pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Soal Pengungsi Rohingya, Pemerintah Harus Utamakan Aspek Kemanusiaan

Written By dBisnis on 14 May, 2015 | May 14, 2015


Saya kira ini bagian dari Bab Kemanusiaan. Kita ingin memastikan bahwa Negara Indonesia ini Negara yang berpihak pada kemanusiaan. Paling tidak memberikan penampungan sementara agar hidup mereka sesuai dengan konstitusi kita," kata Sukamta, di Jakarta, Selasa (12/5/2015) seperti dikutip dari pks.or.id

Di dalam UU No. 6 Tahun 2011 tentang keimigrasian, lanjut Sukamta, sikap Pemerintah Indonesia sendiri tidak membedakan asal-usul dan sifat pengungsi. Menurutnya, ini tidak tepat karena seluruh orang asing yang masuk dianggap sebagai imigran gelap. Sementara di UU No. 37 Tahun 1999 tentang pengaturan pengungsi dan para pencari suaka, seharusnya Presiden menindaklanjuti dengan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres).

"Pemerintah sebetulnya bisa kalau punya kemauan, saya berharap seperti pengungsi Rohingya dan Bangladesh ini ditangani dan dibantu karena alasan kemanusiaan, tapi UU ini persoalannya adalah Keppresnya itu belum ada, jadi Keppres itulah yang nanti menjadi pedoman operasional bagaimana kita memperlakukan para pengungsi itu," jelas Doktor lulusan Manchester University itu.

Sehingga, masih kata Sukamta, ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diberlakukan, maka ASEAN tidak hanya menjadi kawasan yang kondusif dalam masalah ekonomi, tapi juga secara sosial dan politik.

"Bagaimana mungkin ASEAN ini dibuka, atas warga negara lain terhadap akses ekonomi, perdagangan, suatu negara bebas melakukan aktifitas ekonomi di negara lain tapi di sisi lain negara itu masih memperlakukan represi terhadap warga negaranya sendiri, ini kan jadi kontradiksi," pungkas Sukamta.
Seribu pengungsi Rohingya dan Bangladesh terdampar di Perairan Selat Malaka, Aceh Utara, Sejak Ahad (10/5) lalu. Diduga mereka ditelantarkan oleh penyelundupnya selepas berlayar dengan perahu tahanan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Menanggapi hal itu, Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Sukamta meminta Pemerintah Indonesia agar lebih mengedepankan misi kemanusiaan dalam menangani para pengungsi tersebut. Menurutnya, sesuai dengan konstitusi Indonesia, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Bab XA pasal 28G butir 2 bahwa setiap orang berhak untuk hidup bebas dan mendapatkan jaminan keamanan.
 
pkssemarang

posted by @Adimin

Pemkot Padang-BPS Mutakhirkan Data Perlindungan Sosial

Written By Anonymous on 13 May, 2015 | May 13, 2015

PADANG (12/5) – Pemerintah Kota (Pemkot) Padang, Sumatera Barat (Sumbar) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) setempat akan melakukan Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) program perlindungan sosial 2015.
"Pemutakhiran ini penting karena selama ini program tersebut masih menggunakan data 2011," kata Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah di Padang, Selasa (12/5).

Untuk kelancaran pemutakhiran data ini, Pemkot Padang telah mengumpulkan dan menyampaikan kepada seluruh Lurah dan Camat di Kota Padang.

Hal itu dikarenakan valid atau tidaknya pemutakhiran data PBDT bergantung kepada Lurah sebab ia merupakan pemerintahan terdepan yang berhadapan dengan masyarakat.
Mahyeldi menegaskan semua Lurah harus bertanggungjawab untuk mendapatkan data yang valid untuk PBDT tersebut. Karena Pemkot tidak menginginkan terjadinya kesalahan data dalam pemutakhiran basis data terpadu tersebut.

Dia menjelaskan sukses atau tidaknya pemutakhiran PBDT itu bukan dipandang dari selesainya data yang dikumpulkan, akan tetapi dilihat saat tidak terjadinya permasalahan dalam peluncuran sebuah program kerja.

"Sukses bukan sekedar selesai datanya, tetapi ketika ada program yang akan dilaksanakan nantinya tidak terjadi masalah," tambah Mahyeldi.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Padang, Rizal menyatakan pemutakhiran data PBDT 2015 dilakukan Mei hingga Juli 2015. 

BPS telah menyiapkan tim untuk pemutakhiran data tersebut, dimana mereka akan turun ke lapangan untuk melaksanakan tugas tersebut.

Dia menyebutkan, 11 fasilitator telah disiapkan dan akan tersebar di semua kecamatan di Kota Padang.

"Mereka akan melakukan pemutakhiran data bersama camat, lurah, RT dan RW," pungkasnya.
Sumber: http://www.antarasumbar.com


posted by @Adimin

A. Zainuddin: ASEAN Harus Tegas Selesaikan Masalah Rohingya


Gelombang pengungsi etnis Rohingya dari Myanmar kembali tiba di Indonesia. Mereka berlabuh di Aceh setelah berminggu-minggu terapung di lautan dengan kapal nelayan.

Ribuan orang Rohingya ini merupakan pengungsi yang lari dari negaranya karena penindasan politik dan diskriminasi etnis yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Anggota Komisi I DPR Ahmad Zainuddin sangat prihatin dengan masalah kemanusiaan yang terjadi di Myanmar. Menurutnya, masalah Rohingya sampai saat ini tidak kunjung selesai karena kurangnya perhatian ASEAN dan dunia internasional, terutama dalam menekan pemerintah Myanmar agar menghentikan politik diskriminasi.

"Saya kira dalam masalah Rohingya ini, Indonesia perlu mengambil peran lebih signifikan lagi agar mendapat perhatian lebih serius di ASEAN. Kalau perlu ASEAN menekan Myanmar agar memberi kebijaksanaan terhadap warga Rohingya," ujar Zainuddin di Jakarta, Rabu (13/5/2015).

Zainuddin beralasan, masalah Rohingya saat ini bukan lagi persoalan internal satu negara, tapi sudah menjadi isu kawasan. Karena berdampak terhadap aspek kemanusiaan dan stabilitas keamanan di kawasan. Jumlah pengungsi Rohingya yang lari keluar dari negaranya dan mencari perlindungan ke negara-negara lain terdekat sudah mencapai puluhan ribu orang.

Anggota Poksi Luar Negeri Komisi I DPR ini juga mengatakan, setiap anggota ASEAN memang terikat dengan code of conduct untuk saling menghormati dan tidak turut campur dalam persoalan dalam negeri masing-masing. Namun jika persoalan internal anggota ASEAN telah berdampak luas terhadap anggota lainnya dan kawasan, maka sewajarnya jika ASEAN mengambil langkah lebih maju dan tegas.

"Sampai kapan gelombang pengungsi ini akan terus terjadi? Sampai etnis Rohingya benar-benar habis? Sementara di tempat tujuan mereka juga tidak mendapat hidup yang layak. ASEAN harus menyikapi ini lebih serius demi kemanusiaan universal," ucapnya.

Zainuddin juga mengapresiasi langkah taktis kementerian luar negeri, kementerian sosial RI, dan pemerintah daerah Aceh dalam menangani pengungsi Rohingya. Zainuddin mengingatkan pemerintah Indonesia terkait Konvensi Jenewa 1951 dan Protokol 1967 tentang pengungsi. Indonesia juga harus menganut prinsip non Refoulement, tidak memulangkan pengungsi ke negaranya yang masih dalam kondisi konflik.

"Selama ada konflik di Myanmar, gelombang pengungsi Rohingya akan terus terjadi ke depan. Pemerintah sebaiknya membentuk sistem penanganan baku untuk mengantisipasi hal itu berdasarkan Konvensi Jenewa 1951," imbuhnya.

Selain itu, politisi PKS ini juga mendesak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) agar segera turun tangan menangani persoalan Rohingya. Menurutnya, intervensi dunia internasional lebih jauh dalam masalah Rohingya sangat diperlukan.

Zainuddin mengakui PBB melalui UNHCR telah melakukan langkah-langkah kemanusiaan terhadap para pengungsi Rohingya. Namun upaya pemecahan masalah di Myanmar perlu juga dilakukan langkah lebih tegas oleh ASEAN atau PBB.

"PBB pernah menyatakan warga Rohingya saat ini adalah etnis paling teraniaya di dunia. Lalu bagaimana solusinya? PBB dan dunia internasional harus intervensi untuk hentikan pelanggaran kemanusiaan di sana. Dan Myanmar harus dengar suara internasional,"cetusnya.

Pada Senin (11/5), sekitar 600 pengungsi Rohingya memasuki perairan Indonesia secara ilegal. Mereka terdampar di Aceh setelah kapal yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar. Sekitar 50 orang kini dirawat pemerintah Negeri Serambi Makkah karena kelaparan akut.

Tidak hanya Indonesia, Malaysia pun juga menerima gelombang pengungsi Rohingya. Sekitar 2000 warga Rohingya terdampar di pantai barat Malaysia. Selama empat tahun terakhir, etnis minoritas ini mengalami kondisi mengenaskan. Rohingya merupakan salah satu etnis Muslim yang sejak ratusan tahun hidup di Myanmar. Namun pemerintah junta militer di negara itu, bersama rakyatnya yang mayoritas Buddhis menolak mengakui kehadiran mereka. Konflik berlatar sentimen etnis akhirnya pecah pada 2012 lalu, memakan korban ratusan jiwa.

Organisasi Internasional untuk Migrasi memperkirakan sekitar 25 ribu muslim Rohingya dan warga Bangladesh diselundupkan keluar dengan kapal sejak Januari hingga Maret 2015.Bahkan diperkirakan masih ada sekitar 8000 orang lagi yang terjebak di Selat Malaka dan perairan sekitarnya. (*)


posted by @Adimin

Mahyeldi Bersama Emzalmi Pemimpin Yang Ikhlas

Written By Anonymous on 12 May, 2015 | May 12, 2015

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVjbntqNMF-Vm6bc3w99AinVW6SwmfcXYHntvPqiNTUWRNyY4pus_tzPtP6-q1rWbz2sc1FpQq9eM0ZzJvnUa7HgDOOLum3SAszvwkVZkk4nOnBs1JUMXMqTqvc0S12CB1H5oR88F5rok/s400/mm2.jpg

Padang,10 Program unggulan Pemko Padang, sebagian sudah berjalan dengan baik, seperti buat jalan Betonisasi, bedah rumah, sekolah gratis dsb. disampaikan Ka. BAPEDA Kota Padang, Hervan Bahar.

Didampingi Kabag. Humas dan Protokol Mursalin, dan Alfian Sekretaris Bapada. Senin (11/5) di Kantor Bapeda.

Walikota Padang, H.Mahyeldi Ansharulah, SP bersama Wakil Walikota Ir. H. Emzalmi, M.Si sangat berkomitmen sekali menjalankan sesuai dengan janji 10 program unggulan, sewaktu Pilkada akan terus berjuang, bekerja dan berusaha keras demi kesejahteraan warga Kota Padang kedepannya.

Tepat, tanggal 13 Mei 2015 mendatang kedua pemimpin ini sudah genap satu tahun memimpin dan mengabdikan diri untuk masyarakat Kota Padang.

Tentu kedepannya kita berharap sebagai warga Kota Padang kedua pemimpin yang di cintai rakyat ini, tetap sehat dan dapat mengemban tugas dengan ikhlas dan di berkahi serta di redhai Allah. Ujar Hervan.

Dalam Kesempatan itu, Kabag. humas dan Protokol Mursalim katakan sebagai bukti pemimpin kita sudah bekerja keras beberapa penghargaan terima tahun 2014/2015 dari pemerintah Pusat.

Tentu jelas kita sebagai warga kota, mengucapkan terima kasih dengan memberikan motivasi, dukungan dan dorongan kepada kedua pemimpin kota ini, agar 10 program kerja yang jelas, dapat terlaksana dengan baik kedepannya, Ujar Mursalim. [Humas dan Protokol Kota Padang]


posted by @Adimin

Cetak Kader Melek Informasi, DPP Gelar Pelatihan Jurnalistik & Kehumasan

Written By Anonymous on 11 May, 2015 | May 11, 2015

JAKARTA (11/5) – Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan menyelenggarakan “Journalism and Public Relation Student Training” di Kantor DPP PKS (MD Building) Jakarta, Sabtu (23/5). Kegiatan tersebut telah rutin diselenggarakan sebagai upaya mencetak kader-kader muda PKS yang melek informasi.
“Pelatihan jurnalistik dan kehumasan ini bersifat rutin. Tujuannya untuk mencetak kader-kader yang melek informasi,” kata Sekretaris Bidang Humas DPP PKS, Dedi Supriadi di Jakarta, Senin (11/5).
Dedi menjelaskan acara pelatihan jurnalistik terbatas bagi 200 orang peserta. Oleh karena itu, panitia menetapkan beberapa persyaratan bagi para calon peserta.
“Peserta yang dapat mengikuti pelatihan jurnalistik dan kehumasan ini harus memenuhi persyaratan antara lain WNI dan merupakan Kader PKS atau Anggota Garuda Keadilan (GK), pelajar atau mahasiswa usia maksimal 25 tahun, memiliki minat di bidang kehumasan (public relation), jurnalisme, fotografi, dan videografi, serta bersedia menjadi bagian dari Tim Humas PKS,” jelasnya.
Meskipun terdapat persyaratan yang harus dipenuhi, lanjut Dedi, peserta pelatihan akan memeroleh ilmu serta pengalaman di bidang jurnalisme dan kehumasan tanpa dipungut biaya.
“Seluruh materi pelatihan, mulai dari manajemen kehumasan, junalisme, fotografi, hingga videografi ini gratis, tanpa dipungut biaya sama sekali,” ujar Dedi.
Perlu diketahui, pelatihan jurnalistik dan kehumasan merupakan salah satu kegiatan yang rutin diselenggarakan oleh Bidang Humas DPP PKS. Para calon peserta yang telah memenuhi persyaratan diharapkan segera mendaftarkan diri dengan cara mengirim pesan singkat (Short Message Service/SMS) kepada panitia, selama periode 11-20 Mei 2015.
***
Registrasi dapat dilakukan melalui SMS dengan format:
Nama_Asal DPC_No. HP Murobbi_Pilihan Kelas Training (PR, Jurnalisme, Fotografi, atau Videografi)
Kirim ke: (Putra/Ikhwan) 0857-1180-0139 atau (Putri/Akhwat) 0857-1670-6152
[pks.id]

posted by @Adimin

Peserta Membludak, Pengumuman Pemenang Lomba Penulisan Diundur

Written By Anonymous on 10 May, 2015 | May 10, 2015

Permalink gambar yang terpasang

Jakarta (10/5) - Banyaknya naskah yang masuk hingga 30 April 2015 yang mencapai 1.254 naskah, membuat Panitia memutuskan untuk memundurkan waktu pengumuman pemenang hingga 1 Juni 2015.

Hal itu disampaikan Ketua Panitia lomba penulisan Kebangsaan Fraksi PKS DPR RI, Abdul Hakim, di Jakarta, Ahad (10/5).

"Intinya panitia butuh waktu lebih untuk menilai seluruh tulisan, yang ternyata di luar dugaan, begitu membludak naskah yang masuk," kata Hakim.

Jumlah halaman naskah, lanjut Hakim, hampir semua berjumlah 10 sampai 12 halaman per judul. "Bahkan, ada yang sampai 70 halaman. Uniknya, diantara peserta lomba, ada yang berprofesi sebagai petani ikut mengirim naskah, dan isi naskahnya seperti sebuah tesis, ini yang membuat kami merasa bangga dan semangat," ujar Sekretaris Fraksi PKS DPR RI ini.

Selain anggota DPR RI dan budayawan, lomba yang diluncurkan pada 1 April 2015 ini juga melibatkan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi ternama sebagai dewan juri.

"Karena membludaknya naskah yang masuk, panitia berinisiatif untuk melibatkan para mahasiswa dari kampus-kampus besar, diantaranya IPB, USU, Unpad, UGM, dan UI," pungkas Hakim.

Diketahui, lomba penulisan Fraksi PKS DPR ini diselenggarakan dalam rangka HUT PKS ke-17. Naskah lomba yang berhadiah total Rp60 juta ini masuk hampir dari seluruh wilayah di tanah air, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Palembang, Bangka Belitung, Batam, Lampung, Sumatera Barat, berbagai kota di Pulau Jawa, Banten, Madura, lombok, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. [abr/*]


posted by @Adimin

Pengangguran

Written By Anonymous on 08 May, 2015 | May 08, 2015

Penulis: Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat) dimuat dalam Harian Singgalang edisi 6 Mei 2015.
Dulu, suatu ketika seorang teman bertanya kepada Moyardi Kasim (alm).”Uda dima karajo (kakak bekerja dimana)?”
“Ambo ndak karajo doh, manganggur (saya tidak bekerja, menganggur),” jawab Moyardi Kasim. Teman yang bertanya tadi menjadi heran, karena Moyardi adalah lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), menurut perkiraannya pastilah beliau telah menjadi seorang pejabat di suatu instansi pemerintah dengan jabatan cukup penting, ndak mungkin ia menganggur. “Ambo cuma manggaleh ketek-ketek (saya cuma berjualan kecil-kecilan),” lanjut Moyardi.
Tentu saja kawan yang bertanya tadi tidak tahu siapa Alm. Moyardi Kasim. Ia adalah putra Sutan Kasim, pemilik PT. Sutam Kasim, dealer kendaraan Mitsubishi terbesar di Sumatera Barat. Yang dimaksud Moyardi dengan manggaleh tadi adalah menjadi dealer (berjualan) mobil.
Ini adalah contoh sederhana, bagaimana umumnya orang Minang mendeskripsikan sebuah pekerjaan atau profesi. Umumnya, dari dulu hingga kini seseorang dikatakan bekerja, jika ia menjadi pegawai di kantor pemerintah. Jika tetangga bertanya, anak yang beberapa waktu lalu tamat kuliah, sekarang bekerja dimana? Pertanyaan itu masih jamak dijawab dengan mengatakan belum bekerja, cuma berkolam ikan, sambil menunggu lamarannya bekerja diterima. Atau bekerja bersama keluarga berjualan di pasar.
Pada hal tak jarang penghasilan yang dia peroleh berjualan atau  usaha kolam ikan jauh lebih besar dibandingkan menjadi pegawai, namun ia tetap saja dikatakan menganggur atau tidak bekerja.
Dalam mendiskripsikan profesi dan memilih jalur profesi, masyarakat etnis Minang memang mempunyai keunikan tersendiri. Orang Minang secara umum cendrung lebih menyukai profesi sebagai pedagang kaki lima misalnya dibandingkan menjadi buruh bangunan, buruh pabrik  atau pembantu rumah tangga. Hal ini diduga dipengaruhi sifat masyarakat Minang yang egaliter. Etnis Minang memang terkenal sebagai kelompok yang campin berdagang.
Oleh karena itu perlu pendekatan yang spesifik pula untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat Minang. Di daerah lain membuka lapangan kerja bisa dilakukan pendekatan usaha padat karya. Dengan membuka satu pabrik yang padat karya saja, misalnya, langsung bisa menyerap ribuan tenaga kerja sekaligus.
Namun hal serupa belum tentu juga sukses dilakukan di Sumatera Barat. Buktinya perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan pola padat karya di Sumatera Barat umumnya gagal. Sebut saja contohnya PT. Sumatex Subur, PT. Asia Biskuit, PT. Poliguna dan lain-lain sejenisnya gagal bertahan lama. Jika ada pekerja kasar pada suatu usaha di Sumatera Barat, umumnya pekerja tersebut didatangkan dari luar Sumatera Barat.
Sejumlah pengamatan dan pengalaman, membuka lapangan kerja di Sumatera Barat harus dilakukan dengan pendekatan khusus. Usaha yang cocok dikembangkan di Sumatera Barat adalah usaha industri rumah tangga (home industri) dengan pola UMKM (usaha Kecil Mikro dan Menengah) bagi pengusaha pemula.
Usaha keluarga lainnya yang bisa dikembangkan adalah pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Dengan bahasa sederhana orang Minang lebih memilih profesi sebagai pengusaha (meski awalnya kecil) dibandingkan menjadi buruh. Potensi yang dimiliki masyarakat Minang sebagai enterpreneur (pengusaha) harus dioptimalkan.
Upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat beserta Pemerintah Kabupaten dan Kota, dengan pendekatan tersebut  telah berhasil menurunkan tingkat pengangguran di Sumatera Barat. Menurut data Biro Pusat Statistik Sumatera Barat Tingkat Pengangguran Terbuka di Sumatera Barat pada tahun 2015 adalah 6,5 persen, angka ini 0,5 persen di atas rata-rata nasional.
Namun dari segi persentase jumlah penduduk miskin, Sumatera Barat menempati peringkat 7 dengan jumlah persentase penduduk miskin terkecil di Indonesia. Sedangkan di Sumatera, Sumatera Barat menempati peringkat ke 3 setelah Jambi dan Lampung.
Namun apakah benar tingkat pengangguran di Sumatera Barat memang benar  seperti hasil survai, perlu ditelaah dan dianalisa lagi. Karena seperti dicontohkan di atas, deskripsi menganggur/tidak bekerja bagi masyarakat Sumatera barat berbeda dengan deskripsi yang berlaku umum. Begitu juga untuk status kemiskinan, dalam menyatakan status harta, orang Minang biasanya lebih suka merendah.
Kita sering mendengar kata-kata: ”Mampirlah ke gubuk kami.” Padahal kenyataannya gubuk yang dimaksud adalah sebuah rumah bertingkat yang mentereng. Harus lebih hati-hati dalam mengidentifikasi tingkat kemiskinan di Sumatera Barat. 
Sumber: http://irwan-prayitno.com


posted by @Adimin

Penyakit Hati Orang "Sukses"



Tiada godaan terhebat dari seorang yang sukses rizkinya, jabatannya, popularitasnya, ilmunya, dan keturunannya kecuali bangga, kagum pada dirinya sendiri, pongah, dan akhinya merendahkan orang lain.

Merasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling suci. Inilah penyakit hati orang sukses termasuk orang seperti abang ini.

Begini begitu kan kesannya saja padahal aib kekurangan seabrek abrek, untungnya saja aib abang dan kita semua masih ditutupi Allah.

Kalau dibuka pasti sangat malu dan hina. “Jangan kamu terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri” (QS Al-Qashash 76).

“Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa” (QS An-Najm 32).

Rasulullah mengingatkan mengulang sampai tiga kali, "Takutlah kalian pada al uzba" yaitu bangga kagum pada diri sendiri. Nasehat ini beliau arahkan pada para sahabat sahabat beliau yang shaleh dan hafal Alquran.

Memang dosa ujub ini lebih halus dari langkah semut, bisa jadi kesannya tawadhu tetapi di hati ingin dipuji, marah dihina ternyata karena berharap dipuji.

Inilah "dho'ful aqli wal iimaani" tanda lemahnya akal dan iman. Padahal sangat rugi, sudah cape-cape beramal dihancurkan kemudian dengan ujub.

Jadi, seringlah duduk di majlis Ilmu dan Zikir. Saat menengadah menatap wajah guru, rontoklah kebanggaan dirinya. Duduklah bersama faqir miskin, yatim piatu, orang-orang susah.

Ziarahilah kuburan, perkuat puasa sunnah, tadabburkan Alqur'an, perhebat istigfar. Dan selalu harus sempatkan diri secara khusus muhasabah diri selesai sholat malam, "siapa aku, darimana, dimana, dan mau kemana akhirnya aku?"

Sungguh tidak pantas bangga diri kecuali hanya Allah Maha Terpuji.
Sungguh ini abang tulis untuk diri abang yang banyak dosa ini, dan kalian sahabatku tercinta.

Allahumma ya Allah jadikanlah kami hambaMu yang Kau ridhoi minal mukhlishiin, berilah kami rizki teragung yaitu sifat ikhlas, dan bersihkan hati kami dari riya, sum'ah, ujub, dan semua penyakit hati... Aaamiin

M. Arifin Ilham

sumber : republika

posted by @Adimin

Santri Cerdik dan Seekor Sapi

Written By @Adimin on 07 May, 2015 | May 07, 2015



Seorang santri baru saja lulus aliyah pesantren dengan nilai jayyid jiddan (lumayan pintar). Dia pun berencana mengadu nasib di Jakarta.

Saat tiba di Stasiun Pasar Senen, dia melihat kerumunan orang. Rupanya sedang ada kecelakaan. Di Jakarta, kecelakaan biasanya memang menjadi tontonan yang menarik, maka dia pun memutuskan untuk ikut menonton.

Namun teryata kerumunan itu terlalu berjubel sehingga ia tidak bisa melihat korban dengan jelas, apalagi postur tubuhnya yang memang kecil. Jadi, jangankan mendekat, untuk melihat korban saja sulit. Berhubung karena merupakan santri berotak cemerlang, maka dia tidak kurang akal dan langsung berteriak-teriak sambil pura-pura panik.

"Saya keluarganya.. Saya keluarganya.. Minggir.. Tolong minggir !" katanya sambil mengacungkan jari dan mendesak maju menerobos kerumunan orang-orang tersebut.

Orang-orang pun memandanginya, dan ternyata si santri memang berhasil. Mereka langsung memberi kesempatan kepada santri itu untuk menghampiri korban kecelakaan. Santri itu pun langsung mendekati korban kecelakaan. Dan, betapa terkejutnya ketia dia melihat dengan jelas korban kecelakaan yang diakuinya sebagai keluarganya itu ternyata adalah seekor SAPI . . . . .!



posted by @Adimin

Pentingnya Jihad Bil Qalam




Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih

SALAH satu tugas dan tanggungjawab setiap muslim adalah berdakwah. Dakwah artinya mengajak, menyeru dan menunjukkan jalan kebenaran. Dakwah bukan tugas Kiai, Ustadz, Dai, Mubalig, dan penceramah saja. Dakwah adalah tugas bagi semua orang sesuai kemampuannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda; Siapa yang menunjukkan jalan hidayah ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikuti seruan dakwahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)

Dakwah tidak sebatas pada kemampuan mengolah kata, lalu disampaikan secara lisan kepada khalayak. Beragam metode bisa kita tempuh untuk berdakwah. Dakwah lewat tulisan salah satunya. Dakwah lewat tulisan jauh lebih efektif dan mampu menjangkau sasaran secara luas, menyebar hingga pelosok dunia. Menulis akan membuat kita mampu mengemas apa yang sudah kita dengar dan ketahui dari kebaikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus bagi orang lain. Keengganan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, dan ceramah, akan membuat hikmah-hikmah yang kita sudah dapatkan, menguap begitu saja. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia yang memiliki sifat lupa ini.

Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau selalu berupaya menyerdaskan umat lewat baca-tulis. Dalam suatu peristiwa usai perang Badar, Nabi memberikan tawaran kebebasan kepada sebagian para tawanan dengan syarat mengajarkan baca-tulis kepada para sahabat dan anak-anaknya.  Baca-tulis sebagai syarat kebebasan merupakan keputusan langka bahkan termasuk pertama kali yang pernah ada.

Hasilnya? Para sahabat menjadi “gila” menulis. Mereka merasa bersalah jika tidak menulis wahyu atau hadis yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Bangsa Arab yang mengalami kemunduran di berbagai bidang kehidupan, pelan namun pasti, beranjak menjadi bangsa yang maju dan memiliki peradaban mulia.

Kalau tidak karena sikap Nabi yang tidak pernah memberi motivasi menulis dan membaca kepada para sahabat, tentu kita tidak akan pernah tahu seperti apa ayat dan surat dalam Al-Quran, karena tidak ada yang menuliskanya. Kalau bukan karena usaha Nabi untuk membuat sahabatnya gila menulis tentu kita akan buta tentang hadis-hadis yang berisi ajaran dan pola hidup Nabi Muhammd Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
Dakwah dengan pena bagian dari jihad. Inilah yang disebut dengan Jihad bil qalam yang artinya berjuang dengan pena, berjuang mengusir dan membasmi kebodohan dengan tinta.

Seorang ulama pernah berujar, “Apakah seseorang mengira bahwa dengan sibuk mengumpulkan harta di siang hari dan melakukan hubungan intim di malam hari, ia akan menjadi golongan ahli fiqh? Tidak mungkin. Demi Allah tidak mungkin, hingga ia menjadikan buku dan tinta sebagai kawannya dan sikap wara`, selalu mencari ilmu di sepanjang hari, bersabar dalam suka dan duka, dan bersabar dalam menanti cucuran rahmat.”

Pernah dikisahkan, ada seorang ulama yang ketika dalam detik-detik kemangkatannya meminta sesuatu kepada muridnya. Permintaannya di luar dugaan si murid. Sang guru memintanya untuk mengambilkan pena untuk mencatat suatu ilmu. Padahal ia dalam kondisi sakaratul maut.

Suatu kali, guru saya Habib Shalih bin Ahmad Alaydrus pernah menyampaikan suatu pertanyaan, “Apa karomah para Imam Empat Mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Ahmad bin Hanbal)?” Kami, santri di Pesantren Daruttauhid Malang, diam seribu bahasa. Dalam alam pikiran kami, karomah adalah hal-hal luar biasa yang terjadi di luar nalar manusia. Seperti, bisa berjalan di atas air, berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dalam waktu singkat, atau merubah air menjadi sesuatu yang lain.

Setelah tahu tidak ada yang bisa menjawab, Habib Shalih yang merupakan Alumni Pesantren milik Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki-Makkah ini, mengatakan, “Karomah mereka adalah ilmu mereka yang bermanfaat. Mereka sudah wafat ratusan tahun silam namun sampai detik ini, jutaan umat Islam masih mengikuti ajaran dan mengamalkan ilmu yang mereka sampaikan. Inilah karomah terbesar,” kata-kata beliau masih terngiang kuat dalam pikiran saya sampai detik ini.

Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih. Semua imam tersebut memiliki karangan sehingga kita mudah melacak, mempelajari, dan mengamalkannya. Imam Abu Hanifah dengan karya Kitabul Fiqhul Akbar-nya, Imam Malik bin Anas dengan Kitab Muwattho`-nya, Imam Syafi`i dengan Kitab Ar-Risalah dan Al-Umm-nya, dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan Musnad-nya. Seandainya mereka tidak menulis dari mana kita akan bisa memelajari ilmu mereka? Semuanya meninggalkan warisan yang tak ternilai. Meski pun tubuh telah terbalut kafan dan terkubur dalam timbunan tanah beratus-ratus tahun lamanya, namun karya tulisnya terkenang sepanjang masa.

Jihad bil qalam harus menjadi kebiasaan dan tradisi kita. Dunia selalu tergoncang dengan pena sebagai karya yang abadi. Niatkan saat hendak menulis untuk ibadah dakwah agar tiap huruf yang tersusun bernilai pahala di sisi Allah Subhnahahu Wata’ala. Milikilah prinsip, “Menulis apa yang disampaikan dan menyampaikan apa yang ditulis.”

Wallaahu A`lam Bis Showaab.*

Oleh: Ali Akbar bin Aqil

 


posted by @Adimin

Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [2]



Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami

ALANGKAH indahnya, jika kita pun bersikap layaknya Rasulullah Saw dan Khadijah ra. Bukankah rentang waktu pernikahan mereka hingga kerasulan telah menjejak waktu 15 tahun? Namun, jika melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat mengadu pada istrinya dan apa yang istrinya lakukan, maka kita bisa mengetahui indahnya komunikasi mereka selama 15 tahun.


Indahnya Bicara

Kitapun juga pasti ingin mendapatkan pasangan yang bersedia menjadi teman “curhat” yang mau menyediakan perhatian dan hatinya. Mengapa pasangan yang mau diajak bicara ini penting? Karena, yang tahu persis problem-problem yang terjadi dalam rumah tangga adalah pasangan itu sendiri. Sehingga yang paling tepat untuk melakukan evaluasi plus menyepakati solusi tentu adalah pasangan sendiri. Bukan orang lain yang tidak mengetahui secara pasti masalah yang sesungguhnya dan pastinya bilapun menjadi bagian dari solusi, maka pelaku utama tetap kita sendiri.

Pasangan yang saling terbuka membicarakan keinginan dan kekhawatiran mereka, biasanya akan tumbuh menjadi pasangan yang saling mendukung. Sehingga mereka dapat tumbuh bersama termasuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka berdua dan mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi.


Mulailah Bicara

Namun demikian, untu jadi pasangan yang tumbuh bersama, semuanya justru diawali oleh perbedaan. Dari mulai beda fisik, beda kebiasaan, bahkan bisa jadi beda pemahaman keislaman. Inilah yang luar biasa bila memperhatikan firman Alah Subhanahu Wata’ala dalam surat Ar-Ruum  [30]: 21, “…supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang.”

Bagaimana mungkin jadi tumbuh rasa kasih sayang kalau begitu berbeda? Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami.

Memahami perbedaan inilah yang akan membuat kita memahami bahwa waktu bicara dengan suami atau waktu bicara dengan istri sangat berbeda. Bicara dengan suami butuh pengertian bahwa mereka butuh waktu untuk dirinya lebih dahulu dan butuh verbalisasi yang jelas. Sehingga istri memang tidak dianjurkan merajuk atau bertele-tele. Sedangkan bicara dengan istri pasti butuh kesabaran untuk membujuk dan mendengarkannya bicara.

Rasa dan upaya untuk bisa mencapai paham inilah yang akan membuahkan kasih sayang. Bila langsung paham tanpa belajar dan mengelola perasaan maka tentu tidak akan ada pengalaman-pengalaman indah yang dapat dikenang. Tidak ada canda atau tangis yang menguatkan perasaan memiliki.  Juga tidak ada hikmah yang dapat diambil bersama dan tidak ada saat-saat manis setelah berselisih paham dan akhirnya berbaikan.
 
Akhirnya, dengan berbekal iman dan kasih sayang, semoga kita termasuk orang yang diridhai Allah dan Rasul-Nya karena berjuang mengikuti sunnah. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan berita gembira untuk Khadijah ra, “Aku diperintahkan menyampaikan berita gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara) yang didalamnya tidak ada teriakan keras dan kelelahan


Kartika Ummu Arina

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger