pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Abdul Ghani Kasuba Ingin Malut Maju dan Bersaing Lewat Sektor Pariwisata

Written By Anonymous on 05 May, 2014 | May 05, 2014

Ternate (4/5) - Gubernur Maluku Utara terpilih Abdul Ghani Kasuba bertekad memajukan Maluku Utara (Malut) dan menjadikannya sebagai provinsi yang bersaing dengan provinsi lainnya, terutama dengN memanfaatkan potensi yang ada di Malut. Menurutnya kondisi alam provinsi hasil pemekaran dari Provinsi Maluku ini, yang berupa gugusan pulau, adalah potensi utama untuk memajukan Malut.

Ditemui di kediamannya yang sederhana di Kota Ternate, Abdul Ghani menyatakan, pulau-pulau dan perairan di Maluku Utara menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. "Hasil laut, pariwisata, dan juga pertanian akan menjadi primadona bagi Provinsi Tanah Manise," ujar Abdul Ghani.

Sesaat sebelum berangkat untuk gladi resik pelantikan di Sofifi, Ibukota Maluku Utara, Abdul Ghani menyatakan keyakinannya akan potensi pariwisata Maluku Utara yang akan berkembang dengan pesat. "Keindahan alam pulau-pulau di Malut, baik di pantai dan di bawah laut, sangat menakjubkan. Sangat cocok untuk didatangi wisatawan dalam maupun luar negeri," selorohnya.

Keyakinannya tersebut berdasarkan pada kondisi infrastruktur dan transportasi yang menunjang. Dia menunjukkan jadwal penerbangan yang langsung dari Jakarta, maupun lewat kota lain, sudah semakin sering. "Para wisatawan tidak usah khawatir, transportasi darat dan laut sudah sangat baik di Malut ini," tuturnya.

Rencananya, Abdul Ghani Kasuba dan Muhammad Natsir Thaib akan dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Senin (5/5) besok dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Maluku Utara di Sofifi.

Turut hadir sebagai undangan dalam pelantikan tersebut adalah Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hilmi Aminuddin, Sekretaris Jenderal PKS Taufik Ridho, beberapa Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS seperti Hidayat Nur Wahid, Ma'mur Hasanuddin, Mohamad Kasman Renwarin, sertabeberapa fungsionaris DPP lainnya. [pks.or.id]


posted by @Adimin

Kalau Ada Cobaan, Kita di Jalan yang Benar [Kisah Abdul Ghani Kasuba bagian terakhir]



Mengetahui laporan tim AGK-Manthab diintimidasi di Pulau Taliabu, Polisi dan TNI kemudian mengerahkan pengamanan kepada tim tersebut. Dengan kapal perang berlabuh di pesisir Pulau Taliabu, teror terhadap mereka berhenti.

Abdul Ghani sempat diajak oleh Polri dan TNI untuk berlindung ke Luwuk di Sulawesi Tengah yang hanya berjarak dua jam dengan speed boat, namun dia menolaknya “Jenderal harus di depan, anak buah harus di belakang. Terpaksa Kapolda minta Brimob yang kawal saya sampai hari Senin, Selasa, Rabu. Rabu sudah terkumpul semua form C1 itu baru saya sore itu meluncur ke Luwuk,” ungkap Abdul Ghani. Setelah melalui berbagai perjuangan dalam mengawasi langsung pemungutan suara, kini Abdul Ghani Kasuba, Muhammad Natsir Thaib, serta seluruh tim dapat bersyukur.

“Kalau kita menjalankan dakwah tidak difitnah, kita kembali ke belakang. Kau periksa dulu kau punya niat. Mungkin niat kau sudah terlalu sempit sehingga bajalan seakan-akan tidak ada halangan. Ketika kau dapatkan tantangan, dapatkan cobaan yang berat, kau harus yakin jalanmu sudah benar. Sepeti ketika saya diusir, dilempar ketika masuk ke sebuah desa. Ketika saya diperlakukan seperti itu, saya yakin saya akan mendapat jalan dan pertolongan untuk jadi Gubernur,” kenang Abdul Ghani.[pks.or.id]


posted by @Adimin

Ajak Istri untuk Berani [Kisah Abdul Ghani Kasuba bagian 4]



Berbeda kepulauan, Abdul Ghani bersama tim saksi dan advokasi PKS juga harus memastikan pilkada dilaksanakan dengan jujur di Kabupaten Pulau Taliabu. Dia dan tim saat itu harus mengawasi bahwa Pemungutan Suara Ulang (PSU) dapat dilaksanakan dengan jujur dan benar, tidak seperti pada pemungutan suara sebelumnya di wilayah ini. Di Pulau Taliabu, Abdul Ghani merasakan perjuangan sesungguhnya dalam mengawasi pemilu.

Dia dan istri tinggal di salah satu rumah warga di Pulau Taliabu yang hampir setiap malam dilempari batu. Istrinya mengaku takut dengan intimidasi rutin tersebut. Abdul Ghani kemudian memberi dukungan kepada istrinya untuk tidak takut dengan ancaman tersebut, “Kamu jadi Ibu Gubernur itu jangan panako (penakut). Kalau mau jadi Ibu Gubernur itu harus berani. Kalau tidak berani, kita orang pulang saja, tidak usah berhadapan Pemilu.” [pks.or.id]


posted by @Adimin

Menang Berkat Data Lengkap [Kisah Abdul Ghani Kasuba bagian 3]


Meskipun Abdul Ghani dapat lolos ke Senayan pada 2004, pengalaman berbeda dialaminya ketika diberi amanah oleh PKS untuk menjadi Calon Gubernur Maluku Utara pada 2013 lalu. Dipasangkan bersama Muhammad Natsir Thaib, Abdul Ghani menggunakan singkatan nama AGK-Manthab.

Pada Pilkada Putaran Pertama, tidak ada pasangan kandidat yang dapat mencapai 30 persen suara, sehingga harus ada Pilkada Putaran Kedua. Pada putaran kedua ini, AGK-Manthab menang setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Maluku Utara melakukan pelanggaran dengan mengesahkan hasil perolehan suara di delapan kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sula yang mengandung kecurangan.

"Sangat melelahkan. Rival mempunyai dukungan yang luar biasa di wilayahnya, namun kita lewati dengan baik, akhirnya keluar keputusan itu. Saya juga melihat memang mereka partai besar dan memiliki dana besar. Saya apa adanya menyerahkan data yang cukup lengkap ke MK," kenang Abdul Ghani saat menceritakan kemenangan gugatannya di MK adalah berkat data-data yang lengkap dari Kabupaten Kepulauan Sula. [pks.or.id]


posted by @Adimin

Menjadi Muallaf dalam Politik [Kisah Abdul Ghani Kasuba bagian 2]



Aktivitas Abdul Ghani dalam bidang pendidikan menarik perhatian Partai Keadilan. Kontribusinya dalam bidang dakwah membuat Partai Dakwah mengajaknya untuk ikut serta dalam Pemilu Legislatif 2004 sebagai calon anggota parlemen.

“Waktu itu saya merasa disebut muallaf dalam perpolitikan. Saya tidak dianggap (berpotensi). Yang pertama karena tidak banyak uang, kemudian tidak tahu lika-liku politik,” ungkapnya ketika mengingat pencalonannya sebagai calon anggota DPR RI dari Maluku Utara.

Di luar dugaan, ternyata masyarakat Maluku Utara memberikan amanah kepada Abdul Ghani untuk menjadi wakil mereka di Senayan. Kontribusinya sebagai pendakwah di daerah-daerah di Maluku Utara membuatnya menjadi wakil rakyat, meski dia tidak punya banyak dana saat itu.

“Jadi selalu saya punya patokan, yaitu kerja. Jangan tanya uang dulu. Bekerja dulu. Uang pasti kejar dari belakang. Itu tekad saya sampai berani mencalonkan diri menjadi wakil DPR,” ungkap senior dari Hidayat Nur Wahid di Islamic University of al-Madinah al-Munawarah ini. [pks.or.id]


posted by @Adimin

Kisah Abdul Ghani Kasuba: Dari Ulama hingga Gubernur [bagian 1]



Tidak semua orang bisa menjadi ulama sekaligus menjadi politisi dengan performa atau kinerja yang baik. Memulai perjalanan di dunia politik secara tidak disengaja, Kiai Haji Abdul Ghani Kasuba adalah ulama yang berhasil membuktikan diri sebagai politisi yang amanah.

Perjuangan Abdul Ghani dalam bidang politik untuk memajukan rakyat Maluku Utara sebenarnya mendapatkan dukungan rakyat, namun praktik curang saat pemungutan suara membuatnya harus berjuang. Dia bersama tim harus memastikan Pilkada Putaran Kedua Maluku Utara dapat berlangsung jujur dan benar untuk dapat menjaga suara-suara yang mendukungnya. Setelah memenangi gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK), Abdul Ghani yang akan dilantik pada Senin, 5 Mei ini dapat bersyukur.

Sebelum merantau untuk menuntut ilmu ke Kota Nabi, Abdul Ghani belajar di sekolah Islami yang didirikan oleh Yayasan Al-Khairat. Pendidikannya sejak Sekolah Dasar (SD) di Madrasah Diniyah Amaliyah (MDA) Al-Khairat hingga Madrasah Mualimin Al-Khairat (setingkat SMA) membuatnya punya dasar yang mumpuni dalam pendidikan Islam, sehingga dia melanjutkan pendidikan tinggi ke Islamic University of al-Madinah al-Munawarah.

Sepulangnya dari Madinah, Abdul Ghani mengabdikan diri kepada Yayasan Al-Khairat tersebut sebagai Kepala Inspeksi. Selama 25 tahun dia mendirikan sekolah-sekolah di berbagai daerah terpencil dari Maluku Utara hingga Papua, sekaligus menerapkan ilmu yang dipelajarinya di Fakultas Dakwah saat di Madinah. [pks.or.id]


posted by @Adimin

Gerindra: Kami Setuju Platform PKS 99 Persen

 
Komunikasi Partai Gerindra dengan PKS makin intensif untuk membentuk koalisi di pilpres. Waketum Gerindra Fadli Zon mengisyaratkan kemungkinan koalisi dengan PKS makin dekat.

"Kalau sama PKS sudah ada silaturahmi dua hari lalu, soal latar belakang dan platform mereka itu saya setuju 99 persen saya setuju," ujar Fadli di sela-sela rilis survei SMRC tentang 'Koalisi Untuk Calon Presiden: Elite vs Massa Pemilih Partai' di Hotel Sari Pan Pasific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (4/5/2014).

Fadli mengatakan Gerindra terbuka dengan kandidat capres dari PKS seperti HNW, Anis Matta dan Ahmad Herywan. "Dengan tiga kandidat yang diajukan PKS seperti HNW, Anis Matta, dan Aher pun tidak ada masalah," tuturnya.

Bahkan ketiga nama capres PKS itu disebut Fadli cukup memenuhi kriteria pendamping Prabowo. Namun memang saat ini keputusan mengenai koalisi masih belum ditentukan.

"Kalau dengan PKS saja sebenarnya kita sudah cukup kok, dengan PAN juga sudah cukup, apalagi dengan semuanya. Bisa lebih cukup lagi," imbuh Fadli.

Sementara soal penjakakan koalisi dengan PPP, Fadli mengatakan Gerindra tetap optimis bahwa PPP akan kembali mendukung Gerindra setelah Rapimnas.

"Dengan PPP kita juga tetap optimis. Mereka kan kemarin itu sudah islah, jadi ya kita hormati keputusan itu. Kita tak merasa dikhianati kok," pungkas Fadli.[detik/pksnongsa]


posted by @Adimin

ODOJ Pecahkan Rekor Dunia

Written By Sjam Deddy on 04 May, 2014 | May 04, 2014


Komunitas One day One Juz (ODOJ) hari ini, Ahad (4/5) menyelenggarakan Grand Launching komunitas tersebut di Masjid Istiqlal, Jakarta. Lebih dari 30.000 anggota ODOJ atau yang akrab disapa ODOJers menghadiri acara tersebut dan membaca Al-Qur'an secara berjamaah.

Hal ini menarik perhatian Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk mencatatnya sebagai rekor baru.

"Saya belum pernah mendengar ada peristiwa sedahsyat ini di dunia," ujar Direktur MURI Jaya Suprana sebelum memberikan piagam rekor tersebut.

Dia mengatakan, awalnya dia akan memberikan rekor ini sebagai rekor Indonesia, akan tetapi setelah dia mengetahui bahwa peristiwa berkumpulnya puluhan ribu orang dan membaca Al-Qur'an secara bersama-sama ini belum pernah terjadi di negara manapun, oleh karena itu Jaya Suprana memberikan rekor dunia untuk komunitas ODOJ ini.

"Dengan sangat menyesal, saya tidak bisa memberikan perisitiwa ini dengan rekor Indonesia, akan tetapi dengan rekor dunia," ujar Jaya yang disambut pekikan takbir oleh para jamaah.

Menurut Jaya, karena ODOJ ini merupakan gerakan dunia, maka diharapkan seluruh dunia mendukung gerakan ini.

Pada acara Grand Launching ODOJ tersebut juga dibacakan deklarasi ODOJ. Teuku Wisnu dan Oki Setiana Dewi didaulat sebagai Duta ODOJ


posted by @Adimin

Applause untuk PKS


Fahmi Irhamsyah
Pengamat Politik UNJ

Hari ini perlu juga rasanya kita berikan Applause pada satu partai yang menurut sebagian pengamat akan "gugur" dalam pemilu ini. Mereka adalah Partai Keadilan Sejahtera.

Dalam survey yang dilakukan oleh Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) selama tahun 2013 PKS diprediksi tidak akan lolos Parliamentary Threshold (PT) sebab dalam hasil survey SSS PKS hanya akan mencapai 3.15 %. Namun ternyata data Quick Count menunjukkan hasil yang berbeda jauh, PKS mendapatkan hasil sebesar 6.73%. Dengan margin eror sebesar 1.2 % bukan tidak mustahil angka 7% bisa dicapai oleh PKS. Dan ini berarti tidak terlalu jauh berbeda dengan perolehan PKS pada Pemilu 2009 sebesar 7.88% disaat PKS belum tertimpa masalah seperti saat ini.

Soliditas Kader

Menurut SSS menjelang pemilu 2014, penyebab PKS tidak akan lolos PT adalah karena permasalahan hukum yang menjerat mantan presiden mereka Luthfi Hasan Ishaq. Memang betul kasus yang menimpa LHI berdampak cukup signifikan pada PKS sebab persepsi publik yang selama ini memandang PKS sebagai Partai anak muda Islami yang Bersih  harus terganggu akibat masalah tersebut.

Sejak kasus LHI muncul di media, berbagai  kecaman dan pendapat pengamat yang menyatakan PKS akan selesai pada tahun ini dijawab dengan cerdas oleh Presiden PKS yang baru, saudara Anis Matta. Sebab dalam waktu bersamaan Anis Matta mampu memainkan perannya dengan luar biasa. Mundurnya Anis Matta dari kursi Wakil DPR dan fokus mengurusi Partai kiranya perlu diacungi jempol karena sikapnya berbanding terbalik dengan SBY yang menjadi ketua umum Demokrat disaat menjadi Presiden RI.

Tanpa tendensi apapun penulis merekomendasikan kepada DPR tahun 2014 ini untuk fokus juga mengatur tentang pejabat publik yang rangkap jabatan dengan menjadi ketua umum partai. Hal ini harus dilakukan agar demokrasi kita menjadi lebih matang sehingga fenomena pejabat yang cuti untuk mengurusi kampanye partai bisa diminimalisir.

Selama setahun belakangan ini Anis Matta fokus melakukan konsolidasi internal, upaya mengembalikan kepercayaan kader dilakukan dengan banyak melakukan kunjungan ke berbagai wilayah basis Massa PKS di dalam dan luar negeri. Hasilnya memang cukup mencengangkan. Berdasarkan berita dari detik pada 10 april 2014, PKS mendapatkan peringkat 2 setelah PDIP di 80 perwakilan luar negeri. Bahkan di negara-negara seperti Turki, Hongkong dan Mesir PKS menang mutlak.

Kekecawaan publik dengan PKS sejatinya tidak jauh berbeda dengan kekecewaan Publik pada Demokrat. Namun mengapa tingkat penurunannya berbeda? PKS pada 2009 mendapat 7.88% dan saat ini 6.73%, sedangkan Demokrat pada 2009 mendapat 20.85% sedangkan Quick Count menunjukkan 9.79%. Ada beberapa hipotesis sederhana yang ingin penulis ajukan untuk menjawab pertanyaan ini.

Pertama, Kematangan Organisasi. Tidak berlebihan kiranya jika banyak peneliti menyatakan PKS adalah organisasi pembelajar, fenomena ini bisa kita lihat dari cara PKS merespon penangkapan LHI. Jika Demokrat membutuhkan waktu cukup lama untuk menentukan Ketua Umum juga pengganti Anas, PKS ternyata dalam waktu singkat bisa mengganti posisi strategis Presiden Partai dan Sekjen nyaris tanpa gesekan di internal partai mereka.

Kedua, pengkaderan yang terorganisir dan konsisten. Dahulu PKI adalah Partai yang memiliki kaderisasi terbaik, kini PKS layak pula diberikan label tersebut. PKS telah berhasil membuktikan efektifitas kaderisasinya. Keberhasilan PKS memenuhi GBK pada hari pertama Kampanye serta kemenangan yang didapatkan di luar negeri kiranya mampu merepresentasikan keberhasilan Kaderisasi mereka. Pengkaderan yang terorganisir dan konsisten ini pula yang sejatinya menjadi salah satu stimulus kemunculan soliditas kader yang kini mereka sebut dengan Kader Effect.

Kini patut kiranya kita berikan Apresiasi Objektif pada PKS atas keberhasilan mereka melewati masalah dengan hasil paling tidak sama dengan Pemilu 2009. Meskipun demikian PKS tentunya harus kembali mengatur strategi untuk mempersiapkan Pemilu Presiden, sebab dengan perolehan suara yang jauh dari 20% tidak mungkin PKS bisa melaju sendiri.

 [pyg]


posted by @Adimin

"Kader Penjaga Eksistensi Dakwah" by @dedhi_suharto


Twit by @dedhi_suharto
(Penulis buku Keluarga Qur'ani)


Subuh pagi ini (Ahad, 4/5) masjid di tempatku dipenuhi anak-anak kecil. Usia 6-8 tahunan. Ada sekitar 8 orang mereka.

Dan bersama mereka seorang keturunan Arab yang lebih muda dariku. "Anak2 itu mabit semalam," katanya tersenyum.

Ia ikhwah yang bekerja dalam senyap. Tidak berkoar-koar atau sibuk menangkis serangan lawan. Ia bekerja dan bekerja.

Belum lama ia juga yang memanggul berkarung2 beras untuk acara sembako murah. Badannya yang gempal benar-benar berguna mengangkat beban.

Bila ada kematian atau orang kesusahan, ia yang pertama perhatian. Kadang ia mengajakku setengah memaksa. Begitulah hidupnya penuh amal.

Kadang kalau sedang berdua denganku ia bilang, "Mas, aku mau muroja'ah. Tolong disimak." Begitulah ikhwah ini penuh ruhiyyah dan semangat.

Interaksinya dengan Al Qur'an luar biasa. Bacaannya yang syahdu membuatku rindu untuk jadi makmumnya.

"Mas saja yang jadi imam," begitulah ia selalu berusaha menghormatiku. Jawabku, "Gak. Aku ingin mendengar bacaanmu. Kamu imamnya."

Saat aku makmum kepadanya, beberapa kali aku tak kuasa menahan tangis. Aku yang dulu mengajaknya tergabung dalam tarbiyyah ini.

Dan kini aku melihatnya tumbuh sebagai pribadi yang menarik. Bahkan dalam beberapa hal, aku kalah amal darinya.

Saat-saat serangan lawan mendera seperti saat ini, aku terbayang dengan kader-kader yang bekerja senyap sepertinya.

Tanpa kerja tetap, mereka tetap bekerja. Tetapi jiwa memberi mereka tak terkalahkan.

Kadang kalau saya sewa tenaganya untuk mengerjakan sesuatu dan kuupah, dikembalikannya sebagian upah. "Cukup segini saja, Mas," katanya.

Begitulah saya berharap banyak ikhwah yang bekerja senyap. Bekerja bukan karena "wani piro", tetapi "piro-piro wani." Berapa saja ok.

Bila ikhwah spt ini diteladani, saya yakin serangan kepada jamaah dan para qiyadah tidak berarti apa-apa. Dan jama'ah dakwah ini bertumbuh.

Tapi bila banyak ikhwah yang lebay, suka galau, maka tak perlu diserang pun, eksistensi jama'ah dakwah ini bisa terancam. [pyg]


posted by @Adimin

Presiden Pilihan Saya | Oleh: Asma Nadia

Written By Anonymous on 03 May, 2014 | May 03, 2014


Telah lima kali pemilihan umum sejak pertama menggunakan hak pilih, dan saya masih saja menunggu kehadirannya, Presiden Pilihan Saya. Mencari-cari sosoknya, di antara rasa bingung melihat para calon presiden datang dari satu partai ke partai lain sibuk melobi sana sini, tapi tidak satu pun yang benar-benar melobi rakyat Indonesia.

Padahal tren saat ini, masyarakat tidak selalu memilih presiden sesuai rekomendasi partai. Sangat mungkin seseorang mengusung partai tertentu di pemilu legislatif tapi memilih presiden yang dinominasikan partai lain.

Siapa pun mengerti, memilih presiden berarti menunjuk orang, bukan lembaga kepartaian lagi. Jadi kenapa para calon presiden itu lupa melobi rakyat Indonesia? Mereka bisa menyampaikan visi dan misi yang jelas, lalu bernegosiasi dengan rakyat.

Kalau cuma berjanji membuat Indonesia lebih maju, lebih makmur atau hukum lebih ditegakkan, buat saya itu hanya janji semu karena tidak ada indikatornya. Saya memilih calon presiden yang punya janji dan solusi konkret. Presiden yang menjamin tidak ada lagi lembaga atau institusi, baik di tingkat lokal maupun propinsi, pada level pemerintah maupun non pemerintah, yang melarang muslimah menutup aurat.

Saya memilih Presiden yang berani menjamin bahwa di masa kepemimpinannya tidak ada siswa atau mahasiswa yang menjadi korban bully para senior. Presiden yang memikirkan dengan matang penyelenggaraan UN. Dia yang menjamin tidak akan ada soal UN yang bocor, tidak ada soal UN yang keluar dari apa yang dipelajari siswa, bahkan berani menghapus UN jika “satu-satunya indikator” kelulusan siswa itu dianggap lebih sedikit memberi manfaat ketimbang pengorbanan yang dikeluarkan.

Saya memilih presiden yang berani menjamin nilai rupiah menguat dan tidak membiarkan dolar terus menari-nari di atas kelemahan rupiah kita.

Saya memilih Presiden yang menjamin bahwa TKI Indonesia di luar negeri akan dijamin kehormatan, keselamatan dan hak-hak kemanusiaannya.

Saya memilih presiden yang menjamin penegakan hukum yang tidak tebang pilih.

Saya memilih presiden yang menjamin bahwa setiap ruang publik menghargai ibadah shalat umat Islam dengan menyediakan mushola layak, yang mudah dijangkau dan bersih.

Saya memilih presiden yang menjamin anak-anak Indonesia bebas dari ancaman narkoba, minuman keras, pedofilia dan propaganda rokok.

Saya memilih presiden yang mau mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menyiapkan anak Indonesia berlaga di Piala Dunia di masa depan, mengembalikan kejayaan bulu tangkis dan memajukan dunia olah raga. Saya memilih presiden yang menjamin tidak ada lagi buku-buku, juga film lokal dan karya anak bangsa yang dibajak.

Saya memilih presiden yang berani menghapus tayangan yang mengandung pornografi dan kekerasan serta pembodohan baik di layar kaca atau di layar lebar.

Saya memilih presiden yang siap turun langsung ke daerah bencana untuk memastikan korban mendapat bantuan sebaik dan sesegera mungkin.

Saya memilih presiden yang siap mengucurkan dana untuk pengusaha kecil menengah. Presiden yang menyadari bahwa pondasi kokoh ekonomi bangsa tak cuma berada di tangan pengusaha kelas kakap, tapi juga berada di tangan para pengusaha kecil menengah ini. Saya memilih presiden yang ... yang... yang...

Ah, di manakah dirimu, Presiden Pilihan Saya? Di antara sosok-sosok berpakaian formal, lembar pidato penuh propaganda, serta senyum yang dihadirkan sesimpatik mungkin di media cetak dan layar televisi, saya masih mencarimu. Sosok yang akan menjamin, setidaknya sungguh-sungguh berusaha menjadi jawaban akan berbagai persoalan di tanah air. Jangan katakan penantian ini sia-sia. Saya percaya kau ada. Mohon, muncullah. [ROL/pkssumut]



posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger