Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
June 25, 2014
Berikut video Arahan Presiden PKS Anis Matta dalam Konsolidasi Nasional Saksi Prabowo-Hatta.
LINK video: http://www.youtube.com/watch?v=AVjVbhet6fE
Arahan Presiden PKS Konsolidasi Nasional Saksi Prabowo-Hatta
Written By Anonymous on 25 June, 2014 | June 25, 2014
Berikut video Arahan Presiden PKS Anis Matta dalam Konsolidasi Nasional Saksi Prabowo-Hatta.
LINK video: http://www.youtube.com/watch?v=AVjVbhet6fE
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN,
VID
June 25, 2014
menjelang pilpres banyak survey beredar, yang menang no 1, atau yang menang no 2
saya percaya setiap tim ses itu pasti pegang survey yang benar menunjukkan realita
kalau saya lihat beberapa survey yang riil, no 2 itu memang tinggi, lalu kemudian menurun, no 1 ini rendah, lalu kemudian menaik
lalu bagaimana kalau kita gak pegang data dan ingin tahu kebenaran survey yang kita pegang
atau kebenaran survey yang kita dengar
saya biasanya mengkalibrasi dengan bertanya secara kualitatif
metode kualitatif itu metode yang dipelajari di setiap disiplin ilmu sosial dan humaniora
metode ini bagus untuk mendapatkan data pada fenomena yang unik dan istimewa
namun yang paling menarik bagi saya untuk metode kualitatif adalah dia bisa dipakai untuk mengkalibrasi data kuantitatif seperti survey
cara saya adalah mengambil beberapa orang dengan karakteristik unik, misalnya untuk kelas bawah saya ambil supir taksi dan tukang jualan
supir taksi itu menggambarkan orang kelas menengah bawah dengan kualitas melek informasi yang tinggi
kalau tukang jualan saya ambil tukang bakso, atau yang suka mangkal di pinggir jalan
itu menggambarkan kelas bawah dengan tingkat interaksi yang tinggi, tukang ngobrol, dan tukang nguping obrolan orang
lalu saya tanya merek pilih siapa bang di pilpres ini
jawaban mereka menarik, kalau supir taksi rata rata awalnya pilih jokowi lalu pilih prabowo
kalau tukang jualan, khususnya tukang bakso dan berasal dari jawa, terus terang milih jokowi
saat ditanya kenapa, supir taksi rata rata gak puas dengan performance jokowi dan beralih ke prabowo
saat ditanya kenapa, tukang bakso bilang saya pdip pak, saya pilih jokowi
yang menarik, supir taksi mempromosikan prabowo ke saya
tukang bakso tidak mempromosikan jokowi ke saya, lalu saya tes, pak saya dulu simpati ke jokowi, tapi sekarang saya ke prabowo
saya lihat mukanya langsung ragu
oke, lalu saya tanya ke teman teman perempuan, yang pasang ava 2, stand on the right side
kamu pilih jokowi? jawabannya ya pak tapi bila ada tambahan data saya bisa berubah
kok berubah? bukannya yang pasang ava 2 sudah pasti ke jokowi
dia balik bertanya, bapak ke siapa? saya tes dengan bilang singkat prabowo
sekitar 3 hari kemudian ia mengganti ava 2 nya dengan ava lain, saya belum tanya lagi, kenapa avanya berubah
saya kemudian tanya ke teman perempuan yang lain, saya ambil sampel, perempuan muda, melek informasi dan gaul di media sosial
saya tanya kamu pilih siapa? cenderung ke jokowi tapi masih bisa berubah
lalu saya sampaikan ke dia, ada hal menarik yang saya dapatkan dari tanya jawab ini
kalau orang sudah milih prabowo, dia punya kencederungan tetap, kalau milih jokowi, ada kemungkinan berubah
dan dia mengiyakan hal itu
nah itu kesimpulan sementara pertama saya; kalau orang milih prabowo, dia cenderung tetap, kalau milih jokowi cenderung bisa berubah
saya lihat ini sesuai dengan survey riil yang saya ketahui
jadi bisa jadi bila waktunya cukup, jokowi tersalip oleh prabowo, catatan garis tebal bila waktunya cukup
lalu saya diskusi dengan teman-teman, yang saya ambil sampel yang aktivis dakwah atau minimal ada semangat keislaman
sebagian besar mereka milih prabowo, dan dengan suka rela mempromosikan prabowo
kemudian saya cek ke teman teman saya yang aktivis gereja, rata rata milih jokowi
namun saya tak elaborasi gereja apa, karena sepengetahuan saya gereja cukup banyak payungnya
tapi yang menarik salah satu yang terlontar saat ditanya kenapa milih jokowi, ada ucapan karena tak suka dengan fpi
kenapa tak suka dengan fpi, karena mereka fpi dipersepsikan sebagai tukang menyerang agama lain (baca non islam)
kesimpulan sementara kedua saya adalah sentimen agama kuat dalam pilpres kali ini
saya menduga itu menjadi alasan capres yang memakai isu agama atau mengambil isu yang menarik bagi pemeluk agama tertentu
yang saya ingin tahu dan ini belum saya gali lebih dalam, apakah debat capres punya pengaruh terhadap pemilih di pilpres kali ini?
kalau di luar negeri, sudah pernah saya share, debat capres atau interaksi capres dalam pemberitaan punya pengaruh pada pemilih
kalau menyimak serunya tl saat debat capres, dugaan saya pasti punya pengaruh
cuma saya ingin tahu apakah pengaruh itu sampai kepada perbincangan dan menjadi arus, ini yg sedang saya dalami
kalau di sumbar, ada seloroh yang menurut saya banyak benarnya, kalau anda mau tahu siapa yang menang dalam pemilihan, cek kedai kopi
sudah putus pemenangnya di kedai kopi, sebelum di bilik suara
hal yang berlaku juga di aceh, kuping kedai kopi, simak obrolan mereka, anda tahu siapa yang menjadi pemenang
nah kesimpulan sementara saya yang ketiga; untuk tahu benarkah survey yang menang si anu atau si anu
cek saja obrolan orang, kalau level bawah, cek ke warung indomie, tempat supir taksi, tempat supir angkot, warkop dsb
level terpelajar, cek kampus
level menengah atas, cek kafe kafe, atau mal, atau obrolan orang di bioskop atau grup wa
perempuan tanya saja ke teman teman anda yang perempuan, mulai dari yg baru milih, sudah nikah, bekerja dsb
gak perlu sampelnya seketat metodologi survey, tapi kalau sering simak obrolan, kamu bisa tahu siapa yg bakal menang
nah itu tiga kesimpulan sementara saya soal kalibrasi survey, semoga manfaat
_____
http://chirpstory.com/li/215134?page=1
posted by @Adimin
"Cek Ricek Berita Hasil Survey" | By @UdaIrfan
menjelang pilpres banyak survey beredar, yang menang no 1, atau yang menang no 2
saya percaya setiap tim ses itu pasti pegang survey yang benar menunjukkan realita
kalau saya lihat beberapa survey yang riil, no 2 itu memang tinggi, lalu kemudian menurun, no 1 ini rendah, lalu kemudian menaik
lalu bagaimana kalau kita gak pegang data dan ingin tahu kebenaran survey yang kita pegang
atau kebenaran survey yang kita dengar
saya biasanya mengkalibrasi dengan bertanya secara kualitatif
metode kualitatif itu metode yang dipelajari di setiap disiplin ilmu sosial dan humaniora
metode ini bagus untuk mendapatkan data pada fenomena yang unik dan istimewa
namun yang paling menarik bagi saya untuk metode kualitatif adalah dia bisa dipakai untuk mengkalibrasi data kuantitatif seperti survey
cara saya adalah mengambil beberapa orang dengan karakteristik unik, misalnya untuk kelas bawah saya ambil supir taksi dan tukang jualan
supir taksi itu menggambarkan orang kelas menengah bawah dengan kualitas melek informasi yang tinggi
kalau tukang jualan saya ambil tukang bakso, atau yang suka mangkal di pinggir jalan
itu menggambarkan kelas bawah dengan tingkat interaksi yang tinggi, tukang ngobrol, dan tukang nguping obrolan orang
lalu saya tanya merek pilih siapa bang di pilpres ini
jawaban mereka menarik, kalau supir taksi rata rata awalnya pilih jokowi lalu pilih prabowo
kalau tukang jualan, khususnya tukang bakso dan berasal dari jawa, terus terang milih jokowi
saat ditanya kenapa, supir taksi rata rata gak puas dengan performance jokowi dan beralih ke prabowo
saat ditanya kenapa, tukang bakso bilang saya pdip pak, saya pilih jokowi
yang menarik, supir taksi mempromosikan prabowo ke saya
tukang bakso tidak mempromosikan jokowi ke saya, lalu saya tes, pak saya dulu simpati ke jokowi, tapi sekarang saya ke prabowo
saya lihat mukanya langsung ragu
oke, lalu saya tanya ke teman teman perempuan, yang pasang ava 2, stand on the right side
kamu pilih jokowi? jawabannya ya pak tapi bila ada tambahan data saya bisa berubah
kok berubah? bukannya yang pasang ava 2 sudah pasti ke jokowi
dia balik bertanya, bapak ke siapa? saya tes dengan bilang singkat prabowo
sekitar 3 hari kemudian ia mengganti ava 2 nya dengan ava lain, saya belum tanya lagi, kenapa avanya berubah
saya kemudian tanya ke teman perempuan yang lain, saya ambil sampel, perempuan muda, melek informasi dan gaul di media sosial
saya tanya kamu pilih siapa? cenderung ke jokowi tapi masih bisa berubah
lalu saya sampaikan ke dia, ada hal menarik yang saya dapatkan dari tanya jawab ini
kalau orang sudah milih prabowo, dia punya kencederungan tetap, kalau milih jokowi, ada kemungkinan berubah
dan dia mengiyakan hal itu
nah itu kesimpulan sementara pertama saya; kalau orang milih prabowo, dia cenderung tetap, kalau milih jokowi cenderung bisa berubah
saya lihat ini sesuai dengan survey riil yang saya ketahui
jadi bisa jadi bila waktunya cukup, jokowi tersalip oleh prabowo, catatan garis tebal bila waktunya cukup
lalu saya diskusi dengan teman-teman, yang saya ambil sampel yang aktivis dakwah atau minimal ada semangat keislaman
sebagian besar mereka milih prabowo, dan dengan suka rela mempromosikan prabowo
kemudian saya cek ke teman teman saya yang aktivis gereja, rata rata milih jokowi
namun saya tak elaborasi gereja apa, karena sepengetahuan saya gereja cukup banyak payungnya
tapi yang menarik salah satu yang terlontar saat ditanya kenapa milih jokowi, ada ucapan karena tak suka dengan fpi
kenapa tak suka dengan fpi, karena mereka fpi dipersepsikan sebagai tukang menyerang agama lain (baca non islam)
kesimpulan sementara kedua saya adalah sentimen agama kuat dalam pilpres kali ini
saya menduga itu menjadi alasan capres yang memakai isu agama atau mengambil isu yang menarik bagi pemeluk agama tertentu
yang saya ingin tahu dan ini belum saya gali lebih dalam, apakah debat capres punya pengaruh terhadap pemilih di pilpres kali ini?
kalau di luar negeri, sudah pernah saya share, debat capres atau interaksi capres dalam pemberitaan punya pengaruh pada pemilih
kalau menyimak serunya tl saat debat capres, dugaan saya pasti punya pengaruh
cuma saya ingin tahu apakah pengaruh itu sampai kepada perbincangan dan menjadi arus, ini yg sedang saya dalami
kalau di sumbar, ada seloroh yang menurut saya banyak benarnya, kalau anda mau tahu siapa yang menang dalam pemilihan, cek kedai kopi
sudah putus pemenangnya di kedai kopi, sebelum di bilik suara
hal yang berlaku juga di aceh, kuping kedai kopi, simak obrolan mereka, anda tahu siapa yang menjadi pemenang
nah kesimpulan sementara saya yang ketiga; untuk tahu benarkah survey yang menang si anu atau si anu
cek saja obrolan orang, kalau level bawah, cek ke warung indomie, tempat supir taksi, tempat supir angkot, warkop dsb
level terpelajar, cek kampus
level menengah atas, cek kafe kafe, atau mal, atau obrolan orang di bioskop atau grup wa
perempuan tanya saja ke teman teman anda yang perempuan, mulai dari yg baru milih, sudah nikah, bekerja dsb
gak perlu sampelnya seketat metodologi survey, tapi kalau sering simak obrolan, kamu bisa tahu siapa yg bakal menang
nah itu tiga kesimpulan sementara saya soal kalibrasi survey, semoga manfaat
_____
http://chirpstory.com/li/215134?page=1
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
June 25, 2014
posted by @Adimin
Nama Prabowo Menggema di Jabal Rahmah
MAKKAH - Aura pesta demokrasi di Indonesia sampai juga ke Jabal Rahmah di Padang Arafah, Makkah. Pekik suara dukungan Prabowo-Hatta menggema di lokasi bersuanya Adam dan Hawa.
"Hidup Prabowo-Hatta, Allahu Akbar," pekik hampir seratusan ulama dari berbagai penjuru nusantara yang tengah berada di Makkah, Senin (23/6/2014) waktu setempat.
Ekspresi spontan para ulama di atas merupakan bentuk peneguhan komitmen dukungan terhadap Prabowo-Hatta.
"Kita saat ini berada di Jabal Rahmah tempat mustajabah, setelah dari Madinah ziarah ke makam nabi, berdoa berharap syafaat rasul agar Prabowo-Hatta terpilih. Kemudian kita qiyamul lail di Nabawi lalu ke Makkah ibadah umroh. Di makam Ibrahim, Hijr Ismail, Shofa dan Marwah bahkan qoiyamul lail khusus untuk doakan Prabowo-Hatta. Mudah-mudahan semua diijabah," tutur Sekretaris Majelis Dzikir Prabowo-Hatta Rajasa, H. Utun Tarunajaya.
Sebelum ke Jabal Rahmah usai melakoni ritual umroh, jamaah terlebih dulu berkeliling Kota Makkah. Rombongan mendatangi Jabal Tsur, Gua Hiro, Mina, Mudzalifah, Jabal Nur, serta Masjid Ja'ronah.
Ikhtiar spiritual secara maraton ini sengaja dilakoni jemaah umroh yang diberangkatkan H Haris Thohir lantaran keyakinan bahwa Prabowo-Hatta sosok terbaik bagi bangsa.
"Prabowo-Hatta cerminan keinginan kita, tokoh-tokoh ulama yang hadir. Mulai dari Sabang sampai Merauke semua sepaham dan satu hati dengan Prabowo-Hatta. Kita harapkan kemajuan buat bangsa dan kepentingan umat islam karena negeri ini dibangun syuhada," ulas H Utun diamini para jemaah.
Tak hanya berdoa, H Utun juga menegaskan para ulama ini juga akan menjadi ujung tombang menggalang suara di daerah masing-masing.
Acara peneguhan komitmen dukungan di Jabal Rahmah sempat mencuri perhatian para jamaah umroh dari berbagai penjuru dunia. Selain karena atribut Prabowo-Hatta, massa juga meneriakkan yel yel dukungan.
"Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan Prabowo siapa lagi," seru para jamaah dengan berapi-api.
Acara lantas ditutup dengan pembacaan doa bersama untuk kemenangan Prabowo-Hatta. [viva]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 24, 2014
posted by @Adimin
Prabowo Ajak Banser se-Jatim Pilih Nomor 1
Written By Anonymous on 24 June, 2014 | June 24, 2014

Mojokerto - Calon presiden Prabowo Subianto mengajak Barisan Anshor Serbaguna (Banser) se-Jawa Timur untuk memilih Prabowo-Hatta Rajasa pada Pemilu Presiden pada 9 Juli 2014.
Dia mengaku dirinya sangat membutuhkan dukungan dari para aktivis di Jawa Timur. Sebab negara dan bangsa Indonesia sebentar lagi melakukan kegiatan yang sangat penting. Prabowo berharap rakyat memilih presiden untuk lima tahun mendatang.
"Saya dipercaya oleh suatu koalisi besar untuk maju, minta mandat oleh rakyat sekalian," kata Prabowo di Mojokerto, Selasa (24/6/2014).
Mantan Danjen Kopassus ini mengatakan, masyarakat sekarang yang dipertaruhkan apakah Indonesia akan mendapat pemerintah yang bersih, kuat, menjaga kekayaan alam Indonesia.
"Ini tugas saya untuk menjaga kekayaan alam kita yang telah banyak dicuri ke luar negeri. Banyak yang tidak ingin Indonesia punya pemerintah yang kuat. Mereka ingin pemerintah Indonesia disuruh-suruh bangsa lain," ujarnya.
Maka dari itu, kata Prabowo, OKI, Banser dan NU yang selalu tampil untuk negara perlu andil lagi sekarang ini. Supaya Indonesia menjadi negara yang berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).
"Saudara-saudara harus bekerja keras. Mohon gerakkan rakyat di sekitarmu, yakinkan mereka bahwa yang bisa membela rakyat adalah pasangan nomor urut satu (Prabowo-Hatta). Mari kita rapatkan barisan," tandas Prabowo.[yeh/inilah]
Label:
TOPIK PILIHAN
June 24, 2014
posted by @Adimin
Survei ISI: Elektabilitas Prabowo Hatta Terus Naik, Joko Widodo Cenderung Terus Menurun
Menjelang pemungutan suara Pemilihan Presiden Pilpres 9 Juli 2014, elektabilitas pasangan capres dan cawapres bernomor urut 2, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menunjukkan tren yang stagnan bahkan cenderung menurun. Itulah hasil survei Institut Survei Indonesia yang digelar 18 Mei hingga 21 Juni 2014.
"Joko Widodo-Kalla sempat memimpin di awal masa kampanye. Namun seiring dengan berjalannya kampanye, seiring diadakan debat capres dan kedua kandidat makin dikenal masyarakat, elektabilitasnya justru turun dan cenderung stagnan hingga saat ini," ujar Direktur ISI Haris Baginda dalam jumpa pers pada Senin, 23 Juni 2014, di sebuah restoran di Cikini, Jakarta Pusat.
Berkebalikan dengan Jokowi-JK, pasangan capres cawapres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, justru menunjukkan tren elektabilitas yang terus menanjak.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan sebelumnya oleh ISI, tingkat elektabilitas pasangan bernomor urut 1 ini ada pada angka 47,27 persen pada tanggal 18-24 Mei, jauh di bawah pasangan Jokowi-JK yang berada di angka 52,73 persen. Pada survei kedua yang dilakukan pada tanggal 1-7 Juni 2014, elektabilitas Prabowo-Hatta menyusul di angka 50,25 persen, terpaut tipis dengan elektabilitas pasangan Jokowi-JK yang mulai menunjukkan tren penurunannya dan berada pada angka 49,75 persen.
Pada survei terakhir yang dilakukan pada tanggal 15-21 Juni, elektabilitas Prabowo-Hatta semakin meningkat di angka 51,18 persen, sedangkan Jokowi-JK terus menurun di angka 48,82 persen.
Menurut Haris, menjelang waktu pemungutan suara Pilpres yang semakin mendekat ini, kecil kemungkinan kedua kandidat akan bisa membelokkan tren perolehan suaranya. Ia memperkirakan tren yang sedang berlaku sekarang akan terus stagnan hingga pemungutan suara nanti.
"Sekarang ini sudah semakin kecil waktu untuk meraih simpati. Maka semakin kecil juga peluang untuk meraih dukungan. Jadi kedua kandidat diperkirakan akan stagnan perolehan suaranya dari tren yang berlaku sekarang," ucapnya.
Berdasarkan hasil dari ketiga survei yang dilakukan itu, ISI pun mencoba membuat prediksi pemenang Pilpres 9 Juli 2014 mendatang. Menurut Haris, dari kecenderungan hasil survei yang ada, Prabowo-Hatta akan menang dengan perbedaan perolehan suara yang cukup besar dari Jokowi-JK, yakni 8,5 persen.
"Jadi ini bukan hasil survei lagi, tapi prediksi. Dari hasil survei kami, pada tanggal 9 Juli nanti pasangan Prabowo-Hatta akan meraih perolehan suara yang mencapai 54,25 persen, sedangkan Jokowi-JK hanya 45,75 persen," ucapnya.
Muhammad Asdar, yang merupakan guru besar di Fakultas Ekonomi Universitas Hassanudin Makassar, dan juga narasumber di acara pemaparan hasil survei ini, memaklumi kenaikan elektabilitas yang dialami oleh pasangan Prabowo-Hatta. Menurutnya, selama masa kampanye dan debat di televisi, timbul kesadaran di masyarakat untuk dipimpin oleh orang yang kuat, dan kemudian masyarakat menilai bahwa Prabowo-Hatta-lah yang memenuhi kriteria itu.
"Debat di televisi itu ditonton jutaan orang. Prabowo itu memang tampil apa adanya, tanpa ada polesan. Dan orang melihat bahasa tubuh kedua kandidat berdasarkan dari hati nuraninya masing-masing. Mereka ingin melihat pemimpin itu orang yang kuat, bukan yang lemah. Makanya Pak Prabowo dipilih jadi pemimpin, karena dia kuat," ucapnya.
Sedangkan Jokowi-JK, menurut Asdar, mengalami penurunan elektabilitas karena berbagai masalah yang kini tengah membelit Joko Widodo, gubernur DKI Jakarta yang kini non-aktif.
"Isu yang paling pengaruhi elektabilitas itu korupsi. Dan ini sangat berpengaruh. Pak Jokowi belum menyelesaikan masa jabatannya, apalagi ada kasus korupsi TransJakarta. Saya tidak tahu kalau ada yang memainkan ini. Dalam politik semua memang dimainkan," ucapnya.
Survei ini dilakukan di 33 provinsi di Indonesia terhadap 999 responden, di mana semakin besar jumlah DPT di suatu provinsi, maka semakin besar juga persentase respondennya. Sampel dipilih secara acak berjenjang dengan margin error sebesar 3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan metode kontrol kualitatif tetap. [politik.news.viva.co.id]
posted by @Adimin
Label:
EDITORIAL,
TOPIK PILIHAN
June 24, 2014
posted by @Adimin
Pengamat: Jokowi Tak Paham Ketahanan Nasional
Jakarta - Capres Jokowi dianggap tidak paham soal ketahanan negara. Keinginan membeli drone (pesawat tanpa awak), justru membuat blunder.
Karena, drone yang menggunakan teknologi tinggi, akhirnya menyeret Jokowi untuk membuka soal penjualan Indosat era Presiden Megawati.
Menurut Suko Widodo, pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Airlangga Surabaya, Jokowi tidak mengerti permasalahan ketahanan nasional.
“Kita tahu dia selalu membawa hal mikro ke perdebatan. Tapi kali ini fatal karena dia malah mengambil hal yang tidak dikuasai dan akhirnya jadi blunder,” kata Suko saat dihubungi, Senin (23/6/2014).
Debat capres pada Minggu (22/6/2014), kata Suko, memperlihatkan kalau sebenarnya Jokowi tidak menguasai substansi debat.
“Jika mau mengambil hal riil yang bisa diimplementasikan, harusnya Jokowi mengambil masalah Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata),” kata Suko.
Dia menjelaskan, Sishankamrata memang produk jaman Soeharto, tapi efektif membuat negara lain segan terhadap Indonesia.
Menurut dia, jika dibandingkan membeli drone yang tidak ia kuasai, lebih kongkrit dengan program ini.
”Harusnya ambil saja yang sudah ada, asal idenya baik dan bisa diaplikasikan,” katanya.
Sishankamrata adalah pertahanan secara menyeluruh terhadap bangsa Indonesia dan melibatkan dua komponen, yaitu TNI dan rakyat Indonesia sebagai cadangan.
“Ini jauh lebih strategis bagi Jokowi daripada ambil tema drone yang kemudian menyeretnya ke masalah satelit, penjualan Indosat oleh Megawati dan lain-lain. Ini blunder dan akhirnya diolok-olok di sosial media,” kata Direktur Pusat Komunikasi Surabaya ini.
Bagi dia, tanpa disadari sebenarnya Jokowi sudah blunder berkali-kali. Justru, keinginan dia untuk membuat sesuatu kalau terpilih, susah untuk dilaksanakan.
“Ini sama halnya ketika dia mengeluarkan kartu Indonesia Sehat dan Indonesia pintar. Masyarakat tak menemukan manfaat riil dari itu apalagi sudah ada BPJS,” kata Suko.[inilah.com]
Label:
TOPIK PILIHAN
June 24, 2014
posted by @Adimin
Mahfud MD: Secara Psikologis Prabowo-Hatta Sudah Menang
Jakarta (23/6) - Ketua Tim Kampanye Nasional (Timkamnas) Prabowo-Hatta, Mahfud MD mengatakan bahwa saat ini pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres/cawapres) Prabowo Subianto-Hatta Radjasa sudah menang secara psikologis.
"Hampir semua lembaga survey sudah menyatakan bahwa Prabowo-Hatta terus merangkak naik dan sudah menang. Ini harus dikawal agar kemenangan yuridis realistis terjadi pada 9 Juli mendatang," kata Mahfud MD dalam sambutannya di Konsolidasi Nasional Koodinator Saksi Prabowo-Hatta di Jakarta (23/6), Senin (23/6) siang.
Mahfud mengatakan bahwa elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta terus naik hanya dalam waktu 3 pekan. Saat ini, ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini, posisi Prabowo sudah menang. "Adalah tugas para saksi untuk mengawal pemenangan dan kemenangan psikologis dan prediktif ini di tanggal 9 Juli nanti," ujarnya.
Dalam kesempatan ini Mahfud memberikan semangat kepada para koordinator saksi se-Indonesia yang hadir. Dia mengatakan tanggungjawab saksi diberikan kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan pesan langsung dari Prabowo Subianto.
"Tim ini sengaja diberikan kepada PKS karena kita tahu PKS itu kader-kadernya orang-orang pilihan, dan ini amanah dari koalisi bahwa PKS akan mengawal kemenangan ini," tegasnya.
Mahfud menambahkan bahwa Prabowo secara langsung mempercayakan saksinya pada 9 Juli nanti kepada PKS. "Percayakan saja kepada pks," pungkasnya mengulang pesan dari Prabowo.
Dalam acara pelatihan tersebut, sebanyak 1.200 koordinator saksi tingkat Kabupaten dan Kota dari 511 Kabupaten/Kota yang berada di 34 Provinsi se-Indonesia berkumpul untuk mendapatkan arahan teknis mengawal suara di Pilpres 9 Juli mendatang. Capres Prabowo Subianto juga dijadwalkan memberikan arahan pada acara tersebut pada Senin (23/6) malam.
Direktur Saksi dan Advokasi Jazuli Juwaeni menyatakan, PKS memang mendapatkan amanah dalam mengawal saksi karena partai-partai koalisi merah putih mengetahui kader-kader PKS sangat tangguh dalam mengawal suara di ajang Pemilu, baik legislatif, Kepala Daerah maupun Pemilihan Presiden sebelumnya. [pks.or.id]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 24, 2014
posted by @Adimin
PKS akan Door to Door Kampanyekan Prabowo-Hatta
Jakarta (22/6) - Anggota Dewan Pakar Tim Sukses pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo-Hatta, Hidayat Nur Wahid menilai kampanye dengan cara tatap muka merupakan cara terbaik mendulang suara. Untuk itu, ia akan menggerakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berkampanye dengan bertemu langsung dengan masyarakat.
"Rekan-rekan kami terbiasa melaksanakan kampanye door to door campaign untuk ketemu langsung kepada publik untuk menerangkan hakikat dari Pak Prabowo," ujarnya usai Kampanye Akbar di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan, Ahad (22/6).
Menurut Dewan Majelis Syuro PKS itu, kader partainya sudah terbiasa melakukan kampanye semacam ini. Selain itu, lanjutnya, kader PKS telah memiliki jaringan kuat untuk melakukannya.
Ia berharap partai politik pendukung Prabowo-Hatta melakukan kampenye serupa. "Seluruh Parpol, seluruh organisasi massa kita berjuang bersama-sama. Perjuangan ini harus dilakukan dengan elegan," katanya.
Dengan cara ini, Ketua Fraksi PKS di parlemen ini yakin target enam puluh persen suara di pemilu presiden mendatang dapat tercapai. [pemilu.metrotvnews.com]
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
June 23, 2014
posted by @Adimin
Prabowo-Hatta Tren Positif, Jokowi-JK Negatif
Written By Anonymous on 23 June, 2014 | June 23, 2014
Jakarta - Menjelang pemungutan suara pilpres 9 Juli mendatang elektabilitas dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa memasuki fase tren positif merangkak naik mengalahkan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) yang memasuki fase tren negatif.
Hal tersebut tertuang dalam hasil survei yang dirilis Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Minggu, (22/6/2014).
Direktur Puskaptis Husin Yazid mengatakan, dari survei yang dilangsungkan di 33 provinsi di seluruh Indonesia, pasangan capres nomor urut satu itu memperoleh 45,60% suara sedangkan pasangan Jokowi-JK mendulang 43,21% suara.
"Dengan data ini menunjukan bahwa pasangan Prabowo-Hatta memasuki fase tren positif naik sementara Jokowi-JK mulai stagnan dan cenderung masuk fase tren negatif," kata Husin.
Survei yang dilakukan pada 16 hingga 21 Juni 2014 ini juga memetakan beberapa wilayah yang menjadi basis kekuatan dari pasangan koalisi Merah Putih.
"Wilayah yang menjadi keunggulan pasangan Prabowo-Hatta ada di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah (Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan), sedangkan. Pasangan Jokowi-JK unggul di tiga wilayah Indonesia timur ( Bali, Sulawesi, Papua-Maluku," jelasnya.
"Hal ini harus menjadi perhatian tim sukses mengingat wilayah Pulau Jawa dan Sumatera pendukuknya sekitar 59% dan 21% dari penduduk Indonesia, artinya mereka harus mengoptimalkan elektabilitasnya," tambahnya.
Tidak hanya itu, menurutnya, elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta meningkat lantaran masyarakat sudah melihat mantan Danjen Kopasus tersebut dalam acara debat capres yang sudah digelar sebanyak dua kali.
"Yang mempengaruhi elektabilitas Prabowo-Hatta adalah masyarakat mampu melihat visi dan misinya secara jelas melalui acara debat capres, tidak bisa dipungkiri hal itu sangat berpengaruh pada elektabilitas Prabowo,"katanya.
Seperti diketahui, survei ini menggunakan tehnik multistage random sampling dengan responden sebanyak 2400 responden. Margin Error 1,8% serta melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner. [inilah.com]
Hal tersebut tertuang dalam hasil survei yang dirilis Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Minggu, (22/6/2014).
Direktur Puskaptis Husin Yazid mengatakan, dari survei yang dilangsungkan di 33 provinsi di seluruh Indonesia, pasangan capres nomor urut satu itu memperoleh 45,60% suara sedangkan pasangan Jokowi-JK mendulang 43,21% suara.
"Dengan data ini menunjukan bahwa pasangan Prabowo-Hatta memasuki fase tren positif naik sementara Jokowi-JK mulai stagnan dan cenderung masuk fase tren negatif," kata Husin.
Survei yang dilakukan pada 16 hingga 21 Juni 2014 ini juga memetakan beberapa wilayah yang menjadi basis kekuatan dari pasangan koalisi Merah Putih.
"Wilayah yang menjadi keunggulan pasangan Prabowo-Hatta ada di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah (Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan), sedangkan. Pasangan Jokowi-JK unggul di tiga wilayah Indonesia timur ( Bali, Sulawesi, Papua-Maluku," jelasnya.
"Hal ini harus menjadi perhatian tim sukses mengingat wilayah Pulau Jawa dan Sumatera pendukuknya sekitar 59% dan 21% dari penduduk Indonesia, artinya mereka harus mengoptimalkan elektabilitasnya," tambahnya.
Tidak hanya itu, menurutnya, elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta meningkat lantaran masyarakat sudah melihat mantan Danjen Kopasus tersebut dalam acara debat capres yang sudah digelar sebanyak dua kali.
"Yang mempengaruhi elektabilitas Prabowo-Hatta adalah masyarakat mampu melihat visi dan misinya secara jelas melalui acara debat capres, tidak bisa dipungkiri hal itu sangat berpengaruh pada elektabilitas Prabowo,"katanya.
Seperti diketahui, survei ini menggunakan tehnik multistage random sampling dengan responden sebanyak 2400 responden. Margin Error 1,8% serta melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner. [inilah.com]
posted by @Adimin
Label:
EDITORIAL,
TOPIK PILIHAN
June 23, 2014
posted by @Adimin
PKS : Jokowi Jangan Klaim Kemerdekaan Palestina
Jakarta - Presiden Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) Anis Matta menilai calon presiden Joko Widodo atau Jokowi hanya mengklaim politik luar negerinya dengan memerdekakan negara Palestina.
Pasalnya, memerdekakan suatu negara sudah menjadi kewajiban Indonesia sesuai dengan yang tertuang di dalam UUD 1945.
"Membantu kemerdekaan Palestina itu adalah tugas konstitusi kita, bagi siapa yang memimpin pemerintahan," kata Presiden PKS Anis Matta, usai menghadiri Debat Capres di Holiday Inn, Kemayoran, Jakarta Utara, Minggu (22/6/2014) malam.
Menurutnya, program Jokowi itu tidak substansi. "Jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita," ujarnya.
Sebelumnya, pada debat capres, Jokowi mengatakan akan memerdekakan Palestina dan mendukung menjadi anggota penuh PBB. Namun hal itu sudah tertuang dalam UUD 1945. [inilah.com]
Pasalnya, memerdekakan suatu negara sudah menjadi kewajiban Indonesia sesuai dengan yang tertuang di dalam UUD 1945.
"Membantu kemerdekaan Palestina itu adalah tugas konstitusi kita, bagi siapa yang memimpin pemerintahan," kata Presiden PKS Anis Matta, usai menghadiri Debat Capres di Holiday Inn, Kemayoran, Jakarta Utara, Minggu (22/6/2014) malam.
Menurutnya, program Jokowi itu tidak substansi. "Jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita," ujarnya.
Sebelumnya, pada debat capres, Jokowi mengatakan akan memerdekakan Palestina dan mendukung menjadi anggota penuh PBB. Namun hal itu sudah tertuang dalam UUD 1945. [inilah.com]
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
June 23, 2014
posted by @Adimin
Inilah Lima Blunder Jokowi di Debat Capres Ketiga
Jakarta - Calon presiden bernomor urut dua Joko Widodo, sering terlihat gugup dalam setiap acara Debat Capres dan setiap berhadapan langsung dengan Capres nomor urut satu, Prabowo Subianto.
Dalam Debat Capres ketiga dengan tema Politik Internasional dan Ketahanan Nasional, Jokowi sedikitnya melakukan blunder sebanyak lima kali. Hal ini dikatakan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon usai menghadiri Debat Capres Ketiga di Holiday Inn, Jakarta Utara.
Pertama saat ditanya Prabowo tentang laut Cina Selatan oleh Prabowo, Jokowi menjawab Indonesia tidak punya kepentingan berarti di laut yang strategis itu. "Tadi saya kira pak Jokowi tidak mampu menjawab itu. Saya kira Jokowi tidak mengerti masalah itu," katanya, Minggu (22/6/2014) malam.
Sementara itu, blunder yang kedua Jokowi yakni dijelaskan oleh Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta mengenai pertahan dan ketahanan. Saat itu Jokowi mengatakan ketahanan dan pertahanan adalah untuk merekrut TNI.
"Ketahanan itu seperti sumber daya air, alam, sedangkan pertahanan itu urusan TNI," kata ketua tim pemenangan Prabowo-Hatta, Mahfud MD dalam kesempatan yang sama.
Ketiga yaitu, Jokowi melakukan blunder tentang penjualan aset Indosat, oleh Megawati Soekarnoputri. Jokowi mengatakan, penjualan aset Indosat karena terjadi krisis, sedangkan krisis saat itu sudah berlalu. Seperti yang disampaikan Akbar Tandjung yang dinilai ada kepentingan dan bukan karena ada krisis, karena penjualan Indosat terjadi pada tahun 2001. Sedangkan krisis di Indonesia terjadi pada tahun 1998.
"Jadi sebetulnya nggak relevan krisis alasan utama, karena dibalik itu ada kepentingan kan. Jual beli bukan karena dia bayangkan karena ada krisis 98-99, peristiwanya (penjualan Indosat) 2001, Megawati (tahun) 2001," kata Akbar Tandjung.
Kemudian blunder keempat, soal kemerdekaan Palestina, kemerdekaan Palestina bukanlah program seorang capres, tetapi amanat konstitusi. Seperti halnya yang disampaikan Presiden Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) Anis Matta.
"Membantu kemerdekaan Palestina itu adalah tugas konstitusi kita, bagi siapa yang memimpin pemerintahan. Jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita," pungkasnya.
Dan blunder kelima Jokowi adalah perihal Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI seperti Tank Leopard dan Anoa. Menurutnya Leopard tidak cocok untuk Indonesia.
"Menurut saya Leopard penting, mengingat wilayah Indonesia yang besar, dalam menjaga pertahanan. Kan itu sudah dikaji oleh pakar-pakarnya. Vietnam saja pada perang terakhir, menggunakan Leopard dari Vietnam. Bukan hanya tank, kita juga perlu jet tempur, helikopter dan kapal selam," jelas Prabowo dalam debatnya. [inilah.com]
Dalam Debat Capres ketiga dengan tema Politik Internasional dan Ketahanan Nasional, Jokowi sedikitnya melakukan blunder sebanyak lima kali. Hal ini dikatakan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon usai menghadiri Debat Capres Ketiga di Holiday Inn, Jakarta Utara.
Pertama saat ditanya Prabowo tentang laut Cina Selatan oleh Prabowo, Jokowi menjawab Indonesia tidak punya kepentingan berarti di laut yang strategis itu. "Tadi saya kira pak Jokowi tidak mampu menjawab itu. Saya kira Jokowi tidak mengerti masalah itu," katanya, Minggu (22/6/2014) malam.
Sementara itu, blunder yang kedua Jokowi yakni dijelaskan oleh Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta mengenai pertahan dan ketahanan. Saat itu Jokowi mengatakan ketahanan dan pertahanan adalah untuk merekrut TNI.
"Ketahanan itu seperti sumber daya air, alam, sedangkan pertahanan itu urusan TNI," kata ketua tim pemenangan Prabowo-Hatta, Mahfud MD dalam kesempatan yang sama.
Ketiga yaitu, Jokowi melakukan blunder tentang penjualan aset Indosat, oleh Megawati Soekarnoputri. Jokowi mengatakan, penjualan aset Indosat karena terjadi krisis, sedangkan krisis saat itu sudah berlalu. Seperti yang disampaikan Akbar Tandjung yang dinilai ada kepentingan dan bukan karena ada krisis, karena penjualan Indosat terjadi pada tahun 2001. Sedangkan krisis di Indonesia terjadi pada tahun 1998.
"Jadi sebetulnya nggak relevan krisis alasan utama, karena dibalik itu ada kepentingan kan. Jual beli bukan karena dia bayangkan karena ada krisis 98-99, peristiwanya (penjualan Indosat) 2001, Megawati (tahun) 2001," kata Akbar Tandjung.
Kemudian blunder keempat, soal kemerdekaan Palestina, kemerdekaan Palestina bukanlah program seorang capres, tetapi amanat konstitusi. Seperti halnya yang disampaikan Presiden Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) Anis Matta.
"Membantu kemerdekaan Palestina itu adalah tugas konstitusi kita, bagi siapa yang memimpin pemerintahan. Jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita," pungkasnya.
Dan blunder kelima Jokowi adalah perihal Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI seperti Tank Leopard dan Anoa. Menurutnya Leopard tidak cocok untuk Indonesia.
"Menurut saya Leopard penting, mengingat wilayah Indonesia yang besar, dalam menjaga pertahanan. Kan itu sudah dikaji oleh pakar-pakarnya. Vietnam saja pada perang terakhir, menggunakan Leopard dari Vietnam. Bukan hanya tank, kita juga perlu jet tempur, helikopter dan kapal selam," jelas Prabowo dalam debatnya. [inilah.com]
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN


