Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
June 08, 2017
Ramadhan 5
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 5 (HANYA KEPADAMU KAMI MENYEMBAH) - - - - - - - - -
Written By NeoBee on 08 June, 2017 | June 08, 2017
Ramadhan 5
HANYA KEPADAMU KAMI MENYEMBAH
(إياك نعبد)
Ini adalah Tauhid Uluhiyah. Pengakuan
bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah. Sangat semakna dengan
kalimat Laa ilaaha illallah, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.
Dengan pengakuan bahwa hanya kepada
Allah saja kita beribadah (menyembah) inilah yang menjadikan status kita
sebagai seorang muslim. Sebab, kalau hanya sekedar mengakui adanya Allah
(Tuhan), kita masih sama dengan orang kafir. Karena mereka juga percaya adanya
tuhan. Hanya saja mereka tidak menyembah Tuhan yang sebenarnya.
Allah mengabarkan kondisi orang-orang
kafir dan musyrik dalam FirmanNya:
وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61)
Artinya: "Dan sesungguhnya jika
kamu tanyakan kepada mereka: `Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan
menundukkan matahari dan bulan?` Tentu mereka akan menjawab: `Allah`, maka
betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).(QS. Al
ankabut:61).
Kaum musyrikin mengakui bahwa Allah itu
ada, menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, menurunkan
air hujan dan menghidupkan bumi dari matinya, akan tetapi mereka tidak
menyembah Allah. Mereka tetap menyembah berhala. Itulah sebabnya, mengakui
adanya Allah/Tuhan belum membuat seseorang menjadi muslim. Menyembah dan
beribadah kepada Allah satu-satunyalah yang menjadikan seseorang sebagai
seorang muslim.
Pengakuan kita yang terucap minimal 17
kali dalam sehari ini, menegaskan bahwa tidak ada ibadah, tidak ada ketaatan
dan tidak ada penyembahan kecuali hanya kepada Allah SWT.
Dengan pengakuan ini, kita membebaskan
diri dari kesyirikan, yang dosa syirik itu merupakan dosa yang tidak akan Allah
ampuni sama sekali. Allah berfirman:
إِنَّ
ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ
ٱفْتَرَىٰٓ
إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak
akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS An nisa: 48).
Rasulullah saw juga telah menyampaikan
bahwa beribadah kepada Allah SWT merupakan hak Allah atas hambaNya:
عَنْ
مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ - رضي الله عنه - قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللّهِ صلى
الله عليه و سلم عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ. قَالَ: فَقَالَ: يَا
مُعَاذُ! أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللّهِ عَلَى الْعِبَادِ وما حقُّ العبادِ عَلَى
الله؟ قَالَ قُلْتُ: الله وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «فَإِنَّ حَقَّ اللّهِ
عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللّهِ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً. وَحَقُّ
الْعِبَادِ عَلَى اللّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ
شَيْئاً» قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّهِ! أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ:
«لاَ تُبَشِّرْهُمْ. فَيَتَّكِلُوا.
Artinya: Dari Muadz bin Jabal ra, dia
berkata, "Aku sedang berbonceng dengan Rasulullah saw. Lalu Beliau
berkata: "Wahai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah terhadap hambaNya dan
apa hak hamba terhadap Allah?". Muadz menjawab, "Allah dan RasulNya
saja yang lebih tahu". Rasulullah berkata: "Hak Allah terhadap
manusia adalah mereka menyembahnya dan tidak mempersekutukanNya dengan satu
apapun. Sedangkan hak manusia kepada Allah adalah Dia tidak menyiksa siapa yang
tidak mempersekutukanNya". Muadz bertanya, "Apakah tidak sebaiknya
aku ceritakan ini kepada mereka semua?". Rasulullah menjawab: "Jangan
dulu, nanti mereka bermalas-malasan". (HR Bukhari dan Muslim).
Jelaslah bahwa tugas utama manusia di
dunia adalah mentauhidkan Allah dalam seluruh ibadahnya. Tidak ada tuhan-tuhan
lain yang diibadahi selain Allah. Dan itu diikrarkan setiap hari dalam shalat
di setiap rakaat. Itupun masih ditambah lagi dalam setiap doa iftitah:
إِنَّ
صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: "Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam".
Namun kemudian - dalam kenyataannya-
tidak sedikit manusia yang menyembah dan mengibadahi tuhan-tuhan lain dalam
kehidupannya. Bisa dalam bentuk menyembah harta, jabatan, hawa nafsu (pria dan
wanita). Kehidupannya tersandra oleh semua kekuatan lain itu dari menyembah
Allah.
Gara-gara harta atau jabatan atau juga
lawan jenis, berkurang ibadahnya, atau tertunda ibadahnya atau bahkan tidak
sempat beribadah. Itu semua tentunya sangat bertentangan dengan pengakuan
"hanya kepadaMu kami menyembah...".
Hadirnya ramadhan menyadarkan kita
kembali bahwa misi utama kita di dunia ini adalah beribadah. Sekaligus
memperkuat ikrar yang terus berulang kita ucapkan. Mari rehatkan sejenak diri
kita dari hiruk-pikuknya dunia yang takkan pernah habis. Kecuali saat tubuh
kita sudah berkalang tanah.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 05, 2017
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 4 (RAJA HARI PEMBALASAN) - - - - - - - - - -
Written By neobattosai on 05 June, 2017 | June 05, 2017
Di dunia ini begitu banyak raja dan
penguasa. Bahkan, tidak sedikit orang yang berprilaku bagaikan raja. Berbuat
dan berkata seenaknya, tak peduli orang sekitarnya dan apa akibatnya. Ada raja
di pemerintahan, ada raja di perusahaan, raja di pasar, raja dalam pergaulan
juga termasuk raja di jalanan.
Bahkan, di dunia ini ada orang-orang
yang berperilaku bagaikan Tuhan. Atau malah mengklaim diri sebagai Tuhan. Kata
dan ucapannya adalah wahyu, mutlak kebenarannya. Orang lain mesti menyembah
menghambakan diri kepadanya. Dan itu muncul dari zaman ke zaman. Dahulu ada
raja Namrudz yang mengaku sebagai tuhan. Mengklaim diri bisa menghidupkan dan
mematikan. Juga ada firaun yang juga mengaku sebagai tuhan selain Allah.
أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ
إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي
وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ
الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ
يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٢٥٨﴾
Artinya: "Apakah kamu tidak
memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah
telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim
mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang
itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim
berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka
terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zalim." (QS Al baqarah: 258)
وَقَالَ
فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي
فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي
أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
Artinya: Dan berkata Fir`aun: "Hai
pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah
hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi
supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar
yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (QS Al Qashash: 38).
Begitulah di dunia ini, banyak raja dan
bahkan tuhan-tuhan palsu. Namun, di akhirat kelak hanya ada satu raja, yaitu
Allah 'azza wa jalla.
Dialah Allah Raja hari pembalasan, atau
Raja hari kiamat. Ketika seluruh manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat,
dalam keadaan telanjang bulat. Sebagaimana Rasulullah saw pernah mengabarkan:
عن
عائشة -رضي الله تعالى عنها- قالت: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول:
"يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غُرْلاً". قلت: يا رسول الله، الرجال
والنساء جميعاً ينظر بعضهم إلى بعض؟، قال: "يا عائشة الأمر أشد من أن يُهمهم
ذلك".
Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah ra,
dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Manusia akan dibangkit pada hari
kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat dan belum
dikhitan". Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, laki-laki perempuan
semuanya akan saling melihat satu sama lain?". Rasulullah menjawab,
"Wahai Aisyah, urusan pada hari itu sangat menakutkan untuk mereka hendak
melihat satu sama lain". (HR Bukhari)
Setelah semua dibangkait, maka Allah
menyeru seluruh manusia, "Siapakah pemilik kerajaan pada hari ini?".
Tidak ada satu manusia yang bisa menjawab. Semua terdiam. Allah sendiri yang
menjawab pertanyaanNya, "Milik Allah Yang Maha Esa, lagi Maha
Menaklukkan". (Dalam QS Al Mukmin: 16).
Suasana di akhirat memang sangat
berbeda dengan suasana dunia. Di dunia orang bisa bicara seenaknya, sepenuh
mulutnya, seisi perutnya atau bahkan sesuai dengkulnya. Sedangkan pada hari
kiamat nanti, Allah menjadi Raja satu-satunya. Yang lain adalah rakyat atau
budak. Tidak satupun manusia bisa bicara, kecuali dengan izinNya. Semua mulut
terkunci, tak berdaya. Allah berfirman:
يَوْمَ
يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ
وَقَالَ صَوَابًا (38)
Artinya: "Pada hari dimana Jibril
dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali yang
telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang
benar." (QS An Naba: 38)
Dalam
ayat lain Allah nyatakan:
وَخَشَعَتِ
الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا.
Artinya: ".... dan merendahlah
semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali
bisikan saja". (QS Thaha: 108).
يَوْمَ
يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ .
Artinya: "Dikala datang hari
(kiamat) itu, tidak ada seorang pun yang bicara, melainkan dengan izinNya. Maka
diantara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia". (QS Hud: 105).
Maka pada hari kiamat, Allah SWT
menjadi penguasa tunggal. Tidak ada raja lain selainNya, seperti halnya saat di
dunia. Para raja di dunia menjadi hina dan rendah di akhirat. Tak berdaya
sedikitpun. Jangankan kekuasaan, untuk berbicara saja sudah tidak dapat izin.
Allah adalah Raja hari pembalasan
karena semua manusia akan dihisab dihadapanNya, satu persatu, dengan amalannya
masing-masing. Jika amalannya baik maka dia akan mendapatkan kebaikan. Jika
buruk, maka dia akan mendapatkan keburukan dan kesengsaraan.
Segala keputusan berada di tanganNya.
Apakah Dia akan menyiksa atau mengampuni seorang hamba, maka itu sepenuhnya
menjadi hakNya.
وَلِلَّهِ
مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (١٤)
Artinya: "Dan hanya milik
Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki,
dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS Al Fath: 14)
Tidak satupun manusia yang akan dapat
membantu manusia yang lain. Allah berfirman:
يَوْمَ
لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ
Artinya: "Hari itu seseorang tak
berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Segala urusan pada hari itu dalam
kekuasaan Allah." (QS Al Infithar: 19).
Begitulah dahsyatnya hari pembalasan
dan begitulah agungnya kekuasaan dan kerajaanNya. Maka, sesungguhnya puasa
merupakan salah satu modal utama untuk bekal perjalan di kampung akhirat.
Seorang tabi'in, al-Ahnaf bin Qais
rahimahullah, pernah ditanya: "Sesungguhnya anda ini orang yang sudah tua,
dan sungguh puasa membuatmu lemah.” Maka beliau berkata: ”Sungguh aku
menyiapkannya (puasa) untuk perjalanan yang panjang (hari Akhirat). Dan
bersabar di dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa Ta’al lebih ringan bagiku
daripada sabar terhadap adzabnya.”
Rasulullah saw bersabda:
عن
عبد الله بن عمرو، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الصيام والقرآن يشفعان
للعبد يوم القيامة يقول الصيام : أي رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني
فيه ، ويقول القرآن رب منعته النوم بالليل فشفعني فيه ، فيشفعان.
Artinya: "Puasa dan Al-Qur'an akan
memberi syafa'at bagi hamba pada pada hari kiamat. Puasa berkata : " YA
ALLAh aku mencegahnya dari makan dan memuaskan syahwat pada siang hari, maka
jadikanlah aku sebagai penolongnya. Al-Quran berkata : Ya Allah aku mencegahnya
dari tidur malam hari, maka jadikanlah aku sebagai penolongnya. Maka keduanya
diterima Allah SWT ". ( HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr dishahihkan oleh
Albany).
Wallahu A'laa wa A'lam.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 04, 2017
Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd
posted by @Adimin
Ramadhan 3 (DIA YANG MAHA PENGASIH MAHA PENYAYANG)
Written By neobattosai on 04 June, 2017 | June 04, 2017
Ramadhan 3
DIA YANG MAHA PENGASIH MAHA PENYAYANG
(الرحمن الرحيم)
Allah telah mensifati dirinya dengan
dengan sifat kasih sayang dalam dua namaNya Yang Mulia, yaitu Ar Rahman dan Ar
Rahim.
Ar Rahman adalah bentuk superlatif dari
sifat penyayang. Maka Allah adalah sangat penyayang. Ar Rahim juga bentuk
superlatif yang bermakna sama dengan Ar Rahman.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ada
perbedaan antara Ar Rahman dengan Ar Rahim. Imam Ibnu Katsir mengutip perkataan
Abu Ali Alfarisi bahwa Ar Rahman mencakup seluruh kasih sayang Allah. Baik
kepada orang beriman maupun kepada orang kafir. Adapun Ar Rahim adalah kasih
sayang khusus dari Allah untuk orang-orang beriman. Allah berfirman:
هو الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Artinya: "Dialah yang memberi
rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia
Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS Al Ahzab: 43).
Ibnul Mubarak seorang senior tabiin
menambah penjelasan tentang beda Ar Rahman dengan Ar Rahim: "Ar Rahman
bila diminta akan Dia beri. Sedangkan Ar Rahim kalau tidak diminta, Dia akan
marah". Lalu beliau mengutip hadits Imam Tarmidzi dan Ibnu Majah dari Abu
Hurairah:
من لم
يسأل الله يغضب
عليه.
"Barang siapa yang tidak meminta
kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya".
Imam Ibnu Jarir Ath Thabary juga
menjelaskan bahwa rahmannya Allah lebih luas dari pada rahimNya. Karena kasih
sayang Rahman mencakup seluruh makhluknya, di dunia dan di akhirat. Sedangkan
rahimNya adalah kasih sayang khususNya untuk orang yang beriman.
Ar Rahman merupakan nama khusus Allah
yang tidak boleh selainNya diberi nama tersebut. Dan Allah menyuruh
hamba-hambaNya untuk berdoa menyeru Nama Allah atau Nama Ar Rahman:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ
ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا
تَدْعُوا فَلَهُ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا
تُخَافِتْ بِهَا
وَابْتَغِ بَيْنَ
ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Artinya: Katakanlah: "Serulah
Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia
mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu
mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan
carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS Al Isra: 110).
Karenanya, berdoa dengan kalimat Yaa
Allah dan Yaa Ar Rahman merupakan bentuk doa yang diperintakan oleh Allah.
RahmanNya Allah adalah kasih sayangNya
yang umum. Mulai dari penciptaan berbagai ragam makhluk, memberinya rezeki,
menunjukinya hal-hal yang terkait dengan kemashlahatan umum dan berbagai hal
untuk eksistensi hidup di dunia.
Adapun RahimNya Allah, merupakan kasih
sayang khusus bagi orang yang beriman. Mencakup: bimbinganNya bagi para waliNya
sehingga tetap di jalan kebenaran, cahaya iman yang Dia berikan kepada
hambaNya, taufiq dan hidayahNya agar seorang hamba tetap dalam amal shaleh, dan
terhindar dari perbuatan dosa.
Kehadiran bulan Ramadhan dengan segala
kemuliaannya merupakan bentuk kasih sayang khusus dari Allah kepada orang-orang
yang beriman. Dia kondisikan suasana, dibukakan pintu-pintu langit dan
pintu-pintu sorga, ditutupNya pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syetan dan jin
pembangkang.
Beruntunglah orang-orang yang dapat
ikut berlomba-lomba dalam kebaikan selama Ramadhan ini. Karena itu pertanda dia
mendapat kasih sayang khusus dari Allah SWT.
Sebaliknya, bagi orang yang belum juga
ikut serta dalam rangkaian amal shaleh selama ramadhan ini, maka itu merupakan
pertanda kerugian yang nyata.
Anak-anak muda, para pemuda dan kaum
remaja yang masih jauh dari rumah Allah disaat hari-hari yang kondusif ini,
dikhawatirkan mereka belum tersentuh kasih sayang khusus dari Allah. Dan
artinya mereka belum berharap untuk masuk ke dalam salah satu kelompok yang
dinaungi Allah pada hari qiyamat kelak, dimana pada hari itu tidak ada naungan
kecuali naungan Allah. Yaitu (salah satu dari 7 golongan) pemuda yang hatinya
terpaut dengan masjid. (Dari kandungan HR Bukhari Muslim).
Sedangkan orang-orang tua yang sudah
melewati usia 60 tahun, sementara dia sehat wal afiat, namun selama ramadhan
ini masih belum tertarik untuk memperbanyak ibadah serta amal akhirat, masih
jauh dari masjid dan Al Quran, serta masih saja asyik dengan dunia dan dosa,
maka (dikhawatirkan) dia termasuk orang yang sudah melewati batas toleransi
dari Allah:
عن أبي
هريرة رضي الله
عنه عن النبي
صلى الله عليه
وسلم قال: أعذر
الله إلى امرئ
أخر أجله حتى
بلَّغه ستين سنة.
Artinya: "Allah memberi batas
toleransi bagi seorang hamba sampai usia mencapai 60 tahun...". (HR
Bukhari).
Ramadhan masih di awalnya, dan
hari-harinya masih banyak. Mari sentuhkan diri dengan rahmat khusus dari Allah.
Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau di ramadhan tidak bisa, niscaya diluar
Ramadhan lebih tidak bisa.
Wallahu A'laa wa A'lam
Oleh : Irsyad Syafar, Lc. MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 03, 2017
posted by @Adimin
DPC Nanggalo Selenggarakan Launching Komunitas Cinta Qur'an
Written By neobattosai on 03 June, 2017 | June 03, 2017
pkspadang.com : Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan, DPC Nanggalo selenggarakan Launcing Komunitas Cinta Quran (KCQ) RKI DPC sekaligus pemagian Mushaf kepada seluruh peserta launching.
Diawali dengan pemutaran film pendek bagi para pecinta qur'an. Selanjutnya taujih oleh Ustadzah Ivo Mela Kresna. Dalam acara tersebut Ketua DPC Nanggalo Muhammad Yusuf mengarahkan agar para pecinta al qur'an berperan dalam gerakan membumikan al qur'an, terutama dalam mengisi bulan ramadhan.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 01, 2017
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ, رَدَّ اللهُ وَجْهَهُ
النَّارَ
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ
وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Ingatlah sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
posted by @Adimin
Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari
Written By @Adimin on 01 June, 2017 | June 01, 2017
Al-Qur'an ini tegas melarang tajassus alias mencari-cari
kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat besar
ALANGKAH banyak aib kita yang Allah Ta’ala
tutupi. Andaikan aib itu berupa bau busuk, niscaya kita tak akan sanggup
mencium aib kita sendiri. Sesiapa yang Allah Ta’ala telah tutupi aibnya saat
berbuat dosa, maka janganlah ia menceritakan menyebarluaskannya kepada orang
lain. Janganlah menjadi mujahirin.
Siapakah mujahirin itu? Orang yang melakukan perbuatan
dosa secara terang-terangan. Mereka inilah orang yang tidak mendapat ampunan
Allah Ta’ala. Termasuk mujahirin adalah orang yang melakukan perbuatan mungkar
secara diam-diam, Allah Ta’ala pun tutupi, tetapi ia kemudian menceritakan
kepada orang lain tanpa alasan yang haq.
Sangat banyak aib kita yang Allah Ta’ala tutupi. Maka
hendaklah kita berusaha menjaga diri agar tak membuka aib orang lain &
menyebarkannya.
Tidakkah kita ingin termasuk yang dijamin Nabi
shallaLlahu ‘alaihi wa sallam?
“Sesiapa mempertahankan kehormatan saudaranya yang akan
dicemarkan orang, maka Allah akan menolak api neraka dari mukanya pada hari
Kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad ini
menunjukkan betapa melindungi kehormatan seorang muslim akan menyelamatkan
seseorang dari api neraka. Kehormatan seorang muslim sama mulianya dengan
darahnya; tak boleh menetes sedikit pun tanpa alasan yang dibenarkan.
Jika menjaga kehormatan saudara seiman dan menutupi
aibnya merupakan kemuliaan, maka menyebarluaskan tanpa hak (ghibah) sangat
tercela. Menggunjing (ghibah) itu ibarat memakan bangkai saudaranya; pertanda
sangat busuk dan kejinya perbuatan yang kadang terasa mengasyikkan itu.
Ingatlah, wahai diriku yang bertumpuk kesalahan,
sesungguhnya setiap muslim itu mulia. Haram kita ciderai darahnya, kehormatan
dan hartanya. Sesungguhnya Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda:
“Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram,
yaitu darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR. Muslim).
Tidakkah kita perhatikan ini?
Tidak ada yang memudahkan kita untuk merusak kehormatan
sesama muslim kecuali karena lemahnya iman. Terlebih jika sudah ada buruk
sangka. Penyebab lain yang menggelincirkan kita merusak kehormatan saudara
seiman adalah besarnya kemaksiatan diri yang hendak ditutupi. Sesungguhnya
kemaksiatan yang beriring dengan kezaliman dan kejahatan itu membuat seseorang
cemas terhadap terbukanya aib.
Nurani yang bersih membuat kita merasa gelisah dan malu
apabila berbuat maksiat. Dan semakin bertambah kegelisahan itu jika
kemungkarannya besar. Kecemasan terhadap aib yang tak dapat ditutupi akan semakin
besar dan menakutkan pada orang yang terbiasa membuka aib orang lain, padahal
ia sedang memperbuat kemungkaran besar yang mengancam kehormatan diri serta
kedudukannya di tengah-tengah manusia. Jika kemaksiatan dan buruk sangka telah
mengakar pada diri seseorang, maka pintu keburukan berikutnya yang segera ia
masuki adalah tajassus.
Apakah tajassus itu? Mencari-cari kesalahan hingga
mencari kemungkinan yang tersulit sekalipun. Jika mendapati, ia besarkan
kesalahan itu. Semakin besar semangat untuk melakukan tajassus, semakin besar
pula kecenderungan membesar-besarkan kesalahan atau kekeliruan yang kecil. Apa
yang sebenarnya merupakan kekhilafan dalam urusan sederhana yang wajar terjadi
dan sepatutnya dimaafkan, ditampak-tampakkan sebagai kejahatan besar. Jika
tidak segera bertaubat dari keburukan ini, ia dapat terperosok kepada keburukan
yang lebih besar, yakni mengada-adakan kesalahan.
Apa bedanya? Mencari-cari kesalahan memang berusaha
sekuat tenaga menemukan keburukan seseorang, sedangkan mengada-adakan lebih
buruk lagi. Mengada-adakan kesalahan itu ia mengetahui betul bahwa tidak ada
kesalahan pada orang tersebut, tetapi ia menisbahkan kesalahan kepadanya;
mengesankan kepadanya bahwa ia berbuat kesalahan yang sangat besar. Ini semua
termasuk fitnah yang keji. Ghibah itu buruk. Tajassus itu sangat buruk. Dan
lebih buruk lagi adalah melakukan fitnah. Karena itu, kita perlu berhati-hati
terhadap buruk sangka agar tidak tergelincir kepada tajassus atau yang lebih
buruk lagi, yakni fitnah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang lain (tajassus) dan jangan pula menggunjingkan
satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan bangkai
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49 : 12).
Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an ini tegas melarang
tajassus alias mencari-cari kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat
besar. Buruknya tajassus, apalagi jika sampai mengada-adakan kesalahan, akan
lebih besar kerusakannya jika menimpa tokoh, sosok panutan dan penguasa. Maka,
ikhtiar agar tidak bermudah-mudah menjatukan kehormatan sesama muslim, kita
perlu memperbaiki iman, menjaga lisan dan menjaga diri.
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ
“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka
adalah dua lubang: mulut dan kemaluan.” (HR.
Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).
Semoga Allah Ta’ala melindungi kita, para tokoh serta
sosok panutan kita maupun para penguasa dari merusak kehormatan, tajassus dan
mengada-adakan kesalahan
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN





