pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Sosok Alm KH Sahal Mahfudz di Mata Hidayat Nur Wahid

Written By Anonymous on 24 January, 2014 | January 24, 2014

JAKARTA -- KH Sahal Mahfudh sudah berpulang ke rahmatullah pada Jumat (24/1) pagi. Indonesia merasa kehilangan dengan salah satu tokohnya yang dinilai mencerminkan ulama lintas generasi.

''Ya beliau sosok yang mudah bergaul dengan kaum muda,'' kata anggota Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, Jumat (24/1).

Hidayat mengakui memiliki kesan tersendiri terhadap sikap dan prinsip yang dipegang kuat oleh almarhum. Ia pernah berjumlah dengan almarhum Sahal dalam berbagai ragam kesempatan.

Menurut Hidayat, almarhum Sahal merupakan ulama yang rendah hati, sederhana, berpandangan luas, dan mumpuni di bidang keilmuan fiqih. Almarhum Sahal dianggap sebagai seseorang yang memiliki keteguhan dalam memegang prinsip.

''Tapi yang paling utama, almarhum itu sangat ramah dan sangat peduli dengan masalah keumatan dan kebangsaan. Tapi, akhirnya beliau kembali kepada allah, karena allah cinta beliau, semoga amal baiknya diterima,'' kata dia.

*http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/01/24/mzvo77-sosok-alm-kh-sahal-mahfudz-di-mata-hidayat-nur-wahid

posted by @Adimin

Jangan Golput

Written By Sjam Deddy on 23 January, 2014 | January 23, 2014

>



Umat Islam WAJIB memilih Partai Islam.

--------------- atau ------------------------

Umat Islam SUNAH memilih Partai Islam.

--------------- atau ------------------------

# Siapa yang akan memimpin Umat jika Partai Islam Kalah ???



Serukan Kaum Muslimin Untuk Condong Partai Islam di Pemilu 2014 Buat sebagian ikhwan kami yang masih NGOTOT GOLPUT kami ingin bertanya;

Apakah golput menyelesaikan masalah ?

Apakah dengan Golput hasil pemilu akan batal ?

Apakah dengan Golput, Otomatis Syariah Islam akan tegak ?

Apakah Golput menjadikan Indonesia lebih baik ?

Yang terpenting, Siapa yang bertanggung jawab, Kalau kita Golput, Negara akan jatuh ke tangan penguasa Sekuler, Anti Islam,

Bahkan mungkin Non Muslim akan memimpin negara ?

Maka jangan kalian rajin mengkritik dan menyalahkan seorangpun disaat kalian Golput KECUALI diri kalian sendiri.

Lihatlah yang sudah di hasilkan oleh para pemimpin sekuler: Memerangi Pejuang Islam, Pelegalan miras, Prostitusi, Narkoba, Korupsi dsb.



Th 2014 adalah tahun penuh dengan kelicikan dan operasi intelijen. Jangan pernah mudah percaya media sekuler yang berusaha menyerang dan menjatuhkan Partai Islam. Karena Tidak ada satu Ormas, Harakah atau Partai Islam yang sempurna dan tidak punya cacat cela.

Hargai perjuangan mereka menurut ijtihadnya. Paling tidak ada perwakilan kaum muslimin di parlemen ataupun eksekutif meskipun TIDAK MUNGKIN SEMPURNA, Tapi bisa meringankan perjuangan kita.

Sudah Saatnya menyongsong persatuan ! Sudahi Perdebatan antar Harakah dan Ormas Islam yang TIDAK AKAN PERNAH DAN TIDAK AKAN MUNGKIN MENEMUI TITIK TEMU.



Musuh sudah bersatu mendukung KOTAK-KOTAK, Kenapa kaum muslimin masih bersemangat Ber KOTAK-KOTAK dan Rela di KOTAK-KOTAK ?

Kewajiban kita hanya Berjuang dan TERUS BERJUANG,



Biarkan Kehendak Allah yang memberikan Kita Kemenangan. 

Hadanallah Wa Iyyakum Ajma'iin, Wa waffaqona Ila ma Yuhibbu wa Yardho. Tetes Darah Dan Peluh HANYALAH untuk ALLAH, Islam dan kaum Muslimin. Sebarkan !!!
 













posted by amin

Temui Ical di Bakrie Tower, Anis Matta: Bertemu Supaya Tidak Tegang


JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta hari ini bertandang ke kantor Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie di Bakrie Tower Epicentrum, Jakarta.

Anis yang datang ditemani anggota DPR RI Fahri Hamzah dan rombongan diterima langsung oleh Aburizal dan sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham.

“Ini silaturahim biasa. Saya dulu suka ceramah di kantor beliau, di rumah beliau jadi lama enggak ketemu ngobrol-ngobrol kita. Sambil bicara masalah politik secara umum, karena mau Pemilu supaya kita jangan terlalu tegang mau Pemilu,” ujar Anis saat memberikan keterangan pers bersama Aburizal usai pertemuan, Rabu(22/1/2014).

Anis melanjutkan silaturahmi yang mereka lakukan bermanfaat untuk meredakan ketegangan dalam Pemilu.

“Jadi lebih bagus kita ini mencoba membangun kompetisi yang santai, tidak terlalu tegang, sehingga kita perlu banyak silaturahim. Itu saja intinya,” kata Anis.

Senada dengan Anis, Aburizal juga mengatakan bahwa silaturahmi tersebut untuk menghindari permusuhan akibat ketatnya persaingan.

Ketika ditanya mengenai koalisi pada Pemilu 2014, pria yang akrab disapa Ical tersebut menegaskan peluang itu selalu ada.

“Koalisi selalu bisa, tapi belum bicara kesitu. (Pertemuan tadi) Membicarakan masalah bangsa politik, ya sambil makan-makan. Jangan sampai bersaing terus musuh-musuhan,” ucap Ical santai.

Pertemuan tersebut sendiri berlangsung hampir dua jam dan dilaksanakan secara tertutup. Rencananya, pertemuan serupa juga akan dilaksanakan di masa yang akan datang.

*http://www.anismatta.net/2014/01/22/temui-ical-di-bakrie-tower-anis-matta-bertemu-supaya-tidak-tegang/


posted by @Adimin

Resep Hidup Enak Ala Anis Matta


Depok – Anis Matta berbagi resep kehidupan. Yang dibaginya kali ini adalah cara membuat hidup agar lebih enak untuk dijalani. Resep itu dibagikan pada acara Silaturahim Tokoh dan Relawan PKS Se-Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, Senin (20/1), di Hotel Bumi Wiyata (Hall), Depok, Jawa Barat.

“Hidup kita akan jauh lebih enak, kalau banyak orang menjadi saudara kita. Hidup kita semakin susah, kalau banyak orang menjadi musuh kita,” katanya.

Untuk memperbanyak saudara, maka kegiatan silaturahim perlu ditingkatkan. Caranya adalah dengan bertemu langsung dengan masyarakat. Menurut Anis, tidak ada cara yang lebih efektif dari berkomunikasi langsung dengan masyarakat.

Anis, yang saat ini mengemban amanah sebagai presiden PKS, kemudian mengingatkan tentang hakikat kekuasaan. Ia juga meminta kader dan simpatisan PKS terus menciptakan harmoni di masyarakat.

“Kekuasaan itu tidak ada artinya, kecuali ia digunakan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah. Maka janganlah memandang kekuasaan sebagai tujuan akhir yang malah menyebabkan permusuhan. Pandanglah kekuasaan sebagai alat untuk menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan di tengah-tengah masyarakat,” jelas pria kelahiran Makasar 45 tahun yang lalu ini.

Dalam acara yang mengambil tema “Menyambut Gelombang Ketiga Indonesia” ini, hadir juga Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, Wakil Walikota Bekasi Ahmad Saikhu, Sekretaris Jenderal PKS Taufik Ridho, Ketua DPW PKS Jawa Barat Tate Komarudin, Ketua DPD PKS Kota Depok M. Supariyono, dan seluruh anggota legislatif fraksi PKS DPRD Depok. (DLS/MFS)

*http://www.anismatta.net/2014/01/20/resep-hidup-enak-ala-anis-matta/

posted by @Adimin

Saat Presiden Menjadi Supir


Depok – Ada kejadian unik usai acara Silaturahim Tokoh dan Relawan PKS Se-Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, Senin (20/1), di Hotel Bumi Wiyata (Hall), Depok, Jawa Barat. Setelah melayani permintaan berfoto bersama dan wawancara, Anis Matta berjalan menuju mobilnya. Tanpa payung, meski malam itu sedang hujan. Beberapa peserta silaturahim terlihat menyejajari langkahnya.

Kehebohan terjadi saat Anis memasuki mobil. Ternyata ia tidak duduk di ruang penumpang, melainkan di ruang kemudi. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyetir mobilnya sendiri.

Tidak ada penjelasan resmi tentang tingkah Anis itu. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fahri Hamzah yang duduk di bangku penumpang, sempat berkelakar, “ini yang di depan sopir, yang di belakang bos nya!”. Sedangkan Anis hanya tersenyum membalas pandangan heran awak media yang meliput. Sambil melambaikan tangan, Anis menginjak pedal gas. Mobil yang ia kemudikan perlahan menuju antrian untuk keluar dari area parkir.

Pada acara yang dihadiri ribuan kader dan simpatisan PKS itu, Anis menekankan pentingnya melayani masyarakat. Ia mengajak seluruh kader dan simpatisan PKS untuk menjadi otak, hati, dan tulang punggung Indonesia. Dalam acara itu, hadir juga Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, Wakil Walikota Bekasi Ahmad Saikhu, Sekretaris Jenderal PKS Taufik Ridho, Ketua DPW PKS Jawa Barat Tate Komarudin, Ketua DPD PKS Kota Depok M. Supariyono, dan seluruh anggota legislatif fraksi PKS DPRD Depok. (DLS/MFS)

*http://www.anismatta.net/2014/01/21/saat-presiden-menjadi-supir/


posted by @Adimin

Berdakwah dengan cinta . . . . . .

Written By Sjam Deddy on 22 January, 2014 | January 22, 2014


Seorang agen dakwah harus bisa menunjukkan wajah Allah yang pengasih dan penyayang

“Kamu! Bisa nggak sih dibilangin. Kamu itu perempuan. Kenapa sih pulangnya malam? Kan sudah Abang bilang, jangan lewat Maghrib sampai rumah!,” demikian hardik lelaki itu dengan nada tinggi pada adik bungsunya.

Lelaki berusia awal 20 tahun itu bersiap mendaratkan pukulan. Tangannya sudah terangkat siap menampar sembari menahan sedu sedan emosi.

Di hadapannya meringkuk gadis 11 tahun disudut ruangan. Dengan alasan Kerja Kelompok bersama teman sekelas, sang adik berjanji pulang sebelum shalat Maghrib. Ternyata, jam sembilan malam, Ia sampai di rumah.

Dengan suara bergetar, gadis remaja itu berkata: “Kenapa, sih Abang kasar banget sama aku? Kalau sama binaannya, bisa senyum. Kalau sama adik sendiri, kasar. Aku ini adik Abang,”tutur gadis itu sembari terisak penuh cemas dan takut.

Pria itu tertegun. Ucapan sang adik sangat menohoknya. Ia baru menyadari kekasarannya selama ini.  Jika salah seorang adiknya terlihat akrab dengan lawan jenis, maka ultimatum keras disampaikannya.

Jika ada di antara adik lelakinya tidak shalat berjamaah di masjid, maka rentetan ayat al Qur’an dibacakannya. Jika Sinetron mampu menarik perhatian ketimbang mengaji, serta merta hadits bertebaran dalam ucapannya.

Bertahun-tahun bersikap seperti itu, membuat sosoknya ditakuti. Pria itu menjelma seperti “polisi syariah” di rumah. Ia dipatuhi karena ditakuti.

Mengingat itu semua, pelan-pelan tangannya diturunkan. Hatinya galau. Kata-katanya tersendat. Tidak tahu lagi mau bicara apa.

Pria itu tergesa masuk kamar kemudian membanting pintu. Protes adik kecilnya seakan membangunkannya dari tidur panjang.
 
Selama seminggu, Ia tidak bertegur sapa. Pria yang dituakan oleh adik-adiknya itu, lebih banyak mengurung diri di kamar.

“Saya merenung. Iya ya, kenapa kalau sama binaan, saya bisa berwajah baik walaupun sebenarnya kesal.  Seminggu setelah itu saya minta maaf pada adik saya,”ujarnya.

Inilah sepenggal kisah Bendri Jaisyurrahman, saat menceritakan pengalaman nya di depan peserta “Silaturahmi Akbar (Silakbar) Kerohanian Islam (Rohis) se-Jakarta Timur” di AQL Islamic Center, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sejak SMU, Bendri sudah menjadi Mentor di Rohis berbagai sekolah di Jakarta. Di mata anak didiknya, Bendri dikenal sebagai Kakak Mentor yang ramah dan memahami persoalan remaja. Tapi di depan adik-adik kandungnya, ia yang tak kenal kompromi dalam urusan agama, justru  dirasakan begitu kasar oleh adiknya.


Dengan cinta

Kesadaran itu membuat aktivis Yayasan Sahabat Ayah itu menyesal. Demi menebus kesalahannya sebelumnya, Bendri berbanting setir dalam mem- praktikkan dakwah. Pernah ia mengajak adik kecilnya menonton “Petualangan Sherina”, film yang saat itu sedang ramai diputar di bioskop. Sejak itu ia juga berusaha lebih dekat dengan adik-adiknya.

“Semua saya lakukan tanpa mengeluarkan ayat-ayat al-Qur’an satu pun,”ujarnya.

Ia ingin agar kedekatan dengan sang adik terbangun. Sampai akhirnya adiknya merasa nyaman untuk bercerita, barulah Ia giring untuk menaati Allah dan Rasulnya.

“Bang, besok kan aku ulang tahun. Aku mau deh, kalo Abang beliin gamis yang dipakai sama teman-teman Abang waktu Abang ceramah,”ucap Mardiyah Wafa Syahidah, adik bungsu yang kemudian beranjak remaja.

Bendri tidak menyangka di usianya yang masih belia, 14 tahun, adiknya punya keinginan berabaya.

Sejak menerima kado dari sang kakak, dalam setiap kesempatan, gadis manis itu mengenakan abaya atas kesadaran sendiri.

Berdakwah dengan cinta menjadi prinsip Bendri sejak itu. Ia menyadari akan lebih mudah menggiring seseorang menuju cahaya Islam ketika pikirannya sudah terikat.

Selulus SMU, Mardhiyah mengaku siap menikah. Pada Bendri, Ia mempercayakan proses ta’arufnya.

“Semua pernikahan adik-adik saya, saya yang mencarikan calonnya. Mereka percaya pada saya,”ucapnya.

Mardhiyah menjadi satu-satunya mahasiswa Sastra Arab UI yang telah menikah dan memiliki anak ketika awal perkuliahan.
 
Mahasiswa lulusan terbaik Sastra Arab UI, 2011, itu menyebut nama Bendri pada kata sambutan dalam wisudanya.

“Abang adalah orang yang pertama kali mengenalkan Islam dengan penuh cinta,”ungkapnya penuh haru di depan ratusan mahasiswa.

Bendri menjelaskan, seorang agen dakwah harus bisa menunjukkan wajah Allah yang pengasih dan penyayang.

“Jika hanya kekerasan yang ditampilkan, maka objek dakwah kita menafsirkan Islam sebagai agama yang galak,”tutur alumni STID DI Al Hikmah dan Ma’had Utsman Bin Affan, Jakarta itu.

Pria yang banyak mengisi kajian keislaman remaja tersebut mengungkapkan ada dua kemungkinan respon yang ditunjukkan objek dakwah jika cara penyampaian nasihat tidak memperhatikan unsur  fight or flight (melawan atau kabur).

Contohnya ketika anak-anak bercengkrama di masjid. Mereka seringkali ditolak, diusir dari Masjid karena dianggap bikin berisik, tidak nyaman, merasa dianggap ‘warga kelas dua’.

“Berbeda dengan penjaga Warnet, PS, atau Game Online yang selalu ramah dengan anak-anak. Anak-anak ditanya kabar hari itu dan dipersilahkan main dengan senang hati,”ungkapnya.
 
Hasilnya, masjid dipandang sebagai lokasi angker sedangkan lokasi PS dan game online sebagai rumah kedua mereka

hdy
 
posted by @Adimin

Dari Masjid Kita Selamatkan Anak-anak Kita!

Written By Sjam Deddy on 21 January, 2014 | January 21, 2014

Tentu kita prihatin, hari ini banyak masjid yang kurang berfungsi, kecuali hanya untuk sholat semata. Padahal, masjid bisa menjadi tempat sosialisasi yang terbaik bagi anak-anak



“ANAK-ANAK kaum Muslimin berada dalam bahaya,” ucap seorang ibu dalam sebuah perbincangan ringan usai acara talk show di Depok Jawa Barat.

Seorang ibu yang lainnya pun penasaran, “Bahaya gimana bu?” Ibu yang memulai pembicaraan itu pun menjawab, “Lihat saja anak sekarang, baca Qur’an kurang, sholat masih sulit ditegakkan, ke masjid apalagi. Akhirnya, habis maghrib anak-anak pada asyik nonton TV,” jelasnya dengan mimik serius.*
***
Kegelisahan ibu tadi memang layak kita renungkan. Terlebih jika melihat perkembangan zaman yang kian kurang kondusif bagi terpeliharanya iman pada anak-anak kita.

Selama ini, banyak ulasan tentang mendidik anak sebatas pada teori, metode dan tips bagaimana menjadikan pribadi anak sholeh. Belum ada yang mengurai bagaimana membangun lingkungan anak yang mengantarkan mereka menjadi sholeh dan sholehah.

Padahal, sekuat apa pun keluarga mendidik putra-putrinya dengan bekal iman yang mantap tetapi mereka tidak didukung dengan lingkungan yang positif, kemungkinan tergelincir juga tidak kecil. Hal ini bisa dilihat dari alumnus pondok pesantren yang kemudian hijrah ke kota. Sebagian ada yang telah meninggalkan tradisi penting yang bertahun-tahun dibangun selama di pesantren.

Akan tetapi, kita tidak perlu berdebat pada soal mana yang lebih menentukan, keluarga atau lingkungan. Karena secara fakta pendidkan keluarga yang baik akan semakin bagus jika didukung dengan lingkungan yang baik.

Untuk itu, perlu kiranya para orangtua saat ini untuk bersama-sama berpikir bagaimana membangun lingkungan yang kondusif bagi keimanan dan ketakwaan buah hati kita bersama.


Memakmurkan Masjid

Memakmurkan masjid adalah perkara penting. Mari perhatikan firman Allah ini;

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. 9: 18).

Jadi, tidak mengherankan, jika pertama kali bangunan yang didirikan Rasulullah adalah masjid. Dari masjid itulah segenap kegiatan keumatan dijalankan. Mulai dari pendidikan, sosial hingga militer. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga Muslim harus bahu membahu memakmurkan masjid.

Dalam konteks pendidikan anak, keluarga Muslim harus memiliki kepedulian dengan masjid sehingga masjid tidak saja menjadi tanggug jawab pengurus dalam hal pemakmurannya. Tetapi semua keluarga di sekitar masjid ikut andil memakmurkannya. Apalagi, secara lingkungan, semua orangtua butuh anak-anaknya cinta ibadah. Jika masjid tidak dimakmurkan, bagaimana hal itu bisa diwujudkan?


Program yang Menarik

Tentu kita prihatin, hari ini banyak masjid yang kurang berfungsi, kecuali hanya untuk sholat semata. Padahal, masjid bisa menjadi tempat sosialisasi yang terbaik bagi anak-anak, tempat pendidikan yang terbaik bagi mereka, bahkan tempat yang paling menyenangkan untuk buah hati kita semua.

Lantas bagaimana jika ternyata masjid tidak menarik bagi kebanyakan anak-anak Muslim di negeri ini? Di sinilah tugas orangtua. Harus ada komunikasi yang baik antar orangtua dan pengurus masjid untuk membuat anak-anak tertarik dengan masjid.

Misalnya dengan mengadakan program dengar kisah Nabi dan Rasul yang dipercayakan kepada orang yang memiliki kemampuan bercerita yang menarik. Atau belajar Al-Qur’an Hadits, Shirah dan semua pelajaran dan pengetahuan  sesuai dengan minat anak-anak masa kini.  

Jadi, bukan saja anak-anak yang datang ke masjid, sekali waktu perlu ada acara pengajian keluarga dimana anak-anak juga ikut di dalamnya.

Program semacam ini sangat penting bagi keluarga Muslim Indonesia, utamanya untuk mencegah anak-anak salah pergaulan. Di samping juga aman dari berbagai gangguan program-program tidak mendidik dari televisi.

Sungguh keindahan luar biasa jika suatu kampung atau RT yang setiap maghrib sampai isya’ seluruh anak-anak dan orangtuanya asyik mengaji di masjid. Jika itu terjadi, maka secara otomatis anak-anak kita akan mencintai dan memakmurkan masjid. Jika demikian, maka insya Allah hidayah akan tertanam kuat di dalam hati mereka.


Sinergi dengan Sekolah  

Para orangtua juga harus melakukan komunikasi strategis dengan pihak sekolah. Di sekolah biasanya ada musholla atau masjid. Tetapi, sepertinya hal itu sebatas pajangan. Saatnyalah para orang mengusulkan kepada sekolah agar masjid bisa difungsikan. Utamanya untuk sholat berjama’ah, pelajaran agama atau pun dalam proses belajar mengajar itu sendiri.

Dengan demikian, insya Allah kenakalan remaja akan sedikit teredam dan lama kelamaan akan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Sekolah harus membuat masjid dan lingkungan sekitarnya indah dan menarik serta representatif untuk kegiatan belajar mengajar bagi para siswa.

Jam pelajaran pun harus menghormati waktu sholat. Para orangtua harus usul kepada sekolah agar setiap kali adzan dikumandangkan, jam pelajaran bisa dihentikan sementara untuk bersegera sholat berjama’ah. Dengan demikian, religiusitas para siswa bisa tetap terpelihara.

Jadi, mari kta bangun perhatian dan kecintaan kita terhadap masjid. Memakmurkan masjid adalah tanggung jawab setiap Muslim secara ilahiyah. Tetapi itu adalah suatu kebutuhan bagi pendidikan generasi masa depan. Semakin makmur masjid, akan semakin banyak orang ke masjid. Dengan demikian maka secara lingkungan, anak-anak kita akan terjaga iman dan takwanya.

Jadi tunggu apalagi, demi masa depan bangsa dan negara, mari kita bangun lingkungan pendidikan iman dan takwa yang bagus dengan gerakan kembali ke masjid.

Seperti nasehat Sunan Kalijogo dalam satu syair populer yang pernah digubahnya, “Wong kang Sholeh Kumpulono” yang artinya, berkumpullah dengan orang-orang sholeh. Dimana lagi kalau bukan di masjid?*

rol

posted by @Adimin

Masyumi dan Kebijakan Melawan Korupsi (2)

Written By Sjam Deddy on 16 January, 2014 | January 16, 2014



Masyumi dan Kesederhanaan Hidup

Sesungguhnya kita tidak perlu merasa heran dengan sikap para tokoh Masyumi yang anti korupsi. Karena sikap itu telah ditunjukkan oleh paratokohnya dengan kasat mata dalam kesehariannya. Mereka adalah pemimpin yang seringkali dikenal hidup sederhana dan taat beragama. Jika kita menilik kembali pada saat Masyumi beserta tokoh-tokohnya, umumnya kita akan mendapatkan  kesan kehidupan mereka yang jauh dari kemewahan.

Meskipun memegang jabatan tinggi di pemerintahan, hidup mereka tak lekat dengan gelimang harta. Sebut saja kisah kesederhanaan M. Natsir, yang diakui oleh Indonesianis, George McTurnan Kahin.

Nama Natsir dikenal oleh Kahin, lewat H. Agus Salim. Beliau (H. Agus Salim) merekomendasikan nama Natsir sebagai narasumber untuk Republik.

“Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang Menteri. Namun demikian dia adalah seorang yang amat cakap dan penuh kejujuran; jadi kalau anda hendak memahami apa yang sedang terjadi dalam Republik, anda seharusnya bicara dengannya,” jelas H. Agus salim.

Kahin membuktikan dengan matanya sendiri, ia melihat Natsir sebagai Menteri Penerangan, berdinas dengan kemeja bertambal. Sesuatu yang belum pernah Kahin lihat di menteri pemerintahan manapun. Muhammad Natsir. [70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan. (Buku Peringatan Mohammad Natsir / Mohamad Roem 70 Tahun), Pustaka Antara. 1978. Jakarta].

Bahkan ketika menjabat sebagai Perdana Menteri pun, Natsir tak mampu membeli rumah untuk keluarganya. Hidupnya selalu di isi dengan kisah pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya.

Kisah kesederhanaan Natsir terus berlanjut, tahun 1956, ketika telah berhenti menjadi Perdana Menteri dan menjadi pemimpin partai Masyumi, Natsir pernah akan diberikan mobil oleh seseorang dari Medan. Ia ditawari Chevrolet Impala, sebuah mobil ‘wah’, yang sudah diparkir didepan rumahnya. Namun Natsir menolaknya. Padahal saat itu mobil Natsir hanya mobil kusam merek DeSoto
(Politik Santun Diantara Dua Rezim. Majalah Tempo. 20 Juli 2008)

Jabatan yang tinggi menghindarkan mereka dari penyalahgunaan amanah. Hal ini berlaku juga pada Sjafrudin Prawiranegara, seorang tokoh Masyumi yang kental dengan dunia ekonomi. Tahun 1951, setelah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Sjafruddin ingin terjun di sektor swasta. Nafkahnya sebagai menteri, sangat pas-pasan, bahkan kurang.

Bagi menteri Sjafruddin, haram baginya menyalahgunakan kekuasaan, termasuk sambil berbisnis ketika menjabat, atau menerima komisi.Setelah tak menjabat, ketika itu datang tawaran untuk menjadi Presiden De Javasche Bank (kemudian dikenal dengan Bank Indonesia). Tawaran ini diberikan langsung oleh salah seorang direksinya, Paul Spies.

Sjafruddin menolaknya, dengan berbagai alasan, termasuk keinginannya mendapatkan penghasilan lebih. Ia merasa De Javasche Bank, yang akan dinasionalisasi oleh pemerintah, pasti akan turut mengalami penurunan gaji.  Ia merasa keberatan karena harus mendapatkan penghasilan pas-pasan, seperti menjadi menteri dahulu. Namun justru prinsip kejujuran inilah yang dicari oleh Paul Spies. Hingga akhirnya pemerintah menyetujui tak akan menurunkan gajinya. Akhirnya jabatan itu pun diterimanya.

Gejala lain dari hidup para tokoh ini adalah, kondisi mereka serupa saja, baik saat sebelum menjabat, saat menjabat, atau pun setelah menjabat. Tetap sederhana. Hidup mereka hanya mengandalkan gaji saat menjadi pejabat. Hidup para tokoh Masyumi yang sederhana semakin terlihat tatkala mereka ramai-ramai dipenjara oleh rezim Soekarno, tentu saja bukan karena tuduhan korupsi. Tetapi melawan pemerintahan. Ketika masing-masing masuk bui, para istri mereka yang mengambil alih posisi mencari nafkah. Tak ada tabungan, atau harta melimpah yang disimpan suami mereka. Isteri dari Buya Hamka merasakan betul keadaan itu.

Semenjak Buya Hamka di tahan, ia sering berkunjung ke pegadaian. Seringkali perhiasannya tak dapat lagi ditebus.  Nasib serupa dialami Ibu Lily, istri dari Sjafruddin Prawiranegara, hidup menumpang di rumah kerabat danmenjual perhiasan. Rumah mereka yang dibeli dengan mencicil ke De Javasche Bank,  pun turut di sita. 

Kisah-kisah para tokoh Masyumi yang tak punya rumah seringkali terdengar. Setelah bebas dari penjara, Natsir akhirnya bisa memiliki rumah, setelah membeli rumah milik kawannya, itu pun dengan cara mencicil dan meminjam sana-sini.

Begitu pula dengan Boerhanoeddin Harahap, ketika baru bebas, ia hidup menumpang di rumah adiknya yang sempit, di sebuah gang kecil, di Manggarai Selatan. Boerhanoeddin akhirnya memiliki rumah, dengan cara mencicil rumah yang dipinjamkan seseorang di daerah Tebet, Jakarta Selatan.

Teladan hidup sederhana ini menghindarkan mereka dari godaan hidup mewah, dan kemungkinan tuduhan korupsi. Bagaimana mungkin akan dituduh korupsi, jika rumah pun tak punya? Kesadaran tinggi akan amanah dan kesalehan merekalah yang menghindarkan mereka dari gaya hidup mewah yang seringkali memicu korupsi. Mereka lebih memilih hidup sederhana, ketimbang hidup mewah dengan mengumbar berbagai dalil sebagai dalih.

Teringatlah kita akan pesan Buya Hamka bagi para pejabat, untuk menghindai gaya hidup mewah;

“Sejak dari kepala negara sampai kepada menteri-menteri dan pejabat-pejabat tinggi telah ditulari oleh kecurangan korupsi. Sehingga yang berkuasa hidup mewah dan mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri, sedangkan rakyat banyak mati kelaparan, telah kurus-kering badannya.”

Buya pun melanjutkan dengan gamblang, ketika menjelaskan surat Ali Imran ayat 161 ini dalam Tafsir Al Azhar,
“…Nyatalah bahwa komisi yang diterima oleh seorang menteri, karena menandatangani suatu kontrak dengan satu penguasa luarnegeri dalam pembelian barang-barang keperluan menurut rasa halus iman dan Islam adalah korupsi juga namanya. Kita katakana menurut rasa halusiman dan Islam adalah guna jadi pedoman bagi pejabat-pejabat tinggi suatu negara, bahwa lebih baik bersih dari kecurigaan ummat.”

Maka cerminan dari masa lampau tak pernah bisa kita hapuskan jika ingin melangkah. Sebaiknya para pengusung, pendukung dan terutama partai-partai berbendera Islam, mulai memikirkan kembali amanah mereka dan mulai bersikap hidup sederhana, menghempaskan gaya hidup bergelimang harta-dengan berbagai dalih-, seperti yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita.*

sebelumnya masyumi dan korupsi (1)


Oleh: Beggy Rizkiyansyah

Penulis adalah pemerhati masalah sejarah

posted by @Adimin

PKS Siapkan Strategi Perang Jarak Pendek


JAKARTA -- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq mengungkapkan, partainya akan menerapkan strategi 'perang jarak pendek' untuk bisa menang pada Pemilu 2014 terutama dalam menghadapi pemberitaan negatif dari media massa.

"Orang (partai) lain bertempur dalam jarak jauh namun kami (dengan strategi) jarak pendek," kata Mahfudz di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (15/1).

Strategi tersebut, ia gambarkan sebagai strategi yang mengandalkan kesolidan kader dan mesin partainya. Dia mengatakan partainya memiliki sumber daya kader dan mesin partai yang tetap terjaga serta terkonsolidasi. Sumber daya itu menurut dia akan dimaksimalkan dalam menghadapi Pemilu 2014.

Mahfudz menilai survei Pol-Tracking terkait pemberitaan negatif mengaitkan persoalan hukum partainya. Namun menurut dia saat ini PKS sudah masuk wilayah landai setelah mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq divonis pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

"Sebenarnya PKS sudah masuk wilayah landai dengan vonis (Luthfi Hasan) yang sudah diputus meskipun kami melihat vonisnya 'bermasalah'," ujarnya.

Dia mengatakan PKS memiliki waktu tiga bulan untuk meningkatkan elektabilitas partai. Mahfudz mengatakan tiga bulan itu merupakan waktu yang sempit dan sumber daya partai akan digunakan untuk menjalankan misi itu. "Sumber daya kami memiliki cara untuk meningkatkannya," kata Mahfudz.

Dia menegaskan target partainya tetap masuk dalam tiga besar dan kalau pun tidak tercapai minimal memperoleh suara seperti di Pemilu 2009.

Namun Mahfudz menegaskan suara PKS selalu berada di posisi papan tengah dan calon presiden serta calon wakil presiden tidak bisa maju tanpa partai papan tengah.

"Jangan salah, melalui suara dan jumlah kursi PKS di papan tengah, siapapun capres dan cawapres tidak bisa sendiri namun harus bersama partai papan tengah," katanya menegaskan.

Pol-Tracking Institute dalam surveinya menyoroti frekuensi pemberitaan partai politik selama setahun.
Parpol dengan tone pemberitaan paling negatif ditempati Partai Keadilan Sejahtera (23,87 persen), Partai Demokrat (20,53 persen), dan Partai Golkar (19,1 persen).

Pemberitaan negatif kepada empat partai di atas dipicu kasus-kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh partai terkait. Pemberitaan negatif di media tersebut, menurut Poltreking akhirnya sangat berpengaruh terhadap naik turunnya elektabilitas partai politik.

Survei Pol-Tracking dilakukan dengan metode purposive sampling dari pemberitaan politik di 15 media, yang terdiri dari lima cetak (Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, dan Seputar Indonesia), lima media online (Detik.com, Kompas.com, Merdeka.com, Okezone.com, dan Viva.co.id), serta lima televisi (TransTV, SCTV, RCTI, Metro TV, dan Tv One).

Sementara jumlah sampel sebanyak 1200 responden, dilakukan pada 16-23 Desember 2013. Survei itu dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling, 'margin error' kurang lebih 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. [ROL]


posted by @Adimin

Anis Matta: Indonesia Butuh 'Peta Jalan Baru'


JAKARTA -- Indonesia menurut Anis Matta membutuhkan sebuah 'peta jalan baru' yang dapat dilalui semua kelompok.

"Kita tidak perlu 'menjual kecemasan' untuk itu, kita hanya perlu keluar dari diri sendiri menjadi cakrawala bangsa yg lebih luas," kata Presiden PKS itu dalam keterangan tertulis yang diterima ROL, Rabu (15/1).

Karenanya, Anis bertekad kembali merebut kepercayaan publik terhadap PKS yang hancur akibat skandal suap sapi impor di Kementerian Pertanian yang menjerat Luthfi Hasan Ishaaq.

Anis berkata, PKS harus menciptakan pemerintahan yang efektif jika terpilih memimpin Indonesia. Sebab, hingga kini ada generasi baru yang disebut 'native-democrazy' yang aspirasinya patut didengar pemerintah.

"Generasi yang patut didengar obrolan mereka yang mungkin tidak percaya dengan partai politik," ujar mantan wakil ketua DPR dari Fraksi PKS ini.

Buruh dan wirausaha yang sedang bingung dengan masa depannya juga membutuhkan peran pemerintah. Karenanya, Indonesia membutuhkan sebuah 'peta jalan baru' yang dapat dilalui semua kelompok. [ROL]


posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger