pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

- - - - - - - - - Ramadhan 9 - CINTA DAN TUNDUK - - - - - - - - - -

Written By Sjam Deddy on 16 June, 2017 | June 16, 2017

Ramadhan 9
CINTA DAN TUNDUK
(إياك نعبد)

Imam Ibnul Qayyim Aljauziyah menyebutkan bahwa "ibadah" yang sempurna itu harus menggabungkan dua hal sekaligus secara bersamaan. Yang pertama adalah cinta dan yang kedua adalah tunduk.

Artinya, kita belum menjadi hamba Allah yang benar kecuali kita telah beribadah dengan penuh cinta dan penuh ketundukan kepada Allah.

Ibnul Qayyim berkata, "Bila engkau mencintai Allah tapi engkau tidak tunduk kepadaNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Jika engkau tunduk kepadaNya tapi engkau tidak mencintaiNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Engkau baru seorang hamba yang benar bila mencintaiNya dan tunduk kepadaNya". (Madaariju As Salikin).

Bila seseorang beribadah karena senang, tapi dia tidak patuh dengan aturan Allah, maka dia belum beribadah dengan benar dan belum menjadi hamba yang benar. Dia hanya sedang melakukan hobby atau kesukaannya. Ini biasanya terjadi dalam hal ibadah-ibadah yang menyenangkan. Seperti ibadah haji, umrah dan lain-lain.

Sebaliknya bila seseorang tunduk beribadah kepada Allah, tapi dia tidak senang dan mencintai Allah, maka dia sedang terpaksa. Tidak tulus dan tidak ikhlas. Manusia saja tidak suka dengan orang yang bekerja terpaksa. Apalagi Allah yang Maha Mulia.

Dalil-dalil yang menunjukkan perintah mencintai dan juga tunduk kepada Allah sangat banyak di dalam Al quran dan hadits Rasulullah saw.

Allah menegaskan bahwa orang yang beriman itu tandanya adalah dia sangat amat cinta kepada Allah. Sedangkan orang kafir mencintai tuhan-tuhan lain selain Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya: "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al baqarah: 165).

Dalam ayat lain, Allah memuji orang yang beriman, generasi pilihan, yang karakternya adalah mencintai Allah dan Allah mencintai mereka:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ...
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela...." (QS Al maidah: 54).

Rasulullah saw menyatakan bahwa kesempurnaan iman itu terletak pada cinta kepada Allah dan RasulNya:

"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان، من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلاَّ لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار".
Artinya: "Tiga hal yg apabila dimiliki oleh seseorang niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Yaitu orang paling mencintai Allah dan RasulNya melebihi selain keduanya. Dan orang yg mencintai orang lain karena Allah. Dan orang yang tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak rela dilemparkan ke dalam api neraka". (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Dalam hal ketundukan dan kepatuhan, Allah ta'alaa menegaskan perintahNya dengan sangat jelas :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ.
Artinya: Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS Ali Imran: 32).

Allah juga menegaskan bahwa orang yang engkar (tidak patuh) kepadaNya, melanggar batas-batas hukumNya, akan dimasukkan ke dalam neraka yang abadi:

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ (14)
Artinya: "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS An nisa: 14).

Dengan demikian, kesempurnaan ibadah akan terwujud bila dikerjakan dengan cinta serta tunduk kepada Allah.
 

Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med

posted by @Adimin

- - - - - - - - - Ramadhan 8 - MENIKMATI IBADAH - - - - - - - - -




Ramadhan 8

MENIKMATI IBADAH
(إياك نعبد)

Adalah berbeda antara orang yang menikmati ibadah dengan yang mengerjakan ibadah. Setiap orang yang menikmati ibadah, pasti mengerjakannya. Sebaliknya tidak semua yang mengerjakan ibadah menikmatinya.

Bila seseorang menikmati sesuatu, maka dia akan senang bersamanya. Hatinya tenteram dan ingin berlama-lama dengan sesuatu itu. Bila dia sedang bersamanya, maka waktu tak terasa berlalu. Dan bila sudah berpisah dengannya, dia akan rindu untuk bertemu kembali.

Sedangkan orang yang mengerjakan sesuatu, biasanya ingin segera selesai dari sesuatu tersebut. Bila cepat selesainya maka akan lebih baik. Dan cendrung pekerjaan itu menjadi beban baginya.

Bagitu pula dalam beribadah. Orang yang beriman menikmati ibadah, bukan sekedar mengerjakannya. Ada kenyamanan dan ketenangan yang dirasakan saat melakukannya. Betah dan rela berlama-lama bersama ibadah tersebut.

Rasulullah saw menyatakan bahwa shalat adalah penyejuk matanya (qurratu ainin). Beliau bersabda:

و جعلت قرة عيني في الصلاة. أخرجه أحمد والنسائي والحاكم والبيهقي عن أبي هريرة.
Artinya: "Dijadikan kecintaanku pada shalat". (HR. Ahmad, Nasa'i Baihaqi, Hakim, shahih Albany).

Maksud dari hadits di atas adalah Rasulullah saw sangat mencintai shalat. Hatinya tenang dan tenteram dengan ibadah shalat tersebut. Bila ada beban yang berat, justru Rasulullah saw meringankannya dengan shalat. Beliau pernah bersabda kepada Bilal bin Rabah memerintahkannya untuk adzah: "Berdirilah wahai Bilal! (maksudnya untuk adzan), rehatkan kami dengan shalat". (HR Abu Daud).

Sehingga dengan shalat tubuh mereka menjadi dapat rehat dan kembali segar. Kebanyakan kita berkata sebaliknya, "Ayolah kita segera shalat, setelah itu kita istirahat...."

Begitu juga para sahabat dan orang-orang shaleh. Mereka menikmati ibadah, sehingga mereka berlomba-lomba melakukannya. Beribadah bagi mereka bukanlah rutinitas belaka, bukan pula beban yang menghimpit apalagi sekedar hutang yang wajib dibayar.

Diceritakan dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa serombongan kaum fuqara' dari para sahabat mengadukan kepada Rasulullah saw, betapa beruntungnya orang-orang kaya. Mereka shalat dan puasa, sama seperti orang miskin. Tapi mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad dan besedekah, karena harta yang mereka miliki.

Lalu, Rasulullah saw menunjukkan amalan yang bisa menyamai pahala semua amalan tersebut, yaitu bertasbih 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x setiap selesai shalat. Maka senanglah kaum miskin mendengarkan ibadah penyeimbang ini. Mereka pun pulang dan bisa beribadah juga lebih banyak.

Namun tidak lama setelah itu, kaum fuqara ini kembali lagi kepada Rasulullah saw. Mereka kembali mengadu, bahwa hadits kemaren "bocor" pula kepada orang-orang kaya. Maka mereka amalkan pula. Akhirnya Rasulullah saw mengomentari: "Itulah karunia Allah yang Dia bagikan kepada orang2 yang Dia kehendaki".

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, kenapa orang-orang shaleh bisa menikmati ibadahnya? Sehingga mereka betah bahkan berlomba mengamalkannya? Dan tidak sekedar "mengerjakan" ibadah saja? Jawabannya kita temukan dari petunjuk Rasulullah saw yang bersabda:

عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.
Artinya: Dari Abbas bin Abdul Muthalib, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang redha Allah menjadi Tuhannya, Islam menjadi agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya". (HR Muslim).

Maka orang yang telah meredhai Allah yang wajib dia sembah dan agungkan, meredhai bahwa ajaran Islam sebagai agama yang wajib dia amalkan, serta redha Nabi Muhammad adalah Rasul yang wajib diikuti ajarannya, pasti akan merasakan nikmatnya beribadah.

Baginya, semua ibadah adalah konsekwensi atas ketundukannya kepada Allah dan ajaranNya, bukti penghambaan kepadaNya serta keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.

Dalam hadits lain Rasulullah saw menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman bila dia memiliki tiga hal: pertama, Allah dan RasulNya paling dia cintai. Kedua dia mencintai orang lain karena Allah. Dan yang ketiga dia tidak suka jatuh kembali kepada dosa, sebagaimana dia tidak suka kalau dilemparkan ke dalam api neraka. (dari HR Bukhari Muslim riwayat Anas bin Malik).

Pada bulan ramadhan ini, kembali berbagai ibadah semarak dilakukan umat Islam. Shalat berjamah, puasa wajib, shalat-shalat sunnat, tahajud atau qiyamullail, bersedekah, tilawah Al Quran dan lain-lain. Kita mesti naik kelas dari sekedar mengerjakan ibadah menuju kepada menikmati ibadah.

Tentunya syarat-syarat yang dijelaskan Rasulullah saw di atas perlu dipenuhi. Agar semua rangkaian ibadah tersebut betul-betul dinikmati, bukan sekedar dikerjakan sebagai rutinitas. Akibatnya selepas Ramadhan tidak menimbulkan pengaruh dan perubahan yang signifikan ke arah kebaikan.


Oleh : Irsyad Syafar

posted by @Adimin

- - - - - - - - - Ramadhan 7 (IKHLAS DAN ITTIBA') - - - - - - - - - -

Written By NeoBee on 10 June, 2017 | June 10, 2017


Ramadhan 7

IKHLAS DAN ITTIBA'
(إياك نعبد)

Kita mentauhidkan Allah dengan beribadah kepadaNya. Tentu saja ibadah itu dilakukan untuk Dia terima, bukan sekedar kita selesaikan. Mesti kita lakukan sesuai dengan keinginanNya bukan sesuai selera atau kemauan kita.

Kalau letih-letih beribadah menyembahNya, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, tentu sia-sialah jadinya amalan kita.

Oleh karena itu yang menjadi pikiran dan target seorang mukmin saat beribadah adalah mendapatkan "qabul" dari Allah. Dan para ulama sepakat bahwa terkait ibadah-ibadah mahdhah (ibadah murni yang landasan syariatnya berdasarkan wahyu) akan diterima oleh Allah bila memenuhi dua syarat utama, yaitu: Ikhlas karena Allah, dan Mengikuti tuntunan Nabi Muhammad saw (ittiba’).

Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, atau keduanya tidak terpenuhi tentunya amalan ibadah tersebut menjadi tertolak alias tidak diterima.

Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
Artinya: "Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, seorang Ulama tafsir yang sangat terkenal menerangkan maksud ayat di atas, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah sesuai dengan syariat Allah. Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap redha Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. 

Ayat secara langsung mencakupi dua syarat diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah saw.

Seorang senior Tabi'in Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh, tatkala menerangkan firman Allah:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا....
Artinya: "Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), 

Beliau menjelaskan maksud amalan yang paling baik (ahsan) itu “adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Fudhail bin Iyadh berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas karena Allah semata, amalan tersebut juga tidak akan diterima.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Artinya: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita, pen)”. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas mempertegas bahwa syarat pertama ibadah diterima yaitu niat yang ikhlas karena Allah. Bila diniatkan karena selainNya, maka yang diniatkan itu saja yang diperoleh.

Juga dalam hadits dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: "Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Hadits ini menegaskan bahwa setiap ibadah mesti berdasarkan tuntunan langsung dan tata cara yang diajarkan Rasulullah saw. 

Misalnya seseorang shalat shubuh dengan sangat ikhlas karena Allah, tapi dilaksanakannya 3 atau 4 rakaat, maka ibadah tersebut tertolak. Sebab menyelisihi ajaran Nabi.

Sebaliknya, seseorang yang shalat shubuh dua rakaat, lengkap rukun dan sunnatnya, tapi dia lakukan karena segan dengan mertua atau tetangga, maka ibadahnya juga tertolak. Karena niatnya tidak ikhlas.

Dengan demikian, setiap ibadah memiliki dua timbangan. Timbangan bathin berupa niat yang ikhlas. Dan timbangan lahir berupa tatacara beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw.

Imam Bukhari menuliskan sebuah hadits dalam kitab shahihnya dengan judul, "Hadits orang yang buruk shalatnya". Kejadiannya adalah tentang seorang lelaki yang shalat sunat dua rakaat di dekat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Tapi tatacara shalatnya salah dan terburu-buru. Sampai tiga kali Rasulullah menyuruh dia mengulangnya. Karena shalatnya tidak sah dan dianggap belum shalat.

Mari kita laksanakan seluruh rangkaian ibadah selama ramadhan dengan penuh ikhlas, tanpa menambah-nambah atau mengurangi yang telah Rasulullah saw ajarkan. Sebab, dalam urusan beribadah mahdhah tidak ada ruang kreatifitas atau inovasi.

Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd

posted by @Adimin

- - - - - - - - - Ramadhan 6 (TAUHID, MISI SEMUA NABI) - - - - - - - - -

Written By NeoBee on 09 June, 2017 | June 09, 2017




Ramadhan 6

TAUHID, MISI SEMUA NABI
(إياك نعبد)

Mengesakan Allah SWT dalam segala bentuk ibadah, dan tidak mempersekutukanNya dengan yang lain merupakan risalah semua Nabi dan Rasul. Tidak ada Nabi yang pernah diutus oleh Allah melainkan dia menyuruh umatnya menyembah Allah semata.

Ini nabiyullah Nuh as, seorang Nabi dan Rasul yang menyembah Allah semata. Beliau membawa risalah tauhid kepada kaumnya, diceritakan dalam QS Hud 25-26:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلٰى قَوْمِهٖ إِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ . أَنْ لَّا تَعْبُدُوْا إِلَّا اللّٰهَۗ إِنِّيْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيْمٍ.
Artinya: "Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), "Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Agar kalian tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kalian akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih."

Begitu juga Nabi Hud yang diutus Allah kepada kaum 'Ad. Beliau menyembah Allah semata, dan membawa risalah tauhid kepada kaumnya. Allah berfirman:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ
Artinya: "Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS Hud: 50).

Begitu juga Nabi Shaleh yang diutus Allah kepada kaum Tsamud. Beliau menyembah Allah semata dan membawa risalah tauhid, mendakwahi kaumnya untuk hanya menyembah Allah dan tidak mengambil tuhan-tuhan yang lain. Allah berfirman:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Artinya: "Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS Huud: 61)

Selanjutnya Nabi Syi'aib, Allah kirim kepada kaum Madyan. Beliau menyembah Allah semata dan menyeru kaumnya untuk mentauhidkan Allah. Dalam firmanNya, Allah menegaskan:

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ
Artinya: "Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kalian kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (QS Huud: 84)

Nabi Isa as, Allah utus kepada kaumnya bani Israil. Menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah, menyembahnya semata dan tidak mempersekutu kanNya. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
Artinya: "Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian. Karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus". (QS Ali Imran: 51).

Secara general Allah menyatakan bahwa semua Nabi atau Rasul yang Dia utus kepada kaumnya masing-masing, semuanya membawa risalah tauhid, mengajak untuk menyembah Allah semata. Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ.
Artinya: "Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (tuhan selain Allah) itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS An Nahl: 36).

Maka semua Nabi dan Rasul menganut agama yang sama yaitu agama tauhid (menyembah Allah semata). Rasulullah saw menegaskan tentang satunya agama para Nabi:

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ـ : " الأنبياء إخوة لعلات ، أمهاتهم شتى ودينهم واحد. (رواه أبو داود)
Artinya: Diriwayatkan dari abu Hurairah bhw Rasulullah bersabda: "Para Nabi itu saudara-saudara sekeluarga. Ibu mereka berbeda-beda, tapi agamanya satu." (Hadits marfu' riwayat Abu Daud).

Bahkan di dalam beberapa ayat, Allah mengabarkan bahwa Nabi Isa shalat dan berzakat, Ibunda Maryam melakukan shalat rukuk dan sujud, Nabi Zakaria juga shalat, Nabi Yahya shalat, Nabi Ibrahim dan Ismail shalat di depan Ka'bah. Lebih dari itu, Rasulullah saw menjadi imam shalat berjamaah bersama para Nabi dan Rasul pada malam isra' dan mikraj di Masjidil Aqsa.

Dengan demikian, agama para Nabi itu sama yaitu agama tauhid. Dan mereka semua menyembah Allah semata. Mari bergabung dalam barisan orang-orang mulia sepanjang zaman. Jalan orang-orang yang telah Allah beri mereka nikmat. Dan itulah jalan yang lurus.

Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
 

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger