Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
January 16, 2014
posted by @Adimin
PKS Siapkan Strategi Perang Jarak Pendek
Written By Anonymous on 16 January, 2014 | January 16, 2014
JAKARTA -- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq mengungkapkan, partainya akan menerapkan strategi 'perang jarak pendek' untuk bisa menang pada Pemilu 2014 terutama dalam menghadapi pemberitaan negatif dari media massa.
"Orang (partai) lain bertempur dalam jarak jauh namun kami (dengan strategi) jarak pendek," kata Mahfudz di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (15/1).
Strategi tersebut, ia gambarkan sebagai strategi yang mengandalkan kesolidan kader dan mesin partainya. Dia mengatakan partainya memiliki sumber daya kader dan mesin partai yang tetap terjaga serta terkonsolidasi. Sumber daya itu menurut dia akan dimaksimalkan dalam menghadapi Pemilu 2014.
Mahfudz menilai survei Pol-Tracking terkait pemberitaan negatif mengaitkan persoalan hukum partainya. Namun menurut dia saat ini PKS sudah masuk wilayah landai setelah mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq divonis pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.
"Sebenarnya PKS sudah masuk wilayah landai dengan vonis (Luthfi Hasan) yang sudah diputus meskipun kami melihat vonisnya 'bermasalah'," ujarnya.
Dia mengatakan PKS memiliki waktu tiga bulan untuk meningkatkan elektabilitas partai. Mahfudz mengatakan tiga bulan itu merupakan waktu yang sempit dan sumber daya partai akan digunakan untuk menjalankan misi itu. "Sumber daya kami memiliki cara untuk meningkatkannya," kata Mahfudz.
Dia menegaskan target partainya tetap masuk dalam tiga besar dan kalau pun tidak tercapai minimal memperoleh suara seperti di Pemilu 2009.
Namun Mahfudz menegaskan suara PKS selalu berada di posisi papan tengah dan calon presiden serta calon wakil presiden tidak bisa maju tanpa partai papan tengah.
"Jangan salah, melalui suara dan jumlah kursi PKS di papan tengah, siapapun capres dan cawapres tidak bisa sendiri namun harus bersama partai papan tengah," katanya menegaskan.
Pol-Tracking Institute dalam surveinya menyoroti frekuensi pemberitaan partai politik selama setahun.
Parpol dengan tone pemberitaan paling negatif ditempati Partai Keadilan Sejahtera (23,87 persen), Partai Demokrat (20,53 persen), dan Partai Golkar (19,1 persen).
Pemberitaan negatif kepada empat partai di atas dipicu kasus-kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh partai terkait. Pemberitaan negatif di media tersebut, menurut Poltreking akhirnya sangat berpengaruh terhadap naik turunnya elektabilitas partai politik.
Survei Pol-Tracking dilakukan dengan metode purposive sampling dari pemberitaan politik di 15 media, yang terdiri dari lima cetak (Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, dan Seputar Indonesia), lima media online (Detik.com, Kompas.com, Merdeka.com, Okezone.com, dan Viva.co.id), serta lima televisi (TransTV, SCTV, RCTI, Metro TV, dan Tv One).
Sementara jumlah sampel sebanyak 1200 responden, dilakukan pada 16-23 Desember 2013. Survei itu dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling, 'margin error' kurang lebih 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. [ROL]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
January 16, 2014
posted by @Adimin
Anis Matta: Indonesia Butuh 'Peta Jalan Baru'
JAKARTA -- Indonesia menurut Anis Matta membutuhkan sebuah 'peta jalan baru' yang dapat dilalui semua kelompok.
"Kita tidak perlu 'menjual kecemasan' untuk itu, kita hanya perlu keluar dari diri sendiri menjadi cakrawala bangsa yg lebih luas," kata Presiden PKS itu dalam keterangan tertulis yang diterima ROL, Rabu (15/1).
Karenanya, Anis bertekad kembali merebut kepercayaan publik terhadap PKS yang hancur akibat skandal suap sapi impor di Kementerian Pertanian yang menjerat Luthfi Hasan Ishaaq.
Anis berkata, PKS harus menciptakan pemerintahan yang efektif jika terpilih memimpin Indonesia. Sebab, hingga kini ada generasi baru yang disebut 'native-democrazy' yang aspirasinya patut didengar pemerintah.
"Generasi yang patut didengar obrolan mereka yang mungkin tidak percaya dengan partai politik," ujar mantan wakil ketua DPR dari Fraksi PKS ini.
Buruh dan wirausaha yang sedang bingung dengan masa depannya juga membutuhkan peran pemerintah. Karenanya, Indonesia membutuhkan sebuah 'peta jalan baru' yang dapat dilalui semua kelompok. [ROL]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 16, 2014
bentengsumbar
posted by @Adimin
Mahyeldi: Maulid Nabi Mengembalikan Kecintaan Kepada Rasulullah SAW
Wakil Walikota Padang Ustad H. Mahyeldi Anshorullah ketika membuka kegiatan Semarak Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan BKS TPQ-TQA Kota Padang
Wakil
Walikota Padang Ustad H. Mahyeldi Anshorullah, SP mengatakan, perayaan
Nabi Muhammad SAW dapat mengembalikan kecintaan umat kepada Rasulullah
SAW. Hal itu disampaikannya ketika membuka secara resmi acara Semarak
Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H ke-4 yang diadakan Badan Kerjasama
TPQ-TQA Kota Padang yang dipusatkan di Kelurahan Pengambiran Ampalu Nan
XX, Kecamatan Lubug Begalung, Kota Padang.
Mahyeldi menilai kegiatan ini sangat tepat diadakan disaat orang tidak
peduli lagi dengan ajaran agama dan pembawa risalahnya. Dulu Panglima
Islam Salahuddin Al Ayubi mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
ini untuk mengembalikan semangat kaum muslimin dalam membela Islam.
Saat itu, ujar Mahyeldi lagi, semangat kaum muslimin mulai mengendor
setelah mengalami berbagai kekalahan di medan Perang Salib. Untuk
membangkitkan kembali gairah kaum muslimin, Salahuddin mengambil momen
ini dengan mengisi kegiatan – kegiatan syiar islam.
"Pemko Padang sangat mendukung kegiatan positif semacam ini, karena
momen Maulid Nabi Muhammad SAW ini diisi dengan kegiatan lomba-lomba,
seperti MTQ, Adzan, Tilawah dan Pidato Da’i Cilik. Hal ini akan
membangkitkan kembali kecintaan kita kepada Allah, Rasul dan Al-Quran,"
ungkap politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Sementara itu, Ketua BKS TPQ/TQA Kota Padang, Drs. M.Darnalis dalam
kesempatan itu mengatakan, Semarak Maulid Nabi ini sudah yang keempat
kalinya dilaksanakan. Kegiatan ini dilaksanakan bergiliran setiap
tahunnya di setiap kecamatan yang menjadi tuan rumah.
"BKS TPQ/TQA Kota Padang akan berupaya terus melaksanakan kegiatan ini
rutin setiap tahunnya. Karena kita merasakan dampak yang baik bagi
generasi kita. Mereka semakin meningkatkan kemampuan mereka dalam
menggali ilmu agama. Mulai dari membaca Al Quran, cara Adzan yang baik
serta mengasah kemampuan berpidato agama," jelasnya.
Dijelaskan, peringatan kelahiran Rasulullah SAW kali ini bertepatan
pula dengan ulang tahun BKS TPQ-TQA Kota Padang. Sehingga momen ini
diambil untuk mengangkat helat berupa lomba.
"Semoga perhelatan akbar seperti ini berjalan lancar dan ke depannya
kegiatan tersebut tetap berlanjut. Kecamatan Lubeg sebagai tuan rumah
kali ini tentunya berharap bisa meraih hasil bagus," katanya.
Ketua Pelaksana, Opriadi Gufran, yang juga Ketua
BKS TPQ/TQS Kecamatan Lubuk Begalung mengungkapkan, sebagai tuan rumah
pihaknya sudah melakukan persiapan sejak bulan Desember lalu. Selain
persiapan lokasi dan seluruh perlengkapan acara, juga mempersiapkan
peserta yang mewakili Lubuk Begalung agar mereka bisa tampil lebih baik.
Kegiatan ini diikuti oleh 165 peserta dari 11 kecamatan.
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 16, 2014
posted by @Adimin
Anis Matta: Menjadi Otak, Hati, Tulang Punggung
JAKARTA - Memimpin Indonesia tidak akan berhasil hanya karena menjadi seorang presiden, tidak akan berhasil hanya karena punya banyak menteri. Anda akan berhasil memimpin Indonesia apabila mau menjadi otaknya Indonesia, hatinya Indonesia, dan tulang punggung Indonesia.
Demikian konsepsi pemimpin menurut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disampaikan Presiden PKS M Anis Matta dalam wawancara khusus denganKompas di kantor The Future Institute, Jakarta, Kamis (9/1/2014).
Menurut dia, pemimpin negeri ini harus menguasai wacana, memiliki kemampuan mengarahkan atau menggerakkan emosi publik, serta mampu merealisasikan rencana atau program-program pembangunan.
Menurut Anis, fungsi tersebut bisa dilihat dalam pemerintahan Orde Baru. ”Militer bisa memimpin selama Orde Baru itu bukan karena Pak Harto (Presiden Soeharto),” katanya.
Sejak awal Orde Baru, militer sudah intensif mengembangkan wacana keindonesiaan. Bahkan, hasil seminar TNI Angkatan Darat tahun 1966 digunakan sebagai ide dasar penyusunan platform pembangunan. Pada sisi inilah, militer berhasil memosisikan diri sebagai otaknya Indonesia.
Militer juga berhasil menggerakkan emosi masyarakat dengan menciptakan kepercayaan diri dan optimisme bangsa. Selain itu, militer juga menguasai pemerintahan karena diberlakukan Dwifungsi ABRI.
”Itulah kenapa dia (militer) mampu mengeksekusi (merealisasikan) semua rencana pembangunan yang dicanangkan sebelumnya,” ujarnya.
Pelajaran untuk parpol
Mengambil pengalaman pemerintahan Orde Baru bukan berarti PKS menginginkan militer berkuasa kembali. Peran yang diambil militer sebagai otak, hati, dan tulang punggung bangsa itulah yang seharusnya menjadi pelajaran partai politik sebagai pabrik pemimpin bangsa.
Seharusnya, setelah Dwifungsi ABRI dihapuskan pada era Reformasi, parpol bisa mengambil peran yang sebelumnya dilakukan kelompok militer. Namun, hingga 15 tahun reformasi, belum ada satu pun kekuatan politik yang mampu. PKS sendiri diakui belum mampu menjalankan fungsi sebagai otak, hati, dan tulang punggung Indonesia.
Menurut Anis, 10 tahun pertama habis untuk membangun infrastruktur dan kapasitas lain untuk menjadi partai modern. Penguatan ideologi dan penokohan sebenarnya sudah dirancang dilakukan pada 10 tahun kedua PKS, tetapi terhenti karena terganjal kasus hukum yang menimpa mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq.
Setelah reformasi tahun 1998, menurut Anis, semestinya fokus perhatian pemerintah juga berubah. Perhatian tak lagi difokuskan pada politik seperti Orde Lama atau fokus ke ekonomi seperti pada Orde Baru, tetapi fokus kepada masyarakat sipil.
Pasalnya, politik dan ekonomi sudah menemukan keseimbangan baru. Begitu pula sumber-sumber ketegangan lain, seperti relasi agama dan negara, dialektika demokrasi dan pembangunan, serta hubungan pusat dan daerah sudah menemukan keseimbangan baru. Keseimbangan baru juga terlihat dengan munculnya relasi antara negara, agama, dan masyarakat sipil.
Akan tetapi, sayang, keseimbangan baru itu muncul bersamaan dengan fenomena baru, yakni ledakan demografi baru. Muncul sebuah generasi baru yang lahir tahun 1990-an, yang tak punya asosiasi emosional dan ideologi terhadap sumber ketegangan pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Mereka lahir di tengah ideologi baru, yakni demokrasi dan pasar bebas.
Persoalan muncul karena para politisi atau calon pemimpin bangsa justru masih menggunakan isu-isu lama, seperti kedaulatan, integrasi, dan nasionalisme. Yang menjadi perbincangan lembaga-lembaga politik tidak sesuai dengan yang dipikirkan dan dibutuhkan masyarakat.
Masyarakat yang cara pandangnya sudah berubah juga tidak merasakan manfaat negara dan semua institusi politik. Akibatnya, muncul ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara dan institusi politik.
Kondisi itu juga menyebabkan terjadi disorientasi sehingga bangsa kehilangan arah. Kegaduhan terjadi di mana-mana, tetapi sebenarnya tidak ada hal substansial yang menjadi pokok perdebatan.
Bukan pemimpin otoriter
Untuk menghadapi persoalan baru tersebut, diperlukan pula pendekatan baru dalam model kepemimpinan. Masyarakat tidak memerlukan lagi pemimpin yang otoriter atau pemimpin yang hanya mengandalkan wibawa. Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mengandalkan gagasan, memiliki kemampuan persuasif, dan kemampuan koordinasi. Anis menganalogikan pemimpin seperti pemandu sorak.
Dengan kata lain, tugas pemimpin adalah menciptakan lingkungan strategis bagi masyarakat untuk terus berkembang. Masyarakat harus dibuat taat kepada pemimpin karena pemimpin memiliki gagasan besar yang bermanfaat untuk masyarakat.
Pendekatan semacam itulah yang juga dilakukan PKS. Kader taat bukan karena takut pada otoritas partai, melainkan karena sadar pada kebenaran dalam gagasan yang dibawa pemimpin mereka.
Bicara masalah ketegangan antara Islam, modernitas, dan keindonesiaan, Anis mengatakan, itu sudah menjadi masa lalu. Saat ini, ketegangan segitiga pada masa lalu tersebut semestinya dijadikan dasar untuk membangun masa depan Indonesia.
PKS memiliki gagasan mengintegrasikan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan untuk membangun masa depan bangsa. PKS tidak ingin lagi ada komplikasi antara Islam dan keindonesiaan atau Islam dengan modernitas.
Hal itu karena Islam yang dibawa PKS merupakan Islam yang moderat dan terbuka. Gagasan itulah yang melandasi PKS memutuskan menjadi parpol terbuka sejak tahun 2008.
Dengan menyatukan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan, Indonesia diharapkan akan menjadi bangsa yang religius, lebih berpengetahuan, tetapi sejahtera. Agama akan memberikan basis orientasi dan basis moral.
Pengetahuan memberikan basis kompetensi dan basis produktivitas. Adapun kesejahteraan merupakan cita-cita Indonesia yang tercantum dalam konstitusi, yakni menjadi negara adil dan makmur.
Dengan penyatuan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan itu, Indonesia diyakini akan menjadi model bagi negara-negara Islam dan juga negara-negara Barat. [Kompas]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 15, 2014
*/bersambung ke Masyumi dan korupsi
posted by @Adimin
Masyumi dan Kebijakan Melawan Korupsi (1)
Written By Sjam Deddy on 15 January, 2014 | January 15, 2014
PM M Natsir (Masyumi) menolak mobil Chevrolet Impala dan memilih mobil jadul merek DeSoto (foto: Soekarno di acara Masyumi)
SATU-PERSATU tokoh-tokoh partai dan politisi saat ini mesuk jeruji besi atas kasus korupsi. Bahkan termasuk politisi dari partai berbasis Islam. Musibah ini, tentu saja menjado olok-olok yang cukup mengenaskan. Kelompok-kelompok di luar Islam seolah bernyanyi dan mencemooh, tentu saja, menyudutkan Islam di mana seolah ingin mengatakan, fakata nilai-nilai Islam tidak ada pengaruhnya dalam kancah politik dan dalam urusan bernegara.
SATU-PERSATU tokoh-tokoh partai dan politisi saat ini mesuk jeruji besi atas kasus korupsi. Bahkan termasuk politisi dari partai berbasis Islam. Musibah ini, tentu saja menjado olok-olok yang cukup mengenaskan. Kelompok-kelompok di luar Islam seolah bernyanyi dan mencemooh, tentu saja, menyudutkan Islam di mana seolah ingin mengatakan, fakata nilai-nilai Islam tidak ada pengaruhnya dalam kancah politik dan dalam urusan bernegara.
Tentusaja ini sebuah bencana, karena pegiat partai berbasis Islam
seharusnya sadar bahwa ketika mereka berpartai, mereka membawa bendera
yang lebih besar, yaitu agamanya sendiri. Pengharapan seperti ini amat
tinggi di hadapat rakyat dan partai-partai lain yang tidak mengusung
agama. Wajar jika mata jeli berbagai kalangan, masyarakat, LSM, media
massa terus mengintai setiap gerak-gerik politisi dan tokoh-tokoh dari
partai Islam. Selain hanya mencari celah, tentu saja mencari ibrah (tauladan).
Musibah yang sedang dialami para politisi sedang terjerat korupsi
Inilah yang mungkin luput kita sadari. Apa daya, sekali lagi, kita
malas menengok sejarah barangsekejap. Padahal salah satu partai Islam
terbesar bernama Masyum itelah menorah kan tinta perjuangan dalam usaha
membasmi korupsi.
Korupsi memang bukan barang baru di negeri ini. Sejak di era
pemerintah kolonial, korupsi menjangkiti kaum pribumi. Bahkan ketika
kemerdekaan telah kita raih dari tangan penjajah, bau amis korupsi
ternyata ikut melekat di tangan para politisi kita sejak dini. Karya
semacam Korupsi (Pramoedya AnantaToer, 1961) dan Senja di Jakarta
(MochtarLubis, 1970) menggambarkan betapa korupsi di kala itu sudah
menjamur. Ketika itu praktek korupsi begitu menggurita, penuh
manipulasi. Modus yang dikenal pada periode 1950-an adalah
‘Importiraksentas’ atau pengusaha ‘Ali-Baba’. Kebijakan nasionalisasi
saat itu diakali para ‘Importiraksesntas.’ Sebuah akal-akalan perusahaan
nasional (dalam negeri) yang menjual kembali izin impor kepada
perusahaan asing. Begitu pula taktik ‘Ali-Baba’, sebuah modus yang
berkedok importir pribumi untuk mendapatkan fasilitas impor dari
pemerintah. Padahal di balik importer ini hanyalah pengusaha China
atauBelanda. (The Deciline of Constitutional Democracy in Indonesia, Herbert, Feith.Equinox Publihshing. 2007. Singapura).
Maka hal semacam ini lazim disebut ‘Ali-Baba’ atau Ali-Willem.(baca: Partai Islam di Pentas Nasional , Deliar Noer, Pustaka Utama Grafiti. 1987. Jakarta)
Ketika itu, negara di bawah pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo I
(Juli 1953-Juli 1955). Pemerintah kala itu memang menggelorakan ekonomi
nasional (termasuk nasionalisasi) dengan memberikan kredit-kredit pada
pengusahanas ional. namun, Menteri Keuangan saat itu, Iskaq
Tjokrohadisoerjo (1953-1955), melakukan politik nasional dalam ekonomi
dengan banyak diskriminasi.Ia mengutamakan pengusaha dari partai PNI
saja, atau yang menyokong pemerintahan PNI (Ali) sehingga diberi
kemudahan tanpa memperhatikan kemampuan.Termasuk salah satunya,
perusahaan importir kertas baru, Inter Kertas, yang setengah dari
sahamnya dimiliki oleh Sidik Djojosukarto. Menteri Iskaq berbuat
seperti ini, bukan tanpa alasan. Tampaknya PNI mengejar persiapan untuk
pemilu tahun 1955. Bahkan mengambil kebijaksanaan untuk menyokong dana
partai. Bersama Ong Eng Die (keduanya dari PNI), mereka memerintahkan
dana kementerian untuk disimpan di Bank Umum Nasional, suatu bank PNI.
Mereka juga merombak personalia dan administrasi kementerian terutama
yang berhubungan dengan perdagangan dan perindustrian. Menteri Iskaq
juga pernah membatalkan Koperasi Batik Indonesia sebagai satu-satunya
importir cambrics, dan member lisensi ini kepada beberapa importir tak
berpengalaman.Selain itu dia juga memberikan izin impor kertas untuk
pemilu kepada suatu perusahaan yang sahamnya dimiliki orang-orang PNI.
Kebijakan-kebijakan seperti ini mendapat tentangan keras dari partai
Masyumi. Ketua Seksi Ekonomi dari parlemen, KH Tjikwan dari Majelis
Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) mengajukan mosi di parlemen untuk
interpelasi, guna mempertanyakan kebijakan Menteri tersebut. Mosi untuk
interpelasi diterima dengan suara bulat. Namun mosi tak percaya berakhir
dengan kegagalan. Kegagalan ini lebih bersifat politis, yaitu pemihakan
kekuatan antara oposisi dan partai yang ikut dalam kabinet. Walaupun
begitu, Partai NU yang ikut serta dalam kabinet turut mengirimkan nota
politik yang berisi kekhawatiran tentang masalah ekonomi. Begitu pula
PSII yang juga ikut dalam kabinet menyatakan tidak bertanggungjawab atas
kelanjutan kebijakan menteri-menteri dari PNI itu.
Kabinet Ali Sastroamidjojo menyerahkan kekuasaannya kepada
Boerhanoeddin Harahap pada 12 Agustus 1955.Di sinilah kemudian Kabinet
Boerhanoeddin yang berasal dari Masyumi membuktikan dirinya melawan
korupsi dengan lantang.Kabinet Boerhanoeddin langsung melancarkan
kampanye anti korupsi. Pasal lima dari program kabinet ini adalah
memberantas korupsi. Kabinet ini langsung menyikat orang-orang yang
terindikasi korupsi. Beberapa hari setelah dilantik, Mr. Djodi
Gondokusumo, bekas Menteri Kehakiman ditangkap. Begitu pula Menteri
Keuangan Ong Eng Die. Rumah Iskaq Tjokroahadisurjo digeledah. Saat itu
Iskaq sendiri sedang berada di luar negeri. Ia berkali-kali dipanggil
pulang.Tetapi perjalanannya di luar negeri di perpanjang.
Dalam biografinya, ia mengakui, sebetulnya ia hendak pulang, tetapi
di Singapura ia dijemput Lim Kay, yang diutus pimpinan pusat PNI.( Boerhanoeddin Harahap. Pilar Demokrasi.
Busyairi, Badruzzaman Bulan Bintang, 1989, Jakarta). Iskaq sendiri
tahun 1960 divonis bersalah oleh pengadilan, namun kemudian diselamatkan
Soekarno dengan grasinya.Daftar orang-orang yang ditahan termasuk
beberapa orang di badan penyelidik negara, pejabat kantor impor, serta
pengusaha (importir).
Penangkapan merebak di mana-mana. Bandung, Surabaya, Sumatera tengah,
Jawa tengah hingga Penang.Termasuk di Singapura, Konsul Jenderal Arsad
Astra juga dipanggil pulang dan ditahan.
Delapan hari setelah dilantik, Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap –
yang saat dilantik baru berusia 38 tahun- menjelaskan kebijakannya
melawan korupsi, “Untuk memperbaiki kembali keadaan yang tak sehat
dalam masyarakat, dan juga di dalam kalangan pemerintahan sebagai akibat
dari tindakan-tindakan korup oleh berbagai orang, maka pemerintah
menganggap perlu untuk menjalankan tindakan-tindakan yang keras dan
tegas.”
Ia juga menegaskan tak pandang bulu membasmi korupsi, tanpa peduli
partai, golongan atau agamanya. Ia kemudian juga menggencarakan
perlawanan dengan memperluas kekuasaan Jaksa Agung. Ia membebaskan Jaksa
Agung dari tiap pembatasan sehingga dapat bertindak terhadap siapa saja
atas dasar hukum.
TIPIKOR Bukan organisasi pertama
Gebrakan yang lebih keras dari kabinet beliau adalah, saat kabinetnya
mengeluarkan RUU Anti Korupsi yang memuat suatu exorbitant-recht. RUU
itu mewajibkan kepada pegawai negeri atau orang lain untuk memberikan
bukti-bukti yang menerangkan asal-usul harta benda (kekayaan) yang
dimilikinya, yang biasa diistilahkan de bewijslast-omkeren.
RUU anti korupsi itu terdiri dari dua bagian.
Pertama, mengatur berbagai tindakan di dalamperadilan yang
ketentuannya berlainan dengan peradilan biasa. Yaitu mengadakan
pengadilan tersendiri-seperti juga untuk tindakan pidana ekonomi- dan
terdakwa harus dapat menjawab dengan sejujurnya terhadap berbagai
tuduhan kepadanya.
Bagian kedua, dari RUU tersebut adalah mengatur berbagai
tindakan di luar peradilan. Bagian ini memungkinkan penyelidikan harta
benda seseorang oleh Biro Penilik Harta Benda, untuk menyelidik besarnya
harta dan kelegalan kepemilikan harta tersebut. Suatu praktek
pencegahan korupsi yang akhirnya baru dimulai beberapa waktu belakangan
ini. Di mana hari Pengadilan Tindak Pidana Korupski (TIPIKOR) dan
lahirnya KPK.
RUU ini pun dibawa ke parlemen. Namun sayangnya RUU ini kandas
setelah tidak mendapatkan dukungan memadai dari partai berpengaruh
seperti Partai NU. Boerhanoeddin sendiri tidak mengetahui sebab
penolakan itu oleh Partai NU. Rangkaian usaha cabinet ini memberantas
korupsi, seringkali dituduh sebagai aksi balas dendam, termasuk oleh
PNI. Namun Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap menolaknya, ia
menegaskan pemberantasan korupsi dilakukan secara, obyektif, hati-hati
dan tidak asal tangkap.
*/bersambung ke Masyumi dan korupsi
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
REFLEKSI,
Sejarah,
TOPIK PILIHAN
January 14, 2014
Kekuatan terbesar partai politik seharusnya pada basis massa, bukan uang! Jika uang yang menjadi basis kekuatan, maka politik menghalalkan segala caralah yang akan dilakukan!
posted by @Adimin
Buya Hamka, Masjumi dan Perang Melawan Korupsi
Written By Sjam Deddy on 14 January, 2014 | January 14, 2014
Kekuatan terbesar partai politik seharusnya pada basis massa, bukan uang! Jika uang yang menjadi basis kekuatan, maka politik menghalalkan segala caralah yang akan dilakukan!
KORUPSI yang
dilakukan oleh para pejabat yang berkuasa sudah sejak lama menjadi
sorotan di negeri ini. Terutama pejabat negara yang berasal dari partai
politik. Hari ini kita menyaksikan, pejabat yang berasal dari partai
politik seolah menjadi lumbung uang untuk mencari dana bagi pendanaan
partai.
Keberadaannya di pemerintahan
seolah dituntut untuk menjadi mesin pengeruk uang. Tak peduli halal dan
haram, yang penting lumbung partai terpenuhi dengan pundi-pundi rupiah.
Partai yang harusnya menjadikan basis massa sebagai kekuatan politik,
berubah mengedepankan uang. Tujuannya agar suara rakyat bisa dibeli,
apalagi menjelang Pemilu.
Fenomena ini ternyata sudah sejak
lama terjadi. Buya Hamka, salah seorang tokoh Partai Masjumi yang
terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante pada Pemilu tahun 1955,
mengeritik cara-cara yang dilakukan oleh Partai Nasionalis Indonesia
(PNI), rival politik Masjumi, yang mengedepankan uang sebagai kekuatan
politik. Dalam tulisannya di Majalah Hikmah, No.10 Thn IX, 5
Sya’ban 1374 H/17 Maret 1956, ulama asal Sumatera Barat ini
mengungkapkan cara-cara kotor yang dilakukan oleh partai politik sekular
yang ingin merebut simpati rakyat.
Kekuatan Partai Masjumi yang mampu memenangkan Pemilu di beberapa wilayah pada tahun 1955, dan banyak mendapatkan kursi di parlemen, membuat lawan-lawan politiknya ketar-ketir
untuk menghadapi Pemilu berikutnya pada tahun 1960. Meskipun akhirnya,
Pemilu tahun itu tidak dapat terlaksana, setelah Soekarno secara sepihak
mengajukan gagasan “Demokrasi Terpimpin” dan berniat mengubur
partai-partai yang ada.
Hamka mengatakan dalam tulisannya, “Plan
(rencana, pen) utama rupanya bagaimana supaya Masjumi dapat dikalahkan
dalam pemilihan umum. Partai-partai yang berkuasa itu, terutama PNI
insjaf bahwa kekuatan mereka tidak besar pada massa. Oleh sebab itu,
uang mesti ditjari sebanjak-banjaknya untuk biaja pemilihan umum. Kalau
perlu dari mana sadjapun uang itu ditjari. Halal atau haram bukan soal: ‘lil ghayati tubarrirul wasilah’ (untuk mentjapai maksud boleh dipakai sembarang tjara),” terang Hamka.
Hamka kemudian mengungkap adanya
upaya dari partai yang berkuasa dengan menjadikan para anggotanya yang
menjabat dalam pemerintahan, untuk melakukan korupsi demi memenuhi
keuangan partai.
“Di
waktu itulah terdengarnja ‘lisensi istimewa’ korupsi besar-besaran. Mr.
Ishak, seorang djago PNI mendjadi menteri keuangan. Hebatlah nasib jang
diderita rakjat pada waktu itu. Benarlah mendjadi menteri mendjadi
sumber kekayaan jang tidak halal! Banjak kita melihat orang kaja baru!
Dia mendapat ‘lisensi istimewa’ itu didjualnya kepada asing!” ujarnya.
Ia kemudian menceritakan, “Setelah
kabinent Burhanudin naik, maka program yang pertama adalah memberantas
korupsi! Mr Djodi dituntut, dan Mr. Ishak “menjingkir” atau disuruh
“menjingkirkan” keluar negeri,” kata Hamka, sambil menyebut Kabinet
Burhanudin Harahap yang berasal dari dari Partai Masjumi, bertekad
memerangi korupsi. Mr. Djodi dan Mr. Ishak yang dimaksud adalah aktivis
partai sekular PNI.
Dengan kritik yang cukup keras,
Hamka yang melihat praktik kecurangan sebelumnya, saat kabinet belum
berada di bawah kendali Partai Masjumi, menyatakan bahwa partai yang
berkuasa sebelumnya menjadikan kekuasaan untuk mengeruk uang bagi
pendanaan partainya.
“Dengan
serba matjam djalan, uang negara diperas! Dengan kedok “ekonomi
nasional” orang-orang diandjurkan mendirikan firma, N.V (perusahaan),
dan diberi lisensi. Keuntungannya sekian buat partai.”
Apa yang disampaikan oleh ulama penulis Tafsir Al-Azhar ini
puluhan tahun lalu, seperti terulang kembali pada saat ini. Aparat
penegak hukum menciduk tokoh-tokoh partai politik yang terlibat kong-kalikong dengan pengusaha.
Partai dijadikan sarana untuk jual beli lisensi,
jual beli izin usaha, izin ekspor-impor, pemenangan proyek atau tender,
dan sebagainya, yang ujung-ujungnya memeras pengusaha untuk memberikan
suap.
Uang suap itu kemudian ada yang dicurigai dijadikan basis pendanaan partai demi memenangkan Pemilu. Politik tak lagi menjadikan basis massa sebagai kekuatan, tetapi menjadikan uang sebagai alat untuk meraih kemenangan.
Suatu ketika, kata Buya Hamka, ia
bertemu dengan perwakilan negara asing di Jakarta. Kepada Hamka, orang
itu bertanya tentang dari mana sumber dana Partai Masjumi, sehingga
mampu meraup suara yang cukup besar pada Pemilu 1955. Orang asing itu
menduga Partai Masjumi mendapat pendanaan dari luar negeri.
Kepada orang itu, Buya Hamka mengatakan, selama ini pendanaan Masjumi berasal dari dana pribadi para anggota dan simpatisannya.
“Memeras kantong sendiri, mendjual
menggadaikan harta bendanja,” ujar Hamka menceritakan bagaimana para
kader dan simpatisan Masjumi mendanai partai.
Orang asing itu kaget, karena
selama ini yang ia tahu, partai-partai besar, jika tak mendapat dana
asing, maka kemungkinan lainnya adalah menggunakan para kadernya yang
ada di lingkar elit kekuasaan sebagai mesin pengeruk uang.
Demikianlah keteladanan yang
ditorehkan oleh Partai Masjumi dalam sejarah kepartaian di Indonesia.
Partai Islam tersebut mampu mengepankan cara-cara halal dalam politik,
bukan menghalalkan segala cara. Bagi Partai Masjumi, kekuatan terbesar
partai politik adalah pada basis massa, pada kader yang solid, bukan
pada uang!*
Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan dosen STID Mohammad Natsir Jakarta
posted by @Adimin
Label:
Sejarah,
TOPIK PILIHAN
January 14, 2014
Mahyeldi : Masyarakat Harus Lebih Nyaman
Penataan
Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai
infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar
Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.
Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.
Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.
“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.
Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.
Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.
Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.
Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.
“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.
Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.
Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan
Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai
infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar
Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.
Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.
Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.
“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.
Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.
Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.
Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.
Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.
“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.
Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.
Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan
Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai
infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar
Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.
Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.
Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.
“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.
Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.
Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.
Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.
Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.
“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.
Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.
Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.
Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.
Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.
“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.
Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.
Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.
Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.
Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.
“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.
Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.
Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna.
mn
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 12, 2014
posted by @Adimin
Anis Matta: PKS Fokus Suara Dapil
Written By Anonymous on 12 January, 2014 | January 12, 2014
JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta menanggapi santai berbagai hasil survei-survei yang dirilis jelang Pemilihan Umum 2014 yang menempatkan PKS tak masuk dalam jajaran lima besar partai dengan dukungan di atas 10 persen responden.
"Kalau saya lebih baik PKS percaya survei-survei itu. Meski tak semuanya benar, tapi angka-angka itu akan memotivasi kami bekerja keras lagi," tutur Anis, Kamis 9 Januari saat ditemui The Future Institute, lembaga pendidikan PKS di bilangan Jl Duku Patra Pancoran Jakarta.
Bagi Anis PKS kini lebih baik fokus memikirkan pencapaian kursi di dapil. PKS tidak konsen di popular vote. Ia mencontohkan, tahun 2009 popular vote-nya berkurang 300 ribu tapi toh bertambah kursinya bertambah 12 menjadi 57 kursi. Fokus memikirkan suara dari dapil itu yang paling penting bagi PKS.
Dikatakan Anis, meski hasil survey belakangan ini suara PKS mengalami penurunan, namun ia yakin berkat dukungan seluruh kader yang terus menjaga soliditas, partainya akan mencapai target yang sudah dicanangkan
"Insyaallah lebih bagus dari 2009. Faktor yang mempengaruhi adalah soliditas kader dan para caleg yang terus bergerak," terang Anis yang siang itu sibuk menerima tamu di ruangannya.
Seperti diketahui, PKS menargetkan suara 12 persen pada Pemilu 2014 mendatang, target itu jauh melampau hasil yang dicapai pada tahun 2009 lalu. Pada lima tahun lalu, PKS mendapatkan suara 8 persen dan bertengger di urutan empat.
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 12, 2014
posted by @Adimin
PKS Tolak Penghapusan Hukuman Mati
JAKARTA -- Politikus Partai Keadilan Sejahtera Al Muzammil Yusuf menolak adanya upaya penghapusan hukuman mati oleh pihak Kejaksaan Agung sebagai pelaksana eksekusi.
Sebelumnya, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum), Basuni Masyarif, mengusulkan adanya penghapusan hukuman mati di Indonesia. Menurut Basuni, usulan tersebut sesuai dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat.
"Kok dihapus, teroris yang belum terbukti saja sudah ditembak mati," kata Almuzamil Yusuf, Wakil Ketua Komisi III DPR RI yang juga politisi dari partai PKS, Sabtu (11/1), saat di konfirmasi RoL via telepon.
Almuzamil menjelaskan, harusnya, hukuman mati itu tetap dilakukan, khususnya untuk para pengedar narkoba. Dia beralasan, pengedar narkoba justru lebih berbahaya dari kasus-kasus yang lain.
Dia mencontohkan, empat ton ganja saja bisa dipakai empat juta orang, artinya satu gram ganja dipakai satu orang pemakai.
Almuzamil menegaskan, tidak setuju jika wacana penghapusan pencabutan hukuman mati di indonesia di hapus. Menurutnya, Kejaksaan Agung (Kejakgung) harus menjalankan aturan Undang-undang eksekusi hukuman mati. Dia menyatakan, kejaksaan tidak perlu takut pada tekanan politik internasional.
"Harus ada ketegasan hukum," singkat Almuzamil.
(ROL)
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 09, 2014
https://finance.groups.yahoo.com/neo/groups/nasional-list/conversations/topics/168609
posted by @Adimin
Ilmuwan : Protein DNA Tercipta Dari Tanah Liat
Written By Sjam Deddy on 09 January, 2014 | January 09, 2014
Bagaimana penjelasan tentang kejadian manusia dalam sudut pandang
pengetahuan biologi? Dimana sebelumnya banyak orang yang berfikir
"Apakah mungkin Adam tercipta dari tanah?"
Ilmuwan biologi dan lingkungan dari Kavli Institute, Nanoscale Science,
kini telah membuktikan asal usul kehidupan dimana tanah liat membentuk
Hidrogel yang akhirnya membentuk DNA. Tanah liat hidrogel selama
milyaran tahun menciptakan reaksi kompleks yang menciptakan protein
dengan bantuan bahan kimia hingga membuat sel kehidupan.
Hidrogel ini berfisat terbatas dan dilindungi oleh proses kimia hingga membran mengelilingi sel-sel yang berkembang. Dalam menguji teori yang diungkapkan pada awal November 2013 oleh kelompok ilmuwan dipimpin Luo, peneliti sebelumnya menggunakan hidrogel statis sebagai sel bebas untuk menghasilkan protein. Tanah liat membentuk hidrogel dimana massa ruang mikroskopis mampu menyerap cairan seperti spons (sponge). Tanah liat dianggap sangat menjanjikan sebagai prekusor membran sel, karena Biomolekul cenderung ke permukaan dan Sitoplasma (lingkungan interior sel) berperilaku seperti hidrogel.
Menurut Luo, hidrogel yang dihasilkan dari tanah liat jauh lebih baik melindungi isinya dari enzim perusak atau Nucleases yang akan membongkar DNA dan biomolekul lainnya. Penelitian dan pengembangan protein yang digagas oleh tim Lou saat ini masih berlanjut dan akan terus menggunakan tanah liat, karena bahan ini dapat ditemukan dengan mudah.
Di tahun-tahun sebelumnya, tim fisikawan Princeton dan Brandeis asal Harvard School of Engineering and Applied Sciences (SEAS) menunjukkan hasil kerja tentang pembentukan vesikel semi Permaebel yang berasal dari tanah liat anorganik, dirilis pada Februari 2011. Penelitian ini menunjukkan bahwa vesikel tanah liat memungkinkan sebagai wadah ideal untuk perkembangan molekul organik kompleks, dan penemuan ini membuka kemungkinan bahwa sel-sel primitif mungkin telah terbentuk didalam tanah liat anorganik.
Para ilmuwan ini telah mempelajari tanah liat yang jumlahnya berlimpah di permukaan bumi. Selama ratusan tahun, tanah liat dan mineral dikenal dalam membantu proses katalis kimia yang mendorong Lipid untuk membentuk membran dan Nukleotida tunggal agar bergabung kedalam untaian RNA. Liposom dan RNA menjadi prekusor penting dalam kehidupan purba, tetapi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pori-pori dalam vesikel tanah liat bisa melakukan tugas ganda sebagai 'Entry Point' selektif dan sumber katalis.
Adam Tercipta Dari Tanah
Pada akhirnya, para ilmuwan terus bertanya-tanya "Apakah nantinya tanah liat bisa memainkan peran penting dalam membuka asal usul kehidupan?"
para ilmuwan dari tahun ke tahun terus mengembangkan protein DNA yang bersumber dari tanah liat yang ada di Bumi. Selama milyaran tahun, tanah liat juga telah menciptakan protein kehidupan lain seperti kehidupan mikro yang kemudian berevolusi menjadi tumbuhan dan hewan.
Hidrogel ini berfisat terbatas dan dilindungi oleh proses kimia hingga membran mengelilingi sel-sel yang berkembang. Dalam menguji teori yang diungkapkan pada awal November 2013 oleh kelompok ilmuwan dipimpin Luo, peneliti sebelumnya menggunakan hidrogel statis sebagai sel bebas untuk menghasilkan protein. Tanah liat membentuk hidrogel dimana massa ruang mikroskopis mampu menyerap cairan seperti spons (sponge). Tanah liat dianggap sangat menjanjikan sebagai prekusor membran sel, karena Biomolekul cenderung ke permukaan dan Sitoplasma (lingkungan interior sel) berperilaku seperti hidrogel.
Menurut Luo, hidrogel yang dihasilkan dari tanah liat jauh lebih baik melindungi isinya dari enzim perusak atau Nucleases yang akan membongkar DNA dan biomolekul lainnya. Penelitian dan pengembangan protein yang digagas oleh tim Lou saat ini masih berlanjut dan akan terus menggunakan tanah liat, karena bahan ini dapat ditemukan dengan mudah.
Di tahun-tahun sebelumnya, tim fisikawan Princeton dan Brandeis asal Harvard School of Engineering and Applied Sciences (SEAS) menunjukkan hasil kerja tentang pembentukan vesikel semi Permaebel yang berasal dari tanah liat anorganik, dirilis pada Februari 2011. Penelitian ini menunjukkan bahwa vesikel tanah liat memungkinkan sebagai wadah ideal untuk perkembangan molekul organik kompleks, dan penemuan ini membuka kemungkinan bahwa sel-sel primitif mungkin telah terbentuk didalam tanah liat anorganik.
Para ilmuwan ini telah mempelajari tanah liat yang jumlahnya berlimpah di permukaan bumi. Selama ratusan tahun, tanah liat dan mineral dikenal dalam membantu proses katalis kimia yang mendorong Lipid untuk membentuk membran dan Nukleotida tunggal agar bergabung kedalam untaian RNA. Liposom dan RNA menjadi prekusor penting dalam kehidupan purba, tetapi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pori-pori dalam vesikel tanah liat bisa melakukan tugas ganda sebagai 'Entry Point' selektif dan sumber katalis.
Adam Tercipta Dari Tanah
Pada akhirnya, para ilmuwan terus bertanya-tanya "Apakah nantinya tanah liat bisa memainkan peran penting dalam membuka asal usul kehidupan?"
para ilmuwan dari tahun ke tahun terus mengembangkan protein DNA yang bersumber dari tanah liat yang ada di Bumi. Selama milyaran tahun, tanah liat juga telah menciptakan protein kehidupan lain seperti kehidupan mikro yang kemudian berevolusi menjadi tumbuhan dan hewan.
posted by @Adimin
Label:
Ilmu dan Islam,
Saint,
TOPIK PILIHAN
January 08, 2014
posted by @Adimin
Mahyeldi Dalam Perang Khandaq Pilkada Padang
Written By Sjam Deddy on 08 January, 2014 | January 08, 2014
Sepuluh ribu pasukan dari
kabilah-kabilah berhimpun dalam sebuah koalisi, saling dukung mendukung.
Kabilah-kabilah itu awalnya sering tidak rukun, bertengkar sesamanya
bahkan ada yang saling bunuh, tapi hari itu mereka berkumpul
mengelilingi Kota Madinah untuk sebuah tujuan yang sama.
Mengakhiri
kisah Muhammad dan pengikutnya.
Madinah tentu belum membayangkan kondisi ini sebelumnya, lalu Salman
Al-Farisi mengusulkan menggali parit besar di sekeliling Kota Madinah
untuk menghadapi pasukan musuh. Rasulullah menyetujui ide itu bahkan
Beliau pulalah yang membuat peta penggalian. Semua turun bekerja
menggali parit. Tapi ketakutan sebagian sahabat tetap ada sebagaimana
tergambar dalam Al-Quran.
“(Yaitu) ketika mereka
datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi
penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu
berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah” (Al Ahzab: 10)
Saya seakan melihat hal yang sama dengan Pilkada Kota Padang putaran
kedua yang menyisakan pasangan Mahyeldi-Emzalmi (PKS-PPP) dan Desri
Ayunda-James Hellyward (Independen). Seakan ini adalah Perang Khandaq
bagi Mahyeldi-Emzalmi, meski tidak sepenuhnya sama karena dalam perang
Khandaq pertarungan terjadi antara muslim dan kafir sementara di sini
seluruh peserta Pilkada sejak putaran pertama adalah muslim.
Namun berkoalisinya banyak partai untuk mendukung Desri-James pada
putaran kedua seolah seperti suasana “pengepungan” di Madinah dahulu.
Hari ini pasangan Desri-James telah mendapatkan dukungan tambahan dari
PDI-P, Hanura, PAN, PKPI dan Golkar. Partai-partai yang pada putaran
awal saling bertarung dengan memajukan jagoan masing-masing, kini
mendukung Desri-James. Saya tentu tidak tahu pasti apakah dukungan ini
karena pertimbangan logika atau logistik, yang jelas mereka sudah
bersatu mendukung Desri-James, pasangan yang maju melalui jalur
independen.
Dengan demikian Mahyeldi yang diusung PKS, kini harus berhadapan
dengan sebuah koalisi besar dari partai-partai besar. Sebuah
“pengepungan” yang bisa membuat takut dan meruntuhkan semangat. Namun
itu semua harus dihadapi dengan gagah, para kader PKS, tim sukses dan
para pendukung perlu mengambil kembali pelajaran dari perang Khandaq.
Menggali Parit
Pembangunan parit tidak pernah dikenal dalam ”kamus perang” orang
Arab. Mereka hanya mengenal teknik maju, mundur, gempur, atau lari. Maka
ketika pasukan koalisi melihat parit yang menganga lebar di antara
mereka dan Madinah, semua menjadi kaget dan bingung hendak berbuat apa.
Akhirnya mereka hanya duduk di tenda-tenda dan berfikir. Tidak ada
hasil.
Begitu dalam menghadapi Pilkada putaran kedua yang hanya beberapa
hari lagi, harus ada sebuah strategi yang belum pernah terpikirkan oleh
lawan. Strategi yang akan menjadi penentu kemenangan sebagaimana di
perang Khandaq. Karena sesungguhnya perang Khandaq bukanlah sepenuhnya
pertempuran kolosal di medan laga yang didominasi oleh hunusan pedang
dan tombak, tetapi Khandaq adalah perang strategi dan urat syaraf.
Kerja Keras
Setelah ide menggali parit disetujui Rasulullah maka para sahabat
langsung melaksanakannya. Dalam riwayat disebutkan bahwa setiap sepuluh
orang diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter (lebar 4,62 meter dan
dalam 3,234 meter). Dengan kerja keras dan kesungguhan mereka pun
berhasil menggali parit mencapai 5.544 meter.
Maka untuk meraih kemenangan setiap kader dan pendukung harus bekerja
keras sepenuh tenaga sampai batas akhir, sebagaimana dicontohkan para
prajurit Khandaq. Tidak boleh ada yang patah semangat dan menyerah
sebelum memasuki medan perang. Semua harus memberikan kontribusi
terbaiknya dalam hal apa saja untuk memperoleh kemenangan.
Optimis
Dalam perang Khandaq kita belajar tentang harapan yang tidak boleh
padam, apapun kondisinya. Dengarlah apa yang diucapkan oleh Rasulullah
saat memecahkan batu besar ketika menggali parit. Ucapan penuh
optimisme, padahal saat itu kondisinya benar-benar genting dan mencekam.
“Allahu Akbar, kunci-kunci Syam telah diberikan kepadaku, demi Allah aku tengah melihat istana-istananya yang kemerahan”
“Allahu Akbar, kunci-kunci Persia telah diberikan kepadaku, demi Allah aku tengah melihat istana kota berwarna putih”
“Allahu Akbar, kunci-kunci
Yaman telah diberikan pula kepadaku, demi Allah kini aku tengah melihat
pintu-pintu Kota Shan’a dari tempatku ini”
Maka penting bagi seluruh kader dan pendukung untuk terus bekerja dalam optimisme yang penuh akan sebuah kemenangan.
Berdoa
Dan doa tidak boleh terhenti. Teruslah memohon pertolongan kepada
Allah, sungguh pertolongan Allah itu sangat dekat. Sebagaimana
pertolongan itu telah turun di Perang Khandaq.
“Hai orang-orang yang
beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu
ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka
angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah
Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan” (Al-Ahzab: 9)
Lalu sejarah mencatat, pasukan koalisi kembali pulang dalam keadaan
yang payah, kedinginan, kekurangan makanan dan tidak bersemangat. Dan
kemenangan menjadi nyata di pihak muslim Madinah.
Tapi bukan kekalahan itu saja yang patut dikhawatirkan oleh para
musuh. Mereka perlu tahu, ketika perang Khandaq usai Rasulullah
menyampaikan bahwa, “Setelah hari ini mereka tidak akan mendatangi kita
lagi, tapi kitalah yang mendatangi mereka”. Inilah kemenangan yang agung
dan titik tolak bahwa perang yang dijalani kaum muslim tak lagi perang
bertahan, tapi tampil ke depan untuk memusnahkan kebatilan menggantinya
dengan Islam yang lurus.
Dan jika kemenangan di Pilkada Kota Padang menjadi milik Mahyeldi,
maka semoga ini juga menjadi tanda bahwa Gelombang Ketiga itu telah
dimulai.
Adrian Fetriskha, SH.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/01/07/44429/mahyeldi-dalam-perang-khandaq-pilkada-padang/#ixzz2pmDsKEaJ
posted by @Adimin










