Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
November 10, 2014
posted by @Adimin
Menjadi Pahlawan Masa Kini | Oleh : H. Emzalmi Wakil Walikota Padang
Written By Anonymous on 10 November, 2014 | November 10, 2014
Setiap mengangkat tangan kanan, meletakkannya di sudut pelipis, mata ini selalu berkaca-kaca menatap bendera merah putih yang dikerek perlahan. Ketika telinga ini menangkap alunan lagu Indonesia Raya, tiap itu pula jantung ini berdebar, darah berdesir dan bulu kuduk meremang. Dalam ruang kepala saya seperti ada film yang diputar, menayangkan adegan pertempuran, antara pejuang berbambu runcing melawan penjajah bersenjata bedil.
Perasaan seperti itulah yang kerap melanda saban upacara bendera digelar, apalagi upacara besar seperti Upacara Peringatan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2014 kemarin. Mungkin perasaan itu lahir akibat pengaruh ayah. Kendati lahir tujuh tahun pasca kemerdekaan, namun karena ayah adalah seorang pejuang kemerdekaan, maka saya dapat menyimak langsung kisah-kisah heroik yang pernah beliau lakoni. Jejak-jejak luka di tubuh beliau akibat melawan para penjajah juga telah saya saksikan dengan hati terenyuh. Apalagi beliau pernah dipenjarakan ketika Agresi Belanda ke II tahun 1948.
Kekaguman dan rasa hormat saya pada para pejuang kemerdekaan tidak terkira. Saat duduk di bangku SD, seorang guru menanyakan tentang tokoh idola, dengan lantang saya menyebut nama ayah. Alhamdulillah, rasa bangga akan sosok pejuang kemerdekaan kian hari kian bertambah. Sampai sekarang pun, bila ada yang menanyakan tokoh paling menginspirasi dan berperan besar dalam hidup saya, maka jawaban saya tetaplah Zaini Ismail, ayah saya, walaupun beliau tidak mau dikatakan sebagai pahlawan.
Entah apalah jadinya bila bangsa ini tidak memiliki pahlawan. Tidak ada pejuang, tidak ada orang yang ingin berkorban demi tanah air, tidak ada satupun yang berani melawan kezaliman para penjajah, tidak ada panutan akan nilai-nilai heroik yang menjadi teladan dan akhirnya tidak ada proklamasi 17 Agustus 1945. Syukurlah hal itu tidak terjadi, baca sejarah, bangsa ini kaya akan pejuang kemerdekaan, bangsa kita penuh dengan kisah-kisah heroik para pahlawannya. Para pejuang yang rela mengorbankan harta hingga jiwa demi berkibarnya merah putih dari Sabang sampai Merauke.
Mari kita kenang kembali pesan Bung Karno yang mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Penghargaan terhadap jasa para pahlawan tersebut meliputi bagaimana cara kita mengenang perjuangan pahlawan sekaligus meneladani mereka. Namun yang terjadi saat ini sungguh mengibakan hati. Saya percaya, tiap kita telah mengetahui nama-nama para Pahlawan, dari mana daerah muasalnya berikut kisah-kisah perjuangan mereka, tetapi tidak dipungkiri, kita belum sepenuhnya meneladani prinsip dan sikap perjuang bangsa tersebut.
Maraknya korupsi, penjarahan lingkungan, tawuran antar anak sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan di sekolah, pembunuhan, perampokan, penipuan, pemerkosaan dan banyak lagi hal-hal memilukan yang terjadi di sekitar kita memunculkan tanda tanya besar saat ini, apakah ini arti kemerdekaan ? kemanakah perginya nilai-nilai keteladanan yang telah dicontohkan para pahlawan tempo dulu ? memikirkan hal ini, membuat kita hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala.
Melihat daftar yang dirilis Kementerian Sosial, hingga 2013, ada 159 pejuang yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, namun diluar itu, saya percaya masih ada ribuan bahkan jutaan pejuang kemerdekaan yang gugur demi membela tanah air yang bahkan namanya pun tidak dikenal. Tetapi semangat dan motivasi mereka sama, menegakkan kedaulatan NKRI dengan keberanian menggebu tanpa pamrih.
Perjuangan berani tanpa pamrih itulah yang perlahan terkikis dalam sanubari sehingga mengakibatkan kerakusan dan kemalasan dalam generasi kita. Hasil instan dengan mengesampingkan cara-cara halal menjadi pilihan. Inilah penyebab munculnya berbagai permasalahan sosial yang berujung pada tindakan kriminal seperti yang dipaparkan di atas. HUT RI ke 69 ini harus jadi momentum bagi kita semua untuk mengevaluasi diri terhadap fenomena ini, nilai-nilai kepahlawanan perlu digugah kembali.
Pahlawan masa kini bukanlah yang mengangkat bambu runcing dan lalu menghunuskannya ke tubuh penjajah sembari meneriakkan merdeka. Pahlawan masa kini adalah yang mampu membawa harum nama negara bangsa dan negara ke kancah dunia di berbagai bidang keahliannya. Pahlawan zaman sekarang adalah mereka yang menebarkan kebaikan di lingkungan sekitar mereka. Pahlawan era ini adalah mereka yang menyemaikan inspirasi sehingga membangkitkan semangat orang-orang lainnya untuk berbuat positif.
Yang menggembirakan hati kita, saat ini banyak tumbuh keberanian dan keikhlasan dalam diri sejumlah insan. Mereka adalah pahlawan yang berkiprah di berbagai bidang, dengan ciri berani, tak kenal lelah dan berjuang tanpa pamrih. Ada Butet Manurung yang menjadi guru bagi anak-anak Suku Kubu yang tinggal di Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi sejak tahun 1999. Bahkan pada tahun 2004 Majalah Time menganugerahi lulusan Antropologi Universitas Padjajaran ini sebagai Heroes of Asia Award. Baru-baru ini, kisah Butet juga sudah difilmkan dalam Sokola Rimba garapan sutradara Riri Riza.
Kemudian ada Budi Ahmad Santoso dari Surabaya, yang meski “hanya” berkaki satu, namun justru aktif sebagai relawan Rumah Zakat, turut menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Selanjutnya ada Gendu Mulatif, seorang kakek yang menghimpun para penderita gangguan jiwa untuk ia rawat hingga sembuh di rumahnya. Ribuan orang gila berhasil disembuhkannya meski biaya yang dikeluarkannya disisihkan dari usaha beliau sendiri yakni hasil penyewaan delman dan jual beli kuda.
Dari pejuang lingkungan ada Victor Emanual Rayon yang merintis penanaman hutan bakau di sepanjang pantai. Awalnya dia sempat mendapat cemooh dari warga karena idenya itu, namun sekarang terbukti, pantai yang dahulu gersang telah berubah menjadi teduh oleh rimbunnya hutan bakau. Dengan hadirnya hutan bakau ini, otomatis ikan-ikan bersarang di sana, sehingga menambah penghasilan nelayan. Dan banyak lagi pahlawan masa kini yang menempatkan pengorbanan diri di urutan pertama prinsip hidup mereka.
Akan menghabiskan berlembar-lembar kertas bila seluruh nama anak bangsa yang berhasil menjadi Pahlawan masa kini tersbut dituliskan semua. Yang jelas saya ingin menyampaikan, bahwa setiap kita dapat menjadi seorang pahlawan. Bila tidak berskala nasional, kita dapat memberi manfaat di skala Propinsi Sumatera Barat, atau di tingkat kota/kabupaten hingga RT/RW di mana kita berada.
Bagi para pegawai jadilah pahlawan di kantor kita masing-masing, bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh pengabdian. Bagi para pedagang, jadilah pahlawan di pasar, melayani pembeli dengan baik, menjaga kebersihan tempat berjual-beli. Bagi pengemudi angkot, jadilah pahlawan di jalan raya, mentaati aturan berkendara sehingga kecelakaan lalu lintas dapat
Bagi anak-anak sekolah, jadilah pahlawan di sekolah, raihlah prestasi, berlajar dengan giat serta patuh pada guru-guru. Atau paling tidak, masing-masing kita dapat menjadi pahlawan bagi keluarga kita. Menjaga dan membawa harum nama baik keluarga itu juga sikap terhormat dan membanggakan.
Perasaan seperti itulah yang kerap melanda saban upacara bendera digelar, apalagi upacara besar seperti Upacara Peringatan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2014 kemarin. Mungkin perasaan itu lahir akibat pengaruh ayah. Kendati lahir tujuh tahun pasca kemerdekaan, namun karena ayah adalah seorang pejuang kemerdekaan, maka saya dapat menyimak langsung kisah-kisah heroik yang pernah beliau lakoni. Jejak-jejak luka di tubuh beliau akibat melawan para penjajah juga telah saya saksikan dengan hati terenyuh. Apalagi beliau pernah dipenjarakan ketika Agresi Belanda ke II tahun 1948.
Kekaguman dan rasa hormat saya pada para pejuang kemerdekaan tidak terkira. Saat duduk di bangku SD, seorang guru menanyakan tentang tokoh idola, dengan lantang saya menyebut nama ayah. Alhamdulillah, rasa bangga akan sosok pejuang kemerdekaan kian hari kian bertambah. Sampai sekarang pun, bila ada yang menanyakan tokoh paling menginspirasi dan berperan besar dalam hidup saya, maka jawaban saya tetaplah Zaini Ismail, ayah saya, walaupun beliau tidak mau dikatakan sebagai pahlawan.
Entah apalah jadinya bila bangsa ini tidak memiliki pahlawan. Tidak ada pejuang, tidak ada orang yang ingin berkorban demi tanah air, tidak ada satupun yang berani melawan kezaliman para penjajah, tidak ada panutan akan nilai-nilai heroik yang menjadi teladan dan akhirnya tidak ada proklamasi 17 Agustus 1945. Syukurlah hal itu tidak terjadi, baca sejarah, bangsa ini kaya akan pejuang kemerdekaan, bangsa kita penuh dengan kisah-kisah heroik para pahlawannya. Para pejuang yang rela mengorbankan harta hingga jiwa demi berkibarnya merah putih dari Sabang sampai Merauke.
Mari kita kenang kembali pesan Bung Karno yang mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Penghargaan terhadap jasa para pahlawan tersebut meliputi bagaimana cara kita mengenang perjuangan pahlawan sekaligus meneladani mereka. Namun yang terjadi saat ini sungguh mengibakan hati. Saya percaya, tiap kita telah mengetahui nama-nama para Pahlawan, dari mana daerah muasalnya berikut kisah-kisah perjuangan mereka, tetapi tidak dipungkiri, kita belum sepenuhnya meneladani prinsip dan sikap perjuang bangsa tersebut.
Maraknya korupsi, penjarahan lingkungan, tawuran antar anak sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan di sekolah, pembunuhan, perampokan, penipuan, pemerkosaan dan banyak lagi hal-hal memilukan yang terjadi di sekitar kita memunculkan tanda tanya besar saat ini, apakah ini arti kemerdekaan ? kemanakah perginya nilai-nilai keteladanan yang telah dicontohkan para pahlawan tempo dulu ? memikirkan hal ini, membuat kita hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala.
Melihat daftar yang dirilis Kementerian Sosial, hingga 2013, ada 159 pejuang yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, namun diluar itu, saya percaya masih ada ribuan bahkan jutaan pejuang kemerdekaan yang gugur demi membela tanah air yang bahkan namanya pun tidak dikenal. Tetapi semangat dan motivasi mereka sama, menegakkan kedaulatan NKRI dengan keberanian menggebu tanpa pamrih.
Perjuangan berani tanpa pamrih itulah yang perlahan terkikis dalam sanubari sehingga mengakibatkan kerakusan dan kemalasan dalam generasi kita. Hasil instan dengan mengesampingkan cara-cara halal menjadi pilihan. Inilah penyebab munculnya berbagai permasalahan sosial yang berujung pada tindakan kriminal seperti yang dipaparkan di atas. HUT RI ke 69 ini harus jadi momentum bagi kita semua untuk mengevaluasi diri terhadap fenomena ini, nilai-nilai kepahlawanan perlu digugah kembali.
Pahlawan masa kini bukanlah yang mengangkat bambu runcing dan lalu menghunuskannya ke tubuh penjajah sembari meneriakkan merdeka. Pahlawan masa kini adalah yang mampu membawa harum nama negara bangsa dan negara ke kancah dunia di berbagai bidang keahliannya. Pahlawan zaman sekarang adalah mereka yang menebarkan kebaikan di lingkungan sekitar mereka. Pahlawan era ini adalah mereka yang menyemaikan inspirasi sehingga membangkitkan semangat orang-orang lainnya untuk berbuat positif.
Yang menggembirakan hati kita, saat ini banyak tumbuh keberanian dan keikhlasan dalam diri sejumlah insan. Mereka adalah pahlawan yang berkiprah di berbagai bidang, dengan ciri berani, tak kenal lelah dan berjuang tanpa pamrih. Ada Butet Manurung yang menjadi guru bagi anak-anak Suku Kubu yang tinggal di Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi sejak tahun 1999. Bahkan pada tahun 2004 Majalah Time menganugerahi lulusan Antropologi Universitas Padjajaran ini sebagai Heroes of Asia Award. Baru-baru ini, kisah Butet juga sudah difilmkan dalam Sokola Rimba garapan sutradara Riri Riza.
Kemudian ada Budi Ahmad Santoso dari Surabaya, yang meski “hanya” berkaki satu, namun justru aktif sebagai relawan Rumah Zakat, turut menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Selanjutnya ada Gendu Mulatif, seorang kakek yang menghimpun para penderita gangguan jiwa untuk ia rawat hingga sembuh di rumahnya. Ribuan orang gila berhasil disembuhkannya meski biaya yang dikeluarkannya disisihkan dari usaha beliau sendiri yakni hasil penyewaan delman dan jual beli kuda.
Dari pejuang lingkungan ada Victor Emanual Rayon yang merintis penanaman hutan bakau di sepanjang pantai. Awalnya dia sempat mendapat cemooh dari warga karena idenya itu, namun sekarang terbukti, pantai yang dahulu gersang telah berubah menjadi teduh oleh rimbunnya hutan bakau. Dengan hadirnya hutan bakau ini, otomatis ikan-ikan bersarang di sana, sehingga menambah penghasilan nelayan. Dan banyak lagi pahlawan masa kini yang menempatkan pengorbanan diri di urutan pertama prinsip hidup mereka.
Akan menghabiskan berlembar-lembar kertas bila seluruh nama anak bangsa yang berhasil menjadi Pahlawan masa kini tersbut dituliskan semua. Yang jelas saya ingin menyampaikan, bahwa setiap kita dapat menjadi seorang pahlawan. Bila tidak berskala nasional, kita dapat memberi manfaat di skala Propinsi Sumatera Barat, atau di tingkat kota/kabupaten hingga RT/RW di mana kita berada.
Bagi para pegawai jadilah pahlawan di kantor kita masing-masing, bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh pengabdian. Bagi para pedagang, jadilah pahlawan di pasar, melayani pembeli dengan baik, menjaga kebersihan tempat berjual-beli. Bagi pengemudi angkot, jadilah pahlawan di jalan raya, mentaati aturan berkendara sehingga kecelakaan lalu lintas dapat
Bagi anak-anak sekolah, jadilah pahlawan di sekolah, raihlah prestasi, berlajar dengan giat serta patuh pada guru-guru. Atau paling tidak, masing-masing kita dapat menjadi pahlawan bagi keluarga kita. Menjaga dan membawa harum nama baik keluarga itu juga sikap terhormat dan membanggakan.
Begitulah hendaknya kita mengisi kemerdekaan bangsa ini, dengan menjadi pahlawan, yang menebarkan manfaat, besar atau pun kecil pada orang-orang di sekitar kita. [https://www.facebook.com/humaskotapadang?fref=ts]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
November 10, 2014
posted by @Adimin
Walikota Goro di Pasar Raya, Tanpa Sungkan Mengangkat Sampah

PADANG - Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah memotori aksi pembersihan riol di kawasan Pasar Raya Padang, Sabtu (8/11). Aksi ini juga melibatkan anggota TNI dari Kodim 0312/Wirabraja dan anggota Polresta Padang.
Walikota Mahyeldi bersama Dandim 0312/Wirabraja dan jajaran Polresta Padang tak segan - segan mengangkat sampah yang menyumbat riol. Kendati harus "merancah" genangan air yang berlunau di tengah hujan yang turun cukup lebat pada pagi menjelang siang itu.
Riol di kawasan Pasar Raya tidak berfungsi lantaran banyaknya penyumbatan dari sampah serta sedimen lumpur. "Kondisi riol memang parah. Banyak tersumbat sampah dan sedimen yang tebal," kata Walikota kepada wartawan di sela kegiatan gotong royong tersebut.
Mulai sekarang, lanjutnya, riol - riol di Pasar Raya harus dijaga kebersihannya agar tak terjadi penyumbatan sehingga mengakibatkan genangan air. "Untuk itu kita melakukan goro ini melibatkan para pedagang agar mereka merasa bertanggung jawab dengan kebersihan di kawasan Pasar Raya," imbuh Wako Mahyeldi.
Sekaligus momen ini untuk sosialisasi kepada masyarakat terkait Perda Nomor 21 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah. "Dimana dalam Perda itu telah disebutkan denda paling tinggi Rp 5 juta atau 3 bulan kurungan bagi warga atau pengunjung di Kota Padang yang membuang sampah sembarangan," ujarnya.
Beberapa kali Walikota Mahyeldi terlihat memberi arahan kepada jajarannya yang ikut goro untuk menuntaskan pengangkatan sampah yang menyumbat riol di sekitar fase VII. Tampak beberapa Kepala SKPD turut bertungkus lumus dengan lumpur sedimen yang diangkat dari dasar riol tersebut. Diantaranya ada Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Afrizal Khaidir, Kepala Bapedalda Edi Hasymi, Kepala Dinas Pasar Hendrizal Azhar, Kabag Humas Mursalim, Camat Padang Barat Arfian serta beberapa orang lurah di kecamatan Padang Barat.
Pembersihan riol sepanjang kurang lebih 200 meter di Fase VII akhirnya berhasil dituntaskan saat mendekati tengah hari. Drainase di kawasan tersebut dapat berfungsi kembali.[Humas-Kota Padang]
Walikota Mahyeldi bersama Dandim 0312/Wirabraja dan jajaran Polresta Padang tak segan - segan mengangkat sampah yang menyumbat riol. Kendati harus "merancah" genangan air yang berlunau di tengah hujan yang turun cukup lebat pada pagi menjelang siang itu.
Riol di kawasan Pasar Raya tidak berfungsi lantaran banyaknya penyumbatan dari sampah serta sedimen lumpur. "Kondisi riol memang parah. Banyak tersumbat sampah dan sedimen yang tebal," kata Walikota kepada wartawan di sela kegiatan gotong royong tersebut.
Mulai sekarang, lanjutnya, riol - riol di Pasar Raya harus dijaga kebersihannya agar tak terjadi penyumbatan sehingga mengakibatkan genangan air. "Untuk itu kita melakukan goro ini melibatkan para pedagang agar mereka merasa bertanggung jawab dengan kebersihan di kawasan Pasar Raya," imbuh Wako Mahyeldi.
Sekaligus momen ini untuk sosialisasi kepada masyarakat terkait Perda Nomor 21 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah. "Dimana dalam Perda itu telah disebutkan denda paling tinggi Rp 5 juta atau 3 bulan kurungan bagi warga atau pengunjung di Kota Padang yang membuang sampah sembarangan," ujarnya.
Beberapa kali Walikota Mahyeldi terlihat memberi arahan kepada jajarannya yang ikut goro untuk menuntaskan pengangkatan sampah yang menyumbat riol di sekitar fase VII. Tampak beberapa Kepala SKPD turut bertungkus lumus dengan lumpur sedimen yang diangkat dari dasar riol tersebut. Diantaranya ada Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Afrizal Khaidir, Kepala Bapedalda Edi Hasymi, Kepala Dinas Pasar Hendrizal Azhar, Kabag Humas Mursalim, Camat Padang Barat Arfian serta beberapa orang lurah di kecamatan Padang Barat.
Pembersihan riol sepanjang kurang lebih 200 meter di Fase VII akhirnya berhasil dituntaskan saat mendekati tengah hari. Drainase di kawasan tersebut dapat berfungsi kembali.[Humas-Kota Padang]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
November 06, 2014
Skenario Penghancuran; Dimulai dari Pemilu dan Parlemen
Written By Sjam Deddy on 06 November, 2014 | November 06, 2014
Proses penghacuran Indonesia sudah dimulai dengan penghancuran politik
melalui proses demokrasi di negeri ini, yang didesain dan dilakukan
selama puluhan tahun. Dimana pemilu merupakan pintu awal masuknya
proses penghancuran itu. Namun selalu gagal karena rakyat yàng diwakili
oleh pemerintah Indonesia sangat menyadari adanya ancaman desintegrasi NKRI tersebut. Sehingga alhamdulillah sampai saat ini Indonesia masih tetap berdiri tegak sebagai sebuah bangsa yàng merdeka dan berdaulat.
Akan tetapi upaya pembumihangusan Nusantara ini tidak pernah berhenti. Orang-orang yàng memang sengaja di-plot untuk misi besar ini tidak pernah tinggal diam. Mereka terus memutar otak untuk mencari cara guna memuluskan "this mission impossible". Dan ini akan terus dikerjakan sampai cita-cita mereka tercapai, yaitu hilangnya Indonesia dari tataran politik dunia. Jika mampu, mereka pun akan melenyapkan bangsa ini dari permukaan bumi. Mungkinkah?
Tak ada yang tak mungkin. Sebab ini merupakan grand design yang sengaja dibuat, agar Indonesia tidak eksis & menjadi negara hebat. Ada sekelompok orang yang merasa sangat khawatir dengan keberadaan & kebesaran Indonesia. Mengapa? Sebab Indonesia merupakan negara yang kaya-raya, sehingga banyak pihak berebut ingin menguasainya. Baik secara politik, ekonomi, hukum, budaya dan lain sebagainya.
Apa saja kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia? Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terpadat, di mana umat Islamnya terbesar di dunia. Apabila mampu dikelola dengan baik, maka akan mampu melahirkan SDM-SDM yang handal dan disegani. Kedua, letak geografis Indonesia sangat strategis dengan gugusan pulau-pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Ketiga, Indonesia memiliki sumber daya alam yang tak terbilang banyaknya. Sumber daya alam (SDA) ini tersebar di seluruh wilayah Nusantara, mulai dari darat, laut maupun udara.
Oleh karenanya, dengan segala kelebihan yang dimilikinya, maka sangat mungkin akan mengantarkan Indonesia menjadi sebuah negara Adi Daya, yang akan menguasai peradaban dunia. Potensi yang luar biasa inilah yang membuat banyak pihak merasa terancam, sehingga berbagai cara pun mereka tempuh untuk melumpuhkan dan mematikan Indonesia.
Adapun salah satu strategi mereka yaitu memanfaatkan jalur politik. Semua tahu bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi dengan Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai sarananya. Lewat jalur Pemilu inilah langkah mereka dimulai. Pertama-tama adalah dengan menciptakan Pemilu yang kacau dan unlegitimated. Akan tetapi sayangnya usaha ini tidak begitu membuahkan hasil, walaupun ada beberapa kali Pemilu di Indonesia mengalami masalah. Namun tidak sampai mengancam keberlangsungan berbangsa & bernegara bagi Indonesia. Negara ini masih bisa terus berjalan dengan aman dan damai.
Rupanya gagal berkali-kali tidak membuat mereka kehilangan akal, mereka terus berupaya mencari celah untuk menghancurkan Indonesia. Dan tampaknya usaha mereka mulai menemukan titik terang, yaitu melalui Pemilu 2014 yang berlangsung belum lama ini. Di Pemilu inilah mereka melihat peluang bagus untuk melancarkan aksi & misi mereka.
Dimulai dengan menciptakan keruwetan dan kacau-balaunya proses Pemilihan anggota Legislatif (Pileg) serta Pemilihan Presiden (Pilpres) yang masih menyisakan banyak persoalan. Dilanjutkan dengan carut-marutnya wajah parlemen Indonesia sampai hari ini, dimana kita semua bisa sama-sama menyaksikan bagaimana kisruh dan ramainya gedung wakil rakyat itu dalam setiap persidangannya. Interupsi yang diekspresikan dalam bentuk teriakan berisi caci-maki, sumpah-serapah serta saling tunjuk muka sudah menjadi pemandangan biasa dalam gedung milik rakyat itu.
Bahkan baru-baru ini salah seorang anggota dewan dengan arogannya membalikkan dan membanting dua meja sekaligus ketika Sidang Paripurna berlangsung. Begitu pula dengan adanya gerakan "mosi tidak percaya" kepada pimpinan dewan yang konstitusional, yang berujung pada pembentukan parlemen tandingan oleh sekelompok orang, karena merasa diperlakukan tidak adil oleh anggota dewan yang lain.
Mereka lupa bahwa gedung dewan dengan semua perangkatnya itu dibeli dari uang rakyat dan mereka bisa duduk disitu pun karena dipilih oleh rakyat. Makan dan minum mereka dibiayai oleh rakyat. Jadi ketika mereka berbuat seenaknya tanpa mau tahu bagaimana perasaan rakyat, berarti mereka telah melukai hati rakyat Indonesia dan mereka sangat tidak pantas untuk berada disana. Mereka telah mencederai dan mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat, apapun itu alasannya.
Sungguh miris dan prihatin kita melihatnya. Meskipun kita juga tahu, bahwa pelakunya adalah sebagian kecil dari anggota dewan yang ada. Namun secara institusi, lembaga negara yang mewakili seluruh rakyat Indonesia ini telah kehilangan mukanya. Karena ambisi, mereka lebih mengedepankan emosi. Karena kekuasaan, mereka rela martabat bangsa ini tergadaikan. Bagi mereka sebuah kursi lebih berharga daripada harga diri yang notabene harus mereka jaga sampai mati. Oleh karenanya, apakah mereka masih layak disebut sebagai "Anggota Dewan yang Terhormat"? Entahlah...
Namun terlepas dari itu semua, ada satu hal yang harus tetap kita ingat juga waspadai. Bahwa ada pihak-pihak yang bersorak dan bertepuk tangan menyaksikan wajah parlemen Indonesia akhir-akhir ini. Ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan suasana gaduh ini. Ada pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dari semua kekacauan dan ketakpastian ini. Ada pihak-pihak yang ingin membuat Indonesia chaos dan hancur.
Dan itu dimulai dari Pemilu yang berimplikasi kepada wajah parlemen, yakni dengan sengaja menciptakan sebuah parlemen yang bobrok dan tidak berwibawa. Caranya adalah dengan menempatkan orang-orang yang tidak kredibel, orang-orang yang memang tidak memiliki kapasitas sebagai anggota dewan yang akan memperjuangkan aspirasi rakyat dengan sebenarnya. Hingga tak heran jika kita mendapati isi parlemen seperti saat ini, berisi manusia-manusia yang ambisius, haus serta rakus akan kekuasaan dan uang.
Dengan cara begini maka cepat atau lambat parlemen Indonesia akan melemah, karena sudah tak ada lagi kepercayaan dari rakyat. Parlemen kehilangan wibawanya di mata rakyatnya sendiri. Tak ada lagi legitimasi, parlemen mengalami deadlock. Dampaknya tentu saja akan merembet kemana-mana, sebab parlemen adalah mitra pemerintah dalam rangka mensukseskan program-program yang akan dijalankan. Akhirnya rakyatlah yang akan menjadi korbannya.
Hancurnya parlemen merupakan hancurnya sebuah negara. Apabila hal ini tidak cepat disadari dan dibenahi, maka jangan salahkan nantinya akan muncul "parlemen jalanan" sebagai ekspresi dari kekesalan rakyat terhadap wakil-wakil mereka. Apabila ini terjadi, berarti skenario penghancuran Indonesia pun berhasil. Inilah yang mereka harapkan. Dengan dalih untuk menyelamatkan rakyat, mereka akan mengambil alih Indonesia. Ya...mereka selalu mengatasnamakan rakyat. Dan itu memang alasan termudah serta termurah yang mereka terapkan, tanpa mereka harus bersusah-payah ataupun terjun langsung dalam konflik yang terjadi di negeri ini. Briliyan sekaligus sadis!
Tentu saja kita berharap dan berdoa semoga semua ini tidak pernah terjadi. Semoga para anggota dewan, pemerintah beserta seluruh komponen bangsa cepat menyadarinya. Selanjutnya segera membenahi dan menyelesaikan konflik yang terjadi dengan menangganggalkan egoisme, ambisi serta kepentingan masing-masing. Sebab jika tidak, kehancuran negeri ini tinggal menunggu waktunya saja. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, ketika anak cucu kita sudah tidak lagi menemukan sebuah negara kaya bernama Indonesia.
Wallahu a'lam...
By: Ria Dahlia
Akan tetapi upaya pembumihangusan Nusantara ini tidak pernah berhenti. Orang-orang yàng memang sengaja di-plot untuk misi besar ini tidak pernah tinggal diam. Mereka terus memutar otak untuk mencari cara guna memuluskan "this mission impossible". Dan ini akan terus dikerjakan sampai cita-cita mereka tercapai, yaitu hilangnya Indonesia dari tataran politik dunia. Jika mampu, mereka pun akan melenyapkan bangsa ini dari permukaan bumi. Mungkinkah?
Tak ada yang tak mungkin. Sebab ini merupakan grand design yang sengaja dibuat, agar Indonesia tidak eksis & menjadi negara hebat. Ada sekelompok orang yang merasa sangat khawatir dengan keberadaan & kebesaran Indonesia. Mengapa? Sebab Indonesia merupakan negara yang kaya-raya, sehingga banyak pihak berebut ingin menguasainya. Baik secara politik, ekonomi, hukum, budaya dan lain sebagainya.
Apa saja kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia? Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terpadat, di mana umat Islamnya terbesar di dunia. Apabila mampu dikelola dengan baik, maka akan mampu melahirkan SDM-SDM yang handal dan disegani. Kedua, letak geografis Indonesia sangat strategis dengan gugusan pulau-pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Ketiga, Indonesia memiliki sumber daya alam yang tak terbilang banyaknya. Sumber daya alam (SDA) ini tersebar di seluruh wilayah Nusantara, mulai dari darat, laut maupun udara.
Oleh karenanya, dengan segala kelebihan yang dimilikinya, maka sangat mungkin akan mengantarkan Indonesia menjadi sebuah negara Adi Daya, yang akan menguasai peradaban dunia. Potensi yang luar biasa inilah yang membuat banyak pihak merasa terancam, sehingga berbagai cara pun mereka tempuh untuk melumpuhkan dan mematikan Indonesia.
Adapun salah satu strategi mereka yaitu memanfaatkan jalur politik. Semua tahu bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi dengan Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai sarananya. Lewat jalur Pemilu inilah langkah mereka dimulai. Pertama-tama adalah dengan menciptakan Pemilu yang kacau dan unlegitimated. Akan tetapi sayangnya usaha ini tidak begitu membuahkan hasil, walaupun ada beberapa kali Pemilu di Indonesia mengalami masalah. Namun tidak sampai mengancam keberlangsungan berbangsa & bernegara bagi Indonesia. Negara ini masih bisa terus berjalan dengan aman dan damai.
Rupanya gagal berkali-kali tidak membuat mereka kehilangan akal, mereka terus berupaya mencari celah untuk menghancurkan Indonesia. Dan tampaknya usaha mereka mulai menemukan titik terang, yaitu melalui Pemilu 2014 yang berlangsung belum lama ini. Di Pemilu inilah mereka melihat peluang bagus untuk melancarkan aksi & misi mereka.
Dimulai dengan menciptakan keruwetan dan kacau-balaunya proses Pemilihan anggota Legislatif (Pileg) serta Pemilihan Presiden (Pilpres) yang masih menyisakan banyak persoalan. Dilanjutkan dengan carut-marutnya wajah parlemen Indonesia sampai hari ini, dimana kita semua bisa sama-sama menyaksikan bagaimana kisruh dan ramainya gedung wakil rakyat itu dalam setiap persidangannya. Interupsi yang diekspresikan dalam bentuk teriakan berisi caci-maki, sumpah-serapah serta saling tunjuk muka sudah menjadi pemandangan biasa dalam gedung milik rakyat itu.
Bahkan baru-baru ini salah seorang anggota dewan dengan arogannya membalikkan dan membanting dua meja sekaligus ketika Sidang Paripurna berlangsung. Begitu pula dengan adanya gerakan "mosi tidak percaya" kepada pimpinan dewan yang konstitusional, yang berujung pada pembentukan parlemen tandingan oleh sekelompok orang, karena merasa diperlakukan tidak adil oleh anggota dewan yang lain.
Mereka lupa bahwa gedung dewan dengan semua perangkatnya itu dibeli dari uang rakyat dan mereka bisa duduk disitu pun karena dipilih oleh rakyat. Makan dan minum mereka dibiayai oleh rakyat. Jadi ketika mereka berbuat seenaknya tanpa mau tahu bagaimana perasaan rakyat, berarti mereka telah melukai hati rakyat Indonesia dan mereka sangat tidak pantas untuk berada disana. Mereka telah mencederai dan mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat, apapun itu alasannya.
Sungguh miris dan prihatin kita melihatnya. Meskipun kita juga tahu, bahwa pelakunya adalah sebagian kecil dari anggota dewan yang ada. Namun secara institusi, lembaga negara yang mewakili seluruh rakyat Indonesia ini telah kehilangan mukanya. Karena ambisi, mereka lebih mengedepankan emosi. Karena kekuasaan, mereka rela martabat bangsa ini tergadaikan. Bagi mereka sebuah kursi lebih berharga daripada harga diri yang notabene harus mereka jaga sampai mati. Oleh karenanya, apakah mereka masih layak disebut sebagai "Anggota Dewan yang Terhormat"? Entahlah...
Namun terlepas dari itu semua, ada satu hal yang harus tetap kita ingat juga waspadai. Bahwa ada pihak-pihak yang bersorak dan bertepuk tangan menyaksikan wajah parlemen Indonesia akhir-akhir ini. Ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan suasana gaduh ini. Ada pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dari semua kekacauan dan ketakpastian ini. Ada pihak-pihak yang ingin membuat Indonesia chaos dan hancur.
Dan itu dimulai dari Pemilu yang berimplikasi kepada wajah parlemen, yakni dengan sengaja menciptakan sebuah parlemen yang bobrok dan tidak berwibawa. Caranya adalah dengan menempatkan orang-orang yang tidak kredibel, orang-orang yang memang tidak memiliki kapasitas sebagai anggota dewan yang akan memperjuangkan aspirasi rakyat dengan sebenarnya. Hingga tak heran jika kita mendapati isi parlemen seperti saat ini, berisi manusia-manusia yang ambisius, haus serta rakus akan kekuasaan dan uang.
Dengan cara begini maka cepat atau lambat parlemen Indonesia akan melemah, karena sudah tak ada lagi kepercayaan dari rakyat. Parlemen kehilangan wibawanya di mata rakyatnya sendiri. Tak ada lagi legitimasi, parlemen mengalami deadlock. Dampaknya tentu saja akan merembet kemana-mana, sebab parlemen adalah mitra pemerintah dalam rangka mensukseskan program-program yang akan dijalankan. Akhirnya rakyatlah yang akan menjadi korbannya.
Hancurnya parlemen merupakan hancurnya sebuah negara. Apabila hal ini tidak cepat disadari dan dibenahi, maka jangan salahkan nantinya akan muncul "parlemen jalanan" sebagai ekspresi dari kekesalan rakyat terhadap wakil-wakil mereka. Apabila ini terjadi, berarti skenario penghancuran Indonesia pun berhasil. Inilah yang mereka harapkan. Dengan dalih untuk menyelamatkan rakyat, mereka akan mengambil alih Indonesia. Ya...mereka selalu mengatasnamakan rakyat. Dan itu memang alasan termudah serta termurah yang mereka terapkan, tanpa mereka harus bersusah-payah ataupun terjun langsung dalam konflik yang terjadi di negeri ini. Briliyan sekaligus sadis!
Tentu saja kita berharap dan berdoa semoga semua ini tidak pernah terjadi. Semoga para anggota dewan, pemerintah beserta seluruh komponen bangsa cepat menyadarinya. Selanjutnya segera membenahi dan menyelesaikan konflik yang terjadi dengan menangganggalkan egoisme, ambisi serta kepentingan masing-masing. Sebab jika tidak, kehancuran negeri ini tinggal menunggu waktunya saja. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, ketika anak cucu kita sudah tidak lagi menemukan sebuah negara kaya bernama Indonesia.
Wallahu a'lam...
By: Ria Dahlia
pksnongsa
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
November 05, 2014
posted by @Adimin
Tak Bolehkah Kita Semulia Asiyah?
Written By Sjam Deddy on 05 November, 2014 | November 05, 2014
Padang pasir itu begitu panas. Membuat
Al A’masyi yang menemani Harun Ar Rasyid pergi berburu menjadi sangat
kehausan. Menteri itu pun menoleh ke kanan dan ke kiri, barangkali ada
orang yang bisa memberinya air.
Pandangan Al Ma’masyi berhenti pada
sebuah kemah. Ya, ada kemah di padang pasir ini. Ia pun bergegas ke
sana. Ternyata kemah itu dihuni oleh seorang wanita cantik yang
mempesona.
Melihat ada tamu yang datang, wanita itu mempersilakannya untuk duduk agak jauh darinya.
“Aku Al A’masyi, menterinya Harun Ar Rasyid. Bolehkah aku minta air?” kata Al A’masyi memberitahukan keperluannya.
“Maaf, suamiku melarangku memberikan air
kepada orang lain,” jawab wanita itu membuat Al A’masyi yang tadinya
berharap segera terbebas dari kehausan merasa harus menahan sabar.
Muncul pertanyaan dalam dirinya, mengapa suami wanita ini melarangnya
menolong orang lain.
“Tapi aku punya jatah makan pagi, berupa susu yang belum kuminum. Ambillah untukmu,” lanjut wanita itu.
Al A’masyi bersyukur sekaligus kagum dengan kemuliaan wanita tersebut.
Tak berselang lama, wajah wanita itu
tampak berubah. Rupanya ada sebuah titik hitam mendekat. Makin lama
makin tampak, seorang laki-laki di atas untanya berjalan ke arah kemah
itu.
“Itu suamiku,” kata wanita tersebut
sambil bergegas menghampiri suaminya. Ia membantu lelaki tua, hitam dan
jelek itu turun dari ontanya, serta mencuci tangan dan kakinya.
Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam kemah tanpa mempedulikan dan
menyapa Al A’masyi. Dari dalam kemah, terdengar laki-laki itu berkata
buruk kepada istrinya.
“Aku kasihan kepadamu,” kata Al A’masyi
kepada wanita itu, sebelum ia berpamitan. “Engkau ini masih muda,
cantik, berakhlak mulia, tetapi bergantung kepada suami tua, hitam dan
buruk akhlaknya. Mengapa kamu bergantung kepadanya? Apakah karena
hartanya? Padahal ia miskin. Apakah karena ketampanannya? Padahal ia
hitam dan jelek. Apakah karena akhlaknya? Padahal akhlaknya buruk”
“Aku justru kasihan kepadamu wahai Al A’masyi,” jawab wanita itu dengan tegas.
“Bagaimana mungkin Harun Ar Rasyid punya
menteri yang berusaha menjauhkan seorang muslimah dari suaminya.
Ketahuilah, iman itu separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah
sabar. Aku bersyukur karena Allah membimbingku dengan Islam dan
memberiku kecantikan. Dan kini aku belajar bersabar dengan suami seperti
yang engkau sebutkan.”
Al A’masyi tak bisa berkata apa-apa.
Sungguh mengagumkan wanita itu. Allah telah memuliakan akhlaknya
sebagaimana Dia telah mempercantik wajahnya.
Sebagaimana keseluruhan hidup ini,
pernikahan juga ujian. Istri atau suami yang telah menikah dengan kita,
kadang kita dapati tidak sesuai dengan mimpi-mimpi indah kita. Allah
telah memberikan banyak contoh. Ada pasangan ideal seperti Adam dan
Hawa, Ibrahim dan Sarah, atau Muhammad dan Khadijah. Namun Allah juga
memberikan contoh sejarah, ada Nuh dan istrinya. Ada Fir’aun dan
suaminya.
Sungguh membahagiakan jika suami dan
istri kita adalah sosok ideal yang kita harapkan. Tetapi jika kita telah
menikah dan suami atau istri kita tak seideal yang kita harapkan,
kebahagiaan itu ada pada sikap kita. Ada nasehat bijak mengatakan, jika
suami kita tak seburuk Fir’aun, tidak bolehkah kita menjadi perempuan
semulia Asiyah?
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
OASE,
TOPIK PILIHAN
November 04, 2014
Mikroskop Elektron Menyingkap Manusia Bukan Berasal dari Kera
Written By Sjam Deddy on 04 November, 2014 | November 04, 2014
Benarkah manusia itu berevolusi dari kera? Hal ini selalu diperdebatkan selama bertahun-tahun. Sekarang, jika teori evolusi yang pernah diungkapkan Darwin itu di buka kembali akan membuat kita terkejut, "Jangan asal bicara, Darwin sendiri sudah punya kesimpulan!"
Ketika Darwin mengemukakan teori evolusi kala itu, biologi
baginya bagaikan kotak hitam, dia sama sekali tidak memahami jaringan
biologi yang akurat pada tingkat molekuler. Ia mengira sel itu sangat
sederhana dan sangat mudah berevolusi dari benda tak bernyawa.
Terhadap teori terkait yang disimpulkan, Darwin sendiri juga agak bimbang dan ragu, karena itu dia baru mengatakan, "Jika
bisa membuktikan terdapat organ kompleks yang tidak mungkin terbentuk
melalui perubahan kecil, tak terbatas dan berkelanjutan, maka teori saya
benar-benar gagal."
Pada masa pertengahan tahun 90-an, dengan adanya perkembangan teknologi biokimia dan mikroskop elektron, memungkinkan para ilmuwan melihat sel sebagai unit dasar kehidupan itu betapa rumit dan tak terbayangkan, yang bisa dengan segera membuktikan kegagalan teori Darwin dengan mata telanjang.
Hal ini tentunya bukan kesalahan dari Darwin, karena kala itu belum ada mikroskop elektron, sedangkan teknologi biokimia juga kurang canggih. Jika dia dapat bertahan hidup sampai tahun 90-an, maka dia sendiri yang akan tampil ke depan sambil berkata, Maaf, teori saya itu murni menyesatkan dunia dan saya minta untuk segera dibuang."
Professor Michael Behe mengoreksi atas nama Darwin
Michael Behe, seorang ahli biokimia sekaligus professor biokimia dari Lehigh University, Pennsylvania, AS, yang membantu Darwin membetulkan kesalahan besar itu. Adalah buku 'Darwin Black Box' yang diterbitkannya pada 1996 lalu itu telah mengguncang komunitas ilmuwan dunia.
Professor Behe menuturkan, bahwa sehubungan dengan struktur sel yang begitu rumit dan kompleks yang diungkap biokimia modern, membuat komunitas ilmuwan seakan-akan menjadi lumpuh. Namun, baik dari Harvard University, National Institutes of Health atau National Academy of Sciences, dan bahkan segenap pemenang Nobel Prize sekalipun, tidak ada yang bisa secara detail menjelaskan, bagaimana sistem biokimia yang begitu presisi dan rumit itu berevolusi menurut pola evolusi Darwin.
Ketika sel-sel itu dikelompokkan bersama dengan struktur yang sedemikian kompleksnya, dipastikan hal itu bukan secara kebetulan bisa terjadi begitu saja. Meski hanya berupa sel tunggal, strukturnya juga sangat rumit bagaikan sebuah kota metropolitan model kecil.
Pada masa pertengahan tahun 90-an, dengan adanya perkembangan teknologi biokimia dan mikroskop elektron, memungkinkan para ilmuwan melihat sel sebagai unit dasar kehidupan itu betapa rumit dan tak terbayangkan, yang bisa dengan segera membuktikan kegagalan teori Darwin dengan mata telanjang.
Hal ini tentunya bukan kesalahan dari Darwin, karena kala itu belum ada mikroskop elektron, sedangkan teknologi biokimia juga kurang canggih. Jika dia dapat bertahan hidup sampai tahun 90-an, maka dia sendiri yang akan tampil ke depan sambil berkata, Maaf, teori saya itu murni menyesatkan dunia dan saya minta untuk segera dibuang."
Professor Michael Behe mengoreksi atas nama Darwin
Michael Behe, seorang ahli biokimia sekaligus professor biokimia dari Lehigh University, Pennsylvania, AS, yang membantu Darwin membetulkan kesalahan besar itu. Adalah buku 'Darwin Black Box' yang diterbitkannya pada 1996 lalu itu telah mengguncang komunitas ilmuwan dunia.
Professor Behe menuturkan, bahwa sehubungan dengan struktur sel yang begitu rumit dan kompleks yang diungkap biokimia modern, membuat komunitas ilmuwan seakan-akan menjadi lumpuh. Namun, baik dari Harvard University, National Institutes of Health atau National Academy of Sciences, dan bahkan segenap pemenang Nobel Prize sekalipun, tidak ada yang bisa secara detail menjelaskan, bagaimana sistem biokimia yang begitu presisi dan rumit itu berevolusi menurut pola evolusi Darwin.
Ketika sel-sel itu dikelompokkan bersama dengan struktur yang sedemikian kompleksnya, dipastikan hal itu bukan secara kebetulan bisa terjadi begitu saja. Meski hanya berupa sel tunggal, strukturnya juga sangat rumit bagaikan sebuah kota metropolitan model kecil.
Sehubungan dengan kesimpulan teori evolusi Darwin, Behe
membantahnya dengan bukti percobaan ilmiah yang kuat. Menurut penjelasan
Behe, bahwa konsep "kompleksitas yang tidak dapat direduksi," artinya
sebuah sistem yang terdiri dari multi-bagian, dimana jika kurang dari
satu bagian manapun, maka sistem ini akan kehilangan fungsinya semula,
sehingga sisitem ini menjadi kompleksitas yang tidak dapat direduksi.
Sel tunggal yang rumit dan dapat dilihat dengan mata telanjang
Menurut Behe, ketika Darwin mengemukakan teori evolusi, biologi baginya bagaikan sebuah kotak hitam, dia sama sekali tidak memahami jaringan biologi yang akurat pada tingkat molekuler, mengira sel itu sangat sederhana dan sangat mudah berevolusi dari benda tak bernyawa. Namun kini kotak hitamnya sudah terbuka, dan para ilmuwan telah memahami berbagai mekanisme kimia pada fungsi kehidupan, di antaranya rumitnya proses yang berkaitan dengan biokimia.
Behe menuturkan, jika anda ingin mencari karya ilmiah dalam literatur biokimia untuk menjelaskan sistem biokimia, tentang bagaimana secara bertahap dan berangsur-angsur kemudian berevolusi, maka anda akan merasa terkejut, sebab tidak ada satu bagianpun dari leteratur itu. Sebagian besar ilmuwan biokimia dalam sehari-hari penelitiannya sepenunya terpisah dengan teori evolusi. Doktrin Darwin sebenarnya hanya suatu dasar teori filsafat semata. Oleh karena itu, studi tentang teori evolusi adalah hambatan sesungguhnya bagi perkembangan kehidupan.
Darwin memiliki alasan yang cukup memadai untuk mendapatkan pemakluman dari masyarakat modern, sebab di era-nya kala itu, mikroskop elektron belum ada dan bioteknologi juga nyaris tidak memadai. Apalagi, yang namanya fantasi, prediksi, asumsi atau apapun itu adalah preferensi pribadi, adapun mengenai orang lain percaya atau tidak, itu adalah urusan mereka.
Sel tunggal yang rumit dan dapat dilihat dengan mata telanjang
Menurut Behe, ketika Darwin mengemukakan teori evolusi, biologi baginya bagaikan sebuah kotak hitam, dia sama sekali tidak memahami jaringan biologi yang akurat pada tingkat molekuler, mengira sel itu sangat sederhana dan sangat mudah berevolusi dari benda tak bernyawa. Namun kini kotak hitamnya sudah terbuka, dan para ilmuwan telah memahami berbagai mekanisme kimia pada fungsi kehidupan, di antaranya rumitnya proses yang berkaitan dengan biokimia.
Behe menuturkan, jika anda ingin mencari karya ilmiah dalam literatur biokimia untuk menjelaskan sistem biokimia, tentang bagaimana secara bertahap dan berangsur-angsur kemudian berevolusi, maka anda akan merasa terkejut, sebab tidak ada satu bagianpun dari leteratur itu. Sebagian besar ilmuwan biokimia dalam sehari-hari penelitiannya sepenunya terpisah dengan teori evolusi. Doktrin Darwin sebenarnya hanya suatu dasar teori filsafat semata. Oleh karena itu, studi tentang teori evolusi adalah hambatan sesungguhnya bagi perkembangan kehidupan.
Darwin memiliki alasan yang cukup memadai untuk mendapatkan pemakluman dari masyarakat modern, sebab di era-nya kala itu, mikroskop elektron belum ada dan bioteknologi juga nyaris tidak memadai. Apalagi, yang namanya fantasi, prediksi, asumsi atau apapun itu adalah preferensi pribadi, adapun mengenai orang lain percaya atau tidak, itu adalah urusan mereka.
Masalahnya terletak pada 1996 lalu, ketika Behe membuka kotak hitam
Darwin, dan sekarang, setidaknya buku 'Darwin Black Box' tersebut telah
diterjemahkan ke dalam 15 bahasa. Telah menerbitkan 17 edisi sejak
dirilis di tahun pertama, dan terjual lebih dari 45.000 buku. Kemudian
pada tahun ke-empat terjual lebih dari 20,000 buku. Namun, hingga
sekarang, mengapa masih begitu banyaknya orang yang menganggap diri mereka itu berevolusi dari kera? Sebenarnya ini salah siapa?
sumber : http://forum.viva.co.id/showthread.php?t=1790006
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
Saint,
TOPIK PILIHAN
November 04, 2014
posted by @Adimin
Keshalihan Para Pemuda dan Kesadaran Orang Tua
Alangkah menyedihkan bila menyaksikan anak muda yang menghabiskan waktunya untuk hura-hura atau bermain tak tentu arah.
Tapi lebih menyedihkan lagi bila melihat orang tua menghabiskan sisa umurnya untuk main gaple atau domino di warung kopi.
Bertambah lagi kesedihan, bila sudah tua
tapi masih merasa muda, angan-angan masih panjang, ketamakan terhadap
dunia semakin menjadi-jadi, dan syahwat masih menggebu.
Tidak cukupkah uban bertabur di kepala,
gigi satu persatu mulai rontok, pandangan yang sudah tidak terang lagi,
pendengaran yang tidak nyaring lagi, kulit yang sudah keriput, tulang
yang sudah keropos, tenaga yang sudah melemah, penyakit yang sudah
komplek, selera yang sudah berkurang, bilangan usia yang sudah semakin
banyak, sebagai operator pengingat yang mengatakan:
“Maaf, pulsa hidup anda sudah hampir
habis, tidak ada lagi kesempatan untuk isi ulang, beberapa saat lagi
umur anda akan berakhir, harap siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke
akhirat”.
Tua itu adalah kesempatan emas untuk bertaubat.
Tua itu adalah nikmat tersendiri untuk memperbaiki diri.
Tua itu karunia tidak terhingga untuk persiapan menuju akhirat.
Betapa banyak anak muda yang tidak sempat mencicipi masa tua, mereka mati ketika asyik dengan dunia.
Rasulullah bersabda: “Siapa yang umurnya
sudah sampai 40 tahun, tapi kebaikannya belum mengungguli kejahatannya,
berarti ia sudah mempersiapkan kapling untuk dirinya di dalam neraka”.
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang
yang beriman untuk khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang
telah diwahyukan kepada mereka….? (Al Hadid: 16)
Kelak orang tua yang lupa diri akan dicela…
“….Bukankah Kami telah memanjangkan
umurmu untuk dapat perpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah
datang kepadamu seorang pemberi peringatan?…..” (Fathir: 37)
Ya Allah, karuniakan lah keshalehan kepada pemuda kami dan kesadaran kepada orang-orang tua kami.
posted by @Adimin
Label:
Analisis,
INSPIRASI,
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
November 04, 2014
Abu Ja’far Fir’adi
posted by @Adimin
Rasulullah Sang Mediator Ulung
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ
اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ
الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (qs. Al-Ahzab: 21).
Saudaraku,
Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam bukunya “al-rahiq al-Makhtum”
menceritakan kisah renovasi Ka’bah dan proses peletakkan Hajar Asqad ke
tempatnya semula.
‘Pada usia tiga puluh tahun, orang-orang
Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka’bah. Sebab Ka’bah itu berupa
susunan batu-batuan, lebih tinggi dari tubuh manusia. Tepatnya sembilan
hasta yang dibangun sejak zaman Nabi Isma’il a.s. Tanpa ada atapnya
sehingga banyak pencuri yang dengan mudah dapat mengambil barang-barang
berharga yang tersimpan di dalamnya. Dengan kondisi semacam itu,
bangunan Ka’bah semakin rapuh dan dindingnya pun sudah mulai
pecah-pecah.
Lima tahun sebelum kenabian, Mekkah dilanda banjir besar hingga meluber
ke baitullah al-haram, sehingga sewaktu-waktu bisa membuat Ka’bah
menjadi runtuh. Sementara itu orang-orang Quraisy dihinggapi perasaan
bimbang antara merenovasi Ka’bah atau membiarkannya seperti semula.
Karena bayangan peristiwa hancurnya Abrahah dan pasukannya oleh
sekawanan burung Ababil (yang datang bergelombang) saat mereka akan
merobohkan Ka’bah, dan melempari mereka dengan batu-batu panas dari
neraka. Sehingga pasukan dari Shan’a Yaman tersebut bagaikan daun-daun
yang dimakan ulat.
Namun Quraisy akhirnya sepakat untuk
tidak mengambil bahan-bahan bangunannya terkecuali dari income yang
baik-baik. Mereka tidak menerima harta dari maskawin para pelacur, jual
beli dengan sistem riba dan perampasan terhadap hak orang lain.
Sekalipun demikian mereka takut untuk merobohkannya.
Akhirnya al-Walid bin al-Mughirah
mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti oleh semua orang
setelah tahu tidak ada sesuatu pun yang menimpa al-Walid. Mereka terus
bekerja merobohkan setiap bangunannya hingga sampai ke rukun Ibrahim.
Setelah itu mereka siap untuk membangunnya kembali.
Mereka membagi sudut-sudut Ka’bah dan
mengkhususkan setiap suku atau kabilah dengan bagiannya tersendiri.
Setiap kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan renovasi Ka’bah pun
dimulai. Yang bertugas menangani urusan pembangunan Ka’bah adalah
seorang arsitek berkebangsaan Romawi yang bernama; Baqum.
Tatkala pembangunan sudah sampai di
bagian Hajar Aswad, mereka berselisih pendapat tentang siapakah yang
paling berhak untuk mendapatkan kehormatan meletakkan batu mulia
tersebut ke tempatnya semula. Perselisihan ini terus berlanjut hingga
sampai empat atau lima hari tanpa ada keputusan. Bahkan perselisihan
tersebut semakin meruncing dan hampir saja mengarah kepada pertumpahan
darah di tanah suci.
Abu Umayah bin al-Mughirah tampil
menawarkan solusi untuk melerai pertikain dan perselishan di antara
mereka, dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa saja yang pertama
kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima pendapat ini.
Allah menghendaki orang yang berhak
tersebut adalah Rasulullah s.a w. Tatkala mengetahui hal tersebut,
mereka berkata, “Inilah al-Amin kami ridha kepadanya, inilah dia
Muhammad.”
Setelah semuanya berkumpul di sekitar
Nabi s.a.w dan mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, maka beliau
meminta sehelai selendang dibentangkan, lalu beliau meletakkan Hajar
Aswad tepat di tengah-tengahnya, lalu meminta pemuka-pemuka kabilah yang
saling berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang, lalu
memerintahkan mereka semua mengangkatnya.
Setelah mendekati tempatnya beliau
mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini
merupakan jalan pemecahan yang sangat brilian dan diridhai semua orang.
Saudaraku,
Orang-orang Quraisy kehabisan dana dari penghasilan yang baik. Maka
mereka menyisakan di bagian utara kira-kira enam hasta, yang kemudian
disebut dengan al-Hijr atau al-Hathim. Mereka membuat pintunya lebih
tinggi dari permukaan tanah, agar tidak dimasuki oleh orang yang ingin
melewatinya. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas
hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.
Setelah selesai renovasi, Ka’bah itu
berbentuk segi empat, yang ketinggiannya kira-kira mencapai lima belas
meter, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah
sepuluh kali sepuluh meter. Hajar aswad diletakkan dengan ketinggian
satu setengah meter dari permukaan pelataran untuk thawaf.
Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya
setinggi dua belas meter. Adapun pintunya setinggi dua meter dari
permukaan tanah. Di sekeliling luar Ka’bah ada pagar dari bagian bawah
ruas-ruas bangunan. Di bagian tengahnya dengan ketinggian seperempat
meter dan lebarnya kira-kira sepertiga meter. Pagar ini dinamakan
“al-Syadzarawan”. Namun kemudian orang-orang Quraisy meninggalkannya.
Saudaraku, Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari peristiwa renovasi Ka’bah adalah sebagai berikut:
• Dengan kekufuran dan kesyirikan
Quraisy, mereka tetap mengagungkan dan mensucikan Ka’bah al-Musyarrafah,
sehingga dana yang mereka pergunakan untuk merenovasi Ka’bah mereka
ambilkan dari yang halal lagi thayyib.
• Semua orang pada sejatinya menyimpan
kekhawatiran dan ketakutan terhadap azab Allah s.w.t, apapun profesi,
kedudukan dan kemuliaan yang mereka sandang di dunia.
• Jika kita ingin menjadi pemimpin dan
tokoh masyarakat yang dicintai dan didengar oleh masyarakat, maka salah
satu sifat yang harus kita punyai adalah ‘amanah’ dapat dipercaya.
• Mediasi sangat diperlukan untuk menyelesaikan persoalan dan kesalah pahaman yang terkadang muncul di tengah-tengah masyarakat.
• Pertikaian, konflik dan peperangan
antar suku Quraisy dapat dihindari dan persatuan kembali terajut, karena
kecerdasan dan kejelian Rasulullah s.a.w dalam membaca dan menganalisa
persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
• Apa yang dilakukan Nabi s.a.w
mencerminkan kemampuannya dalam menyelesaikan persoalan besar. Jika
perannya gagal, maka Ka’bah dan sekitarnya akan menjadi saksi
pertumpahan darah antar sesama suku dan kabilah Quraisy.
Saudaraku,
Mari kita menyiapkan diri untuk menajdi seorang mediator Islam, agar
umat Islam mampu meraih kejayaan dan kemenangan. Konflik dan
perselisihan sekecil apapun dapat dihindari dan kesatuan umat dapat
terwujud di alam realita kehidupan kita.
Menampilkan kepribadian menarik dan
akhlak yang memikat yang dibingkai dengan sifat amanah, insyaallah kta
layak menjadi perekat dan pemberi solusi bagi permasalahan dan persoalan
yang kerap muncul di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lam bishawab.
Abu Ja’far Fir’adi
posted by @Adimin
Label:
Sejarah,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
November 03, 2014
oleh : Afwan Riyadi
posted by @Adimin
Liqo Itu Kebutuhan Kita
Written By Sjam Deddy on 03 November, 2014 | November 03, 2014
Alhamdulillah kelompok halaqah nambah terus .. Walau sayang, yg lama anggotanya angot2an datangnya.
Saya ingin katakan bagi ikhwan akhwat yg datang liqo suka angot2an : Harusnya antum bersyukur; ada orang yg bersedia berbagi ilmu dgn antum
Sadarkah antum, murabbi/murabbiyah itu selalu memberikan waktunya untuk antum? Menyisihkan waktu bagi keluarganya?
Lalu dengan enteng, antum yg gak pernah membayarnya untuk mengajari antum itu berkata : afwan bang, ane gak bisa datang liqo.
Itu masih mendingan .. Malah lebih sering yg tanpa kabar berita. Hilang begitu saja.
Lalu sering banget terjadi; kemudian orang2 yg jarang datang liqo ini, bicara yang tidak2 terhadap murabbinya.
"MR ane gak peka. Masak ane gak pernah dateng liqo dibiarin aja, bukannya di telpon kek. Di SMS kek. Enggak dia diam aja. Mana ukhuwwahnya?"
Lalu mutung tanpa sebab, lalu bicara yg tidak2 tentang jama'ah .. Ini semua pangkalnya 1 : malas datang liqo dgn semua alasan2 yg dibuat2
Ada yg bilang males liqo karena murabbinya gak punya kafa'ah syariah. Saya ingatkan : ini liqo, bukan kelas di Ma'had.
Kalau mau faham syariah, ya ikut kuliah di Ma'had. belajarnya Intensif. Bayar. Masak mau jadi ahli fiqih cuma ikut program gratis pekanan?
Halaqah itu bukan itu. Disini yg dibina adalah fikrah & amal sekaligus. Membersihkan jiwa dari Syirik, mengajarkan hikmah2 yg ada dimana2.
Afwan Riyadi @Af1_ Materi2 dasarnya adalah hal2 yg wajib setiap Muslim memahami & menjalankannya : mengenal Allah, mengenal Rasul, mengenal Islam dsb
Kalau datangnya bolong2; ana kuatir pemahaman yg lengkap ttg apa itu Islam menjadi kurang sempurna.
Sadarkah kita, murabbi/murabbiyah itu terkadang juga berat memberikan waktunya sekali sepekan untuk mendidik kita?
Sementara mereka juga sudah memberikan waktunya sekali sepekan untuk datang ke halaqah-nya sebagai mutarabbi ..
Sementara mereka jg punya banyak tuntutan dakwah dimana-mana. Membina ini itu, mendidik anak istrinya, mengurus keluarganya, mencari nafkah
Dia harus sering muncul di masyarakatnya. Aktif di lingkungannya, aktif di tempat kerjanya, aktif di DPRa & DPC-nya.
Dan kita yg enteng angot2an datang ini mencibirnya : MR ane gak ukhuwwahnya kuran.. Ane jarang masuk gak ditengokin.
Kalo ada ikhwan akhwat yg begini; ane pengen banget kasih cermin guede ke mukanya.
Lha elu, apa ngasih ongkos buat MR lu buat nengokin? Apa ngasih pulsa buat nelpon elu? Apa pernah elu bayar dia tiap liqo?
Kita-nya sendiri yg gak datang tanpa sebab, gak bilang2, wa la salam wa la kalam .. Siapa yg sebenarnya butuh halaqah itu? Kita atau MR?
Ada yg bilang : Maap bang ane jarang datang liqo. Ane lagi sibuk.. Dia kira MR-nya pengangguran apa?? Ane bilang ini penghinaan.
Ada yg bilang : Maap bang ane jarang datang liqo, lagi ngurusin anak. Dia kira MR-nya gak sayang anak apa? Dia kan juga punya anak.
Ada yg bilang : Maap bang ane jarang datang liqo, lagi ngurusin anak. Dia kira MR-nya gak sayang anak apa? Dia kan juga punya anak.
Tapi dia bela2in meninggalkan anak2nya sesaat demi menyampaikan dakwah kepada kita2 ini .. Kok ya gak bersyukur ..
Saya ceritakan beberapa pengalaman kawan2 saya tentan liqo..
Ada ummahat di Kaltim, liqonya beda kabupaten karena tempatnya belum ada. Pergi liqo naik kapal bawa 4 anak2nya yg masih kecil2.
Ada ikhwan di kota kecil di Sumbar, liqo harus ke Padang yg jaraknya 100 km. Dia tiap pekan nginap di Padang cuma untuk liqo.
Ada ustadz di Pekanbaru, diminta membuka dakwah di suatu kabupaten. Gak punya ongkos, dia tiap pekan pergi numpang truk buat ngisi liqo.
Ada temen liqo ane sendiri, dulu membina di Serang skrg lagi kuliah di Depok. Binaan2nya rela naik motor kerumahnya buat liqo sepekan sekali
Mereka gak mau dipindahin. Daripada bubar ditantang : ya sudah kalo maunya liqo sama ane; datang ente ke Ciputat. Eh beneran datang terus
Orang2 macam begini ini, yg setiap langkahnya menuntut ilmu selalu diiringi doa oleh mahluq2 Allah ..
Eeeh kita2 datang liqo males2an. Trus mengeluh : kok ummat Islam ini gak menang2 ya? Ya gimana mau menang? Yg sudah sadar aja males2an.
Dateng liqo males2an; trus bilang : Ane gak dapet apa2 di liqoan. Ya gimana mau dapet kalo datang aja bolong2??
Ane gak marah .. Cuman bahasanya ane tegasin biar yg dateng liqo males2an bisa sadar.
Dulu ane pernah "debat" sama mantan ikhwah. Dia banyak menyerang pandangan2 ikhwan ttg suatu masalah. Ternyata 1 masalahnya : dia suka bolos
Ya kalo suka bolos, lalu jadi nggak paham manhaj-nya, lalu menyalahkan manhaj itu .. Itu sih menurut ane jahil murakkab .. kebodohan kuadrat
Menyalahkan manhaj --> itu jahil. Karena gak paham --> itu jahil. Gak paham karena bolos melulu --> itu jahil.
Ada mantan ikhwan yg bilang "Ane mau liqo kalo murabbi-nya kayak DR.Hidayat Nur Wahid" .. emang lu siapee? (^o^)
DR.Hidayat Nur Wahid cuma 1. DR.Surahman cuma 1. Ust. Rahmat Abdullah cuma 1 & sudah wafat. Kalau hanya mereka yg membina, mau sekuat apa?
Dia ternyata liqo selama itu masih gak paham juga, bahwa liqo itu bukan semata thalabul'ilmi. Liqo itu ta'akhy; persaudaraan,
Ust.Rahmat Abdullah (alm) dulu pernah cerita; di Medan th 90-an, ada tukang becak yg jadi murabbi bagi seorang doktor.
So what? Apakah seorang doktor harus selalu lebih mulia dibanding tukang becak? Apakah dia tak bisa belajar apapun dari tukang becak?
Udah dulu yak
Saya ingin katakan bagi ikhwan akhwat yg datang liqo suka angot2an : Harusnya antum bersyukur; ada orang yg bersedia berbagi ilmu dgn antum
Sadarkah antum, murabbi/murabbiyah itu selalu memberikan waktunya untuk antum? Menyisihkan waktu bagi keluarganya?
Lalu dengan enteng, antum yg gak pernah membayarnya untuk mengajari antum itu berkata : afwan bang, ane gak bisa datang liqo.
Itu masih mendingan .. Malah lebih sering yg tanpa kabar berita. Hilang begitu saja.
Lalu sering banget terjadi; kemudian orang2 yg jarang datang liqo ini, bicara yang tidak2 terhadap murabbinya.
"MR ane gak peka. Masak ane gak pernah dateng liqo dibiarin aja, bukannya di telpon kek. Di SMS kek. Enggak dia diam aja. Mana ukhuwwahnya?"
Lalu mutung tanpa sebab, lalu bicara yg tidak2 tentang jama'ah .. Ini semua pangkalnya 1 : malas datang liqo dgn semua alasan2 yg dibuat2
Ada yg bilang males liqo karena murabbinya gak punya kafa'ah syariah. Saya ingatkan : ini liqo, bukan kelas di Ma'had.
Kalau mau faham syariah, ya ikut kuliah di Ma'had. belajarnya Intensif. Bayar. Masak mau jadi ahli fiqih cuma ikut program gratis pekanan?
Halaqah itu bukan itu. Disini yg dibina adalah fikrah & amal sekaligus. Membersihkan jiwa dari Syirik, mengajarkan hikmah2 yg ada dimana2.
Afwan Riyadi @Af1_ Materi2 dasarnya adalah hal2 yg wajib setiap Muslim memahami & menjalankannya : mengenal Allah, mengenal Rasul, mengenal Islam dsb
Kalau datangnya bolong2; ana kuatir pemahaman yg lengkap ttg apa itu Islam menjadi kurang sempurna.
Sadarkah kita, murabbi/murabbiyah itu terkadang juga berat memberikan waktunya sekali sepekan untuk mendidik kita?
Sementara mereka juga sudah memberikan waktunya sekali sepekan untuk datang ke halaqah-nya sebagai mutarabbi ..
Sementara mereka jg punya banyak tuntutan dakwah dimana-mana. Membina ini itu, mendidik anak istrinya, mengurus keluarganya, mencari nafkah
Dia harus sering muncul di masyarakatnya. Aktif di lingkungannya, aktif di tempat kerjanya, aktif di DPRa & DPC-nya.
Dan kita yg enteng angot2an datang ini mencibirnya : MR ane gak ukhuwwahnya kuran.. Ane jarang masuk gak ditengokin.
Kalo ada ikhwan akhwat yg begini; ane pengen banget kasih cermin guede ke mukanya.
Lha elu, apa ngasih ongkos buat MR lu buat nengokin? Apa ngasih pulsa buat nelpon elu? Apa pernah elu bayar dia tiap liqo?
Kita-nya sendiri yg gak datang tanpa sebab, gak bilang2, wa la salam wa la kalam .. Siapa yg sebenarnya butuh halaqah itu? Kita atau MR?
Ada yg bilang : Maap bang ane jarang datang liqo. Ane lagi sibuk.. Dia kira MR-nya pengangguran apa?? Ane bilang ini penghinaan.
Ada yg bilang : Maap bang ane jarang datang liqo, lagi ngurusin anak. Dia kira MR-nya gak sayang anak apa? Dia kan juga punya anak.
Ada yg bilang : Maap bang ane jarang datang liqo, lagi ngurusin anak. Dia kira MR-nya gak sayang anak apa? Dia kan juga punya anak.
Tapi dia bela2in meninggalkan anak2nya sesaat demi menyampaikan dakwah kepada kita2 ini .. Kok ya gak bersyukur ..
Saya ceritakan beberapa pengalaman kawan2 saya tentan liqo..
Ada ummahat di Kaltim, liqonya beda kabupaten karena tempatnya belum ada. Pergi liqo naik kapal bawa 4 anak2nya yg masih kecil2.
Ada ikhwan di kota kecil di Sumbar, liqo harus ke Padang yg jaraknya 100 km. Dia tiap pekan nginap di Padang cuma untuk liqo.
Ada ustadz di Pekanbaru, diminta membuka dakwah di suatu kabupaten. Gak punya ongkos, dia tiap pekan pergi numpang truk buat ngisi liqo.
Ada temen liqo ane sendiri, dulu membina di Serang skrg lagi kuliah di Depok. Binaan2nya rela naik motor kerumahnya buat liqo sepekan sekali
Mereka gak mau dipindahin. Daripada bubar ditantang : ya sudah kalo maunya liqo sama ane; datang ente ke Ciputat. Eh beneran datang terus
Orang2 macam begini ini, yg setiap langkahnya menuntut ilmu selalu diiringi doa oleh mahluq2 Allah ..
Eeeh kita2 datang liqo males2an. Trus mengeluh : kok ummat Islam ini gak menang2 ya? Ya gimana mau menang? Yg sudah sadar aja males2an.
Dateng liqo males2an; trus bilang : Ane gak dapet apa2 di liqoan. Ya gimana mau dapet kalo datang aja bolong2??
Ane gak marah .. Cuman bahasanya ane tegasin biar yg dateng liqo males2an bisa sadar.
Dulu ane pernah "debat" sama mantan ikhwah. Dia banyak menyerang pandangan2 ikhwan ttg suatu masalah. Ternyata 1 masalahnya : dia suka bolos
Ya kalo suka bolos, lalu jadi nggak paham manhaj-nya, lalu menyalahkan manhaj itu .. Itu sih menurut ane jahil murakkab .. kebodohan kuadrat
Menyalahkan manhaj --> itu jahil. Karena gak paham --> itu jahil. Gak paham karena bolos melulu --> itu jahil.
Ada mantan ikhwan yg bilang "Ane mau liqo kalo murabbi-nya kayak DR.Hidayat Nur Wahid" .. emang lu siapee? (^o^)
DR.Hidayat Nur Wahid cuma 1. DR.Surahman cuma 1. Ust. Rahmat Abdullah cuma 1 & sudah wafat. Kalau hanya mereka yg membina, mau sekuat apa?
Dia ternyata liqo selama itu masih gak paham juga, bahwa liqo itu bukan semata thalabul'ilmi. Liqo itu ta'akhy; persaudaraan,
Ust.Rahmat Abdullah (alm) dulu pernah cerita; di Medan th 90-an, ada tukang becak yg jadi murabbi bagi seorang doktor.
So what? Apakah seorang doktor harus selalu lebih mulia dibanding tukang becak? Apakah dia tak bisa belajar apapun dari tukang becak?
Udah dulu yak
oleh : Afwan Riyadi
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
OASE,
TOPIK PILIHAN
October 31, 2014
posted by @Adimin
Kekuatan Pustaka Minang Cetak 15 Persen Lebih Tokoh Nasional
Written By Sjam Deddy on 31 October, 2014 | October 31, 2014
Peresmian Gedung
Pustaka dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat secara langsung diresmikan
oleh Gubernur Irwan Prayitno dan Kepala Perpustakaan Nasional Sri
Sukarsih pada Kamis (30/10) di Jalan Diponegoro 4, Kota Padang.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti.
Pada acara yang berlangsung pukul 09.00 - 12.00 WIB tersebut juga
dilaksanakan pengukuhan 15 orang Dewan Perpustakaan Provinsi Sumatera
Barat periode 2014-2017 oleh Gubernur. Kemudian acara dilanjutkan dengan
penyerahan pin emas kepada Keluarga Buya Hamka, yang diterima oleh
Hafif Hamka, serta keluarga Mantan Gubernur Sumbar, Alm. Zainal Bakar,
yang diterima langsung oleh Ibu Anna Zainal Bakar.
Di dalam sambutannya, Gubernur Irwan menyampaikan sekilas sejarah tentang perkembangan perpustakaan di Sumbar. Pada tahun 1956 - ketika Bukittinggi menjadi Ibukota Provinsi Sumbar - terdapat perpustakaan nasional yang dibangun di atas Ngarai Sianok. Setelah ibukota provinsi dipindahkan ke Kota Padang (1958) pemerintah daerah membangun pustaka di Pantai Padang. Kemudian, pustaka (perpustakaan) tersebut dipindahkan lagi ke Jalan Bagindo Aziz Chan.
Di dalam sambutannya, Gubernur Irwan menyampaikan sekilas sejarah tentang perkembangan perpustakaan di Sumbar. Pada tahun 1956 - ketika Bukittinggi menjadi Ibukota Provinsi Sumbar - terdapat perpustakaan nasional yang dibangun di atas Ngarai Sianok. Setelah ibukota provinsi dipindahkan ke Kota Padang (1958) pemerintah daerah membangun pustaka di Pantai Padang. Kemudian, pustaka (perpustakaan) tersebut dipindahkan lagi ke Jalan Bagindo Aziz Chan.
Pada tahun 1999 pemeliharaan gedung pustaka diserahkan kepada
pemerintah provinsi menjadi Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar.
Paska bencana gempa yang melanda Sumbar, gedung perpustakaan dipindahkan
ke daerah Tabing dengan status “perpustakaan darurat.” Selanjutnya,
perpustakaan provinsi mengalami perpindahan kembali ke daerah GOR Agus
Salim dan terakhir di Jalan Diponegoro 4, Kota Padang.
"Bila dibandingkan dengan gedung perpustakaan di daerah atau provinsi lain, gedung ini memang masih kalah dengan tiga lantai saja. Namun, kita yakin bahwa semangat kita tidak akan kalah dibandingkan dengan daerah lain tersebut,” ujar Irwan.
"Bila dibandingkan dengan gedung perpustakaan di daerah atau provinsi lain, gedung ini memang masih kalah dengan tiga lantai saja. Namun, kita yakin bahwa semangat kita tidak akan kalah dibandingkan dengan daerah lain tersebut,” ujar Irwan.
Kehadiran perpustakaan memberikan sumbangsih besar terhadap
perkembangan keilmuan serta pengetahuan di Sumbar. Di setiap bangunan
sekolah selalu dilengkapi dengan perpustakaan. Misalnya di Inyiak
Parabek Bukittinggi, Canduang di Agam, INS Kayu Tanam, serta Ibukota
Padang. Manifestasi keberhasilan hadirnya perpustakaan, dapat dilihat
dengan tampilnya para intelektual dan cendekiawan dari Sumatera Barat.
Tidak sedikit yang kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh nasional.
Sebagai etnik yang hanya dua persen dari seluruh rakyat Indonesia,
masyarakat Minang mampu melahirkan berbagai tokoh nasional lebih dari 15
persen.
"Dari keseluruhan tokoh nasional tersebut hampir sebagian besar
menggunakan kemampuan intelektualnya sebagai politisi, diplomat,
sastrawan, dan budayawan. Mereka semua dekat dengan buku-buku dan
tentunya (dekat-red) dengan perpustakaan yang ada,” kata Gubernur.
Gubernur Irwan menambahkan, dengan banyaknya tokoh nasional yang
berasal dari Sumbar serta dekat dengan buku-buku dan perpustakaan, maka
fenomena tersebut harus menjadi motivasi bagi masyarakat Sumatera Barat.
Peningkatan motivasi tersebut diperlukan guna membangun sikap,
perilaku, dan karakter individu yang selalu senang membaca buku.
Pembangunan gedung perpustakaan merupakan bagian dalam upaya
mencerdaskan bangsa, terlebih khusus masyarakat Sumbar. Gubernur
berharap perpustakaan dapat menjadi tempat mangkal bagi para pelajar,
mahasiswa, dan masyarakat Sumatera Barat. "Datangilah perpustakaan!
Kemudian bacalah buku-buku yang ada sebagai media pencerdasan kita!”
imbau Irwan kepada peserta kegiatan yang terdiri dari pelajar dan anak
muda.
Kepala Perpustakaan Nasional, Sri Sukarsih, mengatakan dengan
hadirnya perpustakaan, generasi bangsa harus bisa dan mampu
berkontribusi dalam membangun masyarakat yang cerdas, kreatif, dan
inovatif. Sri Sukarsih juga berharap bahwa perilaku gemar membaca, gemar
berkunjung, dan memanfaatkan pustaka sebagai pusat kegiatan belajar
dapat menjadi budaya setiap individu sepanjang hayat.
"Selain gedung perpustakaan sebagai pemenuhan kebutuhan bacaan
masyarakat, pemerintah provinsi juga telah menyalurkan bantuan berupa
600 unit mobil keliling di berbagai wilayah kabupaten/kota. Program
penguatan koleksi dan sarana, serta penguatan dan pengembangan digital
perpustakaan telah masuk di 30.000 desa/kelurahan. Terkait penguatan dan
pengembangan sarana digital diharapkan dapat semakin mempermudah
masyarakat, karena dapat diakses secara online,” tutur Sri Sukarsih.
Kepada masyarakat Sumatera Barat, Sri Sukarsih menyampaikan
harapannya. “Semoga dengan peresmian gedung perpustakaan ini, dapat
menjadi pusat belajar dan sarana pencerdasan yang menyenangkan.
Sri Sukarsih menambahkan harapan kepada Dewan Perpustakaan Provinsi
Sumbar agar dapat memberikan saran dan masukan yang lebih baik dalam
pengembangan dan penataan budaya gemar membaca di Sumatera Barat.
"Mari kita melangkah bersama, seiring, sejalan, satu arah, dan satu
tujuan. Demi terciptanya cita-cita bangsa, yakni sebagai bangsa yang
cerdas, transformatif, sejahtera, dan berbudaya gemar membaca.
Masyarakat harus menyadari bahwa dengan gemar membaca dapat meningkatkan
kreativitas, motivasi, dan kemandirian ekonomi,” pungkas Kepala
Perpustakaan Nasional tersebut.
Acara peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Gubernur dan
Kepala Perpustakaan Nasional sebagai tanda Gedung Pustaka dan Kearsipan
Provinsi Sumatera Barat mulai beroperasi. Setelah pemotongan pita,
Gubernur, Ketua DPRD, Forkopimda, Kepala Badan Perpustakaan dan
Kearsipan, serta Kepala Badan Perpustakaan Kabupaten/Kota se-Sumbar,
meninjau bersama gedung baru tersebut.
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
October 29, 2014
Oleh : Syaiful Anshor
posted by @Adimin
Perda Islam dan Ijtihad Politik
Written By Sjam Deddy on 29 October, 2014 | October 29, 2014
Perda bernuansa syariat Islam yang sukses dilakukan Patabai adalah
sebagai bentuk ijtihad penegakan syariat Islam dalam konteks
formal-struktural
PENEGAKAN Syariat Islam di Indonesia seolah jadi isu
yang tidak pernah mati. Sejak lama, perjuangan umat Islam untuk
menegakkan syariat Islam di Tanah Air tidak pernah surut. Baik usaha
secara kultural maupun struktural-konstitusional. Sejak tujuh kata dalam
Piagam Jakarta dihapus, ekspektasi penerapan syariat Islam umat Islam
tidak begitu signifikan. Meski begitu, umat Islam tidak putus asa dan
masih berjuang dengan segala cara. Salah satunya yang dilakukan Nangro
Aceh Darussalam yang telah dapat privillege khusus dari pemerintah berupa otonomi khusus (otsus) untuk menegakkan Syariat Islam.
Hal serupa juga dilakukan di bumi Sulawesi Selatan. Perjuangan ini
dilakukan oleh sejumlah tokoh dan ulama yang tergabung dalam Komite
Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) yang dikomandani langsung oleh
putra pejuang legendaris Sulsel, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar. Meski
begitu, usaha untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia bagian timur
ini tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perjuangan KPPSI agar
Sulawesi Selatan dapat otsus penegakan syariat Islam sampai sekarang
belum terwujud. Salah satu sebabnya, belum dapat rekomendasi dari
gubernur untuk diajukan ke pemerintah pusat.
Sepanjang sejarah, penegakan syariat Islam di Tanah Air selalu
diwarnai pro-kontra. Hal itu karena syariat Islam masih dipandang
negatif dengan sederet stigma miring. Syariat Islam dinilai melanggar
Hak Asasi Manusia (HAM) karena ada hukum potong tangan dan rajam. Tak
sedikit orang yang takut jika syariat Islam diberlakukan. Khususnya kaum
sekular-pluralis. Mereka menentang habis-habisan dan secara
terang-terangan penegakan syariat Islam. Tak hanya itu, aktivis syariat
Islam juga dicitrakan buruk, seperti kelompok radikalis, ekstrimis, dan
subversif. Padahal, syariat Islam tidak sesempit pandangan mereka.
Kendati perjuangan KPPSI agar Sulsel dapat otsus penegakan syariat
masih jauh, bukan berarti tidak memiliki sumbangsih terhadap pembangunan
negara. Setidaknya, penegakan syariat Islam berupa Peraturan Daerah
(Perda) bernuansa Islam yang digulirkan di Kabupaten Bulukumba jadi
bukti bahwa syariat Islam telah memberikan sumbangsih signifikan
terhadap pembangunan daerah. Hal itulah yang dirasakan Mantan Bupati
Kabupaten yang terletak di ujung Selatan Provinsi Sulsel ini yang
menjabat selama dua periode, 1995-2000 dan 2000-2005, Drs. H. Andi
Patabai Pabokori.
Andi Patabai tergolong sukses memimpin Kabupaten Bulukumba. Dari sisi
APBD naik signifikan. Begitu juga tingkat kriminalitas. Dari yang
sebelumnya angka kriminalitas tinggi, setelah kepemimpinannya turun
drastis. Seluruh Muslimah mengenakan pakaian Muslim. Masyarakat Muslim
Bulukumba pun pandai membaca Al Quran. Kegiatan keagamaan selalu
semarak. Non Muslim pun merasakan manfaatnya hingga tak sedikit yang
justru mendukung perda. Gara-gara kesuksesan itu, dia pun dipercaya
masyarakat untuk jadi Bupati selama dua periode. Katanya, bahkan,
seandainya boleh mencalonkan untuk ketiga kali, masyarakat berharap dia
maju kembali jadi Bupati.
Ketika pertama memimpin Bulukumba, Patabi cukup miris melihat kondisi
masyarakatnya. Kriminalitas tinggi. Pemerkosaan, pembunuhan, dan
pencurian kerap kali terjadi. Begitu juga miras banyak diperjual
belikan. Karena itu, dia berfikir, cara untuk menanggulangi itu semua
hanya satu: dengan syariat Islam. Patabai pun berfikir simpel. Syariat
itu tidak mesti harus dengan rajam dan potong tangan. Tapi, hal-hal
sederhana, seperti baca tulis Al-Quran, melarang penjualan miras,
kewajiban mengenakan baju muslimah bisa mencegah praktik kriminalitas.
Dia yakin dengan itu masyarakat di Bulukumba bisa hidup aman, nyaman,
dan tenang. Konsep format atau wadah penerapan syariat Islam yang
dilakukan Patabai berupa Perda bernuansa Islam. Dia membuat empat Perda.
Antara lain: Pertama, Perda Nomor: 03 tahun 2002 tentang larangan,
pengawasan, penertiban, dan penjualan minuman beralkohol. Kedua, Perda
Nomor: 02 Th. 2003 tentang Pengelolaan Zakat Profesi, Infaq, dan
Sedekah. Ketiga, Perda Nomor: 05 Th. 2003, tentang Berpakaian Muslim dan
Muslimah. Keempat, Perda Nomor : 06 Th. 2003 tentang Pandai Baca Al
Quran bagi siswa dan Calon Pengantin.
Perda-perda itu ternyata sangat efektif. Dalam tempo dua tahun,
masyarakat telah merasakan efeknya. Kriminalitas turun drastis. Tidak
ada lagi orang jualan miras. Tidak ada lagi pencurian. Bahkan, katanya,
binatang peliharaan dan kendaraan jika dibiarkan di luar rumah pada
malam hari akan aman. Khususnya untuk zakat. Pendapat zakat naik
drastis. Patabai mewajibkan jajaran pejabat daerah untuk menyisihkan
gajinya untuk zakat. Dana itu pun bisa terkumpul ratusan juta rupiah per
bulan dan bisa digunakan untuk membantu masyarakat.
Apa yang terjadi di Bulukumba sebenarnya potret baik penegakan
syariat Islam. Meski masih berupa empat perda. Hal itu menandakan jika
syariat Islam ditegakkan akan memberikan manfaat, bukan mafsadah.
Hal itu sekaligus menepis ketakutan sejumlah kelompok dan tanggapan
miring tentang syariat Islam bahwa syariat Islam itu menyelamatkan,
bukan saja umat Islam, tapi juga non-Muslim.
Ijtihad
Perda bernuansa syariat Islam yang sukses dilakukan Patabai adalah
sebagai bentuk ijtihad penegakan syariat Islam dalam konteks
formal-struktural. Syariat Islam itu tidak mesti identik dengan atau
menunggu daulah Islamiyah atau khilafah Islam. Format wadah syariat
Islam bersifat fleksibel, tidak absolut (qothi’). Hal itu membuka ruang ijtihad. Ijtihad itu justru satu sisi lebih efektif dalam membumikan Islam dalam konteks formal.
Diskursus wadah penerapan syariat Islam juga mengemuka dalam kongres
KPPSI yang diadakan di Asrama Haji Sudiang, Makassar 7-9 Maret ini. Amir
KPPSI, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar mengatakan tidak ada dalil qothi
baik dalam al Quran maupun hadits yang mengatakan daulah Islamiyah.
Karena itu, wadah syariat Islam bersifat ijitihadi dan fleksibel.
Fleksibelitas itu bisa diterjemahkan ke berbagai cara. Bisa melalui
otonomi khusus, bisa melalui perda-perda syariat Islam, atau daerah
Islam binaan. Tergantung probabilitas yang paling memungkinkan.
Karena itu, apa yang dilakukan mantan Bupati Bulukumba patut ditiru.
Setidaknya, dengan digulirkannya perda-perda bernuansakan syariat Islam
bisa membantu pembangunan daerah dengan menciptakan stabilitas keamanan,
ekonomi dan religiusitas masyarakat
Oleh : Syaiful Anshor
posted by @Adimin
Label:
Opini,
TOPIK PILIHAN
October 29, 2014
posted by @Adimin
Sumpah Pemuda Tonggak Penting "Menjadi Bangsa Indonesia"
Hari Sumpah Pemuda
menjadi momentum yang selalu istimewa bagi Presiden Partai Keadilan
Sejahtera (PKS), Anis Matta. Hal ini disebabkan 28 Oktober juga
merupakan tanggal kelahirannya, meski unik tidak tercatat dalam akta
kelahirannya karena persoalan administrasi di kampung halaman (Bone,
Sulawesi Selatan-red).
Anis Matta melalui akun Twitter @anismatta, Selasa (28/10) malam
mengatakan, 28 Oktober menjadi hari yang penting bagi bangsa untuk
melihat ke belakang mengenai rentang sejarah “menjadi Indonesia”.
"Sumpah Pemuda adalah tonggak penting ketika kita menjadi bangsa Indonesia' sebagai identitas dan cara hidup," tulisnya.
Anis memulai penjelasannya dengan dimensi Nasionalisme Indonesia yang
terbagi dua, ke luar dan ke dalam. 'Ke luar', menurut Anis, merupakan
semangat untuk melawan penjajahan. Sedangkan 'ke dalam' ialah proses
pembentukan identitas baru.
Selain itu, Anis menulis dua elemen penting sebuah bangsa, yaitu kehendak (will) dan budaya (culture).
"Will, kebangsaan Indonesia adalah ekspresi untuk keluar dari jerat penderitaan akibat penjajahan. Culture, nasionalisme Indonesia merupakan transformasi budaya menuju masyarakat modern," tulis mantan Wakil Ketua DPR RI tersebut.
Anis menjelaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa baru yang bergerak
menuju pengelolaan hidup bersama, dijalankan dengan kaidah-kaidah
rasionalitas.
"Ide tentang Indonesia adalah ide yang modern. Indonesia adalah
bangsa yang lahir dari rekayasa dan konsensus yang dibimbing oleh
kesadaran sejarah," tambahnya.
Anis kemudian memaparkan konsep "gelombang sejarah Indonesia" yang ia
bagi kedalam tiga periode. Gelombang pertama adalah ketika kita
(rakyat) memutuskan menjadi negara bangsa. Periode gelombang pertama
terjadi setelah melalui penderitaan yang panjang, bangsa Indonesia sadar
bahwa imperialisme tidak lagi dapat dihadapi oleh kerajaan-kerajaan
kecil atau etnis-etnis yang ada.
"Hanya ada satu jalan keluar, yaitu melebur dalam satu simpul yang
lebih besar dari simpul-simpul primordial selama ini. Itulah ide awal
Indonesia. Jika kita bedah Indonesia pada hari kelahirannya, kita akan
temukan bahwa nilai terdalamnya adalah solidaritas," tegasnya.
Anis kemudian melanjutkan tulisannya mengenai gelombang kedua sejarah
Indonesia, yaitu periode pemerintahan hingga masa Reformasi.
"(Gelombang kedua terjadi-red) ketika kita berusaha menjadi
negara-bangsa modern," imbuhnya.
Kini menurutnya, bangsa Indonesia sedang memasuki ‘gelombang ketiga’,
dimana bonus demografi dan demokratisasi menjadi modal untuk menjadi
bangsa yang kuat.
Sebagai penutup Anis menekankan bahwa pemahaman akan rangkaian
sejarah akan membangun kesadaran ke-Indonesiaan kita (rakyat
Indonesia-red). "Sumpah Pemuda adalah sumpah kita sampai hari ini.
Semoga Allah meridhoi perjalanan negara-bangsa kita," tutupnya.
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN








