Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
June 16, 2017
- - - - - - - - - Ramadhan 9 - CINTA DAN TUNDUK - - - - - - - - - -
Written By Sjam Deddy on 16 June, 2017 | June 16, 2017
Ramadhan 9
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med
posted by @Adimin
CINTA DAN TUNDUK
(إياك نعبد)
Imam Ibnul Qayyim
Aljauziyah menyebutkan bahwa "ibadah" yang sempurna itu harus menggabungkan
dua hal sekaligus secara bersamaan. Yang pertama adalah cinta dan yang kedua
adalah tunduk.
Artinya, kita
belum menjadi hamba Allah yang benar kecuali kita telah beribadah dengan penuh
cinta dan penuh ketundukan kepada Allah.
Ibnul Qayyim berkata,
"Bila engkau mencintai Allah tapi engkau tidak tunduk kepadaNya, maka
engkau bukanlah hambaNya. Jika engkau tunduk kepadaNya tapi engkau tidak
mencintaiNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Engkau baru seorang hamba yang
benar bila mencintaiNya dan tunduk kepadaNya". (Madaariju As Salikin).
Bila seseorang
beribadah karena senang, tapi dia tidak patuh dengan aturan Allah, maka dia
belum beribadah dengan benar dan belum menjadi hamba yang benar. Dia hanya
sedang melakukan hobby atau kesukaannya. Ini biasanya terjadi dalam hal
ibadah-ibadah yang menyenangkan. Seperti ibadah haji, umrah dan lain-lain.
Sebaliknya bila
seseorang tunduk beribadah kepada Allah, tapi dia tidak senang dan mencintai
Allah, maka dia sedang terpaksa. Tidak tulus dan tidak ikhlas. Manusia saja
tidak suka dengan orang yang bekerja terpaksa. Apalagi Allah yang Maha Mulia.
Dalil-dalil yang
menunjukkan perintah mencintai dan juga tunduk kepada Allah sangat banyak di
dalam Al quran dan hadits Rasulullah saw.
Allah menegaskan
bahwa orang yang beriman itu tandanya adalah dia sangat amat cinta kepada
Allah. Sedangkan orang kafir mencintai tuhan-tuhan lain selain Allah:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya: "Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al baqarah: 165).
Dalam ayat lain,
Allah memuji orang yang beriman, generasi pilihan, yang karakternya adalah
mencintai Allah dan Allah mencintai mereka:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ...
Artinya: "Hai
orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap
orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela...." (QS Al maidah: 54).
Rasulullah saw
menyatakan bahwa kesempurnaan iman itu terletak pada cinta kepada Allah dan
RasulNya:
"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان، من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلاَّ لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار".
Artinya:
"Tiga hal yg apabila dimiliki oleh seseorang niscaya dia akan merasakan
manisnya iman. Yaitu orang paling mencintai Allah dan RasulNya melebihi selain
keduanya. Dan orang yg mencintai orang lain karena Allah. Dan orang yang tidak
mau kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak rela dilemparkan ke dalam
api neraka". (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).
Dalam hal
ketundukan dan kepatuhan, Allah ta'alaa menegaskan perintahNya dengan sangat
jelas :
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ.
Artinya:
Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS Ali Imran: 32).
Allah juga
menegaskan bahwa orang yang engkar (tidak patuh) kepadaNya, melanggar
batas-batas hukumNya, akan dimasukkan ke dalam neraka yang abadi:
وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ (14)
Artinya: "Dan
barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS An nisa:
14).
Dengan demikian,
kesempurnaan ibadah akan terwujud bila dikerjakan dengan cinta serta tunduk
kepada Allah.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 16, 2017
Oleh : Irsyad Syafar
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 8 - MENIKMATI IBADAH - - - - - - - - -
Ramadhan 8
MENIKMATI IBADAH
(إياك نعبد)
Adalah berbeda
antara orang yang menikmati ibadah dengan yang mengerjakan ibadah. Setiap orang
yang menikmati ibadah, pasti mengerjakannya. Sebaliknya tidak semua yang
mengerjakan ibadah menikmatinya.
Bila seseorang
menikmati sesuatu, maka dia akan senang bersamanya. Hatinya tenteram dan ingin
berlama-lama dengan sesuatu itu. Bila dia sedang bersamanya, maka waktu tak
terasa berlalu. Dan bila sudah berpisah dengannya, dia akan rindu untuk bertemu
kembali.
Sedangkan orang yang
mengerjakan sesuatu, biasanya ingin segera selesai dari sesuatu tersebut. Bila
cepat selesainya maka akan lebih baik. Dan cendrung pekerjaan itu menjadi beban
baginya.
Bagitu pula dalam
beribadah. Orang yang beriman menikmati ibadah, bukan sekedar mengerjakannya.
Ada kenyamanan dan ketenangan yang dirasakan saat melakukannya. Betah dan rela
berlama-lama bersama ibadah tersebut.
Rasulullah saw
menyatakan bahwa shalat adalah penyejuk matanya (qurratu ainin). Beliau
bersabda:
و جعلت قرة عيني في الصلاة. أخرجه أحمد والنسائي والحاكم والبيهقي عن أبي هريرة.
Artinya:
"Dijadikan kecintaanku pada shalat". (HR. Ahmad, Nasa'i Baihaqi,
Hakim, shahih Albany).
Maksud dari hadits
di atas adalah Rasulullah saw sangat mencintai shalat. Hatinya tenang dan
tenteram dengan ibadah shalat tersebut. Bila ada beban yang berat, justru
Rasulullah saw meringankannya dengan shalat. Beliau pernah bersabda kepada
Bilal bin Rabah memerintahkannya untuk adzah: "Berdirilah wahai Bilal!
(maksudnya untuk adzan), rehatkan kami dengan shalat". (HR Abu Daud).
Sehingga dengan
shalat tubuh mereka menjadi dapat rehat dan kembali segar. Kebanyakan kita
berkata sebaliknya, "Ayolah kita segera shalat, setelah itu kita
istirahat...."
Begitu juga para
sahabat dan orang-orang shaleh. Mereka menikmati ibadah, sehingga mereka
berlomba-lomba melakukannya. Beribadah bagi mereka bukanlah rutinitas belaka,
bukan pula beban yang menghimpit apalagi sekedar hutang yang wajib dibayar.
Diceritakan dalam
hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa serombongan
kaum fuqara' dari para sahabat mengadukan kepada Rasulullah saw, betapa
beruntungnya orang-orang kaya. Mereka shalat dan puasa, sama seperti orang
miskin. Tapi mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad dan besedekah, karena
harta yang mereka miliki.
Lalu, Rasulullah
saw menunjukkan amalan yang bisa menyamai pahala semua amalan tersebut, yaitu
bertasbih 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x setiap selesai shalat. Maka
senanglah kaum miskin mendengarkan ibadah penyeimbang ini. Mereka pun pulang
dan bisa beribadah juga lebih banyak.
Namun tidak lama
setelah itu, kaum fuqara ini kembali lagi kepada Rasulullah saw. Mereka kembali
mengadu, bahwa hadits kemaren "bocor" pula kepada orang-orang kaya.
Maka mereka amalkan pula. Akhirnya Rasulullah saw mengomentari: "Itulah
karunia Allah yang Dia bagikan kepada orang2 yang Dia kehendaki".
Pertanyaan yang
muncul kemudian adalah, kenapa orang-orang shaleh bisa menikmati ibadahnya?
Sehingga mereka betah bahkan berlomba mengamalkannya? Dan tidak sekedar
"mengerjakan" ibadah saja? Jawabannya kita temukan dari petunjuk
Rasulullah saw yang bersabda:
عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.
Artinya: Dari
Abbas bin Abdul Muthalib, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Yang
merasakan nikmatnya iman adalah orang yang redha Allah menjadi Tuhannya, Islam
menjadi agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya". (HR Muslim).
Maka orang yang
telah meredhai Allah yang wajib dia sembah dan agungkan, meredhai bahwa ajaran
Islam sebagai agama yang wajib dia amalkan, serta redha Nabi Muhammad adalah
Rasul yang wajib diikuti ajarannya, pasti akan merasakan nikmatnya beribadah.
Baginya, semua
ibadah adalah konsekwensi atas ketundukannya kepada Allah dan ajaranNya, bukti
penghambaan kepadaNya serta keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.
Dalam hadits lain
Rasulullah saw menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman bila
dia memiliki tiga hal: pertama, Allah dan RasulNya paling dia cintai. Kedua dia
mencintai orang lain karena Allah. Dan yang ketiga dia tidak suka jatuh kembali
kepada dosa, sebagaimana dia tidak suka kalau dilemparkan ke dalam api neraka.
(dari HR Bukhari Muslim riwayat Anas bin Malik).
Pada bulan
ramadhan ini, kembali berbagai ibadah semarak dilakukan umat Islam. Shalat
berjamah, puasa wajib, shalat-shalat sunnat, tahajud atau qiyamullail,
bersedekah, tilawah Al Quran dan lain-lain. Kita mesti naik kelas dari sekedar
mengerjakan ibadah menuju kepada menikmati ibadah.
Tentunya
syarat-syarat yang dijelaskan Rasulullah saw di atas perlu dipenuhi. Agar semua
rangkaian ibadah tersebut betul-betul dinikmati, bukan sekedar dikerjakan sebagai
rutinitas. Akibatnya selepas Ramadhan tidak menimbulkan pengaruh dan perubahan
yang signifikan ke arah kebaikan.
Oleh : Irsyad Syafar
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 10, 2017
Ramadhan 7
Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 7 (IKHLAS DAN ITTIBA') - - - - - - - - - -
Written By NeoBee on 10 June, 2017 | June 10, 2017
Ramadhan 7
IKHLAS DAN ITTIBA'
(إياك نعبد)
(إياك نعبد)
Kita
mentauhidkan Allah dengan beribadah kepadaNya. Tentu saja ibadah itu
dilakukan untuk Dia terima, bukan sekedar kita selesaikan. Mesti kita
lakukan sesuai dengan keinginanNya bukan sesuai selera atau kemauan
kita.
Kalau letih-letih beribadah menyembahNya, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, tentu sia-sialah jadinya amalan kita.
Oleh karena itu yang menjadi pikiran dan target seorang mukmin saat
beribadah adalah mendapatkan "qabul" dari Allah. Dan para ulama sepakat
bahwa terkait ibadah-ibadah mahdhah (ibadah murni yang landasan
syariatnya berdasarkan wahyu) akan diterima oleh Allah bila memenuhi dua
syarat utama, yaitu: Ikhlas karena Allah, dan Mengikuti tuntunan Nabi
Muhammad saw (ittiba’).
Jika salah satu syarat saja yang
terpenuhi, atau keduanya tidak terpenuhi tentunya amalan ibadah tersebut
menjadi tertolak alias tidak diterima.
Allah berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
Artinya: "Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya“.” (QS. Al
Kahfi: 110).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah, seorang Ulama tafsir
yang sangat terkenal menerangkan maksud ayat di atas, “Maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah sesuai dengan syariat
Allah. Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah
kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap redha Allah semata dan
tidak berbuat syirik pada-Nya.
Ayat secara langsung mencakupi
dua syarat diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan
mengikuti petunjuk Rasulullah saw.
Seorang senior Tabi'in Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh, tatkala menerangkan firman Allah:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا....
Artinya: "Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2),
Beliau menjelaskan maksud amalan yang paling baik (ahsan) itu “adalah
amalan yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai dengan ajaran Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Fudhail bin Iyadh berkata,
“Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai dengan ajaran
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima.
Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas karena Allah semata,
amalan tersebut juga tidak akan diterima.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ،
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى
اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا
أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ
إِلَيْهِ.
Artinya: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada
niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa
yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada
Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia
cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya
berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita, pen)”. (HR
Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas mempertegas bahwa syarat
pertama ibadah diterima yaitu niat yang ikhlas karena Allah. Bila
diniatkan karena selainNya, maka yang diniatkan itu saja yang diperoleh.
Juga dalam hadits dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: "Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini
yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Hadits ini menegaskan bahwa setiap ibadah mesti berdasarkan tuntunan langsung dan tata cara yang diajarkan Rasulullah saw.
Misalnya seseorang shalat shubuh dengan sangat ikhlas karena Allah,
tapi dilaksanakannya 3 atau 4 rakaat, maka ibadah tersebut tertolak.
Sebab menyelisihi ajaran Nabi.
Sebaliknya, seseorang yang shalat
shubuh dua rakaat, lengkap rukun dan sunnatnya, tapi dia lakukan karena
segan dengan mertua atau tetangga, maka ibadahnya juga tertolak. Karena
niatnya tidak ikhlas.
Dengan demikian, setiap ibadah memiliki dua
timbangan. Timbangan bathin berupa niat yang ikhlas. Dan timbangan
lahir berupa tatacara beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw.
Imam Bukhari menuliskan sebuah hadits dalam kitab shahihnya dengan
judul, "Hadits orang yang buruk shalatnya". Kejadiannya adalah tentang
seorang lelaki yang shalat sunat dua rakaat di dekat Nabi shallallahu
alaihi wa sallam. Tapi tatacara shalatnya salah dan terburu-buru. Sampai
tiga kali Rasulullah menyuruh dia mengulangnya. Karena shalatnya tidak
sah dan dianggap belum shalat.
Mari kita laksanakan seluruh
rangkaian ibadah selama ramadhan dengan penuh ikhlas, tanpa
menambah-nambah atau mengurangi yang telah Rasulullah saw ajarkan.
Sebab, dalam urusan beribadah mahdhah tidak ada ruang kreatifitas atau
inovasi.
Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 09, 2017
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 6 (TAUHID, MISI SEMUA NABI) - - - - - - - - -
Written By NeoBee on 09 June, 2017 | June 09, 2017
Ramadhan 6
TAUHID, MISI
SEMUA NABI
(إياك نعبد)
(إياك نعبد)
Mengesakan Allah
SWT dalam segala bentuk ibadah, dan tidak mempersekutukanNya dengan yang lain
merupakan risalah semua Nabi dan Rasul. Tidak ada Nabi yang pernah diutus oleh
Allah melainkan dia menyuruh umatnya menyembah Allah semata.
Ini nabiyullah Nuh
as, seorang Nabi dan Rasul yang menyembah Allah semata. Beliau membawa risalah
tauhid kepada kaumnya, diceritakan dalam QS Hud 25-26:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلٰى قَوْمِهٖ إِنِّيْ لَكُمْ
نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ . أَنْ لَّا تَعْبُدُوْا إِلَّا اللّٰهَۗ إِنِّيْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيْمٍ.
Artinya: "Dan
sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata),
"Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian.
Agar kalian tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kalian akan
ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih."
Begitu juga Nabi
Hud yang diutus Allah kepada kaum 'Ad. Beliau menyembah Allah semata, dan
membawa risalah tauhid kepada kaumnya. Allah berfirman:
وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ
إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ
إِلَّا مُفْتَرُونَ
Artinya: "Dan
kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah
mengada-adakan saja. (QS Hud: 50).
Begitu juga Nabi
Shaleh yang diutus Allah kepada kaum Tsamud. Beliau menyembah Allah semata dan
membawa risalah tauhid, mendakwahi kaumnya untuk hanya menyembah Allah dan
tidak mengambil tuhan-tuhan yang lain. Allah berfirman:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ
إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ
أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ
تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي
قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Artinya: "Dan
kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia
telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya,
karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya
Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS
Huud: 61)
Selanjutnya Nabi
Syi'aib, Allah kirim kepada kaum Madyan. Beliau menyembah Allah semata dan
menyeru kaumnya untuk mentauhidkan Allah. Dalam firmanNya, Allah menegaskan:
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا
قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي
أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ
Artinya: "Dan
kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata:
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia.
Dan janganlah kalian kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat
kalian dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadap
kalian akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (QS Huud: 84)
Nabi Isa as, Allah
utus kepada kaumnya bani Israil. Menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah,
menyembahnya semata dan tidak mempersekutu kanNya. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ
مُسْتَقِيمٌ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian. Karena itu sembahlah
Dia. Inilah jalan yang lurus". (QS Ali Imran: 51).
Secara general
Allah menyatakan bahwa semua Nabi atau Rasul yang Dia utus kepada kaumnya
masing-masing, semuanya membawa risalah tauhid, mengajak untuk menyembah Allah
semata. Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ
اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ
عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي
الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ.
Artinya: "Dan
sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (tuhan selain Allah)
itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh
Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS An Nahl: 36).
Maka semua Nabi
dan Rasul menganut agama yang sama yaitu agama tauhid (menyembah Allah semata).
Rasulullah saw menegaskan tentang satunya agama para Nabi:
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ـ :
" الأنبياء إخوة لعلات ، أمهاتهم شتى ودينهم واحد. (رواه أبو داود)
Artinya:
Diriwayatkan dari abu Hurairah bhw Rasulullah bersabda: "Para Nabi itu
saudara-saudara sekeluarga. Ibu mereka berbeda-beda, tapi agamanya satu."
(Hadits marfu' riwayat Abu Daud).
Bahkan di dalam
beberapa ayat, Allah mengabarkan bahwa Nabi Isa shalat dan berzakat, Ibunda
Maryam melakukan shalat rukuk dan sujud, Nabi Zakaria juga shalat, Nabi Yahya
shalat, Nabi Ibrahim dan Ismail shalat di depan Ka'bah. Lebih dari itu,
Rasulullah saw menjadi imam shalat berjamaah bersama para Nabi dan Rasul pada
malam isra' dan mikraj di Masjidil Aqsa.
Dengan demikian,
agama para Nabi itu sama yaitu agama tauhid. Dan mereka semua menyembah Allah
semata. Mari bergabung dalam barisan orang-orang mulia sepanjang zaman. Jalan
orang-orang yang telah Allah beri mereka nikmat. Dan itulah jalan yang lurus.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN




