Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
June 05, 2017
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 4 (RAJA HARI PEMBALASAN) - - - - - - - - - -
Written By neobattosai on 05 June, 2017 | June 05, 2017
Di dunia ini begitu banyak raja dan
penguasa. Bahkan, tidak sedikit orang yang berprilaku bagaikan raja. Berbuat
dan berkata seenaknya, tak peduli orang sekitarnya dan apa akibatnya. Ada raja
di pemerintahan, ada raja di perusahaan, raja di pasar, raja dalam pergaulan
juga termasuk raja di jalanan.
Bahkan, di dunia ini ada orang-orang
yang berperilaku bagaikan Tuhan. Atau malah mengklaim diri sebagai Tuhan. Kata
dan ucapannya adalah wahyu, mutlak kebenarannya. Orang lain mesti menyembah
menghambakan diri kepadanya. Dan itu muncul dari zaman ke zaman. Dahulu ada
raja Namrudz yang mengaku sebagai tuhan. Mengklaim diri bisa menghidupkan dan
mematikan. Juga ada firaun yang juga mengaku sebagai tuhan selain Allah.
أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ
إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي
وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ
الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ
يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٢٥٨﴾
Artinya: "Apakah kamu tidak
memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah
telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim
mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang
itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim
berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka
terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zalim." (QS Al baqarah: 258)
وَقَالَ
فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي
فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي
أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
Artinya: Dan berkata Fir`aun: "Hai
pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah
hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi
supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar
yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (QS Al Qashash: 38).
Begitulah di dunia ini, banyak raja dan
bahkan tuhan-tuhan palsu. Namun, di akhirat kelak hanya ada satu raja, yaitu
Allah 'azza wa jalla.
Dialah Allah Raja hari pembalasan, atau
Raja hari kiamat. Ketika seluruh manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat,
dalam keadaan telanjang bulat. Sebagaimana Rasulullah saw pernah mengabarkan:
عن
عائشة -رضي الله تعالى عنها- قالت: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول:
"يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غُرْلاً". قلت: يا رسول الله، الرجال
والنساء جميعاً ينظر بعضهم إلى بعض؟، قال: "يا عائشة الأمر أشد من أن يُهمهم
ذلك".
Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah ra,
dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Manusia akan dibangkit pada hari
kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat dan belum
dikhitan". Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, laki-laki perempuan
semuanya akan saling melihat satu sama lain?". Rasulullah menjawab,
"Wahai Aisyah, urusan pada hari itu sangat menakutkan untuk mereka hendak
melihat satu sama lain". (HR Bukhari)
Setelah semua dibangkait, maka Allah
menyeru seluruh manusia, "Siapakah pemilik kerajaan pada hari ini?".
Tidak ada satu manusia yang bisa menjawab. Semua terdiam. Allah sendiri yang
menjawab pertanyaanNya, "Milik Allah Yang Maha Esa, lagi Maha
Menaklukkan". (Dalam QS Al Mukmin: 16).
Suasana di akhirat memang sangat
berbeda dengan suasana dunia. Di dunia orang bisa bicara seenaknya, sepenuh
mulutnya, seisi perutnya atau bahkan sesuai dengkulnya. Sedangkan pada hari
kiamat nanti, Allah menjadi Raja satu-satunya. Yang lain adalah rakyat atau
budak. Tidak satupun manusia bisa bicara, kecuali dengan izinNya. Semua mulut
terkunci, tak berdaya. Allah berfirman:
يَوْمَ
يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ
وَقَالَ صَوَابًا (38)
Artinya: "Pada hari dimana Jibril
dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali yang
telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang
benar." (QS An Naba: 38)
Dalam
ayat lain Allah nyatakan:
وَخَشَعَتِ
الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا.
Artinya: ".... dan merendahlah
semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali
bisikan saja". (QS Thaha: 108).
يَوْمَ
يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ .
Artinya: "Dikala datang hari
(kiamat) itu, tidak ada seorang pun yang bicara, melainkan dengan izinNya. Maka
diantara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia". (QS Hud: 105).
Maka pada hari kiamat, Allah SWT
menjadi penguasa tunggal. Tidak ada raja lain selainNya, seperti halnya saat di
dunia. Para raja di dunia menjadi hina dan rendah di akhirat. Tak berdaya
sedikitpun. Jangankan kekuasaan, untuk berbicara saja sudah tidak dapat izin.
Allah adalah Raja hari pembalasan
karena semua manusia akan dihisab dihadapanNya, satu persatu, dengan amalannya
masing-masing. Jika amalannya baik maka dia akan mendapatkan kebaikan. Jika
buruk, maka dia akan mendapatkan keburukan dan kesengsaraan.
Segala keputusan berada di tanganNya.
Apakah Dia akan menyiksa atau mengampuni seorang hamba, maka itu sepenuhnya
menjadi hakNya.
وَلِلَّهِ
مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (١٤)
Artinya: "Dan hanya milik
Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki,
dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS Al Fath: 14)
Tidak satupun manusia yang akan dapat
membantu manusia yang lain. Allah berfirman:
يَوْمَ
لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ
Artinya: "Hari itu seseorang tak
berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Segala urusan pada hari itu dalam
kekuasaan Allah." (QS Al Infithar: 19).
Begitulah dahsyatnya hari pembalasan
dan begitulah agungnya kekuasaan dan kerajaanNya. Maka, sesungguhnya puasa
merupakan salah satu modal utama untuk bekal perjalan di kampung akhirat.
Seorang tabi'in, al-Ahnaf bin Qais
rahimahullah, pernah ditanya: "Sesungguhnya anda ini orang yang sudah tua,
dan sungguh puasa membuatmu lemah.” Maka beliau berkata: ”Sungguh aku
menyiapkannya (puasa) untuk perjalanan yang panjang (hari Akhirat). Dan
bersabar di dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa Ta’al lebih ringan bagiku
daripada sabar terhadap adzabnya.”
Rasulullah saw bersabda:
عن
عبد الله بن عمرو، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الصيام والقرآن يشفعان
للعبد يوم القيامة يقول الصيام : أي رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني
فيه ، ويقول القرآن رب منعته النوم بالليل فشفعني فيه ، فيشفعان.
Artinya: "Puasa dan Al-Qur'an akan
memberi syafa'at bagi hamba pada pada hari kiamat. Puasa berkata : " YA
ALLAh aku mencegahnya dari makan dan memuaskan syahwat pada siang hari, maka
jadikanlah aku sebagai penolongnya. Al-Quran berkata : Ya Allah aku mencegahnya
dari tidur malam hari, maka jadikanlah aku sebagai penolongnya. Maka keduanya
diterima Allah SWT ". ( HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr dishahihkan oleh
Albany).
Wallahu A'laa wa A'lam.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 04, 2017
Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd
posted by @Adimin
Ramadhan 3 (DIA YANG MAHA PENGASIH MAHA PENYAYANG)
Written By neobattosai on 04 June, 2017 | June 04, 2017
Ramadhan 3
DIA YANG MAHA PENGASIH MAHA PENYAYANG
(الرحمن الرحيم)
Allah telah mensifati dirinya dengan
dengan sifat kasih sayang dalam dua namaNya Yang Mulia, yaitu Ar Rahman dan Ar
Rahim.
Ar Rahman adalah bentuk superlatif dari
sifat penyayang. Maka Allah adalah sangat penyayang. Ar Rahim juga bentuk
superlatif yang bermakna sama dengan Ar Rahman.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ada
perbedaan antara Ar Rahman dengan Ar Rahim. Imam Ibnu Katsir mengutip perkataan
Abu Ali Alfarisi bahwa Ar Rahman mencakup seluruh kasih sayang Allah. Baik
kepada orang beriman maupun kepada orang kafir. Adapun Ar Rahim adalah kasih
sayang khusus dari Allah untuk orang-orang beriman. Allah berfirman:
هو الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Artinya: "Dialah yang memberi
rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia
Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS Al Ahzab: 43).
Ibnul Mubarak seorang senior tabiin
menambah penjelasan tentang beda Ar Rahman dengan Ar Rahim: "Ar Rahman
bila diminta akan Dia beri. Sedangkan Ar Rahim kalau tidak diminta, Dia akan
marah". Lalu beliau mengutip hadits Imam Tarmidzi dan Ibnu Majah dari Abu
Hurairah:
من لم
يسأل الله يغضب
عليه.
"Barang siapa yang tidak meminta
kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya".
Imam Ibnu Jarir Ath Thabary juga
menjelaskan bahwa rahmannya Allah lebih luas dari pada rahimNya. Karena kasih
sayang Rahman mencakup seluruh makhluknya, di dunia dan di akhirat. Sedangkan
rahimNya adalah kasih sayang khususNya untuk orang yang beriman.
Ar Rahman merupakan nama khusus Allah
yang tidak boleh selainNya diberi nama tersebut. Dan Allah menyuruh
hamba-hambaNya untuk berdoa menyeru Nama Allah atau Nama Ar Rahman:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ
ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا
تَدْعُوا فَلَهُ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا
تُخَافِتْ بِهَا
وَابْتَغِ بَيْنَ
ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Artinya: Katakanlah: "Serulah
Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia
mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu
mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan
carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS Al Isra: 110).
Karenanya, berdoa dengan kalimat Yaa
Allah dan Yaa Ar Rahman merupakan bentuk doa yang diperintakan oleh Allah.
RahmanNya Allah adalah kasih sayangNya
yang umum. Mulai dari penciptaan berbagai ragam makhluk, memberinya rezeki,
menunjukinya hal-hal yang terkait dengan kemashlahatan umum dan berbagai hal
untuk eksistensi hidup di dunia.
Adapun RahimNya Allah, merupakan kasih
sayang khusus bagi orang yang beriman. Mencakup: bimbinganNya bagi para waliNya
sehingga tetap di jalan kebenaran, cahaya iman yang Dia berikan kepada
hambaNya, taufiq dan hidayahNya agar seorang hamba tetap dalam amal shaleh, dan
terhindar dari perbuatan dosa.
Kehadiran bulan Ramadhan dengan segala
kemuliaannya merupakan bentuk kasih sayang khusus dari Allah kepada orang-orang
yang beriman. Dia kondisikan suasana, dibukakan pintu-pintu langit dan
pintu-pintu sorga, ditutupNya pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syetan dan jin
pembangkang.
Beruntunglah orang-orang yang dapat
ikut berlomba-lomba dalam kebaikan selama Ramadhan ini. Karena itu pertanda dia
mendapat kasih sayang khusus dari Allah SWT.
Sebaliknya, bagi orang yang belum juga
ikut serta dalam rangkaian amal shaleh selama ramadhan ini, maka itu merupakan
pertanda kerugian yang nyata.
Anak-anak muda, para pemuda dan kaum
remaja yang masih jauh dari rumah Allah disaat hari-hari yang kondusif ini,
dikhawatirkan mereka belum tersentuh kasih sayang khusus dari Allah. Dan
artinya mereka belum berharap untuk masuk ke dalam salah satu kelompok yang
dinaungi Allah pada hari qiyamat kelak, dimana pada hari itu tidak ada naungan
kecuali naungan Allah. Yaitu (salah satu dari 7 golongan) pemuda yang hatinya
terpaut dengan masjid. (Dari kandungan HR Bukhari Muslim).
Sedangkan orang-orang tua yang sudah
melewati usia 60 tahun, sementara dia sehat wal afiat, namun selama ramadhan
ini masih belum tertarik untuk memperbanyak ibadah serta amal akhirat, masih
jauh dari masjid dan Al Quran, serta masih saja asyik dengan dunia dan dosa,
maka (dikhawatirkan) dia termasuk orang yang sudah melewati batas toleransi
dari Allah:
عن أبي
هريرة رضي الله
عنه عن النبي
صلى الله عليه
وسلم قال: أعذر
الله إلى امرئ
أخر أجله حتى
بلَّغه ستين سنة.
Artinya: "Allah memberi batas
toleransi bagi seorang hamba sampai usia mencapai 60 tahun...". (HR
Bukhari).
Ramadhan masih di awalnya, dan
hari-harinya masih banyak. Mari sentuhkan diri dengan rahmat khusus dari Allah.
Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau di ramadhan tidak bisa, niscaya diluar
Ramadhan lebih tidak bisa.
Wallahu A'laa wa A'lam
Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 03, 2017
posted by @Adimin
DPC Nanggalo Selenggarakan Launching Komunitas Cinta Qur'an
Written By neobattosai on 03 June, 2017 | June 03, 2017
pkspadang.com : Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan, DPC Nanggalo selenggarakan Launcing Komunitas Cinta Quran (KCQ) RKI DPC sekaligus pemagian Mushaf kepada seluruh peserta launching.
Diawali dengan pemutaran film pendek bagi para pecinta qur'an. Selanjutnya taujih oleh Ustadzah Ivo Mela Kresna. Dalam acara tersebut Ketua DPC Nanggalo Muhammad Yusuf mengarahkan agar para pecinta al qur'an berperan dalam gerakan membumikan al qur'an, terutama dalam mengisi bulan ramadhan.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 01, 2017
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ, رَدَّ اللهُ وَجْهَهُ
النَّارَ
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ
وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Ingatlah sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
posted by @Adimin
Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari
Written By @Adimin on 01 June, 2017 | June 01, 2017
Al-Qur'an ini tegas melarang tajassus alias mencari-cari
kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat besar
ALANGKAH banyak aib kita yang Allah Ta’ala
tutupi. Andaikan aib itu berupa bau busuk, niscaya kita tak akan sanggup
mencium aib kita sendiri. Sesiapa yang Allah Ta’ala telah tutupi aibnya saat
berbuat dosa, maka janganlah ia menceritakan menyebarluaskannya kepada orang
lain. Janganlah menjadi mujahirin.
Siapakah mujahirin itu? Orang yang melakukan perbuatan
dosa secara terang-terangan. Mereka inilah orang yang tidak mendapat ampunan
Allah Ta’ala. Termasuk mujahirin adalah orang yang melakukan perbuatan mungkar
secara diam-diam, Allah Ta’ala pun tutupi, tetapi ia kemudian menceritakan
kepada orang lain tanpa alasan yang haq.
Sangat banyak aib kita yang Allah Ta’ala tutupi. Maka
hendaklah kita berusaha menjaga diri agar tak membuka aib orang lain &
menyebarkannya.
Tidakkah kita ingin termasuk yang dijamin Nabi
shallaLlahu ‘alaihi wa sallam?
“Sesiapa mempertahankan kehormatan saudaranya yang akan
dicemarkan orang, maka Allah akan menolak api neraka dari mukanya pada hari
Kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad ini
menunjukkan betapa melindungi kehormatan seorang muslim akan menyelamatkan
seseorang dari api neraka. Kehormatan seorang muslim sama mulianya dengan
darahnya; tak boleh menetes sedikit pun tanpa alasan yang dibenarkan.
Jika menjaga kehormatan saudara seiman dan menutupi
aibnya merupakan kemuliaan, maka menyebarluaskan tanpa hak (ghibah) sangat
tercela. Menggunjing (ghibah) itu ibarat memakan bangkai saudaranya; pertanda
sangat busuk dan kejinya perbuatan yang kadang terasa mengasyikkan itu.
Ingatlah, wahai diriku yang bertumpuk kesalahan,
sesungguhnya setiap muslim itu mulia. Haram kita ciderai darahnya, kehormatan
dan hartanya. Sesungguhnya Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda:
“Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram,
yaitu darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR. Muslim).
Tidakkah kita perhatikan ini?
Tidak ada yang memudahkan kita untuk merusak kehormatan
sesama muslim kecuali karena lemahnya iman. Terlebih jika sudah ada buruk
sangka. Penyebab lain yang menggelincirkan kita merusak kehormatan saudara
seiman adalah besarnya kemaksiatan diri yang hendak ditutupi. Sesungguhnya
kemaksiatan yang beriring dengan kezaliman dan kejahatan itu membuat seseorang
cemas terhadap terbukanya aib.
Nurani yang bersih membuat kita merasa gelisah dan malu
apabila berbuat maksiat. Dan semakin bertambah kegelisahan itu jika
kemungkarannya besar. Kecemasan terhadap aib yang tak dapat ditutupi akan semakin
besar dan menakutkan pada orang yang terbiasa membuka aib orang lain, padahal
ia sedang memperbuat kemungkaran besar yang mengancam kehormatan diri serta
kedudukannya di tengah-tengah manusia. Jika kemaksiatan dan buruk sangka telah
mengakar pada diri seseorang, maka pintu keburukan berikutnya yang segera ia
masuki adalah tajassus.
Apakah tajassus itu? Mencari-cari kesalahan hingga
mencari kemungkinan yang tersulit sekalipun. Jika mendapati, ia besarkan
kesalahan itu. Semakin besar semangat untuk melakukan tajassus, semakin besar
pula kecenderungan membesar-besarkan kesalahan atau kekeliruan yang kecil. Apa
yang sebenarnya merupakan kekhilafan dalam urusan sederhana yang wajar terjadi
dan sepatutnya dimaafkan, ditampak-tampakkan sebagai kejahatan besar. Jika
tidak segera bertaubat dari keburukan ini, ia dapat terperosok kepada keburukan
yang lebih besar, yakni mengada-adakan kesalahan.
Apa bedanya? Mencari-cari kesalahan memang berusaha
sekuat tenaga menemukan keburukan seseorang, sedangkan mengada-adakan lebih
buruk lagi. Mengada-adakan kesalahan itu ia mengetahui betul bahwa tidak ada
kesalahan pada orang tersebut, tetapi ia menisbahkan kesalahan kepadanya;
mengesankan kepadanya bahwa ia berbuat kesalahan yang sangat besar. Ini semua
termasuk fitnah yang keji. Ghibah itu buruk. Tajassus itu sangat buruk. Dan
lebih buruk lagi adalah melakukan fitnah. Karena itu, kita perlu berhati-hati
terhadap buruk sangka agar tidak tergelincir kepada tajassus atau yang lebih
buruk lagi, yakni fitnah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang lain (tajassus) dan jangan pula menggunjingkan
satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan bangkai
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49 : 12).
Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an ini tegas melarang
tajassus alias mencari-cari kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat
besar. Buruknya tajassus, apalagi jika sampai mengada-adakan kesalahan, akan
lebih besar kerusakannya jika menimpa tokoh, sosok panutan dan penguasa. Maka,
ikhtiar agar tidak bermudah-mudah menjatukan kehormatan sesama muslim, kita
perlu memperbaiki iman, menjaga lisan dan menjaga diri.
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ
“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka
adalah dua lubang: mulut dan kemaluan.” (HR.
Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).
Semoga Allah Ta’ala melindungi kita, para tokoh serta
sosok panutan kita maupun para penguasa dari merusak kehormatan, tajassus dan
mengada-adakan kesalahan
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
May 31, 2017
posted by @Adimin
Ramadhan 2
Written By @Adimin on 31 May, 2017 | May 31, 2017
Oleh. Irsyad Syafar, Lc, MEd
الحمد لله ربّ العالمين
Segala puji hanya bagi Allah,
Tuhan semesta Alam. Dialah satu-satunya yang berhak dipuji. Karena Dialah
pemilik seluruh sifat-sifat kesempurnaan. Adapun makhlukNya, penuh dengan
kelemahan dan kekurangan.
Dialah Allah Yang Maha Kaya, dan
sebenar-benarnya kaya. Dia tidak butuh akan makhluknya. Secuilpun kekafiran
makhluknya takkan mengurangi kemulianNya. Sebanyak apapun ibadah dan ketaatan
hamba-hambaNya, takkan sedikitpun menambah kerajaanNya. Bahkan kekayaanNya
takkan pernah berkurang bila Dia membagi-bagikannya kepada semua makhlukNya.
Rasulullah bersabda dari hadits
Qudsi, bahwa Allah berfirman:
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . (رواه مسلم)
Artinya: "Wahai
hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan
kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat
kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu. Wahai hamba-hambaKu, seandainya
generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan
jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat
ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun.
Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari
kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan
seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu
takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun. Wahai hambaKu, seandainya generasi
pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin,
semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu,
lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi
apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke
dalam lautan..." (HR Muslim, dari Abu Hurairah)
Adapun manusia semuanya miskin.
Berapapun kekayaannya, maka dia butuh dan tergantung kepada orang lain. Dan
kekyaannya bisa hilang sekejap mata tanpa mampu dia menjaganya.
Karenanya, bila seorang muslim
berpuasa pada bulan ramadhan, shalat malam, berinfaq dsb, maka itu adalah untuk
kebaikan dirinya sendiri. Tidak menambah kekayaan Allah. Sebaliknya bila dia
engkar dan tidak mentaati Allah, maka dia sendiri yang akan merugi. Sama sekali
tak merugikan Allah SWT.
Segala puji hanya bagi Allah,
karena Dialah yang sebenar-benar mulia. Adapun manusia semuanya hina dan
rendah, kecuali bila dimuliakan oleh Allah. Bahkan bila seorang hamba engkar
dan kafir kepada Allah, maka dia lebih rendah dari binatang ternak. Allah
berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah
kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka
mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.
(QS Al A'raf: 179)
Dalam hadits Qudsi, Allah
menggambarkan kerendahan dan kehinaan manusia, bahwa mereka sesat, telanjang,
lapar, berbuat dosa siang dan malam, kecuali bila dimuliakan oleh Allah:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ... (رواه مسلم)
Artinya: "Wahai hamba-hambaKu, kalian semua sesat,
kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya
Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hambaKu, kalian semua lapar,
kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku
akan memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, kalian semua telanjang, kecuali
orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku akan
memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah di
siang dan di malam hari, sedangkan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka
minta ampunlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian..." (HR Muslim
dari Abu Hurairah).
Orang-orang beriman sangat wajib bersyukur memuji Allah
atas berbagai ibadah yang disyariatkanNya selama bulan Ramadhan. Sebab semua
ibadah tersebut akan mengangkat derjatnya menjadi mulia.
Disamping itu, Alhamdulillah adalah pujian universal.
Mencakup segala pujian dan penghormatan. Tidak dibatasi oleh sekat waktu dan
ruang. Pujian yang berlaku untuk masa lalu, masa sekarang ini dan masa yang
akan datang sampai akhir zaman. Alhamdulillah juga pujian yang mencakup seluruh
Nama-Nama Allah Yang Mulia dan Sifat-sifatNya Yang Agung serta pujian atas
nikmat-nikmaNya yang tidak terhingga.
Allah ta'alaa memuliakan dan memuji hamba-hamba yang
memujiNya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول : قال الله تعالى
: ( قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل ، فإذا قال العبد : الحمد لله رب العالمين ، قال الله تعالى : حمدني عبدي.... (رواه مسلم)
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah saw
telah bersabda, Allah telah berfirman: "Aku telah membagi dua Alfatihah
antara Aku dan HambaKu. Bila seorang hamba mengucapkan "alhamdulillahi
rabbil 'aalamin", maka Allah akan menjawab: "Aku dipuji oleh
hambaKu...". (HR Muslim).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa
"Alhamdulillah" merupakan salah satu wujud kesyukuran kepada Allah.
Yaitu syukur dalam bentuk lisan. Ada dua lagi bentuk kesyukuran yang
"wajib" dipenuhi seorang hamba kepada Allah SWT:
Pertama syukur hati, yaitu dalam bentuk iman dan
ketundukan kepada Allah, rasa khusyuk saat menyembahNya, rasa harap akan
karuniaNya dan rasa khawatir akan siksaNya.
Kedua, syukur anggota badan. Yaitu berupa amal shaleh
dengan seluruh anggota dan organ tubuh. Syukur mata dengan menggunakannya untuk
melihat kebaikan dan menjauhi dari melihat yang haram. Syukur telinga dalam
bentuk mendengar yang diredhaiNya dan menjauhi pendengaran yang dimurkaiNya.
Syukur mulut adalah memakan yang halal dan menjauhi yang haram. Syukur tangan
adalah menggerakkannya untuk kebaikan dan menjauhkannya dari menganiaya orang
lain. Syukur kaki adalah melangkah menuju ketaatan dan menghindari perbuatan
dosa, dan seterusnya.
Dengan cara itulah maka hati dan anggota tubuh telah melakukan "alhamdulillah".
Namun, bila lidah telah berucap alhamdulillah, akan tetapi hati belum tunduk
dan patuh kepadaNya, atau anggota tubuh masih melakukan maksiat dan dosa, tentu
alhamdulillahnya hanyalah palsu dan berpura-pura. Maha Agung Allah dari segala
kepalsuan dan kepura-puraan.
Mari kita hidangkan ibadah-ibadah yang "asli"
(tidak palsu dan pura-pura) kepada Allah selama ramadhan ini.
Wallahu A'laa wa A'lam.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN





