Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
March 26, 2013
Dukungan Masyarakat Kuranji untuk PKS
Written By @Adimin on 26 March, 2013 | March 26, 2013
Di tengah isu terpaan badai yang
menghantam PKS hingga sekarang, nampaknya tak membuat sebagian masyarakat
menjauhi Partai ini. Tetapi malah sebaliknya, justru masyarakat
berbondong-bondong masuk PKS dan menyatakan dukungan mereka terhadap Partai
bulan sabit kembar ini. Di beberapa daerah di jawa dan belahan timur lainnya
sudah banyak yang menuliskan tentang kisah masuknya masyarakat ke PKS dan kali
ini terjadi di Padang Sumatera Barat.
Masyarakat kecamatan kuranji yang terdiri
dari tokoh masyarakat, alim ulama, ninik mamak dan tokoh pemuda mendatangi
kantor DPD PKS kota Padang, Selasa (26/03). Kedatangan mereka langsung di
sambut oleh ketua DPD PKS Drs. Muhidi, MM beserta Sekum Muharlion, S.Pd. Pertemuan
ini di lakukan dalam rangka silaturahim dan menyampaikan aspirasi dari
masyarakat.
Pertemuan yang di lakukan di ruangan utama
PKS kota Padang berlangsung menarik dan hangat. Acara di mulai dengan sambutan
dari ketua DPD PKS Padang, dalam sambutannya Ust. Muhidi menyampaikan ”ucapan terima
kasih kepada masyarakat yang sudah datang bersilaturahim dan juga akan
mendengarkan aspirasi dari masyarakat dan berusaha untuk mencarikan solusinya”.
Selesai sambutan acara di lanjutkan ke sesi dialog.
Dalam sesi ini, salah seorang tokoh
masyarakat menyampaikan unek-unek kedatangan mereka ke kantor PKS padang.
“Pertama :
berterima kasih kepada pimpinan DPD PKS yang telah menerima kami dengan sangat
baik.
“Kedua :
berterima kasih kepada PKS yang telah mendidik anak-anak dan kemenakan mereka
sehingga akhlak mereka menjadi baik.
“ketiga : kami
yang hadir disini insya Allah percaya kepada PKS dan siap Mendukung PKS baik
dalam Pemilu 2014 nanti dan Pemilu Kada 2013, Meskipun PKS saat ini isu-isu
terkait PKS sangat banyak, Tapi Insya Allah kami percaya. “ Keempat : kami
sangat berharap kepada PKS padang hendaknya nanti di pemilu 2014 ada wakil kita
yang duduk di DPRD Padang dari kecamatan Kuranji ini.” Inilah barangkali yang
ingin kami sampaikan.
Menanggapi hal-hal yang di sampaikan di
atas Ketua DPD PKS menjelaskan “insya Allah terkait
adanya wakil rakyat yang di sampaikan tadi, tentu akan kita bicarakan dan
tentunya sesuai dengan mekanisme yang ada. Dan juga akan mengupayakan yang
terbaik untuk masyarakat jika kader PKS terpilih menjadi anggota dewan”.
Selain itu beliau juga sangat mengapresiasikan dukungan masyarakat yang siap
mendukung PKS pada Pemilu 2014 dan Pemilu Kada 2013.
Dalam kesempatan ini beliau juga
menyampaikan bahwa PKS kota Padang akan mengusung kadernya H. Mahyeldi,
Wakil Walikota sekarang untuk maju sebagai calon Wali kota Padang 2013-2018
yang akan di gelar Pada bulan Oktober 2013. Dan untuk itu peran kita bersama
agar bisa memenangkan pertarungan ini nantinya. Acara silaturahim ini di tutup
dengan berfoto bersama masyarakat di depan kantor DPD PKS Padang.
Al Amin
posted by @Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN
March 26, 2013
Beda Sikap Penyerbuan Lapas Cebongan Dengan Korban Densus 88
Semua media besar di Jakarta menjadikan peristiwa penyerbuan Lembaga
Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, sebagai berita utama
(headline).
Media-media di Jakarta mengangkat tinggi-tinggi peristiwa penyerbuan itu. Bahkan, harian Kompas mengambil judul "Indonesia Dalam Keadaan Bahaya", tulisnya.
"Pemerintah harus membentuk tim investigasi untuk mengusut kasus itu.
Apalagi, hal itu sudah menjadi sorotan publik internasional. Jika kasus
itu tak diungkap, Indonesia terancam bahaya, karena negara dikuasai
gerombolan bersenjata". (Kompas, 26/3).
Lebih media nasional itu, melakukan wawancara sejumlah tokoh, sebagai
langkah membentuk opini dengan mewawancarai Rektor Universitas Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, Guru Besar Sekolah
Tinggi Filsafat Driyakarya Franz Magnis Suseno dan Mudji Sutrisno, Guru
Besar Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra, Koordinator
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Haris Azhar, dan
Direktur Ekskutif Imparsial Poengky Indarti.
Diantara pernyataan yang dikutif harian Kompas itu, "Yang bahaya,
kalau pencarian keadilan itu kemudian menggunakan senjata. Dampak
negatifnya sangat besar, karena masyarakat seakan mendapat pembenaran
untuk melakukank kekerasan. Ini juga menambah daftar panjang pelanggaran
hak asasi manusia (HAM), pembunuhan, dan penculikan, tetapi aktornya
tidak ditemukan", ungkap Komaruddin.
"Sangat perlu Presiden membentuk tim pencari fakta. Kalau (fakta)
tidak dibuka dan pelaku tidak dihukum, negara dalam keadaan bahaya,
karena negara dikuasai kelompok preman dan penegakkan hukum tidak
jalan", ucap Frans Magnis Suseno.
Kebetulan yang mati dalam penyerbuan di Lapas Cebongan itu, berasal
dari NTT, yaitu Yohanes Yan Manbait, Gameliel Yermiyanto Rohi Rewu,
Adrianus Candra Galaya, dan Hendrik Angel Sahetapy.
Keempat warga NTT itu, terduga pelaku pembunuhan Anggota Kopassus,
Karangmenjangan, Surakarta, Sersan Satu Santoso. Diantara empat terduga
pembunuh Sersan Santoso, Juan anggaota Polrestabes Yogyakarta, yang
konon sudah dipecat.
Betapa media massa di Jakarta yang begitu dahsyat dan mengangkat
tinggi, peristiwa penyerbuan Lapas Cebongan yang menewaskan empat orang
NTT, yang diduga melakukan pembunuhan terhadap Anggota Kopassus Sersan
Santoso.
Mereka membela habis keempat orang yang terduga pelaku pembunuhan
Sersan Santoso. Media-media yang ada itu, juga mendorong kepada
pemerintah dan Presiden SBY melakukan tindakan tegas, terhadap pelaku
penyerbuan Lapas Cebongan.
Sesungguhnya apa artinya bagi media nasional yang terbit di Jakarta
itu, kemudian seakan keempat orang yang telah tewas di Lapas Cebongan
itu seperti "martyr", yang harus dibela habis.
Mereka seperti orang-orang yang sangat berharga, hanya karena mereka
tewas diserbu dengan menggunakan senjata oleh sejumlah orang yang belum
diketahui identitasnya.
Tetapi, bandingkan dengan mereka yang tewas oleh Densus 88, yang mereka hanya diberi lebel sebagai "teroris",
yang sebagian besar adalah para aktivis Islam, mereka yang memiliki
cita-cita dan idealisme terhadap prinsip-prinsip Islam, kemudian tewas
dengan sangat mengenaskan oleh Densus 88. Tanpa pernah dibuktikan secara
hukum kejahatan yang mereka lakukan.
Menurut HAM sudah lebih 83 terduga teroris yang tewas di tangan
Densus 88, belum mereka yang disiksa dan penjara. Seakan kalau mereka
yang beragama Islam itu, dibunuh dan dibantai oleh aparat menjadi "given" (dimaklukmi).Tidak ada satupun media yang membela dan bersifat adil terhadap
mereka yang menjadi terduga teroris. Mereka yang sudah tewas akibat
tindakan Densus itu, kemudia dibenarkan oleh media-media yang ada, dan
diberikan opini mereka sebagai manusia yang palihg jahat, dan berhak
dihabisi. Tanpa mengenal belas kasihan lagi.
Padahal, Ketua Komnas HAM, Siti Noor Laila, menanggapi sikap yang
dilakukan oleh Densus 88, sangat jelas terjadi penghilangan nyawa dengan
sewenang-wenang. Seperti yang terjadi di Poso, dan berbagai penembakan
lainnya yang dilakukan oleh Densus 88. Media-media nasional tidak pernah
memberikan opini yang imbang dan objektif.
Tapi, sekarang dengan kematian empat warga NTT itu, mereka bangkti
serentak dan mengangkat sebagai peristwa yang sangat besar. Bahkan,
media seperti Kompas, mengatakan, seperti "Negara Dalam Bahaya". Tidak
pernah mengatakan tindakan yang dilakukan oleh Densus 88, yang sangat
eksessif (berlebihan) itu, sebagai membahayakan negara.
Media-media yang ada telah bertindak dengan sangat tidak adil,
khususnya dalam memberikan opininya terhadap peristiwa yang menimpa umat
Islam dengan perisitwa yang menimpa orang-orang Kristren, seperti yang
terjadi sekarang ini, yang menimpa empat orang warga NTT, yang menjadi
terduga pembunuh anggota Kopassus Sersan Santoso.
Peristiwa yang menimpa umat Islam selalu diputar-balikkan dengan
berbagai opini, yang kemudian membuat posisi umat Islam menjadi
tertuduh, dan fihak yang salah dan layak dihukum. Bahkan, dihabisi
dengan menggunakan kekerasan senjata, seperti yang terjadi di Poso.
Padahal, di Poso, yang menjadi korban adalah umat Islam. Ratusan
umat Islam tewas dibantai milisi "kelelawar" yang dipimpin Tibo Cs,
yang berasal dari NTT. Dan tidak pernah sekalipun keluar di media, yang katanya milik semua golongan itu. Tetapi, anehnya sekarang justeru umat Islam yang
sekarang dituduh menjadi pelaku kejahatan, dan melakukan tindak
terorisme di Poso.
Kasus kejahatan yang dilakukan milisi kristen tidak pernah diungkap
dengan tuntas, dan justru ditutupi, dan sekarang yang menjadi tertuduh
umat Islam. Sungguh sangat tragis.
Begitu tidak adilnya media-media sekuler menanggapi kasus
yang terjadi terutama, kasus yang dialami umat Islam dengan yang
dialami oleh orang-orang non muslim.
Bahkan, kasus yang sangat tidak penting, seperti kasus gereja Yasmin
di Bogor pun, diadukan ke Komisi HAM internasional. Sungguh sangat tidak
adil sikap media-media terhadap kasus Cebongan dibandingkan dengan
terduga teroris.
Wallahu'alam
posted by Adimin
Label:
Bingkai Berita
March 26, 2013
Riyandana Fajar Nugraha
Mining Engineer salah satu perusahaaan pertambangan di Sangatta Kutai Timur Kal-Tim
twitter @riyandanafn
PKS = Good nation vision, High quality figure & Solid political machine
Berbicara target PKS menembus 3 besar maka akan kuat asosiasinya dengan
perolehan suara yang meningkat dalam Pemilu mendatang. Maka kemudian
dirancanglah strategi-strategi khusus yang disiapkan untuk meraih suara
pemilih di setiap pelosok negeri. Adanya masalah hukum yang menimpa
mantan presiden PKS Ust. Luthfi Hasan Ishaaq beberapa waktu lalu
terlihat bukan malah mengendurkan semangat juang kader-kadernya bahkan
kemenangan pilkada di Jawa Barat dan Sumatera Utara seolah menjadi
momentum kebangkitan partai ini. Sehingga kemudian ini menjadi signal
awal terealisasinya target PKS tersebut, parpol 3 besar Pemilu 2014.
Lalu ketika PKS nanti berhasil merebut simpati pemilih dan kemudian menjadi 3 besar maka muncul pertanyaan, apakah
PKS siap menjadi salah satu “parpol besar” di negeri ini? Maka untuk
menjawab pertanyaan itu menurut saya paling tidak ada 3 hal yang harus
disiapkan oleh PKS sebelum pemilu berlangsung.
1. Visi kebangsaan yang jelas (Good nation vision)
Dalam filosofi kekuasaan, masa depan masyarakat tergantung dari cara
pandang pemimpinnya. Begitu pun dalam sistem pemerintahan modern
Indonesia dimana elite-elite kekuasaaan harus punya visi kebangsaan yang
jelas mau dibawa kemana bangsa ini nantinya. PKS hadir bukan dari
kepentingan pragmatis orang/kelompok tertentu melainkan bagian dari anak
bangsa yang ingin membangun negeri dan masyarakat yang adil, sejahtera
dan bermartabat. Hal ini terangkum secara komperhensif dalam Platform
Kebijakan Partai yang banyak dipuji oleh banyak kalangan dan tokoh.
2. Kader-kader yang mumpuni (High quality figure)
Konsekuensi dari eskalasi kemenangan pemilu bahkan pilpres nanti adalah
PKS membutuhkan banyak sumber daya manusia yang siap mengisi
posisi-posisi strategis dalam lembaga negara dan pemerintahan. Maka jika
yang menjadi parameter kualitas manusia adalah tingkat pendidikan maka
komposisi kader bergelar S3 di PKS menjadi yang paling banyak diantara
parpol lain. Jika ditilik dari “sistem kaderisasi politik” yang
dijalankan PKS, pun menjadi jaminan tersedianya stok kepemimpinan
nasional yang memadai.
3. Mesin politik yang solid (Solid political machine)
Semakin tinggi kita naik maka akan semakin kencang angin yang berhembus
dan semakin besar pula kemungkinan untuk terjatuh atau dijatuhkan. Jika
dilihat dari manajemen pengelolaan masalah maka PKS saat ini bisa
dikatakan yang paling baik. Opini negatif yang berkembang dinetralisir
dengan cepat sehingga tidak berimplikasi pada kohesivitas internal
partai. Hal ini menjadi modal yang baik dalam menghadapi konstalasi
politik yang akan semakin kompleks karena secara linear, semakin besar
PKS maka akan semakin besar pula masalah yang akan dihadapi.
Jika melihat tiga hal di atas maka sesungguhnya tidak ada keraguan
tentang kesiapan PKS menjadi parpol 3 besar sekaligus pemeran utama
dalam membawa perubahan kondisi bangsa Indonesia ke arah yang lebih
baik. Hakikatnya kemenangan pemilu bukan hanya kemenangan dalam
mendapatkan suara yang banyak melainkan juga kemenangan dalam
mendapatkan tanggung jawab amanah rakyat
Riyandana Fajar Nugraha
Mining Engineer salah satu perusahaaan pertambangan di Sangatta Kutai Timur Kal-Tim
twitter @riyandanafn
posted by Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN
March 25, 2013
Ketika Media Dikalahkan Semangkuk Kolak
Written By @Adimin on 25 March, 2013 | March 25, 2013
Ada yang mengatakan
“ Jika Ingin Merebut Dunia Kuasailah Media” .sehingga semua orang
berlomba-lomba ingin memiliki Media. Media yang saya maksudkan adalah
semua Media, baik Media Cetak, Online, Radio, Televisi dan Social Media.
Mereka yang ingin
menguasai Media dari berbagai profesi dan tujuan yang berbeda-beda.
Pengusaha memanfaatkan Media untuk menunjang penjualannya,seorang Artis
untuk menunjang kariernya,dan para Politisi untuk memenangkan Partainya…
Pada tahun 2013 ini
kita bisa melihat para Politisi banyak yang menggunakan Media untuk
meningkatkan popularitas Partainya maupun popularitas dirinya. Banyak
Politisi Indonesia yang telah menguasai Media,sehingga mereka
memanfaatkan Media tersebut untuk menghancurkan partai lain, dan membuat
seolah-olah hanya partainyalah yang terbaik.Menggiring opinini public
dengan berbagai cara, memanfaatkan Medianya untuk menyerang partai lain,
baik secara sembunyi (tersirat) atau terang-terangan.
Akhirnya partai yang
tidak menguasai Media citranya babak belur,dihantam oleh Partai yang
kadernya menguasai Media, sebut saja Partai Demokrat ,semua kasus korupsi
yang menyeret kadernya dihakimi oleh opini public melalui media, begitu
juga dengan PKS kadernya yang baik- baik,sholeh dan sopan-sopan pun
terkena serangan media.ada isu kesalahan pks setitik ,menjadi sasaran empuk bagi Media,beritanya kerap kali menjadi topik utama,dan menutup mata dengan kebobrokan Partainya.
Ditinjau secara lanjut media
TELAH BERHASIL menghantap Partai Demokrat menjadi babak belur ,hingga
survey terakhir partai ini hanya mendapat 8-11% suara. Tetapi tidak
untuk PKS, opini public melalui media menjadikan partai ini semangkin
kokoh,karena bagi masayarakat paham bahwa PKS itu kerap dizolimi,
berita-berita itu semua bohong,selain itu masarakat sering bertemu kader
PKS sehari-hari .mereka dapat menilai secara langsung .
Dan sehebat-hebatnya Partai dan Politisi
yang menggunakan media,bahkan menghabiskan dana besar untuk media,
menurut saya pada akhirnya nanti akan kecewa dan akan ditinggalkan para
pemilihnya,karena ternyata media masih kalah dengan sepotong kolak.
Sepotong kolak…ya kolak .kolak terbuat dari pisang ,yang dipotong-potong dimasak dengan campuran santan dan gula merah.
Ini terjadi ketika
pemilihan gubernur sumatera utara 7 maret lalu . Bu ani (bukan nama
sebenarnya) pada hari pemilihan , datang menjumpai kader Pks didekat
rumahnya menanyakan. Pks nomor brapa (maksudnya calon gubernur yang
didukung pks ).kemudian langsung mendatangi tps dan memilih
pilihannya,tentunya pilihannya pilihan Pks…
Setelah di tanyakan
kenapa sampai datang kerumah menanyakan nomor pks,bu ani bilang
memastikan jangan sampai salah pilih.Karena dia sering mendengarkan
berita miring tentang Pks di Tv dan dikoran-koran yang di bacanya,bahkan
anaknya sempat mengatakan kalau kita jangan pilih Pks…
Tapi dengan tenang dia mengatakan :
nak,kamu kenal pak pohan (bapak Abdul Rahman Pohan ini kader Pks )
yakin gak kamu dia itu korupsi?
Yakin gak kamu kalau dia berbohong
sementara solatnya di mesjid, akhlaknya bagus…
anaknya menjawab tidak bu…
ingat gak kamu bulan puasa kemarin, siapa yang memberi kolak pada kita??
tv?koran? ngak kan …
iya bu jawab anaknya…ya udah yok kita pilih pks (maksudnya calon pks).
begitulah masyarakat .
mereka tidak begitu peduli dengan Media. mereka lebih melihat
kerja…mereka melihat dengan mata hati. Walaupun para Politisi
menghabiskan iklan di Tv,menghabiskan dana untuk menghujat partai lain
di Tv, Koran, Majalah ,dll. Tetapi mereka tidak begitu peduli.
Jadi buat para polikus nakal,jangan terlalu berharap banyak dengan media….karena “MEDIA TELAH DIKALAHKAN DENGAN SEPOTONG KOLAK”.
Terimakasih telah membaca
Semoga anda bahagia…
Bang sadi
sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/03/23/ketika-media-dikalahkan-sepotong-kolak-545244.html
posted by Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN
March 25, 2013
sumber : republika
posted by Adimin
Tolak Tukar Kaus dengan Israel, Ronaldo: Ini Bumi Palestina
Di akhir pertandingan kualifikasi Piala Dunia Grup F antara Portugal
dan Israel, Cristiano Ronaldo menolak bertukar kostum dengan pemain
Israel.
Menurut laporan Shabestan, wartawan televisi Aljazeera sempat
bertanya kepada Ronaldo, Anda saat ini berada di tanah Israel atau
Palestina? Bintang dunia asal Portugal ini menjawab, "Saya berada di
bumi Palestina."
Di akhir pertandingan, pemain Israel mendekati Ronaldo untuk
bertukar kostum, namun ia tidak mengindahkan pemain Israel tersebut.
Seperti diberitakan, Portugal bertanding melawan Israel pada hari
Jumat (22/3) di pertandingan kualifikasi Piala Dunia Grup F. Seperti
diberitakan oleh Antara, Portugal bangkit dari ketertertinggalan 1-3
untuk menyamakan kedudukan pada masa tambahan waktu saat melawan Israel,
pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia Grup F Jumat, hasil yang
membuat kedua tim memiliki peluang sama untuk lolos.
sumber : republika
posted by Adimin
Label:
Bingkai Berita
March 22, 2013
posted by Adimin
Hati hatilah wahai penuntut ilmu
Written By @Adimin on 22 March, 2013 | March 22, 2013
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam
“Orang yang pertama sekali dinyalakan api neraka dengan mereka ada tiga: salah satu diantara mereka adalah seorang yang menuntut ilmu dan membaca Al Quran, maka ia dipanggil dan diperkenalkan kepadanya tentang nikmat Allah, maka iapun mengakuinya, lalu Allah bertanya kepadanya: apa yang ia lakukan terhadap nikmat tersebut?, ia menjawab: aku pergunakan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya serta untuk membaca Al Quran pada Mu, Allah menimpali jawaabnya: kamu telah berdusta, tetapi engkau menuntut ilmu supaya mendapat (sanjungan) supaya dikatakan sebagai seorang alim, dan engkau membaca Al Quran supaya dikatakan orang sebagai seorang Qari’, sungguh telah terbukti demikian, kemudian ia diusung diatas mukanya sampai ia dilemparkan kedalam neraka.” (HR. Muslim no: 1905).
Ibnu Baththal berkata, “Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya maka kelak di akherat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.” (Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 1/136)
“Orang yang pertama sekali dinyalakan api neraka dengan mereka ada tiga: salah satu diantara mereka adalah seorang yang menuntut ilmu dan membaca Al Quran, maka ia dipanggil dan diperkenalkan kepadanya tentang nikmat Allah, maka iapun mengakuinya, lalu Allah bertanya kepadanya: apa yang ia lakukan terhadap nikmat tersebut?, ia menjawab: aku pergunakan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya serta untuk membaca Al Quran pada Mu, Allah menimpali jawaabnya: kamu telah berdusta, tetapi engkau menuntut ilmu supaya mendapat (sanjungan) supaya dikatakan sebagai seorang alim, dan engkau membaca Al Quran supaya dikatakan orang sebagai seorang Qari’, sungguh telah terbukti demikian, kemudian ia diusung diatas mukanya sampai ia dilemparkan kedalam neraka.” (HR. Muslim no: 1905).
Ibnu Baththal berkata, “Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya maka kelak di akherat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.” (Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 1/136)
posted by Adimin
Label:
HADIST
March 22, 2013
DONNY SYOFYAN
sumber : harian haluan
posted by Adimin
Survivalitas PKS
Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
betul-betul menjadi balon dalam lanskap perpolitikan Tanah Air dewasa
ini. Makin ditekan dan dipojokkan justru PKS makin kuat, solid, dan
terbang dengan kekuatannya. Layaknya karet, semakin partai ini ditekan
semakin kuat dorongan untuk memantul. Pasca ditetapkannya Luthfi Hasan
Ishaq (LHI), mantan Presiden PKS sebagai tersangka KPK, PKS justru
mendulang kemenangan dalam sejumlah pilkada.
Dalam pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara jago PKS yang ikut
bertanding memenangi pertempuran. Hingga saat ini, segenap komentar,
prediksi, atau hujatan publik dan media terhadap PKS menjadi terjun
bebas (fall free).
Bagi kalangan internal PKS sendiri, kemenangan dalam dua pilkada
tersebut telah mewujud sebagai tambahan darah segar bagi perjuangan
mereka untuk membalikkan serangan yang membabi buta, argumen-argumen
kasar dan keterlaluan yang secara terus-menerus menghajar partai dakwah
tersebut.
Boleh saja banyak pihak berdalih bahwa kemenangan dua pilkada
tersebut sepenuhnya bukanlah kemenangan PKS. Ada yang menganggap bahwa
kemenangan dua pilkada itu adalah kemenangan kolektif sejumlah partai
karena pasangan yang diusung adalah kolaborasi beberapa partai. Pihak
lain juga menilai bahwa kemenangan pada dua pilkada tersebut sejatinya
adalah kemenangan golput. Jumlah golput di Jabar dan Sumut dikabarkan
sekitar lima puluh persen dari totalitas pemilih. Analisa demikian
tentu sah-sah saja meskipun dalam banyak hal mulai terlihat galau dan
tidak rancak dalam mengakui sebuah objektivitas.
Hanya saja, menyalahkan kemenangan PKS dalam dua pilkada di atas
sebagai kebangunan golput juga sesuatu yang juga berlebihan. Mereka
yang tidak memilih bisa jadi memiliki banyak alasan yang berbeda. Ada
yang tidak memilih karena menganggap berdemokrasi itu haram. Ada pula
yang tidak memilih karena sedang dirawat di rumah sakit. Ada yang
mendapat musibah pada hari pencoblosan, sehingga tidak bisa memilih.
Ada yang sudah bersikap apatis kepada semua parpol, ada yang tidak
apatis pada parpol, namun tidak menemukan satu kandidat pun yang
dianggapnya cocok untuk dipilih. Mungkin ada juga yang dulunya
habis-habisan mendukung kandidat tertentu, namun apa dinyana kandidat
yang didukungnya tidak diloloskan oleh KPU. Karena itu, ia memutuskan
untuk tidak memilih saja. Ada juga yang secara kebetulan sudah memiliki
agenda lain yang sudah dipastikan sejak jauh-jauh hari, dan kebetulan
agenda itu jatuh pada hari pencoblosan, sehingga ia tidak bisa memilih.
Hemat saya, kemenangan PKS pada pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara
sesungguhnya merupakan cermin survivalitas—daya untuk tetap bertahan
PKS—terhadap tekanan dari segenap penjuru mata angin yang berdiri kokoh
pada tiga kekuatan utama.
Pertama, soliditas kader. Kekuatan utama PKS, bahkan sejak masih
Partai Keadilan (PK), terletak pada sistem kaderisasinya yang terbangun
kuat lewat proses tarbiyah (pembinaan) secara ketat dan
gradual. Sarana tarbiyah bukanlah sekadar alat homogenisasi atau
uniformitas pemikiran dan derap langkah yang berujung pada proses cuci
otak alias indoktrinisasi yang selama ini kerap dituduhkan banyak pihak,
melainkan sebagai wasilah pemberian gizi jiwa yang melahirkan
kader-kader PKS yang militan dan terdidik.
Terpaan media yang secara terus menerus menggerus citra PKS dalam
banyak kasus tanpa menyisakan sedikit ruang pun bagi politisi PKS untuk
membela diri dan menyajikan pandangan alternatif tidak membangun tren
kutu loncat besar-besaran bagi kader PKS untuk meninggalkan kendaraan
politiknya. Padahal kesempatan ini sangat memungkinkan dan memiliki
basis rasionalitas dan legitimasi yang kuat bagi kader partai untuk
pindah haluan.
Militansi kader berbasis tarbiyah demikian membuat serangan ‘jurnalisme su’uzhan’
balik kanan seperti melempar bola ke tembok. Inilah yang membuat kader
PKS memiliki daya tahan terhadap pemberitaan yang tak berimbang, daya
tangkal terhadap tekanan isolasi sosial, maupun daya seleksi tarik
menarik opini publik yang dalam banyak hal cenderung mengikuti arus agenda setting kebanyakan media massa. Kader PKS sadar betul bahwa media massa bukanlah sarana tarbiyah.
Kedua, manajemen isu yang luar biasa. Banyak yang meyakini bahwa
penahanan LHI oleh KPK menjadi awal rontoknya PKS bukan saja disebabkan
dekatnya pemilu legislatif dan Pilpres 2014 tapi juga agenda pilkada
yang bakal berserakan di banyak daerah. Namun PKS dengan sigap membangun
kuda-kuda untuk bertahan menyahut keniscayaan ancaman dengan mengganti
pucuk pimpinan, yakni Anis Matta sebagai Presiden PKS yang baru.
Transformasi kepemimpinan ini memberikan efek ganda—defensif untuk
menjaga keutuhan kader sebagai modal politik primer dari tsunami
politik dan ekspansif untuk mengonsolidasikan kader-kader terbaik partai
guna menghadapi sejumlah pesta demokrasi di daerah. Anis Matta,
setidaknya hingga saat ini, sukses menjalankan strategi ‘kusir bendi’
dalam menggerakkan mesin politik PKS; seorang kusir lazimnya mengobrol
dengan penumpangnya sambil mengendarai kudanya. Artinya, PKS di bawah
kepemimpinan Anis Matta tetap berjalan fokus ke depan seraya pada saat
yang sama dengan cerdas melakukan counter sana sini terhadap sinisme elit dan pengamat lewat kerja-kerja nyata.
Alih-alih menghabiskan energi dengan teori konspirasi yang sempat
membuat PKS berjalan di tempat, Anis membawa PKS menjalani ‘quantum
leap’ dengan mengalihkan energi kader kepada pilkada sebagai target
terdekat.
Ketiga, kepemimpinan kolektif yang konsisten. Sungguhpun Anis Matta
dianggap kontributif mendongkak elektabilitas partai dengan
kapabilitas yang dimilikinya—orator, kemampuan manajerial, penulis,
dan ahli lobi—kebangunan PKS lebih terletak kepada kualifikasi
kepemiminan jamaah, yakni majelis syura.
Kolektivitas kepemimpinan ini semakin mengukuhkan PKS sebagai
partai kader yang tidak terperangkap pada figuritas kepemimpinan,
semisal Partai Demokrat atau PDI-P. Tak kalah krusialnya, kolektivitas
kepemimpinan tersebut fungsional mencegah terjadinya kecenderungan
saling menyalahkan atau mencari kambing hitam (blame game) di
antara elit atau kader PKS. Akhirnya harus diakui bahwa kepemimpinan
kolektif menjadikan fungsi kontrol dan terobosan-terobosan progresif
dari mesin politik dalam tubuh PKS melaju dengan kecepatan maksimum. (*)
DONNY SYOFYAN
sumber : harian haluan
posted by Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN
March 21, 2013
Allah berfirman: kepada Qari’: “bukankan AKU ajarkan kepadamu sesuatu yang AKU turunkan kepada utusanKU?” ia menjawab: “Ya, wahai tuhanku”. DIA berfirman: “Apakah yang kamu amalkan dalam apa yang kamu ketahui?”. Ia menjawab: “Saya selalu melaksanakannya tengah malam dan tengah hari”. Allah berfirman kepadanya: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya: “Kamu berdusta”. Allah berfirman: “Namun kamu menghendaki untuk dikatakan: “Sesungguhnya fulan itu qari’, hal itu telah diucapkan”
Orang yang berharta didatangkan, lalu Allah berfirman kepadanya: “Bukankan AKU telah memberi kelapangan kepadamu sehingga AKU tidak membiarkan kamu membutuhkan kepada seseorang?” Ia berkata: “Ya, wahai Tuhanku”. DIA berfirman “Apakah yang kamu kerjakan dalam harta yang AKU berikan kepadamu?” Ia menjawab: “Saya bersilaturahmi dan bersedekah”.Allah berfirman: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya: “Kamu berdusta”. Allah Ta’ala berfirman: “Tapi kamu ingin dikatakan: “Fulan itu dermawan, dan itu telah diucapkan”.
Orang yang terbunuh di jalan Allah didatangkan, lalu Allah berfirman kepadanya: “karena apakah kamu terbunuh?’ Ia menjawab: “Saya diperintah untuk berjuang di jalanMU, maka saya berperang hingga saya terbunuh:. Allah Ta’ala berfirman kepadanya: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya; “Kamu berdusta”. Allah berfirman: “Tetapi kamu berkeinginan untuk dikatakan: “Fulan itu pemberani, dan itu telah diucapkan”.
Kemudian rasulullah menepuk dua lututku seraya bersabda: “Wahai Abu Hurairah, tiga orang itulah makhluk Allah yang pertama kali dibakar oleh api neraka pada hari Qiyamat”
Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Shahihnya bab Riya’ dan Sum’ah
KAJIAN :
1. Riya'
Sabda Rasulullah SAW: "Sesuatu yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Beliau bersabda: “Riya”. Allah Ta’ala akan berfirman kepada mereka pada hari dibalasnya para hamba atas amal-amal perbuatan mereka: “Pergilah kamu kepada orang2 yang kamu pameri sewaktu di dunia, maka lihatlah apakah kamu dapat memperoleh suatu kebaikan dari mereka.”
Dari Abu Hurairah bahwasannya Nabi SAW bersabda: Artinya: Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu syirik. Aku tidak membutuhkan amal yang didalamnya terkandung persekutuan kepada selain Aku. Barang siapa yang mengerjakan suatu amal perbuatan yang di dalamnya terkandung persekutuan selain Aku, maka Aku lepas daripadanya”
Riya’ adalah perbuatan buruk/tercela, riya’ dalam ibadah sama saja dengan menertawakan Allah SWT. Hakikat riya’ adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan ibadat dan perbuatan-perbuatan yg baik. Riya’ adalah syirik tersembunyi.
Waki’ menceritakan dari Sufyan Ats-Tsauri dari seseorang yang mendengar Muhahid berkata:
Artinya: Ada seseorang datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya akau bershadaqah dengan sesuatu shadaqah, kemudian dengan shadaqah itu saya mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dan saya juga ingin dikatakan orang yang baik (oleh orang lain):, kemudian turunlah ayat,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya: “Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS: Al Kahfi, 18: 110)
Maksudnya hendaklah ikhlas karena Allah dalam beramal, jangan sekali-kali mengharap sesuatu selain kepada Allah yang akan menyebabkan pahala amalan tsb pupus/hilang. Sebagaimana firman Allah,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
artinya : “Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al Furqan 25: 23)
Mengapa Allah menghapus pahala amal karena riya’ tidak lain karena amal yang disertai riya’ itu pada dasarnya mempersekutukan sekaligus menipu Allah SWT. Orang-orang seperti inilah sebenarnya yang tertipu karena menyangka perbuatan mereka berpahala di sisi Allah SWT sebagaimana firmannya dalam Al-Quran :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
artinya: "Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah,tapi Allah lah yang menipu mereka.” (QS An Nisa’ 4:142)
Allah menipu mereka maksudnya Allah akan membatalkan / menghilangkan pahala amal karena riya’.
Dalam sebuah atsar diriwayatkan bahwa Umar ra melihat seorang laki-laki menundukkan tengkuknya. Umar berkata: Hai pemilik tengkuk, angkatlah tengkukmu, karena khusyu’ itu tidak di dalam tengkuk, tapi khusyu’ itu di dalam hati
Sayyidina Ali ra berkata, tanda orang riya’ itu ada 3: Malas bila sendirian, tangkas bila banyak orang, menambah amal bila dipuji dan berkurang bila dicela
2.Lawan dari Riya’ adalah Ikhlas.
Ikhlas hakekatnya adalah rahasia antara kita dengan Allah SWT. Menujukan seluruh amal Amar Ma’ruf Nahi Munkar Lillaahita’ala
Tanda orang yang ikhlas dalam beramal adalah tidak ingin amalannya dipuji oleh orang lain.
Allah SWT telah berfirman dalam Al-quran:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
artinya: "Mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama kepadaNya." (Al Bayyinah: 5)
Amal yang sedikit tapi ikhlas lebih baik daripada amal yang banyak tapi disertai riya’ / tidak ikhlas kepada Allah, sebab amal yang sedikit tetapi ikhlas itu akan dilipatgandakan oleh Allah atas kemurahanNya seperti dalam Firman Allah :
إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
artinya: ‘Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesaar zarrah. Dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah pun), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar di sisiNya.” (QS. An Nisa’, 4:40)
Oleh karenanya hendaklah kita selalu memulai setiap amalan dengan niat yang benar, ikhlas semata karena Allah dan mengharapkan keridhaan dan pahala hanya dari Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu (tergantung) dengan niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
posted by Adimin
Pelajaran tentang Ikhlas & Riya
Written By @Adimin on 21 March, 2013 | March 21, 2013
Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya allah yang
Maha Suci dan Maha tinggi pada hari qiyamat turun kepada para hamba
untuk mengadili mereka, dan setiap umat itu berlutut. Orang yang pertama
kali dipanggil adalah orang yang mengumpulkan (hafal) al Quran, orang
yang terbunuh di jalan Allah dan orang yang berharta banyak.
Allah berfirman: kepada Qari’: “bukankan AKU ajarkan kepadamu sesuatu yang AKU turunkan kepada utusanKU?” ia menjawab: “Ya, wahai tuhanku”. DIA berfirman: “Apakah yang kamu amalkan dalam apa yang kamu ketahui?”. Ia menjawab: “Saya selalu melaksanakannya tengah malam dan tengah hari”. Allah berfirman kepadanya: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya: “Kamu berdusta”. Allah berfirman: “Namun kamu menghendaki untuk dikatakan: “Sesungguhnya fulan itu qari’, hal itu telah diucapkan”
Orang yang berharta didatangkan, lalu Allah berfirman kepadanya: “Bukankan AKU telah memberi kelapangan kepadamu sehingga AKU tidak membiarkan kamu membutuhkan kepada seseorang?” Ia berkata: “Ya, wahai Tuhanku”. DIA berfirman “Apakah yang kamu kerjakan dalam harta yang AKU berikan kepadamu?” Ia menjawab: “Saya bersilaturahmi dan bersedekah”.Allah berfirman: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya: “Kamu berdusta”. Allah Ta’ala berfirman: “Tapi kamu ingin dikatakan: “Fulan itu dermawan, dan itu telah diucapkan”.
Orang yang terbunuh di jalan Allah didatangkan, lalu Allah berfirman kepadanya: “karena apakah kamu terbunuh?’ Ia menjawab: “Saya diperintah untuk berjuang di jalanMU, maka saya berperang hingga saya terbunuh:. Allah Ta’ala berfirman kepadanya: “Kamu berdusta”. Malaikatpun berkata kepadanya; “Kamu berdusta”. Allah berfirman: “Tetapi kamu berkeinginan untuk dikatakan: “Fulan itu pemberani, dan itu telah diucapkan”.
Kemudian rasulullah menepuk dua lututku seraya bersabda: “Wahai Abu Hurairah, tiga orang itulah makhluk Allah yang pertama kali dibakar oleh api neraka pada hari Qiyamat”
Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Shahihnya bab Riya’ dan Sum’ah
KAJIAN :
1. Riya'
Sabda Rasulullah SAW: "Sesuatu yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Beliau bersabda: “Riya”. Allah Ta’ala akan berfirman kepada mereka pada hari dibalasnya para hamba atas amal-amal perbuatan mereka: “Pergilah kamu kepada orang2 yang kamu pameri sewaktu di dunia, maka lihatlah apakah kamu dapat memperoleh suatu kebaikan dari mereka.”
Dari Abu Hurairah bahwasannya Nabi SAW bersabda: Artinya: Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu syirik. Aku tidak membutuhkan amal yang didalamnya terkandung persekutuan kepada selain Aku. Barang siapa yang mengerjakan suatu amal perbuatan yang di dalamnya terkandung persekutuan selain Aku, maka Aku lepas daripadanya”
Riya’ adalah perbuatan buruk/tercela, riya’ dalam ibadah sama saja dengan menertawakan Allah SWT. Hakikat riya’ adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan ibadat dan perbuatan-perbuatan yg baik. Riya’ adalah syirik tersembunyi.
Waki’ menceritakan dari Sufyan Ats-Tsauri dari seseorang yang mendengar Muhahid berkata:
Artinya: Ada seseorang datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya akau bershadaqah dengan sesuatu shadaqah, kemudian dengan shadaqah itu saya mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dan saya juga ingin dikatakan orang yang baik (oleh orang lain):, kemudian turunlah ayat,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya: “Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS: Al Kahfi, 18: 110)
Maksudnya hendaklah ikhlas karena Allah dalam beramal, jangan sekali-kali mengharap sesuatu selain kepada Allah yang akan menyebabkan pahala amalan tsb pupus/hilang. Sebagaimana firman Allah,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
artinya : “Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al Furqan 25: 23)
Mengapa Allah menghapus pahala amal karena riya’ tidak lain karena amal yang disertai riya’ itu pada dasarnya mempersekutukan sekaligus menipu Allah SWT. Orang-orang seperti inilah sebenarnya yang tertipu karena menyangka perbuatan mereka berpahala di sisi Allah SWT sebagaimana firmannya dalam Al-Quran :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
artinya: "Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah,tapi Allah lah yang menipu mereka.” (QS An Nisa’ 4:142)
Allah menipu mereka maksudnya Allah akan membatalkan / menghilangkan pahala amal karena riya’.
Dalam sebuah atsar diriwayatkan bahwa Umar ra melihat seorang laki-laki menundukkan tengkuknya. Umar berkata: Hai pemilik tengkuk, angkatlah tengkukmu, karena khusyu’ itu tidak di dalam tengkuk, tapi khusyu’ itu di dalam hati
Sayyidina Ali ra berkata, tanda orang riya’ itu ada 3: Malas bila sendirian, tangkas bila banyak orang, menambah amal bila dipuji dan berkurang bila dicela
2.Lawan dari Riya’ adalah Ikhlas.
Ikhlas hakekatnya adalah rahasia antara kita dengan Allah SWT. Menujukan seluruh amal Amar Ma’ruf Nahi Munkar Lillaahita’ala
Tanda orang yang ikhlas dalam beramal adalah tidak ingin amalannya dipuji oleh orang lain.
Allah SWT telah berfirman dalam Al-quran:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
artinya: "Mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama kepadaNya." (Al Bayyinah: 5)
Amal yang sedikit tapi ikhlas lebih baik daripada amal yang banyak tapi disertai riya’ / tidak ikhlas kepada Allah, sebab amal yang sedikit tetapi ikhlas itu akan dilipatgandakan oleh Allah atas kemurahanNya seperti dalam Firman Allah :
إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
artinya: ‘Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesaar zarrah. Dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah pun), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar di sisiNya.” (QS. An Nisa’, 4:40)
Oleh karenanya hendaklah kita selalu memulai setiap amalan dengan niat yang benar, ikhlas semata karena Allah dan mengharapkan keridhaan dan pahala hanya dari Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu (tergantung) dengan niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
Label:
HADIST
March 21, 2013
posted by Adimin
Belajar Mengakui Kesalahan
Abi Hurairah (semoga Allah meridoinya) berkata, telah bersabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa
pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut
kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta
dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna
lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia mempunyai amal saleh, akan diambil
darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan
(lagi), akan diambil dari keburukan saudaranya (yang dizalimi) kemudian
dibebankan padanya.” (H.R. Al-Bukhari)
Rasulullah Saw. mengajari kita untuk berani mengakui kesalahan.
Ini adalah tindak lanjut dari sikap takut membawa dosa kezaliman saat berjumpa dengan Allah. Kita dianjurkan untuk memiliki sikap berani mengakui kesalahan dan kemudian meminta maaf. Dalam hadits di atas, Rasulullah Saw. memerintahkan, “Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat).”
Kezaliman tidak hanya dilakukan oleh seorang penguasa kepada rakyatnya atau seorang pemimpin kepada bawahannya. Setiap orang mempunyai celah untuk melakukan kezaliman kepada sesamanya.
Kezaliman bisa dilakukan oleh lidah atau tangan. Kata-kata yang menyakitkan, menistakan, memprovokasi, dan mengklaim hanya dirinya yang berjasa (dan menggap orang lain tidak punya kebaikan) adalah kezaliman. Tangan yang menyengsarakan, menghilangkan hak orang lain, serta meruskan adalah kezaliman.
Muslim sejati adalah orang yang tidak pernah menzalimi orang lain, baik dengan lidah maupun dengan tangannya sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Orang muslim (sejati) adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari (gangguan) lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Manusia bukanlah malaikat. Siapa pun bisa melakukan kesalahan kepada sesamanya. Jika hal itu terjadi, sikap terbaik yang diajarkan Rasulullah Saw. adalah segera meminta maaf. Itulah yang dilakukan Abu Badzar terhadap Bilal (semoga Allah meridoi mereka) dalam kisah berikut.
Pada suatu hari, Abu Dzar Al-Ghifari terlibat percekcokan dengan Bilal. Karena kesal, Abu Dzar berkata, “Engkau juga menyalahkanku wahai anak perempuan hitam?” Mendengar dirinya disebut dengan anak perempuan hitam, Bilal tersinggung, sedih, dan marah. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada Rasulullah Saw. Beliau kemudian menasihati Abu Dzar, “Hai Abu Dzar, benarkah engkau mencela Bilal dengan (menghinakan) ibunya? Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah.”
Mendengar nasihat Rasulullah Saw. itu, Abu Dzar tersadar dari kesalahannya. Segera ia menemui Bilal. Abu Dzar kemudian meletakkan pipinya di tanah seraya mengatakan, “Aku tidak akan mengangkat pipiku dari tanah hingga kau injak pipiku ini agar engkau memaafkanku.” Namun Bilal tidak memanfaatkan momentum ini untuk membalas dendam. Bilal malah berkata, “Berdirilah engkau, aku sudah memaafkanmu.” Begitulah Abu Dzar dengan mudah dan berani mengakui kesalahan yang ia lakukan bukan dengan sengaja untuk menghinakan Bilal.
Sikap seperti itulah yang seharusnya ada pada diri kita saat kita berinterkasi dengan pihak lain, terutama orang-orang terdekat kita seperti suami, isteri, anak, orangtua, saudara, dan seterusnya. Orang yang tidak belajar mengakui kesalahan tidak akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Memang, untuk belajar mengakui kesalahan, seseorang membutuhkan jenak-jenak untuk untuk melakukan perenungan. Dia harus bisa menyisihkan waktu untuk melepas berbagai kesibukan seraya merenungkan berbagai ucapan atau tindakan saat berinteraksi dengan pihak lain.
Kalau saja kita mengikuti nafsu, selalu ada pihak lain yang bisa disalahkan dalam hal apa pun. Misalnya ketika seorang anak disuruh membeli satu barang oleh ibunya dan ternyata ia pulang dengan membawa barang lain yang tidak disuruh, maka cara yang paling mudah (yang merupakan cara nafsu alias cara egois) adalah menyalahkan si anak dengan berbagai tuduhan.
“Tidak dengar, tidak perhatian. Nakal!” Mungkin kalimat itu yang akan meluncur dari mulut seorang ibu yang egois. Tidakkah kita berfikir, “Jangan-jangan, perintah saya tadi memang tidak jelas sehingga ditangkap oleh si anak secara samar atau ditangkap dengan persepsi lain.”
Pikiran serupa hendaknya diterapkan ketika orang lain merespon atau bereaksi negatif terhadap ucapan atau tindakan kita. Mungkin orang itu memang salah merespon ucapan kita. Tapi tidak mustahil juga memang kitalah yang salah. Tanpa kita sadari, mungkin kalimat yang kita ucapkan direspon sebagai kalimat yang melecehkan atau menyinggung perasaannya.
Ini adalah salah satu wujud kebenaran sabda Rasulullah Saw., “Orang mukmin itu cermin bagi saudaranya.” Bukankah cermin hanya akan memantulkan bayangan benda yang ada di hadapannya?
Dalam kondisi seperti ini, segeralah meminta maaf. Ini adalah cara yang bijak dan tepat. Katakanlah bahwa sebetulnya substansi yang kita maksud tidak terutarakan dengan tepat. Boleh jadi kita terkesan mengutarakan substansi kalimat dengan emosional atau mendikte.
Maka bukanlah pada tempatnya jika kita ngotot dengan dalih bahwa yang kita sampaikan adalah benar. Boleh jadi itu benar tapi kita seharusnya minta maaf karena menyampaikan keinginan dengan cara-cara yang tidak benar.
Al-Quran mengajarkan kepada kita, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (lurus, tepat), niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 70-71)
Kata sadiida dalam ayat di atas berasal dari kata sadaad yang artinya lurus atau tepat. Bukankah kata-kata yang bagus adalah bagian dari ketakwaan? Perintah mengucapkan kata-kata yang lurus atau tepat setelah perintah takwa sungguh merupakan isyarat tentang betapa pentingnya dan hebatnya peran kata-kata dalam kehidupan serang muslim.
Bahkan ayat selanjutnya menegaskan bahwa dengan takwa serta kata-kata yang lurus dan tepat itu segala pekerjaan dan amal kita akan menjadi baik dan beres.
Sedemikian pentingnya urusan kata-kata ini sehingga kita dianjutkan untuk menggunakan pikiran jernih saat mendapatkan masukan, koreksi, ataupun nasihat dan bukannya sibuk mencari pembelaan. Pakailah rumus “Jangan-jangan dia memang benar” atau “Barangkali nasihat dia ada gunanya.”
Mencari-cari alasan bela diri untuk sekedar menampakkan bahwa diri tidak bersalah tidaklah menguntungkan sama sekali. Cara demikian tidaklah mengubah hakikat sesuatu. Contohlah cara yang dipraktikan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya dengan tidak sungkan dan berani minta maaf.
Wallahu a’lam.
Ini adalah tindak lanjut dari sikap takut membawa dosa kezaliman saat berjumpa dengan Allah. Kita dianjurkan untuk memiliki sikap berani mengakui kesalahan dan kemudian meminta maaf. Dalam hadits di atas, Rasulullah Saw. memerintahkan, “Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat).”
Kezaliman tidak hanya dilakukan oleh seorang penguasa kepada rakyatnya atau seorang pemimpin kepada bawahannya. Setiap orang mempunyai celah untuk melakukan kezaliman kepada sesamanya.
Kezaliman bisa dilakukan oleh lidah atau tangan. Kata-kata yang menyakitkan, menistakan, memprovokasi, dan mengklaim hanya dirinya yang berjasa (dan menggap orang lain tidak punya kebaikan) adalah kezaliman. Tangan yang menyengsarakan, menghilangkan hak orang lain, serta meruskan adalah kezaliman.
Muslim sejati adalah orang yang tidak pernah menzalimi orang lain, baik dengan lidah maupun dengan tangannya sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Orang muslim (sejati) adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari (gangguan) lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Manusia bukanlah malaikat. Siapa pun bisa melakukan kesalahan kepada sesamanya. Jika hal itu terjadi, sikap terbaik yang diajarkan Rasulullah Saw. adalah segera meminta maaf. Itulah yang dilakukan Abu Badzar terhadap Bilal (semoga Allah meridoi mereka) dalam kisah berikut.
Pada suatu hari, Abu Dzar Al-Ghifari terlibat percekcokan dengan Bilal. Karena kesal, Abu Dzar berkata, “Engkau juga menyalahkanku wahai anak perempuan hitam?” Mendengar dirinya disebut dengan anak perempuan hitam, Bilal tersinggung, sedih, dan marah. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada Rasulullah Saw. Beliau kemudian menasihati Abu Dzar, “Hai Abu Dzar, benarkah engkau mencela Bilal dengan (menghinakan) ibunya? Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah.”
Mendengar nasihat Rasulullah Saw. itu, Abu Dzar tersadar dari kesalahannya. Segera ia menemui Bilal. Abu Dzar kemudian meletakkan pipinya di tanah seraya mengatakan, “Aku tidak akan mengangkat pipiku dari tanah hingga kau injak pipiku ini agar engkau memaafkanku.” Namun Bilal tidak memanfaatkan momentum ini untuk membalas dendam. Bilal malah berkata, “Berdirilah engkau, aku sudah memaafkanmu.” Begitulah Abu Dzar dengan mudah dan berani mengakui kesalahan yang ia lakukan bukan dengan sengaja untuk menghinakan Bilal.
Sikap seperti itulah yang seharusnya ada pada diri kita saat kita berinterkasi dengan pihak lain, terutama orang-orang terdekat kita seperti suami, isteri, anak, orangtua, saudara, dan seterusnya. Orang yang tidak belajar mengakui kesalahan tidak akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Memang, untuk belajar mengakui kesalahan, seseorang membutuhkan jenak-jenak untuk untuk melakukan perenungan. Dia harus bisa menyisihkan waktu untuk melepas berbagai kesibukan seraya merenungkan berbagai ucapan atau tindakan saat berinteraksi dengan pihak lain.
Kalau saja kita mengikuti nafsu, selalu ada pihak lain yang bisa disalahkan dalam hal apa pun. Misalnya ketika seorang anak disuruh membeli satu barang oleh ibunya dan ternyata ia pulang dengan membawa barang lain yang tidak disuruh, maka cara yang paling mudah (yang merupakan cara nafsu alias cara egois) adalah menyalahkan si anak dengan berbagai tuduhan.
“Tidak dengar, tidak perhatian. Nakal!” Mungkin kalimat itu yang akan meluncur dari mulut seorang ibu yang egois. Tidakkah kita berfikir, “Jangan-jangan, perintah saya tadi memang tidak jelas sehingga ditangkap oleh si anak secara samar atau ditangkap dengan persepsi lain.”
Pikiran serupa hendaknya diterapkan ketika orang lain merespon atau bereaksi negatif terhadap ucapan atau tindakan kita. Mungkin orang itu memang salah merespon ucapan kita. Tapi tidak mustahil juga memang kitalah yang salah. Tanpa kita sadari, mungkin kalimat yang kita ucapkan direspon sebagai kalimat yang melecehkan atau menyinggung perasaannya.
Ini adalah salah satu wujud kebenaran sabda Rasulullah Saw., “Orang mukmin itu cermin bagi saudaranya.” Bukankah cermin hanya akan memantulkan bayangan benda yang ada di hadapannya?
Dalam kondisi seperti ini, segeralah meminta maaf. Ini adalah cara yang bijak dan tepat. Katakanlah bahwa sebetulnya substansi yang kita maksud tidak terutarakan dengan tepat. Boleh jadi kita terkesan mengutarakan substansi kalimat dengan emosional atau mendikte.
Maka bukanlah pada tempatnya jika kita ngotot dengan dalih bahwa yang kita sampaikan adalah benar. Boleh jadi itu benar tapi kita seharusnya minta maaf karena menyampaikan keinginan dengan cara-cara yang tidak benar.
Al-Quran mengajarkan kepada kita, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (lurus, tepat), niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 70-71)
Kata sadiida dalam ayat di atas berasal dari kata sadaad yang artinya lurus atau tepat. Bukankah kata-kata yang bagus adalah bagian dari ketakwaan? Perintah mengucapkan kata-kata yang lurus atau tepat setelah perintah takwa sungguh merupakan isyarat tentang betapa pentingnya dan hebatnya peran kata-kata dalam kehidupan serang muslim.
Bahkan ayat selanjutnya menegaskan bahwa dengan takwa serta kata-kata yang lurus dan tepat itu segala pekerjaan dan amal kita akan menjadi baik dan beres.
Sedemikian pentingnya urusan kata-kata ini sehingga kita dianjutkan untuk menggunakan pikiran jernih saat mendapatkan masukan, koreksi, ataupun nasihat dan bukannya sibuk mencari pembelaan. Pakailah rumus “Jangan-jangan dia memang benar” atau “Barangkali nasihat dia ada gunanya.”
Mencari-cari alasan bela diri untuk sekedar menampakkan bahwa diri tidak bersalah tidaklah menguntungkan sama sekali. Cara demikian tidaklah mengubah hakikat sesuatu. Contohlah cara yang dipraktikan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya dengan tidak sungkan dan berani minta maaf.
Wallahu a’lam.
Note : Jangan merasa terhina atau direndahkan jika dinasihati atau dikritik.
sumber : islamed
posted by Adimin
March 20, 2013
Fariq Gasim
posted by Adimin
Menganggap Diri Suci
Written By @Adimin on 20 March, 2013 | March 20, 2013
Sering kita mendengar orang menceritakan kebaikan dirinya atau bahkan
mungkin pelakunya adalah diri kita sendiri. Apakah ini tindakan terpuji
atau tercela?
Orang yang menceritakan tentang kebaikan dirinya bisa jadi karena ingin menceritakan nikmat Allah yang ia peroleh dan untuk memotivasi orang lain agar mengikutinya maka ini merupakan tujuan terpuji. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" (Surah Adh Dhuha 11)
Ada juga orang yang menceritakan kebaikan dirinya untuk maslahat agama seperti amar makruf nahi mungkar, memberi nasehat, menghindarkan dari suatu kerugian atau bahaya, untuk meyakinkan bahwa ia mampu menunaikan amanat yang akan ia tunaikan maka hal ini merupakan perbuatan terpuji.
Seperti Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Saya yang paling mengenal Allah diantara kalian dan saya orang yang paling bertakwa diantara kalian…"
Jika ia menceritakan kebaikan dan memuji dirinya karena menganggap diri suci dan pamer kepada orang lain untuk kebanggaan maka perbuatan ini berbahaya karena dapat mengakibatkan terhapusnya amal kebaikan tersebut.
Allah berfirman yang artinya, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa" (Surah An Najm 32)
Menganggap diri suci dan bersih termasuk penyakit hati yang berbahaya. Ia akan memuji diri dan menganggapnya lebih baik dari orang lain, timbul kesombongan yang mengakibatkan akan menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
Jika ada orang memuji orang lain, ia tidak suka dan sempit dadanya, bahkan ia menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang lain. Penyakit ini sering diderita oleh para pejabat, orang-orang kaya, pemuka masyarakat, ilmuwan/kaum intelektual, kaum ningrat/berdarah biru dan lainnya.
Penyakit yang berbahaya ini mungkin pula menjangkiti ulama, ustadz, mubaligh, khatib, atau dai/aktivis dakwah jika mereka tidak menjaga hati. Penyakit ini dimiliki iblis dan Fir'aun.
Allah berfirman menceritakan tentang ucapan Iblis yang artinya, "… (Iblis) menjawab, 'Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia, Engkau ciptakan dari tanah." (Surah Al A'raaf 12) dan ucapan Fir'aun yang artinya, "Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini…" (Surah Azzukhruf 52)
Orang mukmin berakhlak mulia, ia rendah hati, menganggap orang lain lebih baik darinya. Ia sibuk mengingat-ingat dan menghitung-hitung aib serta kekurangan dirinya guna mengevaluasi dan memperbaikinya.
Ia tidak sibuk dengan aib orang lain, jika ia dapatkan aib dari saudaranya maka ia sayang dan cinta kepadanya menginginkan kebaikan saudaranya sehingga ia tidak mendiamkannya tetapi memperbaikinya dan meluruskannya dengan cara yang baik dan bijaksana. Ia selalu mendoakan kebaikan untuk saudaranya.
Jika kita dapatkan sahabat radhiallahu anhum, tabi'in dan orang-orang shalih memuji diri mereka sendiri dengan menyebutkan keutamaan amal mereka, maka kita bersangka baik, mereka sedang menyebutkan nikmat Allah sebagai rasa syukur dan bermaksud memotivasi bukan kesombongan.
Kita harus selalu memperbaiki hati agar selamat dari penyakit sombong, ujub, hasad, riya, bersangka buruk, gila hormat dan penyakit hati lainnya.
Bersihkan hati kita dengan mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, hiasi hati kita dengan rendah hati, cinta kepada Allah, takut adzab-Nya, berharap akan rahmat-Nya dan akhlak mulia lainnya.
Orang yang menceritakan tentang kebaikan dirinya bisa jadi karena ingin menceritakan nikmat Allah yang ia peroleh dan untuk memotivasi orang lain agar mengikutinya maka ini merupakan tujuan terpuji. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" (Surah Adh Dhuha 11)
Ada juga orang yang menceritakan kebaikan dirinya untuk maslahat agama seperti amar makruf nahi mungkar, memberi nasehat, menghindarkan dari suatu kerugian atau bahaya, untuk meyakinkan bahwa ia mampu menunaikan amanat yang akan ia tunaikan maka hal ini merupakan perbuatan terpuji.
Seperti Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Saya yang paling mengenal Allah diantara kalian dan saya orang yang paling bertakwa diantara kalian…"
Jika ia menceritakan kebaikan dan memuji dirinya karena menganggap diri suci dan pamer kepada orang lain untuk kebanggaan maka perbuatan ini berbahaya karena dapat mengakibatkan terhapusnya amal kebaikan tersebut.
Allah berfirman yang artinya, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa" (Surah An Najm 32)
Menganggap diri suci dan bersih termasuk penyakit hati yang berbahaya. Ia akan memuji diri dan menganggapnya lebih baik dari orang lain, timbul kesombongan yang mengakibatkan akan menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
Jika ada orang memuji orang lain, ia tidak suka dan sempit dadanya, bahkan ia menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang lain. Penyakit ini sering diderita oleh para pejabat, orang-orang kaya, pemuka masyarakat, ilmuwan/kaum intelektual, kaum ningrat/berdarah biru dan lainnya.
Penyakit yang berbahaya ini mungkin pula menjangkiti ulama, ustadz, mubaligh, khatib, atau dai/aktivis dakwah jika mereka tidak menjaga hati. Penyakit ini dimiliki iblis dan Fir'aun.
Allah berfirman menceritakan tentang ucapan Iblis yang artinya, "… (Iblis) menjawab, 'Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia, Engkau ciptakan dari tanah." (Surah Al A'raaf 12) dan ucapan Fir'aun yang artinya, "Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini…" (Surah Azzukhruf 52)
Orang mukmin berakhlak mulia, ia rendah hati, menganggap orang lain lebih baik darinya. Ia sibuk mengingat-ingat dan menghitung-hitung aib serta kekurangan dirinya guna mengevaluasi dan memperbaikinya.
Ia tidak sibuk dengan aib orang lain, jika ia dapatkan aib dari saudaranya maka ia sayang dan cinta kepadanya menginginkan kebaikan saudaranya sehingga ia tidak mendiamkannya tetapi memperbaikinya dan meluruskannya dengan cara yang baik dan bijaksana. Ia selalu mendoakan kebaikan untuk saudaranya.
Jika kita dapatkan sahabat radhiallahu anhum, tabi'in dan orang-orang shalih memuji diri mereka sendiri dengan menyebutkan keutamaan amal mereka, maka kita bersangka baik, mereka sedang menyebutkan nikmat Allah sebagai rasa syukur dan bermaksud memotivasi bukan kesombongan.
Kita harus selalu memperbaiki hati agar selamat dari penyakit sombong, ujub, hasad, riya, bersangka buruk, gila hormat dan penyakit hati lainnya.
Bersihkan hati kita dengan mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, hiasi hati kita dengan rendah hati, cinta kepada Allah, takut adzab-Nya, berharap akan rahmat-Nya dan akhlak mulia lainnya.
Fariq Gasim
posted by Adimin
Label:
MUHASABAH








