Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
April 12, 2017
posted by @Adimin
PKS Optimis Anies-Sandi Menang di Putaran Kedua
Written By NeoBee on 12 April, 2017 | April 12, 2017
Menjelang putaran kedua pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, dukungan terhadap pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno kian menguat. Hal tersebut sangat disadari Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman.
"Putaran kedua semakin banyak dukungan untuk paslon Anies-Sandi. Termasuk sinergi dan dukungan yang diberikan oleh partai Perindo," kata Sohibul saat silaturahmi di gedung DPP Perindo, Menteng Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017).
Sejumlah partai dan relawan pendukung Anies-Sandi, ungkap Sohibul, haqulyakin paslonnya akan meraih kemenangan pada putaran kedua nanti. "Kami semua optimis Anies Sandi akan meraih kemenangan," ujar pria yg kerap disapa Kang Iman.
Dalam agenda silaturahmi tersebut, Presiden PKS datang bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan disambut oleh Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo.
"Putaran kedua semakin banyak dukungan untuk paslon Anies-Sandi. Termasuk sinergi dan dukungan yang diberikan oleh partai Perindo," kata Sohibul saat silaturahmi di gedung DPP Perindo, Menteng Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017).
Sejumlah partai dan relawan pendukung Anies-Sandi, ungkap Sohibul, haqulyakin paslonnya akan meraih kemenangan pada putaran kedua nanti. "Kami semua optimis Anies Sandi akan meraih kemenangan," ujar pria yg kerap disapa Kang Iman.
Dalam agenda silaturahmi tersebut, Presiden PKS datang bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan disambut oleh Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo.
April 11, 2017
“Polisi ingin agar demo tidak sampai istana, demo tidak sampai istana, polisi ingin agar gak semua orang tidak ikut ketemu presiden sudah dilakukan, tidak sampai jam 18 sudah dilakukan,” tegasnya.
Oleh sebab itu, HNW menegaskan agar polisi segera membebaskan Sekjend FUI M Al Khatatath yang sekaligus juga pimpinan dari aksi 313 itu.
“Polisi harusnya berterima kasih dengan 313 dan segera membebaskan Al-khattat,” pungkasnya
hidayatullah
posted by @Adimin
HNW: Polisi Harus Berterima Kasih dengan Aksi 313
Written By NeoBee on 11 April, 2017 | April 11, 2017
HNW menegaskan agar polisi segera membebaskan Sekjend FUI M Al Khatatath yang sekaligus juga pimpinan dari aksi 313
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa apa yang dikhawatirkan oleh polisi terkait aksi 313 sebagai makar tidak terbukti.
Hal itu disampaikannya kepada hidayatullah.com di bilangan Kampung Rambutan, Jakrata Timur, Ahad (09/04/17) malam.
“Peristiwa 313 yang diperkirakan akan melakukan makar dengan menduduki DPR melalui gorong-gorong itu semua kan tidak terbukti,” ungkapnya.
Karena, terangnya, seandainya itu dimaksudkan makar ketika pimpinan itu diambil pastilah masa akan marah dan akan cheos.
Ternyata, sambungnya, demo 313 adalah demo yang sepenuhnya diinginkan oleh polisi.
Hal itu disampaikannya kepada hidayatullah.com di bilangan Kampung Rambutan, Jakrata Timur, Ahad (09/04/17) malam.
“Peristiwa 313 yang diperkirakan akan melakukan makar dengan menduduki DPR melalui gorong-gorong itu semua kan tidak terbukti,” ungkapnya.
Karena, terangnya, seandainya itu dimaksudkan makar ketika pimpinan itu diambil pastilah masa akan marah dan akan cheos.
Ternyata, sambungnya, demo 313 adalah demo yang sepenuhnya diinginkan oleh polisi.
“Polisi ingin agar demo tidak sampai istana, demo tidak sampai istana, polisi ingin agar gak semua orang tidak ikut ketemu presiden sudah dilakukan, tidak sampai jam 18 sudah dilakukan,” tegasnya.
Oleh sebab itu, HNW menegaskan agar polisi segera membebaskan Sekjend FUI M Al Khatatath yang sekaligus juga pimpinan dari aksi 313 itu.
“Polisi harusnya berterima kasih dengan 313 dan segera membebaskan Al-khattat,” pungkasnya
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
April 10, 2017
posted by @Adimin
Kunjungan DPD PKS Depok ke DPD dan Fraksi PKS Padang
Written By NeoBee on 10 April, 2017 | April 10, 2017
pkspadang.com : Rabu 3 April 2017. DPD PKS Padang mendapat kehormatan dengan adanya kunjungan dari DPD PKS Depok. Kunjungan DPD PKS Depok kali ini meruipakan kunjungan balasan, yang sebelumnya. Pada Bulan november 2016 Pengurus DPD PKS Padang melakukan kunjungan dan studi banding ke DPD PKS Depok, dengan membawa seluruh pemgurus DPD PKS Padang yang dikomandani Ketua Umum PKS Padang Ust. Gufron, SS.
Kunjungan DPD PKS Depok kali ini terasa istimewa karena menambah rasa ukhuwah dan sebagai sarana saling mensinergikan program program masing masing DPD demi kemaslahatan ummat. Pengurus DPD PKS Depok yang dikomandani oleh Ust M. Hafid Nasir juga melakukan kunjungan ke Frkasi PKS Kota Padang. Seluruh anggota Fraksi PKS turut hadir dalam pertemuan yang penuh dengan keakraban dan persaudaraan.
Semoga dengan semakin solid dan kuatnya struktur DPD seluruh Indonesia diharapkan PKS akan semakin membawa kemajuan dan kemaslahatan ummat dan bangsa.
posted by @Adimin
Label:
Berita Fraksi,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
April 03, 2017
posted by @Adimin
Kedekatan Pengurus PKS Padang Dengan Masyarakat
Written By NeoBee on 03 April, 2017 | April 03, 2017
pkspadang.com : Dalam rangka sosialisasi partai sekaligus membangun kedekatan masyarakat dengan tokoh dan pengurus partai, Ketua Umum PKS Padang Gufron, SS selalu menjalin kedekatan dengan masyarakat dengan selalu berusaha menjalin silaturahim dengan masyarakat Padang, apalagi dengan adanya momentum yang mendukung.
Dalam salahsatu kunjungannya dalam acara aqiqah salahseorang anggota masyarakat padang timur, Gufron, SS memberi pengarahan betapa pentingnya menghidupkan sunnah sunnah Rasulullah, yang salahsatunya adalah penyelenggaraan aqiqah.
Semoga dengan kedekatan tokoh dan pengurus PKS, akan mampu mendulang suara PKS kedepan. ALLAHU AKBAR
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 29, 2017
posted by @Adimin
Tidak Semua Yang Didengar Bisa Disampaikan
Written By NeoBee on 29 March, 2017 | March 29, 2017
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: كَفَى بِالْمَرْءِ كَذَبًا أَنْ يَحْدُثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ- رواه مسلم
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah
bersabda,”Cukuplah seorang disebut berbohong (jika) menyampaikan semua
yang telah ia dengar.” (Riwayat Muslim)
Seseorang disebut melakukan kebohongan jika ia menyampaikan semua
yang telah ia dengarkan, tanpa memastikan kebenarannya. Karena biasanya,
ia akan mendengar berita yang jujur atau bohong. Jika ia menyampaikan
semua yang ia dengar maka tentu ia tidak akan terhindar dari kebohongan.
Sedangkan berbohong adalah mengabarkan sesautu yang tidak sesuai
dengan realita, meski yang melakukan tidak sengaja. Adanya kesengajaan
merupakan syarat bahwa kebohongan itu dicatat sebagai dosa. (Faidh Al
Qadir, 5/2)
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 26, 2017
Oleh: Fakhrurrazi
posted by @Adimin
Islamic Worldview dan Peradaban Islam
Written By NeoBee on 26 March, 2017 | March 26, 2017
Dengan merealisasikan Islam worldview, mudah-mudahan akan melahirkan
semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam yang berbuah
kedamaian, kesejahteraan dan peradaban Islam
KENAPA
negara Islam
sekarang pudar eksistensinya dalam skala ilmu pengetahuan dunia? Padahal Islam
adalah suatu ajaran yang sangat konsen dan menyeru umatnya untuk mencari ilmu,
megangkat derajat orang yang beriman dan yang memiliki ilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadalah:
11).
Dengan
ilmu pula manusia (Nabi Adam ‘Alaihissalam)
lebih mulia dan tinggi derajatnya dari pada makhluk lain tak terkecuali
malaikat sekalipun. Lalu dimanakah letak kemuliaan itu sekarang, Ironisnya,
dewasa ini yang terjadi pada umat Islam di seantero bumi sana adalah
penyerangan, pembantaian umat, pertikaian antar ideologi notabennya juga dalam
tubuh umat Islam sendiri dan pada akhirnya melahirkan peperangan dalam satu
aqidah. Sekali lagi, dimanakah letak “Kewibaan umat Islam ?”
Negara
Islam hari ini jika boleh dikatakan seperti anak ayam yang kehilangan Induknya,
walaupun sebagian ahli berpendapat kemunduran umat Islam dikarenakan banyak
faktor diantaranya; ada faktor eksternal dan internal, namun faktor tersebut
tidak penulis bahas disini. Karena yang harus dipahami oleh umat Islam sekarang
adalah bagaimana caranya memulai dan membangkitakan kembali marwah Islam
kepentas dunia, yaitu dengan mengusung trilogi; mencipta kedamaian umat, memberikan
kesejahteraan dan melahirkan peradaban.
Kondisi
ini menggiring kita yang satu aqidah turut berduka dan ikut mencari solusi, apa
yang salah dengan Islam sekarang hingga bisa terjadi hal-hal yang disebutkan di
atas. Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, kondisi ini terjadi antara lain, karena
ketegangan sosial atau kekacauan politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan lain
sebagainya. Artinya Pembangunan Ilmu Pengetahuan Islam dalam melahirkan
masyarakat yang sehat dan beradab sedang dalam masalah. Terus sebenarnya
siapa yang salah, apakah konsep Islam, ataukah orang Islam yang mungkin sudah
jauh dan keliru dalam memahami Islam yang sebenarnya.
Konsep
Islam
Dalam
Hal ini penulis ingin mengulas kembali pemikiran Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi,
seorang cendikiawan muslim Indonesia yang menaruh perhatian terhadap belantika
pemikiran dan peradaban Islam. Sebelumnya, Penulis ingin memulai dengan
ungkapan seorang Ilmuwan besar dunia Albert Einstein “Ilmu tanpa agama buta, Agama tanpa
Ilmu lumpuh”.
Artinya
agama dan Ilmu seperti salah satu sisi mata uang yang saling mengikat dan
memberi makna, hubungannya tak saling terpisahkkan, ia tereduksi dalam “konsep
Islam”. Dalam Islam tidak dikenal pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Karena agama dalam Islam bersumber dari wahyu (al Quran) yang berbicara tentang
ilmu dan kebermanfaatan ilmu kepada manusia. Agama Islam memberi label kepada
manusia sebagai khalifah
fil ardh (perwakilan Tuhan) dibumi, bumi yang harus dikelola dengan
baik dan dapat memberikan kesejahteraan kepada alam sendiri dan kepada sesama
manusia.
Meskipun
petunjuk hidup (Al Quran) telah diwahyukan, namun dewasa ini kemauan untuk
mempelajari kandungan Alquran secara mendalam dan kritis miris sangat kurang,
hal ini dapat kita lihat apakah disekolah maupun diperguruan tinggi. Akibatnya
kekacauan negara-negara Islam sekarang adalah karena telah meninggalkan Al
Quran (agama Islam).
Posisi
Ilmu Pengetahuan Islam
Padahal
jika kita lihat secara historis,
perkembangan ilmu pengetahuan yang berperadaban di Jazirah Arab (Kekhalifahan
Bani Umayyah I 661-750 M dan Abbasiyah 750-1258 M) dan Eropa, (Umayyah II
929-1031 M dan Kekhalifahan Turki Ustmani 1453-1924 M) adalah dengan
menginternali sasikan nilai-nilai agama dalam setiap aktifitas kehidupan
sehingga peradaban Islam muncul kepentas dunia. Sebab agama dalam Islam bisa
melahirkan ilmu dan ilmu bisa melahirkan peradaban.
Maksudnya
penerapan dari nilai-nilai agama dikejawantahkan dalam kehidupan (Ilmu) atau
komunitas masyarakat hingga melahirkan tradisi keilmuan. Wahai para pembaca
yang budiman, agama di sini jangan dipahami secara sempit yang hanya berkutat
pada ibadah-ibadah pribadi tapi pahamilah agama Islam secara betul dan universal yang pernah
dibawa dan disampaikan oleh baginda Nabi.
Hakikat
dari disiplin ilmu menurut Imam Ghazali terklasifikasi dalam dua bagian yaitu
Ilmu Ainiyah (fikih, tauhid, tasawuf; baca penjelasan ulama) dan kifayah
(kedokteran, ekonomi, sains dan teknologi dan sebagainya) pembagian ini jangan
dilihat secara dikotomis namun lihatlah sebagai kesatuan ilmu yang berasal dari
Ilahi. Agama Islam masuk dalam segala sektor kehidupan, mulai dari masalah
teologi, politik, sains, militer, ekonomi dan seterusnya dengan matarantai ilmu
pengetahuan seperti ini sehingga terbentuklah peradaban dalam suatu komunitas,
wilayah atau negara.
Agama
dan Peradaban
Dalam
salah satu karya Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yaitu “Tamaddun Sebagai Konsep Peradaban Islam”, ditulis
bahwa peradaban Islam akan muncul kembali dengan menghadirkan agama Islam
sebagai konsep Islam
rahmatan lilalamiin dalam jiwa umat Islam, kenapa karena
interpretasi agama dalam Islam (ad-Dinul
Islam) adalah agama yang di dalamnya kaya dengan strategi, cara,
aturan-aturan, pedoman, undang-undang, kenyamana, kejayaan dan peradaban.
Pengakuan
Gutas bahwa peradaban Islam “disusun sesuai dengan agama yang diwahyukan kepada
Muhammad”, Islam adalah bukti bahwa peradaban Islam disusun berdasarkan din
Islam, dan karena itu sangat sesuai disebut sebagai peradaban. Di dalam peradaban itu
terdapat kedamaian (Demitris Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, 1988).
Ketika
menjalankan agama Islam dengan benar dan universal maka akan menciptakan
peradaban yang dapat mensejahterakan penghuni pada tempat tersebut. Agama Islam
adalah agama yang bersumber dari wahyu tuhan berisi anjuran, larangan dan pedoman
kehidupan diwahyukan kepada nabi Muhammad dan pada akhirnya dikodifikasikan
dalam bentuk kitab suci Alquran. Jadi Alquran itu adalah wahyu dari tuhan
sebagai bentuk petunjuk dalam menjalankan kehidupan.
Secara
Epistimologi
isi dari alquran itu sendiri sangat kompleks dalam menginterpretasikan dunia
dan akhirat, maka dari itu beragama Islam dalam arti yang benar adalah suatu
keniscayaan dalam membina hidup dan bisa mengelola bumi ini dengan baik.
Apabila umat Islam sudah jauh meninggalkan agama maka kehidupan akan kacau tak
berarah, maka terjadilah ketimpangan-ketimpangan yang sebenarnya secara naluriyah tidak
diinginkan oleh manusia.
Hal
ini pernah diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya Muqaddimah, “jika umat
telah jauh dan meninggalkan agama maka akan timbul ketimpangan-ketimpangan
dalam kehidupan akibatnya terjadilah pembunuhan, korupsi, perjudian,
keserakahan dan perbuatan amoral lainya.”
Maka
untuk menjawab tindakan amoral dan re-peradaban Islam, konsep yang ditawarkan
oleh Hamid Fahmy Zarkasyi dan sama pula seperti gurunya Prof. Naquib Al Attas
yaitu dengan kembali kepada Islam
worldview.
Worldview adalah falsafah atau prinsip dalam
berkehidupan dan asas bagi pemahamam realitas. Menurut Ilmuwan Muslim Syekh
Atif al-Zayn, pandangan hidup Islam ada tiga macam 1) ia berasal dari wahyu
Allah, 2) berdasarkan konsep din
yang tidak terpisah dari negara,
3) kesatuan antara spiritual dan material (sosial, budaya, ekonomi)
(Syekh Atif al-Zayn, al-Islam wa Idulujiyyat al-Insan, 1989). Berdasarkan pandangan
Syekh Atif, bahwa Islam
worldview/pandangan hidup Islam ini melibatkan aktifitas
epistimologi manusia kepada Tuhan sebab ia merupakan faktor penting dalam
aktifitas penalaran manusia baik pada sosial, realitas dan aktifitas ilmiah.
Islam
Worldview
Maka
hal yang paling utama yang harus diperhatikan dalam membangun peradaban umat
adalah cara pandang terhadap Islam. Artinya pandangan umat Islam harus
menggunakan pandangan atau cara berpikir yang berasas Islam, menghadirkan Islam
dalam semua lini kehidupan baik Politik, Ekonomi, Pendidikan, Sains dan
sektor-sektor lainnya. Sebab Islam yang bersumber dari Alquran membahas secara
universal tentang politik. Tatanan pemerintahan yang sesuai agar bisa
menjalankan syariat, bagaimana menata kehidupan yang baik dan wilayahnya bisa
berdaulat dan bermartabat juga rakyatnya bisa sejahtera. Begitu juga
pendidikan, ekonomi, budaya dan sebagainya. Semua itu diserahkan kepada umat
Islam berdasarkan penjelasan orang yang ‘alim atau ulama sebagai orang yang
lebih senior atau profesional dalam hal pengartian dan interpretasi makna-makna
Alquran. Hal ini seperti yang berlaku diperguruan tinggi di mana para sarjana
muda tentu merujuk kepada karya-karya ilmiah sang profesor yang menguasai
secara mendalam disiplin ilmu masing-masing.
Mengubah
Islam worldview/framework atau cara
pandang umat kepada cara pandang Islam (prinsip Islam) adalah kunci bangkitnya
peradaban Islam. Sebab peradaban itu muncul dari pandangan yang melahirkan
tindakan dan berbuah Ilmu Pengetahuan. Hal ini sama ketika nabi berdakwah di
Makkah, Hal pertama yang diperkenalkan nabi kepada umatnya ialah dengan
memantapkan cara pandang kepada Allah, bertauhid yang benar, bagaimana beriman
kepada hari kiamat, malaikat dan sebagainya. Singkatnya di awal periode Mekkah
yang diajarkan nabi kepada umat adalah memposisikan cara pandang/berpikir yang
benar tentang nilai-nilai teologi dan ketuhanan. Setelah mantap dengan worldview Islam kepada
Tuhan dengan menghadirkan nilai-nilai Ilahiyah
dalam segala sektor kehidupan maka inilah awal dari kebangkitan keilmuan Islam
dan peradaban.
Peradaban
Islam adalah peradaban yang dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang
dihasilkan dari pandangan hidup Islam. Menurut Dr. Hamid, pemikiran yang
berfungsi dalam kehidupan masyarakat adalah intelektual. Ia berfungsi sebagai
individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan
perubahan di masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Ini
bukan sekedar teori tapi fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan
Islam.
Di
Barat ide-ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel,
John Dewey, Adam Smith dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi
rujukan dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban
Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafii, Hanbali, Imam al-Ghazzali, Ibn
Khaldun, Ibn Rusy mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan
mereka. Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran
umat Islam, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain.
Artinya,
pembangunan ilmu pengetahuan Islam yang berasas dari cara pandang Islam
hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam. Walhasil dengan
merealisasikan Islam
worldview dalam sanubari umat Islam, mudah-mudahan akan melahirkan
semangat dalam mengembang kan ilmu pengetahuan Islam. Berbuah kedamaian,
kesejahteraan dan peradaban Islam yang kita cita-citakan Amin. Waallahu ‘alam bishawab
Oleh: Fakhrurrazi
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 24, 2017
posted by @Adimin
Tsaqâfah Islam adalah Kunci Sukses Mengembalikan Kegemilangan Islam
Written By NeoBee on 24 March, 2017 | March 24, 2017
Kita
wajib mendakwahkannya hingga seluruh manusia Muslim atau non mulim- merasakan
rahmatnya Islam
ISLAM
mendudukkan
ilmu dan tsaqâfah
pada kedudukan yang mulia. Tidak ada agama lain selain Islam yang sedemikian
memperhatikan dan begitu memuliakan persoalan ilmu dan tsaqâfah.
Islam
menempatkan kewajiban mempelajari tsaqafah Islam sebagai sebuah ibadah yang
setara dengan kewajiban yang lainnya. Dalam surat al-mujadilah ayat 3, Allah
telah memberikan keutamaan bagi orang-orang yang memahami Islam dengan mendalam
akan dinaikkan derajatnya.
Mereka
yang berilmu juga disebut pewaris para nabi. Sebagaimana sabda manusia yang
palingagung, “Sesungguhnya
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah
mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah
mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
Para
nabi yang mulia tidaklah mewariskan sesuatu kepada ummatnya kecuali warisan
yang paling berharga di dunia dan warisan yg paling dibutuhkan manusia. Dan
warisan tersebut adalah ilmu tsaqâfah.
Ini menunjukkan pada kita bahwa ilmu itu jauh lebih utama daripada harta. Dalam
kitab madarijus salikin, Imam Ibnu Qoyyim saat menjelaskan bahwa tingkat
kedermawanan tertinggi adalah memberikan ilmu.
Sedangkan
tingkat kedermawanan terendah adalah dengan memerikan harta. Dengan ilmu
manusia akan mengenal Allah, mengenal tujuan hidupnya, mengetahui baik-buruk
dan dengan ilmu pula manusia dapat menyelesaikan problemnya. Dan pada
hakikatnya, rasulullah saw diutus untuk menyampaikan –ilmu/ tsaqâfah – Islam. Yang
beliau perjuangkan dengan segenap pikiran, tenaga, waktu hingga jiwanya
hanyalah untuk membawa Islam. Membawa tsaqafah Islam dengan aqidahnya yang
cemerlang, juga syariat Islamnya yang tertuang dalam al-quran dan as-sunnah.
Dengannya, kehidupan manusia akan berada pada puncak kemuliaannya, pada
limpahan rahmat dan berkah. Dan mencampakkannya pasti berujung pada derita dan
masalah. Beliau membawa al-qur’an dan as-sunnah dengan melalui kehidupan yang
berat. Berpeluh, bercucuran darah dan air mata, demi kehidupan yang baik bagi
kita, ummatnya. Untuk kita ambil dan kita jadikan pegangan hidup. Untuk
diadopsi dan dijadikan sebagai sumber solusi yang memudahkan hidup manusia.
Itulah mengapa diberi kepahaman agama menjadi indicator seseorang mendapat
kebaikan dari Allah.
Kaum
Muslimin diwajibkan mempelajari tsaqâfah
yang berkaitan dengan individunya sebagai fardhu ‘ain. Islam juga mewajibkan
mempelajari tsaqâfah
yang berkaitan dengan masyarakat dan ilmu yang dibutuhkan masyarakat
sebagai fardhu kifayah.
Tsaqâfah Islam yang didalamnya terdapat
aspek aqidah mampu membangkitan manusia. Karena kebangkitan ummat tergantung
pada pemikirannya. Pemikiran-pemikiran Islam bisa menjadikan orang yang
memiliki tsaqâfahnya
mampu membentuk manusia menjadi pribadi yang memilik ‘aqliyah (pola pikir)
yang memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Terbentuk pula dalam dirinya nafsiyah Islamiyah (pola
sikap yang Islam) yang dipenuhi dengan keimanan yang sempurna.
Dengan
‘aqliyah dan nafsiyah ini seseorang
memiliki sifat yang mengagumkan/agung yang diinginkan oleh seorang Muslim.
Karena itu dia menerjuni petualangan kehidupan dalam keadaan (mempunyai) bekal
sebaik baik perbekalan, yaitu pemikiran yang cemerlang, takwa dan pengetahuan
yang dapat menuntaskan segala problematika.
Tidak
berhenti disitu, tsaqâfah
Islam menjadi bagian dari ummat Islam, dimana diatasnya dibangun peradaban
Islam. Tsaqâfah
juga menentukan tujuan dan corak kehidupan ummat. Dengannya, pandangan hidup
ummat yang terdiri dari berbagai suku, bangsa dan perbedaan dapat disatukan.
Dan didalamnya juga terdapat aturan yang akan dapat menjaga aqidah, keamanan,
harta, akal, jiwa, keturunan, kehormatan dan kedaulatan Negara Islam. Tsaqâfah suatu bangsa
hakikatnya adalah keimanan (aqidah), hukum, solusi, sistem yang terpancar dari aqidah, ilmu pengetahuan
yang dibangun diatas aqidah dan peristiwa apapun yang terkait dengan aqidah sebagai
perjalanan dan sejarah umat.
Perhatian
kekhilafahan terhadap tsaqâfah
Era
kekhilafahan Islam pada masanya sangat memahami ketinggian possi ilmu dan tsaqâfah Islam dalam
agama kita yang mulia. Oleh karenanya, Negara Islam yang dipimpin rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam
dan para khulafa’ sesudah beliau sangat memperhatikan aspek yang berhubungan
langsung dengannya, yakni pendidikan.
Di
masa Rasulullah Shalallahu
‘alaihi Wassallam, beliau menetapkan kebijakan berupa penebusan
bagi tahanan di Perang Badar untuk mengajar sepuluh orang Muslim membaca dan
menulis. Rasulullah sebagai kepala negara mengirimkan para qurra’ untuk mengajarkan
Islam kepada masyarakat, utamanya yang baru masuk Isalm. Rasulullah mengirim qurra’ terbaik tersebut
ke seluruh penjuru jazirah Arab. [Hisyam Ibnu, Sirah An-Nabawiyah juz 2]
Pada
masa Abu Bakar As-Shiddiq, masjid difungsikan sebagai tempat belajar, ibadah
dan musyawarah. Kuttab,
merupakan pendidikan yang dibentuk setelah masjid, didirikan pada masa Abu
Bakar. Di masa belau pula, al-Qur’an al-kariim mulai dikumpulkan. Pada masa
Kekhalifahan Umar bin Khattab, terdapat kebijakan pemberian gaji kepada para
pengajar Al-Qur’an masing-masing sebesar 15 dinar.
Para
khulafa’
berikutnya menyediakan pendidikan gratis dengan sarana dan prasarana yang
bermutu, membangun banyak madrasah, jami’ah
(universitas) dengan fasilitas terbaik untuk mendudkung kebutuhan pelajar
termasuk asrama dan perpustakaan.
Madrasah
al-Muntashiriah, misalnya, yang didirikan oleh Khalifah al-Muntashir Billah di
Kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa dijamin Kehidupan kesehariannya.
Bahkan mereka menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas)
perbulan. Institusi pendidikan serupa juga dibangun dengan fasilitas lengkap
dan gratis seperti Madrasah an-Nuriah, jami’ah
Al-Azhar kairo dll.
Para
khalifah juga membangun perpustakaan di banyak daerah di penjuru kekhilafahan,
di Baghdad, Ram Hurmuz, Rayy (Raghes), Merv (daerah Khurasan), Bulkh, Bukhara,
Ghazni, dan sebagainya. Tinta emas sejarah ini ditukis oleh Bloom dan Blair,
yang mengakui bahwa rata-rata tingkat kemampuan literasi (membaca dan menulis)
di Dunia Islam pada Abad Pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa
(Jonathan Bloom dan Sheila Blair, Islam
: A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press,
London, 2002).
Bahkan
di setiap masjid terdapat perpustakaan. pada abad ke-10, di Andalusia saja saja
terdapat 20 perpustakaan umum. Di Kairo,Perpustakaan Darul Hikmah mengoleksi
tidak kurang dari 2 juta judul buku. Bahkan di Syam, Perpustakaan Umum Tripoli,
mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran
dan tafsirnya.
Jumlah
koleksi buku di perpustakaan-perpustakaan ini termasuk yang terbesar pada zaman
itu. Bandingkan dengan Perpustakaan Gereja Canterbury yang berdiri empat abad
setelahnya, yang dalam catatan Chatolique Encyclopedia, perpustakaan tersebut
memiliki tidak lebih dari 2 ribu judul buku saja.
Semua
ini dilakukan demi menjaga tsaqofah Islam tetap terwariskan dengan baik kepada
anak cucu dan generasi mendatang. Khilafah juga memproduksi mujtahid-mujtahid
dan ulama-ulama berkualitas dan takut Allah secara massal. Para ulama tersebut
juga penulis yang setiap orangnya mampu melahirkan ratusan judul kitab.
Termasuk diantaranya kitab-kitab yang khusus membahas tuntas aspek ilmu baik
dari segi keajiban dan keutamannya, adab-adabnya dan penjelasan tentang ulama
seperti kitab Ta’lim
al-Muta’lim fi Thoriiqi at-Ta’allum dan Ihya’ Ulumiddin,masterpiece
Imam Ghazali yang fenomenal.
Saat
melakukan jihad dan futuhat,
kaum Muslim menaklukkan berbagai negara dalam rangka mengemban dakwah Islam
kepada penduduknya. Karena itu kebanyakan para penakluk adalah dari golongan
ulama, pembaca dan penulis. Hal ini bertujuan untuk mengajarkan tsaqâfahnya di negeri
yang ditaklukkan. Walhasil, di setiap negeri yang ditaklukkan dibangun masjid
untuk shalat dan belajar, baik bagi laki-laki, perempuan maupun anak-anak.
Mereka mengajarkan kepada orang-orang mengenai al-Quran, hadits dan hukum-hukum
Islam, mengajarkan mereka bahasa Arab, dan membatasi perhatian mereka dengan tsaqâfah Islam.
Wajar
jika dalam waktu singkat–pada masa pemerintahan kaum Muslim- tsaqâfah lama hilang di
negeri-negeri yang ditaklukkan. Tinggal tsaqâfah
Islam saja yang menjadi tsaqâfah
di setiap negeri tersebut, dan bahasa Arab saja sebagai bahasa Islam.
Negeri-negeri yang ditaklukkan seluruhnya bergabung dengan negeri-negeri Arab
menjadi negeri yang satu, yang sebelumnya merupakan negeri –negeri dan
bangsa-bangsa yang berbeda-beda dan bercerai berai. Islam menjadi
satu-satunya kepemimpinan berfikir (qiyadah
fikriyah) di seluruh Negara Islam.
Kehidupan
warga di era khilafah Islam yang dilimpahi barakah ini terus berjalan hingga
pada pertengahan abad ke 18 Masehi di masa Kekhilafahan Utsmani, ummat Islam
mengalami kemerosotan yang mendalam. Bermula pada kejeniusan raja-raja Eropa,
yang kewalahan mengahdapi tentara kaum Muslimin pada Perang Salib.
Dua
ratus tahun lamanya, mencurahkan otak mengetur strategi, menguras harta hingga
memajak rakyat demi membiayai perang suci, namun yang didapaat hanya kekalahan
demi kekalahan. Maka sejak abad ke 13 Masehi mereka temukan rahasia kekuatan
ummat Islam. Dan mereka bertekad menghancurkannya. Kekuatan Islam yang tak lain
terletak pada tsaqâfah
nya ; dalam aspek pemahaman
dan penerapannya.
Maka dirumuskanlah gaya perang baru, bukan lagi dengan perang fisik, tapi
dengan gazwu ats-tsaqafiy
; perang tsaqafah atau perang budaya.
Mereka
berupaya keras untuk menghapus tsaqâfah
dari benak dan kehidupan kaum Muslimin. Mereka juga berusaha
menghilangkan tsaqâfah
dari undang-undang hingga konstitusi kaum Muslimin. Sejak saat itu,
bahasa Arab mulai ditinggalkan dan diganti dengan Arab ‘ammiyah, bahasa daerah
dan bahasa penjajah. Kemudian berlanjut dengan ditutupnya pintu ijtihad dan
diambilnya tsaqâfah
– tsaqâfah
asing seperti filsafat, demokrasi, feminisme dll, sehingga negera khilafah
justru berdiri di atas tsaqâfah
selain Islam. Hal ini merupakan keberhasilan scenario besar Barat dalam perang
budaya (gazwu ats-tsaqafiy)
untuk meruntuhkan institusi daulah Islam.
Sejak
zaman keruntuhan Negara pemersatu umat itulah, hingga saat ini kaum Muslimin
diterpa berbagai persoalan hidup. Miskin harta, miskin iman, miskin ilmu dan
miskin adab. Generasi muda umat ini tak luput dari sasaran pengrusakan.
Narkoba, minuman keras hingga seks bebas mereka jadikan trend dan gaya hidup.
Jika saat ini kita ingin mengembalikan Islam dan ummat Islam pada kejayaan
peradabannya, jika kita ingin kembali hidup dalam kegemilangan generasinya,
sudah sepatutnya kita kembali pada Islam. Memahami dengan baik tsaqâfah nya. Kemudian
meyakininya sebagai satu-satunya pandangan hidup yang shahih. Kita juga wajib
merujuk padanya saat memiliki persoalan individu atau keummatan. Serta
mengamalkannya dalam seluruh lini kehidupan mulai tataran individu, keluarga,
masyarkat hingga Negara.
Last
but not least,
kita wajib mendakwahkannya hingga seluruh manusia –Muslim atau non mulim-
merasakan rahmatnya. Wallahu
a’lam bis showab
Oleh:
Wardah Abeedah
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 23, 2017
Kita harus jaga dan rawat kebhinekaan dan NKRI yang kita cintai ini agar tetap kokoh dan tergoyahkan. Ada tiga modal sosial bangsa yang bisa menjadi penompang hal tersebut.
Saya meyakini ketika ketiga modal sosial bangsa tersebut dijalankan secara konsisten dan konsekwen, InsyAllah bangsa dan negara ini akan semakin maju, kokoh dan bermartabat serta dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini
Islam, Kebhinnekaan, dan NKRI
Written By NeoBee on 23 March, 2017 | March 23, 2017
Mohamad Sohibul Iman, Ph.D
Presiden Partai Keadilan Sejahtera
Ketika umat Islam berjuang membela
martabat agamanya karena merasa dinodai oleh ucapan Seorang pejabat
publik, tiba-tiba ada sebagian kelompok yang justru menstigmanya sebagai
sikap anti-kebhinekaan dan anti-NKRI. Ada anggapan bahwa menghormati
kebhinekaan semata-mata diartikan sebagai sikap merayakan perbedaan
namun kurang mengindahkan hak-hak setiap warga dalam memeluk dan
menjalankan ajaran agama dan keyakinannya sebagaimana telah dijamin
dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kebhinekaan akhir-akhir ini terasa
direduksi maknanya menjadi semata-mata melindungi hak-hak minoritas
tanpa menghormati hak-hak mayoritas. Klaim-klaim sepihak tentang
kebhinekaan adalah cara termudah untuk mengasosiakan diri dengan hal
tersebut. Tapi yang sulit adalah membuktikannya pada sikap dan perilaku
di kehidupan nyata. Kebhinekaan terawat bukan karena klaim-klaim sepihak
tetapi karena adanya sikap jujur, terbuka, tanggungjawab, dan berpihak
kepada kebenaran dan rasa keadilan masyarakat.
Adanya pemikiran yang mencoba
membenturkan antara Islam, Kebhinekaan dan NKRI adalah pemikiran yang
berbahaya dan ahistoris. Islam, Kebhinekaan dan NKRI adalah satu
kesatuan yang tak terpisahkan. Menjadi seorang muslim yang seutuhnya
maka secara aksiomatis ia juga menjadi seorang nasionalis dan pluralis
seutuhnya. Jika masih ada entitas di Republik ini yang mengatakan bahwa
umat Islam tidak nasionalis, anti-kebhinekaan, maka sesungguhnya mereka
telah memunggungi takdir sejarah Republik Indonesia.
Bung Karno pernah berpesan kepada bangsa
Indonesia bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah. Oleh karena itu,
jangan pernah melupakan sejarah panjang perjuangan umat Islam dalam
memerdekakan dan membangun Republik ini. Janganlah melupakan jasa besar
Kiyai Haji Hasyim Asy’ari bersama umat Nahdhiyin yang menyerukan
Resolusi Jihad untuk mengobarkan semangat perlawananan pejuang Surabaya
dibawah komando jihad Bung Tomo dalam mempertahankan Kota Pahlawan dari
gempuran Imperialis.
Sejarah juga telah mencatat bagaimana Ki
Bagus Hadi Kusumo sebagai pucuk pimpinan Muhammadiyah bersama
tokoh-tokoh umat Islam lainnya telah berbesar hati mengorbankan aspirasi
umat Islam dengan merelakan penghapusan 7 kata dalam Piagam Jakarta dan
menggantinya dengan Sila Pertama Pancasila sebagai sikap penghormatan
kepada aspirasi Saudara-saudara sebangsanya dari Indonesia bagian timur.
Kita juga harus ingat bagaimana peran
diplomat muslim kita, Haji Agus Salim dan AR Baswedan, yang dengan susah
payah bergerilya mencari pengakuan kedaulatan kemerdekaan RI dari dunia
Internasional. Dengan mengedepankan semangat ukhuwah Islamiyah, mereka
berhasil mengantarkan RI mendapatkan pengakuan kedaulatan pertamanya
dari negara-negara Islam seperti Mesir, Lebanon, Suriah, Irak, Arab
Saudi dan Yaman. Kiprah diplomasi mereka berhasil menyudutkan Belanda di
forum PBB dan mengukuhkan kedaulatan RI di mata dunia.
Bahkan jika merujuk pada konsepsi NKRI
itu sendiri, secara legal-konstitusional justru terlahir dari
kepeloporan dan perjuangan umat Islam di Parlemen yang saat itu
disuarakan oleh Mohamad Natsir. Melalui Mosi Integralnya, Natsir
mengusulkan kepada Parlemen RI untuk mengganti konsep Negara Republik
Indonesia Serikat (NRIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Insiatif Natsir ini akhirnya disambut baik oleh seluruh kekuatan
politik di Parlemen saat itu, sehingga konsep NRIS dibubarkan dan
sebagai gantinya Indonesia menjadi NKRI.
Modal Sosial Bangsa
Kita telah memahami bersama bahwa
kebhinekaan Indonesia merupakan sebuah keajaiban dunia. Kita semua telah
merawatnya dengan susah payah. Maka tak sepatutnya kebhinekaan ini
dikoyak-koyak oleh kekerasan verbal yang melukai rasa persatuan bangsa.
Semangat menghormati kebhinekaan dan
persatuan bangsa adalah modal sosial bangsa yang wajib kita jaga
bersama. Semua tindakan yang menodai kebhinekaan oleh siapa pun, apa pun
agamanya, apa pun suku bangsanya, apa pun partai dan posisi jabatannya,
maka harus diperlakukan yang sama di depan hukum (equality before the
law).
Kita harus jaga dan rawat kebhinekaan dan NKRI yang kita cintai ini agar tetap kokoh dan tergoyahkan. Ada tiga modal sosial bangsa yang bisa menjadi penompang hal tersebut.
Pertama, Sense of Belonging
yakni rasa saling memiliki sebagai bangsa. Semua harus merasa memiliki
NKRI, jangan ada yang tidak merasa memiliki. Di sisi lain, jangan pernah
ada yang mengklaim bahwa ia satu-satunya pewaris sah republik ini.
Bangsa ini lahir atas jerih payah dan
pengorbanan berbagai komponen bangsa. Dalam benak kita semua harus
tertanam kuat bahwa bangsa ini adalah milik semua anak bangsa: dari
Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Bangsa ini bukan
hanya milik suku dan agama tertentu, tapi merupakan milik semua suku dan
agama yang diakui di Indonesia.
Kebhinekaan tercermin ketika kelompok
mayoritas mampu mengayomi minoritas, dan disaat yang sama kelompok
minoritas juga bisa memposisikan diri mereka dan menghormati kelompok
mayoritas. Rasa saling memiliki di antara sesama anak bangsa akan
menumbuhkan sinergi dan harmoni, karena kita percaya bahwa sikap dan
tindakan setiap anak bangsa dilandasai oleh rasa saling memiliki atas
bangsa ini.
Kedua, Sense of Togetherness
yakni rasa kebersamaan sebagai sesama anak bangsa yang sama-sama cinta
kepada tanah airnya. Bangsa ini sangat majemuk. Bangsa ini terdiri dari
belasan ribu pulau, ratusan bahasa daerah, ribuan suku bangsa, beberapa
agama dan kepercayaan. Bahkan bukan hanya majemuk, tapi juga
terfragmentasi dan tersegmentasi.
Adalah sebuah Sunnatullah bahwa untuk
membangun bangsa ini harus dengan menumbuhkan rasa kebersamaan dan
saling bekerjasama atau gotong royong. Kita tidak bisa membangun
Republik ini sendirian hanya melibatkan golongan dan kelompok tertentu
saja tanpa bantuan dan kerjasama dengan berbagai elemen bangsa lainnya.
Bangsa ini lahir dan bisa tetap tumbuh berkembang hingga saat ini karena
rasa kebersamaan yang terus terjalin.
Dan ketiga adalah Trustworthiness
yakni rasa saling percaya diantara seluruh komponen bangsa. Pada
tingkat gagasan kita harus saling percaya bahwa semua warga Indonesia
memiliki niat baik untuk bangsanya dengan caranya masing-masing. Namun,
pada tingkat tindakan kita harus membuktikannya dengan melihat sepak
terjang dan perilakunya apakah niat baik itu benar-benar ditunjukkan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika terbukti ada niat jahat,
maka semua wajib mencegah dan menghentikannya.
Saya meyakini ketika ketiga modal sosial bangsa tersebut dijalankan secara konsisten dan konsekwen, InsyAllah bangsa dan negara ini akan semakin maju, kokoh dan bermartabat serta dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 20, 2017
posted by @Adimin
DPC PKS Kuranji Mengadakan Training Orientasi Partai
Written By NeoBee on 20 March, 2017 | March 20, 2017
Pkspadang.com : Untuk
lebih menggerakkan mesin dan menggelorakan semangat jihad siyasi maka DPC
Kuranji mengadakan TOP (training Orientasi Partai). TOP Kuranji yang dilaksanakan
pada hari Ahad 19 Maret 2017 dihadiri oleh kurang lebih 50 orang peserta yang
berkomitmen akan berjuang bersama sama PKS DPC Kuranji…..
Dalam TOP tersebut peserta
mendapatkan pencerahan kepada peserta TOP tentang pentingnya ummat Islam untuk
berperan serta dalam dunia politik yang tentunya bermuara untuk kepentingan
ummat juga. Hal tersebut disampaikan oleh, Ust Gufron, SS sebagai Ketua Umum
DPD PKS Padang sekaligus sebagai pemateri dalam TOP tersebut. TOP kali ini dihadiri juga oleh Ketua DPC PKS Kuranji yang saat ini diemban oleh Ust Syafriyon beserta jajarannya.
Semoga dengan diadakannya
TOP tersebut maka seluruh kader dan pengurus PKS Kuranji semakin menggelora
semangat jihadnya…….
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
March 20, 2017
posted by @Adimin
PKS Sumbar Selenggarakan Rakorwil
pkspadang.com : Untuk
menyamakan suhu dan semangat rakornas PKS, maka DPW PKS Sumbar mengadakan
rakorwil (rapat Koordinasi Wayah). Program program unggulan DPP yang sudah dirumuskan
saat rakornas diturunkan ke DPW dan DPD sesumatera barat dengan memperhatikan
dan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada pada masing masing DPD di tiap
tiap Kota/kabupaten di Sumatera Barat.
Program program DPD diolah
sedemikian rupa berdasarkan IKU (Indikator Kerja Utama) masing masing bidang. Dengan
kerja masing masing bidang yang ada yang berdasarkan IKU, maka diharapkan
kinerja masing masing bidang bias terarah dan terukur.
Rakorwil Sumbar di hadiri
oleh pengurus Wilda Sumbagsel Ust. Hermanto beserta jajaran pengurus, hadir
pula musyrif SUmbar Ust. Syaurium Khatib dan seluruh jajaran DPW Sumatera Barat
yang saat ini di komandani oleh Ust Irsyad Syafar.
Semoga dengan diadakannya
Rakorwil Sumbar ini bias lebih menggelorakan dakwah di Sumatera Barat dan di
kota/kabupaten yang ada diwialayah sumatera Barat. ALLAHU AKBAR…………….
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN











