pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

- - - - - - - - - Ramadhan 4 (RAJA HARI PEMBALASAN) - - - - - - - - - -

Written By neobattosai on 05 June, 2017 | June 05, 2017


Di dunia ini begitu banyak raja dan penguasa. Bahkan, tidak sedikit orang yang berprilaku bagaikan raja. Berbuat dan berkata seenaknya, tak peduli orang sekitarnya dan apa akibatnya. Ada raja di pemerintahan, ada raja di perusahaan, raja di pasar, raja dalam pergaulan juga termasuk raja di jalanan.

Bahkan, di dunia ini ada orang-orang yang berperilaku bagaikan Tuhan. Atau malah mengklaim diri sebagai Tuhan. Kata dan ucapannya adalah wahyu, mutlak kebenarannya. Orang lain mesti menyembah menghambakan diri kepadanya. Dan itu muncul dari zaman ke zaman. Dahulu ada raja Namrudz yang mengaku sebagai tuhan. Mengklaim diri bisa menghidupkan dan mematikan. Juga ada firaun yang juga mengaku sebagai tuhan selain Allah.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٢٥٨﴾
Artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS Al baqarah: 258)

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
Artinya: Dan berkata Fir`aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (QS Al Qashash: 38).
Begitulah di dunia ini, banyak raja dan bahkan tuhan-tuhan palsu. Namun, di akhirat kelak hanya ada satu raja, yaitu Allah 'azza wa jalla.
Dialah Allah Raja hari pembalasan, atau Raja hari kiamat. Ketika seluruh manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat, dalam keadaan telanjang bulat. Sebagaimana Rasulullah saw pernah mengabarkan:

عن عائشة -رضي الله تعالى عنها- قالت: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: "يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غُرْلاً". قلت: يا رسول الله، الرجال والنساء جميعاً ينظر بعضهم إلى بعض؟، قال: "يا عائشة الأمر أشد من أن يُهمهم ذلك".
Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Manusia akan dibangkit pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat dan belum dikhitan". Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, laki-laki perempuan semuanya akan saling melihat satu sama lain?". Rasulullah menjawab, "Wahai Aisyah, urusan pada hari itu sangat menakutkan untuk mereka hendak melihat satu sama lain". (HR Bukhari)

Setelah semua dibangkait, maka Allah menyeru seluruh manusia, "Siapakah pemilik kerajaan pada hari ini?". Tidak ada satu manusia yang bisa menjawab. Semua terdiam. Allah sendiri yang menjawab pertanyaanNya, "Milik Allah Yang Maha Esa, lagi Maha Menaklukkan". (Dalam QS Al Mukmin: 16).

Suasana di akhirat memang sangat berbeda dengan suasana dunia. Di dunia orang bisa bicara seenaknya, sepenuh mulutnya, seisi perutnya atau bahkan sesuai dengkulnya. Sedangkan pada hari kiamat nanti, Allah menjadi Raja satu-satunya. Yang lain adalah rakyat atau budak. Tidak satupun manusia bisa bicara, kecuali dengan izinNya. Semua mulut terkunci, tak berdaya. Allah berfirman:

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا (38)
Artinya: "Pada hari dimana Jibril dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar." (QS An Naba: 38)

Dalam ayat lain Allah nyatakan:

وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا.
Artinya: ".... dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja". (QS Thaha: 108).

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ .
Artinya: "Dikala datang hari (kiamat) itu, tidak ada seorang pun yang bicara, melainkan dengan izinNya. Maka diantara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia". (QS Hud: 105).

Maka pada hari kiamat, Allah SWT menjadi penguasa tunggal. Tidak ada raja lain selainNya, seperti halnya saat di dunia. Para raja di dunia menjadi hina dan rendah di akhirat. Tak berdaya sedikitpun. Jangankan kekuasaan, untuk berbicara saja sudah tidak dapat izin.

Allah adalah Raja hari pembalasan karena semua manusia akan dihisab dihadapanNya, satu persatu, dengan amalannya masing-masing. Jika amalannya baik maka dia akan mendapatkan kebaikan. Jika buruk, maka dia akan mendapatkan keburukan dan kesengsaraan.

Segala keputusan berada di tanganNya. Apakah Dia akan menyiksa atau mengampuni seorang hamba, maka itu sepenuhnya menjadi hakNya. 

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (١٤)
Artinya: "Dan hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al Fath: 14)

Tidak satupun manusia yang akan dapat membantu manusia yang lain. Allah berfirman:

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ
Artinya: "Hari itu seseorang tak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (QS Al Infithar: 19).
Begitulah dahsyatnya hari pembalasan dan begitulah agungnya kekuasaan dan kerajaanNya. Maka, sesungguhnya puasa merupakan salah satu modal utama untuk bekal perjalan di kampung akhirat.

Seorang tabi'in, al-Ahnaf bin Qais rahimahullah, pernah ditanya: "Sesungguhnya anda ini orang yang sudah tua, dan sungguh puasa membuatmu lemah.” Maka beliau berkata: ”Sungguh aku menyiapkannya (puasa) untuk perjalanan yang panjang (hari Akhirat). Dan bersabar di dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa Ta’al lebih ringan bagiku daripada sabar terhadap adzabnya.”

Rasulullah saw bersabda:
عن عبد الله بن عمرو، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام : أي رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ، ويقول القرآن رب منعته النوم بالليل فشفعني فيه ، فيشفعان.
Artinya: "Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafa'at bagi hamba pada pada hari kiamat. Puasa berkata : " YA ALLAh aku mencegahnya dari makan dan memuaskan syahwat pada siang hari, maka jadikanlah aku sebagai penolongnya. Al-Quran berkata : Ya Allah aku mencegahnya dari tidur malam hari, maka jadikanlah aku sebagai penolongnya. Maka keduanya diterima Allah SWT ". ( HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr dishahihkan oleh Albany).

Wallahu A'laa wa A'lam.

Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd
 

posted by @Adimin

Ramadhan 3 (DIA YANG MAHA PENGASIH MAHA PENYAYANG)

Written By neobattosai on 04 June, 2017 | June 04, 2017




Ramadhan 3

DIA YANG MAHA PENGASIH MAHA PENYAYANG
(الرحمن الرحيم)

Allah telah mensifati dirinya dengan dengan sifat kasih sayang dalam dua namaNya Yang Mulia, yaitu Ar Rahman dan Ar Rahim.

Ar Rahman adalah bentuk superlatif dari sifat penyayang. Maka Allah adalah sangat penyayang. Ar Rahim juga bentuk superlatif yang bermakna sama dengan Ar Rahman.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ada perbedaan antara Ar Rahman dengan Ar Rahim. Imam Ibnu Katsir mengutip perkataan Abu Ali Alfarisi bahwa Ar Rahman mencakup seluruh kasih sayang Allah. Baik kepada orang beriman maupun kepada orang kafir. Adapun Ar Rahim adalah kasih sayang khusus dari Allah untuk orang-orang beriman. Allah berfirman:

هو الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Artinya: "Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS Al Ahzab: 43).

Ibnul Mubarak seorang senior tabiin menambah penjelasan tentang beda Ar Rahman dengan Ar Rahim: "Ar Rahman bila diminta akan Dia beri. Sedangkan Ar Rahim kalau tidak diminta, Dia akan marah". Lalu beliau mengutip hadits Imam Tarmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah:

من لم يسأل الله يغضب عليه.
"Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya".

Imam Ibnu Jarir Ath Thabary juga menjelaskan bahwa rahmannya Allah lebih luas dari pada rahimNya. Karena kasih sayang Rahman mencakup seluruh makhluknya, di dunia dan di akhirat. Sedangkan rahimNya adalah kasih sayang khususNya untuk orang yang beriman.

Ar Rahman merupakan nama khusus Allah yang tidak boleh selainNya diberi nama tersebut. Dan Allah menyuruh hamba-hambaNya untuk berdoa menyeru Nama Allah atau Nama Ar Rahman:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Artinya: Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS Al Isra: 110).

Karenanya, berdoa dengan kalimat Yaa Allah dan Yaa Ar Rahman merupakan bentuk doa yang diperintakan oleh Allah.

RahmanNya Allah adalah kasih sayangNya yang umum. Mulai dari penciptaan berbagai ragam makhluk, memberinya rezeki, menunjukinya hal-hal yang terkait dengan kemashlahatan umum dan berbagai hal untuk eksistensi hidup di dunia.

Adapun RahimNya Allah, merupakan kasih sayang khusus bagi orang yang beriman. Mencakup: bimbinganNya bagi para waliNya sehingga tetap di jalan kebenaran, cahaya iman yang Dia berikan kepada hambaNya, taufiq dan hidayahNya agar seorang hamba tetap dalam amal shaleh, dan terhindar dari perbuatan dosa.

Kehadiran bulan Ramadhan dengan segala kemuliaannya merupakan bentuk kasih sayang khusus dari Allah kepada orang-orang yang beriman. Dia kondisikan suasana, dibukakan pintu-pintu langit dan pintu-pintu sorga, ditutupNya pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syetan dan jin pembangkang.

Beruntunglah orang-orang yang dapat ikut berlomba-lomba dalam kebaikan selama Ramadhan ini. Karena itu pertanda dia mendapat kasih sayang khusus dari Allah SWT.

Sebaliknya, bagi orang yang belum juga ikut serta dalam rangkaian amal shaleh selama ramadhan ini, maka itu merupakan pertanda kerugian yang nyata.

Anak-anak muda, para pemuda dan kaum remaja yang masih jauh dari rumah Allah disaat hari-hari yang kondusif ini, dikhawatirkan mereka belum tersentuh kasih sayang khusus dari Allah. Dan artinya mereka belum berharap untuk masuk ke dalam salah satu kelompok yang dinaungi Allah pada hari qiyamat kelak, dimana pada hari itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Yaitu (salah satu dari 7 golongan) pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid. (Dari kandungan HR Bukhari Muslim).

Sedangkan orang-orang tua yang sudah melewati usia 60 tahun, sementara dia sehat wal afiat, namun selama ramadhan ini masih belum tertarik untuk memperbanyak ibadah serta amal akhirat, masih jauh dari masjid dan Al Quran, serta masih saja asyik dengan dunia dan dosa, maka (dikhawatirkan) dia termasuk orang yang sudah melewati batas toleransi dari Allah:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أعذر الله إلى امرئ أخر أجله حتى بلَّغه ستين سنة.
Artinya: "Allah memberi batas toleransi bagi seorang hamba sampai usia mencapai 60 tahun...". (HR Bukhari).

Ramadhan masih di awalnya, dan hari-harinya masih banyak. Mari sentuhkan diri dengan rahmat khusus dari Allah. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau di ramadhan tidak bisa, niscaya diluar Ramadhan lebih tidak bisa.

Wallahu A'laa wa A'lam
 

Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd

posted by @Adimin

DPC Nanggalo Selenggarakan Launching Komunitas Cinta Qur'an

Written By neobattosai on 03 June, 2017 | June 03, 2017


pkspadang.com : Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan, DPC Nanggalo selenggarakan Launcing Komunitas Cinta Quran (KCQ) RKI DPC sekaligus pemagian Mushaf kepada seluruh peserta launching.


Diawali dengan pemutaran film pendek bagi para pecinta qur'an. Selanjutnya taujih oleh Ustadzah Ivo Mela Kresna. Dalam acara tersebut Ketua DPC Nanggalo Muhammad Yusuf mengarahkan agar para pecinta al qur'an berperan dalam gerakan membumikan al qur'an, terutama dalam mengisi bulan ramadhan.
 
posted by @Adimin

Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari

Written By @Adimin on 01 June, 2017 | June 01, 2017

Al-Qur'an ini tegas melarang tajassus alias mencari-cari kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat besar


ALANGKAH banyak aib kita yang Allah Ta’ala tutupi. Andaikan aib itu berupa bau busuk, niscaya kita tak akan sanggup mencium aib kita sendiri. Sesiapa yang Allah Ta’ala telah tutupi aibnya saat berbuat dosa, maka janganlah ia menceritakan menyebarluaskannya kepada orang lain. Janganlah menjadi mujahirin.

Siapakah mujahirin itu? Orang yang melakukan perbuatan dosa secara terang-terangan. Mereka inilah orang yang tidak mendapat ampunan Allah Ta’ala. Termasuk mujahirin adalah orang yang melakukan perbuatan mungkar secara diam-diam, Allah Ta’ala pun tutupi, tetapi ia kemudian menceritakan kepada orang lain tanpa alasan yang haq.

Sangat banyak aib kita yang Allah Ta’ala tutupi. Maka hendaklah kita berusaha menjaga diri agar tak membuka aib orang lain & menyebarkannya.

Tidakkah kita ingin termasuk yang dijamin Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam?

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ, رَدَّ اللهُ وَجْهَهُ النَّارَ
“Sesiapa mempertahankan kehormatan saudaranya yang akan dicemarkan orang, maka Allah akan menolak api neraka dari mukanya pada hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad ini menunjukkan betapa melindungi kehormatan seorang muslim akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Kehormatan seorang muslim sama mulianya dengan darahnya; tak boleh menetes sedikit pun tanpa alasan yang dibenarkan.

Jika menjaga kehormatan saudara seiman dan menutupi aibnya merupakan kemuliaan, maka menyebarluaskan tanpa hak (ghibah) sangat tercela. Menggunjing (ghibah) itu ibarat memakan bangkai saudaranya; pertanda sangat busuk dan kejinya perbuatan yang kadang terasa mengasyikkan itu.

Ingatlah, wahai diriku yang bertumpuk kesalahan, sesungguhnya setiap muslim itu mulia. Haram kita ciderai darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ
“Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram, yaitu darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR. Muslim).

Tidakkah kita perhatikan ini?

Tidak ada yang memudahkan kita untuk merusak kehormatan sesama muslim kecuali karena lemahnya iman. Terlebih jika sudah ada buruk sangka. Penyebab lain yang menggelincirkan kita merusak kehormatan saudara seiman adalah besarnya kemaksiatan diri yang hendak ditutupi. Sesungguhnya kemaksiatan yang beriring dengan kezaliman dan kejahatan itu membuat seseorang cemas terhadap terbukanya aib.

Nurani yang bersih membuat kita merasa gelisah dan malu apabila berbuat maksiat. Dan semakin bertambah kegelisahan itu jika kemungkarannya besar. Kecemasan terhadap aib yang tak dapat ditutupi akan semakin besar dan menakutkan pada orang yang terbiasa membuka aib orang lain, padahal ia sedang memperbuat kemungkaran besar yang mengancam kehormatan diri serta kedudukannya di tengah-tengah manusia. Jika kemaksiatan dan buruk sangka telah mengakar pada diri seseorang, maka pintu keburukan berikutnya yang segera ia masuki adalah tajassus.

Apakah tajassus itu? Mencari-cari kesalahan hingga mencari kemungkinan yang tersulit sekalipun. Jika mendapati, ia besarkan kesalahan itu. Semakin besar semangat untuk melakukan tajassus, semakin besar pula kecenderungan membesar-besarkan kesalahan atau kekeliruan yang kecil. Apa yang sebenarnya merupakan kekhilafan dalam urusan sederhana yang wajar terjadi dan sepatutnya dimaafkan, ditampak-tampakkan sebagai kejahatan besar. Jika tidak segera bertaubat dari keburukan ini, ia dapat terperosok kepada keburukan yang lebih besar, yakni mengada-adakan kesalahan.

Apa bedanya? Mencari-cari kesalahan memang berusaha sekuat tenaga menemukan keburukan seseorang, sedangkan mengada-adakan lebih buruk lagi. Mengada-adakan kesalahan itu ia mengetahui betul bahwa tidak ada kesalahan pada orang tersebut, tetapi ia menisbahkan kesalahan kepadanya; mengesankan kepadanya bahwa ia berbuat kesalahan yang sangat besar. Ini semua termasuk fitnah yang keji. Ghibah itu buruk. Tajassus itu sangat buruk. Dan lebih buruk lagi adalah melakukan fitnah. Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap buruk sangka agar tidak tergelincir kepada tajassus atau yang lebih buruk lagi, yakni fitnah.

Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain (tajassus) dan jangan pula menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan bangkai saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49 : 12).

Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an ini tegas melarang tajassus alias mencari-cari kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat besar. Buruknya tajassus, apalagi jika sampai mengada-adakan kesalahan, akan lebih besar kerusakannya jika menimpa tokoh, sosok panutan dan penguasa. Maka, ikhtiar agar tidak bermudah-mudah menjatukan kehormatan sesama muslim, kita perlu memperbaiki iman, menjaga lisan dan menjaga diri.

Ingatlah sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ
“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang: mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita, para tokoh serta sosok panutan kita maupun para penguasa dari merusak kehormatan, tajassus dan mengada-adakan kesalahan
 

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

posted by @Adimin

Ramadhan 2

Written By @Adimin on 31 May, 2017 | May 31, 2017



Oleh. Irsyad Syafar, Lc, MEd

الحمد لله ربّ العالمين

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta Alam. Dialah satu-satunya yang berhak dipuji. Karena Dialah pemilik seluruh sifat-sifat kesempurnaan. Adapun makhlukNya, penuh dengan kelemahan dan kekurangan.

Dialah Allah Yang Maha Kaya, dan sebenar-benarnya kaya. Dia tidak butuh akan makhluknya. Secuilpun kekafiran makhluknya takkan mengurangi kemulianNya. Sebanyak apapun ibadah dan ketaatan hamba-hambaNya, takkan sedikitpun menambah kerajaanNya. Bahkan kekayaanNya takkan pernah berkurang bila Dia membagi-bagikannya kepada semua makhlukNya.

Rasulullah bersabda dari hadits Qudsi, bahwa Allah berfirman:

 يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . (رواه مسلم)

Artinya: "Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu. Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun. Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun. Wahai hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke dalam lautan..." (HR Muslim, dari Abu Hurairah)

Adapun manusia semuanya miskin. Berapapun kekayaannya, maka dia butuh dan tergantung kepada orang lain. Dan kekyaannya bisa hilang sekejap mata tanpa mampu dia menjaganya.

Karenanya, bila seorang muslim berpuasa pada bulan ramadhan, shalat malam, berinfaq dsb, maka itu adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Tidak menambah kekayaan Allah. Sebaliknya bila dia engkar dan tidak mentaati Allah, maka dia sendiri yang akan merugi. Sama sekali tak merugikan Allah SWT.

Segala puji hanya bagi Allah, karena Dialah yang sebenar-benar mulia. Adapun manusia semuanya hina dan rendah, kecuali bila dimuliakan oleh Allah. Bahkan bila seorang hamba engkar dan kafir kepada Allah, maka dia lebih rendah dari binatang ternak. Allah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS Al A'raf: 179)

Dalam hadits Qudsi, Allah menggambarkan kerendahan dan kehinaan manusia, bahwa mereka sesat, telanjang, lapar, berbuat dosa siang dan malam, kecuali bila dimuliakan oleh Allah:

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ... (رواه مسلم)

Artinya: "Wahai hamba-hambaKu, kalian semua sesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hambaKu, kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, kalian semua telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah di siang dan di malam hari, sedangkan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka minta ampunlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian..." (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Orang-orang beriman sangat wajib bersyukur memuji Allah atas berbagai ibadah yang disyariatkanNya selama bulan Ramadhan. Sebab semua ibadah tersebut akan mengangkat derjatnya menjadi mulia.

Disamping itu, Alhamdulillah adalah pujian universal. Mencakup segala pujian dan penghormatan. Tidak dibatasi oleh sekat waktu dan ruang. Pujian yang berlaku untuk masa lalu, masa sekarang ini dan masa yang akan datang sampai akhir zaman. Alhamdulillah juga pujian yang mencakup seluruh Nama-Nama Allah Yang Mulia dan Sifat-sifatNya Yang Agung serta pujian atas nikmat-nikmaNya yang tidak terhingga.

Allah ta'alaa memuliakan dan memuji hamba-hamba yang memujiNya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول : قال الله تعالى : ( قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل ، فإذا قال العبد : الحمد لله رب العالمين ، قال الله تعالى : حمدني عبدي.... (رواه مسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari  Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah saw telah bersabda, Allah telah berfirman: "Aku telah membagi dua Alfatihah antara Aku dan HambaKu. Bila seorang hamba mengucapkan "alhamdulillahi rabbil 'aalamin", maka Allah akan menjawab: "Aku dipuji oleh hambaKu...". (HR Muslim).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa "Alhamdulillah" merupakan salah satu wujud kesyukuran kepada Allah. Yaitu syukur dalam bentuk lisan. Ada dua lagi bentuk kesyukuran yang "wajib" dipenuhi seorang hamba kepada Allah SWT:

Pertama syukur hati, yaitu dalam bentuk iman dan ketundukan kepada Allah, rasa khusyuk saat menyembahNya, rasa harap akan karuniaNya dan rasa khawatir akan siksaNya.

Kedua, syukur anggota badan. Yaitu berupa amal shaleh dengan seluruh anggota dan organ tubuh. Syukur mata dengan menggunakannya untuk melihat kebaikan dan menjauhi dari melihat yang haram. Syukur telinga dalam bentuk mendengar yang diredhaiNya dan menjauhi pendengaran yang dimurkaiNya. Syukur mulut adalah memakan yang halal dan menjauhi yang haram. Syukur tangan adalah menggerakkannya untuk kebaikan dan menjauhkannya dari menganiaya orang lain. Syukur kaki adalah melangkah menuju ketaatan dan menghindari perbuatan dosa, dan seterusnya.

Dengan cara itulah maka hati dan anggota tubuh  telah melakukan "alhamdulillah". Namun, bila lidah telah berucap alhamdulillah, akan tetapi hati belum tunduk dan patuh kepadaNya, atau anggota tubuh masih melakukan maksiat dan dosa, tentu alhamdulillahnya hanyalah palsu dan berpura-pura. Maha Agung Allah dari segala kepalsuan dan kepura-puraan.

Mari kita hidangkan ibadah-ibadah yang "asli" (tidak palsu dan pura-pura) kepada Allah selama ramadhan ini.
Wallahu A'laa wa A'lam.
 

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger