Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
June 16, 2017
Oleh : Irsyad Syafar
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 8 - MENIKMATI IBADAH - - - - - - - - -
Written By Sjam Deddy on 16 June, 2017 | June 16, 2017
Ramadhan 8
MENIKMATI IBADAH
(إياك نعبد)
Adalah berbeda
antara orang yang menikmati ibadah dengan yang mengerjakan ibadah. Setiap orang
yang menikmati ibadah, pasti mengerjakannya. Sebaliknya tidak semua yang
mengerjakan ibadah menikmatinya.
Bila seseorang
menikmati sesuatu, maka dia akan senang bersamanya. Hatinya tenteram dan ingin
berlama-lama dengan sesuatu itu. Bila dia sedang bersamanya, maka waktu tak
terasa berlalu. Dan bila sudah berpisah dengannya, dia akan rindu untuk bertemu
kembali.
Sedangkan orang yang
mengerjakan sesuatu, biasanya ingin segera selesai dari sesuatu tersebut. Bila
cepat selesainya maka akan lebih baik. Dan cendrung pekerjaan itu menjadi beban
baginya.
Bagitu pula dalam
beribadah. Orang yang beriman menikmati ibadah, bukan sekedar mengerjakannya.
Ada kenyamanan dan ketenangan yang dirasakan saat melakukannya. Betah dan rela
berlama-lama bersama ibadah tersebut.
Rasulullah saw
menyatakan bahwa shalat adalah penyejuk matanya (qurratu ainin). Beliau
bersabda:
و جعلت قرة عيني في الصلاة. أخرجه أحمد والنسائي والحاكم والبيهقي عن أبي هريرة.
Artinya:
"Dijadikan kecintaanku pada shalat". (HR. Ahmad, Nasa'i Baihaqi,
Hakim, shahih Albany).
Maksud dari hadits
di atas adalah Rasulullah saw sangat mencintai shalat. Hatinya tenang dan
tenteram dengan ibadah shalat tersebut. Bila ada beban yang berat, justru
Rasulullah saw meringankannya dengan shalat. Beliau pernah bersabda kepada
Bilal bin Rabah memerintahkannya untuk adzah: "Berdirilah wahai Bilal!
(maksudnya untuk adzan), rehatkan kami dengan shalat". (HR Abu Daud).
Sehingga dengan
shalat tubuh mereka menjadi dapat rehat dan kembali segar. Kebanyakan kita
berkata sebaliknya, "Ayolah kita segera shalat, setelah itu kita
istirahat...."
Begitu juga para
sahabat dan orang-orang shaleh. Mereka menikmati ibadah, sehingga mereka
berlomba-lomba melakukannya. Beribadah bagi mereka bukanlah rutinitas belaka,
bukan pula beban yang menghimpit apalagi sekedar hutang yang wajib dibayar.
Diceritakan dalam
hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa serombongan
kaum fuqara' dari para sahabat mengadukan kepada Rasulullah saw, betapa
beruntungnya orang-orang kaya. Mereka shalat dan puasa, sama seperti orang
miskin. Tapi mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad dan besedekah, karena
harta yang mereka miliki.
Lalu, Rasulullah
saw menunjukkan amalan yang bisa menyamai pahala semua amalan tersebut, yaitu
bertasbih 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x setiap selesai shalat. Maka
senanglah kaum miskin mendengarkan ibadah penyeimbang ini. Mereka pun pulang
dan bisa beribadah juga lebih banyak.
Namun tidak lama
setelah itu, kaum fuqara ini kembali lagi kepada Rasulullah saw. Mereka kembali
mengadu, bahwa hadits kemaren "bocor" pula kepada orang-orang kaya.
Maka mereka amalkan pula. Akhirnya Rasulullah saw mengomentari: "Itulah
karunia Allah yang Dia bagikan kepada orang2 yang Dia kehendaki".
Pertanyaan yang
muncul kemudian adalah, kenapa orang-orang shaleh bisa menikmati ibadahnya?
Sehingga mereka betah bahkan berlomba mengamalkannya? Dan tidak sekedar
"mengerjakan" ibadah saja? Jawabannya kita temukan dari petunjuk
Rasulullah saw yang bersabda:
عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.
Artinya: Dari
Abbas bin Abdul Muthalib, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Yang
merasakan nikmatnya iman adalah orang yang redha Allah menjadi Tuhannya, Islam
menjadi agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya". (HR Muslim).
Maka orang yang
telah meredhai Allah yang wajib dia sembah dan agungkan, meredhai bahwa ajaran
Islam sebagai agama yang wajib dia amalkan, serta redha Nabi Muhammad adalah
Rasul yang wajib diikuti ajarannya, pasti akan merasakan nikmatnya beribadah.
Baginya, semua
ibadah adalah konsekwensi atas ketundukannya kepada Allah dan ajaranNya, bukti
penghambaan kepadaNya serta keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.
Dalam hadits lain
Rasulullah saw menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman bila
dia memiliki tiga hal: pertama, Allah dan RasulNya paling dia cintai. Kedua dia
mencintai orang lain karena Allah. Dan yang ketiga dia tidak suka jatuh kembali
kepada dosa, sebagaimana dia tidak suka kalau dilemparkan ke dalam api neraka.
(dari HR Bukhari Muslim riwayat Anas bin Malik).
Pada bulan
ramadhan ini, kembali berbagai ibadah semarak dilakukan umat Islam. Shalat
berjamah, puasa wajib, shalat-shalat sunnat, tahajud atau qiyamullail,
bersedekah, tilawah Al Quran dan lain-lain. Kita mesti naik kelas dari sekedar
mengerjakan ibadah menuju kepada menikmati ibadah.
Tentunya
syarat-syarat yang dijelaskan Rasulullah saw di atas perlu dipenuhi. Agar semua
rangkaian ibadah tersebut betul-betul dinikmati, bukan sekedar dikerjakan sebagai
rutinitas. Akibatnya selepas Ramadhan tidak menimbulkan pengaruh dan perubahan
yang signifikan ke arah kebaikan.
Oleh : Irsyad Syafar
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 10, 2017
Ramadhan 7
Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 7 (IKHLAS DAN ITTIBA') - - - - - - - - - -
Written By NeoBee on 10 June, 2017 | June 10, 2017
Ramadhan 7
IKHLAS DAN ITTIBA'
(إياك نعبد)
(إياك نعبد)
Kita
mentauhidkan Allah dengan beribadah kepadaNya. Tentu saja ibadah itu
dilakukan untuk Dia terima, bukan sekedar kita selesaikan. Mesti kita
lakukan sesuai dengan keinginanNya bukan sesuai selera atau kemauan
kita.
Kalau letih-letih beribadah menyembahNya, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, tentu sia-sialah jadinya amalan kita.
Oleh karena itu yang menjadi pikiran dan target seorang mukmin saat
beribadah adalah mendapatkan "qabul" dari Allah. Dan para ulama sepakat
bahwa terkait ibadah-ibadah mahdhah (ibadah murni yang landasan
syariatnya berdasarkan wahyu) akan diterima oleh Allah bila memenuhi dua
syarat utama, yaitu: Ikhlas karena Allah, dan Mengikuti tuntunan Nabi
Muhammad saw (ittiba’).
Jika salah satu syarat saja yang
terpenuhi, atau keduanya tidak terpenuhi tentunya amalan ibadah tersebut
menjadi tertolak alias tidak diterima.
Allah berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
Artinya: "Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya“.” (QS. Al
Kahfi: 110).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah, seorang Ulama tafsir
yang sangat terkenal menerangkan maksud ayat di atas, “Maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah sesuai dengan syariat
Allah. Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah
kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap redha Allah semata dan
tidak berbuat syirik pada-Nya.
Ayat secara langsung mencakupi
dua syarat diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan
mengikuti petunjuk Rasulullah saw.
Seorang senior Tabi'in Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh, tatkala menerangkan firman Allah:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا....
Artinya: "Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2),
Beliau menjelaskan maksud amalan yang paling baik (ahsan) itu “adalah
amalan yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai dengan ajaran Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Fudhail bin Iyadh berkata,
“Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai dengan ajaran
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima.
Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas karena Allah semata,
amalan tersebut juga tidak akan diterima.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ،
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى
اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا
أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ
إِلَيْهِ.
Artinya: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada
niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa
yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada
Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia
cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya
berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita, pen)”. (HR
Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas mempertegas bahwa syarat
pertama ibadah diterima yaitu niat yang ikhlas karena Allah. Bila
diniatkan karena selainNya, maka yang diniatkan itu saja yang diperoleh.
Juga dalam hadits dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: "Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini
yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Hadits ini menegaskan bahwa setiap ibadah mesti berdasarkan tuntunan langsung dan tata cara yang diajarkan Rasulullah saw.
Misalnya seseorang shalat shubuh dengan sangat ikhlas karena Allah,
tapi dilaksanakannya 3 atau 4 rakaat, maka ibadah tersebut tertolak.
Sebab menyelisihi ajaran Nabi.
Sebaliknya, seseorang yang shalat
shubuh dua rakaat, lengkap rukun dan sunnatnya, tapi dia lakukan karena
segan dengan mertua atau tetangga, maka ibadahnya juga tertolak. Karena
niatnya tidak ikhlas.
Dengan demikian, setiap ibadah memiliki dua
timbangan. Timbangan bathin berupa niat yang ikhlas. Dan timbangan
lahir berupa tatacara beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw.
Imam Bukhari menuliskan sebuah hadits dalam kitab shahihnya dengan
judul, "Hadits orang yang buruk shalatnya". Kejadiannya adalah tentang
seorang lelaki yang shalat sunat dua rakaat di dekat Nabi shallallahu
alaihi wa sallam. Tapi tatacara shalatnya salah dan terburu-buru. Sampai
tiga kali Rasulullah menyuruh dia mengulangnya. Karena shalatnya tidak
sah dan dianggap belum shalat.
Mari kita laksanakan seluruh
rangkaian ibadah selama ramadhan dengan penuh ikhlas, tanpa
menambah-nambah atau mengurangi yang telah Rasulullah saw ajarkan.
Sebab, dalam urusan beribadah mahdhah tidak ada ruang kreatifitas atau
inovasi.
Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 09, 2017
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 6 (TAUHID, MISI SEMUA NABI) - - - - - - - - -
Written By NeoBee on 09 June, 2017 | June 09, 2017
Ramadhan 6
TAUHID, MISI
SEMUA NABI
(إياك نعبد)
(إياك نعبد)
Mengesakan Allah
SWT dalam segala bentuk ibadah, dan tidak mempersekutukanNya dengan yang lain
merupakan risalah semua Nabi dan Rasul. Tidak ada Nabi yang pernah diutus oleh
Allah melainkan dia menyuruh umatnya menyembah Allah semata.
Ini nabiyullah Nuh
as, seorang Nabi dan Rasul yang menyembah Allah semata. Beliau membawa risalah
tauhid kepada kaumnya, diceritakan dalam QS Hud 25-26:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلٰى قَوْمِهٖ إِنِّيْ لَكُمْ
نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ . أَنْ لَّا تَعْبُدُوْا إِلَّا اللّٰهَۗ إِنِّيْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيْمٍ.
Artinya: "Dan
sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata),
"Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian.
Agar kalian tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kalian akan
ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih."
Begitu juga Nabi
Hud yang diutus Allah kepada kaum 'Ad. Beliau menyembah Allah semata, dan
membawa risalah tauhid kepada kaumnya. Allah berfirman:
وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ
إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ
إِلَّا مُفْتَرُونَ
Artinya: "Dan
kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah
mengada-adakan saja. (QS Hud: 50).
Begitu juga Nabi
Shaleh yang diutus Allah kepada kaum Tsamud. Beliau menyembah Allah semata dan
membawa risalah tauhid, mendakwahi kaumnya untuk hanya menyembah Allah dan
tidak mengambil tuhan-tuhan yang lain. Allah berfirman:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ
إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ
أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ
تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي
قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Artinya: "Dan
kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia
telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya,
karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya
Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS
Huud: 61)
Selanjutnya Nabi
Syi'aib, Allah kirim kepada kaum Madyan. Beliau menyembah Allah semata dan
menyeru kaumnya untuk mentauhidkan Allah. Dalam firmanNya, Allah menegaskan:
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا
قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي
أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ
Artinya: "Dan
kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata:
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia.
Dan janganlah kalian kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat
kalian dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadap
kalian akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (QS Huud: 84)
Nabi Isa as, Allah
utus kepada kaumnya bani Israil. Menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah,
menyembahnya semata dan tidak mempersekutu kanNya. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ
مُسْتَقِيمٌ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian. Karena itu sembahlah
Dia. Inilah jalan yang lurus". (QS Ali Imran: 51).
Secara general
Allah menyatakan bahwa semua Nabi atau Rasul yang Dia utus kepada kaumnya
masing-masing, semuanya membawa risalah tauhid, mengajak untuk menyembah Allah
semata. Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ
اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ
عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي
الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ.
Artinya: "Dan
sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (tuhan selain Allah)
itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh
Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS An Nahl: 36).
Maka semua Nabi
dan Rasul menganut agama yang sama yaitu agama tauhid (menyembah Allah semata).
Rasulullah saw menegaskan tentang satunya agama para Nabi:
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ـ :
" الأنبياء إخوة لعلات ، أمهاتهم شتى ودينهم واحد. (رواه أبو داود)
Artinya:
Diriwayatkan dari abu Hurairah bhw Rasulullah bersabda: "Para Nabi itu
saudara-saudara sekeluarga. Ibu mereka berbeda-beda, tapi agamanya satu."
(Hadits marfu' riwayat Abu Daud).
Bahkan di dalam
beberapa ayat, Allah mengabarkan bahwa Nabi Isa shalat dan berzakat, Ibunda
Maryam melakukan shalat rukuk dan sujud, Nabi Zakaria juga shalat, Nabi Yahya
shalat, Nabi Ibrahim dan Ismail shalat di depan Ka'bah. Lebih dari itu,
Rasulullah saw menjadi imam shalat berjamaah bersama para Nabi dan Rasul pada
malam isra' dan mikraj di Masjidil Aqsa.
Dengan demikian,
agama para Nabi itu sama yaitu agama tauhid. Dan mereka semua menyembah Allah
semata. Mari bergabung dalam barisan orang-orang mulia sepanjang zaman. Jalan
orang-orang yang telah Allah beri mereka nikmat. Dan itulah jalan yang lurus.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 08, 2017
Ramadhan 5
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 5 (HANYA KEPADAMU KAMI MENYEMBAH) - - - - - - - - -
Written By NeoBee on 08 June, 2017 | June 08, 2017
Ramadhan 5
HANYA KEPADAMU KAMI MENYEMBAH
(إياك نعبد)
Ini adalah Tauhid Uluhiyah. Pengakuan
bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah. Sangat semakna dengan
kalimat Laa ilaaha illallah, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.
Dengan pengakuan bahwa hanya kepada
Allah saja kita beribadah (menyembah) inilah yang menjadikan status kita
sebagai seorang muslim. Sebab, kalau hanya sekedar mengakui adanya Allah
(Tuhan), kita masih sama dengan orang kafir. Karena mereka juga percaya adanya
tuhan. Hanya saja mereka tidak menyembah Tuhan yang sebenarnya.
Allah mengabarkan kondisi orang-orang
kafir dan musyrik dalam FirmanNya:
وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61)
Artinya: "Dan sesungguhnya jika
kamu tanyakan kepada mereka: `Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan
menundukkan matahari dan bulan?` Tentu mereka akan menjawab: `Allah`, maka
betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).(QS. Al
ankabut:61).
Kaum musyrikin mengakui bahwa Allah itu
ada, menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, menurunkan
air hujan dan menghidupkan bumi dari matinya, akan tetapi mereka tidak
menyembah Allah. Mereka tetap menyembah berhala. Itulah sebabnya, mengakui
adanya Allah/Tuhan belum membuat seseorang menjadi muslim. Menyembah dan
beribadah kepada Allah satu-satunyalah yang menjadikan seseorang sebagai
seorang muslim.
Pengakuan kita yang terucap minimal 17
kali dalam sehari ini, menegaskan bahwa tidak ada ibadah, tidak ada ketaatan
dan tidak ada penyembahan kecuali hanya kepada Allah SWT.
Dengan pengakuan ini, kita membebaskan
diri dari kesyirikan, yang dosa syirik itu merupakan dosa yang tidak akan Allah
ampuni sama sekali. Allah berfirman:
إِنَّ
ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ
ٱفْتَرَىٰٓ
إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak
akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS An nisa: 48).
Rasulullah saw juga telah menyampaikan
bahwa beribadah kepada Allah SWT merupakan hak Allah atas hambaNya:
عَنْ
مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ - رضي الله عنه - قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللّهِ صلى
الله عليه و سلم عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ. قَالَ: فَقَالَ: يَا
مُعَاذُ! أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللّهِ عَلَى الْعِبَادِ وما حقُّ العبادِ عَلَى
الله؟ قَالَ قُلْتُ: الله وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «فَإِنَّ حَقَّ اللّهِ
عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللّهِ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً. وَحَقُّ
الْعِبَادِ عَلَى اللّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ
شَيْئاً» قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّهِ! أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ:
«لاَ تُبَشِّرْهُمْ. فَيَتَّكِلُوا.
Artinya: Dari Muadz bin Jabal ra, dia
berkata, "Aku sedang berbonceng dengan Rasulullah saw. Lalu Beliau
berkata: "Wahai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah terhadap hambaNya dan
apa hak hamba terhadap Allah?". Muadz menjawab, "Allah dan RasulNya
saja yang lebih tahu". Rasulullah berkata: "Hak Allah terhadap
manusia adalah mereka menyembahnya dan tidak mempersekutukanNya dengan satu
apapun. Sedangkan hak manusia kepada Allah adalah Dia tidak menyiksa siapa yang
tidak mempersekutukanNya". Muadz bertanya, "Apakah tidak sebaiknya
aku ceritakan ini kepada mereka semua?". Rasulullah menjawab: "Jangan
dulu, nanti mereka bermalas-malasan". (HR Bukhari dan Muslim).
Jelaslah bahwa tugas utama manusia di
dunia adalah mentauhidkan Allah dalam seluruh ibadahnya. Tidak ada tuhan-tuhan
lain yang diibadahi selain Allah. Dan itu diikrarkan setiap hari dalam shalat
di setiap rakaat. Itupun masih ditambah lagi dalam setiap doa iftitah:
إِنَّ
صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: "Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam".
Namun kemudian - dalam kenyataannya-
tidak sedikit manusia yang menyembah dan mengibadahi tuhan-tuhan lain dalam
kehidupannya. Bisa dalam bentuk menyembah harta, jabatan, hawa nafsu (pria dan
wanita). Kehidupannya tersandra oleh semua kekuatan lain itu dari menyembah
Allah.
Gara-gara harta atau jabatan atau juga
lawan jenis, berkurang ibadahnya, atau tertunda ibadahnya atau bahkan tidak
sempat beribadah. Itu semua tentunya sangat bertentangan dengan pengakuan
"hanya kepadaMu kami menyembah...".
Hadirnya ramadhan menyadarkan kita
kembali bahwa misi utama kita di dunia ini adalah beribadah. Sekaligus
memperkuat ikrar yang terus berulang kita ucapkan. Mari rehatkan sejenak diri
kita dari hiruk-pikuknya dunia yang takkan pernah habis. Kecuali saat tubuh
kita sudah berkalang tanah.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 05, 2017
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 4 (RAJA HARI PEMBALASAN) - - - - - - - - - -
Written By neobattosai on 05 June, 2017 | June 05, 2017
Di dunia ini begitu banyak raja dan
penguasa. Bahkan, tidak sedikit orang yang berprilaku bagaikan raja. Berbuat
dan berkata seenaknya, tak peduli orang sekitarnya dan apa akibatnya. Ada raja
di pemerintahan, ada raja di perusahaan, raja di pasar, raja dalam pergaulan
juga termasuk raja di jalanan.
Bahkan, di dunia ini ada orang-orang
yang berperilaku bagaikan Tuhan. Atau malah mengklaim diri sebagai Tuhan. Kata
dan ucapannya adalah wahyu, mutlak kebenarannya. Orang lain mesti menyembah
menghambakan diri kepadanya. Dan itu muncul dari zaman ke zaman. Dahulu ada
raja Namrudz yang mengaku sebagai tuhan. Mengklaim diri bisa menghidupkan dan
mematikan. Juga ada firaun yang juga mengaku sebagai tuhan selain Allah.
أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ
إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي
وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ
الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ
يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٢٥٨﴾
Artinya: "Apakah kamu tidak
memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah
telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim
mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang
itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim
berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka
terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zalim." (QS Al baqarah: 258)
وَقَالَ
فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي
فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي
أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
Artinya: Dan berkata Fir`aun: "Hai
pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah
hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi
supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar
yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (QS Al Qashash: 38).
Begitulah di dunia ini, banyak raja dan
bahkan tuhan-tuhan palsu. Namun, di akhirat kelak hanya ada satu raja, yaitu
Allah 'azza wa jalla.
Dialah Allah Raja hari pembalasan, atau
Raja hari kiamat. Ketika seluruh manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat,
dalam keadaan telanjang bulat. Sebagaimana Rasulullah saw pernah mengabarkan:
عن
عائشة -رضي الله تعالى عنها- قالت: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول:
"يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غُرْلاً". قلت: يا رسول الله، الرجال
والنساء جميعاً ينظر بعضهم إلى بعض؟، قال: "يا عائشة الأمر أشد من أن يُهمهم
ذلك".
Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah ra,
dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Manusia akan dibangkit pada hari
kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat dan belum
dikhitan". Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, laki-laki perempuan
semuanya akan saling melihat satu sama lain?". Rasulullah menjawab,
"Wahai Aisyah, urusan pada hari itu sangat menakutkan untuk mereka hendak
melihat satu sama lain". (HR Bukhari)
Setelah semua dibangkait, maka Allah
menyeru seluruh manusia, "Siapakah pemilik kerajaan pada hari ini?".
Tidak ada satu manusia yang bisa menjawab. Semua terdiam. Allah sendiri yang
menjawab pertanyaanNya, "Milik Allah Yang Maha Esa, lagi Maha
Menaklukkan". (Dalam QS Al Mukmin: 16).
Suasana di akhirat memang sangat
berbeda dengan suasana dunia. Di dunia orang bisa bicara seenaknya, sepenuh
mulutnya, seisi perutnya atau bahkan sesuai dengkulnya. Sedangkan pada hari
kiamat nanti, Allah menjadi Raja satu-satunya. Yang lain adalah rakyat atau
budak. Tidak satupun manusia bisa bicara, kecuali dengan izinNya. Semua mulut
terkunci, tak berdaya. Allah berfirman:
يَوْمَ
يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ
وَقَالَ صَوَابًا (38)
Artinya: "Pada hari dimana Jibril
dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali yang
telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang
benar." (QS An Naba: 38)
Dalam
ayat lain Allah nyatakan:
وَخَشَعَتِ
الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا.
Artinya: ".... dan merendahlah
semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali
bisikan saja". (QS Thaha: 108).
يَوْمَ
يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ .
Artinya: "Dikala datang hari
(kiamat) itu, tidak ada seorang pun yang bicara, melainkan dengan izinNya. Maka
diantara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia". (QS Hud: 105).
Maka pada hari kiamat, Allah SWT
menjadi penguasa tunggal. Tidak ada raja lain selainNya, seperti halnya saat di
dunia. Para raja di dunia menjadi hina dan rendah di akhirat. Tak berdaya
sedikitpun. Jangankan kekuasaan, untuk berbicara saja sudah tidak dapat izin.
Allah adalah Raja hari pembalasan
karena semua manusia akan dihisab dihadapanNya, satu persatu, dengan amalannya
masing-masing. Jika amalannya baik maka dia akan mendapatkan kebaikan. Jika
buruk, maka dia akan mendapatkan keburukan dan kesengsaraan.
Segala keputusan berada di tanganNya.
Apakah Dia akan menyiksa atau mengampuni seorang hamba, maka itu sepenuhnya
menjadi hakNya.
وَلِلَّهِ
مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (١٤)
Artinya: "Dan hanya milik
Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki,
dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS Al Fath: 14)
Tidak satupun manusia yang akan dapat
membantu manusia yang lain. Allah berfirman:
يَوْمَ
لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ
Artinya: "Hari itu seseorang tak
berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Segala urusan pada hari itu dalam
kekuasaan Allah." (QS Al Infithar: 19).
Begitulah dahsyatnya hari pembalasan
dan begitulah agungnya kekuasaan dan kerajaanNya. Maka, sesungguhnya puasa
merupakan salah satu modal utama untuk bekal perjalan di kampung akhirat.
Seorang tabi'in, al-Ahnaf bin Qais
rahimahullah, pernah ditanya: "Sesungguhnya anda ini orang yang sudah tua,
dan sungguh puasa membuatmu lemah.” Maka beliau berkata: ”Sungguh aku
menyiapkannya (puasa) untuk perjalanan yang panjang (hari Akhirat). Dan
bersabar di dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa Ta’al lebih ringan bagiku
daripada sabar terhadap adzabnya.”
Rasulullah saw bersabda:
عن
عبد الله بن عمرو، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الصيام والقرآن يشفعان
للعبد يوم القيامة يقول الصيام : أي رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني
فيه ، ويقول القرآن رب منعته النوم بالليل فشفعني فيه ، فيشفعان.
Artinya: "Puasa dan Al-Qur'an akan
memberi syafa'at bagi hamba pada pada hari kiamat. Puasa berkata : " YA
ALLAh aku mencegahnya dari makan dan memuaskan syahwat pada siang hari, maka
jadikanlah aku sebagai penolongnya. Al-Quran berkata : Ya Allah aku mencegahnya
dari tidur malam hari, maka jadikanlah aku sebagai penolongnya. Maka keduanya
diterima Allah SWT ". ( HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr dishahihkan oleh
Albany).
Wallahu A'laa wa A'lam.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN





