Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
August 18, 2017
posted by @Adimin
DPD PKS Kota Padang Selenggarakan Upacara Peringatan HUT NKRI
Written By NeO on 18 August, 2017 | August 18, 2017
Padang (17/08/17) DPD PKS Kota Padang melaksanakan upacara memperingati kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke 72 di halaman markas dakwah PKS Kota Padang. Upacara dihadiri struktur DPD, anggota kepanduan, Santika dan kader.
Upacara di mulai jam 08.00 WIB. Upacara di pimpin langsung oleh Ketua Umum DPD PKS Kota Padang H. Gufron, SS yang sekaligus bertugas sebagai pembina upacara. Dalam arahannya beliau menyampaikan pentingnya mengisi kemerdekaan dengan selalu berbuat dan bermanfaat bagi masyarakat. Disamping itu beliau juga menekankan pentingnya bersyukur dalam mengisi kemerdekaan karena dengan bersyukur maka nikmat kemerdekaan itu akan ditambah dengan nikmat nikmat lain yang nantinya bisa digunakan untuk mengisi kemerdekaan itu sendiri, karena hakekatnya kemerdekaan itu berkat anugerah dari ALLAH SWT.
Upacar berlangsung dengan khidmat dan diharapkan dengan bertambahnya usia negara kita, semaki bertambah pula ketaqwaan masyarakat kepada ALLAH SWT sekaligus bertambah juga kemakmuran rakyatnya, Amiiin.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 16, 2017
posted by @Adimin
Gufron (Ketum PKS Padang) : PKS Ada utk Kemaslahatan Ummat & Bangsa
Written By NeO on 16 August, 2017 | August 16, 2017
Padang (16/08.17) Dalam rangka 72 tahun Indonesia Merdeka dan Hari Jadi Kota Padang yang ke 348, pkspadang.com berkesempatan untuk mewawancarai Ketua Umum PKS Kota Padang H. Gufron, SS. Dalam kesempatan itu beliau menyatakan harapan beliau dalam pembangunan Kota Padang sekaligus menyampaikan target target partai untuk kemaslahatan ummat.
Pada kesempatan itu beliau mengemukakan harapannya yaitu agar seluruh program program Mahyeldi Emzalmi bisa terealisasi dengan baik dilapangan, karena setiap manusia punya tanggungjawab dihadapan sang khalik ALLAH Swt.
Sementara harapan beliau terkait target PKS kedepan, agar semua kader PKS bisa berkontribusi dan berperan di tengah tengah masyarakat terutama pejabat publik, aleg dan tokoh tokohnya, sehingga kemslahatan untuk ummat bisa tercapai dengan maksimal sesuai tag PKS selama ini yaitu "BER- KHIDMAT UNTUK RAKYAT".
Semoga dengan ukhuwah dan soliditas semua program dan target target Kota Padang dan PKS bisa bersinergi dan mewujudkan kemaslahatan ummat... ALLAHU AKBAR.....
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 14, 2017
posted by @Adimin
BPKK Kota Padang Selenggarakan Daurah Merajut Cinta Mengharap RidoNYA
Written By neobattosai on 14 August, 2017 | August 14, 2017
Padang 13/08/17 : Bidang BPKK atau yang lebih dikenal dengan bidang Perempuan PKS Kota Padang menyelenggarakan Daurah/Workshop dan FGD untuk mereka yang sudah berkeluarga dan yang akan menikah.
Daurah kali ini mengangkat tema "Kali Merajut Cinta Mengharap Ridho-NYA dengan
Rumah se Indah syurga" dengan Coach Gunawan sebagai Pemateri. Peserta dengan antusias mengikuti dauroh dan FGD. Dalam paparannya coach Gunawan mengemukakan pentingnya menjaga komunikasi antar pasangan suami istri, saling menjaga, saling memahami, sehingga tercipta keharmonisan yang diharapkan Sakinah Mawaddah Warohmah.
Semoga dengan adanya daurah ini, maka semakin banyak keluarga kader yang kuat dan berdaya dalam keluarganya.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 11, 2017
posted by @Adimin
Melaksanakan Sifat Amanah
Written By NeO on 11 August, 2017 | August 11, 2017
Amanah hakikatnya lawan kata khianat. Orang yang amanah adalah orang yang dapat dipercaya dan membuat jiwa aman.
SIFAT amanah merupakan sifat terpenting dari Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam,
sifat yang oleh kaum jahiliah Makkah disematkan kepada diri beliau
sebelum turun wahyu, sehingga beliau dikenal dengan julukan al-Amin;
orang yang amanah. Julukan yang kemudian populer dan sangat lekat di
lidah masyarakat Makkah. Dengan julukan inilah semua orang, laki-laki
ataupun perempuan, menyebut Nabi dengan penuh takzim dan penghormatan.
Ketika usai membangun ulang Ka’bah, kaum Quraisy berisitegang, bahkan
hampir bertumpah darah tentang siapa yang akan mendapat kehormatan
meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya. Karena tak ada titik temu,
mereka sepakat untuk menyerahkan putusan kepada siapa yang datang kepada
mereka pertama kali.
Tiba-tiba Muhammad bin Abdullah muncul. Betapa girang kaum Quraisy. Mereka berteriak dengan penuh kepercayaan, “Inilah al-Amin. Inilah al-Amin. Kami rela dia yang memberi putusan!”
Apa yang segera terlintas di hati kaum Quraisy saat itu adalah
sifatnya yang terkenal itu. Sengaja beliau dipanggil begitu karena
mereka percaya beliau akan memberi jalan penyelesaian yang adil. Dan
terbukti Nabi mampu mengatasi masalah mereka dengan cara yang sangat
simpel dan melegakan semua pihak.
Itu terjadi jauh sebelum kenabian.
Lebih dari itu, bahkan setelah kenabian pun, rumah beliau menjadi
pangkal penitipan barang paling dipercaya kalangan kaum musyrik –yang
justru mengingkari kenabian beliau. Tanpa segan, mereka titipkan
barang-barang yang dicemaskan hilang, padahal waktu itu dunia belum
mengenal rumah penitipan barang. Setelah menerima perintah hijrah ke
Madinah, Nabi menyuruh Ali tinggal dulu di Makkah untuk mengembalikan
barang-barang titipan itu kepada pemiliknya masing-masing.
Dapat Dipercaya
Amanah dalam arti yang luas dan dalam lebih dari sekedar menunaikan
hajat duniawi kepada pemiliknya. Amanah hakikatnya lawan kata khianat.
Orang yang amanah adalah orang yang dapat dipercaya dan membuat jiwa
aman.
Orang-orang Quraisy begitu percaya kepada Rasulullah dalam urusan
dunia. Dalam hal ini mereka tak pernah mencaci beliau. Mereka juga tidak
curiga dan tidak menuduh beliau khianat. Bukan hanya dalam urusan harta
benda, melainkan juga kehormatan dan jiwa. Karena itu, sangatlah aneh
ketika mereka mendustakan beliau dalam hal kabar dari langit. Padahal,
bagaimana mungkin pada saat yang sama seseorang amanah sekaligus
khianat.
Dalam rumah tangga Nabi, tidak hanya beliau yang amanah. Tetapi juga
segenap istri dan keluarganya. Tak ada yang mengatakan haknya tidak
dipenuhi oleh salah seorang dari mereka. Karena, mereka memang
menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dan dalam arti yang
seluas-luasnya.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 11, 2017
posted by @Adimin
Anak Bangsa Wajib Menjaga Rumah Indonesia
Segenap anak bangsa memiliki kewajiban untuk menjaga Indonesia
sebagaimana menjaga rumahnya sendiri. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
mengibaratkan Indonesia adalah rumah yang dibangun oleh para bapak dan
ibu bangsa, dipertahankan, dirawat dan dipercantik oleh anak bangsanya
sendiri. Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus
Pusat (DPP) PKS Mustafa Kamal di kantor DPP PKS di kawasan Pasar Minggu,
Jakarta Selatan, Rabu (9/8/2017).
Menurut Mustafa, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, PKS akan turut
menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Republik
Indonesia (RI) tahun ini. “Bulan Agustus ibarat bulan mulia bagi bangsa
Indonesia, kami bukan sekadar ingin merayarakan ulang tahun, tetapi
justru ingin meneguhkan komitmen menjaga Indonesia sebagai rumah bagi
seluruh anak bangsa yang sangat bhinneka ini,” ujar Mustafa.
PKS, menurut Mustafa Kamal, sangat berharap seluruh elemen bangsa
bangkit dan melongok lagi kondisi bangsanya. Ibarat rumah, tuturnya,
jangan sampai rumah kita diserang oleh pihak luar atau juga dirusak dari
dalam. “Selain itu, kerusakan yang akibat faktor alam mesti
diantisipasi agar penghuni rumah dapat nyaman tinggal di sana. Dan itu
adalah tanggung jawab kita semua sebagai anak bangsa,” tegasnya.
Untuk itu, PKS seperti tahun-tahun sebelumnya juga akan memperingati
detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 2017
dengan upacara bendera dan pembacaan naskah teks Proklamasi yang akan
dipimpin oleh Presiden PKS. “Tahun lalu inspektur upacara, sekaligus
yang membaca teks proklamasi adalah Ketua Majelis Syura, untuk tahun ini
insyaAllah Presiden PKS Pak Sohibul Iman,” ujar anggota DPR dari daerah
pemilihan Sumatera Selatan ini.
Upacara peringatan detik-detik Proklamasi, tambah Mustafa, juga akan
diselenggarakan oleh struktur PKS di tingkat Provinsi dan
Kota/Kabupaten. Selain hal itu, DPP PKS juga akan menggelar berbagai
kegiatan selama bulan Agustus ini. “Kita akan gelar acara Ngaji Budaya
bersama narasumber dari kalangan budayawan, juga pagelaran Wayang Golek,
Final Lomba Baca Teks Naskah Proklamasi mirip Ir. Soekarno, donor
darah, bingkisan untuk veteran RI, peluncuran PKS Muda dan syukuran
dengan 72 tumpeng,” ujar Mustafa.
Ia juga meminta agar seluruh kader PKS berpartisipasi dalam kegiatan
HUT RI yang diselenggarakan di lingkungan masing-masing. “Upayakan acara
partai menyesuaikan agar tidak bentrok dengan acara 17-an di
lingkungan,” pungkas Mustafa
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 10, 2017
posted by @Adimin
Keteladanan Melahirkan Manusia Beradab
Written By NeO on 10 August, 2017 | August 10, 2017
Abdullah
Nasih Ulwan berpendapat, keteladanan merupakan kunci dari pendidikan akhlak
seorang anak
Oleh:
Arsyis Musyahadah
Abdurrahman
an-Nahlawi
dalam kitab Ushul
at-Tarbiyah al-Islamiyah mengatakan, pengaruh yang tersirat dari
sebuah keteladanan akan menentukan sejauh mana seseorang memiliki sifat yang
mampu mendorong orang lain untuk meniru dirinya, baik dalam keunggulan ilmu
pengetahuan, kepemimpinan atau ketulusan.
Dalam
pendidikan, keteladanan pendidik merupakan faktor yang dapat melahirkan
kepribadian bagi seorang anak didik. Keberhasilan anak didik adalah indikator
kesuksesan seorang pendidik tersebut.
Keberhasilan
yang dimaksud di sini bukan hanya dalam bidang intelektual, melainkan anak
didik yang berhasil adalah yang memiliki akhlakul
karimah (akhlak yang mulia).
Pendidikan
yang sukses selalu melihat pada anak didik, sebagai objek pendidikan. Anak
didik yang sukses merupakan produk dari pendidik yang sukses. Ketika ingin
mengindentifikasi pendidik yang cerdas, maka lihatlah anak didiknya.
Ibn
Sina mengatakan, guru yang baik adalah guru yang cerdas, mengetahui cara
mendidik anak, dan cakap dalam mendidik anak.
Senada,
Abdullah Nasih Ulwan berpendapat, keteladanan merupakan kunci dari pendidikan
akhlak seorang anak.
Allah
berfirman:
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً
“Sesungguhnya
pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu)
bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari
Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah yang
Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 48).
Disayangkan,
negeri yang telah memiliki enam Undang-Undang Pendidikan Nasional ini sedang
mengalami krisis keteladanan.
Sebelumnya
pernah dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan, kualitas
guru di Indonesia sangat memprihatinkan.
Terbukti
dengan banyaknya guru yang tidak mengembangkan potensi diri. Sebagiannya hanya
memahami bahwa tugas sebagai pendidik tak lebih dari rutinitas mengajar
dan menuntaskan kriteria pembelajaran atau kurikulum yang dibebaninya.
Guru
demikian, biasanya cenderung abai apakah muridnya paham atau tidak paham
atas penyampaiannya. Mereka hanya peduli bahwa RPP dan materi pelajaran telah
dipenuhi dan tuntas dilaksanakan.
Dalam
pendidikan Barat sekular, guru hanya mengajarkan ilmu pengetahuan yang cukup
diketahui dan tidak perlu diterapkan.
Guru
tidak wajib memiliki kepribadian yang baik, sehingga pendidikan keteladanan
tidak dapat berlangsung atau kurang maksimal.
Mirisnya
kondisi di atas mulai merambat ke sebagian di negeri ini. Guru datang ke
sekolah hanya mengajar dengan metode yang menjenuhkan.
Sekadar
mengecek apakah muridnya mengerjakan tugas yang diberikan, kemudian menghukum
murid yang mendapat nilai rendah dalam ujian.
Ketiadaan
keteladanan berpengaruh pada kepedulian guru terhadap muridnya. Guru lebih
gelisah ketika sang murid tak dapat menjawab soal ujian daripada muridnya yang
sengaja meninggalkan shalat.
Tak
banyak guru yang mengetahui bagaimana latar belakang dan perkembangan muridnya
di kelas.
Sikap
acuh seperti inilah yang dikhawatirkan oleh sebagian orang tua yang telah
mengamanahkan anaknya untuk dididik di sekolah.
Terkadang,
kepedulian guru hanya sebatas pada lingkungan sekolah. Jadi ketika seorang anak
melakukan kenakalan di luar sekolah, guru pun tidak menunjukkan kepeduliannya.
Lebih
jauh, kondisi di atas mengantar murid tidak bisa memahami urgensi dan tujuan
dalam menuntut ilmu. Sehingga mereka cenderung meremahkan ilmu.
Padahal
ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam ajaran Islam. Kewajiban seorang murid
bukan hanya untuk memahami ilmu, tapi juga mengamalkan ilmu yang dipahami.
Sorang
murid harus memiliki adab terhadap guru dan aktivitas keilmuan. Karena dengan
adab, murid itu bisa khusyuk
kepada Allah.
Oehnya,
jika seorang murid yang cerdas secara intelektual tapi berperilaku buruk. Maka
tak bukan, itu difaktori dengan ilmu yang tak berkah.
Burhanuddin
Az-Zarnuji pernah berkata, banyak dari para pencari ilmu yang sebenarnya mereka
sudah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan nikmatnya
ilmu.
Hal
ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memperhatikan adab dalam
menuntut ilmu.
Fenomena
loss of adab
(hilangnya adab) dalam pendidikan patut menjadi alasan kecemasan segenap
orangtua dan para guru.
Berbagai
kasus amoral kian merebak dan bertambah. Nyaris kejahatan tak beradab itu tak
henti setiap hari.
Sebagai
sosok pelajar atau mahasiswa, bisa dikata mustahil jika mereka tak mengetahui
bahwa perbuatan biadab tersebut sangat dilarang dan haram hukumnya dalam Islam.
Pastinya,
bukan untuk menyalahkan sepihak kepada guru atau orangtua di sekolah dan di
rumah. Tapi perlu diingat, keduanya memegang peran yang sangat vital dalam
proses pendidikan.
Oehnya,
pendidikan yang sukses adalah bukan pendidikan yang sekadar ditopang dengan
gedung megah dan fasilitas mewah serta kurikulum yang wah saja.
Pendidikan
yang berhasil adalah ketika sng gukewajibannya sebagai pendidik. Yaitu
mengajarkan ilmu dan menanamkan adab kepada murid-muridnya.
Bukan
cuma memindahkan ilmu pengetahuan (transfer
of knowldge) tapi juha memindahkan nilai dan kepribadian (transfer of value).
Dengan prinsip demikian, niscaya guru menjadi sosok teladan dan murid
menjadi pribadi beradab
posted by @Adimin
August 10, 2017
posted by @Adimin
Peran Pemuda untuk Realisasikan Pancasila dan Keutuhan NKRI
Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid menyampaikan bahwa sosialisasi
Empat Pilar MPR RIdilaksanakan untuk melaksanakan perintah UU yaitu UU
No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD menugaskan Pimpinan MPR
untuk menyosialisasikan Pancasila, UUD NRI tahun 1945, NKRI, dan
Bhinneka Tunggal Ika. Dengan salah satu tujuannya adalah untuk merespon
aspirasi dari masyarakat.
Hidayat Nur Wahid mengatakan MPR tidak mungkin sendiri dalam
melakukan sosialisasi sebab jumlah anggota MPR terbatas. Selain itu, MPR
juga disibukan oleh aktivitasnya di DPR dan DPD sebab anggota MPR
adalah anggota DPR dan DPD. Di kedua lembaga itu, menurut Hidayat Nur
Wahid sangat luar biasa kesibukannya padahal yang perlu disosialisasikan
adalah hal-hal yang mendasar.
Hidayat Nur Wahid mengungkapkan sejak dirinya menjadi Ketua MPR
periode 2004-2009, sosialisasi ini sudah dilakukan. Pada saat itu
namanya Sosialisasi Putusan MPR, kemudian periode 2009-2014 menjadi
Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan tetapi setelah ada keputusan MK kini
namanya Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Hidayat berharap agar dalam
sosialisasi ini pemerintah mengambil peran yang besar sebab
jaring-jaring kekuasaan pemerintah hingga sampai daerah, sedangkan
anggota MPR jumlahnya terbatas.
Perlunya keterlibatan pemerintah dalam mensosialisasikan Pancasila,
keinginan itu telah disampaikan MPR pada masa pemerintahan Presiden SBY
serta masa pemerintahan Presiden Jokowi. Dan saat ini Hidayat
Mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo yang telah membentuk Unit
Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPPIP). Lembaga ini
membantu Presiden dalam pemantapan Pancasila. "Alhamdulilah telah
terbentuk unit kerja itu,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat
membuka dan menjadi narasumber acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang
diselenggarakan oleh MPR bekerjasama dengan pengurus Yayasan Komunitas
Insan Kreatif (KOMUNIKA) di Syailendra Convention Hall, Hotel Borobudur
Indah, Kota Magelang, Sabtu (5/8/2017). Turut didampingi oleh anggota
MPR Fraksi PKS Mardani Ali Sera Kepala Biro Pimpinan MPR RI Muhammad
Rizal dan dihadiri 400 peserta sosialisasi dari Yayasan KOMUNIKA.
Dalam sosialisasi yang dihadiri oleh dan ratusan pelajar dan
mahasiswa tersebut Hidayat Nur Wahid memaparkan sejarah dalam proses
lahirnya Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Dikatakan, sebenarnya Pancasila telah disepakati oleh para tokoh dan
pendiri bangsa ini.
Pada saat ini banyak terjadi penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur
Pancasila yang menyebabkan terjadinya kegaduhan politik. Untuk itu
dirinya berharap kepada generasi muda yang terhimpun dalam Yayasan
KOMUNIKA untuk mempertahankan Pancasila dengan serius. “Penting sekali
kaum muda untuk merealisasikan Pancasila agar dapat memperjuangkan
keutuhan NKRI," ujar Hidayat yang juga sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro
PKS
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 09, 2017
posted by @Adimin
Masalah Bangsa: Masalah tentang Manusia (2)
Written By NeO on 09 August, 2017 | August 09, 2017
Mengenal
dan mengendalikan diri sendiri ternyata lebih sulit daripada mengenal dan
mengendalikan orang lain. Tidak aneh jika Islam menganggap bahwa mengenal diri
sendiri dengan baik adalah wasilah untuk mengenal Allah (man ʿarafa nafsahu faqad ʿarafa Rabbah).
Hakikat
dan sifat dualistikjiwa yang ada di dalam diri manusia menyebabkan manusia
menjadi makhluk istimewa dan satu-satunya yang bisa mengemban amanat sebagai
khilafah, yaitu tugas untuk mengatur dan memerintah.
Al-Attas
menegaskan bahwamengatur dan memerintah yang merupakan implikasi dari
tugas khilafah bukan hanya berarti mengatur dan memerintah dalam pengertian
sosial-politik, tetapi lebih penting dari itu, yaitu mengatur dan memerintah
kerajaan diri sendiri (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism
[Kuala Lumpur: ABIM, 1978; repr., Kuala Lumpur: ISTAC, 1993], 66).
Di
sini kita bisa melihat bahwa cobaan dalam hidup sebenarnya datang dari diri
kita sendiri. Di akhirat pun Allah akan meminta pertanggungjawaban amalan
manusia sendiri-sendiri, tidak melibatkan orang lain dan negara.
Setan
yang kelak akan disalahkan oleh manusia karena telah menyebabkan manusia
durhaka pun akan berlepas diri dari perbuatan manusia. Sebab, pelaku sebenarnya
segala perbuatan adalah manusia. Tugas setan hanya menggoda dan berbisik (QS
Ibrāhīm [14]: 22).
Lalu,
bagaimana agar manusia bisa mengenal dan mengendalikan diri sendiri? Jawabannya
adalah pendidikan. Jiwa hewani harus senantiasa dididik oleh jiwa rasional,
sedangkan jiwa rasional harus senantiasa menerima ilmu yang bermanfaat, sebuah
proses yang harus dilakukan oleh manusia seumur hidup di sini sebenarnya arti
dan tujuan pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Sebab,
pemimpin-pemimpin zalim, anggota-anggota dewan yang tidak amanah, para
koruptor, penista agama, hukum yang zalim dan lain sebagainya adalah cermin
dari hasil pendidikan kita. Manusia-manusia seperti itu lahir bukan dari produk
politik, ekonomi, dan sosial, tapi lahir dari proses panjang pendidikan. Dan tentu
saja, berbicara tentang pendidikan adalah berbicara tentang manusia.
Setidaknya,
fakta-fakta tentang keberhasilan pendidikan menjadi cara paling efektif untuk
melahirkan manusia-manusia baik telah dilakukan oleh al-Ghazālī, sebagaimana
telah dicatat dengan sangat detil oleh Mājid ʿIrsān al-Kīlānī dalam bukunya yang berjudul Hākadhā Zhahara Jīl Ṣalāḥ al-Dīn wa Hākadhā ʿĀdat Al-Quds (Dar Al-Qalam, Uni Emirat Arab:
2002).
Dalam
bukunya tersebut, al-Kīlānī menjelaskan dengan sangat rinci tentang usaha Al-Ghāzālī
dalam memperbaiki manusia-manusia yang ada pada zamannya melalui jalur
pendidikan. Sehingga, dari usahanya tersebut, lahir generasi Ṣalāḥ
al-Dīn al-Ayyūbī yang sangat tangguh.
Zaman
yang dihadapi oleh al-Ghāzālī adalah zaman yang tidak menentu. Kondisi yang ada
ketika itu sepertinya layak menyeret umat Islam ke dalam jurang kekalahan.
Puncaknya, umat Islam kemudian dicabik-cabik dalam Perang Salib. Nilai-nilai luhur yang
terkandung dalam Islam pun lenyap ditelan gelombang kehidupan yang konsumtif dan
destruktif. Para pejabat publik sibuk dengan kepentingan pribadi dan kelompok,
kaum ilmuwan mengabdikan ilmunya untuk kepentingan-kepentingan sekular, umat
Islam tercabik oleh perpecahan dan fanatisme buta, akhlak manusia hancur,
kemiskinan ada di mana-mana, dan ilmu menjadi rusak.
Al-Ghāzālī
kemudian memeriksa dan memberikan obat bagi penyakit-penyakit umat ketika itu.
Berbagai buku yang ditulis oleh al-Ghāzālī sepanjang hidupnya menjadi bukti
bagaimana tajamnya analisa yang dilakukan olehnya. Menjelang akhir hayatnya,
analisa tersebut kemudian diterjemahkan oleh al-Ghāzālī melalui lembaga
pendidikan dengan kurikulum yang dia rancang sendiri. Kelak, dari lembaga
pendidikan tersebut muncul generasi-generasi tangguh seperti ʿAbd
al-Qādir al-Jīlānī dan Ṣalāḥ
al-Dīn al-Ayyūbī. Jadi, Ṣalāḥ
al-Dīn al-Ayyūbī bukan sosok yang dilahirkan dari
produk politik yang sementara,tapi lahir melalui proses kreatif panjang para
ilmuwan, guru, ilmu, dan pendidikan.
Sebagai
satu-satunya agama wahyu, Islam telah memberikan ajaran yang sempurna tentang
asal, hakikat, tugas, dan masa depan manusia di dalam kehidupan ini. Bahkan,
Islam menjadi satu-satunya agama yang memiliki sosok cerminan hidup yang
seluruh kata dan perbuatannya menjadi contoh (uswah ḥasanah) bagi seluruh manusia, seluruh
umur, dan melintasi berbagai generasi.
Contoh
tersebut kemudian dijelaskan dan diimplementasikan oleh pewaris-pewaris Nabi
selama berabad-abad untuk kemudian membentuk tradisi dan peradaban Islam yang rahmatan lil alamin.
Sebab,sepanjang
sejarah umat manusia, permasalahan-permasalah besar yang melanda peradaban
adalah karena manusia. Segala kerusakan yang bersifat eksternal (politik,
ekonomi, dan sosial) merupakan cermin dan ranting dari akar masalah yang besar,
yaitu manusia
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 07, 2017
posted by @Adimin
PKS: Tolak Perppu Ormas karena Tak Sesuai Pancasila dan UUD 1945
Written By NeO on 07 August, 2017 | August 07, 2017
“Fitnah politisi NasDem
(Viktor) di NTT, tapi malah didukung oleh kawan-kawannya di Nasdem tersebut,
terbukti lagi bahwa Perppu itu memang pasal karet yang represif," kata
Hidayat Nur Wahid.
Sejak
awal, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritik Perppu Ormas karena banyaknya
pasal karet dalam Perppu itu yang dapat menghadirkan tindakan-tindakan yang
bertentangan dengan prinsip HAM dan hukum.
Jelas
Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid (HNW). Korban pasal karet
Perppu Ormas ini pun sudah banyak kata dia.
Seperti
gerakan Pramuka yang pencairan dananya ditunda oleh Kemenpora karena Ketua
Kwarnasnya dituduh terkait Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), atau orang yang demo
Perppu Ormas dituding kroni HTI.
Hal
itu ia sampaikan menyikapi tuduhan provokatif kader Partai NasDem, Viktor
Bungtilu Laiskodat, di Kupang, NTT, awal Agustus lalu. Viktor menuduh PKS dan
sejumlah partai lain menolak Perppu Ormas karena mendukung kelompok ekstremisme
dan “negara khilafah”.
“Fitnah politisi NasDem
(Viktor) di NTT, tapi malah didukung oleh kawan-kawannya di Nasdem tersebut,
terbukti lagi bahwa Perppu itu memang pasal karet yang represif, karena
mengasumsikan bahwa menolak Perppu berarti anti Pancasila dan NKRI dan jadi
kroni HTI,” ujar HNW
Padahal, jelas HNW, PKS
menolak Perppu Ormas justru karena tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Dan karena Perppu itu membahayakan NKRI.
Selain
oleh PKS, tambahnya, Perppu Ormas juga ditolak oleh lembaga dan LSM peduli hukum
dan HAM yang tak mendukung HT, seperti; LBH se-Indonesia, Komnas HAM, KontraS,
PSHK, dan pusat-pusat kajian hukum di kampus-kampus, serta yang lain-lain.
“Sekalipun
kami berbeda dengan HTI yang tolak demokrasi dan lain-lain. Kami justru
pergunakan demokrasi sebagai wasilah sarana perjuangkan maslahat umat, dan
jauhkan mereka dari madharrat
termasuk madharrat
Perppu pasal karet yang potensial disalahgunakan untuk kembalikan rezim yang
dzalim dan otoriter,” jelas Wakil Ketua MPR RI ini.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 07, 2017
Masalah Bangsa: Masalah tentang Manusia
Oleh: Arif Munandar Riswanto
posted by @Adimin
Segala kerusakan politik, ekonomi, dan sosial merupakan cermin dan ranting dari akar masalah yang besar, yaitu manusia
SAAT ini, bangsa ini sedang menghadapi
masalah-masalah besar. Penegakan hukum yang tidak adil, kesenjangan
kehidupan kaya-miskin, penistaan agama, money politics, kezaliman
penguasa, korupsi, dan lain sebagainya adalah sedikit contoh dari banyak
fenomena bahwa bangsa ini memang sedang dilanda masalah-masalah besar.
Masalah-masalah besar tersebut akhirnya menyebabkan kegaduhan yang
besar serta menghabiskan energi dan ongkos yang tidak sedikit.
Sehari-hari bangsa ini pun disuguhi oleh kegaduhan yang seolah-olah
tiada henti.
Apalagi di zaman perkembangan arus informasi yang seperti tanpa
batas. Setiap orang bisa menulis, memberikan opini, menyebarkan berita,
membentuk image, dan membuat kepalsuan dengan bebas. Sebuah fenomena
yang akan merusak dan meruntuhkan otoritas.
Mungkin banyak di antara kita yang bertanya: apa akar penyebab dari
masalah-masalah besar tersebut? Apakah ia disebabkan oleh iklim
kehidupan politik yang tidak kondusif, kesenjangan ekonomi, atau
nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan
baik?Banyak orang yang berpendapat bahwa akar masalah dari bangsa ini
adalah politik. Artinya, jika kehidupan politik sudah baik, maka bangsa
ini akan menjadi baik. Jika masalah asasinya adalah politik, maka
solusinya pun adalah politik.Pun begitu dengan orang-orang yang
berpandangan bahwa akar masalahnya adalah ekonomi, sosial, atau
nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan baik
oleh masyarakat.
Jika kita renungkan lebih dalam, pada hakikatnya, akar masalah besar
bangsa ini adalah manusia.Masalah bangsa ini adalah masalah tentang
manusia. Masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan lain-lain hanyalah
ranting yang mudah dilihat oleh semua orang dari pohon besar yang
bermuara pada akar yang sama, yaitu manusia.
Masalah-masalah tersebut adalah cermin dari fenomena manusia
Indonesia.Hal ini berarti juga, jika akar dari masalah-masalah besar
bangsa ini tidak diperbaiki, masalah-masalah tersebut akan terus-menerus
terulang. Mungkin bentuk dari masalah tersebut bisa berbeda dari satu
generasi ke generasi lain, tapi hakikatnya selalu sama. Dengan kata
lain, jika manusia-manusia Indonesia tidak dididik untuk menjadi manusia
yang baik (al-insān al-ṣāliḥ), bisa dipastikan
pemimpin-pemimpin zalim, para penista agama, dan koruptor-koruptor baru
akan terus-menerus lahir dari satu generasi ke generasi lain.Siapa yang
menyangka bahwa pergantian politik dari Orde Baru ke Reformasi justru
tidak bisa membuat kehidupan bangsa menjadi lebih baik. Ia menunjukkan
bahwa pemimpin yang baru tidak dijamin bisa menjadi lebih baik dari
pemimpin sebelumnya.
Padahal, dalam iklim demokrasi seperti zaman sekarang, untuk
mengganti seorang pemimpin saja pasti memerlukan ongkos yang sungguh
sangat besar. Karena pemimpin baru ternyata tidak lebih baik dari
pemimpin sebelumnya, lagu-lagu indah tentang pembangunan, perubahan, dan
kebebasan ketika Orde Baru diturunkan mulai terasa seperti fatamorgana
di tengah sahara. Akhirnya banyak individu yang ingin kembali ke zaman
Orde Baru.
Hakikat Manusia
Di dalam Islam, hakikat tentang manusia (yang meliputi ajaran-ajaran
tentang siapa dirinya, tujuan hidup di dunia, akhlak, dan kebahagiaan)
termasuk ke dalam salah satu ajaran asasi agama.Bahkan,al-Attas
memasukkan hakikat manusia ke dalam salah satu unsur penting
metafisikaIslam, yang dalam banyak hal berkaitan sangat erat dengan
psikologi jiwa manusia (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam
[Kuala Lumpur: ISTAC, 2001], 143-176).Al-Attas adalah salah seorang
ilmuwan Muslim besar yang memberikan perhatian besar terhadap manusia.
Dalam tradisi Islam,para ilmuwan yang memiliki perhatian besar
terhadap hakikat manusia adalah ilmuwan-ilmuwan yang memiliki
pandangan-pandangan besar dalam metafisika Islam (Filsafat, Kalam, dan
Tasawuf).
Manusia diciptakan oleh Allah memiliki dua karakteristik: jiwa dan
tubuh. Yang pertama merujuk kepada hakikat sebenar manusia ketika dia
mengatakan “aku”dimana jiwa, kemuliaan, akhlak, dan kebahagiaan hakiki
berasal, sedangkan yang kedua merujuk kepada potensi hewani. Para ulama
menyebut hakikat jiwa pertama dengan jiwa rasional (al-nafs al-nāṭiqah) sedangkan yang kedua disebut jiwa hewani (al-nafs al-ḥayawāniyyah).Ini yang kemudian disebut oleh para ulama bahwa manusia adalah ḥayawān al-nāṭiq.Jiwa
rasional adalah jiwa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk
lainnya dimana kemuliaan, akhlak mulia, dan kebahagiaan berasal,
sedangkan jiwa hewani adalah jiwa yang betul-betul identik dengan hewan.
Karena memiliki sifat hewani, jiwa hewani harus diatur oleh jiwa
rasional dengan baik. Menurut Fakhr al-Dīn al-Rāzī, jiwa hewani yang
harus diwaspadai oleh manusia wujud dalam tiga kekuatan: nafsu syahwat,
nafsu amarah, dan nafsu kekayaan atau kekuasaan (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 32 vols. [Beirut, Dār al-Fikr, 1981]: 1: 258).
Agar berhasil dalam hidup, manusia harus mengatur kedua hakikat jiwa
tersebut dengan baik. Jiwa rasional harus senantiasa ada di atas dan
mengatur jiwa hewani. Namun sebaliknya, jika jiwa hewani justru yang
lebih dominan untuk kemudian menjadi raja dalam kerajaan manusia,
manusia akan berubah menjadi seperti hewan, bahkan bisa lebih buruk
daripada hewan (QS al-Aʿrāf [7]: 179). Dalam kondisi seperti itu, maka
akan lahir kesengsaraan (al-shaqāwah) dan akhlak yang hina dari manusia.
Karena memiliki kedua potensi jiwa tersebut, manusia layaknya seperti kerajaan, yaitu kerajaan kecil (microcosmos).
Fakhr al-Dīn al-Rāzī misalnya menyebut bahwa manusia pada
hakikatnyaseperti kerajaan; jiwa rasional seperti seorang raja; indera
eksternal dan internal seperti tentara; anggota-anggota badan seperti
warga negara; syahwat dan amarah seperti musuh yang selalu berusaha
untuk menghancurkan kerajaan dan membunuh warga negara.
Jika raja mampu mengendalikan musuh, negara akan stabil dan jauh dari konflik (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Kitāb an-Nafs wa ar-Rūḥ wa Syarḥ Quwāhumā, ed. Muḥammad Ṣaghīr Ḥasan al-Maʿṣūmī [Islamabad, Islamic Research Institute: t.t.], 79-84).
Kedua hakikat jiwa yang ada di dalam diri manusia senantiasa tarik
ulur dan berperang seumur hidup. Yang satu sering berusaha untuk
mengalahkan yang lain.
Di sini kita bisa melihat bahwa pada hakikatnya seluruh manusia aktif
dalam “politik”, yaitu politik untuk mengatur kerajaan diri sendiriyang
berlaku seumur hidup dan disamakan dengan jihad paling besar (al-jihād al-akbar).
Namun, karena semua orang memahami politik hanya sebatas hubungan
manusia dengan negara, manusia banyak yang tidak menyadari dan gagal
melaksanakan tugas-tugas politik untuk mengatur kerajaan diri sendiri.
Ini yang kemudian menyebabkan kerusakan besar dimana-mana, termasuk
bangsa Indonesia
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 05, 2017
posted by @Adimin
Berjargon “Saya Pancasila” tapi Mengumbar Ujaran Kebencian, Sindir HNW
Written By NeO on 05 August, 2017 | August 05, 2017
Oleh karena itu, menurut tokoh PKS ini, kasus Viktor tersebut tak cukup
diselesaikan dengan permintaan maaf. Tapi penting adanya penegakan hukum
dalam kasus ini.
Wakil Ketua Majelis Syura PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW), menyindir
mereka yang sering berjargon “Saya Pancasila” dan “NKRI harga mati” tapi
perilakunya bertentangan dengan jargon itu sendiri.
Sindiran itu menyikapi pidato provokatif kader Partai NasDem, Viktor
Bungtilu Laiskodat, di Kupang, NTT, yang menuduh sejumlah partai
“intoleran dan mendukung negara khilafah”.
“Kalau perilakunya semacam (Viktor) ini, jelas tidak menghadirkan
kesatuan, tapi cerai-berai,” kata Wakil Ketua MPR RI ini, Jumat (04/08/2017).
“Mengumbar ujaran kebencian di depan publik itu potensial memecah
belah sesama anak bangsa, menghadirkan kondisi ketidakamanan publik, dan
bertentangan dengan prinsip Pancasila dan NKRI,” ungkapnya.
Oleh karena itu, menurut HNW, kasus Viktor tersebut tak cukup
diselesaikan dengan permintaan maaf. Tapi penting adanya penegakan hukum
dalam kasus ini.
Diberitakan sebelumnya, dalam pidato provokatifnya, Viktor menuduh 4
partai secara eksplisit Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN sebagai partai
pendukung berdirinya “negara khilafah” dan karena itu tidak boleh
didukung. Bahkan pendukung khilafah disamakannya dengan PKI pada 1965
yang layak dibunuh.
“Mengerti negara khilafah? Semua wajib shalat,” tuding Viktor. “Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan, semua harus shalat.”
“Saya tidak provokasi…,” klaim Ketua Fraksi NasDem DPR RI ini
kemudian. Lalu berkata, “… nanti negara hilang kita bunuh pertama mereka
sebelum kita dibunuh,” ungkapnya disambut tawa banyak hadirin di
depannya.
“Ingat dulu PKI 1965? Mereka tidak berhasil, kita yang eksekusi mereka,” tambah politikus kelahiran Kupang ini.
Andi
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN











