Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
January 24, 2014
posted by @Adimin
Sosok Alm KH Sahal Mahfudz di Mata Hidayat Nur Wahid
Written By Anonymous on 24 January, 2014 | January 24, 2014
JAKARTA -- KH Sahal Mahfudh sudah berpulang ke rahmatullah pada Jumat (24/1) pagi. Indonesia merasa kehilangan dengan salah satu tokohnya yang dinilai mencerminkan ulama lintas generasi.
''Ya beliau sosok yang mudah bergaul dengan kaum muda,'' kata anggota Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, Jumat (24/1).
Hidayat mengakui memiliki kesan tersendiri terhadap sikap dan prinsip yang dipegang kuat oleh almarhum. Ia pernah berjumlah dengan almarhum Sahal dalam berbagai ragam kesempatan.
Menurut Hidayat, almarhum Sahal merupakan ulama yang rendah hati, sederhana, berpandangan luas, dan mumpuni di bidang keilmuan fiqih. Almarhum Sahal dianggap sebagai seseorang yang memiliki keteguhan dalam memegang prinsip.
''Tapi yang paling utama, almarhum itu sangat ramah dan sangat peduli dengan masalah keumatan dan kebangsaan. Tapi, akhirnya beliau kembali kepada allah, karena allah cinta beliau, semoga amal baiknya diterima,'' kata dia.
*http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/01/24/mzvo77-sosok-alm-kh-sahal-mahfudz-di-mata-hidayat-nur-wahid
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 23, 2014
Jangan Golput
Written By Sjam Deddy on 23 January, 2014 | January 23, 2014
>
posted by amin
Umat Islam WAJIB memilih Partai Islam.
--------------- atau ------------------------
Umat Islam SUNAH memilih Partai Islam.
--------------- atau ------------------------
# Siapa yang akan memimpin Umat jika Partai Islam
Kalah ???
Serukan Kaum Muslimin Untuk Condong Partai Islam
di Pemilu 2014 Buat sebagian ikhwan kami yang masih NGOTOT GOLPUT kami ingin
bertanya;
Apakah golput menyelesaikan masalah ?
Apakah dengan Golput hasil pemilu akan batal ?
Apakah dengan Golput, Otomatis Syariah Islam akan
tegak ?
Apakah Golput menjadikan Indonesia lebih baik ?
Yang terpenting, Siapa yang bertanggung jawab,
Kalau kita Golput, Negara akan jatuh ke tangan penguasa Sekuler, Anti Islam,
Bahkan mungkin Non Muslim akan memimpin negara ?
Maka jangan kalian rajin mengkritik dan
menyalahkan seorangpun disaat kalian Golput KECUALI diri kalian sendiri.
Lihatlah yang sudah di hasilkan oleh para
pemimpin sekuler: Memerangi Pejuang Islam, Pelegalan miras, Prostitusi,
Narkoba, Korupsi dsb.
Th 2014 adalah tahun penuh dengan kelicikan dan
operasi intelijen. Jangan pernah mudah percaya media sekuler yang berusaha
menyerang dan menjatuhkan Partai Islam. Karena Tidak ada satu Ormas, Harakah
atau Partai Islam yang sempurna dan tidak punya cacat cela.
Hargai perjuangan mereka menurut ijtihadnya. Paling tidak ada perwakilan kaum muslimin di parlemen
ataupun eksekutif meskipun TIDAK MUNGKIN SEMPURNA, Tapi bisa
meringankan perjuangan kita.
Sudah Saatnya menyongsong persatuan ! Sudahi
Perdebatan antar Harakah dan Ormas Islam yang TIDAK AKAN PERNAH DAN TIDAK AKAN
MUNGKIN MENEMUI TITIK TEMU.
Musuh sudah bersatu mendukung KOTAK-KOTAK, Kenapa
kaum muslimin masih bersemangat Ber KOTAK-KOTAK dan Rela di KOTAK-KOTAK ?
Kewajiban kita hanya Berjuang dan TERUS BERJUANG,
Biarkan Kehendak Allah yang memberikan Kita
Kemenangan.
Hadanallah Wa Iyyakum Ajma'iin, Wa waffaqona Ila ma Yuhibbu wa
Yardho. Tetes Darah Dan Peluh HANYALAH untuk ALLAH, Islam dan kaum Muslimin. Sebarkan !!!
posted by amin
Label:
TOPIK PILIHAN,
VID
January 23, 2014
posted by @Adimin
Temui Ical di Bakrie Tower, Anis Matta: Bertemu Supaya Tidak Tegang
JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta hari ini bertandang ke kantor Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie di Bakrie Tower Epicentrum, Jakarta.
Anis yang datang ditemani anggota DPR RI Fahri Hamzah dan rombongan diterima langsung oleh Aburizal dan sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham.
“Ini silaturahim biasa. Saya dulu suka ceramah di kantor beliau, di rumah beliau jadi lama enggak ketemu ngobrol-ngobrol kita. Sambil bicara masalah politik secara umum, karena mau Pemilu supaya kita jangan terlalu tegang mau Pemilu,” ujar Anis saat memberikan keterangan pers bersama Aburizal usai pertemuan, Rabu(22/1/2014).
Anis melanjutkan silaturahmi yang mereka lakukan bermanfaat untuk meredakan ketegangan dalam Pemilu.
“Jadi lebih bagus kita ini mencoba membangun kompetisi yang santai, tidak terlalu tegang, sehingga kita perlu banyak silaturahim. Itu saja intinya,” kata Anis.
Senada dengan Anis, Aburizal juga mengatakan bahwa silaturahmi tersebut untuk menghindari permusuhan akibat ketatnya persaingan.
Ketika ditanya mengenai koalisi pada Pemilu 2014, pria yang akrab disapa Ical tersebut menegaskan peluang itu selalu ada.
“Koalisi selalu bisa, tapi belum bicara kesitu. (Pertemuan tadi) Membicarakan masalah bangsa politik, ya sambil makan-makan. Jangan sampai bersaing terus musuh-musuhan,” ucap Ical santai.
Pertemuan tersebut sendiri berlangsung hampir dua jam dan dilaksanakan secara tertutup. Rencananya, pertemuan serupa juga akan dilaksanakan di masa yang akan datang.
*http://www.anismatta.net/2014/01/22/temui-ical-di-bakrie-tower-anis-matta-bertemu-supaya-tidak-tegang/
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 23, 2014
posted by @Adimin
Resep Hidup Enak Ala Anis Matta
Depok – Anis Matta berbagi resep kehidupan. Yang dibaginya kali ini adalah cara membuat hidup agar lebih enak untuk dijalani. Resep itu dibagikan pada acara Silaturahim Tokoh dan Relawan PKS Se-Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, Senin (20/1), di Hotel Bumi Wiyata (Hall), Depok, Jawa Barat.
“Hidup kita akan jauh lebih enak, kalau banyak orang menjadi saudara kita. Hidup kita semakin susah, kalau banyak orang menjadi musuh kita,” katanya.
Untuk memperbanyak saudara, maka kegiatan silaturahim perlu ditingkatkan. Caranya adalah dengan bertemu langsung dengan masyarakat. Menurut Anis, tidak ada cara yang lebih efektif dari berkomunikasi langsung dengan masyarakat.
Anis, yang saat ini mengemban amanah sebagai presiden PKS, kemudian mengingatkan tentang hakikat kekuasaan. Ia juga meminta kader dan simpatisan PKS terus menciptakan harmoni di masyarakat.
“Kekuasaan itu tidak ada artinya, kecuali ia digunakan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah. Maka janganlah memandang kekuasaan sebagai tujuan akhir yang malah menyebabkan permusuhan. Pandanglah kekuasaan sebagai alat untuk menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan di tengah-tengah masyarakat,” jelas pria kelahiran Makasar 45 tahun yang lalu ini.
Dalam acara yang mengambil tema “Menyambut Gelombang Ketiga Indonesia” ini, hadir juga Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, Wakil Walikota Bekasi Ahmad Saikhu, Sekretaris Jenderal PKS Taufik Ridho, Ketua DPW PKS Jawa Barat Tate Komarudin, Ketua DPD PKS Kota Depok M. Supariyono, dan seluruh anggota legislatif fraksi PKS DPRD Depok. (DLS/MFS)
*http://www.anismatta.net/2014/01/20/resep-hidup-enak-ala-anis-matta/
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 23, 2014
Saat Presiden Menjadi Supir
Depok – Ada kejadian unik usai acara Silaturahim Tokoh dan Relawan PKS Se-Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, Senin (20/1), di Hotel Bumi Wiyata (Hall), Depok, Jawa Barat. Setelah melayani permintaan berfoto bersama dan wawancara, Anis Matta berjalan menuju mobilnya. Tanpa payung, meski malam itu sedang hujan. Beberapa peserta silaturahim terlihat menyejajari langkahnya.
Kehebohan terjadi saat Anis memasuki mobil. Ternyata ia tidak duduk di ruang penumpang, melainkan di ruang kemudi. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyetir mobilnya sendiri.
Tidak ada penjelasan resmi tentang tingkah Anis itu. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fahri Hamzah yang duduk di bangku penumpang, sempat berkelakar, “ini yang di depan sopir, yang di belakang bos nya!”. Sedangkan Anis hanya tersenyum membalas pandangan heran awak media yang meliput. Sambil melambaikan tangan, Anis menginjak pedal gas. Mobil yang ia kemudikan perlahan menuju antrian untuk keluar dari area parkir.
Pada acara yang dihadiri ribuan kader dan simpatisan PKS itu, Anis menekankan pentingnya melayani masyarakat. Ia mengajak seluruh kader dan simpatisan PKS untuk menjadi otak, hati, dan tulang punggung Indonesia. Dalam acara itu, hadir juga Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, Wakil Walikota Bekasi Ahmad Saikhu, Sekretaris Jenderal PKS Taufik Ridho, Ketua DPW PKS Jawa Barat Tate Komarudin, Ketua DPD PKS Kota Depok M. Supariyono, dan seluruh anggota legislatif fraksi PKS DPRD Depok. (DLS/MFS)
*http://www.anismatta.net/2014/01/21/saat-presiden-menjadi-supir/
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
January 22, 2014
Seorang agen dakwah harus bisa menunjukkan wajah Allah yang pengasih dan penyayang
hdy
posted by @Adimin
Berdakwah dengan cinta . . . . . .
Written By Sjam Deddy on 22 January, 2014 | January 22, 2014
Seorang agen dakwah harus bisa menunjukkan wajah Allah yang pengasih dan penyayang
“Kamu! Bisa nggak sih dibilangin. Kamu itu
perempuan. Kenapa sih pulangnya malam? Kan sudah Abang bilang, jangan
lewat Maghrib sampai rumah!,” demikian hardik lelaki itu dengan nada
tinggi pada adik bungsunya.
Lelaki berusia awal 20 tahun itu bersiap mendaratkan pukulan.
Tangannya sudah terangkat siap menampar sembari menahan sedu sedan
emosi.
Di hadapannya meringkuk gadis 11 tahun disudut ruangan. Dengan alasan
Kerja Kelompok bersama teman sekelas, sang adik berjanji pulang sebelum
shalat Maghrib. Ternyata, jam sembilan malam, Ia sampai di rumah.
Dengan suara bergetar, gadis remaja itu berkata: “Kenapa, sih Abang
kasar banget sama aku? Kalau sama binaannya, bisa senyum. Kalau sama
adik sendiri, kasar. Aku ini adik Abang,”tutur gadis itu sembari terisak
penuh cemas dan takut.
Pria itu tertegun. Ucapan sang adik sangat menohoknya. Ia baru
menyadari kekasarannya selama ini. Jika salah seorang adiknya terlihat
akrab dengan lawan jenis, maka ultimatum keras disampaikannya.
Jika ada di antara adik lelakinya tidak shalat berjamaah di masjid,
maka rentetan ayat al Qur’an dibacakannya. Jika Sinetron mampu menarik
perhatian ketimbang mengaji, serta merta hadits bertebaran dalam
ucapannya.
Bertahun-tahun bersikap seperti itu, membuat sosoknya ditakuti. Pria
itu menjelma seperti “polisi syariah” di rumah. Ia dipatuhi karena
ditakuti.
Mengingat itu semua, pelan-pelan tangannya diturunkan. Hatinya galau. Kata-katanya tersendat. Tidak tahu lagi mau bicara apa.
Pria itu tergesa masuk kamar kemudian membanting pintu. Protes adik kecilnya seakan membangunkannya dari tidur panjang.
Selama seminggu, Ia tidak bertegur sapa. Pria yang dituakan oleh adik-adiknya itu, lebih banyak mengurung diri di kamar.
“Saya merenung. Iya ya, kenapa kalau sama binaan, saya bisa berwajah
baik walaupun sebenarnya kesal. Seminggu setelah itu saya minta maaf
pada adik saya,”ujarnya.
Inilah sepenggal kisah Bendri Jaisyurrahman, saat menceritakan
pengalaman nya di depan peserta “Silaturahmi Akbar (Silakbar) Kerohanian
Islam (Rohis) se-Jakarta Timur” di AQL Islamic Center, Jakarta, beberapa
waktu lalu.
Sejak SMU, Bendri sudah menjadi Mentor di Rohis berbagai sekolah di
Jakarta. Di mata anak didiknya, Bendri dikenal sebagai Kakak Mentor yang
ramah dan memahami persoalan remaja. Tapi di depan adik-adik
kandungnya, ia yang tak kenal kompromi dalam urusan agama, justru
dirasakan begitu kasar oleh adiknya.
Dengan cinta
Kesadaran itu membuat aktivis Yayasan Sahabat Ayah itu menyesal. Demi
menebus kesalahannya sebelumnya, Bendri berbanting setir dalam
mem- praktikkan dakwah. Pernah ia mengajak adik kecilnya menonton
“Petualangan Sherina”, film yang saat itu sedang ramai diputar di
bioskop. Sejak itu ia juga berusaha lebih dekat dengan adik-adiknya.
“Semua saya lakukan tanpa mengeluarkan ayat-ayat al-Qur’an satu pun,”ujarnya.
Ia ingin agar kedekatan dengan sang adik terbangun. Sampai akhirnya
adiknya merasa nyaman untuk bercerita, barulah Ia giring untuk menaati
Allah dan Rasulnya.
“Bang, besok kan aku ulang tahun. Aku mau deh, kalo Abang beliin
gamis yang dipakai sama teman-teman Abang waktu Abang ceramah,”ucap
Mardiyah Wafa Syahidah, adik bungsu yang kemudian beranjak remaja.
Bendri tidak menyangka di usianya yang masih belia, 14 tahun, adiknya punya keinginan berabaya.
Sejak menerima kado dari sang kakak, dalam setiap kesempatan, gadis manis itu mengenakan abaya atas kesadaran sendiri.
Berdakwah dengan cinta menjadi prinsip Bendri sejak itu. Ia menyadari
akan lebih mudah menggiring seseorang menuju cahaya Islam ketika
pikirannya sudah terikat.
Selulus SMU, Mardhiyah mengaku siap menikah. Pada Bendri, Ia mempercayakan proses ta’arufnya.
“Semua pernikahan adik-adik saya, saya yang mencarikan calonnya. Mereka percaya pada saya,”ucapnya.
Mardhiyah menjadi satu-satunya mahasiswa Sastra Arab UI yang telah menikah dan memiliki anak ketika awal perkuliahan.
Mahasiswa lulusan terbaik Sastra Arab UI, 2011, itu menyebut nama Bendri pada kata sambutan dalam wisudanya.
“Abang adalah orang yang pertama kali mengenalkan Islam dengan penuh cinta,”ungkapnya penuh haru di depan ratusan mahasiswa.
Bendri menjelaskan, seorang agen dakwah harus bisa menunjukkan wajah Allah yang pengasih dan penyayang.
“Jika hanya kekerasan yang ditampilkan, maka objek dakwah kita
menafsirkan Islam sebagai agama yang galak,”tutur alumni STID DI Al
Hikmah dan Ma’had Utsman Bin Affan, Jakarta itu.
Pria yang banyak mengisi kajian keislaman remaja tersebut
mengungkapkan ada dua kemungkinan respon yang ditunjukkan objek dakwah
jika cara penyampaian nasihat tidak memperhatikan unsur fight or flight (melawan atau kabur).
Contohnya ketika anak-anak bercengkrama di masjid. Mereka seringkali
ditolak, diusir dari Masjid karena dianggap bikin berisik, tidak nyaman,
merasa dianggap ‘warga kelas dua’.
“Berbeda dengan penjaga Warnet, PS, atau Game Online yang selalu
ramah dengan anak-anak. Anak-anak ditanya kabar hari itu dan
dipersilahkan main dengan senang hati,”ungkapnya.
Hasilnya, masjid dipandang sebagai lokasi angker sedangkan lokasi PS dan game online sebagai rumah kedua mereka
hdy
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH,
TOPIK PILIHAN
January 21, 2014
rol
posted by @Adimin
Dari Masjid Kita Selamatkan Anak-anak Kita!
Written By Sjam Deddy on 21 January, 2014 | January 21, 2014
Tentu kita prihatin, hari ini banyak masjid yang kurang berfungsi,
kecuali hanya untuk sholat semata. Padahal, masjid bisa menjadi tempat
sosialisasi yang terbaik bagi anak-anak
“ANAK-ANAK kaum Muslimin berada dalam bahaya,” ucap seorang ibu dalam sebuah perbincangan ringan usai acara talk show di Depok Jawa Barat.
Seorang ibu yang lainnya pun
penasaran, “Bahaya gimana bu?” Ibu yang memulai pembicaraan itu pun
menjawab, “Lihat saja anak sekarang, baca Qur’an kurang, sholat masih
sulit ditegakkan, ke masjid apalagi. Akhirnya, habis maghrib anak-anak
pada asyik nonton TV,” jelasnya dengan mimik serius.*
***
Kegelisahan ibu tadi memang
layak kita renungkan. Terlebih jika melihat perkembangan zaman yang kian
kurang kondusif bagi terpeliharanya iman pada anak-anak kita.
Selama ini, banyak ulasan
tentang mendidik anak sebatas pada teori, metode dan tips bagaimana
menjadikan pribadi anak sholeh. Belum ada yang mengurai bagaimana
membangun lingkungan anak yang mengantarkan mereka menjadi sholeh dan
sholehah.
Padahal, sekuat apa pun keluarga
mendidik putra-putrinya dengan bekal iman yang mantap tetapi mereka
tidak didukung dengan lingkungan yang positif, kemungkinan tergelincir
juga tidak kecil. Hal ini bisa dilihat dari alumnus pondok pesantren
yang kemudian hijrah ke kota. Sebagian ada yang telah meninggalkan
tradisi penting yang bertahun-tahun dibangun selama di pesantren.
Akan tetapi, kita tidak perlu
berdebat pada soal mana yang lebih menentukan, keluarga atau lingkungan.
Karena secara fakta pendidkan keluarga yang baik akan semakin bagus
jika didukung dengan lingkungan yang baik.
Untuk itu, perlu kiranya para
orangtua saat ini untuk bersama-sama berpikir bagaimana membangun
lingkungan yang kondusif bagi keimanan dan ketakwaan buah hati kita
bersama.
Memakmurkan Masjid
Memakmurkan masjid adalah perkara penting. Mari perhatikan firman Allah ini;
إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ
فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan
masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari
kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak
takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang
yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. 9: 18).
Jadi, tidak mengherankan, jika
pertama kali bangunan yang didirikan Rasulullah adalah masjid. Dari
masjid itulah segenap kegiatan keumatan dijalankan. Mulai dari
pendidikan, sosial hingga militer. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga
Muslim harus bahu membahu memakmurkan masjid.
Dalam konteks pendidikan anak,
keluarga Muslim harus memiliki kepedulian dengan masjid sehingga masjid
tidak saja menjadi tanggug jawab pengurus dalam hal pemakmurannya.
Tetapi semua keluarga di sekitar masjid ikut andil memakmurkannya.
Apalagi, secara lingkungan, semua orangtua butuh anak-anaknya cinta
ibadah. Jika masjid tidak dimakmurkan, bagaimana hal itu bisa
diwujudkan?
Program yang Menarik
Tentu kita prihatin, hari ini
banyak masjid yang kurang berfungsi, kecuali hanya untuk sholat semata.
Padahal, masjid bisa menjadi tempat sosialisasi yang terbaik bagi
anak-anak, tempat pendidikan yang terbaik bagi mereka, bahkan tempat
yang paling menyenangkan untuk buah hati kita semua.
Lantas bagaimana jika ternyata
masjid tidak menarik bagi kebanyakan anak-anak Muslim di negeri ini? Di
sinilah tugas orangtua. Harus ada komunikasi yang baik antar orangtua
dan pengurus masjid untuk membuat anak-anak tertarik dengan masjid.
Misalnya dengan mengadakan
program dengar kisah Nabi dan Rasul yang dipercayakan kepada orang yang
memiliki kemampuan bercerita yang menarik. Atau belajar Al-Qur’an
Hadits, Shirah dan semua pelajaran dan pengetahuan sesuai dengan minat anak-anak masa kini.
Jadi, bukan saja anak-anak yang
datang ke masjid, sekali waktu perlu ada acara pengajian keluarga dimana
anak-anak juga ikut di dalamnya.
Program semacam ini sangat
penting bagi keluarga Muslim Indonesia, utamanya untuk mencegah
anak-anak salah pergaulan. Di samping juga aman dari berbagai gangguan
program-program tidak mendidik dari televisi.
Sungguh keindahan luar biasa
jika suatu kampung atau RT yang setiap maghrib sampai isya’ seluruh
anak-anak dan orangtuanya asyik mengaji di masjid. Jika itu terjadi,
maka secara otomatis anak-anak kita akan mencintai dan memakmurkan
masjid. Jika demikian, maka insya Allah hidayah akan tertanam kuat di
dalam hati mereka.
Sinergi dengan Sekolah
Para orangtua juga harus
melakukan komunikasi strategis dengan pihak sekolah. Di sekolah biasanya
ada musholla atau masjid. Tetapi, sepertinya hal itu sebatas pajangan.
Saatnyalah para orang mengusulkan kepada sekolah agar masjid bisa
difungsikan. Utamanya untuk sholat berjama’ah, pelajaran agama atau pun
dalam proses belajar mengajar itu sendiri.
Dengan demikian, insya Allah
kenakalan remaja akan sedikit teredam dan lama kelamaan akan bisa
diminimalisir bahkan dihilangkan. Sekolah harus membuat masjid dan
lingkungan sekitarnya indah dan menarik serta representatif untuk
kegiatan belajar mengajar bagi para siswa.
Jam pelajaran pun harus
menghormati waktu sholat. Para orangtua harus usul kepada sekolah agar
setiap kali adzan dikumandangkan, jam pelajaran bisa dihentikan
sementara untuk bersegera sholat berjama’ah. Dengan demikian,
religiusitas para siswa bisa tetap terpelihara.
Jadi, mari kta bangun perhatian
dan kecintaan kita terhadap masjid. Memakmurkan masjid adalah tanggung
jawab setiap Muslim secara ilahiyah. Tetapi itu adalah suatu kebutuhan
bagi pendidikan generasi masa depan. Semakin makmur masjid, akan semakin
banyak orang ke masjid. Dengan demikian maka secara lingkungan,
anak-anak kita akan terjaga iman dan takwanya.
Jadi tunggu apalagi, demi masa
depan bangsa dan negara, mari kita bangun lingkungan pendidikan iman dan
takwa yang bagus dengan gerakan kembali ke masjid.
Seperti nasehat Sunan Kalijogo dalam satu syair populer yang pernah digubahnya, “Wong kang Sholeh Kumpulono” yang artinya, berkumpullah dengan orang-orang sholeh. Dimana lagi kalau bukan di masjid?*
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
January 16, 2014
sebelumnya masyumi dan korupsi (1)
Oleh: Beggy Rizkiyansyah
Penulis adalah pemerhati masalah sejarah
posted by @Adimin
Masyumi dan Kebijakan Melawan Korupsi (2)
Written By Sjam Deddy on 16 January, 2014 | January 16, 2014
Masyumi dan Kesederhanaan Hidup
Sesungguhnya kita tidak perlu merasa heran dengan sikap para tokoh
Masyumi yang anti korupsi. Karena sikap itu telah ditunjukkan oleh
paratokohnya dengan kasat mata dalam kesehariannya. Mereka adalah
pemimpin yang seringkali dikenal hidup sederhana dan taat beragama. Jika
kita menilik kembali pada saat Masyumi beserta tokoh-tokohnya, umumnya
kita akan mendapatkan kesan kehidupan mereka yang jauh dari kemewahan.
Meskipun memegang jabatan tinggi di pemerintahan, hidup mereka tak
lekat dengan gelimang harta. Sebut saja kisah kesederhanaan M. Natsir,
yang diakui oleh Indonesianis, George McTurnan Kahin.
Nama Natsir dikenal oleh Kahin, lewat H. Agus Salim. Beliau (H. Agus
Salim) merekomendasikan nama Natsir sebagai narasumber untuk Republik.
“Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang Menteri. Namun demikian
dia adalah seorang yang amat cakap dan penuh kejujuran; jadi kalau anda
hendak memahami apa yang sedang terjadi dalam Republik, anda seharusnya
bicara dengannya,” jelas H. Agus salim.
Kahin membuktikan dengan matanya sendiri, ia melihat Natsir sebagai
Menteri Penerangan, berdinas dengan kemeja bertambal. Sesuatu yang belum
pernah Kahin lihat di menteri pemerintahan manapun. Muhammad Natsir. [70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan. (Buku Peringatan Mohammad Natsir / Mohamad Roem 70 Tahun), Pustaka Antara. 1978. Jakarta].
Bahkan ketika menjabat sebagai Perdana Menteri pun, Natsir tak mampu
membeli rumah untuk keluarganya. Hidupnya selalu di isi dengan kisah
pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya.
Kisah kesederhanaan Natsir terus berlanjut, tahun 1956, ketika telah
berhenti menjadi Perdana Menteri dan menjadi pemimpin partai Masyumi,
Natsir pernah akan diberikan mobil oleh seseorang dari Medan. Ia
ditawari Chevrolet Impala, sebuah mobil ‘wah’, yang sudah diparkir
didepan rumahnya. Namun Natsir menolaknya. Padahal saat itu mobil Natsir
hanya mobil kusam merek DeSoto.
(Politik Santun Diantara Dua Rezim. Majalah Tempo. 20 Juli 2008)
Jabatan yang tinggi menghindarkan mereka dari penyalahgunaan amanah.
Hal ini berlaku juga pada Sjafrudin Prawiranegara, seorang tokoh Masyumi
yang kental dengan dunia ekonomi. Tahun 1951, setelah menjabat sebagai
Menteri Keuangan, Sjafruddin ingin terjun di sektor swasta. Nafkahnya
sebagai menteri, sangat pas-pasan, bahkan kurang.
Bagi menteri Sjafruddin, haram baginya menyalahgunakan kekuasaan,
termasuk sambil berbisnis ketika menjabat, atau menerima komisi.Setelah
tak menjabat, ketika itu datang tawaran untuk menjadi Presiden De Javasche Bank (kemudian dikenal dengan Bank Indonesia). Tawaran ini diberikan langsung oleh salah seorang direksinya, Paul Spies.
Sjafruddin menolaknya, dengan berbagai alasan, termasuk keinginannya mendapatkan penghasilan lebih. Ia merasa De Javasche Bank,
yang akan dinasionalisasi oleh pemerintah, pasti akan turut mengalami
penurunan gaji. Ia merasa keberatan karena harus mendapatkan
penghasilan pas-pasan, seperti menjadi menteri dahulu. Namun justru
prinsip kejujuran inilah yang dicari oleh Paul Spies. Hingga akhirnya
pemerintah menyetujui tak akan menurunkan gajinya. Akhirnya jabatan itu
pun diterimanya.
Gejala lain dari hidup para tokoh ini adalah, kondisi mereka serupa
saja, baik saat sebelum menjabat, saat menjabat, atau pun setelah
menjabat. Tetap sederhana. Hidup mereka hanya mengandalkan gaji saat
menjadi pejabat. Hidup para tokoh Masyumi yang sederhana semakin
terlihat tatkala mereka ramai-ramai dipenjara oleh rezim Soekarno, tentu
saja bukan karena tuduhan korupsi. Tetapi melawan pemerintahan. Ketika
masing-masing masuk bui, para istri mereka yang mengambil alih posisi
mencari nafkah. Tak ada tabungan, atau harta melimpah yang disimpan
suami mereka. Isteri dari Buya Hamka merasakan betul keadaan itu.
Semenjak Buya Hamka di tahan, ia sering berkunjung ke pegadaian.
Seringkali perhiasannya tak dapat lagi ditebus. Nasib serupa dialami
Ibu Lily, istri dari Sjafruddin Prawiranegara, hidup menumpang di rumah
kerabat danmenjual perhiasan. Rumah mereka yang dibeli dengan mencicil
ke De Javasche Bank, pun turut di sita.
Kisah-kisah para tokoh Masyumi yang tak punya rumah seringkali
terdengar. Setelah bebas dari penjara, Natsir akhirnya bisa memiliki
rumah, setelah membeli rumah milik kawannya, itu pun dengan cara
mencicil dan meminjam sana-sini.
Begitu pula dengan Boerhanoeddin Harahap, ketika baru bebas, ia hidup
menumpang di rumah adiknya yang sempit, di sebuah gang kecil, di
Manggarai Selatan. Boerhanoeddin akhirnya memiliki rumah, dengan cara
mencicil rumah yang dipinjamkan seseorang di daerah Tebet, Jakarta
Selatan.
Teladan hidup sederhana ini menghindarkan mereka dari godaan hidup
mewah, dan kemungkinan tuduhan korupsi. Bagaimana mungkin akan dituduh
korupsi, jika rumah pun tak punya? Kesadaran tinggi akan amanah dan
kesalehan merekalah yang menghindarkan mereka dari gaya hidup mewah yang
seringkali memicu korupsi. Mereka lebih memilih hidup sederhana,
ketimbang hidup mewah dengan mengumbar berbagai dalil sebagai dalih.
Teringatlah kita akan pesan Buya Hamka bagi para pejabat, untuk menghindai gaya hidup mewah;
“Sejak dari kepala negara sampai kepada
menteri-menteri dan pejabat-pejabat tinggi telah ditulari oleh
kecurangan korupsi. Sehingga yang berkuasa hidup mewah dan mengumpulkan
kekayaan untuk diri sendiri, sedangkan rakyat banyak mati kelaparan,
telah kurus-kering badannya.”
Buya pun melanjutkan dengan gamblang, ketika menjelaskan surat Ali Imran ayat 161 ini dalam Tafsir Al Azhar,
“…Nyatalah bahwa komisi yang diterima oleh
seorang menteri, karena menandatangani suatu kontrak dengan satu
penguasa luarnegeri dalam pembelian barang-barang keperluan menurut rasa
halus iman dan Islam adalah korupsi juga namanya. Kita katakana menurut
rasa halusiman dan Islam adalah guna jadi pedoman bagi pejabat-pejabat
tinggi suatu negara, bahwa lebih baik bersih dari kecurigaan ummat.”
Maka cerminan dari masa lampau tak pernah bisa kita hapuskan jika
ingin melangkah. Sebaiknya para pengusung, pendukung dan terutama
partai-partai berbendera Islam, mulai memikirkan kembali amanah mereka
dan mulai bersikap hidup sederhana, menghempaskan gaya hidup bergelimang
harta-dengan berbagai dalih-, seperti yang telah ditunjukkan oleh para
pendahulu kita.*
sebelumnya masyumi dan korupsi (1)
Oleh: Beggy Rizkiyansyah
Penulis adalah pemerhati masalah sejarah
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
Sejarah,
TOPIK PILIHAN
January 16, 2014
posted by @Adimin
PKS Siapkan Strategi Perang Jarak Pendek
JAKARTA -- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq mengungkapkan, partainya akan menerapkan strategi 'perang jarak pendek' untuk bisa menang pada Pemilu 2014 terutama dalam menghadapi pemberitaan negatif dari media massa.
"Orang (partai) lain bertempur dalam jarak jauh namun kami (dengan strategi) jarak pendek," kata Mahfudz di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (15/1).
Strategi tersebut, ia gambarkan sebagai strategi yang mengandalkan kesolidan kader dan mesin partainya. Dia mengatakan partainya memiliki sumber daya kader dan mesin partai yang tetap terjaga serta terkonsolidasi. Sumber daya itu menurut dia akan dimaksimalkan dalam menghadapi Pemilu 2014.
Mahfudz menilai survei Pol-Tracking terkait pemberitaan negatif mengaitkan persoalan hukum partainya. Namun menurut dia saat ini PKS sudah masuk wilayah landai setelah mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq divonis pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.
"Sebenarnya PKS sudah masuk wilayah landai dengan vonis (Luthfi Hasan) yang sudah diputus meskipun kami melihat vonisnya 'bermasalah'," ujarnya.
Dia mengatakan PKS memiliki waktu tiga bulan untuk meningkatkan elektabilitas partai. Mahfudz mengatakan tiga bulan itu merupakan waktu yang sempit dan sumber daya partai akan digunakan untuk menjalankan misi itu. "Sumber daya kami memiliki cara untuk meningkatkannya," kata Mahfudz.
Dia menegaskan target partainya tetap masuk dalam tiga besar dan kalau pun tidak tercapai minimal memperoleh suara seperti di Pemilu 2009.
Namun Mahfudz menegaskan suara PKS selalu berada di posisi papan tengah dan calon presiden serta calon wakil presiden tidak bisa maju tanpa partai papan tengah.
"Jangan salah, melalui suara dan jumlah kursi PKS di papan tengah, siapapun capres dan cawapres tidak bisa sendiri namun harus bersama partai papan tengah," katanya menegaskan.
Pol-Tracking Institute dalam surveinya menyoroti frekuensi pemberitaan partai politik selama setahun.
Parpol dengan tone pemberitaan paling negatif ditempati Partai Keadilan Sejahtera (23,87 persen), Partai Demokrat (20,53 persen), dan Partai Golkar (19,1 persen).
Pemberitaan negatif kepada empat partai di atas dipicu kasus-kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh partai terkait. Pemberitaan negatif di media tersebut, menurut Poltreking akhirnya sangat berpengaruh terhadap naik turunnya elektabilitas partai politik.
Survei Pol-Tracking dilakukan dengan metode purposive sampling dari pemberitaan politik di 15 media, yang terdiri dari lima cetak (Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, dan Seputar Indonesia), lima media online (Detik.com, Kompas.com, Merdeka.com, Okezone.com, dan Viva.co.id), serta lima televisi (TransTV, SCTV, RCTI, Metro TV, dan Tv One).
Sementara jumlah sampel sebanyak 1200 responden, dilakukan pada 16-23 Desember 2013. Survei itu dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling, 'margin error' kurang lebih 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. [ROL]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
January 16, 2014
posted by @Adimin
Anis Matta: Indonesia Butuh 'Peta Jalan Baru'
JAKARTA -- Indonesia menurut Anis Matta membutuhkan sebuah 'peta jalan baru' yang dapat dilalui semua kelompok.
"Kita tidak perlu 'menjual kecemasan' untuk itu, kita hanya perlu keluar dari diri sendiri menjadi cakrawala bangsa yg lebih luas," kata Presiden PKS itu dalam keterangan tertulis yang diterima ROL, Rabu (15/1).
Karenanya, Anis bertekad kembali merebut kepercayaan publik terhadap PKS yang hancur akibat skandal suap sapi impor di Kementerian Pertanian yang menjerat Luthfi Hasan Ishaaq.
Anis berkata, PKS harus menciptakan pemerintahan yang efektif jika terpilih memimpin Indonesia. Sebab, hingga kini ada generasi baru yang disebut 'native-democrazy' yang aspirasinya patut didengar pemerintah.
"Generasi yang patut didengar obrolan mereka yang mungkin tidak percaya dengan partai politik," ujar mantan wakil ketua DPR dari Fraksi PKS ini.
Buruh dan wirausaha yang sedang bingung dengan masa depannya juga membutuhkan peran pemerintah. Karenanya, Indonesia membutuhkan sebuah 'peta jalan baru' yang dapat dilalui semua kelompok. [ROL]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN








