pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Dialog dgn Mahasiswa Malaysia, Anis Matta Bicara Sejarah PKS

Written By Anonymous on 17 April, 2015 | April 17, 2015


JAKARTA (17/4) - Kemunculan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak bisa dilepaskan dari situasi politik dalam negeri dan internasional yang berlangsung pada awal tahun 1980-an hingga akhir rezim Orde Baru tahun 1998. PKS lahir dan memberi warna baru bagi politik Islam di Indonesia.

Hal itu dikatakan Presiden Anis Matta dalam dialog dengan sekitar 40 mahasiswa dari University of Malaya, Malaysia, di bilangan Kuningan, Jakarta, Kamis (16/4/2015) malam.

Anis mengatakan sejarah pergerakan dan politik Indonesia terpolarisasi pada tiga aliran ideologi utama, yaitu Islam, Nasionalisme, dan Sosialisme. Dialog dan dialektika ketiga ideologi utama ini menimbulkan gejolak sosial dan dinamika politik yang selalu hangat sejak kemunculan Budi Utomo, Sarekat Islam, Sumpah Pemuda, hingga lahirnya Indonesia sebagai negara dan berkembang sampai saat ini.

Menurut Anis Matta, kelahiran PKS merupakan salah satu bagian dari dinamika pertarungan di antara ketiga ideologi utama ini.

"Kemudian tahun 1979 ada Revolusi Iran. Revolusi ini menjadi inspirasi bagi kami di sini. Setelah itu tahun 1980-an Tembok Berlin runtuh. Dan tahun 1990 Uni Sovyet juga runtuh. Situasi-situasi internasional ini berdampak pada politik dalam negeri, yang secara tidak langsung mendorong gerakan tarbiyah di kampus-kampus tahun 1980-an," kata Anis.

Anis juga menjelaskan salah satu problem utama gerakan dan partai politik Islam di berbagai negara adalah kesulitan dalam mengintegrasikan antara Islam sebagai ideologi dan nilai, dengan keinginan masyarakat atas kebutuhan hidup mereka.

"Saya kira ini juga yang berlaku di partai Islam di Malaysia. Keberhasilan partainya Erdogan di Turki, karena sudah berpengalaman naik-turun sejak tahun 1962, dan mereka tahu mengintegrasikan antara bagaimana memenuhi kebutuhan masyarakat dengan nilai-nilai Islam," ucapnya.

Salah seorang mahasiswa juga bertanya bagaimana penerimaan masyarakat Indonesia yang non-muslim terhadap PKS yang berbasis ideologi Islam.

"Di wilayah Indonesia Timur, ada pengurus PKS yang berasal dari kalangan Kristen. Ada pendeta yang menjadi pimpinan di PKS di Papua, karena 90 persen di sana Kristen," jawab Anis.

Dialog yang berlangsung selama dua jam tersebut ditutup dengan saling tukar cinderamata. Selain berkunjung ke PKS, para mahasiswa tersebut berencana melakukan kunjungan muhibah ke sejumlah kampus di Jakarta untuk berdialog tentang gerakan mahasiswa. [pks.id]


posted by @Adimin

Anis Matta : Solusi Damai di Palestina PR bagi Negara-Negara Asia Afrika


JAKARTA (16/4) – Peringatan konferensi Asia Afrika di Bandung pada 24 April 2015 nanti menjadi momentum refleksi bagi seluruh Negara Asia Afrika bahwa semangat awal peristiwa bersejarah ini ialah keinginan memperjuangkan kemerdekaan dan menghilangkan segala bentuk penjajahan di atas muka bumi.

Hal tersebut disampaikan Presiden PKS Anis Matta melalui akun twitter nya @anismatta, Kamis (14/6).

"Konferensi Asia Afrika bukan sekedar regionalisme karena jarak antar negara yang begitu jauh. Ini adalah kesadaran atas nasib yang sama dan solidaritas" tulisnya.

Lebih jauh Anis Matta menyampaikan bahwa sudah waktunya Konferensi Asia Afrika membangun kesadaran baru tentang solidaritas bagi negara-negara yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya.

"Termasuk mencari solusi damai untuk Palestina, ini PR bagi Negara-Negara dikawasan Asia Afrika" pungkasnya sambil menegaskan bahwa perdamaian di Palestina akan menjadi sumber perdamaian dunia.

Seperti yang kita ketahui, Palestina sudah berada di bawah jajahan Israel sejak tahun 1948 dan hingga kini masih terus berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Sudah menjadi kewajiban bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang dulunya disatukan oleh semangat melawan penjajahan untuk mendukung segala upaya Negara Palestina dalam meraih kemerdekaannya.

Keterangan Foto:

Presiden PKS Anis Matta (kanan) dalam acara Nonton Bareng Film Guru Bangsa Tjokroaminoto Bersama Fraksi PKS DPR RI di Cinema XXI, Plaza Senayan Jakarta, Kamis (16/04/2015).

[pks.id]


posted by @Adimin

Inilah Tokoh-tokoh yang Berpeluang Jadi Ketua Syuro PKS


JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menggelar Pemilu Raya (Pemira) untuk menentukan anggota majelis syuro. Ketua Lajnah Pemira PKS, Sumandjaja mengatakan sudah ada 66 nama anggota majelis syuro yang terpilih. Nama anggota syuro itu disaring dari sekitar 300-an nama yang masuk ke Lajnah Pemira PKS.

PKS belum dapat mengumumkan 66 nama hasil pemira yang digelar akhir Maret kemarin. Sebab hasil itu baru akan dilaporkan secara resmi awal Mei dalam sidang. Hal itu sekaligus dilakukan pelantikan pada 66 nama anggota syuro yang sudah masuk tersebut.

Setelah itu, baru anggota syuro akan menggelar sidang untuk menentukan ketua majelis syuro periode 2015-2020. Menurutnya untuk menjadi ketua syuro harus memenuhi syarat-syarat khusus yang sudah ditentukan.

Misalnya, minimal berumur 40 tahun, memiliki masa keanggotaan minimal 12 tahun sebagai kader ahli di PKS. Meskipun, ketua majelis syuro saat ini, Hilmi Aminuddin masih memiliki peluang memimpin majelis syuro, namun ada tokoh lain yang dapat menjadi pesaing Hilmi Aminuddin sebagai ketua majelis syuro.

"Ada tokoh lain yang peluangnya sama, seperti Hidayat Nur Wahid (HNW), Anis Matta, Tifatul Sembiring, maupun Surachman Hidayat," katanya Republika, Kamis (16/4).

Selain tokoh-tokoh itu, masih ada tokoh lain yang juga memiliki peluang yang sama. Untuk menjadi calon ketua majelis syuro, kata Sumandjaja, harus dicalonkan minimal satu anggota majelis syuro. Mereka yang sudah dicalonkan akan memaparkan visi misi serta kesediaannya dicalonkan.

"Kalau mereka menerima apa visi misinya, kalau menolak apa alasannya, kalau penolakan tidak diterima anggota majelis maka otomatis langsung menjadi calon ketua majelis syuro," jelasnya.

Setelah ada beberapa calon ketua majelis syuro, maka anggota majelis syuro akan musyawarah untuk memilih siapa yang akan menjadi ketua majelis syuro selanjutnya. [ROL]


posted by @Adimin

Pelajaran Penting dari Cokroaminoto Menurut Anis Matta


JAKARTA (16/4) – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta mengatakan, Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto memiliki dua peran besar dalam sejarah Indonesia. Pertama, kata Anis yaitu sebagai guru bangsa.

"Beliaulah yang menyatukan antara ide nasionalisme dan keislaman. Bahkan sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah bangsa, dan ide tentang kebangsaan digarap oleh beliau," kata Anis sesaat sebelum nonton bareng film Guru Bangsa Cokroaminoto, di Plaza Senayan, Jakarta (16/4).

Anis melanjutkan, Cokroaminoto menjadi guru bangsa karena di rumahnyalah lahir para pemimpin bangsa.

"Beliau sebagai guru bangsa karena semua pemimpin bangsa yang sesudahnya itu lahir dari rumah beliau," ujar Anis.

Kedua, lanjut Anis, peran terbesar Cokroaminoto adalah mengkonsolidasikan elit baru Indonesia.

"Seperti yang kita tahu sejarah di Indonesia, elit-elit baru Indonesia itu biasanya datang dari kaum terpelajar. Biasanya juga dibayang-bayangi oleh para pedagang pribumi. Nah elit-elit baru Indonesia yang muncul dari dunia pendidikan ini kemudian dikonsolidasi oleh Pak Cokroaminoto dalam satu ide tentang Indonesia, sebuah bangsa baru, sebuah negara baru," papar Anis.

Menurutnya, bahwa semua hal-hal besar yang dilakukan sebagai bangsa terjadi pada saat elit-elit Indonesia sedang terkonsolidasi dengan baik.

"Sewaktu elit terkonsolidasi dengan baik pada zaman Pak Cokroaminoto, lahirlah pemimpin-pemimpin baru yang kemudian membawa Indonesia merdeka. Sementara, waktu kaum elit terkonsolidasi pada era Soekarno, kita berhasil mempertahankan kemerdekaan kita. Sewaktu kaum elit terkonsolidasi pada zaman orde baru, lahir sebuah negara moderen yang kuat," tutur Anis.

Maka yang perlu dipelajari dari film Guru Bangsa Cokroaminoto, kata Anis, adalah 16 tahun berjalannya demokrasi justru elit-elit Indonesia terfragmentasi sangat luas.

"Para elit terpecah-pecah sangat luas. Karena itu, siapapun yang memimpin, menjadi tantangan pertamanya adalah menyatukan para elit-elit Indonesia, mengkonsolidasi para elit Indonesia, saya kira itu pelajaran yang sangat penting," pungkas Anis. [pks.id]


posted by @Adimin

Anis Matta Ajak Pengurus PKS Nonton Film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto'


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta mengajak para pengurus partainya menyaksikan film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto'.

Nonton bareng tersebut digelar di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (16/4/2015).

Nonton bareng tersebut dimulai pada pukul 15.00 WIB di studio 5 XXI Plaza Senayan. Puluhan pengurus partai dan kader PKS memenuhi studio yang dijadwalkan memutar film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' tersebut.

Selama kurang lebih dua jam, Anis Matta beserta pengurus PKS menyaksikan film drama tersebut. Turut hadir pula dalam acara nonton bareng tersebut Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini.

Film terbaru berjudul 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' (2015) ini dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas seperti Reza Rahardian, Tanta Ginting, Putri Ayudya, Egi Fedly, Chelsea Islan, Maia Estianty (cucu kandung HOS Tjokroaminoto), Alex Komang, Ibnu Jamil, Deva Mahendra, Sujiwo Tejo, Christine Hakim. [tribunnews.com]

posted by @Adimin

Pemblokiran Media Islam dan Jebakan Huntington [2]


DARI  kasus doktrin ‘preemptive strike’ ini tampak bagaimana pola pikir ‘bahaya Islam’ atau ‘ancaman Islam’ yang dikembangkan ilmuwan seperti Huntington, berjalan cukup efektif. Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran langsung, meskipun tanpa melalui persetujuan PBB. Pola pikir Huntington, bahwa ‘Islam’ lebih berbahaya dari ‘komunis’ juga tampak mewarnai kebijakan politik dan militer AS tersebut.

Tentu saja, yang penting kemudian adalah pendefinisian siapa yang dimaksud sebagai “musuh baru yang lebih bahaya dari komunis?” Dalam Who Are We? Huntington menyebut, yang disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usama bin Ladin atau al-Qaida group. Tetapi, banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS. Kata Huntington, sebagaimana dilakukan oleh Komunis Internasional dulu, kelompok-kelompok Islam militan melakukan protes dan demonstrasi damai, dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Mereka juga melakukan kerja-kerja amal sosial.

Dengan definisi dan penggambaran seperti itu, banyak kelompok Islam yang dimasukkan ke dalam kategori militan, dan layak diserang secara dini.  Tanpa menampilkan sebab-sebab dan fakta yang komprehansif, misalnya, Huntington menulis, bahwa selama beberapa dekade terakhir, kaum Muslim memerangi kaum Protestan, Katolik, Kristen Ortodoks, Hindu, Yahudi, Budha atau Cina. (In recent decades, Muslims have fought Protestan, Catholic, and Orthodox Christians, Hindus, Jews, Buddhists, and Han Chinese). Ia tidak menjelaskan, apakah dalam kasus-kasus itu kaum Muslim diperangi dan dizalimi, atau Muslim yang memerangi. Dalam menyinggung kasus Bosnia, misalnya, dia  tidak memaparkan bagaimana kaum Muslim menjadi korban kebiadaban yang tiada tara di Bosnia. Dan ketika itu, AS dan sekutunya menjadi penonton yang baik atas pembasmian umat Muslim.

Samantha Power, dalam bukunya “A Problem from Hell: America and The Age of Genocide” (London: Flamingo, 2003), membongkar habis-habisan sikap tidak peduli AS terhadap praktik pembasmian umat manusia di berbagai tempat, termasuk di Bosnia.  Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2003. Dalam kasus Bosnia, tulis Samantha, AS bukan hanya tidak berusaha menghentikan pembasmian etnis Muslim, tetapi malah memberi jalan kepada Serbia untuk melaksanakan kebiadaban mereka. (Along with its European allies, it maintained an arms embargo against the Bosnian Muslims from defending themselves). Untuk Bosnia, Samanta yang menjadi saksi berbagai kebiadaban Serbia di Bosnia, menulis judul “Bosnia: No More than Witnesses at a Funeral”.

Sebagaimana ilmuwan “neo-orientalis”  lainnya, seperti Bernard Lewis, Huntington juga tidak mau melakukan kritik internal terhadap kebijakan AS yang imperialistik – sebagaimana banyak dikritik oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Noam Chomsky, Paul Findley, dan Edward Said. Ia tidak mengakui bahwa kebijakan AS yang membabi buta mendukung kekejaman dan penjajahan Israel adalah keliru dan menjadi satu sebab penting tumbuhnya ketidakpuasan dan kemarahan kaum Muslim dan umat manusia. Ia hanya mau menunjukkan bahwa Islam adalah potensi musuh besar dan bahaya bagi Barat dan AS khususnya. Ia menampilkan polling-polling di sejumlah negeri Islam yang menunjukkan, sebagian besar kaum Muslim sangat tidak menyukai kebijakan AS. Misal, sebuah polling di sembilan negara Islam, antara Desember 2001-Januari 2002, menampilkan realitas opini di kalangan Muslim, bahwa AS adalah “kejam, agresif, sombong, arogan, mudah terprovokasi dan bias dalam politik luar negerinya.”

Tetapi, Huntington tidak mau menampilkan fakta bahwa kebencian masyarakat Barat (Eropa dan rakyat AS sendiri) terhadap kebijakan-kebijakan politik AS juga sangat besar. Bahkan, jauh lebih besar dari apa yang terjadi di kalangan Muslim. Di dunia Islam, tidak ada demonstrasi besar-besaran diikuti ratusan ribu sampai jutaan orang dalam menentang AS seperti yang terjadi di berbagai negara Eropa dan di dalam AS sendiri. Banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Prof. Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’. Karena itu, sangatlah naif, bahwa ilmuwan seperti Huntington ini justru mencoba menampilkan fakta yang tidak fair dan sengaja membingkai Islam sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rhetoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam.”

Huntington, Bernard Lewis, dan kawan-kawannya terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat, setelah komunis. John Vinocur, dalam artikelnya berjudul “Trying to put Islam on Europe’s agenda”, (International Herald Tribune, 21 September 2004), mencatat, “But Huntington insists Europe’s situation vis-à-vis Islam is more acute.”  Skenario inilah yang dirancang kelompok “Neo-konservatif” di AS, yang beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan konfrontasionis. (Lihat buku The High Priests of War “ (Washington DC: American Free Press, 2004), karya Michel Colin Piper).

Tanpa pendefinisian yang jelas terhadap “Islam militan”, maka itu akan menyeret  kaum Muslim lainnya. Itu, misalnya, menimpa Thariq Ramadhan dan Yusuf Islam, yang dilarang memasuki AS. Begitu juga ribuan warga Muslim yang menerima perlakuan tidak manusiawi.  Dalam sub-bab berjudul “The Search for an Enemy”, Huntington mencatat, bahwa pasca Perang Dingin, AS memang melakukan pencarian musuh baru, yang kemudian menemukan musuh baru bernama “Islam militan”, setelah peristiwa WTC.  Huntington menulis: “Some Americans came to see Islamic fundamentalist groups, or more broadly political Islam, as the enemy, epitomized in Iraq, Iran, Sudan, Libya, Afghanistan under Taliban, and to lesser degree other Muslim states, as well as in Islamic terrorist groups such as Hamas, Hezbollah, Islamic Jihad, and the al-Qaeda network… The cultural gap between Islam and America’s Christianity and Anglo-Protestanism reinforces Islam’s enemy qualifications. And on September 11, 2001, Osama bin Laden ended America’s search. The attacks on New York and Washington followed by the wars with Afghanistan and Iraq and more diffuse “war on terrorism” make militant Islam America’s first enemy of the twenty-first century.”

Di sini, tampak,  bahwa sangatlah sulit dunia Islam menerima standar AS dalam soal Islam militan. Dunia Islam, misalnya, secara keseluruhan tetap menolak memasukkan Hamas di Palestina, sebagai kelompok teroris, sebab mereka melakukan perjuangan membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Buku Who Are We? memang masih merupakan kelanjutan garis berpikir Huntington dalam soal Islam dari buku The Clash of Civilizations.  Sebagaimana Lewis, Huntington sudah jauh-jauh hari mengingatkan Barat agar mereka waspada terhadap perkembangan Islam. Sebab, Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah menggoyahkan dan mengancam peradaban Barat. (Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice).  

Karena itulah, Huntington memperingatkan, pertumbuhan penduduk Muslim merupakan satu faktor destabilitas terhadap masyarakat Muslim dan lingkungannya. Jumlah besar kaum muda Muslim dengan pendidikan menengah akan terus memperkuat kebangkitan Islam dan militansi Islam, militerisme, dan imigrasi. Hasilnya, pada awal-awal abad ke-21, Barat akan menyaksikan kebangkitan kekuatan dan kebudayaan non-Barat dan sekaligus benturan antar-masyarakat non-Barat atau dengan Barat.

Sebagaimana buku The Clash of  Civilizations, buku Who Are We? perlu dicermati dalam konteks skenario politik global terhadap Islam, yang sebenarnya merupakan satu upaya “viktimisasi Islam” untuk menutupi berbagai kesalahan kebijakan AS dan sejumlah sekutunya.

Kini, silakan dicermati, mengapa situs-situs Islam itu diblokir? Allah Maha Tahu dan Allah tak pernah tidur

DR. Adian Husaini

posted by @Adimin

Pemblokiran Media Islam dan Jebakan Huntington [1]

Written By Sjam Deddy on 16 April, 2015 | April 16, 2015



Oleh: Dr. Adian Husaini

PADA akhir Maret 2015, umat Islam Indonesia dihebohkan oleh peristiwa pemblokiran sejumlah media on-line Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Setidaknya ada 19 situs Islam yang diblokir, seperti panjimas.com, muslimdaily.net, kiblat.net, dakwahmedia.net, hidayatullah.com, era muslim.com, dan lain-lain. Seperti dilaporkan oleh www.harianterbit.com, Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) yang juga Direktur Deradikalisasi Irfan Idris, menjelaskan, ada empat kriteria situs dinilai mengajarkan radikalisme.

“Ajakan propaganda mengafirkan pihak lain, tafkiri. Presiden dikafirkan, pemerintah dikafirkan, pemerintah thogut, pemerintah syirik,” katanya di Jakarta, Selasa (31/3/2015). Hal ini dikatakannya kepada perwakilan tujuh situs Islam yang mengajukan protes karena diblokir oleh Kementerian Kominfo Kemudian mendukung dan mengajak bergabung dengan ISIS atau Negara Islam. “Memaknai jihad dengan sempit,” katanya.

Selain itu ingin melakukan perubahan dengan cepat menggunakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Ia mengatakan, pihaknya memiliki tim kecil untuk menganalisis situs-situs yang dinilai radikal.

Terkait dengan 19 situs yang diblokir oleh Kemenkominfo atas permintaan BNPT, menurut dia, pihaknya mempunyai bukti-bukti materiil terkait situs-situs yang dinilai radikal. “Ada buktinya, saya ada gambarannya,” katanya.

Ketika catatan ini dibuat, berbagai pihak sudah memberikan pandangannya tentang kasus tersebut. Catatan ini tidak akan memasuki wilayah itu. Biarlah BNPT  dan Kemkominfo mempertanggungjawabkan tindakannya, di dunia dan akhirat. Secara ringkas, dalam pandangan saya, jika situs-situs Islam itu melakukan tindakan yang salah – menurut ajaran Islam – mereka wajib diingatkan, diberitahukan kesalahannya, sebelum dijatuhi sanksi. Dengan pemberitahuan itu, maka situs-situs Islam itu bisa memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitasnya, sehingga semakin baik dan bermanfaat.

Jika situs-situs itu menyampaikan kebenaran Islam sebagai pelaksanaan kewajiban dakwah, dan kemudian diblokir, maka yang rugi justru pihak Kemkominfo dan BNPT sendiri. Sebab, mereka telah melakukan kezaliman dan menghalang-halangi orang menyampaikan dakwah yang jelas-jelas diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. (QS An-Nahl:125).

Tindakan itu akan menghadapkan mereka dengan Allah sendiri. Sementara para pengelola situs Islam itu justru diuntungkan, karena mereka mendapatkan pahala dan terbuka peluang besar doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Karena itu, kita mengimbau, agar semua pihak – khususnya yang muslim – segera menyelesaikan masalah ini dengan baik, melalui mekanisme musyawarah dengan hati yang ikhlas dan menekan perasaan dendam dan kebencian. Pada catatan kali ini, ada baiknya kita menelaah kembali pemikiran Samuel Huntington yang berisi saran-saran bagaimana seharusnya dunia Barat – khususnya AS – memandang dan memperlakukan Islam.

Bagian ini pernah saya terbitkan sebagai satu artikel di Harian Republika, saat Huntington baru saja menerbitkan bukunya yang baru berjudul Who Are We? Tahun 2004. Meskipun sudah berlalu 10 tahun, tulisan itu masih sangat relevan untuk kita telaah dan renungkan, agar kita tidak terjebak dalam pemikiran dan skenarionya yang merugikan kita sebagai satu umat dan satu bangsa.

****
Nama Samuel P. Huntington identik dengan wacana “Clash of civilizations”, meskipun wacana ini sudah diluncurkan oleh Bernard Lewis, melalui artikelnya berjudul “The Roots of Muslim Rage” di jurnal  Atlantic Monthly, September 1990. Artikel Lewis ini merupakan persiapan untuk menentukan siapa “musuh baru” Barat pasca Perang Dingin.

Huntington kemudian mempopulerkan wacana Lewis. Pemikirannya tentang “clash of civilizations” –  khususnya antara Islam dengan Barat – masih terus menjadi perbincangan luas. Bukan karena kualitas ilmiah wacana populer tersebut, tetapi karena banyaknya kecocokan antara pemikiran dan saran Huntington dengan perkembangan politik global saat ini. Khususnya, kebijakan politik Barat (terutama AS) terhadap Islam.

Buku terkenalnya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order,  lebih ditujukan sebagai bahan nasehat bagi pengambil kebijakan politik Barat, khususnya AS, dan bukan untuk satu kajian ilmiah dalam ilmu sosial.  Ia menulis dalam pengantar bukunya: “This book is not intended to be a work of social science. It is instead meant to be an interpretation of the evolution of global politics after the Cold War. It aspires to present a framework, a paradigm, for viewing global politics that will be meaningful to scholars and useful to policymakers.”

Tahun 2004, Huntington kembali meluncurkan buku barunya, berjudul “Who Are We?: The Challenges to America’s National Identity” (New York: Simon&Schuster, 2004). Huntington adalah ilmuwan politik dari Harvard University yang juga dikenal sebagai penesehat politik kawakan Gedung Putih. Disamping pernah menduduki jabatan-jabatan prestisius di bidang akademis, Huntington juga aktif terlibat dalam perumusan kebijakan luar negeri AS. Tahun 1977-1978 ia bekerja di Gedung Putih sebagai ‘Coordinator of Security Planning for the National Security Council’.

Jika di dalam The Clash of  Civilizations Huntington masih tidak terlalu tegas menyebut “Islam” sebagai alternatif musuh baru bagi Barat, maka dalam bukunya, Who Are We? ia menggunakan bahasa yang lebih lugas, bahwa musuh utama Barat pasca Perang Dingin adalah Islam – yang ia tambah dengan predikat “militan”. Namun, dari berbagai penjelasannya, definisi “Islam  militan” melebar ke mana-mana, ke berbagai kelompok dan komunitas Islam, sehingga definisi itu menjadi kabur.

Dalam Who Are We? Huntington menempatkan satu sub-bab berjudul “Militant Islam vs America”, yang menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS. (This new war between militant Islam and America has many similarities to the Cold War). Jadi, Huntington memang menggunakan istilah ‘perang’ (war) antara AS dengan Islam militan. Jika saat berperang dengan Uni Soviet yang memiliki persenjataan seimbang dengan AS, masih digunakan istilah “Perang Dingin” maka sekarang predikat “Dingin” sudah tidak ada lagi.

Penggunaan istilah “war” merupakan refleksi kebijakan baru politik AS sebagaimana disarankan Huntington. Saat berdialog dengan Anthony Giddden, pada late spring 2003, Huntington mendukung dilakukannya “preemptive strike” terhadap kaum militan.

Nasehat Huntington memang telah dijalankan. Pada awal Juni 2002, doktrin preemptive strike (serangan dini) dan defensive intervention (intervensi defensif) secara resmi diumumkan. Melalui doktrin ofensifnya yang baru ini,  AS telah mengubah secara radikal pola “peperangan” melawan “musuh”. Sebelumnya, di masa Perang Dingin saat menghadapi komunis, AS menggunakan pola containtment (penangkalan) dan deterrence (penangkisan). Kini menghadapi musuh baru – yang diberi nama Islam militan – AS menggunakan pola preemptive strike dan defensive intervention.

*.. (Bersambung)


posted by @Adimin

Wako Mahyeldi Kagumi Alutsista Udara TNI AU

Written By Anonymous on 15 April, 2015 | April 15, 2015


Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah, SP menyaksikan secara langsung kegiatan latihan Moverick skadron Udara 12 dengan pesawat jenis Hawk 100/200 di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Sumatera Barat, Senin (13/4).

Kedatangan Walikota disambut Danlanud Padang Ltk Pnb Muhammad Apon, ST, MPA dan Dansakadron Udara 12 Ltk Jajang Setiwan.


Ketika mendapatkan penjelasan dari Dansakadron udara 12 Ltk Jajang Setiwan tentang kegiatan latihan ini Walikota Padang sangat serius menerima setiap detail tugas dan kemampuan alutsista udara ini.

"Kita merasa lebih tentram, ternyata setelah melihat langsung kehadiran pesawat tempur canggih ini, saya sangat kagum. Tidak gampang menjadi pilot tempur," kata Walikota.

Harapanya, dengan kegiatan latihan pesawat tempur yang juga disaksikan masyarakat kota Padang ini dapat menginspirasikan para pemuda menjadi pilot yang gagah dan berani.

Menurut Danlanud Padang, pagelaran pesawat tempur TNI Angkatan Udara di BIM ini dalam rangka memperkuat sistem pertahanan udara untuk menjaga kedaulatan NKRI, khususnya di wilayah udara.

Selain itu, jelas Danlanud, untuk meningkatkan profesionalisme para pilot tempur juga melaksanakan latihan penembakan dari udara ke sasaran di darat dan laut atau disebut juga air to ground dengan rudal maverick.

"Kita berharap kehadiran Bapak Walikota Padang serta pejabat yang lain dapat membangkitkan semangat kita di daerah untuk kedaulatan bangsa," sebut Apon.

Ia menambahkan, pesawat ini milik rakyat yang di beli dari hasil pajak yang di bayar masyarakat. Jadi masyarakat pun diperkenankan untuk melihat langsung alutsista udara yang dimiliki saat ini.

"Bagi masyarakat yang ingin melihat secara langsung alutsista udara, kita sambut dengan senang hati,"ujarnya.

Dalam latihan ini, sebanyak 4 pesawat dan 12 sortie penerbangan dengan lancar dapat dilakukan. Dengan mengambil area latihan seputaran di atas wilayah Painan dan Tiku, Agam. Disimulasikan dalam latihan ini pesawat tempur menembakan rudal dari udara ke sasaran yang ada di darat atau perairan menggunakan rudal Maverick.

Latihan yang menggunakan Smart Bombing ini juga bertujuan untuk mencapai Currancy dalam melaksanakan penembakan menggunakan Rudal Maverick atau Air Guided Misill. [Humas dan Protokol Kota Padang]


posted by @Adimin

Ketika Semua Karena Cinta



Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia memanggil malaikat Jibril seraya berkata, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia”. Maka malaikat Jibril pun ikut mencintai orang tersebut. Lalu, malaikat Jibril menyeru kepada penduduk langit, "Sesungguhnya, Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia."
Hingga, penduduk langit pun mencintai orang tadi dan ia pun diterima di bumi. Kata cinta, merupakan tali yang kuat, ikatan jiwa yang tak tergoyahkan, dan energi dahsyat yang mengalahkan segala dendam angkara.

Kata cinta juga mampu menjadikan yang jauh menjadi dekat, yang sakit menjadi sembuh, dan kebencian menjadi kasih sayang tak ternilai.

Bagaimana bisa Nabi Muhammad SAW dikatakan tidak mencintai umatnya karena saat menjelang akhir hayatnya yang dipanggil-panggil adalah “umatku, umatku, umatku….”

Dengan ruh cinta karena Allah juga Nabi mendakwahkan Islam ke segenap pelosok jazirah Arab menerobos watak-watak keras Aus dan Khazraj hingga bersatu dan mampu menembus sikap keras Umar bin Khattab sampai menjadi manusia yang amat mudah menangis.

Serta, dengan aliran cinta ikhlas pula mampu meluluhkan hati para sahabatnya untuk rela mengorbankan jiwa raganya demi perjuangan Islam.

Nabi begitu merasakan apa yang dirasakan para sahabatnya, bukan sekadar simpati, melainkan lebih ke empati tak mengharap balas budi.

Allah pun mengabadikan di dalam ayat, ”Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kalian, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang beriman.” (QS at-Taubah [9]: 128).

Karena dasar cinta pula yang menjadikan Abu Bakar Ash-Shiddiq rela mendampingi Nabi berjalan ratusan kilometer berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Cinta itu pula yang merelakan kakinya digigit binatang berbisa demi keselamatan Nabi tercinta.

Nasihat tentang cinta kepada Nabi pula yang Nabi ajarkan kepada sahabatnya Umar bin Khattab. Suatu saat Umar berkata, “Wahai Rasul, demi Allah! Engkau lebih aku cintai daripada hartaku, keluargaku, dan orang tuaku, kecuali dari diriku sendiri. ”Lalu, Rasulullah segera menjawab, “Tidak begitu, Wahai Umar! Bahkan, aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Umar pun menyambutnya, “Jika begitu, Demi Allah! Engkau akan lebih aku cintai daripada diriku sendiri wahai Rasul!” Rasul pun bersabda, “Sejak saat ini, imanmu telah sempurna wahai umar!”

Atas dasar cinta pula, Gunung Uhud pun Nabi cintai seperti gunung itu mencintainya. Lingkungan sekitarnya pun amat beliau cintai, sehingga dalam kondisi peperangan pun beliau selalu berpesan kepada pasukannya agar tidak membakar fasilitas umum, tidak menebang pepohonan, tidak meruntuhkan gereja dan tempat ibadah umat lain, tidak membunuh pendeta, anak-anak, kaum ibu, dan orang-orang tua warga sipil.

Karena, beliau memang diutus untuk menebar cinta dan kasih sayang ke segenap alam semesta. (QS al-Anbiya [21]: 107).

Semoga, kita dapat ikut menerangi kegelapan dunia di episode jahiliyah akhir zaman ini dengan sedikit cinta yang mencerahkan karena Allah semata.


posted by @Adimin

PKS Dukung RUU Larangan Minuman Beralkohol

Fraksi PKS karena termasuk pengusul, berarti sangat mendukung sekali, dan berkeinginan secepatnya agar RUU ini bisa diundangkan dan bisa secepatnya dibahas oleh baleg, dan langsung diparipurnakan," kata Ansory Siregar


Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI mendukung Rancangan Undang-Undang (RUU) Larangan Minuman Beralkohol.
 
Hal disampaikan oleh Anggota Komisi IX DPR RI Ansory Siregar, usai melakukan rapat dengar pendapat umum (RDPU) Badan Legislasi DPR dengan pengusul RUU Larangan Minuman Beralkohol, Senin (13/04/2015) kemarin.

“Fraksi PKS karena termasuk pengusul, berarti sangat mendukung sekali, dan berkeinginan secepatnya agar RUU ini bisa diundangkan dan bisa secepatnya dibahas oleh baleg, dan langsung diparipurnakan,” kata Ansory Siregar.

Ansory menjelaskan, Fraksi PKS mendukung RUU tersebut karena selain berbahaya bagi peminumnya, minuman beralkohol juga memiliki dampak sosial yang sangat buruk.

“Dampak sosialnya sangat buruk, makanya dari awal juga kita ketahui Rosulullah mengatakan minuman beralkohol itu puncak dari seluruh penyimpangan. Jadi sangat keras sekali peringatannya sejak 14 abad yang lalu,” papar politisi PKS asal Sumatera Utara ini.

Di beberapa negara, lanjut Ansory, larangan minuman beralkohol sudah diberlakukan. “Mereka sudah tahu dampak kerusakan dari minuman beralkohol ini, termasuk di India. Di India minuman beralkohol dan produk rokok tidak kita dapatkan di jalan-jalan padahal penduduk India itu 1,3 miliar. Mereka bisa menerapkan itu, mengapa kita di Indonesia tidak bisa?” ujar Ansory.

Jika ditetapkan menjadi Undang-Undang (UU), Ansory berharap UU ini dapat menyelamatkan generasi muda Indonesia.

“Agar menjaga anak bangsa kita menjadi generasi yang maju, yang sehat, yang produktif, yang dinamis, sehingga bisa berdaya saing di dunia,” pungkas Ansory.

Anggota Badan Legislasi (Baleg) dari Fraksi PKS Tifatul Sembiring  menambahkan, alasan lain Fraksi PKS mendukung RUU Larangan Minuman Beralkohol, karena selain sebagai faktor terbanyak penyebab kecelakaan lalu lintas, pajak yang diambil Pemerintah dari minuman beralkohol tidak mengandung keberkahan.
 
“Menurut saya, pajak dari minuman beralkohol ini tidak berkah, tidak berkah anggarannya. Mengambil pajak dari sesuatu yang merusak orang lain. itu saja, maka kita dari Fraksi PKS mendukung RUU ini,” ujar Tifatul saat RDPU Baleg DPR

posted by @Adimin

Ternyata! Amerika di Balik Pemblokiran Media Islam

Written By Sjam Deddy on 14 April, 2015 | April 14, 2015


Perwakilan dari Rand Corporation, Amerika Serikat dan Nanyang Technology University, Singapura merekomendasikan supaya pemerintah melakukan pemblokiran terhadap situs-situs Islam yang mereka anggap radikal dan menyebarluaskan ajaran radikalisme dan terorisme. Hal tersebut tertuang dalam konferensi internasional tentang terorisme dan ISIS di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Senin, 23 Maret 2015 lalu.
Rekomendasi tersebut ternyata benar-benar dilaksanakan. Tak lama kemudian, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) diketahui telah mengirimkan surat kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) dengan nomor 149/K.BNPT/3/2015 tentang situs/website radikal, yang meminta Kemkominfo melakukan penutupan terhadap 19 situs media Islam.

"Mereka (Perwakilan Rand Corporation dan Nanyang University) mendesak pemerintah, supaya tidak terjadi kembangkitan Islam di Indonesia maka situs Islam harus ditutup," ujar Sekjen Forum Umat Islam (FUI), KH Muhammad al Khaththath saat berceramah dalam Majelis Itikaf di Masjid Raya Bogor, Sabtu (11/4/2015).

Menurutnya, keputusan sepihak pemerintah dalam memblokir situs Islam adalah langkah yang membahayakan. "Ini tentunya sangat berbahaya, kenapa? menutup situs Islam ibaratnya seperti menutup pondok pesantren, majelis taklim, majelis dzikir, dan majelis ilmu lainnya," kata Ustaz al Khaththath.

Ia menjelaskan, kehadiran media Islam selama ini sangat dibutuhkan masyarakat. "Dalam media Islam isinya mengandung bagaimana ajaran agama Allah Swt harus dilaksanakan, situs Islam menerangkan Alquran dan hadits, dijelaskan hukum halal haram. Media Islam juga memberikan informasi dakwah untuk memperkuat akidah dari berbagai rongrongan pemurtadan dan aliran sesat," jelasnya.

"Sehingga kehadiran media Islam sangat bermanfaat bagi masyarakat," tambah Ustaz al Khaththath.

Majelis Itikaf diseleggarakan oleh FUI Bogor Raya, rencananya kegiatan tersebut akan rutin diadakan di Masjid Raya Bogor untuk membahas seputar masalah faktual yang terjadi di masyarakat

suaraislam.com

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger