyak 1200 responden, dilakukan pada 16-23 Desember 2013. Survei itu dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling, 'margin error' kurang lebih 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. [ROL]


posted by @Adimin

Anis Matta: Indonesia Butuh 'Peta Jalan Baru'


JAKARTA -- Indonesia menurut Anis Matta membutuhkan sebuah 'peta jalan baru' yang dapat dilalui semua kelompok.

"Kita tidak perlu 'menjual kecemasan' untuk itu, kita hanya perlu keluar dari diri sendiri menjadi cakrawala bangsa yg lebih luas," kata Presiden PKS itu dalam keterangan tertulis yang diterima ROL, Rabu (15/1).

Karenanya, Anis bertekad kembali merebut kepercayaan publik terhadap PKS yang hancur akibat skandal suap sapi impor di Kementerian Pertanian yang menjerat Luthfi Hasan Ishaaq.

Anis berkata, PKS harus menciptakan pemerintahan yang efektif jika terpilih memimpin Indonesia. Sebab, hingga kini ada generasi baru yang disebut 'native-democrazy' yang aspirasinya patut didengar pemerintah.

"Generasi yang patut didengar obrolan mereka yang mungkin tidak percaya dengan partai politik," ujar mantan wakil ketua DPR dari Fraksi PKS ini.

Buruh dan wirausaha yang sedang bingung dengan masa depannya juga membutuhkan peran pemerintah. Karenanya, Indonesia membutuhkan sebuah 'peta jalan baru' yang dapat dilalui semua kelompok. [ROL]


posted by @Adimin

Mahyeldi: Maulid Nabi Mengembalikan Kecintaan Kepada Rasulullah SAW



Wakil Walikota Padang Ustad H. Mahyeldi Anshorullah ketika membuka kegiatan Semarak Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan BKS TPQ-TQA Kota Padang
 
Wakil Walikota Padang Ustad H. Mahyeldi Anshorullah, SP mengatakan, perayaan Nabi Muhammad SAW dapat mengembalikan kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. Hal itu disampaikannya ketika membuka secara resmi acara Semarak Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H ke-4 yang diadakan Badan Kerjasama TPQ-TQA Kota Padang yang dipusatkan di Kelurahan Pengambiran Ampalu Nan XX, Kecamatan Lubug Begalung, Kota Padang.

Mahyeldi menilai kegiatan ini sangat tepat diadakan disaat orang tidak peduli lagi dengan ajaran agama dan pembawa risalahnya. Dulu Panglima Islam Salahuddin Al Ayubi mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini untuk mengembalikan semangat kaum muslimin dalam membela Islam.

Saat itu, ujar Mahyeldi lagi, semangat kaum muslimin mulai mengendor setelah mengalami berbagai kekalahan di medan Perang Salib. Untuk membangkitkan kembali gairah kaum muslimin, Salahuddin mengambil momen ini dengan mengisi kegiatan – kegiatan syiar islam.

"Pemko Padang sangat mendukung kegiatan positif semacam ini, karena momen Maulid Nabi Muhammad SAW ini diisi dengan kegiatan lomba-lomba, seperti MTQ, Adzan, Tilawah dan Pidato Da’i Cilik. Hal ini akan membangkitkan kembali kecintaan kita kepada Allah, Rasul dan Al-Quran," ungkap politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Sementara itu, Ketua BKS TPQ/TQA Kota Padang, Drs. M.Darnalis dalam kesempatan itu mengatakan, Semarak Maulid Nabi ini sudah yang keempat kalinya dilaksanakan. Kegiatan ini dilaksanakan bergiliran setiap tahunnya di setiap kecamatan yang menjadi tuan rumah.

"BKS TPQ/TQA Kota Padang akan berupaya terus melaksanakan kegiatan ini rutin setiap tahunnya. Karena kita merasakan dampak yang baik bagi generasi kita. Mereka semakin meningkatkan kemampuan mereka dalam menggali ilmu agama. Mulai dari membaca Al Quran, cara Adzan yang baik serta mengasah kemampuan berpidato agama," jelasnya.

Dijelaskan, peringatan kelahiran Rasulullah SAW  kali ini bertepatan pula dengan ulang tahun BKS TPQ-TQA Kota Padang. Sehingga momen ini diambil untuk mengangkat helat berupa lomba. 

"Semoga perhelatan akbar seperti ini berjalan lancar dan ke depannya kegiatan tersebut tetap berlanjut. Kecamatan Lubeg sebagai tuan rumah kali ini tentunya berharap bisa meraih hasil bagus," katanya.

Ketua Pelaksana, Opriadi Gufran, yang juga Ketua BKS TPQ/TQS Kecamatan Lubuk Begalung mengungkapkan, sebagai tuan rumah pihaknya sudah melakukan persiapan sejak bulan Desember lalu. Selain persiapan lokasi dan seluruh perlengkapan acara, juga mempersiapkan peserta yang mewakili Lubuk Begalung agar mereka bisa tampil lebih baik. Kegiatan ini diikuti oleh 165 peserta dari 11 kecamatan.

bentengsumbar

posted by @Adimin

Anis Matta: Menjadi Otak, Hati, Tulang Punggung


JAKARTA - Memimpin Indonesia tidak akan berhasil hanya karena menjadi seorang presiden, tidak akan berhasil hanya karena punya banyak menteri. Anda akan berhasil memimpin Indonesia apabila mau menjadi otaknya Indonesia, hatinya Indonesia, dan tulang punggung Indonesia.


Demikian konsepsi pemimpin menurut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disampaikan Presiden PKS M Anis Matta dalam wawancara khusus denganKompas di kantor The Future Institute, Jakarta, Kamis (9/1/2014).

Menurut dia, pemimpin negeri ini harus menguasai wacana, memiliki kemampuan mengarahkan atau menggerakkan emosi publik, serta mampu merealisasikan rencana atau program-program pembangunan.

Menurut Anis, fungsi tersebut bisa dilihat dalam pemerintahan Orde Baru. ”Militer bisa memimpin selama Orde Baru itu bukan karena Pak Harto (Presiden Soeharto),” katanya.

Sejak awal Orde Baru, militer sudah intensif mengembangkan wacana keindonesiaan. Bahkan, hasil seminar TNI Angkatan Darat tahun 1966 digunakan sebagai ide dasar penyusunan platform pembangunan. Pada sisi inilah, militer berhasil memosisikan diri sebagai otaknya Indonesia.

Militer juga berhasil menggerakkan emosi masyarakat dengan menciptakan kepercayaan diri dan optimisme bangsa. Selain itu, militer juga menguasai pemerintahan karena diberlakukan Dwifungsi ABRI.

”Itulah kenapa dia (militer) mampu mengeksekusi (merealisasikan) semua rencana pembangunan yang dicanangkan sebelumnya,” ujarnya.

Pelajaran untuk parpol

Mengambil pengalaman pemerintahan Orde Baru bukan berarti PKS menginginkan militer berkuasa kembali. Peran yang diambil militer sebagai otak, hati, dan tulang punggung bangsa itulah yang seharusnya menjadi pelajaran partai politik sebagai pabrik pemimpin bangsa.

Seharusnya, setelah Dwifungsi ABRI dihapuskan pada era Reformasi, parpol bisa mengambil peran yang sebelumnya dilakukan kelompok militer. Namun, hingga 15 tahun reformasi, belum ada satu pun kekuatan politik yang mampu. PKS sendiri diakui belum mampu menjalankan fungsi sebagai otak, hati, dan tulang punggung Indonesia.

Menurut Anis, 10 tahun pertama habis untuk membangun infrastruktur dan kapasitas lain untuk menjadi partai modern. Penguatan ideologi dan penokohan sebenarnya sudah dirancang dilakukan pada 10 tahun kedua PKS, tetapi terhenti karena terganjal kasus hukum yang menimpa mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq.

Setelah reformasi tahun 1998, menurut Anis, semestinya fokus perhatian pemerintah juga berubah. Perhatian tak lagi difokuskan pada politik seperti Orde Lama atau fokus ke ekonomi seperti pada Orde Baru, tetapi fokus kepada masyarakat sipil.

Pasalnya, politik dan ekonomi sudah menemukan keseimbangan baru. Begitu pula sumber-sumber ketegangan lain, seperti relasi agama dan negara, dialektika demokrasi dan pembangunan, serta hubungan pusat dan daerah sudah menemukan keseimbangan baru. Keseimbangan baru juga terlihat dengan munculnya relasi antara negara, agama, dan masyarakat sipil.

Akan tetapi, sayang, keseimbangan baru itu muncul bersamaan dengan fenomena baru, yakni ledakan demografi baru. Muncul sebuah generasi baru yang lahir tahun 1990-an, yang tak punya asosiasi emosional dan ideologi terhadap sumber ketegangan pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Mereka lahir di tengah ideologi baru, yakni demokrasi dan pasar bebas.

Persoalan muncul karena para politisi atau calon pemimpin bangsa justru masih menggunakan isu-isu lama, seperti kedaulatan, integrasi, dan nasionalisme. Yang menjadi perbincangan lembaga-lembaga politik tidak sesuai dengan yang dipikirkan dan dibutuhkan masyarakat.

Masyarakat yang cara pandangnya sudah berubah juga tidak merasakan manfaat negara dan semua institusi politik. Akibatnya, muncul ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara dan institusi politik.

Kondisi itu juga menyebabkan terjadi disorientasi sehingga bangsa kehilangan arah. Kegaduhan terjadi di mana-mana, tetapi sebenarnya tidak ada hal substansial yang menjadi pokok perdebatan.

Bukan pemimpin otoriter

Untuk menghadapi persoalan baru tersebut, diperlukan pula pendekatan baru dalam model kepemimpinan. Masyarakat tidak memerlukan lagi pemimpin yang otoriter atau pemimpin yang hanya mengandalkan wibawa. Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mengandalkan gagasan, memiliki kemampuan persuasif, dan kemampuan koordinasi. Anis menganalogikan pemimpin seperti pemandu sorak.

Dengan kata lain, tugas pemimpin adalah menciptakan lingkungan strategis bagi masyarakat untuk terus berkembang. Masyarakat harus dibuat taat kepada pemimpin karena pemimpin memiliki gagasan besar yang bermanfaat untuk masyarakat.

Pendekatan semacam itulah yang juga dilakukan PKS. Kader taat bukan karena takut pada otoritas partai, melainkan karena sadar pada kebenaran dalam gagasan yang dibawa pemimpin mereka.

Bicara masalah ketegangan antara Islam, modernitas, dan keindonesiaan, Anis mengatakan, itu sudah menjadi masa lalu. Saat ini, ketegangan segitiga pada masa lalu tersebut semestinya dijadikan dasar untuk membangun masa depan Indonesia.

PKS memiliki gagasan mengintegrasikan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan untuk membangun masa depan bangsa. PKS tidak ingin lagi ada komplikasi antara Islam dan keindonesiaan atau Islam dengan modernitas.

Hal itu karena Islam yang dibawa PKS merupakan Islam yang moderat dan terbuka. Gagasan itulah yang melandasi PKS memutuskan menjadi parpol terbuka sejak tahun 2008.

Dengan menyatukan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan, Indonesia diharapkan akan menjadi bangsa yang religius, lebih berpengetahuan, tetapi sejahtera. Agama akan memberikan basis orientasi dan basis moral.

Pengetahuan memberikan basis kompetensi dan basis produktivitas. Adapun kesejahteraan merupakan cita-cita Indonesia yang tercantum dalam konstitusi, yakni menjadi negara adil dan makmur.

Dengan penyatuan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan itu, Indonesia diyakini akan menjadi model bagi negara-negara Islam dan juga negara-negara Barat. [Kompas]


posted by @Adimin

Masyumi dan Kebijakan Melawan Korupsi (1)

Written By Sjam Deddy on 15 January, 2014 | January 15, 2014


 PM M Natsir (Masyumi) menolak mobil Chevrolet Impala dan memilih mobil jadul merek DeSoto (foto: Soekarno di acara Masyumi)

SATU-PERSATU tokoh-tokoh partai dan politisi saat ini mesuk jeruji besi atas kasus korupsi. Bahkan termasuk politisi dari partai berbasis Islam.  Musibah ini, tentu saja menjado olok-olok yang cukup mengenaskan. Kelompok-kelompok di luar Islam seolah bernyanyi dan mencemooh, tentu saja, menyudutkan Islam di mana seolah ingin mengatakan, fakata nilai-nilai Islam tidak ada pengaruhnya dalam kancah politik dan dalam urusan bernegara.

Tentusaja ini sebuah bencana, karena pegiat partai berbasis Islam seharusnya sadar bahwa ketika mereka berpartai,  mereka membawa bendera yang lebih besar, yaitu agamanya sendiri. Pengharapan seperti ini amat tinggi di hadapat rakyat dan partai-partai lain yang tidak mengusung agama. Wajar jika mata jeli  berbagai kalangan, masyarakat, LSM, media massa  terus  mengintai setiap gerak-gerik politisi dan tokoh-tokoh dari partai Islam. Selain hanya  mencari celah, tentu saja mencari ibrah (tauladan).

Musibah yang sedang dialami para politisi sedang terjerat korupsi
Inilah yang mungkin luput kita sadari. Apa daya, sekali lagi, kita malas menengok sejarah barangsekejap. Padahal salah satu partai Islam terbesar bernama Masyum itelah menorah kan tinta perjuangan dalam usaha membasmi korupsi.

Korupsi memang bukan barang baru di negeri ini. Sejak di era pemerintah kolonial, korupsi menjangkiti kaum pribumi. Bahkan ketika kemerdekaan telah kita raih dari tangan penjajah, bau amis korupsi ternyata ikut melekat di tangan para politisi kita sejak dini. Karya semacam Korupsi (Pramoedya AnantaToer, 1961) dan Senja di Jakarta (MochtarLubis, 1970) menggambarkan betapa korupsi di kala itu sudah menjamur. Ketika itu praktek korupsi begitu menggurita, penuh manipulasi. Modus yang dikenal pada periode 1950-an adalah ‘Importiraksentas’ atau pengusaha ‘Ali-Baba’. Kebijakan nasionalisasi saat itu diakali para ‘Importiraksesntas.’ Sebuah akal-akalan perusahaan nasional (dalam negeri) yang menjual kembali izin impor kepada perusahaan asing. Begitu pula taktik ‘Ali-Baba’, sebuah modus yang berkedok importir pribumi untuk mendapatkan fasilitas impor dari pemerintah. Padahal di balik importer ini hanyalah pengusaha China atauBelanda. (The Deciline of Constitutional Democracy in Indonesia, Herbert, Feith.Equinox Publihshing. 2007. Singapura).

Maka hal semacam ini lazim disebut ‘Ali-Baba’ atau Ali-Willem.(baca: Partai Islam di Pentas Nasional , Deliar Noer, Pustaka Utama Grafiti. 1987. Jakarta)

Ketika itu, negara di bawah pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo I (Juli 1953-Juli 1955). Pemerintah kala itu memang menggelorakan ekonomi nasional (termasuk nasionalisasi) dengan memberikan kredit-kredit pada pengusahanas ional.  namun, Menteri Keuangan saat itu, Iskaq Tjokrohadisoerjo (1953-1955), melakukan politik nasional dalam ekonomi dengan banyak diskriminasi.Ia mengutamakan pengusaha dari partai PNI saja, atau yang menyokong pemerintahan PNI (Ali) sehingga diberi kemudahan tanpa memperhatikan kemampuan.Termasuk salah satunya, perusahaan importir kertas baru, Inter Kertas, yang setengah dari sahamnya dimiliki oleh Sidik Djojosukarto.  Menteri Iskaq berbuat seperti ini, bukan tanpa alasan. Tampaknya PNI mengejar persiapan untuk pemilu tahun 1955.  Bahkan mengambil kebijaksanaan untuk menyokong dana partai. Bersama Ong Eng Die (keduanya dari PNI), mereka memerintahkan dana kementerian untuk disimpan di Bank Umum Nasional, suatu bank PNI. Mereka juga merombak personalia dan administrasi kementerian terutama yang berhubungan dengan perdagangan dan perindustrian. Menteri Iskaq juga pernah membatalkan Koperasi Batik Indonesia sebagai satu-satunya importir cambrics, dan member lisensi ini kepada beberapa importir tak berpengalaman.Selain itu dia juga memberikan izin impor kertas untuk pemilu kepada suatu perusahaan yang sahamnya dimiliki orang-orang PNI.

Kebijakan-kebijakan seperti ini mendapat tentangan keras dari partai Masyumi. Ketua Seksi Ekonomi dari parlemen, KH Tjikwan dari Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) mengajukan mosi di parlemen untuk interpelasi, guna mempertanyakan kebijakan Menteri tersebut. Mosi untuk interpelasi diterima dengan suara bulat. Namun mosi tak percaya berakhir dengan kegagalan. Kegagalan ini lebih bersifat politis, yaitu pemihakan kekuatan antara oposisi dan partai yang ikut dalam kabinet. Walaupun begitu, Partai NU yang ikut serta dalam kabinet  turut mengirimkan nota politik yang berisi kekhawatiran tentang masalah ekonomi. Begitu pula PSII yang juga ikut dalam kabinet menyatakan tidak bertanggungjawab atas kelanjutan kebijakan menteri-menteri dari PNI itu.
Kabinet  Ali Sastroamidjojo menyerahkan kekuasaannya kepada Boerhanoeddin Harahap pada 12 Agustus 1955.Di sinilah kemudian Kabinet Boerhanoeddin yang berasal dari Masyumi membuktikan dirinya melawan korupsi dengan lantang.Kabinet Boerhanoeddin langsung melancarkan kampanye anti korupsi. Pasal lima  dari program kabinet ini adalah memberantas korupsi.  Kabinet ini langsung menyikat orang-orang yang terindikasi korupsi. Beberapa hari setelah dilantik, Mr. Djodi Gondokusumo, bekas Menteri Kehakiman ditangkap. Begitu pula Menteri Keuangan Ong Eng Die.  Rumah Iskaq Tjokroahadisurjo digeledah. Saat itu Iskaq sendiri sedang berada di luar negeri. Ia berkali-kali dipanggil pulang.Tetapi perjalanannya di luar negeri di perpanjang.

Dalam biografinya, ia mengakui, sebetulnya ia hendak pulang, tetapi di Singapura ia dijemput Lim Kay, yang diutus pimpinan pusat PNI.( Boerhanoeddin Harahap. Pilar Demokrasi. Busyairi, Badruzzaman Bulan Bintang, 1989, Jakarta). Iskaq sendiri tahun 1960 divonis bersalah oleh pengadilan, namun kemudian diselamatkan Soekarno dengan grasinya.Daftar orang-orang yang ditahan termasuk beberapa orang di badan penyelidik negara, pejabat kantor impor, serta pengusaha (importir).

Penangkapan merebak di mana-mana. Bandung, Surabaya, Sumatera tengah, Jawa tengah hingga Penang.Termasuk di Singapura, Konsul Jenderal Arsad Astra juga dipanggil pulang dan ditahan.

Delapan hari setelah dilantik, Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap – yang saat dilantik baru berusia 38 tahun- menjelaskan kebijakannya melawan korupsi, “Untuk memperbaiki kembali keadaan yang tak sehat dalam masyarakat, dan juga di dalam kalangan pemerintahan sebagai akibat dari tindakan-tindakan korup oleh berbagai orang, maka pemerintah menganggap perlu untuk menjalankan tindakan-tindakan yang keras dan tegas.”

Ia juga menegaskan tak pandang bulu membasmi korupsi, tanpa peduli partai, golongan atau agamanya. Ia kemudian juga menggencarakan perlawanan dengan memperluas kekuasaan Jaksa Agung. Ia membebaskan Jaksa Agung dari tiap pembatasan sehingga dapat bertindak terhadap siapa saja atas dasar hukum.

TIPIKOR Bukan organisasi pertama

Gebrakan yang lebih keras dari kabinet beliau adalah, saat kabinetnya mengeluarkan RUU Anti Korupsi yang memuat suatu exorbitant-recht. RUU itu mewajibkan kepada pegawai negeri atau orang lain untuk memberikan bukti-bukti yang menerangkan asal-usul harta benda (kekayaan) yang dimilikinya, yang biasa diistilahkan de bewijslast-omkeren.
RUU anti korupsi itu terdiri dari dua bagian.

Pertama, mengatur berbagai tindakan di dalamperadilan yang ketentuannya berlainan dengan peradilan biasa. Yaitu mengadakan pengadilan tersendiri-seperti juga untuk tindakan pidana ekonomi- dan terdakwa harus dapat menjawab dengan sejujurnya terhadap berbagai tuduhan kepadanya.

Bagian kedua, dari RUU tersebut adalah mengatur berbagai tindakan di luar peradilan. Bagian ini memungkinkan penyelidikan harta benda seseorang oleh Biro Penilik Harta Benda, untuk menyelidik besarnya harta dan kelegalan kepemilikan harta tersebut. Suatu praktek pencegahan korupsi yang akhirnya baru dimulai beberapa waktu belakangan ini. Di mana hari Pengadilan Tindak Pidana Korupski (TIPIKOR) dan lahirnya KPK.
RUU ini pun dibawa ke parlemen. Namun sayangnya RUU ini kandas setelah tidak mendapatkan dukungan memadai dari partai berpengaruh  seperti Partai NU. Boerhanoeddin sendiri tidak mengetahui sebab penolakan itu oleh Partai NU. Rangkaian usaha cabinet ini memberantas korupsi, seringkali dituduh sebagai aksi balas dendam, termasuk oleh PNI. Namun Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap menolaknya, ia menegaskan pemberantasan korupsi dilakukan secara, obyektif, hati-hati dan tidak asal tangkap.

*/bersambung  ke  Masyumi dan korupsi


posted by @Adimin

Buya Hamka, Masjumi dan Perang Melawan Korupsi

Written By Sjam Deddy on 14 January, 2014 | January 14, 2014



Kekuatan terbesar partai politik seharusnya pada basis massa, bukan uang! Jika uang yang menjadi basis kekuatan, maka politik menghalalkan segala caralah yang akan dilakukan!

KORUPSI yang dilakukan oleh para pejabat yang berkuasa sudah sejak lama menjadi sorotan di negeri ini. Terutama pejabat negara yang berasal dari partai politik. Hari ini kita menyaksikan, pejabat yang berasal dari partai politik seolah menjadi lumbung uang untuk mencari dana bagi pendanaan partai.

Keberadaannya di pemerintahan seolah dituntut untuk menjadi mesin pengeruk uang. Tak peduli halal dan haram, yang penting lumbung partai terpenuhi dengan pundi-pundi rupiah. Partai yang harusnya menjadikan basis massa sebagai kekuatan politik, berubah mengedepankan uang. Tujuannya agar suara rakyat bisa dibeli, apalagi menjelang Pemilu.

Fenomena ini ternyata sudah sejak lama terjadi. Buya Hamka, salah seorang tokoh Partai Masjumi yang terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante pada Pemilu tahun 1955, mengeritik cara-cara yang dilakukan oleh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), rival politik Masjumi, yang mengedepankan uang sebagai kekuatan politik. Dalam tulisannya di Majalah Hikmah, No.10 Thn IX, 5 Sya’ban 1374 H/17 Maret 1956, ulama asal Sumatera Barat ini mengungkapkan cara-cara kotor yang dilakukan oleh partai politik sekular yang ingin merebut simpati rakyat.

Kekuatan Partai Masjumi yang mampu memenangkan Pemilu di beberapa wilayah pada tahun 1955, dan  banyak mendapatkan kursi di parlemen, membuat lawan-lawan politiknya ketar-ketir untuk menghadapi Pemilu berikutnya pada tahun 1960. Meskipun akhirnya, Pemilu tahun itu tidak dapat terlaksana, setelah Soekarno secara sepihak mengajukan gagasan “Demokrasi Terpimpin” dan berniat mengubur partai-partai yang ada.

Hamka mengatakan dalam tulisannya, “Plan (rencana, pen) utama rupanya bagaimana supaya Masjumi dapat dikalahkan dalam pemilihan umum. Partai-partai yang berkuasa itu, terutama PNI insjaf bahwa kekuatan mereka tidak besar pada massa.  Oleh sebab itu, uang mesti ditjari sebanjak-banjaknya untuk biaja pemilihan umum. Kalau perlu dari mana sadjapun uang itu ditjari. Halal atau haram bukan soal: ‘lil ghayati tubarrirul wasilah’ (untuk mentjapai maksud boleh dipakai sembarang tjara),” terang Hamka.

Hamka kemudian mengungkap adanya upaya dari partai yang berkuasa dengan menjadikan para anggotanya yang menjabat dalam pemerintahan, untuk melakukan korupsi demi memenuhi keuangan partai.

“Di waktu itulah terdengarnja ‘lisensi istimewa’ korupsi besar-besaran. Mr. Ishak, seorang djago PNI mendjadi menteri keuangan. Hebatlah nasib jang diderita rakjat pada waktu itu. Benarlah mendjadi menteri mendjadi sumber kekayaan jang tidak halal! Banjak kita melihat orang kaja baru! Dia mendapat ‘lisensi istimewa’ itu didjualnya kepada asing!” ujarnya.

Ia kemudian menceritakan, “Setelah kabinent Burhanudin naik, maka program yang pertama adalah memberantas korupsi! Mr Djodi dituntut, dan Mr. Ishak “menjingkir” atau disuruh “menjingkirkan” keluar negeri,” kata Hamka, sambil menyebut Kabinet Burhanudin Harahap yang berasal dari dari Partai Masjumi, bertekad memerangi korupsi. Mr. Djodi dan Mr. Ishak yang dimaksud adalah aktivis partai sekular PNI.

Dengan kritik yang cukup keras, Hamka yang melihat praktik kecurangan sebelumnya, saat kabinet belum berada di bawah kendali Partai Masjumi, menyatakan bahwa partai yang berkuasa sebelumnya menjadikan kekuasaan untuk mengeruk uang bagi pendanaan partainya.

“Dengan serba matjam djalan, uang negara diperas! Dengan kedok “ekonomi nasional” orang-orang diandjurkan mendirikan firma, N.V (perusahaan), dan diberi lisensi. Keuntungannya sekian buat partai.”

Apa yang disampaikan oleh ulama penulis  Tafsir Al-Azhar ini puluhan tahun lalu, seperti terulang kembali pada saat ini. Aparat penegak hukum menciduk tokoh-tokoh partai politik yang terlibat kong-kalikong dengan pengusaha.

Partai dijadikan sarana untuk jual beli lisensi, jual beli izin usaha, izin ekspor-impor, pemenangan proyek atau tender, dan sebagainya, yang ujung-ujungnya memeras pengusaha untuk memberikan suap.

Uang suap itu kemudian ada  yang dicurigai  dijadikan basis pendanaan partai demi memenangkan Pemilu.  Politik tak lagi menjadikan basis massa sebagai kekuatan, tetapi menjadikan uang sebagai alat untuk meraih kemenangan.

Suatu ketika, kata Buya Hamka, ia bertemu dengan perwakilan negara asing di Jakarta. Kepada Hamka, orang itu bertanya tentang dari mana sumber dana Partai Masjumi, sehingga mampu meraup suara yang cukup besar pada Pemilu 1955. Orang asing itu menduga Partai Masjumi mendapat pendanaan dari luar negeri.

Kepada orang itu, Buya Hamka mengatakan, selama ini pendanaan Masjumi berasal dari dana pribadi para anggota dan simpatisannya.

“Memeras kantong sendiri, mendjual menggadaikan harta bendanja,” ujar Hamka menceritakan bagaimana para kader dan simpatisan Masjumi mendanai partai.

Orang asing itu kaget, karena selama ini yang ia tahu, partai-partai besar, jika tak mendapat dana asing, maka kemungkinan lainnya adalah menggunakan para kadernya yang ada di lingkar elit kekuasaan sebagai mesin pengeruk uang.
Demikianlah keteladanan yang ditorehkan oleh Partai Masjumi dalam sejarah kepartaian di Indonesia. Partai Islam tersebut mampu mengepankan cara-cara halal dalam politik, bukan menghalalkan segala cara. Bagi Partai Masjumi, kekuatan terbesar partai politik adalah pada basis massa, pada kader yang solid, bukan pada uang!*

Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan dosen STID Mohammad Natsir Jakarta



posted by @Adimin

Mahyeldi : Masyarakat Harus Lebih Nyaman


Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.

Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.

Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.

“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.

Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.

Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.

Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.

Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.

“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.

Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.

Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.

Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.

Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.

“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.

Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.

Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.

Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.

Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.

Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.

“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.

Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.

Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna.

mn

posted by @Adimin

Anis Matta: PKS Fokus Suara Dapil

Written By Anonymous on 12 January, 2014 | January 12, 2014


JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta menanggapi santai berbagai hasil survei-survei yang dirilis jelang Pemilihan Umum 2014 yang menempatkan PKS tak masuk dalam jajaran lima besar partai dengan dukungan di atas 10 persen responden. 

"Kalau saya lebih baik PKS percaya survei-survei itu. Meski tak semuanya benar, tapi angka-angka itu akan memotivasi kami bekerja keras lagi," tutur Anis, Kamis 9 Januari saat ditemui The Future Institute, lembaga pendidikan PKS di bilangan Jl Duku Patra Pancoran Jakarta.

Bagi Anis PKS kini lebih baik fokus memikirkan pencapaian kursi di dapil. PKS tidak konsen di popular vote. Ia mencontohkan, tahun 2009 popular vote-nya berkurang 300 ribu tapi toh bertambah kursinya bertambah 12 menjadi 57 kursi. Fokus memikirkan suara dari dapil itu yang paling penting bagi PKS.

Dikatakan Anis, meski hasil survey belakangan ini suara PKS mengalami penurunan, namun ia yakin berkat dukungan seluruh kader yang terus menjaga soliditas, partainya akan mencapai target yang sudah dicanangkan

"Insyaallah lebih bagus dari 2009. Faktor yang mempengaruhi adalah soliditas kader dan para caleg yang terus bergerak," terang Anis yang siang itu sibuk menerima tamu di ruangannya.

Seperti diketahui, PKS menargetkan suara 12 persen pada Pemilu 2014 mendatang, target itu jauh melampau hasil yang dicapai pada tahun 2009 lalu. Pada lima tahun lalu, PKS mendapatkan suara 8 persen dan bertengger di urutan empat.



posted by @Adimin

PKS Tolak Penghapusan Hukuman Mati

JAKARTA -- Politikus Partai Keadilan Sejahtera Al Muzammil Yusuf menolak adanya upaya penghapusan hukuman mati oleh pihak Kejaksaan Agung sebagai pelaksana eksekusi.

Sebelumnya, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum), Basuni Masyarif, mengusulkan adanya penghapusan hukuman mati di Indonesia. Menurut Basuni, usulan tersebut sesuai dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat.

"Kok dihapus, teroris yang belum terbukti saja sudah ditembak mati," kata Almuzamil Yusuf, Wakil Ketua Komisi III DPR RI yang juga politisi dari partai PKS, Sabtu (11/1), saat di konfirmasi RoL via telepon.

Almuzamil menjelaskan, harusnya, hukuman mati itu tetap dilakukan, khususnya untuk para pengedar narkoba. Dia beralasan, pengedar narkoba justru lebih berbahaya dari kasus-kasus yang lain.

Dia mencontohkan, empat ton ganja saja bisa dipakai empat juta orang, artinya satu gram ganja dipakai satu orang pemakai. 

Almuzamil menegaskan, tidak setuju jika wacana penghapusan pencabutan hukuman mati di indonesia di hapus. Menurutnya, Kejaksaan Agung (Kejakgung) harus menjalankan aturan Undang-undang eksekusi hukuman mati. Dia menyatakan, kejaksaan tidak perlu takut pada tekanan politik internasional.

"Harus ada ketegasan hukum," singkat Almuzamil.

(ROL)

posted by @Adimin

Ilmuwan : Protein DNA Tercipta Dari Tanah Liat

Written By Sjam Deddy on 09 January, 2014 | January 09, 2014



Bagaimana penjelasan tentang kejadian manusia dalam sudut pandang pengetahuan biologi? Dimana sebelumnya banyak orang yang berfikir "Apakah mungkin Adam tercipta dari tanah?" 

Ilmuwan biologi dan lingkungan dari Kavli Institute, Nanoscale Science, kini telah membuktikan asal usul kehidupan dimana tanah liat membentuk Hidrogel yang akhirnya membentuk DNA. Tanah liat hidrogel selama milyaran tahun menciptakan reaksi kompleks yang menciptakan protein dengan bantuan bahan kimia hingga membuat sel kehidupan.
Hidrogel ini berfisat terbatas dan dilindungi oleh proses kimia hingga membran mengelilingi sel-sel yang berkembang. Dalam menguji teori yang diungkapkan pada awal November 2013 oleh kelompok ilmuwan dipimpin Luo, peneliti sebelumnya menggunakan hidrogel statis sebagai sel bebas untuk menghasilkan protein. Tanah liat membentuk hidrogel dimana massa ruang mikroskopis mampu menyerap cairan seperti spons (sponge). Tanah liat dianggap sangat menjanjikan sebagai prekusor membran sel, karena Biomolekul cenderung ke permukaan dan Sitoplasma (lingkungan interior sel) berperilaku seperti hidrogel.

Menurut Luo, hidrogel yang dihasilkan dari tanah liat jauh lebih baik melindungi isinya dari enzim perusak atau Nucleases yang akan membongkar DNA dan biomolekul lainnya. Penelitian dan pengembangan protein yang digagas oleh tim Lou saat ini masih berlanjut dan akan terus menggunakan tanah liat, karena bahan ini dapat ditemukan dengan mudah.

Di tahun-tahun sebelumnya, tim fisikawan Princeton dan Brandeis asal Harvard School of Engineering and Applied Sciences (SEAS) menunjukkan hasil kerja tentang pembentukan vesikel semi Permaebel yang berasal dari tanah liat anorganik, dirilis pada Februari 2011. Penelitian ini menunjukkan bahwa vesikel tanah liat memungkinkan sebagai wadah ideal untuk perkembangan molekul organik kompleks, dan penemuan ini membuka kemungkinan bahwa sel-sel primitif mungkin telah terbentuk didalam tanah liat anorganik.

Para ilmuwan ini telah mempelajari tanah liat yang jumlahnya berlimpah di permukaan bumi. Selama ratusan tahun, tanah liat dan mineral dikenal dalam membantu proses katalis kimia yang mendorong Lipid untuk membentuk membran dan Nukleotida tunggal agar bergabung kedalam untaian RNA. Liposom dan RNA menjadi prekusor penting dalam kehidupan purba, tetapi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pori-pori dalam vesikel tanah liat bisa melakukan tugas ganda sebagai 'Entry Point' selektif dan sumber katalis.

Adam Tercipta Dari Tanah
Pada akhirnya, para ilmuwan terus bertanya-tanya "Apakah nantinya tanah liat bisa memainkan peran penting dalam membuka asal usul kehidupan?"

para ilmuwan dari tahun ke tahun terus mengembangkan protein DNA yang bersumber dari tanah liat yang ada di Bumi. Selama milyaran tahun, tanah liat juga telah menciptakan protein kehidupan lain seperti kehidupan mikro yang kemudian berevolusi menjadi tumbuhan dan hewan.

https://finance.groups.yahoo.com/neo/groups/nasional-list/conversations/topics/168609 


posted by @Adimin

Mahyeldi Dalam Perang Khandaq Pilkada Padang

Written By Sjam Deddy on 08 January, 2014 | January 08, 2014



Sepuluh ribu pasukan dari kabilah-kabilah berhimpun dalam sebuah koalisi, saling dukung mendukung. Kabilah-kabilah itu awalnya sering tidak rukun, bertengkar sesamanya bahkan ada yang saling bunuh, tapi hari itu mereka berkumpul mengelilingi Kota Madinah untuk sebuah tujuan yang sama. 

Mengakhiri kisah Muhammad dan pengikutnya.

Madinah tentu belum membayangkan kondisi ini sebelumnya, lalu Salman Al-Farisi mengusulkan menggali parit besar di sekeliling Kota Madinah untuk menghadapi pasukan musuh. Rasulullah menyetujui ide itu bahkan Beliau pulalah yang membuat peta penggalian. Semua turun bekerja menggali parit. Tapi ketakutan sebagian sahabat tetap ada sebagaimana tergambar dalam Al-Quran.
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah” (Al Ahzab: 10)

Saya seakan melihat hal yang sama dengan Pilkada Kota Padang putaran kedua yang menyisakan pasangan Mahyeldi-Emzalmi (PKS-PPP) dan Desri Ayunda-James Hellyward (Independen). Seakan ini adalah Perang Khandaq bagi Mahyeldi-Emzalmi, meski tidak sepenuhnya sama karena dalam perang Khandaq pertarungan terjadi antara muslim dan kafir sementara di sini seluruh peserta Pilkada sejak putaran pertama adalah muslim.

Namun berkoalisinya banyak partai untuk mendukung Desri-James pada putaran kedua seolah seperti suasana “pengepungan” di Madinah dahulu. Hari ini pasangan Desri-James telah mendapatkan dukungan tambahan dari PDI-P, Hanura, PAN, PKPI dan Golkar. Partai-partai yang pada putaran awal saling bertarung dengan memajukan jagoan masing-masing, kini mendukung Desri-James. Saya tentu tidak tahu pasti apakah dukungan ini karena pertimbangan logika atau logistik, yang jelas mereka sudah bersatu mendukung Desri-James, pasangan yang maju melalui jalur independen.

Dengan demikian Mahyeldi yang diusung PKS, kini harus berhadapan dengan sebuah koalisi besar dari partai-partai besar. Sebuah “pengepungan” yang bisa membuat takut dan meruntuhkan semangat. Namun itu semua harus dihadapi dengan gagah, para kader PKS, tim sukses dan para pendukung perlu mengambil kembali pelajaran dari perang Khandaq.

Menggali Parit
Pembangunan parit tidak pernah dikenal dalam ”kamus perang” orang Arab. Mereka hanya mengenal teknik maju, mundur, gempur, atau lari. Maka ketika pasukan koalisi melihat parit yang menganga lebar di antara mereka dan Madinah, semua menjadi kaget dan bingung hendak berbuat apa. Akhirnya mereka hanya duduk di tenda-tenda dan berfikir. Tidak ada hasil.

Begitu dalam menghadapi Pilkada putaran kedua yang hanya beberapa hari lagi, harus ada sebuah strategi yang belum pernah terpikirkan oleh lawan. Strategi yang akan menjadi penentu kemenangan sebagaimana di perang Khandaq. Karena sesungguhnya perang Khandaq bukanlah sepenuhnya pertempuran kolosal di medan laga yang didominasi oleh hunusan pedang dan tombak, tetapi Khandaq adalah perang strategi dan urat syaraf.

Kerja Keras
Setelah ide menggali parit disetujui Rasulullah maka para sahabat langsung melaksanakannya. Dalam riwayat disebutkan bahwa setiap sepuluh orang diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter (lebar 4,62 meter dan dalam 3,234 meter). Dengan kerja keras dan kesungguhan mereka pun berhasil menggali parit mencapai 5.544 meter.

Maka untuk meraih kemenangan setiap kader dan pendukung harus bekerja keras sepenuh tenaga sampai batas akhir, sebagaimana dicontohkan para prajurit Khandaq. Tidak boleh ada yang patah semangat dan menyerah sebelum memasuki medan perang. Semua harus memberikan kontribusi terbaiknya dalam hal apa saja untuk memperoleh kemenangan.

Optimis
Dalam perang Khandaq kita belajar tentang harapan yang tidak boleh padam, apapun kondisinya. Dengarlah apa yang diucapkan oleh Rasulullah saat memecahkan batu besar ketika menggali parit. Ucapan penuh optimisme, padahal saat itu kondisinya benar-benar genting dan mencekam.
“Allahu Akbar, kunci-kunci Syam telah diberikan kepadaku, demi Allah aku tengah melihat istana-istananya yang kemerahan”
“Allahu Akbar, kunci-kunci Persia telah diberikan kepadaku, demi Allah aku tengah melihat istana kota berwarna putih”
“Allahu Akbar, kunci-kunci Yaman telah diberikan pula kepadaku, demi Allah kini aku tengah melihat pintu-pintu Kota Shan’a dari tempatku ini”
Maka penting bagi seluruh kader dan pendukung untuk terus bekerja dalam optimisme yang penuh akan sebuah kemenangan.

Berdoa
Dan doa tidak boleh terhenti. Teruslah memohon pertolongan kepada Allah, sungguh pertolongan Allah itu sangat dekat. Sebagaimana pertolongan itu telah turun di Perang Khandaq.
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan” (Al-Ahzab: 9)

Lalu sejarah mencatat, pasukan koalisi kembali pulang dalam keadaan yang payah, kedinginan, kekurangan makanan dan tidak bersemangat. Dan kemenangan menjadi nyata di pihak muslim Madinah.

Tapi bukan kekalahan itu saja yang patut dikhawatirkan oleh para musuh. Mereka perlu tahu, ketika perang Khandaq usai Rasulullah menyampaikan bahwa, “Setelah hari ini mereka tidak akan mendatangi kita lagi, tapi kitalah yang mendatangi mereka”. Inilah kemenangan yang agung dan titik tolak bahwa perang yang dijalani kaum muslim tak lagi perang bertahan, tapi tampil ke depan untuk memusnahkan kebatilan menggantinya dengan Islam yang lurus.

Dan jika kemenangan di Pilkada Kota Padang menjadi milik Mahyeldi, maka semoga ini juga menjadi tanda bahwa Gelombang Ketiga itu telah dimulai.

Adrian Fetriskha, SH.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/01/07/44429/mahyeldi-dalam-perang-khandaq-pilkada-padang/#ixzz2pmDsKEaJ

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger