Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
June 21, 2017
Ramadhan 10 (IBADAH YANG PALING UTAMA) Oleh Irsyad Syafar, Lc., MEd
Written By Sjam Deddy on 21 June, 2017 | June 21, 2017
Ramadhan 10
IBADAH YANG PALING UTAMA
(إياك نعبد)
(إياك نعبد)
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
Kita tentunya ingin semaksimal mungkin beribadah kepada Allah. Akan
tetapi kita juga punya keterbatasan. Baik dari segi waktu, tenaga,
kemampuan dan sebagainya. Takkan mampu kita untuk mengambil semua
ibadah.
Pilihan kita kemudian tentunya mencari dan mengerjakan
ibadah-ibadah yang utama saja. Para sahabat Rasul yang mulia pun mereka
sering bertanya tentang mana ibadah yang paling utama, diantaranya:
• عن أبي هريرة قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أفضل؟
قال: ((إيمانٌ بالله))، قال: ثم ماذا؟ قال: ((الجهاد في سبيل الله))، قال:
ثم ماذا؟ قال: ((حج مبرورٌ)).
Artinya: Diriwayatkan dari Abu
Hurairah, dia berkata: Rasulullah ditanya tentang amalan yang paling
utama? Beliau menjawab, "Iman kepada Allah". Orang itu bertanya lagi,
"Lalu apa?". Rasulullah menjawab, "Berjihad di jalan Allah". Orang itu
bertanya lagi, "Lalu apa lagi?". Rasulullah menjawab, "Haji yang
mabrur". (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits tentang pertanyaan
seperti ini lebih dari satu. Menunjukkan bahwa para sahabat juga
berambisi mencari ibadah-ibadah terbaik.
Dalam menentukan ibadah atau amalan terbaik, ada 4 macam pendapat atau pendekatan yang menjadi acuan.
Pendapat pertama, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah
ibadah yang paling berat di hati. Alasannya, ibadah seperti itu sangat
jauh dari hawa nafsu. Dan itulah hakekat utama dari penghambaan diri.
Pendapat pertama ini berdasarkan kepada sebuah kaedah yang bukan
hadits: الإجر على قدر المشقة "Pahala sesuai tingkat kesulitan". Kaedah
ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, kesulitan bukanlah tujuan dari
syariat Islam.
Namun bisa juga kita contohkan dalam kehidupan
yang sederhana. Misalnya orang miskin yang berinfaq bisa lebih banyak
pahalanya dari orang kaya yang berinfaq. Orang yang ke masjid berjalan
kaki bisa lebih banyak pahalanya dari pada yang berkendaraan.
Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa acuan ibadah yang paling utama
adalah totalitas, zuhud dari dunia dan menguranginya semaksimal mungkin.
Pendapat ini berlandaskan kepada dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan Akhirat terhadap dunia. Allah ta'alaa berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ.
Artinya: "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS Al a'laa: 17)
Dalam ayat lain:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Artinya: "Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)." (QS Adh Dhuha: 4).
Dengan dalil-dalil di atas maka ibadah dan amalan akhirat menjadi
paling utama dibandingkan dengan amalan dunia. Sehingga, hati hanya
terpaut dengan akhirat. Sebagian malah menganggap bahwa zuhud terhadap
dunia lebih utama dari menuntut ilmu dan ibadah lainnya. Namun pendapat
kedua ini belum sepenuhnya tepat.
Pendapat ketiga, menyatakan
bahwa ibadah yang paling utama adalah yang paling luas manfaatnya atau
paling banyak faedahnya. Tidak sekedar dinikmati oleh pelakunya saja,
akan tetapi menyentuh banyak orang.
Maka mengayomi faqir miskin,
mendidik dan mengajarkan ilmu kepada banyak orang, membuatkan jalan dan
kubutuhan serta kepentingan umum, adalah ibadah yang paling utama.
Pendapat ini berlandaskan kepada beberapa dalil yang mengisyaratkan makna tersebut. Diantaranya dari sabda Rasulullah saw:
عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (أحب
الناس إلى الله أنفعهم للناس وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله على مسلم أو
تكشف عنه كربة أو تقضي عنه دينا أو تطرد عنه جوعا. ولأن أمشي مع أخي
المسلم في حاجة أحب إلى من أن أعتكف فى هذا المسجد شهرا. ومن كف غضبه ستر
الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رضا يوم
القيامة. ومن مشى مع أخيه المسلم فى حاجة حتى تتهيأ له أثبت الله قدمه يوم
تزل الأقدام. وإن سوء الخلق ليفسد العمل كما يفسد الخل العسل). أخرجه ابن
أبى الدنيا فى كتاب قضاء الحوائج (ص 47، رقم 36) وحسنه الألباني).
Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwa Raaulullah bersabda:
"Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi
orang lain. Dan amalan yang paling utama adalah kebahagian yang anda
masukan ke dalam hati muslim lain, atau anda tuntaskan kesulitannya,
atau anda bayarkan hutangnya, atau anda hilangkan laparnya. Aku lebih
suka berjalan mengantarkan saudaraku muslim menuju kebutuhannya dari
pada aku beri'tikaf di masjid ini (masjid nabawi) selama sebulan. Barang
siapa yang menahan kemarahannya niscaya Allah akan menutupi auratnya.
Dan barang siapa yang menekan emosinya padahal dia sanggup untuk
melampiaskannya, niscaya Allah akan penuhkan hatinya dengan keredhaan
pada hari kiamat. Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya muslim
menuju kebutuhannya sampai selesai, niscaya Allah akan kokohkan kakinya
pada hari tergelincirnya banyak kaki (hari kiamat). Dan seaungguhnya
akhlak yang buruk akan merusak amalan sebagaimana cuka bisa merusak
madu." (HR Ibnu Abi Ad Dunya, dihasankan Albany).
Hadits di atas
menyebutkan secara jelas pujian Allah dan pahala yang besar untuk amalan
yang memberi manfaat luas bagi orang lain. Bahkan bisa mengalahkan
pahala iktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.
Masih banyak lagi
dalil lain yang menyebutkan keutamaan orang alim dari pada ahli ibadah
bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap bintang-bintang, keutamaan
menunjuki orang lain ke jalan yang benar, keutamaan berdakwah dan
lain-lain. Intinya ibadah-ibadah tersebut mempunyai manfaat yang lebih
luas.
Pendapat keempat, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama
adalah ibadah yang paling Allah redhai sesuai tuntutan waktu dan momen
seketika itu.
Misalnya, disaat datang seruan adzan, maka ibadah
yang paling utama adalah menyambut seruan itu dan bersegera ke masjid,
tinggalkan segala urusan yanh lain. Di saat ada orang miskin yang
meminta pertolongan dan bantuan, maka ibadah yang paling utama saat itu
adalah menolong orang tersebut. Di saat kedatangan tamu, maka ibadah
yang paling afdal adalah menghormati tamu, bukan shalat sunat. Dikala
sepertiga malam terakhir ibadah yang paling utama adalah bermunajat,
bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Ketika datang seruan jihad
yang sangat mendesak maka ibadah terbaik adalah berangkat berjuang ke
medan jihad. Di saat wukuf di arafah maka ibadah terbaik adalah
bersungguh-sungguh dengan doa dan dzikir.
Begitulah seterusnya,
standar ke empat ini betul-betul betul-betul mengacu kepada keredhaan
dan pilihan Allah yang menjadi acuan. Bukan pilihan-pilihan hamba.
Pada ramadhan yang mulia ini, tentunya ibadah yang paling utama adalah
shiyam di siang harinya dan qiyam di malam harinya. Dan bila 10 hari
terakhir ramadhan telah datang, maka iktikaf di masjid menjadi ibadah
yang paling utama dan mulia.
Imam Ibnul Qayyim menyatakan,
"Ibadah kriteria ke empat inilah yang ibadah mutlak. Sedangkan yang
sebelumnya masih terkait dengan yang lain."
Dan hamba yang
mengamalkan ibadah dengan acuan yang ke empat ini, "dialah yang
sebenarnya hamba. Yang beramal tidak berdasarkan kehendak pribadinya,
atau kesenangan dirinya, melainkan sesuai kehendak Rabbnya walaupun
bertentangan dengan keinginannya".
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 16, 2017
- - - - - - - - - Ramadhan 9 - CINTA DAN TUNDUK - - - - - - - - - -
Written By Sjam Deddy on 16 June, 2017 | June 16, 2017
Ramadhan 9
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med
posted by @Adimin
CINTA DAN TUNDUK
(إياك نعبد)
Imam Ibnul Qayyim
Aljauziyah menyebutkan bahwa "ibadah" yang sempurna itu harus menggabungkan
dua hal sekaligus secara bersamaan. Yang pertama adalah cinta dan yang kedua
adalah tunduk.
Artinya, kita
belum menjadi hamba Allah yang benar kecuali kita telah beribadah dengan penuh
cinta dan penuh ketundukan kepada Allah.
Ibnul Qayyim berkata,
"Bila engkau mencintai Allah tapi engkau tidak tunduk kepadaNya, maka
engkau bukanlah hambaNya. Jika engkau tunduk kepadaNya tapi engkau tidak
mencintaiNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Engkau baru seorang hamba yang
benar bila mencintaiNya dan tunduk kepadaNya". (Madaariju As Salikin).
Bila seseorang
beribadah karena senang, tapi dia tidak patuh dengan aturan Allah, maka dia
belum beribadah dengan benar dan belum menjadi hamba yang benar. Dia hanya
sedang melakukan hobby atau kesukaannya. Ini biasanya terjadi dalam hal
ibadah-ibadah yang menyenangkan. Seperti ibadah haji, umrah dan lain-lain.
Sebaliknya bila
seseorang tunduk beribadah kepada Allah, tapi dia tidak senang dan mencintai
Allah, maka dia sedang terpaksa. Tidak tulus dan tidak ikhlas. Manusia saja
tidak suka dengan orang yang bekerja terpaksa. Apalagi Allah yang Maha Mulia.
Dalil-dalil yang
menunjukkan perintah mencintai dan juga tunduk kepada Allah sangat banyak di
dalam Al quran dan hadits Rasulullah saw.
Allah menegaskan
bahwa orang yang beriman itu tandanya adalah dia sangat amat cinta kepada
Allah. Sedangkan orang kafir mencintai tuhan-tuhan lain selain Allah:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya: "Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al baqarah: 165).
Dalam ayat lain,
Allah memuji orang yang beriman, generasi pilihan, yang karakternya adalah
mencintai Allah dan Allah mencintai mereka:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ...
Artinya: "Hai
orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap
orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela...." (QS Al maidah: 54).
Rasulullah saw
menyatakan bahwa kesempurnaan iman itu terletak pada cinta kepada Allah dan
RasulNya:
"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان، من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلاَّ لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار".
Artinya:
"Tiga hal yg apabila dimiliki oleh seseorang niscaya dia akan merasakan
manisnya iman. Yaitu orang paling mencintai Allah dan RasulNya melebihi selain
keduanya. Dan orang yg mencintai orang lain karena Allah. Dan orang yang tidak
mau kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak rela dilemparkan ke dalam
api neraka". (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).
Dalam hal
ketundukan dan kepatuhan, Allah ta'alaa menegaskan perintahNya dengan sangat
jelas :
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ.
Artinya:
Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS Ali Imran: 32).
Allah juga
menegaskan bahwa orang yang engkar (tidak patuh) kepadaNya, melanggar
batas-batas hukumNya, akan dimasukkan ke dalam neraka yang abadi:
وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ (14)
Artinya: "Dan
barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS An nisa:
14).
Dengan demikian,
kesempurnaan ibadah akan terwujud bila dikerjakan dengan cinta serta tunduk
kepada Allah.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 16, 2017
Oleh : Irsyad Syafar
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 8 - MENIKMATI IBADAH - - - - - - - - -
Ramadhan 8
MENIKMATI IBADAH
(إياك نعبد)
Adalah berbeda
antara orang yang menikmati ibadah dengan yang mengerjakan ibadah. Setiap orang
yang menikmati ibadah, pasti mengerjakannya. Sebaliknya tidak semua yang
mengerjakan ibadah menikmatinya.
Bila seseorang
menikmati sesuatu, maka dia akan senang bersamanya. Hatinya tenteram dan ingin
berlama-lama dengan sesuatu itu. Bila dia sedang bersamanya, maka waktu tak
terasa berlalu. Dan bila sudah berpisah dengannya, dia akan rindu untuk bertemu
kembali.
Sedangkan orang yang
mengerjakan sesuatu, biasanya ingin segera selesai dari sesuatu tersebut. Bila
cepat selesainya maka akan lebih baik. Dan cendrung pekerjaan itu menjadi beban
baginya.
Bagitu pula dalam
beribadah. Orang yang beriman menikmati ibadah, bukan sekedar mengerjakannya.
Ada kenyamanan dan ketenangan yang dirasakan saat melakukannya. Betah dan rela
berlama-lama bersama ibadah tersebut.
Rasulullah saw
menyatakan bahwa shalat adalah penyejuk matanya (qurratu ainin). Beliau
bersabda:
و جعلت قرة عيني في الصلاة. أخرجه أحمد والنسائي والحاكم والبيهقي عن أبي هريرة.
Artinya:
"Dijadikan kecintaanku pada shalat". (HR. Ahmad, Nasa'i Baihaqi,
Hakim, shahih Albany).
Maksud dari hadits
di atas adalah Rasulullah saw sangat mencintai shalat. Hatinya tenang dan
tenteram dengan ibadah shalat tersebut. Bila ada beban yang berat, justru
Rasulullah saw meringankannya dengan shalat. Beliau pernah bersabda kepada
Bilal bin Rabah memerintahkannya untuk adzah: "Berdirilah wahai Bilal!
(maksudnya untuk adzan), rehatkan kami dengan shalat". (HR Abu Daud).
Sehingga dengan
shalat tubuh mereka menjadi dapat rehat dan kembali segar. Kebanyakan kita
berkata sebaliknya, "Ayolah kita segera shalat, setelah itu kita
istirahat...."
Begitu juga para
sahabat dan orang-orang shaleh. Mereka menikmati ibadah, sehingga mereka
berlomba-lomba melakukannya. Beribadah bagi mereka bukanlah rutinitas belaka,
bukan pula beban yang menghimpit apalagi sekedar hutang yang wajib dibayar.
Diceritakan dalam
hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa serombongan
kaum fuqara' dari para sahabat mengadukan kepada Rasulullah saw, betapa
beruntungnya orang-orang kaya. Mereka shalat dan puasa, sama seperti orang
miskin. Tapi mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad dan besedekah, karena
harta yang mereka miliki.
Lalu, Rasulullah
saw menunjukkan amalan yang bisa menyamai pahala semua amalan tersebut, yaitu
bertasbih 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x setiap selesai shalat. Maka
senanglah kaum miskin mendengarkan ibadah penyeimbang ini. Mereka pun pulang
dan bisa beribadah juga lebih banyak.
Namun tidak lama
setelah itu, kaum fuqara ini kembali lagi kepada Rasulullah saw. Mereka kembali
mengadu, bahwa hadits kemaren "bocor" pula kepada orang-orang kaya.
Maka mereka amalkan pula. Akhirnya Rasulullah saw mengomentari: "Itulah
karunia Allah yang Dia bagikan kepada orang2 yang Dia kehendaki".
Pertanyaan yang
muncul kemudian adalah, kenapa orang-orang shaleh bisa menikmati ibadahnya?
Sehingga mereka betah bahkan berlomba mengamalkannya? Dan tidak sekedar
"mengerjakan" ibadah saja? Jawabannya kita temukan dari petunjuk
Rasulullah saw yang bersabda:
عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.
Artinya: Dari
Abbas bin Abdul Muthalib, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Yang
merasakan nikmatnya iman adalah orang yang redha Allah menjadi Tuhannya, Islam
menjadi agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya". (HR Muslim).
Maka orang yang
telah meredhai Allah yang wajib dia sembah dan agungkan, meredhai bahwa ajaran
Islam sebagai agama yang wajib dia amalkan, serta redha Nabi Muhammad adalah
Rasul yang wajib diikuti ajarannya, pasti akan merasakan nikmatnya beribadah.
Baginya, semua
ibadah adalah konsekwensi atas ketundukannya kepada Allah dan ajaranNya, bukti
penghambaan kepadaNya serta keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.
Dalam hadits lain
Rasulullah saw menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman bila
dia memiliki tiga hal: pertama, Allah dan RasulNya paling dia cintai. Kedua dia
mencintai orang lain karena Allah. Dan yang ketiga dia tidak suka jatuh kembali
kepada dosa, sebagaimana dia tidak suka kalau dilemparkan ke dalam api neraka.
(dari HR Bukhari Muslim riwayat Anas bin Malik).
Pada bulan
ramadhan ini, kembali berbagai ibadah semarak dilakukan umat Islam. Shalat
berjamah, puasa wajib, shalat-shalat sunnat, tahajud atau qiyamullail,
bersedekah, tilawah Al Quran dan lain-lain. Kita mesti naik kelas dari sekedar
mengerjakan ibadah menuju kepada menikmati ibadah.
Tentunya
syarat-syarat yang dijelaskan Rasulullah saw di atas perlu dipenuhi. Agar semua
rangkaian ibadah tersebut betul-betul dinikmati, bukan sekedar dikerjakan sebagai
rutinitas. Akibatnya selepas Ramadhan tidak menimbulkan pengaruh dan perubahan
yang signifikan ke arah kebaikan.
Oleh : Irsyad Syafar
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 10, 2017
Ramadhan 7
Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 7 (IKHLAS DAN ITTIBA') - - - - - - - - - -
Written By NeoBee on 10 June, 2017 | June 10, 2017
Ramadhan 7
IKHLAS DAN ITTIBA'
(إياك نعبد)
(إياك نعبد)
Kita
mentauhidkan Allah dengan beribadah kepadaNya. Tentu saja ibadah itu
dilakukan untuk Dia terima, bukan sekedar kita selesaikan. Mesti kita
lakukan sesuai dengan keinginanNya bukan sesuai selera atau kemauan
kita.
Kalau letih-letih beribadah menyembahNya, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, tentu sia-sialah jadinya amalan kita.
Oleh karena itu yang menjadi pikiran dan target seorang mukmin saat
beribadah adalah mendapatkan "qabul" dari Allah. Dan para ulama sepakat
bahwa terkait ibadah-ibadah mahdhah (ibadah murni yang landasan
syariatnya berdasarkan wahyu) akan diterima oleh Allah bila memenuhi dua
syarat utama, yaitu: Ikhlas karena Allah, dan Mengikuti tuntunan Nabi
Muhammad saw (ittiba’).
Jika salah satu syarat saja yang
terpenuhi, atau keduanya tidak terpenuhi tentunya amalan ibadah tersebut
menjadi tertolak alias tidak diterima.
Allah berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
Artinya: "Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya“.” (QS. Al
Kahfi: 110).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah, seorang Ulama tafsir
yang sangat terkenal menerangkan maksud ayat di atas, “Maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah sesuai dengan syariat
Allah. Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah
kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap redha Allah semata dan
tidak berbuat syirik pada-Nya.
Ayat secara langsung mencakupi
dua syarat diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan
mengikuti petunjuk Rasulullah saw.
Seorang senior Tabi'in Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh, tatkala menerangkan firman Allah:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا....
Artinya: "Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2),
Beliau menjelaskan maksud amalan yang paling baik (ahsan) itu “adalah
amalan yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai dengan ajaran Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Fudhail bin Iyadh berkata,
“Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai dengan ajaran
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima.
Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas karena Allah semata,
amalan tersebut juga tidak akan diterima.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ،
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى
اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا
أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ
إِلَيْهِ.
Artinya: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada
niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa
yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada
Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia
cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya
berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita, pen)”. (HR
Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas mempertegas bahwa syarat
pertama ibadah diterima yaitu niat yang ikhlas karena Allah. Bila
diniatkan karena selainNya, maka yang diniatkan itu saja yang diperoleh.
Juga dalam hadits dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: "Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini
yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Hadits ini menegaskan bahwa setiap ibadah mesti berdasarkan tuntunan langsung dan tata cara yang diajarkan Rasulullah saw.
Misalnya seseorang shalat shubuh dengan sangat ikhlas karena Allah,
tapi dilaksanakannya 3 atau 4 rakaat, maka ibadah tersebut tertolak.
Sebab menyelisihi ajaran Nabi.
Sebaliknya, seseorang yang shalat
shubuh dua rakaat, lengkap rukun dan sunnatnya, tapi dia lakukan karena
segan dengan mertua atau tetangga, maka ibadahnya juga tertolak. Karena
niatnya tidak ikhlas.
Dengan demikian, setiap ibadah memiliki dua
timbangan. Timbangan bathin berupa niat yang ikhlas. Dan timbangan
lahir berupa tatacara beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw.
Imam Bukhari menuliskan sebuah hadits dalam kitab shahihnya dengan
judul, "Hadits orang yang buruk shalatnya". Kejadiannya adalah tentang
seorang lelaki yang shalat sunat dua rakaat di dekat Nabi shallallahu
alaihi wa sallam. Tapi tatacara shalatnya salah dan terburu-buru. Sampai
tiga kali Rasulullah menyuruh dia mengulangnya. Karena shalatnya tidak
sah dan dianggap belum shalat.
Mari kita laksanakan seluruh
rangkaian ibadah selama ramadhan dengan penuh ikhlas, tanpa
menambah-nambah atau mengurangi yang telah Rasulullah saw ajarkan.
Sebab, dalam urusan beribadah mahdhah tidak ada ruang kreatifitas atau
inovasi.
Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN




