pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Buya Hamka, Masjumi dan Perang Melawan Korupsi

Written By Sjam Deddy on 14 January, 2014 | January 14, 2014



Kekuatan terbesar partai politik seharusnya pada basis massa, bukan uang! Jika uang yang menjadi basis kekuatan, maka politik menghalalkan segala caralah yang akan dilakukan!

KORUPSI yang dilakukan oleh para pejabat yang berkuasa sudah sejak lama menjadi sorotan di negeri ini. Terutama pejabat negara yang berasal dari partai politik. Hari ini kita menyaksikan, pejabat yang berasal dari partai politik seolah menjadi lumbung uang untuk mencari dana bagi pendanaan partai.

Keberadaannya di pemerintahan seolah dituntut untuk menjadi mesin pengeruk uang. Tak peduli halal dan haram, yang penting lumbung partai terpenuhi dengan pundi-pundi rupiah. Partai yang harusnya menjadikan basis massa sebagai kekuatan politik, berubah mengedepankan uang. Tujuannya agar suara rakyat bisa dibeli, apalagi menjelang Pemilu.

Fenomena ini ternyata sudah sejak lama terjadi. Buya Hamka, salah seorang tokoh Partai Masjumi yang terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante pada Pemilu tahun 1955, mengeritik cara-cara yang dilakukan oleh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), rival politik Masjumi, yang mengedepankan uang sebagai kekuatan politik. Dalam tulisannya di Majalah Hikmah, No.10 Thn IX, 5 Sya’ban 1374 H/17 Maret 1956, ulama asal Sumatera Barat ini mengungkapkan cara-cara kotor yang dilakukan oleh partai politik sekular yang ingin merebut simpati rakyat.

Kekuatan Partai Masjumi yang mampu memenangkan Pemilu di beberapa wilayah pada tahun 1955, dan  banyak mendapatkan kursi di parlemen, membuat lawan-lawan politiknya ketar-ketir untuk menghadapi Pemilu berikutnya pada tahun 1960. Meskipun akhirnya, Pemilu tahun itu tidak dapat terlaksana, setelah Soekarno secara sepihak mengajukan gagasan “Demokrasi Terpimpin” dan berniat mengubur partai-partai yang ada.

Hamka mengatakan dalam tulisannya, “Plan (rencana, pen) utama rupanya bagaimana supaya Masjumi dapat dikalahkan dalam pemilihan umum. Partai-partai yang berkuasa itu, terutama PNI insjaf bahwa kekuatan mereka tidak besar pada massa.  Oleh sebab itu, uang mesti ditjari sebanjak-banjaknya untuk biaja pemilihan umum. Kalau perlu dari mana sadjapun uang itu ditjari. Halal atau haram bukan soal: ‘lil ghayati tubarrirul wasilah’ (untuk mentjapai maksud boleh dipakai sembarang tjara),” terang Hamka.

Hamka kemudian mengungkap adanya upaya dari partai yang berkuasa dengan menjadikan para anggotanya yang menjabat dalam pemerintahan, untuk melakukan korupsi demi memenuhi keuangan partai.

“Di waktu itulah terdengarnja ‘lisensi istimewa’ korupsi besar-besaran. Mr. Ishak, seorang djago PNI mendjadi menteri keuangan. Hebatlah nasib jang diderita rakjat pada waktu itu. Benarlah mendjadi menteri mendjadi sumber kekayaan jang tidak halal! Banjak kita melihat orang kaja baru! Dia mendapat ‘lisensi istimewa’ itu didjualnya kepada asing!” ujarnya.

Ia kemudian menceritakan, “Setelah kabinent Burhanudin naik, maka program yang pertama adalah memberantas korupsi! Mr Djodi dituntut, dan Mr. Ishak “menjingkir” atau disuruh “menjingkirkan” keluar negeri,” kata Hamka, sambil menyebut Kabinet Burhanudin Harahap yang berasal dari dari Partai Masjumi, bertekad memerangi korupsi. Mr. Djodi dan Mr. Ishak yang dimaksud adalah aktivis partai sekular PNI.

Dengan kritik yang cukup keras, Hamka yang melihat praktik kecurangan sebelumnya, saat kabinet belum berada di bawah kendali Partai Masjumi, menyatakan bahwa partai yang berkuasa sebelumnya menjadikan kekuasaan untuk mengeruk uang bagi pendanaan partainya.

“Dengan serba matjam djalan, uang negara diperas! Dengan kedok “ekonomi nasional” orang-orang diandjurkan mendirikan firma, N.V (perusahaan), dan diberi lisensi. Keuntungannya sekian buat partai.”

Apa yang disampaikan oleh ulama penulis  Tafsir Al-Azhar ini puluhan tahun lalu, seperti terulang kembali pada saat ini. Aparat penegak hukum menciduk tokoh-tokoh partai politik yang terlibat kong-kalikong dengan pengusaha.

Partai dijadikan sarana untuk jual beli lisensi, jual beli izin usaha, izin ekspor-impor, pemenangan proyek atau tender, dan sebagainya, yang ujung-ujungnya memeras pengusaha untuk memberikan suap.

Uang suap itu kemudian ada  yang dicurigai  dijadikan basis pendanaan partai demi memenangkan Pemilu.  Politik tak lagi menjadikan basis massa sebagai kekuatan, tetapi menjadikan uang sebagai alat untuk meraih kemenangan.

Suatu ketika, kata Buya Hamka, ia bertemu dengan perwakilan negara asing di Jakarta. Kepada Hamka, orang itu bertanya tentang dari mana sumber dana Partai Masjumi, sehingga mampu meraup suara yang cukup besar pada Pemilu 1955. Orang asing itu menduga Partai Masjumi mendapat pendanaan dari luar negeri.

Kepada orang itu, Buya Hamka mengatakan, selama ini pendanaan Masjumi berasal dari dana pribadi para anggota dan simpatisannya.

“Memeras kantong sendiri, mendjual menggadaikan harta bendanja,” ujar Hamka menceritakan bagaimana para kader dan simpatisan Masjumi mendanai partai.

Orang asing itu kaget, karena selama ini yang ia tahu, partai-partai besar, jika tak mendapat dana asing, maka kemungkinan lainnya adalah menggunakan para kadernya yang ada di lingkar elit kekuasaan sebagai mesin pengeruk uang.
Demikianlah keteladanan yang ditorehkan oleh Partai Masjumi dalam sejarah kepartaian di Indonesia. Partai Islam tersebut mampu mengepankan cara-cara halal dalam politik, bukan menghalalkan segala cara. Bagi Partai Masjumi, kekuatan terbesar partai politik adalah pada basis massa, pada kader yang solid, bukan pada uang!*

Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan dosen STID Mohammad Natsir Jakarta



posted by @Adimin

Mahyeldi : Masyarakat Harus Lebih Nyaman


Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.

Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.

Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.

“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.

Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.

Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.

Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.

Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.

“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.

Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.

Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.
Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.

Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.

Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.

“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.

Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.

Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna - See more at: http://minangkabaunews.com/artikel-4426-mahyeldi--masyarakat-harus-lebih-nyaman.html#sthash.P5WvabRa.dpuf
Penataan Pasar Raya Padang menjadi lebih baik lagi, serta pembangunan berbagai infrastruktur sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat khususnya pasar Inpres II, di tahun 2014 ini dengan anggaran Rp72milyar.

Hal ini disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah,SP. “Infrastruktur Pasar Inpres II merupakan sedikit dari sejumlah item pembangunan yang akan terus dioptimalkan di tahun 2014 ini,” ujar Mahyeldi kepada wartawan kemaren siang.

Hal ini sendiri kata Wawako, adalah salah satu wujud pelayanan kepada masyarakat. Karenanya, Pemko akan terus memacu pembangunan infrastruktur di daerah ini. “Pemerintah terus berupaya sehingga semua masyarakat lebih merasa nyaman,” papar Pak Wawa sapaan akrab Wakil Walikota Padang ini.

Keseriusan Pemko Padang memacu pembangunan infrastruktur tersebut sudah bisa dibuktikan dengan alokasi dana Rp72 milyar untuk pembangunan lahan parkir di lantai 3 dan 4 di fase II Pasar Inpres II.

“Makanya dukungan seluruh masyarakat untuk kelancaran proses pembangunan termasuk pengawasan akan sangat diperlukan untuk menciptakan pasar yang bersih, higienis dan tertata,” tukas Mahyeldi.

Dikatakan Mahyeldi, untuk memfungsikan perparkiran di lantai 3 dan 4 tersebut memang perlu dilakukan, karena hal ini merupakan upaya yang sangat baik untuk mengatasi parkir yang sembrawut.

Selain itu, kata Mahyeldi, untuk perbaikan drainase juga perlu dilakukan di kawasan Pasar Raya. Saat ini, drainase yang ada belum terbangun jaringannya secara sempurna.

mn

posted by @Adimin

Anis Matta: PKS Fokus Suara Dapil

Written By Anonymous on 12 January, 2014 | January 12, 2014


JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta menanggapi santai berbagai hasil survei-survei yang dirilis jelang Pemilihan Umum 2014 yang menempatkan PKS tak masuk dalam jajaran lima besar partai dengan dukungan di atas 10 persen responden. 

"Kalau saya lebih baik PKS percaya survei-survei itu. Meski tak semuanya benar, tapi angka-angka itu akan memotivasi kami bekerja keras lagi," tutur Anis, Kamis 9 Januari saat ditemui The Future Institute, lembaga pendidikan PKS di bilangan Jl Duku Patra Pancoran Jakarta.

Bagi Anis PKS kini lebih baik fokus memikirkan pencapaian kursi di dapil. PKS tidak konsen di popular vote. Ia mencontohkan, tahun 2009 popular vote-nya berkurang 300 ribu tapi toh bertambah kursinya bertambah 12 menjadi 57 kursi. Fokus memikirkan suara dari dapil itu yang paling penting bagi PKS.

Dikatakan Anis, meski hasil survey belakangan ini suara PKS mengalami penurunan, namun ia yakin berkat dukungan seluruh kader yang terus menjaga soliditas, partainya akan mencapai target yang sudah dicanangkan

"Insyaallah lebih bagus dari 2009. Faktor yang mempengaruhi adalah soliditas kader dan para caleg yang terus bergerak," terang Anis yang siang itu sibuk menerima tamu di ruangannya.

Seperti diketahui, PKS menargetkan suara 12 persen pada Pemilu 2014 mendatang, target itu jauh melampau hasil yang dicapai pada tahun 2009 lalu. Pada lima tahun lalu, PKS mendapatkan suara 8 persen dan bertengger di urutan empat.



posted by @Adimin

PKS Tolak Penghapusan Hukuman Mati

JAKARTA -- Politikus Partai Keadilan Sejahtera Al Muzammil Yusuf menolak adanya upaya penghapusan hukuman mati oleh pihak Kejaksaan Agung sebagai pelaksana eksekusi.

Sebelumnya, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum), Basuni Masyarif, mengusulkan adanya penghapusan hukuman mati di Indonesia. Menurut Basuni, usulan tersebut sesuai dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat.

"Kok dihapus, teroris yang belum terbukti saja sudah ditembak mati," kata Almuzamil Yusuf, Wakil Ketua Komisi III DPR RI yang juga politisi dari partai PKS, Sabtu (11/1), saat di konfirmasi RoL via telepon.

Almuzamil menjelaskan, harusnya, hukuman mati itu tetap dilakukan, khususnya untuk para pengedar narkoba. Dia beralasan, pengedar narkoba justru lebih berbahaya dari kasus-kasus yang lain.

Dia mencontohkan, empat ton ganja saja bisa dipakai empat juta orang, artinya satu gram ganja dipakai satu orang pemakai. 

Almuzamil menegaskan, tidak setuju jika wacana penghapusan pencabutan hukuman mati di indonesia di hapus. Menurutnya, Kejaksaan Agung (Kejakgung) harus menjalankan aturan Undang-undang eksekusi hukuman mati. Dia menyatakan, kejaksaan tidak perlu takut pada tekanan politik internasional.

"Harus ada ketegasan hukum," singkat Almuzamil.

(ROL)

posted by @Adimin

Ilmuwan : Protein DNA Tercipta Dari Tanah Liat

Written By Sjam Deddy on 09 January, 2014 | January 09, 2014



Bagaimana penjelasan tentang kejadian manusia dalam sudut pandang pengetahuan biologi? Dimana sebelumnya banyak orang yang berfikir "Apakah mungkin Adam tercipta dari tanah?" 

Ilmuwan biologi dan lingkungan dari Kavli Institute, Nanoscale Science, kini telah membuktikan asal usul kehidupan dimana tanah liat membentuk Hidrogel yang akhirnya membentuk DNA. Tanah liat hidrogel selama milyaran tahun menciptakan reaksi kompleks yang menciptakan protein dengan bantuan bahan kimia hingga membuat sel kehidupan.
Hidrogel ini berfisat terbatas dan dilindungi oleh proses kimia hingga membran mengelilingi sel-sel yang berkembang. Dalam menguji teori yang diungkapkan pada awal November 2013 oleh kelompok ilmuwan dipimpin Luo, peneliti sebelumnya menggunakan hidrogel statis sebagai sel bebas untuk menghasilkan protein. Tanah liat membentuk hidrogel dimana massa ruang mikroskopis mampu menyerap cairan seperti spons (sponge). Tanah liat dianggap sangat menjanjikan sebagai prekusor membran sel, karena Biomolekul cenderung ke permukaan dan Sitoplasma (lingkungan interior sel) berperilaku seperti hidrogel.

Menurut Luo, hidrogel yang dihasilkan dari tanah liat jauh lebih baik melindungi isinya dari enzim perusak atau Nucleases yang akan membongkar DNA dan biomolekul lainnya. Penelitian dan pengembangan protein yang digagas oleh tim Lou saat ini masih berlanjut dan akan terus menggunakan tanah liat, karena bahan ini dapat ditemukan dengan mudah.

Di tahun-tahun sebelumnya, tim fisikawan Princeton dan Brandeis asal Harvard School of Engineering and Applied Sciences (SEAS) menunjukkan hasil kerja tentang pembentukan vesikel semi Permaebel yang berasal dari tanah liat anorganik, dirilis pada Februari 2011. Penelitian ini menunjukkan bahwa vesikel tanah liat memungkinkan sebagai wadah ideal untuk perkembangan molekul organik kompleks, dan penemuan ini membuka kemungkinan bahwa sel-sel primitif mungkin telah terbentuk didalam tanah liat anorganik.

Para ilmuwan ini telah mempelajari tanah liat yang jumlahnya berlimpah di permukaan bumi. Selama ratusan tahun, tanah liat dan mineral dikenal dalam membantu proses katalis kimia yang mendorong Lipid untuk membentuk membran dan Nukleotida tunggal agar bergabung kedalam untaian RNA. Liposom dan RNA menjadi prekusor penting dalam kehidupan purba, tetapi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pori-pori dalam vesikel tanah liat bisa melakukan tugas ganda sebagai 'Entry Point' selektif dan sumber katalis.

Adam Tercipta Dari Tanah
Pada akhirnya, para ilmuwan terus bertanya-tanya "Apakah nantinya tanah liat bisa memainkan peran penting dalam membuka asal usul kehidupan?"

para ilmuwan dari tahun ke tahun terus mengembangkan protein DNA yang bersumber dari tanah liat yang ada di Bumi. Selama milyaran tahun, tanah liat juga telah menciptakan protein kehidupan lain seperti kehidupan mikro yang kemudian berevolusi menjadi tumbuhan dan hewan.

https://finance.groups.yahoo.com/neo/groups/nasional-list/conversations/topics/168609 


posted by @Adimin

Mahyeldi Dalam Perang Khandaq Pilkada Padang

Written By Sjam Deddy on 08 January, 2014 | January 08, 2014



Sepuluh ribu pasukan dari kabilah-kabilah berhimpun dalam sebuah koalisi, saling dukung mendukung. Kabilah-kabilah itu awalnya sering tidak rukun, bertengkar sesamanya bahkan ada yang saling bunuh, tapi hari itu mereka berkumpul mengelilingi Kota Madinah untuk sebuah tujuan yang sama. 

Mengakhiri kisah Muhammad dan pengikutnya.

Madinah tentu belum membayangkan kondisi ini sebelumnya, lalu Salman Al-Farisi mengusulkan menggali parit besar di sekeliling Kota Madinah untuk menghadapi pasukan musuh. Rasulullah menyetujui ide itu bahkan Beliau pulalah yang membuat peta penggalian. Semua turun bekerja menggali parit. Tapi ketakutan sebagian sahabat tetap ada sebagaimana tergambar dalam Al-Quran.
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah” (Al Ahzab: 10)

Saya seakan melihat hal yang sama dengan Pilkada Kota Padang putaran kedua yang menyisakan pasangan Mahyeldi-Emzalmi (PKS-PPP) dan Desri Ayunda-James Hellyward (Independen). Seakan ini adalah Perang Khandaq bagi Mahyeldi-Emzalmi, meski tidak sepenuhnya sama karena dalam perang Khandaq pertarungan terjadi antara muslim dan kafir sementara di sini seluruh peserta Pilkada sejak putaran pertama adalah muslim.

Namun berkoalisinya banyak partai untuk mendukung Desri-James pada putaran kedua seolah seperti suasana “pengepungan” di Madinah dahulu. Hari ini pasangan Desri-James telah mendapatkan dukungan tambahan dari PDI-P, Hanura, PAN, PKPI dan Golkar. Partai-partai yang pada putaran awal saling bertarung dengan memajukan jagoan masing-masing, kini mendukung Desri-James. Saya tentu tidak tahu pasti apakah dukungan ini karena pertimbangan logika atau logistik, yang jelas mereka sudah bersatu mendukung Desri-James, pasangan yang maju melalui jalur independen.

Dengan demikian Mahyeldi yang diusung PKS, kini harus berhadapan dengan sebuah koalisi besar dari partai-partai besar. Sebuah “pengepungan” yang bisa membuat takut dan meruntuhkan semangat. Namun itu semua harus dihadapi dengan gagah, para kader PKS, tim sukses dan para pendukung perlu mengambil kembali pelajaran dari perang Khandaq.

Menggali Parit
Pembangunan parit tidak pernah dikenal dalam ”kamus perang” orang Arab. Mereka hanya mengenal teknik maju, mundur, gempur, atau lari. Maka ketika pasukan koalisi melihat parit yang menganga lebar di antara mereka dan Madinah, semua menjadi kaget dan bingung hendak berbuat apa. Akhirnya mereka hanya duduk di tenda-tenda dan berfikir. Tidak ada hasil.

Begitu dalam menghadapi Pilkada putaran kedua yang hanya beberapa hari lagi, harus ada sebuah strategi yang belum pernah terpikirkan oleh lawan. Strategi yang akan menjadi penentu kemenangan sebagaimana di perang Khandaq. Karena sesungguhnya perang Khandaq bukanlah sepenuhnya pertempuran kolosal di medan laga yang didominasi oleh hunusan pedang dan tombak, tetapi Khandaq adalah perang strategi dan urat syaraf.

Kerja Keras
Setelah ide menggali parit disetujui Rasulullah maka para sahabat langsung melaksanakannya. Dalam riwayat disebutkan bahwa setiap sepuluh orang diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter (lebar 4,62 meter dan dalam 3,234 meter). Dengan kerja keras dan kesungguhan mereka pun berhasil menggali parit mencapai 5.544 meter.

Maka untuk meraih kemenangan setiap kader dan pendukung harus bekerja keras sepenuh tenaga sampai batas akhir, sebagaimana dicontohkan para prajurit Khandaq. Tidak boleh ada yang patah semangat dan menyerah sebelum memasuki medan perang. Semua harus memberikan kontribusi terbaiknya dalam hal apa saja untuk memperoleh kemenangan.

Optimis
Dalam perang Khandaq kita belajar tentang harapan yang tidak boleh padam, apapun kondisinya. Dengarlah apa yang diucapkan oleh Rasulullah saat memecahkan batu besar ketika menggali parit. Ucapan penuh optimisme, padahal saat itu kondisinya benar-benar genting dan mencekam.
“Allahu Akbar, kunci-kunci Syam telah diberikan kepadaku, demi Allah aku tengah melihat istana-istananya yang kemerahan”
“Allahu Akbar, kunci-kunci Persia telah diberikan kepadaku, demi Allah aku tengah melihat istana kota berwarna putih”
“Allahu Akbar, kunci-kunci Yaman telah diberikan pula kepadaku, demi Allah kini aku tengah melihat pintu-pintu Kota Shan’a dari tempatku ini”
Maka penting bagi seluruh kader dan pendukung untuk terus bekerja dalam optimisme yang penuh akan sebuah kemenangan.

Berdoa
Dan doa tidak boleh terhenti. Teruslah memohon pertolongan kepada Allah, sungguh pertolongan Allah itu sangat dekat. Sebagaimana pertolongan itu telah turun di Perang Khandaq.
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan” (Al-Ahzab: 9)

Lalu sejarah mencatat, pasukan koalisi kembali pulang dalam keadaan yang payah, kedinginan, kekurangan makanan dan tidak bersemangat. Dan kemenangan menjadi nyata di pihak muslim Madinah.

Tapi bukan kekalahan itu saja yang patut dikhawatirkan oleh para musuh. Mereka perlu tahu, ketika perang Khandaq usai Rasulullah menyampaikan bahwa, “Setelah hari ini mereka tidak akan mendatangi kita lagi, tapi kitalah yang mendatangi mereka”. Inilah kemenangan yang agung dan titik tolak bahwa perang yang dijalani kaum muslim tak lagi perang bertahan, tapi tampil ke depan untuk memusnahkan kebatilan menggantinya dengan Islam yang lurus.

Dan jika kemenangan di Pilkada Kota Padang menjadi milik Mahyeldi, maka semoga ini juga menjadi tanda bahwa Gelombang Ketiga itu telah dimulai.

Adrian Fetriskha, SH.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/01/07/44429/mahyeldi-dalam-perang-khandaq-pilkada-padang/#ixzz2pmDsKEaJ

posted by @Adimin

Anis Matta: Indonesia Tatap Sejarah Gelombang Ketiga

Written By Anonymous on 06 January, 2014 | January 06, 2014

MAKASSAR -- Tahun 2014 bukan semata ditandai proses pergantian kepemimpinan. Tapi sekaligus momentum peralihan sejarah Indonesia memasuki gelombang yang ketiga.

PRESIDEN Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta membagi perjalanan sejarah Indonesia menjadi tiga gelombang besar. Pertama, "menjadi Indonesia" yang berlangsung sejak abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20. Kedua, "menjadi negara modern" yang terjadi sejak merdeka sampa era Reformasi, dan ketiga adalah gelombang "sejarah baru" yang dimulai 2014 sampai waktu yang akan ditentukan oleh sikap bangsaini ke depan.

"Pemilu 2014 menjadi strategis bukan semata disebabkan peralihan kekuasaan, tapi peralihan sejarah. Pergantian kepemimpinan itu biasa dalam demokrasi. Yang lebih penting, apa maknanya bagi perjalan kita sebagai bangsa," terang Anis Matta saat tampil sebagai pembicara pada Mukernas VIII Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Sudiang, Makassar 5 Januari.

Menurutnya, jika pendorong (dirve) gelombang sebelumnya berasal dari luar; kolonialisme (gelombang I) dan Perang Dingin (gelombang II), maka drive gelombang ketiga berasal dari dalam, yaitu perubahan signifikan komposisi demografi.

Anis menyebut perubahan yang utama adalah proporsi orang di bawah 45 tahun akan mencapai lebih dari 60 persen dari populasi. Ini disebutnya "the new majority", kelompok mayoritas baru yang ada di Indonesia sekarang ini. Yang diistilahkan sejumlah ekonom dan ahli kependudukan sebagai bonus demografi atau "dividen demografi".

Anis melanjutkan, tantangan politik yang segera muncul di gelombang ini adalah perlunya kategorisasi baru yang bukan berbasis ideologi untuk mewakili kelompok. "Semua polarisasi lama dalam politik, apalagi polarisasi ideologi tidak lagi relevan. Makanya, kita harus mencari ide tentang "the next Indonesia" yang benar-benar mewakili ruh zaman, mewakili orang-orang yang berumur di bawah 45 tahun," sambung mantan wakil ketua DPR RI ini.

Pada gelombang baru ini, orang akan mengagungkan pertumbuhan, tetapi akan disandingkan dengan pertanyaan tentang kualitas hidup. Masyarakat Indonesia ke depan di-drive oleh usaha mencari bukan sekedar kesejahteraan, tetapi hidup yang lebih berkualitas.

Anis juga meyakini, di gelombang ketiga, akan lahir native democracy. Generasi yang sejak lahir hanya mengenal demokrasi. Mereka tidak melewati dan merasakan perubahan dari situasi Orde Baru ke zaman Reformasi. Makanya, memandang demokrasi sebagai given (terberi), bukan hasil perjuangan berdarah-darah.

"Karena gelombang sejarah ini di-drive oleh perubahan demografi, maka orientasi kemanusiaan menjadi utama. Tidak perlu lagi ada pertentangan antara negara dan masyarakat. Negara kembali ke makna dasar sebagai organisasi sosial yang menciptakan keteraturan.

Konsolidasi sosial akan membesarkan komunitas hingga mampu bernegosiasi dengan negara. Manusia sebagai orientasi utama ini menuntut pendekatan kepemimpinan (leadership approach) baru," tegas di depan seribuan kader Wahdah Islamiyah se-Indonesia.

Putera kelahiran Bone ini juga menjelaskan peta kekuatan Islam di masa mendatang bukan terutama pada basis teritorinya, akan tetapi pada kekuatan narasi dan ide-idenya.

Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, Zaitun Rasmin merespons positif wacana dan gagasan Anis di Muktamar Wahdah. "Pak Anis tidak hanya memiliki fikiran cemerlang tapi juga pengetahuan luas, dia aset berharga bangsa ini," tutup Zaitun Rasmin Lc.

Anggota DPRD Kota Makassar dari PKS, Iqbal Djalil LC mengaku gagasan sejarah Indonesia gelombang ketiga menyisakan tantangan bagi generasi ini. "Ulasan itu mengingatkan gerakan Islam lebih kuat pada konsep dan ide-ide yang selaras dengan gagasan bangsa ini," tambahnya. (ysd)

*http://m.fajar.co.id/politik/3081288_5964.html

posted by @Adimin

Hidayat Nur Wahid-Anis Matta Saling Dukung di Pemira PKS

JAKARTA - Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid dan Presiden PKS Anis Matta saling menjagokan satu sama lain di ajang pemilihan rakyat (pemira) PKS. Hidayat mengaku menjagokan Anis ia dinilai tokoh muda yang lebih kompeten dibandingkan dirinya.

"Pak Anis tokoh yang lebih muda, energik, dan visioner," kata Hidayat di Jakarta, Sabtu, (4/1/2014).

Terpilihnya Anis sebagai bakal calon presiden PKS dapat mendorong proses regenerasi politik di PKS maupun Indonesia. Tokoh-tokoh muda seperti Anis dinilai bisa membawa perubahan bagi bangsa dan negara.

Dia juga mengaku mengapresiasi usulan Anis yang mengadakan Pemira. Menurutnya, hal ini mampu menciptakan demokrasi di dalam suatu partai. "Kita apresiasi partai dan Pak Anis Matta yang sudah mengadakan pemira ini, ini bukti kompetennya Pak Anis," ujar dia.

Selain Anis, Hidayat juga mengaku mendukung kandidat lainnya, Ahmad Heryawan yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Sama dengan Anis, menurutnya pria yang akrab disapa Aher itu juga merupakan tokoh muda yang mempunyai peluang di kancah nasional.

Sebelumnya, Anis sendri mengaku lebih suka Hidayat yang bakal calon presiden. Anis menjelaskan, karier Hidayat di dunia politik lebih mengkilap. Terlebih, sebelum menjadi Ketua Fraksi PKS di DPR, Hidayat juga dianggapnya sukses saat menjabat sebagai Ketua MPR di periode 2004-2009.

"Sebenarnya lebih berpeluang dia (Hidayat) karena sukses pimpin MPR dan dari suku Jawa. Saya kan dari suku minoritas," kata Anis di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (3/1/2014) malam.

(Kompas.com)


posted by @Adimin

Unggul di Pemira PKS, Hidayat Nur Wahid Kaget


Jakarta - Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid mengaku kaget dengan hasil Pemilihan Rakyat (Pemira). Ia menempati urutan teratas bersama empat orang lainnya, yakni Anis Matta, Ahmad Heryawan, Tifatul Sembiring, dan Nur Mahmudi Ismail. Dia mengaku tidak pernah memprediksi hasil seperti itu sebelumnya.

"Terus terang saya kaget dengan perolehan suara saya yang mendapatkan suara terbesar," kata Hidayat saat ditemui usai mengisi ceramah di Pondok Pesantren At-Tahiriyah, Jakarta, Sabtu, (4/1/2014).

Dia pun mengingat bahwa dirinya pernah mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta bersama pasangannya Didik J Rachbini pada tahun 2012 lalu. Saat itu, ia dan Didik dikalahkan pasangan Joko "Jokowi" Widodo dan Basuki "Ahok" Tjahja Purnama.

"Saya sudah kalah di Jakarta, kok di nasional saya bisa menang?" tanya Hidayat.

Namun menurutnya, pemira PKS ini belum selesai. Masih ada proses uji publik yang harus dilalui semua kandidat. Dia pun berharap, pemira ini dapat melahirkan tokoh terbaik yang mampu membantu PKS mendulang suara.

Sebelumnya, Hidayat unggul dalam pemilihan raya (pemira) calon presiden PKS. “Dari 22 nama yang kita calonkan, maka lima besarnya adalah Hidayat Nur Wahid dengan 55.670 suara, Anis Matta 48.153 suara, Ahmad Heryawan 46.014, Tifatul 31.714 suara, dan kelima adalah Nur Mahmudi Ismail dengan perolehan 20.429 suara,” kata Sekretaris Jenderal DPP PKS Taufik Ridho dalam jumpa pers di kantor DPP PKS, Jakarta, Minggu (29/12/2013).

(Kompas.com)

posted by @Adimin

Pemimpin itu Ibarat Pasar

Written By Sjam Deddy on 04 January, 2014 | January 04, 2014


MEDIA massa kita dipadati berita-berita politik yang nyaris seragam. Seiring dengannya, penjara-penjara kita juga dipenuhi narapidana yang ‘istimewa’. Banyak mantan menteri, kepala daerah, perwira militer, penegak hukum, pejabat publik, konglomerat, artis, dan anggota dewan yang sekarang justru mendekam di balik jeruji besi. Konon, kini penjara tidak menyeramkan lagi, karena telah dijejali oleh para priyayi dan orang-orang berpendidikan tinggi. Bagaimana bisa?

Ketika merenungkan masalah ini, kami mendapati sepucuk surat yang pernah dikirimkan oleh ‘Abdullah bin Zubair (Sahabat Nabi) kepada Wahb bin Kaisan (Tabi’in). Surat ini kemudian dicatat oleh al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam karyanya, Hilyatul Awliya’. Dikatakan di dalamnya, sbb:

“Amma ba’du. Sesungguhnya orang-orang bertakwa itu memiliki tanda-tanda yang bisa dijadikan ciri untuk mengenali mereka, dan mereka pun bisa mengenalinya pada diri mereka sendiri, yaitu bersabar menghadapi bencana, ridha kepada ketetapan Allah, mensyukuri nikmat, dan tunduk kepada hukum al-Qur’an. Sungguh, pemimpin itu ibarat pasar. Apa saja yang laris disana pasti akan didatangkan ke dalamnya. Jika kebenaran laris di sisinya, maka kebenaran akan didatangkan kepadanya dan para pembelanya pun akan berdatangan. Jika kebatilan yang laris di sisinya, maka para pembela kebatilan pun akan berdatangan kepadanya dan laris di sekitarnya.”

Sungguh benar apa yang beliau katakan. Ini pulalah nasihat para ulama berikutnya kepada para pemimpin, seperti Imam Abul Hasan al-Mawardi dalam kitab Tas-hilun Nazhr wa Ta’jiluzh Zhufr fi Akhlaqil Malik. Ketika membahas bagaimana cara meluruskan rakyat, beliau menasehati penguasa untuk lebih dahulu meluruskan dirinya sendiri. Sebab, tidaklah mungkin meluruskan bayangan jika benda aslinya ternyata bengkok. Setelah mengulas berbagai akhlak buruk yang mestinya dijauhi oleh seorang pemimpin, beliau berkata, “Penguasa adalah orang yang jauh lebih utama untuk mewaspadai dan berhati-hati dari semua itu. Sebab, ada sangat banyak orang yang menginginkan dirinya, sebagaimana pasar yang didatangkan kepadanya semua yang laris di dalamnya. Setiap orang yang menemuinya pasti ingin dekat dengannya, entah melalui ucapan maupun tindakan; entah ingin mengejar kedudukan, memanfaatkan peluang, atau berhati-hati agar tidak terkesan melawan. Jika saja akal sehat tidak menghalangi mereka dan agama pun tidak menahan mereka, mereka pasti merajalela dalam kemunafikannya, lalu berkhianat dan melakukan praktek-praktek kotor.”

Maka, jika Anda seorang pemimpin dan kebingungan menyaksikan orang-orang di sekitar Anda, segeralah berkaca. Sadarilah, bahwa Anda tidak ubahnya pasar. Komoditas apa pun yang laku dan mudah didapatkan di sekitar Anda, pasti akan semakin ramai berdatangan. Semakin besar kuasa dan pengaruh yang Anda miliki, semakin besar pula apa yang berdatangan kepada Anda. Jika Anda seorang pemimpin yang jujur, maka para penipu akan kehilangan pasar dan dagangannya tidak mungkin laku. Sebaliknya, jika Anda adalah penipu, maka orang-orang jujur pasti kehilangan pelanggan dan segera menyingkir.

Adapun bagi rakyat biasa, kaidah ini bisa menjadi metode untuk mengenali calon-calon pemimpin dan meneropong para pemimpin yang tengah menjabat. Sebagaimana pasar ikan pasti dipenuhi oleh pedagang dan pembeli ikan, maka – kemungkinan besar – pemimpin yang korup juga akan dikelilingi oleh para koruptor, atau mereka yang menyukai korupsi. Secara psikologis, manusia cenderung berteman dengan orang yang sealiran dan sepemikiran. Jika para koruptor telah berkumpul, mereka akan bahu-membahu untuk memuluskan agenda korupsinya, sehingga sangat rapi dan sulit dibuktikan. Di dekat pemimpin semacam ini, hanya sedikit orang jujur yang lolos dari jerat-jerat mautnya. Biasanya, kelompok kecil ini akan menghadapi aneka tekanan dan isolasi yang menyengsarakan.

Dalam konteks lebih luas, kaidah ini juga bisa menjadi bahan muhasabah, merenung dan mengintrospeksi diri. Pada hakikatnya, para pemimpin adalah bagian dari masyarakat kita sendiri. Sebelum tampil berkuasa, mereka adalah orang-orang biasa seperti kita. Mengapa mereka sangat cepat berubah? Samar-samar sebenarnya kita juga patut menyangsikan diri kita sendiri. Bila saja posisi dan kesempatan yang ada di tangan mereka diserahkan kepada kita, dapatkah kita selamat? Di titik ini, setiap orang mestinya tunduk memohon perlindungan kepada Allah, bukannya mengangkat muka dan menepuk dada.

Para ulama terdahulu berpandangan bahwa tampilnya pemimpin yang buruk adalah hukuman Allah atas dosa dan kesalahan mereka. ‘Abdullah bin Bakr as-Sahmi (Atba’ Tabi’in, w. 208 H) berkata, “Semoga Allah memperbaiki kita dan para pemimpin kita, karena sesungguhnya kerusakan mereka adalah akibat dari dosa-dosa kita sendiri.” (Riwayat al-Khatthabi dalam al-‘Uzlah no. 232).

Artinya, kelahiran pemimpin yang buruk sebenarnya mencerminkan kegagalan sebuah generasi dalam mendidik anak-anaknya. Untuk menyikapinya, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar memang tetap dijalankan semaksimal mungkin, tetapi mereka tidak menyarankan pemberontakan. Solusinya adalah ishlah (reformasi) masyarakat secara utuh dan simultan.
 
Mereka pun tidak menyalahkan siapa-siapa, tetapi memperbaiki diri agar kelak bisa melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang lebih baik. Bagaimana pun, pemimpin hebat seperti Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih hanyalah representasi sebuah generasi yang terdidik dengan baik, sebab di belakang mereka telah berdiri ribuan muslim-mujahid yang berbaris rapi di bawah satu komando. Mereka tidak berarti apa-apa jika hanya sendirian. Kini, kita telah menyaksikan semua tingkah-polah para pemimpin kita. Belum tibakah saatnya untuk meluruskan hidup dan memperbaiki diri? Wallahu a’lam


posted by @Adimin

Gubernur Sumbar Ikut Antrian, urus SIM di kantor Polisi



pkspadang.com: Sudah menjadi ketentuan hukum setiap pengguna kendaraan bermotor memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Begitu juga dengan Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Irwan Prayitno yang harus datang langsung ke Polresta Padang untuk mengurus SIM A dan C.
Kedatangan gubernur di kantor polisi, Jumat (3/1) sempat membuat kaget sejumlah petugas di jajaran Satuan Lalu Lintas Polresta Padang. Betapa tidak, kunjungan tersebut memang dilakukan secara mendadak usai gubernur menghadiri acara Peringatan Hari Amal Bakti Kemenag yang ke-68. Kontan saja, sang gubernur berbaur dengan masyarakat lainnya yang memang sedang mengurus SIM. Termasuk menunggu antrean panggilan dari petugas untuk pendataan sidik jadi dan pemotrean.

Menurut Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno,  mengurus SIM A dan C, karena dalam keseharian, dirinya sering mengenderai mobil maupun sepeda motor. Kedatangannya ke Polresta Padang juga sekaligus memantau kondisi masyarakat secara lebih dekat. Hal ini dilakukan agar lebih leluasa berdialog dan melihat kondisi yang riil apa-apa yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. " Tanpa mesti memakai atribut dan fasilitas seorang gubernu," ujarnya.

Menurutnya, tak hanya  masyarakat, semua aparat termasuk seorang Gubernur mesti taat aturan lalu lintas. Santun mengendarai kendaraan di jalan raya dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas. " Kita semua bertanggung  jawab terhadap risiko kecelakaan dan kemacetan.Sesungguhnya telah berikhtiar menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain di jalan raya," tegasnya.


sumber : rol

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger